Atribusi Sosial

You are here:
< Back

Berdasarkan pandangan motivasional, manusia memiliki berbagai kebutuhan, dari kebutuhan sederhana sampai kompleks.

Eggen & Kauchak (1997) mengatakan bahwa salah stau kebutuhan manusia adl kebutuhan keteraturan & melalukan pemahaman sesuatu.

Dlm kaitannya dg makhluk sosial, ada tuntutan dlm diri utk mampu menjelaskan apa yg terjadi dibalik suatu perilaku. Artinya, ketika muncul perilaku, orang berusaha mencari informasi tentang trait, motif, sifat apa yang melatarbelakangi perilaku > hal ini disebut dengan Atribusi.

Dari Perilaku ke Disposisi (sifat) | Theory of Correspondent Inference

David Jones (1965) adalah orang pertama yang mencoba menggunakan informasi tentang perilaku sebagai dasar untuk menyimpulkan karakteristik/ trait yg dimiliki seseorang.

Dengan diketahui perilaku maka diketahui trait/ sifat. Hal ini disebut Theory of Correspondent Inference atau hubungan yang dapat disimpulkan.

Ilustrasi: “Bayangkan Anda sedang mengamati seorang perempuan terburu-buru di bandara & mendorong orang2 di sekitarnya yang menghalangi jalan”.

“Apakah hal ini menandakan bahwa perempuan trsbt memang kasar & tidak sabaran?” Belum tentu, mungkin saja dia sedang bergegas khawatir tertingal pesawat. Dlm kesehariannya mnkn saja dia org yg pemalu & sopan. Kejadian di bandara hanyalah sebuah pengecualian.

 Sering kali individu bertindak bukan karena sifat aslinya, melainkan dipengaruhi faktor2 eksternal yg membuat dia tidak punya pilihan. Sehingga apabila mendasarkan kesimpulan kita hanya pada pengamatan perilaku sesaat bisa jadi menyesatkan.

Lalu, Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?

Menurut teori Jones & Davis, kita dapat mengobservasi beberapa tipe perilaku, yaitu perilaku yg paling informatif:

  1. Freely Choosen Act: Perilaku yg mempunyai berbagai pilihan, jadi dalam kondisi yang tidak kepepet.

Misal: “Seorang wanita muda harus menikah dengan seorang duda kaya yang berusia tua. Wanita itu menikah karena dipaksa oleh orang tuanya.” Dari peristiwa itu, sangatlah sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa wanita tersebut adalah seorang yang materialistik yang mengejar harta si duda.

“Tetapi kalau dia sendiri yang ingin menikah dengan duda tersebut sedangkan orang tuanya tidak menyarankan.” Maka dengan mudah kita menarik kesimpulan bahwa wanita itu materialistik. Sebab tindakan untuk menikah dengan duda adalah tindakan atas pilihannya sendiri, bukan tekanan situasi.”

2. Non-Common Effect: Situasi di mana penyebab dari tindakan yang dilakukan seseorang adalah sesuatu yang pada umumnya tidak disukai oleh orang.

Misal:  “Seorang pria menikah dengan seorang wanita yang kaya, pintar tetapi tidak cantik dan sudah tua.”

Sifat-sifat yang tidak umum (tua dan tidak cantik) inilah yang disebut sebagai non-common effect. Orang akan segera saja menyimpulkan bahwa pria itu memiliki sifat-sifat kepribadian yang meterialistic. Sebab umumnya pria tidak menyukai menikah dengan wanita yang buruk rupa dan tua usianya. Sebaliknya pria umum menyukai menikah dengan wanita yang elok parasnya, banyak hartanya, muda usianya, sehat tubuhnya dan sebagainya.

3. Low Social Desirability (menyimpang dari kebiasaan): Kita akan dengan mudah menarik kesimpulan bahwa seseorang memiliki kepribadian tertentu yang tidak wajar bila orang itu menyimpang dari kebiasaan umum.

Misal: “Jika seseorang menghadiri upacara kematian biasanya orang harus menujukkan roman muka yang sedih dan berempati pada ahlul duka. Kalau orang yang melayat menujukkan hal yang demikian akan sulit bagi kita unyuk mengatribusikan bahwa orang itu orang yang empatik, karena memang begitulah seharusnya. Tetapi bila orang melayat lalu menujukkan kegembiraan dengan tertawa terbahak-bahak di saat orang lain susah, maka mudah untuk kita simpulkan bahwa kepribadian orang tersebut agak kurang beres.

Dapat disimpulkan, terdapat tiga perilaku yg informatif, yaitu:

  1. Tampak dipilih secara bebas ~ tidak terpaksa
  2. Efek tidak umum pd masyarakat
  3. Tingkat harapan sosialnya rendah.

Teori Atribusi kausal dr Fritz Heider

Fritz Heider adalah orang pertama kali mengatakan bahwa “pada dasarnya orang selalu termotivasi untuk memahami perilaku orang lain dlm interaksi sosial dr hari ke hari”. Upaya memahami perilaku orang lain tersebut menggunakan prinsip kausalitas yg bersifat intuitif & common sense.

Untuk menentukan atribusi perilaku didasarkan pd faktor internal (ability & effort) & eksternal (faktor situasi).

Model atribusi Heider: perilaku seseorang dilihat sebagai penyebab dr tekanan lingkungan & tekanan personal.

Ilustrasi:

“Anda berencana untuk bertemu dengan seseorang saat makan siang, tapi dia tidak datang.”

“Anda meninggalkan pesan utntuk teman anda, tapi dia tidak menjawab.”

“Anda mengharapkan promosi dalam pekerjaan, tapi tidak pernah terjadi.”

Apa pertanyaan yg muncul pada benak anda dalam setiap situasi?

“Mengapa teman anda tidak menepati janji?” “Apakah dia lupa? Apakah dia sengaja melakukannya?”

Utk memudahakan hal ini, kita mulai dg pertanyaan: “Apakah perilaku itu disebabkan oleh faktor internal (sifat, motif/ intensi), faktor eksternal (aspek fisik & situasi) atau kombinasi keduanya?”

Harold Kelley memberikan informasi tambahan yg diperlukan dlm melakukan atribusi, yaitu aktor, situasi & stimulus. Seperti halnya Heider, Kelley menggunakan semua informasi baik dr faktor internal maupun eksternal utk menentukan perilaku.

Penentu dalam membuat atribusi yg akurat:

  • Distinctivenes
  • Consistency
  • Consensus
  1. Konsensus (consencus): Situasi yang membedakan perilaku seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama.

Bila seseorang berperilaku sama dengan perilaku orang kebanyakan, maka perilaku orang tersebut memiliki konsensus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku tersebut memiliki konsensus yang rendah.

Misal: Pak Amin adalah penyuka lawakan yang dimainkan oleh group lawakan Srimulat. Setiap menonton pertunjukan Srimulat, pak Amin selalu tertawa terpingkal-pingkal dan orang lain pun juga tertawa. Dalam contoh ini dapat kita katakan bahwa perilaku pak Amin dalam hal tertawa menonton lawakan Srimulat berkonsensus tinggi (high consencus). Tetapi bila hanya pak Amin saja yang tertawa sedangkan orang lain tidak tertawa, maka perilaku pak Amin tersebut memiliki konsensus yang rendah.

2. Konsistensi (consistency): sesuatu yang menunjukan sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasi ke situasi lain.

Misal: Jika pak Amin selalu tertawa menonton Srimulat pada hari ini atau kapanpun pak Amin menonton Srimulat selalu tertawa, maka perilaku pak Amin tersebut memiliki konsistensi yang tinggi (high consistency). Semakin konsisten perilaku seseorang dari hari ke hari maka semakin tinggi konsistensi perilaku orang tersebut.

  1. 3. Keunikan (distinctivenss): menunjukan sejauh mana seseorang bereaksi dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda.

Misal: Kalau pak Amin tertawa menonton lawakan Srimulat dan tertawa menonton lawakan lainnya juga (lawakan Tukul Arwana, extra vaganza, dll) maka dapat dikatakan perilaku pak Amin memiliki keunikan yang rendah (low distinctivess), tetapi kalau pak Amin hanya tertawa ketika menonton lawakan Srimulat sedangkan terhadap lawakan lainnya pak Amin tidak tertawa, maka perilaku pak Amin memiliki keunikan tinggi (high distictiveness). Mengapa demikian? Karena pak Amin konsisten hanya tertawa pada Srimulat, kepada lawakan lainnya meskipun lucu, pak Amin tidak tertawa.

Contoh atribusi internal:

Pertanyaan: Apakah temanmu pendiam?

Ya > (atribusi internal)

Memang, di antara teman-teman yg lain dia memang pendiam (konsensus rendah)

Tidak hanya dengan teman-teman baru, dengan teman-teman lamapun dia lebih banyak diam (distingsi rendah)

Sejak kenal pertama sampai sekarang, dia memang cenderung pasif dan pendiam (konsistensi tinggi)

Contoh atribusi eksternal:

Pertanyaan: Apakah kamu suka nonton Infotainment?

Ya > (atribusi eksternal)

Sama seperti teman-teman yang lain, kepingin mengetahui kehidupan para artis yang sdg naik daun (konsensus tinggi)

Saya nonton infotainment kalau memang sedang ada waktu saja (distingsi tinggi)

Sejak dulu sampai sekarang saya hanya bisa menonton infotainment saat ada waktu longgar saja (konsistensi tinggi)

Menurut Baron, selain faktor internal-eksternal, ada faktor lain yang juga penting:

  1. Faktor yang stabil atau berubah2
  2. Faktor yang bisa dikendalikan atau tidak

Misal:

  • Internal stabil: kepribadian, tempramen
  • Internal temporer: motif, kesehatan, kelelahan
  • Internal dpt dikontrol: kontrol diri
  • Internal tdk dpt dikontrol: sakit rabun jauh

Augmenting & Discounting
Bagaimana kita menghadapi berbagai kemungkinan penyebab perilaku?

Ilustrasi: “Bayangkan, seandainya suatu hari bos menghampiri meja kerja anda lalu memuji hasil kerja anda. Ia juga mengatakan bahwa dia senang bisa bekerja sama dengan anda. Ia melakukan hal ini di depan pegawai lainnya, yang semuanya lalu memberi selamat setelah dia pergi. Sepanjang pagi anda merasa bahagia. Namun saat makan siang, bos memanggil ke ruangannya dan mengatakan apakah anda bersedia mengerjakan tugas tambahan yang cukup sulit

“Mengapa dia memuji?” “Karean dia benar-benar ingin berterima kasih atas jerih payah anda, atau karena dia tahu bahwa dia akan segera meminta melakukan tugas yg sulit untuknya?”

Terdapat dua kemungkinan alasan jawaban, dlm psikologi disebut sebagai Discounting, yaitu:

DISCOUNTING: kecenderungan untuk menganggap suatu faktor penyebab (bos secara tulus memang berniat memuji anda) sebagai hal yg kurang penting karena ada faktor penyebab lain (yaitu: bos berniat menjebak agar bersedia mengerjakan tugas yg lebih sulit).

Memilih salah satu alasan yg menjadikan alasan munculnya perilaku.

Ilustrasi: Bos terkenal tidak suka memuji karyawannya di depan umum.”

Apa yang akan anda simpulkan sekarang? Kemungkinan alasannya memang tulus, yaitu bos sangat senang dengan hasil kerjanya. Lagi pula bos tetap melakukan meskipun ada faktor lain yang menghambat dlm melakukannya (kebijakannya sndri tidak memuji di depan umum).

AUGMENTING: kecenderungan mementingkan suatu faktor yang dapat membantu terjadinya perilaku ketika faktor pendukung & penghambat sama-sama hadir, namun perilaku tetap dilakukan/ terjadi.

Kesimpulannya: Bos benar2 menyukai pekerjaan anda, shg dia memuji di depan umum, tanpa peduli bahwa dia tidak biasa memuji di depan umum

Teori Regulasi Fokus
Apakah Augmenting & Discounting selalu terjadi?

Teori regulasi fokus menyatakan bahwa dalam mengatur agar perilaku dapat mencapai tujuan yang diharapkan, individu kerap mengadopsi satu atau dua perspektif yang berbeda, yaitu:

  1. Fokus promosi > menekankan pd hasil positif

Mencari berbagai kemungkinan cara/ jalan untuk mencapai tujuan, sehingga menganggap masing2 cara itu adalah penting.

Misal:

  • Bill menolong perempuan itu, karena dia suka menolong (personal)
  • Bill menolong si perempuan karena kenal & bisa membantu (situasional

2. Fokus preventif > menekankan pd hasil negatif

Menentukan satu cara yang paling tepat, sehingga cenderung menolak cara-cara lain yang dianggap kurang tepat

Misal: Bill menolong si perempuan karena kenal & bisa membantu (situasional)

Hasil Studi Liberman dkk:

  • Makin kuat fokus preventifnya makin besar melakukan discounting (misal menolak satu dr kemungkinan alasan Bill)
  • Makin kuat fokus promosinya makin lemah kecenderungan melakukan discounting (karena alasan sudah jelas)

Di balik Pembedaan Orang-Situasi
Bagaimana sebenarnya manusia menjelaskan faktor penyebab perilaku?

Untuk mengungkap keseluruhan aspek dlm cara berfikir kita tentang penyebab perilaku seseorang, kita perlu mempertimbangkan alasan-alasan seseorang (motif, hasrat, intesi, belief, nilai2) dan juga faktor lainnya.

Misal: “Mengapa Hillary Clinton maju sebagai Senator untuk Negara Bagian New York?”

Dia menginginkan kekuasaan, Dia ingin bertahan di pemerintahan, atau dia betul2 ingin melayani masyarakat. Semuanya mengacu pd kondisi internal yg disadari olehnya, maka itu dikatakan sebagai alasan.

Sumber Dasar Kesalahan Aribusi

  1. Bias korespondensi
  2. Efek aktor-pengamat
  3. Bias mengutamakan diri sendiri
  1. Bias Korespondensi

Adalah kecenderungan untuk menjelaskan perilaku orang lain disebabkan oleh disposisinya (faktor internal) daripada mencari penjelasan dari faktor eksternal, meskipun penyebab situasionalnya sangat jelas.

Budaya memainkan peranan yang sangat penting.

Bias korespondensi lebih banyak ditemukan pada kultur yang menekankan pada kebebasan individual (negara Barat) dari pada budaya kolektivis (negara Timur)

Ilustrasi: “Seoranng pria terlambat dlm pertemuan. Ketika memasuki ruangan, ia menjatuhkan notesnya di lantai. Ketika mencoba memungutnya kembali, kacamatanya jatuh & pecah. Kemudian, ia menumpahkan kopi ke dasi yg dikenakannya.”

Bagaimana anda menjelaskan peristiwa ini? Besar kemungkinan anda akan menyimpulkan bahwa orang ini canggung dan berantakan. Padahal belum tentu betul, maka akuratkah atribusi tersebut?

Maka terjadi bias korespondensi.

2. Efek Aktor-Pengamat

Kecenderungan untuk mengatribusi perilaku kita lebih pada faktor situasional (eksternal), sementara perilaku orang lain disebabkan faktor disposisional (internal). Kesalahan atribusi ini disebut efek aktor-pengamat (acotr-observer effect)

Misal: “Ketika orang lain jatuh, kita cenderung mengatribusi perilaku jatuh karena canggung. Namun, jika kita yang jatuh, kita cenderung mengatribusi pd faktor ekternal, yaitu karena jalannya licin.”

3. Bias Mengutamakan Diri Sendiri

Kecenderungan mengatribusi kesuksesan pada faktor internal, namun mengatribusi kegagalan pada faktor eksternal. Dikenal dengan istilah bias mengutamakan diri sendiri (self-serving bias)

Misal:

  • Dapat Nilai A > Saya memang berbakat, saya mengerjakan dengan serius, saya belajar banyak ttg materi ini.
  • Dapat Nilai D > Soalnya terlalu sulit, dosen tidak adil, waktu terlalu pendek.

Aplikasi Teori Atribusi

Atribusi & Depresi

Kebanyakan orang mengatribusi kesuksesan pada faktor internal dan mengatribusi kegagalan pada faktor eksternal, tetapi… Orang yang mengalami depresi mengatribusi kegagalan pada faktor internal dan kesuksesan pada faktor eksternal. Hasilnya orang tersebut merasa tidak memiliki kontrol atas hal-hal yang terjadi pada dirinya à depresi & cenderung mudah menyerah.

Teknik terapi > mengubah atribusi kegagalan pd faktor internal ke faktor eksternal.

Atribusi & Prasangka

Teori atribusi dapat menjelaskan mengapa kelompok minoritas yang sering menjadi korban diskriminasi enggan mempermasalahkannya. Mereka takut jika mengatribusikannya sebagai faktor eksternal, orang akan memberi cap negatif pada mereka (si tukang protes).

Misal: “Seseorang dari kelompok minoritas, bercerita dia ditolak lamaran kerjanya karena prasangka, yaitu karena dia berasal dr kelompok ras atu suku tertentu.”

Kesan apa yang akan anda berikan kepadanya?

Prinsip keadilan menyarankan kita utk bersikap simpatik, karena prasangka jelas merupakan kontras dari berbagai nilai yang dianut. Tapi  ada kemungkinan, anda berfikir dia keliru, dia benar2 ditolak krn tidak mampu.  Pada saat kita sampai pd kesimpulan itu, kita akan mendapat kesan negatif thdnya > menganggapnya sbg org yg suka protes.

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta