Jalan Ikhlas | Cara Merelakan

Mengapa kita butuh ikhlas, merelakan, alias membebaskan, untuk tidak berpegang pada benda-benda? Makin kita benar-benar mengenal, semakin kita bisa membiarkannya pergi. Mereka yang tahu sedikit bisa melepaskan sedikit, orang-orang yang tahu banyak dapat melepaskan banyak.

Sebagai langkah pertama kita diajarkan berdana/beramal– untuk bermurah hati, untuk memberikan sumbangan – sebagai strategi kita untuk belajar bagaimana membebaskan. Langkah selanjutnya adalah menyangkal hak-hak kepemilikan – yaitu membebaskan pada tingkat yang lebih tinggi daripada dana. Dan akhirnya, pada tingkat yang lebih tinggi, kita diajarkan untuk melepaskan semua kekotoran batin dalam pikiran. Ini adalah tingkat di mana kita memeriksa dan mengeksplorasi sampai kita bisa membebaskan secara total.

Dana berarti memberikan hal-hal materiil. Jika kita tidak menyumbangkannya, mereka sulit untuk dilepaskan. Untuk sebagian besar, jika kita tidak menyumbangkannya, kita memegang hak atas mereka dan menganggapnya sebagai milik kita. Tetapi jika kita menyumbangkannya, kita tidak lagi memiliki hak atas mereka. Benda-benda yang kita pegang berbahaya: (1) Mereka dapat membahayakan kita. (2) Mereka menyebabkan kerugian bagi orang-orang yang mencurinya dari kita. Dan (3) sekali orang-orang tersebut telah mencurinya, kemudian mereka mengklaim hak atas benda-benda tersebut. Itulah sebabnya kita belajar untuk bermurah hati, untuk belajar bagaimana untuk menyumbangkan segala hal.

Orang-orang yang mengembangkan kebiasaan murah hati menuai banyak penghargaan. Tindakan kedermawanan mereka terbalaskan kepada mereka di masa sekarang dan di masa depan. Mereka memiliki banyak teman. Orang lain mempercayai mereka. Hati mereka ringan – mereka tidak terbebani dengan kekhawatiran untuk menjaga benda-benda yang mereka telah berikan. Dan hasil yang sama akan terus datang di masa depan, sama seperti ketika kita memiliki seember benih padi: jika kita menanamnya di sawah, kita akan menuai sepuluh ember beras sebagai imbalannya. Hal yang sama berlaku terhadap kebaikan yang kita kembangkan dalam hidup ini. Hal ini memberikan keuntungan yang sangat besar. Begitulah cara orang yang arif memahaminya.

Bahwa dana adalah sesuatu yang dapat dilakukan bahkan oleh orang gila, sangkal adalah satu jenis pemberian yang dapat dilakukan hanya oleh orang-orang bijak, karena rasa kepemilikan pribadi harus berakhir segera dalam tindakan memberi. Mereka melihat bahwa segala hal materiil adalah milik umum: benda-benda yang tidak benar-benar milik kita, mereka tidak benar-benar milik orang lain. Jika Anda melihat benda-benda sebagai milik Anda, itu adalah kecanduan sensualitas. Jika Anda melihat bahwa benda-benda sebagai milik orang lain, itu adalah kecanduan penderitaan-diri. Ketika kita lahir, kita tidak membawa apa-apa bersama kita ketika kita datang. Ketika kita mati, kita tidak akan mengambil apa pun ketika kita pergi. Jadi apa yang benar-benar milik kita? Perasaan kita mengenai kepemilikan telah jauh dari hati jika sumbangan kita dianggap sebagai rela.

Tingkat ketiga dari pembebasan adalah melepaskan apa yang ada di hati. Apakah kita menyumbangkan segala hal atau tidak, kita membebaskan mereka dari dalam hati setiap hari. Kita membebaskan hal-hal yang kita miliki. Kita melepaskan hal-hal yang kita tidak punya. Sama seperti seseorang yang harus mencuci mulut dan tangannya setiap hari setelah dia makan jika dia ingin tetap bersih setiap saat. Artinya bahwa kita tidak mau membiarkan apa pun bertindak sebagai musuh bagi hati dengan membuat kita pelit atau tamak. Jika kita tidak melakukannya, kita adalah tipe orang yang tidak mencuci tangan dan mulut setelah makan. Kita tidak bersih. Kita tetap tidur tanpa pernah bangun. Tapi ketika kita membebaskan dengan cara ini, hilang nafsu. Tingkat yang lebih rendah dari pembebasan adalah hal-hal yang bisa kita lakukan hanya dari waktu ke waktu. Hilangnya nafsu adalah sesuatu yang selalu dapat kita kembangkan.

Biasanya kotoran batin kita mengikat tangan dan kaki kita, dan kemudian memaku kita ke lantai. Sulit untuk membebaskan diri, itulah sebabnya mengapa kita membutuhkan keterampilan tingkat tinggi, yaitu kearifan yang berasal dari mengembangkan pikiran dalam meditasi – untuk mendapatkan kebebasan.

Hilangnya nafsu adalah kualitas mental yang benar-benar nikmat dan sehat. Siapapun yang belum mencapai tingkat ini, baru memakan hanya kulit buah saja, tanpa mengetahui rasa dan nutrisi daging buahnya. Bagian yang baik dari daging buah terletak jauh di dalam.

Kotoran batin dalam pikiran adalah ketidaksadaran, pendambaan, dan kemelekatan. Jika kita mencapai tingkat di mana kita melihat diri kita sendiri di dalam diri kita, maka kita bertanggung jawab untuk diri kita sendiri. Kita bisa mengurus hal-hal ini sendiri, sama seperti ketika kita sudah cukup umur di mata hukum.

Jika kita bisa meletakkan pikiran kita ke jhana pertama, kita bisa membebaskan lima rintangan.

Sebagian besar dari kita seperti anak-anak yang tidak berpengalaman ketika kita makan ikan atau ayam, kita makan tulang bersamaan dengan daging karena kita belum mengembangkan wawasan intuitif. Ketika wawasan ini muncul, ini lebih mempesona daripada cahaya api, lebih tajam dari tombak. Hal ini dapat menghancurkan apa saja: daging, tulang, beras, sekam -apa pun- karena ini cukup pintar untuk menghancurkan segalanya menjadi bubuk. Hal ini dapat menghancurkan pemandangan, suara, bau, rasa, sensasi taktil, dan ide-ide. Baik atau buruk, tidak pilih-pilih. Hal ini dapat memakan semuanya. Jika orang-orang memuji kita, kita dapat menggunakannya untuk menyehatkan hati. Jika mereka mengkritik kita, kita dapat menggunakannya untuk menyehatkan hati. Bahkan jika tubuh kesakitan, hati bisa merasa nyaman, karena hati memiliki semua peralatan yang dibutuhkan untuk memperbaiki makanan dengan baik: penggiling, mixer, mesin uap, panci, dan wajan. Kabut ketidaksadaran akan terkoyak. Segala sesuatu yang mengikat kita – kuku dari lima agregat- kemelekatan, tiga tali (cinta untuk pasangan, cinta untuk anak-anak, cinta untuk harta benda), dan delapan rantai dari urusan dunia- pendapatan, kehilangan, status, kehilangan status, pujian, kritik, kesenangan, dan rasa sakit – semua akan runtuh.

Orang bodoh berpikir bahwa tinggal di penjara adalah hal yang nyaman, itulah sebabnya mereka terus melakukan lebih banyak kejahatan. Mereka melihat dunia sebagai tempat yang menyenangkan dan oleh karena itu mereka seperti tahanan yang tidak ingin keluar dari penjara. Adapun orang-orang dengan kearifan, mereka seperti burung dalam sangkar yang terus mencari cara untuk keluar dari kandang. Akibatnya rantai yang menahan mereka akan runtuh satu demi satu. Delapan urusan keduniawian seperti rantai yang dipakaikan pada penjahat untuk menjaga mereka tetap terikat. Orang bodoh berpikir rantai ini adalah kalung emas untuk dipakai sebagai hiasan. Sebenarnya, itu adalah hal-hal yang mengotori pikiran. Orang-orang yang terikat olehnya tidak akan lolos, karena mereka takut akan kehilangan kekayaan dan statusnya, takut terhadap kritik dan rasa sakit. Siapa saja yang terjebak dalam kesenangan, yang takut kritik, tidak akan pernah berhasil berlatih.

Kita seperti monyet yang terikat rantai. Jika kita tidak mengembangkan wawasan yang membebaskan, kita tidak akan pernah terbebas dari rantai kita. Kita tidak akan pernah berhasil mencapai hilangnya nafsu.

Pada tahap pertama kita melepaskan kejahatan dan mulai berbuat baik. Pada tahap kedua kita melepaskan kejahatan dan beberapa bentuk kebaikan. Pada tahap ketiga kita melepaskan segala sesuatu, baik dan jahat, karena semuanya dibuat oleh alam dan dengan demikian tidak dapat diandalkan. Kita berbuat baik tapi kita tidak melekat padanya. Ketika Anda melepasnya, Anda telah melakukannya dengan cerdas, dan bukan dengan cara yang menghancurkan – yaitu, dengan tidak berbuat baik. Anda tidak dapat berpegang bahkan pada pendapat Anda, apalagi untuk hal-hal materiil. Ketika Anda berbuat baik, Anda melakukannya demi makhluk hidup di dunia, untuk anak-anak dan cucu Anda. Anda melakukan segala sesuatu sebaik mungkin, tapi Anda tidak melekat padanya, karena Anda tahu bahwa segala sesuatu yang direkayasa tidaklah kekal. Sama halnya, hati Anda bisa menjadi jernih dan terang seperti permata.

Jika Anda terjebak pada kritik atau pujian, Anda bodoh. Ini seperti minum air liur orang lain. Ketika Anda bertindak benar, ada orang yang akan mengatakan bahwa Anda benar dan orang-orang yang akan mengatakan bahwa Anda salah. Ketika Anda bertindak salah, ada orang yang akan mengatakan Anda salah dan orang-orang lainnya yang akan mengatakan bahwa Anda benar. Tidak ada yang konstan mengenai baik atau buruk, karena mereka semua bukanlah apa-apa melainkan rekayasa .***