Carl Jung

You are here:
< Back

Carl Gustav Jung (26 Juli 1875 – 6 Juni 1961) adalah seorang psikiater dan psikoanalis Swiss yang mendirikan psikologi analitis. Karyanya telah berpengaruh tidak hanya di psikiatri tetapi juga di bidang antropologi, arkeologi, sastra, filsafat dan studi agama.

Sebagai seorang ilmuwan penelitian terkemuka berbasis di rumah sakit Burghölzli terkenal, di bawah Eugen Bleuler, ia menarik perhatian pendiri psikoanalisis Wina, Sigmund Freud. Kedua pria ini melakukan korespondensi panjang dan berkolaborasi pada visi bersama tentang psikologi manusia.

Latar Belakang

Carl Gustav Jung lahir 26 juli 1875 di desa Kesswil. Ia seorang anak tunggal laki-laki dari paul dan emilie jung. Paul adalah seorang dokter arts. Jung adalah psikolog besar pertama yang sangat memperhatikan psikologi orang timur. Sebagai seorang anak, perhatiannya sangat tertuju pada tingkah laku ambigu dari orang tuanya, seolah olah terdapat kepribadian ganda. Ia juga seorang murid freud, yang menjadi seorang psychiater di zurich. Ia bekerja beberapa tahun di tengah bangsa-bangsa asli afrika selatan dan amerika.

Jung senior mulai mengajari Jung bahasa latin ketika dia berumur 6 tahun, dan inilah yang menjadi awal minatnya pada bahasa dan sastra –khususnya sastra kuno. Di samping bahasa-bahasa Eropa Barat modern, Jung dapat membaca beberapa bahasa kuno, termasuk Sanskerta.

Semasa remaja, Jung adalah seorang yang penyendiri, tertutup dan sedikit tidak peduli dengan masalah sekolah, apalagi dia tidak punya semangat bersaing. Dia kemudian dimasukkan ke sekolah asrama di Basel, Swiss. Di sini, dia merasa tertekan karena dicemburui oleh teman-temannya. Lalu dia mulai sering bolos dan pulang ke rumah dengan alasan sakit.

Walaupun awalnya bidang yang dia pilih adalah arkeologi, namun dia masuk ke fakultas kedokteran di University of Basel. Karena bekerja bersama neurolog terkenal, Kraft-Ebing, dia kemudian menetapkan psikiatri sebagai karier pilihannya.

Setelah lulus, dia bekerja di Burghoeltzli Mental Hospital di Zurich di bawah bimbingan Eugene Bleuler, seorang pakar dan penemu skizofrenia. Tahun 1903, dia menikahi Emma Rauschenbach. Dia juga mengajar di University of Zurich, membuka praktik psikiatri dan menemukan beberapa istilah yang masih tetap dipakai sampai sekarang.

Jung sangat mengagumi Freud, dan berkesempatan bertemu pada tahun 1907. Pada pertemuan pertama itu, Freud membatalkan kegiatannya dan mereka berbincang-bincang selama 13 jam. Dampak pertemuan ini sangat luar biasa bagi kedua pemikir ini. Freud akhirnya menyadari bahwa Jung-lah “Putra Mahkota”psikoanalisis dan pewaris takhtanya.

Namun Jung tidak sepenuhnya berpegang pada teori Freud. Hubungan mereka mernggang pada tahun 1909, sewaktu keduanya pergi ke Amerika. Dalam sebuah pertemuan, keduanya berdebat panjang tentang mimpi masing-masing dan Freud mulai membantah analisis Jung dengan cara yang tidak cantik. Akhirnya dia menyerah dan mengusulkan agar perdebatan mereka dihentikan, kalau dia tidak ingin otoritasnya hancur. Jung, sangat kecewa dengan kejadian ini.

Perang Dunia Pertama adalah masa-masa menyakitkan bagi Jung. Tapi pada masa ini pulalah, Jung melahirkan teori-teori kepribadian yang dikenal sampai sekarang.

Setelah perang berakhir, Jung melakukan perjalanan ke berbagai negara, misalnya, ke suku-suku primitif di Afrika, Amerika dan India. Dia pensiun pada tahun 1946 dan menarik diri dari kehidupan umum setelah istrinya meninggal di tahun 1955. Carl Gustav Jung meninggal pada tangga 6 Juni 1961 di Zurich.

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa),Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.

SEJARAH CARL GUSTAV JUNG

Carl Gustav Jung lahir 26 Juli 1875 di desa Kesswyl, Swiss, namun dibesarkan di kota tempat Universitas Basel berada. Agama merupakan tema kuat yang mendominasi usia-usia awal Jung. Ayahnya, Paul Jung, adalah pendeta di Gereja Reformasi Swiss, dan ibunya, Emilie Preiswerk Jung, putri seorang teolog. Ayah Jung melihat dirinya sebagai pribadi yang gagal, dan agama yang dilayaninya tidak banyak memberinya rasa nyaman; Saat masih anak, Jung sering melontarkan pertanyaan mendalam tentang agama dan hidup, namun tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.

Menjadi jelas bagi Jung kalau ayahnya menerima dogma gereja sepenuhnya karena iman, tidak pernah tersentuh secara pribadi oleh pengalaman keagamaan yang riil. Menurut Jung, diskusi-diskusi teologis yang sia-sia ini justru membuatnya asing dari sang ayah. Di kehidupan Jung selanjutnya, agama menjadi bagian vital teorinya, namun jenis agama yang diusungnya dapat menyentuh individu secara emosi, dan sedikit saja bersentuhan dengan dogma gereja atau agama tertentu.

Jung melihat ibunya sosok dominan dalam keluarga, meski di matanya ia memperlihatkan ketidakkonsistenan yang sangat besar, sampai menyebabkannya meyakini ada 2 individu di 1 tubuh itu. Salah satu pribadi itu baik hati dan sangat ramah dengan rasa humor yang tinggi; sedangkan yang lain aneh, kolot dan kejam. lung mendeskripsikan bagaimana reaksinya saat kepribadian kedua ibunya muncul: ”Biasanya saya merasa bingung dengan keberadaan diri ini sehingga saya pun tercenung seribu bahasa” (1961, hlm. 49).

Menarik sekali bahwa jung muda berpikir jika dirinya, sama seperti ibunya, terdiri atas 2 pribadi yang berbeda. Salah satu pribadinya dia namai ‘nomor satu’ (anak sekolahan), yang lain nomor dua (orang yang sudah tua dan bijak). Selanjutnya, Jung menyadari bahwa pribadinya yang nomor satu mewakili egonya atau pikiran sadar, dan pribadinya yang nomor dua mewakili kekuatan yang lebih besar, yaitu pikiran bawah-sadar. Jadi saat masih kanak-kanak Jung mengalami apa yang kemudian dipahaminya sebagai esensi terdalam eksistensi manusia: interaksi pikiran sadar dan bawah-sadar.

Mungkin karena konflik terus-menerus dengan orangtuanya, Jung mulai menutup diri dari keluarga pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Mimpi-mimpi, penglihatan-penglihatan dan fantasi-fantasinya terus meningkat hingga menjadi realitas primer, dan mengembangkan keyakinan jika realitas internal ini telah memercayakan padanya pengetahuan rahasia yang hanya memilih segelintir orang berbakat, dan karenanya, tidak mudah untuk dibagikan kepada siapa pun.

Mimpi, Penglihatan dan Fantasi Awal Jung

Ketika Jung sekitar berusia 7 tahunan, ia menemukan sebuah batu besar yang mulai dipakainya di dalam permainan imajiner. Pertama-tama dia membayangkan dirinya duduk di atas batu itu, yang kemudian dilakukannya. Lalu dia mulai membayangkan apa saja yang dipikirkan batu itu. Kemudian Jung membayangkan dirinya menjadi batu yang diduduki seorang anak laki.

Di titik ini Jung menemukan dirinya sanggup mengubah-ubah perspektif tersebut dengan mudah. Faktanya, ia kadang sulit mengatakan sedang duduk di atas batu ataukah dia batu yang sedang diduduki: ”Jawaban untuk ini sangat tidak jelas, dan ketidakpastian ini biasanya disertai sebuah perasaan ingin tahu sekaligus kegelapan yang mendebarkan. Namun tidak diragukan, entah bagaimana batu ini sudah berbagi rahasianya kepada saya, membuat saya bisa duduk di atasnya berjam-jam sambil merasa terpesona oleh teka-teki yang diberikannya kepada saya itu” (1961a, hhn.20).

Ketika Jung kembali ke batu ini 30 tahun kemudian sebagai pria yang sudah menikah dan sukses, daya magis batu itu seolah kembali begitu saja dengan cepat: “Tarikan dunia lain itu begitu kuat sehingga saya berusaha sekuatnya melepaskan diri darinya agar tidak kehilangan masa depan saya” (1961a, hlm. 20).
Manikin

Ketika Jung berusia sekitar 10 tahunan, ia mengukir sosok manusia dari sebuah penggaris kayu dan menyimpannya di kotak kayu kecil. Jung mendandani sosok ukiran ini dengan mantel hitam, sepatu bot hitam, topi, dan satu batu kecil sebagai miliknya. Sosok ukiran ini menjadi tempat pelarian bagi lung, dan kapan pun mendapatkan masalah, ia datang menemui teman rahasianya ini.

Di sekolah, Jung menulis dalam bahasa rahasia di gulungan kertas kecil, yang kemudian diletakkannya di kotak pensil berisi manikin tersebut. Penambahan setiap gulungan ini mensyaratkan sebuah tindakan seremoni yang khidmat. Jung tidak pernah merasa khawatir saat menjelaskan tindakannya ini karena memang menyediakan rasa aman baginya.

”Ini adalah rahasia besar yang tidak pernah saya khianati dengan rasa malu karena rasa aman hidup saya bergantung penuh kepadanya. Kenapa bisa merasa demikian, tidak pernah saya pertanyakan kepada diri saya? Saya hanya menerimanya apa adanya” (1961a, hlm. 22). ‘Hubungan’ Jung dengan manikin-nya bertahan sekitar setahunan.

Mimpi Falus

Meski aneh, pengalaman dengan batu dan manikin tidak pernah menakutkan atau meresahkan Jung. Faktanya, seperti yang sudah kita lihat, manikin menyediakan baginya rasa damai dan aman. Namun pengalaman mistis Jung muda yang lain tidak menenangkannya. Sebuah mimpi yang dialami ketika usianya masih 4 tahunan begitu menakutkan.

Di mimpinya, Jung menemukan sebuah lubang bekas galian batu besar, didekatinya, dan melihat sebuah tangga batu mengarah ke bawah. Jung pun turun, dan di dasar menemukan sebuah gerbang melengkung yang tertutupi oleh tirai hijau lumut yang tebal. Saat menarik tirai ke samping, ia melihat sebuah ruang empat persegi panjang sekitar 5-6 meteran panjangnya. Di dalam ruang itu ternyata ada singgasana raja yang terkenal dan kaya.

Yang duduk di takhta di tengah singgasana itu suatu benda setinggi 2-3 meteran, dan tebal sekitar setengah meteran. Benda ini terbuat dari kulit dan daging, dan di bagian atas terdapat topi bulat tanpa wajah atau rambut. Di puncak topi ada sebuah mata yang memandang ke atas. Ini jelas sebuah falus raksasa. Meski tidak bergerak, benda ini sepertinya dapat melakukan apa pun.

Jung merasa dilumpuhkan teror di dalam mimpinya itu, apalagi ketika ia mendengar ibunya berkata di dalam mimpi tersebut, ”Ya, terus lihatlah dia. Inilah pemakan-manusia!” (1961a, hlm.12). Ketakutan Jung menjadi-jadi, dan ia terbangun dengan tubuh bermandi keringat dan gemetar ketakutan. Bermalam-malam berikutnya, Jung tidak bisa tidur sampai fajar hendak menyingsing, takut akan mengalami mimpi yang sama sekali lagi. Mimpi falus ini menghantui Jung selama bertahun-tahun dan memengaruhi pandangannya tentang kekristenan sejak saat itu.

Dari mimpinya ini Jung (1961a, h1m.13) menyimpulkan jika falus raksasa adalah kebalikan total Tuhan Yesus yang hidup di bawah tanah:

Dilihat dari segala sisi, falus di mimpi ini tampaknya adalah sebuah Tuhan ‘tanpa nama’ yang bertakhta di bawah tanah, dan gambaran ini yang terus menghantui masa muda saya, selalu muncul saat siapa pun berbicara terlalu empatik tentang Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus sendiri memang tidak pernah menjadi cukup nyata bagi saya, tidak pernah bisa cukup masuk akal saya, tidak pernah cukup untuk bisa dikasihi, karena terus-menerus saya memikirkan kebalikan dirinya yang bertakhta di bawah tanah, sebuah pewahyuan menakutkan yang tidak pernah saya temukan seandainya saya tidak menuruni tangga batu di dalam mimpi waktu itu. Jung sangat terguncang oleh mimpi falus ini sampai-sampai tidak pernah membicarakannya kepada siapa pun sampai usianya 65 tahun.

Penglihatan Takhta

Suatu hari ketika Jung berusia sekitar 12 tahunan, ia tengah pulang dari sekolah di suatu hari di musim panas yang hangat. Keramik baru penutup dinding atas katedral di dekat sekolahnya, tiba-tiba berkilauan indah memantulkan sinar matahari sore. Jung terpukau oleh ide bahwa Tuhan sudah membuat sore yang begitu indah, dan bangunan katedral yang indah itu, seolah melihat ciptaan-ciptaannya dari tahta emas-Nya jauh di atas langit biru di sana.

Di titik ini Jung kembali tercenung dengan pikiran, jika sampai ia tidak berhenti berpikir demikian, pastilah pikiran buruk akan merembesi kepalanya. Dia yakin jika terus melanjutkan pikirannya itu, dia tentu bakal melakukan dosa yang paling mengerikan, dan jiwanya tentu akan terkutuk di api kekal.

Beberapa hari kemudian, ternyata menjadi siksaan bagi Jung yang berusaha memagari rasa amannya dari pikiran-pikiran ini. Akhirnya, dia menyerah dan membiarkan dirinya mengalami pikiran terlarang itu:

Saya melihat di hadapanku katedral, langit biru. Tuhan duduk di takhta emasNya, tinggi mengatasi dunia -dan dari bawah takhta, menetes cahaya-cahaya besar menjatuhi atap dan dinding katedral, yang awalnya memantul terang tetapi kemudian mulai menggerogoti dinding dan meruntuhkan katedral itu sama sekali. Saya merasakan kelepasan luar biasa dan tak terbayangkan.

Bukannya kutukan seperti yang saya duga, tetapi anugerah, yang justru datang kepada saya, dan bersamanya, satu rasa bahagia luar biasa yang tidak pernah saya kenal. Saya malah menangis karena rasa bahagia 1m dengan penuh ungkapan syukur. (1961a, hlm. 39-40)

Penglihatan ini memberikan efek yang mendalam bagi Jung. Jung yakin jika ayahnya tidak pernah mengenal Tuhan sedalam itu. Meski menjadikan Alkitab pedoman hidupnya, ayah Jung sebenarnya tidak pernah mengalami langsung kehendak Ilahi: Ayahku percaya kepada Tuhan seperti yang dikatakan Alkitab, dan seperti yang diajarkan kakek-neneknya.

Namun, ia tidak pernah tahu Tuhan hidup yang berdiri, maha adil dan penuh kebebasan di atas Alkitab-Nya dan Gereja-Nya, yang memanggil manusia untuk mengambil bagian di dalam kebebasan-Nya, dan yang sanggup membuat manusia mengekspresikan pandangan dan keyakinannya sendiri dalam rangka memenuhi kehendak-Nya tanpa harus berkunjung (berkeras hati) ke perintah-perintah-Nya. Dalam pengujianNya terhadap keberanian, Tuhan menolak manusia yang hanya patuh membuta kepada tradisi, tak peduli sesakral apa. Di dalam kemahakuasaan-Nya, Ia tidak pernah melihat ada kejahatan yang bakal muncul dari tes-tes keberanian seperti itu. Jika manusia dapat memenuhi kehendak Tuhan yang seperti ini, bisa dipastikan dia sudah melangkah di jalan yang benar. (1961a, hlm. 40)

Pengalaman-pengalaman pribadi, seperti yang baru saja digambarkan ini, meyakinkan Jung adanya aspek-aspek psikhe manusia yang independen dari pengalaman pribadi apa pun. Ia pun meringkas apa yang dipelajarinya dari fantasi-fantasinya ini sebagai berikut:

Fantasi-fantasi saya membawakan sebuah rumah bagi pemahaman krusial bahwa ada hal-hal di dalam psikhe yang tidak saya buat, namun ia memproduksi dari dirinya sendiri dan memiliki kehidupannya sendiri. Saya paham bahwa terdapat sesuatu dalam diri saya yang bisa mengatakan hal-hal yang tidak saya ketahui dan tidak saya niatkan, hal-hal yang seolah dikatakan langsung kepada saya. (1961a, hlm. 183)

Jung akhirnya mendedikasikan hidup profesionalnya untuk memahami hakikat dan asal-usul banyak pengalaman psikologis luar biasa yang dimiliki” nya saat kanak-kanak.

Kehidupan Profesional Awal Jung

Jung pertama-tama ingin belajar arkeologi, namun sebuah mimpi meyakinkannya untuk mengikuti jejak kakek dari ayah untuk menjadi dokter. Jung baru mengenal bidang studi baru psikiatri selama kuliah kedokteran di Universitas Basel, tempatnya mendapat gelar di tahun 1900. Di psikiatri, Jung yakin ia menemukan panggilan sejatinya.

Minat Jung kepada fenomena psikis yang tidak lazim tidak pernah pudar sampai-sampai disertasinya untuk gelar dokter berjudul ‘On the Psychopathology of So-Called Occult Phenomena’ yang terbit tahun 1902. Di masa ini, Jung hampir-hampir terserap total ke studi okultisme. Ia menghadiri seminar dan pertemuan cenayang, bereksperimen dengan mediumisasi, dan melahap buku-buku parapsikologi. Sebagai tambahan bagi penglihatan-penglihatan dan bacaan-bacaannya tentang parapsikologi, pengalaman pribadi tampaknya mendukung eksistensi hal-hal adikodrati yang ditemukannya.

Contohnya, ketika Jung sedang belajar di kamarnya, dia dan ibunya yang berada di dapur mendengar suara keras dan melihat jika sebuah meja besar di ruang duduk terbelah jadi dua, tetapi bukan karena persambungan kayunya lepas seperti yang lazimnya terjadi. Dua minggu kemudian, setelah suara keras yang lain, pisau mentega di ruang makan ditemukan terpotong jadi berkeping-keping. Saat dibawa ke pandai besi, perajin pisau tidak menemukan kesalahan apa pun di logam yang dapat membuat letusan tersebut.

Selain itu, Jung juga merasa terhibur saat bergabung dengan kelompok yang suka mengundang cenayang, yang diminta menebak sifat dan masa lalu seseorang yang tak dikenal. Akhirnya, Jung pernah terbangun di suatu malam dengan sakit kepala yang hebat dan besoknya baru diketahui, salah satu pasiennya sudah menembak kepalanya di malam yang sama saat Jung terbangun.

Penugasan profesional pertama Jung tercatat di rumah sakit psikiatris Burgholzli di Zurich di bawah pengawasan Eugen Bleuler, yang membentuk pertama kali istilah ‘skizofrenia’. Bleuler tertarik kepada tes-tes psikologi dan mendorong Jung mengembangkan tes asosiasi kata yang dirintis Francis Galton (sepupu Darwin) dan Wilhelm Wundt (pendiri mazhab voluntarisme), Kita akan membahas lebih jauh penggunaan tes asosiasi kata ini oleh Jung nanti di akhir bab ini. Pada 1905, Jung dipercayai memberi serangkaian kuliah di Universitas Zurich, tempatnya mengajar psikopatologi, psikoanalisis dan hipnosis.

Juga, Jung menjadi direktur klinis di Rumah Sakit Burgholzli, dan kepala klinik untuk pasien rawat jalan. Di tahun 1909, Jung mundur dari posisinya di Burgholzli, dan di tahun 1914 mundur dari staf pengajar Universitas Zurich, untuk mendevosikan diri kepada praktik pribadinya yang kian berkembang, kepada riset, dan kepada penulisan teorinya sendiri. Pada 14 Februari 1903, Jung menikahi Emma Rauschenbach, putri seorang industrialis kaya, dan mereka dianugerahi 4 putri dan 1 putra.

Emma sendiri menjadi praktisi bagi teori suaminya sendiri nantinya. Di usia pertengahan, Jung terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita yang lebih muda 13 tahun, bernama Toni Wolfe. Wanita ini memang menarik, terdidik, dan sebelumnya merupakan pasien Jung. Awalnya Emma kecewa dan marah, namun situasi mereka kemudian berubah. Stern (1976, hlm.138-139) mendeskripsikan situasi tersebut sebagai berikut:

Perselingkuhan Jung dengan Toni mungkin tidak pernah terbongkar jika saja ia tidak pernah mengundang wanita itu masuk ke lingkaran keluarganya, dan selalu menjadikannya tamu tetap di jamuan makan malam keluarga di hari Minggu. Dan Jung sengaja mempertahankan segitiga asimetris hubungan mereka itu selama beberapa dekade, memanfaatkan keduanya untuk membantu Jung meraih tujuannya.

Karena itulah Emma Jung diangkat sebagai presiden pertama ‘Klub Psikologi’ Jungian, dan beberapa tahun sesudahnya setelah Emma mengundurkan diri, Toni diangkatnya sebagai presiden. Kedua wanita ini pun menerbitkan banyak makalah tentang psikologi Jungian, membuat teori Jung kian dikenal.

Hannah (1976, hlm.118-120) mendeskripsikan cinta segitiga antara Jung, Emma dan Toni Wolfe sebagai berikut:

Jung harus menghadapi persoalan yang mungkin paling sulit dihadapi seorang pria yang sudah menikah: fakta bahwa ia masih bisa mencintai istrinya dan wanita lain secara bersamaan… Jung akhimya sukses membawa hubungan persahabatannya dengan Toni ke kehidupan keluarganya utamanya karena keadilannya bersikap terhadap keduanya.

Meski tentunya, masih ada ganjalan menyakitkan yang sulit dihadapi ketiganya… Cemburu adalah kualitas manusia yang tidak pernah hilang sepenuhnya, namun seperti yang sering dikatakan Jung: ”Pangkal rasa cemburu adalah kurangtidak ada ‘kurangnya Cinta’ karena Jung sanggup member 1 kepuasan terbesar kepada mereka, dan fakta bahwa keduanya memang sungguh mencintai Jung…

Emma Jung bahkan berkata jauh di kemudian hari: Kamu bisa lihat, ia tidak pernah mengambil apa pun dariku untuk diberikan kepada Toni, namun semakin banyak yang dia berikan ke Toni, semakin ia sanggup memberikan lebih banyak kepadaku.” Toni juga mengakui jauh di kemudian hari kalau kesetiaan tak tergoyahkan Jung kepada pernikahannya itulah yang memampukan Jung memberi lebih banyak dari yang bisa diterimanya daripada jika tidak.

Hubungan Jung dengan Freud

Jung pertama kali tertarik kepada Freud setelah membaca The Interpretation of Dreams. Ia pun mulai mengaplikasikan ide-ide Freud di praktiknya dan akhirnya menulis sebuah monograf berjudul The Psychology of Dementia Praecox (1936) yang meringkas efektivitasnya.

Jung sendiri menemukan dukungan besar bagi konsep represi Freud di studi-studinya tentang asosiasi kata, dan melaporkan fakta-fakta ini di bukunya dan di beberapa artikel. Pada 1906, Jung memulai berkorespondensi dengan Freud, dan di bulan Februari tahun berikutnya, keduanya bertemu di rumah Freud di Wina. Tatap muka pertama itu sangat mendalam bagi keduanya karena saling menemukan kecocokan ide satu sama lain sampai-sampai_diskusi mereka berlangsung 13 jam tanpa henti.

Segera keduanya menjadi teman dekat, dan ketika Jung kembali ke Zurich, korespondensi mereka bertahan sampai 7 tahun ke depan. Dari cara Jung menuliskan teori Freud di publikasinya, dan kesan mendalam setelah pertemuan pertama mereka itu, dan perjumpaan-perjumpaan lain sesudahnya, Freud memutuskan bahwa Jung inilah yang akan meneruskan kepemimpinannya nanti. Di tahun 1911, Freud pun menominasikan Jung sebagai presiden pertama Asosiasi Psikoanalitik Internasional, dan tak peduli oposisi dari para anggota lain yang tidak kenal, Jung tetap terpilih.

Jung bepergian bersama Freud ke Amerika di tahun 1909 untuk memberi serangkaian kuliah di Universitas Clark. Jung diundang utamanya karena eksperimennya dengan tes asosiasi kata. Selama di perjalanan laut, Jung dan Freud menghabiskan waktu dengan saling menganalisis mimpi masingmasing, dan di titik inilah Jung terkejut dengan ketidaktepatan Freud, sang ahli penafsir mimpi, untuk menginterpretasikan beberapa mimpinya.

Meski yang lebih mengejutkan adalah ketidaksediaan Freud mengeksplorasi aspekaspek kehidupan pribadi dari mimpinya (Freud), yang dapat menjelaskan sejumlah simbolisme mimpi sang pemimpin dengan berkomentar singkat, ”Saya tidak bisa merisikokan otoritas saya.” Jung (1961a, hlm. 158) mendeskripsikan reaksinya terhadap penegasan Freud itu sebagai berikut: ”Di momen itulah dia sudah kehilangan saya. Kalimatnya itu seperti terpatri ke ingatan, dan di dalamnya, akhir dari hubungan kami mulai membayang. Freud meletakkan otoritas pribadi di atas kebenaran.”

Di dalam perjalanan ke Amerika Serikat itu juga Jung mulai menimbang keraguan yang membersit di benaknya terkait motivasi seks yang sangat ditekankan oleh teori Freud. Namun, oposisinya terhadap Freud ini tidak diperlihatkannya, dan keduanya masih tetap teman dekat. Meski Jung sempat berpendapat bahwa jika teori Freud mungkin lebih dapat diterima orang Amerika jika peran seks tidak terlalu dikedepankan. Di titik inilah Freud melihat opini Jung itu sebagai pemisahan diri dari etika ilmiah teorinya.

Tidak hingga terpilih sebagai presiden Asosiasi Psikoanalitik Internasional di tahun 1911, barulah Jung mengekspresikan secara terbuka keraguannya terhadap interpretasi Freud tentang energi libido yang utamanya berhakikat seksual. Buku Jung, The Psychology of the Unconscious (1953) dan serangkaian kuliah yang diberikannya di Universitas Fordham, The Theory of Psychoanalysis (1961c) menegaskan perbedaan konsep libido miliknya dan Freud. Korespondensi berikut memberi gambaran tentang ketidaksepakatan awal antara Freud dan Jung terkait hakikat libido. Pada surat bertanggal 31 Maret 1907, Jung menulis:

Bukankah lebih aman, dari perspektif konsep seksualitas yang sebenarnya terbatas, jika terminologi seks boleh diperuntukkan hanya bagi bentuk paling ekstrem konsep ‘libido’ Anda, sehingga istilah umum yang kurang begitu ofensif bisa digunakan untuk menamai semua manifestasi libido? (McGuire, 1974, hlm. 25)

Pada 7 April, Freud menjawab surat Jung sebagai berikut:

Saya menghargai keinginan Anda yang ingin memaniskan apel asam, namun saya tidak yakin bisa berhasil. Bahkan, jika kita menyebut bawah sadar ‘psikhoid’, tetap saja itu bawah sadar, dan meski kita tidak menyebut kekuatan pendorong di konsep seksualitas yang lebih luas ‘libido’, tetap saja itu libido, dan seksual. Kita tidak mungkin menghindari perlawanan, kenapa tidak sekali saja menghadapinya sejak awal? (McGuire, 1974, hlm. 28)

Hubungan Jung dan Freud kian buruk sampai-sampai mereka menghenti’ kan korespondensi di tahun 1912, dan di tahun 1914, Jung menuntaskan hubungan itu saat mundur dari kursi presiden Asosiasi Psikoanalitik Internasional, dan juga keluar dari keanggotaan. Perpisahan ini lebih memengaruhi jung yang saat itu hampir 40 tahun usianya, membuatnya memasuki apa yang dia sebut ‘tahun-tahun gelap’, sebuah periode yang selama 4 tahunan ia mengeksplorasi kedalaman mimpi-mimpinya dan fantasi-fantasinya sendiri, sebuah tindakan yang membawanya, di mata banyak saksi kala itu, hampir ke jurang kegilaan.

Penyakit Kreatif Jung

Jung berkata, “Setelah berpisah jalan dari Freud, sebuah periode ketidakpastian batin dimulai bagi saya. Tidak berlebihan jika menyebut kondisi ini ‘kehilangan arah’. Saya merasa mengambang total di hampa udara, tidak sanggup menemukan tempat pijak apalagi jejak” (1961a, hlm. 170). Menurut Ellenberger (1970, hlm. 447-448), apa yang dialami Jung selama ‘tahun-tahun gelap’ setelah berakhirnya hubungan dengan Freud adalah penyakit kreatif yang dia definisikan sebagai berikut:

Periode keasyikan besar-besaran dengan ide dan pencarian suatu kebenaran. Ini sebuah kondisi polimorfik yang berbentuk depresi, neurosis, gangguan psikosomatik bahkan psikosis. Selama sakit, subjek tidak pernah kehilangan alur keasyikannya yang utama, bahkan sering bersesuaian dengan aktivitas profesional yang normal dan kehidupan keluarga. Namun meski terlibat aktif di aktivitas-aktivitas sosial, sebenarnya dia terserap sepenuhnya ke dalam dirinya sendiri. Subjek muncul dari cobaannya dengan transformasi permanen dalam kepribadiannya, dan keyakinan kalau ia sudah menemukan satu kebenaran besar atau sebuah dunia spiritual yang baru.

Ketidaksepakatan muncul terkait apakah lung menjalani pengembaraan eksplorasi-diri ini dengan sengaja selama penyakit kreatifnya (seperti yang diyakini Van der Post, 1975, contohnya), ataukah perjalanan itu mewakili serangkaian episode psikotik berat (seperti yang diyakini Stern, 1976, contohnya). Meski mengalami masa-masa yang berat ini, Jung terus membuka praktik psikiatri dan kehidupan rumah tangganya. Faktanya, menurut Jung, keluarga dan pasien-pasiennya yang tetap membuatnya waras. Dan selama ‘konfrontasi dengan bawah-sadar” inilah Jung mengembangkan hubungan mendalam dengan Toni Wolfe.

Mestinya aneh bahwa Jung yang sedang terlibat di dalam eksplorasi diri berat ini tetap bisa merawat pasien-pasien psikotiknya. Namun, aneh atau tidak, tampaknya lung belajar banyak hal tentang psikhe manusia dari kedua sumber ini (1961a, hlm.188-189):

Tentunya ironis bahwa saya, seorang psikiater, yang mestinya bereksperimen di setiap langkahnya ternyata ikut terjebak di bahan psikis yang sama dengan para penderita psikosis dan terbukti segila pasien-pasien saya. Namun saya justru belajar, gambaran-gambaran bawah sadar inilah yang sudah membingungkan para penderita sakit jiwa, meski matriks imajinasi mitopuitik ini juga yang sudah lenyap dari zaman rasional kita. Kendati imajinasi seperti itu hadir di mana-mana, ia biasanya ditabukan dan ditakuti, menjadikan eksperimen atau penelusuran berisiko saat memercayakan diri melangkah di jalan tidak pasti menuju kedalaman bawah-sadar ini. Tidak populer, ambigu dan berbahaya, ini sebuah pengembaraan untuk menemukan kutub lain dunia.

Jung pun keluar dari penyakit kreatifnya dengan teori kepribadiannya sendiri, sebuah teori yang sedikit saja kemiripannya dengan mentornya, Freud. Hasil dari pencarian panjang dan menyakitkan psikhenya sendiri bisa ditemukan di setiap bagian teori kepribadiannya.

Jung terus mengembangkan teorinya hingga tutup usia, di usia 86 tahun pada 6 Juni 1961, di rumahnya di Bollingen, Switzerland. Jung termasuk penulis yang produktif selama 6 dekade, membuat Collected Works miliknya meraih jumlah sampai 20 jilid. Di antara banyak gelar kehormatan yang pernah diterimanya, ada 8 gelar doktor kehormatan diperolehnya dari lembagalembaga bergengsi seperti Universitas Harvard (1936), Universitas Oxford (1938) dan Universitas Ienewa (1945). Di tahun 1938, ia diangkat sebagai Rekan Kehormatan Royal Society of Medicine dan di tahun 1943 menjadi Anggota Kehormatan Swiss Academy of Science. Di tahun 1944, Universitas Basel membuka studi baru Psikologi Kedokteran dengan ketua pertamanya adalah Jung. Di tahun 1948, Institut C.C. Jung pertama didirikan di Zurich/ dan beberapa waktu kemudian, Asosiasi Psikologi Analitik Internasional dibentuk. Dewasa ini, seperti yang akan kita lihat nantinya di bab ini, kelompok-kelompok profesional Jungian hadir di mana-mana di seluruh penjuru dunia.

Referensi