Perbedaan antara teori Skinner dan Pavlov

 

kondisioning klasik (Pavlov) kondisioning operan (Skinner)
oleh ahli fisiologi Rusia Ivan Pavlov pada awal 1900-an oleh B.F. Skinner pada tahun 1938.

 

Percobaan anjing Pavlov sebagai dasar pembentukan teori pengkondisian klasik dan konsep-konsepnya. Percobaan Skinner dengan tikus sebagai dasar teori pengkondisian operan dan konsep-konsepnya.
Tidak melibatkan godaan iming-ming. Subjek diberi iming-iming hadiah.
Peserta/subjek bersifat pasif. Mengharuskan subjek aktif berpartisipasi dan melakukan beberapa jenis tindakan agar mendapat imbalan atau hukuman.
Melibatkan pembentukan asosiasi dengan semacam peristiwa yang sudah terjadi secara alami. Subjek harus terlebih dahulu menampilkan perilaku yang kemudian dapat diberi imbalan atau hukuman.
untuk mendapatkan tingkah laku baru melalui proses asosiasinya. menjelaskan hubungan perilaku pada imbalan dan konsekuensi tertentu.
Pikiran mental internal dan mekanisme otak memainkan peran besar dalam pembelajaran asosiatif. hanya membahas perilaku yang ekspresif dan bukan pemikiran mental internal dan mekanisme otak.
bekerja dengan memasangkan respons spontan dengan stimulus. Respon tak berkondisi menjadi respon yang terkondisi. menerapkan dua konsep utama, Reinforcements dan Punishments setelah perilaku dijalankan, menyebabkan tingkat perilaku meningkat/menurun.

 

Konsep Belajar Pavlov (kondisioning klasik)

Proses pembentukkan perilaku dalam kondisioning klasik Pavlov:

unconditioned stimulus (US) → unconditioned response (UR)

conditioned stimulus (CS) + unconditioned stimulus (US) → unconditioned response (UR)

conditioned stimulus (CS) → conditioned response (CR)

Percobaan Pavlov pada anjing:      Makanan → air liur

Bel + makanan → air liur

Bel → air liur

Keterangan:

  • Unconditioned stimulus (US): stimulus yang memunculkan respon organisme secara alamiah dan otomatis.
  • Unconditioned response (UR): respon yang disebabkan oleh US.
  • Conditioned stimulus (CS): stimulus netral yang tidak dapat memunculkan respon secara alamiah dan otomatis.
  • Conditioned response (CR): respon yang disebabkan karena CS.

Sifat CR:

  • tergantung pada US
  • CS sendiri tidak mampu membentuk CR tanpa pemasangan dengan US.

Hubungan antara US dan CS 

  • Pemasangan US dan CS akan efektif jika waktunya tepat (0,5 detik) — CS dihadirkan kemudian tetap ada hingga US datang (0,5 detik kemudian).
  • CS datang sebelum US, bukan sesudah US. Jika sesudah US, maka kondisioning akan menjadi sulit atau mungkin mustahil dibentuk.
  • Alasannya adalah, CS membawa informasi mengenai kehadiran US. 

Higher-order conditioning

Setelah CS dipasangkan dengan US berkali-kali, maka CS akan berperan seperti US (mengandung nilai reinforcing). Kemudian CS dapat dipasangkan dengan CS kedua (lainnya) untuk memunculkan CR.

Generalisasi

CR akan tetap muncul meski disajikan CS yang lain (namun memiliki kesamaan dengan CS yang utama — yang dipasangkan dengan reinforcement). Frekuensi kemunculan CR paling tinggi disebabkan oleh CS utama dibandingkan dengan CS yang lainnya yang mirip.

Diskriminasi (lawan dari generalisasi)

Respon hanya akan muncul pada stimulus tertentu saja atau yang digunakan selama proses kondisioning. Jeda waktu yang efektif untuk pemasangan US dan CS (intervalnya) adalah 0,5 detik.

ex: Bel + kejutan listrik

Memanggil dengan nama lengkap

Extinction adalah hilangnya respon terkondisikan (CR).

Spontaneous recovery adalah munculnya kembali CR saat CS kembali dihadirkan tanpa kehadiran US.

ex: Dikasih uang + bel > rajin bekerja

bel > rajin bekerja, lama2 tidak rajin bekerja

Kalau bel + uang lagi, rajin bekerja lagi

Perbandingan antara kondisioning instrumental dan klasik

kondisioning instrumental (Thorndike)

kondisioning klasik (Pavlov)

Respon dimunculkan untuk mendapatkan apa yang diinginkan (reward).

Kondisioning klasik memunculkan respon pada organisme yang sifatnya tidak sukarela dan otomatis.

Pada konditioning instrumental, organisme akan melakukan suatu respon yang dapat mengantarkannya pada hadiah — dan hal itu akan diulangi lagi.

Proses kondisioning tergantung pada respon yang diberikan oleh organisme (sifatnya sukarela dan di bawah kendali organisme).

Fungsi reinforcement: reinforcer diberikan untuk memunculkan respon.

Fungsi reinforcement: reinforcement disajikan setelah organisme memberikan suatu respon yang tepat (diinginkan).

Situasi lingkungan (puzzle box) > perilaku efektif (membebaskan diri dari puzzle box) > Reinforcement (bebas dari puzzle box)

Conditioned stimuli (CS) + Reinforcement (US) > Unconditioned response (UR); CS > Conditioned response (CR)

Persamaan Klasik & Instrumental 

  • Keduanya mendorong organisme untuk bertahan hidup.
  • Keduanya tergantung pada reinforcement. Maka sulit untuk sepenuhnya memisahkan antara kondisioining klasik dengan instrumental.

Konsep belajar Thorndike (kondisioning instrumental)

Proses terbentuknya perilaku pada organisme menurut Thorndike:

  • Conforming reaction: reaksi yang akan terpicu dalam sistem saraf pusat jika respon yang dimunculkan diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan. Hal tersebut terjadi secara alamiah dan organisme tidak menyadarinya.
  • Organisme akan memberikan respon pada suatu stimulus yang baru dijumpainya melalui respon by analogy: organisme akan memberikan respon dengan cara mencari kesamaan dengan situasi lainnya yang pernah dijumpai sebelumnya, di mana situasi tersebut memiliki kesamaan.
  • Proses yang terjadi adalah adanya transfer of training antara situasi yang pernah dijumpai sebelumnya dengan situasi yang baru.
  • Organisme dapat memberikan respon yang sama terhadap dua stimulus yang berbeda asalkan pergantian dua stimulus tersebut dilakukan secara bertahap.
  • Jika ada hubungan yang alami antara kebutuhan dan efek yang dimunculkan oleh suatu respon maka proses belajar akan menjadi lebih efektif dibandingkan jika hubungan yang ada tidak bersifat natural.
  • Hadiah tidak hanya meningkatkan kemungkinan munculnya respon yang akan membawa organisme untuk mendapatkan hadiah tersebut tetapi juga meningkatkan respon-respon lainnya yang berhubungan dengan respon utama.

Konsep belajar yang terjadi menurut Thorndike:

  • Bentuk dasar dari proses belajar adalah trial & error learning atau sering disebut dengan seleksi dan koneksi. Organisme akan melakukan uji coba dalam memberikan respon (proses seleksi) sampai ditemukan satu respon yang tepat (proses koneksi).
  • Proses belajar adalah melalui sebuah tahapan kecil dan bukan lompatan besar.
  • Proses belajar tidak diperantarai oleh proses berpikir/penalaran.
  • Proses belajar sifatnya langsung, tanpa didahului oleh proses berpikir; proses ini berlaku untuk semua mamalia.

Sejarah Perkembangan Psikologi Belajar

Ada empat aliran besar psikologi belajar, yakni empirisme, strukturalisme, fungsionalisme, dan behaviorisme.

EMPIRISME

Aristoteles

  • Perilaku belajar diperoleh dari interaksi seseorang dengan lingkungannya.
  • Bagaimana pikiran bekerja: sebuah ide akan berasosiasi dengan ide lainnya, lalu terbentuk pemahaman. Jika asosiasi telah terbentuk, maka sebuah ide akan mengaktifkan memori mengenai aspek2 lain tentang ide tersebut. Asosiasi memungkinkan pikiran kita memahami ide-ide yang kompleks.

Empat hukum asosiasi:

  • Hukum kesamaan: jika dua benda serupa, maka pikiran kita akan cenderung ingat pada benda lainnya ketika melihat salah satu benda tersebut.
  • Hukum kontras: kita juga cenderung mengingat sesuatu yang berlawanan.
  • Hukum continuity: benda atau kejadian yang terjadi secara berdekatan satu sama lain, secara waktu atau lokasi, akan dihubungkan oleh pikiran.
  • Hukum frekuensi: makin sering dua benda atau kejadian dihubungkan, makin kuat pula asosiasi antara keduanya.

Rene Descartes

Adanya dualisme pikiran dan tubuh. Dalam dualisme tersebut terdapat dua komponen, yakni:

  • aktivitas involuntary: reaksi otomatis terhadap stimulus dari luar tubuh. Contoh: reflex menarik tangan dari panci panas.
  • aktivitas voluntary: aktivitas dari niat seseorang untuk bertindak. Contoh: ingin makan lalu mengambil makanan

Keduanya saling berkaitan dan berkoordinasi, sehingga terbentuk dualisme yang membentuk tindakan.

2. STRUKTURALISME

  • Tokoh utamanya adalah Edward B. Titchener.
  • Struktur pikiran dapat diuraikan berdasarkan elemen dasar pembentuknya (emosi, pengalaman sensoris, pengalaman sadar atau tidak sadar).
  • Metode introspeksi: individu menggambarkan pikiran sadar, emosi, dan pengalaman sensoris dirinya.

3. FUNGSIONALISME

  • Tokoh utamanya adalah William James.
  • Pikiran manusia membantu manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Maka belajar merupakan proses adaptif.
  • Diadaptasi dari teori evolusi Charles Darwin: karakteristik adaptif diperoleh oleh suatu spesies dapat membantunya untuk bertahan hidup.

4. BEHAVIORISME

  • Pendekatan psikologi yang berfokus pada studi pengaruh lingkungan pada perilaku yang teramati, bukan perilaku berpikir yang tidak dapat diamati secara langsung.
  • Tokoh utamanya adalah John Watson.
  • Berlaku hukum parsimoni: sebuah fenomena dapat dijelaskan dengan penjelasan yang lebih sederhana.

Lima teori besar dalam behaviorisme:

a. Metodologi behaviorisme Watson

Menolak adanya kejadian internal, seperti pikiran dan perasaan yang tidak dapat diamati secara langsung.

b. Neobehaviorisme Hull

Adanya kejadian internal (ex: lapar, lelah) dalam hubungan antara lingkungan dan perilaku.

c. Teori kognitif Tolman

Adanya aktivitas mental, seperti ekspektasi, dalam hubungan antara lingkungan dan perilaku.

d. Teori belajar sosial Bandura

Menekankan pembelajaran observasional, dan adanya interaksi timbal balik.

e. Behaviorisme radikal Skinner

Memandang bahwa kejadian internal adalah tingkah laku pribadi seseorang yang tetap akan tunduk pada hukum belajar yang merupakan tingkah laku publik, atau yang dapat diamati secara langsung oleh orang lain.

Penelitian tentang Pendekatan Psikologi Belajar

Sains adalah suatu proses untuk menghasilkan dalil yang didukung oleh data dengan cara mencocokkan suatu sistem formal yang berisi simbol (tanda, bahasa, angka, atau formula) dengan observasi empiris (keadaan yang ada di lapangan).

Fungsi teori adalah untuk menghubungkan aspek formal dan empiris tersebut.

Tujuan dari kegiatan ilmiah adalah mencari hubungan antara kedua aspek tersebut.

Para ilmuwan sering melakukan pengelompokkan dari hasil observasi empiris.

Pengelompokan ini berfungsi sintetik (cara berpikir induktif—mengumpulkan fenomena-fenomena agar memiliki arti) dan heuristik (pengelompokkan fenomena yang ada bagi penelitian selanjutnya.

Teori sebagai alat tidak dapat dianggap salah atau benar, berguna atau tidak berguna.

Jika suatu teori mampu menjelaskan suatu fenomena yang ada maka teori tersebut cocok; jika tidak, maka peneliti harus mencari teori lain. 

Eksperimen-Eksperimen Belajar

Keputusan yang harus diambil dalam melakukan eksperimen (Hergenhahn & Olson,1997):

  1. Aspek-aspek belajar yang akan diteliti
  • ditentukan oleh teori belajar yang dipakai oleh peneliti
  • di laboratorium atau di lapangan.
  • masalah: kondisioning klasikal, kondisioning instrumental, pemecahan masalah, pembentukan konsep, belajar verbal atau motorik.

2. Metode idiografik dan nomotetik

  • peneliti dapat memilih salah satu dari dua metode yang ada
  • metode idiografik akan melibatkan perilaku secara intensif pada satu subjek eksperimen atau sejumlah kecil subjek eksperimen.
  • metode nomotetik akan melakukan penelitian dengan menggunakan banyak kelompok subjek, kemudian rata-rata performans akan dikaji.

3. Penggunaan hewan atau manusia sebagai subjek eksperimen

Hewan dapat digunakan sebagai subjek eksperimen dengan alasan:

  1. Pengalaman belajar hewan di masa lalu dapat dikendalikan sehingga pengalaman tersebut tidak akan mengganggu proses belajar yang sedang diteliti pada saat ini.
  2. Eksperimen belajar sering butuh waktu yang panjang dan membosankan.
  3. Sejumlah eksperimen akan menguji pengaruh genetika pada kemampuan belajar. Latar belakang genetika hewan dapat dimanipulasi secara sistematis.
  4. Hubungan antara obat-obatan tertentu dengan belajar dapat lebih mudah diteliti dengan menggunakan hewan; kadang penelitian serupa tidak mungkin menggunakan manusia sebagai subjek eksperimen.
  5. Berbagai teknik pembedahan dapat dilakukan pada hewan.
  6. Pada saat menjadi subjek eksperimen, manusia kadang ingkar janji untuk datang pada sesi eksperimen yang telah disepakati dengan peneliti.
  7. meminimalkan efek placebo (efek harapan); ada kemudahan dalam memelihara dan mengatur partisipasi subjek; lingkungan hewan peliharaan lebih mudah dikendalikan daripada lingkungan hewan hutan atau manusia.

4. Penelitian korelasional atau eksperimen

  • dapat menghubungkan satu variabel dengan variabel lain dengan cara mengukur masing-masing variabel lalu mencari korelasi antara keduanya.
  • tidak memanipulasi variabel pertama untuk mengkaji pengaruhnya terhadap variabel kedua.
  • Penelitian eksperimen akan secara sistematis mengubah kondisi lingkungan dan mengkaji pengaruhnya terhadap belajar.

5. Observasi alami (naturalistic observation)

  • mempelajari masalah belajar langsung di kancah (lapangan) yang sebenarnya (bukan di laboratorium).
  • pendekatan yang langsung pada peristiwa yang terjadi secara alami.
  • kesulitan: masalah pencatatan, observasi yang kurang akurat, kecenderungan untuk mengklasifikasikan hasil observasi ke dalam kondisi yang lebih komprehensif.

6. Pendekatan laboratorium

  • mempelajari masalah belajar di laboratorium (eksperimen).
  • Keadaan di lab pada umumnya akan mereduksi keadaan dalam kancah yang sebenarnya.
  • Keadaan di lab bukan keadaan yang sebenarnya sehingga dapat memunculkan perilaku yang diinginkan karena pengaruh dari suasana yang diciptakan.
  • Kelebihan: peneliti dapat mengendalikan penelitiannya sehingga hasil yang didapat akan menjadi lebih teliti.

7. Variabel independen yang diteliti

  • memilih variabel independen yang relevan dengan variabel dependen.
  • Pemilihannya haruslah dipandu dengan teori.

8. Jumlah level variabel independen

  • tentukan pula jumlah level variabel independen yang akan digunakan dalam penelitian belajar.
  • Pilih variabel independen yang memiliki efek yang signifikan dengan variabel dependen.

9. Pemilihan variabel dependen

  • Pemilihan variabel dependen harus menggunakan panduan teoritis.

10. Analisis dan interpretasi

  • Banyak metode yang tersedia untuk menganalisa data, peneliti tinggal memilih metode yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan.

Keputusan yang menyangkut topik apa yang akan diteliti, subjek apa yang akan dipakai, variabel dependen dan independen yang akan dipilih, pendekatan untuk analisis dan interpretasi, sebagian bersifat arbitrary–ditentukan oleh faktor biaya, kepraktisan, orientasi teoritis, pertimbangan sosial dan pendidikan serta ketersediaan alat-alat.

Teori Kebutuhan (Abraham Maslow)

Teori Abraham Maslow tentang motivasi manusia dapat diterapkan pada hampir seluruh aspek kehidupan social. Sebagian besar hasrat dan dorongan pada seseorang adalah saling berhubungan. Karena hal tersebut itu tidak berlaku pada kebutuhan-kebutuhan tertentu yang bersifat fundamenta, seperti rasa lapar,namun jelas berlaku untuk jenis-jenis kebutuhan yang lebih kompleks seperti cinta. Sebagian besar penelitian Maslow, mengandaikan bahwa kebutuhan-kebutuhan dapat diisolasikan dan diteliti satu persatu, di pandang dari segi cara dan tujuan penelitian itu dilakukan. Pemahaman yang tuntas mengenai motivasi menuntut tekanan perhatian pada hasil atau tujuan fundamentalnya sendiri, bukan pada cara yang ditempuh untuk mencapai tujun tersebut.

Konsep fundamental dari teori Maslow menyebutkan, Manusia dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan itu merupakan ini dari kodrat manusia, hanya saja terkadang manusia itu lemah, mudah tertipu dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang keliru. Suatu sifat dapat dipandang sebagai kebutuhan dasar jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Ketidak-hadirnya menimbulkan penyakit
  2. Kehadirannya mencegah timbulnya penyakit
  3. Pemulihannya menyembuhkan penyakit
  4. Dalam situasi-situasi tertentu yang sangat kompleks dan di mana orang bebas memilih, orang yang datang berkekurangan ternyata mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan jenis-jenis kepuasaan lainnya.
  5. Kebutuhan itu tidak aktif, lemah atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.

Kebutuhan Dasar Manusia menurut Abraham Maslow

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsure-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkatkan yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya. Ciri kebutuhan dasar mansia:Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat hekterogen. Setiap pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama,akan tetapi karena budaya, maka kebutuhan tersebut ikud berbeda. Dalam memenuhi kebutuhan manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada.

Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut ( potter dan patricia, 1997 ):

  • Kebutuhan fisiologis/ dasar
  • Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
  • Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
  • Kebutuhan untuk dihargai
  • Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kebutuhan Fisiologi/ Dasar

Fisiologi adalah turunan biologi yang mempelajari bagaimana kehidupan berfungsi secara fisik dan kimiawi. Fisiologi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan,organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan.

Menurut Abraham Maslow kebutuhan fisiologi sangat mendasar, paling kuat dan paling jelas dari antara sekian kebutuhan adalah untuk mempertahankan hidupnya secara fisik. Yaitu kebutuhan untuk makan, minum,tempat tinggal, sexs tidur dan oksigen. Manusia akan menekan kebutuhannya sedemikian rupa agar kebutuhan fisiologis (dasar)nya tercukupi. Sebagai contoh:

  • Pengeluaran zat sis, di mana seseorang harus mengeluarkan zat-zat sisa yang sedah tidak terpakaioleh tubuh. Karena jika tidak di kelurkan akan mengakibatkan penyakit/pembentukan penyakit.
  • Oksigen (O2) merupakan salah satu kebutuhan vital untuk kehidupan kita. Dengan mengkonsumsi oksigen yang cukup akan membuat organ tubuh berfungsi dengan optimal. Jika tubuh menyerap oksigen dengan kandungan yang rendah dapat menyebabkan kemungkinan tubuh mengidap penyakit kronis. Sel-sel tubuhyang kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan perasaan kurang nyaman, takut atau sakit. Menguap adalah salah satu sinyal tubuh kekurangan oksigen selain karena mengantuk.

Kebutuhan Akan Rasa Aman

Kebutuhan akan rasa aman ini baiasanya terpuaskan pada orang-orang yang sehat dan normal.Seseorang yang tidak aman akan memiliki kebutuhan akan keteraturan dan setabilitas yang sanggat berlebihan dan menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak di harapkannya.berbeda dengan orang yang merasa aman dia akan cenderung santai tanpa ada kecemasan yang berlebih. Perlindungan dari udara panas/dingin, cuaca jelek, kecelakaan,infeksi, alergi, terhindar dari pencurian dan mendapatkan perlindungan hokum. Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dariteror, dan lain sebagainya. Sebagai contoh:

  • Seseorang membangun rumah untuk melindungi diri dari hujan panas memenuhi kepuasan untuk dirinya
  • Saat indonesia di jajah kita melawan penjajah tersebut dan akhirnya merdeka karena saat terjajah kita tidak merasa amanan.

Kebutuhan Social

Kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan rasa memiliki tempat di tengah kelomoknya. Sebagai contoh:

  • Dimana seseorang yang mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama membuat suatu kelompok/berkumpul karena mereka ingin diperhatikan dalam tujuannya dan dapat memberikan perhatian atas klompok tersebut.
  • Kebutuhan cinta seorang anak oleh ibunya, itu sanggat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak misal seorang anak tercukupi kebutuhan akan kasih sayang maka perkembangan anak akan optimal berupa fisik maupun psikologinya karena perhatian yang di berikan ibu kepada anaknya.

Kebutuhan Akan Penghargaan

Maslow menemukan bahwa setiap orang memiliki dua kategori kebutuhan akan penghargaan yakni:

  1. Harga diri adalah penilaian terhadap hasil yang di capai dengan analisis, sejauh mana memenuhi ideal diri. Jika individu selalu sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami kegagalan harga diri menjadi rendah. Harga diri di peroleh dari diri sendiri dan orang lain. Harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidak tergantungan dan kebebasan. Kebutuhan harga diri meliputi:
  • Menghargai diri sendiri
  • Menghargai orang lain
  • Dihargai orang lain
  • Kebebasan yang mandiri
  • Preshies
  • Di kenal dan di akui
  • Penghargaan
    1. Penghargaan dari orang lain, meliputi prestis, pengakuan, penerimaan,perhatian, kedudukan,nama baik serta penghargaan. Penghargaan dari orang lain sanggat di perlukan dalam kehidupan karena dengan penghargaan itu seseorang akan menjadi lebih kreatif, mandiri, percayaakan diri sendiri dan juga lebih produktif. Kebutuhan penghargaan dari orang lain meliputi:
  • Kekuatan
  • Pencapaian
  • Rasa cukup
  • Kompetisi
  • Rasa percaya diri
  • kemerdekaan

Sebagai conoh:

  • Seorang pemahat di puji oleh pelanggannya maka iya akan lebih semangat dalam membuatmemproduksi karyanya dalam jumlah maupun model.
  • Seorang guru yang mengajar, mengabdi bertahun-tahun dan mendapatkan pengangkatan pegawai negeri oleh pemerintah.

Kebutuhan Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan.

Pada saat manusia sudah memenuhi seluruh kebutuhan pada semua tingkatan yang lebih rendah, melalui aktualisasi diri di katakan bahwa mereka mencapai potensi yang paling maksimal. Manusia yang teraktualisasi dirinya:

  • Mempunyai kepribadian multi dimensi yang matang.
  • Sering mampu mengasumsi dan menyelesaikan tugas yang banyak.
  • Mencapai pemenuhan kepuasan dari pekerjaan yang di kerjakan dengan baik.
  • Tidak tergantung secara penuh pada opini orang lain.

Sebagai contoh:

  • Saat kita mengetahui bahwa minggu depan akan ada ulangan maka kita akan belajar lebih agar mendapatkan kepuasan dalam ujian dan mendapatkan nilai baik.

Prakondisi bagi pemenuhan kebutuhan dasar

Kondisi lingkungan sekitar dan keadaan social dalam masyarakat berkaitan erat dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow, kondisi-kondisi yang merupakan prasyarat bagi pemuasan kebutuhan dasar meliputi antara lain kemerdekaan untuk berbicara, kemerdekaan untuk melakukan apa saja yang diinginkan sepanjang tidak merugikan oranglain, kemerdekaan untuk menyelidiki, kemerdekaan untuk mempertahankan atau membela diri, keadilan, kejujuran, kewajaran, dan ketertiban. Ancaman terhadap prakondisi ini akan membuat individu memberikan reaksi sama seperti reaksinya menghadapi berbagai ancaman terhadap kebutuhan dasarnya.

Kebutuhan akan Pertumbuhan

Dalam hirarkinya Maslow membedakan antara kebutuhan dasar (basic-needs) dan kebutuhan tinggi (meta-kebutuhan atau meta-needs). Kebutuhan dasar mencakup kebutuhan tingkat kesatu sampai tingkat keempat. Sedangkan meta-kebutuhan adalah kebutuhan tingkat kelima (kebutuhan akan aktualisasi-diri). Meta-kebutuhan inilah yang menjadi motivasi utama bagi orang yang teraktualisasi-diri dan mempengaruhi pertumbuhan internal pribadi. Karena itu kebutuhan tingkat tertinggi ini disebut juga meta-motivasi.

Di sisi lain, pribadi yang tidak mengaktualisasikan diri diatur oleh motif-defisien, atau D-motives karena mereka dipengaruhi oleh kekurangan hal-hal seperti makanan, cinta atau penghargaan. Persepsi pribadi yang tidak mengaktualisasi-diri dipengaruhi oleh defisiiensinya (kekurangannya), karenanya disebut persepsi diarahkan–kebutuhan (disebut juga D-perseptionatau D-cognition): “Persepsi yang diarahkan-kebutuhan semata-semata difokuskan kepada pencapaian di sini dan di sana objek-objek yang bisa memuaskan kebutuhan, mengabaikan segala yang tidak relevan dengan kebutuhan” (Jourard,1974). Kognisi-mengada, atau being cognition disingkat B-cognition, di sisi lain, berbeda secara kualitatif dari persepsi diarahkan-kebutuhan. “B-cognition, mengacu kepada mode menerima yang lebih pasif. Ia membiarkan diri diraih, disentuh atau dipengaruhi oleh apa pun sehingg persepsi jadi lebih kaya” (Jourard, 1974). Momen-momen dari B-cognition yang intens menyebabkan perasaan ekstasis atau pengangkatan. Maslow menyebut pengalaman mistis atau oseanik ini sebagai pengalaman puncak.

Sebagai contoh bagi perbedaan D-motivation dan B-motivation, Maslow menggunakan konsep cinta. Ia membedakan D-love dan B-love. D-love dimotivasikan oleh kurangnya pemenuhan kebutuhan akan cinta dan kepemilikan. Seorang dengan situasi-kebutuhan seperti itu akan mendambakan cinta layaknya orang lapar menginginkan makanan. Cinta seperti ini bersifat egois karena ketika diperoleh, ia hanya digunakan untuk memuaskan defisiensi pribadi. Terbalik dari D-love, Maslow mendata sejumlah karakteristik B-love, yaitu:

  1. B-love tidak posesif.
  2. B-love tidak pernah habis dirasakan, dapat dinikmati tanpa akhir. Ia biasanya tumbuh semakin kuat daripada kian berkurang. Meski akhirnya di satu titik seseorang terpuaskan, ia muncul lagi dalam bentuk yang baru untuk dipuaskan.
  3. Pengalaman B-love sering diseskripsikan memiliki efek yang sama seperti pengalaman estetik atau mistik.
  4. B-love memiliki efek terapeutik yang mendalam dalam menyebar luas.
  5. B-love memiliki pengalaman yang kaya dan lebih bernilai ketimbang D-love.
  6. Tingkat kecemasan dan permusuhan di dalam B-love menim saja.
  7. Para pemilik B-love lebih independen satu sama lain, minim cmburu, tidakterlalu bergantung, lebih saling tertari, dan lebih otonom ketimbang pemilikk D-love. Selain itu, mereka lebih suka membantu pasangan mengaktualisasikan-diri dan ikut berbangga dengan kesuksesaan pasangan.
  8. B-love membuat persepsi yang jauh lebih tepat dan mendalam tentang pasangan daripada D-love.
  9. B-love dalam artian tertentu,mencipta pasangan. Ia menawarkan penerimaan-diri dan perasaan keberhargaan-cinta, keduanya memampukan pasangannya bertumbuh. Mungkin perkembangan manusia sepenuhnya tidak akan bisa muncul tanpa pengalaman B-love

Maslow mendata macam-macam meta-kebutuhan ini yang karenanya harus dipuaskan jika individu ingin mengalami kesehatan psikologis seutuhnya dan jika tidak terpenuhi akan menjadi meta-patologi (penyakit kejiwaan).Lima belas meta-kebutuhanyang oleh Maslow disebut juga Being-values (B-values; kebutuhan akan pertumbuhan) yang diyakini oleh Maslow mendominasi hidup individu yang mengaktualisasi-diri bisa dilihat ditabel di bawah ini:

NILAI-MENGADA (B-VALUES) dan METAPATOLOGI yang muncul
Nilai-Mengada Deprivasi Patogenik Metapologi Spesifik
1. Kebenaran Ketidakjujuran Tidak percaya; tidak bisa dipercaya; sinismep; skeptisme; mudah curiga
2. Kebaikan Kejahatan Eogoisme ekstern; penuh kebencian; merasa jijik atau memandang rendah orang lain; merasa muak dan penh kemarahan dan dendam; mengandalkan hanya diri sendiri dan demi diri sendiri; nihilism; sinisme
3. Keindahan Kejelekan/keburukan Vulgaris; ketidakbahagian spesifik; gelisah, hilang cita rasa; tegang; kelelahan, filitinisme; suram membosankan
4. Kesatuan; keutuhan Kekacauan; atonisme, hilangnya ketertarikan Disintegrasi; ‘dunia sedag runtuh’; obitrer
4A. Dikotomi-Transendensi Dikotomi hitam-putih; hilangnya radasi atau pentarafan; polarisasi yang dipaksakan; Pemikiran hitam-putih; berfikir ini-atau-tidak sama sekali; memiliki segala sesuatu dalam peperangan atau konflik terus-menerus; pilihan sinergi rendah; pandangan hidup yang diipaksakan yang simplistic
5. Hidup; proses Kematian; mekanisasi hidup Kematian; perobotan; merasa diri ditentukan dan diatur sepenuhnya; hilangnya emosi; kebosanan (?); hilangnya semangat menjalani hidup; kehampaan pengalaman
6. Keunikan Kesamaan; keseragaman; tidak bisa dipertukarkan anonimitas; tidak merasa dibutuhkan Patah semangat (?); tidak ada harapan; individualitas; merasa diri bisa digantikan
7. Kesempurnaan Tidak sempurna; asal-asalan; keserabutan; keserampangan Patah semangat (?); tidak ada harapan; tidak ada yang sukses
7A. Keniscayaan Aksidensi; okasionalisme; ketidakkonsistenan Kekacauan; tak terprediksi; hilang rasa aman; was-wasan
8. Perlengkapan; penuntasan Ketidaklengkapan Rasa tidak lengkap; tanpa harapan; berhenti berjuang dan mengatasi masalah; menganggap sia-sia saja sebuah pengupayaan
9. Keadilan Ketidakadilan Rasa tidak aman; marah; sinisme; tidak percaya; tanpa aturan; dunia adalah rimba; egisme total
9A. Ketertiban/keteraturan Nir-aturan; tidak tertib atau kekacauan; runtuhnya otoritas Rasa tidak aman; was-was; hilang rasa aman dan prediksi; kewaspadaan; tegang; berjaga-jaga; merasa perlu pengawasan
10. Kesederhanaan/ringkas Kompleksitas yang membingungkan; ketidaktertarikan; disintegrasi Kompleksitas berlebihan; kebingungan; kekacauan, konflik, hilang orientasi
11. Pengkayaan; totalitas; kemenyeluruh Kemiskinan; separuh-paruh; parsialitas Depresi; rasa tidak nyaman; hilang minat kepada dunia
12. Rileks Tegang atau terlalu keras berusaha Kelelahan; tegang; berjuang terlalu keras; ceroboh; canggung; tidak tahu terima kasih; kaku
13. Permainan Tidak punya rasa humor Suram; depresi; paranoid nir humor; hilang semangat dalam hidup; tidak riang; hilang kemampuan untuk bisa menikmati
14. Kemandirian Ketergantungan; aksidensi; okasionalisme Tergantung pada (?) pencerap (?); hal itu menjadi tanggung jawabnya
15. Kebermaknaan Ketidakbermaknaan Ketidakbermaknaan; putus asa; tidak merasakan hidup

Bagi orang yang telah mencapai aktualisasi diri, tidak terpenuhinya satu apalagi beberapa dari meta-kebutuhan itu akan membuatnya sangat kesakitan, lebih sakit daripada kematian. Karena itu orang-orang besar seperti Sokrates, Isa, Suhrawardi, Galileo, lebih memilih mati daripada hidup dalam tatanan sosial yang menurutnya tidak adil.

Sifat-Sifat Orang Yang Mencapai Aktualisasi Diri

Untuk mencapai tingkat aktualisasi-diri, orang harus sudah memenuhi empat kebutuhan sebelumnya. Ia jangan lagi direpotkan oleh masalah mencari makan, jangan lagi dihiraukan oleh ancaman keamanan dan penyakit, memiliki teman yang akrab dan penuh rasa cinta, juga memiliki perasaan dihargai. Ia bebas dari neurosis, psikosis, dan gangguan psikologis lain. Sifat lainnya adalah soal usia: orang yang mengaktualisasikan dirinya tampaknya adalah orang yang telah setengah tua atau lebih tua. Maslow bahkan menyebut usia 60 tahun atau lebih, sebab orang setua ini sudah mencapai taraf kematangan (sudah hampir selesai), dalam arti tidak akan atau sulit untuk berubah lagi.

Sifat-sifat berikut ini merupakan manifestasi dari metakebutuhan-metakebutuhan yang disebutkan di atas.

  1. Berorientasi secara Realistik

Inilah sifat paling umum dari orang yang teraktualisasi. Ia mampu mengamati objek-objek dan orang-orang di sekitarnya secara objektif. Maslow menyebut persepsi objektif ini Being-cognition (B-cognition), suatu bentuk pengamatan pasif dan reseptif, semacam kesadaran tanpa hasrat. Ia melihat dunia secara jernih sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi oleh keinginan, kebutuhan, atau sikap emosional.

  1. Penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri

Orang yang teraktualisasi menerima dirinya, kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatannya tanpa keluhan atau kesusahan. Ia menerima kodratnya sebagaimana adanya, tidak defensif atau bersembunyi di balik topeng-topeng atau peranan sosial. Sikap penerimaan ini membuatnya mampu mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran, rendah hati dan mau mengakui bahwa ia tidak tahu segala-galanya dan bahwa orang lain akan mengajarinya sesuatu.

  1. Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran

Dalam semua segi kehidupan, orang yang teraktualisasi bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura. Ia tidak harus menyembunyikan emosi-emosinya, tetapi dapat memerlihatkan emosi-emosi tersebut secara jujur dan wajar. Seperti anak kecil, orang yang teraktualisasi kadang terlihat lugu, mendengarkan dengan penuh perhatian, takjub dan heran akan sesuatu yang baru, dan itu semua dilakukannya secara apa adanya tanpa dibuat-buat.

  1. Memusatkan diri pada masalah dan bukan pada diri sendiri

Orang yang teraktualisasi-diri tidak pernah menyalahkan diri sendiri ketika gagal melakukan sesuatu. Ia menganggap kegagalan itu sebagai suatu hal yang lumrah dan biasa saja. Ia mungkin akan mengecam setiap ketololan dan kecerobohan yang dilakukannya, tetapi hal-hal tersebut tidak menjadikannya mundur dan menganggap dirinya tidak mampu. Dicobanya lagi memecahkan masalah dengan penuh kegembiraan dan keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikannya.

  1. Memiliki kebutuhan akan privasi dan independensi

Orang yang mengaktualisasikan-diri memiliki kebutuhan yang kuat untuk memisahkan diri dan mendapatkan suasana kesunyian atau suasana yang meditatif. Ia butuh saat-saat tertentu untuk tidak terganggu oleh adanya orang lain. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk pikiran, mencapai keputusan, dan melaksanakan dorongan dan disiplin dirinya sendiri.

  1. Berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik

Orang yang mengaktualisasikan-diri sudah dapat melepaskan diri dari ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan sosial dan fisik. Pemuasan akan motif-motif pertumbuhan datang dari dalam diri sendiri, melalui pemanfaatan secara penuh bakat dan potensinya.

  1. Apresiasi yang senantiasa segar

Orang yang teraktualisasi senantiasa menghargai pengalaman-pengalaman tertentu bagaimana pun seringnya pengalaman itu terulang, dengan suatu perasaan kenikmatan yang segar, perasaan terpesona, dan kagum. Bulan yang bersinar penuh, matahari terbenam, gelak tawa teman, dan hal-hal biasa lainnya selalu dipandang seolah-olah merupakan pengalaman yang baru pertama kali baginya. Apresiasi yang senantiasa segar ini membuat hidupnya selalu bergairah tanpa kebosanan.

  1. Mengalami pengalaman-pengalaman puncak (peak experiences)

Ada kesempatan di mana orang yang mengaktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasan terpesona yang hebat dan meluap-luap, seperti pengalaman keagamaan yang mendalam. Inilah yang disebut Maslow “peak experience” atau pengalaman puncak. Pengalaman puncak ini ada yang kuat dan ada yang ringan. Pada orang yang teraktualisasi, perasaan “berada di puncak” ini bisa diperolehnya dengan mudah, setiap hari; ketika bekerja, mendengarkan musik, membaca cerita, bahkan saat mengamati terbit matahari.

  1. Minat sosial

Orang yang teraktualisasi memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat dan dalam terhadap semua manusia, juga suatu keinginan membantu kemanusiaan. Ia menemukan kebahagiaan dalam membantu orang lain. Baginya mementingkan orang lain berarti mementingkan diri sendiri.

  1. Hubungan antarpribadi yang kuat

Orang yang teraktualisasi memiliki cinta yang lebih besar, persahabatan yang lebih dalam serta identifikasi yang lebih sempurna dengan individu-individu lain. Sahabat-sahabatnya bisa jadi tidak banyak, tetapi sangat akrab. Istrinya mungkin cuma satu, tetapi cinta yang diterima dan diberikannya sangat besar dan penuh kesetiaan. Ia tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan kepada orang yang dicintai sehingga membuatnya terhindar dari cemburu buta, iri hati, dan kecemasan.

  1. Struktur watak demokratis

Orang yang sangat sehat membiarkan dan menerima semua orang tanpa memerhatikan kelas sosial, tingkat pendidikan, golongan politik, ras, warna kulit, bahkan agama. Tingkah laku mereka menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi, tidak angkuh, tidak picik atau menganggap diri paling benar. Sifat ini menggabungkan beberapa meta-kebutuhan seperti kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

  1. Mampu mengintegrasikan sarana dan tujuan

Bagi orang yang teraktualisasi, sarana adalah sarana dan tujuan adalah tujuan. Tetapi berbeda dengan orang-orang biasa, orang yang teraktualisasi melihat sarana bisa pula menjadi tujuan karena kesenangan dan kepuasan yang ditimbulkannya. Pekerjaan bagi orang yang sehat bukanlah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan material, tetapi untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan. “Menyenangi apa yang dilakukan” sekaligus “melakukan apa yang disenangi”, membuat hidup bebas dari paksaan, terasa santai dan penuh dengan rekreasi.

  1. Selera humor yang tidak menimbulkan permusuhan

Humor yang disukai oleh orang yang mencapai aktualisasi lebih bersifat filosofis; humor yang menertawakan manusia pada umumnya, bukan kepada individu tertentu. Ini adalah sejenis humor yang bijaksana yang dapat membuat orang tersenyum dan mengangguk tanda mengerti daripada membuatnya tertawa terbahak-bahak.

  1. Sangat kreatif

Kreativitas juga merupakan ciri umum pada manusia superior ini. Ciri-ciri yang berkaitan dengan kreativitas ini antara lain fleksibilitas, spontanitas, keberanian, keterbukaan, dan kerendahan hati. Maslow percaya ini merupakan sifat yang sering hilang tatkala orang sudah dewasa.

Kreativitas bisa berarti menghasilkan karya baru, asli, inovatif, atau menggabungkan beberapa penemuan sehingga didapatkan sesuatu yang berbeda. Kreativitas juga merupakan suatu sikap, suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita mengamati dan beraksi terhadap dunia – suatu proses – dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah selesai.

  1. Menentang konformitas terhadap kebudayaan

Orang yang teraktualisasi bukanlah penentang kebudayaan, tetapi ia dapat berdiri sendiri dan otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh-pengaruh sosial untuk berpikir dan bertindak menurut cara-cara tertentu yang diyakininya baik. Orang ini tidak terlalu memermasalahkan hal-hal kecil seperti cara berpakaian, tata-krama, cara makan, dan sebagainya, tetapi ia dapat keras dan terus-terang jika mendapati soal-soal yang sangat penting baginya mengenai aturan-aturan dan norma-norma masyarakat.

Menurut Maslow, secara konsisten pengalamannya menunjukkan bahwa orang-orang yang terpuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya ternyata hidup lebih sehat, lebih bahagia serta lebih efektif, sedangkan orang-orang yang kebutuhan-kebutuhan dasarnya tidak terpuaskan menunjukkan gejala-gejala psikopatologis. Tidak terpuaskan hasrat-hasrat yang kurang penting, yaitu hasrat-hasrat yang bukan merupakan kebutuhan-kebutuhan dsar, ternyata tidak melahirkan geeejaaala-gejala tidak sehat, sekalipun teori Behavioris menyatakan bahwa tidak terpuaskannya setiap kebutuhan akan melahirkan gangguan-gangguan. Para terapis yang berusaha menyingkap jati diri seseorang, seperti Carl Rogers, Erich Fromm dan Karen Horney, menemukan bahwa metode-metode yang mereka kembangkan ternyata meningkatkan rasa cinta, keberanian serta kreativitas dan mengurangi rasa takut serta sikap bermusuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sifat-sifat itu melekat secara inheren dalam diri setiap orang.

Sedangkan frustasi atas kebutuhan-kebutuhan dasar akan melahirkan gejala-gejala psikopatologis, sedangkan jika kebutuhan-kebutuhan dasar itu dipuaskan akan lahirlah pribadi-pribadi sehat, baik secara psikologis maupun biologis. Berdasarkan penelitian terhadap orang-orang yang mengaktualisasikan diri berulang kali membuktikkan bahwa orang-orang semacam itu, lepas dari latar belakang kebudayaan mereka, memberikan nilai tinggi pada hal-hal yang sama. Pengalaman-pengalaman puncak memberikan bukti bahwa orang-orang biasa pun mengalami saat-saat dimana mereka “merasa berada di langit ketujuh”.

Selama pendidikan Maslow diajarkan bahwa orang-orang memiliki kemampuan-kemampuan kognitif, namun tidak pernah disinggung tentang kebutuhan-kebutuhan kognitif mereka. Berkat penelitian seorang profesornya yaitu, E.L. Thorndyke, Maslow mulai tergoda untuk berpikir bahwa tidak mustahil orang memiliki kebutuhan untuk tahu, sama seperti mereke itu mempunyai kemampuan untuk tahu. Thorndyke dan sejumlah sejawatnya pernah menyelidiki sekelompok anak yang berIQ sangat tinggi, yaitu lebih dari 180. Para peneliti itu menemukan bahwa setiap anak dalam kelompok ini menunjukkan rasa ingin tahu yang nyaris tak pernah terpuaskan, tidak membutuhkan rangsangan dari luar begitu saja muncul berupa kehausan, dorongan atau kebutuhan yang kuat.

Kemampuan Manusia

Keyakinan bahwa manusia memiliki sejumlah besar kemampuan yang tak tersalurkan merupakan satu aspek penting dari teori komprehensif tentang motivasi manusia yang dikemukakan oleh Maslow. Ia yakin bahwa setiap anak, lahir dengan membawa kemampuan serta kebutuhan untuk berkembang secara psikologis. Maslow yakin, kebanyakan orang memiliki kebutuhan serta kecenderungan untuk menaktualisasikan diri. Meskipun banyak orang yang memiliki kemampuan ini, hanya kecil presentasi orang yang berhasil mencapainya. Hal tersebut disebabkan karena orang itu tidak mengtahui kemampuan mereka sendiri. Mereka tidak menyadari batas kemungkinan yang dapat mereka raih dan tidak memahami ganjaran dari aktualisasi diri.

Salah satu contoh yang dikemukakan Maslow ialah kisah tentang pemenang medali emas Olimpiade. Sang juara mempertunjukkan kebolehannya di bidang spesialisasinya dan mengangkatnya sebagai patokan bagi semua atlet yang lain. Pada zaman Maslowsebagai remaja ikut serta berlomba dalam tim lari lintasan, orang masih menganggap mustahil lari menempuh jarak 1 mil dalam waktu kurang dari empat menit. Akhirnya,apa yang semula “mustahil: bagi manusia menjadi mungkin karena orang membuktikkan bahwa hal itu ternyata mungkin. Kemampuan manusia dalam cabang olahraga ini terus meningkat setiap kali tercatat rekor baru.

Konsep Maslow tentang manusia, sama sekali tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya perbedaan-perbedaan genetic yang dibawa sejak lahir, namun konsepsi itu sekaligus juga mengakui adanya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum pada seluruh spesies. Kemampuan-kemampuan hebat ini terdapat pada setiap manusia, namun sukar diukur. “Kita tak dapat mengukur sampai berapa tinggi seorang akan tumbuh, kita hanya bisa mengukur berapa tinggi badannya saat ini. Kita tidak akan pernah dapat mengukur seberapa pintar orang itu kan dapat berkembang dalam kondisi-kondisi yang serba terbaik, kita hanya bisa mengukur seberapa pintar ia dalam kondisi-kondisi yang nyata.”

Maslow yakin bahwa kebanyakan orang memiliki kemampuan untuk bersikap kretaif, spontan, penuh perhatian pada orang lain, penuh rasa ingin tahu, kemampuan untuk berkembang secara terus-menerus, kemampuan mencintai dan dicintai serta semua ciri lain yang terdapat pada oraang-orang yang mengaktualisasikan diri. Orang yang berperilaku buruk menandakan bahwa ia tengah bereaksi terhadap perampasan atas kebutuhan dasarnya. Jika tingkah lakunya membaik mualilah ia mengembangkan kemampuan sejatinya serta menuju hidup yang lebih sehat dan wajar sebagai manusia. Menurut Maslow, Freud mengajarkan kepada kita bahwa pengalaman masa lampau hadir di masa kini dalam diri setiap orang. “Berkat teori perkembangan dan teori aktualisasi diri sekarang kita tahu bahwa masa depan juga hadir dalam diri sang pribadi kini, berwujud cita-cita, harapan, kewajiban, tugas, rencana, tujuan, kemampuan yang belum terealisasikan, perutusan, nasib, takdir dan sebagainya.”

Dalam penelitian Maslow tentang orang-orang yang mengaktualisasikan diri antara lain menemukan bahwa ternyata orang-orang itu mengalami yang disebut “pengalaman-pengalaman puncak”, saat-saat ketika mereka merasa berada dalam kondisi terbaik mereka, saat-saat diliputi perasaan khidma, kebahagian yang mendalam, kegembiraan, ketentraman. Secara berangsur—angsur juga menjadi jelas bahwa pengalaman-pengalaman puncak tidak hanya terjadi pada orang-orang yang sehat secara psikologis, rupa-rupanya kebanyakan orang dapat dan sering mengalami pengalaman-pengalaman puncak. Maslow menemukan bahwa pertanyaan terbaik untuk dikemukakan pada seseorang ialah meminta orang tersebut melukisakan saat paling menyenangkan, paling membahagiakan, paling menggembirakan dalam hidupnya.

Jadi, pengalaman puncak adalah saat dalam kehidupan seseorang ketika orang itu berfungsi secara penuh, merasa kuat, yakin pada dirinya dan menguasai diri sepenuhnya. Pengalaman-pengalaman puncak dapat timbul oleh berbagai sebab misalkan: mendengarkan musik yang sangat indah, mencapai prestasi gemilang di bidang atletik, memperoleh pengalaman seksual yang indah atau berjoget. Seakan-akan setiap pengalaman tentang keunggulan sejati, kesempurnaan sejati atau setiap gerak ke arah keadilan yang seadil-adilnya atau ke arah nilai-nilai yang tertinggi cenderung melahirkan suatu pengalaman puncak. Tidak hanya orang yang mengalami pengalaman puncak merasa lebih baik, lebih kuat dan lebih dipersatukan tetapi lingkungan disekitarnya tampak lebih baik, lebih menyatu dan lebih jujur. Pengalaman-pengalaman puncak memiliki dampak terapeutik positif, yaitu menghilangkan simtom-simtom neurotik. Maslow pernah menerima sejumlah laporan dari para psikolog serta para ahli lain yang menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman puncak berpengaruh besar sehingga mampu menghilangkan simtom-simtom tertentu untuk selamanya.

Menurut Maslow, kebanyakan orang tidak bersedia menceritakan saat-sat mereka mengalami luapan kegembiraan dan ekstase. Pengalaman-pengalaman itu bukan jenis pengalaman untuk dipublikasikan. Kebanyakan orang justru risau, malu, sebab pengalaman-pengalaman semacam itu dianggap tidak “ilmiah”. Banyak orang selama atau sesudah mengalami saat-saat yang membahagiakan ini merasa amat beruntung dan bersyukur, lalu sebagai akibatnya merasa diliputi perasaan cinta terhadap sesama serta terhadap dunia, bahkan merasa dipenuhi hasrat untuk berbuat kebajikan di dunia ini sebagai imbalan. Menurut Maslow, pengalaman puncak memiliki hampir seluruh ciri yang secra tradisional disebut pengalaman religius oleh hampir semua penganut agama dan kepercayaan. Maslow menyimpulkan bahwa selama mengalami pengalaman puncak orang memperoleh persepsi yang lebih baik tentang realitas itu sendiri. Dalam saat-saat seperti itu orang memperoleh pengertian yang sama seperti yang diperoleh filsuf dan para teolog tentang aspek-aspek realitas yang mempersatukan.

Perkembangan Psikologis

Konsep Abraham Maslow tentang perkembangan berkaitan erat dengan gagasan-gagasannya tentang kemampuan. Hasil-hasil penelitiannya membawanya sampai pada kesimpulan bahwa perkembangan kea rah aktualisasi diri merupakan suatu yang wajar sekaligus perlu. Perkembangan diartikannya sebagai mekarnya bakat-bakat kapasitas-kapasitas, kreativitas, kebijaksanaan dan karakter secara terus menerus. Pertumbuhan merupakan pemuasan secara progresif atas kebutuhan-kebutuhan psikologis yang makin meningkat. Menurut Maslow, “Dalam kodratnya sendiri manusia memperlihatkan desakan kea rah menjadi makhluk yang makin penuh, desakan kea rah aktualisasi yang makin sempurna atas kemanusiaannya dalam pengertian yang persis sama seperti dalam ilmu alam sebutir biji eik “mendesak diri” menjelma menjadi sebuah pokok eik”

Manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh, namun menurut hasil penelitian Maslow, hanya kecil persentase orang yang mampu mendekati realisasi penuh atas kemampuan-kemampuan mereka, tak terkecuali di lingkungan masyarakat Amerika yang relative bebas. Maslow mengemukakan sejumlah alasan mengapa begitu banyak orang gagal tumbuh

  1. Naluri manusia untuk tumbuh cenderung lemah, akibatnya benih-benih pertumbuhan dengan mudah dibuat tak beraya oleh kebiasaan-kebiasaan buruk, lingkungan budaya yang buruk maupun pendidikan yang tidak memadai atau bahkan keliru.
  2. Di lingkungan kebudayaan barat ada kecenderungan kuat untuk takut pada naluri-naluri, kecenderungan untuk memandang semua naluri bersifat kebinatangan serta hina. Freud dan banyak teoretikus Kristen terlampau menonjolkan aspek-aspek negative naluri manusia, akibatnya kita hidup di tengah kebudayaan yang lebih menekankan control serta motivasi negatif, bukan motivasi positif.
  3. Pengaruh negatif kbebutuhan akan rasa aman dan perlindungan yang rendah itu ternyata kuat. Proses pertumbuhan menuntut kesediaan untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan, membuat kesalahan-kesalahan, mendobrak kebiasaan-kebiasaan secara terus menerus, Menurut Maslow, orang bisa memilih mundur ke arah rasa aman atau maju ke arah pertumbuhan. Pertumbuhan harus senantiasa menjadi pilihan; sedangkan rasa takut atau rasa cemas akan merusak keseimbangan dinamik antara regresi dan pertumbuhan, yaitu kembali kea rah regresi dan menjauhi pertumbuhan.
  4. Maslow mengemukakan yang ia sebut kompleks “Yonah”, yaitu kecenderungan pada orang-orang dewasa untuk meragukan dan bahkan takut pada kemampuan-kemampuan mereka sendiri, takut bahwa potensi mereka lebih besar dari yang selama ini meraka yakini. Kita takut pada kemungkinan-kemungkinan kita yang tertinggi sama seperti kita takut pada kemungkinan-kemungkinan terburuk kita. Seseorang yang tengah tumbuh senantiasa menantang dirinya sendiri. Hal ini menuntut keberanian. Jika orag melangkah ke dalam situasi yang baru dan lebih baik mau tak mau ia dihinggapi rasa tak berdaya yang menyiksa, da nada orang yang tidak pernah mampu mengatasi perasaan takut ini. Pertumbuhan dan perkembangan menuntut usaha, disiplin diri dan penderitaan dalam batas-batas tertentu.
  5. Lingkugan budaya juga sering menghambat perkembangan manusia kea rah aktualisasi diri. Salah satu contoh ialah pengertian umum tentang yang disebut jantan dan yang tidak. Sejumlah aspek manusiawi seperti simpati, kebaikan hati, kehalusan dan kelembutan seringkali harus dimatikan sebab masyarakat cenderung memandang sifat-sifat tersebut sebagai tidak jantan.
  6. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri lebih fleksibel dari kebanyakan orang, lebih terbuka terhadap gagasan-gagasan dan pengalaman-pengalaman baru. Kebalikannya, kebiasaan-kebiasaan merupakan penghalang pertumbuhan. Kebanyakan cenderung orang sangat cenderung terus melakukan apa yang pernah mereka perbuat dimasa lampau. Hal ini memang tidak sellau jelek; ada kebiasaan tertentu yang menjadikan pikiran kita leluasa melakukan kegiatan-kegiatan lain. Namun di samping itu, kebiasaan-kebiasaan lain yang terbentuk, kadang-kadang sejak masa kecil dan tak pernah diuah lagi, ternyata membatasi perkembangan individu.

Pengenalan diri serta pemahaman diri menurut Maslow, merupakan jalan terpenting menuju aktualisasi diri,suatu proses yang dapat dibantu atau dapat pula dihambat oleh orangtua, guru maupun lingkungan budaya. Terapis-terapis professional yang memahami proses pertumbuhan memang dapat sangat membantu. Jika seseorang memahami dirinya sendiri ia akan memahami kebutuhan-kebutuhan dasar serta motivasinya yang sesungguhnya dan akan bertingkah laku dengan cara yang akan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya itu. Pemahaman diri juga akan memungkinkan seseorang memahami dan menjalin relasi dengan orang lain secara lebih efektif. Keberanian, integritas dan harga diri penting bagi pertumbuhan yang langgeng. Dari pengalamannya dengan para mahasiswa doktoral di Brandeis, Maslow melihat bahwa bagi orang-orang tertentu kebebasan dapat mendorong pertumbuhan, sedangkan bagi orang lain justru menimbulkan akibatakibat negatif. Bagi individu yang sehat, tekanan dan tantangan akan merangsang pertumbuhan; sebaliknya bagi individu yang tidak aman dan lemah perkaranya menjadi berbeda. Seseorang akan dapat mengambil manfaat dari suatu tantangan apabila tantangan itu tidak melewati batas-batas kesanggupan pribadinya.

Orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak dapat menghindari disiplin dan control dalam batas-batas tertentu, tapi itu jauh lwbih baik bila tumbuh sendiri dari dalam daripada dipaksakan dari luar. Selama individu mau berkembang, kebutuhannya akan pengendaliannya berangsur-angsur berkurang, dan tindakan-tindakannya menjadi lebih wajar serta lebih spontan. Pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang bertaraf renda,seperti makanan, pakaian, dan tempat berlindung tidak dengan sendirinya menjamin pertumbuhan. Dalam kondisi yang sehat pertumbuhan merupakan rahmat dank arena itulah seorang individu yang sehat tumbuh. Pertumbuhan yang sehat merangsang pertumbuhan dan makin seseorang tumbuh, maka makin ingin tumbuhlah dirinya.

Pendidikan Model Mazhab Ketiga

Cara yang tepat mengasuh anak yang di sarankan oleh Maslow yaitu pemberian kebebasan dengan batas-batas. Menurtnya, sikap serba memperbolehkan atau memanjakan dari pihak orangtua dan sekaligus juga mengakui akibat yang merusak dari orangtua yang bersikap dictatorial, authoritarian, yakni orangtua yang menindas, mengekang ataupun terlampaui melindungi anak sampai-sampai anak tersebut tidak dapat mengembangkan kepribadiannya sendiri. Orangtua yang ingin berhasil perlu mengetahui kapan mengatakan ya dan kapan mengatakan tidak. Menurut Maslow, yang harus dilakukan ialah memberikan kesempatan untuk memilih kepada anak; kita biarkan ia membuat keputusannya sendiri. Maslow juga menjelaskan bahwa tidaklah lalu berarti serba membolehkan dalam segala macam kondisi dan terhadap semua anak.

Pendidikan, baik informal maupun formal mempunyai peran penting dalam pengembangan watak. Kita butuh tahu lebih banyak tentang cara pendidikan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, baik di dalam kelas; lewat buku-buku; kuliah-kuliah; katekismus-katekismus,; khotbah-khotbah; atau lewat cinta kasih; penghargaan dan perlakuan yang semestinya. Kebanyakan anak yang terlantar tak pernah berhenti mencari kekaguman, rasa aman, autonomi, kasih sayang, dan sebagainya dengan berbagai cara kekanak-kanakan yang dapat ditemukannya. Tindakan yang lazim dilakukan oleh para orang dewasa yang berpengalaman ialah mengatakan “ah” ia sekedar menyombongkan diri atau ia sekedar mencari perhatian dan selanjutnya membuangnya dari lingkungan pergaulan orang dewasa. Artinya, diagnosis ini biasanya ditafsirkan sebagai perintah untuk tidak memberikan kepada anak apa yang didambakannya, untuk tidak memberinya perhatian, tidak mengaguminya, tidak memujinya.

Orang yang teraktualisasikan dirinya tidak selalu merasa mudah menjadi orranngtua yang baik. Kecakapannya justru dapat membuat anak-anaknya berkecil hati. Menurut Maslow sebagian besar psikolog anak memberikan tekanan terlalu besar pada kebutuhan anak akan cinta kasih. Maslow tidak setuju dengan pendapat Freud yang melukiskan anak-anak kecil bersikap mementingkan diri,merusak,agresif, dan tidak dapat bekerja sama. Menurut Maslow, anak-anak normal dapat bersikap memusuhi, merusak, dan mementingkan diri namun mereka itu juga dapat bersikap murah hati, rela bekerja sama dan tidak mementingkan diri.

Pada teori psikologi Mazhab Ketiga menghendaki suatu bentuk pendidikan baru. Pendidikan ini yang akan memberi tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang,terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahami diri dan orang lain serta berhubungan dengan mereka, mencapai kepuasan atas kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, tumbuh kea rah aktualisasi diri. Pendidikan ini akan membantu manusia menjadi pribadi yang sebaik-baiknya sesuai kemampuannya. Proses pendidikan harus mampu mengembangkan disiplin diri, spontanitas dan kreatifitas.

Penyakit Mental

Maslow memberikan peran yang berbeda pada penyakit mental daripada kebanyakan psikolog maupun psikiater. Berdasarkan data yang diperoleh oleh Maslow melalui praktek klinis selama 12 tahun dan lewat penelitian selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar neurosis berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan akan hubungan dengan orang lain, seperti kebutuhan akan penghargaan, penerimaan serta rasa memiliki-dimiliki, yang tidak terpuaskan. Faktanya bahwa pemuasan kebutuhan-kebutuhan dasar merupakan dukungan kuat bagi psikologi Mazhab Ketiga. Orang yang sakit secra psikologis adalah orang yang tidak pernah berhasil menjamin relasi-relasi manusiawi yang baik.

Maka Dr. Maslow menyarankan, “lebih tepat memandang berbagai macam bentuk neurosis sebagai keadaan yang berkaitan dengan gangguan-gangguan rohani, kehilangan suatu makna atau arti, keraguan dalam tujuan-tujuan hidup, kepedihan serta amarah atas cinta yang hilang, melihat hidup dengan cara lain, kehilangan kepedihan ataupun harapan, keputusasaan dalam menghadapi masa depan, kebencian akan diri sendiri, menyadiri bahwa telah menyia-nyiankan hidup, atau sadar bahwa sudah tidak ada lagi kemungkinan adanya kegembiraan, cinta, dan sebagainya. Semua itu makin jauh dari kemanusiaan yang penuh dari, proses perluasan kodrat manusia dalam bentuk terikat penuh.”

Sebagian besar teori sebelumnya tentang gangguan mental yang diangkat dari ilmu-ilmu alam (ilmiah), telah berusaha mengabaikan perasaan subjektif orang ; yakni emosi, kekhawatiran, dan frustasi mereka. Namun, justru hal inilah seorang neurotic (seseorang yang sadar bermasalah tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya) harus menanggung akibat karna telah mengabaikan kebutuhan-kebutuhannya sendiri dimana kebutuhan ini juga diabaikan dan disangkal oleh “ilmuwan”. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Maslow “ Bukan saja seorang neurotic yang harus membayar sangat mahal bagi usahanya yang sia-sia itu ( yaitu mengabaikan kebutuhannya sendiri sebagai manusia), namun secara ironis sedikit demi sediikit ia juga akan kehilangan kemampuan untuk berfikir.”

Seorang penderita neurotic, akan merasa takut diberi hukuman pukulan secara fisik. Dimana ia tidak dapat meninggalkan perilaku kekanak-kanakannya. Orang yang seperti itu memang secara fisik dewasa sudah matang, tetapi terbelakang secara psikologis. Orang tesebut yang belum berhasil mengembangkan bakat mereka dan mengasah ide-ide baru yang berkaitan dengan cara menjalin suatu hubungan yang baik dengan orang lain. Yang secara setengah sadar semuanya merupakan akibat dari mengabaikan kodrat mmereka sebagai manusia yang mengakibatkan istilah “neurosis” berkembang.

Sebenarnya tidak ada hubungannya tingkah laku seorang korban antara pandangan tentang psikopatologi (penyakit mental) dengan penyakit medis yang menganggap penyakit mental disebabkan oleh virus atau sebagainya. Dua hal itu merupakan perbedaan yang sangat besar dan menonjol. Penjelasannya adalah kita ambil contoh penyakit cacar yang disebabkan oleh virus. Jenis penyakit medis ini, pastinya dapat disimpulkan bahwa si pasien tidak dapat berbuat banyak untukk mengatasi penyaitnya. Karena si pasien bukanlah penyebab penyakit tersebut, tentu saja tidak dapat memperbaikinya dengan sendirinya. Tentunya si pasien harus menunggu keputusan para dokter untuk memberinya obat yang tepat.

Ciri-ciri orang yang sehat bukanlah dapat dilihat dari jasmaninya saja, rohaninyapun juga harus sehat. Sehat rohaninya atau secara mental dalam penempatan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada dalam dirinya dengan tepat dari sudut pandang tindakan memahami atau menafsirkan suatu informasi sensoris serta memahami lingkungan alam semesta yang realistic. Hal ini tentu saja tidak hanya sakit secara emosional, tetapi pemikirannya pun menjadi keliru. Sesuai dengan pendapat seorang psikoanalis, Money-Kyrle bahwa dalam memperlakukan seorang penderita neurosis (penyakit saraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan organic pada susunan sarafnya) dengan sangat istimewa secara mutlak, karena persepsinya tentang alam semesta yang realitas tidak lagi tepat.

Keinginan-keinginan seseorang yang dibiarkan terjadi sampai kebatas merusak persepsinya sendiri diibaratkan seperti orang itu membiarkan sebuah timor yang menggerogoti tubuhnya sendiri, tubuhnya disini diartikan sebagai kesehatan psikologisnya. Orang yang dapat menempatkan persepsinya sendiri dengan realitas seluruh alam semesta terlihat biasanya saja apa adanya, justru tidak selalu mengganggap realitas seluruh alam semesta seperti yang diharapkannya. Neurosis sendiri merupakan ketidakmampuan seseorang dalam memilih berbagai macam kebutuhan psikologisnya sendiri yang sebenarnya atau dapat diartikan ketidakmampuan seseorang memilih secara bijaksana. Orang pemilih dibedakan menjadi dua macam, yakni pemilih yang baik dan pemilih yang buruk. Pemilih yang buruk merupakan orang yang buruk dalam mengamati macam kebutuhan psikologisnya, sehingga mudah mempercayai segala hal kebohongan tahun demi tahun meskipun sebenarnya kebenaran selalu terpampang di depan mata mereka.

Sikap seperti cemas, tegang, gelisah, khawatir, dan takut disebabkan karena ketidakpuasan kebutuhan akan rasa aman yang ia dapat. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian akan gangguan kecemasan yang berlebih (psikosomatik) cenderung menimbulkan masalah-masalah fisik maupun psikologis yang tidak diharapkan oleh setiap orang. Orang-orang dewasa yang mengalami gangguan ketidakseimbangan mental semacam ini menurut Maslow, akan selalu bertingkah laku seperti kanak-kanak yang merasa tidak aman. Hal itupun ditunjukan berdasarkan hasil pengamatan klinis bahwa terdapat perbedaan yang besar antara orang-orang dewasa yang merasa aman serta terlindungi dengan orang-orang dewasa yang tak bisa menghadapi maupun mengatasi rasa takutnya sendiri.

Berdasarkan hasil pengamatan Sigmund Freud, rasa takut dan rasa bersalah merupakan awal dari timbulnya berbagai jenis penyakit mental. Dan itu semua merupakan penemuan terbesar pengetahuan yang baru. Maslow mengakui bahwa karena rasa takut pada dirinya, orang-orang pada umumnya melakukan suatu usaha psikologis yang bertujuan untuk meredam keinginan, hasrat, atau insting mereka sendiri atau dalam dunia psikologis disebut represi. Selain melakukan represi, orang-orang juga pada umumnya melakukan pemfillteran tindakan untuk mengurangi atau mencegah timbulnya tindakan yang tidak perlu lalu memiliih melakukan tindakan yang lain yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Atau dalam dunia psikologis disebut inhibisi. Ketakutan yang semacam itu dalam memahami diri mereka sendiri merupakan sebuah kegagalan. Sedangkan untuk rasa bersalah seseorang dibedakan menjadi dua macam. Yang pertama merupakan rasa bersalah sejati, yakni rasa bersalah yang perlu timbul akibat seseorang yang gagal mengutarakan kebutuhan-kebutuhan psikologisnya secara jujur. Yang kedua merupakan rasa bersalah neurotic, yakni rasa bersalah yang dapat menimbulkan kecenderungan seseorang untuk merasa takut pada sebuah pendapat seseorang bahkan merasa takut pada penolakan orang lain juga. Rasa bersalah neurotic sendiri menurut Sigmund Freud merupakan satu-satunya rasa bersalah yang beliau kenal.

Rasa bersalah yang sejati memiliki fungsi sebagai suara hati yakni mengarahkan seseorang untuk menuju pribadi yang mengalami pertumbuhan. Penderitaan pada rasa bersalah yang sejati merupakan suatu hal yang menunjukan bahwa seorang telah melakukan hal yang tidak baik untuk pertumbuhan pribadinya atau dirinya. Sedangkan orang yang merasakan rasa bersalah neurotic akan merasa sangat tidak aman dan akan bertingkah laku seolah-olah dunia ini berisikan makhluk-makhluk yang dapat ia dominisikan atau parahnya berisikan makhluk-makhluk yang mendominisinya. Sistem pemikiran seperti itu ialah atas dasar pandangan hidup mereka sendiri. Bagi sebagian banyak orang penderita neurotic menganggap dunia adalah tempat yang tidak aman, menurut mereka dunia berisikan mara bahaya, ancaman, mementingkan dirinya sendiri, menghinakan segala sesuatu, dan dunia berasa dingin. Orang-orang yang merasakan rasa tidak aman cenderung bertingkah laku yang tidak disadari oleh mereka sendiri akan membuat rasa tidak aman tersebut bertambah parah. Dapat diartikan bahwa mereka bertingkah laku secara tidak sadar mengakibatkan sebagian orang lain tidak menyukai mereka bahkan menolak mereka, yang secara langsung membuat tingkah laku mereka semakin tidak aman.

Terdapat banyak cara agar perasaan tidak aman ini dapat muncul secara sadar dengan sendirinya. Sebagian dari mereka yang merasa tidak aman akan menjadi pribadi yang pemalu dan menarik diri dari pergaulan, bahkan sebagian dari mereka dapat pula menjadi pribadi yang garanng, agresif, dan jahat. Bahkan hingga menjadi ekstremis, yakni seseorang sangat antusias dan sangat berlebihan dalam tindakan yang tidak tepat, karena terlalu memfokuskan diri pada interpretassi diri yang berlebihan dalam melihat dunia semesta ini. Namun tidak semua ekstremis seperti itu, pada seseorang yang secara pribadinya merasa aman ekstremis yang muncul dapat berupa merasakan bahagia, sejahtera, namun sangat memprihatinkan orang lain. Menurut Maslow, pada umumnya orang yang merasa tidak aman akan mendambakan kekuasaan, namun kebutuhan akan kekuasaan ini muncul dalam berbagai macam bentuk, seperti ambisi dan agresi yang berlebihan, hasrat ingin memiliki yang berlebihan, gila jika sudah berkaitan dengan uang, hasrat ingin bersaing yang berlebihan, sangat mudah terjebak dalam prasangka dan kebencian. Atau lebih parahnya sebaliknya, seperti sikap menjilat atau sikap palsu seperti bermuka dua, sikap selal tunduk, sikap masokrstik yakni rasa senang yang berasal dari rasa sakit fisik atau psikologis yang ditimbulkan pada diri sendiri baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Agar bakat seseorang yang diimiliki tumbuh dengan baik serta mengaktualisasikan dengan tepat, seseorang perlu mengembangkan dan menggunakan bakar tersebut. Hal seperti merupakan sebuah arti kesehatan mental. Menurut penelitian klinis Maslow, orang yang memiliki inteligen cenderung menjalani hidupnya yang sangat membosankan, hasrat hidupnya hilang, hingga penolakan akan dirinya sendiri, bahkan parahnya terjadinya kerusakan fisik. Berbagai macam masalah tersebut pada umumnya cenderung dialami oleh wanita-wanita yang cerdas dan serba kecukupan dalam berbagai aspek namum menganggur. Pada wanita-wanita tersebut cenderung akan muncul masalah-masalah tersebut diatas. Agar gejala-gejala tersebut berkurang dan membaik atau bahkan menghilang, menurut Maslow para wanita tersebut perlu mencari kesibukan untuk diri mereka sendiri dapat dalam bentuk kegiatan yang menurut mereka berarti bagi diri mereka sendiri. Ketika seseorang memiliki tujuan-tujuan hidup yang bermakna, tentunya mereka dalam menjalani kehidupan mereka hari-demi hari bagi mereka sangat berarti dan tentunya orang itu tidak berkeberatan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan seberapa berat sekalipun. Tetapi jika seseorang tidak menemukan makna dari tujuan menjalani keseharian hidupnya, maka tentu saja hidupnya juga tidak berarti sama sekali. Kejadian tersebut diartikan sebagai kelaparan intelektual oleh Maslow. Seseorang yang inteligen sendiri butuh memenuhi kepuasan rasa ingin tahu atau rasa penasaran mereka, jika tidak terpenuhi akan timbul masalah-masalah penyakit mental atau psikopatologis.

Usaha nekat seseorang untuk terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasarnya sendiri tetapi kemudian tidak berhasil cenderung menimbulkan suatu masalah kejiwaan (neurosis). Tetapi menurut pandangan Sigmund Freud, neurosis sendiri timbul ketika seseorang berusaha memuaskan kebutuhan yang tak tersalurkan kemudian seseorang tersebut tidak berhasil membedakan antara kebutuhan yang nyata dan berlaku dengan kebutuhan yang tidak nyata dan berlaku. Menurut penelitian klinis Maslow sendiri terdapat perbedaan antara memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang nyata dan berlaku dengan memuaskan kebutuhan-kebutuhan nerotik. Kebutuhan neurotic sendiri bersifat tidak bisa terkendalikan, tidak fleksibel, bersifat memaksa, dan tidak rasional. Kebutuhan neurotic juga hanya bersifat sementara, kepuasan yang dihasilkan tidak yang sebenarnya. Kebutuhan-kebutuhan neurotic seperi itu bukanlah bagian dari jati diri seseorang tersebut, melainkan sebuah tindakan penyerangan terhadap inti dari pribadi seseorang sendiri atau bahkan dapat berupa sebuah pertahanan bagi inti dari pribadi seseorang itu sendiri. Pemuasan kebutuhan yang seperti diatas bukannya mengakibatkan bakat seseorang tumbuh, namun dapat menyebabkan hilangnya bakat seseorang.

Menurut Maslow, ketika kebutuhan-kebutuhan neurotic terpuaskan tidak akan menimbulkan kesehatan jika dibandingkan ketika kebutuhan-kebutuhan dasar yang bersifat melekat terpuaskan. Jika kita memberikan seorang yang haus akan kekuasaan akan kebutuhan-kebutuhan neurotic tersebut sebuah kekuasaan, tidak akan membuat neurosis yang dideritanya berkurang, bahkan kebutuhan-kebutuhan akan kekuasaan tersebut tidak akan bahkan tidak mungkin terpuaskan. Jika kekuasaan yang satu sudah dimilikinya, ia akan selalu merasa kurang. Oleh sebab itu rasa haus membuatnya mencari kekuasaan neurotic yang lainnya agar menjadi milikinya. Terpuasnya atau tidak suatu kebutuhan neurotiknya tidak ada pengaruhnya bagi keshatan yang sesungguhnya. Berbeda sekali dengan kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan rasa nyaman dan kebutuhan akan rasa kasih sayang. Jika kebutuhan tersebut terpuaskan maka akan menimbulkan kesehatan yang sesungguhnya. Artinya kebutuhan tersebut benar-benar terpuaskan. Namun, jika kebutuhan tersebut tidak terpuaskan maka akan menimbukan sebuah penyakit.

Orang-orang penderita neurosis akan terus-menerus mencoba menghadapi realitas tanpa memahami dirinya sendiri, sehingga tingkah lakunya yang neurotis membuat kepuasan yang dikejarnya tidak akan pernah tercapai. Yang mengakibatkan orang tersebut mengalami rasa keputusasaan yang sangat mendalam, yang membuatnya berhenti akan segala macam usahanya. Menurut Maslow sikap masa bodo pada penderita skizofrenia sebenarnya mengutarakan bahwa mereka putus asa dan kehilangan harapan mereka.

Hal mutlak yang terjadi di dalam diri setiap seperti konflik batin antara kedewasaan dan ketidakdewasaan, antara sebuah tanggung jawab dan tidak bertanggung jawab yang semata-mata hanya mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, antara dorongan dan pengendalian, antara keinginan-keinginan pribada dan tuntutan-tuntutan masyarakat maupun social. Konflik antara individu satu dengan individu yang lain muncul akibat konflik yang terjadi pada diri pribadi seseorang sendiri. Hal ini diperjelas bahwa masalah-masalah pemahaman komunikasi antara banyak orang sekaligus umumnya salah satu akibat dari masalah-masalah pemahaman dalam komunikasi di dalam diri individu sendiri. Maslow menyatakan bahwa konflik yang sama dalam diri seseorang sendiri pada masing-masing individu sendiri ketika secara bersamaan saling menarik dan saling menolak antara individu yang satu dengan individu yang lain. Pertentangan dalam batin yang sangat kekal diantaranya pertentangan antara pertahanan dan pertumbuhan, rasa takut dan keberanian, antara ilmu tentang penyakit atau patologi dan kesehatan.

Pada percobaan tentang “menanamkan” atau “imprinting” dengan anak ayam yang sejak awal dihalangi untuk mematuk, kemudian mereka menunjukkan sebuah refleks akan naluri-naluri mereka dengan berhentinya hingga menghilangnya kemampuan mematuk mereka. Bahkan kemampuan mematuk mereka dapat menghilang secara permanen, tidak bisa diperbaiki seperti semula. Menurut Maslow, bayi-bayi manusia sejak delapan belas bulan sejak kelahiran tidak mendapatkan kasih sayang cenderung akan tumbuh menjadi psikopat dimana ia tidak memiliki rasa cinta lagi bahkan tidak butuh kasih sayang sama sekali. Namun hal itu berbeda dengan apa yang ada di dalam diri orang yang neurotik terdapat banyak jalan untuk mengotori kearifan dari tubuhnya sendiri, kearifan tersebut tidak akan pernah hilang sama sekali.

Berdasarkan sebuah penelitian, anak-anak yang diterima sepenuhnya di lingkungannya sampai yang ditolak sepenuhnya, ternyata ditemukan bahwa anak-anak yang ditolak sedikit semi sedikit cenderung lebih bertingkah laku menunjukan kehausan mereka akan rasa kasih sayang. Berbeda dengan anak-anak yang sejak awal ditolak cenderung tidak lagi menunjukan keinginan mereka akan kasih sayang, melainkan mereka melampiaskan melalui sikap dingin yang memberikan kesan seakan-akan mereka tidak memiliki kebutuhan akan kasing sayang sama sekali.

Seorang psikopat dapat diartikan sebagai orang-orang yang tidak memiiki suara hati, tidak memiliki rasa bersalah, tidak memiliki rasa kasih sayang maupun rasa cinta pada orang lain, tidak bisa menahan diri dan tidak memiliki pengendalian. Semua itu tidak dimiliki mereka sedari dini, sehingga secara otomatis mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa memperdulikan siapapun yang mencegah ataupun melarangnya. Hal tersebut cenderung menjadikan mereka seorang penipu, pemalsu, pelacur, dan mencari nafkah dengan segala kecurangan mereka, bukan dengan kerja keras mereka. Tekanan suara hati, rasa kesal, rasa cinta tanpa maksud, rasa sedih, rasa ib, rasa serba salah, rasa malu, semua itu disebabkan olah ketidakmampuan psikopat dalam memahami kepedihan orang lain. Tentunya hal tersebut merupakan kekurangan dari mereka sejak awal, yakni mereka yang tidak dapat merasakan maupun memahami hal-hal yang mereka sendiri tidak pernah mengalaminya sendiri. Dan yang menjadi kelebihan para psikopat tersebut adalah mereka dapat sangat mudah menemukan unsur-unsur psikopatis dalam diri orang lain yang oleh orang biasa tidak diketahui. Dengan kemampuan yang demikian mereka memanfaatkan kecenderungan ke arah sesuatu yang tidak jujur, sifat rakus serta kecurangan, dan mencari riezeki lewat kelemahan-kelemahan mereka sebelumnya.

Perilaku tokoh-tokoh tertentu yang mencapai kesuksesan gemilang di dunia saat ini, ternyata tidak jauh dari teori kebutuhan-kebutuhan dasar. Misalnya, seseorang yang sukses memperoleh kekuasaannya dibidang politik, tetapi dalam pencapaiannya yang ia perjuangkan hanya demi alasan alasan neurotik bagi dirinya saja, bisa saja sangat sukses, tetapi hal yang seperti itu justru harus diwaspadai oleh masyarakat sekitar. Sebab kebutuhan-kebutuhanya berupa kekuasaan bersifat memaksa dan kebutuhan akan kekuasaannya tidak akan pernah terpuaskan. Meskipun orang-orang seperti itu sudah menjadi kaya raya akan terus menerus berusaha mengumpulkan uang lebih banyak lagi, meskipun kebutuhan material mereka sebenarnya sudah terpenuhi. Meskipun mereka terlihat sangat sukses, tetapi pengumpulan yang mereka lakukan tidak memberikan kepuasan sebab yang mereka lakukan semacam itu tidak memberikan kepuasan akan kebutuhan yang sesungguhnya, melainkan hanya memuaskan rasa haus mereka akan suatu penghargaan dan penerimaan dalam masyarakat.

Menurut Sigmund Freud, pemerkosaan menimbulkan bentuk gejala neurotic pada pelaku. Pada era ini akan dijawab oleh teori kebutuhan-kebutuhan dasar. Menurut Maslow banyak khasus yang membuktikan bahwa hidup orang-orang dalam kedudukan tertentu dimana orang itu tidak boleh menikah, seperti rohaniwan di gereja Katolik Roma tidak menimbulkan gejala-gejala perilaku penyakit mental. Walaupun dalam segi kasus lain bisa saja timbul akibat-akibat negative. Berdasarkan pengamatan klinis yang dilakukan pada orang-orang yang tidak menunjukan gangguan pada syaraf, menunjukan dengan jelas bahwa pemerkosaan akan bersifat menimbulkan penyakit pada orang-orang dalam artian apabila oleh mereka dirasakan sebagai tanda penolakan diri dari pihak lawan jenis, ataupun mencerminkan rasa rendah pada harga dirinya, rasa tidak berharga,rasa tidak dihargai, pengucilan, atau bahkan bentuk ancaman lain terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar mereka yang lainnya. Dalam kasus perampasan seksual akan dapat dihadapi dengan mudah jika orang-orang tidak memiliki anggapan semacam itu.

Dengan teorinya tentang kebutuhan-kebutuhan psikologis yang bersifat dasar, Maslow ingin mengajukan sebuah penjelasan yang ringkas dan mudah dipahami tentang nerosis (penyakit syaraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan pada susunan syaraf) dan psikosis (kelainan jiwa yang disertai dengan disintegrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan), terlepas dari banyaknya ragam gejalanya yang ditunjukan.

Agresi

Kita ketahui bahwa masyarakat kini makin memprihatinkan dengan meningkatnya gejala kekerasan dan tingkah laku yang agresif. Oleh sebab itu Dr. Maslow memberikan perhatian aspek khusus pada tingkah laku ataupun tingkah laku yang menyimpang ini dengan penjelasan dalam teori tentang motivasi oleh Dr. Maslow yang dapat ditangkap dengan baik dan dengan ruang lingkup yang luas.

Pada dasarnya, teori-teori tentang agresi dapat dibagi ke dalam dua kategori utama: (1) Teori-teori yang berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah atau merupakan kodrat bawaan manusia, dan (2) Teori-teori yang tidak berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah. Menurut Freud yang merupakan salah satu ilmuwan behavioral, berpandangan bahwa permusuhan dan keagresifan ialah sifat-sifat yang melekat pada kodrat manusia. Hal tersebut didasarkan pada pengamatan yang menunjukan bahwa binatang-binatang bersifat agresif dan bersifat merusak. Menurut Freud manusia juga merupakan binatang, maka manusia juga memiliki sifat naluri kekerasan maupun keagresifan. Akan tetapi Maslow menolak pandangan akan jalan pikiran Freud. Maslow memilih kategori ke dua,yakni ia tidak berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah. Walaupun sekalipun ia mengakui bahwa bukti-buktinya belum sepenuhnya dapat disimpulkan.

Menurut jalan pikiran Maslow, walaupun binatang-binatang tersebut bersifat agresif akan tetapi tidak semua binatang demikian. Pada kenyataannya keagresifan dan kekerasan pada beberapa angota spesies dalam kerajaan binatang merupakan pengecualian, bukan menjadi sesuatu yang umum. Kemudian, spesies-spesies yang dianggap paling dekat hubungannya dengan manusia ternyata memberikan sedikit bukti akan adanya naluri keagresifan pada binatang. Hal ini memang benar khususnya bagi sebagian besar jenis kera yang pernah diteliti dan digunakan sebagai subjek percobaan oleh Maslow selama masa pendidikannya di universitas. Misalnya pada simpanse betina membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada agresi yang dilakukan demi keagresifan itu sendiri. Menurut pengakuan Maslow ternyata kekerasan dan agresi merupakan ciri binatang-binatang tertentu secara individual. Suatu penelitian yang lain oleh Maslow terhadap beberapa tikus laboratorium menunjukan bahwa sedikitnya sifat buas ditimbulkan dan diturunkan secara genetika dari generasi ke generasi.

Menurut Maslow agresi memiliki dasar kebudayaan bukannya genetic, hal itu diyakininya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Maslow terhadap orang Indian Northern Blackfoot. Dalam penelitian ini bahkan Maslow mampir tidak menemukan agresi pada suku ini, padahal suku Indian memiliki tingkah laku dimana mereka merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri seakan mereka yang mulia, mereka sangat perkasa dan bebas. Bahkan dalam penelitiannya Maslow menemukan bahwa meskipun mereka dalam keadaan mabuk karena miuman keraspun orang-orang Indian ini pun cenderung memperlihatkan tingkah laku mereka yang periang dan ramah, bukannya perilaku agresif.

Agresi adalah suatu bentuk reaksi akan frustasi atau ketidakmampuan seseorang dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasarnya. Agresi merupakan sebuah bentuk dari reaksi, bukan sebuah naluri. Walaupun manusia yang sehat dapat mempertahankan dirinya, mereka sudah belajar memahami diri mereka sendiri dan orang lain sehingga mereka tidak akan bersikap keras, agresif, ataupun merusak. Orang-orang yang sehat cenderung menyukai kasing sayang, persahabatan, bahkan kerja sama, akan tetapi berbanding terbalik dengan orang-orang yang memiliki gangguan syaraf dan gangguan jiwa dimana mereka tidak dapat menilai atas kenyataan yang terjadi. Hal itu disebabkan karena mereka tidak dapat menjalin hubungan dengan orang lain dan rasa untuk memuaskan kebutuhan dasar psikologis mereka akan pengakuan dan penerimaan di masyarakat yang begitu kuat. Bahkan mereka berusaha menemukan sebuah kenikmatan yang berasal dari kebencian dan sikap merusak dari sikap mereka sendiri. Jika orang-orang melihat dunia dari sudut pandang Darwin dimana suatu kemenangan berada di tangan yang terkuat, maka bagi mereka dunia merupakan tempat yang sangat buas dan berbahaya. Dimana dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang tidak jujur, mementingkan dirinya sendiri dan orang yang agresif. Bagi mereka agresi merupakan suatu bentuk reaksi atau sebuah pertahanan akan apapun yang mereka anggap sebagai ancaman bagi diri mereka. Salah satu contohnya adalah perilaku psikopat yang melakukan pembunuhan, penyiksaan atau penganiayaan tanpa rasa penyesalan sama sekali. Dimana menurut Maslow sendiri mereka tidak memiliki rasa sayang sama sekali terhadap orang lain sehingga mereka tega melukai ataupun membunuh orang lain dengan tenangnya, tanpa adanya kebencian dan kenikmatan akan apa yang mereka lakukan. Yang mereka lakukan seperti membunuh binatang-binatang yang menjadi sumber penyakit.

Menurut anggapan dari Maslow, agresi pada umumnya dapat dicegah dan disembuhkan karena agresi sendiri bersifat kultural. Namun agresi yang timbul pada perilaku seorang psikopat belum ada bukti yang mencukupi. Mungkin kebanyakan kasus psikopat ini, orang-orang ini sama sekali kehilangan rasa untuk menjalin suatu hubungan dengan orang lain sampai tidak dapat disembuhkan lagi.

Terapi

Sebenarnya sifat dan kemampuan seorang terapis lebih menjamin dan berpengaruh dalam metode klinis penyembuhan daripada teori-teori yang mereka anut. Teori-teori yang dianut para terapis tersebut memiliki perbedaan yang tidak sebanding dengan kemampuan mereka.

Salah satu metode psikoanalisis adalah asosiasi bebas, yakni teknis dimana si pasien dalam keadaan rileks, biasanya dengan berbaring di atas dipan, berbicara apa saja yang ada di dalam pikiran mereka, tanpa terlalu banyak dipotong pembicaraannya. Hal ini dilakukan berdasarkan teori bahwa lewat diskusi yang sebenarnya terlihat tanpa tujuan, dengan dilengkapi analisis terhadap mimipi-mimpi pasien, maka dengan itu pasien itu akan menjadi sadar akan kejadian-kejadiannya di masa lalu yang telah meyebabkan atau sedang menjadi sebab dari kesulitannya. Dr. Maslow sendiri memiliki pengalaman sebagai subjek psikoanalisis sekaligus sangat akrab dengan metodologis ini yang ia dapat saat pendidikannya. Menurut Maslow pendekatan ini sangat membantu bagi pasien-pasien tertentu untuk mengenali dan memperbaiki sebagian pemikiran mereka tentang “interpretasi mereka yang kekanak-kanakan tentang diri mereka sendiri maupun tentang orang-orang lain”. Pada awalnya Dr. Maslow sebagai psikolog klinis sering heran bahwa si pasien mengaku sembuh meskipun yang dilakukan oleh terapis hanyalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masalahnya dan tentang riwayat hidupnya. Salah satu pengalamannya ketika seorang mahasiswi suatu akademi meminta nasihatnya mengenai suatu masalah. Satu jam kemudian setelah ia puas berbicara, sementara selama itu terapis tidak menatakan sepatah kata pun, ia ntelah memecahkan masalahnya secara memuaskan dan berterima kasih kepada terapis atas jasa-jasnya keahliannya. Hal ini menunjukan bahwa menemukan kepuasan tersendiri ketika ia telah meluapkan semua pikirannya kepada terapis, yang secara tidak sengaja ia menemukan sendiri cara mengatasi masalahnya sendiri.

Dr. Maslow pernah mewawancarai tiga puluh empat orang yang baru menjalani berbagai macam terapi dalam satu tahun terakhir. Dua puluh empat dari mereka mengatakan bahwa mereka puas dengan terapi yang telah mereka terima dan terapi mereka sungguh-sungguh sangat menolong mereka. Pengakuan tersebut terlepas dari kenyataan bahwa mereka yang diwawancarai tersebut telah menerima berbagai macam metode klinis. Maka menurut pendapat Maslow semua jenis psikoterapi utama sejauh pendekatan-pendekatan itu berhasil memberikan kepada pasien pemahaman akan diri mereka sendiri, memperkuat dan mendorong kebutuhan-kebutuhan dasar alamiah mereka, serta mengungkapkan, melemahkan dan terkadang sekaligus menghilangkan segala bentuk kebutuhan yang menyebabkan gangguan syaraf atau neurotic. Apabila terapi tersebut berhasil, maka orang akan berubah dari sebelumnya sehingga mereka melihat berbagai persoalan dan berpikir secara berbeda ; meliputi emosi-emosi dan alasan-alasan mereka berubah dan sikap mereka terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain pun juga berubah. Dr. Maslow berpendapat bahwa karakter atau kepribadian mereka berubah baik luar maupun luar. Hal ini terbukti dengan penampilan mereka yang berubah, kesehatan fisik mereka meningkat dan sebagainya. Dalam suatu kasus tertentu bahkan terjaddi peningkatan IQ.

Sigmund Freud umumnya menyarankan hubungan yang bersifat non-personal dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh pandangan pribadi antara psikiater dan kliennya. Tetapi masa kini banyak terapis yang menyarankan hubungan yang lebih personal. Ada perbedaan besar diantara para terapis, meskipun mereka semua menggunakan metode yang sama. Maslow sendiri menganjurkan agar pasien dan terapis saling memilih, atas dasar menyukai diantara hubungan keduanya. Pandangan Freud hampir sama dengan Maslow, yakni terapis yang lebih memahami dirinya akan paling berhasil memahami orang-orang lain. Freud juga berpendapat bahwa apa saja yang membuat terapis menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik juga akan berpengaruh menjadikannya seorang terapis yang lebih berbobot pula. Seorang terapis yang ideal haruslah kokoh secara emosional, tidak terlalu memikirkan soal uang, sekurang-kurangnya mampu mencintia secara langgeng, jika suda menikah bahagia dalam menikmati kehidupannya. Pesona pribadi Maslow sendiri memilih jalan pikirannya sendiri, dimana karyanya akan lebih bermanfaat dalam membantu orang-orang sehat, karena waktu yang sedikit akan bermanfaat besar daripada berjam-jam dengan orang yang memiiki gangguan neurotic. Pemikiran Maslow tersebut mendorong lahirnya sederetan pusat-pusat pertumbuhan di segala penjuru di Amerika Serikat, diawali oleh Institut Esalen di Big Sur, California. Semua pusat ini memberikan tekanan pada usaha meningkatkan kehidupan orang-orang yang sudah sehat, bukan orang-orang yang neurotik.

Walaupun menurut Maslow pentingnya peranan para ahli terapis dalam menangani kasus-kasus neurotic serta psikotik, namun menurut bagi kebanyakan orang pertumbuhan dan peningkatan kepribadian berlangsung berkat pertolongan orang-orang terdekat seperti para pemuka agama, sahabat atau kawan dekat, mitra yang baik dalam perkawinan, kadang-kadang jabatan yang bagus

Sebenarnya dapat diajukan suatu kasus dalam pembutian thesis bahwa lingkungan hidup yang baik merupakan bagian sumber penyembuhan dasar dan tugas psikoterapi teknis hanyalah membantu individu membantu individu agar mampu memanfaatkan sumber-sumber penyembuhan tersebut. Lingkungan hidup seperti seorang sahabat baik, dimana menjadi tempat orang dapat mengutarakan masalah dan kekhawatiran pribadi secara terus terang dan lebih leluasa dapat sangat membantu menuju kesehatan psikologis. Lingkungan hidup lainnya, yakni perkawinan yang baik, memiliki anak, kesuksesan dalam karier yang sesuai, menghadapi keadaan darurat dan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan. Kadang kala hanya melihat semua itu mengahasilkan perubahan-perubahan kepribadian yang mendalam, menghilangkan gejala-gejala penyakit dan sebagainya, tanpa bantuan seorang terapis terampil.

Terapi yang berhasil yakni terapis tanpa menggunakan metode khusus yang digunakan. Ternyata membantu pasien dengan memberinya pengertian, wawasan, pemahaman, dirinya sendiri dan pandangan yang lebih baik tentang realita. Hal tersebut membuktikan fakta bahwa kesehatan mental hampir sama dengan pandangan yang lebih baik tentang realita. Seseorang biasanya menjadi lebih mampu memecahkan masalah-masalah dalam hidupnya. Tidak hanya memahami dirinya sendiri, pemahaman tentang orang lain juga diperlukan. Sebab jika tidak akan mengurangi keberhasilan suatu hubungan, akan tetapi jika sebaliknya akan meningkatkan pergaulan. Apabila orang tersebut menjadi lebih sadar tentang pentingnya motivasinya, kebutuhannya, hasratnya, kesukarannya.

Menurut Maslow dan pandangan para terapis lainnya, cinta kasih sangat penting bagi kesehatan mental. Berdasarkan percobaan pada bayi-bayi menunjukan bahwa perampasan cinta dan kasih sayang dapat menimbulkan masalah-masalah bahkan dapat mengakibatkan kematian. Pada banyak kasus tertentu berasal dari kurangnya cinta kasih yang diterima seseorang pada masa-masa awal kehidupannya. Akan tetapi para terapis kini telah berasil menemukan cara penyembuhan khususnya untuk pasien kanak-kanak, yaitu dengan memberi mereka kasih sayang dan kelembutan. Dalam kebanyakan kasus cara ini juga efektif untuk para pasien dewasa. Terapi yang berhasil membuat mereka mampu memberi dan menerima cinta. Kebanyakan teoretikus yakin atau berpendapat bahwa kebutuhan akan cinta tercipta atau terbentuk melalui kebiasaan dalam pemuasan kebutuhan fisiologis, misalnya kita belajar mencintai seseorang yang memberikan dan membagi makanan, kehangatan, pelindungan. Ajaran dahulu dan kini tentang kebutuhan akan pengetahuan, pemahaman, dan keindahan juga dipelajari lewat pembiasaan pemuasan fisiologis, merupakan pertanda akan adanya makanan dan sebagainya. Pengalaman kita sedikitpun tidak mendukung kebenaran pendapat teoretikus tersebut. Malahan khususnya dalam terapis muncul bukti bahwa cinta tidak menimbulkan masalah-masalah emosional akan tetapi cinta dan kasih sayang merupakan dasar bagi perkembangan seseorang yang sehat, membuktikan bahwa kebutuhan akan cinta bersifat alamiah. Oleh Karen aitu terapi dapat diartikan sebagai usaha membantu orang menjadi lebih terampil berhubungan dengan orang lain.

Berdasarkan pengamatan Maslow, sebuah terapi hanya akan berhasil sejauh usaha sebuah terapi itu benar-benar membantu orang melihat dan menemukan cara-cara yang lebih baik dalam bertingkah laku, berfikir, dan berhubungan dengan orang lain. Akan tetapi yang akan berhasil tersebut, disebut berhasil jika karena ia melahirkan pribadi-pribadi yang lebih baik di masa depan. Dalam artian pribadi-pribadi yang akan menjadi orang tua yang lebih baik, mitra yang lebih baik dalam perkawinan, pekerja yang baik, warga negara yang lebih baik. Salah satu kesalahan ilmuwan behavioral baik psikolog maupun psikiater adalah mereka yakin bahwa tingkah laku yang benar dan yang salah tidak memiliki dasar ilmiah. Maslow berkata, sudah selayaknya setiap hari para psikoterapis yang professional menyempurnakan atau bahkan mengubah tujuan manusia, membantu orang-orang untuk menjadi lebih kuat, lebih berbudi luhur, lebih kreatif, lebih memiiki rasa cinta kasih, lebih menaruh perhatian pada orang lain, lebih tentram. Semua itu hanya merupakan sebagian akibat dari pemahaman diri dan penerimaan diri yang jauh lebih baik.

Terapi dalam bentuk pemahaman diri ternyata berhasil, sebab metode tersebut membantu individu, menemukan dalam dirinya kebutuhan untuk bertingkah laku secara benar, menemukan kebenaran tentang dirinya. Dalam pemuasan kebutuhan dasar menuntut kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Jika kemampuan interpersonalnya tidak menjadi lebih baik,individu tersebut akan menemukan kesulitan dalam memuaskan kebutuhannya, seperti kebutuhan akan rasa aman, rasa dimiliki-memiliki, cinta kasih, dan penghargaan. Bahkan keterampilan di atas juga dituntut untuk memuaskan kebutuhan akan harga diri, pengetahuan, serta pemahaman. Seorang terapis yang berhasil harus membantu individu agar lebih mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya, dengan begitu akan mendorong individu kea rah aktualisasi dirinya. Maslow menyebut hal itu sebagai “ tujuan pokok segala macam terapi”.

Dr. Maslow melakukan terapi dimana ia berhasil meningkatkan harga diri seorang wanita yang sangat pemalu dan menarik diri dengan cara wanita itu diminta untuk menonjolkan diri dalam dua puluh macam situasi yang spesifik dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ia diminta untuk mendesar penjual makanan langganannya agar menyediakan makanan tertentu untuk dirinya dan wanita itu diminta mengabaikan keberatan-keberatan penjual itu. Dalam tiga bulan telah terbukti bahwa harga dirinya meningkat dan berhasil mengubah tingkah lakunya secara keseluruhan. Wani tersebut kemudian tidak keberatan mengenakan gaun-gaun ketat yang sebelumya tidak ia sukai. Untuk pertama kalinya ia berani tampil dimuka umum dengan menggunakan baju renang yang sebelumny ia sangat melu untuk melakukannya. Suaminya juga melaporkan bahwa ada perubahan positif dalam tingakah laku wanita yang menjadi istrinya itu, yang sebelumnya sangat malu-malu. Isi mimipi-mimpinya pun berubah dan ia mampu menghadapi sejumlah situasi yang sebelumnya dirasakannya terlampau sulit.

Maslow menjelaskan bahwa sebab dalam terapi umumnya pasien menolak mengakui kebenarannya bahwa wajar orang cenderung melindungi gambaran dirinya, egonya. Selain itu, realitas memang bisa menjadi sangat terancam, khususnya bagi orang yang merasa tidak aman. Orang-orang yang biasanya terasa aman pun sering diganggu oleh beraneka rasa takut. Berdasarkan pengamatan Maslow, rasa takut seperti itu biasanya merupakan akibat dari pengalaman spesifik tertentu. Dan bagi orang-orang semacam itu, teknik yang oleh Maslow disebut pembiasaan kembali sederhana yaitu pemberian penjelasan intelektual, pemberian bimbingan untuk memperkuat kemauan dan pemberian nasehat-nasehat. Teknik tersebut sudahlah memadai, namun metode-metode ini sama sekali tidak ada gunanya bagi orang yang sungguh-sungguh merasa tidak aman. Oleh karena itu Maslow mengambil kesimpulan bahwa dapat dikatakan rasa takut yang tidak sejala dengan aspek-aspek kepribadian lainnya muudah dihilangkan. Akan tetapi, sebaliknya rasa takut yang sejajar atau sejalan dengan aspek-aspek kepribadian lainnya akan sukar dihilangkan.

Beberapa terapis percaya bahwa rasa bersalah merupakan salah satu penyebab penting bagi timbulnya neurosis. Untuk menyembuhkannya, menurut para terapis tersebut pasien harus diyakinkan bahwa perasaan bersalahnya itu merupakan akibat yang tidak perlu yang berasal dari pendidikan yang terlalu berpegang teguh pada nilai-nnilai moral dan agama. Namun Maslow tidak berpikir demikian, ia yakin bahwa rasa bersalah sejati adalah akibat kegagalan orang tumbuh sesuai dengan potensinya. Jika ini yang terjadi, maka terapis harus membantu pasien menemukan dan memahami sebab dari rasa bersalahnya itu. Keterlibatannya sangatlah jelas, yaitu ketika kita mengalami kegagalan tersebut kita menjadi kurang toleran, kurang bersikap relative terhadap persoalan-persoalan ini, dan lebih bersikap menghakimi. Oleh sebab itu, kini para psikolog mengakui bahwa ada ketidaksadaran yang sehat maupun yang tidak sehat. Sedangkan yang harus disalurkan dan harus diperkuat adalah ketidaksadaran yang sehat.

Seseorang yang otoriter yang menganggap dunia ini penuh bahaya, mungkin tidak akan menunjukan tanggapan yang baik terhadap terapis yang kelihatan lemah lembut dan serba percaya. Bagi orang-orang yang merasa berkuasa diri yang keras dan ketat adalah yang paling tepat. Membantunya dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan hanya akan meningkatkan tingkah laku buruk mereka. Sama halnya dengan individu yang sangat pasif dan tergantung tidak akan da;pat menerima kebebasan dan tanggungjawab secara tiba-tiba. Sehingga dalam hal ini ita tidak boleh berfikir bahwa dalam kondisi yang baik pasti membuat setiap orang menjadi pribadi yang tumbuh, mengaktualisasi diri. Dengan kata lain jenis-jenis neurosis tertentu tidak akan tersembuhkan dengan cara ini.

Selama musim panas 1962 ketika Abraham Maslow menjadi dosen tamu pada Western Behavioral Science and Non-linear Systems, ia diundang oleh Dr. Robert Tannenbaum untuk mengunjungi salah satu kelompok “sensitivity training” UCLA di Lake Arrowhead. Ini merupakan pengenalan pertamanya dengan salah satu “training groups” (atau yang dikenal dengan sebutan “T-grups”). Ia belum banyak membaca tentang kelompok-kelompok ini. Pengalaman itu sungguh-sungguh baru dan mengesankan. Sebagai orang yang pernah mendalami psikoanalisis, ia sangat terkesan oleh kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan antara analisis dan T-groups. “Sensitivity training” tida mengenal struktur, artinya sejumlah orang dikumpulkan dalam suatu kelompok, bahkan hampir tanpa diberi petunjuk sama sekali. Mereka hanya sekedar duduk dan berbicara satu sama lain. Ini mirip dengan teknik mendorong subjek agar mengutarakan apa saja yang terlintas di kepalanya dalam psikoanalisis. Dalam “sensitivity training group”ini boleh dikatakan tidak ada kegiatan yang dijadwalkan, sehingga bagi banyak partisipan pada permulaan terasa tidak ada tujuannya. Maslow juga melihat persamaannya dengan filsafat Tao tentang “noninterferensi”, yaitu membiarkan segalanya atas kehendak dan caranya sendiri. Maslow pernah mengembangkan cara serupa dikalangan mahasiswa tingkat doctoral di Brandeis. Dari pengamatan yang dilakukan Dr. Maslow terhadap mahasiswa tingkat doctoral di jurusan psikologi yang bersuasana permisif dan Taoistik, Dr. Maslow memberi kesimpulan bahwa sedikitpun aturan dan pemberian keleluasaan merupakan suasana yang paling baik untuk mendorong munculnya daya-daya psikis yang terdalam bahkan kecenderungan-kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri ke permukaan. Namun Dr.Maslow juga melihat bahwa suasana di jurusan yang sedemikian ini juga dapat memunculkan semua kelemahan mahasiswa, dapat berupa kurangnya kemampuan serta aneka rintangan dan hambatan, dan sebagainya. Dalam artian suasana masa kini yang tidak terstruktur cenderung membuat para mahasiswa berkembang atau bahkan sebaliknya yakni hancur. Tidak sedikit mahasiswa yang berkembang secara mengagumkan tetapi ada pula yang justru gagal.

T-group yang diamati Maslow terdiri atas para pengusaha, para insinyur, para pemimpin perusahaan, yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat praktis, keras kepala bahkan memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari rata-rata orang. Maslow heran bahwa kelompok itu dalam partisipasi mampu menguasai asosiasi bebas serta cara-cara menyalurkan permusuhan dan perasaan-perasaan mereka yang terdalam dalam waktu yang sangat singkat. Dr. Maslow melihat kemungkinan bagi orang-orang yang sehat maupun orang-orang yang secara psikologis tidak sehat untuk mempercepat proses penyembuhan dengan meted-metode lama dan tradisional memakan waktu dan biaya begitu banyak. Akan tetapi cara-cara orang dalam kelompok itu bertingkah laku dan berbicara yang begitu spontan dan bebas sama dengan orang-orang yang pernah menjalani psikoanalisis selama paling sedikit satu atau dua tahun. Pandangan psikoanalitik bahwa setiap perubahan kepribadian pasti memakan waktu dua atau tiga tahun. Dan ternyata proses itu berlangsung jauh lebih cepat, bahkan sangat jauh lebih cepat dalam situasi social dalam kelompok ini. Dugaan yang dikemukakan oleh Maslow bahwa salah satu penyebabnya adalah orang-orang dalam T-group yang berpartisipasi adalah orang-orang “lugu” yang sebelumnya tidak pernah melakukan analisis diri sendiri. Orang-orang dalam kelompok ini dengan cepat belajar memeriksa perasaan-perasaan dan motif-motif mereka sendiri, secara psikis mereka menjadi sadar akan kehadirang orang-orang baik dalam kelompok maupun yang di luar. Sadar akan perasaan-perasaan dan emosi-emosi orang lain dan sadar betapa sulit mengkomunikasikan perasaan-perasaan dan emosi-emosi tersebut. Pengalaman itulah yang memaksa mereka meninjau kembali pikiran-pikiran serta kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi bagian keseluruhan kepribadian mereka. Orang-orang dalam kelompok ini sadar bahwa kritik-kritik yang jujur dan sehat bukannya permusuhan, sering sekali menumbuhkan saling penghargaan serta kasih sayang satu sama lain. Para partisipan dalam kelompok itu belajar bersifat lebih realistis dan lebih objektif, menjadi lebih sadar dan lebih toleran terhadap emosi-emosi mereka. Pendekatan ini merupakan latihan keakraban, kejujuran, spontanitas, sebab kesan kuat yang sering sekali ditangkap ialah bahwa orang-orang itu berusaha keras membuang pertahanan-pertahanan mereka demi menjadi lebih berani menghadapi risikod dilukai. Sedangkan belajar bersikap toleran menghadapi keadaan yang kurang berstruktur, keadaan serba mendua, keadaan serba tanpa rencana yang jelas, masa depan yang kabur, keasaan serba tidak menentu, masa depan serba tidak terkendali, semua itu benar-benar terapeutik dan psikologik. Metode “T-group” ini tidak menawarkan jalan pintas bagi metode psikoanalitis, lebih dari itu dalam T-group berlangsung sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi dalam situasi-situasi bukan kelompok. Maslow berspekulasi bahwa suatu kombinasi antara terapi kelompok dan terapi individual pastilah akan sangat efektif. Dalam T-group segalanya terjadi dan dengan cepat pula.

Para psikoanalis selalu berpegang pada keyakinan bahwa suatu perubahan kepribadian mau tidak mau haris dilakukan penyelidikan mendalam ke masa lampau, bahwa masalah-masalah psikologis berakar dalam alam ketidaksadaran. Akan tetapi dalam pendekatan ini “Sensitivity training” bertolak belakang, sebab ia memusatkan perhatian pada masa kini dan masa depan seseorang. Bagi Maslow hal ini menjadi jelas bahwa pengalaman kelompok partisipan itu telah mengubah sikap-sikap dan tingkah laku orang, benar-benar mengubah kepribadian mereka, dan perubahan-perubahan ini dicapai tanpa perlu melakukan penyelidikan masa lalu seseorang dan menyelidiki sumber-sumber sikap-sikap neurotiknya. Para psikoanalisis berpendapat bahwa penyebab utama tingkah laku tersembunyi dalam diri seseorang semata-mata bersifat dalam pribadi bukan bersifat social atau antar pribadi yang lain. Kelompok orang-orang partisipan ini telah menunjukan bahwa seyogyanya kita harus memberikan tekanan yang lebih besar pada situasi social interpersonal di masa ini sebagai penentu tingkah laku antarpribadi seseorang, bahkan juga penentu bagi kesadaran dirinya. Dr. Maslow telah menemukan suatu alternative metode untuk meningkatkan kualitas orang-orang dan meningkatkan kualitas masyarakat, menemukan suatu cara untuk mengubah individu-individu dan kelompok-kelompok individu serta untuk meningkatkan kualitas hubungan manusia, untuk menciptakan suatu dunia yang lebih baik.

Nilai-Nilai

Menurut pendapat Maslow penyakit utama abad ini adalah tidak adanya nilai-nilai. Maslow sangat merasakan umat manusia memerlukan suatu system nilai yang dapat dijadikan pegangan, yang tidak bersumber semata-mata pada kepercayaan buta. Selama ini manusia cenderung mencari prinsip-prinsip yang benar dan yang salah dan menemukan nilai-nilai penuntun diluar dirinya, di luar kemanusiaan dalam diri seorang dewa, dalam sejenis buku suci tertentu atau dalam sekelompok kelas yang berkuasa. Maslow yakin bahwa ia akan menemukan nilai-nilai paling utama yang akan berguna bagi umat manusia dengan mengamati manusia-manusia paling unggul. Jika dalam kondisi terbaik dan dalam diri manusia-manusia paling unggul ini Maslow membuat deskripsi secara ilmiah bahwa nilai-nilai manusiawi ini memang ada, maka Maslow menemukan nilai-nilai lama seperti kebenaran, kebaikan, dan keindahan serta sejumlah nilai tambahan misalnya, kegembiraan, keadilan, dan kebahagiaan. Nilai-nilai tersebut melekat dalam kodrat manusia, merupakan bagian kodrat biologis manusia, merupakan sesuatu yang naluriah bukan hasil dari belajar dan pemahaman.

Menurut Maslow dan berbagai pengarang tujuan jangka panjang selluruh manusia berjuang yakni aktualisasi diri, realisasi diri, integrase, kesehatan psikologis, individuasi, autonomi, kreativitas, produktivitas. Namun mereka semua sepakat bahwa itu berarti realisasi atas semua kemampuan pribadi atau diri sendiri artinya menjadi sepenuhnya manusiawi menjadi apa saja sesuai kemampuan pribadinya sendiri. Maslow sangatt keberatan terhadap gagasan yang menyatakan studi tentang tingkah laku manusia yang harus mengesampingkan semua konsep tentang yang benar dan yang salah. Dimana pandangan yang berasal dari asumsi Behavioristik yang menyatakan bahwa nilai-nilai tidak memiliki dasar ilmiah. Maslow yakin jika para ilmuwan-ilmuwan behavioral sungguh-sungguh akan memecahkan masalah-masalah manusia, maka persoalan tingkah laku yang benar dan yang salah adalah esensial, itulah esensi ilmu tentang tingkah laku. Para psikolog yang mengumandangkan paham relativisme moral dan kultural (kebanyakan mereka berbuat demikian) sesungguhnya tidak berusaha memecahkan masalah-masalah nyata yang dihadapi masyarakat kita. Bertumpu dari asumsi bahwa semua kebutuhan yang lebih tinggi atau semua bentuk tingkah laku yang lebih tinggi merupakan hasil belajar dan tidak memiliki dasar genetic sama sekali. Para ilmuwan behavioral tidak hanya menolak metode-metode agama melainkan juga nilai-nilainya. Pandangan ini tidak cocok dengan fakta yang dapat kita amati. Maslow keberatan terhadap pandangan tersebut, menurutnya penolakan terhadap nilai-nilai oleh psikologi bukan hanya telah menjadikannya lemah dan menghalangi pertumbuhan nilai-nilai tersebut, melainkan juga menyerahkan nasib umat manusia pada supernaturalisme atau relativisme kesusilaan.

Mengutip perkataan Maslow bahwa terdapat patokan-patokan dasar, tersembunyi dan manusiawi yang bersifat lintas budaya yang mengatasi batas-batas kebudayaan dan yang bersifat manusiawi semesta. Tanpa patokan-patokan ini kita tidak akan punya kriteria untuk mengutuk, pandangan tersebut bertentangan dengan relativitas budaya. Jadi yang dipilih secara bebas oleh orang-orang yang mengaktualisasikan diri, orang-orang yang sehat dan normal menunjukan kepada kita mana yang baik dan mana yang jahat. Dan hal ini merupakan dasar suatu system ilia yang bersifat alamiah. Pembuktiannya yakni jika contoh orang-orang yang sehat itu kit apisahkan dari warga masyarakat lainnya kemudian kita amati apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka cari dan inginkan selama mereka itu tumbuh dan menyempurnakan diri. Kita amati pula nilai-nilai mana yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang sakit secara psikologis, maka kita akan paham tentang mana yang benar dan mana yang salah.Hal ini dapat dibuktikan secara ilmiah. Jadi harapan, tujuan, cita-cita, dan kehidupan spiritual manusia yang lebih tinggi merupakan subjek penelitian yang ilmiah yang sesungguhnya sebab manusia itu memiliki dasar biologis. Kesalahan yang sering kali dilakukan di masa lampau ialah menyamakan nilai-nilai orang yang sehat dan yang sakit yakni orang-orang yang merupakan pemilih yang baik dan pemilih yang buruk. Menurut Maslow hanya pilihan, cita rasa dan penilaian orang-orang yang sehat akan banyak memberikan petunjuk kepada kita tentang apa yang baik bagi umat manusia untuk jangka panjang. Kedepannya pilihan orang-orang yang mengaktualisasikan diri secara mendasar rupanya sama dimanapun di dunia ini, merupakan bukti bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar bersifat semesta atau menyeluruh dan mengatasi batas budaya.

Para psikolog tidak mungkin mengesampingkan fakta bahwa setiap orang memiliki kapasitas-kapasitas yang berlainan, baik yang bersifat fisik, mental, yang menyangkut makanan, dan sebagainya dan selaras dengan perbedaan kapasitas-kapasitas ini, maka kebutuhan orang pun berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan karena konsepsi tentang nilai-nilai yang berlaku umum pada seluruh bangsa manusia ini tentu saja tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan-perbedaan kebutuhan manusia.

Tingkah laku yang bertanggung jawab memiliki dasar yang ilmiah, sedangkan tindakan yang tidak bertanggung jawab pada akhirnya akan merusak bagi individu itu sendiri maupun bagi masyarakat. Maslow merumuskan bahwa setiap bentuk kejahatan terhadap masyarakat adalah kejahatan terhadap kodrat kita sendiri dan hal itu akan terekam dalam ketidaksadaran kita serta mmembuat kita memandang rendah kita sendiri. Orang akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan baik karena menghargai dirinya, atau sebaliknya mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat dan merasa dirinya hina karena tidak berharga serta tidak pantas dicintai. Maslow berpendapat bahwa ketidaktahuan orang tentang fakta adalah sumber utama perbuatan jahat. Dan pengetahuan melahirkan tindakan yang benar, bahwa tindakan benar tidak akan mungkin terjadi tanpa pengetahuan.

Agama-agama formal kadang-kadang membuat kesalahan dengan hanya menekankan nilai-nilai luhur, bukannya dengan mulai dari kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah seperti makan, perumahan, dan pakaian, yang menurut Maslow lebih dasariah daripada khotbah-khotbah. Banyak agama menekankan aspek-aspek jahat menusia sebagai sesuatu yang melekat, namun gagal menunjukan bahwa nilai-nilai luhur pun juga bersifat intrinsic. Kaum Behavioral memberikan tekanan yang besar pada pengaruh budaya. Ditafsirkan secara ekstrim, berarti individu terbelenggu oleh kebudayaannya dan tidak dapat melepaskan diri. Menurut Maslow,orang yang lemah mudah terpengaruh oleh kebudayaan dan tidak dapat melepaskan diri. Sebaliknya orang-orang yang mengaktualisasikan diri lebih dikendalikan oleh pemahaman diri mereka sendiri dan kebutuhan-kebutuhan dasar mereka dari pada oleh nilai-nilai budaya. Oleh karena itu tidak mungkin individu-individu lebih sehat dibandingkan dengan kebudayaan disekelilingnya yang bisa jadi asli tapi mungkin saja tidak.

Sebelumnya menyebutkan nilai-nilai utama atau nilai-nilai luhur yang diinginkan oleh orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu disebut “Being-values” atau “B-values” meliputi kebenaran, keindahan, keseluruhan, dikotomi transendensi (transformasi atas hal-hal yang saling bertentangan menjadi kesatuan-kesatuan, pihak-pihak yang saling bermusuhan menjadi kesatuan-kesatuan, pihak-pihak yang saling bermusuhan menjadi mitra kerja sama atau mitra yang saling memajukan), sifat hidup, sifat unik, kesempurnaan, sifat kebutuhan, penyelesaian, keadilan, keteraturan, kesederhanaan, sifat kaya, sifat tanpa usaha,sifat penuh permainan, pemenuhan diri. Nilai-nilai utama tersebut diserap ke dalam diri orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya, sehingga setiap ada serangan terhadap nilai-nilai tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap dirinya. Nilai-nilai ini berhubungan erat satu sama lain, sehingga nilai-nilai itu harus digunakan untuk saling merumuskannya. Sebagai contoh “Kebenaran itu indah, kebenaran itu baik, kebenaran itu adil, kebenaran itu akhir, kebenaran itu sempurna, kebenaran itu selesai, kebenaran itu menyatu, kebenaran itu kaya, begitu seterusnya meliputi seluruh daftar “B-values”.

Penyakit nilai, neurosis atau psikopatologi dapat disebut anhedonia, anomi, apati, amoralitas, kehilangan harapan, sinisme, dan sebagainya, yakni kondisi-kondisi yang dapat juga melahirkan penyakit fisik. Maslow yakin penyembuhan ketiadaan nilai-nilai luhur adalah dengan mengembangkan system nilai-nilai manusiawi yang berguna dan benar yang dapat dibuktikan sendiri dan diyakini oleh orang-orang sebab system nilai itu secara biologis benar. Menurut Maslow keadaan suatu system tanpa nilai-nilai adalah psikopatogenik, manusia butuh suatu filsafat hidup, agama atau suatu system nilai, sama seperti ia butuh sinar matahari, zat besi dan cinta kasih. Orang yang tidak memiliki system nilai akan bersifat impulsive, nihilistic, dan sepenuhnya skeptik. Dengan kata lain hidupnya sama sekali tidak bermakna.

Jika perbuatan baik merupakan kodrat manusia, maka perbuatan buruk manusia begitu menonjol karena naluri-naluri manusia lemah dan mudah dipahami secara keliru ataupun diabaikan, dan sering sekali lemah dari kekuatan-kekuatan budaya. Dan sebab lainnya karena adanya pembagian dua kelompok yang saling bertentangan antara golongan bawaan atau gen kearah pertumbuhan dan kecenderungan untuk mengundurkan diri ke arah rasa aman yang hadir secara bersamaan. Dengan demikian pada dasarnya dapat dilihat bahwa semua manusia harus memiliki suatu system nilai. Penelitian yang dilakukan oleh Maslow maupun oleh orang-orang lain bahwa penelitian itu menunjukan bahwa system nilai semacam itu sungguh-sungguh ada. Dan dalam suatu wawancara Dr. Maslow berbicara tentang jurang pemisah antar generasi sambal mengungkapkan keprihatinannya bahwa orang-orang muda, orang-orang muda radikal, khususnya kaum hippies (sebuah kultur yang muncul di Amerika Serikat, mereka biasanya mendengarkan music psychedelic rock terkadang mereka menggunakan narkoba dan ganja yang memberikan mereka efek terbang dan merangsang imajinasi). Yang dengan susah payah tengah berusaha menemukan kebenaran, kejujuran, keindahan dan persaudaraan.

Kritik

Teori hierarki kebutuhan manusia yang dipopulerkan Maslow, menjadi landasan motivasi bagi manusia untuk berperilaku dan dipelajari diberbagai perguruan tinggi. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dikritisi keabsahannya, diantaranya:

  1. Manusia makhluk yang serakah, individualis dan egois

Dari Teori Maslow ini terlihat bahwa manusia tidak pernah merasa puas. Ketika kebutuhan yang satu telah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lainnya yang lebih meningkat. Terlepas dari itu, masing-masing manusia punya standar khusus untuk tiap-tiap kebutuhan itu bahkan standarnya akan terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Sehingga manusia tidak akan pernah puas akan kebutuhan-kebutuhan itu. Bila mengikuti Teori Maslow maka manusia tidak akan pernah bisa meningkat ke kebutuhan yang lainnya karena sepanjang hidup manusia tidak akan pernah puas dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya. Manusia sibuk untuk pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan yang tidak pernah bisa terpuaskan karena tidak pernah “cukup”. Akhirnya yang tercipta adalah manusia-manusia yang serakah, individualisme, egoisme. Manusia-manusia yang mempunyai motto “hidup untuk makan” bukan “makan untuk hidup”. Dan kalaupun ia sudah mencapai kebutuhan yang lebih tinggi, tidak berarti bahwa manusia itu tidak akan memikirkan lagi akan kebutuhan dasarnya.

  1. Klasifikasi hierarki kebutuhan yang tidak tepat Manusia makhluk yang dinamis dan multidimensional. Tidak perlu ada kasta kebutuhan. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, ada kebutuhan jasmani, ada kebutuhan rohani. Tubuh membutuhkan udara, makanan, air, istirahat dan ini memang diperlukan untuk menjaga agar tubuh bisa berfungsi dengan baik. Karena jika tubuh kekurangan nutrisi bisa mengakibatkan tubuh menjadi lemah. Juga sampai saat ini belum cukup bukti yang jelas yang menunjukkan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia dapat dikategorikan ke dalam lima kelompok yang berbeda atau berada pada suatu hierarki.
  2. Hierarki yang tidak logis

Teori ini disusun secara hierarki. Berawal dari kebutuhan paling mendasar atau primer sampai kepada tahap yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Pada hierarki 1sampai 4 tersusun secara urut, akan tetapi menjadi tidak logis pada kebutuhan mencapai aktualisasi diri, seolah ada sebuah loncatan logika dari yang sebelumnya. Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah dimengerti. Seakan-akan ada missing link antara piramida ke-4 dengan puncak piramida.

  1. Teori hierarki Maslow tidak ilmiah

Berdasarkan catatan sejarah, Maslow menggunakan penelitian kualitatif terhadap 18 orang terpilih dengan metode yang disebut sebagai Biographical Analysis. Metode tersebut sangat rentan bias antara data yang diolah dengan opini subjektif sang peneliti, sehingga banyak peneliti yang bertentang dengan Maslow. Selain itu, terdapat bias pada subjek yang Maslow teliti, 18 cendikiawan pria kulit putih yang notabene pada masa tersebut kesemuanya adalah golongan atas. Oleh karena itu Hierarki Kebutuhan masih diragukan untuk dipakai untuk mewakili semua kalangan masyarakat. Pada beberapa kasus, seseorang tentu saja dapat memperoleh rasa cinta dari orang lain walau dalam keadaan miskin (Safety Needs). Dapat disimpulkan bahwa Hierarki Kebutuhan oleh Maslow bukanlah sebuah hierarki namun sebuah hipotesa dimana seseorang dapat memenuhi setiap kategori kebutuhan tanpa berurutan.

  1. Pengalaman Puncak Maslow bersifat ‘alami’

Maslow berpendapat bahwa orang yang telah berhasil melewati empat tahapan hierarki kebutuhan dasar akan sampai pada tingkat aktualisasi diri, dan bisa mencapai pengalaman puncak (peak experience), yaitu suatu pengalaman keterpesonaan, perasaan bahagia dan sensasi yang mendalam, kegembiraan yang mendalam. Pengalaman puncak tidak mesti berhubungan dengan agama. Setiap orang bisa mengalaminya, dalam intensitas dan kadar yang berbeda-beda. Pengalaman puncak bisa didapatkan misalnya ketika asyik bekerja, mendengarkan musik, memenangkan lomba, membaca cerita, bahkan saat mengamati matahari terbenam.

  1. Tiadanya kebutuhan spiritual atau agama

Di dalam teori ini aspek spiritual tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Padahal sejatinya manusia adalah makhluk yang memiliki dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani. Keduanya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus berjalan sinergis sehingga keduanya dapat berjalan secara seimbang. Jika manusia hanya mengedepankan aspek lahiriah saja, maka ia tidak berbeda dengan binatang. Hubungan antara keduanya harus seimbang, sehingga dapat tercipta relasi yang harmonis. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena akan menimbulkan kegagalan dalam mencapai kehidupan yang diharapkannya. Sehingga rohani atau jiwa menjadi aspek yang penting dalam kehidupan manusia.

Orang bersedekah, menunaikan sholat, zakat, ibadah haji dan jihad berperang adalah suatu kebutuhan ‘spiritual’ semata-mata karena motivasi agama, penyerahan terhadap Tuhannya. Kebutuhan itulah yang tidak terkategorikan di dalam hierarki teori Maslow. Tubuh dan jiwa saling berkaitan, keduanya tidak bisa dipisahkan bila manusia mau disebut utuh. Kelemahan dalam tubuh dapat mempengaruhi jiwa, kekurangan dalam jiwa pasti akan mempengaruhi tubuh. Ini tidak berarti bahwa kesehatan tubuh dapat diabaikan. Baik aspek rohani maupun aspek jasmani harus berada dalam keseimbangan, namun bila mau diurut memelihara jiwa harus didahulukan daripada memelihara tubuh. Beraktualisasi diri tidak perlu menunggu kebutuhan dasar, rasa aman, rasa cinta, dan percaya diri terpenuhi.

Stephen R.Covey dalam bukunya First Things First mengatakan bahwa Maslow sendiri pada tahun-tahun terakhirnya merevisi teorinya tersebut. Katanya, Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri bukanlah kebutuhan tertinggi namun masih ada lagi yang lebih tinggi yaitu self transcendence yaitu hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin, yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama. Sekarang lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual. Namun demikian Maslow tetap tidak mengakui adanya Tuhan.

Daftar Pustaka

Personologi Henry Murray

Hakikat kepribadian beserta pemerolehan-pemerolehan dan pencapaian-pencapaiannya menempati porsi besar dalam teori Henry Murray. Pandangan-pandangannya tentang struktur kepribadian sangat dipengaruhi oleh teori psikoanalitik, meski dalam banyak hal berbeda secara mencolok dari pandangan Freudian ortodoka. Murray agak hati-hati memakai kata “struktur” karena konotasinya dengan sifat tetap, teratur, dan tunduk pada suatu hukum. Ia berpendapat bahwa kepribadian biasanya berada dalam keadaan yang terus berubah. Di sini kita akan membicarakan definisi Murray tentang kepribadian dan konsep-konsep yang telah dikembangkannya dalam usaha menjelaskan hakikat kepribadian.

Definisi Kepribadian

Meski Murray telah mengemukakan banyak definisi tentang kepribadian pada kesempatan yang berbeda-beda, namun komponen-komponen yang penting dari definisi-definisi ini dapat diringkaskan sebagai berikut:

  • Kepribadian individu adalah abstraksi yang dirumuskan oleh teoretikus dan bukan merupakan gambaran tentang tingkah laku individu belaka.
  • Kepribadian individu adalah rangkaian peristiwa yang secara ideal mencakup seluruh rentang hidup sang pribadi. “Sejarah kepribadian adalah kepribadian itu sendiri.”
  • Definisi kepribadian harus mencerminkan baik unsur-unsur tingkah laku yang bersifat menetap dan berulang maupun unsur-unsur yang baru dan unik.
  • Kepribadian adalah fungsi yang menata atau mengarahkan dalam diri individu. Tugas-tugasnya meliputi mengintegrasikan konflik-konflik dan rintangan-rintangan yang dihadapi individu, memuaskan kebutuhan-kebutuhan individu dan menyusun rencana-rencana untuk mencapai tujuan-tujuan di masa mendatang.
  • Kepribadian terletak di otak. “Tanpa otak, tidak ada kepribadian.”

Jadi, cara Murray merumuskan kepribadian menunjukkan bahwa ia sangat berorientasi pada pandangan yang memberi bobot memadai pada sejarah organisme, fungsi kepribadian yang bersifat mengatur, ciri-ciri berulang dan baru pada tingkah laku individu, hakikat kepribadian yang abstrak atau konseptual, dan proses-proses fisiologis yang mendasari proses-proses psikologis.

“Proceeding” dan Serial

Data pokok seorang psikolog adalah “proceeding”, yakni interaksi antara subjek dan objek, atau antara subjek dan subjek, dalam jangka waktu cukup lama sehingga mencakup unsur-unsur penting dalam suatu sekuens tingkah-laku tertentu. Meminjam kata-kata Murray:

… proceeding adalah hal-hal yang kita amati, dan yang kita coba menggambarkannya dengan model-model, dan menjelaskannya haL hal yang kita coba meramalkannya, fakta-fakta dengan mana kita menguji kejituan perumusan-perumusan kita (Murray, 1951b, hlm,269-270).

Meski dalam keadaan-keadaan tertentu kita bisa merumuskan proceeding dengan tepat, misalnya, suatu respon verbal berikut jawabannya, namun biasanya kita hanya bisa memberikan definisi yang sangat umum. Dalam konteks demikian Murray menyatakan bahwa “Secara ideal lamanya suatu proceeding ditentukan oleh (1) permulaan, dan (2) penyelesaian, suatu pola tingkah laku yang secara dinamis penting….” (Murray, 1951b, hlm. 269).

Konsepsi bahwa satuan dasar bagi seorang psikolog berupa proceeding ini mencerminkan keyakinan Murray bahwa tingkah laku tidak mungkin terlepas dari dimensi waktu. Jadi proceeding merupakan kompromi antara keterbatasan praktis yang ditentukan oleh kepandaian dan teknik peneliti dan fakta empiris bahwa tingkah laku berada dalam dimensi waktu. Murray mengemukakan bahwa proceeding dapat digolongkan menurut apakah sifatnya internal (melamun, memecahkan masalah, menyusun rencana dalam keheningan) atau eksternal (berinteraksi dengan orang-orang atau objek-objek dalam lingkungan). Proceeding eksternal memiliki dua aspek: aspek pengalaman subj ektif dan aspek tingkah laku objektif.

Ditinjau dari berbagai segi, penggambaran tingkah laku menurut proceeding adalah sungguh-sungguh memadai. Akan tetapi dalam keadaan tertentu perlu menempatkan tingkah laku yang berlangsung dalam periode yang lebih lama dalam satu kesatuan atau perumusan. Satuan tingkah laku fungsional yang lebih panjang ini disebut serial.

.. urutan proceeding yang terputus-putus namun terorganisasi secara terarah bisa disebut serial. Jadi suatu serial (misalnya persahabatan, perkawinan, karier di bidang bisnis) merupakan satuan fungsional yang relatif panjang yang hanya dapat dirumuskan secara kasar. Orang harus membuat catatan-catatan tentang proceeding-proceeding yang penting sepanjang perjalanannya dan memperhatikan indeks-indeks perkembangan, berupa perubahanperubahan disposisi, bertambahnya pengetahuan, bertambahnya kemampuan, peningkatan kualitas pekerjaan yang berhasil diselesaikan, dan sebagainya. Tidak satu pun proceeding dalam serial dapat dipahami terlepas dari proceeding-proceeding lain yang mendahuluinya serta tujuan-tujuan dan harapan-harapan si pelaku, cita-citanya di masa depan (Murray, 1951b, hlm. 272).

Jadi, penggambaran tingkah laku dalam bentuk serial-serial menjadi perlu karena proceeding-proceeding tertentu begitu erat berhubungan satu sama lain sehingga tidak mungkin menelitinya secara sendiri-sendiri tanpa merusakkan artinya secara keseluruhan.

Program Serial dan Jadwal

Fungsi yang sangat penting bagi individu dilayani oleh program-program serial, yakni penyusunan secara teratur atas sub-sub tujuan yang merentang ke arah masa depan mungkin sampai jangka waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan yang, jika berlangsung dengan baik, akhirnya akan mencapai suatu keadaan akhir yang diinginkan. Jadi, individu mencitacitakan tujuan untuk menjadi dokter tetapi di antara situasi sekarang dan tujuan ini terbentang tahun-tahun belajar dan pendidikan khusus. Apabila ia mengembangkan serangkaian subtujuan, yang masing-masing mempunyai peranan makin mendekatkan orang yang bersangkutan pada titel dokter, maka ini bisa disebut suatu program serial.

Sama juga pentingnya adalah jadwal-jadwal yang merupakan sarana-sarana untuk mereduksikan konflik di antara kebutuhan-kebutuhan dan objek-objek tujuan yang saling bersaing dengan cara mengatur penyaluran kecenderungan-kecenderungan ini pada waktu yang berbeda-beda. Dengan bantuan jadwal, individu akan dapat menyalurkan secara maksimal berbagai tujuannya. Apabila orang mampu menyusun jadwal-jadwal secara efisien, maka ia akan dapat mengurangi kuantitas dan intensitas konflik-konfliknya secara mencolok.

Terakhir Murray memasukkan program-program serial dan jadwal-jadwal ke dalam istilah ordinasi, yang mencakup proses membuat perencanaan maupun hasil proses tersebut yakni program atau jadwal yang tersusun. Menurut pandangan-padangan terakhir Murray, ordinasi merupakan proses jiwa tinggi setingkat dengan kognisi atau pemahaman. Tujuan kognisi ialah pemahaman konseptual yang menyeluruh tentang lingkungan, tetapi begitu situasi eksternal telah cukup dipahami, maka proses ordinasi tampil untuk mengatur penentuan kebijakan dan perencanaan strategi serta taktik-taktik.

Abilitas dan Prestasi

Berbeda dengan banyak psikolog kepribadian, secara konsisten Murray menaruh minat pada abilitas dan prestasi serta memandang kualitas-kualitas ini sebagai bagian kepribadian yang penting. Komponen-komponen individu ini menjalankan fungsi Sentral menjembatani disposisi-disposisi dengan tindakan serta basil-basil ke arah mana disposisi-disposisi ini ditujukan. Praktis dalam semua penelitian kepribadiannya subjek-subjeknya dikenai pemeriksaan mengenai berbagai bidang abilitas dan prestasi: fisik, mekanik, kepemimpinan, sosial, ekonomi, erotik dan intelektual.

Prinsip Kepribadian

  1. Prinsip regnancy

Proses psikologis bergantung kepada proses fisologis. Henry Murray memberikan pernyataan “No brain, no personality” yang artinya “tanpa otak, tidak akan ada kepribadian”. Murray menekankan adanya hubungan penting antara proses psikologis dengan struktur dan fungsi otak. Otak memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian. Adapun peran otak dalam pembentukan kepribadian adalah kesadaran, keyakinan, ketakutan, perasaan, daya ingat, sikap, nilai – nilai,dan aspek – aspek yang lainnya.

  1. Prinsip mencakup semua hal

Disebut juga dengan istilah “all embracing principle”. Kepribadian merupakan konsep yang dapat menjelaskan semua fenomena tingkah laku seseorang. Kepribadian individu dapat dikatakan sebagai rangkaian peristiwa yang mencakup seluruh rentang kehidupan hidup individu.

  1. Organisasi longitudinal

Kepribadian selalu berkembang dan dibentuk oleh semua kejadian yang dialami seumur hidup. Murray beranggapan bahwa kepribadian mempunyai fungsi sebagai pusat yang mengorganisir dan mengatur proses dalam diri individu. Proses ini meliputi mengintegasikan berbagai konflik atau rintangan yang dihadapi oleh individu, memuaskan kebutuhan – kebutuhan individu, menyusun rencana untuk mencapai tujuan – tujuan di masa yang akan datang.

  1. Prinsip Motivasi

Berdasar pada perbuatan manusia dalam usaha yang berkelanjutan untuk mengurangi ketegangan-ketegangan dalam khidupannya yang disebabkan oleh kebutuhan yang dirasakannya dari dalam dan tanpa tekanan masyarakat. Penggabungan dari kebutuhan dan tekanan ini benar-benar lebih menentukan status quo: ini juga menciptakan area tegangan yang baru untuk dikurangi, jadi bahwa manusia lebih maju dalam tujuan-tujuan yang membangun dibandingkan dengan hanya menyimpan tujuan-tujuan tersebut. Berbagai metode dimana manusia menangani kebutuhan atau memsubsisi mereka menjadi struktur yang berurutan. Kebutuhan mungkin mempunyai karakteristik tersendiri seperti primer, sekunder, asli dari dalam atau dibawa ke dalam suatu kepribadian sosial, secara terbuka diungkapkan dengan jelas atau dengan ungkapan yang tersembunyi, diarahkan melalui satu objek atau melalui banyak objek. Akhirnya kebutuhan mungkin dihadapkan pada tujuan mendesak (efek) atau sepenuhnya untuk kenyamanan proses dalam aktifitas tanpa tujuan (modal). Baru-baru ini Murray telah mencoba untuk mengklarifikasi kebutuhan ke dalam vector (bagaimana kamu melakukannya) dan nilai (mengapa kamu melakukannya).

  1. Prinsip Proses Psikologi

Sepadan dengan prinsip regnancy, tetapi dengan penekanan tambahan bahwa manusia adalah makhluk organic yang pertama dan terpenting.

  1. Prinsip Abstrak

Murray mendekati neo-Freudians dalam penerimaan id, ego dan struktur super ego seperti yang diperkenalkan Freud, tetapi dengan berbagai penyimpangan penting dari persamaan dirinya dengan semua pengikut neo-Freudians. Murray diyakinkan bahwa semua tingkah laku adalah fenomena yang nampak.

 

  1. Prinsip Keunikan

Dilambangkan dengan ungkapan “tidak ada manusia yang sama dengan orang lain dalam beberapa hal, dan sama dengan orang lain dalam beberapa hal juga. Tiap orang unik

  1. Prinsip Konsep Peran

Salah satu penggabungan baru Murray dalam teori kepribadian. Mungkin dipengaruhi oleh usahanya dengan Kluckhon. Diilustrasikan oleh garis oft-quoted dari Shakespeare “seperti kesukaanmu, seluruh dunia adalah panggung/ dan hanpir seluruh pria dan wanita adalah pemainnya/ mereka mempunyai keberadaannya dan jalan masuknya/ dan satu pria pada waktunya akan memainkan banyak peran.

Proses Kepribadian

Murray rnerumuskan kepribadian yang menunjukkan bahwa ia sangat berorientasi pada pandangan yang memberi bobot memadai pada sejarah organisme, fungsi kepribadian yang bersifat mengatur, ciri-ciri berulang dan baru pada tingkah laku individu, hakikat kepribadian yang abstrak atau konseptual, dan proses-proses fisiologis yang mendasari proses-proses psikologis.

Enduring Aspect of Personality

Murray melihat kepribadian ada dalam perubahan yang terus-menerus. Sekalipun kita memandang pribadi sebagai gejala yang selalu berubah, namun masih tetap ada stabilitas-stabilitas atau struktur-struktur tertentu yang lambat laun muncul dan yang sangat penting untuk memahami tingkah laku. Oleh sebabnya, seperti sebagaian ahli teori lain, Murray secara khusus peduli pada aspek dinamis keaktifan kepribadian dan konsepnya akan “kebutuhan” dan “tekanan”. konsep-konsep ini, walaupun secara esensial dinamis, benar-benar memiliki stabilitas yang tinggi sepanjang waktu.

Murray setuju dengan Freud yang memandang id sebagai gudang impuls-impuls yang bersifat primitif dan tak dapat diterima. Di sinilah letak sumber energi, sumber segala motif yang dibawa sejak lahir, diri yang buta dan belum beradab. Lebih dari itu, Murray berpendapat bahwa id juga berisi impuls-impuls yang dapat diterima oleh diri maupun masyarakat. Id berisi impuls-impuls ke arah yang baik dan yang jahat, selain itu kekuatan kecenderungan-kecenderungan ini berbeda-beda antara individu yang satu dan yang lain. Jadi, tugas yang dihadapi individu-individu dalam mengontrol atau mengarahkan kecenderungan-kecenderungan id mereka berlainan taraf kesulitannya.

Untuk menggambarkan struktur-struktur mental ini, Murray mungkin lebih cenderung dengan sebuah pandangan struktural akan kepribadian dalam konsep id, ego, superego dan ego idealnya, yang telah dia pinjam dari teori psikoanalisis dan yang banyak dia gunakan sebagaimana Freud. Tetapi juga mengemukakan unsur-unsur khas dalam mengembangkan konsep-konsepnya ini. Kendatipun demikian, formulasinya sendiri akan tingkah laku, program, rangkaian program, bagan-bagan, kemampuan dan prestasi unik pada sistem pemikirannya dan kita akan mengeksplor fenomena terakhir ini kemudian.

Pembentukan kepribadian sekalipun dipandang pribadi sebagai gejala yang selalu berubah, namun masih tetap ada stabilitas-stabilitas atau struktur-strktur tertentu yang lambat laun muncul dan sangat penting untuk memahami perilaku.

Misalnya perilaku seseorang menuju dewasa dapat berubah-ubah seiring berkembangnya pengetahun dalam diri individu, namun meski tingkah laku berubah, ketika dewasa tingkah laku tersebut bagaikan struktur yang saling menyatu membentuk suatu kepribadian. Maka tidak dipungkiri apabila proses-proses kepribadian yang ada berkaitan dengan tahapan perkembangan.

Id

Murray telah setuju dengan Freud yang memandang id sebagai gudang implus-implus yang bersifat primitif dan tak dapat diterima. Namun disinilah letak sumber energi, sumber segala motif yang dibawa sejak lahir, diri yang buta dan belum beradab. Lebih dari itu, Murray berpendapat bahwa id juga berisi impuls-impuls yang dapat diterima oleh diri maupun masyarakat. Id berisi impuls-impuls yang baik dan jahat, seperti dorongan untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai norma dan dorongan untuk berbuat baik seperti menjunjung tinggi nilai-nilai dalam masyarakat.

Secara sederhananya, Id merupakan dorongan atau kehendak diri yang mutlak untuk dituruti, entah itu tindakan buruk maupun tindakan yang menjunjung nilai kemasyarakatan. Ketika Id bertindak hasrat tersebut tidak bisa dikendalikan, Id tidak akan peduli realita apa pun untuk meurutihasrat tersebut. Semakin kuat Id maka apa pun jalan akan ditempuh demi terpenuhinya hasrat tersebut. Ketika hasrat mampu tertunaikan berarti Id telah membentuh sistem pertahanan kepribadian yang tidak dapat dikompromikan. Dengan begitu seseorang dapat melakukan kecendurungan-kecenderungan dari hasrat tersebut.

Kecenderungan tersebut tidak berlaku sama tiap individu, dengan kata lain bahwa tiap individu memiliki kecenderungan baik dan buruk yang berbeda-beda, inilah mengapa tiap individu disebut unik.

Berbedanya kecenderungan membuat tugas yang dihadapi individu dalam mengontrol atau mengarahkan kecenderungan-kecenderungan id mereka berlainan taraf kesulitannya. Misalnya ada orang yang mudah berbuat baik, dan ada yang mudah berbuat jahat.

Ego

Selanjutnya ego bukan semata-mata merupakan penghambat dan penindas. Ego tidak hanya harus menahan atau menekan impuls-impuls atau motif-motif tertentu dari Id tapi yang lebih penting ia harus mengatur, menjadwal dan mengontrol cara-cara menyalurkan motif yang lain. Ego menegaskan hasrat yang muncul pada realita yang ada.

Ego sejalan dengan teori psikoanalisis dipandang sebagai organisator atau integrator sentral tingkah laku, maksudnya terpenuhi atau tidaknya keputusan tersebut sentral di bawah kendali ego, di mana ego akan mempertimbangkan keputusan dengan kenyataan keadaan yang sebenarnya, sehingga ego disebut sebagai integrator sentral perilaku. Keputusan ditindak lanjuti tidaknya suatu hasrat atau terpenuhi tidaknya akan diintegrasi pada realita, misalnya seseorang lapar butuh makan tapi realitanya ia tidak memiliki makanan atau pun uang. Di sinilah ego sebagai integrator akan berperan, bahwa hasrat ingin makan disadarkan pada realita tidak memiliki uang, sehingga hasrat tersebut akan menuai pertimbangan keputusan lainnya.

Akan tetapi sebagian dari organisasi ini bertujuan untuk memudahkan atau meningkatkan; penyaluran impuls-impuls tertentu dari id. Organsasi ini maksudnya untuk pemetaan hasrat mana yang sesuai realita dan mana yang tidak, sehingga keputusan berikutnya akan mudah menjadi pertimbangan. Kekuatan dan keberhasilan ego merupakan faktor penentu penting bagi penyesuaian diri individu, sebab diterima tidaknya suatu sikap individu dalam masyarakat tergantung sikapnya dalam pemenuhan hasrat, apaah sejalan dengan norma/nilai yang berlaku, atau justru bertentangan.

Superego

Superego dalam teori Murray, seperti dalam teori Freud, dipandang sebagai hasil penanaman kebudayaan. Superego merupakan subsistem yang diinternalisasikan dan dalam individu bertindak sebagai pengatur tingkah laku persis seperti yang pernah dilakukan oleh pelaku-pelaku yang berada di luar individu. Pelaku-pelaku ini khususnya orang tua, tetapi juga kawan-kawan sebaya, guru, tokoh-tokoh populer, dan tokoh-tokoh khayalan bertindak sebagai wakil-wakil kebudayaan sehingga penginternalisasian preskripsi-preskripsi mereka merupakan gerak ke arah penginternalisasian preskripsi-prskripsi budaya atau juga persoalan iman individu.

Misalnya seorang individu yang merasa lapar dan hasrat untuk makannya sangat kuat, namun realitanya tidak memiliki makanan dan uang, ia berpikir untuk mencuri demi memenuhi hasrat tersebut. Namun superegonya menginternalisasi pikiran tersebut dengan cara mengingatkan pada hal-hal yang memang tidak baik dan dilarang oleh agama. Atau individu lain sebagai percontohan tidak pernah melakukan tindakan tersebut, maka kemungkinan tindakan mencuri urung dilakukan, dan memilih tindakan lain yang dapat diterima oleh masyarakan dan sesuai dengan percontohan.

Inilah hal yang mengungkapkan peran role mode atau tokoh idola, seseorang yang megidolakan tokoh yang berkarisma akan membawa individu untuk berperilaku yang dapat menguatkan karismanya. Sebaliknya tokoh yang dijadikan role mode adalah pelaku anarkisme maka besar kemungkinan individu yang mengidolakannya memiliki sikap yang anarkis dan sering membuat onar. Role Mode tersebut merupakan penanaman kebudayaan yang mempengaruhi kepribadian seseorang.

Ego Ideal

Erat kaitannya dengan superego adalah ego-ideal yang merupakan gambaran diri yang diangan-anganan diri dan dicita-citakan atau sekupulan ambisi pribadi yang diperjuangkan individu. Ego-ideal mungkin sama sekali terpisah dari superego, seperti dalam kasus individu yang bercita-cita menjadi benggol penjahat atau mungkin sangat erat berkaitan, sehingga individu bergerak menuju ambisi-ambisi pribadinya dengan cara yang sungguh-sungguh selaras dengan sanksi-sanksi masyarakat. Apabila superego dominan dan ego-ideal ditindas, sang pribadi mungkin berusaha melayani “kehendak Allah” atau “kesejahteraan masyarakat” dengan mengorbankan seluruh ambisi pribadinya.

Penting diperhatikan bahwa konsepsi Murray tentang superego dan ego-ideal memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perubahan dan perkembangan dalam tahun-tahun sesudah masa kanak-kanak dibandingkan pandangan psikoanalitik ortodoks. Dalam perkembangan yang normal, hubungan antara ketga pranata ini akan berubah, sehingga kalau sebelumnya id sangat berkuasa, maka giliran superego dan akhirnya ego mulai memegng peranan yang menentukan. Dalam keadaan paling bahagia, supergo yang matang serta ego yang kuat dan cakap bersama-sama mampu mengatur penyaluran impuls-impuls id secara memadai dengan cara-cara yang secara kultural dibenarkan.

Dalam revisis terakhir dari teorinya, Murray (1959) menekankan pembentukan-pembentukan kepribadian yang lebih positif. Ia yakin bahwa ada proses-proses formatif dan konstruktif yang tidak hanya berguna bagi kelangsungan hidup atau sebagai pertahanan-pertahanan terhadap kecemasan, tetapi juga memiliki energi-energi, tujuan-tujuan, dan pemenuhan-pemenuhannya sendiri. Orang perlu kreatf dan imajiatif, menyusun dan menciptakan agar ia tetap sehat secara psikologis. Sesungguhnya imajinasi yang kreatif merupakan aspek kepribadian yang paling kuat, dan merupakan aspek yang kerap sekali paling sedikit diberikan kesempatan untuk berkembang.

Ordination, Abilities, And Achievements

Ordination (Pentahbisan) adalah istilah Murray untuk proses mental yang lebih tinggi dimana seseorang memilih dan ditempatkan ke dalam operasi sebuah rencana tindakan yang memiliki keadaan akhir yang diinginkan. Ordination memiliki dua komponen: Serial Programs dan ScheduleSerial Program adalah pengaturan subgoals yang membentang ke masa depan dan dirancang untuk menyebabkan beberapa tujuan utama. Dengan demikian, orang yang berharap menjadi presiden suatu perusahaan mungkin memiliki subgoals mendapatkan promosi, bergabung dengan klub, dan membeli sebuah rumah di mana ia bisa berlibur.

Orang menggunakan Schedule untuk mengatur tindakan yang mereka ambil dalam memuaskan kebutuhan mereka, untuk menghindari konflik antara competing needs (kebutuhan bersaing) dan wises(keinginan), yaitu, rencana seseorang yang mengatur mereka. Jika seseorang ingin, misalnya, bekerja berjam-jam karena ambisi untuk dipromosikan, tetapi juga ingin menghadiri konser karena sangat menyukai musik, dia mungkin memutuskan untuk membeli tiket untuk acara pada akhir pekan saja atau bekerja selama akhir pekan ketika konser sangat baik sedang diberikan pada hari Rabu malam.

Abilities (Kemampuan) dan Achivement (prestasi) seseorang bagi Murray merupakan bagian yang sangat penting dari kepribadian. Penelitian Murray menilai subyek dalam bidang seperti keterampilan mekanik, kepemimpinan, prestasi intelektual, dan perilaku seksual. Kemampuan dan prestasi mengindikasikan baik apa seseorang mampu melakukan dan apa yang dia sebenarnya tidak dengan pengetahuan yang didapat. Dengan demikian, mereka menerangi sifat proses seseorang yang kreatif dan rencana pembuatan.

Murray telah lama menjadi kritikus psikologi dalam memproyeksikan sebuah imej negatif manusia. Bagi Murray, apa yang bisa seseorang lakukan dan apa yang dia lakukan sama pentingnya dengan apa yang dia tidak bisa lakukan. Dalam hubungan ini, menarik untuk memperhatikan kritik Murray pada eksplorasi Freud (1910) akan kepribadian Leonardo Da Vinci. Murray (1968) mengkritiknya karena benar-benar tidak mengindahkan aspek kreatif hidup dan pekerjaan Da Vinci yang bahagia dan sehat.

Dinamika Kepribadian

Sumbangan Murray yang paling khas bagi teori psikologi adalah pembahasannya tentang perjuangan, pencarian, keinginan, hasrat dan kemauan manusia. Orang mungkin berkata bahwa pandangannya pertama-tama merupakan psikologi motivasi. Pemusatan pada proses motivasi ini sesuai benar dengan keyakinan Murray bahwa penelitian tentang kecenderungan-kecenderungan seseorang yang bersifat mengarahkan merupakan kunci untuk memahami tingkah.laku manusia “… hal yang paling penting diketahui tentang individu ialah keterarahan (keterarahan-keterarahan) kegiatan-kegiatannya, baik mental, verbal, atau fisik” (Murray, 1951b, hlm. 27 6). Perhatian Murray pada keterarahan telah membawanya sampai pada sistem konstruk-konstruk motivasi yang dilukiskan secara paling kompleks dan teliti yang dapat ditemukan dalam kancah psikologi kontemporer. Perhatian-perhatiannya terhadap taksonomi terungkap dengan jelas di sini dalam klasifikasi yang dilakukannya dengan tekun dan mendalam tentang unsur-unsur tingkah laku manusia dipandang dari segi faktor-faktor penentu atau motif-motif yang melatarbelakanginya.

Murray tentu saja bukan orang pertama yang sangat menekankan pentingnya analisis motivasi. Akan tetapi perumusan-perumusannya mengandung beberapa unsur khas. Meski arus yang kuat dalam psikologi mengalir ke arah kesederhanaan dan penggunaan sejumlah kecil konsep-konsep, namun Murray tetap berpendapat bahwa pemahaman yang memadai tentang tingkah laku manusia harus bersandar pada sistem yang menggunakan cukup banyak variabel untuk menggambarkan sekurang-kurangnya sebagian, kompleksitas motif-motif manusia. Ia juga telah berusaha keras memberikan definisi-definisi empiris bagi variabel-variabelnya yang kalaupun tidak sempurna, tetapi sekurang-kurangnya jauh melebihi kemampuan operasional kebanyakan teori sebelumnya di bidang motivasi manusia. Hasil dari usaha-usaha ini adalah sekumpulan konsep yang merupakan langkah yang berani untuk menjembatani jurang antara deskripsi klinis dan tuntutan-tuntutan penelitian empiris.

Dalam membahas teori motivasi Murray, kita akan mulai membicarakan konsep kebutuhan, yang sejak permulaan telah merupakan fokus usaha-usaha konseptualnya, disusul dengan pembicaraan tentang konsep-konsep sejenis, seperti tekanan, reduksi tegangan, tema, integrasi kebutuhan, tema kesatuan, dan regnansi. Akhirnya kita akan kembali pada konsepnya tentang nilai dan vektor yang saling berhubungan, yang merupakan perkembangan lebih baru dalam teorinya.

Kebutuhan

Meski konsep kebutuhan telah digunakan di mana-mana dalam psikologi, namun tidak ada teoretikus lain yang telah mengemukakan analisis atas konsep itu dengan begitu teliti dan memberikan suatu taksonomi yang demikian lengkap seperti yang telah dilakukan Murray. Rincian analisis Murray tentang konsep ini tercermin dalam definisinya:

Kebutuhan adalah suatu konstruk (fiksi disepakati atau konsep hipotetis) yang mewakili suatu daya… pada bagian otak, kekuatan yang mengatur persepsi, apersepsi, pemahaman, konasi dan kegiatan sedemikian rupa untuk mengubah situasi yang ada dan yang tidak memuaskan ke arah tertentu. Kebutuhan kadang-kadang langsung dibangkitkan oleh proses-proses internal tertentu tetapi lebih Sering (bila dalam keadaan siap) oleh terjadinya salah satu dari sejumlah kecil tekanan yang secara umum efektif (pengaruh-pengaruh lingkungan)…. Jadi, kebutuhan menyatakan dirinya dengan mengarahkan organisme untuk mencari atau menghindari, atau apabila bertemu, mengarahkan perhatian dan memberi respon terhadap jenis-jenis tekanan tertentu Tiap kebutuhan secara khas dibarengi oleh perasaan atau emosi tertentu dan akan memakai cara-cara tertentu untuk meningkatkan kecenderungannya. Kebutuhan itu mungkin lemah atau kuat, bersifat sementara atau tahan lama. Tetapi biasanya ia lama dan menimbulkan serangkaian tingkah laku terbuka (atau fantasi) yang mengubah situasi permulaan sedemikian rupa untuk menghasilkan situasi akhir yang menenangkan (meredakan atau memuaskan) organisme (Murray, 1938, hlm. 123-124 ).

Dari definisi ini kita lihat bahwa konsep kebutuhan, sama seperti konsep kepribadian, merupakan sesuatu yang abstrak atau hipotetis namun demikian berkaitan dengan proses-proses fisiologis dalam otak. Tampak juga bahwa kebutuhan-kebutuhan bisa dibangkitkan dari dalam atau digerakkan sebagai akibat rangsangan dari luar. Dalam kedua hal tersebut, kebutuhan membuat organisme aktif dan terus aktif sampai situasi organisme dan lingkungan diubah untuk mereduksikan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan dibarengi oleh emosi-emosi atau perasaan-perasaan tertentu dan seringkali dibarengi oleh tindakan-tindakan instrumental tertentu yang efektif untuk menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan.

Ada enam kriteria untuk menyatakan keberadaan sebuah kebutuhan. Lima diantaranya adalah observasi yang dapat dilakukan oleh seorang peneliti; yang keenamnya menuntut partisipasi orang yang diteliti:

  1. a) Hasil akhir perilaku individu,
  2. b) Pola perilaku tertentu,
  3. c) Perhatian individu dan cara merespon stimulus,
  4. d) Ekspresi emosi individu,
  5. e) Hasil akhir ekspresi kepuasan dan ketidakpuasan individu, dan
  6. f) Laporan subjektif perasaan, perhatian dan tujuan ekspresi individu.

Dengan menggunakan semua kriteria di atas dan penelitian sebuah kelompok subjek kecil secara intensif, Murray (1938) dan koleganya di Harvard menghasilkan sebuah daftar tentatif 20 kebutuhan yang nampak paling bagi mereka. Tabel berikut juga memberikan contoh item questionnaire yang, saat dijawab oleh seseorang dengan secara positif menyatakan bahwa sebuah kebutuhan adalah karakteristik dari orang tersebut. Murray dan 8 diantara 20 jenis kebutuhan primer tersebut dapat dilihat berikut:

 

Tabel 1. Kebutuhan Primer

KEBUTUHAN DEFINISI BENTUK EMOSI KONTRIBUSI TEKANAN
Abasement (Kerendahan Diri) Untuk tunduk secara pasif kepada kekuatan eksternal; menyerah dan mengakui kelemahan, kesalahan, pelanggaran; untuk merugikan diri Malu, hormat pada hak orang lain, inferiority Agresi, dominasi pada bagian dan orang lain
achievement (Prestasi) Menyelesaikan sesuatu yang sulit, untuk kekuasaan, untuk melebihi hambatan dan mencapai standar yang tinggi, menyaingi dan mengungguli orang lain Semangat, ambisi Tugas, saingan
 

Affiliation (Persatuan, gabungan)

Untuk menjadikan diri dekat dan menikmati kerjasama dengan seseorang, untuk mendapatkan kasih sayang dari seseorang, untuk mengikuti dan tetap terhadap teman Kepercayaan, kasih sayang, cinta, empati Positif, orang yang kompatibel, negatif, kehilangan teman
Aggression (Penyerangan) Untuk mengatasi lawan dengan penuh kekuatan, untuk berkelahi, untuk membalas dendam, untuk menghukum, untuk meremehkan, mengejek, memaki atau memfitnah seseorang Amarah, kemarahan, kecemburuan, kebencian Agresi, keunggulan, penolakan, saingan, yang tidak disukai
Autonomy

(otonomi)

Untuk mendapatkan kebebasan, untuk menolak paksaan atau pengekangan, menghindari mendominasi orang lain, untuk menjadi mandiri, tidak terikat, untuk menentang aturan Perasaan, menahan, kemarahan Positif, toleransi, terbuka, negatif, menahan diri, dominasi
Dominance (penguasaan) Untuk mengontrol lingkungan orang lain, untuk mempengaruhi orang lain dengan saran, bujukan, atau perintah, untuk membuat orang lain untuk melakukan keinginan, mengakui salah satu benar Keyakinan Inferior, hormat pada bagian lain
Nurturance (pemeliharaan) Untuk bersimpati, untuk membantu, melindungi, memberikan rasa nyaman kepada orang lain yang tidak berdaya, seorang bayi atau siapapun yang cacat, lemah, kesepian, sakit, kebingungan, untuk membantu seseorang dalam bahaya Kasihan, belas kasih, kelembutan Membuat orang iba, seseorang yang membutuhkan
Succorance

(membuat orang iba)

Untuk mendapatkan kepuasan kebutuhan dari bantuan simpatik orang lain, untuk tetap dekat dengan seorang pelindung, untuk dirawat, menyarankan, diampuni, menghibur Kecemasan tak berdaya, ketidakamanan, putus asa Positif, pemeliharaan, simpati dan membantu, negatif, kurangnya dukungan, kehilangan penolakan, ditinggalkan

Murray menyatakan bahwa adanya kebutuhan dapat disimpulkan dari: ( l) akibat atau hasil akhir tingkah laku, (2) pola atau cara khusus tingkah laku yang bersangkutan, (3) perhatian dan respon selektif terhadap kelompok objek stimulus tertentu, (4) ungkapan emosi atau perasaan tertentu dan (5) ungkapan kepuasan apabila akibat tertentu dicapai atau kekecewaan apabila akibat itu tidak tercapai (1983, hlm. 124). Laporan-laporan subjektif tentang perasaan-perasaan, kecenderungan-kecenderungan dan tujuan-tujuan memberikan kriteria tambahan. Setelah diberikan definisi umum dan kriteria di atas untuk menyimpulkan atau menggolongkan kebutuhan-kebutuhan, Murray, setelah meneliti secara intensif sejumlah kecil subjek, mencapai suatu daftar sementara yang terdiri dari dua puluh kebutuhan. Meski daftar ini telah mengalami perubahan dan perincian berulangkali, namun duapuluh kebutuhan asli itu masih tetap sangat representatif. Variabel-variabel ini disajikan dalam Explorations in personality (1938) dilengkapi dengan contoh-contoh fakta yang berhubungan dengan masing-masing kebutuhan, termasuk contoh-contoh soal kuesioner untuk mengukur kebutuhan yang bersangkutan, emosi-emosi yang menyertainya, dan contoh-contoh kebutuhannya sendiri. Dua puluh kebutuhan itu disajikan dan dirumuskan dengan singkat pada Tabel 2.

TIPE-TIPE KEBUTUHAN. Hingga kini, kita telah melihat bagaimana Murray merumuskan kebutuhan, kita telah memeriksa kriteria yang diberikannya untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan itu, dan kita telah melihat daftar kebutuhan-kebutuhan tersebut. Di samping ini, panting kiranya untuk meninjau dasar untuk membedakan aneka tipe kebutuhan. Pertama, ada perbedaan antara kebutuhan-kebutuhan primer dan kebutuhan-kebutuhan sekunder. Kebutuhan-kebutuhan primer atau kebutuhan-kebutuhan viskerogenik (viscerogenic needs) berhubungan dengan peristiwa-peristiwa organis tertentu yang khas, dan secara khusus berkenaan dengan kepuasan-kepuasan fisik. Contohnya ialah kebutuhan akan udara, air, makanan, seks, laktasi, kencing, dan defekasi. Kebutuhan-kebutuhan sekunder atau kebutuhan-kebutuhan psikogenik (psychogenic needs) dianggap berasal dari kebutuhan-kebutuhan primer dan ditandai oleh tidak adanya hubungan fokal dengan proses-proses organis atau kepuasan fisik khusus. Contohnya ialah kebutuhan akan belajar (pemerolehan), konstruksi, prestasi, pengakuan, ekshibisi, kekuasaan, otonomi, dan kehormatan.

Kedua, kita telah membedakan antara kebutuhan-kebutuhan terbuka (overt needs) dan kebutuhan-kebutuhan tertutup (covert needs), yakni kebutuhan-kebutuhan yang nyata dan kebutuhan-kebutuhan yang laten atau tersembunyi. Di sini kita membedakan antara kebutuhan-kebutuhan yang kurang lebih dapat diungkapkan secara langsung atau segera, dan kebutuhan-kebutuhan yang umumnya dikekang dihambat atau ditekan. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan terbuka secara khas mengungkapkan diri dalam tingkah laku motorik, sedangkan kebutuhan-kebutuhan yang tertutup biasanya berada dalam dunia fantasi atau impian. Sebagian besar dari kebutuhan-kebutuhan tertutup merupakan hasil dari perkembangan struktur-struktur yang diinternalisasi. sikap (superego) yang menentukan bentuk-bentuk tingkah laku yang pantas atau yang dapat diterima.

TABEL 2

Contoh Daftar Kebutuhan-kebutuhan Murray

Kebutuhan Definisi singkat
Sikap merendah Tunduk secara pasif terhadap kekuatan luar. Menerima perlakuan yang tidak adil, pengkambing-hitaman, kritik, hukuman. Menyerah. Dengan sabar menerima nasib. Mengakui kekurangan, kekeliruan, perbuatan salah, atau kekalahan. Mengakui dan memperbaiki kesalahan. Menyalahkan, meremehkan, merusakkan diri sendiri. Mencari dan menikmati penderitaan, hukuman, penyakit, dan kemalangan.
Prestasi Menyelesaikan sesuatu yang sulit. Menguasai, memanipulasi atau mengatur benda-benda fisik, manusia, atau ideide. Melakukan hal-hal tersebut di atas secepatnya dan semandiri mungkin. Mengatasi rintangan-rintangan dan mencapai standar yang tinggi. Mengunggulkan diri. Menyaingi dan mengungguli orangorang lain. Meningkatkan harga diri dengan menyalurkan bakat secara berhasil.
Afiliasi Mendekatkan diri, bekerjasama atau membalas ajakan orang lain yang bersekutu (orang lain yang menyerupai atau menyukai subjek). Membuat senang dan mencari afeksi dari objek yang disukai. Patuh dan tetap setia kepada seorang kawan.
Agresi Menghadapi perlawanan dengan kekerasan, Untuk mengatasi lawan dengan penuh kekuatan. Melawan untuk berkelahi. Membalas perbuatan yang tidak adil, rasa sakit atau luka. Menyerang, mengumpat, mencela, melukai, membunuh orang lain dan untuk meremehkan atau mengejek dan menertawakan dengan penuh dendam.. Melawan secara kuat dengan kekerasan atau menghukum orang lain.
Otonomi Menjadi bebas, menghilangkan kekangan, melepaskan diri dari kungkungan. Menolak paksaan dan larangan. Menghindari atau meninggalkan kegiatan-kegiatan yang ditentukan oleh autoritas-autoritas yang menguasai. Tidak tergantung (mandiri) dan bebas bettindak menurut impuls. Tidak terikat, tidak bertanggung jawab. Menentang arus.
Kebutuhan untuk mengimbangi (Counteraction) Menguasai atau memperbaiki kegagalan dengan berjuang lagi. Menghilangkan pelecehan dengan memulai lagi tindakan. Mengatasi kelemahan, menekan perasaan takut. Mengembalikan nama baik dengan tindakan. Mencari rintangan-rintangan dan kesulitan-kesulitan untuk diatasi. Mempertahankan harga diri dan kebanggaan pada taraf yang tinggi.
Membela diri Mempertahankan diri terhadap serangan, kritik, dan celaan. Menyembunyikan
atau membenarkan perbuatan tercela kegagalan, atau penghinaan. Membela, tahankan diri.
Sikap hormat Mengagumi dan menyokong atasan, Memuji, menghormati, atau menyanjuIlg Dengan senang hati tunduk pada pengaruh orang lain yang dikenal. Mencontoh seorang teladan. Menyesuaikan diri dengan kebiasaan.
Dominasi Untuk mengontrol lingkungan orang lain. Memiliki kendali atas lingkungan manusiawi. Mempengaruhi atau mengarahkan tingkah laku orang-orang lain dengan saran, bujukan, imbauan, atau perintah. Mencegah, menghambat, atau melarang.
Ekshibisi (sikap menonjolkan diri) Menciptakan kesan. Senang dilihat dan didengar. Membuat orang lain bergairah, kagum, terpesona, terhibur, terkejut, tergelitik ingin tahu, senang, atau terpikat.
Menghindari bahaya Menghindari rasa sakit, luka fisik, penyakit, dan kematian. Melarikan diri dari situasi yang berbahaya. Mengambil tindakan-tindakan pencegahan.
Menghindari rasa hina Menghindari penghinaan. Meninggalkan situasi-situasi yang memalukan, atau menghindari kondisi-kondisi yang bisa menimbulkan pelecehan: caci-maki, ejekan, atau sikap masa bodoh orang-orang lain. Menahan diri untuk bertindak karena takut gagal.
Sikap memelihara Memberi simpati dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan objek yang tak berdaya: bayi atau tiap obj ek yang lemah, cacat, lelah, kurang berpengalaman, ragu-ragu, kalah, dihina, kesepian, patah hati, sakit, bingung. Membantu objek yang berada dalam bahaya. Memberi makanan, membantu, menyokong, menghibur, melindungi, menyenangkan, merawat, menyembuhkan.
Ketertiban Mengatur barang-barang. Menjaga kebersihan, susunan, organisasi, keseimbangan, kerapian, keteraturan, ketelitian.
Permainan Berbuat untuk “kesenangan” tanpa tujuan lebih lanjut. Suka tertawa dan membuat lelucon. Berusaha meredakan tekanan secara menyenangkan. Mengambil bagian dalam permainan, olah raga, joget, pesta-pesta, bermain kartu.
Penolakan Memisahkan diri dari objek yang tidak disenangi. Mengucilkan, melepaskan, mengusir, atau bersikap masa bodoh terhadap objek yang lebih rendah. Menghina atau memutuskan hubungan cinta dengan objek.
Keharuan Mencari dan menikmati kesan-kesan yang menyentuh perasaan.
Seks Menjalin dan meningkatkan hubungan erotik. Mengadakan hubungan seksual.
Pertolongan dalam kesusahan Memuaskan kebutuhan-kebutuhan de. ngan bantuan simpatik dari objek yang dikenal. Dirawat, disokong, didukung dikelilingi, dilindungi, dicintai, dinasihati, dibimbing, dimanjakan, diampuni) dihibur. Menempel pada seorang pelin. dung setia. Selalu memiliki seorang Pendukung.
Pemahaman Menanyakan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan umum. Tertarik pada teori. Memikirkan, merumuskan, menganalisis, dan menggeneralisasikan.

*Disadur dari Murray (1938), hlm. 152-226.

Kebutuhan-kebutuhan tertentu tidak dapat diungkapkan dengan bebas tanpa melanggar kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang telah diambil alih dari masyarakat melalui orangtua dan kebutuhan-kebutuhan ini kerapkali beroperasi secara tersembunyi.

Ketiga, ada kebutuhan-kebutuhan yang memusat (fokal) dan kebutuhan-kebutuhan yang menyebar (difus). Beberapa kebutuhan erat berhubungan dengan kelompok-kelompok objek lingkungan yang terbatas, sedangkan kelompok-kelompok kebutuhan lainnya begitu umum berlaku pada hampir tiap keadaan lingkungan. Murray menunjukkan bahwa kalau tidak terdapat suatu fiksasi yang luar biasa, maka kebutuhan selalu cenderung berubah menurut objek-objek yang dituju oleh kebutuhan itu dan cara bagaimana objek-objek ini didekati. Artinya, bidang peristiwa-peristiwa lingkungan yang relevan dengan kebutuhan itu mungkin diperluas atau dipersempit dan tindakan-tindakan instrumental yang berhubungan dengan kebutuhan itu mungkin bertambah atau berkurang. Apabila kebutuhan itu melekat erat pada objek yang tidak cocok,hal ini disebut fiksasi dan biasanya dianggap patologis. Akan tetapi seperti dikemukakan Murray, ketidakmampuan dari suatu kebutuhan untuk melekatkan diri pada suatu objek pilihan secara tetap, berpindah-pindah dari satu objek ke objek lain, mungkin juga patologis seperti halnya fiksasi,

Keempat, ada kebutuhan-kebutuhan proaktifdan kebutuhan-kebutuhan reaktif. Kebutuhan proaktif ialah kebutuhan yang sebagian besar ditentukan dari dalam, kebutuhan yang “bergerak secara spontan” sebagai akibat dari sesuatu dalam diri orang dan bukan akibat dari sesuatu di lingkungan. Sebaliknya, kebutuhan-kebutuhan reaktif digerakkan sebagai akibat dari, atau sebagai respon terhadap, suatu peristiwa lingkungan. Perbedaannya di sini terutama ialah antara respon yang dibangkitkan oleh rangsangan yang tepat dan respon yang muncul kendati tidak ada perubahan stimulus yang penting. Murray memakai konsep-konsep ini juga untuk menerangkan interaksi antara dua orang atau lebih, di mana biasanya seorang individu dapat disebut sebagai proaktor (memulai interaksi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, pada umumnya memberikan stimulus yang harus diberi respon oleh pihak yang lain), sedangkan individu yang lain dapat disebut sebagai reaktor (bereaksi terhadap stimulus-stimulus yang diberikan proaktor).

Kelima, terdapat perbedaan antara kegiatan proses (process activity), kebutuhan-kebutuhan modal (modal needs), dan kebutuhan-kebutuhan akibat (effect needs). Para psikolog Amerika yang terbiasa menekankan fungsi dan kegunaan, secara konsisten menekankan kebutuhan-kebutuhan akibat kebutuhan-kebutuhan yang mengarah pada suatu keadaan yang diinginkan atau hasil akhir. Akan tetapi Murray tetap berpendapat bahwa kegiatan proses dan kebutuhan-kebutuhan modal kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu demi perbuatan itu sendiri, sama pentingnya. Operasi yang bersifat tanpa tujuan, tidak terkoordinasi, dan tidak fungsional dari berbagai proses (penglihatan, pendengaran, pikiran, pembicaraan, dan sebagainya) yang mulai berlangsung sejak lahir disebut kegiatan proses. Ini adalah “kepuasan karena semata-mata berfungsi” (sheer function pleasure), berbuat sekedar untuk berbuat. Sebaliknya, kebutuhan-kebutuhan modal menuntut orang melakukan sesuatu dengan taraf mutu atau kualitas tertentu. Yang dicari dan dinikmati masih tetap kegiatan itu sendiri, tetapi kini kegiatan
itu memberikan kepuasan hanya kalau berhasil dilakukan dengan tingkat kesempurnaan tertentu.

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA KEBUTUHAN-KEBUTUHAN. Jelaslah, bahwa kebutuhan-kebutuhan itu tidak bekerja sendiri-sendiri sama sekali terlepas satu sama lain, dan bentuk interaksi atau pengaruh timbal balik ini secara teoretis sangat penting. Murray menerima fakta bahwa ada suatu hierarki kebutuhan-kebutuhan, bahwa kecenderungan-kecenderungan tertentu harus didahulukan daripada yang lain-lainnya. Konsep prepotensi (prepotency) digunakan untuk menyebut kebutuhan-kebutuhan yang “menjadi regnan karena sangat urgen kalau tidak dipuaskan” (Murray, 1951a, hlm. 542). Jadi, dalam situasi-situasi di mana dua kebutuhan atau lebih timbul serempak dan menggerakkan respon-respon yang bertentangan, maka kebutuhan yang lebih kuat (seperti sakit, lapar, haus) biasanya akan terjelma menjadi tindakan karena kebutuhan-kebutuhan yang prepoten demikian ini tidak dapat ditunda. Pemuasan secara minimal atas kebutuhan-kebutuhan itu adalah perlu sebelum kebutuhan-kebutuhan lainnya dapat beroperasi. Dalam penelitiannya tentang kepribadian, Murray biasanya menggunakan sekumpulan konsep untuk menggambarkan konflik yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan penting. Jadi, sudah menjadi kebiasaan dalam penelitiannya, ia mengukur intensitas konflik tiap subjek penelitiannya dalam bidang-bidang tertentu, misalnya, otonomi versus sikap tunduk, prestasi versus kenikmatan.

Dalam keadaan-keadaan tertentu, lebih dari satu kebutuhan dapat dipuaskan oleh hanya satu tindakan. Dalam hal-hal di mana sejumlah kebutuhan yang berbeda menghasilkan tingkah laku yang sama, maka Murray berbicara tentangfusi kebutuhan-kebutuhan. Hubungan lain yang penting di antara kebutuhan-kebutuhan diungkapkan dengan konsep subsidiasi. Kebutuhan subsider ialah kebutuhan yang beroperasi untuk melayani kebutuhan lain; misalnya, individu mungkin memperlihatkan kebutuhan-kebutuhan agresif, tetapi perubahan-perubahan itu mungkin hanya berfungsi untuk memudahkan kebutuhan-kebutuhan serakah. Dalam hal di mana salah satu kebutuhan hanya berfungsi sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan lainnya, maka kebutuhan yang pertama disebut sebagai subsider terhadap kebutuhan yang kedua. Menelusuri rangkaian-rangkaian subsidiasi dapat sangat berharga untuk mengungkapkan motif-motif yang dominan atau motif-motif akar dari individu.

Kita sekarang telah meninjau cara Murray menjelaskan motivasi individu. Akan tetapi motivasi-motivasi pribadi ini erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar individu dan kini giliran kita menyimak cara Murray menj elaskan peristiwaperistiwa lingkungan yang penting ini.

Tekanan (Press)

Jika konsep “kebutuhan” menggambarkan faktor-faktor penentu tingkah laku penting dalam pribadi, maka konsep “tekanan” menggambarkan faktor-faktor penentu tingkah laku yang efektif dan penting dalam lingkungan. Dalam arti paling sederhana, tekanan adalah suatu sifat atau atribut dari suatu objek lingkungan atau orang yang memudahkan atau menghalangi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan tertentu. Tekanan ada hubungannya dengan orang-orang atau objek-objek yang mempunyai implikasi-implikasi langsung terhadap usaha-usaha individu untuk memuaskan kebutuhannya. “Tekanan suatu objek ialah apa yang dapat dilakukan oleh objek itu terhadap subjek atau untuk subjek daya yang dimiliki oleh objek untuk mempengaruhi kesejahteraan subjek dengan cara tertentu” (1938, hlm. 121). Dengan menggambarkan lingkungan sebagai tekanan, maka peneliti berharap agar dapat menggali dan menggolong-golongkan bagian-bagian penting dari dunia tempat individu itu hidup. Jelas, kita akan tahu jauh lebih banyak tentang apa yang mungkin dilakukan individu, jika kita mempunyai gambaran bukan hanya tentang motif-motif atau kecenderungan-kecenderungannya, tetapi juga gambaran tentang cara bagaimana orang melihat atau menginterpretasikan lingkungannya. Inilah fungsi yang akan dijelaskan oleh konsep tekanan.

Murray telah mengembangkan berbagai daftar tekanan untuk berbagai tujuan. Contoh dari daftar-daftar ini adalah klasifikasi yang disajikan pada Tabel 3, yang disusun untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa atau pengaruh-pengaruh penting selama masa kanak-kanak. Dalam praktiknya, selain dinyatakan beroperasi dalam pengalaman individu tertentu, tekanan-tekanan ini juga diberi nilai kuantitatif untuk menunjukkan kekuatan atau kadar kepentingannya dalam kehidupan individu.

Penting membedakan antara nilai objek-objek lingkungan sebagaimana dipersepsikan atau diinterpretasikan oleh individu (beta press) dan sifat-sifat dari objek-objek lingkungan itu sebagaimana terdapat dalam kenyataan atau sebagaimana disingkapkan oleh penyelidikan objektif (alpha press) Tingkah laku individu sangat erat hubungannya dengan beta press, walaupun demikian penting menemukan situasi-situasi di mana terdapat perbedaan yang besar antara beta press yang merupakan sasaran reaksi individu, dan alpha press yang nyata ada.
Daftar singkat tekanan*

1.         Tidak ada Dukungan Keluarga Pertentangan kultural Pertentangan dalam keluarga Disiplin yang berubah-ubah Orangtua Berpisah Ketidakhadiran orangtua: Ayah, Ibu Orangtua Sakit: Ayah, Ibu Kematian orangtua: Ayah, Ibu Orangtua lugu: Ayah, Ibu Orangtua berbeda: Ayah, Ibu Kemiskinan Keluarga Tidak Tenteram 9. Dominasi, Paksaan, dan Larangan
Disiplin
Pendidikan Agama
2.        Bahaya atau kemalangan
Tidak ada Dukungan Fisik
Tinggi air
Kesendirian, kegelapan,
Cuaca buruk, Kilat
Kebakaran
Kecelakaan
Binatang
10. Pengasuhan, Pemanjaan
3.        Kekurangan atau kehilangan:

Makanan
Harta benda
Persahabatan
Variasi

11. Pertolongan, Tuntutan-tuntutan akan Kelembutan
4.        Penyimpanan, Menahan benda-benda 12. Rasa Hormat, Pujian, Penghargaan
5.        Penolakan, tidak peduli, dan Cemoohan 13. Afiliasi, Persahabatan
6.        Saingan, orang seusia yang menunjukkan sikap bersaing 14. Seks Kesempatan mengalami Rayuan; Homoseksual, Heteroseksual Persetubuhan Orangtua
7.        Kelahiran saudara kandung 15. Penipuan atau Pengkhianatan
8.        Agresi
Perlakuan buruk oleh Laki-laki Lebih Tua,Wanita Lebih Tua Perlakuan buruk oleh Orang-orang seusia/Orang-orang Seusia yang suka bertengkar
16.  Perasaan Rendah Diri Fisik Sosial Intelektual

*Disadur dari Murray (1938), hlm. 291-292

Tekanan terbagi atas dua aspek yaitu:

(1) tekanan alpha adalah tekanan yang ditangkap secara objektif yang mengarahkan Pada refleks sesuai kenyataan,

(2) tekanan beta adalah tekanan yang ditangkap secara subjektif dan yang diinterpretasikan.

Hal yang penting untuk membedakan dua aspek tekanan; satu tekanan alpha adalah kualitas lingkungan seperti nampak dalam kenyataan (pada tingkat yang kita dapat menentukannya); satu tekanan beta adalah kualitas lingkungan seperti yang dipersepsikan oleh seseorang. Misalnya, seorang suami yang ingin menceritakan kepada isterinya tentang sesuatu hal yang telah menimpanya dengan maksud sang isteri dapat memberikan perhatikan, sang suami mulai mengatakan kepada istrinya tentang pertemuan yang benar-benar menegangkan baginya, ia melihat bahwa istrinya tidak memperhatikan hingga ia memutuskan bahwa sang isteri tidak memperdulikan akan masalahnya: tekanan beta suami tidak mendukung. ia beranggapan bahwa istrinya tidak menanggapi sepenuhnya namun, hal yang sebenarnya ialah bukan karena sang isteri tidak peduli dengan suaminya; melainkan disaat yang sama sang isteri telah dikhawatirkan dengan pengumuman oleh direktur perusahaan tempat ia bekerja bahwa ia dan beberapa eksekutif senior lainnya mendapatkan pemotongan gaji. Pasangan tersebut telah bergantung pada penghasilan gabungan agar kelak sang suamj dapat membuka usahanya sendiri; sang istri takut untuk memberitahukan kabar buruknya kepada suarni. Oleh karenanya, kita dapat menyebut tekanan alpha di sini sebagai salah satu inatensi temporal (sikap ketidak perhatian sementara).

Perilaku orang sangat berkorelasi dengan persepsi mereka akan lingkungan atau dengan tekanan beta. Dimana kesenjangan yang luas ada diantara fenomena lingkungan yang dapat diamati dengan objektif dan fenomena dimana seseorang cenderung reaktif, kita sering menyimpulkan beberapa tingkat gangguan psikologis.

Reduksi Tegangan

Kita telah melihat bahwa Murray memandang individu menjadi aktif karena digerakkan oleh sekumpulan dorongan yang kompleks. Selanjutnya ia mengakui bahwa apabila kebutuhan itu timbul, individu berada dalam keadaan tegang, dan pemuasan kebutuhan tersebut akan mengakibatkan reduksi tegangan. Akhirnya organisme akan belajar hanya memperhatikan objek-objek dan melakukan tindakan-tindakan yang pada masa lampau diketahuinya memiliki kaitan dengan reduksi tegangan.

Meski perumusan konvensional ini disetujui Murray, namun ia berpendapat bahwa perumusan itu merupakan suatu gambaran yang tidak sempurna. Individu tidak hanya belajar memberikan respon sedemikian rupa untuk mereduksikan tegangan dan dengan demikian mengalami kepuasan, tetapi juga ia belajar memberikan respon sedemikian rupa untuk mengembangkan tegangan sehingga kemudian tegangan itu direduksikan, dan dengan demikian meningkatkan besarnya kepuasan. Suatu contoh peningkatan tegangan demi memperoleh kepuasan lebih besar dari suatu kegiatan ialah melakukan rangsangan-rangsangan pendahuluan sebelum berhubungan kelamin.

Harus dicatat bahwa perumusan ini hanya berlaku untuk kebutuhan-kebutuhan akibat. Dalam kegiatan proses dan kebutuhan-kebutuhan modal, kepuasan sudah terkandung dalam kegiatan itu sendiri dan bisa sama kuatnya baik pada permulaan, pada pertengahan, maupun pada akhir kegiatan tersebut.

Murray menerima dalil bahwa manusia berbuat sedemikian rupa dengan maksud untuk meningkatkan kepuasan dan mengurangi tegangan. Akan tetapi, ini hanya merupakan suatu intensi atau keyakinan pada pihak pelaku dan tidak selalu terbukti bahwa perbuatan yang diyakini oleh sesorang akan mereduksikan tegangan, dan menghasilkan kepuasan, pada akhirnya sungguh. sungguh berhasil dalam mencapai tujuan ini. Tambahan pula, manusia kurang berminat untuk meningkatkan kepuasan secara umum; mereka selalu berusaha mereduksikan tegangan khusus yang muncul dari suatu kebutuhan khusus tertentu. Jadi, kepuasan pada dasarnya merupakan hasil atau akibat dari keadaan-keadaan kebutuhan beserta konsekuensinya dalam tingkah laku.

Tema

Tema hanyalah merupakan satuan tingkah laku molar dan yang saling mempengaruhi. Tema meliputi situasi yang menggerakkan tekanan dan kebutuhan yang kemudian muncul. Jadi, tema menyangkut interaksi antara kebutuhan-kebutuhan dan tekanan dan memungkinkan melihat tingkah laku secara lebih global, tidak segmental. Dengan menggunakan konsep ini, teoretikus dapat menggambarkan situasi-situasi yang mendesak atau menyebabkan munculnya kebutuhan-kebutuhan khusus danjuga hasil atau akibat (resultans) dari munculnya kebutuhan-kebutuhan ini.

Ada macam-macam tema, mulai dari perumusan-perumusan sederhana tentang satu interaksi subjek-subjek sampai pada perumusan-perumusan yang lebih umum dan lebih kasar meliputi transaksi-transaksi yang lebih panjang, termasuk perumusanperumusan yang menggambarkan kombinasi dari sej umlah tema sederhana (serial themas). Tema sebagai satuan analitik merupakan konsekuensi wajar dari keyakinan Murray bahwa hubungan-hubungan antar pribadi harus dirumuskan sebagai satuan diadik (dyadic unit). Jadi, teoretikus harus menggambarkan tidak hanya subjek yang merupakan fokus perhatian, tetapi juga harus menggambarkan secara lengkap sifat dari orang dengan siapa subjek tersebut berinteraksi. Teoretikus harus memperlihatkan perhatian yang sama terhadap seluk-beluk baik subjek maupun: objek untuk meramalkan interaksi-interaksi sosial yang konkret antara dua orang.

Integrasi Kebutuhan

Meski kebutuhan-kebutuhan tidak perlu dihubungkan dengan objek-objek khusus yang ada dalam lingkungan, namun sering terjadi bahwa lewat pengalaman, individu mulai menghubungkan objek-objek khusus dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu. Demikian juga bentuk-bentuk respon tertentu, atau sarana untuk mendekati atau menghindari objek-objek ini, bisa dipelajari dan dihubungkan dengan kebutuhan. Apabila integrasi antara kebutuhan dengan gambaran atau pikiran tentang objek lingkungan ini, dan juga dengan tindakan-tindakan instrumentalnya, telah terjadi, maka Murray berbicara tentang integrasi kebutuhan. Integrasi kebutuhan adalah “disposisi tematis” (thematic disposition) yang mantap kebutuhan untuk mengadakan bentuk interaksi tertentu dengan tipe orang atau objek tertentu. Dalam keadaan-keadaan di mana integrasi kebutuhan ada maka timbulnya kebutuhan biasanya akan menyebabkan orang dengan cara yang semestinya mencari obj ek lingkungan yang cocok dengan gambaran yang merupakan bag‘ian dari integrasi kebutuhan.

Tema-Kesatuan

Tema-kesatuan pada hakikatnya merupakan kesatuan antara kebutuhan-kebutuhan dan tekanan yang berhubungan, yang diperoleh dari pengalaman kanak-kanak, dan yang memberikan arti serta kesatuan pada bagian terbesar tingkah laku individu. Tema-kesatuan ini pada umumnya beroperasi sebagai kekuatan tak sadar. Tidaklah selalu mudah menemukan suatu tema-kesatuan, meski biasanya kita dapat mencapai suatu perumusan perkembangan yang menjelaskan semua atau sebagian besar tingkah laku individu dan tanpa itu tidak akan mungkin memahami tingkah laku dengan baik. Murray menyebut tema-kesatuan seseorang sebagai “kunci ke arah hakikatnya yang unik” dan mengemukakan:

Tema-kesatuan merupakan campuran antara kebutuhan-kebutuhan dominan yang saling berhubungan-bekerjasama atau bertentangan -yang berhubungan dengan tekanan yang dihadapi individu dalam satu kesempatan khusus atau lebih, yang memuaskan ataupun yang bersifat traumatis, pada awal masa kanak-kanak. Tema tersebut bisa mencerminkan suatu pengalaman penting tertentu pada masa kanak-kanak atau suatu pembentukan reaksi terhadap pengalaman tersebut pada masa lebih kemudian. Tetapi apa pun kodrat dan asal. usulnya, tema akan terulang lagi dalam banyak bentuk selama kehidupan kemudian (1938, hlm. 604-605).

Proses-proses Regnan

Proses-proses Regnan Proses regnan ialah proses fisiologis yang membarengi proses psikologis yang dominan. Kita telah melihat dalam definisi Murray tentang kepribadian, danjuga dalam pembicaraan mengenai konsep kebutuhan, bahwa ia sangat menekankan pentingnya proses-proses fisiologis atau neurologis yang mendasari gejala-gejala yang menjadi perhatian psikolog. Niat untuk menempatkan atau menghubungkan semua proses psikologis dengan fungsi otak ini menyebabkan dikembangkannya suatu konsep khusus (regnansi) yang bertujuan untuk membuat agar kemanunggalan kepribadjanotak tetap menjadi pusat perhatiannya yang utama. Dalam mendefinisikan konsep ini, Murray mengemukakan:

Kiranya tepat untuk menyebut proses-proses yang saling tergantung satu sama lain yang merupakan konfigurasi-konfigurasi yang dominan dalam otak sebagai proses-proses regnan; dan, selanjutnya, menyebut keseluruhan proses tadi yang berlangsung pada suatu saat (satu unsur temporal dari proses-proses otak) sebagai regnansi… Sampai tingkat tertentu kebutuhan regnan menguasai organisme ( 1938, hlm. 45).

Murray juga menjelaskan bahwa semua proses sadar bersifat regnan tetapi tidak semua proses regnan adalah sadar. Jadi kesadaran hanyalah salah satu sifat dari proses psikologis yang dominan, dan kesadaran ini bisa muncul atau tidak muncul dalam suatu kesempatan tertentu.

Bagan Nilai-Vektor

Salah satu kelemahan konsep kebutuhan dan tekanan seperti diuraikan di atas ialah bahwa konsep-konsep tersebut kurang memperhatikan sifat keterkaitan tingkah laku, dalam arti bahwa kebutuhan-kebutuhan tertentu berkaitan dengan tekanan khusus dan kebutuhan~kebutuhan lainnya. Murray telah berusaha menjelaskan dengan lebih memadai interaksi di antara faktor-faktor penentu tingkah laku ini. Ia berpikir bahwa kebutuhan-kebutuhan selalu muncul demi mengejar suatu nilai, atau dengan tujuan untuk menghasilkan suatu keadaan akhir, dan oleh karena itu nilai ini harus dijadikan bagian dari analisis tentang motif-motif:

Karena observasi dan pengalaman membuktikan bahwa agresi, begitu juga semua bentuk tindakan lainnya, memiliki akibat (fungsi) yang paling tepat dirumuskan sebagai suatu entitas yang berharga (berdasarkan konstruksi, konservasi, ekspresi, atau produksinya), maka penyebutan atas entitas yang berharga itu dalam hubungannya dengan kegiatan yang disebut harus memberi sumbangan banyak bagi pemahaman kita tentang dinamika tingkah laku (1951b, hlm. 288).

Dalam bagan ini, Murray mengusulkan agar kecenderungan-kecenderungan tingkah laku digambarkan sebagai vektor-Vektor yang merupakan “arah fisik atau psikologis suatu kegiatan” secara luas. Nilai-nilai yang diemban oleh vektor-Vektor dijelaskan dalam serangkaian konsep nilai. Meski bagan yang dimaksud belum selesai seluruhnya, namun Murray telah menyajikan serangkaian daftar tentatif nilai-nilai dan vektor-vektor. Vektor-vektor meliputi penolakan, penerimaan, pemerolehan, konstruksi, konservasi, ekspresi, transmisi, pengusiran, pembinasaan, pembelaan, dan penghindaran. Nilai-nilainya meliputi tubuh (kesejahteraan fisik), milik (benda-benda yang berguna, kekayaan), autoritas (kuasa untuk membuat keputusan), aflliasi (afeksi antar pribadi), pengetahuan (fakta-fakta dan teori-teori, ilmu pengetahuan, sejarah), bentuk estetik (kecantikan, kesenian), dan ideologi (sistem nilai-nilai, filsafat, agama). Dalam praktik dimaksudkan agar vektor-vektor dan nilai-nilai ini disusun dalam suatu matriks yang terdiri atas baris-baris dan kolom-kolom yang saling memotong sehingga tiap sel dalam matriks menggambarkan tingkah laku yang dihasilkan oleh suatu vektor khusus dalam rangka mengejar suatu nilai tertentu.

Gambaran Murray Mengenai Sifat Alami Manusia

Meski teori kepribadian Murray setuju dengan Freud dalam berbagai poin, gambarannya terhadap sifat alami manusia cukup berbeda. Meski tujuan akhir dan tujuan yang penting dalam kehidupan Murray – yang, sama seperti Freud, ialah peredaan tegangan – tetap dinyatakan dalam perspektif yang berbeda. Menurut Murray, tujuan akhir kita bukanlah kondisi bebas-tegangan tetapi lebih kepada kepuasan yang timbul dari proses meredakan tegangan tersebut.

Menanggapi kontroversi kehendak bebas-kehendak yang diatur, Murray berpendapat bahwa kepribadian menjadi bagian yang ditentukan oleh kebutuhan dan oleh lingkungan. Ia menyetujui adanya tingkatan tertentu bagi kehendak bebas, betapapun kecilnya, dalam kemampuan kita untuk berubah dan bertumbuh. Ia melihat tiap manusia sebagai seseorang yang unik dan tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya tetapi juga mengakui adanya persamaan dalam kepribadian dari semua orang.

Murray percaya bahwa kita dibentuk oleh faktor genetik dan oleh lingkungan, dan masing-masing faktor tersebut punya pengaruh yang seimbang. Kita tidak dapat mengerti kepribadian kalau kita tidak bisa menerima efek dari dorongan fisiologis dan melalui stimuli dari keadaan fisik, sosial, dan budaya suatu lingkungan.

Pandangan Murray terhadap sifat alami manusia, berdasar pada suatu keoptimisan. Ia secara lantang menyuarakan kritikannya terhadap bagian psikologi yang memandang negatif dan menggambarkan kerendahan harga diri seorang manusia. Ia berpendapat bahwa, dengan kekuatan yang besar dari kreatifitas, imaginasi, dan alasan, kita mampu mengatasi segala permasalahan yang kita hadapi. Sejalan dengan keyakinan kita, Murray banyak melibatkan usaha untuk memperbaiki keadaan sosial dan permasalahan pribadi menjadi lebih baik. Ia telah memusatkan perhatian dengan tingkat kedekatan dua-orang (seperti dalam pernikahan) dan dalam tingkatan budaya asal, dan ia telah mempublikasikan penghentian secara resmi terhadap perang dan membentuk kesatuan dunia global.

Orientasi kemanusiaan, menurut pandangan Murray, mengarah secara luas pada masa depan. Ketika ia menyadari adanya jejak dari pengalaman masa anak-anak terhadap tingkah laku sekarang, ia tidak menunjukkan keseluruhan keterpenjaraan masa lalu kita. Kompleks pada masa anak-anak dalam sistemnya dapat secara mendasar mempengaruhi perkembangan kita, tetapi kepribadian juga dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi sekarang ini dan aspirasi pada masa depan. Kita mempunyai kemampuan berkesinambungan untuk bertumbuh dan berkembang; dimana, pertumbuhan semacam itu adalah alami dan pasti terjadi pada manusia. Kita bisa berubah melalui rasionalisasi kita sendiri dan kemampuan kreatif, dan jika kita sebagai individu bisa berubah, secara bersama kita bisa merubah sistem sosial dimana kita tinggal.

Perkembangan Kepribadian

Kita telah membahas rangkaian konsep terinci yang dikembangkan Murray untuk menggambarkan disposisi-disposisi atau perjuangan individu, dan kita juga telah meninjau konsep-konsep yang dikemukakannya untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa lingkungan yang penting. Maka, sekarang kita dapat menggambarkan individu pada tiap titik waktu sebagai suatu integrasi yang kompleks dari kebutuhan-kebutuhan dan tekanan atau vektor-vektor dan nilai-nilai, maupun struktur-stuktur kepribadian, abilitas-abilitas, prestasi-prestasi, dan sentimen-sentimen. Akan tetapi kitajuga telah melihat bahwa “sejarah organisme adalah si organisme itu sendiri”, dan hal ini jelas menunjukkan bahwa menggambarkan individu pada satu titik waktu tidaklah cukup. Penelitian secara longitudinal tentang individu merupakan suatu hal yang sangat penting, dan Murray telah berbicara banyak tentang jalan perkembangan psikologis.

Variabel-variabel yang telah kita bicarakan tentu saja dapat diterapkan pada tiap titik perkembangan. Akan tetapi di samping konsep-konsep ini, Murray telah mengembangkan dan menyempurnakan konsepsi psikoanalitik tentang “kompleks” untuk menggambarkan sekumpulan pengalaman awal masa kanak-kanak yang sangat penting. Meski penjelasan Murray tentang perkembangan terlalu berbau teori psikoanalisis, toh ia memasukkan dimensi-dimensi baru pada waktu ia menggunakan konsepsi-konsepsi ini dan ia telah menunjukkan daya cipta yang luar biasa ketika mengembangkan alat-alat untuk mengukur beberapa dari antara variabel-variabelnya yang penting.

Dalam membicarakan perkembangan, kita akan mulai dengan membahas kompleks-kompleks kanak-kanak dan kemudian disusul dengan suatu ikhtisar pendek tentang pandangan Murray sekitar beberapa isu teoretis, meliputi faktor-faktor genetik dan pematangan, belajar, faktor-faktor sosio-kultural, Penentu Experensial, keunikan individu, peranan faktor-faktor tak sadar, dan proses sosialisasi.

Infantil Kompleks

Konsep kornpleks mewakili rancangan pengalaman masa anak-anak yang memberikan reaksi kejadian masa lalu sebagai cara yang khusus mengembangkan kehidupan dan tingkah laku individu. Mengikuti Freud dan para psiko analis, Murray (1938) menyarankan beberapa kondisi awal atau kegiatan-masingmasing yang akhirnya diakhiri, frustrasi, atau dibatasi oleh kekuatan eksternal-sekitar yang kompleks sangat mungkin mengembangkan. Kondisi-kondisi tersebut antara lain:

  1. Rasa aman selama berada dalam rahim/kandungan (diakhiri oleh pengalaman yang menyakitkan dalam kelahiran).
  2. Kenikmatan yang sensual mengisap makanan baik dari payudara ibu (atau botol) sambil berbaring dengan aman dalam pelukannya (sampai berhenti saat disapih).
  3. Kenikmatan bebas dari sensasi menyenangkan yang menyertai air besar (dibatasi oleh latihan penggunaan toilet).
  4. Excitations yang mendebarkan yang muncul dari memanipulasi alat kelamin (dilarang dengan ancaman hukuman).

 

Kompleks-kompleks Kanak-kanak

Jika kita menerima fakta bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada awal kehidupan individu merupakan faktor-faktor yang sangat penting dalam tingkah lakunya pada masa dewasa, maka kita menemukan suatu dilema empiris yang disebabkan oleh fakta bahwa sebagian terbesar peristiwa-peristiwa ini terjadi mendahului perkembangan bahasa. Akibatnya, metode-metode pemeriksaan atau pengukuran yang biasa adalah tidak cocok dan peneliti harus menggantungkan diri pada observasi dari luar terhadap anak serta rekonstruksi-rekonstruksi kabur yang dapat dilakukan individu setelah kemampuan berbahasanya berkembang. Penggunaan dua sumber data ini telah mengakibatkan bahwa bidang-bidang pengalaman tertentu yang sangat penting untuk perkembangan anak dan perkembangan selanjutnya sesudah dewasa tidak dapat diungkap. Menurut Murray, bidang-bidang pengalaman ini meliputi:

lima keadaan atau kegiatan yang sangat menyenangkan, yang masing-masing diakhiri, dikecewakan, atau dibatasi (pada suatu titik dalam perkembangan) oleh pengaruh-pengaruh dari luar: ( 1) kehidupan yang aman, pasif dan tergantung dalam kandungan (terputus dengan kasar oleh pengalaman kelahiran yang menyakitkan); (2) kenikmatan dalam mengisap makanan yang nikmat baik dari tetek ibu (atau dari botol) sambil berbaring dengan aman dan pasrah tergantung dalam lengannya (berhenti karena sapihan); (3) perasaan-perasaan menyenangkan yang dinikmati dengan bebas pada waktu defekasi (dibatasi oleh latihan buang air secara teratur); (4) kesankesan perasaan menyenangkan pada waktu buang air kecil…; dan (5) rangsangan-rangsangan menggetarkan yang timbul dari pergesekan alat kelamin (terhalang oleh ancaman-ancaman hukuman) (1938, hlm. 361-362).

Sudah dikemukakan oleh para psikoanalis bahwa semua bidang ini mengandung masalah-masalah khusus bagi pertumbuhan anak. Sumbangan-sumbangan Murray di sini berupa penjabaran uraian dan penjelasan tentang pandangan-pandangan Freudian ortodoks.

Dalam kasus-kasus di mana akibat-akibat dari pengalaman kanak-kanak ini pada tingkah laku selanjutnya adalah jelas dan luas. maka kita berbicara tentang kompleks. Sesungguhnya diasumsikan bahwa semua individu mempunyai berbagai “kompleks’’: dengan taraf kompleksitas yang berbeda-beda, dan hanya dalam kasus-kasus ekstremlah kompleks ini mencerminkan ketidaknormalan. Menurut rumusan Murray, kompleks merupakan “integrasi yang tahan lama (berasal dari salah satu kondisi yang disenangi yang disebut di atas) yang menentukan (secara tak sadar) jalan perkembangan selanjutnya….” (1938, hlm. 363).

Murray merumuskan dan memberikan spesiflkasi kasar untuk mengukur lima kompleks: kompleks klaustral, kompleks oral, kompleks anal, kompleks uretral, dan kompleks kastrasi. Tiap kompleks merupakan hasil dari peristiwa-peristiwa yang menyangkut salah satu dari lima bidang pengalaman yang menyenangkan yang dijelaskan di atas.

Kompleks-kompleks klaustral adalah sisa-sisa dari pengalaman selama berada dalam kandungan atau prenatal dari individu. Bidang pengalaman ini telah dibahas oleh para analis termasuk Freud dan Rank. Murray menyatukan dan mensistematisasikan ide-ide ini, menguraikannya dan menambahkan nama yang cocok. Ia mengemukakan bahwa di bawah judul umum ini terdapat tiga tipe kompleks khusus, yakni:

… 1) kompleks yang berkisar sekitar keinginan untuk mengembalikan kondisi-kondisi serupa dengan kondisi-kondisi sebelum dilahirkan;

2) kompleks yang berkisar sekitar kecemasan karena tidak dibantu dan tidak berdaya, dan 3) kompleks yang dengan penuh kecemasan ditujukan untuk melawan kemungkinan tak bisa bernafas dan terkurung (1938, hlm. 363).

Setelah memberikan spesifikasi umum tentang kompleks-kompleks tersebut, Murray memberikan simtom-simtom atau kriteria terinci lewat mana masing-masing dari ketiga tipe kompleks klaustral itu dapat dikenal. Ciri-ciri kompleks klaustral sederhana (mengembalikan kondisi-kondisi kandungan) meliputi kateksis terhadap klaustra (tempat-tempat tertutup seperti kandungan), objek-objek yang bersifat memelihara atau yang bersifat keibuan, kematian, masa lampau, dan tidak mau berubah, kebutuhan akan sifat pasif, penghindaran dari bahaya, pengasingan diri, dan pertolongan. Jadi, itulah seluruh gambaran orang yang pasif, dependen dan berorientasi Dada masa lampau serta umum
nya menolak hal yang baru atau perubahan. Kompleks ketakutan tidak akan dibantu menggejala dalam ketakutan terhadap tempat-tempat yang terbuka, jatuh, tenggelam, gempa bumi, api, dan tidak ada bantuan dari keluarga. Kompleks egresi berkisar pada pelarian diri atau pembebasan dan menggejala dalam kateksis terhadap tempat-tempat terbuka dan udara segar, kebutuhan untuk berpindah dan bepergian, kateksis terhadap perubahan, ketakutan terhadap ruang yang sempit dan tertutup (claustrophobia), dan kebutuhan yang kuat akan otonomi. Jadi, individu yang memperlihatkan kompleks ini dalam kebanyakan hal adalah lawan dari orang yang memperlihatkan kompleks klaustral yang sederhana.

Kompleks-kompleks oral adalah sisa-sisa dari pengalaman-pengalaman pemberian makan awal, dan lagi Murray mengemukakan tiga sub kompleks khusus, semuanya menyangkut mulut, tetapi masing-masing mengimplikasikan tipe kegiatan yang berbeda. Kompleks bantuan oral meliputi gabungan antara kegiatan oral dengan kecenderungan-kecenderungan untuk bersikap pasif dan dependen. Adanya kompleks ini dapat disimpulkan dari berbagai otomatisme oral, seperti mengisap; kateksis terhadap benda-benda oral seperti puting susu, buah dada, atau ibu jari; kompulsi makan dan minum; kebutuhan untuk bersikap pasif dan mencari bantuan; kateksis terhadap kata-kata, benda-benda yang bersifat memelihara; dan kebutuhan-kebutuhan agresif yang terhambat. Kompleks agresi oral merupakan gabungan antara kegiatan oral dan agresi dan menggejala dalam gerakan-gerakan oral secara otomatis, seperti menggigit; kateksis terhadap benda-benda oral yang keras (daging, tulang); kebutuhan-kebutuhan agresif yang kuat; ambivalensi terhadap tokoh-tokoh penguasa; proyeksi agresi oral (memandang lingkungan sebagai penuh dengan benda-benda agresi yang siap menggigit); kebutuhan untuk menghindarkan diri dari bahaya; fobia terhadap benda-benda yang menggigit; dan menggagap. Kompleks penolakan oral meliputi meludah dan jijik terhadap kegiatan-kegiatan dan benda-benda oral. Secara lebih khusus, kompleks ini diperlihatkan dalam suatu kateksis negatif terhadap makanan-makanan tertentu, kurang nafsu makan. ketakutan terhadap infeksi atau luka di bagian mulut, kebutuhan untuk menolak, kebutuhan untuk mengasingkan diri dan otonomi, dan tidak suka terhadap objek-obje yang bersifat nurutran atau makanan.

Kompleks-kompleks anal berasal dari peristiwa-peristiwa yang diasosiasikan dengan buang air besar dan latihan buang air secara teratur. Murray, mengikuti Freud dan Abraham, mengemukakan bahwa di sini ada dua kompleks khusus, yang satu terutama berkisar pada kecenderungan untuk mengeluarkan sedangkan yang lain berkisar pada kecenderungan untuk menahan. Kompleks penolakan anal meliputi diare dan kateksis terhadap kotoran (faeses) dan selanjutnya menyangkut kebutuhan akan agresi, khususnya yang menyangkut ketidakteraturan dan pengotoran, atau pencorengan; teori anal tentang kelahiran, kebutuhan akan otonomi, seksualitas anal. Kompleks refensi anal berupa kateksis terhadap kotoran (faeses) tetapi kateksis ini di sembunyikan di belakang perasaan jijik, kesopansantunan, da reaksi negatif terhadap buang air besar (defekasi). Kompleks ini juga dikaitkan dengan teori anal tentang kelahiran dan seksualitas anal, maupun dengan kebutuhan akan otonomi, meski dalam hal ini otonomi diwujudkan dalam bentuk penolakan terhadap. sugesti bukan dalam bentuk pencarian kemandirian atau ke bebasan. Ada pula kebutuhan yang kuat akan keteraturan dan kebersihan, dan juga kebutuhan untuk menahan harta milik. Tentu saja kompleks ini mirip dengan trilogi Freudian yan terkenal, “kekikiran, kebersihan, sifat keras kepala,” yang merupakan ciri khas “karakter anal”.

Mula-mula, Murray (1938) menganggap bahwa kompleks uretral tidaklah begitu penting. Mula-mula ia mengemukakan bahwa kompleks ini meliputi mengompol di tempat tidur, mengompol di celana, dan erotisme uretral. Hasil penelitian yang dilakukannya sesudah perang memberinya kepastian bahwa bagi banyak individu bidang pengalaman ini ternyata sangat penting, dan sejak itu ia memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kompleks itu maupun suatu rangkaian alat empiris untuk memeriksanya, meski sampai sekarang bahan ini tidak pernah diterbitkan. Ia juga mengusulkan untuk menyebut sindrom ini kompleks Icarus, mengikuti nama tokoh mitologi yang terbang begitu dekat dengan matahari malawan nasihat ayahnya, dengan akibat bahwa sayap-sayap buatannya meleleh, dan ia jatuh mati. Sebuah sejarah kasus terinci tentang seorang Icarus Amerika pernah diterbitkan (Murray, 1955). Dalam perumusan-perumusannya yang lebih kemudian, ia menunjukkan bahwa individu yang bersifat Icarian memiliki sejumlah kualitas khusus seperti kateksis terhadap api, pernah punya kebiasaan mengompol, merindukan kehidupan kekal, narsisisme yang kuat, dan ambisi tinggi yang mudah hancur bila mengalami kegagalan.

Kompleks kastrasi juga kurang diberi perhatian dalan tulisan awal Murray dibandingkan dengan tiga kompleks yang pertama. Ia mengemukakan bahwa kompleks itu harus diberi arti atau makna yang lebih terbatas daripada yang biasa diberikan oleh para psikoanalisis:

Bagi kami rupanya lebih baik membatasi istilah kompleks kastrasi menurut arti haraflahnya kecemasan yang ditimbulkan oleh fantasi bahwa penis mungkin akan dipotong. Kompleks ini cukup banyak terj adi, tetapi rasanya tidak mungkin bahwa kompleks ini merupakan sumber segala kecemasan neurotik. Biasanya kompleks ini muncul sebagai akibat dari fantasi-fantasi yang diasosiasikan dengan masturbasi kanak-kanak (1938, hlm. 385).

Tiap kompleks ini bisa bertahan sepanjang kehidupan seseorang dalam bentuk sifat-sifat karakter, yakni cara-cara bertingkah laku yang khas.

Faktor-faktor Genetis dan Pematangan

Dalam perumusan pandangan-pandangannya yang lebih kemudian Murray (1968b) beranggapan bahwa faktor-faktor genetik dan pematangan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan kepribadian. Ia memandang proses-proses genetikpematangan bertugas memrogramkan sejenis suksesi atau urutan pergantian berbagai masa sepanj ang kehidupan seorang individu. Selama masa pertama yakni masa kanak-kanak, adolesen, dan masa dewasa awal komposisi-komposisi struktural baru muncul dan menjadi bertambah banyak. Masa usia setengah baya ditandai oleh rekomposisi-rekomposisi konservatif atas struktur-struktur dan fungsi-fungsi yang telah muncul. Selama masa terakhir, masa usia lanjut, kapasitas untuk membentuk komposisi-komposisi dan rekomposisi-rekomposisi baru berkurang sebaliknya atrofi dari bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi yang ada meningkat Dalam tiap periode, terdapat banyak program peristiwa-peristiwa tingkah laku dan pengalaman yang lebih kecil yang berlangsung di bawah bimbingan proses-proses pematangan yang dikontrol secara genetis.

Menurut Murray, perkembangan-perkembangan ini bersurmber pada proses-proses metabolik. Dalam masa pertama, anabolisme mengungguli katabolisme; dalam masa kedua, keduanya kira-kira sama; dan dalam masa ketiga, katabolisme lebih besar daripada anabolisme. Murray menyukai model metabolik karena “model itu sesuai dengan konsepsi tentang kenyataan yang tidak dapat diungkapkan menurut struktur-struktur ruang (spatial benda sebagaimana adanya melainkan menurut sifat-sifat beroperasi dan saling tergantung dari benda artinya menurut proses, waktu dan energi” (1968b, hlm. 9). Lagi pula itulah model yang memberi tempat bagi progresi, kreativitas, dan aktualisasi diri, yang tidak dijelaskan oleh teori psikoanalisis murni.

Murray memilih model metabolik karena memungkinkan dia untuk menekankan proses daripada struktur dan mewakili ide-ide kemajuan, konstruksi, dan kreativitas. Ada tiga era/masa dalam proses psiko metabolik yaitu:

  1. Era pertama kehidupan (kira-kira, masa bayi hingga awal masa dewasa),

anabolik, atau building-up adalah proses dominan. Orang belajar hal-hal baru; baru dalam struktur dan fungsi otak yang mungkin ditetapkan.

  1. Era kedua (dewasa, atau tengah tahun), anabolik clan katabolik (breaking-down) merupakan proses lebih atau kurang seimbang satu sama lain, dan penekanan pada kepala dan memperkuat apa yang telah dipelajari, melalui pengulangan, memori, dan sebagainya.
  2. Pada era ketiga dan terakhir (usia tua, atau penuaan), proses katabolik menjadi dominan; memori kurang dapat diandalkan, Struktur dan fungsi dasar mulai memburuk.

Hipotesis Murray bahwa program genetis menentukan usia paling awal di mana berbagai kecenderungan dan bakat akan muncul dan mampu berkembang, saat anak berada pada kondisi balk clan pada suatu titik tertentu suatu ungkapan yang terprogram akan berkata, “Sekarang adalah waktu untuk belajar merangkak”; di lain perkembangannya, suatu ungkapan yang terprogram akan berkata “Kini datang masa pubertas” (Murray, 1968: 8). Murray juga menunjukkan bahwa program genetis menentukan “batas-batas kesempurnaan sejumlah keterampilan khusus (misalnya, atletik, musik, matematika, puitis) dapat disempurnakan di bawah keadaan yang paling memfasilitasi” (Murray, 1968: 8).

Belajar

Faktor-faktor genetik tidak dapat diabaikan dalam pembahasan tentang belajar karena Murray yakin bahwa faktor-faktor tersebut bertanggung jawab atas timbulnya pusat-pusat kenikmatan (hedonik) dan ketidaknikmatan (anhedonik) dalam otak. Belajar ialah menemukan apa yang menimbulkan kesenangan dan apa yang menimbulkan kesusahan bagi individu. Sumber-sumber hedonik dan anhedonik ini dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara. Sumber-sumber itu dapat bersifat retrospektif (ingatan-ingatan pada pengalaman masa lampau yang menyenangkan atau menyedihkan), spektif (pengalaman-pengalaman masa kini), atau prospektif (antisipasi-antisipasi terhadap kesenangan-kesenangan atau kesakitan-kesakitan di masa mendatang). Sumber-sumber di masa sekarang dapat diklasifikasikan menurut apakah mereka itu terutama terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, dalam lingkungan, atau dalam transaksi antarpribadi. Sumber-sumber ini dapat dibagi lebih lanjut. Misalnya, sumber-sumber yang terdapat dalam diri sang pribadi bisa terdapat pada tubuh, pada suatu pusat emosi dalam otak, pada suatu tipe proses psikologis, atau pada keputusan-keputusan suara hati.

Murray secara khusus menolak konsep kebiasaan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian. Individu bukanlah seorang makhluk kebiasaan, melainkan secara terus-menerus mencari cara-cara baru untuk mengungkapkan dirinya, mendambakan bentuk-bentuk stimulasi baru, petualangan-petualangan baru, dan prestasi-prestasi baru, serta mampu mengalami transformasi lewat wawasan-wawasan rohani (Murray 1968b, hlm. 12).

Faktor-faktor Sosio-kultural

Berbeda secara mencolok dengan kebanyakan teoretikus, yang mengekor teori psikoanalisis, Murray dengan sengaja menetapkan peranan penting faktor-faktor lingkungan dalam perkembangan. Kita telah melihat bahwa berbeda dari kebanyakan ahli yang mempelajari motivasi, ia mengembangkan sekumpulan konsep terinci (tekanan) yang dimaksudkan untuk melukiskan lingkungan individu. Ia melakukan itu sebagian berdasarkan teori Darwin yang mengatakan bahwa terutama kelompoklah yang mengalami evolusi, bukannya individu. Kelangsungan hidup bagi yang terkuat (survival for the fittes) berlaku bagi persaingan antarkelompok. Maka, Murray menulis: “Teori evolusi kelompok ini membantu kita untuk memahami mengapa manusia adalah makhluk sosial, dan mengapa sebagai makhluk sosial, ia penyayang sekaligus kejam” (1959, hlm. 46). Selanjutnya, ia sering menyinggung fakta bahwa jalan perkembangan tidak dapat dipahami dengan baik tanpa suatu gambaran yang lengkap tentang lingkungan sosial, tempat proses itu berkembang. Konsepnya tentang “proceeding” dan “tema” secara konsisten mengimplikasikan suatu pandangan interaksionis keyakinan bahwa pemahaman yang lengkap tentang tingkah laku akan diperoleh hanya apabila baik subj ek maupun objeknya diungkapkan secara memadai. Semua yang dikatakan di atas menunjukkan bahwa Murray mengikuti dan menekankan pentingnya pandangan “medan” tentang tingkah laku.

Penentu Experensial

Proses pengalaman terdiri dari sebuah keberhasilan dalam (1) peristiwa yang terjadi pada seseorang di lingkungan hidup; (2) ekspresi seseorang yang terprogram (“naluriah ledakan”), dipicu oleh peristiwa lingkungan yang spesifik, dan (3) upaya orang untuk melakukan sesuatu, sebagai dampak dari tindakan positif dan negatif, seperti imbalan atau hukuman.

Keunikan

Meski perhatian Murray tertuju pada kategori-kategori analisis yang bersifat umum, namun ia selalu memandang keunikan hakiki tiap pribadi, bahkan tiap peristiwa tingkah laku, sebagai fakta-fakta yang tidak perlu dibuktikan lagi. Penghargaannya terhadap observasi naturalistik serta bakat-bakat sastranya yang kreatif dan intuitif memudahkannya untuk mengilhami dan menjelaskan secara menakjubkan individualitas dan kompleksitas yang sukar dipahami dari tiap subjek atau peristiwa. Mengutip kata-kata Murray:

Tiap proceeding akan meninggalkan bekas suatu fakta baru, benih untuk sebuah ide, penilaian kembali tentang sesuatu, persekutuan yang lebih mesra dengan seseorang, sedikit perbaikan ketrampilan, pembaharuan harapan, alasan lain untuk bersedih. Jadi, perlahan-lahan, dengan perubahan yang hampir tidak dapat dirasakan meski kadang-kadang dengan 10mpatan ke depan atau ke belakang secara tiba-tiba a orang berubah dari hari ke hari. Karena orang-orang akrab di sekelilingnya juga berubah, maka dapat dikatakan bahwa tiap kali ia bertemu dengan salah seorang di antara mereka, keduanya berbeda. Singkatnya, tiap proceeding dalam sejumlah hal tertentu adalah unik (Murray dan Kluckhohn, 1953, hlm. 10).

Proses-proses Tak Sadar

Di antara para psikolog akademik, Murray merupakan salah satu di antara orang-orang yang mengakui peranan tersembunyi namun luas dari faktor-faktor tingkah laku tak sadar (Murray. 1936). Sebagaimana telah kita amati, dalam pernyataan teoretis pertamanya yang penting (1938) ia menjelaskan bahwa tidak se’ mua proses regnan memiliki hubungan-hubungan sadar, sehingga cukup wajar bahwa proses-proses regnan yang tidak memiliki hubungan-hubungan sadar tersebut menentukan tingkah laku tanpa disadari individu. Individu tidak hanya tidak menyadari kecenderungan-kecenderungan tertentu yang mempengaruhi tingkah lakunya, tetapi yang lebih penting, beberapa dari kecen’ derungan-kecenderungan ini secara aktif dihalangi atau dihalau dari pengaruh kesadaran. Jadi, Murray tidak hanya mengakui peranan faktor-faktor tingkah laku tak sadar tetapi juga mengakui beroperasinya mekanisme-mekanisme Fredian, yaitu represi dan resistansi.

 

Proses Sosialisasi

Murray telah menyatakan bahwa kepribadian manusia merupakan kompromi antara impuls-impuls individu sendiri dan tuntutan-tuntutan serta kepentingan-kepentingan orang-orang lain. Tuntutan dari orang-orang lain im’ diwakili secara kolektif oleh pranata-pranata dan pola-pola budaya tempat individu itu berada, sedangkan proses dengan mana impuls-impulsnya sendiri dikompromikan oleh kekuatan-kekuatan ini disebut proses sosialisasi. Konflik-konflik antara individu dan pola-pola lingkungan sosial yang berlaku, biasanya dipecahkan dengan cara individu menyesuaikan diri dengan pola-pola kelompok dengan cara tertentu. Hanya kadang-kadang, dan pada kasus individu-individu luar biasa, orang bisa mengadakan perubahan dalam pola-pola budaya yang akan mengurangi konfliknya dengan impuls-impulsnya sendiri. Untuk sebagian terbesar, kepribadianlah yang lebih mudah dibentuk, karena itu konflik biasanya direduksikan dengan mengubah sang pribadi.

Salah satu unsur hakiki untuk mencapai tujuan-tujuan sosialisasi ialah perkembangan superego yang memadai. Sebagaimana telah kita lihat, dengan menginternalisasikan aspek-aspek pada tokoh-tokoh autoritas yang dikenal, seorang pribadi mengembangkan sejenis struktur internal yang berfungsi menghadiahi dan menghukum apabila pribadi yang bersangkutan bertingkah laku dengan tepat atau tidak tepat diukur dari pola budaya sebagaimana diinterpretasikan oleh tokoh-tokoh autoritas tersebut. Hal ini mengandung implikasi bahwa orangtua, sebagai tokohtokoh autoritas yang paling penting merupakan pelaku-pelaku utama dari proses sosialisasi. Keberhasilan orangtua dalam menghadiahi pola-pola tingkah laku yang disetujui dan menghukum pola-pola tingkah laku yang tidak disetujui sebagian besar akan menentukan keberhasilan proses perkembangan ini. Salah satu komponen penting dari peranan orangtua sebagai pelaku sosialisasi ialah kemampuan mereka mengembangkan hubungan kasih sayang timbal balik dengan anak sehingga sekedar persetujuan atau penolakan dapat berfungsi sebagai kondisi-kondisi motivasi penting dalam mengontrol tingkah laku anak.

Sosialisasi bukan tidak memiliki segi-segi negatif. Seorang individu dapat terlalu disosialisasikan, bahkan secara teoretis Seluruh masyarakat dapat mengalami proses-proses sosialisasi Yang justru merugikan, bukannya menyiapkan kearah kehidupan yang berhasil. Sebagaimana dikemukakan Murray, manusia Dada dasarnya adalah binatang dan jika sosialisasi menyangkut kodrat biologis yang fundamental ini maka ia tidak dapat menghancurkan spontanitas dan kekuatan kreatif yang mutlak diperlukan demi berbagai macam kemajuan manusia yang terpenting.

Psikopatologi

Menurut murray, ada lima kompleks yang terjadi selama masa kanak-kanak yang harus dipenuhi. Ketika hal tersebut diperlihatkan secara ekstrem, orang akan tetap terfiksasi pada satu tingkatan perkembangan. Kepribadiannya kemudian menjadi tidak dapat berkembang secara spontan dan fleksibel, yang akan mempengaruhi pembentukan ego dan superego.

The Claustral Stage

Bentuk yang tidak mendukung dari tahap ini berpusat pada rasa tidak aman dan ketidakberdayaan yang menyebabkan seseorang takut untuk menghadapi ruang terbuka, jatuh, tenggelam, kebakaran, gempa bumi, ataupun situasi yang baru dan perubahan.

The Oral Stage

Karakteristik perilaku dari oral rejection complex adalah muntah-muntah, memilih-milih makanan, sedikit makan, takut terhadap kontaminasi lewat oral (semisal ciuman), mengasingkan diri, dan menghindari bergantung kepada orang lain.

The Anal Stage

Orang yang mengalami kompleks ini tidak teratur dan kurang bersih.

 The Urethral Stage

Kompleks ini diasosiasikan dengan ambisi yang berlebihan, harga diri yang menyimpang, rasa pamer, mengompol, dan terlalu mencintai diri sendiri. Orang yang mengalami kompleks ini berangan-angan terlalu tinggi, dan hancur karena kegagalan.

 

The Genital or Castration Stage

Kompleks ini menimbulkan rasa cemas yang berlebihan akan fantasi seorang anak yang takut dikebiri oleh orang tuanya. Murray percaya bahwa ketakutan ini timbul akibat masturbasi pada masa kanak-kanak dan hukuman orang tua kepada anak.

Penelitian Khas dan Metode Penelitian

Kami telah menunjukkan bahwa nilai penelitian Murray terutama terletak pada keasliannya dan inilah yang menyebabkan sangat sulit menarik benang merah dari penelitian-penelitian yang diilhami maupun yang dilakukannya. Sebelum kita memulai tugas sulit memilih contoh-contoh penelitian untuk disajikan di sini secara ringkas ada baiknya kita memeriksa dengan sangat singkat beberapa ciri khusus pendekatan umum Murray dalam penelitian kepribadian. Pembaca yang berminat bisa menemukan beberapa makalah di mana Murray mengemukakan konsepsinya tentang bagaimana seharusnya penelitian kepribadian dilakukan (Murray, 1947, 1949b, 1963).

Penelitian Intensif pada Sejumlah Kecil Subjek Normal

Penelitian berskala besar tentang tingkah laku manusia dengan temuan-temuan berupa kecenderungan-kecenderungan kelompok atau hubungan-hubungan menyeluruh yang kurang dapat memberi gambaran yang cukup baik tentang individu dalam kelompok, merupakan suatu cara yang terbatas dalam memahami tingkah laku manusia. Murray yakin, berdasarkan kearifannya sebagai seorang naturalis dan ahli klinik, bahwa pemahaman yang memadai tentang tingkah laku harus melewati penelitian Yang sempurna dan terinci tentang subjek-subjek individual. sebagaimana penelitian kasus memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu kedokteran, demikian juga masa depan psikologi tergantung pada kemauan para peneliti untuk meluangkan waktu dan usaha untuk memahami kasus-kasus individual secara menyeluruh. Hubungan-hubungan kelompok penting hanya jika disertai penyelidikan yang cermat tentang penyimpangan-penyimpangan dalam kelompok dan kondisi-kondisi yang menyebabkan atau menyertai penyimpangan-penyimpangan ini. Melaporkan suatu temuan yang berhasil menjelaskan 80 persen dari kelompok tertentu kurang menjadi bernilai kecuali kalau penjelasan tentang kegagalan 20 persen lainnya yang sejalan dengan pola ini bisa diberikan. Penekanan Murray secara konsisten pada segi ini merupakan salah satu dari sumbangan-sumbangan pokoknya bagi metode-metode penelitian.

Apabila kita tertarik kepada subjek individual dan juga menaruh minat pada sebab-sebab yang mengakibatkan munculnya subjek-subjek yang merupakan pengecualian-pengecualian pada hubungan-hubungan yang umum itu, maka jelas kita harus memperoleh sejumlah besar informasi tentang tiap subjek. Jadi, tidak dapat dielakkan bahwa pandangan Murray akan mengarahkannya kepada penelitian yang intensif tentang subjek-subjeknya, dan ini tentu berakibat dikuranginya jumlah subjek yang dapat diteliti pada suatu waktu dan jumlah keseluruhan penelitian yang dapat dilakukan oleh seorang peneliti dalam sejumlah tahun tertentu.

Ciri khas selanjutnya dari penelitiannya adalah tekanannya pada penelitian mengenai individu-individu normal dalam lingkungan-lingkungan alamiah. Umumnya, penelitian intensif terhadap kasus-kasus individual dilakukan di lingkungan klinis di mana patologi dari para pasien telah menjadikan mereka subjek perhatian khusus atau karena tuntutan-tuntutan demi ketepatan diagnostik dan terapeutik membutuhkan informasi yang luas semacam itu. Jadi, pilihan Murray pada subjek normal sebagai fokus penelitiannya merupakan imbangan wajar bagi sejarah-sejarah kasus yang diperoleh dari lingkungan-lingkungan psikiatrik.

Murray (1958) yakin bahwa keprihatinan terdalam seorang personologis adalah menerangkan dan memprediksikan aktivitas-aktivitas individu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu ia tidak: boleh puas dengan membatasi prediksi-prediksinya: pada lingkungan laboratorium atau berusaha memahami individu hanya dengan memvalidasikan suatu percobaan dengan pembandingkannya dengan percobaan lain.

Ia adalah juga salah seorang di antara para pelopor kerjasama interdisipliner dalam penelitian kepribadian. Staf klinik Psikologi Harvard biasanya terdiri atas wakil-wakil dari kalangan psikiatri, Psikologi, antropologi dan disiplin-disiplin lainnya, pada masa di mana hal semacam itu sama sekali tidak lazim.

Dewan Diagnostis

Murray sangat menekankan pentingnya pengamat atau psikolog sebagai instrumen dalam penelitian psikologi. Meski kita dapat menggunakan skala-skala penilaian, perangkat-perangkat kategori atau tes-tes psikologis untuk menilai kepribadian, namun yang menjadi dasar dari semua instrumen ini adalah kepekaan observasi sang peneliti atau si ahli klinis. Karena peranan pengamat sedemikian penting,maka Murray yakin bahwa perhatian harus lebih tertuju kepada kelemahan-kelemahan pengamat dan harus dilakukan usaha-usaha yang lebih serius untuk memperbaiki kemampuan observasinya. Pertimbangan-pertimbangan ini telah menyebabkan ia menyebut seorang psikolog sebagai “instrumen presisi” yang paling penting dalam penelitian psikologi.

Salah satu cara jelas untuk memeriksa dan meningkatkan kualitas observasi ialah dengan melibatkan banyak pengamat yang semuanya memeriksa data yang sama dengan perspektif yang berlainan. Dus, pelibatan sejumlah peneliti untuk menyelidiki individu atau individu-individu yang sama memberikan keuntungan-keuntungan khas berupa penghapusan kelemahan-kelemahan yang bersumber pada berbagai bias pengamat-pengamat tertentu atau kelemahan-kelemahan yang biasa terdapat dalam sekumpulan data tertentu. Tidak hanya hasil akhir dari observasi kelompok semacam itu dianggap lebih unggul dari pada observasi individual, tetapi juga anggota-anggota kelompok bisa mempertajam dan memperbaiki kemampuan observasi mereka berkat fungsi korektif hasil-hasil observasi yang dilakukan oleh orangorang lain.

Pertimbangan-pertimbangan ini menyebabkan Murray menciptakan sejenis dewan diagnostik di mana banyak pengamat meneliti subjek-subjek yang sama dari segi pandangan yang berlainan, selanjutnya kesempatan diberikan untuk secara flnal membahas dan menyintesakan informasi yang diperoleh dari segi pandangan yang berbeda-beda ini. Sesudah suatu periode observasi individual di mana tiap peneliti menyelidiki para subjek dengan teknik-tekniknya sendiri yang khas, maka diadakan suatu pertemuan untuk membicarakan masing-masing subjek. Pada kesempatan ini tiap peneliti mengemukakan data dan interpretasi mereka dan memberi kesempatan penuh bagi pengamat-pengamat lainnya untuk menyokong atau mengusulkan perubahan-perubahan dalam laporannya berdasarkan observasi dan interpretasi mereka sendiri. Seorang peneliti lain bertanggung jawab menghimpun dan membuat sintesis dari tiap kasus, tetapi tiap anggota dewan diberi kesempatan yang tak terbatas untuk memberikan sumbangan bagi hasil akhir ini.

Instrumen-instrumen Pengukur Kepribadian

Di antara para psikolog kontemporer, tidak ada tokoh yang telah memberikan sumbangan-sumbangan penting bagi pengukuran kepribadian melebihi Murray. Ia telah menciptakan sejumlah besar alat untuk mengukur kepribadian, meski hanya sedikit di antaranya yang telah dimanfaatkan secara sistematis. Buku Explorations in personality dan Assessment of men memberikan gambaran luas tentang kecanggihan dan keanekaragaman instrumen yang diciptakannya atau yang dikembangkan orang lain mengikuti pengaruhnya. Salah satu di antaranya, Thematic Apperception Test, merupakan teknik projektif yang paling banyak digunakan dewasa ini sesudah Rorschach Test (Lindzey, 1961; Murstein, 1963; Zubin, Eron, dan Schumer, 1965).

Memahami Kepribadian Melalui Fantasi: TAT

TAT (Thematic Apperception Test) dikembangkan oleh Christiana Morgan dan Henry A. Murray berdasarkan fakta yang disadan betul, bahwa seseorang menginterpretasikan situasi sosial yang ambigu yang cenderung dia menunjukkan kepribadiarmya sebanyak fenornena yang ia alami (Murray, 1938 ha1531).

Berdasarkan asumsi bahwa cerita yang seseorang sampaikan akan sama-sama merefleksikan pandangan dan karakteristik pencen’ta itu sendiri dan narasi seperti itu dapat mengungkapkan sifat kepribadian atau tren secara umum Murray dan Morgan menggunakan TAT sebagai satu kelornpok gambar ambigu yang dirancang untuk menstimulasi imajinasi penonton dan memberikan area khusus kepentingan motivasi dan konflik yang potensial.

Dalam peneltian ekstensif yang dijelaskan dalam Explorations in Personality, Murray dan koleganya menggunakan wawancara, questionairre, tugas penyelesaian masalah, uji kemampuan dan sejumlah perangkat lain untuk menguji pikiran. perasaan dan perilaku 50 pemuda, yang sebagian besarnya adalah mahasiswa S1 atau S2 di Harvard. Semua subjek dinilai, pada skala enam poin, pada kebutuhan, tekanan dan kualitas lainnya baik oleh peneliti ataupun oleh diri mereka sendiri dan tugas tertentu dinilai dengan cara yang layak.

Kepentingan penelitian ini sebagian besarnya adalah bahwa ia adalah usaha pertama untuk mempelajari manusia normal secara intensif dengan cara introspeksi seperti halnya dengan observasi dan dengan pengalaman yang terkendali serta untuk membentuk karakterisasi terintegrasi dari sebuah kelompok orang yang stabil berdasarkan data yang tidak hanya diambil dari banyak pengukuran yang berbeda-beda namun disusun oleh pengamat dari berbagai disiplin ilmu. Pendekatan penelitian multidimensi semacam ini pada penelitian orang sebagi entitas dan dalam konteks digunakan oleh Murray dalam waktu perangnya dengan United States Office of Strategic Services (lihat Kotak 1) dan karena ia telah digunakan dalam penelitian kepribadian lain, seperti yang dilakukan di Institute of Personality Assesment and Research (IPAR) di Berkeley.

 

IMPLIKASI

 

  1. Kepribadian mencakup seluruh rentang kehidupan dari peristiwa yang dialaminya, maka seorang konselor jangan mengabaikan sejarah masa lalu yang dialami oleh klien, dan harus berusaha mencari tahu peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan klien mengalami masalah pada saat in

 

  1. Seorang konselor harus memahami betul dinamika kepribadian siswa, sehingga dalam membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh klien sesuai dengan apa yang diinginkan dan mencapai hasil yang memuaskan.

 

  1. Seorang konselor harus mampu merealisasikan apa yang ada di fikirannya, maksudnya konselor harus bertindak dengan memikirkan matang-matang apa yang harus dilakukan, jadi seorang konselor jangan bertindak gegabah.

 

  1. Konselor harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, jika tidak jangan harap bantuan yang diberikan akan berhasil dengan baik, bahkan akan terjadi ketidak percayaan akan kemampuan konselor dalam menyelesaikan suatu masalah.

 

  1. Seorang konselor harus memahami betul kecenderungan-kecenderungan yang dialami oleh klien supaya tidak salah dalam memberi bantuan penyelesaian masaalah yang dialami oleh klien, selain itu konselor harus banyak berfikir dari sisi positif yang ada pada klie

 

  1. Seorang konselor harus mengetahui potensi yang dimiliki oleh klien dan harus berusaha membangkitkan atau menggali potensi pada diri klien yang mungkin tidak disadari olehnya dengan cara memberi pujian yang relisti sehingga percaya dirinya akan tumbuh.

 

  1. Menurut Murray bahwa seseorang mempunyai ordinasi atau proses mental tinggi untuk memperoleh suatu tujuan, maka seorang konselor harus membantu mengarahkan individu untuk mencapai tujuan akhir yang diharapk

 

  1. Konselor harus membantu klien untuk bisa berprestasi baik dalam akademik maupun dalam karir, konselor juga harus membimbing dan mengarahkan klien untuk memperoleh kemampuan yang dimiliki secara optimal, karena prestasi dan kemampuan menurut Murray merupakan suatu hal yang sangat penting dalam keperibadian seseorang.

 

  1. Tiap orang mempunyai kebutuhan, ketika kebutuhan muncul, maka akan terjadi tekanan dalam diri seseorang. Seorang konselor harus mampu membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya secara realistis, supaya tidak terjadi tekanan yang mengakibatkan gangguan dalam menjalani kehidupannya.

 

  1. Lingkungan merupakan sala satu faktor panentu munculnya tekanan pada diri seseorang, karena loingkungan dapat menghambat atau menahan kemajuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diingnkanny Seorang konselor harus mampu menjembatani antara lingkungan dsan klien supaya tidak terjadi gesekan-gesekan yang mengakibatkan seseorang menderita.

 

  1. Sesuatu tujuan akan tercapai dengan baik manakala, terprogram dengan baik serta mempunyai jadwal yang k Seorang konselor harus membantu klien untuk membuat suatu perencanaan yang memepunyai program dan jadwal yang tersusun secara sistematik.

 

  1. Menurut Murray alam bawah sadar itu regnant ( menguasai), seorang konselor harus membimbing perilaku klien ke arah hal yang disadari, supaya akan terjadi keseimbangan dalam mengarungi kehidupannya.

 

  1. Hubungan kasih sayang antara klien dan konselor merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan hubungan antarpersonal, hal ini akan bemanfaat ketika klien bergaul di lingkungan sosial masyrak

 

KESIMPULAN

Teori personologi Murray, “no brain, no personality” adalah yang menentukan bagaimana kepribadian seseorang. Menurut Murray kepribadian adalah terjadinya proses psikologis tergantung pada proses fisiologis, segala fenomena yang membangun kepribadian tergantung pada sistem saraf pusat.. Otak memproses dan mengendalikan perasaan, kesadaran, ingatan, keyakinan, dan aspek kepribadian lainnya. Struktur kepribadian milik Murray sama dengan struktur kepribadian Freud, hanya saja isi dari strukturr tersebut yang berubah. Menurut Murray, Id berisi impuls yang dapat diterima oleh masyarakat seperti: empati, cinta dan memahami lingkungan. Ego menjadi pusat pengatur semua tingkahlaku secara sadar merencanakan tindakan, kemudian superego menekankan pentingnya nilai-nilai sosial dan kebudayaan dalam kepribadian.

Terdapat kombinasi antara kebutuhan dan tekanan. Need atau kebutuhan menurut Murray didefinisikan sebagai kekuatan di bagian otak yang mengorganisir berbagai proses seperti presepsi dan perilaku untuk mengubah kondisi yang ada atau tidak memuaskan. Sedangkan tekanan adalah penentu perilaku manusia yang berasal dari lingkungan manusia tersebut. Seperti contoh: seorang anak menangis karena ingin dipeluk (afiliasi), ternyata ia sekaligus merasakan haus untuk disusui (need).

Penekanan Murray secara konsisten pada segi ini merupakan salah satu dari sumbangan-sumbangan pokoknya bagi metode-metode penelitian. Yang paling terkenal dan masih kerap digunakan hingga saat ini adalah Tes Proyektif TAT. Pada tahun 1930, Murray dan Morgan menciptakan tes proyektif TAT, yaitu berupa tes gambar dengan seting yang sesuai dengan kehidupan nyata. Individu diminta untuk menceritakan apa yang dilihat dan rasakan ketika melihat gambar tersebut. Murray berasumsi bahwa tes TAT mendorong individu untuk memunculkan pikiran bawah sadar melalui gambar. Biasanya tokoh utama direfleksikan dengan kepribadian subjek itu sendiri, dan subjek tidak sadar bahwa mereka menceritakan diri mereka sendiri.

Daftar Pustaka

Psikologi Analitis (Carl Jung)

Psikologi analitis (psikologi analitik), juga disebut psikologi Jung, adalah sekolah psikoterapi yang berasal dari ide-ide Carl Jung, yang menekankan pentingnya jiwa individu dan pencarian pribadi untuk keutuhan.

Psikologi analitis berbeda dari psikoanalisis, yang merupakan sistem psikoterapi yang diciptakan oleh Sigmund Freud. Konsep penting dalam sistem Jung adalah individuasi, simbol, ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, arketipe, kompleks, persona, id, ego, dan super-ego, bayangan, anima dan animus, dan diri.

Di antara konsep sentral psikologi analitis adalah individuasi–proses psikologis seumur hidup diferensiasi diri dari elemen sadar dan bawah sadar masing-masing individu. Jung menganggap itu sebagai tugas utama pembangunan manusia. Dia menciptakan beberapa konsep psikologi terkenal, termasuk sinkronisitas, fenomena pola dasar, ketidaksadaran kolektif, kompleks psikologis, dan ekstraversi-introversi.

Struktur Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Ego

Menurut Jung, ego adalah di mana kita dalam keadaan sadar, atau hidup di alam kesadaran. Kesadaran berpusat pada berpikir, merasa, mengingat dan mencerap. Ia bertanggung jawab untuk memastikan semua fungsi kita dalam hidup sehari-hari terlaksana. Ego juga bertanggung jawab bagi rasa identitas dan rasa keberlanjutan kita tepat pada waktunya. Namun, penting untuk dicamkan, ego tidak sama dengan psikhe. Pengalaman sadar ego merepresentasikan hanya seporsi kecil kepribadian; psikhe, sebaliknya, mengacu ke semua aspek kepribadian entah yang sadar maupun bawah-sadar, aspek yang lebih substansial bagi kepribadian. Kemiripan besar konsep ego yang seperti ini memang muncul antara Jung dan Freud.

Sehingga secara konseptual dapat diambil garis besar bahwa menurut Jung, Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran sadar, Ego melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang, dan berada pada kesadaran.

Ketidaksadaran Pribadi

Bawah-sadar pribadi terdiri atas bahan-bahan yang awalnya disadari, namun kemudian direpresi atau dilupakan, atau sejak awal memang tidak begitu jelas untuk bisa dicerap kesadaran. Bawah-sadar pribadi mengandung klus ter-kluster pikiran bermuatan emosi (dinilai tinggi), yang disebut Jung koms pleks-kompleks. Lebih spesifiknya, kompleks adalah konstelasi ide-ide yang secara pribadi mengganggu yang dikaitkan oleh nada perasaaan-umum (1973, hlm… 599). Sebuah kompleks memiliki pengaruh yang tidak proporsional bagi perilaku manusia, dalam artian tema yang di sekelilingnya kompleks diorganisasikan, muncul kembali dan kembali di hidupnya. Seseorang dengan kompleks ibu contohnya, akan menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas… aktivitas yang entah secara langsung atau simbolis berkaitan dengan ide tentang ibu. Hal yang sama juga menimpa mereka yang mengalami kompleks ayah, seks, kuasa, uang atau jenis kompleks yang lain.

Klaim awal yang membawa lung pada ketenaran adalah teknik yang digunakannya untuk mempelajari kompleks-kompleks. Ia menggunakan tes asosiasi-kata yang sudah dikembangkan oleh Francis Galton dan Wilhelm Wundt, dan merancang ulangnya sebagai peranti untuk membongkar bawahsadar pribadi dalam rangka menemukan kompleks-kompleks. Riset inilah yang dipresentasikannya di Universitas Clark saat ia berkunjung bersama Freud ke Amerika Serikat pada 1909. Teknik lung terdiri atas membacakan ke pasien daftar 100 kata dan meminta pasien merespons -verbal atau lisan-_ secepatnya kata pertama yang terlintas di benak saat mendengar daftar kata-kata itu. Kata-kata yang digunakan seperti anak, hijau, air, menyanyi, kematian, panjang, bodoh dan lain-lain. Seberapa lama pasien merespon setiap kata diukur dengan stopwatch. Tingkat pernapasan juga diukur, begitu pula elektrokonduktivitas kulit pasien yang diukur lewat galvanometer.

Berikut ini kriteria yang digunakan lung sebagai ‘indikator kompleks’. yaitu faktor-faktor yang mengindikasikan adanya sebuah kompleks:

  1. Menampilkan waktu reaksi yang lebih lama dari rata-rata terhadap satu kata stimulus.
  2. Mengulangi kembali kata stimulus sebagai responsnya.
  3. Gagal merespons sama sekali.
  4. Munculnya reaksi-reaksi tubuh yang ekspresif seperti tertawa, naiknya tingkat pernapasan, atau meningkatnya konduktivitas kulit.
  5. Tergagap atau menjadi gugup atau kikuk.
  6. Melanjutkan respons terhadap kata stimulus sebelumnya. Bereaksi tanpa makna, contohnya kata bentukan sendiri yang ganjil.
  7. Bereaksi berlebihan dengan sebuah kata yang terdengar serupa kata stimulus, contohnya: die-lie.
  8. Merespons dengan lebih dari satu kata.
  9. Keliru membayangkan atau mendengar kata stimulus sebagai kata yang lain.

Jung menggunakan tes asosiasi-kata miliknya dengan banyak cara. Contohnya, ia menemukan jika pria merespons kata lebih cepat daripada wanita, dan orang terdidik lebih cepat daripada yang kurang terdidik. Selain itu, ia juga menemukan anggota-anggota sebuah keluarga umumnya memiliki reaksi hampir serupa dengan kata-kata stimulus. Berikut ini memperlihatkan reaksi seorang ibu dan putrinya terhadap beberapa kata stimulus (1973, hlm. 469):

Kata Stimulus Ibu Anak Perempuan
Hukum Perintah Tuhan Musa
Kentang Tabung Tabung
Orang Asing Pengembara Para Pengembara
Saudara Laki-laki Menyayangiku Sayang
Mencium Ibu Ibu
Ucapan Selamat Anak yang bahagia Anak Kecil

Jung yakin penting untuk menemukan dan menangani kompleks-kompleks karena hal-hal ini mensyaratkan pengeluaran begitu banyak energi psikis, dan karenanya menghambat pertumbuhan psikologis yang seimbang. Melalui tes asosiasi-kata ini, Jung membuktikan jika memungkinkan bagi kita untuk menyelidiki pikiran bawah-sadar secara sistematis. Prestasi ini saja sudah memberikan Jung tempat yang terkemuka di dalam sejarah psikologi.

Ketidaksadaran Kolektif

Memahami bawah-sadar kolektif, konsep Jung yang paling berani, mistis dan kontroversial, sama saja dengan memahami jantung teori Jung. Bawah Sadar kolektif mencerminkan pengalaman-pengalaman kolektif yang dimiliki manusia di masa lalu evolusinya, atau meminjam kata-kata Jung, “kumpulan pengalaman nenek moyang dari jutaan tahun lalu, gema kejadian-kejadian dunia prasejarah di mana setiap abad menambahkan sejumlah kecil variasi dan perbedaan tanpa batas” (1928, hlm.l62).

Bawah Sadar Kolektif ini merupakan gudang bekas-bekas ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang, masa lampau tidak hanya meliputi sejarah ras manusia namun juga leluhur pramunusiawi atau nenek moyang binatangnya. Ketidaksadaran kolektif hamper sepenuhnya terleps dari segala segi pribadi individu. Semua manusia memiliki keidaksadaran kolektif yang hampir sama. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan stuktur otak pada semua ras manusia dan disebabkan oleh evolusi umum.

Ketidaksadaran kolektif merupakan pondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Di atasnya dibangun aku, ketidaksadaran pribadi, dan semua hal lain yang diperoleh individu. Apa  yang dipelajari seseorang sebagai hasil dari pengalaman secara substansial dipengeruhi oleh ketidaksadaran kolektif yang melakukan peran mengarahkan atau menyeleksi tingkah laku sejak  awal kehidupan.

Ketidaksadaran memiliki kemungkinan-kemungkinan yang dipisahkan dari alam sadar, karena dengan dipisahkan itu ia mendapatkan semua materi yang bersifat subliminial yaitu semua hal yang sudah dilupakan, maupun kearifan dan pengalaman selama berabad yang tak terhitung jumlahnya tertanam dalam organ-organ arkhetipenya.

Apabila kebijaksanaan dari ketidaksadaran itu diabaikan oleh ego, maka akan mengganggu proses rasional sadar dengan menguasainya danmembelokkannya

Ke dalam bentuk yang menyimpang. Simtom-simtom, fobia, delusion, irrasionalitas lain berasal dari proses-proses ketidaksadaran yang diabaikan itu.

Bukan hanya fragmen-fragmen semua sejarah manusia dapat ditemukan di bawah-sadar kolektif ini, tetapi juga jejak-jejak moyang pra-manusia atau hewani kita bisa ditemukan di dalamnya. Karena bawah-sadar kolektif dihasilkan oleh pengalaman umum semua manusia, atau yang pernah dimiliki, isi bawah-sadar kolektif pada esensinya sama untuk semua orang. lung berkata bawah-sadar kolektif ini ”lepas dari muatan pribadi apa pun dan berlaku umum untuk semua orang karena isinya bisa ditemukan di mana-mana” (1966, hlm.66). Bagi Jung, istilah bawah-sadar kolektif dan bawah-sadar transpersonal sinonim.

Pengalaman-pengalaman moyang yang terdaftar di dalam psikhe ini disebut Jung memori-memori rasial, gambaran-gambaran primordial, atau yang lebih umum dia gunakan, arketipe. Arketipe bisa didefinisikan sebagai sifat bawaan untuk merespons aspek-aspek tertentu dunia. Sama seperti mata dan telinga telah berkembang maksimal untuk merespons aspek-aspek tertentu lingkungan, begitu pula psikhe berkembang untuk membuat individu merespons maksimal kategori-kategori tertentu pengalaman yang harus dihadapi manusia berkali-kali di banyak generasi tak terhitung. Sebuah arketipe hadir untuk setiap pengalaman yang universal, yaitu yang mesti dialami setiap anggota masing-masing generasi.

Kita bisa menggeneralisasi sendiri sedaftar arketipe dengan menjawab pertanyaan seperti: Apa yang harus dialami setiap manusia di seumur hidupnya? Jawaban Anda mungkin meliputi pengalaman lahir, mati, matahari gelap, kekuatan, wanita, pria, seks, magi, ibu, ayah, pahlawan dan rasa sakit. Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk bereaksi pada kategori pengalaman ini dan kategori pengalaman universal lainnya. Respons-respons dan ide-ide spesifik tidak diwariskan; yang diwariskan ada’ lah kecenderungan untuk merespon kate gon-kategori pengalaman umum ma’ nusia berdasarkan mitos-mitos yang dituntut secara emosional. Contohnya ketika nenek moyang kita mengalami kilatan petir atau gelegar guntur, ini menstimulasikan dalam diri mereka respons-respons emosi yang langsung mengambil bentuk mitos. Jung (1966, hlm. 1966) menjelaskan:

Salah satu pengalaman paling umum dan di waktu yang sama paling mengesankan adalah melihat gerakan matahari setiap hari. Kita tentunya tidak bisa menemukan hal ini di bawah-sadar, sejauh terkait proses fisiknya. Namun, yang kita temukan justru mitos matahari-pahlawan dengan semua variasinya yang tak terhitung. Mitos inilah, bukannya proses fisik, yang membentuk arketipe matahari. Hal yang sama juga bisa dikatakan untuk fase-fase bulan. Arketipe adalah sejenis kesiapan untuk memproduksi berkali-kali ide-ide mitos yang sama atau mirip. Bisa dikatakan, kalau begitu, apa pun yang mengesankan bawah-sadar semata-mata adalah ide-fantasi subjektif yang dibangkitkan oleh proses fisik. Artinya, kita dapat menyimpulkan jika arketipe adalah kesan berulang-ulang yang dibuat oleh reaksi-reaksi subjektif.

Manusia primitif merespons semua pengalaman emosi mereka berdasarkan mitos, dan kecenderungan terhadap pembuatan-mitos inilah yang terdaftar di bawah-sadar kolektif dan diturunkan ke generasi-generasi masa depan. Apa yang kita warisi, kalau begitu, adalah kecenderungan untuk mengalami kembali sejumlah manifestasi dari mitos-mitos primordial ini saat kita menghadapi kejadian-kejadian yang diasosiasikan dengan mitos-mitos ini lewat eon-eon. Setiap arketipe bisa dilihat sebagai kecenderungan yang diwariskan untuk merespons secara emosional dan mitologis terhadap jenisjenis pengalaman tertentu -contohnya, ketika bertemu dengan seorang anak, ibu, kekasih, mimpi buruk, kematian, kelahiran, gempa bumi atau orang asing.

Bawah-sadar kolektif adalah bagian yang paling penting dan berpengaruh dari psikhe, dan kecenderungannya yang diwariskan selalu mencari manifestasi keluar. Ketika isi dari bawah-sadar kolektif tidak diakui di dalam kesadaran, mereka bermanifestasi dalam mimpi, fantasi, gambaran-mental dan simbol. Karena segelintir saja orang yang dapat memahami sepenuhnya isi bawah-sadar kolektif, kebanyakan orang dapat memahaminya dengan mempelajari isi mimpi dan fantasi mereka. Faktanya, menurut Jung, manusia dapat mempelajari banyak hal tentang masa depan mereka dengan memori mimpi-mimpi ini karena menyimbolkan hakikat manusia yang men… dasar, yang suatu hari diharapkan bisa dipahami. Dalam pengertian ini, ba. Wah-sadar kolektif mengetahui lebih banyak dari yang diketahui seorang manusia, atau satu generasi manusia. Jung mengumpulkan informasi tentang arketipe-arketipe dari beragam sumber termasuk mimpi-mimpinya sendiri dan fantasi, suku primitif, seni, agama, sastra, bahasa dan halusinasi pasien. pasien psikotik.

Meski Jung menyebutkan banyak arketipe, namun hanya beberapa yang ditulisnya panjang lebar. Yang dimaksudkan ini adalah persona, anima, ani. mus, shadow dan self. Kita akan menguraikan di bagian berikutnya.

Arkhetipe

Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran (ide) universal yang mengandung unsure emosi yang besar. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran atau visi yang dalam kehidupan normal berkaitan dengan aspek tertentu dari situasi. Asal usul arkhetipe merupakan suatu deposit permanent dalam jiwa dari suatu pengalaman yang secara konstan terulang selama banyak generasi. Misalnya banyak generasi yang telah melihat matahari terbit setiap hari. Pengalaman berulang yang mengesankan ini akhirnya tertanam dalam ketidaksadara kolektif dalam suatu bentuk arkhetipe dewa matahari, badan angkasa yang kuat, berkuasa dan pemberi cahaya.

Arkhetipe-arkhetipe tidak harus berpisah satu sama lain dalam ketidaksadaran kolektif. Mereka saling melengkapi dan berfusi. Arkhetipe pahlawan danarkhetipe laki-laki tua yang bijaksana bisa berpadu menghasilkan “kesatria” seseorang yang dihormati dan disegani karena ia seorang pemimpinberjiwa pahlawan sekaligus arif bijaksana.

Mitos, mimpi, penglihatan-penglihatan, upacara agama, simtom neurotic dan psikotik serta karya senimerupakan sumber pengetahuan paling baik tentang arkhetipe. Diasumsikan terdapat banyak arkhetipe dalam ketidaksadaran kolektif. Beberapa diantaranya yang sudah berhasil diidentifikasikan adalah arkhetipe kelahiran,kelahiran kembali, kematian, kekuasaan ,sihir, kesatuan, pahlawan, anak, Tuhan, setan, laki-laki tua yang bijaksana, ibu pertiwi, binatang.

Persona

Persona berasal dari kata Latin yang artinya topeng, dan lung menggunakan istilah ini untuk mendeskripsikan diri publik manusia. Meski semua orang memiliki bawah-sadar kolektif yang sama, setiap individu tentunya hidup di masa dan tempat tertentu. Arketipe mestinya memanifestasikan diri di dalam situasi-situasi sosial dan budaya ini. Artinya, ekspresi yang diberikan kepada arketipe dipengaruhi oleh konvensi sosial dan situasi unik hidup pribadi individu. Kalau begitu, persona merupakan manifestasi psikhe keluar yang diizinkan oleh situasi-situasi unik individu.

Persona adalah topeng yang dipakai pribadi sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta tuntutan tentang arketipenya sendiri. Ia merupakan peranan yag dibrikan masyarakat kepada seseorang yang diharapkan dimainkan dalam hidupnya. Tujuannya adalah unutk menciptakan kesan tertentu pada orang lain dan seringkali ia melupakan hakikat kepribadian sesungguhnya. Apabila ego mengidentifikasikan diri dengan persona, maka individu menjadi lebih sadar akan bagian yang dimainkannya daripada perasaanya sesungguhnya. Ia menjasi terasing dari dirinya, dan seluruh kepribadiannya menjadi rata atau berdimensidua. Ia menjadi manusia tiruan belaka, sekedar pantulan masyarakat, bukan seorang manusia otonom.

Persona adalah bagian psikhe di mana mereka dikenal orang lain. Jung memperlihatkan kalau beberapa orang menyamakan persona mereka dengan seluruh psikhe dan ini sebuah kekeliruan. Dalam artian tertentu, persona dianggap memperdaya orang lain, karena ia menghadirkan kepada mereka hanya bagian kecil psikhe seseorang, sehingga jika ada yang percaya orang itu seperti yang dia sengaja perlihatkan, mereka sedang menipu diri sendiri dan mengalami ketidakberuntungan. Jung (1966, hlm. 193-194) berkata, Konstruksi persona yang cocok secara kolektif merupakan konsesi yang kukuh bagi dunia eksternal, sebuah pengorbanan-diri sejati yang mendorong ego mengidentifikasikan diri langsung dengan persona, membuat orang lain sungguh yakin bahwa kita merupakan apa yang kita tampilkan ke dunia luar.

[Kendati demikian] identifikasi-identifikasi dengan sebuah peran sosial telah menjadi sumber neurosis yang paling efektif. Seorang manusia tidak bisa terus-menerus tampil dengan kepribadian yang dibuat-buat tanpa mendapat hukuman. Dan sesungguhnya upaya untuk berbuat demikian, di semua kasusnya, telah membangkitkan reaksi bawah-sadar dalam bentuk suasana hati buruk, afeksi buruk, fobia, ide-ide obsesif, kelicikan, kejahatan, dan lain-lain. ‘Manusia kuat’ di kehidupan sosial sering kali kanak-kanak dalam hidup pribadi terkait perasaannya; kedisiplinannya di publik (terkait tuntutannya ke orang lain) hancur berkeping-keping di hidup pribadinya. ‘Kebahagiaan di tempat kerja’ berubah total saat di rumah; moralitas publiknya yang ‘tak bercela’ terlihat aneh di balik topeng-kita tidak menyebutkan keinginan, selain hanya fantasi, dan para istri dari pria-pria ini juga memiliki kisah menarik untuk dikatakan. Sedangkan terkait altruisme nir-diri orangorang ini, anak-anak mereka harus memutuskan sendiri apa yang mereka percayai.

Jung mendeskripsikan situasi di mana persona dinilai kelewat tinggi sebagai inflasi persona. Seperti semua komponen psikhe yang lain, jika persona dinilai kelewat tinggi, ia mengorbankan komponen yang lain.

Anima

Jung mengaitkan sisi feminis kepribadian pria dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Arkhetipe feminine pada pria disebut anima, arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus. Erkhetipe ini ditentukan oleh kelenjar-kelenjar seks dan kromosom namun juga ditentukan pengalaman dimana pria dan wanita hidup berdampingan selama berabad lamanya.

Arkhetipe-arkhetipe tidak hanya menyebabkan masing-masing jenis menunjukkan cirri-ciri lawan jenisnya tetapi mereka juga dapat tertarik pada lawan jenisnya. Pria memahami kodrat wanita berdasarkan animanya, wanita memahami kodrat pria berdasarkan animusnya.

Anima adalah komponen feminin psikhe pria yang dihasilkan oleh pengalaman-pengalaman yang dimiliki pria terhadap wanita lewat eon-eon. Arketipe ini melayani dua tujuan. Pertama, ia menyebabkan pria memiliki sifat feminin. ”Tak seorang pria pun,” kata lung ”yang maskulin seluruhnya sehingga tidak punya aspek feminin sedikit pun dalam dirinya” (1966, hlm. 189). Sifat-sifat feminin ini meliputi intuisi, kehalusan budi, sentimentalitas dan dorongan berkelompok. Kedua, ia menyediakan kerangka pemahaman bagi pria untuk menghadapi wanita. ”Sebuah gambaran kolektif yang diwariskan tentang wanita hadir di bawah-sadar pria, dan dengan bantuannya ia bisa memahami sifat wanita” (lung, 1966, hlm.190).

Karena pengalaman kolektif pria dengan wanita melibatkan interaksi dengan mereka sebagai ibu, anak perempuan, saudara perempuan, kekasih, dan mungkin dewi di langit, semua elemen ini tecermin di dalam anima, dan bersama-sama membentuk gambaran wanita yang kompleks dan ideal. Gambaran ini memotret Wanita sebagai sosok yang lemah, setia, menggoda, membahayakan dan menantang, membuat wanita dilihat sebagai sumber baik dan jahat, penuh harapan dan rasa putus asa, dan kesuksesan serta kegagalan. Di dalam kerangka ideal inilah pria membentuk interaksi mereka dengan wanita di sepanjang hidup mereka. Selain itu, menurut Jung, gambaran kompleks tent tang wanita ini telah menginspirasikan pelukisan wanita oleh para seniman, pujangga dan novelis selama berabad-abad.

Animus

Animus adalah komponen maskulin psikhe wanita. Ia melimpahi wanita dengan sifat-sifat maskulin seperti kemandirian, agresi, kompetisi dan petualangan, dan juga kerangka untuk memandu cara menjalin hubungan dengan pria. Seperti anima memberi pria gambaran ideal tentang wanita, animus memberi wanita gambaran ideal tentang pria. Ideal ini berasal dari pengalaman wanita terhadap pria lewat eon-eon seperti ayah, anak laki, saudara laki, kekasih, pejuang dan para dewa di langit. Sama seperti anima, kompleks animus dengan banyak gambarannya yang berkonflik diproyeksikan ke pria aktual di sepanjang usia wanita.

Anima menyediakan bagi pria sifat-sifat wanita, dan basis untuk memahami wanita. Sebaliknya, animus menyediakan bagi wanita sifat-sifat pria, dan basis untuk memahami pria. Akan lebih baik, menurut Jung, jika kedua gender ini mengenali dan memberikan ruang bagi sifat-sifat yang berbeda jenis kelaminnya itu mengekspresikan diri. Pria yang sedikit saja atau tidak sama sekali memberikan ruang pengekspresian karakter femininnya akan kehilangan kepekaan, perasaan, intuisi dan kreativitas. Wanita yang sedikit saja atau tidak sama sekali memberikan ruang pengekspresian karakter may kulinnya akan menjadi terlalu pasif. Selain itu, jika komponen-komponen psikhe ini tidak diberikan ruang yang adekuat bagi pengekspresian sadar; mereka akan mendesak keluar di bawah-sadar, membuat pengaruhnya tal‘ terkontrol dan irasional. Karena itulah, jika seorang wanita menolak peng’ ekspresian maskulinnya, atau pria menolak pengekspresian femininnya, sifat-sifat itu akan memanifestasikan diri dengan cara-cara tidak langsung lewat mimpi dan fantasi.

Menurut Jung, pria yang terlalu banyak mengekspresikan sisi feminin, atau wanita terlalu banyak mengekspresikan sisi maskulinnya, bukanlah hal yang baik. Tulisnya, ”Seorang wanita yang dikuasai animus selalu berisiko kehilangan sifat dasar femininnya, persona feminin yang diadaptasikannya diganti persona maskulin, sama seperti pria di situasi sama berisiko menjadi terlalu feminin” (1966, hlm.209). Seperti yang bisa ditemukan di setiap bagian teori Jung, sebuah keseimbangan harus dicari, yang di kasus ini, keseimbangan antara karakteristik pria dan wanita.

Shadow

Bayang-bayang mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia. Arkhetipe bayang-bayang mengakibatkan munculnya perasaan, tindakan yang tidak menyenangakan dan patutu dicela masyrakat dalam kehidupan dan tingkah laku. Selanjutnya semua ini bisa disembunyikan dari pandangan public oleh persona atau direpresikan kedalam ketidaksadaran pribadi.

Shadow adalah bagian terdalam dan tergelap psikhe. Ia merupakan bagian dari bawah-sadar kolektif yang kita warisi dari moyang pra-manusia kita dan mengandung semua insting hewani. Karena shadow, kita jadi punya kecenderungan kuat untuk menjadi tidak bermoral, agresif dan penuh hasrat.

Seperti semua arketipe pada umumnya, shadow juga mencaii pemanifestasian keluar dan diproyeksikan ke dunia secara simbolis sebagai iblis, monster atau roh jahat. Ia bahkan bisa diproyeksikan ke seseorang, seperti yang ditemukan Jung (1966, hlm. 91) ketika seorang pasiennya yang masih muda ditanyai:

“Bagaimana saya’ terlihat di mata Anda ketika saya tidak sedang bersama Anda?” Ia berkata, “Kadang Anda terlihat berbahaya, sinis, seperti penyihir jahat atau setan. Saya tidak tahu bagaimana bisa membayangkan hal demikan –sedikit pun Anda tidak seperti itu.” ‘

Bukan hanya pertanyaan di atas mendeskripsikan proyeksi shadow, tetapi juga mencontohkan pendekatan Jung kepada psikoterapi. Tujuan Jung adalah memperkenalkan kepada pasiennya berbagai komponen psikhenya, dan ketika komponen-komponennya diketahui, mensintesiskan mereka ke sebuah konfigurasi saling-berkaitan yang menghasilkan individu yang lebih dalam dan kreatif. Tidak seperti Freud, yang menganggap pikiran irasional bawah” ‘

Sadar harus dibuat sadar dan rasional jika manusia ingin beradab sesungx guhnya, Jung lebih percaya jika arketipe, shadow contohnya, diakui lalu digu_ nakan daripada ditaklukkan. Hakikat hewani shadow justru sumber sponc tanitas dan kreativitas manusia. Individu yang tidak menggunakan shadow nya, cenderung bodoh dan membosankan.

Diri

Diri adalah komponen psikhe yang berusaha mengharmoniskan semua komponen lain. Ia merepresentasikan perjuangan manusia menuju kesatuan, keseluruhan dan pengintegrasian kepribadian secara total. Ketika integrasi ini sudah tercapai, individu bisa dikatakan meraih realisasi-diri. Kita punya lebih banyak hal yang bisa dikatakan tentang diri saat mempertimbangkan ‘tujuan hidup’ yang akan dibahas nanti. Arkhetipe ini mengungkapkan diri sebagai lambang, dan lambang utamanya adalah mandala atau lingkaran magis.

Diri adalah tujuan hidup, suatu tujuanyang terus menerus diperjuangkan orang tetapi yang jarang tercapai. Ia memotivasikan tingkah laku manusia dn mencarikebulatan, khususnya melalui cara-cara yang disediakan oleh agama. Pengalaman religius sejati merupakan bentuk pengalaman yang paling dekat dengan ke diri (self-hood) yang mampu dicapai oleh kebanyakan manusia. Jung menemuka diri dalam penelitian-penelitian dan observasinya tentang agama Timur, dimana perjuangan kearah kesatuan dan persatuan dunia melalui praktik ritual keagamaan seperti Yoga yang jauh lebih maju daripada agama di kalangan Barat

Sikap-sikap

Jung melihat ada dua orientasi umum yang dapat diambil psikhe. Yang pertama ke dalam, menuju dunia subjektif individu, dan yang kedua keluar, menuju lingkungan eksternal. ]ung menyebut orientasi-orientasi psikhe ini sikap, yang pertama disebutnya introversi dan yang kedua ekstraversi. Pribadi introver cenderung tenang, imajinatif dan lebih tertarik pada ide ketimbang manusia. Pribadi ekstraver cenderung suka bersosialisasi, berjalanjalan keluar dan tertarik pada manusia dan kejadian di lingkungan.

Ekstrovert adalah kecenderungan yang mengarahkan kepribadian lebih banyak keluar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrover memiliki sifat social, lebih banyak berbuat daripada merenung dan berpikir. Ia juga adalah orang yang penuh motif-motif yang dikoordinasi oleh kejadian-kejadian eksternal.

Jung percaya bahwa perbedaan tipe kepribadian manusia dimulai seak kecil. Jung mengtakan bahwa “tanda awal dari perilaku ekstrover seorang anak adalah kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan dan perhatian yang luar biasa, yang diperankan pada objek-objek, khususnya pada efek yang diperoleh dari objek-objek itu.  Ketakutannya pada objek-objek sangat kecil. Ia hidup dan berpindah antara objek-objek itudengan penuh percaya diri. Karena itu ia bebas bermain dengan mereka dan belajar dari mereka. Ia sangat berani. Kadang ia mengarah pada sikap ekstrem sampai pada tahap risiko. Segala sesuatu yang tidak diketahuinya selalu memikat perhatiannya.

Bentuk neurotic yang sering diderita orang ekstrover adalah hysteria. Hysteria akan semakin besar dan panjang untuk menarik perhatian orang lain dan untuk menimbulkan kesan yang baik bagi orang lain. Mereka adalah orang yang suka diperhatikan, suka menganjurkan, berlebihan dipengaruhi orang lain, suka bercerita, yang kadang mengaburkan kebenaran.

Introvert adalah suatu orientasi kedalam diri sendiri. Secara singkat seorang introvert adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak social. Minat dan perhatiannya lebih terfokus pada pikiran dn pengalamannya sendiri. Seorang introvert cenderung merasa mampu dalam upaya mencukupi dirinya sendiri, sebaliknya orang ekstrover membutuhkan orang lain.

Jung menguraikan perilaku introvert sebagai orang pendiam, menjauhkan diri dari kejadian-kejadian luar, tidak mau terlibat dengan dunia objektif, tidak senang berada di tengah orang banyak, merasa kesepian dan kehilangan di tengah orang banyak. Ia melakukan sesuatu menurut caranya sendiri, menutup diri terhadap pengaruh dunia luar. Ia oran gyang tidak mudah percaya, kadang menderita perasaan rendah diri, karena itu ia gampang cemburu dan iri hati. Ia mengahadapi dunia luar dengan suatu system pertahanan diri yang sistematis dan teliti, tamak sebagai ilmuan, cermat, berhati-hati, menurut kata hati, sopan santun, dan penuh curiga.

Dalam kondisi kurang normal ia menjadi orang yang pesimis da cemas, karena dunia dan manusia sekitarnya siap menghancurkannya. Dunianya adalah suatu pelabuhan yang aman. Tempat tinggalnya (rumah) adalah yang teraman. Teman pribadinya yang terbaik. Karena itu tidak mengherankan orang-orang introvert sering tampak sebagai orang yang cinta diri tinggi, egois, bahkan menderita patologis.

Salah satu tanda introvert pada diri seorang anak  adalah reflektif, bijaksana, tenggang rasa, pemalu, bahkan takut pada objek baru. Sedangkan cirri introvert pada orang dewasa adalah kecenderungan menilai rendah hal-hal atau orang lain.

Sikap introversi dan sikap ekstraversi pertama-tama dipresentasikan di Kongres Psikoanalitik Internasional di Munich tahun 1913. Ide ini kemudian dielaborasikan dalam bukunya, Psychological Types (1971). Dari banyak cara Jung mengaplikasikan konsep ini adalah menjelaskan kenapa teorisi yang berbeda menciptakan jenis teori kepribadian yang berbeda. Contohnya, Freud seorang ekstraver karena itu mengembangkan teori yang menekankan pentingnya kejadian-kejadian eksternal, contohnya objek seks. Teori Adler (seperti akan kita lihat di Bab 4) menekankan pentingnya perasaan dalam diri subjek karena Adler seorang introver (Jung, 1966, hlm. 41-43). Jung sendiri menilai teorinya diproduksi oleh teorisi yang introver.

Sebagai tambahan bagi sikap, atau orientasi umum psikhe, ada 4 fungsi Pemikiran yaitu cara psikhe mencerap dunia dan menghadapi informasi dan pengalamannya.

Mengindra. Mendeteksi kehadiran objek. Mengindra mengindikasikan ada sesuatu namun tidak mengindikasikan apakah itu.

Berpikir. Mengatakan apakah suatu objek itu. Berpikir memberikan nama dan kategori objek yang diindra.

Merasa. Menentukan apakah objek bernilai. Berkaitan dengan rasa suka dan tidak suka terhadap objek tersebut.

Mengintuisi. Menyediakan firasat tentang sesuatu ketika informasi faktualnya tidak tersedia. Jung mengatakan, “Ketika harus menghadapi situasi yang asing di mana Anda tidak dapat menentukan nilai atau menyediakan konsep untuk memahaminya, Anda akan mengandalkan sepenuhnya pada kemampuan intuisi” (1968, hlm. 14).

Contoh-contoh untuk fungsi psikhe ini adalah: ketika mendeteksi kehadiran sebuah objek di lingkungan (mengindra), seseorang menemukan objek itu orang asing dari jenis kelamin berbeda (berpikir), mengalami ketertarikan pada individu tersebut (merasa), dan memercayai adanya kemungkinan bagi hubungan jangka panjang dengan individu tersebut (mengintuisi).

Berpikir dan merasa disebut fungsi rasional karena membuat penilaian dan evaluasi tentang pengalaman. Selain itu, berpikir dan merasa dianggap sebagai kutub yang berlawanan karena, seperti yang dikatakan ]ung, “Ketika Anda berpikir, Anda harus mengabaikan perasaan, sama seperti ketika Anda merasa harus mengabaikan pikiran” (1968, hlm.16).

Begitu pula dengan mengindra dan mengintuisi, fungsi irasional psikhe, merupakan dua kutub yang berlawanan. Mengindra dan mengintuisi dianggap rasional karena keduanya muncul terlepas dari proses-proses berpikir yang logis. Mengindra mun: cul otomatis karena melibatkan mekanisme indra tubuh, sedangkan mengintuisi melibatkan prediksi yang dibuat tanpa hadirnya informasi aktual. Idealnya, sikap dan fungsi akan berkembang setara dan beroperasi Secara harmonis; namun ini jarang terjadi. Biasanya, satu sikap dan satu fungsi saja yang dominan, sedangkan sikap yang lain dan 3 fungsi sisanya tetap tidak berkembang dan berada di bawah-sadar. Terkait fungsi, yang beropox sisi langsung dengan fungsi dominan tidak berkembang baik, namun 2 fungsi sisanya tetap berkembang namun tidak sebanyak yang dominan. Contohnya, pada individu yang fungsi berpikirnya sangat berkembang, maka perasaan sebagai fungsi lawannya tidak begitu berkembang di tingkat bawah-sadar, dan mengekspresikan diri dalam mimpi, fantasi atau dengan cara-cara yang aneh dan mengganggu.

Dinamika Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Jung memandang kepribadian atau psikhe sebagai sistem energi yang setengah tertutup. Ia tidak disebut sama sekali tertutup karena energi dari sumber-sumber luar harus ditambahkan pada sistem, misalnya dengan makan, atau dikurangi dari sistem, misalnya dengan melakukan pekerjaan yang menggunakan otot. Stimulus-stimulus lingkungan juga bisa menghasilkan perubahan-perubahan pada distribusi energi dalam sistem. Ini teriadi, misalnya, manakala perubahan tiba-tiba di dunia luar mengubah arah perhatian dan persepsi kita. Fakta bahwa dinamika kepribadian rentan terhadap pengaruh-pengaruh dan modifikasi modifikasi dari sumber-sumber luar berarti bahwa kepribadian tidak mungkin mencapai keadaan stabil secara sempurna, yang bisa terjadi kalau ia merupakan sistem yang sepenuhnya tertutup. Kepribadian hanya bisa menjadi stabil secara relatif.

Energi Psikis

Energi yang menjalankan fungsi kepribadian disebut energi psikis (Jung, 1948b). Energi psikis merupakan manifestasi energi kehidupan, yakni energi organisme sebagai sistem biologis. Energi psikis lahir seperti semua energi vital lain, yakni dari prosesproses metabolik tubuh. Istilah Jung untuk energi kehidupan adalah libido, tetapi ia juga menggunakan libido secara berganti-ganti dengan energi psikis. Jung tidak mempunyai pendirian tegas tentang hubungan antara energi psikis energi fisik tetapi ia yakin bahwa sejenis aktivitas timbal-balik antara keduanya merupakan suatu hipotesis yang dapat diterima.

Energi psikis merupakan suatu konstruk hipotetis, bukan suatu substansi atau gejala konkret. Maka dari itu, energi psikis tidak dapat diukur atau dirasakan. Energi psikis terungkap secara konkret dalam bentuk daya-daya aktual atau potensial. Keinginan, kemauan, perasaan, perhatian dan perjuangan adalah contoh-contoh daya aktual dalam kepribadian; disposisi, bakat, kecenderungan, kehendak hati, dan sikap adalah contoh-contoh daya potensial.

NILAI-NILAI PSIKIS. Jumlah energi psikis yang tertanam dalam salah satu unsur kepribadian disebut nilai dari unsur itu. Nilai merupakan ukuran intensitas. Apabila kita berbicara tentang penempatan nilai yang tinggi pada suatu ide atau perasaan tertentu, maksud kita ialah bahwa ide atau perasaan tersebut memainkan peranan penting dalam mencetuskan dan mengarahkan tingkah laku. Orang yang memberikan nilai tinggi pada kebenaran akan mengerahkan banyak daya untuk mencapainya. Orang yang menilai tinggi kekuasaan akan sangat bermotivasi untuk memperoleh kekuasaan. Sebaliknya, apabila sesuatu tidak begitu bernilai, energi yang digunakan untuk mencapainya juga akan sedikit.

Nilai absolut suatu ide atau perasaan tidak dapat ditentukan, kecuali nilai relatifnya. Salah satu cara sederhana meskipun tidak selalu tepat untuk menentukan nilai-nilai relatif adalah menanyai seseorang apakah ia menyukai satu hal melebihi satu hal lainnya. Urutan preferensi mereka dapat dipakai sebagai ukuran kasar tentang kekuatan relatif nilai-nilai mereka. Atau suatu situasi eksperimental dapat dirancang untuk menguji apakah seorang individu akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan suatu insentif ketimbang insentif lainnya. Mengamati seseorang dari dekat selama suatu periode waktu tertentu untuk melihat apa yang dikte akannya dapat memberikan suatu gambaran yang cukup baik tentang nilai-nilai relatifnya. Apabila mereka menggunakan lebih banyak waktu untuk membaca daripada bermain kartu, maka dapat diandaikan bahwa membaca lebih bernilai dari pada bermain kartu.

DAYA KON STELASI SUATU KOMPLEKS. Observasi-observasi dan tes-tes semacam itu meskipun mungkin berguna untuk menentukan nilai-nilai sadar, namun tidak memberikan banyak penjelasan tentang nilai-nilai tak sadar. Nilai-nilai tak sadar ini harus ditentukan dengan menilai ”daya konstelasi unsur inti suatu kompleks”. Daya konstelasi suatu kompleks terdiri dari jumlah kelompok-kelompok item yang dihubungkan oleh unsur inti kompleks.

Jadi, apabila seseorang memiliki suatu kompleks patriotik yang kuat, itu berarti bahwa intinya, yakni cintanya pada tanah air, akan menghasilkan konstelasi-konstelasi pengalaman di sekitarnya. Salah satu konstelasi semacam itu bisa terdiri dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsanya, sedangkan konstelasi lain mungkin berupa perasaan positif terhadap pemimpin-pemimpin dan pahlawan-pahlawan bangsa. Orang yang sangat patriotik cenderung mencocokkan setiap pengalaman baru dengan salah satu di antara konstelasi-konstelasi yang dikaitkan dengan patriotisme.

Cara-cara manakah yang bisa dipakai untuk menaksir daya konstelasi unsur inti? Jung membicarakan tiga metode: ( 1) observasi langsung plus deduksi-deduksi analitik, (2) indikator-indikator kompleks, dan (3) intensitas ungkapan emosi.

Melalui observasi dan inferensi kita dapat mengestimasikan jumlah asosiasi yang terikat pada suatu unsur inti. Orang yang memiliki kompleks ibu yang kuat akan cenderung memasukkan ibunya atau sesuatu yang ada hubungannya dengan ibunya ke dalam setiap percakapan, entah relevan atau tidak.

Ia akan lebih menyukai cerita-cerita dan film-film di mana ibu memainkan peranan penting dan ia akan merayakan Hari Ibu serta peristiwa-peristiwa lain di mana ia dapat menghormati ibunya. Ia akan cenderung meniru ibunya dengan meniru preferensi-preferensi dan minat-minat ibunya, serta akan tertarik kepada temanteman dan kenalan-kenalan ibunya. Dan ia lebih menyukai wanitawanita yang lebih tua dari pada wanita-wanita yang sebaya dengannya.

Suatu kompleks tidak selalu menyatakan diri secara terbuka. Ia bisa muncul dalam mimpi-mimpi atau dalam suatu bentuk kabur tertentu sehingga perlu menggunakan bukti-bukti tak langsung untuk menemukan arti yang mendasari pengalaman itu. Inilah yang dimaksud dengan deduksi analitis.

Indikator kompleks adalah suatu gangguan tingkah laku yang menunjukkan adanya kompleks. Ia bisa berupa keseleo lidah, misalnya, manakala seorang pria menyatakan ”ibu saya”, pada hal ia hendak menyatakan ”isteri saya”. Ia juga bisa berupa gangguan ingatan yang tidak lazim seperti yang terjadi manakala orang tidak dapat mengingat nama kawannya karena nama itu mirip dengan nama ibunya atau sesuatu yangberhubungan dengan ibunya. Indikator-indikator kompleks juga muncul dalam tes asosiasi kata (word association test).

Jung menemukan kompleks-kompleks pada tahun 1903 lewat eksperimen-eksperimen menggunakan tes asosiasi kata (Jung, 197 3a). Tes ini, kini digunakan secara luas untuk mengevaluasi kepribadian, berupa daftar kata-kata baku yang dibacakan satu demi satu kepada orang yang dites. Subjek disuruh menjawab dengan kata pertama muncul dalam pikirannya. Apabila subjek memerlukan waktu lama untuk menjawab kata tertentu, ini menunj ukkan bahwa kata itu ada hubungannya dengan suatu kompleks. Pengulangan kata stimulus dan ketidak-mampuan sama sekali untuk merespon juga merupakan indikator-indikator kompleks.

Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap suatu situasi merupakan ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks. Apabila jantung berdenyut lebih cepat, pernapasan menjadi lebih dalam, dan muka menjadi merah, ini semua merupakan indikasi yang cukup baik bahwa suatu kompleks yang kuat berhasil ditemukan. Dengan menggabungkan gejala-gejala fisiologis seperti denyut hadi, pernapasan, dan perubahan-perubahan elektris pada konduktivitas kulit dengan tes asosiasi kata, maka kita bisa menentukan secara agak tepat daya kompleks-kompleks seseorang.

Libido

Freud dan Jung tidak sepakat dengan hakikat libido. Saat berkolaborasi dengan Jung, Freud masih melihat libido utamanya sebagai energi seksual. Jung yakin perspektif seperti ini terlalu sempit jika yang dimaksudkan Freud adalah energi kehidupan biologis yang terkonsentrasi ke berbagai persoalan berbeda yang muncul. Bagi jung, libido mestinya suatu daya hidup kreatif yang dapat diaplikasikan kepada pertumbuhan psikologis berkelanjutan dari manusia.

Di tahun-tahun awal kehidupan, kata Jung, energi libido dihabiskan hanya untuk makan, pembuangan dan seks, namun semakin kebutuhan ini terpuaskan atau tidak lagi begitu penting, energi libido mulai diarahkan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih filosofis dan spiritual. Libido, kalau begitu, menurut Jung, merupakan daya pendorong di belakang psikhe (istilah Jung untuk kepribadian), yang difokuskan ke berbagai kebutuhan entah yang sifatnya biologis maupun spiritual. Komponen-komponen kepribadian yang di dalamnya energi libido diinvestasikan bernilai lebih tinggi ketimbang yang lain. Jadi menurut Jung, nilai sesuatu ditentukan oleh seberapa banyak energi libido diinvestasikan di dalamnya.

Prinsip Ekuivalensi

Seperti Freud, Jung mengambil sejumlah prinsip fisika di zamannya untuk mengembangkan teori kepribadiannya. Penggunaannya terhadap prinsipprinsip termodinamika seperti ekuivalensi, entropi dan kebalikan memperlihatkan orientasi ini

Prinsip ekuivalensi adalah hukum pertama termodinamika yang menyatakan bahwa jumlah energi di sebuah sistem pada hakikatnya tetap (sehingga disebut juga sebagai hukum kekekalan energi), dan jika sejumlah energi dihilangkan dari suatu bagian sistem, dia akan muncul di tempat lain. jika diterapkan kepada psikhe, maka ini berarti setiap manusia memiliki energi psikis (libido) dalam jumlah tertentu yang akan selalu tetap kapan pun dan di kondisi apa pun. Jika salah satu komponen psikhe terlalu tinggi dinilai (overvalued) -artinya energi libido diinvestasikan lebih banyakmaka komponen psikhe yang lain akan turun nilainya -artinya energi libido yang diinvestasikan lebih sedikit. Contohnya, jika energi psikis dikonsentrasikan ke aktivitas-aktivitas kesadaran, maka aktivitas-aktivitas bawah-sadar akan berkurang, dan sebaliknya. Kita akan membahas lebih jauh konsep ini nanti.

Jung mendasarkan pandangannya tentang psikodinamika pada dua prinsip fundamental, yakni prinsip ekuivalensi dan prinsip entropi (Jung, 1948b). Prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan untuk menghasilkan suatu kondisi tertentu, maka jumlah yang dikeluarkan itu akan muncul di salah satu tempat lain dalam sistem. Sarjana-sarjana fisika menyebut prinsip ini sebagai hukum pertama termodinamika atau prinsip konservasi energi sebagaimana dikemukakan Helmholtz.

Diterapkan pada fungsi psikis oleh Jung, prinsip ini menyatakan bahwa jika suatu nilai tertentu melemah atau menghilang, maka jumlah energi yang diwakili oleh nilai itu, tidak akan hilang dari psikhe tetapi akan muncul kembali dalam suatu nilai baru. Surutnya suatu nilai sudah pasti berarti munculnya suatu nilai lain. Misalnya, manakala penilaian anak terhadap keluarganya menurun, maka perhatiannya terhadap orang-orang dan barang-barang lain meningkat. Orang yang kehilangan minat pada suatu hobi biasanya akan menemukan bahwa hobi lain telah menggantikannya. Jika suatu nilai direpresikan, energinya dapat digunakan untuk menciptakan mimpi-mimpi atau fantasi-fantasi. Tentu saja, energi yang hilang dari salah satu nilai bisa didistribusikan pada beberapa nilai lain.

Sehubungan dengan fungsi seluruh kepribadian, prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan dari salah satu sistem, misalnya ego, maka energi itu akan muncul pada suatu sistem lain, mungkin persena. Atau jika makin banyak nilai direpresikan ke dalam sisi bayang-bayang kepribadian, maka nilai itu akan tumbuh kuat dengan mengorbankan strukturstruktur lain dalam kepribadian. Sama halnya, penguraian energi dari ego sadar akan dibarengi dengan pemberian energi pada ketidaksadaran. Energi terus-menerus mengalir dari salah satu sistem kepribadian ke dalam sistem-sistem lain. Pendistribusian kembali energi ini merupakan dinamika kepribadian.

Tentu saja prinsip konservasi energi tidak dapat diterapkan secara ketat pada suatu sistem seperti psikhe yang hanya setengah tertutup. Energi ditambahkan pada atau dikurangkan dari psikhe, dan kecepatan penambahan atau pengurangannya dapat dan mungkin benar-benar sangat bervariasi. Akibatnya, naik atau turunnya suatu nilai mungkin bukan hanya disebabkan oleh pemindahan energi dari salah satu bagian sistem ke bagian lainnya, tetapi bisa juga tergantung pada penambahan energi pada psikhe dari sumber-sumber luar atau karena pengurangan energi setelah melakukan pekerjaan otot. Orang akan pulih kembali secara mental maupun fisik sesudah makan atau istirahat, dan orang menjadi lelah secara mental dan fisik sesudah bekerja atau berolah raga. Pertukaran-pertukaran energi antara psikhe dan organisme atau dunia luar maupun redistribusi energi dalam psikhe sendiri inilah yang sangat menarik perhatian Jung dan semua psikolog dinamik.

Prinsip Entropi

Prinsip entropi adalah hukum kedua termodinamika yang menyatakan bahwa sebuah kecenderungan selalu hadir demi menyetarakan jumlah energi disebuah sistem. Jika, contohnya, satu benda panas dan satu benda dingin diletakkan berdampingan, benda panas akan kehilangan energi panasnya dan benda dingin akan memperoleh energi panas itu sedemikian rupa, sampai Suhu keduanya sama.

Begitu pula, menurut Jung, sebuah kecenderungan hadir untuk semua komponen psikhe dalam rangka memiliki jumlah energi yang sama. Contohnya, aspek sadar dan bawah-sadar psikhe akan memiliki energi yang sama besarnya sehingga menimbulkan kesetimbangan bagi kepribadian manusia. Namun, kesetimbangan energi psikis ini sulit diraih, dan meski bisa diraih, sulit bertahan lama, sehingga manusia harus aktif mencari kesetimbangan-kesetimbangan yang baru.

Jika kesetimbangan tidak dicari apalagi diupayakan, energi psikis manusia bakal tidak setimbang, dan perkembangan kepribadian akan terhambat, bahkan memunculkan gangguangangguan di beberapa komponen. Di titik ini bisa dikatakan kalau beberapa aspek kepribadian tertentu ‘dinilai terlalu tinggi’ ketimbang aspek-aspek yang lain.

Prinsip entropi atau hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa jika dua benda yang berbeda suhunya bersentuhan maka panas akan mengalir dari benda yang suhunya lebih panas ke benda yang suhunya lebih dingin. Contoh lain adalah air yang selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, bila ada saluran. Operasi dari prinsip entropi mengakibatkan keseimbangan kekuatan-kekuatan. Benda yang lebih panas melepaskan energi panasnya kepada benda yang lebih dingin sampai kedua benda itu mempunyai suhu yang sama. Pada titik itu, pertukaran energi berhenti, dan kedua benda itu dikatakan berada dalam suhu yang seimbang.

Prinsip entropi sebagaimana digunakan Jung untuk menerangkan dinamika kepribadian menyatakan bahwa distribusi energi dalam psikhe mencari ekuilibrium atau keseimbangan. Jadi, ambil kasus yang paling sederhana, apabila dua nilai (intensitas energi) tidak memiliki daya yang sama, maka energi akan cenderung mengalir dari yang lebih kuat kepada yang lebih lemah sampai keduanya mencapai keseimbangan.

Akan tetapi, karena psikhe bukanlah suatu sistem yang tertutup maka energi mungkin ditambah atau dikurangi dari salah satu di antara kedua nilai yang berlawanan, sehingga mengganggu keseimbangan. Meskipun Suatu keseimbangan permanen dari daya-daya dalam kepribadian tidak pernah dapat terbentuk, namun inilah keadaan ideal, ke arah mana distribusi energi selalu berjuang. Keadaan ideal ini di mana seluruh energi didistribusikan secara seimbang ke berbagai sistem yang berkembang sepenuhnya adalah diri. Maka dari itu, ketika Jung menyatakan bahwa realisasi-diri adalah tujuan dari perkembangan psikis maksudnya antara lain adalah bahwa dinamika kepribadian bergerak ke arah suatu keseimbangan daya-daya yang sempurna.

Aliran energi yang diarahkan dari pusat yang berpotensi tinggi ke pusat yang berpotensi lemah merupakan prinsip fundamental yang mengatur distribusi energi di antara sistem-sistem kepribadian. Beroperasinya prinsip ini mengakibatkan bahwa suatu sistem yang lemah akan berusaha memperbaiki keadaannya dengan mengorbankan sistem yang kuat dan dengan demikian menciptakan tegangan dalam kepribadian. Apabila ego sadar, misalnya, terlalu dihargai dibandingkan ketidaksadaran, maka banyak tegangan akan terjadi dalam kepribadian karena energi akan berusaha bergerak dari sistem sadar ke dalam ketidaksadaran.

Sama halnya juga, energi dari sikap superior, apakah itu ekstraversi atau introversi, cenderung akan bergerak ke arah sikap inferior. Orang yang terlalu ekstravert terpaksa mengembangkan bagian introvert dari kodratnya. Kaidah umum dalam psikologi J ungian ialah bahwa setiap perkembangan yang berat sebelah dalam kepribadian menyebabkan konflik, tegangan, tekanan, sedangkan perkembangan yang seimbang dari semua unsur kepribadian menghasilkan keharmonisan, pengenduran (relaxation), dan kepuasan.

Akan tetapi, sebagaimana dikemukakan Jung, suatu keadaan keseimbangan yang sempurna adalah keadaan di mana tidak ada energi dilepaskan k_arena pelepasan energi memerlukan perbedaan-perbedaan dalam potensi antara berbagai komponen sistem. Suatu sistem akan mati dan berhenti apabila semua bagiannya seimbang, suatu keadaan yang disebut entropi sempurna. Karena itu tidak mungkin bagi suatu organisme yang hidup mencapa1 entropi yang sempurna.

Prinsip Kebalikan

Prinsip kebalikan ditemukan hampir di semua tulisan Jung. Prinsip ini mirip keyakinan Newton bahwa “untuk setiap tindakan akan muncul reaksi yang setara besaran kekuatannya dan merupakan kebalikannya”, atau pernyataan Hegel bahwa “segala sesuatu membawa dalam dirinya negasinya sendiri”. Setiap konsep di teori Jung memiliki kutub kebalikannya.

Bawah sadar dikontraskan dengan kesadaran, rasional dengan irasional, feminin dengan maskulin, hewani dengan spiritual, kausalitas dengan teleologi, progresif dengan regresi, introversi dengan ekstraversi, berpikir dan merasa, dan mengindra dengan mengintuisi. Ketika satu aspek kepribadian berkembang, biasanya ia mengorbankan kutub kebalikannya; contohnya, ketika seseorang menjadi lebih maskulin, mau tak mau ia harus mereduksi aspek feminin dirinya.

Bagi Jung, tujuan hidup -sesuai prinsip entropi-_ adalah mencari kesetimbangan di antara kutub-kutub yang berlawanan ini agar dapat mengekspresikan semua aspek yang berkebalikan di dalam kepribadian. Ini mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan, dan sintesis yang seperti ini terus diupayakan namun jarang sekali bisa dicapai.

Kausalitas

Melalui konsep kausalitas, Jung bermaksud menjelaskan kepribadian dewasa berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, mirip yang digagas Freud; Menurut Jung, bukan hanya upaya ini tidak pernah bisa lengkap, namun ju/ ga memberi manusia rasa putus asa dan tidak berdaya. Teori ini menyatakan kalau manusia akan menjadi suatu fungsi seperti yang pernah dilihatnya. Kausalitas meyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini memiliki asal-usul di dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Teleologi

Meski Jung tidak mengabaikan kausalitas, namun ia menganggap teleologi juga perlu ditambahkan untuk memiliki gambaran lengkap tentang motivasi manusia. Teleologi berarti perilaku manusia memiliki sebuah tujuan; artinya, perilaku kita saat ini ditarik oleh masa depan selain didorong masa lalu. Teleologi menyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini dimotivasikan oleh tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi ke depan yang mengarahkan tujuan seorang.

Kata Jung, ”Kausalitas hanyalah satu prinsip, dan psikologi tidak boleh menghabiskan seluruh tenaga dan waktu hanya dengan metode kausal saja, karena pikiran juga hidup oleh tujuan juga” (1961b, hlm.292). Dengan kata lain, untuk memahami manusia sepenuhnya, kita harus memahami tujuan dan aspirasi mereka terhadap pencapaian di masa depan di tingkat pribadi. Pandangan umum Jung tentang motivasi manusia bisa diringkas dalam skema berikut:

Tujuan Masa Depan
Ke- Pribadi -an

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pro

Pengalaman Masa Lalu
Tarikan
Dorongan

 

 

Sinkronisitas

Jung menyebut sinkronisitas sebagai kebetulan yang bermakna, seperti ketika seseorang bermimpi tentang temannya semalam lalu temannya itu datang besok siangnya, atau ketika seseorang berfantasi tentang suatu kejadian dan kejadian itu sungguh terjadi tak lama kemudian. Progoff (1973, hlm. 122) memberikan contoh sinkronisitas lebih jauh:

Seseorang mengalami sebuah mimpi atau serangkaian mimpi, dan ini semua kebetulan sama persis dengan kejadian di dunia. Seseorang bisa juga berdoa untuk memohon, berharap atau keinginan khusus dengan sungguhsungguh, dan entah bagaimana, sesuatu terjadi seperti yang dia minta. Seseorang yang beriman menumpangkan tangan kepada orang lain, atau mendapat petunjuk atau melihat simbol tertentu saat ia berdoa atau bermeditasi, dan kesembuhan fisik atau ‘mukjizat’ yang lain terjadi.

Menguasai isi buku-buku itu, Lincoln jadi mampu menjadi seorang pengafn cara, yang akhirnya, memampukannya masuk ke karier politik.

Perhatikan kalau dua kejadian yang muncul beriringan itu tidak terikat secara kausal melainkan punya alur kausalitasnya sendiri-sendiri. Di satu sisi, ada Lincoln yang punya ambisi, namun frustrasi karena tidak punya materi yang dibutuhkan; di sisi lain, ada orang asing aneh yang membutuhkan 1 dolar. Hanya ketika keduanya bertemu di momen tertentu hidup Lincoln, barulah ?. kebutuhan ini memiliki makna. Kita mungkin dapat mengatakan, Lincoln dan orang asing itu ‘beruntung’ sama-sama bergerak menuju satu sama lain.

Dengan cara yang lebih kompleks, konsep sinkronisitas dapat diterapkan kepada hubungan antara bawah-sadar kolektif dan berbagai pengalaman kita. Seperti yang sudah kita lihat, setiap arketipe bisa dilihat sebagai kecenderungan untuk merespons secara emosi kelas tertentu kejadian-kejadian di lingkungan. Faktanya, sebuah arketipe bisa dianggap sebagai kebutuhan untuk memiliki jenis-jenis pengalaman tertentu.

Di situasi inilah, saat kita memiliki suatu pengalaman yang memberikan ekspresi simbolis ke sebuah arketipe, pengalaman ini sama memuaskannya dengan menemukan makanan bagi seseorang yang lapar. Inilah yang menjelaskan kenapa manusia bereaksi emosional ke musik tertentu, bentuk seni tertentu, dan berbagai simbol di hidup mereka. Menurut Jung, kita semua punya arketipe, dan ketika pengalaman kita memberi mereka ruang untuk berekspresi, hasilnya adalah kepuasan emosi. Karena arketipe memiliki satu warisan kausal, dan kejadian lingkung» an yang memungkinkan mereka berekspresi memiliki“ yang lain, maka pertemuan keduanya akan membentuk sinkronisitas.

Penggunaan Energi

Seluruh energi psikis yang tersedia untuk kepribadian digunakan untuk dua tujuan umum. Sebagian di antaranya dipakai untuk melakukan pekerjaan yang perlu untuk memelihara kehidupan dan untuk pembiakan spesies. Inilah fungsi-fungsi instingtif, yang dibawa sejak lahir, seperti tampak dalam lapar dan seks. Mereka beroperasi menurut hukum-hukum biologis alamiah. Setiap kelebihan energi dari yang dibutuhkan oleh insting-insting dapat digunakan dalam kegiatan-kegiatan kultural dan spiritual. Menurut Jung, kegiatan-kegiatan ini membentuk tujuan-tujuan hidup yang lebih tinggi. Manakala orang menjadi lebih efisien dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan biologisnya, maka semakin banyak energi yang tersedia untuk memuaskan minat-minat kebudayaan. Selanjutnya, karena orang yang sudah tua membutuhkan lebih sedikit energi, maka banyak energi tersedia untuk kegiatan-kegiatan psikis.

Tipologi Kepribadian

Setiap orang adalah unik karena dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman historis yang begitu banyak dan beragam. Tanggapan kita terhadap pengalaman-pengalaman ini adalah hasil dari temperamen yang belum tampak (inborn temperament) dan bahan dasar yang sifatnya majemuk dari tanggapan-tanggapan yang kita tunjukkan sebelumnya.

Apakah itu Temperamen ? Bayi yang baru lahir ada yang sangat aktif, ada juga yang kalem. Ada juga yang sangat sensitive terhadap cahaya, suara, sentuhan, sementara bayi lain tampak begitu cuek dengan lingkungan sekitarnya. Sampai dengan akhir Masa Kanak-kanak atau Masa Remaja awal, penampakan Temperamen akan sudah dapat digambarkan, demikian menurut Jung. Setiap orang, berdasarkan teori Kepribadian Jung, memiliki Ego, Persona dan komponen lain dari Psyche, masing-masing dengan karakter kepribadian individual. Sekalipun demikian, ada kesamaan di antara individu yang berbeda tersebut yang dapat ditarik benang merahnya untuk membentuk suatu dimensi. Setiap orang memiliki potensi atas semuanya itu, tetapi dengan derajat atau tingkat yang berbeda-beda. Satu atau dua unsur bisa jadi merupakan cara yang dominan atau menonjol bagi seseorang dalam memandang atau menghadapi dunia (luar) nya.

Jung mulai mengembangkan teori tentang Type – yang kemudian dikenal dengan Tipologi Jung, dari pengamatan terhadap hubungan Sigmund Freud dengan para pengikutnya, termasuk di antaranya Alfred Adler. Adler dan Freud tidak sependapat tentang asal-muasal Neurosis. Bagi Freud, asal atau sebab Neurosis adalah konflik seksual, bagi Adler adalah konflik sosial khususnya keinginan terhadap kekuasaan. Perbedaan ini, sebagaimana diamati oleh Jung, adalah merupakan perbedaan cara pandang dalam mengalami dunia luar. Sebagian orang akan memiliki kecenderungan “ke dalam” (inwardly-oriented), sebagian lagi “outwardly”. Jung menamai unsur ini sebagai “Introversion dan Extraversion”. Menurut Leona Tyler , seorang professor psikologi dan pengarang buku “The Psychology of Human Differences” (1965) Jung adalah orang pertama yang menggunakan istilah introvert “Extraversion” dan extrovert “Introversion” untuk menggambarkan kepribadian atau tipe-tipe psikologis, sekalipun perbedaan di antara keduanya sudah ada selama berabad-abad.

Melalui penjelajahan literature sejarah, Jung menemukan hal yang sama misalnya perbedaan ideologis antara Carl Spittler dan Johann Wolfgang Goethe, antara Apollo dan Dionysius. Jung melihat Freud sebagai seorang yang Extraversi sedangkan Adler sebagai Introversi. Perbedaan-perbedaan inilah sangat mungkin yang merupakan factor penyebab perpisahan di antara Freud dan Jung (yang juga seorang Introversi).

Introversion menaruh perhatian terhadap faktor-faktor subyektif (subjective factors) dan tanggapan internal (inner response). Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Dan oleh karenanya ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian (judgement). Seorang introvert secara relatif akan memiliki teman yang lebih sedikit namun ia akan sangat setia, loyal terhadap mereka. Ia akan tampak sebagai pemalu dalam situasi social, dan mungkin juga sangat hati-hati, pesimistis dan kritis.

Sebaliknya, seorang Extravert akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya orang, kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional standard, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik.

Tipe kepribadian ini akan berpengaruh terhadap perasaan, pikiran dan perilaku seseorang, dan ia akan berada di bawah kendali Ego. Tipe yang tidak dominan dimana ia tidak berada di bawah kendali Ego, akan tetap berada di alam Bawah Sadar. Misalnya seorang introvert yang mencoba untuk mengungkapkan minat atau kesenangannya, sangat mungkin akan bercerita tentang sesuatu yang sangat unik dan spesifik yang tidak dikenal atau diketahui oleh orang kebanyakan (misalnya tentang bunga anggrek spesies tertentu yang hanya ada di Himalaya, atau tentang motif batik yang begitu njlimet) Sekalipun Jung memakai istilah Tipologi atau Type, dia tidak bermaksud untuk mengkotak-kotakkan orang sebagaimana banyak kritik menyebutkan tentang teori kepribadian Jung ini.

Jung menempatkan tipologi ini sebagai Dimensi (dimension): setiap orang memilikinya, bagi sebagian orang ia lebih banyak berada diKesadarannya, sementara bagi sebagian orang lain lebih banyak berada di Bawah Sadarnya. Tendensi psikologis ini merupakan alat Bantu untuk memahami dan menghargai orang lain atau cara-cara mereka berhadapan dan menghadapi dunia (di luar diri) nya.

Banyak orang yang tidak begitu akrab dengan teori psikologi mengenal Jung melalui Tipologi, misalnya melalui Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) yang biasanya banyak digunakan sebagai alat Bantu (psikologis) dalam perkawinan atau industri (seleksi). Melalui MBTI orang akan bisa mengatakan bahwa saya adalah tipe INFP, ESTJ atau satu di antara 14 kombinasi tipe-tipe ini. Alat ukur lain yang terkenal adalah Gray-Wheelwrights Jungian Type Survey (GWJTS), Singer-Loomis Inventory of Personality (SLIP) dan Keirsey Temperament Sorter (KTS). Alat-alat ukur tersebut semuanya mendasarkan diri pada teori Jung.

Menurut teori psikoanalisa dari Jung ada dua aspek penting dalam kepribadian yaitu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introversion dan ekstroversion, sedangkan fungsi terdiri dari thinking, feeling, sensing dan intuiting.

Dengan mengombinasikan dua sikap dan empat fungsi di atas, Jung menjelaskan 8 tipe kepribadian yang berbeda. Namun, harus dicamkan jika 8 tipe ini tidak pernah hadir dalam bentuknya yang murni karena setiap manusia sebenarnya memiliki 2 sikap dan 4 fungsi tersebut, sekaligus perkembangan kepribadian yang sadar maupun bawah-sadar. Berikut ringkasan 8 tipe kepribadian yang diambil dari Jung (1971, hlm. 330-405):

Berpikir-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi berpikirnya. Merasa, mengindra dan mengintuisi direpresi. Analisis intelektual terhadap pengalaman objektif dianggap yang paling penting. Kebenaran ada ‘di sana’ dan setiap orang dapat dan harus menemuf kannya. Aktivitas-aktivitas yang terlalu bergantung kepada perasaan seperti estetika, persahabatan, introspeksi religius dan pengalaman filosofis diminimkan. Individu yang seperti ini hidup berdasarkan aturan yang baku dan berharap setiap orang melakukan yang sama. Mereka bisa menjadi sangat dogmatis dan dingin. Urusan-urusan pribadi seperti kesehatan, posisi sosial, minat berkeluarga dan keuangan diabaikan jung yakin kebanyakan ilmuwan bertipe Berpikir-Ekstrover.

Merasa-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi merasa. Berpikir, mengindra dan mengintuisi direpresi. Tipe ini merespon secara emosional realitas objektif. Karena perasaan-perasaan yang dialami ditentukan secara eksternal, mereka cenderung memposisikan diri tepat dengan situasi-situasi yang seperti hadir di teater, konser atau gereja. Individu yang seperti ini menghormati otoritas dan tradisi.Selalu ada upaya untuk menyesuaikan perasaan dengan yang tepat untuk situasi tertentu sehingga perasaan individu yang seperti ini sering dimanipulasi. Contohnya, memilih ‘kekasih’ lebih ditentukan oleh usia, posisi sosial, penghasilan dan status keluarga ketimbang oleh perasaan subjektif tentang orang itu. Artinya, individu ini akan bersikap sesuai perasaan yang diharapkan orang lain pada dirinya di setiap situasi.

Mengindra-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi mengindra. Mengintuisi, berpikir dan merasa direpresi. Tipe ini pengkonsumsi semua hal yang bisa diperoleh lewat pengalaman indrawinya. Ia seorang realis, dan peduli hanya ke fakta-fakta objektif. Karena hidup tipe individu ini dikendalikan oleh apa yang terjadi, dia bisa menjadi teman yang menyenangkan. Terdapat kecenderungan untuk menganalisis situasi atau mendominasinya. Sekali saja suatu pengalaman diindra, selalu ada perhatian tambahan atasnya. Hanya hal yang konkret dan bisa dicerap yang bernilai. Ia menolak pemikiran atau perasaan subjektif sebagai panduan hidup bagi dirinya dan orang lain.

Mengintuisi-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi mengintuisi. Berpikir, merasa dan mengindra direpresi. Tipe kepribadian ini melihat ke luar realitas ribuan kemungkinan. Pengalaman baru dicari dengan antusias, dikejar terus hingga implikasinya dimengerti, lalu ditinggalkan. Sedikit saja perhatian kepada masalah kepercayaan dan moralitas terhadap orang lain sehingga tipe ini sering dilihat orang tak bermoral dan serampangan. Karier yang dicari adalah yang bisa memberinya kesempatan untuk mengeksploitasi kemungkinan seperti pebisnis, pedagang saham atau politisi. Meski secara sosial berguna, h’pe ini dapat menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bergerak dari proyek ke lainnya. Seperti mengindra-ekstrover, tipe ini irasional dan kurang begitu memedulikan logika. Komunikasi yang bermakna dengan individu yang dominan fungsi rasionalnya (berpikir atau merasa) sulit sekali diraih.

Berpikir-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fungsi berpikir. Merasa, mengindra dan mengintuisi direpresi. Karena hidup tipe individu ini ditentukan oleh realitas subjektif daripada objektif, ia terlihat tidak fleksibel, dingin, arbitrer bahkan kejam. Individu seperti ini akan mengikuti pikiran-pikirannya sendiri tak peduli tidak konven. sional atau berbahayanya bagi orang lain. Dukungan dan pengertian dari orang lain kecil saja nilainya, kecuali teman yang bisa memahami betul kerangka pikirnya, dinilainya tinggi namun sayang, jumlahnya sangat sedikit. Untuk tipe ini, kebenaran subjektif satu-satunya kebe. naran, dan kritik, tak peduli validitasnya, ditolak. Pikiran logis diguna kan hanya untuk menganalisis pengalaman subjektifnya sendiri. Jung mendeskripsikan dirinya bertipe berpikir-introver ini.

Merasa-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fungsi merasa. Berpikir, mengindra dan mengintuisi direpresi. Daripada mengarahkan proses intelektual kepada pengalaman subjektif, seperti yang dilakukan tipe berpikir-introver, individu tipe ini berfokus ke perasaan yang disediakan oleh pengalaman-pengalaman tersebut. Realitas objektif penting hanya sejauh ia memberinya gambaran-gambaran mental subjektif yang dialami dan dinilai secara pribadi. Komunikasi dengan orang lain agak sulit kecuali sama-sama memiliki realitas subjektif dan perasaan-perasaan yang terkait dengannya. Ia sering dilihat egois dan tidak simpatik. Motif dasar tipe ini sulit dipahami orang lain sehingga terkesan dingin dan menjarakkan diri. Untuk tipe ini, tidak ada kebutuhan mengesankan atau memengaruhi orang lain. Seperti semua introver yang lain, semua hal yang internal lebih penting ketimbang yang eksternal.

Mengindra-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fimgsi mengindra. Mengintuisi, berpikir dan merasa direpresi. Tipe ini ba’ nyak dimiliki seniman yang jelas mengandalkan kemampuan indrawi untuk memberi mereka makna subjektif. Karena tipe ini mengejar penga’ laman indrawi dengan evaluasi yang sifatnya subjektif, interaksinya dengan realitas objektif sulit bisa diduga. Namun begitu, pengalaman inderawi ini penting hanya sejauh menghasilkan gambaran-gambaran mental subjektif.

Mengintuisi-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fungsi mengintuisi. Berpikir, merasa dan mengindra direpresi. Di tipe ini, implikasi-implikasi dari gambaran-gambaran mental internal dieksplorasi besar-besaran. Biasanya mereka adalah kaum mistikus, pelihat, peramal dan lain-lain yang suka sekali menghasilkan ide baru dan aneh. Dari semua tipe kepribadian, tipei ini yang paling menutup diri, menjaga jarak dan disalahpahami. Individu yang seperti ini sering kali terlihat sebagai genius eksentrik, dan konsep filsofis dan religius penting sering kali dihasilkan oleh tipe mengintuisi-introver ini.

Di dalam tipologi Jung, kita dapat melihat prinsip-prinsip ekuivalensi, kebalikan dan entropi beroperasi. Karena begitu banyak energi libido tersedia bagi seseorang, hanya sedikit saja tersisa untuk komponen-komponen lain (prinsip ekuivalensi) jika banyak porsi energi ini diinvestasikan ke satu komponen tertentu psikhe. Ketika sesuatu disadari, kebalikannya tidak disadari, dan sebaliknya (prinsip kebalikan). Satu kecenderungan konstan hadir bagi energi libido untuk menyetarakan diri di seluruh komponen dan tingkatan psikhe (prinsip entropi). Untuk ringkasnya, komponen-komponen psikhe yang kita diskusikan di bagian ini dapat diskemakan sebagai berikut.

Tingkat-tingkat
Fungsi-fungsi
Sikap-sikap
 

 

Kesadaran

Bawah-Sadar

 

 

Introversi

Ekstraversi

Rasional         Irasional

 

Berpikir           Mengindra

Merasa             Mengintuisi

 

 

 

Tahap-Tahap Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Jung tidak menetapkan secara terinci, seperti yang dilakukan Freud, tahap-tahap yang dilalui kepribadian dari masa bayi sampai masa dewasa. Dalam tahun-tahun yang paling awal, libido disalurkan dalam kegiatan-kegiatan yang diperlukan supaya tetap hidup. Sebelum usia lima tahun, nilai-nilai seksual mulai tampak dan mencapai puncaknya selama masa adolesen.

Dalam masa muda seseorang dan awal tahun-tahun dewasa, insting-insting kehidupan dasar dan proses-proses vital meningkat. Orang muda adalah penuh semangat, giat, impulsif, dan penuh gairah dan masih banyak tergantung pada orang lain. Inilah periode kehidupan di mana orang belajar bekerja, kawin dan mempunyai anak-anak dan menjadi mapan dalam kehidupan masyarakat.

Ketika individu mencapai usia akhir 30-an atau awal 40-an terjadi perubahan nilai yang radikal. Minat-minat dan segala sesuatu yang dikejar dalam masa muda kehilangan nilainya dan diganti oleh minat-minat baru yang lebih berbudaya dan kurang biologis. Orang yang berusia setengah baya menjadi lebih introvert dan kurang impulsif. Kebijaksanaan dan kecerdasan menggantikan gairah fisik dan kejiwaan. Nilai-nilai individu disublimasikan dalam lambang-lambang sosial, agama, kenegarawanan, dan filosofis. Orang menjadi lebih spiritual.

Peralihan ini merupakan peristiwa yang sangat menentukan dalam kehidupan seseorang. Ia merupakan saat yang paling berbahaya, karena kalau terjadi ketidak-beresan selama perpindahan energi ini, kepribadian bisa menjadi lumpuh selamanya. Ini terjadi, misalnya, jika nilai-nilai kultural dan spiritual dari usia setengah baya, tidak memanfaatkan seluruh energi yang sebelumnya tertanam dalam tujuan-tujuan instingtif. Dalam hal itu, energi yang berlebihan dengan leluasa mengganggu keseimbangan psikhe. Jung telah banyak berhasil merawat orang-orang berusia setengah baya yang energi-energinya gagal menemukan penyaluran yang memuaskan (Jung, 1931a).

Progresi dan Regresi

Perkembangan dapat mengikuti gerak maju, progresif, atau gerak mundur, regresif. Progresi oleh Jung dimaksudkan bahwa ego sadar menyesuaikan diri secara memuaskan baik terhadap tuntutan-tuntutan lingkungan luar maupun terhadap kebutuhan-kebutuhan ketidaksadaran. Dalam progresi yang normal, daya-daya yang berlawanan dipersatukan dalam suatu arus proses Dsikis yang terkoordinasi dan harmonis.

Apabila gerak maju itu terganggu oleh situasi yang menghambat maka dengan demikian libido tidak bisa disalurkan dalam nilai-nilai yang berorientasi ekstravert atau yang berorientasi kepada lingkungan. Akibatnya, libido mengadakan regresi ke dalam ketidaksadaran dan menyalurkan dirinya dalam nilai-nilai introvert. Hal ini berarti, nilai-nilai ego objektif ditransformasikan menjadi nilai-nilai subjektif. Regresi adalah antitesis dari progresi.

Akan tetapi, Jung yakin bahwa pemindahan energi yang regresif tidak harus menghasilkan akibat yang secara tetap buruk atas penyesuaian diri. Sesungguhnya, ia bisa membantu ego menemukan jalan mengatasi rintangan itu dan bergerak maju lagi. Ini mungkin terjadi karena ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif mengandung pengetahuan dan kebijaksanaan masa lampau individual dan ras, yang telah direpresikan atau diabaikan. Dengan melakukan regresi, ego bisa menemukan pengetahuan yang berguna dalam ketidaksadaran yang akan memungkinkan orang itu untuk mengatasi kegagalan. Manusia harus menaruh perhatian khusus terhadap mimpi-mimpinya karena mimpi-mimpi adalah pewahyuan dari bahan tak sadar. Dalam psikologi Jung, mimpi dipandang sebagai tonggak yang menunjukkan jalan maju ke arah perkembangan sumber-sumber potensial.

Interaksi antara progresi dan regresi dalam perkembangan dapat diterangkan dengan contoh skematik berikut. Seorang pemuda yang telah melepaskan dirinya dari ketergantungan pada orangtuanya menemui hambatan yang tidak dapat diatasi. Ia mengharapkan nasihat dan dukungan orangtuanya. Secara fisik, ia benar-benar tidak bisa kembali kepada orangtuanya, tetapi libidonya dapat membuat regresi ke dalam ketidaksadaran dan mengaktifkan kembali imago-imago orangtua yang terdapat di sana. Gambaran-gambaran orangtuanya ini kemudian bisa memberinya pengetahuan dan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi kekecewaan.

Proses Individuasi

Bahwa kepribadian memiliki tendensi untuk berkembang ke arah kesatuan yang stabil merupakan ciri utama psikologi Jung. Perkembangan adalah mekarnya kebulatan asli yang tidak berdiferensiasi yang dimiliki manusia pada saat dilahirkan. Tujuan terakhir pemekaran ini adalah realisasi diri.

Untuk merealisasikan tujuan ini, perlu bahwa berbagai sistem kepribadian berdiferensiasi secara sempurna dan berkembang sepenuhnya. Sebab apabila suatu bagian kepribadian diabaikan, maka sistem yang diabaikan dan kurang berkembang baik itu akan menjadi pusat resistensi yang berusaha merampas energi dari sistem yang berkembang secara lebih penuh.

Apabila berkembang terlalu banyak resistensi, maka orang akan menjadi neurotik. Ini dapat terjadi jika arkhetipe-arkhetipe tidak dibiarkan mengungkapkan dirinya melalui perantaraan ego sadar atau apabila bungkusan persona begitu tebal sehingga menutupi yang lain-lainnya dalam kepribadian. Pria yang tidak memberikan penyaluran yang memuaskan untuk impuls-impuls femininnya atau wanita yang melumpuhkan kecenderungan-kecenderungan maskulinnya akan menemui bahaya karena anima dan animus yang berada dalam situasi ini cenderung mencari cara-cara tidak langsung dan irasional untuk mengungkapkan dirinya.

Untuk memiliki kepribadian yang sehat dan terintegrasi, setiap sistem harus dibiarkan mencapai tingkat diferensiasi, perkembangan, dan pengungkapan yang paling penuh. Proses untuk mencapai ini disebut proses individuasi (Jung, 1939, 1950).

Fungsi Transenden

Apabila keanekaragaman telah dicapai lewat proses individuasi, maka sistem-sistem yang berdiferensiasi itu kemudian diintegrasikan oleh fungsi transenden (Jung, 1916b).

Fungsi ini memiliki kapasitas untuk mempersatukan semua kecenderungan yang saling berlawanan dalam beberapa sistem dan bekerja menuju tujuan yang ideal yakni kebulatan sempurna (diri). Tujuan dari fungsi transenden adalah pengungkapan pribadi yang esensial dan ”realisasi kepribadian dalam semua aspeknya yang mula-mula tersembunyi dalam cairan sel telur; produksi dan penyingkapan dari kebulatan yang original dan potensial” (Jung, 1943, hlm. 108).

Daya-daya lain dalam kepribadian, khususnya represi, bisa menentang operasi fungsi transenden; namun meskipun ada pertentangan, gerak maju yang mempersatukan perkembangan akan tetap berlangsung, jika tidak pada tingkat kesadaran maka pada tingkat ketidaksadaran. Ungkapan tak sadar dari keinginan akan kebulatan ditemukan dalam mimpi. mimpi, mitos-mitos, dan dalam ungkapan-ungkapan simbolik lain.

Salah satu lambang yang selalu timbul dalam mitos-mitos, mimpi-mimpi, arsitektur, agama, dan kesenian adalah lambang mandala. Mandala adalah kata Sansekerta, yang berarti lingkaran Jung telah mengadakan penelitian tuntas tentang mandala karena mandala merupakan lambang yang sempurna dari kesatuan dan kebulatan yang paripurna dalam agama-agama Timur maupun Barat.

Sublimasi dan Represi

Energi psikis dapat diganti. Ini berarti energi psikis dapat dipindahkan dari salah satu proses dalam suatu sistem tertentu, ke proses lain dalam sistem yang sama atau dalam sistem yang berbeda. Pemindahan ini dilakukan menurut prinsip-prinsip dinamik dasar, yakni prinsip ekuivalensi dan prinsip entropi.

Apabila pemindahan ini dikuasai oleh proses individuasi dan fungsi transenden, maka disebut sublimasi. Sublimasi merupakan pemindahan energi dari proses-proses yang lebih primitif, instingtif, dan kurang berdiferensiasi ke proses-proses kultural dan spiritual yang lebih tinggi dan lebih berdiferensiasi. Misalnya, apabila energi dapat ditarik dari dorongan seks dan disalurkan dalam nilai-nilai agama, maka energi dikatakan telah disublimasi. Bentuknya telah berubah, dalam pengertian bahwa suatu tipe pekerjaan baru sedang dilakukan; dalam hal ini, kegiatan agama menggantikan kegiatan seksual.

Apabila pelepasan energi terhambat, entah melalui saluransaluran instingtif atau saluran-saluran yang telah disublimasikan, maka dikatakan bahwa energi itu direpresikan. Energi yang direpresikan tidak begitu saja hilang; ia harus pergi ke salah satu tempat lain menurut prinsip konservasi energi. Pada akhirnya, ia akan menuju ketidaksadaran. Dengan menambah energi pada bahan tak sadar, maka ketidaksadaran dapat menjadi jauh lebih kuat daripada ego sadar. Bila ini terjadi maka energi dari ketidaksadaran akan cenderung mengalir ke dalam ego, menurut prinsip entropi, dan mengganggu proses-proses rasional. Dengan kata lain, proses-proses tak sadar yang terlalu diberi energi akan berusaha memecahkan represi, dan apabila proses-proses tersebut berhasil, maka orang akan bertingkah laku irasional dan impulsif.

Sublimasi dan represi memiliki karakter yang persis berlawanan. Sublimasi bersifat progresif, represi bersifat regresif. Sublimasi menyebabkan psikhe bergerak maju, sedangkan represi menyebabkan psikhe bergerak mundur. Sublimasi menghasilkan rasionalitas, sedangkan represi menghasilkan irasionalitas. Sublimasi bersifat integratif sedangkan represi bersifat disintegratif.

Akan tetapi, Jung memperingatkan kita bahwa karena represi bersifat regresif, maka ia memungkinkan individu-individu menemukan jawaban terhadap masalah mereka yang ada dalam ketidaksadaran dan dengan demikian bergerak maju lagi.

Perlambangan

Lambang dalam psikologi Jungian mempunyai dua fungsi utama. Di satu pihak, lambang merupakan usaha untuk memuaskan impuls instingtif yang terhambat; di lain pihak, lambang merupakan perwujudan bahan arkhetipe. Perkembangan tarian sebagai bentuk seni adalah contoh dari usaha manusia untuk memuaskan secara simbolis impuls yang terhambat seperti misalnya dorongan seks.

Akan tetapi ungkapan simbolis dari kegiatan instingtif dapat sama sekali tidak memuaskan, karena ungkapan tersebut tidak mencapai objek yang real dan menyalurkan semua libido. Menari sama sekali tidak menggambarkan bentuk-bentuk yang lebih langsung dari ungkapan seksual; maka dari itu perlambangan-perlambangan yang lebih memadai bagi insting-insting yang terhambat akan terus-menerus dicari.

Jung yakin bahwa penemuan lambang-lambang yang lebih baik, yakni lambang-lambang yang menyalurkan lebih banyak energi dan mereduksikan lebih banyak tegangan, memungkinkan peradaban maju ke tingkat-tingkat budaya yang makin lama makin tinggi.

Akan tetapi, lambang juga memainkan peranan resistensi terhadap impuls. Selama energi diserap habis oleh lambang, ia tidak dapat digunakan untuk menyalurkan impuls. Apabila orang menari, misalnya, maka ia tidak melakukan kegiatan seksual secara langsung. Dari sudut ini, lambang sama dengan sublimasi Keduanya menyebabkan pemindahan libido.

Kapasitas lambang untuk menggambarkan garis-garis masa depan perkembangan kepribadian, khususnya perjuangan ke arah kebulatan, memainkan peranan yang sangat penting dalam psikologi Jung. Psikologinya merupakan suatu sumbangan khusus dan oroginal bagi teori tentang simbolisme.

Jung berulang kali berbicara tentang simbolisme dalam tulisan-tulisannya dan ia telah membuatnya menjadi bahan dari beberapa bukunya yang sangat penting. Hakikat teori Jung tentang simbolisme ditemukan dalam kutipan ini: ”Lambang bukanlah tanda yang menyelubungi sesuatu yang diketahui setiap orang. Itu bukan arti lambang: sebaliknya, lambang merupakan usaha untuk menjelaskan sesuatu yang sama sekali masih termasuk bidang yang tidak diketahui atau sesuatu yang belum ada, dengan menggunakan analogi” (Jung, 1916a, hlm. 287).

Lambang-lambang adalah bentuk-bentuk representasi psikhe. Lambang-lambang tidak hanya mengungkapkan khazanah kebijaksanaan umat manusia yang diperoleh secara rasial dan individual, tetapi lambang-lambang itu juga menggambarkan tingkat-tingkat perkembangan yang jauh mendahului perkembangan manusia sekarang, Nasib seseorang, perkembangan yang paling tinggi dari psikhenya diungkapkan dengan lambang-lambang.

Pengetahuan yang terkandung dalam lambang tidak langsung diketahui oleh manusia; mereka harus menguraikan 1ambang itu untuk menemukan pesannya yang penting.

Kedua aspek dari lambang, yang pertama retrospektif dan dibimbing oleh insting-insting, yang kedua prospektif dan dibimbing oleh tujuan-tujuan akhir umat manusia, merupakan dua sisi mata uang yang sama. Lambang dapat dianalisis dari salah satu di antara kedua sisi itu.

Tipe analisis retrospektif mengungkapkan dasar instingtif dari lambang, sedangkan tipe prospektif mengungkapkan kerinduan umat manusia terhadap kesempurnaan, kelahiran kembali, keharmonisan, purifikasi, dan sebagainya. Tipe pertama adalah tipe analisis kausal, reduktif, dan yang kedua adalah tipe teleologis, finalistis. Keduanya perlu untuk menguraikan lambang secara lengkap. Jung yakin bahwa sifat prospektif dari lambang telah diabaikan karena adanya pandangan bahwa lambang itu semata-mata merupakan produk dari impuls-impuls yang terhambat.

Intensitas psikis dari lambang selalu lebih besar daripada nilai penyebab yang menghasilkan lambang. Hal ini berarti bahwa ada daya yang mendorong dan daya yang menarik di balik lambang yang diciptakan. Dorongannya berasal dari energi instingtif, sedangkan tarikannya berupa tujuan-tujuan transendental. Tidak satu pun dari keduanya secara sendiri-sendiri mampu menciptakan lambang. Maka dari itu, intensitas psikis dari lambang adalah produk gabungan dari faktor penentu kausal dan faktor penentu fmalistis, dan karena itu lebih besar daripada faktor kausal semata.

Jung tidak menyusun tahap-tahap perkembangan secara rinci. Perhatian utamanya tertuju pada tujuan-tujuan perkembangannya, khususnya tahap kedua tekanan perkembangannya terletak pada pemenuhan syarat social dan ekonomi, dan tahap ketiga ketika orang mulai membutuhkan nilai spiritual. Menurut Jung terdapat 4 tahap perkembangan:

Kanak-kanak (Lahir sampai Remain)

Jung membagi masa kanak-kanak menjadi tiga bagian, yaitu anarkis, monarkis, dan dualistis.

  • Pada fase anarkis dikarakteristikan dengan banyaknya kesadaran yang kacau dan sporadis. “pulau-pulau kesadaran” mungkin akan nampak, tetapi sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali hubungan diantara pualu-pulau kecil ini. Pengalaman pada fase anarkis terkadang masuk ke kesadaran sebagai gambaran yang primitif yang tidak mampu digambarkan secara akurat.
  • Fase monarki dikarakterisasikan dengan pekembangan ego dan mulainya masa berpikir secara logis dan verbal. Pada kurun waktu ini, anak-anak akan melihat dirinya sendiri secara objektif dan kerap mendeskrifsikan diri mereka sebagai orang ketiga. “pulau-pulau kesadaran” akan berkembang semakin besar, lebih banyak, dan lebih dihuni oleh ego primitif, walaupun ego dipersepsikan sebagai objek dan belum disadari sebagai penerima.
  • Ego sebagai penerima mulai tumbuh dalam fase dualistis pada saat ego terbagi menjadi objektif dan subjektif. Sekarang, anak-anak menyadari dirinya sendiri sebagai orang pertama dan mulai sadar akan eksistensinya sebagai individu yang terpisah. Selama masa tersebut pualau-pulau kesadaran menjadi sebuah pulau yang menyatu dan dihuni oleh ego kompleks yang menyadarivdirinya sebagai objek dan subyek.

Di porsi awal periode ini, energi libido diperluas kepada pembelajaran bagaimana berjalan, berbicara dan keahlian-keahlian lain yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup. Setelah tahun kelima, semakin banyak energi libido diarahkan ke aktivitas-aktivitas seksual, dan fokus energi libido ini meraih puncaknya di masa remaja.

Dewasa Muda (Remain sampai Usia 40)

Periode yang ditandai dari pubertas sampai dengan masa pertengahan disebut dengan masa muda. Pemuda berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya, mereka mencoba bertahan untuk mencapai kebebasan fisik dan psikis dari orang tuanya, mendapatkan pasangan, membangun keluarga, dan mencari tempat didunia ini.

Menurut Jung, masa muda seharusnya menjadi periode ketika aktivitas meningkat, mencapai kematangan seksual, menumbuhkan kesadaran, dan pengenalan bahwa dunia dimana tidak ada masalah, seperti pada waktu kanak-kanak sudah tidak ada lagi. Kesulitan utama yang dialami anak-anak muda adalah bagaimana mereka bisa mengatasi kecenderungan alami (juga dialami pada masa pertengahan dan usia lanjut) untuk menyadari perbedaan yang teramat tipis antara masa muda dengan masa kanak-kanak, yaitu dengan menghindari masalah yang relevan pada masanya. Keinginana ini disebut dengn prinsip konservatif.

Seseorang yang berada diparuh baya atau lanjut usia yang berupaya untuk memegang nilai-nilai mudanya akan mengalami ketidakmampuan dalam menghadapi tahapan hidup setelahnya, dianggap tidak mampu dalam kapasitas mencapai realisasi diri, dan merusak kemampuannya dalam membangun tujuan baru serta mencari arti kehidupan.

Di tahap ini, energi libido terarah kepada pembelajaran untuk berkarier, menikah, membesarkan anak dan mencari jalan untuk berhubungan dengan kehidupan komunitas. Selama tahap inilah individu cenderung pergi ke tempat-tempat lain, energetik, impulsif dan penuh semangat.

Paruh Baya (Usia 40 sampai Usia Senia)

Jung percaya bahwa masa pertengahan atau paruh baya berawal di usia 35-40 tahun, pada saat matahari telah melewati tengah hari dan mulai berjalan menuju terbenam. Walaupun penurunan ini dapat menyebabkan sejumlah orang di usia ini meningkat kecemasannya, tetapi fase ini juga merupakan sebuah fase yang potensial.

Jika orang dimasa pertengahan dapat memegang teguh nilai moral dan sosial pada masa kecilnya, maka mereka dapat menjadi kokoh dan fanatik dalam menjaga ketertarikan fisik dan kemampuannya. Dalam usahanya menemukan idealisme, mereka akan berjuang keras untuk menjaga penampilan dan gaya hidup masa mudanya.

Menurut Jung kebanyakan dari kita tidak siap untuk mengambil langkah menuju masa atau fase berikutnya. Bahkan, lebih buruk lagi, kita mengambil langkah tersebut dengan asumsi yang salah bahwa keyakinan dan idealisme kita akan terus ada sampai saat ini. Kita tidak dapat hidup di fase berikutnya (masa senja) dengan mengandalkan kehidupan kita di masa muda karena segala sesuatu yang tampak baik dimasa muda, tidak akan terlihat baik dimasa tua, dan apa yang dianggap benar dimasa muda akan menjadi kebohongan dimasa tua.

Tahap perkembangan ini paling penting bagi Jung. Individu ditransformasi’ kan dari individu yang bersemangat, ektrover dan berorientasi biologis men“ jadi individu yang lebih menjunjung nilai budaya, filosofis dan spiritual Sekarang ia lebih banyak menyoroti hikmat dan makna hidup. Kebutuhan-kebutuhan yang harus dipuaskan di tahap ini sama pentingnya dengan tahap-tahap sebelumnya, meski kebutuhan-kebutuhan ini agak berbeda. Hidup kita seperti gerak matahari.

Di pagi hari, ia terus meraih kekuatan hingga meraih puncak panas di tengah hari. Lalu terus bergerak namun dengan kekuatan yang terus menurun Tetapi keliru besar jika mengasumsikan makna hidup tidak ada di saat muda dan berkembang. Senja kehidupan sama penuh maknanya dengan pagi; hanya saja makna dan tujuannya berbeda. Yang ditemukan dan harus ditemukan masa muda terletak di luar, sedangkan manusia di usia senja harus menemukannya di dalam dirinya sendiri. (1966, hlm. 74-75)

Karena selama paruh baya ini manusia mulai menentukan makna hidup, inilah waktunya ketika agama menjadi penting. jung yakin setiap individu memiliki sebuah kebutuhan spiritual yang harus dipuaskan, sama seperti kebutuhan akan makanan mesti dipuaskan. Namun, definisi Jung tentang agama ini’mencakup juga upaya sistematis apa pun untuk menghadapi Tuhan, roh-roh, setan-setan, hukum-hukum atau ideal-ideal. Kita melihat di bagian awal bab ini bahwa Jung tidak punya banyak kesabaran dengan jenis agama yang melibatkan denominasi religius dan dogma yang diterima begitu saja.

Jung yakin jika kemerosotan umum kehidupan religius di kalangan masyarakat modern telah menyebabkan sebuah disorientasi dalam pandangan dunia. Yang lebih spesifik lagi, ia menemukan jika absennya makna atau ekuilibrium Spiritual, yang awalnya disediakan oleh perspektif religius, telah menyebabkan keluhan-keluhan neurotik pasien-pasien paruh bayanya.

Dari semua pasien paruh baya saya, yaitu yang sesudah berusia 35 tahun, tidak ada yang masalahnya berujung pada sikap religius. Bahkan pada akhir’ nya, setiap orang menderita karena sudah kehilangan sentuhan agama yang hidup di usia berapa pun keyakinannya, dan tak satu pun yang sungguh sembuh tidak memperoleh kembali sikap religius mereka, yang biasanya tidak lagi berkaitan dengan kredo atau karena melekat ke sebuah gereja. (dikutip dari Wehr, 1987, hlm. 292) .

Masa Tua

Usia tua ditandai dengan tenggelamnya alam sadar ke alam tak dasar. Banyak diantara mereka yang mengalami kesengsaraan karena berorientasi pada masa lalu dan menjalani hidup tanpa tujuan.

Pada masa tua atau lanjut usia menjelang, orang akan mengalami penurunan kesadaran, seperti pada saat matahari berkurang sinarnya diwaktu senja. Jika orang merasa ketakutan dengan kehidupan di fase sebelumnya, maka hampir bisa dipastikan mereka akan takut dengan kematian pada fase hidup berikutnya. Takut akan kematian sering disebut sebagai proses yang normal, tetapi Jung percaya bahwa kematian adalah tujuan dari kehidupan dan hidup hanya bisa terepenuhi saat kematian terlihat.

Biasanya kita berpegangan pada masa lalu kita dan bertahan dengan ilusi masa muda. Menjadi tua bukanlah hal yang populer. Tidak ada yang memikirkan kemungkinan bahwa tidak bisa menjadi tua adalah sama tidak mungkinnya dengan menahan perkembangan sepatu anak-anak. Seorang anak muda yang tidak berjuang dan menaklukan, akan kehilangan bagian terbaik dari masa mudanya, dan seorang tua yang tidak tahu bagaimana cara mendengarkan cerita dari sebuah cerita saat mereka mulai jatuh dari kejayaan, akan dianggap tidak masuk akal. Ia akan menjadi mumi spiritual yang tidak akan menjadi seseorang kecuali menjadi tonggak masa lalu saja. (Jung, 1934/1969, hlm. 407)

Banyak pasien Jung berasl dari masa pertengahan atau lebih tua lagi dan banyak diantara mereka yang menderita akibat terlalu berorientasi masa lalu, susah payah bergantung pada gaya hidup dan tujuan masa lalu, serta menjalani alur hidup tanpa tujuan yang jelas.

Jung merawat orang-orang ini dengan membantu mereka membangun tujuan dan arti hidup baru dalam kehidupannya, dengan mempelajari arti kematian. Ia mendapatkan cara perawatan ini lewat sebuah interpretasi mimpi karena impian dari orang-orang berusia lanjut terkadang penuh dengan simbol kelahiran kembali, seperti perjalanan jauh atau perubahan lokasi. Jung menggunakan semua ini dan simbol-simbol yang menjelaskan ketidaksadaran pasiennya terhadap kematian dan membantu mereka untuk menemukan filosofi kehidupan yang berarti. (Jung, 1934/1960).

Tujuan Hidup

Menurut Jung, tujuan utama hidup adalah untuk mencapai realisasi-diri, atau sebuah campuran harmonis untuk banyak komponen dan kekuatan di dalam psikhe. Meski realisasi-diri tidak pernah tercapai lengkap, mendekatinya tetap melibatkan sebuah perjalanan panjang dan kompleks untuk penemuan-diri.

Realisasi-diri dan individuasi jalan beriringan. Individuasi mengacu kepada proses pendewasaan psikologis seumur hidup di mana koms ponen-komponen psikhe dikenali dan diberikan kesempatan untuk berekspresi. Jung yakin kalau individuasi, atau kecenderung menuju realisasidiri, inheren di semua makhluk hidup: “Individuasi adalah sebuah pengekspresian proses biologis -entah sederhana atau rumit-_ di mana setiap makhluk hidup menjadi apa yang ditakdirkan untuknya sejak awal” (dikutip dari Stevens, 1994, hlm. 62). Proses individuasi menggambarkan sebuah perjalanan pribadi menuju realisasi-diri, namun proses ini menyediakan satu hubungan penting di antara semua manusia. jung (1966, hlm. 178) mencatat:

Semakin kita menyadari diri lewat pengetahuan-diri, dan bertindak sesuai itu, semakin lapisan bawah-sadar pribadi yang melapisi bawah-sadar kolektif bakal lenyap. Dengan cara ini, muncullah kesadaran yang tidak lagi terpenjara di dalam dunia ego yang sempit, terlalu sensitif dan pribadi, namun berpartisipasi dengan bebas di dunia kepentingan objektif yang lebih luas. Komplikasi-komplikasi bukan lagi konflik-keinginan egoistik tetapi kesulitan untuk memikirkan orang lain sebanyak diri sendiri. Kita sekarang dapat melihat jika bawah-sadar menghasilkan isi-isi yang valid bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga orang lain, faktanya sebagian besar manusia bahkan mungkin semuanya. Di tempat lain, Jung (1969, hlm.292) menulis:

Proses ini, pada faktanya, merupakan realisasi spontan seluruh manusia. Semakin dia hanya ‘aku’, semakin dia memisahkan diri dari manusia kolektif, di mana dia juga menjadi bagiannya, bahkan mungkin menemukan dirinya berlawanan dengan dia. Namun, karena segala sesuatu yang hidup berjuang untuk meraih keutuhan, satu-sisi yang tak terelakkan dari kehidupan sadar kita terus dikoreksi dan dikompensasikan oleh manusia universal dalam diri kita, yang tujuannya adalah pengintegrasian ultimat kesadaran dan bawah-sadar, atau yang lebih baik lagi, pengasimilasian ego ke dalam kepribadian yang lebih luas.

Ketika realisasi-diri didekati, diri menjadi pusat baru kepribadian dan dialami sebagai hal yang tertunda di antara daya-daya psikhe yang berlawanan. Jung yakin diri disimbolkan paling tepat oleh mandala, kata Sanskerta yang artinya lingkaran. Diri dilihat sebagai pusat lingkaran, atau jalang tengah banyak polaritas yang membentuk psikhe. Jung menemukan banyak variasi mandala di budaya berbeda-beda seluruh dunia, mengindikasikan universalitasnya. Sama seperti semua arketipe yang lain, diri menciptakan sebuah kepekaan terhadap pengalaman tertentu, khususnya menyimbolkan keseimbangan, kesempurnaan dan harmoni seperti layaknya lingkaran. Diagaram dasar Taois, yin-yang, terkenal sebagai contoh mandala ini.

Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki realisasi-diri? Menurut Jung, mereka terjebak di berbagai jenis masalah. Tingkatan masalah bergantung kepada bagaimana perkembangan kita berlangsung:

Manusia modern tidak memahami seberapa banyak ‘rasionalisme’-nya (yang sudah menghancurkan kemampuannya untuk merespons beragam simbol dan ide) sehingga ia pun diletakkan di hadapan belas-kasihan ‘dunia bawah tanah’ psikhe. Ia telah membebaskan diri dari ‘takhayul’ (atau begitulah yang dia percayai), namun dalam prosesnya justru kehilangan nilai-nilai spiritualnya hingga tingkat membahayakan. Tradisi moral dan spiritualnya sudah tercabik-cabik, dan sekarang harus membayar harga untuk keterceraiannya di dalam kehancuran dan ketercabikan seluruh dunianya. Ketika pemahaman ilmiah tumbuh, dunia menjadi terdehumanisasi.

Manusia pun merasa dirinya terisolasi di dalam kosmos karena ia tidak lagi terlibat di alam dan kehilangan ‘identitas bawah-sadar’ emosionalnya di fenomena alamiah. Perlahan, ini semua kehilangan implikasi-implikasi simboliknya. Guntur bukan lagi suara marah tuhan, kilat juga bukan senjata penghukumannya.

Tidak ada sungai yang mengandung roh, tidak ada pohon yang menjadi sumber hidup manusia, tidak ada ular yang mengusung hikmat, tidak ada gua di gunung yang menjadi rumah setan-setan. Tidak ada suara yang berbicara kepada manusia dari batu, tumbuhan dan hewan, pun tidak ia bisa mendengar dan mewujudkan keinginan mereka. Kontaknya dengan alam telah hilang, begitu pula energi emosi mendalam yang disediakan oleh hubungan simbolik ini. (Jung, 1964, hlm. 84-85) Jung yakin lebih banyak hal yang dibutuhkan untuk hidup daripada sekadar menjadi rasional. Bahkan Faktanya, dia yakin (1964, hlm. 71), mengabaikan bagian psikhe yang irasional justru penyebab masalah-masalah kita dewasa ini:

[Manusia kontemporer] buta kepada fakta bahwa, dengan semua rasionalitas dan efisiensinya, ia dikuasai oleh ‘kekuatan-kekuatan’ yang melampaui ke~ mampuannya mengendalikan. Para tuhan dan setannya tidak lenyap sama sekali; mereka hanya mendapatkan nama-nama baru. Mereka memaksanya terus berjalan dengan kejam, pemahaman samar-samar, komplikasi-kompi kasi psikologis, kebutuhan tak terhentikan akan pil, alkohol, tembakau, ma~ kanan -dan di atas semuanya, sejumlah besar neurosis.

Selain penitikberatan modernitas pada rasionalitas dan sains, arketipe terus memanifestasikan din’. Bahkan, di kontels teknologi zaman modern, arketipe tetap muncul. Contohnya, fenomena piring terbang. Menulis di masa Perang Dingin, lung (1978, hlm. 131) mengomentari piring terbang sebagai berikut:

Satu fenomena psikis jenis ini, berhembus layaknya rumor, memiliki kemampuan mengkompensasi yang signifikan, karena ia menjadi jawaban spontan bawah-sadar bagi situasi sadar saat ini, yaitu rasa takut yang diciptakan oleh situasi politik yang sepertinya sulit diselesaikan, yang kapan pun dapat mengarah ke bencana universal. Di masa-masa seperti itu, mata manusia diarahkan ke langit untuk memohon pertolongan, dan tanda-tanda ajaib pun muncul dari tempat tinggi, yang sifatnya mengancam atau meneguhkan

Kritik Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Teori Jung, seperti semua teori yang dibahas di buku ini, dikembangkan terus tanpa memedulikan kritik. Contohnya, ia dituduh terlalu ramah dengan okultisme, spiritualitas, mistisisme dan agama, semua wilayah yang dilihat banyak orang irasional. ]ung yakin jika dirinya banyak disalahpahami, dan menegaskan bahwa mempelajari hal-hal ini bukan berarti memercayainya. Sebaliknya, ia mempelajari hal-hal tersebut untuk mendapatkan informasi tentang bawah-sadar kolektif. Jung, seperti banyak teori kepribadian kontemporer, yakin jika metode ilmiah tidak dapat diaplikasikan ke studi yang topiknya sekompleks ini, sehingga metode ilmiah itulah yang bisa diabaikan, bukannya topik yang ditelitinya.

Teori Jung juga dikritik karena sulit dipahami, tidak jelas, tidak konsisten, bahkan kontradiktif. Iuga, konsepnya tentang realisasi-diri sudah dilabeli elit karena hanya yang pandai dan terdidik dengan waktu luang berlimpah yang bisa tiba di tingkat pemahaman-diri tertentu yang dibutuhkan bagi realisasi-diri. Batasan ini yang membuat teori Jung tertutup bagi banyak orang.

Akhirnya, teori Jung, seperti Freud, telah dikritik tidak bisa difalsifikasi, dan karenanya tidak ilmiah. Kecuali untuk beberapa riset tentang tipe-tipe psikologis dan fungsi-fungsi berpikir, riset empiris kecil sudah dilakukan dalam rangka memvalidasi komponen-komponen utama teori Jung. Konsepkonsep Iungian seperti prinsip ekuivalensi, entropi dan kebalikan, selain juga idenya tentang bawah-sadar kolektif dan realisasi-diri, masih belum dites. Karena teori Jung membuat sejumlah kecil prediksi berisiko, ia pun menghadapi risiko kecil untuk terbukti tidak benar. Namun Jung tidak begitu stres dengan observasi ini. Kecuali untuk risetnya bagi tes asosiasi-kata, Jung mencari validasi bagi teorinya tidak berada di dalam kondisi-kondisi laboratorium terkontrol, namun lebih di arena luas pengalaman manusia dan di dalam intuisi manusia.

Jung telah diserang oleh para psikoanalisis beraliran Freudian, mulai dengan Freud sendiri. Ernest Jones (1959) berpendapat bahwa sesudah Jung melakukan “penelitian-penelitian besarnya tentang asosiasi dan dementina praecox, maka ia jatuh ke dalam filsafat semu, dari mana ia tidak pernah keluar lagi” (hlm. 165) Glover (1950, psikoanalisis dari Inggris, melontarkan serangan yang mungkin paling menyeluruh terhadap psikologi analitik.

Ia menertawakan konsep arkhetipe-arkhetipe sebagai bersifat metafisik dan tidak dapat dibuktikan. Ia yakinbahwa arkhetipe-arkhetipe dapat di terangkan semata-mata berdasarkan pengalaman, dan bahwa mempostulasikan pewarisan ras adalah absurd. Glover berkata bahwa Jung tidak memiliki konsep-konsep perkembangan yang menerangkan pertumbuhan jiwa.

Akan tetapi, kritik terpenting dari Glover dan merupakan salah satu kritik yang di tegaskannya berkali-kali ialah bahwa psikologi Jung mundur kembali kepada psikologi kesadaran yang ketinggalan zaman. Ia menuduh Jung mematahkan konsep Freud tentang ketidaksadaran dan menggantikannya dengan menciptakan ego sadar. Glover tidak berpura-pura netral ataau tidak memihak dalam evaluasinya terhadap pskologi Jung. (untuk perbandingan lain antara pandangan Freud dan Jung, lihat Gray, 1949; juga Dry 1961). Selesnick (1963) menyatakan bahwa Jung selama bersatu dengan Freud, telah mempengaruhi pemikiran Freud dalam beberapa hal yang penting.[9]

Teori Jung banyak menyentuh dunia religious, baik memakai pandangan agama untuk memahami kehidupan jiwa manusia, atau sebaliknya memakai pendekatan fenomenologik daripsikologi untuk memahami agama. Teori Jung masih bersifat konsep-konsep yang membutuhkan banyak hipotesa dan uji eksperiman. Fikiran-fikiran dan konsep-konsep Jung yang orisinil dan berani dalam mengungkap isi-isi jiwa manusia, setara dengan karya Freud.

Jung di kritik dalam pemakaian metoda riset komparatif, pengabaian kontrol dalam eksperimen, dan konsepnya mengenai taksadar kolektif, bersifat spekulatif. Teorinya dikembangkan dari pengalaman-pengelaman pribadi, seperti halusinasi, depresi – keinginan bunuh diri, dan agresi, sukar di buktikan secara ilmiah. Ketertarikan/keterlibatannya dengan okultisme, agama dan mintologi, membuat semakin jauh dari analisis ilmiah

Adapun kritik terhadap teori Jung, diantaranya:

  1. Delapan subtype yang dikembangkan oleh Jung cukup rumit untuk dipahami.
  2. Walaupun Jung mengkritik teori ketidaksadaran Freud, sebenarnya Jung mengembangkan teori psikoanalisisnya Freud. Sehingga Jung dianggap mengembangkan teori sebelumnya dan bukan membuat teori baru.
  3. Teori Jung cukup rumit karena dalam penggambaran manusia tidak bisa dari satu sisi saja. Namun ini sekaligus menjadi keunggulan dalam teorinya karena memandang manusia tidak secara subjektif.

Di sisi positifnya, Jung dipuji karena banyak memberikan konsep orisinil bagi teori kepribadian. Dialah teorisi modern pertama yang mendiskusikan proses realisasi-diri ini, yang saat ini begitu populer di teori kepribadian. Dia juga teorisi modern pertama yang menekankan aspek masa depan bagi perilaku manusia.

Yang juga berkaitan dengan idenya ini, adalah penekanan teori kepribadian untuk mencari tujuan dan makna hidup manusia. Tema yang terakhir sekarang lebih dieksplorasi oleh teori-teori kepribadian eksistensial-humanistik. Teori Jung sangat optimis tentang takdir manusia, berbeda dari teori Freud yang pesimis. Teori Jung menekankan meraih kedirian sebagai motif uama perilaku manusia, lebih daripada impuls-impuls seks dan pengalaman-pengalaman awal yang ditekankan Freud.

Entah bagaimana, teori Jung menciptakan sebuah gambaran tentang psikhe yang diyakini sesuai zaman-zaman kita hidup. Ia menyisakan bagi kita sebuah gambaran psikhe yang didorong oleh masa lalu, ditarik oleh masa depan, dan upaya untuk memahami secara masuk akal masa kini. Adalah psikhe yang kompleks yang berusaha mengekspresikan berbagai komponennya. Psikhe seperti ini menghasilkan jangkauan luas perilaku dan kepentingan, dan beberapa di antaranya mungkin dianggap ganjil. Namun, di luar kritik yang diterima, teori Jungian tetap populer di lingkaran psikologi kontemporer.

Menurut Kirsch (2000), di pertengahan 1960-an, popularitas psiko’ logi Jungian mulai merosot dan kelompok-kelompok profesional Jungian mulai bertebaran di seluruh Eropa Barat dan Amerika Serikat. Di tahun 1970-an, kelompok-kelompok Jungian terbentuk di Amerika Latin, Austra/ lia dan Selandia Baru, selain juga mulai muncul minat di Afrika Selatan, Ief pang dan Korea. Di tahun 1989, minat kepada psikologi. analitik tersebar ke Eropa Barat dan bekas Uni Soviet. Dewasa ini, muncul juga minat di Cina sehingga, simpul Kirsch, ”saat ini, psikologi analitis sudah menjadi intemasional” (hlm. xxiv). Untuk bukti lebih jauh terkait popularitas teori Jungian di dalam psikologi kontemporer, lihat DeAngelis (1994).

  1. KELEBIHAN TEORI KEPRIBADIAN CARL GUSTAV JUNG
  2. Dapat menyelidiki sejarah manusia tentang asal usul ras dan evolusi kepribadian

Jung berpendapat bahwa sejarah manusia itu dari nenek moyang kita. Sehingga evolusi kepribadian manusia sangat erat kaitannya dengan nenek moyang dan pengaruh –pengaruhnya. Maka dari itu Jung menjelaskan bahwa kepribadian manusia itu tidak lepas dari keberadaan leluhur-leluhur kita.

  1. Dapat memberi ide-ide yang brilian terhadap konsep kepribadian.

Memang Jung itu tidak banyak dikenal dalam tulisan-tulisan. Tetapi Jung lebih banyak memberi masukan ide mengenai tulisan tersebut. Ide yang Jung dapatkan biasanya secara tidak sengaja  atau spontan yang kebetulan pikiran Jung itu sama dengan pikiran orang pada waktu itu. Akibat iklim intelektual yang sedang berlaku ternyata ide Jung itu menyebar luas. Contoh ide tersebut adalah  konsepsi tentang releasi diri. Konsepsi tersebut banya ditemukan di tulisannya Gold-Stein, Rogers,Angyal,Allport dll. Jung tidak pernah tercantum namanya dalam tulisan tersebut, hal ini tidak berarti bahwa Jung tidak berpengaruh , baik secara langsung maupun tidak langsung. Bisa jadi mereka meminjam ide Jung secara tidak sadar.

  1. Keberanian dan keaslian pemikiran Jung tidak ada yang menyamainya.
  2. Dalam sejarah perkembangan teori Jung memang terkenal teori yang beda dengan yang lain. Jung berani mengungkapkan sisi lain dibalik kepribadian manusia. Jung menyebutnya “Jiwa Manusia”. Dengan bertumbuhnya kecendurungan masyarakat Barat khususnya orang muda yang berfikir kearah introvensi, fenomenologi, eksistensialisme, meditai, kerohanian, ilmu mistik, ilmu gaib. Maka pendapat Jung akhir-akhir tahun ini mendapat tanggapan positif.
  3. Jung menyelidiki sejarah manusia untuk mengungkap apa saja yang bisa    diungkapnya tentang asal – usul ras dan evolusi kepribadian.

 

  1. Teori Jung memberikan tekanan yang kuat pada dasar–dasar ras dan filogenetik  kepribadian.

Kekurangan Teori Carl Gustav Jung

  1. Teori jung banyak mendapat kritikan dari ilmuan psikodinamis lainnya.

Teori jung banyak ditentang karena Jung menjelaskan teori itu tidak tepat. Misalkan saja Beberapa elemen dari ketidakskhuadaran kolektif menjadi sangat berkembang kemudian disebut sebagai arketipe – arketipe. Pengertian arketipe yang paling meluas adalah gagasan mengenai realisasi diri (self realization), yang hanya bisa dicapai dengan adanya keseimbangan antara dorongan-dorongan kepribadian yang berlawanan. Jadi, teori Jung mengungkapkan mengenai teori-teori yang berlawanan. Kepribadian seseorang meliputi introver dan ekstrover, rasional dan irrasional, laki-laki dan perempuan, kesadaran dan ketidaksadaran, serta didorong oleh kejadian-kejadian di masa laluyang ditarik oleh harapan-harapan di masa depan. Padahal teori itu tidak dapat dibuktikan dan Jung cenderung tidak memiliki konsep perkembangan yang menerangkan pertumbuhan jiwa.

  1. Teori ini lebih menjelaskan fenomena kepribadian dengan kekuatan gaib.

Teori Analitik Carl Jung berasumsi bahwa fenomena yang berhubungan dengan kekuatan ghaib atau magic  bisa dan memang berpengaruh pada kehidupan semua manusia. Jung percaya bahwa setiap dari kita termotivasi bukan hanya oleh pengalaman yang ditekan, namun juga oleh pengalaman emosional tertentu yang dipengaruhi oleh para leluhur yang sekarang disebut sebagai ketidaksadaran kolektif. Adanya ketidaksadaran kolektif pada teori Analitik Jung sekaligus menjadi pembeda paling mendasar terhadap teori Psikoanalisis Sigmund Freud.  Dengan menimbulkan perasaan tidak senang dikalangan psikolog.

  1. Banyak menggunakan simbol-simbol

Jung dalam idenya banyak menggunakan symbol-simbol yang tidak diketahui oleh semua orang , sehingga banyak psikolog yang tidak mengerti maksud dari ide Jung tersebut.

  1. Orientasi yang dibahas banyak, sedangkan pendapatnya selalu berkembang.

Jung terkesan tidak focus ketika dia mengungkapkan satu ide , belum dipahami oleh psikolog lainnya dia sudah mengungkapkan ide yang lain.

  1. Karya (tulisan) yang dihasilkan Jung banyak sekali dan bidang orientasinya sangat luas, sedang pendapatnya selalu berkembang sehingga teori teori Jung sebagai kesatuan tidak mudah dipahami.Gaya dari Jung dalam mengemukakan idenya dianggap oleh banyak psikolog tidak jelas, membingungkan dan tidak teratur. Oleh karena itu gagasan Jung banyak diabaikn orang

Studi Kasus

Jung adalah seorang sarjana dan seorang ilmuwan. Ia menemukan fakta-faktanya di mana-mana: dalam mitos-mitos kuno dan cerita-cerita dongeng modern; dalam kehidupan primitif dan peradaban modern; dalam agama Timur dan dunia-dunia Barat; dalam alkemi, astrologi, telepati jiwa dan kewaskitaan, dalam mimpi-mimpi dan penglihatan orang-orang normal; dalam antropologi, sejarah, kesusastraan, dan kesenian; dan dalam penelitian klinis dan eksperimental. Dalam sejumlah artikel dan buku, ia mengungkapkan data empiris yang menjadi dasar teorinya. Jung menegaskan bahwa ia lebih tertarik kepada penemuan fakta daripada perumusan teori-teori. ”Saya tidak memiliki sistem, saya berbicara mengenai fakta” (komunikasi pribadi dengan para penulis, 1954).

Karena sama sekali tidak mungkin meringkaskan sejumlah besar bahan empiris yang diberikan Jung dalam sejumlah tulisannya, kita terpaksa membatasi diri pada penyajian sebagian kecil saja dari penelitian khas yang dilakukan Jung.

Penelitian-penelitian pertama dari Jung yang menarik perhatian para psikolog menggunakan gabungan antara word association test dan gejala-gejala fisiologis emosi (Jung, 1973). Dalam word association test, suatu daftar baku kata-kata dibacakan kepada subjek satu demi satu dan orang itu disuruh menjawab dengan kata pertama yang muncul dalam pikirannya. Waktu yang dibutuhkan untuk menjawab kata dihitung dengan penghitung detik (stop watch). Dalam eksperimen Jung, perubahan-perubahan dalam pernapasan diukur dengan pneumograph yang diikatkan pada dada orang yang dites sedangkan perubahan-perubahan dalam daya konduksi elektris kulit diukur dengan psychogalvanometer yang diletakkan pada telapak tangan. Kedua pengukuran ini memberi bukti tambahan tentang reaksi-reaksi emosional yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata khusus pada daftar, karena sudah diketahui oleh umum bahwa pernafasan dan resistensi kulit dipengaruhi oleh emosi.

Jung menggunakan gejala-gejala ini untuk menggali kompleks-kompleks dalam diri pasien-pasien. Waktu yang terlalu lama dalam menjawab kata stimulus ditambah dengan pembahan pernapasan dan resistensi kulit menunjukkan bahwa suatu kompleks sudah berhasil disentuh dengan kata tersebut. Misalnya, apabila pernapasan orang menjadi tak teratur, resistansinya terhadap arus listrik menurun karena telapak tangannya berkeringat dan j awabannya terhadap kata ”ibu” sangat lambat, faktorfaktor ini mengisyaratkan adanya kompleks ibu. Apabila kata-kata lain yang berhubungan dengan ”ibu” diberi reaksi dengan cara yang sama, hal ini membenarkan adanya kompleks tersebut.

Seperti telah dikemukakan dalam bab yang terdahulu, Freud menerbitkan enam penelitian kasus yang panjang. Dalam setiap penelitian kasus ini, Freud berusaha menguraikan dinamika suatu keadaan patologis khusus, misalnya, Dora dan hysteria, Schreber dan paranoia. Kecuali beberapa studi kasus pendek yang diterbitkan sebelum terjadi keretakan hubungannya dengan Freud,

Jung tidak menulis satu pun penelitian kasus yang dapat disejajarkan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan Freud. Dalan Symbols of transformation (1952b), Jung menganalisis fantasi-fantasi seorang wanita muda Amerika yang dikenalnya hanya melalui suatu artikel dari psikolog Swiss, Theodore Flournoy.

Ini sama sekali bukan penelitian kasus; begitu pula analisisnya tentang serangkaian mimpi yang panjang dalam Psychology and alchemy (1944) atau analisisnya tentang serangkaian lukisan yang dikerjakan oleh seorang pasien dalamA study in the process ofindividuation (1950).

Dalam kasus-kasus ini, Jung menggunakan metode perbandingan dengan memakai sejarah, mitos, agama, dan etimologi untuk membuktikan dasar arkhetipe dari mimpimimpi dan fantasi-fantasi. Setelah perpecahannya dengan Freud, metode perbandingannya ini memberinya data dasar dan dukungan pokok bagi konsep-konsepnya.

Pembaca mungkin tidak akan dapat merangkumkan karyanya yang begitu banyak seperti Psychology and alchemy (1944), Alchemical studies (1942-1957 ),Aion (1951), dan M ysterium coniunctionis (1955b). Akan tetapi, pembaca akan menemukan contoh metodologi perbandingan Jung yang mudah dicernakan dalam Flying saucers: a, modern myth of things seen in the sky (1958), yang ditulis oleh Jung di masa tuanya.

Karena bukti tentang arkhetipe-arkhetipe sulit diperoleh hanya dari sumber-sumber kontemporer, maka Jung menaruh perhatian banyak pada mitologi, agama, alkemi, dan astrologi. Ia meneliti bidang-bidang yang telah diselidiki oleh beberapa psikolog, dan ia memperoleh banyak pengetahuan dalam bidang-bidang yang sulit dan kompleks, seperti agama Hindu, Taoisme, Yoga, Confucianisme, agama Kristen, astrologi, penelitian psikis, mentalitas primitif, dan alkemi.

Salah satu contoh yang sangat mengesankan dari usaha Jung dalam mengumpulkan bukti-bukti adanya arkhetipe-arkhetipe as bisa ditemukan dalam Psychology and alchemy (1944). Jung akin bahwa simbolisme alkemi yang kaya mengungkapkan banyak kalau bukan semua, arkhetipe manusia. Dalam Psychology and Alchemy ia menyelidiki suatu rangkaian luas mimpi yang dikumpulkan dari seorang pasien (bukan pasien Jung) berdasar. kan jalinan rumit dari simbolisme alkemi, dan ia menyimpulkan bahwa ciri-ciri dasar yang sama nampak pada keduanya. Itu merupakan karya seni analisis simbolis yang harus dibaca secara keseluruhan agar bisa menikmatinya. Beberapa contoh yang akan kami kemukakan dimaksudkan untuk memberikan kepada pembaca sekedar gambaran tentang metode Jung.

Bahan klinisnya terdiri atas lebih dari seribu mimpi dan penglihatan yang diperoleh dari seorang pemuda. Interpretasi dari sebagian yang dipilih dari mimpi-mimpi dan penglihatanpenglihatan ini mengisi paruh pertama buku. Sisanya berisi uraian ilmiah tentang alkemi dan hubungannya dengan simbolisme agama.

Dalam salah satu mimpi, sejumlah orang berjalan ke kiri mengelilingi lapangan persegi. Orang yang bermimpi tidak berada di tengah melainkan berdiri pada salah satu sisi. Mereka berkata bahwa seekor siamang harus disusun kembali (hlm. 1 19). Lapangan persegi itu adalah simbol dari tugas ahli alkemi, yakni memecahkan kesatuan asli serba kacau dari bahan pertama ke dalam empat unsur yang siap dipersatukan kembali ke dalam kesatuan yang lebih tinggi dan lebih sempurna.

Kesatuan yang sempurna digambarkan oleh lingkaran atau mandala yang tampak dalam mimpi, yakni berjalan mengelilingi lapangan persegi. Siamang atau kera melambangkan substansi alkemi yang misterius dan bersifat mentransformasikan, yakni bahan alkemi yang mengubah bahan dasar menjadi emas. Karena itu, mimpi ini menunjukkan bahwa pasien harus memindahkan ego sadarnya dari pusat kepribadian agar dorongan-dorongan primitif yang direpresikan bisa diubah.

Pasien hanya dapat mencapai keharmonisan batin dengan mengintegrasikan semua unsur dalam kepribadiannya, sama seperti ahli alkemi hanya dapat mencapai tujuannya (yang tidak pernah terjadi) dengan mencampurkan secara tepat unsur-unsur dasar. Dalam mimpi lain, sebuah gelas yang berisi zat agar-agar berdiri di atas meja di depan orang yang bermimpi (hlm. 168). Gelas disamakan alat alkemi yang digunakan untuk destilasi dan isinya adalah bahan tidak berbentuk yang diharapkan oleh ahli alkemi akan berubah menjadi lapis atau batu sang filsuf. Lambang-lambang alkemi dalam mimpi ini menunjukkan bahwa orang yang bermimpi itu berusaha atau mengharapkan supaya dirinya diubah menjadi sesuatu yang lebih baik.

Jika orang memimpikan air, hal itu menggambarkan daya regeneratif aqua vitae (air hidup) dari sang ahli alkemi; jika ia bermimpi mendapat bunga berwarna biru, maka bunga melambangkan tempat kelahiran fil ius philosophorum (wajah hermafroditik dari alkemi); dan jika ia bermimpi melemparkan mata uang emas ke tanah maka ia mengungkapkan cemoohannya terhadap cita-cita ahli alkemi. Apabila pasien menggambarkan roda maka Jung melihat hubungannya dengan roda ahli alkemi, yang melambangkan proses perputaran dalam tabung kimia di mana akan terjadi transformasi bahan. Dalam nada yang serupa, Jung menginterpretasikan permata yang muncul dalam mimpi pasien sebagai lapis yang didambakan, sedangkan telur ditafsirkan sebagai bahan dasar kaotik dengan mana ahli alkemi memulai pekerjaannya.

Dalam semua mimpi pada rangkaian di atas, sebagaimana diperlihatkan Jung, maka terdapat paralel yang kuat sekali antara lambang yang digunakan orang yang bermimpi untuk mengungkapkan masalah-m asalah dan tujuan-tujuannya dengan lambang-lambang yang digunakan ahli-ahli alkemi pada abad pertengahan dalam melaksanakan tugasnya.

Segi yang mencolok dari rangkaian mimpi adalah gambaran yang sedikit banyak cocok dengan aspek-aspek bahan alkemi. Jung dapat menunjukkan duplikasi yang tepat antara obj ek-objek dalam mimpi-mimpi dan dalam ilustrasi-ilustrasi yang ditemukan dalam teks-teks alkemi kuno. Ia menyimpulkan dari hal ini bahwa dinamika kepribadian ahli alkemi abad pertengahan sebagaimana diproyeksikan ke dalam penelitian-penelitian kimianya dan dinamika kepribadian pasiennya persis sama.

Kesamaan dari gambaran-gambaran ini membuktikan adanya arkhetipe-arkhetipe universal. Tambahan lagi, Jung yang telah melakukan penelitian-penelitian antropologis di Afrika dan di bagian dunia lainnya, menemukan arkhetipe-arkhetipe sama yang diungkapkan dalam mitos-mitos bangsa primitif. Arkhetipe-arkhetipe itu juga diungkapkan dalam agama dan kesenian baik yang modern maupun yang primitif. ”Bentuk-bentuk yang dialami dalam masing-masing individu mungkin Variasi-variasinya tak terhingga, tetapi dalam lambang-lambang alkemis, semua bentuk itu merupakan variasi dari tipe-tipe pokok tertentu, dan ini terjadi di mana-mana” (Jung, 1944, hlm. 463).

Sama seperti Freud, Jung sangat memperhatikan mimpi-mimpi. Ia melihat bahwa isi mimpi-mimpi bersifat prospektif dan retrospektif dan merupakan kompensasi bagi aspek-aspek orang yang bermimpi yang diabaikan dalam kehidupan sadar. Misalnya, seorang pria yang mengabaikan animanya akan memiliki mimpimimpi di mana figur-figur animanya nampak. Jung juga membedakan antara mimpi-mimpi ”besar” di mana banyak terdapat bayangan-bayangan arkhetipe dan mimpi-mimpi ”kecil”, yakni mimpi-mimpi yang lebih erat hubungannya dengan pikiran-pikiran sadar dari orang yang bermimpi.

METODE AMPLIFIKASI. Metode ini dipakai Jung untuk menjelaskan unsur-unsur tertentu dalam mimpi-mimpi yang dianggap memiliki arti simbolik yang kaya. Metode ini berbeda dengan metode asosiasi bebas. Dalam asosiasi bebas, orang biasanya memberikan serangkaian jawaban dengan kata-kata (verbal) yang panjang terhadap suatu unsur mimpi. Unsur mimpi hanya merupakan titik tolak bagi asosiasi-asosiasi bebas yang berikutnya, dan asosiasi-asosiasi dapat dan biasanya benar-benar bergeser dari unsur itu.

Dalam metode amplifikasi, orang yang bermimpi diminta untuk mempertahankan unsur tersebut dan memberinya asosiasi-asosiasi ganda. J awaban-jawaban yang diberikannya membentuk konstelasi sekitar unsur mimpi khusus, dan memberi banyak arti bagi orang yang bermimpi. Jung beranggapan bahwa lambang sejati adalah lambang yang memiliki banyak muka dan sama sekali tidak pernah dapat diketahui maknanya.

Para analis dapat juga membantu menjelaskan unsur itu dengan mengutarakan apa yang mereka ketahui tentang lambang itu. Mereka dapat mencari keterangan dari tulisan-tulisan kuno, mitologi, ceritacerita dongeng, teks-teks agama, etnologi, dan kamus-kamus etimologi untuk memperluas arti-arti dari unsur simbolik itu. Ada banyak contoh amplifikasi dalam tulisan-tulisan Jung, misalnya ikan ( 1951) dan pohon (1954c).

METODE RANGKAIAN MIMPI. Kita tahu bahwa Freud menganalisis mimpi-mimpi satu demi satu dengan menyuruh pasien melakukan asosiasi bebas terhadap setiap komponen mimpi berturut-turut. Kemudian dengan menggunakan bahan mimpi dan asosiasi-asosiasi bebas, Freud sampai pada interpretasi tentang arti mimpi. Meskipun tidak menolak pendekatan ini, namun Jung telah mengembangkan metode lain untuk menginterpretasikan mimpi-mimpi. Daripada hanya satu mimpi, Jung menggunakan suatu rangkaian mimpi yang diperoleh dari seseorang.

… mereka (mimpi-mimpi) membentuk suatu rangkaian yang koheren, sehingga maknanya berangsur-angsur tersingkap dengan sendirinya. Rangkaian adalah konteks yang diberikan sendiri oleh orang yang bermimpi. Seakan-akan tidak hanya satu teks tetapi banyak teks terletak di hadapan kita, yang memancarkan cahaya dari semua sisi dalam istilah-istilah yang tidak diketahui, sehingga dengan membaca semua teks cukuplah untuk menjelaskan bagianbagian yang sulit dalam masing-masing teks Tentu interpretasi tentang masing-masing bagian semata-mata berdasarkan terkaan, tetapi rangkaian secara keseluruhannya memberi kita semua petunjuk yang diperlukan untuk mengoreksi setiap kekeliruan yang mungkin ada dalam bagian-bagian sebelumnya (1944, hlm. 12).

Dalam psikologi, hal ini disebut metode konsistensi internal (internal consistency), dan digunakan secara luas untuk bahan kualitatif, seperti mimpi-mimpi, cerita-cerita, dan fantasi-fantasi. Penggunaan metode ini dengan sebaik-baiknya diperlihatkan Jung dalam bukunya Psychology and alchemy ( 1944) di mana suatu rangkaian mimpi yang sangat panjang dianalisis.

METODE IMAJINASI AKTIF. Dalam metode ini subjek disuruh memusatkan perhatiannya pada gambaran mimpi yang mengesankan tetapi tidak dapat dimengerti, atau pada gambaran visual yang spontan dan mengamati apa yang terjadi dengan gambaran itu. Kemampuan-kemampuan untuk mengritik harus ditangguhkan, dan peristiwa-peristiwa itu diamati dan dicatat dengan sungguh-sungguh objektif.

Apabila kondisi-kondisi ini diamati dengan tekun, maka gambarannya biasanya akan mengalami suatu rangkaian perubahan yang menjelaskan sejumlah besar bahan tak sadar. Contoh berikut diambil dari Essays on a science of mithology karangan Jung dan Kerenyi (1949); Saya melihat seekor burung putih dengan sayap terentang. Burung itu hinggap pada sosok tubuh seorang wanita yang berpakaian biru, yang duduk di sana seperti patung antik. Burung itu bertengger pada tangannya, dan di tangannya itu ada sebutir gandum. Burung itu mencotoknya dan terbang lagi ke udara (hlm. 229).

Jung menunjukkan bahwa menggambar, melukis dan mematung dapat digunakan untuk melukiskan aliran imaji-imaji. Dalam contoh di atas, orang melukis suatu gambar untuk mengiringi deskripsi verbalnya. Dalam gambar itu, wanitanya digambarkan memiliki buah dada besar yang memberi kesan pada Jung bahwa khayalan tersebut mengungkapkan figur ibu. [Suatu seri yang terdiri dari 24 gambar menarik yang dilukis oleh seorang wanita selama ia dianalisis, disajikan dalam Jung (1950).]

Fantasi-fantasi yang ditimbu Ikan oleh imanjinasi aktifbiasanya memiliki bentuk yang lebih baik daripada mimpi-mimpi pada malam hari, karena fantasi-fantasi tersebut diterima oleh kesadaran dalam keadaan jaga bukan dalam keadaan tidur.

Daftar Pustaka

Psikologi Individual

Psikologi individual adalah teori kepribadian yang dikembangkan oleh Alfred Adler. Menurut Adler manusia dilahirkan dalam keadaan tubuh yang lemah; kondisi ketidak berdayaan yang menimbulkan perasaan inferior (merasa lemah atau tidak mampu) dan ketergantungan kepada orang lain (makhluk yang saling tergantung secara sosial); perasaan bersatu dengan orang lain ada sejak manusia dilahirkan dan menjadi syarat utama kesehatan jiwanya.

Berdasarkan paradigma tersebut kemudian Adler mengembangkan teorinya yang disajikan pada uraian berikut.

Individualitas sebagai pokok persoalan

Adler memilih nama Individual psychology dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa tiap orang itu unik dan tidak dapat dipecah (Alwisol, 2005: 90). Psikologi individual menekankan kesatuan kepribadian. Menurut Adler tiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas, dan tiap perilakunya menunjukkan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual, yang diarahkan pada tujuan tertentu.

Kesadaran dan Ketidak Sadaran

Adler memandang unitas (kesatuan) kepribadian juga terjadi antara kesadaran dan ketidak sadaran (Alwisol, 2005: 92). Menurut Adler, tingkah laku tidak sadar adalah bagian dari tujuan final yang belum terformulasi dan belum terpahami secara jelas. Adler menolak pandangan bahwa kesadaran dan ketidaksadaran adalah bagian yang bekerja sama dalam sistem yang unify. Pikiran sadar, menurut Adler, adalah apa saja yang dipahami dan diterima individu serta dapat membantu perjuangan mencapai keberhasilan. Sedangkan apa saja yang tidak membantu hal tersebut akan ditekan ke ketidak sadaran, apakah pikiran itu disadari atau tidak tujuannya satu yaitu untuk menjadi super atau mencapai keberhasilan.

Jika Freud memakai gunung es sebagai ilustrasi yang menggambarkan hubungan dan perbandingan antara alam sadar dan alam tak sadar, Adler memakai ilustrasi mahkota pohon dan akar, keduanya berkembang ke arah yang berbeda untuk mencapai kehidupan yang sama.

Dua Dorongan Pokok

Dalam diri tiap individu terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatar belakangi segala perilakunya, yaitu:

  1. Dorongan kemasyarakatan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan orang lain;
  2. Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan diri sendiri.

Perjuangan ke Arah Superior

Adler meyakini bahwa manusia dilahirkan disertai dengan perasaan rendah diri. Seketika individu menyadari eksistensinya, ia merasa rendah diri akan perannya dalam lingkungan. Individu melihat bahwa banyak mahluk lain yang memiliki kemampuan meraih sesuatu yang tidak dapat dilakukannya. Perasaan rendah diri ini mencul ketika individu ingin menyaingi kekuatan dan kemampuan orang lain. Misal, anak merasa diri kurang jika dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itu ia terdorong untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi. Jika telah mencapai taraf perkembangan tertentu, maka timbul lagi rasa kurang untuk mencapai taraf berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga individu dengan rasa rendah dirinya ini tampak dinamis mencapai kesempurnaan dirinya. Teori Adler mengenai perasaan rendah diri ini berawal dari pengamatannya atas penderitaan pasien-pasiennya yang seringkali mengeluh sakit pada daerah tertentu pada tubuhnya, mengenai psikosomatis, Adler mengatakan bahwa rasa sakit yang diderita individu sebenarnya adalah usaha untuk memecahkan masalah-masalah nonfisik.

Keadaan tersebut, menurut Adler disebabkan adanya kekurang sempurnaan pada daerah-daerah tubuh tersebut, yang dikatakannya sebagai organ penyebab rendah diri (organ inferiority). Jadi manusia lahir memang tidak sempurna, atau secara potensial memiliki kelemahan dalam organ tubuhnya. Adanya stress menyebabkan organ lemah ini terganggu. Karenanya, tiap orang selalu berusaha mengkompensasikan kelemahannya dengan segala daya. Dalam hal ini usaha kompensasi ini ditentukan oleh gaya hidup dan usaha mencapai kesempurnaan (superior). Individu yang jiwanya tidak sehat mengembangkan perasaan inferioritasnya secara berlebihan dan berusaha mengkompensasikannya dengan membuat tujuan menjadi superioritas personal. Sebaliknya, orang yang sehat jiwanya dimotivasi oleh perasaan normal ketidak lengkapan diri dan minat sosial yang tinggi. Mereka berjuang menjadi sukses, mengacu kekesempurnaan dan kebahagiaan siapa saja.

Pada tahun 1908, Adler telah mencapai kesimpulan bahwa agresi lebih penting daripada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu diganti dengan “hasrat akan kekuasaan’. Adler mengidentifikasikan kekuasaan dengan sifat maskulin dan kelemahan dengan sifat feminin. Pada tahap pemikiran inilah (kira-kira tahun 1900) ia mengemukakan ide tentang “protes maskulin” suatu bentuk kompensasi berlebihan yang dilakukan baik oleh pria maupun wanita jika mereka merasa tidak mampu dan rendah diri.  Kemudian, Adler menggantikan “hasrat akan kekuasaan” dengan “perjuangan kearah superioritas” yang tetap dipakainya untuk seterusnya. Jadi ada tiga tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yakni: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.

Adler menegaskan bahwa superioritas bukan pengkotakan sosial, kepemimpinan, atau kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Tetapi superioritas yang dimaksudkan Adler adalah sesuatu yang sangat mirip dengan konsep Jung tentang diri atau prinsip aktualisasi diri dari Goldstein. Superioritas adalah perjuangan kearah kesempurnaan. Ia merupakan “dorongan kuat ke atas”. Dengan kata lain, perjuangan menuju superioritas merupakan tujuan final yang diperjuangkan oleh manusia dan memberi konsistensi dan kesatuan pada kepribadian.

Saya mulai melihat dengan jelas dalam tiap gejala psikologi perjuangan kearah superioritas. Perjuangan itu berjalan sejajar dengan pertumbuhan fisik dan merupakan suatu kebutuhan yang ada dalam kehidupan sendiri. Dorongan itu merupakan akar dari semua pemecahan masalah hidup dan tampak dari cara kita memecahkan masalah ini. Semua fungsi kita mengikuti jejaknya. Mereka berjuang mendambakan kemenangan, rasa aman, peningkatan, entah dalam arah yang benar atau salah. Impetus dari minus ke plus tidak pernah berakhir. Dasar pemikiran apapun yang diimpikan semua filsuf dan psikolog kita – pelestarian diri, prinsip kenikmatan, ekualisasi – semuanya hanya merupakan gambar kabur, usaha – usaha untuk melukiskan dorongan kuat ke atas (Adler 1930: 398 dalam Hall and Lindzey, 1993:245) 

Adler menyatakan bahwa perjuangan ini bersifat bawaan, bahwa ia merupakan bagian dari hidup, malahan hidup itu sendiri. Dari lahir sampai mati perjuangan kearah superioritas itu membawa sang pribadi dari satu tahap perkembangan ke tahap – tahap perkembangan berikutnya yang lebih tinggi. Ia merupakan prinsip prepoten. Dorongan-dorongan tidak terpisah, Karena masing-masing dorongan mendapatkan dayanya dari perjuangan kearah kesempurnaan. Adler mengakui bahwa dorongan kearah superioritas itu menjelma dengan beribu-ribu cara yang berbeda-beda (gaya hidup), dan bahwa tiap orang mempunyai cara kongkret masing-masing untuk mencapai atau berusaha mencapai kesempurnaan.

Gaya Hidup (Style of Life)

Gaya hidup menunjuk pada bagaimana seseorang menunjukkan hidupnya, ataupun bagaimana seseorang mengatasi permasalahan dan hubungan interpersonalnya. Adler menyatakan dalam Boeree (2006: 6).

The style of life of a tree is the individuality of a tree expressing it self and molding itself in an environment. We recognize a style when we see it against a background of an environment different from what we expect, for then we realize that every tree has a life pattern and is not merely a mechanical reaction to the environment.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa gaya hidup itu diibaratkan seperti sebuah pohon kepribadian yang dapat tumbuh melalui ekspresi dirinya dan pembentukan dari lingkungan. Boeree (2006: 6) juga menambahkan mengenai pengenalan tiap gaya ketika melihat sesuatu yang memiliki perbedaan latar belakang lingkungan dari apa yang kita perkirakan sebelumnya, kemudian kita menyadari bahwa tiap “pohon” telah memiliki pola kehidupan yang berbeda dan hal itu tidak selalu sebuah reaksi mekanis lingkungan.

Pernyataan lain menegaskan mengenai konsep kunci istilah gaya hidup dalam psikologi individu adalah kompleks dari filosofi individu, kepercayaan dan pendekatan karakteristik dalam kehidupan, dan kesatuan dalam kepribadian seseorang. Gaya hidup mereseprentasikan individu yang merespon secara subjektif dalam tiap pengalaman hidupnya, yang akan mempengaruhi seluruh persepsi dirinya dan persepsi terhadap dunia, emosi, motivasi dan perilaku. Hal ini telah diperkenalkan Adler dalam istilah “gaya hidup” dari sebuah awal ekspresi seperti “garis pemandu” dan “pohon kehidupan” (Adler, 1997: 162)

Gaya hidup yang diikuti individu adalah kombinasi dari dua hal, yakni dorongan dari dalam diri (the inner self driven) yang mengatur arah perilaku, dan dorongan dari lingkungan yang mungkin dapat menambah, atau menghambat arah dorongan dari dalam tadi. Dari dua dorongan itu, yang terpenting adalah dorongan dalam diri (inner self) itu. Bahwa karena peranan dalam diri ini, suatu peristiwa yang sama dapat ditafsirkan berbeda oleh dua orang manusia yang mengalaminya. Dengan adanya dorongan dalam diri ini, manusia dapat menafsirkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, bahkan memiliki kapasitas untuk menghindari atau menyerangnya. Bagi Adler, manusia mempunyai kekuatan yang cukup, sekalipun tidak sepenuhnya bebas, untuk mengatur kehidupannya sendiri secara wajar. Jadi dalam hal ini Adler tidak menerima pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah produk dari lingkungan sepenuhnya. Menurut Adler, justru jauh lebih banyak hal-hal yang muncul dan berkembang dalam diri manusia yang mempengaruhi gaya hidupnya. Gaya hidup manusia tidak ada yang identik sama, sekalipun pada orang kembar. Sekurang-kurangnya ada dua kekuatan yang dituntut untuk menunjukkan gaya hidup seseorang yang unik, yakni kekuatan dari dalam diri yang dibawa sejak lahir dan kekuatan yang datang dari lingkungan yang dimasuki individu tersebut.

Dengan adanya perbedaan lingkungan dan pembawaan, maka tidak ada manusia yang berperilaku dalam cara yang sama. Gaya hidup seseorang sering menentukan kualitas tafsiran yang bersifat tunggal atas semua pengalaman yang dijumpai manusia. Misal, individu yang gaya hidupnya  berkisar pada perasaan diabaikan (feeling of neglect) dan perasaan tak disenangi (being unloved) menafsirkan semua pengalamannya dari cara pandang tersebut. misal ia merasa bahwa semua orang yang ingin mengadakan kontak komunikasi dipandangnya sebagai usaha untuk menggantikan perasaan tak disayangi tersebut. Gaya hidup seseorang telah terbentuk pada usia tiga sampai lima tahun. Gaya hidup yang sudah terbentuk tak dapat diubah lagi, meski cara pengekspresiannya dapat berubah. Jadi gaya hidup itu tetap atau konstan dalam diri manusia.

Apa yang berubah hanya cara untuk mencapai tujuan dan kriteria tafsiran yang digunakan untuk memuaskan gaya hidup. Misal, bagi anak yang merasa memiliki gaya hidup tidak disayangi, adalah lebih baik praktis untuk membentuk tujuan semu bahwa kasih sayang baginya tidak begitu penting dibandingkan dengan usaha meyakinkan bahwa tidak dicintai pada masa lalu tidak penting baginya, dan bahwa meyakinkan kemungkinan untuk dicintai pada masa yang akan datang diharapkan dapat memperbaiki peristiwa masa lampau. Perubahan gaya hidup meski mungkin dapat dilakukan, akan tetapi kemungkinannya sangat sukar, karena beberapa pertimbangan emosi, energi, dan pertumbuhan gaya hidup itu sendiri yang mungkin keliru. Karenannya jauh lebih mudah melanjutkan gaya hidup yang telah ada dari pada mengubahnya. Mengenai bagaimana gaya hidup itu berkembang, dan kekuatan yang mempengaruhinya, menurut Adler dapat dipelajari dengan meyakini bahwa perasaan rendah diri itu bersifat universal pada semua manusia, dan berikutnya karena adanya usaha untuk mencapai superioritas. Akan tetapi ada karakteristik umum yang berasal dari sumber lain di luar dirinya yang turut menentukan keunikan kepribadian individu, yakni kehadiran kondisi sosial, psikologis, dan fisik yang unik pada tiap manusia. Dikatakan, bahwa tiap manusia mencoba menangani pengaruh-pengaruh itu. Faktor yang khusus yang dapat menyebabkan gaya hidup yang salah adalah pengalaman masa kecil, banyaknya saudara, dan urutan dalam keluarga.

Adler juga menemukan tiga faktor lainnya yang dapat menyebabkan gaya hidup keliru dalam masyarakat dan menyebabkan kehidupan manusia tidak bahagia. Ketika anak-anak yang dimanja atau dikerasi, dan masa kanak-kanak yang diacuhkan oleh orang tuanya. Pada anak cacat tubuh, perasaan rendah diri akan lebih besar dari pada anak yang sehat fisiknya. Biasanya reaksi yang muncul ada yang menyerah pada keadaan dikalahkan oleh lingkungan, akan tetapi ada juga yang berusaha mengkonpensasikannya pada bidang yang jauh dari bakat normal pada orang biasa, misal berhasil dalam kegiatan olahraga, kesenian, atau industri.

Minat Sosial (Social Interest)

Adler berpendapat bahwa minat sosial adalah bagian dari hakikat manusia dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkah laku tiap orang. Manusia dilahirkan dikaruniai minat sosial yang bersifat universal. Kebutuhan ini terwujud dalam komunikasi dengan orang lain, yang pada masa bayi mulai berkembang melalui komunikasi anak dengan orang tua. Proses sosialisasi membutuhkan waktu banyak dan usaha yang berkelanjutan. Dimulai pada lingkungan keluarga, kemudian pada usia 4-5 tahun dilanjutkan pada lingkungan pendidikan dasar dimana anak mulai mengidentifikasi kelompok sosialnya.

Individu diarahkan untuk memelihara dan memperkuat perasaan minat sosialnya ini dan meningkatkan kepedulian pada orang lain. Melalui empati, individu dapat belajar apa yang dirasakan orang lain sebagai kelemahannya dan mencoba memberi bantuan kepadanya. Individu juga belajar untuk melatih munculnya perasaan superior sehingga jika saatnya tiba, ia dapat mengendalikannya. Proses-proses ini akan dapat memperkaya perasaan superior dan memperkuat minat sosial yang mulai dikembangkannya.

Minat sosial membuat individu mampu berjuang mengejar superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke salah suai. Bahwa semua kegagalan, neurotik, psikotik, kriminal, pemabuk, anak bermasalah, dan seterusnya, menurut Adler terjadi karena penderita kurang memiliki minat sosial.

Mereka menyelesaikan masalah pekerjaan, persahabatan, dan seks tanpa keyakinan bahwa itu dapat dipecahkan dengan kerjasama. Makna yang diberikan kepada kehidupannya adalah nilai privat. Tidak ada orang lain yang mendapat keuntungan berkat tercapainya tujuan mereka. Tujuan keberhasilan mereka adalah superioritas personal, dan kejayaan/keberhasilan mereka hanya berarti bagi mereka sendiri.

Many people believe that they are superior and dominant when they express their sexual instict polygamously. They therefore have they therefore have sexual relationships with many partners, and it is easy to see that they deliberately overstess their sexual desires for psychological reasons. The resultant illution that they are conquerors serves as a compensation for an inferiority complex. It is the inferiority complex that is at the core of sexual abnormalities. A person who suffers from an inferiority complex is always looking for the easiest way out, and sometimes finds this by excluding most aspects of life and exaggerating sexuality. (Adler,1997: 154)

Kekuatan Diri Kreatif  (Creative Power of the Self)

Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian individu, sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Dengan prinsip ini Adler ingin menjelaskan bahwa manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia lebih dari sekedar produk lingkungan atau mahluk yang memiliki pembawaan khusus. Ia adalah yang menafsirkan kehidupannya. Individu menciptakan struktur pembawaan, menafsirkan kesan yang diterima dari lingkungan kehidupannya, mencari pengalaman yang baru untuk memenuhi keinginan untuk superior, dan meramu semua itu sehingga tercipta diri yang berbeda dari orang lain, yang mempunyai gaya hidup sendiri.

Diri kreatif adalah sarana yang mengolah fakta-fakta dunia dan menstransformasikan fakta-fakta itu menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamik, menyatu, personal, dan unik.

Creative power is a dynamic concept implying movement, and this movement is the most salient characteristic of life. All psychic life involves movement toward a goal, movement with a direction (Adler dalam Feist 1998: 79).

Adler dalam Feist (1998: 79) menyatakan bahwa keturunan memberi “kemampuan tertentu” dan lingkungan member “kesan tertentu”. Keduanya mengkolaborasi individu dalam menginterpretasi dan bersikap terhadap kehidupan dan hubungan-hubungan dengan dunia luar.

Tiap orang memiliki kekuatan untuk bebas menciptakan gaya hidupnya sendiri-sendiri. Manusia itu sendiri yang bertanggung jawab tentang siapa dirinya dan bagaimanan dia bertingkahlaku. Manusia mempunyai kekuatan kreatif untuk mengontrol kehidupan dirinya, bertanggung jawab mengenai tujuan finalnya, menentukan cara memperjuangkan tujuan itu, dan menyumbang pengembangan minat sosial. Kekuatan diri kreatif itu membuat tiap manusia bebas, bergerak menuju tujuan yang terarah.

Tujuan Final yang Semu (Fictional Final Goals)

Adler menerapkan istilah finalisme dengan gagasan bahwa kita memiliki tujuan akhir, keadaan akhir, dan kebutuhan untuk bergerak ke arahnya. Tujuan yang kita perjuangkan, bagaimanapun, adalah potensi, bukan aktualitas. Dengan kata lain, kita mengupayakan cita-cita yang ada di dalam kita secara subyektif. Adler percaya bahwa tujuan kita adalah cita-cita ideal atau nyata yang tidak dapat diuji terhadap kenyataan. Kita menjalani hidup kita di sekitar cita-cita seperti keyakinan bahwa semua orang diciptakan setara atau semua orang pada dasarnya baik. Tujuan hidup Adler adalah menaklukkan kematian; Cara dia berusaha mencapai tujuan itu adalah menjadi seorang dokter (Hoffman, 1994).

Keyakinan ini mempengaruhi cara kita memandang dan berinteraksi dengan orang lain. Misal, jika kita percaya bahwa berperilaku dengan cara tertentu akan memberi kita penghargaan di surga atau kehidupan setelah kematian, kita akan mencoba untuk bertindak sesuai dengan kepercayaan itu. Keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian tidak didasarkan pada kenyataan obyektif, tapi nyata bagi orang yang memegang pandangan itu.

Adler meresmikan konsep ini sebagai finalisme fiksi, gagasan bahwa gagasan fiktif membimbing perilaku kita saat kita berusaha menuju keadaan utuh atau utuh. Kita mengarahkan perjalanan hidup kita dengan banyak fiksi seperti itu, tapi yang paling meresap adalah cita-cita kesempurnaan. Dia mengemukakan bahwa rumusan terbaik ideal yang dikembangkan manusia sejauh ini adalah konsep Tuhan. Adler lebih menyukai istilah “tujuan akhir subjektif” atau “membimbing cita-cita diri sendiri” untuk menggambarkan konsep ini, namun terus dikenal sebagai “finalisme fiksi” (Watts & Holden, 1994).

Ada dua poin tambahan tentang memperjuangkan keunggulan. Pertama, ia meningkat daripada mengurangi ketegangan. Tidak seperti Freud, Adler tidak percaya bahwa satu-satunya motivasi kita adalah mengurangi ketegangan. Berjuang untuk kesempurnaan membutuhkan pengeluaran energi dan usaha yang besar, sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan keseimbangan atau keadaan tanpa ketegangan. Kedua, perjuangan untuk superioritas dimanifestasikan baik oleh individu maupun masyarakat. Sebagian besar dari kita adalah makhluk sosial. Kami berusaha untuk superioritas atau kesempurnaan tidak hanya sebagai individu tapi juga sebagai anggota sebuah kelompok. Kita berusaha mencapai kesempurnaan budaya kita. Menurut Adler, individu dan masyarakat saling terkait dan saling tergantung. Orang harus berfungsi secara konstruktif dengan orang lain demi kebaikan semua orang.

Jadi, bagi Adler, manusia selalu berusaha mencapai cita-cita kesempurnaan yang ideal. Bagaimana dalam kehidupan kita sehari-hari kita mencoba mencapai tujuan ini? Adler menjawab pertanyaan ini dengan konsep gaya hidupnya.

Meski Adler mangakui bahwa masa lalu adalah penting, namun ia mengganggap bahwa yang terpenting adalah masa depan. Yang terpenting bukan apa yang telah individu lakukan, melainkan apa yang akan individu lakukan dengan diri kreatifnyaitu pada saat tertentu. Dikatakannya, tujuan akhir manusia akan dapat menerangkan perilaku manusia itu sendiri. Misalkan, seorang mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bukanlah didukung oleh prestasinya ketika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah, melainkan tujuannya mencapai gelar tersebut. usaha mengikuti tiap tingkat pendidikan adalah bentuk tujuan semunya, sebab kedua hal tidak menunjukkan sesuatu yang nyata, melainkan hanya perangkat semu yang menyajikan tujuan yang lebih besar dari tujuan-tujuan yang lebih jauh pada masa datang.

Dengan kata lain, tujuan yang dirumuskan individu adalah semua karena dibuat amat ideal untuk diperjuangkan sehingga mungkin saja tidak dapat direalisasikan. Tujuan fiksional atau semu ini tak dapat dipisahkan dari gaya hidup dan diri kreatif. Manusia bergerak ke arah superioritas melalui gaya hidup dan diri kreatifnya yang berawal dari perasaan rendah diri dan selalu ditarik oleh tujuan semu tadi. Tujuan semu yang dimaksud oleh Adler ialah pelaksanaan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia. Melalui diri keratifnya manusia dapat membuat tujuan semu dari kemampuan yang nyata ada dan pengalaman pribadinya. Kepribadian manusia sepenuhnya sadar akan tujuan semu dan selanjutnya menafsirkan apa yang terjadi sehari-hari dalam hidupnya dalam kaitannya dengan tujuan semu tersebut.

Finalisme Fiktif Adler dalam Tinjauan Filsafat

“Seseorang tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupnya,” menurut Adler (dalam Ansbacher & Ansbacher, 1964: 96), “jika dia tidak berorientasi pada tujuan. Manusia tidak bisa berpikir, merasakan, berhasrat, atau bertindak tanpa adanya persepsi atas tujuan.” Bagi Adler, memiliki sasaran dan tujuan hidup sangatlah penting bagi kristalisasi kepribadian dan kesejahteraan seseorang. Dalam kerangka teoritis ini, seperti yang ditulis oleh Karen John (2011: 1), “perilaku dipandang sebagai tujuan, sasaran-sasaran, penentuan atas nasib sendiri”.

Manusia menentukan tujuan sendiri dan menentukan gerakan sendiri melalui kehidupan, walaupun jarang sepenuhnya mereka menyadari tujuan atau mengapa mereka bersikap demikian. Istilah “sasaran” biasanya menunjukkan arah atau hasil yang diinginkan, destinasi sebuah perjalanan. Dalam mengemukakan sasaran tersirat keinginan, destinasi, dan perjalanan. Demikian pula “tujuan”, dari bahasa Latin proponere, yang berarti mengedepankan, biasanya didefinisikan sebagai alasan mengapa sesuatu dilakukan atau sesuatu ada—ia mengandung kebulatan tekad. Agar bisa bertindak sesuai tujuan, manusia membutuhkan keinginan dan dorongan untuk bergerak maju tanpa ragu. Memiliki sebuah tujuan berarti menginginkan sebuah hasil dan mengejarnya dengan pasti.

Pandangan Adler mengenai finalisme atau tujuan hidup tidak berhenti pada perumusan di atas. Dia tidak sekadar menjadi perintis psikologi pop kontemporer dari pemikiran positif dan manifestasi kehidupan yang orang damba. Dia tidak hanya menjadi pelopor publikasi self-help yang memenuhi rak-rak perpustakaan dan toko buku—yang bisa dibilang, jenis literatur yang memberikan aib pada psikologi. Sebagai gantinya, didukung oleh sikap filosofis yang diperhalus yang tercermin dalam pembacaannya terhadap Kant, Nietzsche, dan Vaihinger, Adler (dalam Ansbacher & Ansbacher, 1964) mencantumkan kata sifat yang ambigu terhadap kata “tujuan.” Kata sifat yang dipilih Adler tersebut adalah “fiktif”—dari bahasa Latin yang berarti “berusaha”, “menemukan” atau “membangun.” Dia berbicara tentang tujuan fiktif; tujuan penuntun seseorang adalah sesuatu yang penting namun fiktif. Bahwa tujuan itu bersifat fiktif adalah karena ketidakmampuan manusia yang melekat untuk memahami kenyataan, sehingga harus berusaha menciptakan gagasan sendiri tentang hal itu.

Berdasarkan filsafat Hans Valhinger dalam buku The Psychology of “as if ‘, pada tahun 1911. Fictional Finalism menunjukkan apa yang sedang diusahakan oleh seseorang individu itu untuk dipenuhi (kehendak) di masa mendatang. Tujuan yang sedang ditujui adalah Fictional Finalism yang mengarahkan perilaku seseorang itu seperti percaya dan yakinnya individu itu bahwa dirinya ada kemampuan untuk merealisasikan segala impian (fiksi) agar menjadi nyata di akhirnya.

Impian yang ingin dicapai seringkali bersifat ke arah kesempurnaan (guiding self ideal) dan idealistik. Ia ada dalam diri individu secara sadar atau tidak sadar. Selain itu, fiksi yang dirancang ini bersifat positif dan mampu mengemudi kejiwaan individu secara efektif sepanjang berhadapan dengan alam realitas. Misal, kepercayaan Muslim terhadap konsep neraka dan surga. Dua hal tersebut adalah suatu yang gaib dan penuh keajaiban.

Pandangan Adler yang dipengaruhi oleh filsafat Hans Vaihinger, yang bukunya berjudul The Psychology of “as if” (terjemahan dalam bahasa Inggris, 1925) diterbitkan pada tahun 1911. Vaihanger mengemukakan gagasan aneh namun memikat bahwa manusia hidup dengan banyak cita-cita yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada padanannya dalam kenyataan. Vaihinger dan Adler, menggaris bawahi bahwa mereka menggunakan tujuan final yang semu tersebut untuk membuat hidup lebih baik dari hari ke hari.

We behave as if we knew the world would be here tomorrow, as if we were sure what good and bad are all about, as if everything we see is as we see it, and so on. Adler called this fictional finalism. You can understand the phrase most easily if you think about an example: Many people behave as if there were a heaven or a hell in their personal future. Of course, there may be a heaven or a hell, but most of us don’t think of this as a proven fact. That makes it a “fiction” in Vaihinger’s and Adler’s sense of the word. And finalism refers to the teleology of it: The fiction lies in the future, and yet influences our behavior today. Adler added that, at the center of each of our lifestyles, there sits one of these fictions, an important one about who we are and where we are going (Adler, 1937: 6 dalam Boeree 2006).

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa orang berperilaku baik dan buruk berdasarkan keyakinan adanya surga dan neraka dimasa depan, faktanya hal ini tidak dapat dibuktikan sekarang. Hal ini yang disebut Adler dan Vaihinger sebagai “semu atau khayalan”. Sedangkan finalisme mengacu pada keyakinan pada keberadaan teologi (tujuan akhir). Tujuan yang semu berada di masa depan, tetapi belum tentu mempengaruhi perilaku kita saat ini. Adler meletakkan “semu” ini pada pusat gaya hidup yang mempengaruhi identitas diri dan arah kita dalam hidup.

Gambaran-gambaran semu ini, misal “semua manusia diciptakan sama”, “kejujuran adalah politik yang baik”, “semua manusia diciptakan sama”, “tujuan membenarkan sarana”, memungkinkan manusia menghadapi kenyataan secara lebih efektif. Gambaran-gambaran semu itu merupakan konstruksi-konstruksi atau pengandaian-pengandaian penolong dan bukan hipotesis yang dapat diuji dan dibuktikan. Hal tersebut dapat dibuang manakala tidak lagi berguna.

Idealisme Pragmatis Adler

Fiksi tentu saja bisa menunjukkan kepalsuan (Engler, 2009), menopengi harga diri, dan memuja kemuliaan seseorang. Mungkin tidak mengherankan bahwa mode otobiografi saat ini cenderung berkembang ke dalam ranah narasi “fiksi” di mana diri dibahas dalam sudut pandang orang kedua atau ketiga, “Anda,” “kau,” “dia” atau “ia” dengan menguarkan aura kebenaran dan konsekuensi historis bagi narator, sebagaimana terlihat dalam otobiografi terbaru Paul Auster (2012) dan Salman Rushdie (2012). Pemujaan diri terasa dalam contoh di atas. Banyak contoh dari genre ini tidak dapat menyingkirkan pemikiran bahwa otobiografi itu sendiri mungkin merupakan penghiburan, semacam berkabung untuk diri sendiri. Lebih-kurang otobiografi “fiktif” mungkin juga merupakan usaha untuk mengendalikan bagaimana kita dipersepsi oleh orang lain.

Gagasan fiktif, singkatnya, dapat digunakan untuk mendorong klaim delusional dalam sejarah seseorang dan bahkan sekumpulan orang. Namun, dalam kasus Adler – seperti halnya Kant, Vaihinger dan Nietzsche – fiksi tidak berarti bahwa kita menciptakan dunia secara tunggal, akan tetapi kita menetapkan batasan untuk peran kita di dalamnya melalui instrumen pengetahuan, bentuk sensibilitas dan struktur logis yang sebagiannya merupakan kita (Kant, 1787/1998). Tidak peduli seberapa ambisius atau inspiratif tujuan yang diformulasikan, dalam merumuskannya, seseorang mengorbankan imian-impian mudanya tentang “kemungkinan tak terbatas” yang mempersempit fokus tujuannya.

Individu memiliki peran penting dalam hubungannya dengan dunianya namun tidak mahakuasa dalam hal pengetahuan atau aplikasi praktis. Inilah yang membedakan idealisme pragmatis Adler dari idealisme dogmatis, sebuah pandangan luas yang menurutnya manusia secara efektif mewujudkan dunianya. Sering kali terdengar klien mengeluh bahwa mereka telah membawa kesengsaraan pada diri mereka sendiri dengan berpikiran negatif dan bahwa mereka ingin dibantu untuk “mewujudkan” hal-hal yang lebih baik, baik itu pasangan yang peduli atau pekerjaan yang memuaskan. Dalam bukunya Smile or Die, Barbara Ehrenreich (2009) dengan penuh humor mencela industri multi-miliar dolar yang membuat orang berpikir bahwa ketika terjadi bencana, baik melalui pemborosan atau kanker, penyebabnya harus dicari dalam kebiasaan berpikir negatif orang tersebut. Ini akan menjadi kesalahan besar untuk mengkorelasikan terapi Adlerian dengan omong kosong yang sama, tidak peduli betapa pentingnya hal tersebut terhadap tradisi idealisme dogmatis.

Kesalahan yang sangat diperlukan

Sikap Adler juga berbeda dengan interpretasi mekanis Freud tentang prinsip kausalitas (Engler, 2009: 87) dan ketergantungan Freudian pada masa lalu dan juga pada sikap filosofis materialisme dogmatis. Apa yang mengejutkan pembaca (dalam Anbacher & Ansbacher, 1964) adalah argumen Adler: “Memang saya yakin bahwa asumsi yang paling keliru adalah yang paling penting bagi kita, tanpa memberikan validitas fiksi logis, tanpa mengukur kenyataan oleh dunia yang diciptakan tanpa syarat, orang yang identik dengan diri sendiri tidak dapat hidup”.

Dua hal mencolok dalam bagian di atas: a) Penekanan Adler pada yang tanpa syarat, yang mengacua pada Kant. Dalam memeriksa perbedaan antara kognisi teoritis dan praktis, Kant (1787/1998) membahas penggunaan kognisi praktis yang diarahkan pada tujuan tanpa syarat. Bagi Kant kognisi teoretis akhirnya condong ke arah praktik dan penerapan tindakan, tanpa syarat hanya dalam kasus etika, yang menunjukkan bahwa alasan spekulatif condong ke etika – moralitas dan lebih umum lagi perbuatan. Implikasi lainnya di sini adalah hubungan potensial dengan perkembangan terakhir dalam pemikiran kontemporer, terutama praktik “non-filsafat” yang diajukan oleh François Laruelle (Laruelle, 2010; Mullarkey & Smith, 2012) yang, walaupun bermasalah dan kontradiktif dalam formulasinya (McGettigan, 2012), dengan sungguh-sungguh menganjurkan penggunaan konsep filosofis bukan sebagai “representasi” melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari kenyataan. b) Oksimoron Adler yang terlihat membandingkan “asumsi paling keliru” manusia terhadap “yang paling penting baginya,” sejalan dengan pemikiran Kant (1787/1998) bahwa apa yang membimbing rasa ingin tahu rasional kita juga merupakan tempat kesalahan. Bagi Kant, alasan itu sendiri adalah jenis kesalahan yang unik, terkait dengan metafisika dan apa yang sering ia sering sebut sebagai “ilusi transendental.” Alasan itu sendiri adalah kesalahan yang berguna, memungkinkan laju kreatif manusia ke dalam penemuan ilmiah, kunjungan ke tempat-tempat suci dan duniawi, serta kumpulan tujuan imajinatif yang mengatur organisme bergerak menuju kehidupan yang berarti, memberi, dan integrasi yang lebih besar.

Unsur fiktif dalam psikologi dan filsafat Adler mudah diabaikan dalam masa kini yang sangat literal. Teleologi literal selalu menjadi proposisi yang berisiko. Dalam politik, ia sering memupuk ideologi tirani, sesuatu yang Adler ketahui dengan sangat baik, karena bukan hanya dia adalah satu dari sedikit praktisi progresif sosial sejati di dalam lingkungan borjuis Freud, namun secara tragis ia kehilangan seorang anak perempuan di Uni Soviet di mana kebrutalan teleologi literal beraksi.

Dengan metafora, simbol dan simile yang disandingkan secara terburu-buru dengan perburuan manusia yang haus akan bukti, tampak sedikit ruang yang tersisa bagi argumen yang bernuansa psikologi dan psikoterapi, apalagi untuk bergulat dengan gagasan yang canggih seperti telefologi fiksi Adler. Tiap dekade mungkin memahami Adler secara berbeda. Demikian pula, warisan Adler yang meresap sejauh ini telah berkembang lebih dalam kaitannya dengan unsur-unsur literal dan pragmatik psikologi individu daripada elemen-elemen yang kurang terukur namun penting dari sudut pandang filosofis dan psikologisnya. Akibatnya, perubahan secara signifikan lebih lambat dalam “profesi membantu” daripada sebagian besar bidang usaha manusia lainnya, yang sebagian disebabkan oleh campur tangan konstan negara dan pemerintah yang menyalahartikan terapi sebagai cara menormalkan individu ketimbang melihatnya sebagai jalur potensial menuju emansipasi.

Hasrat dan Masa Depan

Hasrat adalah kunci dalam perumusan tujuan fiksi dan terkait langsung dengan sikap pragmatis Adler. Menurut Kant, (dalam Ferraris, 2011: 94) “bidang yang menghasrati” adalah dasar fundamental dari tindakan manusia di dunia, mengingat bahwa hanya melalui praksis “manusia mengenalkan sesuatu yang secara radikal baru ke dalam dunia tanpa membatasi diri terhadap kontemplasi dunia.” Seperti motivasi, hasrat adalah konsep yang sangat penting, sangat terbengkalai dalam dekade perubahan kognitif, yang menghasilkan pembacaan emosi kognitif, yaitu kecenderungan untuk memahaminya sebagai hasil kepercayaan daripada keinginan. Perkembangan ini dimulai dengan perpindahan “dari teori emosi berbasis afeksi atau perasaan ke arah teori yang menekankan intensionalitas atau keterarahan emosi. Entah bagaimana dalam prosesnya, ‘ keterarahan’ menjadi berasimilasi dengan ‘kognitif’ dan intensionalitas hasrat terpingirkan atau tidak dikenali” (Marks, 1986: 3)

Fiksi Masa Depan dan Masa Lalu

Finalisme fiksi Adler berorientasi pada masa depan daripada pada masa lalu (tipikal perspektif Freudian). Unsur paling inovatifnya adalah pemahaman waktu yang tidak literal. Jika tujuan masa depan kita fiktif, maka begitu juga interpretasi kita terhadap masa lalu, melalui ingatan imajinatif. Jika masa depan kita “fiktif”, begitulah masa lalu kita. Bagi beberapa filsafat kontemporer, pengalaman waktu “secara struktural mirip dengan pengalaman hasrat” (Reynolds, 2004). Dalam dimensi waktu yang ditimbulkan oleh memori, “kita melanggar kemurnian masa lalu yang absolut dan gagal memahaminya dalam perbedaan dan singularitasnya.” Dalam kritiknya terhadap Freud, Deleuze (1994: 85), mengatakan bahwa, “tiap kenang-kenangan, entah tentang kota atau wanita, bersifat erotis.” Erotisme bagi Adler (dalam Ansbacher & Ansbacher, 1964:57) terkait dengan “sistem saraf pusat… sehingga membuat semua fungsi perifer, termasuk seks, tunduk pada satu fungsi utama.” Konsekuensi dari pandangan menyeluruh tentang organisme manusia ini adalah bahwa persepsi kita tentang waktu pun terpengaruh. Waktu, bagi Kant (1787/1998), adalah mediasi dalam pikiran – konstruksi manusia, kondisi penting yang diciptakan oleh kebutuhan kompensasi mendasar kita. Perspektif yang lebih kontemporer: waktu linier itu sendiri merupakan konstruk. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengandalkan kesahihan ingatan kita terhadap masa lalu. Sebagai sama-sama fiksi, tujuan di masa depan lebih bisa dianalisis ketimbang ingatan terhadap masa lalu. Di sinilah kelebihan teori Adler dalam ranah psikologi dan psikoterapi ketimbang teori psikoanalisis para pendahulunya.

Adler (1997: 3) menyatakan bahwa tiap pikiran membentuk sebuah konsep dari tujuan atau cita-cita, artinya untuk mendapatkan diluar bagian masa kini dan untuk menanggulangi defisiensi masa kini atau kesulitan menformulasikan tujuan pokok untuk masa depan. Artinya maksud atau tujuan pokok ini, individu dapat berfikir dan merasakan superioritasnya untuk memperlihatkan kesulitan-kesulitan karena mereka memiliki kesuksesan masa depan dalam pikirannya. Tanpa hasrat dari sebuah tujuan ini, aktivitas individu akan kehilangan arti.

Each mind forms a conception of a goal or ideal, a means to get beyond the present state and to overcome present deficiencies or difficulties by formulating a particular aim for the future. By means of this particular aim or goal, individuals can think and feel themselves superior to present difficulties because they have future success in mind. Without this sense of a goal, individual activity would be meaningless (Adler, 1997: 3).

Tujuan-tujuan ini tidak ada di masa depan sebagai bagian dari rancangan teologis melainkan hadir secara subjektif atau secara mental di sini dan kini dalam bentuk perjuangan-perjuangan secara cita-cita yang mempengaruhi tingkah laku sekarang. Misal, apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang-orang saleh dan neraka bagi orang-orang pendosa, maka bisa diandaikan bahwa kepercayaan ini akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Bagi Adler, tujuan-tujuan semu ini merupakan penyebab peristiwa-peristiwa psikologis. Seperti Jung, Adler mengidentifikasinkan teori Freud dengan prinsip kausalitas dan teorinya sendiri dengan prinsip finalisme.

Memiliki sebuah tujuan seperti bercita-cita menjadi “Tuhan”. Tapi menjadi “Tuhan” tentunya bukan suatu tujuan akhir, dan pendidik seharusnya mencoba memperingatkan untuk mendidik diri mereka dan anak-anaknya untuk menjadi seperti “Tuhan”. Anak-anak meniru suatu hal yang lebih kongkrit dalam segera menetapkan tujuannya dan melihat pada seseorang yang paling kuat disekitar mereka untuk menjadikannya model dalam perwujudan tujuan mereka. Hal tersebut didapat dari ayah, ibu, ataupun orang lain.

Psikologi individual secara mutlak mempertahankan finalisme sebagai sesuatu yang sangat penting untuk memahami semua gejala psikologis. Penyebab, kekuatan, insting, impuls, dan sebagainya tidak dapat berfungsi sebagai prinsip yang dapat memberikan penjelasan. Tujuan final sendiri dapat menjelaskan tingkah laku manusia. Pengalaman-pengalaman, trauma-trauma, mekanisme-mekanisme perkembangan seksual tidak dapat memberikan penjelasan, tetapi perspektif dengan mana semua ini dilihat, cara individu melihat semua ini, yang mengarahkan seluruh kehidupan pada tujuan final, dapat menjelaskannya (Adler 1930: 400 dalam Hall and Lindzey, 1993: 244).

Tujuan final adalah hasil dari kekuatan kreatif individu; kemampuan untuk membentuk tingkah laku diri dan menciptakan kepribadian diri. Pada usia 4 atau 5 tahun, fikiran kreatif anak mencapai tingkat perkembangan yang membuat mereka mampu menentukan tujuan final, bahkan bayi sesungguhnya sudah memiliki dorongan (yang dibawa sejak lahir) untuk tumbuh, menjadi lengkap, atau sukses. Karena mereka kecil, tidak lengkap, dan lemah, mereka merasa inferior dan tanpa tenaga. Untuk mengatasi hal ini mereka menetapkan tujuan final menjadi besar, lengkap, dan kuat. Tujuan final semacam ini mengurangi penderitaan akibat perasaan inferior, dan menunjukkan arah menuju superioritas dan sukses.

Jika anak diabaikan atau dimanja, sebagian besar tujuan final mereka tetap tidak mereka sadari. Adler membuat hipotesa bahwa anak semacam itu akan mengkompensasi perasaan inferiornya dengan cara yang rumit dan tidak jelas hubungannya dengan tujuan final mereka. Misal, tujuan mencapai superioritas dari gadis yang dimanja, ternyata membuat permanen hubungan parasit dengan ibunya. Sebagai orang dewasa, gadis itu tampak tergantung dan mencela diri sendiri.

Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tujuan menjadi superior (superiority complex), merupakan lanjutan dari tingkah laku yang dibuat pada usia 4 atau 5 tahun. Anak-anak memandang ibunya besar dan kuat, dan menggantungkan diri kepada ibu, pada masa itu menjadi cara yang alami untuk mencapai superioritas. Anak yang diabaikan atau dimanja, sesudah dewasa tingkah lakunya tidak mencerminkan perjuangan menjadi superioritas, ini merupakan indikasi dari kondisi tidak sadar tujuan.

Sebaliknya, jika anak mengalami cinta dan keamanan, mereka membuat tujuan yang sebagian besar disadari dan dipahami. Anak yang secara psikologis sehat, berjuang menjadi superioritas memakai tolok ukur kesuksesan dan minat sosial. Walaupun tujuan final tidak pernah disadari secara lengkap, individu yang secara psikologis masak memahami dan berjuang mengejar tujuan itu dengan kesadaran yang tinggi.

Beberapa contoh dalam kehidupan ada beberapa hal yang dapat menjelaskan fiksional semu terutama dalam faktor keimanan. Namun, faktor keimanan Muslim membuat mereka yakin akan keberadaan hal ini setelah tibanya hari kiamat di mana surga diciptakan Allah untuk didiami oleh para Mukmin sedangkan neraka menempatkan para hamba yang mungkar dan dilaknat. Justru itu, segala tindak tanduk manusia adalah menurut tujuan yang diinginkan yaitu untuk mendiami surga Allah. Maka, jelas bahwa tingkah laku manusia dalam corak kehidupan adalah dipengaruhi oleh tujuan yang hendak dicapai. Menurut Adler, seseorang yang normal mampu membebaskan dirinya dari keterbelengguan fiksi dan manusia turut berupaya membelakangi fiksi tersebut apabila ia dirasakan sudah tidak mempunyai kepentingan.

Terdapat beberapa contoh penelitian dalam mengurai kepribadian seseorang yang dilakukan beberapa peneliti. Penelitian ini dilakukan juga pada sebuah karakter dalam novel yang bisa digunakan menjelaskan kejadian fiksional semu. Penelitian oleh Putri, dkk (2012) yang mengurai kepribadian seorang tokoh bernama Alif dalam novel Ranah 3 Warna Ahmad Fuadi. Kutipan dibawah ini juga menjelaskan bahwa Alif mempunyai harapan yang besar dalam kuliahnya. Kata Alif “ …semoga kuliahku tidak putus di tengah jalan karena ekonomi keluarga kami yang pas-pasan”. Pada kutipan di atas juga tergambar finalisme semu yaitu harapan Alif Fikri agar kuliahnya tidak putus ditengah jalan. Mengharapkan Pujian dari seseorang bisa menimbulkan rasa percaya diri yang lebih. Terlebih pujian yang diberikan oleh orang yang disukainya itu membuat Alif bahagia. Hal itu terdapat pada kutipan berikut. …lubang hidungku kembang kempis dan rasanya lapang karena mekar. Siapa menyangka, dia mengenaliku ditengah ribuan mahasiswa baru. Ah, bangganya aku.” Pada kutipan tersebut terlihat finalisme semu Alif terhadap pujian-pujian yang diberikan oleh Raisa. Ia senang sekali tahu Raisa mengenali dirinya diatar ribuan anak baru. Ia merasa hanya seperti mimpi saja. 3. Dua dorongan pokok/kompensasi Sebagai teman Alif merupakan anak yang gigi.

Konsep Dasar Teori Alfred Adler

Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang mendasar teori psikologi individual dengan psikoanalisis. Tujuan hidup dipandang untuk mengatasi felling of inferiority (FOI) menuju felling of superiority (FOS). Perasaan tidak mampu atau rasa rendah diri, berasal dari tiga sumber, yaitu kekurangan dalam organ fisik, anak yang dimanja, anak yang mendapat penolakan. Kadang-kadang rasa rendah diri ini dapat menimbulkan kompensasi yang berlebihan sehingga menyebabkan berbagai hambatan bagi individu itu sendiri.

Konsep utama dari teori psikologi individual yang benar-benar berbicara tentang diri atau self, yang mana hal itu yang menjadi pembeda tiap individu yang terlihat dari gaya hidup masing-masing individu, menyebabkan arah konseling mengacu pada pengembangan diri individu. Masalah yang paling sering dialami adalah masalah kepercayaan diri (konsep diri). Pembentukan konsep diri ini dimulai sejak usia empat dan lima tahun pertama.

Persepsi Subyektif tentang Realitas

Penganut Adler berusaha melihat dunia dari kerangka subyektif klien, suatu orientasi yang dinyatakan sebagai fenomenologis. Fenomenologis diberikan karena orientasi ini menaruh perhatian pada cara individu dimana seseorang melihat dunianya. “Realitas Subyektif” ini mencakup persepsi keyakinan dan kesimpulan individual.

Kesatuan Serta Pola Kepribadian Manusia

Premis dasar dari pendekatan Adler disebut juga Psikologi Individual. Psikologi Adler berasumsi: manusia adalah suatu makhluk sosial, kreatif, dan pengambil keputusan yang memiliki maksud terpadu. Pribadi manusia menjadi terpadu lewat tujuan hidup. Implikasi (holistik) dari kepribadian ini adalah bahwa seorang klien adalah suatu bagian integral dari sistem sosial.

Minat Sosial

Istilah ini berarti kesadaran individu akan kedudukannya sebagai bagian dari masyarakat manusia dan akan sikap seseorang dalam menangani dunia sosialnya. Didalamnya mencakup perjuangan untuk masa depan yang lebih baik. Adler menyamakan interes sosial dengan rasa identifikasi dan empati dengan orang lain. Menurut Adler pada saat interes sosial berkembang maka rasa rendah diri serta keterasingan akan hilang. Interes sosial bisa berkembang bila diajarkan, dipelajari dan digunakan. Mereka yang hidup tanpa interes sosial menjadi tidak bersemangat dan berakhir dengan keberadaannya di sisi kehidupan yang tak berguna. Manusia itu memiliki kebutuhan dasar, yakni perasaan aman, diterima, dan berguna.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Alfred Adler

Kelebihan

Adler berjuang untuk mengembangkan teorinya sendiri yang unik. Sumbangan utama Adler adalah konsep yang memberi kerangka kepribadian yang utuh, unifi, dan holistik. Penekanannya pada kreatifitas manusia cocok dengan teori yang berkembang kemudian, misal teori dari George Kelly, R.D. Liang, Carl Rogers, dan Abraham Maslow. Teori Adler menekankan pada integrasi kesadaran pikiran, motivasi sosial, tujuan masa depan, dan kebebasan individu. Adler dengan jelas menunjukkan bahwa dunia tempat seseorang tinggal merupakan dunia yang diciptakan sendiri oleh orang tersebut.

Kekurangan

Seperti Freud dan Jung, teori Adler secara empiris tidak memiliki dukungan yang berarti. Konsep-konsep dasar teorinya seperti perjuangan menjadi superiorita, kompleks inferior, dan kecenderungan pengamanan tidak disertai dengan bukti metodolgis sehingga orang lain yang mencoba mengulang apa yang dilakukan Adler akan sampai pada kesimpulan yang berbeda. Pendirian Adler yang menyatakan bahwa “tiap hal juga dapat menjadi sesuatu yang berbeda” membuat teori yang ia kemukakan menjadi sulit untuk diuji. Secara klinik, teori Adler banyak memberi manfaat, namun proporsi-proporsinya belum diformulasikan secara rinci agar bisa diuji secara ilmiah.

Aplikasi Teori Alfred Adler

Konstelasi Keluarga

Konstelasi berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Menurut Adler, kepribadian anak pertama, anak tengah, anak terakhir, dan anak tunggal berbeda, karena perlakuan yang diterima dari orang tua dan saudara-saudara berbeda.

Ketika melakukan terapi, Adler hampir selalu bertanya kepada pasien tentang konstelasi keluarga mereka, yaitu urutan kelahiran, anak sulung, menurut Adler (1931), kemungkinan besar memiliki perasaan berkuasa dan superioritas yang kuat, kecemasan tinggi, serta kecenderungan untuk overprotektif. (Ingat bahwa Freud adalah anak sulung). Anak anak sulung menempati posisi yang unik, sempat menjadi anak tunggal selama beberapa waktu dan kemudian mengalami penurunan posisi yang traumatis ketika saudara yang lebih muda lahir. Peristiwa ini secara dramatis mengubah situasi dan cara pandang anak terhadap dunia.

Jika anak sulung berumur 3 tahun atau lebih ketika adiknya lahir, mereka akan menggabungkan peristiwa ini ke dalam gaya hidup mereka sebelumnya yang telah terbentuk. Kalau mereka telah membentuk gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri (self-centered), maka mereka kemungkinan besar akan mereasakan permusuhan dan kemarahan pada bayi yang baru lahir. Akan tetapi, jika mereka telah membentuk gaya hidup yang bisa bekerja sama, maka mereka pada akhirnya akan memakai sikap yang sama terhadap adiknya. Jika si anak sulung usianya kurang dari 3 tahun, maka permusuhan dan kemarahan mereka sebagian besar terjadi secara tidak sadar, yang membuat sikap sikap ini lebih sulit diubah di kehidupan selanjutnya.

Menurut Adler, anak kedua (seperti dirinya) memulai hidup dengan situasi yang lebih baik untuk membentuk kerjasama dan minat sosial. Sampai tingkat tertentu, kepribadian anak kedua dibentuk oleh persepsi mereka akan sikap anak sulung terhadap mereka. Jika sikap yang ditunjukkan anak sulung adalah permusuhan dan balas dendam yang berlebihan, maka anak kedua mungkin menjadi sangat kompetitif atau sangat berkecil hati. Namun, tipikal anak kedua tidak terbentuk ke kedua arah tersebut. Sebaliknya, anak kedua tumbuh dengan memiliki daya saing yang cukup serta keinginan sehat untuk mengalahkan saingannya yang lebih tua. Jika suatu keberhasilan dicapai, maka anak tersebut membentuk sikap revolusioner dan menganggap bahwa tiap otoritas bisa ditantang. Sekali lagi interpretasi anak lebih penting daripada posisi kronologis mereka.

*) saudara sekandung bisa inferior atau superior dan memperlihatkan perilaku yang berbeda kepada dunia tergantung pada urutan kelahirannya.

Anak bungsu diyakini Adler biasanya yang paling dimanja dan konsekuensinya memiliki resiko tinggi menjadi anak yang bermasalah. Mereka sering memiliki perasaan inferior yang kuat dan pula mandiri. Meski begitu, mereka memiliki beberapa kelebihan, mereka sering memiliki motivasi tinggi untuk melebihi kakak kakaknya untuk menjadi pelari tercepat, musisi terbaik, atlit yang berkemampuan tinggi, atau murid yang paling ambisius.

Anak tunggal berada dalam posisi unik dalam hal daya saing, yaitu tidak bersaing dengan saudara-saudaranya, namun terhadap ayah atau ibunya. Hidup dalam dunia orang dewasa, mereka sering membentuk rasa superioritas yang tinggi dan konsep diri yang besar. Adler (1931) menyatakan bahwa bisa saja anak tunggal kurang memiliki sifat kerjasama dan minat sosial, bersifat parasit, serta mengandalkan orang lain untuk memanjakan dan melindungi mereka. Tipikal sifat sifat positif dan negatif dari anak sulung, anak bungsu, dan anak tunggal ditunjukkan pada tabel di bawah:

 

No Posisi Anak Sifat Positif Sifat Negatif
1. Anak Sulung (anak pertama) ·      Mengasuh/melindungi orang lain

·      Organisator yang baik

·     Memiliki kecemasan tinggi

·     Memiliki perasaan berkuasa yang berlebihan

·     Permusuhan secara tidak sadar

·     Berjuang untuk mendapat pengakuan

·     Harus selalu “benar” sedangkan yang lain “salah

·     Sangat mengkritik orang lain

·     Tidak bisa bekerjasama / tidak koopertaif

2. Anak Tengah ·      Bermotivasi tinggi

·      Sangat kooperatif / dapat bekerjasama

·      Kompetitif / mempunyai daya saing yang cukup

·      Kompetitif tinggi / Daya saing sangat tinggi

·      Mudah berkecil hati

3. Anak Bungsu (anak akhir) ·      Ambisius secara realistik ·     Gaya hidup yang dimanja

·     Tergantung pada orang lain

·     Ingin unggul dalam segala hal

·     Ambisius secara tidak realistis

4. Anak Tunggal ·      Matang seacara sosial ·     Perasaan superioritas berlebian

·     Sifat kerjasama yang rendah

·     Perasaan diri / harga diri yang melambung

·     Gaya hidup yang dimanja

Teori Adler tentang kontelasi keluarga yang dikembangkan oleh Hanray:

No Posisi Situasi Keluarga Krakteristik-Karakteristik Anak
1. Anak Tunggal Kelahiran merupakan suatu keajaiban. Orang tua sebelumnya tidak memiliki pengalaman. Mungkin mendapatkan perhatian 200% dari kedua orang tua. Dapat menjadi terlalu dilindungi dan dimanjakan Ingin menjadi pusat perhatian orang dewasa. Sering sulit untuk berbagi dengan saudara kandung dan teman-teman sebaya. Lebih sering menemani orang dewasa dan menggunakan bahasa orang dewasa.
2. Anak Sulung Posisinya diturunkan oleh anak berikutnya. Harus belajar untuk berbagi. Harapan-harapan orang tua biasanya sangat tinggi. Sering diberikan tanggung jawab dan diharapkan bisa menjadi contoh. Mungkin menjadi otoriter dan keras. Merasa bahwa kekuasaan adalah haknya. Dapat bermanfaat bila didorong. Mungkin berbalik kepada ayah setelah kelahiran anak berikutnya.
3. Anak Kedua Dia memiliki seorang perintis (pembuka jalan). Selalu ada  seseorang didepan Lebih kompetitif, ingin mengambil alih posisi anak sulung. Mungkin menjadi pembentuk atau berusaha untuk mengalahkan tiap orang. Kompetisi (perlombaan) dapat memburuk menjadi persaingan.
4. Anak Tengah Anak yang disisipkan di tengah. Mungkin merasa terjepit karena tidak memiliki posisi hak istimewa dan penting. Mungkin berwatak tenang atau pandai menyesuaikan diri, bersikap tanpa segan-segan menerima atau menolak (take it or leave it attitude). Mungkin sulit menemukan tempat di keluarga atau menjadi pejuang ketidakadilan.
5. Anak Bungsu Memiliki banyak ayah dan ibu. Anak-anak yang lebih tua berusaha untuk mendidiknya. Tidak pernah posisinya diturunkan. Ingin menjadi lebih besar dari pada  yang lain-lain. Bisa memiliki rencana-rencana yang hebat tetapi tidak pernah berhasil. Dapat tetap menjadi “bayi”. Sering kali dimanjakan.
6. Anak Kembar Salah seorang diantaranya lebih kuat atau lebih aktif. Orang tua mungkin menentukan salah seorang diantaranya sebagai yang lebih tua. Dapat memiliki masalah-masalah identitas. Salah seorang yang lebih kuat diantaranya mungkin menjadi pemimpin.
7. Anak “Hantu” (“Ghost” Child) Anak yang lahir semudah kematian anak pertama mungkin memiliki seorang “hantu” di hadapannya. Ibu mungkin terlalu protektif. Anak mungkin mengeksploitasi perhatian yang berlebihan dari ibu terhadap kesejaheraannya, atau mungkin memberontak dan protes terhadap perasaan karena dirinya dibandingkan dengan suatu ingatan yang diidealkan.
8. Anak Angkat Orang tua mungkin merasa berterima kasih karena memiliki seorang anak dan memanjakannya. Anak mungkin sangat dimanjakan dan banyak menuntut. Akhirnya mungkin dia marah atau mengidealkan orang tua biologisnya.
9. Anak Lelaki Tunggal diantara Anak-anak Gadis Biasanya berada dengan para perempuan sepanjang waktu bila ayah jauh (tidak ada ditempat) Mungkin berusaha membuktikan bahwa dia adalah lelaki dalam keluarga atau menjadi orang yang bersifat perempuan.
10. Anak Gadis Tunggal diantara Anak-anak Lelaki Para saudara lelaki yang lebih tua mungkin bertindak sebagai pelindung-pelindungnya. Dapat menjadi sangat feminim, atau kelaki-lakian (tomboy) dan mengalahkan para saudaranya lelaki. Mungkin berusaha menyenangkan ayahnya.
11. Semua Anak Lelaki Bila ibu menginginkan seorang gadis, maka mereka dapat berpakaian seperti seorang anak gadis. Anak mungkin menggunakan peranan yang diberikan atau memprotesnya dengan keras.
12. Semua Anak Gadis Mungkin semua berpakaian seperti anak lelaki. Anak mungkin menggunakan peranan yang diberikan atau memprotesnya dengan keras.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Leipzig dan Johannes Gutenberg University of Mainz pada lebih dari 20 ribu responden menyatakan bahwa anak yang lebih tua memiliki tingkat IQ yang lebih tinggi.Namun demikian, tak terbukti apakah urutan kelahiran bisa mempengaruhi kestabilan emosi dan imajinasi seseorang.

Penelitian lain dengan lebih dari 377 ribu siswa di USA membuktikan, bahwa anak sulung memiliki kepribadian yang lebih jujur dan dominan. Namun, mereka kurang memiliki kehidupan sosial dan lebih rentan terkena stres.

Sementara itu, meski telah banyak penelitian yang dilakukan, tak berarti tiap kondisi individu selalu demikian. Masih banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi kepribadian dan juga kecerdasan seseorang, tak hanya dari urutan kelahiran saja.

Posisi Tidur dan Kepribadian

Hidup kejiwaan merupakan kesatuan antara aspek jiwa dan raga dan tercermin dalam keadaan terjaga maupun tidur. Dari observasi yang telah dilakukan terhadap para pasiennya Adler menarik kesimpulan bahwa ada hubungan posisi tidur seseorang dengan kepribadiannya (Masrun, 1977: 43-44).

  • Tidur terlentang, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat pemberani dan bercita-cita tinggi.
  • Tidur bergulung (mlungker),  menunjukkan sifat penakut dan lemah dalam mengambil keputusan.
  • Tidur mengeliat tidak karuan, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat yang tidak teratur, ceroboh, dst.
  • Tidur dengan kaki di atas bantal, menunjukkan orang ini menyukai petualangan.
  • Tidur dilakukan dengan mudah, berarti proses penyesuaian dirinya baik.

Kompleks Inferioritas dan Neurosis

Kompleks inferioritas adalah perasaan yang berlebihan bahwa dirinya merupakan orang yang tidak mampu. Adler menyatakan bahwa gejala tersebut paling sedikit disebabkan oleh tiga hal, yaitu: a. Memiliki cacat jasmani, b. Dimanjakan, dan c. Dididik  dengan kekerasan (Masrun, 1977: 46).

Tanda-tanda bahwa seorang anak mengidap kompleks inferioritas  adalah gagap dan buang air kecil waktu tidur (ngompol). Menurut pandangan Adler, kompleks inferioritas bukan persoalan kecil, melainkan sudah tergolong neurosis atau gangguan jiwa, artinya masalah tersebut sama besarnya dengan masalah kehidupan itu sendiri. Orang yang menunjukkan dirinya penakut, pemalu, merasa tidak aman, ragu-ragu dan sebagainya adalah orang yang mengidap kompleks inferioritas (Alwisol, 2005: 162).

Perkembangan Abnormal

Adler merupakan tokoh yang menaruh perhatian pada perkembangan abnormal individu. Gagasan-gagasan Adler (Alwisol, 2005: 99-100) tentang perkembangan abnormal adalah sebagai sebagai berikut.

Minat sosial yang tidak berkembang menjadi faktor yang melatar belakangi semua jenis salah suai atau maladjusment. Di samping minat sosial yang buruk, penderita neurosis cenderung membuat tujuan yang terlalu tinggi, memakai gaya hidup yang kaku, dan hidup dalam dunianya sendiri. Tiga ciri ini mengiringi minat sosial yang buruk. Pengidap neurosis memasang tujuan yang tinggi sebagai kompensasi perasaan inferioritas yang berlebihan.

Adler menidentifikasi bahwa ada tiga faktor yang membuat individu menjadi salah suai, yaitu cacat fisik yang parah, gaya hidup yang manja, dan gaya hidup diabaikan.

  • Cacat fisik yang parah

Cacat fisik yang parah, apakah dibawa sejak lahir atau akibat kecelakaan, dan penyakit, tidak cukup untuk membuat salah suai. Bila cacat tersebut diikuti dengan perasaan inferior yang berlebihan maka terjadilah gejala salah suai.

  • Gaya hidup manja

Gaya hidup manja menjadi sumber utama penyebab sebagian neurosis. Anak yang dimanja mempunyai minat sosial yang kecil dan tingkat aktivitas yang rendah. Ia menikmati pemanjaan dan berusaha agar tetap dimanja, dan mengembangkan hubungan parasit dengan ibunya ke orang lain. Ia berharap orang lain memperhatikan dirinya, melindunginya, dan memuaskan semua keinginannya yang mementingkan diri sendiri. Gaya hidup manja seseorang mudah dikenali dengan ciri-ciri: sangat mudah putus asa, selalu ragu, sangat sensitif, tidak sabaran, dan emosional.

  • Gaya hidup diabaikan

Anak yang merasa tidak dicintai dan tidak dikehendaki, akan mengembangkan gaya hidup diabaikan. Diabaikan, menurut Adler, merupakan konsep yang relatif, tidak ada orang yang merasa mutlak diabaikan. Ciri-ciri anak yang diabaikan mempunyai banyak persamaan dengan anak yang dimanjakan, tetapi pada umumnya anak yang diabaikan lebih dicurigai dan berbahaya bagi orang lain.

Kecenderungan Pengamanan

Pandangan Adler tentang  neurosis juga dikemukaan berkenaan dengan kecenderungan pengamanan (Alwisol, 2005: 101-102). Semua penderita neurosis berusaha menciptakan pengamanan terhadap harga dirinya.

  • Perbedaan kecenderungan pengamanan dengan mekanisme pertahanan diri.

Konsep kecenderungan pengamanan dari Adler mirip dengan konsep mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh Freud. Keduanya merupakan gejala-gejala yang terbentuk sebagai proteksi terhadap self atau ego. Namun ada beberapa perbedaan antara keduanya.

  • Mekanisme pertahanan  melindungi ego dari kecemasan instinktif, sedang kecenderungan pengamanan melindungi self dari tuntutan luar.
  • Mekanisme pertahanan ego merupakan gejala umum yang dapat dialami oleh tiap individu, sedangkan kecenderungan pengamanan merupakan salah satu gejala neurosis, walaupun mungkin saja tiap individu, normal atau abnormal, memakai kecenderungan itu untuk mempertahankan harga diri.
  • Mekanisme pertahanan ego beroperasi pada tingkat tak sadar, sedangkan kecenderungan pengamanan bekerja pada tingkat sadar dan tidak sadar.
  • Bentuk-bentuk kecenderungan pengaman

Psikologi individual menganalisis bahwa penderita neurosis takut tujuan menjadi personal yang dikejarnya terungkap sebagai kesalahan dan selanjutnya diikuti dengan hilangnya penghargaan dari masyarakat. Untuk mengkompensasi khayalan ini, individu membangunan kecenderungan pengamanan, yang bentuknya dapat berupa sesalan, agresi, dan menarik diri (Alwisol, 2005: 102-103).

  • Sesalan

Sesalan “Ya, tetapi“ (yes, but), dipakai untuk mengurangi bahaya harga diri yang jatuh karena melakukan hal yang berbeda dengan orang lain.

Sesalan “Sesungguhnya, kalau“ (if, only) dipakai untuk melingdungi perasaan lemah dari harga diri, dan menipu orang lain untuk percaya bahwa mereka sesungguhnya lebih superior dari kenyataan yang ada sekarang.

  • Agresi

Penderita neurosis memakai agresi untuk pengamanan kompleks superior yang berlebihan, melindungi harga diri yang rentan. Adler membedakan agresi menjadi tiga macam, yaitu depreciation, accusation, dan self-accusation.

  1. Depreciation (merendahkan), adalah kecenderungan menilai rendah prestasi orang lain dan menilai tinggi prestasi diri sendiri.
  2. Accusation (menuduh), adalah kecenderungan menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dilakukannya sendiri, dan kecenderungan untuk mencari pembalasan dendam, sehingga mengamankan kelemahan harga dirinya.
  3. Self-accusation (menuduh diri sendiri),  ditandai dengan usaha untuk menyiksa diri sendiri dan perasaan berdosa.
  • Menarik diri (withdrawl)

Withdrawl adalah kecenderungan untuk malarikan diri dari kesulitan berupa tindakan manarik diri dari aktivitas dan lingkungan sosial. Ada 4 jenis withdrawl, yaitu: moving backward, satnding-still, hesitating, dan constructing obstacle.

  1. Moving backward (mundur),  adalah gejala yang mirip dengan regresi yang dikemukakan Freud, yaitu kembali ketahap perkembangan sebelumnya.
  2. Standing-still (diam di tempat), mirip dengan konsep Freud, fiksasi.  Untuk menghindari kecemasan akibat kegagalan, individu mengambil keputusan tidak melakukan tindakan tertentu.
  3. Hesitating (ragu-ragu), berhubungan erat dengan diam ditempat. Ada orang yang bimbang ketika menghadapi masalah yang dianggap sulit. Mengulur waktu dijadikan cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
  4. Constructing obstacle (membangun penghalang), merupakan bentuk menarik diri yang ringan, mirip dengan sesalan ”if, only”. Dalam menghadapi persoalan individu menciptakan khayalan tentang suatu penghalang dan keberhasilan dalam mengatasi persolan tersebut.

Psikologi Individual sebagai Teknik Terapi

Sebagai seorang psikiater,  Adler sehari-harinya tidak terlepas dari urusan psikopatologi. Dia berpendapat bahwa psikopatologi merupakan akibat dari kurangnya keberanian, perasaan inferior yang berlebihan, dan minat sosial yang kurang berkembang (Alwisoal, 2005: 106). Pandangan tersebut dijadikan landasan dalam melakukan psikoterapi. Adapun ciri-ciri psikoterapi Adler adalah sebagai berikut (Alwisol, 2005: 106-109; Boeree, 2005: 171-172).

Prinsip Psikoterapi

Prinsip yang dipegang Adler dalam melakukan psikoterapi adalah sebagai berikut:

  • Terapis hendaknya tidak bersikap otoriter terhadap pasiennya.
  • Terapis hendaknya secara perlahan-lahan membawa pasiennya ke arah pemahaman akan gaya hidup pasien yang sebenarnya dan hal ini dilakukan bukan dengan paksaan.
  • Terapis harus memberikan dorongan kepada pasien akan kesadaran sosial dan memberi kekuatan padanya untuk menjalani kehidupan sosial.

Tujuan Psikoterapi

Tujuan utama psikoterapi Adler adalah meningkatkan keberanian, mengurangi perasaan inferior, dan mendorong berkembangnya minat sosial pasien. Adler menyadari bahwa tugas ini tidak mudah karena pasien atau klien berjuang untuk mempertahankan keadaannya sekarang, yang dipandangnya menyenangkan.

Teknik-teknik Terapi

Seperti halnya Freud dan Jung, dalam melakukan psikoterapi, Adler juga menggali masa lalu dan melakukan analisis terhadap mimpi pasien untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang kepribadian pasien (Alwisol, 2005: 108-109).

  • Menggali masa lalu / Ingatan-ingatan Awal (early recollection)

Adler berpendapat bahwa ingatan masa lalu seseorang selalu konsisten dengan gaya hidupnya sekarang, dan pandangan subjektif yang bersangkutan terhadap pengalaman masa lalunya menjadi petunjuk untuk memahami tujuan final dan gaya hidupnya. Oleh karena itu Adler berusaha mengungkap faktor penyebab gangguan jiwa dengan mempelajari masa lalu pasien terutama pada kanak-kanak.

Untuk memperoleh pemahaman terhadap kepribadian pasien Adler akan meminta mereka untuk mengungkapkan ingatan masa kecil / ingatan awal (early recolection) mereka. Walaupun Adler berpendapat bahwa ingatan yang diungkap kembali akan memberikan petunjuk untuk memahami gaya hidup pasien, ia tidak menganggap bahwa ingatan-ingatan ini mempunyai dampak kausal. Apakah pengalaman yang diungkap kembali berhubungan dengan realitas objektif atau hayalan, itu tidak penting. Seseorang merekonstruksi peristiwa peristiwa untuk membuat dirinya konsisten dengan tema atau pola yang berlangsung dalam kehidupannya.

Adler (1929/1969, 1931) menegaskan bahwa ingatan masa kecil selalu konsisten dengan gaya hidup seseorang saat ini, dan laporan subjektif mereka akan pengalaman-pengalaman ini menghasilkan pemahaman tentang tujuan akhir dan gaya hidup mereka saat ini. Salah satu ingatan masa kecil Adler adalah perbedaan menyolok antara kesehatan yang baik yang dimiliki kakaknya, sigmund dan keadaan sakit sakitan yang dialami Adler. Ketika dewasa, Adler menceritakan bahwa

“…Salah satu ingatan masa kecilnya adalah ketika duduk di pantai… penuh balutan karena penyakit rakhitis, dan kakakku yang sehat duduk di depanku. Ia bisa berlari, melompat, dan bergerak kesana kemari dengan mudahnya, sedangkan untukku bergerak sedikit saja harus bersusah payah… semua orang berusaha menolongku” (Bottome,1927, hlm. 30).

Jika asumsi Adler bahwa ingatan masa kecil merupakan indikator yang valid untuk tahu gaya hidup seseorang, maka cerita ini bisa menghasilkan petunjuk tentang gaya hidup Adler ketika dewasa. Pertama, cerita ini memberitahu kita bahwa Adler pasti memandang dirinya sebagai seorang yang lemah, bersaing dengan gagah berani melawan musuh yang kuat. Akan tetapi ingatan masa kecil ini bisa menunjukkan bahwa ia mendapatkan pertolongan dari orang lain. Menerima pertolongan dari orang lain akan memberikan Adler rasa percaya diri untuk bersaing menghadapi saingan yang kuat. Rasa percaya diri ini digabung dengan rasa kompetitif akan terbawa pada hubungannya dengan sigmund Freud, sehingga membuat hubungan diantara keduanya lemah sejak awal.

Adler (1929/1964) memberikan contoh lain tentang hubungan antara ingatan masa kecil dengan gaya hidup. Selama terapi, seorang pria yang tampak berhasil dan sangat tidak mempercayai wanita menceritakan ingatan masa kecilnya: “saya sedang pergi bersama ibu dan adik saya ke pasar. Tiba-tiba hujan turun dan ibu menggendong saya, dan kemudian, teringat kalau saya anak yang lebih besar. Sehingga ia menurunkan saya dan menggendong adik saya. (hlm. 123). Adler melihat bahwa ingatan ini berhubungan langsung dengan rasa tidak percaya terhadap wanita yang dialami pria tersebut. Awalnya ia adalah anak istimewa, pada akhirnya posisi tersebut menjadi milik adiknya. Walaupun orang lain mungkin menyatakan bahwa mereka mencintai pria tersebut, mereka dengan segera akah menarik cinta mereka. Perhatikan bahwa Adler tidak percaya bahwa pengalaman masa kecil menyebabkan pria tersebut memiliki ketidakpercayaan kepada wanita, tetapi lebih melihat bahwa gaya hidupnya yang penuh ketidakpercayaan membentuk dan mewarnai ingatan masa kecilnya.

Adler yakin bahwa pasien pasien yang memiliki kecemasan tinggi akan sering memproyeksikan gaya hidup yang dijalaninya ke dalam ingatan akan pengalaman masa kecil mereka dengan mengungkapkan kembali peristiwa peristiwa yang menyebabkan timbulnya rasa takut, seperti mengalami kecelakaan, kehilangan orang tua, pengalaman diganggu oleh anak anak lain. Sebaliknya, orang orang yang percaya diri cenderung mengungkapkan ingatan yang melibatkan hubungan yang menyenangkan dengan orang lain. Dalam tiap kasus tersebut, pengalaman masa kecil tidak menentukan gaya hidup seseorang. Adler yakin bahwa yang sebaliknyalah yang terjadi, yaitu ingatan akan pengalaman masa kecil sesungguhnya dibentuk oleh gaya hidup yang dijalani seseorang.

  • Analisis mimpi

Menurut Adler, gaya hidup seseorang juga terekspresikan dalam mimpi. Adler menolak pandangan Freud bahwa mimpi adalah ekpresi keinginan masa kecil. Menurut Adler, mimpi bukan pemuas keinginan yang tidak diterima ego, tetapi merupakan bagian dari usaha si pemimpi untuk memecahkan masalah yang tidak disenangi atau masalah yang tidak dikuasainya ketika sadar.

Mimpi, menurut Adler, adalah usaha dari ketidak sadaran untuk menciptakan suasana hati atau keadaan emosional sesudah bangun nanti, yang bisa memaksa si pemimpi melakukan kegiatan yang semula tidak dikerjakan (Alwisol, 2005: 109).

Walaupun mimpi tidak bisa meramalkan masa depan, mimpi bisa memberiikan petunjuk untuk mengatasi masalah di masa depan. Namun demikian, orang yang bermimpi tidak ingin mengatasi masalahnya dengan cara yang produktif. Adler (1956) melaporkan mimpi seorang pria berusia 35 tahun yang sedang mempertimbangkan untuk menikah. Dalam mimpinya, pria tersebut “menyeberangi perbatasan antara austria dan hungaria, dan mereka ingin memenjarakan saya” (hlm. 361). Adler menginterpretasikan mimpi ini bahwa si pemimpi ingin berdiam diri karena ia akan kalah bila terus maju. Dengan kata lain, pria tersebut ingin membatasi aktivitasnya dan tidak punya keinginan kuat untuk mengubah statusnya. Ia tidak ingin “dipenjarakan” oleh perkawinan. Tiap interpretasi akan hal ini atau mimpi yang lain seharusnya bersifat sementara dan terbuka untuk diinterpretasi ulang. Adler (1956) menyatakan peraturan emas tentang psikologi individual dalam mempelajari mimpi, yaitu “segalanya bisa berbeda” (hlm. 363).  Jika satu interpretasi tidak terasa tepat, maka cobalah interpretasi yang lain.

Segera sebelum perjalanan Adler yang pertama ke Amerika Serikat pada tahun 1926, ia mendapat mimpi yang jelas sehingga membuatnya gelisah, dan mimpi ini berhubungan langsung dengan hasratnya untuk mengembangkan psikologi individual ke dunia baru dan membebaskan dirinya dari belenggu Freud dan Wina. Malam sebelum ia beragkat ke Amerika, Adler bermimpi bahwa ia diatas kapal ketika ;

Tiba tiba kapal itu terbalik dan tenggelam. Semua harta benda Adler ada di dalamnya dan dihancurkan oleh ombak yang mengamuk. Terlempar ke dalam samudera, Adler berenang untuk menyelamatkan nyawanya. Sendirian dia menggelepar dalam air yang menggelombang. Akan tetapi melalui kekuatan, kemauan, dan bulatnya tekad, ia mencapai daratan dengan selamat. (Hoffman, 1994, hlm. 15,151).

Adler menginterpretasikan mimpinya bahwa ia harus mengerahkan keberanian untuk pergi ke dunia baru dan melepaskan diri dari dunia yang lama.

Walaupun Adler percaya bahwa ia bisa dengan mudah menginterpretasikan mimpinya, ia menyatakan bahwa kebanyakan mimpi itu bersifat menipu dan tidak mudah dioahami oleh si pemimpi. Mimpi itu tersamar untuk mengecoh si pemimpi, membuatnya sulit untuk menginterpretasikan sendiri arti mimpi tersebut. Semakin tidak kondsisten tujuan seseorang dengan realitas, semakin besar kemungkinan mimpi orang tersebut digunakan untuk mengecoh diri. Contohnya, seorang pria ingin meraih tujuan menjadi terkenal, berada di posisi atas, atau menjadi figur militer yang penting. Jika pria ini juga memiliki gaya hidup yang bergantung pada orang lain, maka tujuannya yang ambisius mungkin akan diekspresikan dalam mimpi dimana ia sedang diangkat di atas bahu orang lain atau sedang ditembakkan dari sebuah meriam. Mimpi membuka selubung tentang gaya hidup seseorang, tetapi mimpi mengecoh si pemimpi dengan menyajikan suatu pencapaian dan kekuasaan yang tidak realistis dan berlebihan. Sebaliknya, seorang yang mempunyai keberanian dan kemandirian dengan ambisi yang sama besarnya seperti pria tadi mungkin akan bermimpi sedang terbang sendiri atau mecapai tujuan tanpa banyak bantuan, sama seperti yang Adler alami ketika ia bermimpi selamat dari kapal yang tenggelam.

DAFTAR PUSTAKA

  • http://hamdimuhamad.blogspot.co.id/2015/09/teori-kepribadian-alfred-adler.html
  • Suryabrata, Sumadi. 1983. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press
  • Olson, Matthew H., Hergenhahn, B.R.. 2013. Pengatar Teori-teori Kepribadian Edisi Kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Feist & Feist. (2013). Teori Kepribadian. Jakarta:Salemba Humanika.
  • Hill, Calvin & Gardner Lindzey. (1993). TEORI-TEORI PSIKODINAMIKA (KLINIS). Yogyakarta:Kanisius
  • Hall, C.,Lindzey, G. 1985. Personality Theories. NewYork: Jhon Wiley Sons
  • Pervin,Cervone and  John. 2005 9th edition. Personality Theory and Research. America: John Wiley and Sons.
  • http://jabar.tribunnews.com/2017/06/16/urutan-kelahiran-anak-pengaruhi-tingkat-kecerdasan-benarkah-demikian?page=3
  • The Individual Psychology of Alfred Adler: A systematic presentation in selections from his writings. (H. L. and R. R. Ansbacher, Eds.). © 1964, Harper & Row, Publishers, Inc. Used by permission of Perseus Books Group.
  • Anonim. 2008. The Neopsychoanalytic Approach: Chapter 3 Alfred Adlers. 06257_04_ch3_p129-157.indd
  • Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 1 No. 1 September 2012; Seri B 87 – 326
  • AmarSuteja, Teori Psikoanalisis oleh Alfred Adler, http://amarsuteja.blogspot.co.id/2012/12/teori-psikoanalisis-oleh-alfred-adler.html
  • Ansbacher, H.L. & Ansbacher, R.R. (1964). The Individual Psychology of Alfred Adler. New York, NY: Harper & Row.
  • Auster, P. (2012) Winter Journal. Toronto, ON: McClelland & Stewart.
  • Deleuze, G. (1994). Difference and Repetition. New York: Columbia University Press.
  • Ehrenreich, B. (2009) Smile or Die: How Positive Thinking Fooled America and the World. London: Granta.
  • Engler, B. (2009). Personality Theories: An Introduction. Boston, MA: Houghton Mifflin.
  • https://jamesmustafa.wordpress.com/2008/03/12/ing-han-pengabdian-seorang-tunanetra/

Teori Aktualisasi Diri Carl Rogers

Menurut Rogers, organisme memiliki satu kekuatan pendorong tunggal – mendorong aktualisasi diri – dan satu gol tunggal dalam hidup – untuk menjadi diri yang teraktualisasikan. Pengalaman dinilai apakah dapat memberi kepuasan atau tidak, mula-mula secara fisik namun kemudian berkembang menjadi kepuasan emosional dan sosial. Akhirnya konsep self itu mencakup gambaran siapa dirinya, siapa seharusnya dirinya dan siapa kemungkinan dirinya. Kesadaran memiliki konsep diri kemudian mengembangkan penerimaan positif.

Dinamika kepribadian

Sebagaimana ahli humanistik umumnya, Rogers mendasarkan teori dinamika kepribadian pada konsep aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah daya yang mendorong pengembangan diri dan potensi individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi ciri seluruh manusia. Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada pengembangan yang optimal dan menghasilkan ciri unik manusia seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain.

  1. Penerimaan Positif (Positive Regard). Orang merasa puas menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapat memberi regard positif kepada orang lain.
  2. Konsistensi dan Saling-Sesuai Self (Self Consistensy and Congruence). Organisme berfungsi untuk memelihara konsistensi (keajegan = keadaan tanpa konflik) dari persepsi diri, dan kongruen (saling sesuai) antara persepsi self dengan pengalaman.
  3. Aktualisasi Diri (Self Actualization).Jika Freud memandang organisme sebagai sistem energi, dan mengembangkan teori bagaimana energi psikik ditimbulkan, ditransfer dan disimpan, Rogers memandang organisme terus menerus bergerak maju. Tujuan tingkah laku bukan untuk mereduksi tegangan enerji tetapi mencapai aktualisasi diri yaitu kecenderungan dasar organisme untuk aktualisasi: yakni kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan peningkatan diri (enhancement).

Kecenderungan Mengaktualisasi

Rogers percaya, manusia memiliki satu motif dasar, yaitu kecenderungan untuk mengaktualisasi diri. Kecendeurngan ini adalah keinginan untuk memenuhi potensi yang dimiliki dan mencapai tahap “human-beingness” yang setinggi-tingginya. Kita ditakdirkan untuk berkembang dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan kepribadian kita. Proses penilaian (valuing process) bawah sadar memandu kita menuju perilaku yang membantu kita mencapai potensi yang kita miliki. Rogers percaya, bahwa manusia pada dasarnya baik hati dan kreatif. Mereka menjadi destruktif hanya jika konsep diri yang buruk atau hambatan-hambatan eksternal mengalahkan proses penilaian.

Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin matang dalam bersosialisasi. Rogers menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan. Untuk bergerak ke arah mendapatkan tujuannya, manusia harus mampu membedakan antara perilaku yang progresif (perilaku yang mengarahkan pada aktualisasi diri) dan perilaku yang regresif (perilaku yang menghalangi pada tercapainya aktualisasi diri).

Rogers menempatkan aktualisasi diri sebagai suatu kebutuhan fundamental, dalam sistemnya tentang kepribadian, memelihara, mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis, meski selama tahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis. Rogers menyadari bahwa manusia kadang bertindak negatif, namun ia mengklaim kalau tindakan tersebut tidak cocok dengan hakikat manusia, tindakan itu lebih dihasilkan oleh rasa takut dan pertahanan diri.

Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia yang beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan makanan, air dan udara. Karena itu kecnderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar.

Aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada mempertahankan organisme. Aktualisasi juga memudahkan untuk meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Jika bayi bertambah besar, organ-oprgan tubuh dan proses-proses fisiologis menjadi makin kompleks dan berdiferensiasi karena mereka mulai berfungsi dalam arah-arah yang dituju. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan sifat-sifat jenis kelamin sekunder pada masa remaja.

Proses pematangan yang penuh tidak dicapai secara otomatis, meski fakta bahwa “blue print” bagi proses pematangan terkandung dalam struktur genetis individu. Proses ini memerlukan banyak usaha. Rogers membandingkannya dengan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seseoang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kuranng merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur, Rogers berpendapat bahwa kecenderungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta dorongan yang ikut menghetnikan usaha untuk berkembang.

Kecenderungan aktualisasi pada tingkat fisiologis benar-benar tidak dapat dikekang, kecenderungan itu mendorong individu ke depan dan salah satu tingkat pematangan ke tingkat pematangan berikutnya yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dan tumbuh. Dari segi fisiologis, kecenderungan aktualisasi ini tidak diarahkan kepada reduksi tegangan. Perjuangan serta keuletan yang terlibat dalam aktualisasi membuat kita bertambah dan bukan menjadi kurang tegang. Maka tujuan hidup tidak hanya mempertahankan suatu keseimbangan homeostatis atau suatu tingkat ketenteraman dan kesenangan yang tinggi tetapi juga pertumbuhan dan peningkatan. Arah kita ialah ke depan, ke arah tujuan yang berfungsi makin kompleks sehingga kita dapat menjadi semuanya menurut kemampuan kita untuk menjadi.

Pada tingkat biologis ini, Rogers tidak membedakan antara manusia yang sehat dan manusia yang tidka sehat. Dia tidak menemukan perbedaan antara orang yang sehat dan orang yang sakit secara emosional, menurut jumlah atau perhitungan dari apa yang mungkin disebut aktualisasi biologis. Tetapi apabila kita memikirkan segi-segi psikologis dari aktualisasi maka jelas ada perbedaan.

Ketika seseorang bertambah besar, maka “diri” mulai berkembang. Pada saat itu juga tekanan dalam aktualisasi beralih dari yang fisiologis kepada yang psikologis. Tubuh dan bentuk-bentuk serta fungsi-fungsinya yang khusus telah mencapai tingkat perkembanngan yang dewasa, dan pertumbuhan lalu berpusat kepada kepribadian. Rogers tidak menjelaskan kapan perubahan ini terjadi, tetapi seseorang dapat menarik kesimpulan dari tulisan-tulisan bahwa perubahan ini mulai pada masa kanak-kanak dan selesai pada akhir masa adolesensi.

Setelah konsep diri muncul, kecenderungan pada aktualisasi diri mulai kelihatan. Proses yang tetap dan berkesinambungan ini merupakan tujuan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Aktualisasi adalh proses menajdi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa menciptakan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yan dicapai jauh lebih sering oleh orang-prang yang sehat daripada oleh orang-orang yang sakit secara psikologis.

Ada satu perbedaan yang penting antara kecenderungan umum dan kecenderungan khusus ke arah aktualisasi diri. Pematangan dan perkembangan seluruh organisme sama sekali tidak dipengaruhi oleh belajar dna pengalaman. Misalnya, seandainya fungsi hormon/kimiawi tepat, maka seseorang akan mengembangkan sifat-sifat jenis kelamin sekunder, pengalaman sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perkembangan semcam ini. Akan tetapi aktualisasi diri ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial dan bukan oleh kekuatan-kekuatan biologis. Jadi, aktualisasi akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar, khususnya dalam masa kanak-kanak.

Struktur Kepribadian

Sejak awal Rogers mengamati bagaimana kepribadian berubah dan berkembang. Ada tiga konstruk yang menjadi dasar penting dalam teorinya: Organisme, Medan fenomena, dan Self.

Pengertian organisme mencakup tiga hal:

  • Makhluk hidup: Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya dan merupakan tempat semua pengalaman, potensi yang terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang tentang kejadian yang terjadi dalam diri dan dunia eksternal.
  • Realitas Subyektif: Organisme menganggap dunia seperti yang dialami dan diamatinya. Realita adalah persepsi yang sifatnya subyektif dan dapat membentuk tingkah laku.
  • Holisme: Organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan dalam satu bagian akan berpengaruh pada bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yaitu tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.

Proses Penilaian Organismik

Semua pengalaman organisme dapat dievaluasi dengan menggunakan kecenderungan mengaktualisasi sebagai kerangka acuan. Rogers menyebut metode mengevaluasi pengalaman individu ini sebagai proses penilaian oraganismik. Pengalaman-pengalaman yang cocok dengan kecenderungan mengaktualisasi terasa memuaskan dan karenanya didekati dan dipertahankan. Sebaliknya pengalaman yang tidak cocok dengan kecenderungan mengaktualisasi terasa tidak memuaskan dan karenanya dihindari atau dihilangkan. Proses penilaian organismik menciptakan sebuah sistem umpan balik yang memampukan organisme mengkoordinasikan pengalaman-pengalamannya dengan kecenderungan menuju aktualisasi diri. Artinya manusia bisa mempercayai perasaan-perasaan mereka.

Rogers yakin bahkan bayi, jika diberi kesempatan akan memilih apa yang terbaik untuk mereka. Jika bayi di suatu momen menilai tinggi makanan, namun ketika sudah kenyang, merasa muak dengannya. Di suatu momen stimulasi dinilai tinggi dan lama kemudian penilaian tinggi diberikan ke stimulasi lain, siapa pun anak yang menemukan kepuasan dari pola makan yang baik, maka di jangka panjang akan menghasilkan perkembangan yang baik (Olson & Hergenhan, hal 781)

Di dalam hidupnya sendiri, Rogers belajar nilai dari bertindak berdasakan perasaannya sendiri. Menilai perasaan (emosi) lebih daripada akal dan menyakini kebaikan inheren manusia menempatkan Rogers di dalm tradisi filosofis romantisme (Hergenhan, 2009). Dan memang terdapat hubungan sangat kuat antara romantisme dan psikologi humanistik.

Medan Fenomena: Medan fenomena adalah keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik disadari maupun tidak disadari. Medan fenomena ini merupakan seluruh pengalaman pribadi seseorang dalam hidupnya di dunia, sebagaimana persepsi subyektifnya. Kutipan berikut mengidentifikasikan Rogers sebagai fenomenolog dan memperlihatkan kedekatan pandangannya dengan Kelly:

“Satu-satunya realitas yang bisa saya ketahui adalah dunia seperti yang saya cerap dan alami di momen ini. Satu-satunya realitas yang bisa anda ketahui hanyalah dunia seperti yang anda cerap dan alami di momen ini. Dan satu-satunya kepastian dari pencerapan realitas itu adalah perbedaan-perbedaan antar individu. Ada banyak dunia riil sebanyak jumlah manusia di bumi” (Olson & Hergenhan, hal 782).

Menurut Rogers, semua orang tinggal di dunia subjektif, yang dapat diketahui dalam pengertian sekomplet mungkin hanya oleh diri sendiri. Adalah realitas fenomenologis dan bukannya dunia fisik yang menentukan perilaku manusia. Dengan kata lain, bagaimana seseorang menginterpretasikan hal-hal maka itulah satu-satunya realitas baginya. Realitas pribadi ini berkorelasi dengan realitas objektif hanya saja jenis dan tingkatnya berbeda-beda sesuai individu yang mengalaminya. Realitas subjektif fenomenologis inilah yang menurut Rogers harus diupayakan terapis untuk terpahami.

Sejumlah besar kemiripan muncul di titik ini antara teori Rogers dan teori Kelly. Keduanya sama-sama menekankan interpretasi subjektif tunggal terhadap pengalaman, dan itulah sebabnya kenapa mereka sama-sama dilabeli banyak orang sebagai fenomenolog. Namun begitu, ada perbedaan besar anatar Rogers dan Kelly, yaitu terkait kecenderungan mengaktualisasi. Focus utama Kelly adalah manusia terus mencoba konstruk baru untuk menemukan perangkat yang terbaik agar bisa mengantisipasi masa depan. Karena itu bagi Kelly tidak ada kondisi yang sudah ditentukan secara bawaan yang kepadanya manusia mengembangkan diri, dengan kata lain, setiap individu menemukan kepribadiannya sebdiri dan bukannya bertindak sesuai fitur utama yang sudah ditentukan secara genetik. Pandangan oara teorisi sosial kognitif juga mirip dengan perspektif Kelly ini.

Rogers membedakan pengalaman dan kesadaran. Pengalaman adalah sesuatu yang terjadi dalam diri dan lingkungan organisme di momen tertentu yang berpotensi untuk tersedia bagi kesadaran. Ketika pengalaman potensial ini jadi tersimbolkan, mereka pun memasuki kesadaran kita dan menjadi bagian dari bidang fenomenologis individu. Simbol-simbol yang bertindak sebagai wahana bagi pengalaman yang memasuki kesadaran biasanya adalah kata-kata, namun tidak mesti demikian. Rogers yakin bahwa simbol-simbol bisa juga berupa imaginasi visual dan auditoris. Pemilahan pengalaman dari kesadaran ini sangat penting bagi rogers, karena kondisi tertentu telah menyebabkan seseorang menyangkut atau mendistorsi pengalaman-pemgalaman kesadaran.

Self (Diri): Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian Rogers, yang intinya adalah:

  • Terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu.
  • Self mungkin menginteraksi nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar
  • Bersifat integral dan konsisten.
  • Menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self sebagai ancaman.
  • Dapat berubah karena kematangan dan belajar.

Carl Rogers mendeskripsikan the self sebagai sebuah konstruk yang menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan satu-satunya sruktur kepribadian yang sebenarnya. Self ini dibagi 2 yaitu: Real Self dan Ideal Self. Real Self adalah keadaan diri individu saat ini, sementara Ideal Self adalah keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut. Perhatian Rogers yang utama adalah bagaimana organisme dan self dapat dibuat lebih.

Rogers tidak memfokuskan diri untuk mempelajari “tahap” pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, namun dia lebih tertarik untuk meneliti dengan cara yang lain yaitu dengan bagaimana evaluasi dapat menuntun untuk membedakan antara pengalaman dan apa yang orang persepsikan tentang pengalaman itu sendiri.

Contoh sederhana dapat dilihat sebagai berikut: seorang gadis kecil yang memiliki konsep diri bahwa ia seorang gadis yang baik, sangat dicintai oleh orangtuanya, dan yang terpesona dengan kereta api kemudian menungkapkan pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi insinyur mesin dan akhirnya menjadi kepala stasiun kereta api. Orang tua gadis tersebut sangat tradisional, bahkan tidak mengijikan ia untuk memilih pekerjaan yang diperutukan laki-laki. Hasilnya gadis kecil itu mengubah konsep dirinya. Dia memutuskan bahwa dia adalah gadis yang “tidak baik” karena tidak mau menuruti keinginan orang tuanya. Dia berfikir bahwa orang tuanya tidak menyukainya atau mungkin dia memutuskan bahwa dia tidak tertarik pada pekerjaan itu selamanya.

Beberapa pilihan sebelumnya akan mengubah realitas seorang anak karena ia tidak buruk dan orangtuanya sangat menyukai dia dan dia ingin menjadi insinyur. Self image dia akan keluar dari tahapan pengalaman aktualnya. Rogers berkata jika gadis tersebut menyangkal nilai-nilai kebenarannya dengan membuat pilihan yang ketiga – menyerah dari ketertarikannya – dan jika ia meneruskan sesuatu sebagai nilai yang ditolak oleh orang lain, dirinya akan berakhir dengan melawan dirinya sendiri. Dia akan merasa seolah-olah dirinya tidak mengetahui dengan jelas siapa dirinya sendiri dan apa yang dia inginkan, maka ia akan berkepribadian keras, tidak nyaman.

Jika penolakan menjadi style, dan orang tidak menyadari ketidaksesuaian dalam dirinya maka kecemasan dan ancaman muncul akibat dari orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian itu. Sedikit saja seseorang menyadari bahwa perbedaan antara pengalaman organismik dengan konsep diri yang tidak muncul ke kesadaran telah membuatnya merasakan kecemasan. Rogers mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya tidak diketahui. Ketika orang makin menyadari ketidaksesuaian antara pengalaman dengan persepsi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri yang sesuai. Kecemasan dan ancaman yang menjadi indikasi adanya ketidaksesuaian diri dengan pengalaman membuat orang berada dalam perasaan tegang yang tidak menyenangkan namun pada tingkat tertentu kecemasan dan ancaman itu dibutuhkan untuk mengembangkan diri memperoleh jiwa yang sehat.

Bila seseorang, antara “self concept”nya dengan organisme mengalami keterpaduan, maka hubungan itu disebut kongruen (cocok) tapi bila sebaliknya maka disebut inkongruen (tidak cocok) yang bisa menyebabkan orang mengalami sakit mental, seperti merasa terancam, cemas, defensif dan berpikir kaku serta picik.

Sifat-sifat dari ketiga konsepsi (Organisme, Medan Fenomenal dan Self) yang saling berhubungan dirumuskan oleh Rogers dalam 19 dalil dalam bukunya Client-Centered Therapy, dan inilah yang merupakan teori Rogers mengenali self:

  1. Tiap individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, di mana dia menjadi pusatnya
  2. Organisme bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)
  3. Organisme bereaksi terhadap medan fenomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)
  4. Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri
  5. Pada dasarnya tingkah laku itu adalah usaha organisme yang berarah tujuan (goal directed, doelgericht), yaitu untuk memuaskan kebutuhan –kebutuhan sebagaiana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatainya.
  6. Emosi menyertai dan pada umumnya memberikan fasilitas tingkah laku berarah tujuan itu.
  7. Jalan yang paling baik untuk memahami tingkah laku ialah dengan melalui internal frame of reference orangnya sendiri.
  8. Suatu bagian dari seluruh medan pengamatan sedikit demi sedikit terdiferensasikan sebagai self.
  9. Sebagai hasil saling pengaruh (interaction) dengan lingkungan, terutama sebagai hasil dari saling pengaruh yang bersifat menilai dengan orang-orang lain, struktur self itu terbentuk pola pengamatan yang teratur, lentur, selaras dalam hubungan dengan “aku” atau “ku”, beserta nilai-nilai yang dihadapi dengan konsepsi ini
  10. Nilai-nilai terikat kepada pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian struktur self, dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang dialami langsung oleh organisme, dan dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang diintroyekskan atau diambil dari orang lain, tetapi diamati sebagai dialaminya langsung.
  11. Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu itu dapat dihadapi demikian:
  • Dilambangkan, diamati, dan diatur dalam hubungan dengan self.
  • Diabaikan karena tak ada hubungan yang terlihat dengan struktur self.
  • Ditolak atau dilambangkan secara palsu oleh karena pengalaman itu tak selaras dengan struktur self.
  1. Kebanyakan cara bertingkah laku yang diambil orang ialah yang selaras dengan konsepsi self.
  2. Dalam beberapa hal tingkah laku itu mungkin didorong oleh pengalaman-pengalaman dan kebutuhan-kebutuhan organis yang tidak dilambangkan. Tingkah laku yang demikian itu mungkin tidak serasi dengan struktur self, akan tetapi dalam hal yang demikian tingkah laku itu tidak diakui (dimiliki) oleh individu yang bersangkutan.
  3. Psychological adjusment terjadi apabila organisme menolak menjadi sadarnya pengalaman sensoris dan visceral yang kuat, yang selanjutnya tidak dilambangkan dan diorganisasikan ke dalam gestalt struktur self, apabila hal ini terjadi, maka akan terjadi psychological tension.
  4. Psychological adjustment terjadi apabila konsepsi self itu sedemikian rupa, sehingga segala pengalaman sensoris dan visceral diasimilasikan pada taraf lambang (sadar) ke dalam hubungan yang selaras dengan konsepsi self.
  5. Tiap pengalaman yang tak selaras dengan organisasi atau stuktur self akan diamati sebagai ancaman, dan makin meningkat pengamatan itu akan makin tegas struktur self itu untuk mempertahankan diri
  6. Dalam kondisi tertentu, pertama-tama tiadanya ancaman terhadap struktur self, pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self dapat diamati dan diuji dalam struktur self direvisi untuk dapat mengasimilasi dan melingkup pengalaman-pengalaman yang demikian itu.
  7. Apabila orang mengalami dan menerima segala pengalaman sensoris dan visceralnya ke dalam sistemnya yang integral dan selaras, maka dia akan lebih memahami orang lain dan menerima orang lain sebagai individu.
  8. Kalau individu lebih banyak lagi mengamati dan menerima ke dalam struktur selfnya pengalaman-pengalaman organisnya, dia akan mengetahui bahwa dia mengganti sistem nilai-nilainya kini yang pada umumnya didasarkan pada introyeksi yang telah diterimanya dalam bentuk yang tidak wajar dengan psoses penilaian yang terus menerus.

 

Dalam menyimpulkan dalil-dalilnya itu Rogers mengatakan:

“Teori ini pada dasarnya bersifat fenomenal dan terutama berhubungan dengan konsepsi untuk menerangkan. Teori itu menggambarkan titik akhir perkembangan kepribadian, yaitu adanya kesamaan pokok antara medan pengalaman fenomenal dan struktur self secara konseptual.”

Pada awalnya bayi tidak bisa membedakan kejadian-kejadian di bidang fenomenologis mereka; semua kejadian bercampur aduk ke dalam satu konfigurasi saja, tetapi secara bertahap, lewat pengalaman dengan label-label verbal seperti “saya” dan ‘aku”, seporsi bidang fenomenologis mulai terpilih sebagai diri. Di titik ini seseorang bisa saja berefleksi tentang dirinya sebagai objek yang berbeda di mana ia menjadi sadar.

Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu pengertian diri (self concept).

Sebagai bagian dari self concept, anak juga mengambarkan dia akan menjadi siapa. Gambaran-gambaran itu dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi-interaksi dengan orang-orang lain. Dengan mengamati reaksi dari orang-orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran yang konsisten, suatu keseluruhan yang terintegrasi di mana kemungkinan adanya beberapa ketidakharmonisan antara diri sebagaimana adanya dan diri sebagaimana yang mungkin diinginkannya untuk menjadi diperkecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri, munculah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat gangguan emosioanl.

Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini ”pengharapan positif” (positive regards).

Perkembangan Kepribadian

Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, di mana “aku“ merupakan pusat referensi tiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya “dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat.”  Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.

Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu Incongruence dan Congruence.

  1. Incongruence

Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.

Individu yang Tidak Kongruen

Ketidak-kongruenan muncul ketika manusia tidak lagi menggunakan proses penilaian organismik mereka, sebagai cara untuk menentukan apakah pengalaman mereka sudah bersesuaian dengan kencenderungan mengaktualisasi diri. Jika manusia tidak menggunakan penilaian mereka sendiri ntuk mengevaluasi pengalaman, maka mereka biasanya menggunakan nilan terintroyeksi mlik orang lain. Artinya, kondisi keberhargaan telah menggantikan proses penilain organismik mereka sebagai kerangka acuan untuk mengevaluasi pengalaman tersebut. Ini menghasilkan sebuah alienasi antara diri dan pengalaman karena di bawah situasi-situasi ini, apa yang sungguh memuaskan baginya disangkal kesadaran karena tidak sesuai dengan kondisi keberhargaan yangn terintroyeksikan.

Rogers melihat ketidak-kongruenan adalah penyebab semua masalah penyesuaian diri manusia. Karena itulah mengeliminasi ketidak-kongruenan akan menjawab masalah-masalah tersebut.

“Ini adalah pengasingan dasar manusia. Ia tidak menjadi dirinya sebenarnya, menggunakan penilaian organismik alamiahnya tentang pengalaman, melainkan demi mempertahankan pengharapan positif orang lain, sehingga sekarang ia memfalsifikasi beberapa nilai yang dialaminya dan memahami mereka hanya berdasarkan nilai mereka bagi orang lain. Namun ini bukan pilihan yang tegas, selain perkembangan yang alamiah dan tragis. Jalan perkembangan menuju kematangan psikologis adalah menghilanngkan pengasingan di dalam fungsi manusia ini. Pencapaian sebuah diri yang kongruen dengan pengalaman, dan perestorasian proses penilaian organismik yang menyatu sebagai regulator perilaku (Olson, Hergenhahn, hal 786).

Saat terjadi ketidak-kongruenan antara diri dan pengalaman yang dimiliki seseorang, kekeliruan penyesuaian diri dan kerapuhan terhadap kecemasan dan ancaman lah yang muncul sehingga perilakunya menjadi defensif.

Kecemasan muncul ketika manusia mensubsepsi pengalaman sebagai sesuatu yang tidka cocok dengan struktur diri dan kondisi keberhargaan yang terintroyeksi. Dengan kata lain kecemasan dialami ketika suatu kejadian yang ditemui mengancam struktur diri yang ada. Rogers selalu mengatakan bahwa kejadian merupakan disubsepsi bukan dipersepsi. Subsepsi adalah pendeteksian sebuah pengalaman sebelum ia masuk ke dalam kesadaran yang sepenuhnya. Kejadian yang secara potensial mengancam ini dapat saja disangkal atau didistorsi sebelum dia menyebabkan kecemasan. Menurut Rogers, proses pertahanan yang dilakukan manusia terhadap kecemasan ini utamanya terdiri atas pengeditan pengalaman dengan menggunakan mekanisme penyangkalan dan distorsi, membuat mereka tetap berkesuaian dengan struktur diri. Menurut Rogers pengalaman menolak simbolisasi bukan karena diangggap berdosa atau nakal atau berlawanan dari norma-norma moral seperti yang diyakini Freud, melainkan karena berlawanan dengan struktur diri. Misal, jika kondisi keberhargaan yang terintroyeksikan meliputi “murid bodoh”, maka menerima nilai tinggi di sebuah tes justru akan merasa mengancam baginya, dan pengalaman ini akan cenderung ditolak atau didistorsi. Orang yang seperti iu mungkin akan berkata, contohnya, dia hanya beruntung atau guru melakukan kesalahan.

Menurut Rogers, hampir semua individu mengalami ketidak-kongruenan dan karenanya mempertahankan diri terhadap simbolisasi pengalaman tertentu terhadap kesadaran. Hanya ketika ketidak kongruenan sangat berat barulah masaah penyesuaian muncul.

  1. Kongruensi

Kongruen berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan saksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya incongruence ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Di sisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan congruence-nya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.

Dampak dari incongruence, manusia akan merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatannya sehingga mereka mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan tingkat incongruence yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus-menerus.

Contoh: Erin yakin bahwa dia merupakan orang yang sangat dermawan, sekalipun dia seringkali sangat pelit dengan uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang sedikit atau bahkan tidak memberikan tips sama sekali saat di restoran. Ketika teman makan malamnya memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya, dia tetap bersikukuh bahwa tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan pelayanan yang dia terima. Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian tipsnya pada pelayanan yang buruk, maka dia dapat terhindar dari kecemasan serta tetap menjaga konsep dirinya yang katanya dermawan.

Kebutuhan Penghargaan Positif

Dengan munculnya diri, muncul pula kebutuhan akan penghargaan positif yang diyakini Rogers universal meski tidak selalu bersifat bawaan. Penghargaan positif berarti menerima kehangatan, cinta, simpati, perhatian, penghargaan dan penerimaan dari individu yang relevan di hidup seseorang. Dengan kata lain, perasaan ini muncul saat dihargai oleh individu-individu yang penting dalam hidup kita.

Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan dimiliki semua manusia. Tiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak tiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang lain, dan dia akan kecewa jika dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positif regard itu dipuaskan dengan baik.

Sebagai bagian dari tipikal dari proses sosialisasi, anak belajar ada hal-hal yang mereka bisa dan tidak bisa lakukan. Terlalu sering orangtua memberikan penghargaan positif terhadap perilaku anak yang diinginkan. Misal, jika anak melakukan hal tertentu akan menerima penghargaan positif, naun jika tidak, anak tidak akan menerimanya. Menurut Rogers, Ini menciptakan kondisi yang dinamakan kondisi keberhargaan, yang menspesifikkan situasi di mana anak menerima penghargaan positif. Melalui perulangan pengalaman bagi kondisi yang berharga ini, anak menginternalisasinya, menjadikannya bagian-bagian dari struktur dirinya. Sekali teinternalisasi akan menjadi suatu kesadaran, hal ini akan tumbuh menjadi suara hati, atau superego, yang memandu perilaku anak bahkan ketka orang tuanya tidak hadir.

Tiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Dari kebutuhan akan penghargaan positif, muncul kebutuhan akan penghargaan diri. Artinya, anak mulai mengembangkan kebutuhan untuk memandang dirinya secara positif. Dengan kata lain anak-anak ingin orang lain merasa baik tentang diri mereka, dan mereka ingin merasa baik tentang diri mereka sendiri. Kondisi-kondisi yang membuat individu penting di hidup mereka menghargai secara positif ini terintroyeksikan ke dalam struktur diri mereka dan karenanya mereka harus bertindak sesuai kondisi-kondisi tersebut agar bisa menghargai dirinya secara positif. Anak-anak sekarang bisa meraih kondisi keberhargaan. Sayangnya, ketika kondisi keberhargaan ini sudah dibentuk, satu-satunya cara anak bisa melihat dirinya secara positif adalah dengan bertindak sesuai nilai-nilai orang lain yang sudah mereka internalisasikan. Sekarang perilaku anak tidak lagi dipandu proses penilaian organismik mereka selain oleh kondisi-kondisi di lingkungan mereka yang berkaitan dengan penghargaan positif.

Kapanpun terdapat kondisi keberhargaan dalam hidup anak-anak, mereka dapat dipaksa untuk menyangkali evaluasi mereka sendiri tentang pengalaman mereka itu demi mendukung evaluasi orang lain, dan ini menyebabkan sebuah alienasi antara pengalaman orang lain dan diri mereka yang kemudian menciptakan sebuah kondisi tidak kongruen.

Self concept yang berkembang dari anak itu sangat dipengaruhi oleh ibu: bagaimana jika dia tidak memberikan positive regard kepada anak? Bagaimana jika dia mencoba mencela dan menolak tingkah laku anaknya? Anak itu mengamati suatu celaan (meski celaan hanya berfokus pada salah satu segi tingkah laku? Sebagai suatu celaan yang luas dan tersebar dalam tiap segi dari apa adanya. Anak itu menjadi peka terhadap tiap tanda penolakan dan segera mulai merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi yang diharapkan akan diberikan. Dalam hal ini, anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang-orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena dia telah merasa kecewa, maka kebutuhan akan positive regard yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengarahkan energi dan pikiran. Anak itu harus bekerja keras untuk positive regard dengan mengorbankan aktualisasi diri.

Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

  1. Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) di mana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.

Syarat utama timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positif regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang yang diberikan dengan bebas ini dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan, sama seperti halnya sikap-sikap ibu yang memperlihatkan conditional positive regard diinternalisasikan anaknya.

“Jika seorang individu harus mengalami hanya penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak ada kondisi keberhargaan yang akan muncul, penghargaan dirinya akan tanpa syarat, kebutuhan akan penghargaan positif dan penghargaan diri tidak akan pernah bertentangan dengan evaluasi organismik, dan individu akan terus menyesuaikan diri secara psikologis, dan akan berfungsi sepenuhnya (Rogers dalam Olson, Hergenhan, hal 785).

Tidak berarti Rogers yakin bahwa anak mestinya diperbolehkan melakukan apapun yang mereka mau. Dia yakin bahwa pendekatan rasional dan demokratis untuk mengatasi persoalan perilaku adalah yang terbaik. Karena, menurut Rogers, kondisi keberhargaan ada di jantung persoalan penyesuaian diri semua manusia, mereka mestinya menghindari bagaimanapun juga. Rogers menyatakan strategi berikut untuk mengatasi anak yang keliru bersikap:

Jika bayi merasa dihargai, jika perasaannya sendiri selalu diterima bahkan meski beberapa perilaku dihambat, tidak akan ada kondisi keberhargaan muncul, minimal secara teoritis ini dapat dicapai jika sikap orang tua terbentuk demikian.  “kami bisa mengerti betapa memuaskan rasanya jika kamu bisa memukul adikmu, atau buang air sembarangan kapanpun dan di manapun, dan kami tetap mencintaimu, dan tetap ingin kamu memiliki perasaan dicintai begitu. Namun kami juga ingin kamu mengerti perasaan kami, bahwa kami merasa sedih jika adikmu menangis kesakitan, jadi bisakah kamu tidak lagi memukul adikmu? Perasaanmu dan perasaan kami sama pentingnya, dan kita masing-masing dapat memilikinya dan menggunakannya dengan bebas (Rogers dalam Olson, Hergenhan, hal 785).

Dengan kata lain, Rogers yakin pesan berikut inilah yang mestinya disampaikan kepada anak. Kami mencintaimu sedalam kamu mencintai kamu, tetapi yang kamu lakukan mengecewakan dan karenanya kamu lebih berbahagia jika kamu mengehentikannya. Anak mestinya selalu dicintai, namun beberapa perilakunya tidak.

Unconditional positive regard tidak menghendaki bahwa semua pengekangan terhadap tingkah laku anak tidak ada, tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa dinasehati. Sebab jika demikian halnya, maka ibu tidak boleh melindungi anaknya dari bahaya-bahaya misal, menarik anak menjauhi kompor gas yang panas, karena takut membuat positive regard-nya bersyarat.

Rogers percaya bahwa ibu dapat mencela tingkah laku tertentu tetapi pada saat yang sama juga menciptakan syarat-syarat bagi anak untuk menerima cinta dan kasih sayang. Hal ini dapat dicapai dalam situasi yang membantu anak menerima beberapa tingkah laku tertentu yang tidak dikehendaki tanpa menyebabkannya merasa salah dan tidak berharga setelah melakukan tingkah-tingkah laku tersebut. Anak tidak terlalu banyak dinasehati sehinggga dapat menetapkan syarat-syarat pernghargaan untuk anak karena itulah arahnya bagaimana nasehat itu dilaksanakan.

Anak-anak yang bertumbuh dengan perasaan unconditioanal positive regard tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Mereka merasa diri berharga dalam semua syarat. Dan jika syarat-syarat penghargaan tidak ada maka tidak ada kebutuhan untuk bertingkah laku defensif. Tidak akan ada ketidakharmonisan antara diri dan persepsi terhadap kenyataan.

Untuk orang yang demikian, tidak ada pengalaman yang mengancam. Dia dapat mengambil bagian dalam dan luas, karena diri itu mengandung semua pikiran dan perasaan yang mampu diungkapkan orang itu. Diri itu juga fleksibel dan terbuka kepada semua pengalamam baru. Tidak ada bagian dari diri dilumpuhkan atau terhambat dalam ungkapannya.

Orang ini adalah bebas untuk menjadi orang yang mengaktualisasikan diri, untuk mengembangkan seluruh potensinya. Dan segera setelah proses aktualisasi diri mulai berlangsung orang itu dapat maju ke tujuan terakhir, yakni menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya.

  1. Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.

Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditional positive regard maka dia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi maka sikap ibu diambil alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.

Misal, jika ibu menyatakan celaan tiap saat karena anak menjatuhkan suatu benda dari tempat tidurnya, maka anak itu akhirnya mencela dirinya sendiri sewaktu-waktu. Standar-standar penilaian dari luar menjadi miliknya sendiri dan anak itu “menghukum” dirinya sendiri seperti yang telah dilakukan oleh ibunya sebelumnya. Anak itu “mencintai” dirinya hanya bila dia bertingkah laku menurut cara-cara yang diketahuinya disetujui ibu. Dengan demikian diri menjadi “wakil ibu”.

Karena keadaan yang menyedihkan ini dimana anak menerima conditional positif reward, pertama-tama dari ibunya kemudian dari dirinya, syarat-syarat penghargaan berkembang. Ini berarti bahwa anak itu merasa suatu perasaan harga diri atau pikiran dalam cara-cara yang menyebabkan anak itu merasa salah dan tidak berharga, syarat-syarat yang harus dilawan oleh anak itu. Dan dengan demikian sikap defensif menjadi bagian dari tingkah laku anak tersebut. Sikap tersebut digiatkan sewaktu-waktu terjadi kecemasan, yaitu sewaktu-waktu anak, dan kelak sebagai orang dewasa tergoda untuk menampilkan tipe tingkah laku yang dilarang. Sebagai akibat dari sikap defensif ini, kebebasan individu terbatas, kodrat atau dirinya yang sejati tidak dapat diungkapkan sepenuhnya.

Diri tidak dibiarkan untuk beraktualisasi sepenuhnya karena beberapa segi dari diri harus dicek. Syarat-syarat penghargaan berlaku seperti penutup mata kuda, yang memotong suatu bagian dari pengalaman yang ada. Orang-orang dengan syarat-syarat penghargaan harus membatasi tingkah laku mereka dan mengubah kenyataan bahwa meski menyadari tingkah laku dan pikiran yang tidak pantas, namun dapat merasa terancam kalau mereka memamerkannya. Karena individu-individu ini tidka dapat berinteraksi sepenuhnya dan terbuka dengan lingkungan mereka, maka mereka mengembangkan apa yang disebut Rogers “ketidakharmonisan” (incongruence) antara konsep diri dan kenyataan yang mengitari mereka. Mereka tidak dapat mengaktualisasikan semua segi dari diri. Dengan kata lain mereka tidak dapat mengembangkan kepribadian-kepribadian yang sehat.

Pribadi Yang Berfungsi Sepenuhnya

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Dalam banyak hal, pribadi yang berfungsi penuh mirip bayi kecil karena hidup sesuai proses penilaian organismiknya sendiri daripada mengejar kondisi keberhargaan. Rogers menyamakan “menjadi benar bagi diri sendiri” dengan kehidupan yang baik. Kebahagiaan bukanlah kedamaian yang datang ketika semua kebutuhan biologisnya terpuaskan, atau ketika ia meraih tujuan yang sudah lama dicari seperti rumah, uang atau gelar jabatan. Kebahagiaan datang dari partisipasi aktif dalam kecenderungan mengaktualisasi yang merupakan sebuah proses berkesinambungan. Dan Rogers menekankan kecenderungan mengaktualisasi bukannya kondisi aktualisasi diri.

Untuk menggunakan proses penilaian organismik sebagai pemandu hidup, dibutuhkan lingkungan yang mengandung kondisi tanpa syarat. Rogers yakin penghargaan positif tanpa syarat adalah racikan esensial psikoterapi, namun tdaik perlu semua menjalani psikoterapi jika hanya ingin mengalaminya di rumah masing-masing, di dalam pernikahan mereka atau sahabat terdekat, selama konsep ini dipahami dan digunakan.

Di tahun 1980 Rogers mengembangkan konsep tentang kondisi tanpa syarat ini yang harus diyakini harus hadir dalam tiap hubungan manusia apapun jika ingin pertumbuhan lah yang terjadi:

“Ada tiga kondisi yang harus hadir di dalam iklim yang ingin memajukan sebuah pertumbuhan. Kondisi-kondisi ini teraplikasikan entah di dalam hubungan terapis dan klien, orang tua dan anak, pemimpim dan kelompok, guru dan murid, atau pejabat dan stafnya. Kondisi-kondisi ini sebenarnya teraplikasikan bahkan di situasi apapun dimana perkembangan pribadi menjadi tujuannya. Elemen pertama disebut ketulusan, keriilan atau kongruensi. Sikap kedua yang penting untuk menciptakan iklim bagi perubahan adalah penerimaan atau kepedulian, atau penghadiahan yang disebut penghargaan positif tanpa syarat. Aspek fasilitatif hubungan yang ketiga adalah pemahaman empatik. Jenis mendengarkan secara aktif dan penuh kepekaan ini jarang bisa diperoleh dalam kehidupan kita. Kita berfikir sudah mendengarkan, namun jarang kita sungguh mendengarkan dengan pemahaman yang riil, empati yang sesungguhnya. Jadi mendengarkan yang seperti ini adalah jenis yang sangat khusus, salah satu daya terkuat untuk mengubah yang saya ketahui“ (Rogers, Olson & Hergenhahn, hal 792).

Bagi Rogers penting bagi kita untuk tidak mencampuradukkan empati dengan mendengarkan secara pasif, atau dengan simpati. Empati digambarkannnya sebagai kondisi yang mengandung “cara hidup sementara waktu dalam kehidupan orang lain, bergerak di dalamnya sepeka mungkin tanpa membuat penilaian.

Rogers mengemukakan beberapa hal mengenai kepribadian yang sehat, yakni:

  1. Kepribadian yang sehat bukanlah suatu keadaan dari ada, melainkan sebuah proses, “suatu arah, bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus, tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujuan ini, yakni orientasi ke masa depan ini, menarik individu ke depan, yang selanjutnya mendiferensiasikan dan mengembangkan segala segi dari diri. Rogers menyebut salah satu antara buku-bukunya On Becoming a Person, buku ini merangkum dengan tepat sifat dari proses yang berlangsung terus itu.
  2. Aktualisasi diri itu merupakan suatu proses yang sulit dan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rentangan dan pecutan terus menerus terhadap kemampuan seseorang. Rogers menulis “Aktualisasi diri sepenuhnya merupakan keberanian untuk ada”. Hal ini berarti meluncurkan diri sepenuhnya ke dalam arus kehidupan. Orang itu terbenam dalam dan terbuka kepada seluruh ruang lingkup emosi dan pengalaman manusia dan merasakan hal-hal ini jauh lebih dalam daripada orang yang kurang sehat.

Rogers tidak menggambarkan bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu terus-menerus atau juga hampir tiap saat bahagia atau puas, meski mereka benar-benar mengalami perasaan-perasaan ini. Seperti Allport, Rogers juga melihat kebahagiaan sebagai hasil sampingan dari perjuangan aktualisasi diri, kebahagiaan bukan suatu tujuan dalam dirinya sendiri. Orang-orang yang mengaktualisasikam diri menjalani kehidupan yang kaya, menantang dan berarti, tetapi mereka tidak perlu tertawa terus-menerus.

  1. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri adalah yang benar-benar diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura, menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk tingkah laku atau memperlihatkan kepribadian-kepribadian yang berbeda untuk situasi-situasi yang berbeda. Mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan yang diletakkan oleh masyarakat mereka atau orangtua mereka. Mereka telah mengatasi aturan-aturan ini; Rogers tidak percaya bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri hidup di bawah hukum-hukum yang diletakkan orang-orang lain. Arah yang dipilih, tingkah laku yang diperlihakan semata-mata ditentukan oleh individu sendiri. Diri adalah tuan dari kepribadian dan beroperasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan oleh orang-orang lain. Akan tetapi orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak agresif, memberontak secara terus terang atau dengan sengaja tidak konvensional dalam mencemooh aturan-aturan dari orang tua atau msyarakat. Mereka tahu bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu-individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat.

Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu:

  1. Keterbukaan pada pengalaman

Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tidak satu pun yang mengancam. Jadi keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Tiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa distorsi atau rintangan.

Orang yang demikian tahu segala sesuatu tentang kodratnya, tidak ada segi kepribadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan, persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan tahu pengalaman-pengalaman tertentu.

Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misal, dalam kegembiraan atau kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat daripada yang defensif.

  1. Kehidupan Eksistensial

Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam tiap momen kehidupan. Tiap pengalaman dirasa segar dan baru seperti sebelumnya, belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Maka dari itu ada kegembiraan karena tiap pengalaman tersingkap.

Karena orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus-menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh tiap pengalaman. Akan tetapi orang yang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri. Dia memilih suatu struktur diri yang berprasangka dimana semua pengalaman harus cocok dengannya. Orang yang berfungsi sepenuhnya yang tidak memiliki diri yang berpasangka atau tegar tidak harus mengontrol atau memanipulasi pengalaman-pengalaman, sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi di dalamnya.

Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur diri terus-menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. Kepribadian yang demikian tidaklah kaku atau tidak dapat diramalkan. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam tiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respon atas pengalaman momen berikutnya.

  1. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri

Rogers menulis Bila suatu aktivitas terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Dengan kata lain, saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya daripada pikiran saya.

Dengan kata lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih diandalkan daripada factor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.

Karena orang yang sehat terbuka sepenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Informasi ini berisi kebutuhan-kebutuhan orang itu, tuntutan-tuntutan social yang relevan, ingatan-ingatan terhadap situasi-situasi yang serupa pada masa lampau dan persepsi terhadap situasi sekarang. Karena terbuka kepada semua pengalaman serta menghidupkan pengalaman-pengalaman itu sepenuhnya, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme memperhitungkan tiap segi dari suatu situasi. Semua factor yang relevan diperhitungkan dan dipertimbangkan serta dicapai keputusan yang akan memuaskan semua segi situasi dengan sangat baik.

Rogers membandingkan kepribadian yang sehat dengan sebuah komputer dimana semua data yang relevan telah diprogramkan ke dalamnya. Komputer itu mempertimbangkan semua segi masalah, semua pilihan dan pengaruh-pengaruhnya, dengan cepat menentukan tindakan.

Seseorang yang bertindak semata-mata atas dasar rasional atau intelektual sedikit banyak mengabaikan factor-faktor emosional dalam proses mencapai suatu keputusan. Semua segi organisme sadar atau tidak sadar, emosional dan juga intelektual, harus dianalisis dalam kaitannya dengan masalah yang ada. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat (tidak diubah) dan karena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya atas keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri.

Sebaliknya orang yang defensif membuat keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya. Misal, dia mungkin dibimbing oleh ketakutan terhadap apa yang akan dipikirkan orang-orang lain, terhadap pelanggaran suatu adat sopan santun atau karena kelihatan bodoh. Karena orang yang defensif tidak mengalami sepenuhnya, maka ia tidak memiliki data yang lengkap dan tepat tentang semua segi dari suatu situasi. Rogers menyamakan orang ini dengan suatu komputer yang diprogramkan untuk menggunakan hanya suatu bagian dari data yang relevan.

Perasaan Bebas

Rogers percaya bahwa makin sehat seseorang secara psikologis, makin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa ini maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang munkgin ingin dilakukannya.

Orang yang defensif tidak memiliki perasaan-perasaan bebas serupa. Orang ini dapat memutuskan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat mewujudkan pilihan bebas itu ke dalam tingkah laku yang actual. Tingkah laku ditentukan oleh factor-faktor yang berada di luar kontrol orang itu, termasuk sikap defensifnya sendiri dan ketidakmampuannya untuk mengalami semua data yang diperlukan untuk membuat keputusan, orang serupa itu tidak akan memiliki perasaan atau kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Pilihan-pilihan terbatas dan pandangan terhadap masa depan sempit.

Kreativitas

Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandainya jika mereka tidak demikian. Orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang, sebagaimana yang diungkapkan Rogers, yang mengungkapkan diri mereka ke daam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh dan berkembang sebagai respon atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitar mereka.

Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak dikenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan social dan kultural. Karena mereka kurang defensif, mereka tidak menghiraukan tingkah laku mereka diterima dengan baik oleh orang-orang lain. Akan tetapi, mereka dapat dan kerapkali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan mereka dan memungkinkan mereka mengembangkan diri mereka sampai ke tingkat yang paling penuh.

Orang yang defensif, yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banyak pengalaman, dan yang hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan adalah tidak kreatif dan tidak spontan. Orang ini lebih cenderung membuat kehidupan menjadi aman dan dapat diramalkan, dan menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada suatu taraf yang minimal daripada mencari tantangan-tantangan, dorongan, rangsangan baru. Gaya hidup yang kaku ini tidak memberikan tanah yang subur untuk memelihara kreativitas.

Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menysuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastik dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti dalam pertempuran atau bencana-bencana alamiah. Jadi, Rogers melihat orang-orang yang berfungsi sepenuhnya merupakan barisan depan yang layak dalam proses evolusi manusia.

  1. Mengalami penghargaan tanpa syarat serta mampu hidup dalam harmoni dengan orang lain, karena sifat menghargai dari resiprositas penghargaan positif tanpa syarat.

Hambatan Pada Kesehatan Psikologis

  1. Penyakit Mental

Penyakit mental dipandang sebagai kegagalan mencapai kesehatan mental. Jadi, penyakit mental merupakan penyakit defisiensi, ketidakmampuan individu mengenali serta memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Jika kemasakan dirumuskan sebagai menjadi manusiawi penuh, maka penyakit mental lebih tepat diartikan sebagai penyusutan manusiawi. Masalah-masalah mental adalah kegagalan dalam pertumbuhan pribadi. Orang yang sakit secara psikologis adalah orang yang tidak pernah berhasil menjalin relasi-relasi manusiawi yang baik.

  1. a) Neurosis

Neurosis dapat diartikan sebagai ketidak-mampuan orang untuk memilih secara bijaksana, artinya memilih sesuai kebutuhan-kebutuhan psikologisnya yang sejati. Neurosis dapat dipandang sebagai usaha nekad namun gagal yang dilakukan oleh individu dalam rangka memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Hal ini dapat disebabkan oleh kelaparan intelektual, yaitu jika orang tidak menemukan arti dalam pekerjaannya, maka hidupnya juga akan tidak bermakna.

Penelitian-penelitian psikosomatik terus membuktikan bahwa perasaan takut, cemas, khawatir dan tidak aman cenderung melahirkan akibat-akibat fisik maupun psikologis yang tidak diharapkan. Sikap-sikap cemas, tegang dan gelisah semacam ini adalah akibat tak terpuaskannya kebutuhan akan rasa aman. Berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman dan akan hubungan dengan orang lain, seperti kebutuhan akan penghargaan, penerimaan serta rasa memiliki-dimiliki, yang tidak terpuaskan.

  1. b) Agresi

Agresi adalah suatu reaksi terhadap frustasi atau ketidakmampuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasar; agresi merupakan reaksi, bukan naluri. Maslow beranggapan, agresi terutama bersifat kultural maka umumnya dapat dicegah dan disembuhkan.

Bukti-bukti tentang agresi yang paling serius, yaitu agresi dari para psikopat kriminal, memamng belum memadai. Mungkin dalam sejumlah kasus tertentu orang-orang ini kehilangan naluri untuk berhubungan dengan orang-orang lain sedemikian parah sampai-sampai tidak lagi dapat dipulihkan.

  1. c) Metapatologi

Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.

  1. Perkembangan Tingkah Laku Salah Suai

Salah suai terjadi apabila pengalaman organisme dan self tidak sejalan. Contoh pengalaman yang terjadi tidak cocok dengan nilai-nilai yang semestinya terjadi: Ibunya mengajari anak-anak tidak boleh bohong, tapi ketika ada seseorang mencari ibunya, anak tadi disuruh untuk mengatakan bahwa ibunya tidak ada di rumah. Seorang anak laki-laki yang punya saudara empat orang yang semuanya perempuan. Dididik ala perempuan termasuk mainan maka si anak laki-laki tadi akan melakukan tindakan salah suai.

Karakteristik Pribadi salah penyesuaian:

  1. Estrangement (keterasingan)

Rogers berpendapat bahwa keterasingan adalah individu yang dalam perkembangannya mendapat nilai-nilai tertentu yang tidak dapat membenarkan dirinya sendiri. Seorang anak yang melakukan banyak hal yang dapat memuaskan dirinya tapi dapat menyebabkan orang lain memberikan respon negatif kepadanya. Seorang anak membuat keributan saat orang tuanya meminta dia untuk diam atau dia akan bermain dengan benda-benda yang seharusnya tidak boleh ia sentuh.

  1. Incongruity (Ketidaksesuaian tingkah laku)

Perilaku yang dianut individu berdasarkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan self konsep tetapi justru sejalan dengan pengalaman yang bertentangan dengan struktur kepribadian. Ketidak-sesuaian tingkah laku sebagai akibat dari perkembangan keadaan dan ketidak-sesuaian antara konsep diri dan pengalaman maka timbulah ketidak-sesuaian tingkah laku karena ketidak-mampuan menilai diri sendiri secara positif, kecuali nilai-nilai yang dipaksakan. Hal ini sering menimbulkan kecemasan terhadap individu tersebut.

  1. Anxiety (Kecemasan)

Kecemasan muncul sebagai reaksi terhadap penolakan, merasa terancam, takut disakiti yang akhirmya memicu bagaimana ia melakukan pembelaan terhadap dirinya.

  1. Defense Mechanisms ( Mekanisme pertahanan)

Mekanisme pertahanan adalah tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mempertahankan supaya persepsinya terhadap pengalaman yang terjadi tetap konsisten dengan struktur self. Contoh: Seorang wanita yang menggunakan rasio berpikir untuk menilai apa yang telah ia lakukan.

  1. Maladaptive Behavior (Tingkah laku salah suai)

Perilaku menyimpang biasanya menggiring individu berada pada tingkat ketegangan atau kecemasan, perilaku ini cenderung kaku (tidak fleksibel) karena adanya kerancuan persepsi dirinya terhadap pengalaman yang sudah ia alami sendiri. Dampaknya individu tersebut tidak mampu menjadi pribadi yang fleksibel, tidak bisa berbaur dengan lingkungan dan irasional.

PENUTUP

Pribadi Hari Esok

Pada 7 Juni 1969 Rogers berada di Universitas Negeri Sonoma untuk memberikan sambutan bagi para lulusan sarjana. Ia memulai dengan berkata:

“Saat masih menjadi mahasiswa dulu, saya memilih studi utama di bidang sejarah abad pertengahan. Saya sangat mengagumi para cendekia abad tengah karena kontribusi mereka bagi pembelajaran. Namun, saya ingin berbicara kepada anda sebagai Carl Rogers, di tahun 1969, bukan sebagai simbol abad pertengahan. Jadi saya harap tidak akan membuat anda tersinggung ketika saya membuang semua jebakan abad pertengahan ini, topi toga yang tidak berfungsi apapun ini, jubah toga yang tidak berfaedah ini, dan kerudung jubah di leher ini, yang semata-mata dulunya dirancang untuk menjaga orang tetap, hangat di musim dingin di Eropa (Rogers, dalam Olson, hal 806).

Setelah melepaskan jubah toga sebagai ritual rutin wisuda itu, Rogers yang berusia 67 tahun pada saat itu mulai mendiskusikan “pribadi hari esok”. Rogers yakin “pribadi baru” yang muncul ini memiliki banyak karakteristik yang sama dengan pribadi yang berfungsi penuh. Individu yang demikian secara humanistik lebih berorientasi humanistik daripada teologis. Karena pribadi yang seperti ini akan muncul, Rogers menjadi optimis terhadap masa depan.

Dengan seluruh kejujuran harus saya katakan bahwa pandangan humanistik akan mendominasi dalam jangka panjang ke depan. Saya yakin kita, sebagai seorang pribadi, mulai menolak untuk membiarkan teknologi mendikte hidup kita. Budaya kita, yang makin didasarkan pada penaklukan alam dan pengontrolan manusia, sedang merosot. Lalu yang kemudian muncul dari puing puing reruntuhan adalah pribadi yang baru, yang penuh kesadaran, mengarahkan diri sendiri, seorang penjelajah ruang batin lebih daripada ruang di luar diri, enggan mendukung lembaga dan dogma otoritas. Ia tidak percaya bahwa dirinya sudah dibentuk secara behavioral, atau ingin membentuk orang lain secara behavioral. Dia lebih merasa aman dengan perspektif humanistik daripada teknologis. Menurut penilaian saya, dia memiliki probabilitas lebih tinggi untuk bertahan hidup“ (Rogers, Olson & Hergenhahn, hal 807).

Rogers mendata 12 karakteristik yang dianggapnya akan dimiliki sebuah pribadi hari esok. Dan kepribadian ini memiliki banyak kesamaan karakteristik dengan pribadi yang berfungsi sepenuhnya, yaitu:

  1. Keterbukaan entah terhadap pengalaman internal (batin) maupun eksternal (kepada dunia dan hubungan antar manusia)
  2. Sebuah penolakan terhadap kemunafikan, penipuan dan percakapan mendua. Dengan kata lain, menginginkan sebuah otentisitas.
  3. Skeptisisme terhadap sains dan teknologi yang mengandung tujuan menaklukkan alam atau mengontrol orang lain.
  4. Menginginkan sebuah keutuhan. Contoh, pengakuan setara dan kebebasan mengekspresikan intelektualitas dan emosi
  5. Menginginkan tujuan bersama di dalam hidup atau keintiman.
  6. Cenderung mencakup perubahan dan pengambilan risiko dengan antusias.
  7. Memberi perhatian yang lembut, halus, tidak moralistik dan tidak menghakimi.
  8. Perasaan dekat kepada dan perhatian terhadap alam.
  9. Antipati terhadap lembaga apapun yang sangat terstruktur, tidak fleksibel dan birokratik. Mereka yakin lembaga mestinya eksis untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.
  10. Kecenderungan untuk mengikuti otoritas dari proses penilaian organismik mereka sendiri.
  11. Memilah pemenuhan materi dan penghargaan pribadi.
  12. Keinginan untuk mencari suatu makna di dalam hidup yang lebih besar daripad individu itu sendiri. Rogers menyebut karakteristik ini dengan “kelaparan spiritual.”

Rogers yakin kemunculan pribadi hari esok yang humanistic ini bukannya tanpa pertentangan. Ia menyimpulkan apa yang dianggapnya sumber oposisi terhadap pribadi ini dari slogan-slogan berikut:

  • Negara diatas semuanya
  • Tradisi diatas semuanya
  • Kepandaian diatas semuanya
  • Manusia mestinya dibentuk
  • Status quo selamanya
  • Kebenaran kita adalah kebenaran yang sesungguhnya
  • Rogers yakin jika individu yang berpusat pribadi pada akhirnya banyak dipilih orang dan hasilnya adalah sebuah dunia yang lebih manusiawi.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Carl Rogers

Kelebihan 

  1. Selalu mengedepankan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipasif dialogis dan humanistik.
  2. Suasana pembelajaran yang saling menghargai adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
  3. Keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal bermasyarakat) di antara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

Kekurangan

  1. Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata-mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain.Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
  2. Gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif.
  3. Rogers mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

Kritik

Sekurangnya ada 3 kritik yang dilontarkan terhadap teori kepribadian Rogers, yaitu: .

  • Pendekatannya Terlalu Sederhana dan Terlalu Optimis

Banyak yang percaya jika asumsi Rogers bahwa manusia pada dasarnya baik dan lahir dengan kecenderungan menuju aktualisasi diri tak lebih dari sekadar khayalan. Carl Rogers disamakan dengan Fred Rogers, tokoh drama anak-anak di televisi, seorang tetangga yang baik hati dan peka (Palmerr & Carr, 1991). Manusia yang sesungguhnya, ujar beberapa kritikus, mengalami kebencian sebanyak cinta dan sering termotivasi dengan hasrat seks yang kuat. Lebih jauh lagi, kecuali subsepsi, pentingnya motivasi bawah sadar ditolak oleh Rogers. Namun bagi siapapun yang pernah mengalami mimpi aneh, konflik berat, depresi mendalam, rasa amarah yang kuat, atau sakit psikosomatik, pandangan Rogerian tentang manusia tidak terdengar benar. Yang juga dianggap simplistik adalah terlalu besarnya Rogers dalam mengandalkan laporan diri yang dianggap oleh banyak ahli tidak dapat diandalkan. Banyak pihak yang mengkritik Rogers lantaran kesederhanaan teorinya dan hal serupa juga dialami oleh Kelly meski aspeknya berbeda. Rogers menekankan aspek emosi kepribadian dengan menyatakan bahwa yang sungguh-sungguh dirasakan baik adalah pemandu terbaik untuk tindakan serta menempatkan emosi lebih penting daripada intelektualitas sedangkan Kelly sebaliknya.

  • Kegagalan Mengakui Siapa Saja yang Sudah Memberikan Pengaruh bagi Teorinya.

Banyak elemen mirip yang bisa ditemukan dari teori Rogers dan teori Adler. Keduanya sama-sama menekankan kebutuhan individu, pengalaman sadar, dan dorongan bawaan terhadap hubungan harmonis dengan sesama manusia. Sebuah hubungan yang kuat juga eksis antara teori Rogers dan teori Horney. Di dalam teori Horney, persoalan psikologis dimulai ketika diri riil yang sehat digantikan oleh diri ideal yang tidak sehat dan asosiasinya, tirani seharusnya. Bagi Horney, cara membuat individu tidak sehat menjadi sehat adalah dengan cara membawa mereka kembali bersentuhan dengan diri riil mereka agar bukan diri ideal yang digunakan sebagai pemandu untuk menjalani hidup. Kecuali untuk perbedaan kecil di dalam terminologi yang digunakan, Rogers dan Horney mengatakan hal yang sama.

Ada juga kemiripan antara teori Rogers dan Allport. Contohnya, keduanya mendeskripsikan karakteristik individu yang sehat, menekankan kebaikan bawaan manusia, dan menitik beratkan kesadaran lebih daripada motivasi bawah sadar. Rogers memang mengakui pengaruh Adler bagi pemikiran awalnya tentang proses terapeutik. Namun, ia tidak mengatakan apapun tentang pengaruh Horney atau Allport bagi teorinya.

  • Aspek-aspek Penting Kepribadian Diabaikan atau Ditolak

Rogers selalu mengabaikan sisi hakikat manusia yang lebih gelap (seperti agresivitas, permusuhan, egoisme dan motif-motif seksual). Ia juga tidak banyak membahas perkembangan kepribadian. Kecuali fakta bahwa untuk beberapa individu proses penilaian organismik sudah digantikan oleh kondisi keberhargaan di masa anak-anak, Rogers sedikit saja membahas pengalaman perkembangan yang kondusif bagi pertumbuhan kepribadian yang sehat.

Kontribusi

Ada 3 kontribusi yang diberikan teori Rogers pada dunia, yaitu:

  • Perspektif Alternatif dan Positif tentang Manusia

Rogers menjelaskan fase hakikat manusia yang sebelumnya masih buram. Dia berkontribusi bagi pengembangan “mazhab ketiga” dan sukses menentang dua mazhab dominan lainnya yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Mazhab ketiga bernama psikologi humanistik karena menekankan kebaikan hakikat manusia dan berfokus pada kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia meraih potensi penuh.

  • Merintis terapi bentuk baru

Rogers memiliki pendekatan yang positif dan humanistik terhadap konseling dan terapi hingga menjadi sangat populer. Tiga alasan penyebab popularitas ini adalah (1) efektivitasnya, (2) pelatihannya tidak butuh waktu yang lama dan ketat seperti yang diisyaratkan oleh psikoanalisis, dan (3) pendekatannya positif dan optimistik tentang hakikat manusia. Rogers tidak hanya menciptakan sebentuk terapi baru tetapi juga menciptakan metode untuk mengevaluasi efektivitas terapi dengan cara merekam sesi-sesi terapeutik secara audio atau visual lalu mentranskripnya ke bentuk teks agar bisa dipelajari profesional lain.

  • Nilai Terapan

Tak seorang pun sejak Freud memiliki pengaruh lebih besar ketimbang Rogers terhadap psikologi maupun disiplin ilmu lain. Psikologi berpusat-pribadi Rogers telah diaplikasikan ke banyak wilayah seperti agama, keperawatan, kedokteran, penguatan hukum, kerja sosial, hubungan ras dan budaya, industri, politik dan perkembangan keorganisasian.

Di dalam kenangan saat Rogers meninggal, Gendlin (1988) mendeskripsikan dengan gamblang bagaimana pribadi Rogers sebenarnya: “ia peduli pada tiap orang namun bukan pada lembaga. Ia tidak peduli dengan penampilan, peran, kelas, kepercayaan, atau kedudukan dan ia meragukan tiap otoritas termasuk otoritas dirinya.”

Daftar Pustaka