Efek penonton (bystander effect)

You are here:
< Back

Efek penonton (bystander effect) atau sindrom Genovese adalah fenomena psikologi sosial yang terjadi ketika orang tidak membantu dalam keadaan darurat jika ada saksi lain yang hadir karena mereka percaya bahwa orang lain akan membantu.

Sejarah

Pada Oktober 2011, seorang gadis yang berumur dua tahun di China ditabrak oleh sebuah mobil van kecil saat dia berjalan di jalan raya. Sementara dia terbaring dan terluka di jalan, sebanyak 18 orang berjalan melaluinya. Beberapa dari mereka bahkan berjalan di sekitar darahnya. Sebuah truk besar datang dan menabraknya. Akhirnya, seorang pria menolongnya dan menelepon layanan gawat darurat. Dia dibawa ke rumah sakit, di mana ia bertahan selama delapan hari sebelum meninggal.

Mengapa orang hanya berjalan melewatinya dan tidak membantunya? Apa yang membuat orang mengabaikan orang lain yang membutuhkan bantuan? Satu penjelasan yang masuk akal adalah efek bystander.

Efek bystander ini juga kadang-kadang disebut sindrom Genovese dari nama Kitty Genovese, yang pembunuhannya pada 1964 di Queens, New York memicu psikolog sosial untuk mempelajari efek penonton ini.

Kitty Genovese yang berusia 28 tahun pulang dari bekerja di sebuah bar sekitar pukul 3 pagi. Dia memarkir mobilnya sekitar 100 meter dari gedung apartemennya dan mulai berjalan menuju pintu masuk. Winston Moseley mendekatinya, dan ketika Ia berlari menjauhinya menuju pintu depan gedung, Moseley mengejarnya dan menikamnya dua kali dari belakang.

Genovese menjerit dan berteriak minta tolong, dan Moseley melarikan diri. Beberapa tetangganya di apartemen mereka mendengar teriakan tersebut, tapi tidak semua dari mereka tahu bahwa itu adalah teriakan minta tolong, dan laporan bervariasi terhadap berapa banyak, jika ada, orang-orang yang menelepon polisi.

Genovese bangkit dan terhuyung-huyung menuju pintu belakang gedung apartemennya, tapi pintu yang terkunci mencegahnya masuk. Dia ambruk di dekat pintu. Moseley kembali dan menemukannya sekitar 10 menit setelah Ia menikamnya pertama kali. Ketika Ia menemukannya untuk kedua kalinya, Ia menikamnya beberapa kali, memperkosanya, dan membiarkannya hingga mati.

Seorang saksi yang mendengar jeritannya selama serangan kedua akhirnya menelepon polisi, yang tiba terlambat. Kitty Genovese sudah mati.

Setelah pembunuhan itu, New York Times memuat berita dengan judul: “Seseorang yang berumur 38 Tahun Melihat Pembunuhan Tidak Menghubungi Polisi”. Ini tidaklah akurat; penyelidikan kemudian menemukan beberapa saksi, dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa teriakan yang mereka dengar adalah untuk meminta bantuan, dan tidak satupun dari mereka benar-benar melihat seluruh serangan. Mungkin selusin orang mendengar teriakan Genovese, tapi banyak dari mereka yang berpikir itu adalah kegaduhan pemabuk yang pulang dari bar.

Memprediksi Bantuan dalam Sebuah Keadaan Darurat

Di samping ketidak-akuratan dalam cerita asli Kitty Genovese, kasusnya dan artikel tentangnya mendorong psikolog untuk mempelajari mengapa orang tidak membantu dalam keadaan darurat ketika ada orang lain di sekitar. Salah satu studi pertama tentang efek bystander dilakukan oleh Bibb Latane dan John Darley beberapa tahun setelah Genovese dibunuh.

Latane dan Darley menemukan bahwa semakin banyak penonton berada dalam suatu situasi, kecil kemungkinannya bagi siapa pun untuk menawarkan bantuan atau menghubungi layanan gawat darurat. Ini mungkin karena mereka percaya bahwa orang lain akan membantu. Hal ini disebut difusi tanggung jawab.

Latane dan Darley menemukan bahwa ada lima langkah yang orang ambil untuk memutuskan untuk membantu dalam keadaan darurat atau tidak. Langkah-langkah tersebut adalah :

  1. Mengamati sebuah peristiwa. Jika seseorang tidak menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka tidak dapat membantu. Sebagai contoh, banyak orang tidak mendengar Kitty Genovese berteriak sama sekali. Mereka tidak tahu bahwa sesuatu sedang terjadi.
  2. Menafsirkannya sebagai keadaan darurat. Ingat bahwa banyak orang berpikir teriakan minta tolong Genovese sebenarnya hanyalah pemabuk gaduh yang pulang dari bar. Orang tidak hanya harus melihat suatu peristiwa, tetapi juga memahami bahwa itu adalah keadaan darurat.
  3. Memikul tanggung jawab. Jika banyak orang lain di sekitar kita, orang lebih cenderung untuk percaya bahwa orang lain memiliki atau akan mengambil tanggung jawab. Jika mereka percaya orang lain telah atau akan membantu, orang lebih cenderung untuk tidak membantu. Difusi tanggung jawab lebih sering terjadi seiring kelompok saksi yang semakin
  4. Mengetahui cara untuk membantu. Bahkan jika orang melihat suatu peristiwa, menafsirkannya sebagai keadaan darurat, dan bertanggung jawab, jika mereka tidak tahu bantuan seperti apa yang harus diberikan, mereka tidak bisa membantu.
  5. Memutuskan untuk melakukan pertolongan. Bayangkan bahwa Anda menyadari seseorang di dekat Anda di sebuah restoran membutuhkan manuver Heimlich, dan Anda tahu bagaimana melakukannya. Tetapi bagaimana jika Anda baru saja membaca sebuah artikel tentang seseorang yang menggugat orang lain karena menyakitinya selama pemberian manuver Heimlich? Apakah Anda masih mau membantu? Bahkan jika orang tahu bagaimana untuk membantu, mereka mungkin memutuskan untuk tidak melakukannya karena resikonya terlalu tinggi untuk mereka atau karena mereka merasa tidak kompeten.

Ringkasan

Efek bystander adalah istilah psikologi sosial ketika orang tidak membantu dalam situasi darurat jika ada saksi lain yang hadir. Psikolog tergerak untuk mempelajari efek bystander ini setelah pembunuhan Kitty Genovese pada tahun 1964, yang ditikam sampai mati di luar gedung apartemennya sementara saksi mendengar teriakan dan gagal untuk merespon. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada lima langkah yang diambil seseorang untuk memutuskan untuk membantu atau tidak: melihat sebuah peristiwa, menafsirkan peristiwa tersebut sebagai keadaan darurat, memikul tanggung jawab, tahu bagaimana untuk memberikan pertolongan dan memutuskan untuk memberikan bantuan.