Carl Rogers

You are here:
< Back

Carl Ransom Rogers (8 Januari 1902 – 4 Februari, 1987) adalah seorang psikolog Amerika dan di antara pendiri pendekatan psikologi humanistik (atau pendekatan client-centered).

Masa kecil

Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, Illinois, sebuah daerah di pinggiran kota Chicago, 8 Januari 1902. Rogers merupakan anak keempat dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Walter dan Julia Cushing Rogers. Dia merupakan anak yang cukup cerdas dan sudah mampu membaca dengan baik sebelum masuk taman kanak-kanak. Rogers lebih dekat dengan ibu daripada ayahnya, karena selama bertahun-tahun diawal masa kanak-kanaknya, sang ayah sering kali jauh dari rumah karena perkerjaannya sebagai insinyur sipil. Walter dan Julia Rogers sama-sama religius, hal ini membuat Rogers begitu tertarik pada Alkitab sehingga dia rajin membacanya. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika. Dari orangtuanya pula, Rogers juga belajar nilai kerja keras, sebuah nilai yang tidak seperti agama, lebih menetap abadi dalam dirinya di sepanjang hayatnya. Namun pada suatu waktu orangtuanya pindah ke daerah pertanian sekitar 30mil dari Chichago untuk mencegah dari pengaruh Suburb untuk anak-anak mereka. Di sinilah Rogers muda mulai tertarik dalam dunia pertanian. Meski pindah ke wilayah pertanian ini tidak serta merta membuat keluarga Rogers meninggalkan gaya hidup kelas menengah mereka. “Sudah terkenal kalau Rogers tumbuh di wilayah pertanian, namun yang tidak diketahui banyak orang, rumah pertanian itu punya atap yang bertingkat, lantai dari keramik, delapan kamar tidur, lima kamar mandi, dan lapangan tenis berlantai tanah liat dibelakang rumah” (Pengantar Teori-Teori kepribadian 1, Mathew H Olson, B.R. Hergenhan, hal 774).

Di rumah pertanian inilah Rogers untuk pertama kalinya menaruh minat pada ilmu pengetahuan. Karena ayahnya menekankan pertanian itu harus dijalankan dengan cara yang ilmiah, Rogers pun ikut membaca banyak eksperimen di bidang pertanian. Dari pembacaannya ini, ia mengembangkan sebuah minat kepada species ngengat yang dia tangkap, pelihara dan diberi makan. Minat kepada sains inilah yang tidak pernah ila lepaskan seumur hidupnya, meski akhirnya dia bekerja di wilayah psikologi paling subjectif di sepanjang karier profesionalnya.  Kecenderungan Rogers terhadap kemenyendirian ini bertahan selama SMU, dimana selama periode itu hanya dua kali saja dia pernah berkencan. Rogers adalah siswa yang pandai dan meraih nilai hanpir A semuanya. Minat utamanya adalah sastra inggris dan sains.

Masa Pendidikan

Pendidikan Rogers bercirikan agama kristen fundamentalis yang sangat ketat dan tak suka berkompromi, dengan suatu tekanan pada tingkah laku moral yang tepat dan kebajikan kerja keras. Ajaran-ajaran agama dari orang tuanya sangat mempengaruhinya sepanjang masa kanak-kanak dan masa adolesensi dan tidak goyah ketika memasuki perguruan tinggi. Tentu saja dia memutuskan dalam tahun kedua untuk mengabdikan kehidupannya bagi “Karya Kristen” dengan menjadi seorang pendeta.

Cita-cita Rogers adalah menjadi petani, setelah lulus SMA dia masuk University of Wisconsin jurusan pertanian. Namun tak berapa lama kemudian dia mulai mengalami kebosanan dengan ilmu pertanian dan lebih tertarik kepada agama. Pada tahun ketiganya di Wisconsin, Rogers terlibat sangat dalam dengan aktivitas-aktivitas keagamaan di kampusnya. Pada tahun 1920 Rogers yang kala itu berusia 20 tahun dipilih untuk meghadiri Konferensi Federasi Mahasiswa Kristen sedunia di Cina. Konferensi tersebut membuka dunianya dalam begitu banyak cara dan memberinya pengalaman yang akan menentukan bentuk dan hakikat dari pendekatannya terhadap kepribadian. Selama persinggahannya selama 6 bulan berkeliling Peking, China Rogers menemukan suatu bagian dari dirinya yang penting dan baru dalam perjalanannya ke sisi lain dari dunia. Untuk pertama kalinya dia terbuka kepada orang-orang dari berbagai latar belakang intelekstual dan kultural yang ide-ide dan penampilan serta bahasa mereka begitu asing baginya. Ketia dia berbicara dengan delegasi-delegasi mahasiswa lain, dia mulai terpengaruh oleh ide-ide mereka. Kepercayaan-kepercayaan fundamentalisnya yang kuat ditembus, dilemahkan, dan akhirnya dibuang. Perjalanan ini tampaknya memberikan kesan mendalam padanya. Interaksi dengan para pemimpin agama yang masih muda usianya sudah mengubahnya menjadi seorang pemikir yang lebih liberal dan mendorongnya menuju independensi dari pandangan-pandangan keagamaan orangtuanya. Pengalaman-pengalaman dengan rekan-rekan kepemimpinan ini juga memberi keyakinan diri lebih besar dalam hubungan sosialnya.

Rogers mencatat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya pada waktu itu ke dalam sebuah catatan harian (jurnal). Rogers juga mengirimkan salah satu salinannya kepada gadis yang kelak akan dinikahinnya dan salinan lain dikirim kepada orang tuanya. Dia terus mencatat dan mengirimkan pikiran-pikirannya itu yang semakin lama semakin banyak. Akibat dari pengalamannya di Cina adalah putusnya ikatan-ikatan agama dan intelektual dengan orang tuanya dan kesadaran bahwa dia “dapat berfikir menurut pikiran-pikiran saya sendiri, sampai kepada kesimpulan-kesimpulan saya sendiri, dan menajdi saksi terhadap kepercayaan saya sendiri”. Kebebasan yang baru diperolehnya ini, dan perasaan keyakinan dana rah yang diberikannya menyebabkan ia sadar bahwa akhirnya seseorang harus bersandar hanya kepada pengalamannya sendiri. Kepercayaan dan keyakinan akan pengalaman orang sendiri menjadi pendekatan Rogers terhadap kepribadian.

Sayangnya, dia kembali dari perjalanan itu dengan membawa penyakit. Meskipun sakit mencegahnya untuk segera kembali ke kampus namun, sakit tidak bisa mencegahnya dari bekerja. Carl Rogers menghabiskan waktu sampai setahun untuk menyibukkan diri dengan mengerjakan sebuah lahan pertanian dan pemotongan kayu setempat sebelum akhirnya dapat kembali lagi ke Wisconsin. Di sana dia segera bergabung dengan sebuah kelompok persaudaraan, menunjukkan rasa percaya diri yang lebih besar, dan secara umum penampilannya berubah dari sebelum dia pergi ke China. Rogers menjadi mahasiswa yang berbeda dengan suatu pokok kehidupan baru yang akan tercermin dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya.

Pada tahun 1924, Rogers masuk ke sekolah Union Theological Seminary di New York dengan niat menjadi pendeta. Ketika tinggal di seminari, dia mengikuti beberapa perkuliahan psikologi dan pendidikan di Columbia University dekat tempat tinggal. Di sana dia sangat terkesan oleh kemajuan perkembangan pendidikan John Dewey yang begitu kuat mendominasi fakultas keguruan universitas tersebut. Secara bertahap Rogers mulai enggan dengan pekerjaan-pekerjaan religiusnya yang bersifat doktriner itu. Meskipun Union Theological Seminary cukup liberal namun, Rogers memutuskan tidak ingin lagi mengukuhkan pengetahuannya tentang masalah iman selain menginginkan kebebasan lebih besar untuk mengeksplorasi ide-ide baru. Akhirnya, di musim gugur 1926 dia meninggalkan seminari untuk masuk ke Teachers College untuk mempelajari sepenuh waktu topic-topik psikologi klinis dan psikologi pendidikan. Dari sejak itu, dia tidak pernah kembali lagi ke agama formal. Hidupnya sekarang mengambil arah yang sama sekali baru – menuju psikologi dan pendidikan.

Perjalanan Karir

Pada tahun 1927, Rogers bekerja sebagai rekanan di Institute for Child Guidance yang baru didirikan di New York City dan terus bekerja di sana sambil menyelesaikan gelar doktoralnya. Di institute, dia mendapatkan pengetahuan dasar tentang psikoanalisis Freudian namun tidak begitu terkesan dengannya meskipun dia sudak mencobanya dalam praktik. Dia juga mengikuti kuliah Alfred Adler, tokoh yang mengejutkan Rogers dan anggota staf lainnya lantaran keyakinannya bahwa pengelaborasian sejarah kasus tidak begitu dibutuhkan lagi bagi psikoterapi. Disitulah Rogers menemukan sejulah pengalaman yang berpengaruh besar bagi teori kepribadiannya dan pendekatannya terhadap psikoterapi. Pertama, dia belajar kalau pendekatan psikoanalitik ke terapi yang mendominasi departemennya itu seringkali tidak efektif. Kedua, karena pendekatan yang sangat berbeda kepada terapi yang sudah dipelajarinya di Universitas Columbia dan di Departemen Penelitian Anak, dia mempelajari bahwa yang disebut toritas bisa tidak setuju dengan hal-hal yang melandasi penanganan terbaik terhadap pribadi bermasalah. Ketiga, dia belajar dengan rasa frustasi. Rogers menceritakan sebuah situasi diamana ia menemukan kalau penolakan ibu terhadapt putranya adalah penyebab perilaku salah asuh si anak. Ia mengupayakan yang terbaik untuk berbagi wawasan ini kepada si Ibu, namun gagal.

“Akhirnya saya menyerah. Saya memberitahui dia apa yang sudah kita upayakan namun semuanya gagal. Dia setuju. Jadi kami menyimpulkan pertemuan terakhir itu, berjabat tangan, dan dia melangkah keluar menuju pintu depan kantor. Lalu dia berpaling dan bertanya “Apakah anda pernah memberikan konseling kepada orang dewasa disini?” ketika saya memberi jawabab yang afirmatif, dia berkata “kalau begitu, saya sepertinya membutuhkan pertolongan”. Kami masuk kembai ke ruangan dan dia duduk lagi dikusi yang barus aja ditingalkan, dan mulai menuangkan rasa putus asanya terhadap pernikahan, yang sudah dijalaninya, hubungannya yang bermasalah dengan suami, perasaan dirinya gagal dan bingung, semua hal yang sangat berbeda dan steril dari sejarah kasus, dimana dia datang awalnya, tetapi yang sesungguhnya kalau begitu baru saja dimulai….’ Insiden ini hanyalah saah satu dari beberapa yang sudah membantu saya mengalami fakta, yang baru saja tersadari sepenuhnya nanti, bahwa clienlah yang tau apa yang sudah menyakiti dia, apa arah yang mesti dijalani, persoalan aoa yang krusial, pengalaman apa yang sudah dikubur dalam-dalam. Mulai tampak bagi saya, kecuali saya merasa perlu membuktikan epandaian dan pembelajaran saya, bahwa saya akan bisa bertindak lebih baik dengan mengandalkan klien sepenuhnya bagi arah gerak prises terapi selanjutnya (Pengantar Teori-Teori Kepribadian 1, Mathew H Olson, B.R. Hergenhan, hal 776).

Kira-kira di periode inilah Rogers terpengaruh oleh Alfred Adler, dari Adler inilah Roger belajar kalau sejarah kasus yang panjang dan lebar adalah metode paling dingin, mekanis, dan tidak diperlukan. Dia juga belajar bahwa jika seorang terapis tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menggali masa lalu pasien. Sebaliknya, terapi belajar lebih banyak dari menentukan bagaimana pasien mengkaitkan dirinya dengan saat ini dan tempat ini.

Rogers menerima gelar Ph.D dari Columbia pada 1931 setelah pindah ke New York untuk bekerja di Rochester Society for the Prevention of Cruelty to Children. Selama fase awal karier profesionalnya ini, Rogers terpengaruh sangat kuat oleh gagasan-gagasan Otto Rank, salah satu rekan terdekat Freud sebelum keluar dari lingkaran-dalamnya., Pada 1936, Rogers mengundang Rank ke Rochester untuk memberikan seminar tiga hari mengenai praktik psikoterapi post-Freudian-nya. Kuliah umum Rank ini memberi Rogers sebuah keyakinan mendalam bahwa terapi merupakan konsep tentang hubungan yang menghasilkan pertumbuhan emosional, disediakan lewat cara terapis menyimak secara empatis dan penerimaan tanpa syarat klien mereka.

Rogers menghabiskan waktu 12 tahun di Rochester dengan melakukan perkerjaan yang dengan mudah mengisolasinya dari kesuksesan karier akademis. Dia sudah melepaskan keinginan untuk mengajar di Universitas setelah memperoleh pengalaman singkat mengajar selama musim panas 1935 di Teachers College dan setelah mengajar di jurusan sosiologi University of Rochester. Selama periode ini, dia menulis buku pertamanya, The Clinical Treatment of the Problem Child (1939), yang membuatnya diundang untuk mengajar di Ohio State University. Rogers sebenarnya ingin menolak tawaran ini namun istrinya mendesak untuk menerimanya, apalagi pihak otoritas universitas di sana setuju memberinya posisi puncak dengan gelar akademis professor penuh. Pada 1940, di usia 38 tahun, Rogers pindah ke Columbus untuk memulai karier baru.

Karena mendapat tekanan dan tuntuntan dari mahasiswa-mahasiswa S-2 yang diajarnya, Rogers secara bertahap muai mengonseptualisasikan ide-idenya tentang psikoterapi, yang tidak dimaksudkannya sebagai sebuah teori yang unik apalagi controversial. Ide-ide ini ditulisnya dalam Counselling and Psychotherapy, terbit tahun 1942. Di buku ini, yang menjadi reaksi bagi pendekatan lama terhadap terapi, Rogers meminimalkan penyebab-penyebab dari gangguan dan pengidentifikasian dan pelabelan kelainan-kelainan. Bahkan dia menekankan pentingnya pertumbuhan batin pasien (yang disebut Rogers “klien”).

Pada tahun 1944, sebagai akibat dari pecahnya perang, Rogers pindah kembali New York sebagai direktur pelayanan konseling bagi United Services Organisation. Setelah bekerja satu tahun di sana, dia mengambil sebuah posisi di University of Chicago, dimana dia mendirikan sebuah pusat konseling dan memiliki kebebasan lebih besar untuk meneliti proses dan hasil psikoterapi. Tahun 1945 sampai 1957 di Chicago itu menjadi tahun-tahun paling produktif dan kreatif sepanjang kariernbya. Terapi Rogers berkembang dari hanya sekedar menekankan metodologi, atau yang di awal tahun 1940-an disebut teknik “ tidak-mengarahkan” (non directive technique) menjadi sebuah teknik yang lebih menekankan hubungan klien-terapis. Dan dengan sifat ilmuwannya, Rogers lagi-lagi menggandeng para mahasiswa dan koleganya untuk menghasilkan riset terobosan mengenai proses dan keefektifan psikoterapi.

Karena ingin mengembangkan riset-riset dan ide-idenya ke dalam psikiatri, Rogers sekali lagi menerima tawaran posisi di University of Wisconsin pada 1957. Namun dia merasa frustrasi dengan kariernya di Wisconsin karena tidak sanggup menyatukan profesi psikiatri dan psikologi. Selain itu, dia merasa kalau beberapa anggota staf risetnya sendiri sudah terlibat dalam perilaku yang tidak jujur dan tidak etis. Kecewa dengan pekerjaannya di sini, Rogers pindah ke California, di mana dia bergabung dengan Western Behavioral Sciences Institute (WBSI) dan menjadi semakin tertarik dengan riset tentang kelompok-kelompok pertemuan.

Rogers mundur dari WBSI saat dia merasa lembaga ini mulai kurang demokratis. Bersama 75 anggota laninnya dari institut tersebut, Rogers membentuk Center for Studies of the Person. Dia terus bekerja dengan kelompok-kelompok pertemuan namun meluaskan metode person-centered-nya bidang pendidikan (termasuk melatih para dokter) dan politik internasional. Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, Rogers banyak menyelenggarakan lokakarya di luar negeri, seperti Hungaria, Brazilia, Afrika Selatan, dan Uni Soviet. Pada 4 Februari 1987 Rogers, meninggal setelah operasi bedah tulang pinggulnya, hal ini cukup kontroversi karena beberapa Kehidupan pribadi Carl Rogers sendiri ditandai oleh perubahan dan keterbukaan terhadap pengalaman. Ketika masih remaja dia sangat pemalu, tidak memiliki teman dekat, dan “secara sosial tidak kompeten bahkan untuk menjalin hubungan artificial sekalipun”. Meski begitu, dia memiliki kehidupan fantasi yang aktif, yang di kemudian hari didiagnosisnya sebagai “schizoid”. Sifat pemalu dan inkompetensi sosialnya banyak membatasi hubungan Rogers dengan peremupan. ketika masuk University of Wisconsin pertama kali, dia hanya sanggup berbicara dengan seorang perempuan muda yang sudah dikenalnya waktu SD dulu di Oak Park – Helen Elliot. Helen dan Rogers kemudian menikah pada 1924 dan memiliki dua anak – David (1926) dan Natalie (1928). Menarik untuk dicatat bahwa ketika David lahir, Rogers ingin membesarkannya sesuai prinsip-prinsip behaviorisme Watsonian. Namun begitu, dia juga mencatatkan bahwa istrinya punya cukup akal sehat untuk menjadi ibu yang baik meski dikitari semua pengetahuan psikologis yang merusak ini. Rogers mengatakan bahwa anaknya yang sedang tumbuh itu mengajarkan dia lebih banyak tentang individu, perkembangannya dan hubungan mereka ketimbang yang pernah saya pelajari secara profesional (Pengantar Teori-Teori Kepribadian 1, Mathew H Olson, B.R. Hergenhan, hal 775).

Meskipun menghadapi sejumlah masalah besar di awal hubungan-hubungan antar pribadinya namun, Rogers segera tumbuh menjadi salah satu pemikir terkemuka yang menjadikan nyata bahwa hubungan antarpribadi di antara dua individu merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menumbuhkan perkembangan psikologis yang sehat pada diri keduanya. Namun transisi ini tidak pernah mudah. Dia harus meninggalkan agama formal orangtuanya, untuk kemudian secara bertahap membentuk sebuah filsafat humanistik/eksistensial yang diharapkannya dapat menjembatani jurang pemikiran Timur dan Barat.

Penghargaan

Rogers menerima banyak penghargaan semasa kehidupan profesionalnya yang cukup lama. Dia menjadi presiden pertama American Association for Applied Psycholog dan membantu organisasi ini kembali menyatu dengan American Psychology Association (APA). Atas jerih payahnya itu, dia dipercayai menjadi presiden APA untuk peride 1946-1947 dan kemudian dipercaya menjadi presiden pertama American Academy of Psychotherapist. Pada 1956 dia menjadi pemenang bersama psikolog lain dalam Distingushed Scientific Contribution Award yang pertama kali diadakan APA. Penghargaan ini sangat memuaskan Rogers karena itu berarti pengakuan terhadap kemampuannya sebagai periset, sebuah kemampuan yang sudah dipelajarinya baik-baik sejak dia masih seorang anak kecil yang tinggal di sebuah pertanian Illinois.

Rogers awalnya tidak begitu memerhatikan teori kepribadian, di bawah tekanan dan tuntutan mahasiswa-mahasiswa yang diajarnya, dan juga demi memuaskan kebutuhan batinnya untuk dapat menjelaskan fenomena yang sedang diobservasinya itulah, maka dia mengembangkan teorinya sendiri, yang pertama kali diujicobakan dalam agenda APA ketika dia menjadi presidennya. Teorinya lebih disempurnakan dalam Client-Centered Therapy (1951) dan diungkapkan lebih detail lagi dalam edisi Koch. Namun begitu, Rogers selalu menekankan bahwa teori mestinya tetap bersifat tentative, dan dengan pemikiran seperti inilah kita mestinya mendekati diskusi tentang teori kepribadian Rogerian.

Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang dihasilkannya, memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia disanjung-sanjung dan optimistis. Tema pokoknya adalah suatu refleksi tentang apa yang dipelajarinya tentang dirinya pada usia 20 tahun, bahwa seseorang harus bersandar pada pengalamannya sendiri tentang dunia karena hanya itulah kenyataan yang dapat diketahui oleh seorang individu.

Lebih dari 20 tahun sesudah kematiannya, Carl Rogers masih terus menjadi tokoh dominan di psikologi. Cook, Biyanova dan Coyney melakukan survey lewat internet terhadap lebih dari 2400 konselor, terapis, pekerja sosial dan dan psikolog dan rogers dirangking sebagai yang pertama paling besar pengaruhnya bagi praktek-praktek profesional sat ini. Selama bertahun-tahun Rogers yakin kalau sumber daya terpenting yang dimiliki manusia adalah kecenderungan mereka mengaktualisasi diri.

 

Daftar Pustaka