Perspektif-Perspektif Teoritis Psikologi Klinis

Empat Perspektif Utama

Sejak jaman dahulu kala, manusia telah mengembangkan kemampuan adaptasinya untuk dapat bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun, sehingga bisa mempertahankan kehidupannya antar generasi ke generasi. Dahulu kala, nenek moyang kita hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan berburu makanan. Baru setelah 10.000 tahun, manusia baru menanam sendiri makanan mereka melalui pertanian, dan menggunakan hewan untuk membantu mereka.

Hal tersebut menandakan bahwa fungsi-fungsi badaniah dasar untuk emosi dan pikiran yang memungkinkan manusia untuk bertahan melalui ribuan tahun telah diteruskan secara genetik kepada manusia modern di seluruh belahan bumi.

Salah satu pendekatan yang memberikan perspektif luas atas banyak elemen di dalam kompleksitas biopsychososialpolitik manusia adalah general system theory. Teori ini dicetuskan pada 1940-an oleh Bertalanffy (1968), Laszlo (1972), dan paling lengkap oleh J.G. Miller (1978). Bronfenbrenner (1979) juga memberikan sudut pandang sosial-psikologik yang serupa dengan analisisnya mengenai sistem mikro dan makro yang berhubungan dengan perkembangan manusia. Esensi pemikiran sistem adalah yang saling beriteraksi dan bukan entitas-entitas yang terpisah atau hubungan-hubungan sebab-akibat. Kata kuncinya adalah hubungan. Setiap hal dalam sebuah sistem berhubungan dengan hal lain dalam sistem itu, dan hubungan-hubungan itu berbeda dengan yang ada di luar sistem.

Perubahan dalam salah satu bagian sistem akan mengubah seluruh pola hubungan yang ada dalam sistem itu. Sebagai contoh, ketika seorang perempuan neurotik menjalani psikoterapi, seluruh sistem keluarga akan berubah, menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Sistem memiliki batas-batas yang membatasi bidang tempat berlangsungnya hubungan-hubungan tersebut. Sebuah sel adalah sistem hidup. Begitu pula halnya dengan seseorang, sebuah keluarga, dan sebuah bangsa. Sistem terorganisasi menjadi hierarki-hierarki atau tingkat-tingkat, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.1 di bawah ini.

Adapun pertanyaan untuk bagan 2.1 di bawah ini adalah, bagaimana perubahan pada salah satu komponen sistem memengaruhi fungsi sistem tersebut secara keseluruhan? Sebagai contoh, bila penderita sakit mental parah dan persisten yang dirawat di rumah sakit mampu belajar untuk memprakarsai dan menjalankan elemen-elemen krusial higiene, seperti makan, buang air besar, dan mandi dengan benar, mungkin mereka dapat tinggal di foster home yang ada di masyarakat. Keluarga mereka, yang pada awalnya mengalami depresi karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan perawatan jangka panjang di rumah sakit, dapat memberikan dukungan yang lebih aktif. Pasien sendiri dapat membangun self-esteem yang dibutuhkannya untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat.

Bagi seorang psikolog klinis, memutuskan sistem mana yang seharusnya menjadi target perubahan adalah salah satu keputusan penting yang harus diambil oleh seorang pekerja klinis. Di ruang-ruang gawat darurat rumah sakit lokal, tangan yang terkoyak dan wajah yang berdarah-darah seorang korban kecelakaan tidak menimbulkan  keraguan tentang sistem mana yang merupakan target logis untuk intervensi yang paling segera. Jelas bahwa cedera itu membutuhkan penanganan fisik, atau dengan bahasa sistem, intervesi pada tingkat sistem biologis. Tetapi, “korban” psikologis melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih kompleks. Di tahun-tahun awal intervensi psikologis, sistem individu atau pribadilah seolah-olah menjadi target intervensinya, melalui psikoterapi tertentu. Ketika kesadaran tentang multiple system (sistem jamak) tumbuh, ada kecenderungan tertentu di antara klinisi untuk percaya bahwa mereka harus memilih satu sistem tunggal untuk intervensi. Artinya, misalnya pendekatan obat, pendekatan psikoterapeutik, atau pendekatan keluarga. Akhir-akhir ini, semakin banyak klinisi yang percaya bahwa sangat penting untuk memeriksa fungsi semua sistem yang relevan dan melakukan intervensi pada beberapa sistem sekaligus. Alih-alih menayakan “sistem mana yang harus menjadi fokus intervensi?” tampaknya lebih baik menanyakan “Apa keterlibatan masing-masing sistem dalam kehidupan orang ini?” simak kasus di bawah ini.

John, 39 tahun, telah menerima perawatan psikiatris selama bertahun-tahun. Penatalaksanaan penanganannya mengilustrasikan keterlibatan beberapa sistem yang berbeda:

Sistem biologis: obat khusus yang dipakai John, lithium, membutuhkan pemantauan tingkat serum yang konstan. Orang menunjukkan variasi yang besar dalam cara memasukkan obat ke dalam aliran darah maupun dalam hal kecepatan mengekresikannya, jadi perlu melakukan pengukuran konsentrasi aktual obat itu dalam aliran darah.

Sistem personal: John butuh psikoterapi untuk memperbaiki keterampilan sosialnya dan untuk membuat ekspresi seksualitasnya baik dan tidak bersifat ofensif.

Sistem keluarga: bekerja bersama keluarga John dapat membantu mereka untuk tidak menghambat penyesuaian John untuk hidup di boarding house (asrama). Pada saat masih tinggal di rumah, orang tuanya sangat ketakutan bahwa mereka akan meninggal dan tidak akan ada yang mengurus John. Tetapi sekarang mereka mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri atas ketidakhadiran putranya di rumah.

Sistem organisasional: Para eksekutif yunior di bank tempat John bekerja sebagai anggota tim janitorial (penjagaan gedung) selalu menuntutnya untuk menyelesaikan tugas-tugas khusus atau menuntut agar berbagai rutinitas diubah. Konsultasi dan penghubung yang berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga agar tugas-tugas dapat ditangani oleh tim janitorial.

Sistem masyarakat: Caseworker John, Sandi Nutting, menemui John secara reguler sebagai teman yang suportif dan memastikan bahwa John memahami opsi-opsi yang ditawarkan oleh komunitasnya. Ia sangat suka pergi ke konser di taman-taman umum, tetapi membutuhkan bantuan untuk pergi ke sana pada hari yang tepat.

Adapun usaha-usaha yang dilakukan bagi klien memiliki batas-batas tertentu, seperti contoh, jumlah staf yang tersedia di klinik, dukungan finansial bagi beberapa kegiatan yang melalui asuransi atau cara-cara lainnya, dan kemauan dan kemampuan keluarga untuk menolong yang ternyata relatif kurang memadai, serta ketersediaan waktu penanganan juga harus dipertimbangkan. Maka setiap keputusan yang diambil harus mempertimbangkan tentang berbagai keterbatasan ini.

Sejarah Singkat Psikologi Klinis

Profesi yang berdekatan

Profesi-profesi yang sangat dekat dengan psikologi klinis dan saling tumpang tindih dengannya antara lain muncul si bidang pendidikan, khususnya psikologi konseling dan sekolah. Pada 1998 APA melakukan inspeksi dan menyetujui hampir 200 program psikologi klinis, 70 program psikologi konseling, dan 50 program psikologi sekolah, di dalam dan di luar lingkup universitas, untuk pendidikan profesional (APA report,1998). Pendidikan di bidangprogram konseling dan sekolah banyak tumpang tindih dengan pendidikan di bidang program-program klinis, dan seringkali setelah menyelesaikan pendidikan dan pengalaman yang disyaratkan, psikolog konseling berlisensi menjalankan fungsi yang sama dengan psikolog klinis yang berpraktik swasta maupun di sektor publik. Selain itu, banyak psikolog konseling dan klinis terlatih bekerja di setting pemerintah, industri, dan bisnis. Psikolog Industri dan Organisasi (I/O) mendapat tempat yang menonjol di APA dan aktivitas-aktivitas profesional lainnya. Dalam diskusi mengenai tumpang tindih antara psikologi klinis dengan spesialis kesehatan mental lain berikut ini, hampir semua ketumpangtindihan ini juga berlaku pada bidang-bidang keahlian khususdari psikologi terapan lain yang baru saja disebutkan.

Penekanannya pada Kerja Sosial di bidang Kesehatan Mental

Tradisi Organisasi-organisasi kemasyarakatan, kesejahteraan, kepedulian terhadap kebijakan publik. Pendidikan unruk menangani keluarga dan agensi. Derajat master (M.S.W). Memiliki hubungan dengan N.A.S.W dan jurnal-jurnal kerja sosial. Sebagian negara bagian memberikan lisensi untuk praktik independen

Penekanannya pada Psikologi Klinis

Tradisi ilmu psikologi dasar, menekankan pada keadaan normal dan undang-undang umum tentang psikologi normal dan undang-undangumum tentang psikologi abnormal dan psikologi klinis. Keahlian di bidang testing, riset, evaluasi program, dan statistik. Biasanya Ph.D. Memiliki lisensi untuk berpraktik swasta. Memiliki hubungsn dengan APA.

Penekanan pada Keperawatan

Tradisi keperawatan di rumah sakit dan setting-setting kesehatan masyarakat. Riwayat kontak dengan personel medis lain dengan hubungan-hubungan peran khusus. Memiliki beberapa otoritas legal untuk menulis resep. Tingkat pendidikan beragam. Sebagian memiliki lisensi Oraganisasi- organisasi keperawatan.

Penekanan pada Kesehatan Mental Psikiatri

Tradisi kedokteran dan psikiatri yang sejarahnya dapat jauh ditarik mundur. Memiliki prestise dan penghasilan paling tinggi. Hak legal M.D. untuk menulis resep dan memberikan penanganan somatisss, harus memiliki lisensi. Memiliki hubungan dengan A.M.A dan APA (psikiatris).

DASAR PIJAKAN YANG SAMA

Ada banyak tumpang tindih pada basis pengetahuannya. Menggunakan teori dan memiliki kepedulian yang sama untuk melakukan penelitian di bidang kesehatan mental. Saling bekerja sama untuk program-psogram kesehatan mental, asesmen, dan case management. Dasar pijakan yang serupa dalam wawancara, konseling, dan praktik-praktik intervensi lainnya. Saling tergantung dalam pendanaan kesehatan mental, status sosial-politik, dan dukungan masyarakat.

Kesamaan dan kekhususan empat profesi kesehatan mental utama

Empat Profesi Kesehatan Mental Utama

Keempat disiplin kesehatan mental yang dimaksud adalah psychiatric work, dinial psychology, psychiatry, dan nursing. Gambar 1-2 memperlibatkan penekanan-penekanan dan kepedulian khusus keempat profesi kesehatan mental-kerja sosial psikiatrik, psikologi klinis, psikiatri, dan keperawatan psikiatrik atau kesehatan mental. Semuanya memiliki tradisi sebagai profesi yang independen. Nama-nama seperti Florence Nightingale, Jane Addams, Sigmund Freud, dan B.F. Skinner memiliki makna dan implikasi pada  profesi-profesi yang berbeda. Masing-masing profesi memiliki organisasi di tingkat nasional dan lokal serta memiliki jurnal-jurnal pprofesional yang dijadikan tempat berpaling para anggotanya ketika membutuhkan pimpinan dan dukungan. Masing-masing profesi memiliki bentuk lisensi, registrasi, atau sertifikat tertentu yang ditetapkan oleh masing-masing negara bagian atau provinsi di Amerika Utara. Kerja sosial dan keperawatan kurang banyak terlibat dalam praktik swasta. Pprofesi ini lebih banyak dipegang perempuan, cenderung memiliki penghasilan yang lebih rendah, dan memiliki lebih sedikit praktisi setingkat doktor dibanding psikologi dan psikiatri. Psikiatri harus memiliki gelar M.D. (Medical Doctor). Mereka biasanya menempuh kuliah selamaempat tahun di fakultas kedokteran yang diikuti dengan tiga atau empat tahun internship dan residensi psikiatrik. Perawat dan psikiater memiliki sejarah panjang berhubungan dekat dengan rumah sakit, dan pekerja sosial memiliki riwayat orientasi ke arah pelayanan masyarakat. Psikologi memiliki riwayat berhubungan dengan perguruan tinggi. Melalui hubungannya dengan liberal arts di universitas-universitas, psikologi sangat menekankan pada pengetahuan tentang perkembangan normal dan prinsip-prinsip umum pemikiran, perasaan, dan perilaku. Psikolog biasanya memiliki dasar pijakan yang paling menyeluruh di bidang riset di antara keempat profesi tersebut, tetapi mereka seringkali memiliki pengalaman praktis yang lebih sedikit selama pendidikannya dibanding profesi-profesi lainnya. Hal ini membuat penggunaan model belajar apprenticeship (magang) di profesi ini sangat kuat.Terlepas dari banyaknya perbedaan latar belakang, pendidikan, dan tradisi di antara keempat profesi tersebut, ada begitu banyak tumpang tindih dan kesamaan di antara mereka. Para profesional di keempat bidang itu menggunakan teori belajar, psikoterapi, dan psikobioologi. Mereka sering kali  sama-sama memiliki bekal yang cukup untuk melakukan wawancara asesmen, mendiagnosis abnormalitas, melaksanakan psikoterapi, atau wawancara-wawancara lainnya. Mereka semua bergantung pada sikap publik secara umum terhadap kesehatan mental, khususnya tergantung pada pola-pola pendanaan yang berlaku dalam sistem perawatan kesehatan.

Derajat Magister dalam Pekerjaan Kesehatan Mental

  Di beberapa negara bagian, orang-orang dengan gelar magister di bidang psikologi dapat berfungsi sebagai “psychological assistants” (asisten psikolog) atau “psychological associates” (rekanan psikolog), atau istilah lain yang mirip bila negara bagian yang dimaksud mengakui dan memberikan lisensi kepada kategori semacam itu. Bila peran-peran semacam ini ada, mereka biasanya membutuhkan pengawasan dari seorang psikolog berlisensi dan menjalankan fungsinya dalam praktik seorang psikolog tersebut. Berbeda dengan Amerika Serikat, negara-negara lain seperti Australiadan Hong Kong mengakui orang-orang dengan ijazah magister bahkan sarjana S1 di bidang psikologi sebagai orang-orang yang dapat dibberi sertifikat atau dapat dipekerjakan sebagai psikolog klinis. 

Gelar Doktor yang diperoleh dari sebuah program psikologi klinis merepresentasikan tingkat basic entry yang dibutuhkan untuk dapat memberikan pelayanan psikologi klinis. Yang unik untuk pendidikan psikologi adalah keberadaan persyaratan mata kuliah yang substansial di bidang kepribadian dan psikopatologi, yang menghasilkan pemahaman yang komprehensif tentang penyesuaian yang normal dan abnormal dan maladjustment yang terjadi di sepanjang hidup. American Psychological Association menetapkan standar untuk program-program pasca sarjana di bidang psikologi klinis dan mengakui program-program yang memenuhi standar-standar tersebut melalui  proses akreditasi. Semua negara bagian mensyaratkan lisensi untuk mempraktikkan psikologi. (APA Division 12, 1992). Amerika dengan negara lainnya berbeda, sebab Amerika harus memiliki gelar Ph.D baru bisa membuka biro pelayanan psikologi/ menangani klien. Tetapi di negara lain bisa hanya lulusan magister profesi, contohnya Indonesia.

Rangkuman:

Psikologi Klinis adalah sebuah helping profession (profesi yang membantu orang) yang muncul dan tumbuh pesat pada abad ke-20 di Amerika dan Eropa dan menyebar ke seluruh dunia. Psikolog klinis mengacu pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap psikologis yang digunakan oleh praktisi saat mereka berusaha menangani masalah-masalah mental dan perilaku serta berusaha meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas orang-orang. psikologi klinis melebarkan cakupannya secara konstan sehingga meliputi semakin banyak jenis setting, klien, dan aktivitas.

Tahun 1920: awal perkembangan sejarahnya, gerakan pertamanya adalah ke arah kelahiran ide-ide baru, alat-alat baru, dan program-program baru. Ide Freud, Adler, Jung, Watson, dan ahli-ahli lainnya memiliki pengaruh yang luas. Teknik-teknik tes mental ditemukan dan dielaborasi. Organisasi-organisasi dan jurnal-jurnal profesional bermunculan.

Tahun 1945- 1960: perkembangan psikologi klinis sebagai profesi yang sangat kasat mata, dan jumlah orang-orang yang memasuki bidang baru ini meningkat tajam. Para psikolog sekarang banyak terlibat dalam psikoterapi maupun asesmen. Doktor menjadi kulaifikasi profesional standar di Amerika Serikat, dan berbagai posisi pun banyak tersedia bagi semua lulusan yang qualified. Optimisme tentang accomplishment profesional meluas. Sejak tahun 1970 semakin banyak psikolog klinis yang memperoleh pendidikan di pendidikan-pendidikan profesional independen (yang tidak berhubungan dengan universitas) yang menekankan pada pengalaman praktis dengan pengakuan terhadap psikolog sebagai penyedia perawatan kesehatan oleh perusahaan-perusahaan asuransi.

Abad ke-20: ditandai dengan pendanaan yang relatif kecil bagi pelayanan sosial publik dan masalah biaya di bidang kesehatan yang secara umum lebih besar. Pertambahan jumlah praktik swasta dihambat oleh ukuran-ukuran pengurangan biaya, seperti pengurangan insurance benefit dan managed care. Akan tetapi bagaimanapun juga posisi psikologi klinis terus mengalami konsolidasi sebagai kekuatan yang siginifikan dan produktif dalam kesehatan mental dan pelayanan kemanusiaan. Meskipun di Amerika Serikat masih mensyaratkan gelar Doktor untuk dapat berpraktik sebagai psikolog, namun tidak menutup kemungkinan gelar Master dan gelar di bidang lainny yang berhubungan dengan disiplin-disiplin pelayanan kemanusiaan akan tetap memiliki peluang yang menantang.

Psikologi klinis

  • Psikologi klinis adalah apllied psikologi, psikologi terapan, sama seperti psikologi sekolah, psikologi industri dan organisasi, dan lain-lain.
  • Kata “clinical” diambil dari bahasa Yunani yaitu klinike, yang berarti praktik medis di tempat tidur untuk orang sakit (sickbed).
  • Psikologi klinis adalah bidang psikologi yang berhubungan dengan perilaku yang menyimpang , maladaptif, atau abnormal (Reber, 1995).
  • Psikologi klinis menurut APA: “ Bidang psikologi klinis mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teori, dan  praktik untuk memahami, memprediksi, dan mengurangi maladjustment, disabilitas, dan ketidak nyamanan dan memperbaiki adaptasi, penyesuaian, dan  perkembangan pribadi manusia. Psikologi klinis difokuskan pada aspek-aspek intelektual, emosional, biologis, psikologis, sosial, dan perilaku dari fungsi manusia seumur hidupnya di berbagai macam budaya, dan di semua tingkat sosial-ekonomi (APA Division 12, 1992).

Hal yang wajib dimiliki psikologi klinis

  1. Pokok pengetahuan psikologi
  2. Sejumlah keahlian dan kemampuan
  3. Sikap etis

Setting, Klien dan Aktivitas Profesional

a. Setting dalam psikologi klinis berbagai macam, terlihat dari keberagaman kasus yang ada, namun secara umum, orang yang membutuhkan dalam setting psikologi klinis dipanggil dengan sebutan klien, meskipun saat di rumah sakit, maka disebut dengan pasien.

b. Klien dalam psikologi klinis, memiliki banyak latar belakang mulai dari ekonomi dan status ekonomi bawah, menengah ataupun orang kaya raya atau berada. Karena permasalahan klinis terkadang tidak memandang status sosial ekonomi seseorang, namun status sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap cara berpikir dan berperilaku seseorang.

c. Aktivitas profesional dalam psikologi klinis, meliputi asessmen psikologis dengan tes, wawancara, psikoterapi, konseling, terapi perkawinan dan keluarga, merancang program  penanganan atau pencegahan, melakukan penelitian atau mengembangkan berbagai tes atau prosedur baru, dan mengadministrasikan atau mengevaluasi berbagai program atau organisasi kesehatan mental.

Teori Humanistik dalam Pernikahan

Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam hidup seseorang dan diharapkan terjadi sekali seumur hidup, sehingga perlu dipersiapkan sebaik dan sematang mungkin. Pernikahan merupakan awal terbentuknya keluarga, karena di dalamnya akan ada ayah, ibu dan anak, sehingga proses awal pembentukannya yang berawal dari pasangan suami istri perlu memperoleh konseling agar pernikahan yang akan dilaksanakannya memperoleh kebahagiaan. Keluarga merupakan sistem sosial yang alamiah, berfungsi membentuk aturan-aturan, komunikasi, dan negosiasi di antara para anggotanya. Ketiga fungsi keluarga ini mempunyai sejumlah impliaksi terhadap perkembangan dan keberadaan para anggotanya. Keluarga melakukan suatu pola interaksi yang diulang-ulang melalui partisipasi seluruh anggotanya. Strategi-strategi konseling keluarga terutama membantu terpeliharanya hubungan-hubungan keluarga, juga dituntut untuk memodifikasi pola-pola transaksi dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang mengalami perubahan.

Dalam realitasnya ada pasangan calon pengantin yang mengalami sindrom atau kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi dalam pernikahannya, sehingga mereka perlu memperoleh bimbingan terhadap hal-hal yang akan terjadi dalam pernikahan, agar kekhawatiran yang terjadi dalam pernikahannya dapat diminimalisir. Dalam hal ini terdapat juga orang yang merasa bimbang untuk memasuki ke gerbang pernikahan. Dalam hal ini dapat dilakukan konseling dengan beberapa pendekatan, di antaranya adalah pendekatan humanistik.

Konsep Pernikahan Humanistik

Menurut Rogers, pernikahan terlalu sering didasarkan pada asumsi usang, simplistik, keliru, dan egois. Para pasutri sering yakin bahwa hanya dengan cinta atau keterikatan satu sama lain maka pernikahan bisa bertahan. Rogers mengumpulkan banyak pernyataan yang diyakini mensinyalkan asumsi yang berbahaya ini:

Aku cinta kamu – Kami saling mencintai – Aku mengikatkan diri sepenuhnya padamu dan demi kebahagiaanmu – Aku lebih peduli padamu daripada diri sendiri – Kita akan berusaha sebaik mungkin untuk keindahan pernikahan ini – Kami mempertahankan lembaga pernikahan yang suci, dan itulah yang mensakralkan kami Kami bersumpah setia satu sama lain sampai maut memisahkan – Kami ditakdirkan untuk hidup bersama-sama.

Sebagaimana diketahui bahwa bimbingan pernikahan termasuk dalam bimbingan keluarga, yang merupakan upaya pemberian bantuan kepada individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan/ berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia. Bimbingan keluarga juga membantu individu yang akan berkeluarga memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sehingga individu siap menghadapi kehidupan keluarga. Bimbingan keluarga juga membantu anggota keluarga dengan berbagai strategi dan teknik berkeluarga yang sukses, harmonis dan bahagia.

Pendekatan humanistik termasuk di dalamnya adalah konseling keluarga, di mana di dalamnya membahas bagaimana struktur dan komunikasi dalam keluarga akan berlangsung, sehingga sebuah keluarga akan berjalan sebagaimana mestinya dengan menjalankan perannya masing-masing, sehingga akan memperoleh kebahagiaan.

Konseling keluarga tidak menghilangkan signifikansi proses intrapsikis yang sifatnya individual, tetapi menempatkan perilaku individu dalam pandangan yang lebih luas. Perilaku individu itu dipandang sebagai suatu yang terjadi dalam sistem sosial keluarga. Dengan demikian, ada perubahan paradigma dari cara- cara tradisional dalam memahami perilaku manusia ke dalam epistimologi cybernetic. Paradigma ini menekankan mekanisme umpan balik beroperasi dan menghasilkan stabilitas serta perubahan. Konselor keluarga lebih memfokuskan pemahaman proses keluarga daripada mencari penjelasan- penjelasa yang sifatnya linier.

Carl Rogers memperkenalkan suatu pendekatan dalam konseling pada diri klien. Selama wawancara konseling berlangsung, klien diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengekspresikan diri dan emosinya serta dipercayakan utnuk memikul sebagian besar tanggung jawab bagi pemecahan masalahnya. Pendekatan ini mulai diperkenalkan pada tahun 1951 (Meyer dan Meyer, dalam Subandi, 2003: 39).

Dalam hal ini Rogers sangat yakin, bahwa pengalaman individual yang sesungguhnya hanya dapat diketahui secara lengkap oleh individu itu sendiri, bahwa seseorang akan merupakan sumber informasi yang terbaik mengenai dirinya sendiri. pelaku pernikahan atau calon pengantinlah yang sangat mengetahui masalah yang dihadapi, kekhawatiran yang muncul menjelang pernbikahan, sehingga dengan pendekatan ini diharapkan calon pengentin dapat mempersiapkan pernikahannya dalam rangka menuju kebahagiaan.

Pendekatan Humanistik ini oleh Carl Rogers disebut sebagai “Person Centered” berorientasi monistik. Artinya ia memandang manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dengan pembawaan dasar yang baik, memiliki kecenderungan yang bertujuan positif, konstruktif, rasional, sosial, berkeinginan untuk maju, realistik, memiliki kapasitas untuk menilai diri dan mampu membawa dirinya untuk bertingkah laku sehat dan seimbang, cenderung berusaha untuk mengaktualisasikan diri, memperoleh sesuatu dan mempertahankannya. Setiap manusia memiliki harga dan martabat dirinya, sehingga dengan didukung oleh pembawaan dasarnya maka setiap manusia akan siap dan mampu untuk mengatasi masalahnya (Patterson, 1986: 45)

Pendekatan humanistik ini berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan ini bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia

Menurut Rogers semua pernyataan itu melewatkan satu hal penting bahwa agar sebuah pernikahan bisa berjalan harus tercipta kondisi yang egaliter, memperkaya dan memuaskan bagi kedua pasangan. Pernikahan adalah proses dinamis dimana kedua pasangan terus bertumbuh. Satu-satunya sumpah perkawinan masuk akal yang bisa dibuat, menurut Rogers adalah “Kami berkomitmen satu sama lain untuk berupaya bersama menghadapi proses yang terus berubah dari hubungan kekinian kami karena hubungan itu terus memperkaya cinta dan hidup kami, dan kami ingin itu terus tumbuh. Karena pernikahan yang baik melibatkan saling menguntungkan kedua pihak.”

Yang baik dari pasangan-pasangan yang sudah belajar filsafat berpusat pribadi dari kelompok diskusi, pertemuan kelompok, atau terapi individu. Rogers menyimpulkan tema-tema itu berikut ini:

“Kesulitan yang ada sekarang ini didalam hubungan yang kebih terbuka. Komunikasi jadi lebih terbuka, lebih riil, disertai saling mendengarkan. Kedua pasangan makin menyadari artinya perpisahan. Tumbuhnya independensi pada wanita diakui sebagai hal yang bernilai di dalam hubungan. Muncul pengakuan makin besar tentang pentingnya rasio setara emosi, dan penalaran setara perasaan. Terjadi gerak maju untuk mengalami lebih besar lagi rasa saling percaya, pertumbuhan pribadi dan kepentingan bersama. Peran, dan harapan akan peran, cenderung menjauh digantikan oleh pribadi yang memilih cara terbaiknya bersikap. Muncul lebih banyak penerimaan lebih realistic kebutuhan satu sama lain yang bisa saling dipengaruhi orang lain. Hubungan yang disebut satelit bisa saja dibentuk oleh kedua belah pihak, dan seringkali ini menimbulkan rasa sakit sekaligus pengayaan seiring pertumbuhannya” (Rogers, dalam  Olson & Hergenhahn: 804).

Rogers mengelaborasikan lebih jauh konsep hubungan satelit ini sebagai berikut: Hubungan satelit berarti hubungan sekunder yang dekat di luar pernikahan yang bisa saja melibatkan hubungan seks atau tidak, namun yang dinilai sangat tinggi. Ketika dua individu yang sedang menjalin hubungan belajar melihat satu sama lain sebagai pribadi yang terpisah, dimana pemisahan terjadi pada minat dan kebutuhan mutualistic, maka mereka sepertinya menemukan bahwa hubungan diluar dapat memenuhinya.

Konsep hubungan satelit pastinya menimbulkan rasa cemburu. Namun bagi Rogers, rasa cemburu ini justru memperlihatkan adanya rasa posesif: “Taraf dimana rasa cemburu ini dibentuk dari rasa posesif, maka penggubahan rasa ini akan membawa perbedaan mendalam didalam politik hubungan pernikahan. Taraf dimana setiap pasangan menjadi agen yang sungguh bebas, maka relasi hanya bisa permanen jika kedua pasangan terikat satu sama lain, berada didalam komunikasi yang baik satu sama lain, menerima diri masing-masing sebagai pribadi yang berbeda, dan hidup bersama sebagai pribadi-pribadi, bukan peran. Jenis hubungan yang baru dan dewasa seperti ini membutuhkan perjuangan berat bagi banyak pasangan (ibid, hal 805).

Rogers mendeskripsikan pasangan nikah yang sanggup menaklukkan rasa posesif dan cemburu yang terkait dengannya sebagai berikut: “Fred dan Trish berupaya membuat pernikahan mereka sebagai suatu hubungan dimana nilai pokok diletakkan ke masing-masing pihak sebagai pribadi. Mereka sudah berusaha berbagi didalam pengambilan keputusan, menginginkan setiap dari mereka punya bobot hak yang setara. Masing-masing sepertinya menghindari, hingga taraf yang tidak begitu lazim, kebutuhan apapun yang memiliki atau mengontrol satu sama lain. Mereka sudah mengembangkan sebuah rekanan yang didalamnya hidup mereka terpisah sekaligus bersama. Mereka masing-masing punya hubungan hubungan lain diluar pernikahan, dan interaksi inti mini sering kali bersifat seksual. Mereka sudah mengkomunikasikan secara terbuka terkait hubungan-hubungan ini dan sepertinya bisa menerimanya sebagai hal yang alamiah demi menghargai kehidupan pribadi masing-masing didalam pernikahan. Mereka menyukai gaya hidup ini, sebuah pernikahan berpusat pribadi dan jauh dari batasan konvensional” (ibid, hal 805).

Mengizinkan hubungan satelit yang intim di sebuah pernikahan sepertinya lebih mudah diterima secara intelektual daripada emosi karena begitu banyak pasangan yang sudah mencobanya tetap saja berakhir dengan perceraian. Agar jenis hubungan ini bisa diterima kedua pasangan nikah, masing-masing harus bisa menerimanya di tingkat intelektual sekaligus emosi.

Adanya ikatan dan kesatuan antara suami istri yang terikat dalam pernikahan akan mendatangkan kebahagiaan dalam pernikahannya. Hal ini memang relatif karena kebahagiaan adalah bersifat relatif dan subyektif. Subyektif oleh karena kebahagiaan bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lain. Relatif karena sesuatu hal yang pada suatu waktu dapat menimbulkan kebehagiaan, pada waktu yang lain hal tersebut mungkin tidak lagi menimbulkan kebahagiaan. Hal ini akan terkait dengan pada frame of reference dari individu yang bersangkutan. Walaupun kebahagiaan itu bersifat subyektif dan relatif, adanya ukuran atau patokan umum yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa keluarga itu merupakan keluarga yang bahagia atau welafare. Keluarga bahagia merupakan keluarga yang bila dalam keluarga tersebut tidak terjadi kegoncangan-kegoncangan atau pertengkaran-pertengkaran sehingga keluarga itu berjalan dengan smooth tanpa goncangan-goncangan yang berarti (frame from quarelling) (Walgito, 2010: 14).

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan bersifat kekal. Ini berarti bahwa pernikahan perlu diinsyafi hanya sekali untuk selamanya, dan berlangsung seumur hidup. Hal ini diharapkan, pasangan tersebut akan berpisah jika salah satu pasangannya meninggal dunia artinya yang dapat memisahkan hanyalah kematian. Dengan adanya bimbingan konseling pra nikah melalui pendekatan humanistik, diharapkan pasangan yang akan menikah akan memperoleh kebahagiaan.

Daftar Pustaka

Hidup yang bermakna

Hidup yang bermakna adalah istilah yang luas meliputi sejumlah beragam definisi yang berkaitan dengan mengejar kepuasan hidup. Artinya dapat didefinisikan sebagai koneksi yang menghubungkan dua entitas independen bersama-sama.

Referensi

  • Lopez, ed. by C. R. Snyder; Shane J.; Baumeister, R.F.; Vohs, K.D. (2002). “The Pursuit of Meaningfulness in Life”. Handbook of positive psychology. Oxford [u.a.]: Oxford Univ. Press. pp. 608–618. ISBN 0195135334

Psikologi pendidikan

Psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang mengulik studi ilmiah belajar manusia. Studi proses belajar, dari perspektif kognitif dan perilaku, memungkinkan peneliti untuk memahami perbedaan individu dalam kecerdasan, perkembangan kognitif, pengaruh, motivasi, pengaturan-diri, dan konsep diri, serta peran mereka dalam belajar. Bidang psikologi pendidikan sangat bergantung pada metode kuantitatif, termasuk pengujian dan pengukuran, untuk meningkatkan kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan desain instruksional, pengelolaan kelas, dan penilaian, yang berfungsi untuk memfasilitasi proses pembelajaran dalam berbagai pengaturan pendidikan di seluruh jangka hidup.

Referensi

  • Snowman, Jack (1997). Educational Psychology: What Do We Teach, What Should We Teach?. “Educational Psychology”, 9, 151-169

Psikologi industri dan organisasI

Psikologi industri dan organisasi (juga dikenal sebagai psikologi I/O, psikologi kerja, psikologi organisasi dan bekerja dan psikologi organisasi) adalah ilmu perilaku manusia berkaitan dengan pekerjaan dan pemberlakuan teori-teori dan prinsip-prinsip psikologis terhadap organisasi dan individu di tempat kerja mereka. Psikolog I/O dilatih dalam model ilmuwan-praktisi. Psikolog I/O berkontribusi pada kesuksesan organisasi dengan meningkatkan kinerja, motivasi, kepuasan kerja, keselamatan dan kesehatan kerja serta kesehatan secara keseluruhan dan kesejahteraan para karyawan. Psikolog I/O melakukan penelitian tentang perilaku dan sikap karyawan, dan bagaimana hal ini dapat ditingkatkan melalui praktik perekrutan, program pelatihan, umpan balik, dan sistem manajemen.

Seperti dijelaskan di atas, psikolog I/O dilatih dalam model ilmuwan-praktisi. Psikolog I/O bergantung pada berbagai metode untuk melakukan penelitian organisasi. Desain studi yang dilakukan oleh psikolog I/O meliputi: survei, eksperimen, quasi-eksperimen, dan studi observasional. Psikolog I/O mengandalkan sumber data yang beragam termasuk penilaian manusia, database historis, ukuran objektif kinerja kerja (misalnya, volume penjualan), dan kuesioner dan survei.

Peneliti I/O menggunakan metode statistik kuantitatif. Metode kuantitatif digunakan dalam psikologi I/O termasuk korelasi, regresi berganda, dan analisis varians. Metode statistik yang lebih maju digunakan dalam penelitian I/O meliputi regresi logistik, pemodelan persamaan struktural, dan pemodelan linear hirarkis (HLM, juga dikenal sebagai model bertingkat). Penelitian I/O juga telah mempekerjakan meta-analisis. Psikolog I/O juga menggunakan metode psikometri termasuk metode yang terkait dengan teori tes klasik, teori generalisasi, dan teori respon butir (IRT).

Psikolog I/O juga telah mempekerjakan metode kualitatif, yang sebagian besar melibatkan kelompok fokus, wawancara, dan studi kasus. Penelitian I/O pada penelitian budaya organisasi telah mempekerjakan teknik etnografi dan observasi partisipan. Salah satu teknik kualitatif terkait dengan psikologi I/O adalah Teknik Insiden Kritis Flanagan. Psikolog Kritis kadang menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dalam konser. Peneliti OHP juga telah mengkombinasikan dan mengkoordinasikan metode kuantitatif dan kualitatif dalam studi tunggal.

Analisis pekerjaan

Analisis pekerjaan (job analysis) meliputi sejumlah metode yang berbeda. Ia terutama melibatkan pengumpulan informasi yang sistematis suatu tentang pekerjaan. Sebuah analisis pekerjaan berorientasi-tugas melibatkan pemeriksaan kewajiban, tugas, dan/atau kompetensi yang dibutuhkan oleh pekerjaan yang dinilai. Sebaliknya, analisis pekerjaan berorientasi-pekerja melibatkan pemeriksaan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan karakteristik lain (KSAOs) yang diperlukan untuk berhasil melakukan pekerjaan. Informasi yang diperoleh dari analisis pekerjaan digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk penciptaan prosedur seleksi pekerjaan yang relevan, penilaian kinerja dan kriteria yang mereka butuhkan, dan pengembangan program pelatihan.

Rekrutmen dan seleksi personil
Psikolog I/O biasanya bekerja dengan spesialis sumber daya manusia untuk merancang (a) proses rekrutmen dan (b) sistem seleksi personil. Rekrutmen adalah proses mengidentifikasi kandidat yang memenuhi syarat dalam angkatan kerja dan menggiring mereka untuk melamar pekerjaan dalam suatu organisasi. Proses perekrutan mencakup pengembangan pengumuman pekerjaan, menempatkan iklan, mendefinisikan kualifikasi kunci untuk pelamar, dan menyaring pelamar yang tidak memenuhi syarat.

Seleksi personil adalah proses sistematis mempekerjakan dan mempromosikan personil. Sistem seleksi personil mempekerjakan praktek berbasis bukti untuk menentukan calon yang paling memenuhi syarat. Seleksi personil melibatkan mereka yang baru direkrut dan individu yang dapat dipromosikan dari dalam organisasi. Alat seleksi umum meliputi tes kemampuan (misalnya, kognitif, fisik, atau psiko-motor), tes pengetahuan, tes kepribadian, wawancara terstruktur, pengumpulan sistematis data biografi, dan contoh kerja. Psikolog I/O harus mengevaluasi bukti mengenai sejauh mana alat seleksi memprediksi kinerja pekerjaan.

Prosedur seleksi personil biasanya divalidasi, yaitu, terbukti relevan untuk seleksi personil, menggunakan satu atau lebih dari jenis berikut validitas: validitas isi, validitas konstruk, dan / atau validitas terkait kriteria. Psikolog I/O harus mematuhi standar profesional dalam upaya seleksi personil.

Sebuah meta-analisis dari metode seleksi menemukan bahwa kemampuan mental umum adalah prediktor terbaik keseluruhan kinerja dan pencapaian dalam pelatihan.

Referensi

  • Truxillo, D. M., Bauer, T. N., & Erdogan, B. (2016). Psychology and Work: Perspectives on Industrial and Organizational Psychology. New York: Psychology Press-Taylor & Francis.
  • Building Better Organizations Brochure published by the Society for Industrial and Organizational Psychology. SIOP.org
  • Hayduk, L.A. (1987). Structural equations modeling with LISREL. Baltimore, MD: Johns Hopkins University Press.
  • Raudenbush, S.W. & Bryk, A.S. (2001). Hierarchical linear models: Applications and data analysis methods (2nd ed.). Newbury Park, CA: Sage.
  • Hunter, J.E. & Schmidt, F.L. (1990). Methods of meta-analysis: Correcting error and bias in research findings. Thousand Oaks, CA.
  • Hunter, J.E. & Schmidt, F.L. (1994). Estimation of sampling error variance in the meta-analysis of correlations: Use of average correlation in the homogeneous case. Journal of Applied Psychology, 79, 171–77.
  • Rosenthal, R. & DiMatteo, M.R. (2002). Meta-analysis. In H. Pashler & J. Wixted (Eds.). Stevens’ handbook of experimental psychology (3rd ed.), Vol. 4: Methodology in experimental psychology, pp. 391–428. Hoboken, NJ, US: Wiley.
  • Nunnally, J. & Bernstein, I. (1994). Psychometric theory (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.
  • Du Toit, M. (2003) IRT from SSI. Mooresville, IN: Scientific Software.
  • Flanagan, J.C. (1954). The Critical Incident Technique. Psychological Bulletin, 51, 327–58.
  • Rogelberg, S. G., & Brooks-Laber, M. E. (2002). Securing our collective duture: Challenges facing those designing and doing research in industrial and organization psychology. In S. G. Rogelberg (Ed.). Handbook of research methods in industrial and organizational psychology (pp. 479 – 485). Cambridge, MA: Blackwell.
  • Elfering, A., Grebner, S., Semmer, N.K., Kaiser-Freiburghaus, D., Lauper-Del Ponte, S., & Witschi, I. (2005). Chronic job stressors and job control: Effects on event-related coping success and well-being. Journal of Occupational and Organizational Psychology, 78, 237–252.
  • Schmidt, F.L., & Hunter, J.E. (1998). The validity and utility of selection methods in personnel psychology: Practical and theoretical implications of 85 years of research findings. Psychological Bulletin, 124(2), 262–74. [2]

Cinta

Cinta adalah perasaan suka sekali, sayang benar, terpikat (dalam hal asmara, umumnya antara laki-laki dan perempuan). Sulit untuk berbicara tentang cinta dalam peristilahan ilmiah karena pendengar memiliki begitu banyak keyakinan yang sudah ada dan kuat tentang hal itu. Banyak dari keyakinan ini mencerminkan warisan budaya-bersama yang kita miliki, seperti semua lagu dan film yang berlimpah yang menyamakan cinta dengan perasaan tergila-gila atau hasrat seksual terhadap seseorang, atau dengan cerita yang berakhir bahagia selamanya, atau bahkan upacara pernikahan realistis yang merayakan cinta sebagai sebuah ikatan dan komitmen yang eksklusif. Keyakinan lain tentang cinta sifatnya sangatlah pribadi. Keyakinan-keyakinan ini mencerminkan sejarah kehidupan Anda yang unik, dengan kemenangan-kemenangan dan bekas-bekas luka antarpribadi yang dimilikinya, pelajaran tentang keintiman ada yang sudah dipelajari dan ada yang belum. Dibiarkan belum terselesaikan, prasangka-prasangka ini dapat menggagalkan diskusi intelektual yang serius mengenai cinta. Prasangka-prasangka ini bahkan mungkin membuat Anda menyerap implikasi penuh dari temuan baru yang berhubungan dengan cinta.

Landasan untuk pendekatan saya terhadap masalah cinta adalah ilmu mengenai emosi. Selama lebih dari dua dekade, saya sudah menyelidiki bahwa subset dari emosi-emosi yang dirasa baik untuk Anda, keadaan-keadaan yang menyenangkan itu—rasa sukacita, hiburan, rasa syukur, harapan, dan sejenisnya—yang secara bersamaan menyirami pikiran dan tubuh Anda. Kemungkinan besar Anda pindah ke dan dari keadaan-keadaan yang seperti ini lusinan kali setiap hari, kadang-kadang saat Anda sendiri, terkadang ketika Anda dengan orang lain.

Meskipun Anda mengalami emosi-emosi positif yang meletup-letup, halus dan singkat, momen tersebut dapat menyulut kekuatan-kekuatan pertumbuhan yang luar biasa dalam hidup Anda. Kekuatan-kekuatan tersebut pertama kali melakukannya dengan membuka Anda agar: pandangan Anda secara harfiah mengembang saat Anda berada di bawah pengaruh salah satu dari beberapa emosi positif tersebut. Dengan adanya kesempatan-kesempatan yang diperluas dengan pola pikir yang lebih menyeluruh ini, Anda menjadi lebih fleksibel, selaras dengan orang lain, kreatif, dan bijaksana. Seiring waktu, Anda juga menjadi lebih banyak akal. Bahkan, penelitian saya dan juga penelitian lain menunjukkan bahwa emosi-emosi yang positif dapat memicu peningkatan yang berkelindan dalam hidup Anda, lintasan pertumbuhan mandiri yang mengangkat Anda menjadi versi diri Anda sendiri yang lebih baik.

Emosi positif merupakan mesin kecil yang menggerakkan sebuah sistem positif yang rumit dan selalu berputar. Emosi-emosi ini merupakan bahan aktif yang mengatur segala sesuatunya agar tetap bergerak. Ketika saya melangkah mundur dari mikroskop peribahasa untuk menguji sistem yang lebih besar yang mengorbit di sekitar emosi positif Anda, saya melihat bagaimana emosi-emosi positif Anda tersebut merajut Anda ke dalam kain kehidupan, tatanan sosial yang menyatukan Anda dengan orang lain, dan bagaimana mereka mengatur cara Anda tumbuh dan memantulkannya kembali melalui keadaan-keadaan yang berubah. Saya membutuhkan satu kata baru untuk mencakup sistem yang lebih luas, dan kata baru tersebut adalah positifitas (positivity).

Dengan terus memperhatikan sistem positifitas yang lebih lengkap memungkinkan adanya suatu definisi yang lebih tepat mengenai cinta. Cinta—seperti semua emosi positif lainnya—mengikuti logika leluhur mengenai memperluas (broaden) dan membangun (build): hal-hal yang menyenangkan ini bukan merupakan hubungan kisah-kisah sesaat yang Anda alami dengan orang lain yang memperluas kesadaran Anda dengan cara yang diperoleh untuk menciptakan perubahan-perubahan abadi dan berguna dalam hidup Anda. Cinta, seperti yang saya lihat, ditemukan pada saat-saat yang hangat, yang merupakan hubungan dan keterbukaan terhadap orang lain. Hal itu memberikan energi pada keseluruhan sistem tersebut dan menyetelnya ke dalam gerakan.

Sama seperti tubuh Anda yang dirancang untuk mengekstrak oksigen dari atmosfer bumi, dan nutrisi dari makanan yang Anda makan, tubuh Anda dirancang untuk mencintai. Cinta—seperti mengambil napas yang dalam, atau makan jeruk ketika Anda lapar dan haus—tidak hanya terasa luar biasa tetapi juga memberi hidup, sumber energi, rezeki, dan kesehatan yang sangat diperlukan. Dalam menggambarkan cinta seperti ini, saya tidak hanya mengambil lisensi puitis, tetapi menggambarkan ilmu: ilmu baru yang menerangi untuk pertama kalinya bagaimana cinta, dan ketiadaannya, secara fundamental mengubah zat-zat biokimiawi di mana tubuh Anda direndam. Zat-zat biokimiawi ini, pada gilirannya, dapat mengubah cara bagaimana DNA akan diekspresikan pada sel-sel di dalam tubuh Anda.

Kita tahu sekarang bahwa diet cinta yang stabil—dari saat-saat-mikro dari hubungan positif–mempengaruhi bagaimana orang bertumbuh dan berubah, membuat mereka lebih sehat dan lebih tangguh. Dan kita mulai memahami bagaimana hal ini bekerja, dengan melacak rantai kompleks reaksi biologis yang bergelombang ke seluruh tubuh Anda dan mengubah perilaku Anda dengan cara yang mempengaruhi orang di sekitar Anda ketika Anda mengalami cinta.

Ini semua terlalu menggoda, terutama dalam budaya Barat, untuk mengambil tubuh Anda menjadi kata benda. Seperti hal-hal konkret lainnya yang dapat Anda lihat dan sentuh, Anda biasanya menggambarkan tubuh Anda dengan mengacu pada sifat fisik yang pasti, seperti tinggi badan, berat badan, warna kulit, usia, dan sejenisnya. Anda mengakui, tentu saja, bahwa lima tahun dari sekarang, sifat fisik tubuh Anda mungkin bergeser sedikit—Anda mungkin, misalnya, menjadi sedikit lebih pendek, sedikit lebih berat, sedikit lebih pucat, atau terlihat sedikit lebih tua. Namun, Anda merasa nyaman dengan ide bahwa tubuh Anda tetap sama dari hari ke hari.

Namun keteguhan, seperti yang diingatkan oleh filsafat Timur kuno, adalah sebuah ilusi, suatu tipuan dari pikiran. Ketidakkekalan adalah aturan—perubahan yang pasti hanyalah kepastian itu. Hal ini terutama benar  adanya bagi makhluk hidup, yang, menurut definisi, harus beradaptasi dengan lingkungan mereka yang berubah. Sama seperti tanaman berubah ke arah matahari dan melacak busur dari fajar hingga senja, hati Anda sendiri mengubah aktivitasnya dengan setiap perubahan gerakan tubuh, setiap emosi baru, bahkan setiap napas yang Anda hirup. Dilihat dari sudut ini, tubuh Anda lebih berupa kata kerja daripada kata benda: bergeser, berayun-bergelombang, dan berdenyut; tubuh Anda ini menghubungkan dan membangun, mengikis dan memberi warna.

Seperti gambar foto yang gagal untuk menangkap perputaran dinamika yang diaduk tanpa henti dan sebagian besar tak terlihat. Sebaliknya, Anda perlu film. Semakin semarak, para ilmuwan bekerja untuk menangkap perputaran ini dan perubahan-perubahan dinamis lainnya ketika perputaran dan perubahan-perubahan tersebut membentang dalam tubuh-tubuh yang hidup, bernapas, dan berinteraksi. Benar, para ilmuwan perlu memahami bentuk serta fungsi, anatomi serta fisiologi, kata benda serta kata kerja. Namun ketika hal itu berhubungan dengan cinta, maka kata kerja yang mengatur. Cinta terletak pada tindakan, perbuatan, perhubungan. Cinta ini tergali, seperti gelombang yang terbentuk di laut, dan kemudian menghilang, seperti gelombang yang sama, setelah ia bertubrukan. Untuk sepenuhnya menghargai biologi cinta, Anda harus melatih mata Anda untuk melihat pasang-surutnya.

Di sini saya ingin beralih pada satu titik sorot terhadap dua karakter biologis utama dalam drama hidup Anda: suatu hormon, oksitosin, yang beredar di seluruh otak dan tubuh Anda; dan saraf vagus Anda, saraf kranial kesepuluh yang berjalan dari dalam batang otak Anda turun ke hati, paru-paru, dan organ-organ internal lainnya. Bersama dengan otak (yang merupakan lokus bagi perasaan kita menjadi ‘selaras’ dengan orang lain dan subjek bagi penelitian baru yang menarik tentang bagaimana hal itu terjadi), hal itu merupakan tiga karakter sentral dalam biologi cinta.

Ketika Anda berinteraksi dengan satu orang setelah berinteraksi dengan orang yang lainnya di suatu hari, tiga karakter biologis tersebut secara lembut menyenggol Anda untuk ada bagi orang lain dengan lebih dekat dan menjalin hubungan bila memungkinkan. Karakter-karakter biologis ini membentuk motif dan perilaku Anda dengan cara yang halus, dan akhirnya tindakannya berfungsi untuk memperkuat hubungan Anda dan merajut Anda lebih erat dengan tatanan sosial kehidupan.

Oksitosin, sebuah neuropeptida yang bertindak baik dalam otak dan seluruh tubuh, telah lama dikenal untuk memainkan peran kunci dalam ikatan dan kelekatan sosial. Bukti ini pertama kali muncul pada tahun 1994 dari percobaan oleh para peneliti di University of Maryland dengan pembiakan monogami dari tikus padang rumput: oksitosin, bila menetes ke otak satu hewan di hadapan hewan lawan jenisnya, maka menciptakan keinginan jangka panjang untuk tetap bersama-sama satu sama lain, meringkuk berdampingan.

Pada manusia, oksitosin melonjak selama hubungan seksual pada kedua pasangan, dan, bagi wanita, saat melahirkan dan menyusui, saat-saat interpersonal yang sangat penting yang berdiri untuk membentuk ikatan-ikatan sosial yang baru atau merekatkan ikatan-ikatan yang sudah ada. Ledakan alami oksitosin pada saat-saat tersebut begitu besar dan kuat yang selama bertahun-tahun kebersamaan mereka tetapi para ilmuwan yang buta terhadap pasang-surutnya oksitosin selama kegiatan sehari- hari yang lebih khas, misalnya bermain dengan anak-anak Anda, berkenalan dengan tetangga baru Anda, atau mencapai kesepakatan dengan mitra bisnis baru Anda. Kendala teknis juga perlu dibersihkan, karena hal itu sulit, sampai saat ini, guna mengukur secara handal dan non-invasif dan memanipulasi oksitosin selama perilaku alami.

Bukti baru yang dramatis terhadap kekuatan oksitosin untuk membentuk kehidupan sosial Anda pertama kali muncul di Eropa, di mana undang-undang mengizinkan penggunaan bentuk sintetis dari oksitosin, tersedia sebagai semprot hidung, untuk tujuan-tujuan eksperimental. Di antara yang pertama dari studi ini adalah salah satu studi dari tahun 2005 di mana 128 orang dari Zurich memainkan apa yang disebut ‘permainan kepercayaan’ dengan hasil moneter nyata di telepon. Secara acak, orang-orang ini ditugaskan untuk berperan baik sebagai ‘investor’ atau ‘orang kepercayaan (trustee)’, dan masing-masing diberi jumlah dana awal yang setara. Investor bisa memberikan beberapa, semua, atau tidak sama sekali dana yang dialokasikan untuk orang kepercayaan tersebut. Jika mereka benar-benar ‘berinvestasi’ kepada trustee, orang yang bereksperimen tersebut akan memberikan tiga kali lipat investasinya. Trustee kemudian mengembalikannya beberapa, semua, atau tidak sama sekali hasil dari keuntungan sahamnya (tiga kali lipat dana investasi yang dimiliki investor ditambah alokasi asli mereka sendiri) kembali ke investor. Jadi investor diminta untuk mengambil risiko pada trustee, yang bisa jadi menolak untuk membayar uang yang harus dikembalikan. Tapi jika trustee tersebut adil, mereka masing-masingnya bisa menggandakan uang mereka.

Sebelum bermain, peserta menerima baik oksitosin atau plasebo lembam dengan menggunakan semprot hidung. Pengaruh dari ledakan tunggal oksitosin intranasal ini pada hasil pertandingan kepercayaan adalah dramatis: jumlah investor yang mempercayakan seluruh dana mereka kepada orang kepercayaan(trustee)nya itu lebih dari dua kali lipat. Menariknya, penelitian yang berkaitan dengan permainan kepercayaan yang sama ini menunjukkan bahwa tindakan dipercaya untuk mengelola uang dari orang lain meningkatkan level keberadaan alami dari oksitosin, dan bahwa semakin besar kenaikan oksitosin trustee, semakin banyak keuntungan saat itu yang ia korbankan kembali ke investor. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa selama oksitosin yang bersifat sinkron itu melonjak, kepercayaan dan kerjasama dapat dengan cepat menjadi saling menguntungkan.

Bersamaan dengan penelitian asli pada oksitosin dan permainan kepercayaan diterbitkan di Nature pada bulan Juni 2005, variasi terhadapnya telah berlimpah. Kita sekarang tahu, misalnya, bahwa oksitosin tidak begitu saja membuat orang lebih percaya dengan uang, hal ini juga membuat mereka jauh lebih mempercayai lagi—suatu kekalahan 44 persen untuk lebih percaya –dengan informasi rahasia tentang diri mereka sendiri. Tindakan sederhana berbagi rahasia penting dari hidup Anda dengan seseorang yang baru Anda temui meningkatkan tingkat peredaran oksitosin alami, yang pada gilirannya meningkatkan rasa percaya diri Anda sehingga Anda dapat mempercayai orang itu untuk menjaga privasi Anda.

Untungnya oksitosin tidak menyebabkan kepercayaan yang sembarangan: efeknya sangat sensitif terhadap isyarat-isyarat interpersonal yang memberi isyarat kepada Anda bahwa orang lain mungkin memiliki tipe yang meragukan dan dipertanyakan (gambling) ataukah tak bertanggung jawab. Jika semprotan oksitosin itu diangin-anginkan melalui sistem ventilasi di tempat kerja Anda, Anda masih akan mempertahankan kebiasaan cerdas Anda terhadap tanda-tanda halus yang menunjukkan apakah seseorang itu layak untuk mendapatkan kepercayaan Anda atau tidak.

Para peneliti yang telah menggabungkan penggunaan oksitosin semprot hidung (versus plasebo) dengan pencitraan otak juga telah belajar bahwa oksitosin memodulasi aktivitas amigdala Anda, struktur subkortikal jauh di dalam otak Anda yang terkait dengan pengolahan emosi. Secara khusus, di bawah pengaruh ledakan tunggal oksitosin semprot hidung, bagian dari amigdala Anda yang terpasang untuk ancaman diredam, sedangkan bagian-bagian yang terpasang untuk kesempatan-kesempatan sosial yang positif diperkuat. Sebuah tembakan tunggal oksitosin dapat membantu Anda meluncur melalui situasi sosial yang menekan, seperti memberikan pidato dadakan atau mendiskusikan topik yang sarat dengan konflik dengan pasangan Anda. Jika Anda menghadapi kesulitan-kesulitan ini di bawah pengaruh oksitosin, studi menunjukkan, Anda akan memiliki lebih sedikit kortisol, yang disebut sebagai hormon stres, mengalir ke dalam tubuh Anda, dan Anda akan berperilaku lebih positif, baik secara lisan, dengan mengungkapkan perasaan Anda, dan non-verbal, dengan membuat kontak mata lebih banyak dan gerakan-gerakan yang ramah. Penelitian terkait menunjukkan bahwa berperilaku ramah dengan cara ini juga menimbulkan tingkat oksitosin alami Anda, yang pada gilirannya membatasi kenaikan akibat stres pada denyut jantung (heart rate) dan tekanan darah (blood presure), mengurangi perasaan depresi, dan meningkatkan ambang rasa sakit Anda.

Secara umum, oksitosin merupakan faktor kunci dalam respon menenangkan- dan-menghubungkan (calm-and-connest) mamalia, suatu gelombang respon otak dan tubuh yang berbeda yang paling baik dikontraskan dengan respon lawan-atau-lari (fight-or-flight) yang sudah jauh lebih dikenal. Oksitosin muncul baik untuk menenangkan kekhawatiran yang mungkin mengarahkan Anda menjauh dari berinteraksi dengan orang asing dan juga mempertajam kemampuan Anda terhadap hubungan. Daripada menghindari orang-orang baru karena rasa takut dan curiga, oksitosin membantu Anda menangkap isyarat yang memberi sinyal kepada niat baik orang lain dan memandu Anda untuk mendekati mereka dengan niat baik yang Anda miliki. Karena semua orang membutuhkan hubungan sosial, bukan hanya untuk bereproduksi, tetapi untuk bertahan hidup dan berkembang di dunia ini, oksitosin telah dijuluki ‘fasilitator kehidupan yang hebat’.

Oksitosin juga bisa melompati kesenjangan antar orang: aliran oksitosin yang dimiliki orang lain dapat memicu oksitosin yang Anda miliki. Bukti paling jelas bahwa oksitosin naik dan turun selaras antar orang berasal dari penelitian terhadap bayi dan orang tua mereka. Ketika bayi dan orang tua—baik ibu ataupun ayah—berinteraksi, kadang-kadang mereka benar-benar terpikat satu sama lain, dan lain kali tidak. Ketika bayi dan orang tua benar-benar klik, gerakan terkoordinasi dan emosi mereka menunjukkan banyak keterikatan-bersama yang saling menguntungkan dan positif. Gambar orang tua yang menghujani bayi mereka dengan ciuman, menggelitik jari-jemari bayi mereka, tersenyum pada bayi mereka, dan berbicara kepadanya dengan nada tinggi, nada bernyanyi—dalam nada lagu yang menyenangkan yaitu nada lagu yang ilmuwan sebut sebagai motherese. Orang tua yang seperti ini adalah orang tua yang sangat perhatian. Ketika mereka menggelitik dan mengajak berbicara (coo), mereka juga secara erat melacak wajah bayi mereka untuk mendapatkan tanda-tanda bahwa kegembiraan mereka itu saling berbalasan. Sejalan dengan kejenakaan-sayang orang tua mereka, bayi yang memperhatikan mengoceh, berbicara, tersenyum, dan tertawa balik. Positifitas bergema bolak-balik di antara mereka—saat-saat-mikro dari cinta.

Tentu saja, tidak setiap interaksi bayi-orang tua terlihat begitu cerah. Beberapa pasangan menunjukkan sedikit keselarasan dan keterlibatan. Beberapa ibu dan ayah jarang melakukan kontak mata dengan bayi mereka dan memancarkan sedikit positifitas yang berharga, baik secara verbal maupun non-verbal. Dan pada saat-saat langka ketika mereka terlibat ini, getaran yang bergabung dengan mereka adalah jelas lebih negatif. Mereka terhubung melalui keadaan menyulitkan atau ketidakpedulian yang sama, bukannya perasaan saling sayang.

Hal tersebut memutar sinkroni perilaku positif—suatu tingkatan di mana bayi dan orang tua tertawa, tersenyum, dan bercakap-cakap bersama-sama—berjalan bergandengan dengan sinkroni oksitosin. Para peneliti telah mengukur kadar oksitosin dalam air liur ayah, ibu, dan bayi baik sebelum dan setelah direkam pada videotape, interaksi wajah-ke-wajah orangtua-bayi . Untuk pasangan bayi-orang tua yang menunjukkan saling keterlibatan yang positif, tingkat oksitosinnya juga sama. Tanpa keterlibatan yang seperti demikian itu, bagaimanapun, tidak ada sinkroni oksitosin yang muncul.

Resonansi positifitas, kemudian, dapat dilihat sebagai pintu melalui mana kecenderungan biokimia yang selaras dari satu generasi mempengaruhi orang-orang dari generasi berikutnya untuk membentuk ikatan-ikatan abadi dan seringkali sepanjang hayat. Cinta, kita tahu, membangun sumber daya abadi. Oksitosin, studi menunjukkan, membantu untuk merekatkannya.

Orang yang merupakan Anda di hari ini juga dibentuk oleh karakter biologis kedua yang saya ingin Anda penuhi: kranial kesepuluh Anda, atau vagus, saraf. Ini muncul dari batang otak Anda jauh di dalam tengkorak Anda dan membuat perhentian-perhentian majemuk pada berbagai organ internal Anda dan, yang paling penting, menghubungkan otak Anda ke jantung Anda. Anda sudah tahu bahwa denyut jantung Anda akan melonjak naik ketika Anda merasa terhina atau terancam—memasukkan data purba dari tanggapan fight-or-flight—tetapi Anda mungkin tidak tahu bahwa itu merupakan saraf vagus Anda yang akhirnya menenangkan degup jantung Anda, dengan menyelaraskan (bersama-sama dengan oksitosin) tanggapan calm-and-connect purba yang sama.

Saraf vagus Anda adalah aset biologis yang mendukung dan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman hubungan tubuh Anda—terhadap cinta. Di luar kesadaran Anda, saraf vagus merangsang otot-otot kecil di wajah yang memungkinkan Anda untuk membuat kontak mata dan sinkronisasi ekspresi wajah Anda dan orang lain menjadi lebih baik. Bahkan hal ini menyesuaikan otot-otot kecil dari telinga tengah Anda sehingga Anda dapat melacak suara orang lain dengan lebih baik pada latar belakang yang bising.

Para ilmuwan dapat mengukur kekuatan saraf vagus Anda—bakat biologis alami Anda untuk konektivitas—secara sederhana hanya dengan melacak detak jantung Anda dalam hubungannya dengan tingkat pernapasan Anda. Saya bisa mengukur bagaimana detak jantung Anda, seperti yang dilacak oleh sensor yang ditempatkan pada tulang rusuk terbawah Anda, yang dipola oleh laju pernapasan Anda, seperti diungkapkan oleh suatu perluasan bagian bawah yang mengelilingi sangkar tulang rusuk Anda. Pola ini disebut nada vagal (vagal tone). Seperti halnya nada otot, semakin tinggi nada vagal Anda, semakin baik.

Selain menempatkan rem pada lompatan besar dalam detak jantung Anda yang mungkin disebabkan oleh stres, rasa takut, atau ketegangan, saraf vagus Anda juga meningkatkan efisiensi rutin jantung Anda, detak demi detak, atau lebih tepatnya, napas demi napas. Denyut jantung manusia cenderung berjalan cukup tinggi, seolah-olah kita selalu waspada untuk bahaya berikutnya yang mungkin tersembunyi di pojokan.

Ketika Anda menarik napas, denyut jantung yang cepat merupakan denyut jantung yang efisien. Setelah semua, setiap pergantian detak jantung selama penarikan napas- dalam mengedarkan lebih banyak darah segar yang mengandung oksigen ke seluruh otak dan tubuh Anda. Namun ketika Anda menghembuskan napas keluar, detak jantung yang cepat tidak membantu sama sekali karena suplai darah segar yang mengandung oksigen berkurang. Di sini sekali lagi, saraf vagus Anda melangkah masuk untuk membantu keluar. Hal ini dapat sangat lembut menerapkan rem pada jantung Anda saat Anda mengeluarkan napas, memperlambat detak jantung Anda ke bawah tingkatan yang kecil. Pada gilirannya, saraf vagus Anda dapat dengan lembut mereda rem saat Anda menarik napas, membiarkan angka detak jantung alami Anda yang tinggi mencapai semua darah yang mengandung oksigen yang bisa diperoleh. Aritmia jantung halus ini adalah pola yang mencerminkan nada vagal Anda yang merupakan kekuatan atau kondisi saraf vagus Anda. Informasi ini menggambarkan kegesitan yang dengannya otak bawah sadar Anda yang primitif memegang kendali dari  jantung Anda yang berdegup.

Hebatnya, orang dengan nada vagal yang lebih tinggi lebih fleksibel di seluruh domain—secara fisik, mental, dan sosial. Mereka beradaptasi lebih baik dengan keadaan mereka yang terus berubah, meskipun sepenuhnya pada tingkat bawah sadar. Secara fisik, mereka mengatur proses tubuh internal seperti kadar glukosa dan peradangan dengan lebih efisien. Secara mental, mereka mampu mengatur perhatian dan emosi mereka dengan lebih baik, bahkan perilaku mereka, dan mengarahkan hubungan interpersonal. Menurut definisi, kemudian, mereka mengalami lebih banyak saat-saat-mikro cinta. Seolah-olah kelincahan saluran antara otak dan hati mereka—sebagaimana tercermin dalam nada vagal tingginya—yang memungkinkan mereka untuk menjadi lebih lincah, selaras, dan fleksibel ketika mereka mengarahkan naik turunnya kehidupan dan pertukaran sosial sehari- hari. Memang, ini adalah apa yang mahasiswa doktoral Bethany Kok dan saya telah temukan: dibandingkan dengan orang dengan nada vagal rendah, mereka yang memiliki nada vagal lebih tinggi mengalami lebih banyak cinta dalam kehidupan sehari-hari mereka, lebih banyak saat-saat resonansi positif.

Tapi bisakah Anda mengubah nada vagal Anda? Mahasiswa saya dan saya bekerja bersama dalam Lab PEP, Emosi Positif dan Laboratorium Psikofisiologi kami. Belum lama ini, kami melakukan percobaan pada efek pembelajaran praktek pelatihan pikiran kuno tentang meditasi cinta kasih. Peserta studi kami mengunjungi Lab PEP di University of North Carolina satu per satu, dan kami mengukur nada vagal mereka sementara mereka duduk dan santai selama beberapa menit. Pada akhir sesi pengujian laboratorium awal ini, kami menginstruksikan peserta bagaimana untuk log on ke situs jaringan studi setiap malam untuk merekam emosi dan hubungan sosial mereka hari itu. Beberapa minggu kemudian, dengan tugas acak, kami memilih peserta mana yang akan belajar meditasi cinta-kasih dan mana yang tidak. Semuanya akan terus memantau emosi sehari-hari dan hubungan sosial mereka menggunakan situs penelitian kami. Beberapa bulan kemudian, berminggu-minggu setelah lokakarya meditasi tersebut berakhir, satu per satu kami mengundang semua peserta kembali ke Lab PEP, di mana kami sekali lagi mengukur nada vagal mereka di bawah kondisi istirahat yang sama seperti sebelumnya.

Pada bulan Mei 2010, saya mendapat kehormatan untuk mempresentasikan hasil percobaan ini langsung kepada Yang Mulia Dalai Lama. Tim kami telah menemukan bahwa nada vagal—yang umumnya diambil untuk menjadi se-mapan pengalamatan atribut seperti tinggi-badan dewasa Anda—yang sebenarnya secara signifikan meningkat dengan pelatihan pikiran. Berikut adalah alasan berbasis-bukti yang diharapkan: tidak peduli apa yang dialami kapasitas biologis Anda untuk cinta adalah hari ini, Anda dapat meningkatkan kapasitas tersebut di musim depan.

Peserta penelitian yang telah ditugaskan secara acak untuk belajar meditasi cinta-kasih telah mengabdikan hampir lebih dari satu jam dari waktu mereka setiap minggu untuk berlatih. Namun dalam hitungan bulan, saraf vagus mereka mulai merespon lebih cepat terhadap ritme pernapasan mereka, memancarkan lebih dari aritmia sehat yang merupakan sidik jari dari nada vagal tinggi. Napas demi napas—waktu ke waktu—kapasitas yang mereka miliki untuk resonansi positifitas menjadi matang. Selain itu, melalui analisis statistik yang telaten, kami menunjukkan bahwa mereka yang mengalami resonansi positifitas paling sering yang berhubungan dengan orang lain menunjukkan peningkatan terbesar dalam nada vagal. Cinta secara literal benar-benar membuat orang menjadi lebih sehat.

Ilmu baru mengenai cinta yang semakin memperjelas bahwa tubuh Anda bertindak sebagai kata kerja. Benar saja, beberapa aspek dari tubuh Anda tetap relatif konstan hari demi hari, seperti DNA atau warna mata Anda. Tetapi otak Anda secara terus-menerus mendata keadaan-keadaan Anda yang selalu berubah dan, pada gilirannya, mengiringi  pergantian zat-zay biokimiawi yang membentuk kembali tubuh dan otak Anda dari dalam ke luar, pada tingkatan selular. Tubuh Anda mengambil tindakan. Paling menonjol, tubuh Anda menyebarkan semua yang Anda rasakan—saat-saat resonansi positifitas Anda atau kurangnya saat-saat resonansi positifitas itu—kepada setiap bagian dari Anda, mempersiapkan Anda dalam keadaan sehat ataupun  sakit, dan memberi Anda lebih atau kurang untuk dilengkapi dengan hubungan cinta.

Belajar bagaimana cinta bekerja dapat membuat perbedaan yang jelas dalam hidup Anda. Ia dapat membantu Anda memprioritaskan saat-saat berbagi emosi positif bersama dan meningkatkan keyakinan Anda kepada kemanusiaan. Sains tidak perlu pasti meninggalkan Anda memegang papan pelampung datar dengan potongan kupu-kupu yang disematkan padanya. Ilmu pengetahuan juga dapat memuliakan, melukiskan peta jalan yang berwarna-warni dan multidimensi untuk perjalanan hidup yang lebih kuat, yang menghilangkan jalan memutar dari harapan-harapan palsu, nabi-nabi palsu, klaim-klaim palsu, dan membuat grafik suatu wacana ke arah hal yang nyata. Hal ini dapat membuat kupu-kupu tersebut hidup dan utuh dan membebaskannya. (*)

Perilaku pro-sosial

Perilaku pro-sosial adalah tindakan yang dimaksudkan untuk membantu orang lain. Salah satu motivasi munculnya perilaku pro-sosial adalah altruisme, atau keinginan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Dalam kesempatan ini, kita mengeksplorasi perilaku pro-sosial dan unsur-unsur yang telah diidentifikasi oleh para psikolog sosial sebagai prediktornya.

Memprediksi Perilaku Pro-sosial

Dalam kisah The Good Samaritan, seorang pria dirampok, dipukuli dan dibiarkan mati di pinggir jalan ketika sedang berjalan menyusuri jalan pedesaan. Dua orang religius lewat, dan keduanya meninggalkan pria itu mati di pinggir jalan. Kemudian, seorang pria dari kelompok yang membenci kelompok pria yang dipukuli itu lewat, dan dia berhenti untuk membantu.

Apa yang membuat beberapa orang membantu dan beberapa orang lainnya tidak? Mengapa dua pria yang baik lewat tanpa membantu, sementara seorang pria yang seharusnya membenci korban tersebut berhenti untuk membantu? Para psikolog sosial mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Mereka mempelajari, di antaranya, perilaku pro-sosial, atau segala perilaku yang dimaksudkan untuk membantu orang lain.

Ketika motivasi untuk berperilaku pro-sosial adalah untuk membantu orang lain tanpa memikirkan imbalan yang mungkin akan Anda dapatkan, hal itu disebut altruisme. Perhatikan perbedaan dalam dua hal ini: perilaku pro-sosial tindakan pertolongan yang diambil seseorang, sementara altruisme merupakan salah satu kemungkinan motivasi untuk tindakan tersebut. Ada banyak hal yang memprediksi apakah seseorang akan membantu orang lain. Di antara teori-teori yang paling umum adalah seleksi keluarga, norma timbal balik, hipotesis empati-altruisme, dan ciri-ciri kepribadian altruistik.

Seleksi Keluarga

Seleksi keluarga merupakan konsep evolusi yang percaya bahwa orang akan membantu orang lain yang terkait dengan mereka, bahkan dengan risiko untuk diri mereka sendiri. Beberapa penelitian psikologis menunjukkan bahwa orang merasa lebih protektif dan terhubung dengan orang yang terkait dengan mereka – makin dekat hubungan tersebut, makin kuat perasaan itu. Artinya, Anda akan ingin membantu saudara Anda melebihi keinginan Anda untuk membantu sepupu Anda, dengan menganggap semua hal lainnya sama.

Tapi mengapa orang ingin membantu orang-orang yang berhubungan dengan mereka lebih dari orang lain? Menurut teori evolusi, hal ini karena kita ingin gen kita bertahan untuk generasi mendatang. Anda ingin membantu keluarga Anda karena mereka memiliki beberapa gen yang sama dengan Anda, dan karena itu, gen Anda akan diteruskan melalui anak-anak mereka serta melalui anak-anak Anda. Dan, Anda akan memilih orang-orang yang paling erat kaitannya dengan Anda karena mereka berbagi gen Anda lebih banyak.

Norma Timbal Balik

Apakah Anda pernah diberi hadiah oleh seseorang, dan kemudian Anda merasa seperti Anda harus membalasnya? Norma Timbal-balik adalah suatu cara untuk mengatakan bahwa jika Anda memberi saya sesuatu, saya akan memberikan sesuatu kepada Anda sebagai balasannya. Bagaimana hal ini berkaitan dengan perilaku pro-sosial? Jawabannya mudah. Jika saya melihat bahwa Anda butuh bantuan, saya dapat membantu Anda karena saya tahu di kemudian hari bahwa Anda akan mau membantu saya. Saya mungkin mendapatkan sesuatu dari Anda segera, atau Anda mungkin tidak membalas saya untuk waktu yang lama, sampai saya mendatangi Anda dan meminta bantuan. Namun yang manapun itu, norma timbal balik adalah salah satu alasan mengapa orang-orang membantu orang lain.

Empati – Altruisme

Teori lain yang menjelaskan mengapa orang membantu orang lain disebut hipotesis empati-altruisme, yang menyatakan bahwa orang lebih cenderung untuk membantu orang lain jika mereka merasakan empati bagi mereka. Sebagai contoh, jika saya melihat Anda berjuang mengganti ban yang kempes di tengah hujan, saya mungkin membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi itu. Dengan membayangkan apa yang Anda rasakan, saya ingin membantu Anda. Dengan demikian, empati menyebabkan altruisme.

Menurut hipotesis empati-altruisme, kita paling mungkin membantu jika kita merasa sangat berempati dan situasi tersebut sulit untuk dilupakan. Jika, misalnya, saya bisa dengan mudah melupakan bahwa Anda terjebak dalam hujan dengan ban kempes, maka saya lebih cenderung untuk tetap mengemudi. Tapi jika saya merasa sangat berempati dan penderitaan Anda sulit untuk dilupakan, maka saya lebih cenderung untuk berhenti dan membantu.

Kepribadian Altruistik

Ada sebuah teori akhir mengenai hal yang memprediksi apakah orang akan membantu orang lain atau tidak, dan itu adalah ide bahwa ada tipe kepribadian tertentu yang paling mungkin untuk menghasilkan perilaku yang terdorong oleh sifat altruisme. Tipe kepribadian altruistik ini sering diukur dengan meminta orang-orang untuk mengisi kuisioner yang menanyakan tentang seberapa sering mereka telah membantu orang lain. Hasil kuisioner tersebut dimaksudkan untuk menentukan berapa besar kepribadian altruistik yang mereka miliki, dan karena itu, seberapa besar kemungkinan mereka untuk terlibat dalam perilaku pro-sosial.

Ada beberapa kritik terhadap skala kepribadian altruistik, meskipun demikian. Ini melibatkan orang-orang untuk menjawab pertanyaan tentang perilaku mereka, dan siapa yang mengatakan bahwa orang-orang selalu mengatakan yang sebenarnya? Saya mungkin berbohong saat mengisi kuesioner tersebut untuk membuat diri saya terlihat lebih baik, dan karena itu, saya mungkin menghasilkan skor yang lebih tinggi daripada yang benar-benar layak untuk saya dapatkan. Tapi secara umum, diyakini bahwa altruisme adalah sifat kepribadian, terlepas dari apakah itu dapat diukur secara akurat atau tidak.

Ringkasan

Perilaku pro-sosial adalah tindakan yang dimaksudkan untuk membantu orang lain. Salah satu motivasi perilaku pro-sosial adalah altruisme, atau keinginan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Psikolog memiliki beberapa teori untuk memprediksi perilaku pro-sosial: Teori evolusi seleksi keluarga; gagasan bahwa jika saya membantu Anda, Anda akan membantu saya, yang disebut norma timbal balik; hipotesis empati-altruisme, yang menyatakan bahwa orang lebih cenderung untuk membantu jika mereka merasakan empati; dan gagasan bahwa beberapa orang memiliki tipe kepribadian altruistik.

 

Efek penonton (bystander effect)

Efek penonton (bystander effect) atau sindrom Genovese adalah fenomena psikologi sosial yang terjadi ketika orang tidak membantu dalam keadaan darurat jika ada saksi lain yang hadir karena mereka percaya bahwa orang lain akan membantu.

Sejarah

Pada Oktober 2011, seorang gadis yang berumur dua tahun di China ditabrak oleh sebuah mobil van kecil saat dia berjalan di jalan raya. Sementara dia terbaring dan terluka di jalan, sebanyak 18 orang berjalan melaluinya. Beberapa dari mereka bahkan berjalan di sekitar darahnya. Sebuah truk besar datang dan menabraknya. Akhirnya, seorang pria menolongnya dan menelepon layanan gawat darurat. Dia dibawa ke rumah sakit, di mana ia bertahan selama delapan hari sebelum meninggal.

Mengapa orang hanya berjalan melewatinya dan tidak membantunya? Apa yang membuat orang mengabaikan orang lain yang membutuhkan bantuan? Satu penjelasan yang masuk akal adalah efek bystander.

Efek bystander ini juga kadang-kadang disebut sindrom Genovese dari nama Kitty Genovese, yang pembunuhannya pada 1964 di Queens, New York memicu psikolog sosial untuk mempelajari efek penonton ini.

Kitty Genovese yang berusia 28 tahun pulang dari bekerja di sebuah bar sekitar pukul 3 pagi. Dia memarkir mobilnya sekitar 100 meter dari gedung apartemennya dan mulai berjalan menuju pintu masuk. Winston Moseley mendekatinya, dan ketika Ia berlari menjauhinya menuju pintu depan gedung, Moseley mengejarnya dan menikamnya dua kali dari belakang.

Genovese menjerit dan berteriak minta tolong, dan Moseley melarikan diri. Beberapa tetangganya di apartemen mereka mendengar teriakan tersebut, tapi tidak semua dari mereka tahu bahwa itu adalah teriakan minta tolong, dan laporan bervariasi terhadap berapa banyak, jika ada, orang-orang yang menelepon polisi.

Genovese bangkit dan terhuyung-huyung menuju pintu belakang gedung apartemennya, tapi pintu yang terkunci mencegahnya masuk. Dia ambruk di dekat pintu. Moseley kembali dan menemukannya sekitar 10 menit setelah Ia menikamnya pertama kali. Ketika Ia menemukannya untuk kedua kalinya, Ia menikamnya beberapa kali, memperkosanya, dan membiarkannya hingga mati.

Seorang saksi yang mendengar jeritannya selama serangan kedua akhirnya menelepon polisi, yang tiba terlambat. Kitty Genovese sudah mati.

Setelah pembunuhan itu, New York Times memuat berita dengan judul: “Seseorang yang berumur 38 Tahun Melihat Pembunuhan Tidak Menghubungi Polisi”. Ini tidaklah akurat; penyelidikan kemudian menemukan beberapa saksi, dan kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa teriakan yang mereka dengar adalah untuk meminta bantuan, dan tidak satupun dari mereka benar-benar melihat seluruh serangan. Mungkin selusin orang mendengar teriakan Genovese, tapi banyak dari mereka yang berpikir itu adalah kegaduhan pemabuk yang pulang dari bar.

Memprediksi Bantuan dalam Sebuah Keadaan Darurat

Di samping ketidak-akuratan dalam cerita asli Kitty Genovese, kasusnya dan artikel tentangnya mendorong psikolog untuk mempelajari mengapa orang tidak membantu dalam keadaan darurat ketika ada orang lain di sekitar. Salah satu studi pertama tentang efek bystander dilakukan oleh Bibb Latane dan John Darley beberapa tahun setelah Genovese dibunuh.

Latane dan Darley menemukan bahwa semakin banyak penonton berada dalam suatu situasi, kecil kemungkinannya bagi siapa pun untuk menawarkan bantuan atau menghubungi layanan gawat darurat. Ini mungkin karena mereka percaya bahwa orang lain akan membantu. Hal ini disebut difusi tanggung jawab.

Latane dan Darley menemukan bahwa ada lima langkah yang orang ambil untuk memutuskan untuk membantu dalam keadaan darurat atau tidak. Langkah-langkah tersebut adalah :

  1. Mengamati sebuah peristiwa. Jika seseorang tidak menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka tidak dapat membantu. Sebagai contoh, banyak orang tidak mendengar Kitty Genovese berteriak sama sekali. Mereka tidak tahu bahwa sesuatu sedang terjadi.
  2. Menafsirkannya sebagai keadaan darurat. Ingat bahwa banyak orang berpikir teriakan minta tolong Genovese sebenarnya hanyalah pemabuk gaduh yang pulang dari bar. Orang tidak hanya harus melihat suatu peristiwa, tetapi juga memahami bahwa itu adalah keadaan darurat.
  3. Memikul tanggung jawab. Jika banyak orang lain di sekitar kita, orang lebih cenderung untuk percaya bahwa orang lain memiliki atau akan mengambil tanggung jawab. Jika mereka percaya orang lain telah atau akan membantu, orang lebih cenderung untuk tidak membantu. Difusi tanggung jawab lebih sering terjadi seiring kelompok saksi yang semakin
  4. Mengetahui cara untuk membantu. Bahkan jika orang melihat suatu peristiwa, menafsirkannya sebagai keadaan darurat, dan bertanggung jawab, jika mereka tidak tahu bantuan seperti apa yang harus diberikan, mereka tidak bisa membantu.
  5. Memutuskan untuk melakukan pertolongan. Bayangkan bahwa Anda menyadari seseorang di dekat Anda di sebuah restoran membutuhkan manuver Heimlich, dan Anda tahu bagaimana melakukannya. Tetapi bagaimana jika Anda baru saja membaca sebuah artikel tentang seseorang yang menggugat orang lain karena menyakitinya selama pemberian manuver Heimlich? Apakah Anda masih mau membantu? Bahkan jika orang tahu bagaimana untuk membantu, mereka mungkin memutuskan untuk tidak melakukannya karena resikonya terlalu tinggi untuk mereka atau karena mereka merasa tidak kompeten.

Ringkasan

Efek bystander adalah istilah psikologi sosial ketika orang tidak membantu dalam situasi darurat jika ada saksi lain yang hadir. Psikolog tergerak untuk mempelajari efek bystander ini setelah pembunuhan Kitty Genovese pada tahun 1964, yang ditikam sampai mati di luar gedung apartemennya sementara saksi mendengar teriakan dan gagal untuk merespon. Penelitian telah menunjukkan bahwa ada lima langkah yang diambil seseorang untuk memutuskan untuk membantu atau tidak: melihat sebuah peristiwa, menafsirkan peristiwa tersebut sebagai keadaan darurat, memikul tanggung jawab, tahu bagaimana untuk memberikan pertolongan dan memutuskan untuk memberikan bantuan.