Eksperimen

Eksperimen merupakan metode utama dalam penelitian psikologi. Eksperimen merupakan metode yang mampu menjadikan psikologi masuk dalam kategori science (ilmu pengetahuan), dengan meletakkan dasar-dasar proses terbentuknya perilaku manusia.

Metode eksperimen berkembang saat para aliran teori Behaviorisme mengembangkan teori-teori pembentukan perilaku melalui hasil eksperimen laboratorium dengan menggunakan subjek penelitian berupa hewan pada abad ke 19.

Metode kuantitatif >metode yang sistematik dan terkendali serta mampu memberikan kesimpulan penelitian hingga pada tahap “sebab-akibat” (kausalitas).

Kesimpulan mengenai adanya hubungan sebab-akibat atau adanya pengaruh dari variabel bebas (independent) terhadap variabel tergantung (dependent) hanya dapat diketahui melalui prosedur eksperimen.

Dalam eksperimen terdapat pemberian “Perlakuan (treatment)/ Intervensi (intervention) pada kelompok eksperimen yang semula memiliki kondisi yang setara (terkait variabel tergantung).

Sebelum pemberian “perlakuan”, peneliti harus melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas lainnya yang juga dapat mempengaruhi variabel tergantung namun tidak relevan dengan tujuan penelitian.

Dalam penelitian eksperimen terdapat 2 kelompok subjek:

  1. Kelompok Eksperimen sekelompok subjek yang dikenai “perlakukan/ intervensi”.
  2. Kelompok Kontrol sekelompok subjek yang tidak dikenai “perlakuan/ intervensi” apa pun dan berperan sebagai kelompok pembanding.

Note: Desain eksperimen yang sederhana terkadang tidak menggunakan kelompok kontrol, namun hasil penelitian tsb tidak akan se-akurat dan se-lengkap jika menggunakan desain yang melibatkan kedua kelompok (eksperimen dan kontrol).

 

Validitas & Reliabilitas

Validitas berasal dari kata ”validity”. Validitas = sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Asosiasi Psikologi Amerika (APA) membedakan tiga tipe validitas, yaitu:

  1. Content Validity (Validitas Isi)
  2. Construct Validity (Validitas Konstruk)
  3. Criterion-Related Validity (Validitas berdasar Kriteria)

Suatu alat ukur (instrumen) penelitian dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut mampu menjalankan fungsi ukurnya (memberikan hasil ukur yang sesuai dengan tujuan dilakukannya pengukuran tersebut).

Alat ukur (instrumen) penelitian dengan validitas yang rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.

  • Contoh perumpamaan:

Saat anda hendak mengetahui berat emas, maka anda harus menggunakan alat penimbang emas agar hasil penimbangannya valid (tepat dan cermat).

Sebuah alat penimbang badan juga digunakan untuk mengukur berat, namun tidak cukup cermat jika digunakan untuk menimbang berat emas.

Begitu pula saat anda hendak mengukur sebuah variabel penelitian, misal: variabel motivasi belajar. Maka anda tidak dapat mengunakan alat ukur berupa skala motivasi kerja meskipun sama-sama mengukur motivasi, karena motivasi belajar dan motivasi kerja memiliki indikator-indikator perilaku yang berbeda.

Jenis-Jenis Validitas

Content Validity (Validitas Isi)

“Validitas yang diestimasi melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau melalui professional judgement.”

  • Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validitas ini adalah ”sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan objek yang hendak diukur” atau ”sejauh mana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur

Content Validity (Validitas Isi) dibagi menjadi 2 tipe:

1. Face Validity (Validitas Muka)

“Tipe validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian selintas mengenai isi alat ukur. Apabila isi alat ukur telah tampak sesuai dengan apa yang ingin diukur maka dapat dikatakan face validity telah terpenuhi.”

2. Logical Validity (Validitas Logis)

“Disebut juga sebagai Validitas Sampling (Sampling Validity), yaitu validitas yang menunjukkan pada sejauh mana isi alat ukur mampu me-representasi-kan aspek-aspek variabel yang hendak diukur.

Construct Validity (Validitas Konstruk)

“Tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana alat ukur (instrumen) mampu mengungkap suatu trait atau konstruk teoritis yang hendak diukurnya.”

  • Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut.

Criterion-Related Validity (Validitas berdasar Kriteria).

“Validitas ini menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor alat ukur.”

Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksi oleh skor alat ukur.

Jenis-Jenis Criterion Validity

Dilihat dari segi waktu untuk memperoleh skor kriterianya, prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan 2 macam validitas, yaitu:

1. Validitas Prediktif

Yaitu seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkapkan hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran.

2. Validitas Konkuren

Yaitu validitas yang menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama.

Reliabilitas

“Reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan.”

Jenis- jenis Reliabiltas

  1. Relibilitas Stabilitas.

“Usaha memperoleh nilai yang sama atau serupa untuk setiap orang atau setiap unit yang diukur, setiap saat dilakukan pengukuran.”

  • Reliabilitas ini menyangkut penggunaan indikator yang sama, definisi operasional, dan prosedur pengumpulan data yang sama, dan mengukurnya pada waktu yang berbeda.
  • Reliabilitas stabilitas diperoleh alat ukur ketika setiap kali dilakukan pengukuran pada variabel tersebut, skornya haruslah sama atau hampir sama.

2. Reliabilitas Ekuivalen

“Reliabilitas yang diperoleh dengan cara menguji cobakan dua soal yang paralel pada kelompok yang sama dan waktu yang sama (equivalence forms method, parallel form method, atau alternate forms method).”

  • Jadi dalam hal ini ada dua soal yang paralel, artinya masing-masing soal disusun tersendiri, jumlah butir soal sama, isi dan bentuk sama, tingkat kesukaran sama, waktu serta petunjuk untuk mengerjakan soal juga sama. Skor hasil uji coba kedua soal dikorelasikan dengan rumus product moment untuk menghitung koefisien ekuivalen.

3. Konsistensi Internal

“Diperoleh dengan cara mengujicobakan suatu soal dan menghitung korelasi hasil uji coba dari kelompok yang sama. Ada tiga cara untuk memperoleh reliabilitas jenis ini yaitu:

  1. Belah dua (split half method),
  2. Kuder Richardson 20 atau Kuder Richardson 21, dan
  3. Cronbach.

Metode Pengujian Reliabilitas:

1. Teknik Paralel (Paralel Form atau Alternate Form).

Teknik paralel disebut juga tenik ”double test double trial”. Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrumen yang paralel (ekuivalen), yaitu dua buah instrument yang disusun berdasarkan satu buah kisi-kisi. Setiap butir soal dari instrumen yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut di-ujicoba-kan semua. Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus product moment (korelasi Pearson).

2. Teknik Ulang (Test Re-test)

“Realibilitas tes-retest adalah seberapa besar derajat skor tes konsisten dari waktu ke waktu. Realibilitas diukur dengan menentukan hubungan antara skor hasil penyajian tes yang sama kepada kelompok yang sama, pada waktu yang berbeda.”

  • Disebut juga teknik ”single test double trial”. Menggunakan sebuah instrumen, namun dites dua kali. Hasil atau skor pertama dan kedua kemudian dikorelasikan untuk mengetahui besarnya indeks reliabilitas. Teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang digunakan pada teknik pertama yaitu rumus korelasi Pearson.

3. Teknik Belah Dua (Split Halve Method)

  • Disebut juga tenik “single test single trial”. Peneliti boleh hanya memiliki seperangkat instrumen saja dan hanya diujicobakan satu kali, kemudian hasilnya dianalisis, yaitu dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama besar. Cara yang diambil untuk membelah soal bisa dengan membelah atas dasar nomor ganjil-genap, atas dasar nomor awal-akhir, dan dengan cara undian.
  • Rumus Spearman-Brown dapat digunakan untuk mengoreksi koefisien yang didapat.”

Populasi dan Sampel

Populasi adalah “kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian (Azwar, 2017).”

Populasi subjek penelitian harus memiliki karakteristi (ciri-ciri) yang sama, meliputi:

  • Aspek demografis (lokasi/ wilayah tempat tinggal).
  • Usia.
  • Jenis kelamin.
  • Jenjang pendidikan.
  • Status pekerjaan.

Populasi dalam penelitian psikologi lebih menekankan pada karakteristik individual.

Penelitian psikologi lebih mementingkan tercapainya validitas internal daripada validitas eksternal (keluasan generalisasi).

Penelitian psikologi lebih memusatkan pada studi mengenai variabel, bukan pada studi mengenai subjek yang memiliki variabel tersebut.

Semakin sedikit ciri populasi yang diidentifikasi maka populasi akan semakin heterogen (lebih banyak variasi), karena adanya ciri lainnya yang tidak teramati dari subjek dalam populasi tersebut.

Semakin banyak ciri subjek yang disyaratkan untuk menjadi anggota populasi penelitian (semakin spesifik karakteristik populasi), maka populasi tersebut akan semakin homogen (lebih sedikit variasinya).

Untuk penelitian yang menekankan generalisasi hasil penelitian, maka peneliti harus menentukan karakteristik populasi secara spesifik sebelum proses pengambilan sampel.

Karakteristik sampel = karakteristik populasi.

Mengapa perlu pengambilan sampel? Bayangkan, jika anda harus meneliti populasi yang jumlahnya sangat banyak!

Penelitian dengan hanya mengambil sampel dari sebuah populasi akan lebih menghemat sumber daya terkait:

  • Waktu untuk pengambilan data.
  • Tenaga peneliti & tenaga lapangan yang banyak sekali jika meneliti populasi keseluruhan.
  • Dana yang sangat besar (diluar jangkauan peneliti) jika meneliti populasi yang jumlahnya banyak.

Sampel adalah “sebagian dari populasi; dengan kata lain, sampel merupakan bagian dari populasi (Azwar, 2017)”

Data penelitian diambil dari sampel penelitian > dianilisis > hasil analisis digeneralisasikan pada populasi.

Sampel yang representatif > berbagai cara/ tehnik pengambilan sampel (sampling techniques).

Sampel yang tidak representatif = sampel bias. Sampel yang bias disebabkan oleh:

  1. Adanya karakteristik populasi yang dapat berpengaruh terhadap variabel penelitian, namun belum teridentifikasi.
  2. Kesalahan memilih tehnik sampling yang tepat untuk kondisi populasi atau tidak sesuai dengan tujuan penelitian.

Tehnik Pengambilan Sampel (Sampling Techniques)

1. Probability Sampling

“setiap subjek dalam populasi memiliki peluang yang besarnya sudah diketahui untuk terpilih menjadi sampel.”

Random sampling (Randomisasi): di mana setiap subjek dalam populasi memiliki peluang yang sama besar untuk terambil sebagai sampel.

Random = acak (bukan berarti anggota sampel diambil secara sembarang/ sekenanya).

Hasil proses randomisasi > sampel yang diambil akan mempresentasikan karakteristik populasinya.

a. Simple Randomized Sampling (Random Sederhana)

Prosedur:

  1. Membuat daftar lengkap terkait nama atau nomor subjek yang memenuhi karakteristik populasi.
  2. Nama atau nomor subjek tersebut lalu diundi (menggunakan gulungan kertas ataupun dengan bantuan komputer).
  3. Diambil sejumlah sampel yang dibutuhkan peneliti.
  • Layak digunakan untuk populasi yang kondisinya relatif homogen, karena populasi yang tidak homogen akan sulit untuk memperoleh sampel yang representatif jika diambil secara random.
  • Digunakan pada populasi yang tidak terlalu besar, karena semakin besar populasi maka semakin banyak karakter anggota populasi sehingga populasi menjadi heterogen.

Diskusi:

  • Apa yang dimaksud dengan populasi yang homogen?
  • Apa yang dimaksud dengan populasi yang heterogen?
  • Bagaimana membentuk populasi yang homogen?

b. Stratified Random Sampling (Random Berstrata)

Prosedur:

  • Populasi terbagi atas beberapa strata atau sub-kelompok yang berjenjang.
  • Setiap subkelompok ditetapkan sampel masing-masing secara terpisah, kemudian dijadikan satu.

1) Sampel Berstrata Proporsional

Prosedur:

  • Banyaknya subjek dalam setiap subkelompok/ strata harus diketahui dahulu perbandingannya.
  • Tentukan presentase besarnya sampel dari keseluruhan populasi.
  • Presentase tsb diterapkan dalam pengambilan sampel bagi setiap subkelompok/ strata.

2) Sampel Berstrata Disproporsional

Alasan penggunaan teknik ini:

  • Dilakukan karena analisis data penelitian mengharuskan kesetaraan jumlah subjek pada masing-masing subkelompok/ strata (sehingga jika dibuat proporsional, maka tidak akan relevan).
  • Jika diambil secara proporsional maka perbandingan sampel dalam satu subkelompok/strata yang tidak berimbang (kemungkinan terlalu kecil sampel dalam suatu subkelompok).
  • Sampel yang jumlahnya setiap subkelompok/strata-nya tidak seimbang, maka tidak bisa digunakan dalam penelitian komparatif.
  • Terlalu kecilnya sampel pada sub-kelompok dapat memperbesar eror dalam pengambilan sampel (semakin besar sampel maka eror dalam pengambilan sampel akan semakin kecil).

Prosedur:

  • Menentukan lebih dahulu ukuran (jumlah) sampel yang hendak diambil dan jumlah tersebut diberlakukan sama pada setiap subkelompok/ strata.

c. Cluster Random Sampling (Random Klaster)

Prosedur:

  • Randomisasi dilakukan terhadap kelompok (bukan terhadap subjek penelitian secara individual).

Contoh:

Penelitian pada mahasiswa yang tinggal di asrama.

  • Terdapat 60 kamar di asrama tersebut.
  • Setiap kamar terdapat 5 mahasiswa.
  • Maka sampel diambil dari beberapa kamar yang telah ditentukan secara random.
  • Misal dari 60 kamar diambil 10 kamar secara random (kertas atau bantuan komputer).
  • Maka sampel yang diperoleh berjumlah N = 50 mahasiswa.
  • Pada umumnya, jumlah subjek pada masing-masing kluster tidak sama.

Keuntungan: lebih hemat/ efisien waktu dan biaya.

Kelemahan: kesulitan mesngukur besarnya sampling error.

2. Non-Probability Sampling

“Besarnya peluang subjek dalam populasi untuk terpilih sebagai sampel tidak dapat diketahui”

  • Sering disebut juga dengan quota sampling (sampel kuota).

Peneliti mengambil sampel dari kelompok IQ . 110 untuk kelas 1 = 15 dan Kelas 2 = 30 dengan pertimbangan populasi masing-masing 40 dan 50.

Kekurangan:

  • Sampling eror tidak dapat diprediksi.
  • Hasil penelitian terhadap sampel tersebut tidak dapat digeneralisasikan secara valid pada populasinya.

Kelebihan:

  • Lebih hemat/ efisien waktu & biaya.

Berapa Besar Sampel

  • Membutuhkan pertimbangan Efektivitas & Efisiensi.
  • Terkadang tidak dapat diperoleh secara bersamaan, dimana untuk mendapatkan efetivitas butuh mengabaikan sisi efisiensi dari sebuah proses pengambilan data.
  • Karakteristik sampel harus mampu mewakili karakteristik populasi.
  • Semakin besar jumlah sampel maka akan semakin besar peluangnya untuk dapat mewakili populasi dengan baik.
  • Besarnya jumlah sampel yang sesuai juga sangat relatif, tergantung besarnya populasi (mis: populasi = 5000, sample N = 250, bagaimana menurut anda?).
  • Sampel yang telalu banyak (> 400) akan dapat menimbulkan eror tipe I, yaitu menolak hipotesis nol yang seharusnya diterima yang berarti hipotesis alternatif anda akan ditolak.
  • Roscoe (dalam Azwar, 2017) mengusulkan pedoman dalam pengambilan sampel:

    • Sampel berukuran N > 30 dan N < 500 cukup untuk data penelitian pada umumnya.
    • Jika dipecah menjadi beberapa subsampel, maka setiap subsempel diperlukan minimal N = 30
    • Penelitian yang menggunakan analisis multivariat, hendaknya ukuran sampel paing tidak 10X lipat dari banyaknya variabel yang terlibat.
    • Untuk penelitian eksperimen yang cenderung homogen, maka sampel N = 10 atau N = 20 sudah cukup baik.

Metode Peneliltian Kuantitatif

Penelitian = riset = research. re = kembali dan search = mencari (mencari kembali).

  • merupakan rangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara sistematis dalam rangka mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan ataupun permasalahan.
  • Hasil penelitian= fakta dan kesimpulan yang digunakan sebagai informasi dalam pemecahan masalah.

Tugas Peneliti> memberikan fakta, data, dan informasi ilmiah berdasarkan temuan ilmiah & kesimpulan penelitian.

Hasil atau temuan penelitian> mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan sehingga pengetahuan manusia terus berkembang:   

  • memberi pemahaman baru,
  • merivisi,
  • memperkuat pandangan lama,
  • melahirkan teori-teori baru.

Karakteristik Penelitian

1. Memiliki Tujuan

  • Tujuan harus spesifik
  • Hasil penelitian:

a. menjawab pertanyaan penelitian.

b. memiliki kontribusi dalam pemecahan masalah.

2. Sistematis

  • Langkah/ tahapan penelitian yang runtut, terencana, metodologi yang tepat: persiapan pelaksanaan pengambilan dataanalisislaporan penelitian.
  • Kualitas penelitian ditentukan oleh ketepatan langkah-langkah metodologis tsb.
  • Sistematis akan tampak dari: permasalahan yang jelas tujuan yang jelasdasar teori yang jelasmetode pelaksanaan yang jelas.

3. Berbasis Empiris

  • Memiliki rujukan atau referensi empiris berdasar hasil penelitian-penelitian sebelumnya.

4. Replicable dan Transmittable.

  • Repicable: dapat dilakukan penelitian lain dengan subjek berbeda atau menambahkan variabel yang diamati.
  • Transmittable: hasil penelitian dapat berguna bagi pihak lain dan untuk penelitian yang sedang dilakukan oleh pihak lainnya.

5. Terkendali

Menentukan batasan yang jelas antara fenomena yang diamati ataupun variabel yang hendak diukur.

a. Penelitian observasi: dapat mengidentifikasi fenomena yang relevan & perlu diamati, sehingga tidak dicemari oleh fenomena & variabel lainnya yang dapat mencemari data yang dibutuhkan. 

b. Penelitian eksperimen: variabel-variabel independen dan kondisi dalam eksperimen.

6. Objektif

Pengamatan permasalahan hingga pembahasan hasil penelitian tidak tercemar oleh pandangan subjektif penelitian ataupun tekanan dari luar.

7. Tahan Uji

Hasil dan kesimpulan penelitian merupakan hasil telaah dari dasar-dasar teori dan metode yang tepat.

Yang akan dibahas dalam sebuah PENELITIAN:

  • Permasalahan.
  • Landasan teori/ tinjauan pustaka & hasil penelitian sebelumnya yang terkait.
  • Tujuan Penelitian.
  • Hipotesis.
  • Variabel.
  • Populasi & Sample.
  • Instrumen pengumpul data.
  • Validitas & Reliabilitas.
  • Analisis data.
  • Hasil & Kesimpulan.

Jenis-Jenis Penelitian

Berdasar Pendekatan Metodologis:

  1. Penelitian Kuantitatif.
  • Umumnya berupa penelitian dengan sample besar.
  • Berupa pengujian hipotesis.
  • Variabel diidentifikasi dengan jelas & terukur.
  • Data diperoleh melalui prosedur pengukuran.
  • Analisis data menggunakan statistik (berupa angka).
  • Hasil berupa bukti signifikansi antar variabel-variabel penelitian

2. Penelitian Kualitatif

  • Umumnya berupa penelitian dengan sample kecil.
  • Analisis menggunakan logika ilmiah terhadap dinamika hubungan antarfenomena yang diamati.
  • Hasilnya berupa jawaban atas pertanyaan penelitian melaui cara berfikir formal & argumentatif.

Berdasar kedalaman Analisis & Penyimpulan hasil:

1. Penelitian Deskriptif

  • Analisis terbatas pada penggambaran data secara faktual.
  • Data disajikan secara ringkas & sistematis (mudah dibaca, difahami, & disimpulkan).
  • Hasil Analisis umunya berupa presentase atau kecenderungan yang disajikan dalam bentuk tabel, matriks, diagram, kurva.

. Penelitian Inferensial

  • Berupa analisis minimal 2 variabel.
  • Terdapat uji hipotesis.
  • Berupa pendekatan korelasional atau uji perbedaan.

Berdasar Kategori Fungsionalnya:

1. Penelitian Deskriptif

  • Untuk menyajikan hasil penelitian secara sistematik & akurat (baik data kuantitatif ataupun data kualitatif) mengenai fakta dan karakteristik populasi/ bidang tertentu.
  • Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif.
  • Contoh: Penelitian survei (deskripsi beberapa variabel dari suatu populasi dengan sample yang besar)

2. Penelitian Korelasional

  • Untuk mengetahui kekuatan atau arah hubungan diantara beberapa variabel.
  • Penelilti dapat memperoleh informasi mengenai hubungan timbal-balik (bukan hubungan kausal/sebab-akibat).

3. Penelitian Perkembangan

  • Untuk mempelajari pola urutan perkembangan/ perubahan yang terjadi sejalan dengan terjadinya perubahan waktu.
  • Contoh: Penelitian terkait pola pertumbuhan, kecepatan perubahan, arah, urutan.
  • Dapat dilakukan secara longitudinal ataupun cross-sectional.

Penelitian Longitudinal: mengikuti perkembangan subjek secara terus-menerus selama jangka waktu tertentu.

(-) Tidak semua subjek dapat diikuti perkembangan dalam jangka waktu bertahun-tahun.

(-) Tidak efisien (waktu, tenaga, & biaya).

(+) Lebih akurat dinamika perubahan yang terekam secara kronologis.

-hanya 1 kelompok subjek (ex: subject diikuti bertahun2)

Penelitian Cross-Sectional: melibatkan subjek dalam jumlah yang lebih banyak dengan beberapa variasi kelompok yang berbeda dalam satu waktu penelitian.

(-) Banyak variabel yang sebenarnya ikut mempengaruhi penelitian namun tidak dapat dianalisis/ tidak diketahui.

(+) Lebih efisien (waktu, tenaga, & biaya).

-subjek bervariasi (ex: pada usia yang bervariasi)

Berdasar Kategori Fungsional:

4. Studi Kasus & Penelitian Lapangan

  • Untuk mempelajari secara intensif & mendalam (terkait: latar belakang, status terakhir, dan interaksi lingkungan) yang terjadi pada satuan sosial tertentu (individu, kelompok, lembaga, komunitas).
  • Merupakan penyelidikan mendalam dengan sedikit subjek dan banyak variabel.
  • Hasilnya berupa gambaran yang terorganisasikan.

6. Penelitian Kausal-Komparatif?

7. Penelitian Eksperimen-Murni?

8. Penelitian Eksperimen-Kuasi?

Metode Penelitian Kuantitatif

Penelitian = riset = research. re = kembali dan search = mencari (mencari kembali).

Jadi, penelitian merupakan rangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara sistematis dalam rangka mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan ataupun permasalahan.

Hasil penelitian: fakta dan kesimpulan yang digunakan sebagai informasi dalam pemecahan masalah.

Tugas Peneliti: memberikan fakta, data, dan informasi ilmiah berdasarkan temuan ilmiah & kesimpulan penelitian.

Hasil atau temuan penelitian: mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan sehingga pengetahuan manusia terus berkembang:   

  • memberi pemahaman baru,
  • merivisi,
  • memperkuat pandangan lama,
  • melahirkan teori-teori baru.

Karakteristik Penelitian:

1. Memiliki Tujuan

  • Tujuan harus spesifik
  • Hasil penelitian:

a. menjawab pertanyaan penelitian.

b. memiliki kontribusi dalam pemecahan masalah.

2. Sistematis

  • Langkah/ tahapan penelitian yang runtut, terencana, metodologi yang tepat: persiapan pelaksanaan pengambilan dataanalisislaporan penelitian.
  • Kualitas penelitian ditentukan oleh ketepatan langkah-langkah metodologis tsb.
  • Sistematis akan tampak dari: permasalahan yang jelas tujuan yang jelasdasar teori yang jelasmetode pelaksanaan yang jelas.

3. Berbasis Empiris

  • Memiliki rujukan atau referensi empiris berdasar hasil penelitian-penelitian sebelumnya.

4. Replicable dan Transmittable.

  • Repicable: dapat dilakukan penelitian lain dengan subjek berbeda atau menambahkan variabel yang diamati.
  • Transmittable: hasil penelitian dapat berguna bagi pihak lain dan untuk penelitian yang sedang dilakukan oleh pihak lainnya.

5. Terkendali

Menentukan batasan yang jelas antara fenomena yang diamati ataupun variabel yang hendak diukur.

a. Penelitian observasi: dapat mengidentifikasi fenomena yang relevan & perlu diamati, sehingga tidak dicemari oleh fenomena & variabel lainnya yang dapat mencemari data yang dibutuhkan. 

b. Penelitian eksperimen: variabel-variabel independen dan kondisi dalam eksperimen.

6. Objektif

Pengamatan permasalahan hingga pembahasan hasil penelitian tidak tercemar oleh pandangan subjektif penelitian ataupun tekanan dari luar.

7. Tahan Uji

Hasil dan kesimpulan penelitian merupakan hasil telaah dari dasar-dasar teori dan metode yang tepat.

Pencatatan dalam Observasi

Strategi observasi

  • Narratives types: Diary description, Specimen description, Anecdoctal records
  • Checklist notations: Time sampling, Event sampling, Field unit analysis
  • Rating scales: Numerical scale, Graphic, Semantic differensial, Standard, Cumulated points, Forced choice ratings

Pengertian singkat

  • Narrative types

Pengumpulan (pencatatan) data oleh observer apa adanya sesuai (sama) dengan kejadian dan urutan kejadiannya sebagaimana yang terjadi pada situasi nyata

  • Checklist notation

Observer menyusun struktur observasi dengan memilih & mendefinisikan perilaku sebelum observasi dilakukan sehingga ketika observasi tinggal memberi tanda cek

  • Rating scales

Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati dan informasi dicatat sebagai refleksi dari penilaian observer

(1) Narrative types

  • Diary description
    • Pengamatan (pencatatan) perubahan-perubahan pada perkembangan perilaku secara umum atau perilaku spesifik sesuai tujuan observasi
    • Membutuhkan waktu yang panjang & frekuensi kontak yang banyak
  • Specimen description
    • Deskriptif naratif, running records
    • Pengamatan yang bersifat detil & lengkap, intensif & kontinyu dg pencatatan naratif sekuensial terhadap episode tunggal dari perilaku & keadaan lingkungannya
  • Anecdoctal records
    • Deskripsi naratif, tidak fokus pada 1 anak atau kelompok
    • Tidak terbatas pada kemunculan perilaku baru
    • Melaporkan apapun yang terjadi

(2) Checklist notations

  • Time sampling
    • Pengamatan seperti specimen description terhadap perilaku tertentu (sesuai tujuan observasi) pada interval waktu tertentu yang telah ditentukan (frekuensi & durasi perilaku)
  • Event sampling
    • Pengamatan yang berfokus pada pencatatan kejadian perilaku-perilaku penting yang diamati pada situasi tertentu
  • Field unit analysis
    • Ada kesamaan dengan specimen records
    • Metode ini mengaitkan perilaku-perilaku yang terjadi pada pengamatan ke dalam unit-unit perilaku yang sudah disusun & menyediakan fasilitas on the spot coding

Bentuk pencatatan Checklist (Y/T)

  • Observer menyusun struktur observasi dengan memilih & mendefinisikan perilaku sebelum observasi dilaksanakan sehingga saat obsv tinggal memberi tanda cek
  • Melihat perilaku yang dianggap penting
  • Tidak memberikan informasi tentang frekuensi, durasi, & kualitas perilaku
  • Digunakan pada TIME SAMPLING & EVENT SAMPLING

KELEBIHAN

  • Strategi yang sederhana & relatif mudah
  • Merekam dengan cepat & efisien, kebutuhan energi observer minimum
  • Ketrampilan yang dibutuhkan observer relatif lebih sederhana
  • Setelah dilakukan check terhadap perilaku dapat ditambahkan catatan tertentu
  • Mudah diolah dalam lembar komputasi

KELEMAHAN

  • Informasi terlalu sedikit
  • Informasi kurang mendalam
  • Tidak ada informasi tentang “bagaimana” (kualitas, durasi, frekuensi)

Panduan checklist

  • Tentukan tujuan observasi
  • Tentukan definisi operasional perilaku
  • Tentukan content (indikator) perilaku yang akan diobservasi
  • Susun checklist berdasarkan indikator perilaku sebelum observasi dilakukan
    • Identifikasi secara detail indikator perilaku
    • Pengaturan detal indikator perilaku harus logis
  • Gunakan ceklist untuk melihat kehadiran perilaku target

Time sampling

Pengamatan terhadap perilaku tertentu (sesuai tujuan observasi) pada interval waktu yang telah ditentukan (biasanya kemunculan perilaku, frekuensi, & durasi)

  • Menggunakan observasi untuk men-sample dalam bentuk frekuensi, bukan dalam bentuk deskripsi
  • Perilaku harus sering muncul. Jika perilaku muncul kurang dari sekali dalam 15 menit, tidak bisa pakai metode ini
  • Cocok untuk perilaku yang tampak (overt behavior)
  • Memungkinkan untuk melakukan pengukuran, karena data bersifat frekuensi atau durasi. Pada jenis perilaku tertentu, observer mencatat durasi terjadinya perilaku/peristiwa yang diamati dalam batasan waktu tertentu.
  • Memfokuskan pada perilaku yang sangat spesifik
  • Cocok untuk perilaku yang sering muncul
  • Cocok untuk perilaku yang mudah diamati
  • Observer perlu menyebutkan definisi operasional perilaku, sehingga istilah yang ada mudah dipahami orang lain
  • Tujuan observasi perlu ditulis secara jelas, terutama untuk menjelaskan secara rinci tentang:
    • Jumlah subjek yang perlu diobservasi
    • Observasi dilakukan pada individu atau kelompok
    • Jumlah kegiatan observasi agar data yang diperoleh representatif
    • Apakah perilaku yang diobservasi benar-benar merupakan contoh dari perilaku yang biasanya ada
  • Time sampling – format pencatatan

1) Menentukan jenis informasi yang perlu dicatat

  • Checkmarks: apakah perilaku muncul atau tidak
  • Tallymarks: seberapa sering perilaku muncul
  • Duration: seberapa lama perilaku itu muncul

2) Menentukan interval waktu seperti apa yang akan digunakan, terutama: length, spacing, number

3) Format pencatatan diusahakan sederhana & mudah dilihat

4) Pada beberapa kondisi, kadang diperlukan adanya kode (coding system) pada perilaku tertentu. Ada 2 cara:

  1. Sign system: untuk perilaku diskrit, dimana tidak mungkin subjek menunjukkan lebih dari satu perilaku pada saat tertentu
  2. Category system: sama seperti sign system, namun meliputi serangkaian perilaku tertentu, bukan perilaku tunggal

5) Sediakan bagian kosong yang cukup utk menulis deskripsi tertentu berkaitan dengan coding system

6) Sediakan bagian kosong untuk menulis hal-hal yang kurang relevan tapi dianggap penting

  • Event sampling

Pengamatan yang berfokus pada pencatatan kejadian perilaku-perilaku penting yang diamati pada situasi tertentu.

Panduan

  • Identifikasi & susun definisi operasional perilaku yang akan diobservasi dengan jelas
  • Ketahui secara umum dimana & kapan perilaku dapat terjadi
  • Tentukan jenis informasi yang akan direkam (dapat menggunakan pencatatan naratif maupun kategoris).
    • Misal perilaku bertengkar: berapa lama terjadi, jenis perilaku, apa yang terjadi, apa yang dilakukan, apa yang dikatakan, apa akibatnya, apa yang terjadi setelah pertengkaran
  • Susunlah lembar pencatatan semudah mungkin

KEUNTUNGAN

  • Yang diobservasi adalah perilaku atau situasi alamiah
  • Ekonomis secara waktu
  • Dapat digunakan untuk meneliti perilaku atau kejadian apapun

KERUGIAN

  • Data tidak dapat begitu saja dikuantifikasi seperti pada time sampling
  • Tetap saja tidak mengaitkan antara suatu perilaku dengan kondisi atau situasi di masa lalu, yang memungkinkan terjadinya perilaku atau kondisi tersebut

(3) Rating scales

  • Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati & informasi direkam dalam bentuk nilai tertentu (angka) sebagai refleksi dari penilaian observer.
  • Didesain untuk mengukur kuantifikasi impresi dari pengamatan
  • Penilaian kuantitatif tentang tingkat terjadinya perilaku atau bagaimana perilaku ditampakan
  • Menjadi mudah & cepat untuk membuat kesimpulan dari impresi yang didapatkan
  • Dapat mengukur ciri sifat dan perilaku yang tidak dapat diungkap oleh strategi lain
  • Lebih tepat sebagai metode asesmen dibandingkan teknik yang deskriptif
  • Dapat sebagai perekaman (on the spot) pada situasi tertentu

Panduan

  • Pernyataan pendek, simpel, & tidak ambigu
  • Pilih kata yang berhubungan dengan skala (tidak overlap dengan deskripsi)
  • Hindari penggunaan pernyataan seperti: kurang, rata-rata, superior
  • Hindari pernyataan yang mengandung unsur baik / buruk
  • Beri nilai pada satu indikator sebelum ke indikator lain
  • Lebih baik jika kita tidak kenal
  • Pilihlan situasi amatan maupun situasi rating secara hati-hati, hindari penilaian subjektif sebisa mungkin
  • Berikan definisi operasional untuk setiap jenjang penilaian

KELEBIHAN

  • Efisiensi waktu
  • Lebih menarik bagi observer
  • Lebih mudah diskor & dikuantifikasi (statistik)
  • Dapat mengukur perilaku lebih luas
  • Dapat membandingkan antar individu & intra individu
  • Membutuhkan minimum training
  • Memfasilitasi melihat hubungan realita & persepsi individu

KELEMAHAN

  • Peluang eror & bias cukup besar
  • Ambiguitas item
  • Pengaruh penerimaan sosial
  • Kurang bercerita tentang penyebab perilaku

Tipe-tipe Rating scale 

  • Numerical scale
    • angka tertentu dikaitkan dengan nilai tertentu dari perilaku
    • Skala perilaku siswa di kelas
      • 1 = Perilaku mengganggu, meninggalkan kelompok
      • 2 = Perilaku mengganggu tidak tampak
      • 3 = Mengikuti guru, tatapan mengarah ke guru
      • 4 = Mengikuti guru, ekspresi menunjukkan ketertarikan
      • 5 = Mengikuti guru, melaksanakan instruksi
    • Graphic
      • Kemunculan perilaku tertentu dinilai berdasarkan rentang penilaian yang bersifat meningkat (bentuk garis lurus)
      • Rentang penilaian perilaku mengganggu di kelas
        • Selalu – sering – kadang-kadang – jarang – tidak pernah
      • Semantic differential
        • Termasuk grafik dengan tujuh penilaian pada perilaku bipolar (terdiri dari 2 kutub perilaku yang berlawanan)
      • Standar
        • Observer dihadapkan pada satu set standar untuk menilai yang lain
      • Cumulated points
        • Penilaian didasarkan pada akumulasi terhadap penilaian unit-unit perilaku tertentu
      • Forced choice
        • Rater dihadapkan pada satu set deskripsi kualitas tertentu dan memilih satu yang sesuai dengan hasil pengamatan

FAKTOR POTENSIAL RATER ERRORS

  • Proximity error: kesalahan karena kedekatan observer dengan subjek
  • Hallo effect : terkesan pada hal pertama/awal yang diamati
  • Error of central tendency : pengamat tidak berani untuk memberikan penilaian sangat baik atau sangat kurang
  • Error of logic : cenderung sama karena dianggap berhubungan
  • Error of contrast : memiliki dua arah
  • Ketidakjelasan dalam penggunaan istilah
  • Social desirability effect : secara sosial lebih diterima
  • Skala rating tidak memberi informasi sebab terjadinya perilaku
  • The generosity effect : terjadi ketika ragu-ragu
  • Carry over effect : pengamat kurang memisahkan jawaban terhadap butir yang satu dari jawaban butir yang lain.

Reliabilitas

RELIABILITAS (KEAKURATAN/KEMANTAPAN)

Reliabilitas menunjuk pada sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran dilakukan berulangkali.

  • Apakah alat ukur yang dipakai tersebut tepat untuk mengukur konsep yang hendak diukur?

Cara mengukur reliabilitas/tipe reliabilitas

  1. Metode ulang
  • responden sama, alat ukur sama, penelitian dua kali
  • Menghasilkan koefisien stabilitas/Stability Reliability (Neuman, 2000)

2. Metode Belah Dua (split half method)

  • pertanyaan dalam alat ukur dibagi menjadi dua dengan cara acak diberikan pada responden yang sama pada waktu yang samaà Representative Reliability à Neuman (2000)

3.  Metode paralel (double test – double trial)

  • Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrument yang parallel (ekuivalen), yaitu dua buah instrument yang disusun berdasarkan satu buah kisi-kisi.
  • Setiap butir item dari instrument yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut diujicobakan semua.
  • Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus product moment (korelasi Pearson).
  • Metode Paralel dapat dilakukan dengan 2 cara:
    • Alat ukur sama, responden sama, waktu sama, dilakukan oleh dua (2) peneliti yang berbeda.
    • Peneliti satu (1) orang, responden sama, alat ukur (kuesioner) dua (2) perangkat

Makna Reliabilitas

  • Reliabilitas = tingkat kepercayaan. Seberapa besar kita bisa mempercayai hasil pengukuran yang kita dapatkan, atau juga seberapa besar tingkat kesalahan yang muncul ketika kita melakukan pengukuran.
  • Semakin besar tingkat kesalahan yang muncul ketika observasi & wawancara dilakukan, hasil yang diperoleh dari tes tersebut makin tidak dapat dipercaya, makin tidak reliabel.

Contoh Reliabilitas

  • Seorang murid dites dan mendapat nilai
  • Jika tes tersebut reliabel, maka kita bisa yakin bahwa kemampuan murid tersebut memang 100 dan nilai diperoleh bukan karena faktor lain selain kapasitas orang tersebut.
  • Jika angka 100 ini diperoleh lebih banyak karena faktor lain (faktor lain ini yang disebut error), maka kita akan berkata bahwa tes tersebut tidak reliabel.

Kesimpulan Reliabilitas

  • Jadi, reliabilitas apakah sama dengan keajegan?
  • Jika kita melihat permasalahan ini dari kacamata asumsi yang mendasari pemikiran reliabilitas di atas, maka reliabel = ajeg tetapi hal ini sulit dicapai karena ada banyak faktor yang mempengaruhi aspek psikologis seseorang.
  • Mungkin lebih aman jika kita menyebut reliabilitas sebagai: “tingkat kepercayaan, seberapa jauh error yang dihasilkan dari alat ukur, dan seberapa jauh hasil pengukuran dapat dipercaya” (Feldt & Brennan, 1989: 105)

 

Validitas Instrumen

Validitas Instrumen

Dalam psikologi, semua instrumen pengukuran atau alat ukur harus memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Hal ini juga berlaku untuk panduan serta lembar pencatatan observasi dan wawancara.

Alat Ukur Psikologi

Tujuan disusunnya alat ukur psikologi adalah untuk mendapatkan data atau informasi tentang aspek-aspek psikologi.

  • Metode pengumpulan data dalam psikologi misalnya tes psikologi, kuesioner, skala psikologi, observasi, dan wawancara.
  • Data yang diperoleh adalah sumber informasi.
  • Data yang akurat artinya informasi yang dapat dipercaya.
  • Jika informasi dapat dipercaya maka kesimpulan juga dapat dipercaya.
  • Tantangannya adalah bagaimana memperoleh data/informasi yang terpercaya?
  • Hal ini dapat diperoleh melalui pengukuran yang validitas dan reliabilitas tinggi.

VALIDITAS (KECERMATAN = KETEPATAN)

Validitas adalah sejauh mana suatu alat ukur itu mengukur apa yang hendak diukur.

  • Apakah kita benar-benar mengukur konsep/aspek/indikator yang kita ukur?
  • Kecermatan dan ketepatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya

RELIABILITAS (KEAKURATAN/KEMANTAPAN)

Reliabilitas menunjuk pada sejauh mana suatu hasil pengukuran RELATIF KONSISTEN apabila pengukuran dilakukan berulangkali.

  • Apakah alat ukur yang dipakai tepat untuk mengukur konsep yang hendak diukur?

Hubungan Validitas dan Reliabilitas

Validitas: mempermasalahkan kesesuaian antara konsep dan kenyataan empiris

Reliabilitas: kesesuaian hasil-hasil  pengukuran di  tingkat kenyataan empiris

Oleh karena itu: valid pasti reliable, reliabel belum tentu valid

  • pengukuran yang dapat diandalkan akan mengukur secara konsisten, tapi belum tentu mengukur apa yang seharusnya diukur

VALIDITAS

Validitas atau kesahihan menunjukan:

  • kemampuan suatu instrumen (alat pengukur) mengukur apa yang harus diukur
  • …. a valid measure if it successfully measures the phenomenon

Misal: Seseorang yang ingin mengukur tinggi harus memakai meteran, mengukur berat dengan timbangan, meteran, timbangan merupakan alat ukur yang valid dalah kasus tersebut.

Dalam suatu penelitian yang melibatkan variabel/konsep yang tidak bisa diukur secara langsung, masalah validitas menjadi tidak sederhana, di dalamnya juga menyangkut penjabaran konsep dari tingkat teoritis sampai tingkat empiris (indikator), namun bagaimanapun tidak sederhananya suatu instrumen penelitian harus valid agar hasilnya dapat dipercaya.

Makna VALIDITAS

  • Pengertian validitas berkaitan erat dengan tujuan pengukuran.
  • Valid hanya untuk satu tujuan yang spesifik.
  • Apakah alat ukur itu sesungguhnya mengukur konsep yang ingin diukur dan bukan konsep yang lain?
  • Apakah pengukuran konsep tersebut dilakukan secara tepat dan cermat = memiliki varians eror yang kecil, dapat membedakan subyek satu dengan yang lain.
  • Tingkat validitas dapat dipengaruhi oleh:
    • Kemampuan pewawancara/observer/tester : apakah mengikuti petunjuk/pedoman wawancara/observasi atau tidak
    • Keadaan responden sewaktu wawancara/observasi/tes berlangsung

Tipe-tipe Validitas

  1. Validitas isi (content validity):
  • Sejauh mana panduan mencerminkan aspek/indikator/atribut yang hendak diukur
  • Isi panduan komprehensif dan relevan untuk mengukur ciri atribut yang hendak diukur
  • Diestimasi (diperkirakan) melalui pengujian terhadap panduan dengan analisis rasional/lewat professional judgement (penilaian dari para ahli).

a. validitas muka

Adalah validitas yang menunjukkan apakah alat pengukur/instrumen penelitian dari segi rupanya (penampilan) nampak mengukur apa yang ingin diukur, validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen.

  • penilaian terhadap format penampilan form
  • jika tampilan form meyakinkan maka observer/interviewer akan termotivasi
  • ini merupakan tipe validitas yang paling rendah

b. validitas logik

  • sejauhmana panduan observasi/wawancara merupakan representasi dari aspek yang hendak diukur
  • dapat dicapai dengan pembatasan kawasan perilaku secara seksama dan konkret (operasionalisasi atribut)

2. Validitas konstrak

  • Sejauhmana observasi/wawancara mengungkap suatu trait atau konstruk teoretik yang hendak diukur.
  • Pengujian validitas konstruk merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai aspek yang diukur.
  • Seberapa besar derajat observasi/wawancara mengukur hipotesis yang dikehendaki untuk diukur.
  • Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut.

3. Validitas berdasar kriteria

Adalah validasi suatu instrumen dengan membandingkannya dengan instrumen-pengukuran lainnya yang sudah valid dan reliabel dengan cara mengkorelasikannya; bila korelasinya signifikan maka instrumen tersebut mempunyai validitas kriteria.

  • Estimasi validitas berdasarkan kriteria yang dapat dijadikan dasar pengujian hasil ukur.
  • Kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksikan oleh instrumen atau berupa suatu ukuran lain yang relevan.

Bentuk validitas kriteria yaitu:
a. validitas konkuren (Concurrent validity)
Validitas konkuren adalah kemampuan suatu instrumen pengukuran untuk mengukur gejala tertentu pada saat sekarang kemudian dibandingkan dengan instrumen pengukuran lain untuk konstruk yang sama.

b. validitas ramalan (Predictive validity)
Validitas ramalan adalah kemampuan suatu instrumen pengukuran memprediksi secara tepat dengan apa yang akan terjadi di masa datang.

Dilihat dari segi waktu untuk memperoleh skor kriterianya :

Validitas konkuren:

  • Seberapa besar derajat skor instrumen berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari pengukuran lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan criteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama.
  • Apabila skor alat ukur dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor tersebut merupakan koefisien validitas konkuren.

Validitas prediktif:

  • Seberapa besar derajat instrumen berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang.
  • Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkapkan hubungan antara skor instrumen dengan hasil instrumen atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran.
  • Validitas Prediktif sangat penting artinya bila alat ukur dimaksudkan untuk berfungsi sebagai predictor bagi kinerja atau prestasi di masa yang akan datang.
  • Contoh situasi yang menghendaki adanya prediksi ini antara lain adalah seleksi siswa baru, seleksi karyawan, dsb.

Cara Mengukur Validitas

  • Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur sampai tersusun alat ukur atau panduan atau kuesioner.
  • Melakukan uji coba
  • Membuat tabulasi hasil uji coba
  • Melakukan uji statistik dengan korelasi ‘Product Moment’ (untuk alat ukur berbentuk tes psikologis.

Wawancara Klinis

Wawancara klinis adalah wawancara untuk memperoleh dan memberi informasi. Ini tidak sekadar mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi tetapi harus bertujuan, antara lain:

  • membangun hubungan,
  • mengambil keputusan klinis awal/dugaan sementara tentang masalah,
  • mengumpulkan informasi untuk tujuan perlakuan, dan
  • menentukan prioritas, misal untuk keperluan diagnosis, modalitas intervensi)

Syarat  Pewawancara

  • dapat membuat yang diukur (klien) merasa nyaman
  • mampu memutuskan secara objektif masalah maupun reaksi subjektif terhadap penampilan, kepribadian, latar belakang klien
  • dapat memahami dan berempati terhadap perasaan cemas klien
  • membuat keputusan cepat berdasar data yang didapatkan
  • mampu menginterpretasikan perilaku, ekspresi/bahasa nonverbal klien secara objektif
  • melakukan komunikasi personal tanpa menjadi terlibat secara emosional
  • tidak menginterupsi perkataan klien
  • tidak mengritik secara oral maupun bahasa tubuh
  • mendorong klien agar terjadi diskusi positif
  • berpengalaman, percaya diri, dan trampil.

Kriteria Pewawancara

Pewawancara harus mempunyai pengetahuan tentang perilaku manusia & dinamikanya, serta perlu ketrampilan, antara lain:

  • ketrampilan sosial: mampu menciptakan suasana menyenangkan, bersahabat
  • mampu membuat laporan tertulis
  • analisis dan interpretasi informasi dari klien
  • membuat keputusan, mempunyai pertimbangan- pertimbangan yang matang, melakukan triangulasi data-data berbagai sumber

Sebelum Wawancara

Self-asesment

  • cek kemampuan yang dipunyai dalam hal wawancara, menyangkut:

(1) tujuan wawancara dilakukan,

(2) kemampuan dan masalah dihadapi

  • mencoba beberapa cara untuk menentukan gaya wawancara yang cocok dengan diri sendiri tanpa meninggalkan kaidah karakteristik wawancara.

Etika Wawancara

  • menanyakan isu sensitif yang berhubungan dengan keputusan harus dibuat saat wawancara harus dipertanggungjawabkan dengan matang, apakah etis/tidak (misal: apakah klien punya orientasi seksual anormatif dalam perkawinan tak stabil dikaitkan dengan posisinya dlm sistem masyarakat)
  • kecenderungan memberi saran berdasar pengalaman pribadi harus dipertimbangkan dengan baik
  • umpan balik yang diberikan saat wawancara perlu disampaikan tetapi isi dan cara menginformasikannya dipilih dengan tepat untuk menghindari dampak negatif.

Pelaksanaan Wawancara

Persiapan

  • tempat: nyaman, tenang
  • pembicaraan pra wawancara informal
  • hindari greeting (basa-basi) yang tidak perlu
  • hindari hal yang membuat/menambah kecemasan klien

Teknik

  • non direktif: pertanyaan terbuka
  • direktif: berdasarkan data diperoleh, diungkapkan dengan hati-hati
  • kombinasi: pertanyaan terbuka, meringkas, mengulang (dengan kata-kata sendiri), mendengarkan aktif, pertanyaan direktif

Tahapan situasi

  1. Awal
  • Mengerti permasalahan klien
  • Informasi digunakan untuk tindakan selanjutnya
  • Menentukan rujukan

2. Identifikasi masalah

  • Menentukan klasifikasi atau diagnosis
  • Menguraikan pribadi klien:

– kekuatan

– kelemahan

– kehidupan saat ini

– riwayat hidup

3. Orientasi

  • Memberikan gambaran kepada klien tentang pelayanan yang akan diberikan
  • Klien dapat bertanya

4. Terminasi

  • Ringkasan hasil asesmen
  • Interpretasi asesmen
  • Untuk penelitian: penjelasan tentang proses penelitian
  • Intervensi yang akan diberikan

5. Krisis

  • Wawancara terfokus pada krisis yang dihadapi
  • Pemberian dukungan
  • Pemberian pertolongan

6. Observasi

Saat wawancara digunakan untuk pengamatan terhadap reaksi klien.

KETERAMPILAN MIKRO

‘Hadir’ dalam percakapan:

-Kontak mata

-Kualitas vokal

Verbal tracking

KETRAMPILAN DASAR

  • Pertanyaan terbuka & tertutup
  • Melakukan observasi
  • Encouraging : memberikan penguatan
  • Paraphrasing : mengatakan dengan kalimat yang berbeda
  • Summarizing : membuat ringkasan
  • Refleksi perasaan : refleksi empati

Wawancara klinis sebagai psikoterapi

  • Wawancara pembuka
    • Masukan tentang klien
  • Wawancara diagnostik
    • Menentukan diagnostik sementara kasus
  • Wawancara riwayat hidup sosial

wawancara di atas untuk menuju:

  • Wawancara terapi/konseling
    • Pertanyaan terbuka: komunikasi verbal
    • Klarifikasi
    • Konfrontasi; ada kesenjangan
    • Interpretasi/refleksi isi & perasaan
  • Note: Sikap klinisi
    • Penuh perhatian
    • Penerimaan
    • Penghargaan
    • Empati

Wawancara Perilaku

  • Perilaku berlebih
  • Perilaku kurang
  • Perilaku tidak tepat
  • Muncul dimana?
  • Siapa yang ada?
  • Lingkungan fisik?
  • Kapan?

Tujuan: Analisis fungsional: anteseden – perilaku- konsekuensi

  • Note: target perilaku: operasional

CATATAN PENTING WAWANCARA KLINIS

  • Proses wawancara adalah proses untuk ‘membuka’ luka/trauma/pengalaman buruk klien.
  • Hati-hati saat membukanya.
  • Dan pastikan anda menutupnya dengan baik saat closing/terminasi wawancara.

Evaluasi Interviewer (Checklist)

Dalam proses wawancara, interviewer dapat melakukan evaluasi dengan bantuan tabel berikut:

Yes No
1. PENGENALAN
a)    Membangun Rapport

b)    Dapat masuk dengan lancar pada proses interview

2. PENCARIAN INFORMASI
a.    Pertanyaan diberikan dalam bentuk open-ended, dan dapat menghasilkan banyak informasi

b.    Interviewer mengikuti dengan penuh perhatian pada setiap jawaban interviewee

c.    Interviewer menguasai proses interview

d.    Interviewer mampu memberikan kebebasan berbicara pada interviewee

e.    Interviewer benar-benar mendengar (mendengar aktif)

f.     Interviewer dapat memperoleh informasi yang tepat

g.    Interviewer dapat menggali informasi pendukung

3. PEMBERIAN INFORMASI
a.    Interviewer menggambarkan pekerjaan/permasalahan dengan tepat

b.    Interviewer menjelaskan latar belakang permasalahan

c.    Interviewer mendorong interviewee untuk bertanya

4. PENUTUP INTERVIEW
  1. Interviewer menutup proses interview dengan tepat
  2. Interviewer meninggalkan kesan yang baik
  3. Interviewer membuat catatan-catatan tepat selama proses interview