Carl Rogers

Carl Ransom Rogers (8 Januari 1902 – 4 Februari, 1987) adalah seorang psikolog Amerika dan di antara pendiri pendekatan psikologi humanistik (atau pendekatan client-centered).

Masa kecil

Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, Illinois, sebuah daerah di pinggiran kota Chicago, 8 Januari 1902. Rogers merupakan anak keempat dari enam bersaudara yang lahir dari pasangan Walter dan Julia Cushing Rogers. Dia merupakan anak yang cukup cerdas dan sudah mampu membaca dengan baik sebelum masuk taman kanak-kanak. Rogers lebih dekat dengan ibu daripada ayahnya, karena selama bertahun-tahun diawal masa kanak-kanaknya, sang ayah sering kali jauh dari rumah karena perkerjaannya sebagai insinyur sipil. Walter dan Julia Rogers sama-sama religius, hal ini membuat Rogers begitu tertarik pada Alkitab sehingga dia rajin membacanya. Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama, moral dan etika. Dari orangtuanya pula, Rogers juga belajar nilai kerja keras, sebuah nilai yang tidak seperti agama, lebih menetap abadi dalam dirinya di sepanjang hayatnya. Namun pada suatu waktu orangtuanya pindah ke daerah pertanian sekitar 30mil dari Chichago untuk mencegah dari pengaruh Suburb untuk anak-anak mereka. Di sinilah Rogers muda mulai tertarik dalam dunia pertanian. Meski pindah ke wilayah pertanian ini tidak serta merta membuat keluarga Rogers meninggalkan gaya hidup kelas menengah mereka. “Sudah terkenal kalau Rogers tumbuh di wilayah pertanian, namun yang tidak diketahui banyak orang, rumah pertanian itu punya atap yang bertingkat, lantai dari keramik, delapan kamar tidur, lima kamar mandi, dan lapangan tenis berlantai tanah liat dibelakang rumah” (Pengantar Teori-Teori kepribadian 1, Mathew H Olson, B.R. Hergenhan, hal 774).

Di rumah pertanian inilah Rogers untuk pertama kalinya menaruh minat pada ilmu pengetahuan. Karena ayahnya menekankan pertanian itu harus dijalankan dengan cara yang ilmiah, Rogers pun ikut membaca banyak eksperimen di bidang pertanian. Dari pembacaannya ini, ia mengembangkan sebuah minat kepada species ngengat yang dia tangkap, pelihara dan diberi makan. Minat kepada sains inilah yang tidak pernah ila lepaskan seumur hidupnya, meski akhirnya dia bekerja di wilayah psikologi paling subjectif di sepanjang karier profesionalnya.  Kecenderungan Rogers terhadap kemenyendirian ini bertahan selama SMU, dimana selama periode itu hanya dua kali saja dia pernah berkencan. Rogers adalah siswa yang pandai dan meraih nilai hanpir A semuanya. Minat utamanya adalah sastra inggris dan sains.

Masa Pendidikan

Pendidikan Rogers bercirikan agama kristen fundamentalis yang sangat ketat dan tak suka berkompromi, dengan suatu tekanan pada tingkah laku moral yang tepat dan kebajikan kerja keras. Ajaran-ajaran agama dari orang tuanya sangat mempengaruhinya sepanjang masa kanak-kanak dan masa adolesensi dan tidak goyah ketika memasuki perguruan tinggi. Tentu saja dia memutuskan dalam tahun kedua untuk mengabdikan kehidupannya bagi “Karya Kristen” dengan menjadi seorang pendeta.

Cita-cita Rogers adalah menjadi petani, setelah lulus SMA dia masuk University of Wisconsin jurusan pertanian. Namun tak berapa lama kemudian dia mulai mengalami kebosanan dengan ilmu pertanian dan lebih tertarik kepada agama. Pada tahun ketiganya di Wisconsin, Rogers terlibat sangat dalam dengan aktivitas-aktivitas keagamaan di kampusnya. Pada tahun 1920 Rogers yang kala itu berusia 20 tahun dipilih untuk meghadiri Konferensi Federasi Mahasiswa Kristen sedunia di Cina. Konferensi tersebut membuka dunianya dalam begitu banyak cara dan memberinya pengalaman yang akan menentukan bentuk dan hakikat dari pendekatannya terhadap kepribadian. Selama persinggahannya selama 6 bulan berkeliling Peking, China Rogers menemukan suatu bagian dari dirinya yang penting dan baru dalam perjalanannya ke sisi lain dari dunia. Untuk pertama kalinya dia terbuka kepada orang-orang dari berbagai latar belakang intelekstual dan kultural yang ide-ide dan penampilan serta bahasa mereka begitu asing baginya. Ketia dia berbicara dengan delegasi-delegasi mahasiswa lain, dia mulai terpengaruh oleh ide-ide mereka. Kepercayaan-kepercayaan fundamentalisnya yang kuat ditembus, dilemahkan, dan akhirnya dibuang. Perjalanan ini tampaknya memberikan kesan mendalam padanya. Interaksi dengan para pemimpin agama yang masih muda usianya sudah mengubahnya menjadi seorang pemikir yang lebih liberal dan mendorongnya menuju independensi dari pandangan-pandangan keagamaan orangtuanya. Pengalaman-pengalaman dengan rekan-rekan kepemimpinan ini juga memberi keyakinan diri lebih besar dalam hubungan sosialnya.

Rogers mencatat pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya pada waktu itu ke dalam sebuah catatan harian (jurnal). Rogers juga mengirimkan salah satu salinannya kepada gadis yang kelak akan dinikahinnya dan salinan lain dikirim kepada orang tuanya. Dia terus mencatat dan mengirimkan pikiran-pikirannya itu yang semakin lama semakin banyak. Akibat dari pengalamannya di Cina adalah putusnya ikatan-ikatan agama dan intelektual dengan orang tuanya dan kesadaran bahwa dia “dapat berfikir menurut pikiran-pikiran saya sendiri, sampai kepada kesimpulan-kesimpulan saya sendiri, dan menajdi saksi terhadap kepercayaan saya sendiri”. Kebebasan yang baru diperolehnya ini, dan perasaan keyakinan dana rah yang diberikannya menyebabkan ia sadar bahwa akhirnya seseorang harus bersandar hanya kepada pengalamannya sendiri. Kepercayaan dan keyakinan akan pengalaman orang sendiri menjadi pendekatan Rogers terhadap kepribadian.

Sayangnya, dia kembali dari perjalanan itu dengan membawa penyakit. Meskipun sakit mencegahnya untuk segera kembali ke kampus namun, sakit tidak bisa mencegahnya dari bekerja. Carl Rogers menghabiskan waktu sampai setahun untuk menyibukkan diri dengan mengerjakan sebuah lahan pertanian dan pemotongan kayu setempat sebelum akhirnya dapat kembali lagi ke Wisconsin. Di sana dia segera bergabung dengan sebuah kelompok persaudaraan, menunjukkan rasa percaya diri yang lebih besar, dan secara umum penampilannya berubah dari sebelum dia pergi ke China. Rogers menjadi mahasiswa yang berbeda dengan suatu pokok kehidupan baru yang akan tercermin dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya.

Pada tahun 1924, Rogers masuk ke sekolah Union Theological Seminary di New York dengan niat menjadi pendeta. Ketika tinggal di seminari, dia mengikuti beberapa perkuliahan psikologi dan pendidikan di Columbia University dekat tempat tinggal. Di sana dia sangat terkesan oleh kemajuan perkembangan pendidikan John Dewey yang begitu kuat mendominasi fakultas keguruan universitas tersebut. Secara bertahap Rogers mulai enggan dengan pekerjaan-pekerjaan religiusnya yang bersifat doktriner itu. Meskipun Union Theological Seminary cukup liberal namun, Rogers memutuskan tidak ingin lagi mengukuhkan pengetahuannya tentang masalah iman selain menginginkan kebebasan lebih besar untuk mengeksplorasi ide-ide baru. Akhirnya, di musim gugur 1926 dia meninggalkan seminari untuk masuk ke Teachers College untuk mempelajari sepenuh waktu topic-topik psikologi klinis dan psikologi pendidikan. Dari sejak itu, dia tidak pernah kembali lagi ke agama formal. Hidupnya sekarang mengambil arah yang sama sekali baru – menuju psikologi dan pendidikan.

Perjalanan Karir

Pada tahun 1927, Rogers bekerja sebagai rekanan di Institute for Child Guidance yang baru didirikan di New York City dan terus bekerja di sana sambil menyelesaikan gelar doktoralnya. Di institute, dia mendapatkan pengetahuan dasar tentang psikoanalisis Freudian namun tidak begitu terkesan dengannya meskipun dia sudak mencobanya dalam praktik. Dia juga mengikuti kuliah Alfred Adler, tokoh yang mengejutkan Rogers dan anggota staf lainnya lantaran keyakinannya bahwa pengelaborasian sejarah kasus tidak begitu dibutuhkan lagi bagi psikoterapi. Disitulah Rogers menemukan sejulah pengalaman yang berpengaruh besar bagi teori kepribadiannya dan pendekatannya terhadap psikoterapi. Pertama, dia belajar kalau pendekatan psikoanalitik ke terapi yang mendominasi departemennya itu seringkali tidak efektif. Kedua, karena pendekatan yang sangat berbeda kepada terapi yang sudah dipelajarinya di Universitas Columbia dan di Departemen Penelitian Anak, dia mempelajari bahwa yang disebut toritas bisa tidak setuju dengan hal-hal yang melandasi penanganan terbaik terhadap pribadi bermasalah. Ketiga, dia belajar dengan rasa frustasi. Rogers menceritakan sebuah situasi diamana ia menemukan kalau penolakan ibu terhadapt putranya adalah penyebab perilaku salah asuh si anak. Ia mengupayakan yang terbaik untuk berbagi wawasan ini kepada si Ibu, namun gagal.

“Akhirnya saya menyerah. Saya memberitahui dia apa yang sudah kita upayakan namun semuanya gagal. Dia setuju. Jadi kami menyimpulkan pertemuan terakhir itu, berjabat tangan, dan dia melangkah keluar menuju pintu depan kantor. Lalu dia berpaling dan bertanya “Apakah anda pernah memberikan konseling kepada orang dewasa disini?” ketika saya memberi jawabab yang afirmatif, dia berkata “kalau begitu, saya sepertinya membutuhkan pertolongan”. Kami masuk kembai ke ruangan dan dia duduk lagi dikusi yang barus aja ditingalkan, dan mulai menuangkan rasa putus asanya terhadap pernikahan, yang sudah dijalaninya, hubungannya yang bermasalah dengan suami, perasaan dirinya gagal dan bingung, semua hal yang sangat berbeda dan steril dari sejarah kasus, dimana dia datang awalnya, tetapi yang sesungguhnya kalau begitu baru saja dimulai….’ Insiden ini hanyalah saah satu dari beberapa yang sudah membantu saya mengalami fakta, yang baru saja tersadari sepenuhnya nanti, bahwa clienlah yang tau apa yang sudah menyakiti dia, apa arah yang mesti dijalani, persoalan aoa yang krusial, pengalaman apa yang sudah dikubur dalam-dalam. Mulai tampak bagi saya, kecuali saya merasa perlu membuktikan epandaian dan pembelajaran saya, bahwa saya akan bisa bertindak lebih baik dengan mengandalkan klien sepenuhnya bagi arah gerak prises terapi selanjutnya (Pengantar Teori-Teori Kepribadian 1, Mathew H Olson, B.R. Hergenhan, hal 776).

Kira-kira di periode inilah Rogers terpengaruh oleh Alfred Adler, dari Adler inilah Roger belajar kalau sejarah kasus yang panjang dan lebar adalah metode paling dingin, mekanis, dan tidak diperlukan. Dia juga belajar bahwa jika seorang terapis tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menggali masa lalu pasien. Sebaliknya, terapi belajar lebih banyak dari menentukan bagaimana pasien mengkaitkan dirinya dengan saat ini dan tempat ini.

Rogers menerima gelar Ph.D dari Columbia pada 1931 setelah pindah ke New York untuk bekerja di Rochester Society for the Prevention of Cruelty to Children. Selama fase awal karier profesionalnya ini, Rogers terpengaruh sangat kuat oleh gagasan-gagasan Otto Rank, salah satu rekan terdekat Freud sebelum keluar dari lingkaran-dalamnya., Pada 1936, Rogers mengundang Rank ke Rochester untuk memberikan seminar tiga hari mengenai praktik psikoterapi post-Freudian-nya. Kuliah umum Rank ini memberi Rogers sebuah keyakinan mendalam bahwa terapi merupakan konsep tentang hubungan yang menghasilkan pertumbuhan emosional, disediakan lewat cara terapis menyimak secara empatis dan penerimaan tanpa syarat klien mereka.

Rogers menghabiskan waktu 12 tahun di Rochester dengan melakukan perkerjaan yang dengan mudah mengisolasinya dari kesuksesan karier akademis. Dia sudah melepaskan keinginan untuk mengajar di Universitas setelah memperoleh pengalaman singkat mengajar selama musim panas 1935 di Teachers College dan setelah mengajar di jurusan sosiologi University of Rochester. Selama periode ini, dia menulis buku pertamanya, The Clinical Treatment of the Problem Child (1939), yang membuatnya diundang untuk mengajar di Ohio State University. Rogers sebenarnya ingin menolak tawaran ini namun istrinya mendesak untuk menerimanya, apalagi pihak otoritas universitas di sana setuju memberinya posisi puncak dengan gelar akademis professor penuh. Pada 1940, di usia 38 tahun, Rogers pindah ke Columbus untuk memulai karier baru.

Karena mendapat tekanan dan tuntuntan dari mahasiswa-mahasiswa S-2 yang diajarnya, Rogers secara bertahap muai mengonseptualisasikan ide-idenya tentang psikoterapi, yang tidak dimaksudkannya sebagai sebuah teori yang unik apalagi controversial. Ide-ide ini ditulisnya dalam Counselling and Psychotherapy, terbit tahun 1942. Di buku ini, yang menjadi reaksi bagi pendekatan lama terhadap terapi, Rogers meminimalkan penyebab-penyebab dari gangguan dan pengidentifikasian dan pelabelan kelainan-kelainan. Bahkan dia menekankan pentingnya pertumbuhan batin pasien (yang disebut Rogers “klien”).

Pada tahun 1944, sebagai akibat dari pecahnya perang, Rogers pindah kembali New York sebagai direktur pelayanan konseling bagi United Services Organisation. Setelah bekerja satu tahun di sana, dia mengambil sebuah posisi di University of Chicago, dimana dia mendirikan sebuah pusat konseling dan memiliki kebebasan lebih besar untuk meneliti proses dan hasil psikoterapi. Tahun 1945 sampai 1957 di Chicago itu menjadi tahun-tahun paling produktif dan kreatif sepanjang kariernbya. Terapi Rogers berkembang dari hanya sekedar menekankan metodologi, atau yang di awal tahun 1940-an disebut teknik “ tidak-mengarahkan” (non directive technique) menjadi sebuah teknik yang lebih menekankan hubungan klien-terapis. Dan dengan sifat ilmuwannya, Rogers lagi-lagi menggandeng para mahasiswa dan koleganya untuk menghasilkan riset terobosan mengenai proses dan keefektifan psikoterapi.

Karena ingin mengembangkan riset-riset dan ide-idenya ke dalam psikiatri, Rogers sekali lagi menerima tawaran posisi di University of Wisconsin pada 1957. Namun dia merasa frustrasi dengan kariernya di Wisconsin karena tidak sanggup menyatukan profesi psikiatri dan psikologi. Selain itu, dia merasa kalau beberapa anggota staf risetnya sendiri sudah terlibat dalam perilaku yang tidak jujur dan tidak etis. Kecewa dengan pekerjaannya di sini, Rogers pindah ke California, di mana dia bergabung dengan Western Behavioral Sciences Institute (WBSI) dan menjadi semakin tertarik dengan riset tentang kelompok-kelompok pertemuan.

Rogers mundur dari WBSI saat dia merasa lembaga ini mulai kurang demokratis. Bersama 75 anggota laninnya dari institut tersebut, Rogers membentuk Center for Studies of the Person. Dia terus bekerja dengan kelompok-kelompok pertemuan namun meluaskan metode person-centered-nya bidang pendidikan (termasuk melatih para dokter) dan politik internasional. Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, Rogers banyak menyelenggarakan lokakarya di luar negeri, seperti Hungaria, Brazilia, Afrika Selatan, dan Uni Soviet. Pada 4 Februari 1987 Rogers, meninggal setelah operasi bedah tulang pinggulnya, hal ini cukup kontroversi karena beberapa Kehidupan pribadi Carl Rogers sendiri ditandai oleh perubahan dan keterbukaan terhadap pengalaman. Ketika masih remaja dia sangat pemalu, tidak memiliki teman dekat, dan “secara sosial tidak kompeten bahkan untuk menjalin hubungan artificial sekalipun”. Meski begitu, dia memiliki kehidupan fantasi yang aktif, yang di kemudian hari didiagnosisnya sebagai “schizoid”. Sifat pemalu dan inkompetensi sosialnya banyak membatasi hubungan Rogers dengan peremupan. ketika masuk University of Wisconsin pertama kali, dia hanya sanggup berbicara dengan seorang perempuan muda yang sudah dikenalnya waktu SD dulu di Oak Park – Helen Elliot. Helen dan Rogers kemudian menikah pada 1924 dan memiliki dua anak – David (1926) dan Natalie (1928). Menarik untuk dicatat bahwa ketika David lahir, Rogers ingin membesarkannya sesuai prinsip-prinsip behaviorisme Watsonian. Namun begitu, dia juga mencatatkan bahwa istrinya punya cukup akal sehat untuk menjadi ibu yang baik meski dikitari semua pengetahuan psikologis yang merusak ini. Rogers mengatakan bahwa anaknya yang sedang tumbuh itu mengajarkan dia lebih banyak tentang individu, perkembangannya dan hubungan mereka ketimbang yang pernah saya pelajari secara profesional (Pengantar Teori-Teori Kepribadian 1, Mathew H Olson, B.R. Hergenhan, hal 775).

Meskipun menghadapi sejumlah masalah besar di awal hubungan-hubungan antar pribadinya namun, Rogers segera tumbuh menjadi salah satu pemikir terkemuka yang menjadikan nyata bahwa hubungan antarpribadi di antara dua individu merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menumbuhkan perkembangan psikologis yang sehat pada diri keduanya. Namun transisi ini tidak pernah mudah. Dia harus meninggalkan agama formal orangtuanya, untuk kemudian secara bertahap membentuk sebuah filsafat humanistik/eksistensial yang diharapkannya dapat menjembatani jurang pemikiran Timur dan Barat.

Penghargaan

Rogers menerima banyak penghargaan semasa kehidupan profesionalnya yang cukup lama. Dia menjadi presiden pertama American Association for Applied Psycholog dan membantu organisasi ini kembali menyatu dengan American Psychology Association (APA). Atas jerih payahnya itu, dia dipercayai menjadi presiden APA untuk peride 1946-1947 dan kemudian dipercaya menjadi presiden pertama American Academy of Psychotherapist. Pada 1956 dia menjadi pemenang bersama psikolog lain dalam Distingushed Scientific Contribution Award yang pertama kali diadakan APA. Penghargaan ini sangat memuaskan Rogers karena itu berarti pengakuan terhadap kemampuannya sebagai periset, sebuah kemampuan yang sudah dipelajarinya baik-baik sejak dia masih seorang anak kecil yang tinggal di sebuah pertanian Illinois.

Rogers awalnya tidak begitu memerhatikan teori kepribadian, di bawah tekanan dan tuntutan mahasiswa-mahasiswa yang diajarnya, dan juga demi memuaskan kebutuhan batinnya untuk dapat menjelaskan fenomena yang sedang diobservasinya itulah, maka dia mengembangkan teorinya sendiri, yang pertama kali diujicobakan dalam agenda APA ketika dia menjadi presidennya. Teorinya lebih disempurnakan dalam Client-Centered Therapy (1951) dan diungkapkan lebih detail lagi dalam edisi Koch. Namun begitu, Rogers selalu menekankan bahwa teori mestinya tetap bersifat tentative, dan dengan pemikiran seperti inilah kita mestinya mendekati diskusi tentang teori kepribadian Rogerian.

Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang dihasilkannya, memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia disanjung-sanjung dan optimistis. Tema pokoknya adalah suatu refleksi tentang apa yang dipelajarinya tentang dirinya pada usia 20 tahun, bahwa seseorang harus bersandar pada pengalamannya sendiri tentang dunia karena hanya itulah kenyataan yang dapat diketahui oleh seorang individu.

Lebih dari 20 tahun sesudah kematiannya, Carl Rogers masih terus menjadi tokoh dominan di psikologi. Cook, Biyanova dan Coyney melakukan survey lewat internet terhadap lebih dari 2400 konselor, terapis, pekerja sosial dan dan psikolog dan rogers dirangking sebagai yang pertama paling besar pengaruhnya bagi praktek-praktek profesional sat ini. Selama bertahun-tahun Rogers yakin kalau sumber daya terpenting yang dimiliki manusia adalah kecenderungan mereka mengaktualisasi diri.

 

Daftar Pustaka

Alfred Adler

Alfred W. Adler (7 Februari 1870 – 28 Mei 1937) adalah seorang dokter Austria, psikoterapis, dan pendiri sekolah psikologi individu. Penekanannya pada pentingnya perasaan inferioritas–inferiority complex-diakui sebagai unsur isolasi yang memainkan peran kunci dalam pengembangan kepribadian. Alfred Adler menganggap manusia sebagai suatu keseluruhan individu, oleh karena itu psikologinya disebut “Psikologi Individual”

Adler adalah orang pertama yang menekankan pentingnya unsur sosial dalam proses penyesuaian-kembali individu dan yang mengenalan psikiatri kepada masyarakat.

Karir

Adler memulai karir medis sebagai dokter mata, tapi ia segera beralih ke praktek umum, dan mendirikan kantornya di bagian kurang makmur Wina, di sebuah taman hiburan dan sirkus. Kliennya meliputi pesirkus oleh mana kekuatan dan kelemahan mereka mencetuskan wawasan ke dalam Adler tentang “inferiorities organ” dan “kompensasi”.

Pada tahun 1902 Adler menerima undangan dari Sigmund Freud untuk bergabung dengan sebuah kelompok diskusi informal, termasuk Rudolf Reitler dan Wilhelm Stekel. Kelompok “Masyarakat Rabu” (Mittwochsgesellschaft), bertemu secara teratur pada Rabu malam di rumah Freud dan merupakan awal dari gerakan psikoanalitik, membesar dari waktu ke waktu dengan memasukkan lebih banyak anggota. Delapan tahun kemudian (1910) Adler menjadi presiden Masyarakat Psikoanalitik Wina. Dia tetap menjadi anggota dari Masyarakat sampai 1911, ketika ia dan sekelompok pendukungnya secara resmi lepas dari lingkaran Freud, menjadi yang pertama dari para pembangkang dari psikoanalisis ortodoks (mendahului Carl Jung pada tahun 1914). Selama hubungannya dengan Freud, Adler sering memelihara ide sendiri yang sering menyimpang dari Freud. Meski Adler sering disebut sebagai “murid dari Freud”, pada kenyataannya Freud merujuknya di media cetak pada tahun 1909 sebagai “Rekan saya Dr Alfred Adler”. Pada tahun 1929 Adler menunjukkan seorang reporter New York Herald salinan kartu pos lawas kiriman Freud pada tahun 1902. Dia ingin membuktikan bahwa ia tidak pernah menjadi murid Freud melainkan bahwa Freud telah mencari dia untuk berbagi ide-idenya .

Adler mendirikan Masyarakat Psikologi Individu pada tahun 1912 setelah istirahatnya dari gerakan psikoanalitik. Kelompok Adler awalnya termasuk beberapa pengikut Nietzschean ortodoks (yang percaya bahwa ide-ide Adler pada kekuasaan dan inferioritas lebih dekat Nietzsche daripada Freud). Perbedaan utama antara Adler dan Freud berpusat pada pendapat Adler bahwa alam sosial (eksteriorias) adalah sama penting bagi psikologi sebagaimana wilayah internal (interioritas). Dinamika kekuasaan dan kompensasi melampaui seksualitas, dan gender; dan politik dapat menjadi sama pentingnya dengan libido. Selain itu, Freud tidak berbagi keyakinan sosialis Adler.

Latar Belakang

Pemikiran Freudian mendominasi psikoterapi pada akhir abad ke-19, namun pendekatan Freud terbatas dalam menelaah drive tidak sadar dan warisan masa lalu individu. Adler adalah psikoanalis pertama yang memperluas teori psikologi ke luar sudut pandang Freudian, menunjukkan bahwa psikologi seseorang juga dipengaruhi oleh force masa kini dan kesadaran, dan bahwa pengaruh ranah sosial dan lingkungan sama-sama penting. Adler mendirikan pendekatan sendiri, psikologi individual, berdasarkan ide-ide ini.

Minat Adler pada inferioritas dan dampak positif dan negatif dari harga-diri tumbuh awal dalam karirnya, ketika ia bekerja dengan pasien yang memiliki cacat fisik. Melihat efek kecacatan terhadap prestasi dan rasa diri, ia menemukan perbedaan besar di antara pasiennya. Beberapa orang dengan cacat mampu mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi dalam atletik, dan Adler mencatat bahwa dalam kepribadian ini, cacat menjabat sebagai kekuatan motivasi yang kuat. Pada ekstrem yang lain, ia menyaksikan pasien yang merasa dikalahkan oleh ketidakmampuan mereka dan yang membuat sedikit usaha untuk memperbaiki situasi mereka. Adler menyadari bahwa perbedaan datang ke bagaimana orang-orang melihat diri mereka sendiri: dengan kata lain, harga diri mereka.

Kompleks Inferioritas

Menurut Adler, rasa rendah diri (inferior) adalah pengalaman universal manusia yang berakar pada masa kanak-kanak. Anak-anak secara alami merasa rendah diri karena mereka terus-menerus dikelilingi oleh orang yang lebih kuat dengan kemampuan yang lebih besar. Seorang anak umumnya berusaha untuk meniru dan mencapai kemampuan orang tuanya, termotivasi oleh kekuatan2 di sekitarnya yang mendorong dia menuju perkembangan dan prestasi sendiri.

Anak-anak dan orang dewasa dengan kepribadian yang sehat dan seimbang mendapatkan kepercayaan diri tiap kali mereka menyadari bahwa mereka mampu memenuhi tujuan eksternal. Perasaan rendah diri menghilang sampai tantangan berikutnya datang dan diatasi; proses psikis ini terus-menerus. Namun seorang individu dengan rendah diri fisik mungkin mengembangkan perasaan rendah diri berlebihan — yang mengarah ke kepribadian yang tidak seimbang dan apa yang Adler sebut kompleks inferioritas, di mana perasaan rendah diri tidak pernah disembuhkan.

Adler juga mengakui adanya kompleks superioritas yang sama-sama tidak seimbang, terwujud dalam kebutuhan konstan untuk berusaha. Ketika mencapai, tujuan ini tidak menanamkan kepercayaan diri dalam individu, tetapi hanya meminta dia untuk terus mencari pengakuan eksternal dan prestasi lebih lanjut.

Referensi

Abraham Maslow

Abraham Harold Maslow (1 April 1908 – 8 Juni 1970) adalah seorang psikolog Amerika yang terkenal karena menciptakan hierarki kebutuhan Maslow, teori kesehatan psikologis didasarkan pada pemenuhan kebutuhan manusia bawaan dalam prioritas, yang berpuncak pada aktualisasi-diri. Maslow adalah seorang profesor psikologi di Universitas  Internasional Alliant, Universitas Brandeis, Brooklyn College, Sekolah Baru untuk Penelitian Sosial, dan Universitas Columbia. Dia menekankan pentingnya berfokus pada kualitas positif pada orang, alih-alih memperlakukan mereka sebagai “karung gejala.”

Abraham Harold Maslow lahir pada 1 April 1908 di Brooklyn, New York. Ia sulung dari tujuh anak pasangan imigran Yahudi dari Rusia yang miskin dan tak terdidik. Pada masa kanak-kanak Maslow satu-satunya anak laki-laki Yahudi di lingkungannya. Ia merasa kesepian dan tidak bahagia. Masa kanak-kanaknya merupakan masa suram; menurutnya suatu keajaiban ia tidak terserang psikotik. Maslow kemudian melarikan diri ke dunia buku; ia tumbuh di antara buku-buku,tanpa teman selain kata dan kalimat.

Akan tetapi tidak semua masalah Maslow berasal dari luar rumah. Ia mengenang ayahnya yang sangat keras, Samuel, yang menganggap putra sulungnya itu jelek dan bodoh. Suatu ketika ayahnya menjelekkan Maslow di depan sebuah perkumpulan besar keluarganya yang kemudian berdampak terhadap dirinya terutama mempengarui gambar-diri anak laki-laki itu (Maslow) sehingga sementara waktu ia mencari mobil kosong saat menumpang ke kota, lalu ia bersembunyi dari penglihatan orang lain, seolah-olah ia adalah makhluk yang paling buruk rupa.

Yang lebih buruk dari perlakuan ayahnya adalah ibunya sendiri, Rose. Maslow tumbuh dewasa dengan kebencian terdalam pada ibunya dan tidak pernah mencapai rekonsiliasi sedikitpun. Ia bahkan menolak menghadiri pemakamannya. Ia menggambarkan ibunya sebagai pribadi yang kejam, tidak peduli dan penuh permusuhan; sosok ibu yang saking tidak memiliki rasa kasih sayang sekecilpun, yang hampir membuat kegilaan terhadap anak-anaknya. Dari semua penggambaran yang dilakukan oleh Maslow terhadap ibunya bahkan beberapa di antaranya ia mengucapkan di depan publik saat ibunya masih hidup; tidak satu pun yang mengekspresika kehangatan atau afeksi.

Salah satu alasan kebencian terdalamnya terhadap ibunya adalah cara ibunya yang sangat kacau dalam mengurus rumah tangga. Ibunya menggembok pintu kulkas bahkan meski suaminya sudah bisa memberikan penghidupan yang baik sekalipun. Ibunya membuka gembok kulkasnya hanya saat ia akan masak dan mengizinkan anaknya mengambil sesuatu untuk dimakan. Namun ketika Maslow membawa temannya ke rumahnya ibunya selalu menggembok pintu kulkas tersebut. Dan yang paling puncaknya adalah ketika Maslow kecil membawa dua anak kucing yang terlantar di jalan ke rumahnya untuk dirawatnya. Diam-diam ia membawa masuk kucingnya dan menaruhnya di basement. Suatu sore ibunya ketika pulang kerja mendengar suara mengeong kucing tersebut dan menemukan kucing tersebut di basement bersama dengan anaknya yang sedang memberi dua anak kucing tersebut sepiring susu. Kemarahan ibunya yang memuncak pun muncul karena Maslow membawa pulang anak kucing terlantar dan memberi makan anak kucing tersebut dengan menggunakan piringnya. Kemudian ibunya menggenggam erat kedua kucing tersebut. Di depan mata Maslow kecil yang ketakutan, ibunya memukul kepala kucing itu di lantai basement sampai mati.

Pada akhirnya Maslow berdamai dengan ayahnya dan sering berbicara tentang dia dengan komentar yang baik. Namun tidak demikian dengan ibunya. Nyatanya pendorong Maslow dalam psikologi humanistik adalah kebencian terhadap ibunya sendiri. Di tahun 1969 sebelum kematiannya, Maslow memasukan komentar di jurnal pribadinya:

“Apa yang saya tentang dan benci total serta tolak bukan hanya penampilan fisik ibu saya, tetapi juga nilai-nilai dan pandangan dunia yang dianutnnya, perilaku dan kata-katanya yang suka menyakiti, egoisme totalnya, kurangnya cinta bagi siapapun di dunia, bahkan kepada suami daan anaknya sendiri. Saya selalu heran darimana penitikberatkan etik, humanisme, penitikberatkan kebaikan, cinta, persahabatan dan semua hal yang lain berasal. Saya tentunya tahu bahwa konsekuensi langsung dari tidak mengalami kasih sayang seorang ibu, namun seluruh pendorong filsafat hidup saya dan semua riset dan teori saya juga berakar di dalam kebencian terhadap dan perlawanan atas segala sesuatu yang dipegang ibu saya itu.”

Ketika beranjak remaja Maslow mengagumi karya-karya para filsuf seperti Alfred North Whitehead, Henri Bergson, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Plato dan Spinoza. Di tahun 1925 Maslow mendaftar ke City Collage of New York (CCNY) di usia 17 tahun. Di tahun 1926, ketika ia masih menjadi mahasiswa di CCNY, Maslow demi menyenangkan ayahnya mendaftar di program kuliah malam di Brooklyn Law School. Akan tetapi setelah 2 minggu berjalan, ia memutuskan bahwa minatnya bukan di tempat ini, dan ia pun akhirnya keluar dari sekolah hukum itu.

Di tahun 1927, Maslow pindah ke Universitas Cornell di Ithaca, New York. Di Cornell, Maslow mengikuti kuliah pengantar psikologi yang diampu Edward B. Titchener, yang selalu mengajar dengan menggunakan jubah akademik lengkap. Maslow menemukan ‘instropeksi ilmiah’. Tichener sendiri seorang yang dingin, membosankan, dan untuk sementara waktu membuat Maslow kehilangan minat terhadap psikologi. Setelah satu semester di Cornell, Maslow kembali ke New York dan kembali mendaftar lagi di CCNY. Di tahun 1928 ia pindah ke Univeritas Wisconsin, lalu ia menerima gelar sarjana di Wisconsin di tahun 1930, kemudian ia menerima gelar master di tahun 1931 dan PhD di tahun 1934.

Tak lama setelah pindah ke Wisconsin, Maslow menikahi Bertha Goodman (sepupu pertama dan kekasihnya sewaktu kanak-kanak) dan memiliki dua orang anak. Maslow menyatakan bahwa hidupnya tidak pernah dimulai sampai dia menikah. Ketika Maslow menikah usianya saat itu 20 tahun sedangkan Bertha 19 tahun; mereka tetap menjalaninya sampai kematian Maslow. Yang aneh kemudian adalah Maslow memutuskan untuk belajar psikologi lagi di CCNY setelah membaca behaviorisme J.B. Watson. Maslow mendeskripsikan rasa senangnya akan penemuannya itu sebagai berikut:

“Saya telah menemukan J.B. Watson dan begitu terpikat pada behaviorisme. Seolah ada ledakan besar kesenangan dalam diri saya. Saya merasa yakin bahwa terbentang jalan yang nyata untuk dilalui, menyelesaikan satu demi satu potongan puzzle dan mengubah dunia.”

Namun Maslow mendapatkan suatu penemuan penting dari kehadiran anak pertamanya bahwa pengalaman behaviorisme yang digandrungi tampak begitu bodoh.

“Bayi pertama kami telah mengubah saya sebagai seorang psikolog. Ia membuat behaviorisme yang sudah membuat saya antusias untuk memandang dunia terlihat begitu konyol. Seperti guntur yang membahana yang memporak-porandakan apapun yang kukuh. Saya termangu oleh misteri itu dan oleh perasaan tidak lagi punya kendali atas dunia saya. Saya merasa kecil, lemah, dan tak berdaya di hadapan semuanya itu. Saya sampai mengatakan bahwa siapa pun yang pernah memiliki anak mestinya sulit untuk menjadi seorang behavioris.”

Ketika berada di Universitas Wisconsin, Maslow menjadi mahasiswa doctor pertama Harry Harlow, seorang psikolog eksperimen terkenal, yang tengah dalam proses mengembangkan laboratorium primata untuk mempelajari perilaku monyet. Disertasi Maslow berkaitan dengan penetapan dominasi di dalam koloni kera-kera. Ia mencatat bahwa dominasi muncul dalam bentuk sejenis keyakinan diri atau perasanan dominan dan bukannya lewat kekuatan fisik atau agresi. Maslow juga mengamati bahwa perilaku seks di koloni primata ditentukan oleh dominasi atau ketundukan tiap anggotanya, dan dia bertanya-tanya apakah hal yang sama juga benar untuk manusia. Segera ia mengeksplorasi kemungkinan tersebut.

Setelah menerima gelar PhD di tahun 1934, Maslow terus mengajar di Universitas Wisconsin untuk sementara waktu, lalu mendaftar di sekolah kedokteran di sana. Ia menemukan bahwa sekolah kedokteran sama dengan sekolah hokum: mencerminkan pandangan yang negatif, tidak berjiwa tentang manusia, dan iapun mengundurkan diri. Di tahun 1935 Maslow pindah ke Universitas Colombia sebagai rekanan Carnegie, tempatnya bekerja selama 18 bulan dengan teorikus belajar terkemuka, Edward L. Thorndlike. Thorndlike memintanya untuk menjalani tes IQ dan menemukan skor Maslow 195, tertinggi kedua yang pernah tercatat oleh tes ini. Ketika Maslow mengungkapkan minatnya untuk mengejar keterkaitan antara dominasi dan seksualitas, Thorndlike mengungkapkan ketidaksukaan tetapi tetap memberikan Maslow izin:

“Saya sendiri tidak begitu menyukai tentang penelitian Anda (Maslow) tentang dominasi dan seksualitas, dan saya berharap Anda tidak meneruskannya, namun jika saya tidak percaya dengan hasil tes yang saya buat sendiri, siapa lagi yang akan percaya? Jadi saya yakin jika akhirnya saya memberi Anda izin, itu akan menjadi yang terbaik bagi Anda dan saya – dan dunia.”

Dengan kebebasan ini Maslow memulai risetnya tentang seksualitas manusia di akhir 1935. Ia memulai dengan menginterview pria dan wanita untuk menentukan bagaimana perasaan mereka tentang dominasi dan ketundukan dan preferensi seksual mereka. Namun, Maslow segera meninggalkan subjek pria karena mereka sering mengelak dan cenderung berbohong, melebih-lebihkan, bahkan mereka mendistorsi pengalaman seks mereka. Maslow menggunakan interview standar, pertanyaan seperti: “Posisi bagaimana yang Anda sukai saat bercinta?”, “Seberapa sering Anda bermasturbasi?”, “Fantasi apa yang Anda sukai saat bermasturbasi?”. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan ini Maslow menerbitkan sejumlah artikel tentang seksualitas wanita antara tahun 1937 sampai 1942. Secara umum ia menemukan bahwa ketika dibandingkan dengan wanita yang tunduk, wanita yang dominan cenderung tidak begitu konvensional, tidak terlalu religius, kurang begitu toleran terhadap stereotip perempuan, ekstravert, lebih suka berpetualang seks, dan kurang begitu cemas, cemburu, dan neurotik. Maslow juga menemukan bahwa wanita yang dominan tertarik kepada pria yang sangat dominan, yang mereka deskripsikan sebagai: “sangat maskulin, penuh kepercayaan diri, sangat agresif, pasti dengan apa yang dimaui dan sanggup mendapatkannya, umumnya superior di banyak hal.” Sedangan di bidang seks wanita yang sangat dominan mengekspresikan preferensi sebagai berikut:

“Gaya bercinta yang langsung, tidak perlu sentimentil, agak kasar, hewani, barbar, penuh nafsu, bahkan brutal. Ia harus mencapai puncak secepatnya, bukan menikmati periode lama bercumbu. Dia ingin segera direnggangkan kakinya, tidak perlu melewati stimulasi terlalu banyak. Dengan kata lain, dia ingin didominasi, dipaksa untuk memasuki status budak.”

Wanita yang rendah dominasinya, sebaliknya, lebih tertarik kepada pria yang baik hati, ramah, lembut, setia dan memperlihatkan rasa sayang kepada anak. Menarik untuk dicatat bahwa kerja Maslow tentang seksualitas manusia muncul beberapa tahun sebelujm riset Kinsey yang terkenal muncul di pertengahan tahun 1940-an.

Pada tahun 1937, Maslow pindah ke Brooklyn Collage, tinggal sampai tahun 1951. Di Brooklyn Collage inilah Maslow mengajar sepenuhnya, melanjutkan risetnya tentang seksualitas manusia, dan membimbing para mahasiswa. Maslow menjadi sangat populer sebagai guru sehingga koran kampusnya menyebutnya sebagai Frank Sinatra dari Brooklyn Collage. Di tahun 1947 Maslow didiagnosis memiliki sebuah penyakit jantung, yang kemudian memaksa Maslow menjalani perawatan medis. Pada saat itu Maslow sudah dikarunia dua putri; ia pindah ke Pleasanton, California, yang merupakan tempat sementara di mana ia mengurusi sebuah kantor cabang keluarga besarnya, yakni Maslow Cooperage Corporation, dan membaca banyak biografi tokoh sejarah kenamaan. Pada tahun 1949 ia kembali ke Brooklyn Collage.

Bisa dilihat sejak awal Maslow berkaitan dengan spesimen yang sehat, luar biasa dan dominan. Namun kerja ini hanya langkah kecil dari minat awalnya terhadap pribadi-pribadi historis yang luar biasa. Pengaruh penting yang mewarnai pemikiran Maslow adalah pengalamannya dengan suku Indian Northern Black-foot di Alberta, Canada. Hasil penelitiannya menjadikan Maslow yakin bahwa sikap bermusuhan pada manusia lebih merupakan buah peradaban daripada kodrat.

Maslow sedang berada di New York pada akhir di tahun 1930-an hingga di akhir 1940-an ketika pemikiran-pemikiran terbaik di Eropa tiba di Amerika Serikat karena lari dari Nazi Jerman. Maslow banyak belajar dari Alfred Adler, Max Wertheimer, Karen Horney dan Erich Fromm. Namun ia juga mendapat pengaruh besar dari antropolog Amerika Ruth Benedict. Kekagumannya terhadap Max Wertheimer, pendiri psikologi Gestalt, dan Ruth Benedict, memicu minatnya terhadap pribadi yang mengaktualisasikan diri. Maslow menggambarkan bagaimana upayanya untuk memahami dua pribadi inilah yang kemudian berkembang mengakibatkan menjadi kerja seumur hidupnya:

“Investigasi saya terhadap aktualisasi diri tidak dirancang sebagai riset dan bahkan tidak dimulai sebagai riset. Investigasi dimulai sebagai upaya seorang intelektual muda yang berusaha memahami dua guru yang dikasihi, dikagumi, dan dihormatinya, dan mereka merupakan pribadi yang sangat mengagumkan. Ini mirip dengan sebuah devosi terhadap IQ yang tinggi. Saya tidak sekadar mengagumi, tetapi berusaha memahami mengapa mereka begitu berbeda dari orang lain di dunia. Mereka adalah Max Wertheimer dan Ruth Benedict. Mereka adalah guru saya setelah saya menjadi PhD dari West ke New York City, dan mereka adalah individu yang sangat menakjubkan. Kemampuan saya di bidang psikologi ternyata belum cukup mampu untuk memahami mereka. Seolah mereka bukanlah manusia tetapi lebih dari manusia.Investigasi saya sendiri dimulai sebagai altivitas pra-ilmiah atau tidak ilmiah. Saya membuat sejumlah deskripsi dan catatan penting tentang Max Wertheimer, dan saya juga membuat catatan tentang Ruth Benedict. Ketika berusaha memahami mereka, berfikir tentang mereka, dan menulis tentang mereka di jurnal dan buku catatan, saya menyadari di momen menakjubkan itu bahwa dua pola tersebut bisa digeneralisasikan. Saya sedang membahas satu jenis pribadi bukan dua individu yang tidak bisa diperbandingkan. Ini sangat menggembirakan ketika saya berusaha melihat apakah pola ini bisa juga ditemukan di tempat lain, dan saya memang menemukannya dari satu orang ke orang lain. Jika dibandingkan dengan standar lazim riset laboratorium, yaitu riset ketat dan terkontrol, ini bukan hanya sekadar riset.”

Kekaguman mendalam Maslow terhadap Wertheimer dan Benedict meluas hingga menjadi standar kekaguman terhadap semua pribadi yang memiliki kepercayaan yang tinggi. Bahkan, ia menyebut para profesor koleganya itu dan tokoh historis besar sebagai malaikat penjaganya karena mereka selalu membuka tangan kapan pun dia membutuhkan bantuan. Maslow mengidealkan profesor-profesornya itu sampai-sampai ia terkejut saat sadar bahwa mereka juga manusia seperti dirinya. Contohnya, suatu ketika Maslow sekamar mandi bersama profesor filsafatnya dan menggunakan toliet berdampingan. Dengan pengalaman tersebut Maslow berkata, “Itu sangat mengguncangkan saya sehingga membutuhkan waktu berjam-jam, berminggu-minggu, bagi saya untuk melihat profesor saya itu juga manusia.”

Di tahun 1951 Maslow pindah ke Universitas Brandeis di Waltham, Massachussetts sebagi dekan fakultas psikologi. Selama tahun-tahun awal di Brandeis, tugas administrasi dan masalah pribadi menahan Maslow untuk mengejar kerja teoritisnya. Di masa ini dia malah menjalani psikoanalisis karena permusuhan yang terus ia rasakan terhadap ibunya dan kenangan kanak-kanaknya yang dipenuhi anti-Semitisme. Padahal belum lama Maslow sanggup menggarap studinya tentang manusia yang sehat secara psikologis, membuatnya tampil menjadi pemimpin psikologi mazhab ketiga.

Pada tahun 1954 Maslow menerbitkan buku Motivation and Personality, bukunya kedua, kemudian mengalir sejumlah tulisan berupa laporan, makalah, artikel, ceramah, dan buku-buku yang merupakan pengembangan, pengolahan, serta penyempurnaan gagasan awal, Psikologi Humansitik. Buku ini disebut telah berhasil menempatkan diri secara kokoh sebagai alternatif ketiga yang tegar mengahadapi psikologi yang objektivistik dan Freudianisme ortodoks. Namun setelah beberapa tahun yang sangat produktif, kehidupan akademik Maslow menjadi sukar.

Pada pertengahan tahun 1960-an muncul keresahan sosial yang tersebar luas di Amerika Serikat, dan gerakan kontrabudaya yang semakin tumbuh menguat mencari sosok pemimpin. Meski Maslow berpotensi menjadi kandidat, Hoffman mendiskusikan sejumlah alasan kenapa Maslow adalah pilihan buruk sebagai ikon mereka. Mereka yang ada di dalam gerakan kontrabudaya ingin menekankan perasaan, intuisi dan spontanitas dan bukannya objektivitas dalam memahami hakikat manusia. Pandangan Maslow selalu menghargai tinggi hakikat manusia. Ia menolak untuk mengutuki keberadaan tentara Amerika di Indo-Cina.

Maslow juga mundur dari Amerika Civil Liberties Union karena melihatnya semakin lemah terhadap para kriminal. Ia mengkritiknya sebagai pemikiran yang simplistik terkait pasivisme dan pandangan politis lain yang dianut putri bungsunya yakni Ellen, dan mahasiswa psikolog pertamanya yakni Abbie Hoffman. Secara umum Maslow mengasingkan diri dari komunitas akademik dengan mengkritik universitas-universitas di Amerika Serikat karena tidak memberi kontribusi apa pun bagi solusi persoalan dunia, dan dengan mengkritik para anggota fakultas karena bergantung kepada privilese guilda abad tengah seperti jabatan. Lebih jauh lagi, Maslow menyimpulkan bahwa universitas termasuk di antara organisasi yang paling buruk diatur. Di tengah-tengah semua pertentangan ini, Maslow makin kesulitan mengembangkan teorinya karena di tanggal 8 Juli 1966 dipilih menjadi presiden APA.

Selama masa pergolakan ini Maslow melihat para mahasiswanya membodohi diri dan tidak disiplin secara intelektual. Contohnya pada suatu kejadian, para mahasiswa Maslow ingin mengambil-alih ruang kuliah dan mengajar diri mereka sendiri. Maslow awalnya menolak namun kemudian mengiyakan. Hoffman, muridnya mendiskripsikan apa yang terjadi saat itu:

“Semua persoalan akhirnya mulai mendapat jalan keluar setelah dia membiarkan semua pemrotes menyelenggarakan sendiri kuliah mereka. Dia percaya bahwa ia hanya membutuhkan persahabatan yang lebih mendalam karena terbukti mereka tidak mampu berpartisipasi di dalam dialog intelektual yang serius. Mereka hanya remaja yang kebingungan, bukan orang dewasa yang bisa menyakiti dengan kebebasan penuh. Maslow juga menyadari bahwa teorinya tentang hakikat manusia yang mampu menjelaskan perilaku mereka, yakni mereka yang mengaktualisasikan diri. Oleh karena itu ia melihat mereka dengan penuh rasa kasihan, membuang-buang proporsi intelektualnya, sebab untuk menghadapi remaja yang sedang berjuang memuaskan kebutuhan dasar seperti itu tidak ada cara lain kecuali memperlakukan mereka sebagai anak-anak.”

Para mahasiswa akhirnya megambil-alih gedung perpustakaan dan administrasi di Universitas Columbia dan ketika itu kesehatannya sedang menurun. Maslow berkeyakinan bahwa inilah saatnya ia mundur dari kegiatan belajar-mengajar. Momen melarikan diri dari dunia akademik pun datang ketika di akhir 1968 Maslow ditawari menjadi rekanan Saga Administrative Corporation. Ia menerima tawaran itu dan menikmati kebebasannya yang sangat besar. Situasi ideal ini tidak bertahan lama. Maslow menderita serangan jantung saat ia sedang joging. Usianya 62 tahun saat ia meninggal dunia.

Perbedaan Dengan Teori-Teori yang Lain

  1. Karya Maslow bukanlah penolakan secara mentah-mentah atas karya Freud atau Watson serta para behavioris lainnya, melainkan usaha menelaah dari segi yang bermanfaat, bermakna, dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan pada kedua psikologi tersebut, lantas bertolak.
  2. Maslow sangat keberatan atas sikap Freud yang memusatkan diri pada penyelidikan tentang orang-orang yang mengalami gangguan neurotis dan psikotis serta angggapan bahwa bentuk tingkah laku luhur hasil belajar bukan kodrati pada manusia.
  3. Maslow memiliki keyakinan bahwa orang tidak akan dapat memahami penyakit mental sebelum ia mengerti kesehatan mental.
  4. Konsep teorinya, ia telah menyelidiki manusia-manusia terbaik yang dapat ditemukannya hingga sampai pada simpulan “Yang tengah berlangsung kini ialah perubahan gambaran tentang manusia yang telah merasuk dalam diri setiap orang sampai ke tulang sumsum mereka. Sejarah yang tercatat telah memandang remeh kodrat manusia.
  5. Kaum Behavioris banyak mendasarkan penelitian pada studi tentang binatang-binatang. Maslow mengemukakan ada perbedaaan penting antara tingkah laku manusia dan tingkah laku binatang. Ia mengemukakan keyakinannya bahwa kita dapat belajar jauh lebih banyak tentang tingkah laku manusia dengan mempertimbangkan segi-segi subjektif maupun segi-segi objktifnya. Buktinya, menurut pengalamannnya, pendekatan subjektif kerap kali justru lebih berhasil; sementara jika hal-hal yang subjektif itu diabaikan, banyak tingkah laku manusia yang kehilangan maknanya. Maslow tidak menolak pendekatan ilmiah tetapi lebih menuntut pendekatan menyeluruh. Meski tak sependapat dengan teori kaum Behavioris dan kaum Freudian, Maslow dan para psikolog Mazhab Ketiga mengakui tekhnik-tekhnik psikologi ilmiah dan psikologi Freud tetap dapat dimanfaatkan.

Pendekatan Mazhab Ketiga

Gagasan Maslow bahwa orang akan dapat belajar banyak tentang manusia dan berbagai kemampuannya dengan mempelajari orang-orang yang sehat dan matang secara luar biasa, segolongan manusia yang oleh dia sebut “pucuk yang tumbuh mekar” (the “growing tip”).

Pendapat Maslow tentang teori yang menyeluruh tentang tingkah laku manusia harus mencakup determinan internal atau intrinsik tingkah laku maupun determinan-determinan ekstrinsik atau eksternal dan environ mentalnya. Freud terlalu terpukau pada yang pertama, sedangkan kaum Behavioris pada yang kedua; pandangan itu perlu digabungkan. Studi objektif semata tentang tingkah laku manusia belumlah cukup; untuk memperoleh pengertian yang menyeluruh, maka segi-segi subjektifnya pun perlu dipertimbangkan. Kita harus mempertimbangkan perasaan, keinginan, harapan, aspirasi-aspirasi seseorang agar dapat memahami tingkah lakunya.

Seorang peneliti tentang tingkah laku manusia yang berhasil harus lebih bersikap filosofis, lebih kreatif, lebih luwes, lebih intuitif, mampu “melihat keseluruhan realitas” mampu memandang semua disiplin lain yang beraneka itu sebagai sejawat yang saling menolong bukan sekedar bidang-bidang terpisah. Ilmu harus diartikan sebagai pencarian kebenaran, penerangan, dan pemahaman tidak dapat dibatasi hanya pada mereka yaang memiliki gelar dalam satu bidang. Dalam tata urutan fisika dianggap “ilmiah” daripada psikologi, dan psikologi lebih “ilmiah” daripada sosiologi. Pandangan ini memecah belah ilmu dan membangun dinding pemisah. Kelompok ilmuwan lainnya mendukung Maslow atas suatu pendekatan yang lebih luas, lebih menyeluruh dan multi disipliner terhadap masalah-masalah umat manusia.

Maslow berkesimpulan bahwa perkara-perkara moral dan spiritual masuk dalam wilayah alam ramai dan memandangnya sebagai bagian dari ilmu alam, bukan sebagai pihak oposisi. Dalam kedudukannya sebagai suatu pranata kemasyarakatan dan suatu kegiatan manusia, ilmu pengetahuan alam tentu memiliki sasaran, etika, moral, dan tujuan-tujuan. Ringkas kata, memiliki nilai-nilai.

Pembaruan jawaban “ilmiah” serba eksak dalam studi tentang tingkah laku manusia dapat menjadi tidak sehat. Ada sekian banyak bidang di mana suatu penelitian ilmu seakan kehilangan daya atau malah tidak mungkin sama sekali. Dalam ketiadaan pengetahuan yang eksak semacam itu, kita harus berani menggunakan pengetahuan apa saja yang ada. “Kebenaran”, kata Maslow adalah soal taraf.

Maslow juga sangat mencela apa yang ia sebut pendekatan atomistis. Dalam pedekatan yang lazim digunakan di kalangan ilmu-ilmu fisik ini orang mengurai persoalan ke dalam bagian-bagian itu secara terpisah. Menurut keyakinannya, manusia harus diselidiki sebagai totalitas, sebagai suatu sistem. Setiap bagian tak dapat dipisahkann dari bagian lainnya dan jika bagian-bagian itu tidak kita pelajari seluruhnya sebagai kesatuan, maka jawaban-jawaban yang kita peroleh akan tidak tuntas. Kebanyakan imuwan behavioral telah berusaha mengisolasikan dorongan-dorongan, kebutuhan-kebutuhan dan naluri-naluri, lalu menyelidikinnya secara terpisah-pisah. Menurut pengamatan Maslow cara ini biasanya kalah produktif dibandingkan pendekatan holistik yang teguh berpegang keyakinan bahwa keseluruhan lebih dari sekedar penjumlahan bagian-bagiannnya.

STUDI TENTANG AKTUALISASI DIRI 

Penyelidikan Maslow akan aktualisaikan diri muncul dari rasa ingin tahu ketika masih berstatus mahasiswa, penyelidikannya tentang contoh-contoh tokoh-tokoh terkemuka dua orang profesor yang sangat dihormati dan dikaguminya mendorongnya menganalisis kepribadian kedua profesornya yang begitu lain dan menonjol. Meski penelitian itu sendiri jauh dari memenuhi syarat metodologis ilmiah, hasil catatannya ternyata penting, bahwa kedunya memiliki persamaan dari sifat tertentu yang sama-sama dimiliki. Dari temuan tersebut lahirlah usaha-usaha penelitian yang lebih luas

Definisi pribadi yang teraktualisasikan memang masih kabur, namun secara bebas Maslow melukiskannya sebagai “penggunaan dan pemanfaatan secara penuh bakat kapasitas, potensi tersebut. Orang semacam itu memenuhi dirinya dan melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannnya” Kriterium negatifnya ialah tidak adanya kecenderungan-kecenderungan ke arah gangguan-gangguan psikologis, neurologis, atau psikosis. Pribadi yang teraktualisasikan merupakan contoh tepat spesies manusia, wakil kelompok yang kemudian oleh Maslow disebut “pucuk yang tumbuh mekar (the “growig tip”). Pendekatan ini merupakan penolakan atas pendekatan statistis yang lazim digunakan di lingkungan ilmu tingkah laku, yang membahas kelompok rata-rata spesies.

Karena yang diselidiki adalah tokoh-tokoh yang masih hidup, namanya tidak boleh disebut, maka dua syarat lazim dituntut untuk suatu karya ilmiah menjadi tidak mungki terpenuhi, peyelidikan diulangi dan tersedianya data terbuka untuk menarik kesimpulan, kesulitan ini diatasi dengan pemilihan tokoh-tokoh terkemuka masyarakat dalam sejarah sebagai subjek penyelidikan, dengan penelitan tambahan terhadap kelompok orang muda dan anak-anak, yang dapat digunakan secara terbuka.

Maslow membedakan penyelidikannya menjadi tiga kategori:

  1. Kasus-kasus: Abraham Lincoln, Thomas Jefferson, Albert Einstein, Eleanor Roosevelt, Jane Addsmd, William Jmaes, Spinoza, Alber Schweitzer dan Aldous Hockley.
  2. Kasus Parsial: Tokoh sezaman dengan tokoh-tokoh di atas yang kurang memenuhi syarat penyelidikan.
  3. Kasus Potensial: Dua puluh Tokoh lebih muda yang dinilai tengah berkembang ke arah aktualisasi G.W Carver, Eugene V. Debs, Thomas Eakins, Fritz Kreisler, Goethe, Pablo Casals, Martin Duber, Danilo Dolci, Arthur Waley, D.T Susuki, Adlai Stevenson, Sholom Aleichem, Robert Browning, Ralph Waldo Emerson, Frederick Douglass, Joseph Schumpter, Robert Benchley, Ida Tarbell, Harriet Tubman, George Washington, Karl Muenzinger, Joseph Hayden, Camille Pisaro, Edwad Bibring, George William Rusell, Pierre Renoir, Henry Wadsworth Longfellow, Peter Krepotkin, John Altgeld, Thomas More, Edward Bellamy, Benjamin Franklin, John Muir, Walt Whitman. Penyelidikan tentang tokoh-tokoh ini mengenai kebiasaan, sifat, kepribadian, kemampuan mereka, telah mengantar Maslow pada definisinya tentang kesehtan mental dan teori motivasi pada manusia. Metodenya membuka bidang baru bagi ilmu behavioral. “Kini tidak lagi mustahil,” kata Maslow, “melalui studi tentang orang-orang yang mencapai kepenuhan diri, akan terbuka mata kita pada segala pengertian dasar yang merupakan barang basi bagi pada filsof namun barang baru bagi kita.”

DAFTAR PUSTAKA

Henry Murray

Henry Alexander Murray (13 Mei 1893 – 23 Juni 1988) adalah seorang psikolog Amerika yang mengajar selama lebih dari 30 tahun di Universitas Harvard. Dia adalah Direktur Harvard Psychological Clinic di Sekolah Seni dan Ilmu Pengetahuan setelah 1930 dan berkolaborasi dengan Stanley Cobb,  Profesor Bullard Neuropatologi di Sekolah Medis, untuk memperkenalkan psikoanalisis ke dalam kurikulum Harvard tetapi menjaga orang-orang yang mengajarkannya jauh dari aparat-pembuat keputusan di Wina. Dia dan Cobb mengatur berdirinya Boston Psychoanalitic Society setelah tahun 1931, namun keduanya didepak dari keanggotaan atas dasar politik. Sementara teori kepribadian dalam psikologi didominasi oleh statistik dari teori sifat, Murray mengembangkan teori kepribadian yang disebut personologi, berdasarkan “kebutuhan” dan “tekanan”.

Latar belakang

Henry Murray dilahirkan di New York City pada tanggal 13 Mei 1893, dan mendapatkan pendidikan di Groton School dan Harvard College, memperoleh gelar BA. pada tahun 1915 dengan bidang studi mayor sejarah. Setelah tamat dari Harvard, ia mendaftarkan diri pada Columbia College of Physicians and Surgeons dan tamat dari sana sebagai bintang kelas pada tahun 1919. Pada tahun 1920, ia meraih gelar M.A. dalam bidang biologi dari Columbia dan bertugas sebentar sebagai instruktur dalam bidang fisiologi pada Universitas Harvard, kemudian ia mengambil spesialisasi bedah selama dua tahun pada Presbyterian Hospital di New York. Ia kemudian menjadi anggota staf Institut Rockefeller untuk Riset Kedokteran di New York City dan sebagai asisten ia mengadakan penelitian embriologi selama dua tahun di sana. Kemudian ia belajar pada Universitas Cambridge di mana ia mengadakan penelitian biokimia sampai meraih gelar Ph.D. dalam bidang biokimia pada tahun 1927. Selama selang pendidikannya di Eropah inilah ia tertarik pada psikologi, minat yang diperkuat berkat kunjungannya ke Carl Jung di Zurich, ”seorang cerdas, totok, bulat pertama yang pernah saya temui.

“Kami berbicara berjam-jam, berlayar di danau dan merokok di depan tungku perapian di tempat peristirahatannya yang bergaya Faustus, ’Pintu-pintu pembuka ke arah dunia keajaiban yang luas,’ dan saya melihat hal-hal yang tidak pernah terbayangkan oleh filsafat yang saya anut. Dalam waktu satu bulan, kebimbangan menghadapi serangkaian masalah yang bercabang diputuskan, dan saya segera menjatuhkan pilihan pada psikologi dalam. Saya telah mengalami ketidaksadaran, sesuatu yang tidak mungkin diperoleh dari buku-buku” (Murray, 1940: 153).

Jadi, dengan minat yang mendalam pada psikologi, Murray kembali ke negaranya, ke Institut Rockefeller di mana ia menetap selama satu tahun sebagai anggota, sebelum pada tahun 1927 menerima untuk datang ke Universitas Harvard sebagai instruktur dalam bidang psikologi. Pemilihan yang agak aneh atas orang yang luar biasa ini, yang tidak pernah dididik dalam psikologi akademik, oleh sebuah departemen akademik ternama diatur oleh Morton Prince yang baru saja mendirikan Klinik Psikologi Harvard. Klinik ini mengemban misi yang jelas, yakni membuka kesempatan untuk riset dan pendidikan di bidang psikologi abnormal dan dinamik, dan Prince yang tengah mencari sarjana yang masih muda dan yang dapat diandalkan untuk mengarahkan masa depan klinik, memilih Murray. Pada tahun 1928, Murray diangkat menjadi lektor dan direktur Klinik Psikologi itu, dan pada tahun 1937, ia menjadi lektor kepala.

Pada tahun 1930, Murray menciptakan istilah Personologi untuk menjelaskan cabang ilmu psikologi yang mempelajari kehidupan manusia dan faktor-faktor yang memengaruhi perjalanannya. Murray berkeyakinan kuat bahwa untuk memahami makna satu proses apapun dari kepribadian, seseorang harus memiliki pemahaman terhadap keseluruhan.

Ia adalah salah seorang anggota pendiri Perkumpulan Psikoanalisis Boston, dan pada tahun 1935, ia telah menyelesaikan pendidikannya dalam psikoanalisis di bawah Franz Alexander dan Hans Sachs. Laporan yang sangat menarik tentang analisis pendidikannya dan sikapsikapnya terhadap psikoanalisis termuat dalam sebuah simposium tentang para psikolog dan psikoanalisis (Murray, 1940).

Selama kira-kira 15 tahun sebelum perang meletus, Klinik Psikologi Harvard di bawah kepemimpinan intelektual dan spiritual Henry Murray, merupakan pusat kegiatan teoretis dan empiris yang sangat kreatif. Murray menghimpun sekelompok mahasiswa muda yang cakap dan usaha-usaha bersama mereka dalam merumuskan dan meneliti kepribadian manusia sungguh-sungguh membuahkan hasil. Buku Explorations in personality (1938) memuat sebagian laporan hasil kerja selama masa tersebut, tetapi hasil-hasil yang terpenting memancar dalam bentuk nilai-nilai, konsepsi-konsepsi, dan intensi-intensi pada tokoh-tokoh perorangan, seperti Donald W. MacKinnon, Saul Rosenzweig, R. Nevitt Sanford, Silvan S. Tomkins, dan Robert W. White. Pada klinik ini untuk pertama kalinya psikoanalisis mendapatkan perhatian dari kalangan akademik yang sungguh-sungguh serius, dan berbagai usaha yang sangat giat dilakukan bertujuan menemukan cara untuk menerjemahkan penemuan-penemuan klinis yang sangat cemerlang dari Freud ke dalam operasi-operasi eksperimental agar sampai taraf tertentu dapat dikonfirmasikan atau ditolak secara empiris. Murray tidak hanya berhasil menciptakan kegairahan dan mendorong penemuan-penemuan di kalangan para mahasiswanya, tetapi klinik ini juga terbuka bagi sarjana-sarjana senior dari berbagai bidang (Erik Homburger Erikson, Cora DuBois, Walter Dyk, H. Scudder McKeel) sehingga kegiatannya memiliki warna interdisipliner.

Masa ini berakhir pada tahun 1943 ketika Murray meninggalkan Harvard untuk bergabung dengan Korps Dokter Tentara, di mana sebagai mayor dan kemudian letnan kolonel, ia membentuk dan memimpin biro pengukuran psikologis untuk Office of Strategic Services. Organisasinya diserahi tugas yang sulit untuk menyaring calon-calon bagi tugas-tugas yang kompleks, rahasia, dan berbahaya. Kegiatan-kegiatan kelompok ini telah diringkaskan dalam Assessment of men (1948). Karyanya dalam Ketentaraan menyebabkan ia dianugerahi Legion of Merit pada tahun 1946. Pada tahun 1947 ia kembali ke Harvard menjadi lektor part-time dalam bidang psikologi klinis pada Department of Social Relations yang baru dibentuk dan pada tahun 1950 ia diangkat menjadi profesor psikologi klinis. Ia membangun The Psychological Clinic Annex (Ruangan Tambahan Klinik Psikologi) pada Universitas Harvard pada tahun 1949 tempat ia dan beberapa temannya serta mahasiswa-mahasiswa tingkat paska sarjana mengadakan penelitian-penelitian tentang kepribadian, termasuk mengumpulkan 88 sejarah kasus yang panjang-panjang. Murray menjadi profesor emerifus pada tahun 1962. Ia telah dianugerahi Distinguished Scientific Contribution Award dari American Psychological Association, dan juga Gold Medal Award dari American Psychological Foundation karena seluruh hidupnya disumbangkan untuk bidang tersebut.

Selain memperbaiki dan memperluas pandangan-pandangan teoretisnya, Murray mengalihkan perhatiannya pada beberapa masalah kehidupan kontemporer yang lebih luas, termasuk penghapusan perang dan penciptaan suatu negara dunia (Murray, 1960a, 1961, 1962b). Murray adalah seorang pakar bersemangat yang memiliki kemampuan imajinasi kreatif yang ditempa oleh pemikiran jernih untuk memecahkan setiap masalah yang menimpa manusia. Ia melontarkan kritik tajam terhadap psikologi karena telah menonjolkan gambaran negatif tentang manusia dan karena ajarannya tentang ”narsisisme yang jahat”. Murray dengan tegar memperjuangkan suatu psikologi yang humanistik, optimistik.

Pengalaman penelitian dan pendidikan Murray dalam bidang biologi dan kedokteran menumbuhkan penghargaannya yang mendalam dan yang secara konsisten diperlihatkannya terhadap pentingnya faktor-faktor fisik dan biologis dalam tingkah laku. Pengalamannya dengan diagnosis medis nyata-nyata telah mengakibatkan keyakinannya bahwa kepribadian secara ideal harus diperiksa oleh team yang terdiri atas sejumlah spesialis dan dalam pemeriksaan itu pernyataan dari subjek tentang dirinya sendiri harus benar-benar didengar. Perhatiannya terhadap taksonomi atau klasiflkasi tingkah laku dan juga keyakinannya bahwa penelitian yang cermat terhadap kasus-kasus individu adalah sesuatu yang hakiki demi kemajuan psikologi di masa mendatang juga sangat sesuai dengan latar belakang kedokterannya. Pengetahuannya yang luas tentang mitologi (1960b) dan karya-karya besar dalam bidang kesusasteraan di masa lampau maupun masa kini, khususnya pengetahuannya tentang Melville dan karya-karyanya, telah memberinya sumber ide-ide yang tak pernah kering tentang manusia dan potensi-potensinya ke arah kebaikan dan kejahatan. Pemikiran yang sangat bagus dari Alfred North Whitehead memberikannya model pemikiran logis dan sintetis, sedangkan Lawrence J. Henderson yang lugas tetapi cerdas memberinya model kekuatan (rigor) dan orientasi kritis. Hutang budinya terhadap tokoh-tokoh ini dan banyak tokoh lainnya, termasuk beberapa generasi cendekiawan, banyak dinyatakan dalam empat dokumen yang sangat pribadi (1940, 1959, 1967, 1968a) dan dalam sebuah buku esei yang ditulis untuk menghormati Murray (White, 1963). Dari silsilah yang begitu kompleks tidak mengherankan bahwa produk yang berkembang itu merupakan struktur yang terinci dan berdimensi luas.

Jelas bagi semua orang yang mengenalnya bahwa bakat dan pengabdian Murray bagi penelitian tentang kepribadian manusia hanya sebagian diungkapkan dalam karya-karyanya yang diterbitkan. Komentar-komentar lepas dan ide-ide (pemikiran-pemikiran) yang dikemukakannya dengan bebas tentang bermacam-macam topik yang tak habis-habisnya yang merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari acara makan siang pada Klinik Psikologi, telah memberikan ide-ide penelitian yang berguna bagi berlusin-lusin mahasiswa dan sejawatnya. Sayang tidak semua pesan ini jatuh pada tanah yang subur dan orang hanya dapat menyesal bahwa kata-kata yang diucapkan itu tidak direkam untuk memperkaya tulisan-tulisannya (catatan tertulis). Kecenderungan Murray untuk hanya mengungkapkan buah-buah pikirannya yang khusus tampak dengan jelas dalam terbitan-terbitan hasil penelitiannya yang intensif tentang Herman Melville, yang berlangsung selama 25 tahun. Tahun-tahun yang diisinya dengan kerja penuh dedikasi ini menyebabkan ia mendapat reputasi yang tak tertandingi di antara ahli-ahli yang melakukan kajian tentang Melville, namun sebegitu jauh ia hanya menerbitkan dua makalah mengenai penulis yang sangat menarik ini. Salah satu makalah adalah analisis yang cemerlang tentang arti psikologis dari Moby Dick (Murray, 19510), dan yang lainnya adalah pengantar dan analisis yang mendalam tentang Pierre (Murray, 1949a), salah satu di antara novel-novel Melville yang sangat memikat dan mengagumkan.

Di tengah kelangkaan sumber tertulis ini, kami berpendapat bahwa teori dan penelitian psikologi Murray tersajikan secara paling bagus dalam Explorations in personality (1938), yang meringkaskan hasil-hasil pikiran dan penelitian Staleinik Psikologi pada akhir dasawarsa pertama keberadaannya. Sebagian laporan dari sejumlah penelitian berikutnya termuat dalam A clinical study of sentiments (1945), yang ditulis bersama Cristiana Morgan, seorang sejawat lama, dan dalam Studies of stressful interpersonal disputations (1963). Perubahan-perubahan penting yang terjadi dalam keyakinan-keyakinan teoretisnya selama tahun-tahun berikutnya paling jelas tampak dalam suatu bab yang ditulis bersama Clyde Kluckhohn ( 1953), suatu bab yang diterbitkan dalam Toward a general theory of action ( 1951a), suatu artikel yang diterbitkan dalam Dialectica (1951b), suatu ceramah yang diberikannya di Universitas Syracuse (1958), suatu bab yang ditulis untuk Psychology: a study of a science (1959), dan suatu artikel yang ditulis untuk International encyclopedia of the social sciences (1968b). The Manual of Thematic Apperception Test (1943) merupakan pengantar yang paling baik untuk mengenal instrumen kepribadian ini, dikerjakan bersama Cristiana Morgan (Morgan dan Murray, 1935), yang telah menjadi salah satu di antara alat-alat empiris yang sangat penting dan digunakan secara luas oleh ahli klinis dan peneliti kepribadian. Kepekaan dan kepiawaian yang luar biasa yang telah diperlihatkan Murray dalam membuat alat untuk memeriksa dan menganalisis kapasitas-kapasitas dan kecenderungan-kecenderungan manusia disajikan dengan jelas dalam Assessment of men (1948).

DAFTAR PUSTAKA

Sigmund Freud

Sigmund Freud ( lahir Sigismund Schlomo Freud; 6 Mei 1856 – 23 September 1939) adalah seorang neurolog Austria dan pendiri psikoanalisis, metode klinis untuk mengobati psikopatologi melalui dialog antara pasien dan psikoanalis. Freud lahir dari orang tua Yahudi Galicia di kota Moravian dari Freiberg, di Kekaisaran Austro-Hungaria. Ia memenuhi syarat sebagai dokter pengobatan pada tahun 1881 di University of Vienna. Setelah menyelesaikan habilitasi pada tahun 1885, ia diangkat sebagai pembimbing di neuropatologi dan menjadi profesor pada tahun 1902. Freud tinggal dan bekerja di Wina, menjalankan praktek klinis di sana pada tahun 1886. Pada tahun 1938 Freud meninggalkan Austria untuk melarikan diri dari Nazi. Ia meninggal dalam pengasingan di Inggris pada tahun 1939.

Freud dianggap sebagai pendiri pendekatan psikodinamik untuk psikologi yang menelaah kuasa-bawah sadar yang memotivasi orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Peran pikiran adalah sesuatu yang Freud berulang kali bicarakan karena ia percaya bahwa pikiran bertanggung jawab atas keputusan sadar dan bawah sadar berdasarkan drive dan force. Keinginan bawah sadar memotivasi orang untuk bertindak. Id, ego, dan super ego–tiga aspek pikiran–adalah, Freud yakin, yang membuat kepribadian seseorang. Freud percaya orang “hanyalah aktor dalam drama pikiran [mereka] sendiri, didorong oleh keinginan, ditarik oleh kebetulan. Di bawah permukaan, kepribadian kita mewakili perebutan kekuasaan yang terjadi di dalam diri kita”.

Sigmund Freud adalah seorang psikolog yang berasal dari kota Wina, Austria. Freud dilahirkan dari kandungan seorang ibu yang bernama Amalia yaitu seorang yang cantik, tegas, masih muda, dau puluh tahun lebih muda dari suaminya dan merupakan istri ketiga dari ayahnya Jacob Freud. Freud lahir tepatnya pada tanggal 6 Mei 1856 di Freigery sebuah kota kecil yang didominasi penduduk asli Muravia, yang sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Pribar, Cekoslowakia, Austria. Ia meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Selama hampir 80 tahun Freud tinggal di Wina dan baru meninggalkan kota ketiaka Nazi menaklukkan Austria.

Pada tahun 1860, ketika Freud hampir berusia 4 tahun, kelaurganya pindah ke Wina (Wina, ibukota Austria) yang kemudian menjadi semacam magnet bagi kaum imigran. Saat itu adalah masa-masa awal dimulainya era liberal pada kekaisaran Hapsburg. Kaum Yahudi baru saja terbebas dari pajak-pajak yang memberatkan serta berbagai pembatasan menghina seperti tentang hak-hak kepemilikan mereka, pilihan-pilihan karer, praktek-praktek keagamaan yang dianut. Kemerdekaan ini kemudian membawa harapan-harapan realistis pada bidang perkembangan taraf ekonomi, partisipasi politik serta menjadi ukuran baru bagi standar penerimaan sosial. Saat itu adalah masa dimana (seingat Freud) “Para murid berdarah Yahudi yang taat, selalu membawa album foto tokoh-tokoh Yahudi yang menjadi Menteri kabinet, dalam tas mereka.”

Sebagai anak pertama dan kesayangan keluarga, dia difasilitasi kamar pribadi oleh orang taunya. Dia memperlihatkan bakat-bakat yang luar biasa semenjak hari pertama sekolahnya dan disekolah lanjutan (disebut Gymnasium: sekolah lanjutan swasta sebelum masuk perguruan tinggi), dia selalu berada di peringkat pertama dari tahun ke tahun.

Sigmund Freud terlahir dari keluarga berkebangsaan dan beragama Yahudi. Akan tetapi sosok Freud bukanlah sebagai seorang yang taat pada agama, ini terbukti karena Freud jarang sekali bahkan tidak pernah menjalankan apa yang diperintahkan oleh agamanya. Sigmund Freud meninggalkan segala keyakinan agamanya dikarenakan ia menganggap bahwa agama itu hanyalah merupakan suatu khayalan belaka. Namun disisi lain Freud menyadari akan dirinya sebagai seorang yang beragama Yahudi dimana Freud selalu menghadiri pertemuan-pertemuan B’nai B’rith yaitu pertemuan masyarakat Yahudi setempat, Freud juga menolak royalti atas buku-bukunya yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Yiddish dan Ibrani. Bahkan Sigmund Freud beranggapan bahwa kebebasan intelektualnya selama ini disebabkan karena keyahudiannya. Pernyataan ini ditulis sendiri ketika pertama kali ia mengalami “antisemifisme” di Universitas Wina.

Pada tahun 1873, Sigmund Freud masuk kuliah di Universitas Wina tepatnya di fakultas kedokteran. Sebagai seorang mahasiswa yang sedang melakukan pendidikan tentang ilmu hayat, Freud selama perempatan akhir dari abad ke-19, mengalami banyak kesukaran terutama untuk menghindarkan diri dari pengaruh ilmu fisika. Energi dan dinamika yang mengalir dalam setiap laboratorium kemudian menyusul kedalam jiwa setiap sarjana. Meskipun demikian Freud mendapatkan banyak keuntungan terutama pada saat ia melakukan penelitian di dalam bidang ilmu hayat. Ia berada di bawah asuhan Ernst Brucke seorang direktur darilaboratorium physicology di Universitas Wina dan Ernst Brucke merupakan psikolog terbesar dalam abad ke-19 itu.

Setelah lulus pada tahun 1881, Sigmund Freud sebagai peneliti yang brilian, dia sagat terlatih untuk melakukan observasi secara mendalam dan mengkaji kesesuaian pendirian dalam berbagai keragu-raguan ilmiah. Dia mendapat kehormatan untuk bekerja sama dengan professor-preofesor bereputasi internasional, yang hampir kesemuanya adalah kaum positivis dari luar Jerman yang meremehkan pemikiran-pemikiran metafisik dan penjelasan-penjelasan religiuas tentang fenomena alam. Bahkan, setelah Freud memodifikasi teori mereka tentang jiwa yang pada intinya hanya sedikit mengaburkan teori-teori fisiologi, dia tetap mengingat para guruguru besar itu dengan rasa terima kasih yang tidak dibuat-buat. Satu dari mereka yang paling dia kenang, Ernst Brunke, seorang fisiolog terkenal dan pemberi tugas-tugas sulit, bahkan menegaskan Freud sebagai seorang pembangkang, kafir.

Sigmund Freud lebih senang mengisi kehidupannya dengan penelitian, karena dari penelitian ia mendapatkan kepuasaan tersebut. Pada tahun 1882, atas saran brucke, dengan enggan Freud meninggalkan kursi kerjanya di laboratorium dan berpindah tugas dirumah sakit umum Wina. Alasannya cukup romantis: di bulan April dia berjumpa dengan Martha Bernays, seorang perempuan muda yang cantik, lembut dan bertubuh langsing dari Jerman bagian utara, ketika dia sedang mengunjungi salah satu saudarinya.

Tahun 1883, seorang dokter tentara Jerman meresepkan kokain, yang belum lama diisolasi, kepada para tentara Bavaria untuk membantu mereka menghadapi tuntutan berbagai manuver militer. Ketika Freud membaca tentang itu, ia memutuskan untuk mendapatkan obat itu.

Selain memakai kokain untuk dirinya sendiri, Freud mendesak teman-teman dan teman-teman sejawatnya untuk memakainya, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk para pasien mereka. Ia Bahkan mengirimkan sebagian kepada tunangannya. Pendek kata, menurut standar hari ini, Freud adalam ancaman bagi publik.

Esai Freud yang termasyhur, Song of Praise, adalah tentang kokain dan dipublikasikan pada Juli 1884. Freud menuliskannya denga istilah-istilah yang penuh semangat tentang pengalaman pribadinya sendiri dengan kokain sehingga ia menciptakan gelombang minat terhadap obat itu. Ketika semakin banyak bukti yang terakumulasi bahwa kokain sangat adiktif dan mengahasilkan keadaan mirip-psikosis pada dosis tinggi, begitu juga publikasi kritik terhadap Freud.

Freud terus memuja kokain sampai musim panas 1877, tetapi tidak lama kemudian ia sama sekali berhenti memakai kokain – baik secara pribadi maupun profesional. Terlepas dari kenyataan bahwa ia sudah memakai kokain selama 3 tahun, ia tampak tidak mengalami kesulitan untuk berhenti.

Sekitar 7 tahun kemudian, pada 1884, ketika Freud berumur 38 tahun, dokter dan sahabatnya memerintahkannya untuk berhenti merokok karena kebiasaannya itu menyebabkan aritmia jantung pada dirinya. Freud adalah seorang perokoki berat; ia mengisap lebih kurang 20 batang cerutu setiap hari.

Kemudian Freud sangat tergila-gila dengan perempuan ini. Secara diam-diam mereka bertunangan, namun saat itu dia merasa masih terlalu miskin untuk membentuk sebuah keluarga borjuis yang terhormat (yang mereka anggap penting). Mendekati September 1886, sekitar 5 bulan setelah peresmian praktiknya di Wina, dengan tambahan dana dari hadiah-hadiah dan pinjaman dana dari teman-teman yang kaya, akhirnya mereka dapat menikah. Dalam sembilan tahun merekamempunyai enam keturunan. Anaknya yang bungsu, Anna, tumbuh menjadi orang kepercayaan sekaligus sekretaris, perawat, murid dan wakil dari ayahnya, kemudian berkarir sebagai psikoanalis yang ulung di bidangnya.

Sebelum menikah, antara Oktober 1885 hingga Februari 1886, Freud bekerja di Paris bersama seorang neurolog kenamaan Prancis, jean martin sharcot, yang membuat Freud terkesan atas pembelaannya yang berani dalam mempertahankan pemikirannya tentang hipnotis sebagai salah satu instrumen bagi penyembuhan berbagai gangguan medis. Serta tidak kurang beraninya adalah tesisnya (walaupun sebenarnya agak kuno), bahwa tidak lelaki tidak kalah rentan dibanding kaum perempuan untuk menderita histeria. Charcat, sang peneliti tiada tanding ini, boleh dibilang sebagai pendorong pertumbuhan minat Freud pada aspek-aspek teoritis dan terapiutis dari penyembuhan ganguan mental. Sekitar tahun 1890-an (sebagaimana diceritakan kepada seorang temannya), ilmu psikologi telah menjadi raja dalam dirinya. Selama tahun-tahun tersebut, ia berupaya keras membentuk teori psikoanalisis tentang pikiran. Pada musim panas tahun 1897, Freud mulai melakukan perbuatannya yang paling dramatis yaitu melakukan psikoanalisis terhadap alam tak sadarnya sendiri.

Akhir dari segala macam penderitaan tersebut adalah fase terakhir dari evolusi kepribadian Freud. Kemudian Freud memperoleh ketenangan dan kejernihannya, yang mulai dari sekarang merasa damai untuk melakukan pekerjaannya dengan tenang.

Sekarang dapat dikatakan mengenai detail-detail kemajuan dan juga mengenai perubahan pandangan Freud terhadap seksualitas pada masa kanak-kanak yang mendahului dan mengiringinya. Sebelum melakukan hal tersebut, adalah penting untuk mengutip sebuah kalimat yang ditulisnya pada lima belas tahun yang silam. ‘Aku selalu merasa aneh ketika aku tak memahami seseorang melalui diriku sendiri’. Rupanya Freud telah sampai pada inti ucapan Terence: ‘Humani nihil a me alienum puto (seduksi/seduction). Ini merupakan satu alasan tambahan untuk keinginan mengerti akan dirinya sendiri secara untuh.

Dua bagian penting dari penelitian Freud sangat terkait dengan dirinya, interpretasi (tafsir mimpi) akan mimpi-mimpi dan peningkatan apresiasinya terhadap seksualitas masa bayi.

Interpretasi terhadap mimpi memainkan tiga peranan. Ini mengamati dan menyelidiki mimpi-mimpinya sendiri dan juga merupakan material yang ada untuk keperluan penyelidikan dan juga sering dirujuk dalam buku-bukunya yang memberi ide dalam term ‘sadar’ untuk merunut logika-logika analisis terhadap dirinya sendiri. Dan ini juga merupakan metode yang sering dipakainya. Freud kemudian pernah berkata bahwa seseorang yang jujur, cukup normal, dan seorang pemimpi yang baik dapat melakukan analisis-diri tapi tetap saja orang tersebut bukanlah Freud. Analisis terhadap dirinya dilakukan bersamaan dengan penulisan buku The Interpretation of Dreams,yang di dalam buku terpentingnya, ia detail. Yang terakhir melalui penafsiran akan mimpinya ia dapat merasa lenih aman, ini adalah bagian dari semua karyanya yang dia merasa sangat yakin terhadapnya.

Jika kita menoleh sejenak ke perkembangan pandangan-pandangan Freud mengenai seksualitas dan masa kanak-kanak hingga ke waktu dia melakukan analisis-diri, pasti kita akan mempunyai kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. Pengetahuan bertambah secara bertahap lebih banyak daripada yang diduga orang. Hal-hal yang sekarang tampaknya jelas, kelask justru terlihat gelap. Freud memulainya dengan pandangan konvensional, kepolosan anak-anak dan kemudian melintas pada cerita-cerita jorok dari penggodaan nafsu oleh orang dewasa, yang oleh Freud dianggap sama dengan pandangan konvensional hal ini akan membentuk stimulasi/rangsangan pendewasaan. Freud awalnya tidak menyadari bahwa hal tersebut membangkitkan gairah seksualnya pada anak kecil waktu itu dan hanya setelah masa puber, ingatan-ingatan akan hal tersebut membuatnya merasa ‘menyenangkan’. Pada tahun 1896, Freud menduga bahwa ‘bahkan pada masa kecilpun kita merasakan kenikmatan seksual”, tapi ini dianggap sebagai sebuah reaksi otomatis terhadap rangsangan, tidak ada hubungannya antara dirinya dengan orang lain. Setahun kemudian dia tertarik dengan dasarr organis dari kenikmatan semacam itu, dan menyebutkan bahwa daerah rangsangan tersebut berada pada mulut dan anus, meskipun dia masih merasa mungkin saja daerah rangsangan tersebut ada pada seluruh tubuh, Freud lalu menyebutkannya sebagai daerah erotogenik dalam sebuah suratnya pada tanggal 6 Desember 1896 dan lahi dalam surat tanggal 3 Januari 1897, Freud menyebutkan mulut sebagai organ seksual lisan.

Aspek erotis dari seksualitas masa kanak-kanak menurut Freud ditemukan secara terbalik, bukan melalui anak kecil tersebut melainkan melalui orangtuanya. Mulai dari Mei 1893, ketika dia membuat pernyataan pertama mengenai hal tersebut pada Fliess, hingga September 1893, ketika dia mengakui kesalahannya, Freud masih berkeyakinan nahwa sebab utama histeria merupakan rangsangan seksual masa kanak-kanak oleh orang dewasa, terutama oleh ayah; bukti dari analisi material ini tampaknya tidak terbukti. Selama lenih dari empat tahun dia memegang keyakinan ini, meski semakin sering terkejut dengan frekuensi dari kejadian yang diharapkan. Mulai diamati seakan-akan seorang ayahlah yang memegang, bagian penting dari hubungan incest ini. Tetap semakin buruk, mereka biasanya merupakan jenis yang suka melawan, mulut dan anus menjadi daerah yang dipilih. Freud menduga, dari adanya beberapa gejala histeris pada kakak-kakaknya (bukan dirinya), yang ayahnya terlibat dalam hal tersebut meski dia segera menambahkan frekuensi dari kejadian tersebut sering membangkitkan kecurigannya. Pada akhirnya dari periode ini, keraguan mulai memenuhi pikirannya, tapi selalu terbantahkan oleh beberapa bukti baru. Akhirnya, ketika dia bermimpi mengenai sepupunya yang di Amerika, Hella yang dia artikan sebagau cover bagi ketertarikan seksualnya terhadap kakak perempuannya yang tertua. Freud merasakan dia telah menemukan bukti lansgung kebenaran teorinya.

Empat bulan setelah itu, Freud menemukan kebenaran dari masalah ini: bahwa terlepas dari harapan-harapan incest orangtua terhadap anak-anaknya dan bahkan beberapa tindakan mengenainya, apa yang diperhatikannya sekarrang adalah kecenderungan umum harapan-harapan incest anak-anak terhadap orangtuanya, terutama terhadap orangtuanya yang jenis kelaminnya berbeda (misalnya anak perempuan ke ayahnya ataupun sebaliknya).

Sisi lain dari gambaran ini masih tersembuny darinya. Dua bulan pertama dari analisi diri telah membuka hal tersebut. Freud telah merasakan kebenaran ucapan Nietzsche: ‘diri orang itu sendiri tersembunyi dari orang tersebut: semua harta terpendam dalam diri sendiri adalah biasanya yang terakhir digali.

Meskipun kemudian Freud tidak benar-benar sampai pada ujung konsepsi seksualitas kanak-kanak kelak diapun memahaminya. Keinginan-keinginan incest dan fantasi-fantasi kemudian dihasilkan kira-kira pada umur delapan hingga dua belas tahun yang kemudia terlempar kembali ke gambaran ingatan menakjubkan dari teorinya adalah ketika dia mengatakan bahwa anak kecil, meskipun bayi berumur tujuh bulan sekalipun, mempunyai kemampuan untuk menunjukan dan meskipun belum begitu sempurna, dan memahami arti tindakan seksual orang tuanya yang disaksikannya, ataupun didengarnya. Pengalaman-pengalaman seperti itu akan menjadi signifikan hanya jika ingatan-ingatan tersebut dibangkitkan kembali oleh fantasi-fantasi, hasrat ataupun tindakan-tindakan seksual di tahun-tahun mendatang.

Tidak diragukan lahi bahwa lebih dari lima tahun sebelumnya Freud menganggap anak kecil sebagai objek polos dari hasrat incest dan dengan sangat perlahan dikarenakan resistansi dari dirinya sendiri, dirinya mulai menyadari bahwa memang ada yang namanya seksualitas masa-masa awal dan pada akhir hidupnya Freud memilih untuk menganggap tahun pertama kehidupannya sebagai sebuah misteri gelap yang diselubungi oleh kegairahan-kegairahan yang dapat dipahami daripada diselubungi oleh impuls-impuls dan fantasi-fantasi aktif.

Dengan pertimbangan ini kita dapat kembali ke masalah analisis diri itu sendiri. Awal mula dari analisis-diri dapat dilacak pada peristiwa bersejarah di bulan Juli 1895, ketika dia pertama kali menganalisis penuh salah satu mimpinya. Pada tahun-tahun berikutnya Freud sering kali mengomunikasikan kepada Fliess mengenai analisis-analisis mimpinya. Dari surat-menyurat tersebut kita dapat memberikan penanggalan ketika analisis-analisis yang dulunya dilakukan sambil lalu menjadi sebuah prosedur tertib dengan tujuan jelas. Ini berlangsung pada bulan Juli 1897. Seseorang umumnya akan bertanya mengapa keputusan tersebut baru diambil saat itu. Disini kita menyaksikan tekanan alam tak sadar yang secara bertahap meningkat ketimbang sebuah perubahan tiba-tiba seorang yang genius.

Adalah pada bulan Oktober sebelumnya ayah Freud meninggal. Dalam terima kasihanya atas ucapan belasungkawa Fliess, Freud menulis ‘Kematian ayahku sangat mempengharuiku, termasuk juga karena pikiran alam tak sadarku. Aku sangat menghargainya dan telah memahaminya. Dengan kombinasi sifatnya yang tak lazim antara kebijaksanaan dan kedermawanannya yang fantastic, beliau sangat berarti dalam kehidupan Freud. Beliau memang sudah tidak ada lagi, tapi dalam diri Freud, peristiwa kematian dapat menghidupkan segala perasaanku Sekarang aku merasa cukup tercerabut’.

Freud telah mengatakan bahwa peristiwa ini telah membuatnya menulis buku The Interpretation of Dreams, dan tulisan mengenai karyanya berbarengan dengan tahunn pertama, atau kedua, ketika ia melakukanj analisis-diri; seseorang dapat mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan secara bersamaan. Dalam kata pengantar pada Edisi kedua, yang ditulis secara bersamaan. Dalam kata pengantar pada Edisi kedua yang ditulis pada tahun 1908, Freud mengatakan bahwa dia baru menyadari penulisan buku ini ada hubungannya dengan kematian ayahnya setelah buku tersebut selesai. ‘Hal ini (kesadaran akan hubungan tersebut) muncul begitu saja seperti sebuah potongan dakan analisis-diri yang dilakukannya sebagai reaksi atas kematian sang ayah, muncul sebagai kejadian terpenting, kehilangan yang amat pedih, dalam sebuah episode kehidupan manusia.

Pada bulan Februari, empat bulan setelah kematian ayahnya, Freud menyebut peran ayahnya dalam tindakan-tindakan seduction (penggodaan secara seksual) dan tiga bulan kemudian mimpinya sendiri mengenai incest membuatnya ragu sendiri akan cerita seduksi tersebut. Dalam surat itu Freud juga menyinggung mengenai konflik kanak-kanaknnya, yang kemudian menjadi neurotik terhadap orangtua dari jenis kelamin yang sama-petunjuk pertama mengenai adanya Oedipus Complex. Jelas sekali kedua pandangan tersebut terjadi secara bersamaan.

Pada pertengahan April Freud bertemu Fliess di Nurenberg, dan sepuluh hari kemudian dian mengirimkan sebuah rincian mengenai analisis mimpinya yang mengungkapkan kemarahan dan permusahan terhaddap ayahnya. Freud pun kemudian menyadari akan beberapa kekacauan emosionalnya, karena dalam sebuah baris pada suratnya empat hari kemudian dia menulis: ‘Kesembuhanku dapat terjadi hanya pada alam tak’ Sadar; aku sendiri tidak dapat mengelola tindakan-tindakan sadarku sendiri.Ini mungkin adalah petunjuk pertama dari persepsi Freud bahwa dia harus melakukan psi-analisis terhada dirinya sendiri, meski masih membutuhkak beberapa bulan sebelum akhirnya dia memutuskan hal tersebut.

Kemudian tibalah sebuah periode yang dirinya merasa sangat apatis dan mengalami kelumpuhan intelektual yang hebat. Dia menggambarkan bagaimana dia melalui fase neurotis tersebut: Sebuah kondisi pikiran yang kesadaran seseorang tidak dapat memahaminya: pikiran-pikiran aneh) selubung yang menutupi pikiran seseorang, hampir tidak ada cahaya sama sekali. Setiap baris yang ditulisnya merupakan sebuah siksaan baginya, dan seminggu kemudian dia mengatakan ketidakmampuannya untuk menulis adalah sebuah keadaan patologis; dia segera menemukan bahwa motif untuk hal tersebut adalah untuk mengganggu hubungannya dengan Fliess. Kemudian ada sebuah baris yang menyakitkan, dikutip dari surat tanggal 7 Juli, di mana dia bicara mengenai resistansi-resistansi dalam neurosisnya yang kadang kala Fliess terlibat dalam hal tersebut. Tapi, merupakan kabar gembira, sesuatu telah bersiap-siap untuk muncul. ‘Aku percaya sekarang aku berada dalam fase ‘kepompong’, dan Tuhan tahu hewan seperti apa yang nantinya keluar dari kepompong tersebut.’

Segera setelah ini Freud bergabung dengan keluarganya di Aussee, dan pada tanggal 14 Agustus, dia secara defmitif menulis mengenaj analisisnya sendiri, yang dikatakannya sebagai ‘lebih berat daripada analisis yang lain’. “Tapi ini harus dilakukan dan terlebih lagi, ini adalah sebuah perimbangan yang perlu bagi kerja (terapi) ku’. Sebuah bagian dari histerianya telah berhasil disembuhkan. Dia secara jernih menyadari bahwa resistansi-resistansi dirinya telah menghalangi kerjanya.

Dalam surat bertanggal 3, 4 dan 15 Oktober Freud melaporkan detail-detail kemajuannya mengenai analisisnya. Dia kini menyadari bahwa ayahnya tidak bersalah dan yang terjadi sebenarnya dia memproyeksikan ide-identa sendiri tehadap ayahnya. Ingatan-ingatannya kembali ke keinginan-keinginan seksualnya mengenai ibunya ketika ibunya sedang telanjang. Kita dapat memperoleh sebuah rincian mengenai kecemburuan dan pertengkaran masa kecilnya, dan penemuan kembali akan Pengasuh lamanya, yang sering dihubungkan dengan masalah-masalahnya; ingatan kembali ketika pengasuhnya memandikannya dalam air merah, air bekas setelah dia mandi, adalah sebuah detail yang meyakinkan.

Dalam akhir surat-suratnya ini, Freud menghubungkan bagaimana dia menanyai ibunya mengenai masa kecilnya. Dia berada pada jalur yang benar mengenai kebenaran temuan-temuan analitisnya, dan juga men~ dapat informasi, misalnya mengenai pengasuhnya, yang menjernihkan kebingungan-kebingungannya. Dia mengatakan bahwa analisis dirinya akan menjadi penemuan terbesarnya-hanya jika ini diteruskan sampai tuntas. Freud telah menemukan kegairahannya terhadap ibunya serta kecemburuan terhadap ayahnya; dia yakin bahwa ini merupakan karakteristik umum dari umat manusia, dan dari sana seseorang akan dapat merasakan efek yang kuat dari legenda Oedipus. Dia bahkan menambahkan intepretasi mengenai tragedi Hamlet. Sekarang pikirannya bekerja dengan maksimal, dan kita sekarang mulai bicara mengenai intuisinya yang tangkas.

Penanggulangan resistansi-resistansi dalam dirinya sendiri telah memberikan pengetahuan yang jernih terhadap para pasiennya, dan dia dapat memahami jauh lebih baik mengenai perubahan mood. ‘Semua yang Freud alami dengan pasien dapat kutemukan di sini (analisis diri): hari-hari ketika aku harus menyelinap di antara represi-represi karena aku belum dapat memahami segala sesuatu mengenai mimpi-mimpiku, fantasi-fantasiku, dan perasaan-perasaanku pada hari itu, dan kemudian lagi hati-hati di mana kilasan-kilasan intuisi menerangi hubungan-hubungan tersebut dan memungkinkan seseorang untuk memahami apa yang telah terjadj sebagaimana sebuah persiapan untuk impian hari ini.’

Tentu saja analisis tidak menghasilkan sebuah hasil ajaib dalam seketika. Dalam surat-suratnya kemudian terdapat rincian karakteristik mengenai variasi-variasi kemajuannya: optimisme yang menggantikan pesimisme, semakin memburuknya gejala-gejala, dan hal-hal semacamnya. Neurosis itu sendiri, dan ketergantungan surat-menyurat terhadap Fliess, terlihat semakin hebat, atau lebih memanifes, hingga dua tahun ke depan, tapi ketetapan hati Freud untuk memenangkan pertarungan tidaklah tergoyahkan dan akhirnya memang dia berhasil menaklukkan ‘dirinya’ sendiri. Dan pada sepucuk surat bertanggal 2 Maret 1899, kita membaca bahwa analisis-diri telah membawa banyak kebaikan bagi dirinya dan jelas sekarang dia jauh lebih normal dibandingkan empat atau lima tahun sebelumnya. Sedikit banyak, psikoanalisis tidaklah pernah komplet, maka sangatlah tidak beralasan untuk mengharapkan analisis diri Freud, dengan tiadanya bantuan dari seorang analis yang objektif dan tanpa bantuan berarti melalui kajian terhadap perpindahan manifestasi (neurosis) Mungkin kita akan tahu selanjutnya bahwa ketidakkompletan dapat memengaruhi beberapa kesimpulannya.

Pada bagian awal bab ini hanya tahun awal saja yang tertulis (1897…). Alasan dari hal ini adalah karena Freud berkata padakh dia fak pernah berhenti untuk melakukan analisis diri, menyediakan setengah jam seharinya untuk keperluan tersebut. Satu contoh dari integritas keilmuannya yang sempurna.

Freud sebagai tokoh produktif dan giat bekerja, hal itu terbukti karena dia meskipun telah lanjut usia dan sakit-sakitan, dia tetap bekerja sebagai seorang dokter dan penulis.

Dia meninggal pada 23 September 1939 di London setelah menelan beberapa dosis morfin yang mematikan yang diminta dari dokternya. Freud tidak percaya pada keabadian manusia, namun karyanya terus hidup hingga kini. Bahkan dengan semua penderitaan ini, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kejengkelan ataupun ketidaksabaran. Filsafat~ nya akan penyerahan diri dan penerimaan akan realitas rupanya telah dimaknainya benar-benar.

Kanker tersebut terus menggerogoti pipinya dan infeksinya terus semakin memburuk. Buruknya kondisi Freud sangatlah ekstrem dan sukar untuk dikatakan kepedjhannya. Pada tanggal 19 September, aku ke sana untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan memanggilnya ketika dia sedang tertidur. Dia membuka matanya, mengenaliku dan melambaikan tangannya, kemudian terkulai kembali dengan sikap tubuh yang seolah menyampaikan pesan sarat makna: sambutan, perpisahan, penyerahan diri. Seperti dikatakan bahwa, ‘Istirahat adalah keheningan.’ Tidak perlu ada katakata. Dan yang kedua dia tertidur kembali. Pada tanggal 21 September, Freud berkata kepada dokternya: ‘Schur, sahabatku, kau teringat pembicaraan pertama kita. Kau berjanji kepadaku bahwa engkau akan membantuku ketika aku sudah tidak kuat lagi. Semuanya hanyalah siksaan sekarang dan tidak lagi kurasakan.’ Schur menggenggam taugannya dan berjanji akan berusaha sekuat mungkin meringankan penderitaannya; Freud berterima kasih padanya, dan sejurus kemudian berkata: ‘Katakan pada Anna tentang pembicaraan kita.’ Tidak ada rasa penyesalan diri sendjri, hanya kepasrahan terhadap kenyataan hidup.

Keesokan paginya, Schur memberikan tiga dosis morfin. Untuk seseorang dengan kondisi seperti Freud, dan juga untuk disalahgunakan, dosis sekecil itu cukup. Dia mendesah penuh kelegaan dan tenggeram 1<e dalam tidur yang damai; dia benar-benar terpej am hingga akhir hayatnya. Freud meninggal sebelum tengah malam keesokan harinya pada tanggal 23 September 1939. Hidupnya yang lama dan sulit telah usai dan penderitaannya telah berakhir. Freud meninggal sebagaimana ketika dia hidup-seorang realis.

Jenazah Freud dikremasi di Golden Green pada pagi hari tanggal 26 September dan dihadiri oleh ribuan pelayat, termasuk Marie Bonaparte dan banyak lainnya dari luar negeri, dan abunya ditempatkan di guci Grecian kesayangannya. Keluarganya memintaku untuk menyampaikan pidato kematian. Stefan Zweig )uga menyampaikan pidato panjang dalam bahasa J erman, yang tak diragukan lagi 1ebih penuh perasaan daripada pidatoku, . meski‘ mungkin kami semua samasama merasakan perasaan kenangan yang dalam, teramat dalam sekali.

Bab 2

SEJARAH HIDUP SIGMUND FREUD

 

Ia sering disebut dengan “My Golden Sigi”. (Jean Chiriac). Meskipun dari keluarga yang sangat sederhana, Freud adalah anak yang sangat berprestasi. Ia menerima penghargaan summa cum laudae sewaktu di sekolah dasar. Pada usia ini ia sudah menguasai beberapa bahasa, Freud adalah siswa yang mempunyai prestasi dalam bahasa Jerman. Seperti apa yang disebutkan dalam tulisan Peter Gray, pada usia 17 tahun Freud masuk Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tapa alasan yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran. Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun 1881.

Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene, yaitu seorang ahli fisiologi yang keras.

Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang jelas mengenai suatu agama. Bahkan kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan. (baca: agama). Pada tahun 1882, Freud meninggalkan perkejaanya di laboratiorium dan menerima pekerjaan di RSU Veinna. Pada saat itu Freud bertemu dengan seorang gadis bernama Martha Bernays yang kemudian menjadi istrinya. Dari perkawinan inilah lahir Anna, yang kemudian menjadi seorang tokoh psychoanalysis terkemuka.
Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan.

Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan kebenaran-kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas tentang kisah-kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari bahwa histeria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan.

Seiring dengan semakin matangnya ketertarikan Freud pada psikoanalisis, ia mengembangkan gagasan psikoanalisis dari mimpi-mimpinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan Freud juga menemukan bahwa gejala psikologis sangat penting dalam mempengaruhi hidup seseorang. Hal ini ia buktikan saat ayahnya meninggal pada tahun 1896. Kematian sang ayah memberikan dampak sangat penting atas diri Freud dan juga psikoanalisis. Setelah kesedihan inilah Freud mulia memfokuskan diri pada psikoanalisis pada diri sendiri.

Gagasan Freud di bidang psikologi berkembang tingkat demi tingkat. Batu tahun 1895 buku pertamanya Penyelidikan tentang Histeria terbit, bekerja sama dengan Breuer. Buku berikutnya Tafsir Mimpi terbit tahun 1900. Buku ini merupakan salah satu karyanya yang paling orisinal dan sekaligus paling penting, meski pasar penjualannya lambat pada awalnya, tetapi melambungkan nama harumnya. Sesudah itu berhamburan keluar karya-karyanya yang penting-penting, dan pada tahun 1908 tatkala Freud memberi serangkaian ceramah di Amerika Serikat, Freud sudah jadi orang yang betul-betul kesohor. Di tahun 1902 dia mengorganisir kelompok diskusi masalah psikologi di Wina. Salah seorang anggota pertama yang menggabungkan diri adalah Alfred Adler, dan beberapa tahun kemudian ikut pula Carl Yung. Kedua orang itu akhirnya juga menjadi jagoan ilmu psikologi lewat upaya mereka sendiri.

Freud menikah dan mempunyai enam anak. Pada saat-saat akhir hidupnya dia kejangkitan kanker pada tulang rahangnya dan sejak tahun 1923 dan selanjutnya dia mengalami pembedahan lebih dari tiga puluh kali dalam rangka memulihkan kondisinya. Meski begitu,dia tetap menemukan kerja dan beberapa karya penting bermunculan pada tahun-tahun berikutnya. Di tahun 1938 Nazi menduduki Austria dan si Sigmund Freud yang sudah berusia 82 tahun dan keturunan Yahudi itu dipaksa pergi ke London dan meninggal dunia di sana setahun sesudahnya.

Sigmund Freud menjadi salah satu tokoh sentral dalam psikologi modern. Meski sempat ditolak oleh psikologi akibat konsep ketidaksadaran yang diusungnya, Psikologi “akhirnya” menerima Freud menjadi salah satu tokoh penting yang memengaruhi perkembangan psikologi dewasa ini. Pengaruh tokoh yang memerkenalkan konsep psikoanalisa ini tidak saja pada ranah psikologi. Pemikiran Freud telah merambah batas keilmuan lainnya, seperti filsafat, sastra, sosiologi dan kajian kebudayaan. Di ranah psikologi, kontroversi Freud turut menghadirkan beberapa pemilkiran yang berbeda dengannya, baik dalam kerangka mengoreksi maupun menunjukkan ketidaksepakatan atas ide dan pemikiran tokoh ini. Jung merupakan salah pemikir yang memilih jalan berbeda dari Freud. Jaques Lacan adalah tokoh lainnya yang mencoba membaca Freud secara kritis.

Sumbangsih Freud dalam bidang teori psikologi begitu luas daya jangkauannya sehingga tidak gampang menyingkatnya. Dia menekankan arti penting yang besar mengenai proses bawah sadar sikap manusia. Dia tunjukkan betapa proses itu mempengaruhi isi mimpi dan menyebabkan omongan-omongan yang meleset atau salah sebut, lupa terhadap nama-nama dan juga menyebabkan penderitaan atas bikinan sendiri serta bahkan penyakit.

Freud mengembangkan teknik psikoanalisa sebagai suatu metode penyembuhan penyakit kejiwaan, dan dia merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia dan dia juga mengembangkan atau mempopulerkan teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, ihwal pengkhitanan, rasa tertekan, sublimasi dan banyak lagi. Tulisan-tulisannya menggugah kegairahan bidang teori psikologi. Banyak gagasannya yang kontroversial sehingga memancing perdebatan sengit sejak dilontarkannya.

Freud mungkin paling terkenal dalam hal pengusulan gagasan bahwa gairah seksual yang tertekan sering menjadi penyebab penting dalam hal penyakit jiwa atau neurosis. (Sesungguhnya, bukanlah Freud orang pertama yang mengemukakan masalah ini meski tulisan-tulisannya begitu banyak beri dorongan dalam penggunaan lapangan ilmiah). Dia juga menunjukkan bahwa gairah seksual dan nafsu seksual bermula pada saat masa kanak-kanak dan bukannya pada saat dewasa.

Berhubung banyak gagasan Freud masih bertentangan satu sama lain, amatlah sulit menempatkan kedudukannya dalam sejarah. Dia merupakan pelopor serta penggali, dengan bakat serta kecerdasan luar biasa yang menghasilkan pelbagai gagasan. Tetapi, teori-teori Freud (tidak seperti Darwin atau Pasteur) tak pernah berhasil peroleh kesepakatan dari masyarakat ilmuwan dan teramat sulit mengatakan bahwa bagian-bagian mana dari gagasannya yang akhirnya dapat dianggap sebagai suatu kebenaran.

Lepas dari pertentangan yang berkelanjutan terhadap gagasan-gagasannya, tampaknya sedikit sekali yang meragukan bahwa Freud merupakan tokoh menonjol dalam sejarah pemikiran manusia. Pendapat-pendapatnya di bidang psikologi sepenuhnya telah merevolusionerkan konsepsi kita tentang pikiran manusia, dan banyak gagasan serta istilah-istilahnya telah digunakan oleh umum-misalnya: ego, super ego, Oedipus complex dan kecenderungan hasrat mau mati.

Dapat diteliti atau dilaporkan jika lepas dari konteks, seperti yang Freud gambarkan dalam contoh berikut ini.

Seorang pria berusia 24 tahun memiliki kenangan visual sejak berusia 5 tahun. Di sebuah taman di rumah peristirahatan musim panas, ia duduk di kursi di dekat bibinya. Sementara si bibi mengajari dia membaca alfaber. Ia menemukan kesulitan membedakan huruf m dan n dan ia meminta bibinya mengajarimya tentang bagaimana cara membedakannta antara m dan n. Bibinya berkata kepadanya bahwa huruf m yang mempunyai satu bagian lebih banyak daripada n. Tampaknya tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran dari ingatan masa kecil ini, tapi makna sebenarnya dari kenangan ini baru dapat ditemukan setelahnya, ketika terbukti bahwa kenangan ini adalah perlambang dari keingintahuannya yang lain. Sebab pada saat ketika dia ingin mengetahui perbedaan antara m dan n, dia juga sekaligus ingin tahu perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan dan dia meminta bibinya untuk mengajarinya. Setelah dia tahu, perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan ternyata mirip seperti perbedaan m dan n yaitu anak laki-laki memiliki satu bagian yang tidak dimiliki anak perempuan dan ketika ingatannya sampai pada hal ini, kenangan muncul tentang pertanyaan yang ia ajukan pada bibinya ditaman itu.

Masa Sekolah

Pada beberapa kesempatan Sigmund Freud menolak dengan keras penulisan biografi dirinya, dan menekankan bahwa satu-satunya hal yang penting dari dirinya adalah pikiran-pikirannya adapun mengenai kehidupan pribadinya, menurutnya dunia tidak perlu mengetahuinya terlalu banyak.

Kita tidak mengetahui lebih banyak mengenai masa-masa bocah dan remaja Freud dibandingkan dengan pengetahuan mengenai masa kanak-kanaknya. Dia tidak mempunyai keinginan untuk menyelidikinya dan menulis tentang awal-awal pengembangannya, ketika dia memulainya pada umur 41 tahun.

Pelajaran pertama Freud dengan Ibunya, ayah Freud kemudian memberikan pelajaran sebelum mengirimnya ke sekolah. Meski mengajar sendiri, ayahnya merupakan seorang pedidik yang baik, inteligensia dan wawasannya jauh di atas rata-rata. Jika hal ini benar, maka kemajuan yang diraih Freud kecil merupakan bukti dari hubungan yang memuaskan antara dia dan ayahnya.

Ketika berumur sembilan tahun, Freud masuk sekolah menengah (Sperl Gymnasium), setahun lebih cepat dari waktu normal. Dia menjadi siswa terbaik di kelasnya selama tujuh tahun, menikmati hak istimewa yang diharuskan lulus pada beberapa kali ujian.. Freud adalah seorang pekerja keras yang sangat suka membaca dan belajar. Dia mendapatkan privilese dari prestastinya ini dan jarang mendapatkan pertanyaan di kelas. Meninggalkan sekolah pada usia 17 tahun, ia lulus dengan predikat summa cum laude, ayahnya memberikan hadiah dengan menjanjikan untuk mengajaknya pergi ke Inggris, yang baru dipenuhinya dua tahun setelahnya. Dia membayar perhatian ayahnya dengan membantu studi adik-adiknya. Bahkan terkadang menyelekso bacaan adik-adiknya, mengatakan kepada mereka bahwa mereka masih terlalu muda untuk membacanya. Ketika adiknya Anna berumur 15 tahun misalnya dia diperingatkan akan hubungannya dengan Balzac dan Dumas. Freud sepenuhnya menjalankan peran sebagai kakak sulung. Dalam sebuah surat di bulan Juli 1876, kepada adiknya Rosa yang empat tahun lebih muda darinya yang tinggal di Bozen dengan ibunya, Freud memperingatkan agar tidak terlena oleh kesuksesan sosial. Adiknya telah mulai memainkan kecapi, dimana adiknya masih kurang akrab dengan instrumen tersebut. Surat tersebut penuh dengan kata-kata bijak mengenai bagaimana kejamnya orang-orang yang mencela seorang gadis muda, yang nantinya akan merusak karakternya.

Tak diragukan lagi bagaimana Sigmund Freud muda sangat rajin belajar dan merupakan pekerja keras. Membaca dan belajar merupakan bagian terbesar dalam hidupnya. Bahkan teman-temannya yang mengunjunginya di kamarnya dan terlibat diskusi serius, menjengkelkan adik-adiknya yang hanya melihatnya sebagi melewatkan masa mudanya begitu saja. Satu hal yang menarik lainnya adalah dia selalu membuat ringkasan singat mengenai subjek yang ada dalam buku (text-book), sebuah pilihan yang membantunya kelak dalam tahun-tahun selanjutnya dan tidak terbatas pada bidang studinya saja, dan dia menyebutkan bahwa dia menulis novel pertamanya pada usia 13 tahun.

Freud telah sangat menguasai bahasa Jerman dan kelak dikenal sebagai ahli dalam prosa-prosa Jerman. Disamping telah menguasai bahasa Latin dan Yunani di rumahnya, dia juga cukup menguasai bahasa Perancis dan Inggris, sebagai tambahan dia juga melatih dirinya sendiri bahasa Itali dan Spanyol. Dia juga pernah diajari bahasa Ibrani. Freud terutama sangat menyukai bahasa Inggris dan dia pernah mengatakan bahwa selama 10 tahun terakhir dia tidak membaca apa-apa selain buku-buku bahasa Inggris.

Shakespeare khususnya, yang mulai dibacanya sejak umur 8 tahun, selalu dibaca dan dibacanya kembali dan dia selalu sering mengutip kata-kata dalam drama-dramanya. Freud mengagumi kemampuan luar biasanya mengenai pengertiannya yang mendalam tentang sifat-sifat serta ekspresi manusia. Beberapa konsep yang dia punya mengenai konsep pengikut tren tentang kepribadian Shakespeare. Ia menekankan bahwa kecenderungannya bukan Anglo-Saxon melainkan Perancis, dan dia selalu mengatakan bahwa namanya merupakan modifikasi dari Jacques Pierre. Dia mencibir teori-teori Baconian, tapi selanjutnya dia sngat sepakat dengan teori-teori dengan konsep-konsep bangsawan Oxford tersebut dan sedikit kecewa dengan skeptisisme.

Sesudah menyelesaikan masa sekolahnya, Freud sempat mengalami kebimbangan untuk menentukan profesi apa yang akan dijalaninya. Meskipun ayahnya memberikan kebebasan dalam masalah penentuan profesi, tetap saja dia belum mempunyai keputusan yang tetap untuk itu. Pada masa itu umumnya anak-anak muda akan bercita-cita menjadi Menteri Negara atau Jenderal Besar dan bagi seorang Yahudi Wina, umumnya pilihan terletak pada 3 bidang saja yaitu industri/bisnis, hukum, dan pengobatan. Adapun pilihan pertama tentu saja sangat tidak sesuai dengan karakter intelektual Freud, dan pilihan kedua masalah hukum pada masa itu terdapat semacam ketidakpastian, terutama mengenai cara kerja sosial kemasyarakatan-sebuah refleksi dari kondisi politik yang ada. Bagi Freud sendiri. Ada impuls-impuls dari dalam dirinya untuk mengarahkannya ke bidang yang lain, satu fakta yang menarik adalah bahwa satu-satunya ujian yang gagal ditempuh Freud adalah mengenai masalah pengobatan.

Freud tidak pernah merasakan ketertarikan langsung terhadap bidang pengobatan. Bahakan setelah bertahun-tahun kemudian dia tidak menyembunyikan perasaannya bahwa dia tidak pernah merasa betah dalam profesi pengobatannya. Ketika dia sangat berharap bahwa dia dapat berhenti dari profesi pengobatannya dan mencurahkan perhatiannya terhadap masalah-masalah kultural dan sejarah-sejarah terutama mengenai bahasan “bagaimana manusia bisa menjadi seperti sekarang ini. Akan tetapi, tetap saja dunia telah menghabiskan sebagai dokter besar.

Tidaklah mengejutkan bahwa ilmu kedokteran yang meski sudah tidak ortodok lagi, masih berkutat dengan mata pelajaran yang berbelit-belit dan tidak urut. Freud bahkan lulus tiga tahun lebih lambat dari waktu yang seharusnya. Pada tahun-tahun terakhir dia mengatakan bahwa kolega-koleganya yang mengejeknya karena keterlambatannya menyelesaikan studinya, seolah-olah Freud mahasiswa terbelakang meski Freud sendiri mempunyai alasan sangat kuat atas keterlambatan ini. Ini adalah semacam pemantapan pilihan bidang mana yang akan digeluti kelak.

Pada tahun 1873 Freud masuk University of Vienna untuk belajar kedokteran, pada awal usia 17 tahun. Dia mengakui bahwa ketika kuliah ia agak malas-malasan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain-main serta melakukan hal-hal yang menurutnya menarik. Meskipun selama di sana minat akademiknya lebih beragam.

Pada semester pertamanya Oktober 1873 hingga Maret 1874, Freud sibuk selama 33 jam seminggu, 12 kelas dalam anatomi dan 6 kuliah kimia, dengan kedua-duanya mengadakan praktikum. Selama semester musim panas pertama, April hingga akhir Juli dia menghabiskan 22 jam seminggu pada anatomi, botani, kimia, mikroskopis, dan mineralogi. Dengan ketertarikannya, Freud juga mengikuti kuliah Biologi dan Darwinisme yang diampu oleh zoologis terkenal, Claus dan satu lagi kuliah Brucke ‘Fisiologi suara dan ucapan’. Itulah pertama kalinya dia melihat Bruke yang terkenal, yang kemudian menjadi orang yang sangat penting baginya. Itulah gambaran tahun pertamanya.

Dalam semester musim dingin ( 1874-1875), Freud sebagai mahasiswa kedokteran masih menghabiskan dua puluh delapan jam seminggu untuk pembenahan anatomi, fisika, fisiologi (oleh Brucke) dan zoologi bagi mahasiswa kedokteraan (oleh Claus ). Seminggu sekali, dia mengambil filsafat pada seminar Brentano. Mengikuti kuliah filsafat selama 3 tahun menjadi kewajiban bagi mahasiswa kedokteran Universitas Wina sejak 1804, tapi kemudian tersebut dihapus setelah tahun 1872.

Pada semester keempatnya, pada musim panas 1875, kita akan melihat Freud lebih bebas dalam menentukan kehidupannya. Dia mengikuti kuliah zoologi yang sebenarnya ( 15 jam seminggu ), bukan hanya zoologi bagi mahasiswa kedokteraan. Dia mengambil dua kelas fisika, lebih banyak dari kurikulum yang disyaratkan. Dia melanjutkan dengan seminar filsafat dan mengikuti kuliah Brentano, pada logika Aristoteles. 11 jam seminggu digunakannya untuk mengikuti kuliah fisiologi Brucke.

Keingin tahuannya terhadap biologi semakin terlihat pada semester-semester berikutnya, ketika dia menghabiskan 10 jam seminggu untuk mengikuti praktikum zoologi dalam laboratorium Claus. Anatomi dan fisiologi menghabiskan banyak waktunya, tapi Freud tetap mengikuti seminar Brentaco seminggu sekali.

Pada tahun 1876 ia memulai riset pertamanya, studi tentang struktur kelenjar kelamin belut. Walaupun dengan banyak interupsi pendek, tidak lama setelah itu ia masuk laboratorium fisiologis Ernest Brucke untuk bekerja di sana dalam kurun antara 1876 sampai 1882. Brucke, ia menemukan “tempat beristirahat dan kepuasan” dan bertemu ilmuwan-ilmuwan “yang pantas saya hormati dan saya jadikan model”. Ia sangat menghormati Brucke. Freud tidak terlalu mempedulikan studi kedokterannya.

Selama periode ini Freud terutama memfokuskan pekerjaan yang berkaitan dengan histologi sel-sel saraf. Selama menjadi mahasiswa 2,5 tahun, dia memulai banyak penelitian orisinalnya. Ini merupakan anjuran dari Profesor Claus. Carl Claus, Kepala instituti Perbandingan Anatomi, datang dari Gottingen ke Wina selama 2 tahun yang lalu, dengan tugas untuk membawa departemen zoologi ke tingkat yang lebih modern. Dia terutama sangat tertarik dengan zoologi kelautan dan pada tahun 1875, dia mendapatkan kebebasan untuk mendirikan Stasiun Percobaan Zoologi di Trieste, dari sekian banyak sumbangannya ke dunia. Ada dana khusus untuk mengirim beberapa mahasiswa ke Trieste selama beberapa minggu untuk studi dan penelitian 2 kali dalam setahun. Salah satu mahasiswa yang mendapatkan bantuan ini adalah Freud, sangat terlihat bahwa dosennya telah mengajarnya dengan sangat baik. Sebuah perjalanan ilmiah ke laut Adriatik dapat dilakukan kapan-kapan, tapi beasiswa tersebut merupakan satu kehormatan. Ini juga merupakan pengetahuan pertama Freud melihat kebudayaan selatan, sebagaimana juga ini merupakan usaha penelitian ilmiahnya yang pertama.

Pada musim panas anatara dua kunjungan beasiswa ke Trieste, dia berkonsentrasi pada biologi. Dia menghadiri 15 kuliah seminggu pada zoologi dan hanya 11 mata kuliah pada bidang lain, sebagai tambahan, dia juga mengambil 3 mata kuliah logika Aristoteles oleh Brentano. Pada fisiologi, Freud bertemu pertama kalinya dengan Exner dan Fleischl, figur-figur penting baginya kelak, dan terdapat beberapa kuliah mengenai analisis spektrum dan fisiologi tumbuhan.

Tugas yang masih memusingkannya adalah masalah yang memusingkan ssemua orang sejak zaman Aristoteles. Struktur gonadik belut belum pernah ditemukan. Sebagaimana yang ditulisnya, ‘belum pernah seorangpun menemukan seekor belut jantan dewasa-tak seorangpun yang pernah melihat testis belut, dari sekian banyak penelitian selama berabad-abad.’ Masalah tersebut kemudian dipecahkan dengan adanya migrasi belut yang luar biasa sebelum masa kawin. Pada tahun 1874, Syrski di Trieste menggambarkan semacam organ cuping kecil dan menganggapnya itu adalah testis belut yang tidak pernah ditemukan. Maka segera dilakukan penelitian, dan inilah penelitian yang dilakukan Freud. Secara keseluruhan, Freud membedah sekitar 400 belut dan dia menemukan banyak organ ‘Syrski’ di banyak belut-belut tersebut. Pada penelitian mikroskopis, Freud menemukan struktru histologis bahwa ini mungkin merupakan sebuah organ testis yang belum dewasa, meski tidak ada bukti-bukti lanjutan yang menyokong pendapat tersebut. Meski begitu, makalahnya merupakan serangkaian makalah pertama yang mendukung Syrski.

Pada saat itu tidak seorangpun yang dapat melakukan hal yang lebih baik, tapi Freud tetap tidak puas dengan kesimpulannya yang belum final tersebut. Seorang penelitian muda tentu saja mengharapkan penemuan yang brilian dan orisinal dapat dilakukan .

Kita akan melihat masa kuliah tiga tahunnya, sebuah tanggal dimana Freud kemudian mengeluarkan komentar sebagai berikut: “Selama tiga tahun pertama kuliahku di Universitas aku dipaksa untuk membuat penemuan bahwa kejanggalan dan keterbatasan sumbanganku ditolak oleh banyak departemen ilmiah, hingga membuat darah mudaku naik. Maka ini adalah pelajaran untuk merenungi kebenaran kata-kata Mephistopheles: “ adalah kesia-siaan ketika bergerak dari satu ilmu ke ilmu lainnya ; tiap manusia mempelajari hanya apa yang bisa ia pelajari.” Pada laboratorium fisiologi aku menemukan kepuasan dan orang-orang yang aku respek dan aku ambil sebagai panutan; Brucke sendiri tentu saja, dan para asistennya Sigmund Exner dan Ernst von Fleischl-Marxow.’

Freud selalu bicara tentang respek dan kekagumannya terhadap otoritas Brucke, yang sedikit diwarnai dengan keterpesonaan. Sebuah teguran Brucke karena terlambat suatu hari, ketika mahasiswa ‘diliput oleh tatapan mengerikan Brucke’, masih diingat bertahun-tahun kemudian, dan citra mata biru Brucke yang tajam selalu membayangi kehidupan Freud, terutama ketika dia lalai atau mengerjainkan sesuatu dengan tidak benar.

Freud selama hidupnya selalu mempunyai loyalitas tak tergoyahkan terhadap aspek-aspek ilmiah yang menunjukkan idealitas dari integritas intelektual, terhadap kebenaran yang dapat ia lihat. Tapi aspek keilmuan lainnya, kepastian yang membosankan, tidak berjalan dengan baik. Terikat dengan kepastian dan pengukuran yang persis bukanlah sifat aslinya. Sebaliknya, itu terkonflik dengan kecenderungan-kecenderungan revolusioner yang akan menghancurkan ikatan-ikatan konvensi dan penerimaan definisi-definisi, dan suatu hari pasti akan terjadi. Selama sepuluh tahun berikutnya, kecenderungan-kecenderungan seperti itu masih terkatung-katung, dan dia melakukan semua usaha untuk memperoleh ‘displin ilmiah’ guna mengekang apa yang dia rasa masih kabur. Freud merupakan seorang mahasiswa yang bagus, melakukan banyak penelitian bermanfaat, tapi displin yang diperolehnya mengorbankan banyak cita-cita kegagahan keberanian dan imajinasi-imajinasi masa kecilnya.

Brucke sendiri merupakan contoh yang sempurna mengenai ilmuwan displin yang Freud merasa harus seperti itulah dia menjadi. Sebagai awalnya, dia adalah seorang Jerman, bukan Austria, dan kualitasnya sangatlah berbeda dengan para Schlamperei Wina, yang Freud sudah terlalu familiar dengan tipe orang seperti itu, dan karena dia, padda dasarnya merasa enggan bergaul, yang mungkin bercampur dengan sedikit simpati.

Institut Brucke merupakan salah satu institut yang disegani dalam pergerakan keilmuan modern, reputasinya dapat dibandingkan dengan aliran kedokteran Helmholtz. Cerita menakjubkan mengenai aliran keilmuan ini dimulai pada pertengahan abad ke 9 dengan hubungan pertemanan antara Emil Du Bois-Raymond (1818-1893) dan Ernst Brucke (1819-1892), yang kemudian bergabung dengan Hermann Helmholtz (1821-1894) dan Carl Ludwig (1816-1895). Dari awalnya kelompok ini digerakkan oleh semangat kampanye keilmuan. Pada tahun 1842 Du Bois menulis ‘Brucke dan aku bersumpah untuk melaksanakan kebenaran ini, “tidak ada gaya lain yang aktif dalam organisme selain gaya fisis-kimiawi umum. Pada kasus-kasus yang tidak bisa dijelaskan oleh gaya-gaya ini pada saat itu, pasti akan dapat dijelaskan oleh sebuah cara khusus atau dalam bentuk penyelesaian fisis-matematis atau berasumsi ada gaya-gaya baru yang setara dengan gaya-gaya fisis-kimiawi, yang dapat direduksi pada tarik-menarik dan gaya tolak.”

Dalam jangka 25 tahun hingga 30 tahun, aliran ini mendominasi penuh terhadap pemikiran fisiologi dan pengajar-pengajar kedokteran Jerman, memberikan stimulus ilmiah dimana-mana, serta memecahkan beberapa masalah klasik yang sulit dipecahkan.

Brucke yang secara jenaka dijuluki ‘duta kita di Timur Jauh’ pada tahun 1874 menerbitkan buku Lectures on Physiology. Salah satu tulisan yang menarik minat Freud, yang masih mahasiswa, adalah abstraksi dari halaman Pendahuluan,

Fisiologi adalah ilmu mengenai organisme sebagaimana adanya. Organisme berbeda dengan entitas benda mati yang sedang bekerja-mesin-dalam kepemilikan kemampuan untuk asimilasi, tapi mereka semua merupakan fenomena dunia fisik, sistem atom, digerakkan oleh gaya, sesuai dengan prinsip konservasi energi yang ditemukan oleh Robert Mayer pada tahun 1842, dinafikan selama 20 tahun, baru kemudian dipopulerkan oleh Helmholtz. Jumlah gaya (gaya gerak dan gaya potensial ) selalu konstan dalam tiap sistem yang terisolasi. Penyebab sebenarnya disimbolkan dalam dunia ilmiah dengan kata ‘gaya’. Semakin sedikit yang kita ketahui tentangnya, semakin banyak gaya yang dapat kita bedakan: mekanis, elektris, gaya-gaya magnetis, cahaya, panas. Kemajuan pengetahuan membaginya menjadi 2 gaya tarik dan gaya tolak. Kesemua gaya ini bekerja juga pada organisme manusia.

Brucke kemudian memberikan ulasan dan penjelasan rumit dalam dua volume bukunya mengenai apa yang disebut dengan transformasi dan saling mempengaruhi gaya-gaya fisik pada organisme hidup. Spirit dan isi kuliah-kuliah ini berhubungan sangat erar dengan kata-kata Freud, yang digunakannya untuk menggambarkan aspek dinamis psikoanalisis, ‘gaya-gaya membantu atau menghambat satu sama lainnya, berkombinasi satu dengan yang lainnya, berkompromi satu dengan yang lainnya, dan seterusnya.’

Satu hal yang sangat erat berhubungan dengan aspek dinamis fisiologi Brucke adalah orientasi evolusinya. Bukan hanya organisme merupakan satu bagian dari dunia fisik, tapi dunia organisme itu sendiri merupakan satu keluarga. Perbedaan yang nyata merupakan hasil dari perkembangan yang berbeda-beda, yang dimulai dari organisme satu sel. Ini juga mencakup tanaman, hewan tingkat rendah dan tingkat tinggi, seperti juga manusia dari sekelompok manusia purba hingga ke puncak peradaban masyarakat Barat sekarang ini. Dalam evolusi kehidupan, tidak ada spirit, esensi, tidak ada kehendak superior atau tujuan atau tujuan ultimat yang bekerja. Energi-energi fisik menyebabkan efek sebab bagaimanapun Darwin telah menunjukkan harapan bahwa suatu saat dia akan mengetahui beberapa pengetahuan konkret mengenai “bagaimana” evolusi itu terjadi. Pada orang yang antusias meyakinkan Darwin bahwa dia telah menunjukkan lebih dari itu-faktanya dia telah menceritakan semua cerita. Sedangkan paa skeptis dan para pendukung teori berkelahi satu sama lain, para peneliti aktif sedang sibuk meneliti pohon taksonomi organismenya, mendekatkan jarak, menyusun kembali sistem taksonomi tumbuhan dan hewan sesuai dengan hubungan genetis, menemukan rangkaian transformasi, menemukan hal-hal yang sama dalam organisme yang ( tampaknya ) berbeda, kemudian mengelompokkannya.

Kepribadian Brucke adalah kepribadian yang keras, idealisme tanpa kompromi dan karakteristiknya mirip seorang petapa dari aliran Helmholtz. Dia orang yang kecil dengan kepala yang besar dan mengesankan, cara berjalan yang stabil, dan tenang, setiap tindakan terkontrol, berbibir kecil, dengan tatapan mata biru tajam yang terkenal itu dan sedikit pemalu tapi juga seorang yang keras dan pendiam. Seorang Protestan yang taat dengan logat Prusia yang kental, sangat tidak cocok dengan karakteristik dengan orang-orang Katolik Wina yang nyantai, tampak seperti orang dari dunia lain yang kaku. Seorang pekerja yang tidak kenal lelah dan berhati-hati, dia menerapkan standar yang sama terhadap para asistennya dan mahasiswanya. Ada sebuah cerita yang menarik tentangnya. Salah seorang mahasiswanya yang mengerjakan makalah yang dimintanya menulis ‘pengamatan yang kurang dalam menunjukkan…’ keesokan harinya makalah mahasiswa tersebut dengan coretan yang mencolok pada kalimat tersebut dan diberi komentar: ‘tidak ada gunanya penelitian secara kurang mendalam’. Dia merupakan salah satu seorang penguji yang ditakuti. Jika peserta ujian tidak dapat menjawab pertanyaan-pertamanya, Brucke duduk diluar ruangan, diam dan bening, tidak mau mendengar dalih dari peserta ujian dan meski Dekan Fakultas juga hadir disana. Opini umum menyebutkannya sebagai seorang pria dingin dan benar-benar rasional. Tak seorangpun mahasiswa ataupun teman-temannya pernah meragukannya.

Sering kali dianggap bahwa teori-teori psikologi Freud mencul dari pertemuan-pertemuan dengan Charcot atau Breuer atau bahkan terakhir-terakhir lagi. Sebaliknya, dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip yang mengonstruksikan teori-teorinya didapat semasa masih menjadi mahasiswa kedokteran dibawah pengaruh Brucke. Emansipasi dari pengaruh tersebut tidak berupa prinsip-prinsip jadi melainkan dalam menjadikan mampu untuk menerapkan secara empiris fenomena mental, yang diperolehnya ketika membedah antomi-anatomi organis. Ini memang membutuhkan perjuangan keras, tapi kegeniusannya dihasilkan dari keberhasilan-keberhasilan dari beberapap perjuangan keras.

Brucke tentu akan terkejut, ketika mengetahui bahwa salah satu mahasiswa kesayangannya, kemudian dalam teori tentang pikirannya yang terkenal, memasukkan ide-ide mengenai ‘kegunaan’, ‘maksud’ dan ‘tujuan’, ide-ide yang telah lama dianggap tidak berarti. Kita tahu ketika Freud membawa kembali ide-ide tersebut, dia telah mempu untuk mendamaikannya dengan prinsip-prinsip yang dia bawa, dia tidak pernah menyerahkan determinisme untuk teleologi.

Pada musim gugur, setelah perjalanannya yang kedua ke Trieste dan tetap berkutat dengan penelitian zoologi-nya, Freud diterima di Institut Fisiologi pada umur 20 tahun sebagai famulus, sejenis mahasiswa penerima beasiswa. Tempat Institut terkenal tersebut yang kumuh sama sekali tidak sesuai dengan pencapaian ilmiahnya yang mengagumkan. Secara menyedihkan, Institut tersebut menempati lantai dasar dan bawah tanah yang gelap dan bau, bekas pabrik senjata yang tua. Institut tersebut terdiri dari sebuah ruang luas di mana para mahasiswa menyimpan mikroskop dan tempat perkuliahan, serta dua ruangan yang lebih kecil, salah satunya merupakan ruang kerja Brucke. Dalam kedua lantai tersebut juga terdapat beberapa ruang kecil, beberapa diantaranya tak berjendela yang berfungsi sebagai laboratorium kimia, elektro-fisiologi, dan optik. Tidak ada suplai air, tidak ada gas, dan tentu saja tidak ada aliran listrik. Semua pemanasan dilakukan dengan lampu ublik, dan air diperoleh dari sebuah sumur di halaman, dimana terdapat sebuah kandang tempat para binatang percobaab ditempatkan. Meskipun demikian, institut ini merupakan sebuah sekolah kedokteran yang sangat terkenal dan membanggakan dengan sejumlah mahasiswa dan pengunjung dari manca nergara.

Meskipun Brucke lebih suka agar mahasiswa sendiri yang menentukan proyek penelitiannya, dia juga siap untuk memformulasikan sebuah permasalahan bagi para pemula yang malu-malu atau masih kabur untuk melakukannya sendiri. Brucke juga yang mengarahkan Freud untuk mempelajari histologi sel-sel saraf. Bersamaan dengan penelitian-penelitian mengenai masalah-masalah struktur terdalam saraf, muncul pertanyaan menarik: apakah sistem saraf pada hewan-hewan tingkat tinggi sama dengan hewan-hewan tingkat rendah, atau apakah sistem saraf pada kedua jenis hewan tersebut sama. Topik penelitian seperti ini merupakan hal yang cukup kontroversial pada masa itu. Implikasi-implikasi agama dan filosofi pasti tidak akan sepakat dengan hal tersebut. Jika berbeda, apakah perbedaannya Cuma masalah tingkat kerumitannya saja ? Apakah pikiran manusia berbeda denga beberapa moluska-tidak secara dasarnya, tapi berhubungan dengan jumlah sel-sel saraf di keduanya dan kerumitan dari serabut masing-masing ? Para ilmuwan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan harapan untuk memperoleh keputusan definitif mengenai; dengan satu cara atau yang lainnya; pada hakikat manusia keberadaan Tuhan, serta tujuan hidup.

Dari luas dan banyaknya penelitian, masalah yang paling menarik adalah masalah yang disodorkan Brucke terhadap Freud. Pada tulang belakang Amoecetes (Petromyzon), genus ikan dari jenis Cyclosmatae purba Reisnerr menemukan sejenis sel besar yang ganjil. Sifat dari sel-sel ini dan hubungannya dengan sistem tulang belakang belum banyak diketahui meski telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahuinya Brucke mengharapkan agar histologi sel-sel ini dapat dijelaskan. Dibantu oleh berkembangannya teknik-teknik penelitian, penelitian Freud menyatakan bahwa sel-sel Reisnerr ini ‘tak lain dari simpul saraf tulang belakang yang, pada vertebrata-vertebrata tingkat rendah, merupakan perpindahan embrio pembuluh saraf ke periferi yang belum sempurna, prosesnya tetap berlangsung dalam tulang belakang. Sel-sel yang menyebar ini merupakan tanda mengenai bagaimana evolusi simpul tulang belakang hingga menjadi sempurna.’ Penyelesaian masalah sel Reisnerr merupakan simbol kemenangan penelitian eksak dan interprestasi genetis—satu dari ratusan ribuan pencapaian-pencapaian kecil seperti itu yang menjadikan kesepakatan mengenai evolusi seluruh organisme— di antara para ilmuwan.

Tapi apa yang sebenarnya merupakan penemuan baru adalah bahwa sistem saraf hewan-hewan tingkat rendah menunjukkan sebuah kontinuitas dengan hewan-hewan tingkat tinggi, dan perbedaan tajam yang selama ini diasumsikan menjadi gugur.

Freud membuat penemuan besar dari Petromyzon: ‘sel-sel simpul saraf tulang belakang ikan telah lama diketahui bipolar ( mempunyai dua proses ), sedangkan untuk vertebrata tingkat tinggi adalah unipolar’. Perbedaan antara binatang tingkat tinggi dan rendah ini oleh Freud ditiadakan. Sel saraf Petromyzon menunjukkan bahwa semua perpindahan dari unipolar menuju bipolar juga terjadi pada bipolar yang T-branching (pencabangan T). Dengan adanya tulisan ini dapat dipastikan, semua ahli kehewanan akan senang dengan adanya temuan ini. Brucke mempresentaikan di fakultas pada Juli 1878, dan bulan berikutnya diterbitkan di Bulletin sepanjang 86 halaman.

Problem umum yang sama lainnya merupakan tujuan penelitian Freud berikutnya, yang kali ini merupakan pilihannya sendiri pada musim panas tahun 1879 dan 1881. Kali ini objek penelitian adalah sel saraf udang karang. Disini dia menguji jaringan otot hidup secara mikroskopis, menggunakan lensa Harnacck no.8— sebuah teknik yang waktu itu diketahui—dan dia berhasil membuat kesimpulan pasti bahwa poros silinder dari serabut saraf tidak mempunyai perkecualian dalam strukturnya. Dia adalah orang pertama yang menunjukkan bagian mendasar ini. Dia juga mengenali bahwa pusat saraf terdiri dari dua subtansi, yaitu satu tampak seperti jaring dan asal mula dari proses saraf. Pada makalah-makalah penelitian terdahulunya, Freud membatasi dirinya secara ketat pada sudut pandang anatomi, meski secara jelas tampak penelitiannya mengarah pada pengungkapan misteri cara kerja saraf. Hanya sekali dalam sebuah kuliah tahun 1882 (atau 1883) bertema “struktur elemen sistem saraf” dimana dia menyimpulkan penelitian selama ini, dia melakukan spekulasi terhadap histologi dalam satu paragraf.

Jika kita mengasumsikan bahwa serabut-serabut saraf mempunyai signifikansi sifat konduksi terisolasi, maka kita harus mengatakan bahwa signifikansi sifat konduksi terisolasi, maka kita harus mengatakan bahwa jejak-jejak saraf terpisah adalah konfluen pada sel saraf, kemudian sel saraf menjadi ‘awal’ dari semua serabut saraf yang terhubung secara otomatis. Aku melampaui batas-batas yang kutetapkan dalam makalah ini guna mengemukakan fakta-fakta yang mendukung validitas asumsi ini, aku tidak tahu juga material yang ada telah memadai untuk menyelesaikan masalah ini yang mana sangat penting bagi fisiologi. Jika asumsi ini terbukti benar, maka kita akan dapat melangkah lebih jauh dalam fisiologi elemen-elemen saraf: kita dapat membayangkan bahwa semua stimulus tertentu yang kuat dapat memecah isolasi serabut sehingga sistem saraf tersebut menjadi sebuah unit yang mengarah ke kegembiraan dan sebagainya.

Konsepsi integra; sel-sel dan proses-proses saraf ini— inti dari teori saraf modern—merupakan hasil kerja Freud sendiri dan tidak tampak ada bantuan apapun dari para pengajarnya di Institut. Dalam kalimatnya di atas terdapat sebuah keberanian pemikiran sekaligus juga sebuah kehati-hatian penyajian makalah; dia tidak membuat klaim nyata. Tapi dua tanggapan muncul. Kuliah, saat dia memberikan pernyataan tersebut, diberikan empat atau lima tahun kemudian setelah dia melakukan penelitiannya, yang menunjukkan lamanya waktu perenungan. Kemudian, setelah lama perenungan, seorang akan berpikiran bahwa sedikit keberanian dan kebebasan imajinasi yang sering dia tunjukkan kelak tidak banyak membuat terobosan baginya, karena dia gemetar dan tak berani meneruskan ketika berada di tepian teori sarafnya sendiri, yang mana merupakan dasar dari ilmu saraf modern. Dia rupakan masih belum paham bahwa untuk memperoleh ‘displin’ dalam kerja ilmiah orisinal juga dibutuhkan ruang bagi berkembangnya imajinasi.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang pantas dicatat dari kalimat-kalimat sebelumnya, sehingga nama Freud tidak tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pionir teori saraf modern. Terdapat banyak pionir semacam itu, yang paling terkenal adalah penelitian Wilhelm His dengan kajian embriologisnya mengenai asal mula sel-sel saraf, August Forel dengan observasinya mengenai degenerasi Wallerian setelah terjadinya luka pada bagian-bagian serabut saraf, dan Ramon y Cajal dengan penelitiannya yang mengagumkan menggunakan peresepan perak Golgi. Yang menjadi akhir dari pendirian teori saraf modern adalah monograf komprehensif dari Waldeyer pada tahun 1891, dimana pertama kalinya kata ‘neurone’ digunakan. Itu bukan saat satu-satunya Freud melewatkan kesempatan untuk menjadi terkenal di masa-masa awal kehidupannya dengan tidak berani melanjutkan pemikirannya ke dalam sebuah kesimpulan logis.

Karakteristik ilmuwan orsinal lain, bagaimanapun juga, telah dia tunjukkan. Kemajuan ilmiah sering kali ditandai dari penemuan beberapa metode atau instrumen baru, yang kemudian memunculkan sebuah fakta baru. Astronomi misalnya, hampir telah mencapai kebuntuan sebelum ditemukan teleskop, yang kemudian membuat jangkauan astronomi meluas kembali. Demikian pula dengan histologi, penelitian-penelitian histologis sangat terbantu oleh teknik yang ditemukan oleh Freud pada tahun 1877, sejenak setelah memasuki Institut. Teknik ini merupakan modifikasi dari formula Reichert, sebuah senyawa campuran dari asam nitrat dan glyceriner, guna menyiapkan jaringan saraf dan penelitian mikroskopis. Freud menggunakannya pertama kali ketika meneliti tentanf sel-sel spinal Petromyzon.

Beberapa tahun kemudian dia menemukan teknik baru lagi—metode klorida emas untuk mewarnai jaringan saraf—tapi kedua teknik tersebut tak pernah digunakan diluar institut Wina. Dia pastilah seorang teknisi yang ahli, karena dalam penelitian mengenai jaringan saraf udang karang, dia bicara mengenai penelitian khusus mengenai materialnya secara in vivo, sebuah metode teknis yang cukup rumit; metode tersebut dipelajarinya dari Stricker. Secara kebetulan, seseorang menyebutkan bahwa dia menggambar dirinya sendiri sebagai ilustrasi untuk publikasinya terhadap Petromyzon, satu di yang metode yang pertama dan empat di metode yang kedua.

Freud membuktikan fakta bahwa kemajuaan lebih lanjut dalam ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan metode atau bahkan metode yang baru sama sekali. Setelah fakta-fakta baru ditemukan, kemudian diikuti oleh mengolah data-data baru dan teori-teori yang lama. Teori tersebut kemudian menjadi titik pijak untuk melakukan spekulasi, sebuah jawaban kira-kira dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dan melampaui arti penelitian yang ada. Sangatlah jarang dan sukar bagi seseorang untuk dapat sukses bersamaan dalam fase-fase pengembangan ini. Teori psikoanalisis Freud merupakan sebuah contoh dari kasus yang jarang ini. Dia menemukan instrumennya, menggunakannya untuk menemukan banyak fakta-fakta baru, mengolah teorinya, dan melakukan spekulasi—yang melampaui fakta-fakta yang telah diketahui.

Penelitian-penelitian neurologis Freud selalu mengarah pada anatominya. Mikroskop menjadis satu-satunya alat baginya. Fisiologi, baginya, menjadi histologi, dan bukannya eksperimentasi; yang berarti statis, tidak dinamis. Hal ini sekilas tampaknya janggal bagi seorang yang berpikir aktif seperti Freud, tapi jika dilihat lebih dalam justru menunjukkan sesuatu yang sangat signifikan dari sifatnya. Ketika dia bertanya pertama kalinya ke Brucke mengenai permasalahan dari tugas histologi yang dibebankan kepadanya. Dapatkah kepatuhan— atau perasaan inferior—menafsirkan ini sebagai sesuatu yang terasing pada sebuah lingkup inferior, dimana itu merupakan tugasnya untuk tetap menjalankannya, meninggalkan eksperimen lebih tinggi untuk ketiga profesornya, hanya untuk “tumbuh”? mungkin ya, tapi mengenai sikapnya ini seseorang dapat merasakan sesuatu yang lebih dalam dan tinggi pada karakteristik kepribadiannya.

Terdapat dua sisi preferensi ini yang secara pasif melihat tindakan yang aktif, sebuah ketertarikan ke yang satu, dan keengganan terhadap yang lain. Keduanya hadir secara bersamaan. Mengenai hal yang pertama sangat jelas sekali terlihat. Adapun mengenai sifat yang kedua terlihat pada surat yang ia tulis pada seorang temannya. Wilhelm Knopfmacher, pada tahun 1878. Adapun tulisannya sebagai berikut,

“Aku telah pindah ke laboratorium yang lainnya dan menyiapkan diri untuk profesi yang benar-benar aku pilih—membedah-bedah hewan ataupun ‘menyiksa’ manusia—dan aku memutuskan untuk memilih pilihan yang pertama.” Dia adalah orang terakhir yang dapat mengizinkan dirinya menjadi brutal atau kejam dan dia—di saat bersamaan— sangat enggan untuk mencampuri urusan orang lain, atau memaksakan pengaruhnya kepada orang lain. Ketika kelak menangani banyak pasien neurotis—yang waktu itu memakai metode yang kejam seperti penyetruman, pencelupan ke air—dia segera memutuskan untuk meninggalkan metode-metode tersebut. Dia juga meninggalkan metode hipnosa, karena dirasanya itu merupakan sebuah ‘metode yang sangat kasar mempengaruhi’. Kemudian dia memilih untuk melihat dan mendengar, oercaya bahwa dia dapat menangkap struktur neurosis yang dapat dia pahami, serta mempunyai kekuatan untuk menanganinya. Pierre Janet, yang secara salah kaprah dianggap sebagai pendahulu Freud, mengadopsi metode alternatif dari pendekatan ini di tahun 1980-an. Dia melakukan beberapa percobaan yang bagus dan juga menemukan beberapa kesimpulan yang bagus pula. Tapi penelitian yang dilakukan Pierre Janet tidak bersifat aktif, melainkan pasif.

Pada musim panas 1879, Freud mengikuti wajib militer. Pada masa itu, kewajiban wajib militer bagi mahasiswa kedokteran tidaklah seberat sekarang. Mereka cukup tinggal di rumah dan tidak punya kewajiban apa-apa, selain berjaga di rumah sakit. Hal yang paling berat justru adalah rasa bosan; itulah mungkin kenapa beberapa tahun kemudian wajib militer bagi mahasiswa kedokteran selalu didahului oleh pelatihan militer dasar selama 6 bulan. Freud merayakan ulang tahunnya ke 24 dalam tahanan ( 6 Mei 1880 ) dia ditahan karena desersi. Dia 5 tahun lagi kelak akan makan malam dengan Jendral Podratzsky; jendral yang menghukumnya dulu. Tapi Freud sama sekali tak menaruh dendam padanya, semenjak dia mengakui kegagalannya dalam 8 kunjungan berturut-turut.

Pada awal-awal tahun, untuk membunuh rasa bosannya, Freud menerjemahkan buku karya John Stuart Mill, jilid pertama dari lima jilid buku yang tebal-tebal. Ini merupakan sebuah karya yang menyenangkan, karena sepertinya Freud mempunyai bakat sebagai penerjemah. Alih-alih menerjemahkan kata-perkata, Freuf lebih suka membacanya, kemudian menutup bukunya dan membayangkan bagaimana seorang penulis Jerman dengan pikiran yang sama dalam buku itu—menuliskannya sebuah metode yang tak umum bagi seorang penerjemah. Hasil terjemahannya sangat cepat dan mutunya pun bagus. Ini merupakan satu-satunya karya, baik karya asli maupun terjemahann, yang tidak ada hubungan dengan ketertarikan ilmiahnya, dan meskipun isi bukunya tercermin lewat dirinya, tak diragukan lagi kalau motif utamanya adalah untuk membunuh waktu, sekaligus mencari tambahan uang.

Tapi dari karya-karya Mill membahas mengenai masalah-masalah sosial seputar perburuhan, hak suara wanita, dan sosialisme. Dalam kata pengantarnta, Mill mengatakan bahwa yang paling banyak memberikan kontribusi adalah istrinya. Yang keempat, oleh Mill sendiri adalah karya Grote Plato. Freud bertahun-tahun kemudian ( 1933), menyatakan bahwa pengetahuannya mengenai filsafat Plato masih sepotong-potong, dan dia mendapatkan banyak pengetahuan mengenai filsafat Plato justru dari karya Mill. Freud juga menambahkan bahwa dia sangat tertarik dengan teori Plato mengenai ingatan tersebut. Kelak, Freud banyak menambahkan beberapa poin teori Plato dalam bukunya, Beyond the Pleasure Principle.

Adapun penelitian-penelitian yang dilakukan Freud adalah sebagian kecil dari hal-hal yang dilakukannya. Freud juga mempelajari ilmu kedokteran, patologi, pembedahan dan sebagainya. Dalam bidang-bidang yang lain ini, Freud memiliki banyak guru yang memberikannya inspirasi. Sebagian di antaranya seperti Bilroth, ahli bedah, Hebra, ahli dermatologi dan Arlt ahli pengobatan mata adalah orang-orang terkenal yang mampu menarik mahasiswa-mahasiswa yang antusias. Mereka memberi lebih dari sekedar pengetahuan tentang pengobatan kontemporer ; mereka merupakan inovator-inovator yang brilian dan dapat menjadi stimulus bagi mahasiswa-mahasiswa untuk mengembangkan semangat keilmuannya. Terhadap Bilroth adalah benar kalau dia menyimpan satu kekaguman. Satu-satunya kuliah yang ia rasakan menarik adalah kuliah Meynert tentang psikiater satu bidang yang tampaknya sangat baru baginya .

Pada tanggal 30 maret 1881, freud berhasil lulus dari ujian medisnya dengan status ‘excellent’. Hasil ini, menurut Freud adalah berkat dari ingatan fotografisnya, meski secara bertahap ingatan tersebut tak bisa lagi diandalkan. Freud tak pernah menyiapkan diri secara khusus untuk ujian, tapi ‘untuk kasus ujian akhir dia harus menggunakan sisa kemampuan ini (fotografis), dimana untuk subjek-subjek tertentu dia menjawab persis sama dengan yang tercetak dibuku daras’. Upacara wisuda dilakukan di aula indah pada bangunan lama Universitar yang bergaya barok. Tidak hanya keluarga Freud saja yang menghadiri wisuda, tetapi juga Richard Fluss bersama orang tuanya yang hadir, yang merupakan teman masa kecilnya di Freiberg, Moravia.

Kelulusan ini bukanlah sebuah titik balik dari kehidupan Freud, dan bahkan bukan pada kejadian itu sendiri yang paling penting. Itu lebih merupakan sebuah hal yang telah selesai dalam sebuah kejadian, dan sekarang dia tidak lagi dapat dianggap sebagai anak kecil. Tapi tetap dia bekerja di Institut Brucke, tempat kerja yang nanti (dia) pada suatu saat akan membawanya menjadi Kepala Jurusan Fisiologi. Akan tetapi harapan tersebut ternyata berantakan dalam waktu yang tak lebih dari satu tahun kemudian.

Tahun-tahun yang ia habiskan di laboratorium Brucke sama sekali tidak menjanjikan untuk kehidupan masa depannya, sementara itu pola hidupnya sendiri membutuhkan hal itu. Dia harus mencari pekerjaan lain jika ingin mendapatkan penghasilan yang menjanjikan, dan satu-satunya kemungkinan terbesar adalah bekerja menjadi dokter. Tapi dia harus mengesampingkannya sedapat mungkin dan haruslah mempunyai alasan yang benar-benar kuat untuk melakukannya. Setidaknya terdapat dua alasan. Yang pertama adalah keenggannya terhadap praktik-praktik kedokteran. Hal ini tidak berasal dari satu sumber saja. Dia mungkin saha merasa bahwa kerjanya itu sendiri mungkin menarik, tapi yang lebih penting baginya adalah kerja-kerja penelitian; tidak hanya praktek saja. Freud sangat tergerak untuk menemukan sesuatu yang baru dan memberikan sumbangan penting terhadap pengetahuan —ini mungkin dapat dianggap sebagai motifnya yang paling utama.

Maka dia memutuskan untuk terus melanjutkan penelitian yang bagian paling cocok sejauh ia mampu; dia mendapatkan pemasukan yang pertama dari keinginan ayahnya untuk mendorong putranya, dan jika tak memungkinkan, oleh teman-temannya. Pada saat yang bersamaan, dia juga melanjutkan kuliah regular kedokterannta dab akhirnya memutuskan pada Maret 1881, untuk lulus ujian kualifikasi. Tak ragu lagi keterlambatan 3 tahun ini disebabkan oleh karena dia menyalahkan diri sendiri— yang justru membawanya untuk menghadapi masalah-masalah yang lebih mendasar.

Ujian kualifikasi medis sepertinya terlihat tidak ada pembedaan. Freud terus melanjutkan kerjanya selama 15 bulan sebelum masuk di Institut Fisiologi, sekarang memutuskan untuk mencurahkan segenap waktunya untuk itu. 2 bulan kemudian dia di promosika menjadi Demonstrator, yang juga mempunyai tanggung jawab mengajar; dia memegang jabatan ini dari mei 1881 hingga juli 1882.

Berbekal penghargaan traveling fellowship Freud pergi ke paris, selama Oktober 1885 sampai Februari 1886, ia belajar di Salpatririere (rumah sakit untuk penyakit-penyakit saraf yang dipimpin Charcot). Ia sangat terkesan dengan investigasi Charcot tentang histeria, yang mengonfirmasi kebenaran fenomena histerik, termasuk kelumpuhan histerik, termasuk kelumpuhan histerik dan bangunan sugesti hipnotik. Pada 1886, Freud kembali ke Wina untuk menikahi Martha Bernays dan membuka praktik pribadi sebagai sebagai spesialis penyakit saraf.

Pada awal 1880-an, Freud menjalin persahabatan akrab dengan Joseph Breuer, seorang dokter Wina yang menonjol. Breuer bercerita kepadanya tentang bagaimana antara 1880-1882 ia berhasil menangani seorang anak perempuan yang memiliki gejala histeria. Metodenya adalah dengan menghipnotis anak secara mendalam dan setelah itu didorong mengekpresikan diri dengan mengatakan hal-hal dalam ingatan mengenai situasi-situasi emosi yang menekannya.

Selama tahun 1890-an peralihan dari katarsis ke psikoanalisis terjadi. Jones menulis, “ ada banyak sekali bukti bahwa selama berpuluh-puluh tahun- kira-kira tahun 1890-an- Freud mengalami psikoneuris yang sangat berat, namun selama tahun-tahun ketika neurisnya sedang memuncak, -sekitar 1987-1900-itulah Freud menghasilkan karya paling orisionalnya.

Selama periode 1887 sampai 1990 Freud menjalin pertemanan intens dengan Wilhems Fleis, seorang spesials hidung dan tenggorokan yang dua tahun lebih muda dibanding dirinya. Fleis melihat masalah seksual sebagai hal sentral dan mendorong Freud serta memberi izin untuk mengembangkan teori-teorinya. Jones mencatat ketergantungan Freud pada pendapat Fleis dan menyebutnya sebagai “publik tunggal” Freud. Jones menilai, padahal secara intelektual Fleiss jauh lebih rendah dibanding Freud.

Dengan latar belakang seperti ini, Freud mulai mengembangkan ide-idenya tentang dasar-dasar seksual neuris, walaupun meninggalkan hipnotisme, tetapi masih mempertahankan praktik yang mengharuskan pasiennya berbaring di sofa sementara ia duduk di belakang pasien. Selama tahun1897 sampai 1899, ia menulis hasil karya utamanya, The Interpretation of dream.pada musim panas 1889 Freud menjalani terapi psikoanalisis terhadap ketidaksadarannya sendiri, dan analisis terhadap diri sendiri ini menghasilkan bahan untuk buku tersebut. Freud menemukan nafsu masa kanak-kanaknya terhadap ibunya dan kecemburuannya terhadap ayahnya, yang dianggapnya sebagai karakteristik suka menentang pada diri manusia yang disebut Oedipus complex. Dibutuhkan waktu delapan tahun untuk menjual 600 kopi edisi pertama The Interpretation of Dream-nya. Jones melihat analisis yang dilakukan Freud terhadap dirinya sendiri dengan berkata “Akhir dari semua kerja keras dan penderitaan itu adalah fase terakhir dan sekaligus fase final dalam evolusi kepribadian Freud. Munculah seorang Freud yang tenang dan lunak, yang untuk selanjutnya menekuni pekerjaannya dengan bebas dan tenang dan lunak, yang untuk selanjutnya menekuni pekerjaannya dengan bebas dan tenang “. Namun demikian dalam biografi Fromm (1959) tidak sebaik itu. Ia mengatakan bahwa Freud terus menunjukan ketidakpastian dan egoisme, baik dalam kehidupan profesional maupun kehidupan pribadinya. Pada tahun 1905, Freud mempublikasikan hasil karya utama lainnya, Tree Contribution to the Theory of Sex, yang menelusuri perkembangan seksualitas sejak awal masa kanak-kanak.

Dalam studi autobiografisnya Freud melihat bahwa setelah periode katarsis pendahulunya, sejarah psikoanalisis dapat dibagi menjadi dua fase. Dari sekitar tahun 1895 sampai 1906 atau 1907 ia bekerja sendirian, namun setelah itu kontribusi murid-murid dan kolaboratornya semakin penting. Perkembangan historis selanjutnya menunjukan bahwa ide-ide Freud mulai ditinggalkan pada tahap ini.

Freud memiliki kebiasan merokok rata-rata 20 batang cerutu dan, pada tahun 1923, ia mengetahui bahwa dirinya mengidap penyaki kanker rahang. Ia menghabiskan hidupnya 16 tahun terkahir dalam kesakitan yang sering kali menyiksa, dan total 33 operasi sudah dilakukan pada rahangnya. Pada gempuran Nazi menyebabkan Freud meninggalkan Austria bersama keluarganya dan menetap di Inggris, sebuah negara yang dikaguminya, yang dikunjungi untuk pertama kali saat ia berumur 19 tahun. Ia meninggal di London setahun kemudian.

Pengalaman Intelektual

Freud sangat berminat pada semua hal yang secara khusus dipandang mampu membantu pemikirannya. Di tahun 1887, dia bertemu dengan seorang spesialis hidung dan tenggorokan dari Berlin, Wilhelm Fliess dan dengan cepat terjalin persahabatan yang kental di antara mereka. Fliess adalah seorang pendengar yang diidam-idamkan Freud: seorang tokoh intelektual yang tidak mudah dikejutkan oleh gagasan baru apapun, seorang penyebar teori-teori provokatif (yang kadang bermanfaat), seorang penggemar yang selalu menjejali Freud dengan ide-ide yang bisa dia kembangkan. Selama lebih dari satu dekade, Fliess dan Freud saling bertukar surat-surat rahasia dan catatan-catatan teknis atau kadangkala bertemu untuk menjelajahi gagasan-gagasan subversif mereka. Dari sanalah Freud bergerak menuju penemuan teknik psikoanalisis bagi praktek-prakteknya: para pasiennya membuktikan bahwa Freud adalah seorang pembimbing yang lihai. Spesialisasinya semakin meluas di bidang penanganan histeria pada kaum perempuan. Dan dalam mengamati gejalagejala serta mendengarkan berbagai keluhan mereka, Freud menyadari kemudian bahwa meskipun dia seorang pendengar yang baik, dia tidak cukup seksama dalam mendengar. Begitu banyak yang mereka miliki untuk diceritakan kepada Freud.

Pada tahun 1895, Freud dan seorang teman yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri, Josep Breuer (seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sedang berkembang dan baik hati), bersama-sama menerbitkan Studies On Hysteria, yang memberikan kebanggaan tersendiri bagi seorang pasien Breuer, Anna O. Perempuan ini menyumbang materimateri menarik bagi bahan percakapan Breuer dan Freud, dan menjadi pasien pertama yang menjalani psikoanalisis (walaupun hal ini sedikit agak bertentangan dengan kehendaknya dan kehendak Breuer).

Berkaitan dengan kepuasan hati Freud, perempuan ini menunjukkan, bahwa histeria berasal dari kegagalan fungsi seksual dan gejala-gejala ini dapat dibicarakan demi kesembuhannya. Tahun 1895 dalam beberapa hal tertentu juga merupakan tahun yang penting bagi Freud. Pada bulan Juli, Frued berhasil menganalisis sebuah mimpi, melalui usahanya sendiri. Dia selanjutnya menggunakan mimpi ini, yang disebut sebagai “injeksi irma”, sebagai model bagi interpretasi mimpi psikoanalisis saat dia menerbitkan Interpretation Of Dreams.

Pada musim gugur, dia mengerjakan sebuah konsep, namun tidak pernah diselesaikan atau diterbitkan, atas apa yang selanjutnya disebut sebagai Projeck For a Scientific Psychology. Konsep ini merupakan antisipasi atas sejumlah teori dasarnya sekaligus sebagai pengingat bahwa Freud memberikan penekanan yang sangat besar pada interpretasi fisiologis tradisional atas peristiwa-peristiwa mental.

Penemuan yang mengakibatkan nama Freud menjadi mashur adalah psikoanalisa. Istilah ini diciptakan oleh dia sendiri dan muncul untuk pertama kali pada tahun 1896. teori psikoanalisa lahir dari praktek dan tidak sebaliknya. Psikoanalisa ditemukan dalam usaha untuk menyembuhkan pasien-pasien histeris. Baru kemudian Freud menarik kesimpulan-kesimpulan teoritis dari penemuannya di bidang praktis. Freud sendiri beberapa kali menjelaskan arti istilah psikoanalisa, tetapi cara menjelaskannya tidak selalu sama. Salah satu cara yang terkenal berasal dari tahun 1923 dan terdapat dalam suatu artikel yang ditulisnya bagi sebuah kamus ilmiah Jerman. Di situ ia membedakan tiga arti. Pertama, istilah “psikoanalisa” dipakai untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proes-proses psikis (seperti misalnya mimpi) yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. Kedua, istilah ini menunjukkan juga suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguanpsikis yang dialami oleh pasien-pasien neurotis. Teknik pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi. Ketiga, istilah yang sama dipakai pula dalam arti lebih luas lagi untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut di atas.

Dalam arti terakhir ini kata “psikoanalisa” mengacu pada suatu ilmu pengetahuan yang dimata Freud betul-betul baru. Psikoanalisa bagi Freud merupakan sebuah metode yang menjanjikan hasil lebih sistematis dan lebih seksama dibanding metode penyelidikan dari seorang otobiografer yang paling jujur sekalipun. 3 atau 4 tahun kemudan setelah Freud menemukan teori psikonalisis, selama dia bekerja dengan “buku mimpi”nya, berbagai penemuan baru ikut meramaikan hari-harinya. Namun pertama-tama dia harus membuang “teori penggodaan” yang sempat membuatnya berjaya untuk beberapa lama. Teori ini menganggap, bahwa setiap gangguan jiwa adalah akibat dari aktivitas seksual prematur, sebagian besar berupa penganiayaan anak-anak, yang terjadi dimasa kanak-kanak. Setelah terbebas dari teori yang cukup luas cakupannya umum mustahil ini, Freud mulai menghargai arti pentingnya fantasi dalam kehidupan mental, dan menemukan oedipus komplek, yaitu tentang segitiga keluarga yang universal itu.

Meskipun Freud dianggap sebagai dokter yang radikal, secara berangsur-angsur Freud mulai mendapat wibawa dan pengikut. Dia sempat berselisih paham dengan Fliess pada 1900. meskipun korespondensi mereka masih berlanjut untuk beberapa saat setelahnya, kedua lelaki ini tidak pernah lagi bertemu muka. Pada tahun 1902, setelah melalui beberapa penundaan, yang rupanya telah dibangkitkan oleh gerakan antisemitisisme digabung dengan kecurigaan bahwa ia menjadi pelopor gerakan pembaharuan, pada akhirnya Freud diangkat sebagai profesor pembantu di Universitas Wina. Pada akhir tahun itu, Freud bersama empat orang dokter Wina lainya, mulai melakukan pertemuan-pertemuan setiap rabu malam di apartemennya, jalan Bergasse No. 19, untuk membahas berbagai persoalan psikoanalitis; empat tahun kemudian, kelompok ini yang telah berkembang menjadi lebih dari 12 anggota tetap di dalamnya, mempekerjakan seorang sekretaris (Otto Rank) untuk membuat notulen dan catatan-catatan penting. Pada tahun 1908 kelompok ini akhirnya mengikrarkan diri sebagai lembaga psikoanalisis Wina. Setidaknya beberapa lelaki dari kalangan medis (dan sedikit perempuan) menanggapi pemikiran-pemikiran Freud.

Karya-Karya Freud

Karya pertama Freud tentang psikoanalisis adalah The Interpretation of Dream tahun 1899. Meskipun karya ini tidak mendapat sambutan positif Freud tetap optimis dan selalu mengembangkan teori psikoanalisis dengan menulis buku yang kedua. Buku kedua ini diberi judul Psychopathology of Every Day Life ditulis pada 1901. Pada karya kedua inilah Freud mulai mendapat sambutan dari pembaca. Meskipun mendapat berbagai pertentangan dan kontraversi atas pemikirannya, akhirnya Freud mendapat gelar Professor di universitas Vienna. Sepanjang tahun 1908 Freud mulai menyebarkan pemikiran psikoanalisisnya dengan diskusi-diskusi. Sampailah akhirnya terbentuk kelompok diskusi yang diberi nama Veinna Psychoanalytic Society.

Karya Freud dalam bidang psikoanalisa dimulai tahun 1895 setelah buku pertama yang memuat laporan penyelidikan tentang histeria diterbitkan, kemudian disusul buku kedua yang membahas mengenai tafsir mimpi yang terbit tahun 1900. Nama Sigmund Freud kemudian melejit sebagai psikolog tingkat dunia setelah ia banyak di undang ke Amerika untuk memberikan ceramah dan presentasi hasil penelitiannya di berbagai universitas besar sekitar tahun 1908. Freud kemudian membentuk kelompok diskusi yang membahas psikologi di Wina Austria tahun 1902. Beberapa tokoh psikologi tergabung di dalam forum ini seperti Alfred Adler dan Carl Yung.

Sumbangsih Freud dalam perkembangan ilmu psikologi amat besar terutama penyelidikan mengenai proses bawah sadar sikap manusia. Berikut ini sumbangan Freud secara garis besar:

  1. Freud menunjukkan alam bawah sadar berpengaruh terhadap isi mimpi yang sering dialami manusia.
  2. Freud mengembangkan teknik psikoanalisa sebagai metode penyembuhan penyakit kejiwaan.
  3. Freud merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia
  4. Freud mengembangkan atau mempopulerkan teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, ihwal pengkhitanan, rasa tertekan, sublimasi dan banyak lagi

Sigmund Freud sepanjang hidupnya turut mendedikasikan diri untuk melahirkan beberapa karya besar. Karya-karya tersebut juga menggambarkan pembabakan perkembangan pemikiran Freud sebagai sebuah dinamika. Beberapa karya Freud, yaitu:

  1. The Interpretation of dreams (1900),
  2. The Psichopathology of Everiday Life (1901),
  3. General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917),
  4. New Introductory Lectures on Psichoanalysis (1933) dan
  5. An Outline of Psichoanalysis (1940).

Referensi

  • Noel Sheehy; Alexandra Forsythe (2013). “Sigmund Freud”. Fifty Key Thinkers in Psychology. Routledge. ISBN 1134704933.
  • Eric R. Kandel The Age of Insight: The Quest to Understand the Unconscious in Art, Mind and Brain, from Vienna 1900 to the Present. New York: Random House 2012, pp. 45–46.
  • Understanding the Id, Ego, and Superego in Psychology. (n.d.). – For Dummies.
  • https://en.m.wikipedia.org/wiki/Freud%27s_Psychoanalytic_Theories
  • http://www.biografiku.com/2009/01/biografi-sigmund-freud.html
  • http://biografiteladan.blogspot.co.id/2011/05/biografi-sigmund-freud.html
  • http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/34/jtptiain-gdl-s1-2007-nurhadinim-1688-bab3_410-9.pdf
  • http://media.isnet.org/kmi/iptek/100/Freud.
  • htmlhttp://ensiklo.com/2014/08/biografi-sigmund-freud-jendela-memahami-pemikiran-freud/
  • http://reus-sandro1.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-hidup-sigmund-freud.html
  • http://noyo89.blogspot.co.id/2013/01/a-primer-of-freudian-psychology.html
  • http://psikologikepribadian19.blogspot.co.id/2014/01/makalah-teori-sigmund-freud.html

Carl Jung

Carl Gustav Jung (26 Juli 1875 – 6 Juni 1961) adalah seorang psikiater dan psikoanalis Swiss yang mendirikan psikologi analitis. Karyanya telah berpengaruh tidak hanya di psikiatri tetapi juga di bidang antropologi, arkeologi, sastra, filsafat dan studi agama.

Sebagai seorang ilmuwan penelitian terkemuka berbasis di rumah sakit Burghölzli terkenal, di bawah Eugen Bleuler, ia menarik perhatian pendiri psikoanalisis Wina, Sigmund Freud. Kedua pria ini melakukan korespondensi panjang dan berkolaborasi pada visi bersama tentang psikologi manusia.

Latar Belakang

Carl Gustav Jung lahir 26 juli 1875 di desa Kesswil. Ia seorang anak tunggal laki-laki dari paul dan emilie jung. Paul adalah seorang dokter arts. Jung adalah psikolog besar pertama yang sangat memperhatikan psikologi orang timur. Sebagai seorang anak, perhatiannya sangat tertuju pada tingkah laku ambigu dari orang tuanya, seolah olah terdapat kepribadian ganda. Ia juga seorang murid freud, yang menjadi seorang psychiater di zurich. Ia bekerja beberapa tahun di tengah bangsa-bangsa asli afrika selatan dan amerika.

Jung senior mulai mengajari Jung bahasa latin ketika dia berumur 6 tahun, dan inilah yang menjadi awal minatnya pada bahasa dan sastra –khususnya sastra kuno. Di samping bahasa-bahasa Eropa Barat modern, Jung dapat membaca beberapa bahasa kuno, termasuk Sanskerta.

Semasa remaja, Jung adalah seorang yang penyendiri, tertutup dan sedikit tidak peduli dengan masalah sekolah, apalagi dia tidak punya semangat bersaing. Dia kemudian dimasukkan ke sekolah asrama di Basel, Swiss. Di sini, dia merasa tertekan karena dicemburui oleh teman-temannya. Lalu dia mulai sering bolos dan pulang ke rumah dengan alasan sakit.

Walaupun awalnya bidang yang dia pilih adalah arkeologi, namun dia masuk ke fakultas kedokteran di University of Basel. Karena bekerja bersama neurolog terkenal, Kraft-Ebing, dia kemudian menetapkan psikiatri sebagai karier pilihannya.

Setelah lulus, dia bekerja di Burghoeltzli Mental Hospital di Zurich di bawah bimbingan Eugene Bleuler, seorang pakar dan penemu skizofrenia. Tahun 1903, dia menikahi Emma Rauschenbach. Dia juga mengajar di University of Zurich, membuka praktik psikiatri dan menemukan beberapa istilah yang masih tetap dipakai sampai sekarang.

Jung sangat mengagumi Freud, dan berkesempatan bertemu pada tahun 1907. Pada pertemuan pertama itu, Freud membatalkan kegiatannya dan mereka berbincang-bincang selama 13 jam. Dampak pertemuan ini sangat luar biasa bagi kedua pemikir ini. Freud akhirnya menyadari bahwa Jung-lah “Putra Mahkota”psikoanalisis dan pewaris takhtanya.

Namun Jung tidak sepenuhnya berpegang pada teori Freud. Hubungan mereka mernggang pada tahun 1909, sewaktu keduanya pergi ke Amerika. Dalam sebuah pertemuan, keduanya berdebat panjang tentang mimpi masing-masing dan Freud mulai membantah analisis Jung dengan cara yang tidak cantik. Akhirnya dia menyerah dan mengusulkan agar perdebatan mereka dihentikan, kalau dia tidak ingin otoritasnya hancur. Jung, sangat kecewa dengan kejadian ini.

Perang Dunia Pertama adalah masa-masa menyakitkan bagi Jung. Tapi pada masa ini pulalah, Jung melahirkan teori-teori kepribadian yang dikenal sampai sekarang.

Setelah perang berakhir, Jung melakukan perjalanan ke berbagai negara, misalnya, ke suku-suku primitif di Afrika, Amerika dan India. Dia pensiun pada tahun 1946 dan menarik diri dari kehidupan umum setelah istrinya meninggal di tahun 1955. Carl Gustav Jung meninggal pada tangga 6 Juni 1961 di Zurich.

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa),Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.

SEJARAH CARL GUSTAV JUNG

Carl Gustav Jung lahir 26 Juli 1875 di desa Kesswyl, Swiss, namun dibesarkan di kota tempat Universitas Basel berada. Agama merupakan tema kuat yang mendominasi usia-usia awal Jung. Ayahnya, Paul Jung, adalah pendeta di Gereja Reformasi Swiss, dan ibunya, Emilie Preiswerk Jung, putri seorang teolog. Ayah Jung melihat dirinya sebagai pribadi yang gagal, dan agama yang dilayaninya tidak banyak memberinya rasa nyaman; Saat masih anak, Jung sering melontarkan pertanyaan mendalam tentang agama dan hidup, namun tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan.

Menjadi jelas bagi Jung kalau ayahnya menerima dogma gereja sepenuhnya karena iman, tidak pernah tersentuh secara pribadi oleh pengalaman keagamaan yang riil. Menurut Jung, diskusi-diskusi teologis yang sia-sia ini justru membuatnya asing dari sang ayah. Di kehidupan Jung selanjutnya, agama menjadi bagian vital teorinya, namun jenis agama yang diusungnya dapat menyentuh individu secara emosi, dan sedikit saja bersentuhan dengan dogma gereja atau agama tertentu.

Jung melihat ibunya sosok dominan dalam keluarga, meski di matanya ia memperlihatkan ketidakkonsistenan yang sangat besar, sampai menyebabkannya meyakini ada 2 individu di 1 tubuh itu. Salah satu pribadi itu baik hati dan sangat ramah dengan rasa humor yang tinggi; sedangkan yang lain aneh, kolot dan kejam. lung mendeskripsikan bagaimana reaksinya saat kepribadian kedua ibunya muncul: ”Biasanya saya merasa bingung dengan keberadaan diri ini sehingga saya pun tercenung seribu bahasa” (1961, hlm. 49).

Menarik sekali bahwa jung muda berpikir jika dirinya, sama seperti ibunya, terdiri atas 2 pribadi yang berbeda. Salah satu pribadinya dia namai ‘nomor satu’ (anak sekolahan), yang lain nomor dua (orang yang sudah tua dan bijak). Selanjutnya, Jung menyadari bahwa pribadinya yang nomor satu mewakili egonya atau pikiran sadar, dan pribadinya yang nomor dua mewakili kekuatan yang lebih besar, yaitu pikiran bawah-sadar. Jadi saat masih kanak-kanak Jung mengalami apa yang kemudian dipahaminya sebagai esensi terdalam eksistensi manusia: interaksi pikiran sadar dan bawah-sadar.

Mungkin karena konflik terus-menerus dengan orangtuanya, Jung mulai menutup diri dari keluarga pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Mimpi-mimpi, penglihatan-penglihatan dan fantasi-fantasinya terus meningkat hingga menjadi realitas primer, dan mengembangkan keyakinan jika realitas internal ini telah memercayakan padanya pengetahuan rahasia yang hanya memilih segelintir orang berbakat, dan karenanya, tidak mudah untuk dibagikan kepada siapa pun.

Mimpi, Penglihatan dan Fantasi Awal Jung

Ketika Jung sekitar berusia 7 tahunan, ia menemukan sebuah batu besar yang mulai dipakainya di dalam permainan imajiner. Pertama-tama dia membayangkan dirinya duduk di atas batu itu, yang kemudian dilakukannya. Lalu dia mulai membayangkan apa saja yang dipikirkan batu itu. Kemudian Jung membayangkan dirinya menjadi batu yang diduduki seorang anak laki.

Di titik ini Jung menemukan dirinya sanggup mengubah-ubah perspektif tersebut dengan mudah. Faktanya, ia kadang sulit mengatakan sedang duduk di atas batu ataukah dia batu yang sedang diduduki: ”Jawaban untuk ini sangat tidak jelas, dan ketidakpastian ini biasanya disertai sebuah perasaan ingin tahu sekaligus kegelapan yang mendebarkan. Namun tidak diragukan, entah bagaimana batu ini sudah berbagi rahasianya kepada saya, membuat saya bisa duduk di atasnya berjam-jam sambil merasa terpesona oleh teka-teki yang diberikannya kepada saya itu” (1961a, hhn.20).

Ketika Jung kembali ke batu ini 30 tahun kemudian sebagai pria yang sudah menikah dan sukses, daya magis batu itu seolah kembali begitu saja dengan cepat: “Tarikan dunia lain itu begitu kuat sehingga saya berusaha sekuatnya melepaskan diri darinya agar tidak kehilangan masa depan saya” (1961a, hlm. 20).
Manikin

Ketika Jung berusia sekitar 10 tahunan, ia mengukir sosok manusia dari sebuah penggaris kayu dan menyimpannya di kotak kayu kecil. Jung mendandani sosok ukiran ini dengan mantel hitam, sepatu bot hitam, topi, dan satu batu kecil sebagai miliknya. Sosok ukiran ini menjadi tempat pelarian bagi lung, dan kapan pun mendapatkan masalah, ia datang menemui teman rahasianya ini.

Di sekolah, Jung menulis dalam bahasa rahasia di gulungan kertas kecil, yang kemudian diletakkannya di kotak pensil berisi manikin tersebut. Penambahan setiap gulungan ini mensyaratkan sebuah tindakan seremoni yang khidmat. Jung tidak pernah merasa khawatir saat menjelaskan tindakannya ini karena memang menyediakan rasa aman baginya.

”Ini adalah rahasia besar yang tidak pernah saya khianati dengan rasa malu karena rasa aman hidup saya bergantung penuh kepadanya. Kenapa bisa merasa demikian, tidak pernah saya pertanyakan kepada diri saya? Saya hanya menerimanya apa adanya” (1961a, hlm. 22). ‘Hubungan’ Jung dengan manikin-nya bertahan sekitar setahunan.

Mimpi Falus

Meski aneh, pengalaman dengan batu dan manikin tidak pernah menakutkan atau meresahkan Jung. Faktanya, seperti yang sudah kita lihat, manikin menyediakan baginya rasa damai dan aman. Namun pengalaman mistis Jung muda yang lain tidak menenangkannya. Sebuah mimpi yang dialami ketika usianya masih 4 tahunan begitu menakutkan.

Di mimpinya, Jung menemukan sebuah lubang bekas galian batu besar, didekatinya, dan melihat sebuah tangga batu mengarah ke bawah. Jung pun turun, dan di dasar menemukan sebuah gerbang melengkung yang tertutupi oleh tirai hijau lumut yang tebal. Saat menarik tirai ke samping, ia melihat sebuah ruang empat persegi panjang sekitar 5-6 meteran panjangnya. Di dalam ruang itu ternyata ada singgasana raja yang terkenal dan kaya.

Yang duduk di takhta di tengah singgasana itu suatu benda setinggi 2-3 meteran, dan tebal sekitar setengah meteran. Benda ini terbuat dari kulit dan daging, dan di bagian atas terdapat topi bulat tanpa wajah atau rambut. Di puncak topi ada sebuah mata yang memandang ke atas. Ini jelas sebuah falus raksasa. Meski tidak bergerak, benda ini sepertinya dapat melakukan apa pun.

Jung merasa dilumpuhkan teror di dalam mimpinya itu, apalagi ketika ia mendengar ibunya berkata di dalam mimpi tersebut, ”Ya, terus lihatlah dia. Inilah pemakan-manusia!” (1961a, hlm.12). Ketakutan Jung menjadi-jadi, dan ia terbangun dengan tubuh bermandi keringat dan gemetar ketakutan. Bermalam-malam berikutnya, Jung tidak bisa tidur sampai fajar hendak menyingsing, takut akan mengalami mimpi yang sama sekali lagi. Mimpi falus ini menghantui Jung selama bertahun-tahun dan memengaruhi pandangannya tentang kekristenan sejak saat itu.

Dari mimpinya ini Jung (1961a, h1m.13) menyimpulkan jika falus raksasa adalah kebalikan total Tuhan Yesus yang hidup di bawah tanah:

Dilihat dari segala sisi, falus di mimpi ini tampaknya adalah sebuah Tuhan ‘tanpa nama’ yang bertakhta di bawah tanah, dan gambaran ini yang terus menghantui masa muda saya, selalu muncul saat siapa pun berbicara terlalu empatik tentang Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus sendiri memang tidak pernah menjadi cukup nyata bagi saya, tidak pernah bisa cukup masuk akal saya, tidak pernah cukup untuk bisa dikasihi, karena terus-menerus saya memikirkan kebalikan dirinya yang bertakhta di bawah tanah, sebuah pewahyuan menakutkan yang tidak pernah saya temukan seandainya saya tidak menuruni tangga batu di dalam mimpi waktu itu. Jung sangat terguncang oleh mimpi falus ini sampai-sampai tidak pernah membicarakannya kepada siapa pun sampai usianya 65 tahun.

Penglihatan Takhta

Suatu hari ketika Jung berusia sekitar 12 tahunan, ia tengah pulang dari sekolah di suatu hari di musim panas yang hangat. Keramik baru penutup dinding atas katedral di dekat sekolahnya, tiba-tiba berkilauan indah memantulkan sinar matahari sore. Jung terpukau oleh ide bahwa Tuhan sudah membuat sore yang begitu indah, dan bangunan katedral yang indah itu, seolah melihat ciptaan-ciptaannya dari tahta emas-Nya jauh di atas langit biru di sana.

Di titik ini Jung kembali tercenung dengan pikiran, jika sampai ia tidak berhenti berpikir demikian, pastilah pikiran buruk akan merembesi kepalanya. Dia yakin jika terus melanjutkan pikirannya itu, dia tentu bakal melakukan dosa yang paling mengerikan, dan jiwanya tentu akan terkutuk di api kekal.

Beberapa hari kemudian, ternyata menjadi siksaan bagi Jung yang berusaha memagari rasa amannya dari pikiran-pikiran ini. Akhirnya, dia menyerah dan membiarkan dirinya mengalami pikiran terlarang itu:

Saya melihat di hadapanku katedral, langit biru. Tuhan duduk di takhta emasNya, tinggi mengatasi dunia -dan dari bawah takhta, menetes cahaya-cahaya besar menjatuhi atap dan dinding katedral, yang awalnya memantul terang tetapi kemudian mulai menggerogoti dinding dan meruntuhkan katedral itu sama sekali. Saya merasakan kelepasan luar biasa dan tak terbayangkan.

Bukannya kutukan seperti yang saya duga, tetapi anugerah, yang justru datang kepada saya, dan bersamanya, satu rasa bahagia luar biasa yang tidak pernah saya kenal. Saya malah menangis karena rasa bahagia 1m dengan penuh ungkapan syukur. (1961a, hlm. 39-40)

Penglihatan ini memberikan efek yang mendalam bagi Jung. Jung yakin jika ayahnya tidak pernah mengenal Tuhan sedalam itu. Meski menjadikan Alkitab pedoman hidupnya, ayah Jung sebenarnya tidak pernah mengalami langsung kehendak Ilahi: Ayahku percaya kepada Tuhan seperti yang dikatakan Alkitab, dan seperti yang diajarkan kakek-neneknya.

Namun, ia tidak pernah tahu Tuhan hidup yang berdiri, maha adil dan penuh kebebasan di atas Alkitab-Nya dan Gereja-Nya, yang memanggil manusia untuk mengambil bagian di dalam kebebasan-Nya, dan yang sanggup membuat manusia mengekspresikan pandangan dan keyakinannya sendiri dalam rangka memenuhi kehendak-Nya tanpa harus berkunjung (berkeras hati) ke perintah-perintah-Nya. Dalam pengujianNya terhadap keberanian, Tuhan menolak manusia yang hanya patuh membuta kepada tradisi, tak peduli sesakral apa. Di dalam kemahakuasaan-Nya, Ia tidak pernah melihat ada kejahatan yang bakal muncul dari tes-tes keberanian seperti itu. Jika manusia dapat memenuhi kehendak Tuhan yang seperti ini, bisa dipastikan dia sudah melangkah di jalan yang benar. (1961a, hlm. 40)

Pengalaman-pengalaman pribadi, seperti yang baru saja digambarkan ini, meyakinkan Jung adanya aspek-aspek psikhe manusia yang independen dari pengalaman pribadi apa pun. Ia pun meringkas apa yang dipelajarinya dari fantasi-fantasinya ini sebagai berikut:

Fantasi-fantasi saya membawakan sebuah rumah bagi pemahaman krusial bahwa ada hal-hal di dalam psikhe yang tidak saya buat, namun ia memproduksi dari dirinya sendiri dan memiliki kehidupannya sendiri. Saya paham bahwa terdapat sesuatu dalam diri saya yang bisa mengatakan hal-hal yang tidak saya ketahui dan tidak saya niatkan, hal-hal yang seolah dikatakan langsung kepada saya. (1961a, hlm. 183)

Jung akhirnya mendedikasikan hidup profesionalnya untuk memahami hakikat dan asal-usul banyak pengalaman psikologis luar biasa yang dimiliki” nya saat kanak-kanak.

Kehidupan Profesional Awal Jung

Jung pertama-tama ingin belajar arkeologi, namun sebuah mimpi meyakinkannya untuk mengikuti jejak kakek dari ayah untuk menjadi dokter. Jung baru mengenal bidang studi baru psikiatri selama kuliah kedokteran di Universitas Basel, tempatnya mendapat gelar di tahun 1900. Di psikiatri, Jung yakin ia menemukan panggilan sejatinya.

Minat Jung kepada fenomena psikis yang tidak lazim tidak pernah pudar sampai-sampai disertasinya untuk gelar dokter berjudul ‘On the Psychopathology of So-Called Occult Phenomena’ yang terbit tahun 1902. Di masa ini, Jung hampir-hampir terserap total ke studi okultisme. Ia menghadiri seminar dan pertemuan cenayang, bereksperimen dengan mediumisasi, dan melahap buku-buku parapsikologi. Sebagai tambahan bagi penglihatan-penglihatan dan bacaan-bacaannya tentang parapsikologi, pengalaman pribadi tampaknya mendukung eksistensi hal-hal adikodrati yang ditemukannya.

Contohnya, ketika Jung sedang belajar di kamarnya, dia dan ibunya yang berada di dapur mendengar suara keras dan melihat jika sebuah meja besar di ruang duduk terbelah jadi dua, tetapi bukan karena persambungan kayunya lepas seperti yang lazimnya terjadi. Dua minggu kemudian, setelah suara keras yang lain, pisau mentega di ruang makan ditemukan terpotong jadi berkeping-keping. Saat dibawa ke pandai besi, perajin pisau tidak menemukan kesalahan apa pun di logam yang dapat membuat letusan tersebut.

Selain itu, Jung juga merasa terhibur saat bergabung dengan kelompok yang suka mengundang cenayang, yang diminta menebak sifat dan masa lalu seseorang yang tak dikenal. Akhirnya, Jung pernah terbangun di suatu malam dengan sakit kepala yang hebat dan besoknya baru diketahui, salah satu pasiennya sudah menembak kepalanya di malam yang sama saat Jung terbangun.

Penugasan profesional pertama Jung tercatat di rumah sakit psikiatris Burgholzli di Zurich di bawah pengawasan Eugen Bleuler, yang membentuk pertama kali istilah ‘skizofrenia’. Bleuler tertarik kepada tes-tes psikologi dan mendorong Jung mengembangkan tes asosiasi kata yang dirintis Francis Galton (sepupu Darwin) dan Wilhelm Wundt (pendiri mazhab voluntarisme), Kita akan membahas lebih jauh penggunaan tes asosiasi kata ini oleh Jung nanti di akhir bab ini. Pada 1905, Jung dipercayai memberi serangkaian kuliah di Universitas Zurich, tempatnya mengajar psikopatologi, psikoanalisis dan hipnosis.

Juga, Jung menjadi direktur klinis di Rumah Sakit Burgholzli, dan kepala klinik untuk pasien rawat jalan. Di tahun 1909, Jung mundur dari posisinya di Burgholzli, dan di tahun 1914 mundur dari staf pengajar Universitas Zurich, untuk mendevosikan diri kepada praktik pribadinya yang kian berkembang, kepada riset, dan kepada penulisan teorinya sendiri. Pada 14 Februari 1903, Jung menikahi Emma Rauschenbach, putri seorang industrialis kaya, dan mereka dianugerahi 4 putri dan 1 putra.

Emma sendiri menjadi praktisi bagi teori suaminya sendiri nantinya. Di usia pertengahan, Jung terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita yang lebih muda 13 tahun, bernama Toni Wolfe. Wanita ini memang menarik, terdidik, dan sebelumnya merupakan pasien Jung. Awalnya Emma kecewa dan marah, namun situasi mereka kemudian berubah. Stern (1976, hlm.138-139) mendeskripsikan situasi tersebut sebagai berikut:

Perselingkuhan Jung dengan Toni mungkin tidak pernah terbongkar jika saja ia tidak pernah mengundang wanita itu masuk ke lingkaran keluarganya, dan selalu menjadikannya tamu tetap di jamuan makan malam keluarga di hari Minggu. Dan Jung sengaja mempertahankan segitiga asimetris hubungan mereka itu selama beberapa dekade, memanfaatkan keduanya untuk membantu Jung meraih tujuannya.

Karena itulah Emma Jung diangkat sebagai presiden pertama ‘Klub Psikologi’ Jungian, dan beberapa tahun sesudahnya setelah Emma mengundurkan diri, Toni diangkatnya sebagai presiden. Kedua wanita ini pun menerbitkan banyak makalah tentang psikologi Jungian, membuat teori Jung kian dikenal.

Hannah (1976, hlm.118-120) mendeskripsikan cinta segitiga antara Jung, Emma dan Toni Wolfe sebagai berikut:

Jung harus menghadapi persoalan yang mungkin paling sulit dihadapi seorang pria yang sudah menikah: fakta bahwa ia masih bisa mencintai istrinya dan wanita lain secara bersamaan… Jung akhimya sukses membawa hubungan persahabatannya dengan Toni ke kehidupan keluarganya utamanya karena keadilannya bersikap terhadap keduanya.

Meski tentunya, masih ada ganjalan menyakitkan yang sulit dihadapi ketiganya… Cemburu adalah kualitas manusia yang tidak pernah hilang sepenuhnya, namun seperti yang sering dikatakan Jung: ”Pangkal rasa cemburu adalah kurangtidak ada ‘kurangnya Cinta’ karena Jung sanggup member 1 kepuasan terbesar kepada mereka, dan fakta bahwa keduanya memang sungguh mencintai Jung…

Emma Jung bahkan berkata jauh di kemudian hari: Kamu bisa lihat, ia tidak pernah mengambil apa pun dariku untuk diberikan kepada Toni, namun semakin banyak yang dia berikan ke Toni, semakin ia sanggup memberikan lebih banyak kepadaku.” Toni juga mengakui jauh di kemudian hari kalau kesetiaan tak tergoyahkan Jung kepada pernikahannya itulah yang memampukan Jung memberi lebih banyak dari yang bisa diterimanya daripada jika tidak.

Hubungan Jung dengan Freud

Jung pertama kali tertarik kepada Freud setelah membaca The Interpretation of Dreams. Ia pun mulai mengaplikasikan ide-ide Freud di praktiknya dan akhirnya menulis sebuah monograf berjudul The Psychology of Dementia Praecox (1936) yang meringkas efektivitasnya.

Jung sendiri menemukan dukungan besar bagi konsep represi Freud di studi-studinya tentang asosiasi kata, dan melaporkan fakta-fakta ini di bukunya dan di beberapa artikel. Pada 1906, Jung memulai berkorespondensi dengan Freud, dan di bulan Februari tahun berikutnya, keduanya bertemu di rumah Freud di Wina. Tatap muka pertama itu sangat mendalam bagi keduanya karena saling menemukan kecocokan ide satu sama lain sampai-sampai_diskusi mereka berlangsung 13 jam tanpa henti.

Segera keduanya menjadi teman dekat, dan ketika Jung kembali ke Zurich, korespondensi mereka bertahan sampai 7 tahun ke depan. Dari cara Jung menuliskan teori Freud di publikasinya, dan kesan mendalam setelah pertemuan pertama mereka itu, dan perjumpaan-perjumpaan lain sesudahnya, Freud memutuskan bahwa Jung inilah yang akan meneruskan kepemimpinannya nanti. Di tahun 1911, Freud pun menominasikan Jung sebagai presiden pertama Asosiasi Psikoanalitik Internasional, dan tak peduli oposisi dari para anggota lain yang tidak kenal, Jung tetap terpilih.

Jung bepergian bersama Freud ke Amerika di tahun 1909 untuk memberi serangkaian kuliah di Universitas Clark. Jung diundang utamanya karena eksperimennya dengan tes asosiasi kata. Selama di perjalanan laut, Jung dan Freud menghabiskan waktu dengan saling menganalisis mimpi masingmasing, dan di titik inilah Jung terkejut dengan ketidaktepatan Freud, sang ahli penafsir mimpi, untuk menginterpretasikan beberapa mimpinya.

Meski yang lebih mengejutkan adalah ketidaksediaan Freud mengeksplorasi aspekaspek kehidupan pribadi dari mimpinya (Freud), yang dapat menjelaskan sejumlah simbolisme mimpi sang pemimpin dengan berkomentar singkat, ”Saya tidak bisa merisikokan otoritas saya.” Jung (1961a, hlm. 158) mendeskripsikan reaksinya terhadap penegasan Freud itu sebagai berikut: ”Di momen itulah dia sudah kehilangan saya. Kalimatnya itu seperti terpatri ke ingatan, dan di dalamnya, akhir dari hubungan kami mulai membayang. Freud meletakkan otoritas pribadi di atas kebenaran.”

Di dalam perjalanan ke Amerika Serikat itu juga Jung mulai menimbang keraguan yang membersit di benaknya terkait motivasi seks yang sangat ditekankan oleh teori Freud. Namun, oposisinya terhadap Freud ini tidak diperlihatkannya, dan keduanya masih tetap teman dekat. Meski Jung sempat berpendapat bahwa jika teori Freud mungkin lebih dapat diterima orang Amerika jika peran seks tidak terlalu dikedepankan. Di titik inilah Freud melihat opini Jung itu sebagai pemisahan diri dari etika ilmiah teorinya.

Tidak hingga terpilih sebagai presiden Asosiasi Psikoanalitik Internasional di tahun 1911, barulah Jung mengekspresikan secara terbuka keraguannya terhadap interpretasi Freud tentang energi libido yang utamanya berhakikat seksual. Buku Jung, The Psychology of the Unconscious (1953) dan serangkaian kuliah yang diberikannya di Universitas Fordham, The Theory of Psychoanalysis (1961c) menegaskan perbedaan konsep libido miliknya dan Freud. Korespondensi berikut memberi gambaran tentang ketidaksepakatan awal antara Freud dan Jung terkait hakikat libido. Pada surat bertanggal 31 Maret 1907, Jung menulis:

Bukankah lebih aman, dari perspektif konsep seksualitas yang sebenarnya terbatas, jika terminologi seks boleh diperuntukkan hanya bagi bentuk paling ekstrem konsep ‘libido’ Anda, sehingga istilah umum yang kurang begitu ofensif bisa digunakan untuk menamai semua manifestasi libido? (McGuire, 1974, hlm. 25)

Pada 7 April, Freud menjawab surat Jung sebagai berikut:

Saya menghargai keinginan Anda yang ingin memaniskan apel asam, namun saya tidak yakin bisa berhasil. Bahkan, jika kita menyebut bawah sadar ‘psikhoid’, tetap saja itu bawah sadar, dan meski kita tidak menyebut kekuatan pendorong di konsep seksualitas yang lebih luas ‘libido’, tetap saja itu libido, dan seksual. Kita tidak mungkin menghindari perlawanan, kenapa tidak sekali saja menghadapinya sejak awal? (McGuire, 1974, hlm. 28)

Hubungan Jung dan Freud kian buruk sampai-sampai mereka menghenti’ kan korespondensi di tahun 1912, dan di tahun 1914, Jung menuntaskan hubungan itu saat mundur dari kursi presiden Asosiasi Psikoanalitik Internasional, dan juga keluar dari keanggotaan. Perpisahan ini lebih memengaruhi jung yang saat itu hampir 40 tahun usianya, membuatnya memasuki apa yang dia sebut ‘tahun-tahun gelap’, sebuah periode yang selama 4 tahunan ia mengeksplorasi kedalaman mimpi-mimpinya dan fantasi-fantasinya sendiri, sebuah tindakan yang membawanya, di mata banyak saksi kala itu, hampir ke jurang kegilaan.

Penyakit Kreatif Jung

Jung berkata, “Setelah berpisah jalan dari Freud, sebuah periode ketidakpastian batin dimulai bagi saya. Tidak berlebihan jika menyebut kondisi ini ‘kehilangan arah’. Saya merasa mengambang total di hampa udara, tidak sanggup menemukan tempat pijak apalagi jejak” (1961a, hlm. 170). Menurut Ellenberger (1970, hlm. 447-448), apa yang dialami Jung selama ‘tahun-tahun gelap’ setelah berakhirnya hubungan dengan Freud adalah penyakit kreatif yang dia definisikan sebagai berikut:

Periode keasyikan besar-besaran dengan ide dan pencarian suatu kebenaran. Ini sebuah kondisi polimorfik yang berbentuk depresi, neurosis, gangguan psikosomatik bahkan psikosis. Selama sakit, subjek tidak pernah kehilangan alur keasyikannya yang utama, bahkan sering bersesuaian dengan aktivitas profesional yang normal dan kehidupan keluarga. Namun meski terlibat aktif di aktivitas-aktivitas sosial, sebenarnya dia terserap sepenuhnya ke dalam dirinya sendiri. Subjek muncul dari cobaannya dengan transformasi permanen dalam kepribadiannya, dan keyakinan kalau ia sudah menemukan satu kebenaran besar atau sebuah dunia spiritual yang baru.

Ketidaksepakatan muncul terkait apakah lung menjalani pengembaraan eksplorasi-diri ini dengan sengaja selama penyakit kreatifnya (seperti yang diyakini Van der Post, 1975, contohnya), ataukah perjalanan itu mewakili serangkaian episode psikotik berat (seperti yang diyakini Stern, 1976, contohnya). Meski mengalami masa-masa yang berat ini, Jung terus membuka praktik psikiatri dan kehidupan rumah tangganya. Faktanya, menurut Jung, keluarga dan pasien-pasiennya yang tetap membuatnya waras. Dan selama ‘konfrontasi dengan bawah-sadar” inilah Jung mengembangkan hubungan mendalam dengan Toni Wolfe.

Mestinya aneh bahwa Jung yang sedang terlibat di dalam eksplorasi diri berat ini tetap bisa merawat pasien-pasien psikotiknya. Namun, aneh atau tidak, tampaknya lung belajar banyak hal tentang psikhe manusia dari kedua sumber ini (1961a, hlm.188-189):

Tentunya ironis bahwa saya, seorang psikiater, yang mestinya bereksperimen di setiap langkahnya ternyata ikut terjebak di bahan psikis yang sama dengan para penderita psikosis dan terbukti segila pasien-pasien saya. Namun saya justru belajar, gambaran-gambaran bawah sadar inilah yang sudah membingungkan para penderita sakit jiwa, meski matriks imajinasi mitopuitik ini juga yang sudah lenyap dari zaman rasional kita. Kendati imajinasi seperti itu hadir di mana-mana, ia biasanya ditabukan dan ditakuti, menjadikan eksperimen atau penelusuran berisiko saat memercayakan diri melangkah di jalan tidak pasti menuju kedalaman bawah-sadar ini. Tidak populer, ambigu dan berbahaya, ini sebuah pengembaraan untuk menemukan kutub lain dunia.

Jung pun keluar dari penyakit kreatifnya dengan teori kepribadiannya sendiri, sebuah teori yang sedikit saja kemiripannya dengan mentornya, Freud. Hasil dari pencarian panjang dan menyakitkan psikhenya sendiri bisa ditemukan di setiap bagian teori kepribadiannya.

Jung terus mengembangkan teorinya hingga tutup usia, di usia 86 tahun pada 6 Juni 1961, di rumahnya di Bollingen, Switzerland. Jung termasuk penulis yang produktif selama 6 dekade, membuat Collected Works miliknya meraih jumlah sampai 20 jilid. Di antara banyak gelar kehormatan yang pernah diterimanya, ada 8 gelar doktor kehormatan diperolehnya dari lembagalembaga bergengsi seperti Universitas Harvard (1936), Universitas Oxford (1938) dan Universitas Ienewa (1945). Di tahun 1938, ia diangkat sebagai Rekan Kehormatan Royal Society of Medicine dan di tahun 1943 menjadi Anggota Kehormatan Swiss Academy of Science. Di tahun 1944, Universitas Basel membuka studi baru Psikologi Kedokteran dengan ketua pertamanya adalah Jung. Di tahun 1948, Institut C.C. Jung pertama didirikan di Zurich/ dan beberapa waktu kemudian, Asosiasi Psikologi Analitik Internasional dibentuk. Dewasa ini, seperti yang akan kita lihat nantinya di bab ini, kelompok-kelompok profesional Jungian hadir di mana-mana di seluruh penjuru dunia.

Referensi

Wilhelm Wundt

Wilhelm Maximilian Wundt (16 Agustus 1832 – 31 Agustus 1920) adalah seorang dokter, fisiolog, filsuf, dan guru Jerman, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri psikologi modern. Wundt, yang mencatat psikologi sebagai ilmu terpisah dari filsafat dan biologi, adalah orang pertama yang pernah menyebut dirinya seorang psikolog.  Ia secara luas dianggap sebagai “bapak psikologi eksperimental”.

Pada tahun 1879, Wundt mendirikan laboratorium resmi pertama untuk penelitian psikologis di Universitas Leipzig. Dengan menciptakan laboratorium ini ia mampu membangun psikologi sebagai ilmu terpisah dari topik lainnya. Dia juga membentuk jurnal akademis pertama untuk penelitian psikologis, Philosophische Studien (1881-1902), untuk mempublikasikan penelitian.

Referensi

  • Neil Carlson, Donald C. Heth: Psychology the Science of Behaviour. Pearson Education Inc. 2010. ISBN 0205547869. p. 18.
  • “Wilhelm Maximilian Wundt” in Stanford Encyclopedia of Philosophy.
  • Tom Butler-Bowdon: 50 Psychology Classics. Nicholas Brealey Publishing 2007. ISBN 1857884736.
  • Wundt: Das Institut für experimentelle Psychologie, Leipzig 1909, 118-133.
  • Lamberti: Wilhelm Maximilian Wundt 1832–1920. Leben, Werk und Persönlichkeit in Bildern und Texten. 1995.

Martin Seligman

Martin E. P. “Marty” Seligman (lahir 12 Agustus 1942) adalah seorang psikolog, pendidik, dan penulis buku self-help Amerika. Sejak akhir tahun 90an, Seligman telah menjadi promotor dalam komunitas ilmiah untuk bidang psikologi positif.  Teorinya tentang ketidakberdayaan yang dipelajari populer di kalangan psikolog ilmiah dan klinis.

Publikasi

Referensi