Kognisi Sosial | Berpikir Tentang Dunia Sosial

Kognisi sosial adalah tata cara kita dalam menginterpretasi, menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi tentang dunia  sosial (Baron & Byrne, 2003).

Mempelajari cara kerja pikiran kita dlm memahami lingkungan sekitar supaya mampu berfungsi scr adaptif.

Kita dpt memproses informasi dr linkungan (info ditangkap oleh indra) scr  otomatis (tanpa usaha & di luar kehendak).

Misal: Kita mampu melakukan dua hal sekaligus dlm wkt bersamaan (menyetir sambil sms-an,  belajar sambil mendengarkan lagu).

Ada keterbatasan pd kapasitas kita untuk berfikir mengenai orang lain

Misal: suatu saat membutuhkan konsentrasi penuh & kompleks (pengemudi kehilangkan konsentrasi kendali & membahayakan dirinya & pengguna jalan lainnya).

  1. Skema (schema)
  2. Jalan Pintas Mental
  3. Penyimpangan dlm Pemikiran Sosial
  4. Hubungan afek (perasaan) dg Kognisi.

Ilustrasi: “Saat memasuki sebuah restoran di Maroko, pemain musik memainkan musiknya & mengiringi hingga pengunjung duduk, kemudian berhenti. Setelah itu main lagi setiap ada tamu dtg hingga mereka duduk: mereka memainkan musik utk menyambut tamu yg baru datang. Saat kami duduk, seorang pria dtg dg sebuah teko besar dan menggerakkannya ke arah mangkuk metal di tengah meja. Dg cepat saya mengerti, kalau pria trsbt ingin kami mengulurkan tangan dan dicuci dg air dlm teko besar itu. Stlh makan malam tsbt, kami keluar, para pemusik kembali bermain, & saya menyadari ada sebuah piring besar berisi koin diletakkan strategis di depan kami, lalu, saya meletakkan bbrp koin, dan pemain mengucapkan terima kasih.”

SKEMA

Skema dibentuk oleh budaya di mana kita tinggal. Begitu terbentuk, skema mampu mempengaruhi perilaku sosial kita.

Misal : pd contoh di atas, pengalaman yg blm pernah dialami sblmnya, dengan cepat mampu mengetahui apa yg sdg terjadi. Pernah mengalami situasi yg mirip di masa lalu (pernah makan diberbagai restoran)

Skema restoran ini dianggap sebagai kerangka mental yg dibangun melalui berbagai restoran yg telah dikunjungi shg membantu memahami info sosial yg baru.

Skema berpengaruh pada semua aspek dasar kognisi sosial.

Skema menimmbulkan efek kuat pada ketiga proses dasar berikut:

  1. Perhatian atau atensi (attention)
  2. Pengkodean (encoding)
  3. Mengingat kembali (retriveal)

Perhatian atau Atensi (attention)

Skema berperan sebagai penyaring: informasi yang konsisten dg skema lebih diperhatikan dan mungkin utk dimasukkan dlm kesadaran.

Misal: Menonton konser yg diperhatikan adalah peyanyi & gerak tubuh penari yg ada di panggung, Sedangkan informasi yg tidak cocok dengan skema cenderung diabaikan. Misal: Tidak diperhatikan adanya copet meskipun di samping kita.

Pada saat banyak informasi yg masuk, akan menggunakan skema-skema yang ada, karena kerangka ini membantu dlm memproses informasi dengan usaha yang lebih sedikit.

Pengkodean (encoding)

Adalah informasi yang dimasukkan ke dalam ingatan kita, bahwa informasi yang menjadi fokus perhatian kita lebih mungkin utk disimpan dalam ingatan jangka panjang.

Informasi yang sesuai dengan skema kita yang akan dikodekan.

Apabila terdapat informasi yang tidak sesuai dengan skema, namun dianggap penting, maka akan dikodekan dlm ingatan yang lokasinya terpisah (dilabel unik).

Misal: Belanja ke pasar dapat door price.

Mengingat Kembali (retrieval)

Informasi yang paling siap untuk diingat adalah informasi yang konsisten dengan skema kita.

Orang cenderung mengingat dan menggunakan informasi yang konsisten dengan skema dibandingkan dg informasi yang tidak konsisten.

Penggunaan informasi dlm mengambil keputusan dipengaruhi oleh seberapa kuat skema terbentuk dan tersimpan, serta seberapa besar beban kognitif pada saat itu.

Misal: Beban kognitif tinggi, cenderung menggunakan skema yg ada (telah dimiliki)

Ringkasan:

  • Skema didasarkan pada pengalaman lalu kita (skema merefleksikan pengetahuan yg didapat dr pengalaman kita di dunia sosial)
  • Skema membantu kita dlm memahami dunia.
  • Skema mempengaruhi apa yg kita perhatikan, yg masuk dalam ingatan & yg kita ingat.
  • Skema bisa mendistorsi pemahaman terhadap dunia sosial (misalnya: prasangka).
  • Skema sekali terbentuk akan sulit untuk dirubah.

Dua efek skema:

  1. Skema memiliki efek bertahan (persevereanc effect), meskipun kita dihadapkan pd informasi yang kontradiktif.

Misal: stereotyping pd kelompok sosial tertentu, misal orang2 sumatra keras & kasar, padahal tidak semua org seperti itu, tapi tetap saja beranggapan demikian.

2. Skema bisa memberi efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling prophecy) ramalan yg membuat ramalan itu benar2 terjadi.

Ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi.

Penelitian Rosental (1994), pada awalnya guru diberitahu bahwa murid-muridnya memiliki IQ yang tinggi & akan berkembang pesat secara akademik. Apa yg terjadi à Guru memberi tugas2 yang lebih menantang, banyak memberikan umpan balik, guru bertindak dengan cara yang menguntungkan siswa & akhirnya siswa benar-benar menjadi seperti yg diharapkan.

Kapasitas kognitif yang telah terlampau penuh (overload).

Misal: percakapan melalui telfon genggam sangat menyerap konsentrasi & pikiran, shg tidak menyisakan kapasitas kognitif yg cukup utk berkendara dg aman.

Hal ini memasuki kondisi kejenuhan informasi (information overload): suatu keadaan di mana pengolahan informai telah berada di luar kapasitas kemampuan yg sesungguhnya.

Strategi utk meningkatkan kapasitas kognitif (jalan pintas) harus memenuhi syarat2: mampu menyediakan cara cepat & sederhana juga dpt berhasil digunakan.

Heuristik & pemrosesan otomatis

Adalah aturan sederhana utk membuat keputusan kompleks selanjutnya menarik kesimpulan secara cepat & seakan tanpa usaha yang berarti.

Terdapat dua jenis Heuristik, yaitu:

  1. Heuristik Keterwakilan (heuristic representativness)
  2. Heuristik Ketersediaan (availability heuristic)

a. Heuristik Keterwakilan (menilai berdasarkan kemiripan)

Merupakan suatu setrategi untuk membuat penilaian berdasarkan pada sejauh mana stimulus atau peristiwa tesebut mempunyai kemiripan dengan stimulus atau kategori lain.

Misal: Memprediksi pekerjaan seseorang dilihat dari penampilannya.

“Seorang wanita, tetangga baru sblh rumah, berpakaian konservatif, orangnya teratur & rapi, memiliki perpustakaan besar di rumahnya, & terlihat sangat lembut & sedikit pemalu.” Apakah dia seorang manajer, dokter, pelayan restoran, pustakawan atau pengacara?

Mungkin kalian akan secara cepat menyimpulkan dia seorang pustakawan. Berdasarkan ciri-cirinya lebih dekat dengan ciri-ciri profesi pustakawan dibandingkan dengan ciri-ciri dokter, pelayan restoran maupun pengacara.

Penilaian ini menggunakan cara heuristik keterwakilan (menilai berdasarkan kemiripan)

Semakin mirip seseorang dg ciri-ciri khas orang lain dari suatu kelompok, semakin mungkin dia merupakan bagian dr kelompok tersebut.

b. Heuristik Ketersediaan (menilai berdasarkan banyaknya info yg didapatkan)

Sebuah strategi untuk membuat keputusan berdasarkan seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dpt dimunculkan dalam pikiran kita.

Jadi semakin mudah suatu informasi masuk ke dalam pikiran, semakin besar pengaruhnya terhadap penilaian atau keputusan yang akan dibuat.

Misalkan: Seorang menjadi takut naik pesawat terbang, karena seringnya dan digembor2kannya berita mengenai kecelakaan pesawat terbang. Pdhl  kemungkinan kecelakaan mobil 100 kali lbh tinggi.

Contoh lain: Seorang manager melakukan penilaian kinerja, cenderung mengingat perilaku ekstrem atau tidak biasa à hal ini mudah teringat & terpikirkan.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kecenderungan menggunakan heuristik lebih pd mudahnya berfikir subjektif di mana informasi yg relevanlah yg langsung diingat.

Heuristik ketersediaan berkaitan dengan konsep pemaparan awal (priming) yaitu bertambahnya ketersediaan informasi sebagai hasil dari sering hadirnya rangsangan atau peristiwa-peristiwa tertentu.

Misal: sindrom mahasiswa kedokteran yg curiga memiliki berbagai penyakit serius, misal sakit kepala yg diderita mengarahkan pada pertanyaan apakah sakit tumor. Karena mahasiswa dihadapkan pada penjelasan dan buku2 tentang penyakit-penyakit. Ketakutan yg dibesar2kan stlh menonton film horor atau perasaan romantis stlh menonton adegan percintaan.

Pemaparan Awal Otomatis (Automatic Priming)

Ketersediaan informasi tertentu dpt ditingkatkan oleh sumulus yg dipaparkan sebelumnya, meskipun tidak disadari bhw kita sdg berhadapan dg stimulus ini.

Misal: saat duduk di bioskop menunggu film dimulai, dan sdg memikirkan sesuatu yg penting. Akibatnya tidak menyadari adanya pesan dilayar bioskop yg mendorong utk beli popcorn. Bbrp menit kemudian melihat org dibarisan depan makan popcorn. Tiba2 kita mendapat dorongan kuat membeli popcorn.

Kemunculannya karena dorongan melalui pesan yg kehadirannya tidak disadari.

Dilema utama yg dihadapi kognisi sosial adalah kapasitas dlm mengolah informasi terbatas, namun kehidupan membanjiri sejumlah informasi & kita dituntut berurusan dg seluruh informasi scr efektif & efisien.

Cara lain dlm mengatasi permasalahan ini adalah Pemrosesan Otomatis.

Pemrosesan otomatis ini terjadi ketika, setelah berpengalaman melakukan suatu tugas atau mengolah informasi tertentu, kita sampai pada suatu tahap di mana kita dpt melakukan tugas/ informasi tertentu yg seakan tanpa perlu usaha yg besar, secara otomatis,& tidak disadari.

Misal: Informasi dari media TV dpt memicu perilaku membeli sebuah produk. Atau pada ahirnya kita tidak perlu lg meikirkan cara naik motor.

Dalam memahami org lain dan dunia sosial, terdapat banyak kecenderungan dlm mengalami kesalahan, yang disebabkan oleh:

  • Bias Negativitas
  • Bias Optimistik
  • Kerugian akibat banyak berfikir
  • Pemikiran Konterfaktual
  • Pemikiran Magis
  • Menekan Pikiran
  1. Bias negativitas mengacu pada fakta bahwa kita menunjukkan sensitivitas yg lebih besar pada informasi negatif daripada informasi positif.

Misalnya: Teman mengenalkan koleganya yang menyenangkan, pintar, cantik, ramah dan dapat dipercaya. Namun, kemudian dia juga menyebutkan dia suka menyombongkan diri (info negatif). Apa yang cenderung kalian ingat?

Hasil penelitian menunjukkan yg akan lebih diingat adalah hal yg negatif tersebut.

Respon yang cepat terhadap rangsang negatif  seringkali penting untuk bertahan hidup (pd perspektif evolusi)

Informasi negatif direfleksikan hal-hal di lingkungan yg mungkin mengancam keselamatan & kesejahteraan seseorang. Shg sgt penting utk sensitif thd stimulus negatif agar segera dapat direspon dg cepat.

Misalnya: kita lebih sensitif dlm mengenali ekspresi  marah atau permusuhan drpd ekspresi positif (keramahan/ persahabatan).

2. Bias optimistik adalah kesalahan dlm kognisi sosial yg berkesebalikan dr bias negativistis.

Merupakan kecenderungan kita untuk mengharapkan agar segala sesuatu berjalan dengan baik.

Kebanyakan org percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan lebih besar dibandingkan dg orang lain utk dapat pekerjaan yg baik, pernikahan yg baik, mengerjakan tugas lebih cepat. Sehingga mengakibatkan kesalahan dlm perencanaan / planning fallacy

Kesalahan perencanaan adalah kecenderungan kita percaya bahwa kita dapat melakukan lebih banyak perkerjaan dlm suatu periode daripada yg sebenarnya bisa dilakukan.

Misal: Pemerintah sering kali mengumumkan jadwal pengerjaan fasilitas umum yg terlalu optimistik (misal pembangunan jalan selesai sblm mudik, bandar udara baru, stadion utk ASEAN GAMES) akhirnya molor.

Kita juga sering melakukannya, tidak realistik saat memperkirakan suatu pekerjan akan selesai pd waktu tertentu ternyata selesai jauh lebih lama.

Faktor penyebab munculnya Optimistik

  • Berkenaan pada faktor-faktor yang berada di luar kontrol individu kecenderungan tidak dipikirkan (misal: efek buruk/ hambatan)
  • Motivasi, dlm menyelesaikan tugas. Dlm membuat perencanaan pekerjaan sering kali menebak apa yang akan terjadi adalah apa yang mereka harapkan terjadi. Misal pekerjaan selesai tepat waktu & tanpa hambatan.

3. Kerugian Akibat Terlalu Banyak Berfikir

Pemikiran rasional secara umum tampak menguntungkan, karena rasionalitas akan menghindarkan pada kesalahan atau bias. Namun, pernahkan kalian mengalami hal ini…

“Berfikir berat dan dalam waktu yang lama tentang suatu hal (misal sedang berselisih dg teman) atau mengambil keputusan (mau bekerja atau kuliah), sehingga kalian semakin bingung?

Nah, berfikir secara rasional terkadang menimbulkan terlalu banyak buah pikiran yg baik dan membuat semakin bingung. Sehingga, terlalu banyak berfikir dapat membawa kita ke dalam kesulitan kognitif yang serius.

4. Pemikiran konterfaktual

Pemikiran Konterfaktual adalah kecenderungan untuk membayangkan hasil lain dari pada yang sesungguhnya terjadi dalam satu situasi (berfikir tentang “apa yang akan terjadi seandainya…”)

Pemikiran konterfaktual ada dua macam, yaitu:

  • Upward counterfactuals > membayangkan kemungkinan yg lebih baik > penyesalan
  • Downward counterfactuals > membayangkan kemungkinan lbh buruk > rasa puas

Misal: Kita mendapatkan nilai ujian B. Apabila memaknainya dg…

  • Jika seandainya saya mendapat nilai A > sesal
  • Jika seandainya saya mendapat nilai C > syukur.

5. Pemikiran Magis (Magical Thinking)

Ilustrasi: Kalian sedang berada di kelas & tidak ingin dosen memanggil kalian. Jika kalian berfikir dosen akan memanggil, apakah pemikiran ini meningkatkan kemungkinan nama kalian dipanggil?

Seorang meninggal karena AIDS telah membeli baju hangat yg masih terbungkus rapat. Setahun kemudian kalian diberikan baju hangat tersebut, apakah kalian akan memakainya?

Bayangkan seseorang memberikan coklat berbentuk jari manusia yang terpotong, apakah kalian akan memakannya?

Sebagai manusia, kita cukup rentan terhadap pemikiran magis.

Pemikiran Magis  adalah berfikir dengan melibatkan asumsi yang tidak berdasarkan alasan yang rasional., misalkan keyakinan bahwa sesuatu yang mirip dengan lainnya berasal dr sumber yg serupa.

Pemikiran ini menimbulkan asumsi yg tidak berdasar pd rasionalitas namun terasa kuat penngaruhnya.

Beberapa prinsip dlm pemikiran magis, yaitu:

  • Hukum penularan (law of contagion): yaitu ketika dua objek bersentuhan, masing-masing memberikan miliknya dan pengaruh sentuhan tersebut serasa jauh lebih lama walaupun sentuhan itu sendiri telah lama berakhir.
  • Hukum kesamaan (law of similarity); hal-hal yang saling menyerupai akan memiliki ciri dasar yang sama.
  • Pemikiran dapat mempengaruhi lingkungan fisik: kemungkinan pemikiran tentang suatu peristiwa dapat membuat peristiwa itu benar-benar terjadi.

6. Menekan pikiran adalah usaha untuk mencegah pikiran-pikiran tertentu memasuki alam kesadaran.

Misal: Seorang sdg diet > menghindari memikirkan makanan lezat. Seorang yg sedang mencoba berhenti merokok > menghindari pemikiran ttg kenikmatan merokok.

Bagaimana menekan pikiran dijelaskan oleh Daniel Wegner psikolog sosial yg meneliti bagaimana menekan pikiran scr detail.

Usaha penyimpulan pikiran dr luar kesadaran melibatkan dua komponen:

  • Proses pemantauan, yaitu proses pemikiran awal yg memberi tahu mengenai pemikiran yg tidak diinginkan.
  • Sistem pencegahan aktif yang menjaga agar pikiran tersebut tetap berada di luar kesadaran melalui gangguan berupa pemikiran yg lain.

Usaha-usaha ini sering berhasil, namun terkadang menghasilkan efek pantulan artinya pemikiran itu malah semakin meningkat frekuensinya.

Org2 dg tinggi reaktansinya (reaksi negatif thd ancaman) cenderung mengalami efek pantulan.

AFEKSI DAN KOGNISI

Penerapan lain dlm kognisi sosial adalah suasana hati yang baik berpengaruh pd pikiran dan persepsi kita.

Ilustrasi: Pikirkan saat kita sedang berada dalam suasana hati yg baik, bukankah dunia ini tampak sebagai tmpt yg lebih menyenangkan? Dan segala hal dan semua orang terlihat lebih menyenangkan, ketimbang saat kita dlm suasana hati yg kurang baik (sedih atau marah)?

Ilustrasi tesebut menggambarkan bahwa ada hubungan yg saling mempengarui antara afek (suasana hati saat ini) dengan kognisi (cara kita memproses, menyimpan, mengingat dan menggunakan informasi sosial).

Berdasarkan penelitian hubungan di antaranya saling mempengaruhi, seperti jalan dua arah.

  1. Perasaan & suasana hati mempengaruhi kognisi.
  2. Kognisi berpengaruh pada perasaan & suasana hati.

Suasana hati saat ini dapat secara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsangan yang baru pertama kali kita temui.

Rangsangan tersebut bisa berbentuk orang, makanan, atau lokasi geograifs yg belum pernah di temui.

Misal: Bayangkan! Kalian sdg mendapatkan kabar baik (misal nilai ujian A). Kemudian dosen memperkenalakn mhsw baru. Kalian sempat mengobrol dgnya, lalu masuk ke kelas. Apa kesan anda thd mhsw baru trsbt?

Kalian akan menilai lebih menyenangkan daripada saat kondisi perasaan kalian sedang tidak baik.

Perasaan & suasana hati berpengaruh pd ingatan, yaitu:

  • Ingatan bergantung pada suasana hati (mood-dependent) yaitu apa yang kita ingat saat berada dlm suasana hati tertentu, dpt ditentukan, sebagiannya, oleh apa yang dipelajari sebelumnya dlm suasana hati tersebut.
  • Efek kesesuaian suasana hati  (mood congruence effects) Kecenderungan kita menyimpan atau mengingat informasi positif saat berada dlm afek positif, dan info negatif saat dlm afek negatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam suasana gembira/ positif:

  • Dapat meningkatkan kreativitas. Perasaan senang dpt mengaktivasi ide dan asosiasi lebih banyak dibanding perasaan negatif.
  • Meningkatkan perilaku prososial

Kontaminasi mental

Sebuah proses di mana penilaian, emosi atau perilaku kita dipengaruhi oleh proses mental yg tidak disadari dan tidak dpt dikendalikan.

Misal: Juri pengadilan lebih menilai negatif berkas yg menjelaskan proses pembantaian dibanding hanya laporan pembantaian saja.

Terdapat penelitian yg menjelaskan pengaruh pikiran thd perasaan.

Teori Emosi Dua Faktor (two-factors theory of emotion) menjelaskan bahwa kita sering tidak mengetahui perasaan/ sikap kita sendiri. Sehingga disimpulkannya dr lingkungan, dr situasi di mana kita mengalami reaksi2 internal.

Misal: Kita mengalami perasaan tertentu atas kehadiran sso yg menarik, kita menyimpulkannya bahwa kita sdg jatuh cinta; Saat mengemudi lalu tiba2 ada yang memotong jalur kita > perasaan tertentu muncul. Disimpulkan bahwa perasaan yg dirasakan adl marah.

Kognisi dpt mempengaruhi emosi melalui aktivasi skema yg di dalamnya terdpt komponen yg afektif dan kuat.

Misal: Saat masuk ke dalam kelompok org Sumatra merasakan was-was dan tidak senang karena tahu org Sumatra memiliki ciri2 keras, nada yg digunakan tinggi, susah mengalah, dll.

Hal-hal tersebut di atas dpt mempengaruhi perasaan & suasana hati dengan mengaktifkan skema/ stereotip tentang ras, etnik, agama, atau kelompok tertentu.

Pikiran mempengaruhi perasaan melibatkan pengaturan emosi & perasaan kita.

Situasi negatif tidak dpt terhindarkan dlm hidup kita, shg belajar mengatasinya adl ahl yg penting utk menyesuaikan diri.

Misal: Sso sering kehilangan kontrol saat marah, akhirnya sulit membina hub baik dg org lain bahkan dijauhi.

Untuk mengatasinya dpt digunakan teknik dlm mengontrol emosi dg menggunakan mekanisme kognitif, yaitu

  • Saya tidak pernah memiliki kesempatan
  • Menyerah pada godaan.

a. Saya tidak pernah memiliki kesempatan

Menyesuaikan pikiran tentang kemungkinan terjadinya perisitwa negatif, bahwa peristiwa ini tidak bisa dihindari, maka tidak perlu terlalu kecewa atau sedih.

Misal: Saat menghadiri SALE besar2an, ternyata trdpt kondisi (rapat dadakan) yg mengakibatkan datang terlambat, (bakalan tidak kebagian), lalu mengatakan bhw saya tidak akan mendptkan ksmptan itu.

Hal tersbt dilakukan dg meninjau kembali kondisinya dg kemampuan mental mengurangi kemungkinan keberhasilan mencapai apa yg dikehendaki > utk mengurangi kekecewaan.

Dengan menyakinkan diri bhw saya tidak akan mdptkan kesempatan itu. Maka dpt mengurangi kekecewaan dan dpt mengontrol perasaan kita.

b. Menyerah pada Godaan

Mekanisme kognitif lain digunakan utk mengendalikan perasaan. Khususnya utk mengurangi/ menghilangkan perasaan2 negatif dg menyerah pd godaan.

Misalnya: Ketika seseorang sdg merasa sedih atau kecewa, banyak yg melakukan kegiatan yg disadari tidak baik tapi dpt membuat mereka merasa lebih nyaman (sementara), yaitu makan makanan berlemak, tidur-tiduran, menghabisakan waktu dg video games, dll (godaan).

Alasan org melakukannya:

Alasan jaman dulu: Mereka melakukannya krn kesedihan & kekecewaan menurunkan kapasitas/ motivasi utk mengontrol dorongan dlm diri kita melakukan hal2 yg menyenangkan namun tidak baik bagi kita.

Penemuan baru: Org scr sadar memilih utk menyerah pd godaan pd saat mengalami perasaan negatif yg kuat. Hal ini merupakan pilihan strategis. Shg mereka melakukan apapun yg bisa dilakukan utk mengurangi perasaan negatifnya yaitu pada godaan2 yg ada (ngemil, main games, alkohol, menarik diri dll).

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Kesan Pertama

Kebanyakan orang merasa perlu memberi kesan pertama yang positif pada orang lain, karena percaya bahwa kesan ini akan meninggalkan efek yang relatif permanen.

Penelitian Solomom Asch  mengindikasikan bahwa kesan pertama memang penting dan benar-benar meninggalkan efek yang kuat & bertahan lama dalam persepsi orang lain terhadap diri kita.

Cara orang lain mempersepsikan (memandang/ menilai) kita akan sangat menentukan caranya memperlakukan kita.

Penelitian Asch ttg Sifat Sentral & Sifat Periferal

Penelitiannya dipengaruhi oleh prinsip Psikologi Gestalt, yaitu keseluruhan seringkali lebih besar dari pada jumlah dari semua bagian-bagiannya. Artinya, apa yang kita pesepsi lebih dari sekedar penjumlahan sensasi-sensasi individual.

Misal: Pandangi lukisan, apa yang dilihat bukanlah satu bagian dari gambar melainkan keseluruhan bagiannya.

Jadi psikolog Gestalt menyatakan bahwa setiap bagian dr dunia di sekitar kita diinterpretasikan & dipahami hanya dlm hubungannya dg bagian2 atau stimulus llainnya.

Contoh:

Mula2 partisipan diberi satu dari dua daftar sifat2 orang asing, yaitu:

  • Cerdas-serba bisa-pandai-hangat-tekun-praktis-berhati-hati
  • Cerdas-serba bisa-pandai-dingin-tekun-praktis-berhati-hati

Partisipan yang membaca daftar yang bersisi kata hangat cenderung menilai bahwa orang asing itu lebih positif dibandingkan dengan daftar yang berisi kata dingin.

Lalu, kata hangat & dingin diganti dengan kata sopan & lembut à kesan hasil yang didapatkan sama

Kata hangat –  dingin merupakan central trait (sifat sentral) yang membentuk & mewarnai keseluruhan kesan.

Pembentukan Kesan: Perspektif Kognitif

Suatu proses di mana kita menyusun kesan ttg orang lain. Perspektif kognitif telah menjelaskan bahwa dlm pembentukan kesan ttg seseorang, kita hanya memfokuskan perhatian pd jenis informasi tertentu saja ttg sifat-sifat & nilai-nilai seseorang dari pada kompetensi mereka.

Misal: Informasi tentang apakah seseorang peduli thd org lain, baik, humoris dan menyenangkan, jauh lebih menarik daripada informasi tentang kemampuannya menguasi pengetahuan dan bagaimana cara kerjanya; kecenderungan membaca lebih lama tentang sifat2 yang negatif daripada yang positif.

Model Pembentukan Kesan

  1. Menekankan Peran Sampel Perilaku

Menggunakan informasi sampel perilaku yang telah ada dlm memori kita, lalu kita membuat penilaian & kesan.

2. Menekankan Peran Abstraksi (mental)

Menggunakan abstraksi (mental) yang semula ada di memori kita untuk membuat kesan & mengambill keputusan.

Misal: Pada saat kita kenal, kita membentuk kesan dengan memperhatikan contoh perilakunya (menyenangkan, humoris, baik), semakin lama kenal kita akan mulai berganti menjadi abstraksi mental (kemampuannya) yg disusun secara terus menerus thd perilakunya.

3. Model Pengaruh Motif (apa yg kita perolah dlm suatu situasi)

Dalam membentuk kesan, org cenderung hanya menggunakan sedikit dari kemampuan kognisinya (membentuk kesan dengan cara paling mudah & paling sederhana) yaitu dengan menempatkan org ke dalam kategori sosial.

Misalnya: dia mahasiswa, dia orang keturunan Cina.

Manajemen Kesan: Presentasi Diri

Dalam rangka membuat kesan pertama yang positif dan negatif pada orang lain, individu sering melakukan manajemen kesan (presentasi diri).

Dengan menunjukkan kesan yang baik, orang sering kali mempeoleh keuntungan dlm berbagai situasi.

Terdapat dua strategi utama untuk mendongkrak citra diri, yaitu:

  1. Self-Enhancement
  2. Other-Enhancement

Self-Enhancement

Berusaha membuat deskripsi diri yang positif, seperti meningkatkan penampilan fisik (gaya berbusana, karisma diri, aksesoris menarik), membuat deskripsi diri yang positif dg menceritakan keberhasilan dlm mengatasi berbagai kendala, suka menghadapi tantangan.

Teknik ini dapat menambah daya tarik di depan calon pasangan/ orang lain.

Other-Enhancement

Memanfaatkan berbagai macam strategi untuk menimbulkan mood dan reaksi positif dr orang yang dituju.

Strategi yang sering digunakan adalah:

  1. Pujian, yaitu dengan memuji sifat atau kesuksesannya.
  2. Persetujuan, yaitu dengan persetujuan pandangannya, menunjukkan minat besar pada orang tsbt, meminta nasihat.
  3. Menunjukkan kesukaan secara non-verbal, misalnya membuat kontak mata yang mendalam, tersenyum, mengangguk tanda persetujuan.

Slime-Effect

  • Sebuah kecenderungan untuk membuat kesan yang sangat negatif mengenai orang lain yang menjilat ke atas dan menendang bawahan.
  • Orang mengambil hati atasan namun menghina dan menyakiti bawahannya dlm lingkungan kerja.
  • Strategi manajemen kesan memang sering kali sukses, namun tidak selamanya demikian.
  • Terkadang dapat menjadi bumerang yg menimbulkan serangan balik pada penggunanya.

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Atribusi Sosial

Berdasarkan pandangan motivasional, manusia memiliki berbagai kebutuhan, dari kebutuhan sederhana sampai kompleks.

Eggen & Kauchak (1997) mengatakan bahwa salah stau kebutuhan manusia adl kebutuhan keteraturan & melalukan pemahaman sesuatu.

Dlm kaitannya dg makhluk sosial, ada tuntutan dlm diri utk mampu menjelaskan apa yg terjadi dibalik suatu perilaku. Artinya, ketika muncul perilaku, orang berusaha mencari informasi tentang trait, motif, sifat apa yang melatarbelakangi perilaku > hal ini disebut dengan Atribusi.

Dari Perilaku ke Disposisi (sifat) | Theory of Correspondent Inference

David Jones (1965) adalah orang pertama yang mencoba menggunakan informasi tentang perilaku sebagai dasar untuk menyimpulkan karakteristik/ trait yg dimiliki seseorang.

Dengan diketahui perilaku maka diketahui trait/ sifat. Hal ini disebut Theory of Correspondent Inference atau hubungan yang dapat disimpulkan.

Ilustrasi: “Bayangkan Anda sedang mengamati seorang perempuan terburu-buru di bandara & mendorong orang2 di sekitarnya yang menghalangi jalan”.

“Apakah hal ini menandakan bahwa perempuan trsbt memang kasar & tidak sabaran?” Belum tentu, mungkin saja dia sedang bergegas khawatir tertingal pesawat. Dlm kesehariannya mnkn saja dia org yg pemalu & sopan. Kejadian di bandara hanyalah sebuah pengecualian.

 Sering kali individu bertindak bukan karena sifat aslinya, melainkan dipengaruhi faktor2 eksternal yg membuat dia tidak punya pilihan. Sehingga apabila mendasarkan kesimpulan kita hanya pada pengamatan perilaku sesaat bisa jadi menyesatkan.

Lalu, Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?

Menurut teori Jones & Davis, kita dapat mengobservasi beberapa tipe perilaku, yaitu perilaku yg paling informatif:

  1. Freely Choosen Act: Perilaku yg mempunyai berbagai pilihan, jadi dalam kondisi yang tidak kepepet.

Misal: “Seorang wanita muda harus menikah dengan seorang duda kaya yang berusia tua. Wanita itu menikah karena dipaksa oleh orang tuanya.” Dari peristiwa itu, sangatlah sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa wanita tersebut adalah seorang yang materialistik yang mengejar harta si duda.

“Tetapi kalau dia sendiri yang ingin menikah dengan duda tersebut sedangkan orang tuanya tidak menyarankan.” Maka dengan mudah kita menarik kesimpulan bahwa wanita itu materialistik. Sebab tindakan untuk menikah dengan duda adalah tindakan atas pilihannya sendiri, bukan tekanan situasi.”

2. Non-Common Effect: Situasi di mana penyebab dari tindakan yang dilakukan seseorang adalah sesuatu yang pada umumnya tidak disukai oleh orang.

Misal:  “Seorang pria menikah dengan seorang wanita yang kaya, pintar tetapi tidak cantik dan sudah tua.”

Sifat-sifat yang tidak umum (tua dan tidak cantik) inilah yang disebut sebagai non-common effect. Orang akan segera saja menyimpulkan bahwa pria itu memiliki sifat-sifat kepribadian yang meterialistic. Sebab umumnya pria tidak menyukai menikah dengan wanita yang buruk rupa dan tua usianya. Sebaliknya pria umum menyukai menikah dengan wanita yang elok parasnya, banyak hartanya, muda usianya, sehat tubuhnya dan sebagainya.

3. Low Social Desirability (menyimpang dari kebiasaan): Kita akan dengan mudah menarik kesimpulan bahwa seseorang memiliki kepribadian tertentu yang tidak wajar bila orang itu menyimpang dari kebiasaan umum.

Misal: “Jika seseorang menghadiri upacara kematian biasanya orang harus menujukkan roman muka yang sedih dan berempati pada ahlul duka. Kalau orang yang melayat menujukkan hal yang demikian akan sulit bagi kita unyuk mengatribusikan bahwa orang itu orang yang empatik, karena memang begitulah seharusnya. Tetapi bila orang melayat lalu menujukkan kegembiraan dengan tertawa terbahak-bahak di saat orang lain susah, maka mudah untuk kita simpulkan bahwa kepribadian orang tersebut agak kurang beres.

Dapat disimpulkan, terdapat tiga perilaku yg informatif, yaitu:

  1. Tampak dipilih secara bebas ~ tidak terpaksa
  2. Efek tidak umum pd masyarakat
  3. Tingkat harapan sosialnya rendah.

Teori Atribusi kausal dr Fritz Heider

Fritz Heider adalah orang pertama kali mengatakan bahwa “pada dasarnya orang selalu termotivasi untuk memahami perilaku orang lain dlm interaksi sosial dr hari ke hari”. Upaya memahami perilaku orang lain tersebut menggunakan prinsip kausalitas yg bersifat intuitif & common sense.

Untuk menentukan atribusi perilaku didasarkan pd faktor internal (ability & effort) & eksternal (faktor situasi).

Model atribusi Heider: perilaku seseorang dilihat sebagai penyebab dr tekanan lingkungan & tekanan personal.

Ilustrasi:

“Anda berencana untuk bertemu dengan seseorang saat makan siang, tapi dia tidak datang.”

“Anda meninggalkan pesan utntuk teman anda, tapi dia tidak menjawab.”

“Anda mengharapkan promosi dalam pekerjaan, tapi tidak pernah terjadi.”

Apa pertanyaan yg muncul pada benak anda dalam setiap situasi?

“Mengapa teman anda tidak menepati janji?” “Apakah dia lupa? Apakah dia sengaja melakukannya?”

Utk memudahakan hal ini, kita mulai dg pertanyaan: “Apakah perilaku itu disebabkan oleh faktor internal (sifat, motif/ intensi), faktor eksternal (aspek fisik & situasi) atau kombinasi keduanya?”

Harold Kelley memberikan informasi tambahan yg diperlukan dlm melakukan atribusi, yaitu aktor, situasi & stimulus. Seperti halnya Heider, Kelley menggunakan semua informasi baik dr faktor internal maupun eksternal utk menentukan perilaku.

Penentu dalam membuat atribusi yg akurat:

  • Distinctivenes
  • Consistency
  • Consensus
  1. Konsensus (consencus): Situasi yang membedakan perilaku seseorang dengan perilaku orang lainnya dalam menghadapi situasi yang sama.

Bila seseorang berperilaku sama dengan perilaku orang kebanyakan, maka perilaku orang tersebut memiliki konsensus yang tinggi. Tetapi bila perilaku seseorang tersebut berbeda dengan perilaku kebanyakan orang maka berarti perilaku tersebut memiliki konsensus yang rendah.

Misal: Pak Amin adalah penyuka lawakan yang dimainkan oleh group lawakan Srimulat. Setiap menonton pertunjukan Srimulat, pak Amin selalu tertawa terpingkal-pingkal dan orang lain pun juga tertawa. Dalam contoh ini dapat kita katakan bahwa perilaku pak Amin dalam hal tertawa menonton lawakan Srimulat berkonsensus tinggi (high consencus). Tetapi bila hanya pak Amin saja yang tertawa sedangkan orang lain tidak tertawa, maka perilaku pak Amin tersebut memiliki konsensus yang rendah.

2. Konsistensi (consistency): sesuatu yang menunjukan sejauh mana perilaku seseorang konsisten (ajeg) dari satu situasi ke situasi lain.

Misal: Jika pak Amin selalu tertawa menonton Srimulat pada hari ini atau kapanpun pak Amin menonton Srimulat selalu tertawa, maka perilaku pak Amin tersebut memiliki konsistensi yang tinggi (high consistency). Semakin konsisten perilaku seseorang dari hari ke hari maka semakin tinggi konsistensi perilaku orang tersebut.

  1. 3. Keunikan (distinctivenss): menunjukan sejauh mana seseorang bereaksi dengan cara yang sama terhadap stimulus atau peristiwa yang berbeda.

Misal: Kalau pak Amin tertawa menonton lawakan Srimulat dan tertawa menonton lawakan lainnya juga (lawakan Tukul Arwana, extra vaganza, dll) maka dapat dikatakan perilaku pak Amin memiliki keunikan yang rendah (low distinctivess), tetapi kalau pak Amin hanya tertawa ketika menonton lawakan Srimulat sedangkan terhadap lawakan lainnya pak Amin tidak tertawa, maka perilaku pak Amin memiliki keunikan tinggi (high distictiveness). Mengapa demikian? Karena pak Amin konsisten hanya tertawa pada Srimulat, kepada lawakan lainnya meskipun lucu, pak Amin tidak tertawa.

Contoh atribusi internal:

Pertanyaan: Apakah temanmu pendiam?

Ya > (atribusi internal)

Memang, di antara teman-teman yg lain dia memang pendiam (konsensus rendah)

Tidak hanya dengan teman-teman baru, dengan teman-teman lamapun dia lebih banyak diam (distingsi rendah)

Sejak kenal pertama sampai sekarang, dia memang cenderung pasif dan pendiam (konsistensi tinggi)

Contoh atribusi eksternal:

Pertanyaan: Apakah kamu suka nonton Infotainment?

Ya > (atribusi eksternal)

Sama seperti teman-teman yang lain, kepingin mengetahui kehidupan para artis yang sdg naik daun (konsensus tinggi)

Saya nonton infotainment kalau memang sedang ada waktu saja (distingsi tinggi)

Sejak dulu sampai sekarang saya hanya bisa menonton infotainment saat ada waktu longgar saja (konsistensi tinggi)

Menurut Baron, selain faktor internal-eksternal, ada faktor lain yang juga penting:

  1. Faktor yang stabil atau berubah2
  2. Faktor yang bisa dikendalikan atau tidak

Misal:

  • Internal stabil: kepribadian, tempramen
  • Internal temporer: motif, kesehatan, kelelahan
  • Internal dpt dikontrol: kontrol diri
  • Internal tdk dpt dikontrol: sakit rabun jauh

Augmenting & Discounting
Bagaimana kita menghadapi berbagai kemungkinan penyebab perilaku?

Ilustrasi: “Bayangkan, seandainya suatu hari bos menghampiri meja kerja anda lalu memuji hasil kerja anda. Ia juga mengatakan bahwa dia senang bisa bekerja sama dengan anda. Ia melakukan hal ini di depan pegawai lainnya, yang semuanya lalu memberi selamat setelah dia pergi. Sepanjang pagi anda merasa bahagia. Namun saat makan siang, bos memanggil ke ruangannya dan mengatakan apakah anda bersedia mengerjakan tugas tambahan yang cukup sulit

“Mengapa dia memuji?” “Karean dia benar-benar ingin berterima kasih atas jerih payah anda, atau karena dia tahu bahwa dia akan segera meminta melakukan tugas yg sulit untuknya?”

Terdapat dua kemungkinan alasan jawaban, dlm psikologi disebut sebagai Discounting, yaitu:

DISCOUNTING: kecenderungan untuk menganggap suatu faktor penyebab (bos secara tulus memang berniat memuji anda) sebagai hal yg kurang penting karena ada faktor penyebab lain (yaitu: bos berniat menjebak agar bersedia mengerjakan tugas yg lebih sulit).

Memilih salah satu alasan yg menjadikan alasan munculnya perilaku.

Ilustrasi: Bos terkenal tidak suka memuji karyawannya di depan umum.”

Apa yang akan anda simpulkan sekarang? Kemungkinan alasannya memang tulus, yaitu bos sangat senang dengan hasil kerjanya. Lagi pula bos tetap melakukan meskipun ada faktor lain yang menghambat dlm melakukannya (kebijakannya sndri tidak memuji di depan umum).

AUGMENTING: kecenderungan mementingkan suatu faktor yang dapat membantu terjadinya perilaku ketika faktor pendukung & penghambat sama-sama hadir, namun perilaku tetap dilakukan/ terjadi.

Kesimpulannya: Bos benar2 menyukai pekerjaan anda, shg dia memuji di depan umum, tanpa peduli bahwa dia tidak biasa memuji di depan umum

Teori Regulasi Fokus
Apakah Augmenting & Discounting selalu terjadi?

Teori regulasi fokus menyatakan bahwa dalam mengatur agar perilaku dapat mencapai tujuan yang diharapkan, individu kerap mengadopsi satu atau dua perspektif yang berbeda, yaitu:

  1. Fokus promosi > menekankan pd hasil positif

Mencari berbagai kemungkinan cara/ jalan untuk mencapai tujuan, sehingga menganggap masing2 cara itu adalah penting.

Misal:

  • Bill menolong perempuan itu, karena dia suka menolong (personal)
  • Bill menolong si perempuan karena kenal & bisa membantu (situasional

2. Fokus preventif > menekankan pd hasil negatif

Menentukan satu cara yang paling tepat, sehingga cenderung menolak cara-cara lain yang dianggap kurang tepat

Misal: Bill menolong si perempuan karena kenal & bisa membantu (situasional)

Hasil Studi Liberman dkk:

  • Makin kuat fokus preventifnya makin besar melakukan discounting (misal menolak satu dr kemungkinan alasan Bill)
  • Makin kuat fokus promosinya makin lemah kecenderungan melakukan discounting (karena alasan sudah jelas)

Di balik Pembedaan Orang-Situasi
Bagaimana sebenarnya manusia menjelaskan faktor penyebab perilaku?

Untuk mengungkap keseluruhan aspek dlm cara berfikir kita tentang penyebab perilaku seseorang, kita perlu mempertimbangkan alasan-alasan seseorang (motif, hasrat, intesi, belief, nilai2) dan juga faktor lainnya.

Misal: “Mengapa Hillary Clinton maju sebagai Senator untuk Negara Bagian New York?”

Dia menginginkan kekuasaan, Dia ingin bertahan di pemerintahan, atau dia betul2 ingin melayani masyarakat. Semuanya mengacu pd kondisi internal yg disadari olehnya, maka itu dikatakan sebagai alasan.

Sumber Dasar Kesalahan Aribusi

  1. Bias korespondensi
  2. Efek aktor-pengamat
  3. Bias mengutamakan diri sendiri
  1. Bias Korespondensi

Adalah kecenderungan untuk menjelaskan perilaku orang lain disebabkan oleh disposisinya (faktor internal) daripada mencari penjelasan dari faktor eksternal, meskipun penyebab situasionalnya sangat jelas.

Budaya memainkan peranan yang sangat penting.

Bias korespondensi lebih banyak ditemukan pada kultur yang menekankan pada kebebasan individual (negara Barat) dari pada budaya kolektivis (negara Timur)

Ilustrasi: “Seoranng pria terlambat dlm pertemuan. Ketika memasuki ruangan, ia menjatuhkan notesnya di lantai. Ketika mencoba memungutnya kembali, kacamatanya jatuh & pecah. Kemudian, ia menumpahkan kopi ke dasi yg dikenakannya.”

Bagaimana anda menjelaskan peristiwa ini? Besar kemungkinan anda akan menyimpulkan bahwa orang ini canggung dan berantakan. Padahal belum tentu betul, maka akuratkah atribusi tersebut?

Maka terjadi bias korespondensi.

2. Efek Aktor-Pengamat

Kecenderungan untuk mengatribusi perilaku kita lebih pada faktor situasional (eksternal), sementara perilaku orang lain disebabkan faktor disposisional (internal). Kesalahan atribusi ini disebut efek aktor-pengamat (acotr-observer effect)

Misal: “Ketika orang lain jatuh, kita cenderung mengatribusi perilaku jatuh karena canggung. Namun, jika kita yang jatuh, kita cenderung mengatribusi pd faktor ekternal, yaitu karena jalannya licin.”

3. Bias Mengutamakan Diri Sendiri

Kecenderungan mengatribusi kesuksesan pada faktor internal, namun mengatribusi kegagalan pada faktor eksternal. Dikenal dengan istilah bias mengutamakan diri sendiri (self-serving bias)

Misal:

  • Dapat Nilai A > Saya memang berbakat, saya mengerjakan dengan serius, saya belajar banyak ttg materi ini.
  • Dapat Nilai D > Soalnya terlalu sulit, dosen tidak adil, waktu terlalu pendek.

Aplikasi Teori Atribusi

Atribusi & Depresi

Kebanyakan orang mengatribusi kesuksesan pada faktor internal dan mengatribusi kegagalan pada faktor eksternal, tetapi… Orang yang mengalami depresi mengatribusi kegagalan pada faktor internal dan kesuksesan pada faktor eksternal. Hasilnya orang tersebut merasa tidak memiliki kontrol atas hal-hal yang terjadi pada dirinya à depresi & cenderung mudah menyerah.

Teknik terapi > mengubah atribusi kegagalan pd faktor internal ke faktor eksternal.

Atribusi & Prasangka

Teori atribusi dapat menjelaskan mengapa kelompok minoritas yang sering menjadi korban diskriminasi enggan mempermasalahkannya. Mereka takut jika mengatribusikannya sebagai faktor eksternal, orang akan memberi cap negatif pada mereka (si tukang protes).

Misal: “Seseorang dari kelompok minoritas, bercerita dia ditolak lamaran kerjanya karena prasangka, yaitu karena dia berasal dr kelompok ras atu suku tertentu.”

Kesan apa yang akan anda berikan kepadanya?

Prinsip keadilan menyarankan kita utk bersikap simpatik, karena prasangka jelas merupakan kontras dari berbagai nilai yang dianut. Tapi  ada kemungkinan, anda berfikir dia keliru, dia benar2 ditolak krn tidak mampu.  Pada saat kita sampai pd kesimpulan itu, kita akan mendapat kesan negatif thdnya > menganggapnya sbg org yg suka protes.

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Persepsi

Definisi menurut Toha (1983):

Persepsi merupakan pemahaman individu terhadap informasi dari lingkungan yang diperoleh melalui proses kognitif, yang didapatkan melalui penginderaan, yaitu pandangan, penciuman, dan perasaan thd suatu objek yg kemudian ditafsirkan (Riggio, 1990).

Baron & Byrne (2004):

Persepsi sosial adalah suatu proses yang kita gunakan untuk mencoba memahami orang lain.

Garis Besar Pembahasan Persepsi Sosial

  • Komunikasi Non-verbal
  • Atribusi Perilaku
  • Pembentukan kesan & manajemen kesan

Perilaku sosial  sangat dipengaruhi oleh faktor2 temporer (bersifat sementara): perubahan mood, emosi, kelelahan (fatigue), penyakit & obat2an atau kondisi fisik yang kurang baik.

Komunikasi Non-Verbal

Komunikasi Non-verbal adalah komunikasi antar individu yang melibatkan bahasa non-lisan dari ekspresi wajah, kontak mata, gerak tubuh, dan postur. Misalnya:

  • Orang lebih bersedia menolong orang lain saat perasaan hatinya sedang baik, daripada saat perasaannya tidak baik.
  • Orang cenderung lebih mudah kehilangan kendali dirinya dan melampiaskan kemarahannya pada orang lain saat perasaannya terluka, daripada saat perasaannya bahagia.

Petunjuk Non-verbal

Strategi mencari tahu perasaan orang lain dengan bertanya, bukan suatu yang mudah > solusinya dg memperhatikan petunjuk non-verbal.

Petunjuk  non-verbal adalah suatu strategi untuk memperoleh informasi tentang reaksi orang lain secara tidak langsung. Petunjuk non-verbal meliputi: ekspresi wajah, kontak mata, gerak tubuh, dan tingkah laku ekspresif lainnya (De Paulo, 1992).

Perilaku  non-verbal relatif tidak bisa dikekang/ dikontrol. Misal, saat orang mencoba menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya, perilaku itu tetap tampil melalui ekspresi non-verbal.

Petunjuk non-verbal dapat digunakan untuk membongkar pengecohan (deception)/ pengalihan.

Harus dilakukan dg hati2, karena ada penularan emosional (emotional contagion): mekanisme mentransfer  perasaan secara otomatis dari seseorang ke orang lain.

Saluran-saluran Dasar

Manusia cenderung menampilkan perilaku yg berbeda-beda di berbagai keadaan emosional.

Terdapat lima (5) saluran dasar mengenai informasi kondisi psikologis kita:

  • Ekspresi wajah
  • Kontak mata
  • Gerak tubuh
  • Postur
  • Sentuhan

Ekspresi Wajah & Emosi

“Wajah adalah gambaran jiwa” (Cicerio: orator Roma). Emosi & perasaan manusia sering kali tercermin dari wajah & dapat terbaca dari ekspresi tertentu.

Terdapat enam (6) ekspresi dasar maunisa yang terlihat jelas, yaitu:

  • Marah
  • Takut
  • Bahagia
  • Sedih
  • Terkejut
  • Jijik

Apakah ekspresi wajah bersifat universal?

Berdasarkan Ekman & Friesen (1975), ekspresi wajah cenderung bersifat universal dlm berbagai tempat & budaya yang berbeda. Misal, senyum karena bahagia, kening berkerut karena marah.

Penelitian lanjutan: Ekspresi wajah sangat tergantung konteks & situasi. Kesimpulan: ekspresi wajah tidak secara penuh berlaku universal di seluruh dunia.

Kontak Mata

“Mata sebagai jendela hati”. Orang sering kali mempelajari perasaan orang lain melalui ekspresi mata.

Tatapan mata memberikan tanda2 apakah seseorang tersebut ramah atau tidak. Misal:

  • Mata melotot menandakan marah
  • Tatapan redup menandakan persahabatan
  • Kesediaan menatap lawan bicara indikasi bersedia diajak berteman.

Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh: petunjuk yg berasal dari posisi, postur dan gerakan tubuh orang atau bagian-bagian tubuhnya.

Bahasa tubuh juga representasi dari keadaan emosi. Gerakan-gerakan tertentu merupakan ekspresi dari emosi, seperti  sentuhan, garukan, gesekan/ gosokkan. Makin tinggi frekuensi perilaku tersebut dilakukan, maka semakin tinggi dorongan emosi yang dirasakan.

Sentuhan

Interpretasi  dari sebuah sentuhan tergantung dari beberapa faktor, misalnya:

  1. Siapa yang melakukan sentuhan (teman, orang asing, sejenis).
  2. Sifat sentuhan (singkat-lama, halus-kasar, objek sentuhan)
  3. Konteks sentuhan (bisnis, sosial, politik)
  • Arti sentuhan bisa: afeksi/ perasaan, minat seksual, dominasi, perhatian atau agresi.
  • Hanya sentuhan yang dinilai tepat yang akan menghasilkan reaksi positif.

Mengenali Pengecoh

Manusia sering kali berbohong utk memperbesar keuntungan, mempengaruhi orang lain atau menyembunyikan motif. Ketika berbohong sering kali terjadi perubahan yang halus pada ekspresi wajah, postur tubuh, gerakan atau aspek lain (nada suara).

Terdapat beberapa petunjuk untuk mendeteksi pengecohan:

  • Perubahan ekspresi mikro
  • Ketidaksesuaian antar saluran
  • Aspek non-verbal ucapan
  • Kontak mata
  • Ekspresi wajah berlebihan

a. Perubahan ekspresi mikro

Perubahan ekspresi wajah yang berlangsung hanya sepersekian detik.

Reaksi ini muncul di wajah segera setelah hadirnya kondisi emosi tertentu yang sulit disembunyikan. Sehingga dpt digunakan sebagai indikator penting dalam menilai perasaan/ emosi seseorang.

Misal: Seseorang ditanya suka tentang sesuatu atau tidak? > mengerutkan kening lalu diikuti dengan senyuman > ada indikasi kebohongan.

b. Ketidak-sesuaian antar saluran

Bentuk ketidaksesuaian antar petunjuk non-verbal dr berbagai saluran komunikasi yang berbeda, di mana seseorang kesulitan mengontrol semua saluran pada saat yg bersamaan sekaligus.

Misal: Saat berbohong, seseorang bisa mengontrol mimik mukanya, namun sulit untuk menatap orang yang dibohongi.

c. Aspek non-verbal ucapan

Orang yang berbohong biasanya nada suaranya kerap meninggi, cara bicara cenderung ragu dan sering salah ucap (Stone & Lassiter, 1985).

d. Kontak Mata

Orang berbohong mengedipkan mata lebih sering, disertai pupil mata yang melebar, kesulitan mempertahankan kontak mata.

Meskipun ada, justru menatap secara terus menerus pada mata orang lain yg sedang dibohongi (Kleinke, 1996).

e. Eksprsi wajah yg berlebihan

Orang yang berbohong biasanya menunjukkan ekspresi wajah yang berlebihan, seperti senyum yang lebar dari biasanya, atau kesedihan yang berlebihan.

Misal: seseorang mengatakan “tidak” saat kita minta pertolongan dan menampilkan penyesalan yang luar biasa > menandakan alasan yg diberikan bisa jadi tidak sepenuhnya jujur.

Faktor Kognitif dlm Mendeteksi Pengecohan

  • Semakin kuat motivasi utk mendeteksi pengecohan, kita cenderung semakin memperhatikan (memfokuskan) pada kata-kata yang diucapkan.
  • Padahal petunjuk yang paling bermanfaat adalah penanda non-verbalnya.
  • Hal ini terjadi karena keterbatasan kapasitas kognitif kita dalam memproses informasi.
  • Orang lebih mampu mendeteksi kebohongan dari latar belakang budaya yang sama. Walaupun tetap mampu mendeteksi kebohongan dari latar belakang budaya yang berbeda.

Parfum Petunjuk Non-verbal yg Kian Pudar

Memakai parfum tertentu merupakan salah satu cara dlm mengirimkan pesan non-verbal pd orang lain. Pesan yg dikirimkan > saya sensitif, saya romantis, saya misterius.

Namun pada saat ini ada pengurangan konsumsi parfum, diakibatkan:

  • Lebih suka parfum yg ringan aromanya
  • Menyesuaikan tempat
  • Cara busana yg lebih simplel

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Lingkup Kajian Psikologi Sosial

Sejarah Psikologi Sosial:

  1. Periode Awal

Tahun 1908, William Mc Dougall pertama kali menggunakan istilah Social Psychology dalam bukunya, yang mengemukakan Instinc Theory: Perilaku bersumber dari insting.

Misal: lapar > makan;  mengantuk > tidur; tidak suka > marah

Tahun 1924, buku kedua ditulis oleh Floyd Allport, perilaku sosial disebabkan oleh beberapa faktor seperti kehadiran orang lain dan tindakan-tindakan spesifik. Isi bukunya merupakan diskusi hasil penelitian mengenai konformitas (pengaruh dlm kelompok), kemampuan untuk mengenali emosi orang lain dari ekspresi wajah, dan dampak dari kinerja.

Dua dekade kemudian Psikologi Sosial semakin pesat perkembangannya, ditandai dengan:

– Penelitian Muzafer Sherif, ttg pengaruh kelompok (konformitas)

– Lewin tentang kepemimpinan dan proses-proses kelompok.

Lewin punya pengaruh yang kuat di bidang psikologi social; banyak muridnya yang kemudian menjadi kontributor penting dalam perkembangan psikologi sosial, seperti: Leon Festinger, Harold Kelley, Morton Deutsch, Stanley Schachter, John Thibaut.

  1. Psikologi Sosial Usia Muda (1940-1960)

Setelah PD II, Psikologi Sosial berkembang pesat. Topik-topik penelitian psikologi sosial semakin berkembang luas. Para ahli yang meneliti:

  • Forsyth: Fokus perhatian Psikologi sosial adalah pengaruh kelompok terhadap perilaku individual, juga menguji hubungan antara sifat kepribadian dengan perilaku sosial.
  • Adorno mengemukakan konsep authoritarian personality (kepribadian keras dan kaku, juga patuh akan aturan)
  • Festinger: teori kognitif cognitive dissonance (pada dasarnya perilaku manusia cenderung menghindar dalam situasi inkonsistensi dan berusaha untuk menguranginya.

Tahun 1960an jumlah psikolog sosial meningkat secara tajam, dan bidang psikologi sosial semakin luas meliputi:

  • daya tarik interpersonal,
  • pembentukan kesan,
  • Atribusi (pembentukan keputusan/ kesimpulan tentang seseorang)
  • berbagai aspek persepsi sosial,
  • berbagai aspek pengaruh sosial seperti konformitas, kepatuhan, compliance,
  • efek lingkungan fisik terhadap perilaku sosial
  1. Psikologi Sosial Usia matang/ Dewasa (1970-1980)

Topik-topik penting yang semakin berkembang: atribusi, perbedaan jender dan diskriminasi jender, psikologi lingkungan

  • Tahun 1980an berkembang dua trend:
  • pengaruh perspektif kognitif mulai terasa: banyak psikolog sosial meningkatkan atensi terhadap pengaruh aspek kognitif terhadap perilaku sosial
  • penekanan pada aplikasi psikologi sosial (menerapkan temuan dan prinsip psikologi soial untuk menyelesaikan permasalahan di berbagai bidang): pada bidang kesehatan, proses hukum seting kerja
  1. Psikologi Sosial di Era 1990

Pengaruh pendekatan kognitif (sisi kognitif semakin dianggap penting: bagaimana orang bertindak dalam situasi sosial dipengaruhi oleh pikiran mereka ttg situasi tsb). Berkembangnya penekanan pada aplikasi: isu lingkungan, kesehatan, proses hokum. Penggunaan perspektif keragaman budaya. Meningkatnya perhatian pada pentingnya peran faktor biologis.

Metode riset

Observasi

Adalah kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.

Dalam Psikologi Sosial observasi yang digunakan adalah observasi sistemik, yaitu perilaku secara otomatis diobservasi dan dicatat. Macam:

  1. Observasi naturalistik: observasi di seting alamiah.
  2. Survey: peneliti meminta sejumlah besar partisipan merespon pertanyaan ttg sikap atau perilaku mereka.
  • Keuntungan survey: Informasi dapat diperoleh dg mudah
  • Persyaratan:
  1. orang-orang yg berpartisipasi harus mewakili populasi shg hasil dapat digeneralisir ke populasi
  2. Cara menyusun pertanyaan harus diperhatikan supaya mendapat data yang sesuai dengan tujuan survey. Misal:

“Apakah Anda setuju orang yg sudah membunuh berkali-kali diberi hukuman mati?”

“Apakah Anda setuju dengan hukuman mati?”

Korelasi

Mengobservasi secara sistematis dua variabel/lebih utk menentukan apakah perubahan yg terjadi pd satu variabel diikuti dg perubahan pd variabel lain. Saat korelasi terjadi, kita dapat meramalkan satu variabel berdasarkan variabel yg lain. Misal: gaya hidup hedonis > perilaku konsumerisme pada remaja; kecennderungan saling mengkritik tajam pd pasangan > kecenderungan melakukan perceraian.

Terdapat Hipotesis (sebuah prediksi yang belum diverifikasi kebenarannya) yang diuji. Metode ini lebih alami, namun tidak dpt disimpulkan sebagai sebab-akibat.

Eksperimen

Adalah metode penelitian di mana satu variabel (var bebas) atau lebih diubah secara sistematis utk menentukan apakah suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya (var tergantung).

Fungsinya: Untuk memberikan penjelasan (sebab-akibat) hubungan antar variabel.

Strateginya: satu variabel diubah secara sistematis dan perubahan pd variabel lain juga diukur secara hati2.

Keakuratan Dalam Peramalan

  • Rentang korelasi antara 0 sampai -1,0 atau +1,0
  • Semakin besar jarak dari Nol, semakin kuat korelasinya.
  • Nilai positif menunjukkan bila satu var meningakat, var lainnya juga meningkat.

misal : ada korelasi positif antara kepemimpinan otoriter dengan stres kerja, jadi semakin tinggi tingkat otoritas pemimpinan, maka semakin tinggi stres kerjanya.

  • Nilai negatif menunjukkan bila satu var meningkat, var lain menurun, sebaliknya.

misal : ada korelasi negatif antara usia dg jumlah rambut pd pria, jadi semakin tua pria, semakin sedikit jumlah rambutnya.

Ciri dasar metode Eksperimen:

  • Ada variabel bebas (independent variable) yg diubah-ubah secara sistematis & dipercaya mempengaruhi perilaku lain (variabel tergantung).
  • Ada variabel tergantung (dependent variable) yang diukur perubahannya dengan teliti.

Syarat agar metode eksperimen berhasil:

  • Randomisasi: penggunaan subjek secara acak dlm kondisi eksperimen, shg memiliki kesempatan yg sama sebagai partisipan/ subjek.
  • Pengontrolan: semua faktor kecuali VB yg mungkin berpengaruh thd VT dikontrol.

Dalam metode eksperimen terdapat Efek peneliti (experimenter effect): efek yang tidak dikehendaki pada perilaku partisipan yang disebabkan oleh peneliti. Misal, peneliti memberitahukan tujuan penelitian, shg subjek mengubah perilakunya sesuai atau menghindari tujuan penelitian.

  • Dilakukan double-blind procedur: partisipan tidak mengetahui hipotesis & tujuan penelitian.
  • Kelemahan eksperimen sosial terletak pada validitas eksternal > generalisasi dari laboratorium ke situasi sosial nyata.

Peran teori pada psikologi sosial

Teori bertujuan untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Prosedur pembangunan teori:

  • Mengajukan teori berdasar bukti-bukti yang telah ada.
  • Teori terdiri dari konsep konsep yang saling berhubungan
  • Pengajuan hipotesis untuk diuji dengan penelitian
  • Jika hasil terbukit à derajat kepercayaan meningkat, jika tidak à perlu dimodifikasi ulang dan diuji kembali teorinya.
  • Teori bersifat terbuka untuk diuji kembali.

Hak individu

  • Pengecohan (deception): peneliti berusaha menyembunyikan informasi mengenai tujuan dan hipotesis penelitian untuk sementara waktu agar diperoleh hasil yang lebih objektif.
  • Dilema: tidak etis, dianggap menipu.

Solusi:

  • Informed consent: Persetujuan dengan partisipan berdasar informasi yang diberikan
  • Debrifing: menjelaskan segera kepada partisipan tujuan & hipotesis penelitian serta alasan mengapa informasi tsb tidak disampaikan di awal.

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta