Abraham Maslow

You are here:
< Back

Abraham Harold Maslow (1 April 1908 – 8 Juni 1970) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena menciptakan hierarki kebutuhan Maslow, teori kesehatan psikologis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan manusia bawaan dalam prioritas, yang berpuncak pada aktualisasi-diri. Maslow adalah seorang profesor psikologi di Universitas  Internasional Alliant, Universitas Brandeis, Brooklyn College, Sekolah Baru untuk Penelitian Sosial, dan Universitas Columbia. Dia menekankan pentingnya berfokus pada kualitas positif pada orang, alih-alih memperlakukan mereka sebagai “karung gejala.”

Abraham Harold Maslow lahir pada 1 April 1908 di Brooklyn, New York. Ia sulung dari tujuh anak pasangan imigran Yahudi dari Rusia yang miskin dan tak terdidik. Pada masa kanak-kanak Maslow satu-satunya anak laki-laki Yahudi di lingkungannya. Ia merasa kesepian dan tidak bahagia. Masa kanak-kanaknya merupakan masa suram; menurutnya suatu keajaiban ia tidak terserang psikotik. Maslow kemudian melarikan diri ke dunia buku; ia tumbuh di antara buku-buku,tanpa teman selain kata dan kalimat.

Akan tetapi tidak semua masalah Maslow berasal dari luar rumah. Ia mengenang ayahnya yang sangat keras, Samuel, yang menganggap putra sulungnya itu jelek dan bodoh. Suatu ketika ayahnya menjelekkan Maslow di depan sebuah perkumpulan besar keluarganya yang kemudian berdampak terhadap dirinya terutama mempengarui gambar-diri anak laki-laki itu (Maslow) sehingga sementara waktu ia mencari mobil kosong saat menumpang ke kota, lalu ia bersembunyi dari penglihatan orang lain, seolah-olah ia adalah makhluk yang paling buruk rupa.

Yang lebih buruk dari perlakuan ayahnya adalah ibunya sendiri, Rose. Maslow tumbuh dewasa dengan kebencian terdalam pada ibunya dan tidak pernah mencapai rekonsiliasi sedikitpun. Ia bahkan menolak menghadiri pemakamannya. Ia menggambarkan ibunya sebagai pribadi yang kejam, tidak peduli dan penuh permusuhan; sosok ibu yang saking tidak memiliki rasa kasih sayang sekecilpun, yang hampir membuat kegilaan terhadap anak-anaknya. Dari semua penggambaran yang dilakukan oleh Maslow terhadap ibunya bahkan beberapa di antaranya ia mengucapkan di depan publik saat ibunya masih hidup; tidak satu pun yang mengekspresika kehangatan atau afeksi.

Salah satu alasan kebencian terdalamnya terhadap ibunya adalah cara ibunya yang sangat kacau dalam mengurus rumah tangga. Ibunya menggembok pintu kulkas bahkan meski suaminya sudah bisa memberikan penghidupan yang baik sekalipun. Ibunya membuka gembok kulkasnya hanya saat ia akan masak dan mengizinkan anaknya mengambil sesuatu untuk dimakan. Namun ketika Maslow membawa temannya ke rumahnya ibunya selalu menggembok pintu kulkas tersebut. Dan yang paling puncaknya adalah ketika Maslow kecil membawa dua anak kucing yang terlantar di jalan ke rumahnya untuk dirawatnya. Diam-diam ia membawa masuk kucingnya dan menaruhnya di basement. Suatu sore ibunya ketika pulang kerja mendengar suara mengeong kucing tersebut dan menemukan kucing tersebut di basement bersama dengan anaknya yang sedang memberi dua anak kucing tersebut sepiring susu. Kemarahan ibunya yang memuncak pun muncul karena Maslow membawa pulang anak kucing terlantar dan memberi makan anak kucing tersebut dengan menggunakan piringnya. Kemudian ibunya menggenggam erat kedua kucing tersebut. Di depan mata Maslow kecil yang ketakutan, ibunya memukul kepala kucing itu di lantai basement sampai mati.

Pada akhirnya Maslow berdamai dengan ayahnya dan sering berbicara tentang dia dengan komentar yang baik. Namun tidak demikian dengan ibunya. Nyatanya pendorong Maslow dalam psikologi humanistik adalah kebencian terhadap ibunya sendiri. Di tahun 1969 sebelum kematiannya, Maslow memasukan komentar di jurnal pribadinya:

“Apa yang saya tentang dan benci total serta tolak bukan hanya penampilan fisik ibu saya, tetapi juga nilai-nilai dan pandangan dunia yang dianutnnya, perilaku dan kata-katanya yang suka menyakiti, egoisme totalnya, kurangnya cinta bagi siapapun di dunia, bahkan kepada suami daan anaknya sendiri. Saya selalu heran darimana penitikberatkan etik, humanisme, penitikberatkan kebaikan, cinta, persahabatan dan semua hal yang lain berasal. Saya tentunya tahu bahwa konsekuensi langsung dari tidak mengalami kasih sayang seorang ibu, namun seluruh pendorong filsafat hidup saya dan semua riset dan teori saya juga berakar di dalam kebencian terhadap dan perlawanan atas segala sesuatu yang dipegang ibu saya itu.”

Ketika beranjak remaja Maslow mengagumi karya-karya para filsuf seperti Alfred North Whitehead, Henri Bergson, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Plato dan Spinoza. Di tahun 1925 Maslow mendaftar ke City Collage of New York (CCNY) di usia 17 tahun. Di tahun 1926, ketika ia masih menjadi mahasiswa di CCNY, Maslow demi menyenangkan ayahnya mendaftar di program kuliah malam di Brooklyn Law School. Akan tetapi setelah 2 minggu berjalan, ia memutuskan bahwa minatnya bukan di tempat ini, dan ia pun akhirnya keluar dari sekolah hukum itu.

Di tahun 1927, Maslow pindah ke Universitas Cornell di Ithaca, New York. Di Cornell, Maslow mengikuti kuliah pengantar psikologi yang diampu Edward B. Titchener, yang selalu mengajar dengan menggunakan jubah akademik lengkap. Maslow menemukan ‘instropeksi ilmiah’. Tichener sendiri seorang yang dingin, membosankan, dan untuk sementara waktu membuat Maslow kehilangan minat terhadap psikologi. Setelah satu semester di Cornell, Maslow kembali ke New York dan kembali mendaftar lagi di CCNY. Di tahun 1928 ia pindah ke Univeritas Wisconsin, lalu ia menerima gelar sarjana di Wisconsin di tahun 1930, kemudian ia menerima gelar master di tahun 1931 dan PhD di tahun 1934.

Tak lama setelah pindah ke Wisconsin, Maslow menikahi Bertha Goodman (sepupu pertama dan kekasihnya sewaktu kanak-kanak) dan memiliki dua orang anak. Maslow menyatakan bahwa hidupnya tidak pernah dimulai sampai dia menikah. Ketika Maslow menikah usianya saat itu 20 tahun sedangkan Bertha 19 tahun; mereka tetap menjalaninya sampai kematian Maslow. Yang aneh kemudian adalah Maslow memutuskan untuk belajar psikologi lagi di CCNY setelah membaca behaviorisme J.B. Watson. Maslow mendeskripsikan rasa senangnya akan penemuannya itu sebagai berikut:

“Saya telah menemukan J.B. Watson dan begitu terpikat pada behaviorisme. Seolah ada ledakan besar kesenangan dalam diri saya. Saya merasa yakin bahwa terbentang jalan yang nyata untuk dilalui, menyelesaikan satu demi satu potongan puzzle dan mengubah dunia.”

Namun Maslow mendapatkan suatu penemuan penting dari kehadiran anak pertamanya bahwa pengalaman behaviorisme yang digandrungi tampak begitu bodoh.

“Bayi pertama kami telah mengubah saya sebagai seorang psikolog. Ia membuat behaviorisme yang sudah membuat saya antusias untuk memandang dunia terlihat begitu konyol. Seperti guntur yang membahana yang memporak-porandakan apapun yang kukuh. Saya termangu oleh misteri itu dan oleh perasaan tidak lagi punya kendali atas dunia saya. Saya merasa kecil, lemah, dan tak berdaya di hadapan semuanya itu. Saya sampai mengatakan bahwa siapa pun yang pernah memiliki anak mestinya sulit untuk menjadi seorang behavioris.”

Ketika berada di Universitas Wisconsin, Maslow menjadi mahasiswa doctor pertama Harry Harlow, seorang psikolog eksperimen terkenal, yang tengah dalam proses mengembangkan laboratorium primata untuk mempelajari perilaku monyet. Disertasi Maslow berkaitan dengan penetapan dominasi di dalam koloni kera-kera. Ia mencatat bahwa dominasi muncul dalam bentuk sejenis keyakinan diri atau perasanan dominan dan bukannya lewat kekuatan fisik atau agresi. Maslow juga mengamati bahwa perilaku seks di koloni primata ditentukan oleh dominasi atau ketundukan tiap anggotanya, dan dia bertanya-tanya apakah hal yang sama juga benar untuk manusia. Segera ia mengeksplorasi kemungkinan tersebut.

Setelah menerima gelar PhD di tahun 1934, Maslow terus mengajar di Universitas Wisconsin untuk sementara waktu, lalu mendaftar di sekolah kedokteran di sana. Ia menemukan bahwa sekolah kedokteran sama dengan sekolah hokum: mencerminkan pandangan yang negatif, tidak berjiwa tentang manusia, dan iapun mengundurkan diri. Di tahun 1935 Maslow pindah ke Universitas Colombia sebagai rekanan Carnegie, tempatnya bekerja selama 18 bulan dengan teorikus belajar terkemuka, Edward L. Thorndlike. Thorndlike memintanya untuk menjalani tes IQ dan menemukan skor Maslow 195, tertinggi kedua yang pernah tercatat oleh tes ini. Ketika Maslow mengungkapkan minatnya untuk mengejar keterkaitan antara dominasi dan seksualitas, Thorndlike mengungkapkan ketidaksukaan tetapi tetap memberikan Maslow izin:

“Saya sendiri tidak begitu menyukai tentang penelitian Anda (Maslow) tentang dominasi dan seksualitas, dan saya berharap Anda tidak meneruskannya, namun jika saya tidak percaya dengan hasil tes yang saya buat sendiri, siapa lagi yang akan percaya? Jadi saya yakin jika akhirnya saya memberi Anda izin, itu akan menjadi yang terbaik bagi Anda dan saya – dan dunia.”

Dengan kebebasan ini Maslow memulai risetnya tentang seksualitas manusia di akhir 1935. Ia memulai dengan menginterview pria dan wanita untuk menentukan bagaimana perasaan mereka tentang dominasi dan ketundukan dan preferensi seksual mereka. Namun, Maslow segera meninggalkan subjek pria karena mereka sering mengelak dan cenderung berbohong, melebih-lebihkan, bahkan mereka mendistorsi pengalaman seks mereka. Maslow menggunakan interview standar, pertanyaan seperti: “Posisi bagaimana yang Anda sukai saat bercinta?”, “Seberapa sering Anda bermasturbasi?”, “Fantasi apa yang Anda sukai saat bermasturbasi?”. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan ini Maslow menerbitkan sejumlah artikel tentang seksualitas wanita antara tahun 1937 sampai 1942. Secara umum ia menemukan bahwa ketika dibandingkan dengan wanita yang tunduk, wanita yang dominan cenderung tidak begitu konvensional, tidak terlalu religius, kurang begitu toleran terhadap stereotip perempuan, ekstravert, lebih suka berpetualang seks, dan kurang begitu cemas, cemburu, dan neurotik. Maslow juga menemukan bahwa wanita yang dominan tertarik kepada pria yang sangat dominan, yang mereka deskripsikan sebagai: “sangat maskulin, penuh kepercayaan diri, sangat agresif, pasti dengan apa yang dimaui dan sanggup mendapatkannya, umumnya superior di banyak hal.” Sedangan di bidang seks wanita yang sangat dominan mengekspresikan preferensi sebagai berikut:

“Gaya bercinta yang langsung, tidak perlu sentimentil, agak kasar, hewani, barbar, penuh nafsu, bahkan brutal. Ia harus mencapai puncak secepatnya, bukan menikmati periode lama bercumbu. Dia ingin segera direnggangkan kakinya, tidak perlu melewati stimulasi terlalu banyak. Dengan kata lain, dia ingin didominasi, dipaksa untuk memasuki status budak.”

Wanita yang rendah dominasinya, sebaliknya, lebih tertarik kepada pria yang baik hati, ramah, lembut, setia dan memperlihatkan rasa sayang kepada anak. Menarik untuk dicatat bahwa kerja Maslow tentang seksualitas manusia muncul beberapa tahun sebelujm riset Kinsey yang terkenal muncul di pertengahan tahun 1940-an.

Pada tahun 1937, Maslow pindah ke Brooklyn Collage, tinggal sampai tahun 1951. Di Brooklyn Collage inilah Maslow mengajar sepenuhnya, melanjutkan risetnya tentang seksualitas manusia, dan membimbing para mahasiswa. Maslow menjadi sangat populer sebagai guru sehingga koran kampusnya menyebutnya sebagai Frank Sinatra dari Brooklyn Collage. Di tahun 1947 Maslow didiagnosis memiliki sebuah penyakit jantung, yang kemudian memaksa Maslow menjalani perawatan medis. Pada saat itu Maslow sudah dikarunia dua putri; ia pindah ke Pleasanton, California, yang merupakan tempat sementara di mana ia mengurusi sebuah kantor cabang keluarga besarnya, yakni Maslow Cooperage Corporation, dan membaca banyak biografi tokoh sejarah kenamaan. Pada tahun 1949 ia kembali ke Brooklyn Collage.

Bisa dilihat sejak awal Maslow berkaitan dengan spesimen yang sehat, luar biasa dan dominan. Namun kerja ini hanya langkah kecil dari minat awalnya terhadap pribadi-pribadi historis yang luar biasa. Pengaruh penting yang mewarnai pemikiran Maslow adalah pengalamannya dengan suku Indian Northern Black-foot di Alberta, Canada. Hasil penelitiannya menjadikan Maslow yakin bahwa sikap bermusuhan pada manusia lebih merupakan buah peradaban daripada kodrat.

Maslow sedang berada di New York pada akhir di tahun 1930-an hingga di akhir 1940-an ketika pemikiran-pemikiran terbaik di Eropa tiba di Amerika Serikat karena lari dari Nazi Jerman. Maslow banyak belajar dari Alfred Adler, Max Wertheimer, Karen Horney dan Erich Fromm. Namun ia juga mendapat pengaruh besar dari antropolog Amerika Ruth Benedict. Kekagumannya terhadap Max Wertheimer, pendiri psikologi Gestalt, dan Ruth Benedict, memicu minatnya terhadap pribadi yang mengaktualisasikan diri. Maslow menggambarkan bagaimana upayanya untuk memahami dua pribadi inilah yang kemudian berkembang mengakibatkan menjadi kerja seumur hidupnya:

“Investigasi saya terhadap aktualisasi diri tidak dirancang sebagai riset dan bahkan tidak dimulai sebagai riset. Investigasi dimulai sebagai upaya seorang intelektual muda yang berusaha memahami dua guru yang dikasihi, dikagumi, dan dihormatinya, dan mereka merupakan pribadi yang sangat mengagumkan. Ini mirip dengan sebuah devosi terhadap IQ yang tinggi. Saya tidak sekadar mengagumi, tetapi berusaha memahami mengapa mereka begitu berbeda dari orang lain di dunia. Mereka adalah Max Wertheimer dan Ruth Benedict. Mereka adalah guru saya setelah saya menjadi PhD dari West ke New York City, dan mereka adalah individu yang sangat menakjubkan. Kemampuan saya di bidang psikologi ternyata belum cukup mampu untuk memahami mereka. Seolah mereka bukanlah manusia tetapi lebih dari manusia.Investigasi saya sendiri dimulai sebagai altivitas pra-ilmiah atau tidak ilmiah. Saya membuat sejumlah deskripsi dan catatan penting tentang Max Wertheimer, dan saya juga membuat catatan tentang Ruth Benedict. Ketika berusaha memahami mereka, berfikir tentang mereka, dan menulis tentang mereka di jurnal dan buku catatan, saya menyadari di momen menakjubkan itu bahwa dua pola tersebut bisa digeneralisasikan. Saya sedang membahas satu jenis pribadi bukan dua individu yang tidak bisa diperbandingkan. Ini sangat menggembirakan ketika saya berusaha melihat apakah pola ini bisa juga ditemukan di tempat lain, dan saya memang menemukannya dari satu orang ke orang lain. Jika dibandingkan dengan standar lazim riset laboratorium, yaitu riset ketat dan terkontrol, ini bukan hanya sekadar riset.”

Kekaguman mendalam Maslow terhadap Wertheimer dan Benedict meluas hingga menjadi standar kekaguman terhadap semua pribadi yang memiliki kepercayaan yang tinggi. Bahkan, ia menyebut para profesor koleganya itu dan tokoh historis besar sebagai malaikat penjaganya karena mereka selalu membuka tangan kapan pun dia membutuhkan bantuan. Maslow mengidealkan profesor-profesornya itu sampai-sampai ia terkejut saat sadar bahwa mereka juga manusia seperti dirinya. Contohnya, suatu ketika Maslow sekamar mandi bersama profesor filsafatnya dan menggunakan toliet berdampingan. Dengan pengalaman tersebut Maslow berkata, “Itu sangat mengguncangkan saya sehingga membutuhkan waktu berjam-jam, berminggu-minggu, bagi saya untuk melihat profesor saya itu juga manusia.”

Di tahun 1951 Maslow pindah ke Universitas Brandeis di Waltham, Massachussetts sebagi dekan fakultas psikologi. Selama tahun-tahun awal di Brandeis, tugas administrasi dan masalah pribadi menahan Maslow untuk mengejar kerja teoritisnya. Di masa ini dia malah menjalani psikoanalisis karena permusuhan yang terus ia rasakan terhadap ibunya dan kenangan kanak-kanaknya yang dipenuhi anti-Semitisme. Padahal belum lama Maslow sanggup menggarap studinya tentang manusia yang sehat secara psikologis, membuatnya tampil menjadi pemimpin psikologi mazhab ketiga.

Pada tahun 1954 Maslow menerbitkan buku Motivation and Personality, bukunya kedua, kemudian mengalir sejumlah tulisan berupa laporan, makalah, artikel, ceramah, dan buku-buku yang merupakan pengembangan, pengolahan, serta penyempurnaan gagasan awal, Psikologi Humansitik. Buku ini disebut telah berhasil menempatkan diri secara kokoh sebagai alternatif ketiga yang tegar mengahadapi psikologi yang objektivistik dan Freudianisme ortodoks. Namun setelah beberapa tahun yang sangat produktif, kehidupan akademik Maslow menjadi sukar.

Pada pertengahan tahun 1960-an muncul keresahan sosial yang tersebar luas di Amerika Serikat, dan gerakan kontrabudaya yang semakin tumbuh menguat mencari sosok pemimpin. Meski Maslow berpotensi menjadi kandidat, Hoffman mendiskusikan sejumlah alasan kenapa Maslow adalah pilihan buruk sebagai ikon mereka. Mereka yang ada di dalam gerakan kontrabudaya ingin menekankan perasaan, intuisi dan spontanitas dan bukannya objektivitas dalam memahami hakikat manusia. Pandangan Maslow selalu menghargai tinggi hakikat manusia. Ia menolak untuk mengutuki keberadaan tentara Amerika di Indo-Cina.

Maslow juga mundur dari Amerika Civil Liberties Union karena melihatnya semakin lemah terhadap para kriminal. Ia mengkritiknya sebagai pemikiran yang simplistik terkait pasivisme dan pandangan politis lain yang dianut putri bungsunya yakni Ellen, dan mahasiswa psikolog pertamanya yakni Abbie Hoffman. Secara umum Maslow mengasingkan diri dari komunitas akademik dengan mengkritik universitas-universitas di Amerika Serikat karena tidak memberi kontribusi apa pun bagi solusi persoalan dunia, dan dengan mengkritik para anggota fakultas karena bergantung kepada privilese guilda abad tengah seperti jabatan. Lebih jauh lagi, Maslow menyimpulkan bahwa universitas termasuk di antara organisasi yang paling buruk diatur. Di tengah-tengah semua pertentangan ini, Maslow makin kesulitan mengembangkan teorinya karena di tanggal 8 Juli 1966 dipilih menjadi presiden APA.

Selama masa pergolakan ini Maslow melihat para mahasiswanya membodohi diri dan tidak disiplin secara intelektual. Contohnya pada suatu kejadian, para mahasiswa Maslow ingin mengambil-alih ruang kuliah dan mengajar diri mereka sendiri. Maslow awalnya menolak namun kemudian mengiyakan. Hoffman, muridnya mendiskripsikan apa yang terjadi saat itu:

“Semua persoalan akhirnya mulai mendapat jalan keluar setelah dia membiarkan semua pemrotes menyelenggarakan sendiri kuliah mereka. Dia percaya bahwa ia hanya membutuhkan persahabatan yang lebih mendalam karena terbukti mereka tidak mampu berpartisipasi di dalam dialog intelektual yang serius. Mereka hanya remaja yang kebingungan, bukan orang dewasa yang bisa menyakiti dengan kebebasan penuh. Maslow juga menyadari bahwa teorinya tentang hakikat manusia yang mampu menjelaskan perilaku mereka, yakni mereka yang mengaktualisasikan diri. Oleh karena itu ia melihat mereka dengan penuh rasa kasihan, membuang-buang proporsi intelektualnya, sebab untuk menghadapi remaja yang sedang berjuang memuaskan kebutuhan dasar seperti itu tidak ada cara lain kecuali memperlakukan mereka sebagai anak-anak.”

Para mahasiswa akhirnya megambil-alih gedung perpustakaan dan administrasi di Universitas Columbia dan ketika itu kesehatannya sedang menurun. Maslow berkeyakinan bahwa inilah saatnya ia mundur dari kegiatan belajar-mengajar. Momen melarikan diri dari dunia akademik pun datang ketika di akhir 1968 Maslow ditawari menjadi rekanan Saga Administrative Corporation. Ia menerima tawaran itu dan menikmati kebebasannya yang sangat besar. Situasi ideal ini tidak bertahan lama. Maslow menderita serangan jantung saat ia sedang joging. Usianya 62 tahun saat ia meninggal dunia.

Perbedaan Dengan Teori-Teori yang Lain

  1. Karya Maslow bukanlah penolakan secara mentah-mentah atas karya Freud atau Watson serta para behavioris lainnya, melainkan usaha menelaah dari segi yang bermanfaat, bermakna, dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan pada kedua psikologi tersebut, lantas bertolak.
  2. Maslow sangat keberatan atas sikap Freud yang memusatkan diri pada penyelidikan tentang orang-orang yang mengalami gangguan neurotis dan psikotis serta angggapan bahwa bentuk tingkah laku luhur hasil belajar bukan kodrati pada manusia.
  3. Maslow memiliki keyakinan bahwa orang tidak akan dapat memahami penyakit mental sebelum ia mengerti kesehatan mental.
  4. Konsep teorinya, ia telah menyelidiki manusia-manusia terbaik yang dapat ditemukannya hingga sampai pada simpulan “Yang tengah berlangsung kini ialah perubahan gambaran tentang manusia yang telah merasuk dalam diri setiap orang sampai ke tulang sumsum mereka. Sejarah yang tercatat telah memandang remeh kodrat manusia.
  5. Kaum Behavioris banyak mendasarkan penelitian pada studi tentang binatang-binatang. Maslow mengemukakan ada perbedaaan penting antara tingkah laku manusia dan tingkah laku binatang. Ia mengemukakan keyakinannya bahwa kita dapat belajar jauh lebih banyak tentang tingkah laku manusia dengan mempertimbangkan segi-segi subjektif maupun segi-segi objktifnya. Buktinya, menurut pengalamannnya, pendekatan subjektif kerap kali justru lebih berhasil; sementara jika hal-hal yang subjektif itu diabaikan, banyak tingkah laku manusia yang kehilangan maknanya. Maslow tidak menolak pendekatan ilmiah tetapi lebih menuntut pendekatan menyeluruh. Meski tak sependapat dengan teori kaum Behavioris dan kaum Freudian, Maslow dan para psikolog Mazhab Ketiga mengakui tekhnik-tekhnik psikologi ilmiah dan psikologi Freud tetap dapat dimanfaatkan.

Pendekatan Mazhab Ketiga

Gagasan Maslow bahwa orang akan dapat belajar banyak tentang manusia dan berbagai kemampuannya dengan mempelajari orang-orang yang sehat dan matang secara luar biasa, segolongan manusia yang oleh dia sebut “pucuk yang tumbuh mekar” (the “growing tip”).

Pendapat Maslow tentang teori yang menyeluruh tentang tingkah laku manusia harus mencakup determinan internal atau intrinsik tingkah laku maupun determinan-determinan ekstrinsik atau eksternal dan environ mentalnya. Freud terlalu terpukau pada yang pertama, sedangkan kaum Behavioris pada yang kedua; pandangan itu perlu digabungkan. Studi objektif semata tentang tingkah laku manusia belumlah cukup; untuk memperoleh pengertian yang menyeluruh, maka segi-segi subjektifnya pun perlu dipertimbangkan. Kita harus mempertimbangkan perasaan, keinginan, harapan, aspirasi-aspirasi seseorang agar dapat memahami tingkah lakunya.

Seorang peneliti tentang tingkah laku manusia yang berhasil harus lebih bersikap filosofis, lebih kreatif, lebih luwes, lebih intuitif, mampu “melihat keseluruhan realitas” mampu memandang semua disiplin lain yang beraneka itu sebagai sejawat yang saling menolong bukan sekedar bidang-bidang terpisah. Ilmu harus diartikan sebagai pencarian kebenaran, penerangan, dan pemahaman tidak dapat dibatasi hanya pada mereka yaang memiliki gelar dalam satu bidang. Dalam tata urutan fisika dianggap “ilmiah” daripada psikologi, dan psikologi lebih “ilmiah” daripada sosiologi. Pandangan ini memecah belah ilmu dan membangun dinding pemisah. Kelompok ilmuwan lainnya mendukung Maslow atas suatu pendekatan yang lebih luas, lebih menyeluruh dan multi disipliner terhadap masalah-masalah umat manusia.

Maslow berkesimpulan bahwa perkara-perkara moral dan spiritual masuk dalam wilayah alam ramai dan memandangnya sebagai bagian dari ilmu alam, bukan sebagai pihak oposisi. Dalam kedudukannya sebagai suatu pranata kemasyarakatan dan suatu kegiatan manusia, ilmu pengetahuan alam tentu memiliki sasaran, etika, moral, dan tujuan-tujuan. Ringkas kata, memiliki nilai-nilai.

Pembaruan jawaban “ilmiah” serba eksak dalam studi tentang tingkah laku manusia dapat menjadi tidak sehat. Ada sekian banyak bidang di mana suatu penelitian ilmu seakan kehilangan daya atau malah tidak mungkin sama sekali. Dalam ketiadaan pengetahuan yang eksak semacam itu, kita harus berani menggunakan pengetahuan apa saja yang ada. “Kebenaran”, kata Maslow adalah soal taraf.

Maslow juga sangat mencela apa yang ia sebut pendekatan atomistis. Dalam pedekatan yang lazim digunakan di kalangan ilmu-ilmu fisik ini orang mengurai persoalan ke dalam bagian-bagian itu secara terpisah. Menurut keyakinannya, manusia harus diselidiki sebagai totalitas, sebagai suatu sistem. Setiap bagian tak dapat dipisahkann dari bagian lainnya dan jika bagian-bagian itu tidak kita pelajari seluruhnya sebagai kesatuan, maka jawaban-jawaban yang kita peroleh akan tidak tuntas. Kebanyakan imuwan behavioral telah berusaha mengisolasikan dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan dan naluri-naluri, lalu menyelidikinnya secara terpisah-pisah. Menurut pengamatan Maslow cara ini biasanya kalah produktif dibandingkan pendekatan holistik yang teguh berpegang keyakinan bahwa keseluruhan lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannnya.

STUDI TENTANG AKTUALISASI DIRI 

Penyelidikan Maslow akan aktualisaikan diri muncul dari rasa ingin tahu ketika masih berstatus mahasiswa, penyelidikannya tentang contoh-contoh tokoh-tokoh terkemuka dua orang profesor yang sangat dihormati dan dikaguminya mendorongnya menganalisis kepribadian kedua profesornya yang begitu lain dan menonjol. Meski penelitian itu sendiri jauh dari memenuhi syarat metodologis ilmiah, hasil catatannya ternyata penting, bahwa kedunya memiliki persamaan dari sifat tertentu yang sama-sama dimiliki. Dari temuan tersebut lahirlah usaha-usaha penelitian yang lebih luas

Definisi pribadi yang teraktualisasikan memang masih kabur, namun secara bebas Maslow melukiskannya sebagai “penggunaan dan pemanfaatan secara penuh bakat kapasitas, potensi tersebut. Orang semacam itu memenuhi dirinya dan melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannnya” Kriterium negatifnya ialah tidak adanya kecenderungan-kecenderungan ke arah gangguan-gangguan psikologis, neurologis, atau psikosis. Pribadi yang teraktualisasikan merupakan contoh tepat spesies manusia, wakil kelompok yang kemudian oleh Maslow disebut “pucuk yang tumbuh mekar (the “growig tip”). Pendekatan ini merupakan penolakan atas pendekatan statistis yang lazim digunakan di lingkungan ilmu tingkah laku, yang membahas kelompok rata-rata spesies.

Karena yang diselidiki adalah tokoh-tokoh yang masih hidup, namanya tidak boleh disebut, maka dua syarat lazim dituntut untuk suatu karya ilmiah menjadi tidak mungki terpenuhi, peyelidikan diulangi dan tersedianya data terbuka untuk menarik kesimpulan, kesulitan ini diatasi dengan pemilihan tokoh-tokoh terkemuka masyarakat dalam sejarah sebagai subjek penyelidikan, dengan penelitan tambahan terhadap kelompok orang muda dan anak-anak, yang dapat digunakan secara terbuka.

Maslow membedakan penyelidikannya menjadi tiga kategori:

  1. Kasus-kasus: Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Albert Einstein, Eleanor Roosevelt, Jane Addsmd, William Jmaes, Spinoza, Alber Schweitzer dan Aldous Hockley.
  2. Kasus Parsial: Tokoh sezaman dengan tokoh-tokoh di atas yang kurang memenuhi syarat penyelidikan.
  3. Kasus Potensial: Dua puluh Tokoh lebih muda yang dinilai tengah berkembang ke arah aktualisasi G.W Carver, Eugene V. Debs, Thomas Eakins, Fritz Kreisler, Goethe, Pablo Casals, Martin Duber, Danilo Dolci, Arthur Waley, D.T Susuki, Adlai Stevenson, Sholom Aleichem, Robert Browning, Ralph Waldo Emerson, Frederick Douglass, Joseph Schumpter, Robert Benchley, Ida Tarbell, Harriet Tubman, George Washington, Karl Muenzinger, Joseph Hayden, Camille Pisaro, Edwad Bibring, George William Rusell, Pierre Renoir, Henry Wadsworth Longfellow, Peter Krepotkin, John Altgeld, Thomas More, Edward Bellamy, Benjamin Franklin, John Muir, Walt Whitman. Penyelidikan tentang tokoh-tokoh ini mengenai kebiasaan, sifat, kepribadian, kemampuan mereka, telah mengantar Maslow pada definisinya tentang kesehtan mental dan teori motivasi pada manusia. Metodenya membuka bidang baru bagi ilmu behavioral. “Kini tidak lagi mustahil,” kata Maslow, “melalui studi tentang orang-orang yang mencapai kepenuhan diri, akan terbuka mata kita pada segala pengertian dasar yang merupakan barang basi bagi pada filsof namun barang baru bagi kita.”

DAFTAR PUSTAKA