Pembangunan Berbasis Masyarakat (Community Based Development)

Asumsi tentang Masyarakat (Community): Berangkat dari pandangan bahwa masyarakat terbelakang, pengetahuannya rendah, tradisional dan bodoh. Untuk memajukan mereka diperlukan pengetahuan dari luar.

Baru: Masyarakat dibangun bukan karena mereka bodoh dan tidak mampu, akan tetapi kemampuan yang tersedia dioptimalkan agar mereka berkembang sesuai dengan pengetahuan mereka. Pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna sebagai basisi pengembangan mereka.

Konsekuensi Perencanaan: Perencanaan bersifat top down dan sentralitas Direncanakan oleh tenahga ahli atau akademisi tanpa mempertinmbangkan apa yang dimiliki masyarakat. Lebih mengutamakan perencanaan untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemajuan masyarakat diukur menurut kemajuan ekonomi semata.

Baru: Lebih menekankan pada aspek lokalitas Perencanaan dilakukan secara otonomi, berdasarkan potensi lokalitas dengan menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan. Pemikiran otonomi lebih ditekankan dalam perencanaan kegiatan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Konsekuensi Perlakuan terhadap Masyarakat: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pihak yang dilayani masyarakat karena mereka dianggap telah berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat.

Baru: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pengatur kepentingan masyarakat dan sebagai aktor yang melakukan fungsi pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.

Implikasi bagi Kehidupan Sosial: Menjadikan masyarakat sangat bergantung kepada pemerintah. Memendam konflik semu yang setiap saat bisa menjadi ledakan konflik kepentingan.

Baru: Sejak awal mengakomodasi daya kritis masyarakat. Masyarakat mampu menolak jika terjadi tekanan atau eksploitasi dari luar yang tidak menguntungkan mereka.

Konsep “KOMUNITAS” dalam perspektif SOSIOLOGI:

George Hillery Jr (1955) (94 definitions):

  • A group
  • A process
  • A social system
  • A geographic place
  • A consciousness of kind
  • A totality of attitude
  • A common lifestyle
  • The possession of common ends
  • Local self sufficiency

Empat komponen utama “komunitas”:

  • People
  • Place or territory
  • Social interaction
  • Psychological identification

A community (Christenson & Robinson Jr, 1989): people live within a geographically bounded are who are involved in social interaction and have one or more psychological ties with each other an with the place in which they live.

Komunitas: warga setempat (community) yang dapat dibedakan dari masyarakat lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian bersama yang mempunyai kebutuhan bersama.

Komunitas adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu berdasarkan lokalitas, perasaan sewarga, dan solidaritas.

Community (R.E. Park, 1952)“A community is not only a collection of people, but it is a collection of institutions. Not people, but institutions, are final and decisive in distinguishing the community from other social constellations”

Ciri-ciri komunitas:

The essential characteristics of a community (Park, 1936):

  1. A population territorially organized
  2. More or less completely rooted in the soil it occupies
  3. Its individual units living in a relationship of mutual interdependence.

Suatu komunitas pasti mempunyai lokalitas atau tempat tinggal (wilayah) tertentu. Komunitas yang mempunyai tempat tinggal tetap dan permanen, biasanya mempunyai ikatan solidaritas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya.

Secara garis besar, komunitas berfungsi sebagai ukuran untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan-hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu

Tipe-tipe komunitas:

Berdasarkan ciri-ciri masyarakat agraris terdapat tipologi komunitas agraris, yang secara garis besar dapat dibedakan atas:

  • Komunitas nelayan (pantai dan pesisir);
  • Komunitas petani sawah (dataran rendah); dan
  • Komunitas petani peladang atau lahan kering (dataran tinggi).

Community:

  • Local Society
  • Struktur dan Kultur
  • Local Ecology
  • Pola adaptasi ekologi
  • Collective action: Aksi bersama (kelembagaan)

Community Development (Pengembangan Masyarakat)

Community development (CD) menggambarkan makna yang penting dari dua konsep: community, bermakna kualitas hubungan sosial; dan development, perubahan ke arah kemajuan yang terencana dan bersifat gradual.

Community development is a movement designed to promote better living for the whole community with the active participation and on the initiative of the community.”

CD mengembangkan atau menaikkan kualitas hidup suatu masyarakat. CD merupakan proses swadaya masyarakat digabungkan dengan usaha-usaha pemerintah setempat guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan kultural, serta untuk mengintegrasikan masyarakat”

Pengembangan komunitas: Suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, dimana semua usaha swadaya masyarakat disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholders lainnya untuk meningkatkan taraf hidup, dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif. (pss-tile) (advor-kjj-kiie)

  1. Advokasi: Upaya untuk mengubah atau mempengaruhi perilaku penentu kebijaksanaan agar berpihak pada kepentingan publik melalui penyampaian pesan-pesan yang didasarkan pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, legal, dan moral. Melalui kegiatan advokasi dilakukan identifikasi dan pelibatan semua sektor di berbagai level untuk mendukung program.
  2. Pengorganisasian komunitas: Agar masyarakat punya arena untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan atas masalah di sekitarnya. Bila terorganisir, masyarakat juga akan mampu menemukan sumberdaya yang dapat mereka manfaatkan. Biasanya, dalam pengembangan masyarakat, dibentuk kelompok kelompok sebagai wadah refleksi dan aksi bersama anggota komunitas. Pengorganisasian ini bisa dibentuk berjenjang: di tingkat komunitas, antar komunitas di Tingkat desa, antar desa di tingkat kecamatan dan seterusnya sampai ke tingkat nasional bahkan regional.
  3. Pengembangan jaringan: Menjalin kerjasama dengan pihak lain (individu, kelompok, dan atau organisasi) agar bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan. Jaringan dan saling percaya (trust) merupakan salah satu unsur penting dari kapital sosial, sehingga menjadi komponen penting dalam pengembangan masyarakat. Pada komuntas yang mempunyai jaringan yang baik, sumber daya yang ada pada seluruh kompenen komunitas dan komponen lain yang terbangun alam jaringan akan dapat dimanfaatkan bersama-sama.
  4. Pengembangan kapasitas : Meningkatkan kemampuan masyarakat di segala bidang (termasuk untuk advokasi, mengorganisir diri sendiri, dan mengembangkan jaringan). Sumpeno (tt) mengartikan pengembangan kapasitas sebagai peningkatan atau perubahan perilaku individu, organisasi, dan sistem masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Peningkatan kemampuan individu mencakup perubahan dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan; peningkatan kemampuan kelembagaan meliputi perbaikan organisasi dan manajemen, keuangan, dan budaya organisasi; peningkatan kemampuan masyarakat mencakup kemandirian, keswadayaan, dan kemampuan mengantisipasi perubahan.
  5. Komunikasi, Informasi, Edukasi: Proses pengelolaan dan penyebaran informasi, dan pendidikan masyarakat untuk mendukung keempat komponen di atas. Pengelolaan informasi juga menyangkut mencari dan mendokumentasikan informasi agar informasi selalu tersedia bagi masyarakat yang memerlukannya. Kegiatan edukasi perlu dilakukan agar kemampuan masyarakat dalam segala hal meningkat, sehingga masyarakat mampu mengatasi masalahnya sendiri setiap saat. Untuk mendukung proses komunikasi, berbagai media komunikasi (modern – tradisional; massa –individu – kelompok) perlu dimanfaatkan dengan kreatif.
  6. Pembangunan ekonomi

Pendekatan #1: Pendekatan pertumbuhan: strategi industrialisasi dengan kebijakan substitusi impor” “tetesan rejeki ke bawah” (trickle down effect).

Pendekatan #2: Pertumbuhan dan Pemerataan: kemiskinan adalah fenomena yang kompleks yang berhulu dari kesenjangan antar kelas, daerah, dan golongan.

Pendekatan #3: Paradigma Ketergantungan: ketergantungan merupakan penyebab keterbelakangan, agar maju perlu pembebasan masyarakat.

Pendekatan #4: Tata Ekonomi Internasional Baru: tata ekonomi yang berlandaskan pada kebutuhan negara Selatan untuk mengelola SDA-nya sendiri.

Pendekatan #5: Kebutuhan Pokok: kebutuhan pokok tidak terpenuhi jika masih dibawah garis kemiskinan dan tidak ada pekerjaan yang layak.

Pendekatan #6: Kemandirian: bebaskan dari ketergantungan kepada negara industri.

          Sentralisasi

          Mobilisasi

          Penaklukan

          Eksploitasi

          Hubungan Fungsional

          Nasional

          Ekonomi Konvensional

Unsustainable

          Desentralisasi

          Partisipasi

          Pemberdayaan

          Pelestarian

          Jejaring Sosial

          Teritorial

          Keswadayaan Lokal

          Sustainable

Komunitas dan Kelompok-Kelompok Sosial

Manusia tidak dapat hidup dengan baik tanpa bantuan orang lain. Sejak dilahirkan, manusia mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu: keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (masyarakat) dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Dalam menjalankan aktivitasnya, manusia behubungan dengan manusia lainnya dalam suatu kelompok. Kelompok tersebut dinamakan kelompok social. Kelompok social merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Dalam kelompok social, hubungan yang terjadi saling  mempengaruhi dan juga ada suatu kesadaran untuk saling tolong-menolong.

Kelompok social mempunyai persyaratan tertentu yaitu:

  • Adanya kesadaran dari setiap anggota kelompok bahwa dia merupakan bagian dari kelompok,
  • adanya hubungan timbal balik antara anggota satu dengan lainnya,
  • adanya suatu factor bersama yang menjadikan hubungan mereka bertambah erat (misalnya: nasib, tujuan, idiologi yang sama), berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku, bersistem dan berproses.

Manusia hidup dalam kelompok social terkecil yang dinamakan keluarga. Selain itu manusia juga beraktifitas keluar dan berhubungan dengan kelompok-kelompok social lainnya. Pengalaman manusia yang berhubungan dengan kelompok-kelompok social lain dan kemudian dibagikan kepada keluarganya dinamakan Social Experiences. Hal ini selain berguna bagi keluarga juga secara tidak langsung menambah pengetahuan dan mempunyai pengaruh yang besar dalam pengembangan kepribadian. Beberapa pembedaan kelompok social antara lain:

  1. In-group dan out-group. In-group adalah kelompok social di mana individu mengidentifikasikan dirinya. Hal itu menyebabkan seseorang yang merasa dalam kelompok in-group mempunyai perasaan dekat dan umumnya didasarkan factor simpati dan menganggap sebagai “kita” dan kelompok lain sebagai “mereka”. Perasaan in-group dan out-group didasarkan pada suatu sikap yang dinamakan etnosentris, yaitu adanya anggapan bahwa kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbaik dibandingkan kelompok yang lain. Out-group adalah kelompok social yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-group
  2. Kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group). Charles Horton Cooley menyebutkan bahwa kelompok primer adalah kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal-mengenal (face to face group) antara anggota-anggotanya serta kerjasama erat yag bersifat pribadi. Agar masing-masing anggota kelompok primer saling mengenal secara dekat maka kelompok tersebut harus memenuhi syarat: anggota secara fisik saling berdekatan, kelompok tersebut kecil dan adanya suatu kelanggengan hubungan antar anggota kelompok. Salah satu sifat dari kelompok primer adalah adanya kesamaan tujuan, dan dalam banyak kasus, tujuan kelompok tersebut adalah hubungan yang erat diantara anggota kelompok itu sendiri. Kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, yang sifat hubungannya tidak didasarkan pada pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng.
  3. Paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (gesellschaft). Ferdinand Tonnies menjelaskan bahwa paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Contoh: keluarga, kelompok kerabat dan rukun tetangga. Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, merupakan bentuk pikiran belaka. Contoh: perjanjian bisnis.
  4. Formal group dan informal group. Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesama. Contoh: organisasi, yang biasanya ditegakkan pada landasan mekanisme administrative yang disebut birokrasi. Informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti. Kelompok ini terbentuk karena pertemuan yang berulang kali yang didasari oleh kepentingan dan pengalaman yang sama. Contoh: klik (clique).
  5. Membership group dan reference group. Robert K. Merton menyebutkan bahwa membership group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Walaupun batas-batas keanggotaan tersebut secara fisik tidak dapat dilakukan secara mutlak karena perubahan-perubahan keadaan. Reference group yaitu kelompok social yang menjadi acuan bagi seseorang (yang bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
  6. Kelompok okupasional dan volunter. Kelompok okupasional adalah kelompok yang muncul karena semakin memudarnya fungsi kekerabatan di mana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki pekerjaan yang sejenis. Mereka dari pendidikan yang sama, spesialisasi bidang pekerjaan yang sama akhirnya berusaha mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki sehingga mampu bermanfaat bagi masyarakat banyak dan membuat aturan aturan bagi mereka yang dikenal sebagai kode etik profesi. Contoh: kelompok profesi. Kelompok volunter yaitu kelompok yang mempunyai kepentingan yang sama namun tidak mendapat perhatian masyarakat, sehinga melalui kelompok ini diharapkan dapat memenuhi kepentingan anggotanya secara individu tanpa mengganggu kepentingan masyarakat, contoh: kelompok rekreasi.
  7. Komunitas (masyarakat setempat). Komunitas adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah(geografis) dengan batas-batas tertentu, dimana factor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggotanya, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk diluar batas wilayahnya. Hubungan yang erat dan ikatan solidaritas yang kuat antar anggota masyarakat serta ikatan dengan tanah dimana mereka tinggal, karena menganggap tanah tersebut memberikan kehidupan bagi mereka merupakan ciri komunitas yang dinamakan Community Sentiment (perasaan komunitas). Perasaan komunitas meliputi unsure: seperasaan (identifikasi, solider, kepentingan sama, selaras dengan kepentingan kelompok), sepenanggungan (sadar akan peran dalam kelompok dan kedududukan yang pasti dalan kelompok) dan saling memerlukan (perasaan tergantung dari anggota kepada komunitas untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis).

Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar

Macam-Macam Komunitas

Komunitas (masyarakat setempat).

Komunitas adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (geografis) dengan batas-batas tertentu, dimana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggotanya, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk di luar batas wilayahnya.

Hubungan yang erat dan ikatan solidaritas yang kuat antar anggota masyarakat serta ikatan dengan tanah dimana mereka tinggal, karena menganggap tanah tersebut memberikan kehidupan bagi mereka merupakan ciri komunitas yang dinamakan Community Sentiment (perasaan komunitas).

Perasaan komunitas meliputi unsur: seperasaan (identifikasi, solider, kepentingan sama, selaras dengan kepentingan kelompok), sepenanggungan (sadar akan peran dalam kelompok dan kedududukan yang pasti dalan kelompok) dan saling memerlukan (perasaan tergantung dari anggota kepada komunitas untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis).

Komunitas Geografis dan komunitas Fungsional

Satu pertanyaan penting yang berhubungan dengan setiap definisi komunitas adalah apakah komunitas harus berbasis geografis dan didefinisikan dalam pengertian-pengertian dari lokalitas tertentu? Terdapat pembedaan yang penting yang membedakan kedua komunitas tersebut yaitu komunitas geografis didasarkan pada lokalitas dan komunitas fungsional didasarkan pada unsur lain yang dimiliki bersama yang memberikan suatu perasaan identitas. Kedua komunitas tersebut ada dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai peran dan manfaat bagi masyarakat.

Problematika Komunitas Geografis dan Komunitas Fungsional

Dengan kemudahan mobilitas perorangan (mobil, transportasi public) dan teknologi komunikasi (internet, telekonferensi) saat ini telah membuat komunitas fungsional lebih dimungkinkan dibandingkan pada masa lalu, dan banyak orang telah menggantikan komunitas geografis sebagai pengalaman penting dari identitas komunitas. Contoh-contoh komuntas fungsional yang mungkin tidak berbasis lokalitas antara lain: komunitas etnis tertentu di suatu daerah, komunitas akademik, komunitas hukum, komunitas dengan ciri khusus misalnya penyandang cacat.

Berdasarkan perspektif ekologis, dapat dikemukakan bahwa komunitas seharusnya selalu berbasis lokalitas, karena pentingnya keseluruhan ekosistem dan kebutuhan bagi komunitas manusia untuk terintegrasi dengan lingkungan fisik dan lahan.

Argumen lain yang menentang komunitas fungsional adalah bahwa ia cenderung mengkotak-kotakkan populasi manusia ketimbang memadukannya. Sebuah tujuan dari pengembangan masyarakat dan dari layanan berbasis masyarakat adalah untuk mengintegrasikan manusia dalam lingkup suatu konteks komunitas sehiingga mereka dapat berinteraksi dengan sesamanya, saling memelihara dan semua berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Hal ini lebih sulit dicapai jika sebagian kelompok (misalnya mereka yang memiliki latar belakang etnis tertentu, dengan kecacatan atau dengan suatu profesi tertentu atau pekerjaan tertentu) memiliki kesetiaan utama lebih kepada suatu komunitas fungsional ketimbang komunitas geografis, membuat mereka kurang condong untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan berbasis lokal.

Dari perspektif keadilan social dan HAM, akan terdapat sebagian orang yang tidak memungkinkan untuk masuk dalam komunitas fungsional dan menjadi kelompok yang paling dirugikan karena: tidak mempunyai akses transportasi yang mudah, tempat penitipan anak yang terjangkau, tidak mempunyai komunitas funsional untuk dimasukinya. Bahkan ada anggapan bahwa kemunculan komunitas-komunitas fungsional yang berbasis pada pekerjaan atau kegiatan kegiatan waktu luang telah mencegah sebagian orang (terutama laki-laki) untuk menyediakan banyak waktu dalam kegiatan masyarakat local, dengan meninggalkan sebagian yang lain (khususnya perempuan, lanjut usia, penyandang cacat) menanggung beban kehidupan dalam keadaan lokal yang termiskinkan dan kehilangan semangat hidup. Apabila komunitas tersebut dibiayai oleh berbagai masyarakat local maka hal tersebut tidak adil sehingga komunitas geografis yang harus dikembangkan.

Namun demikian terdapat argumentasi bahwa terdapat pengalaman-pengalaman positif yang didapatkan sebagian orang dalam komunitas fungsional dan potensi mereka untuk pemberdayaan. Dengan keadaan struktur komunitas geografis yang lemah, terutama di perkotaan, penting untuk mengakui dan memelihara beberapa komunitas fungsional, paling tidak sampai suatu struktur komunitas geografis yang lebih mampu hidup dan dibentuk. Hal ini terutama penting di mana komunitas fungsional mewakili kelompok-kelompok yang dirugikan atau tertindas, misalnya penduduk pribumi, kelompok penyandang cacat, kelompok imigran yang baru tiba si suatu negara, karena dalam kasus kasus ini, komunitas fungsional dapat merupakan suatu aspek penting dari suatu proses pemberdayaan.

Saat ini berkembang fenomena “komunitas maya” yang mengacu pada interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi komunikasi berbasis computer seperti email dan internet. Ini dianggap sebagai puncak dari komunitas fungsional dimana yang dihapuskan bukan hanya ikatan-ikatan lokalitas tetapi juga ikatan ikatan interaksi antar pribadi kecuali melalui layar computer. Bentuk-bentuk komunikasi tersebut dapat sangat bermanfaat untuk membentuk kaitan-kaitan antar komunitas, dan dapat memberikan kesempatan bagi para aktivis dan mereka yang peduli dengan pengembangan masyarakat untuk berjejaring dan membentuk gerakan-gerakan global untuk perubahan.

Catatan Penting:

Menghilangkan tatap muka antarpribadi dari konsep komunitas adalah proses depersonalisasi masyarakat, ia juga menghilangkan gagasan komunitas perasaan (kesadaran) akan tempat atau hubungan dengan lahan dan lingkungan fisik, dan ini dapat menyebabkan berkurangnya kesadaran akan lingkungan dan menyebabkan berkurangnya komitmen pada upaya-upaya menuju lingkungan yang lebih berkelanjutan, dengan konsekuensi-konsekuensi yang berpotensi menimbulkan bencana.

Sumber: Community Development, Jim Ife dan Frank Tesoriero

Komunitas dan Kelompok-Kelompok Sosial

Manusia tidak dapat hidup dengan baik tanpa bantuan dari orang lain. Sejak dilahirkan, manusia mempunyai dua hasrat atau keinginan pokok yaitu: keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya (masyarakat) dan keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Dalam menjalankan aktifitasnya, manusia behubungan dengan manusia lainnya dalam suatu kelompok. Kelompok tersebut dimnamakan kelompok social dimana kelompok social merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama. Dalam kelompok social, hubungan yang terjadi saling pengaruh mempengaruhi dan juga ada suatu kesadaran untuk saling tolong menolong.

Kelompok social mempunyai persyaratan tertentu yaitu: Adanya kesadaran dari setiap anggota kelompok, bahwa dia merupakan bagian dari kelompok, adanya hubungan timbal balik antara anggota satu dengan lainnya, adanya suatu factor bersama yang menjadikan hubungan mereka bertambah erat misalnya:(nasib, tujuan, idiologi yang sama), berstruktur berkaidah dan mempunyai pola perilaku, bersistem dan berproses.

Manusia hidup dalam kelompok social terkecil yang dinamakan keluarga. Selain itu manusia juga beraktifitas keluar dan berhubungan dengan kelompok-kelompok social lainnya. Pengalaman manusia yang berhubungan dengan kelompok-kelompok social lain dan kemudian dibagikan kepada keluarganya dinamakan Social Experiences. Hal ini selain berguna bagi keluarga juga secara tidak langsung menambah pengetahuan dan mempunyai pengaruh yang besar dalam pengembangan kepribadian. Beberapa pembedaan kelompok social antara lain:

  1. In-group dan out-group. In-group adalah kelompok social di mana individu mengidentifikasikan dirinya. Hal itu menyebabkan seseorang yang merasa dalam kelompok in-group mempunyai perasaan dekat dan umumnya didasarkan factor simpati dan menganggap sebagai “kita” dan kelompok lain sebagai “mereka”. Perasaan in-group dan out-group didasarkan pada suatu sikap yang dinamakan etnosentris, yaitu adanya anggapan bahwa kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbaik dibandingkan kelompok yang lain. Out-group adalah kelompok social yang oleh individu diartikan sebagai lawan in-group
  2. Kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group). Charles Horton Cooley menyebutkan bahwa kelompok primer adalah kelompok yang ditandai ciri-ciri kenal-mengenal (face to face group) antara anggota-anggotanya serta kerjasama erat yag bersifat pribadi. Agar masing-masing anggota kelompok primer saling mengenal secara dekat maka kelompok tersebut harus memenuhi syarat: anggota secara fisik saling berdekatan, kelompok tersebut kecil dan adanya suatu kelanggengan hubungan antar anggota kelompok. Salah satu sifat dari kelompok primer adalah adanya kesamaan tujuan, dan dalam banyak kasus, tujuan kelompok tersebut adalah hubungan yang erat diantara anggota kelompok itu sendiri. Kelompok sekunder adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, yang sifat hubungannya tidak didasarkan pada pengenalan secara pribadi dan juga tidak langgeng.
  3. Paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (gesellschaft). Ferdinand Tonnies menjelaskan bahwa paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Contoh: keluarga, kelompok kerabat dan rukun tetangga. Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, merupakan bentuk pikiran belaka. Contoh: perjanjian bisnis.
  4. Formal group dan informal group. Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesama. Contoh: organisasi, yang biasanya ditegakkan pada landasan mekanisme administrative yang disebut birokrasi. Informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti. Kelompok ini terbentuk karena pertemuan yang berulang kali yang didasari oleh kepentingan dan pengalaman yang sama. Contoh: klik (clique).
  5. Membership group dan reference group. Robert K. Merton menyebutkan bahwa membership group merupakan kelompok dimana setiap orang secara fisik menjadi anggota kelompok tersebut. Walaupun batas-batas keanggotaan tersebut secara fisik tidak dapat dilakukan secara mutlak karena perubahan-perubahan keadaan. Reference group yaitu kelompok social yang menjadi acuan bagi seseorang (yang bukan anggota kelompok tersebut) untuk membentuk pribadi dan perilakunya.
  6. Kelompok okupasional dan volunter. Kelompok okupasional adalah kelompok yang muncul karena semakin memudarnya fungsi kekerabatan di mana kelompok ini timbul karena anggotanya memiliki pekerjaan yang sejenis. Mereka dari pendidikan yang sama, spesialisasi bidang pekerjaan yang sama akhirnya berusaha mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki sehingga mampu bermanfaat bagi masyarakat banyak dan membuat aturan aturan bagi mereka yang dikenal sebagai kode etik profesi. Contoh: kelompok profesi. Kelompok volunter yaitu kelompok yang mempunyai kepentingan yang sama namun tidak mendapat perhatian masyarakat, sehinga melalui kelompok ini diharapkan dapat memenuhi kepentingan anggotanya secara individu tanpa mengganggu kepentingan masyarakat, contoh: kelompok rekreasi.
  7. Komunitas (masyarakat setempat). Komunitas adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah(geografis) dengan batas-batas tertentu, dimana factor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggotanya, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk diluar batas wilayahnya. Hubungan yang erat dan ikatan solidaritas yang kuat antar anggota masyarakat serta ikatan dengan tanah dimana mereka tinggal, karena menganggap tanah tersebut memberikan kehidupan bagi mereka merupakan ciri komunitas yang dinamakan Community Sentiment (perasaan komunitas).

Perasaan komunitas meliputi unsur: seperasaan (identifikasi, solider, kepentingan sama, selaras dengan kepentingan kelompok), sepenanggungan (sadar akan peran dalam kelompok dan kedududukan yang pasti dalan kelompok) dan saling memerlukan (perasaan tergantung dari anggota kepada komunitas untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis).

Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar

Komunitas dan Pengembangan Masyarakat

 

Konsep “komunitas” dalam perspektif sosiologi:

George Hillery Jr (1955) Komunitas mencakup: A group, A process, A social system, A geographic place, A consciousness of kind, A totality of attitude, A common lifestyle, The possession of common ends, Local self sufficiency.

A community (Christenson & Robinson Jr, 1989): “people the live within a geographically bounded are who are involved in social interaction and have one or more psychological ties with each other an with the place in which they live”

Empat komponen utama “komunitas”: People, Place or territory, Social interaction,Psychological identification.

“Komunitas” :   “warga setempat (community) yang dapat dibedakan dari masyarakat lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian bersama yang mempunyai kebutuhan bersama”

Komunitas adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu berdasarkan lokalitas, perasaan sewarga, dan solidaritas.

 

Ciri-ciri komunitas:

The essential characteristics of a community (Park, 1936):

  1. A population territorially organized
  2. More or less completely rooted in the soil it occupies
  3. Its individual units living in a relationship of mutual interdependence

 

  • Suatu komunitas pasti mempunyai lokalitas atau tempat tinggal (wilayah) tertentu.
  • Komunitas yang mempunyai tempat tinggal tetap dan permanen, biasanya mempunyai ikatan solidaritas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya.
  • Secara garis besar, komunitas berfungsi sebagai ukuran untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan-hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu

Tipe-tipe komunitas:

Berdasarkan ciri-ciri masyarakat agraris terdapat tipologi komunitas agraris, yang secara garis besar dapat dibedakan atas:

 

(1)          Komunitas nelayan (pantai dan pesisir);

(2)          Komunitas petani sawah (dataran rendah); dan

(3)          Komunitas petani peladang atau lahan kering     (dataran tinggi).

Community:

  • Local Society: Struktur dan Kultur
  • Local Ecology: Pola adaptasi ekologi
  • Collective action: Aksi bersama (kelembagaan)

Perbedaan komunitas dan Masyarakat:

Komunitas: kecil, homogen, cultural, solidaritas mekanik, partisipasi-efektif, relative otonom, sedangkan masyarakat: besar, heterogen, structural, solidaritas organic, produktif-efisien, dependen.

 

 

Pengembangan Masyarakat, Komunitas (Community development)

Community development menggambarkan makna yang penting dari dua konsep:  yaitu, community, bermakna kualitas hubungan sosial; dan development, perubahan ke arah kemajuan yang terencana dan bersifat gradual.

“Community development is a movement designed to promote better living for the whole community with the active participation and on the initiative of the community”

CD = mengembangkan atau menaikkan  kualitas hidup suatu masyarakat

CD = “proses swadaya masyarakat digabungkan dengan usaha-usaha  pemerintah setempat guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan kultural, serta untuk mengintegrasikan masyarakat”

Pengembangan masyarakat:

Suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, dimana semua usaha swadaya masyarakat disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholders lainnya untuk meningkatkan taraf hidup, dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif

Langkah-langkah:

Advokasi: upaya untuk mengubah atau mempengaruhi perilaku penentu kebijaksanaan agar berpihak pada kepentingan publik melalui penyampaian pesan-pesan yang didasarkan pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, legal, dan moral. Melalui kegiatan advokasi dilakukan identifikasi dan pelibatkan semua sektor di berbagai level untuk mendukung program.

Pengorganisasian komunitas: Agar masyarakat mempunyai arena untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan atas masalah di sekitarnya.  Bila terorganisir, masyarakat juga akan mampu menemukan sumberdaya yang dapat mereka manfaatkan.  Biasanya, dalam pengembangan masyarakat, dibentuk kelompok kelompok sebagai wadah refleksi dan aksi bersama anggota komunitas.  Pengorganisasian ini bisa dibentuk berjenjang: di tingkat komunitas, antar komunitas di Tingkat desa, antar desa di tingkat kecamatan dan seterusnya sampai ke tingkat nasional bahkan regional.

Pengembangan jaringan: Menjalin kerjasama dengan pihak lain (individu, kelompok, dan atau organisasi) agar bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan. Jaringan dan saling percaya (trust) merupakan salah satu unsur penting dari kapital sosial, sehingga menjadi komponen penting dalam pengembangan masyarakat. Pada komunitas yang mempunyai jaringan yang baik, sumber daya yang ada pada seluruh kompenen komunitas dan komponen lain yang terbangun dalam jaringan akan dapat dimanfaatkan bersama-sama.

Pengembangan kapasitas : Meningkatkan kemampuan masyarakat di segala bidang (termasuk untuk advokasi, mengorganisir diri sendiri, dan mengembangkan jaringan).  Sumpeno,  mengartikan pengembangan kapasitas sebagai peningkatan atau perubahan perilaku individu, organisasi, dan sistem masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.  Peningkatan kemampuan individu mencakup perubahan dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan; peningkatan kemampuan kelembagaan meliputi perbaikan organisasi dan manajemen, keuangan, dan budaya organisasi; peningkatan kemampuan masyarakat mencakup kemandirian, keswadayaan, dan kemampuan mengantisipasi perubahan.

Komunikasi, Informasi, Edukasi: Proses pengelolaan informasi, pendidikan masyarakat, dan penyebaran informasi untuk mendukung keempat komponen di atas. Pengelolaan informasi juga menyangkut mencari dan mendokumentasikan informasi agar informasi  selalu tersedia bagi masyarakat yang memerlukannya. Kegiatan edukasi perlu dilakukan agar kemampuan masyarakat dalam segala hal meningkat, sehingga masyarakat  mampu mengatasi masalahnya sendiri setiap saat. Untuk mendukung proses komunikasi, berbagai media komunikasi (modern – tradisional; massa –individu – kelompok) perlu dimanfaatkan dengan kreatif.

Perubahan paradigm dalam pembangunan:

  • Sentralisasi VS Desentralisasi
  • Mobilisasi VS Partisipasi
  • Penaklukan VS Pemberdayaan
  • Eksploitasi VS Pelestarian
  • Hubungan Fungsional VS Jejaring Sosial
  • Nasional VS Teritorial
  • Ekonomi Konvensional VS Keswadayaan Lokal
  • Unsustainable VS Sustainable

 

“Pembangunan Berbasis Masyarakat” (Community Based Development)

Asumsi tentang Masyarakat (Community): Berangkat dari pandangan bahwa masyarakat terbelakang, pengetahuannya rendah, tradisional dan bodoh.Untuk memajukan mereka diperlukan pengetahuan dari luar. Pandangan Baru: Masyarakat dibangun bukan karena mereka bodoh dan tidak mampu, akan tetapi kemampuan yang tersedia dioptimalkan agar mereka berkembang sesuai dengan pengetahuan mereka.Pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna sebagai basisi pengembangan mereka.

Konsekuensi Perencanaan: Perencanaan bersifat top down dan sentralitas Direncanakan oleh tenaga ahli atau akademisi tanpa mempertimbangkan apa yang dimiliki masyarakat Lebih mengutamakan perencanaan untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemajuan masyarakat diukur menurut kemajuan ekonomi semata. Pandangan Baru: Lebih menekankan pada aspek lokalitas Perencanaan dilakukan secara otonomi, berdasarkan potensi lokalitas dengan menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan. Pemikiran otonomi lebih ditekankan dalam perencanaan kegiatan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Konsekuensi Perlakuan terhadap Masyarakat: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pihak yang dilayani masyarakat karena mereka dianggap telah berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat.Pandangan Baru: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pengatur kepentingan masyarakat dan sebagai aktor yang melakukan fungsi pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.

Implikasi bagi Kehidupan Sosial: Menjadikan masyarakat sangat bergantung kepada pemerintah

Memendam konflik semu yang setiap saat bisa menjadi ledakan konflik kepentingan. Pandangan Baru: Sejak awal mengakomodasi daya kritis masyarakat Masyarakat mampu menolak jika terjadi tekanan atau eksploitasi dari luar yang tidak menguntungkan mereka.

Sumber: Bagian Sosiologi dan Pengembangan Masyarakat, FEMA IPB

Kebudayaan

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat (E.B. Taylor).

Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. ”Karya” masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmani. “Rasa”mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai social yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas termasuk: agama, ideology, kebatinan, kesenian, dan semua unsure yang merupakan ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota asyarakat. “Cipta” merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup di masyarakat yang menghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan.

Apabila dianalisis lebih lanjut maka manusia mempunyai segi materiil dan segi spiritual. Segi materiil adalah karya yang menghasilkan benda-benda. Segi spiritual tercermin dalam cipta (ilmu pengetahuan), karsa (kaidah kepercayaan, kesusilaan, kesopanan dan hukum), serta rasa (yang menghasilkan keindahan).

Unsur Kebudayaan

Dalam tiap kebudayaan unsur-unsur yang universal yaitu:

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi dan sebagainya)
  2. Mata pencaharian hidup dan system-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, system produksi, system distribusi dan sebagainya)
  3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, system hukum, system perkawinan)
  4. Bahasa (lisan maupun tulisan)
  5. Kesenian ( seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya)
  6. Sistem pengetahuan
  7. Religi (system kepercayaan)

Fungsi  kebudayaan bagi masyarakat

Kebudayaan mempunyai fungsi yang besar bagi manusia dan masyarakat. Fungsi pertama yaitu untuk melindungi, menyesuaikan diri dan mempertahankan diri dari alam. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungannya. Teknologi pada hakekatnya mempunyai unsure: alat-alat produktif, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan , dan alat-alat transport.

Fungsi kedua untuk melindungi masyarakat dari kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam masyarakat sendiri untuk menciptakan suasana tertib dan damai. Karsa masyarakat mewujudkan norma dan nilai social yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan masyarakat. Hal ini karena setiap anggota masyarakat mempunyai keinginan-keinginan dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sama yang memungkinkan ketidak tertiban apabila tidak ada aturan. Fungsi ketiga yaitu untuk menciptakan sesuatu untuk menyampaikan perasaan dan keinginannya kepada orang lain, misalnya kesenian.

Sifat dan Hakekat Kebudayaan

Sifat dan hakekat kebudayaan adalah sebagai berikut:

  1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia.
  2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
  3. Kebudayaan diperlukan manusia dan diwujudkan tingkah lakunya.
  4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima/ditolak atau tindakan yang dilarang/diijinkan

Kepribadian dan kebudayaan

Masyarakat dan kebudayaan merupakan perwujudan dari perilaku manusia. Perilaku manusia dapat dibedakan dengan kepribadiannya karena kepribadian merupakan latar belakang perilaku yang ada dalam diri seorang individu. Kekuatan kepribadian bukanlah terletak pada jawaban atau tanggapan manusia terhadap keadaan, akan tetapi justru pada kesiapannya di dalam memberikan jawaban atau tanggapan.

Beberapa tipe kebudayaan khusus yang berpengaruh terhadap kepribadian seseorang antara lain: kebudayaan khusus atas dasar factor kedaerahan, cara hidup di kota dan di desa, kebudayaan khusus kelas social, kebudayaan khusus atas dasar agama, kebudayaan berdasarkan profesi.

Gerak Kebudayaan

Gerak kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan. Salah satu bentuk gerak kebudayaan adalah akulturasi. Akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.

Permasalahan yang muncul dalam akulturasi adalah:

  1. Unsur budaya asing yang mudah diterima (yaitu: unsur kebudayaan kebendaan seperti peralatan yang mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat, unsur yang terbukti membawa manfaat besar, unsure yang dengan mudah dapat disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima).
  2. Unsur budaya asing yang sulit diterma (yaitu: unsur yang menyangkut kepercayaan seperti idiologi dan falsafah hidup atau unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi misalnya makanan pokok nasi).
  3. Individu yang cepat menerima akulturasi adalah generasi muda. Generas tua susah menerima karena norma-norma tradisional sudah mendarah daging dan menjiwai sehingga sukar sekali untuk mengubahnya.
  4. Ketegangan-ketegangan yang timbul dalam akulturasi. Dalam masyarakat yang terkena proses aklturasi sering terdapat masyarakat yang tidak bisa menyesuaikan. Apabila tidak dapat menahan rasa ketidakpuasan, dapat menimbulkan kegoncangan kebudayaan (cultural shock). Hal ini terjadi apabila warga masyarakat mengalami disorientasi dan frustasi, di mana muncul perbedaan yang tajam antara cita-cita dan kenyataan yang disertai perpecahan-perpecahan dalam masyarakat.

Proses akulturasi yang berjalan dengan baik dapat menghasilkan integrasi antara budaya asing dan budaya sendiri, sehingga unsur budaya asing tidak diangap unsure dari luar melainkan dianggap sebagai unsur dari budaya sendiri.

Sumber: Soerjono Soekanto, “Sosiologi: Suatu Pengantar”

Lembaga Sosial

Norma masyarakat yang mengatur pergaulan hidup masyarakat, bertujuan untuk mencapai suatu tata tertib. Norma-norma tersebut, apabila diwujudkan dalam hubungan antar manusia, dinamakan social-organization (organisasi social). Di dalam perkembangan selanjutnya, norma-norma tersebut berkelompok-kelompok pada berbagai keperluan pokok kehidupan manusia. Sebagai contoh antara lain:

  • Kebutuhan hidup kekerabatan menimbulkan lembaga kemasyarakatan seperti: keluarga batih, pelamaran, perkawinan, perceraian dll.
  • Kebutuhan akan mata pencaharian hidup menimbulkan lembaga kemasyarakatan: pertanian, peternakan, koperasi, industry dll.
  • Kebutuhan akan pendidikan menimbulkan lembaga kemasyarakatan: pesantren, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi dll.
  • Kebutuhan untuk menyatakan rasa keindahan menimbulkan kesusasteraan, seni rupa, seni suara dll.
  • Kebutuhan jasmaniah manusia menimbulkan olahraga, pemeliharaan kesehatan, kedokteran dll.

Jadi, lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Wujud konkret lembaga kemasyarakatan tersebut adalah asosiasi.

Fungsi lembaga kemasyarakatan adalah: sebagai pedoman untuk bertingkah laku atau bersikap, menjaga keutuhan masyarakat dan memberikan pedoman bagi masyarakat untuk mengadakan system pengendalian social.

Norma-Norma Masyarakat

Supaya hubungan antar manusia di dalam masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, dirumuskan norma-norma masyarakat. Berdasarkan kekuatan mengikatnya, norma dapat dibedakan menjadi: Cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores) dan adat istiadat (custom).

Cara, menunjukkan pada suatu bentuk perbuatan seseorang. Kebiasaan, merupakan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama, merupakan bukti bahwa orang banyak menyukai perbuatan tersebut. Tata kelakuan, mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Adat istiadat, merupakan tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat.

Norma-norma tersebut mengalami proses yang pada akhirnya menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses pelembagaan (institutionalization) apabila diketahui, dipahami, ditaati dan dihargai oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Proses pelembagaan norma dalam masyarakat tidak hanya institutionalized dalam masyarakat tetapi juga internalized, yaitu para anggota masyarakat dengan sendirinya ingin berperilaku demikian (norma tersebut telah mendarah daging dalam diri anggota masyarakat).

Sistem Pengendalian Sosial (Social Control)

Pengendalian social merupakan pengawasan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Pengertian ini mengandung pengertian yang luas termasuk segala proses yang bersifat mendidik, mengajak, atau bahkan memaksa warga masyarakat mematuhi kaidah-kaidah dan nilai social yang berlaku.

Tujuan pengendalian social adalah untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan masyarakat. Agar anggota masyarakat taat pada norma yang berlaku, diciptakan system pengendalian social yang   bersifat preventif (pencegahan terjadinya gangguan) maupun represif (mengembalikan keseimbangan yang terganggu). Alat-alat pengendalian social dapat digolongkan dalam beberapa golongan antara lain:

  • Mempertebal keyakinan anggota masyarakat akan kebaikan norma-norma kemasyarakatan.
  • Memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang taat pada norma- norma kemasyarakatan.
  • Mengembangkan rasa malu dalam diri atau jiwa anggota masyarakat bila mereka menyimpang/menyeleweng dari norma kemasyarakatan dan nilai yang berlaku.
  • Menimbulkan rasa takut.
  • Menciptakan system hukum, yaitu system tata tertib dengan sanksi yang tegas bagi para pelanggar.

Ciri-Ciri Umum Lembaga Kemasyarakatan.

Menurut Gillin dan Gillin, ciri-ciri lembaga kemasyarakatan yaitu :

  • Suatu lembaga kemasyarakatan adalah suatu organisasi pola-pola pikiran dan pola-pola perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya.
  • Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri semua lembaga kemasyarakatan.
  • Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu.
  • Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.
  • Lambang biasanya juga merupakan ciri khas lembaga kemasyarakatan.
  • Suatu lembaga kemasyarakatan mempunyai suatu tradisi tertulis atau yang tidak tertulis.

Conformity dan Deviation.

Conformity adalah proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara mengindahkan kaidah dan nilai-nilai masyarakat. Deviation adalah penyimpangan terhadap kaidah dan nilai dalam masyarakat. Penyimpangan yang dilakukan oleh anggota masyarakat akan dicela oleh anggota masyarakat yang lainnya. Namun demikian, terjadinya deviation kadang-kadang dianggap sebagai pertanda bahwa struktur sosial perlu diubah karena struktur yang ada tidak mencukupi dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan yang terjadi.

Pada masyarakat yang homogen dan tradisional, conformity cenderung kuat. Penyimpangan terhadap kaidah dalam masyarakat tradisional dapat terjadi tetapi memerlukan keberanian dan kebijakan tersendiri. Biasanya terjadi apabila masyarakat merasakan manfaat dari suatu penyimpangan dan umumnya dimulai oleh generasi muda yang merantau dan membawa kebiasaan-kebiasaan dari luar dan ditiru oleh masyarakat.

Pada masyarakat perkotaan yang heterogen dan kompleks, comformity sangat kecil. Hal ini terjadi karena anggota masyarakat selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di kota. Selain itu, penduduk kota yang bermacam-macam serta kota sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh-pengaruh dari luar menyebabkan orang-orang kota mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi di luar kota.

Hal ini perlu mendapat perhatian, disamping terdapat nilai positif, terdapat nilai negative apabila penyimpangan yang terjadi justru menjadikan pudarnya pegangan pada kaidah yang ada. Contoh mengenai hal ini antara lain: mentalitas “jalan pintas”( ingin mencapai tujuan dengan cepat tanpa melalui proses yang benar),  mentalitas ‘merasa berhak’ ( menuntut hak tanpa memperhatikan kewajiban), mentalitas ‘peminta-minta’( merasa miskin sehingga pantas dikasihani dan diberi sesuatu) dan lain-lain.

Sumber: Soerjono Soekanto, “Sosiologi Suatu Pengantar”

Proses Sosial dan Interaksi Sosial

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat dilihat apabila para individu dan kelompok-kelompok saling bertemu dan menentukan system serta bentuk hubungan tersebut atau disebut juga sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan. Bentuk umum proses social adalah interaksi social.

Interaksi social merupakan hubungan-hubungan social yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorang dengan kelompok manusia. Dalam hal yang sederhana, interaksi social terjadi apabila dua orang bertemu, mereka menyadari pihak lain menyebabkan perubahan dan menimbulkan kesan dalam pikiran seseorang yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya.

Berlangsungnya proses interaksi didasarkan pada factor-faktor antara lain:

  • imitasi (peniruan),
  • sugesti (pandangan atau dari seseorang yang dapat diterima orang lain),
  • identifikasi (kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain) dan
  • simpati (proses dimana seseorang tertarik pada pihak lain yang menimbulkan keinginan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain).

Syarat Terjadinya Interaksi

Syarat terjadinya interaksi social adalah adanya kontak social dan adanya komunikasi.

Kontak social terjadi apabila ada hubungan dengan pihak lain walaupun tidak secara langsung berhubungan atau bertemu secara fisik. Kontak social dapat berbentuk hubungan antar orang-perorang, antara orang-perorang dengan kelompok manusia atau antar kelompok manusia.

Dalam komunikasi, seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain dan perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut, selanjutnya memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

Bentuk interaksi social terjadi karena proses-proses yang Asosiatif (kerjasama, akomodasi, asimilasi) dan proses-proses yang Disasosiatif (persaingan, kontraversi dan pertentangan).

  1. Kerjasama (cooperation). Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut. Kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerjasama yang berguna.

Bentuk kerjasama meliputi: Kerukunan (gotong royong dan tolong menolong), Bargaining (pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antar organisasi), Kooptasi (proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam organisasi untuk menghindari kegoncangan dalam organisasi), Koalisi (kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama), Joint venture (kerjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu).

2. Akomodasi (accommodation) yaitu suatu keadaan dimana ada keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma social atau nilai-nilai social yang berlaku dalam masyarakat. Selain itu, akomodasi dapat diartikan pula sebagai suatu proses yang menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan atau untuk mancapai kestabilan.

Bentuk-bentuk akomodasi yaitu: Coercion (akomodasi yang prosesnya dilaksanakan dengan paksaan), Compromise (akomodasi dimana pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian perselisihan yang ada), Arbitration (pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua pihak atau badan yang lebih tinggi dari mereka), Mediation (Menggunakan pihak ketiga yang netral untuk mengusahakan penyelesaian secara damai, tanpa ikut memberikan keputusan, hanya memberi nasehat untuk penyelesaian), Conciliation (usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya tujuan bersama), Toleration (disebut juga tolerant-participation yaitu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya), Stalemate (akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya), Adjudication (penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan).

3. Assimilation. Asimilasi merupakan proses social dalam taraf lanjut, yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara individu atau kelompok dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.

Faktor yang mendukung asimilasi: toleransi, kesempatan bidang ekonomi yang seimbang, menghargai kebudayaan lain, terbuka, ada persamaan unsur kebudayaan, perkawinan campuran, adanya musuh bersama dari luar.

Faktor yang menghalangi asimilasi: kehidupan yang terisolasi, tidak mempunyai pengetahuan budaya yang lain, perasaan takut pada budaya lain, ada perbedaan ciri fisik, in-group feeling yang kuat, perbedaan kepentingan, dan lain-lain.

4. Persaingan (competition). Persaingan merupakan suatu proses social, di mana individu atau kelompok yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan kekerasan atau ancaman.

Bentuk-bentuk persaingan antara lain: persaingan ekonomi, persaingan kebudayaan, persaingan untuk mencapai suatu kedudukan dan peranan yang tertentu dalam masyarakat, persaingan karena perbedaan ras.

Fungsi-fungsi persaingan adalah: untuk menyalurkan keinginan-keinginan yang bersifat kompetitif, sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian tersalurkan sebaik-baiknya, sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan seleksi social, sebagai alat untuk menyaring golongan-golongan karya untuk mengadakan pembagian kerja. Hasil suatu persaingan adalah: perubahan kepribadian seseorang, kemajuan, solidaritas kelompok, disorganisasi.

5. Kontravensi (contravention). Kontravensi pada hakekatnya merupakan suatu bentuk proses social yang berada antara persaingan dan pertentangan. Hal ini ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang.

Bentuk kontravensi: perbuatan penolakan, perlawanan dan lain-lain, menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, melakukan penghasutan, berkhianat, mengejutkan lawan dan lain-lain. Tipe kontravensi antara lain: kontravensi generasi-generasi dalam masyarakat akibat perubahan yang cepat, kontravensi seksual, kontravensi parlementer, kontravensi antar masyarakat setempat, antagonisme keagamaan, kontravensi intelektual, Oposisi moral.

6. Pertentangan/pertikaian (Conflict). Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses social dimana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

Sebab pertentangan: perbedaan individu-individu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan dan perubahan social. Masyarakat biasanya mempunyai alat-alat tertentu untuk menyalurkan benih-benih permusuhan (safety-valve institutions), dengan menyediakan obyek-obyek tertentu yang dapat mengalihkan pihak-pihak yang bertikai kearah lain.

Bentuk-bentuk pertikaian: pertentangan pribadi, pertentangan rasial, pertentangan antar kelas-kelas social umumnya karena perbedaan kepentingan, pertentagan politik, pertentangan yang bersifat internasional. Akibat dari bentuk-bentuk pertentangan: tambahnya solidaritas “in-group”, goyah atau retaknya persatuan kelompok, perubahan kepribadian, akomodasi atau dominasi atau takluknya salah satu pihak tertentu.

Sumber: Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar

Lapisan Masyarakat (Stratifikasi Sosial)

Pelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Selama dalam suatu masyarakat ada hal-hal  yang dihargai lebih dari hal lainnya maka hal yang di hargai lebih dari hal lain tersebut akan menempatkannya pada kedudukan yang lebih tinggi. Hal inilah yang menjadi dasar yang akan menumbuhkan system lapisan social dalam masyarakat.

Terjadinya Lapisan Masyarakat

Sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu sendiri, maupun sengaja disusun untuk mengejar tujuan bersama. Lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya, antara lain karena: kepandaian, tingkat umur(senioritas), keaslian kerabat, harta dan sebagainya.

Lapisan masyarakat yang disusun secara sengaja, biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang resmi dalam organisasi formal seperti: perusahaan, pemerintahan, partai politik, angkatan bersenjata atau perkumpulan.

Sifat Sistem Lapisan Masyarakat

Sifat system lapisan masyarakat dapat bersifat tertutup (closed social stratification) atau bersifat terbuka (open social stratification). Sistem lapisan yang bersifat tertutup, membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain, baik yang merupakan gerak keatas maupun kebawah. Contohnya adalah lapisan masyarakat yang berupa kasta.

Sistem lapisan yang bersifat terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan. Pada umumnya system terbuka akan memberi perangsang yang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk dijadikan landasan pembangunan masyarakat daripada system tertutup.

Dasar Lapisan Masyarakat

Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolang-golongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan antara lain: Ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan.

Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat

Unsur-unsur lapisan masyarakat yaitu Kedudukan (Status) dan Peranan (Role). Kedudukan adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok social. Kedudukan social berarti tempat seseorang dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain, dalam lingkungan pergaulannya, prestisenya, serta hak dan kewajibannya. 

Dalam masyarakat, dikenal tiga macam Kedudukan yaitu:  Ascribed Status (kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memerhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan ini terjadi karena kelahiran.),  Achieved Status (kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja) dan Assigned Status (yaitu kedudukan yang diberikan terkait dengan achieved status dimana masyarakat/golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi karena seseorang berjasa memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan masyarakat.).

Peranan(role) merupakan kondisi dinamis dari kedudukan, dimana seseorang yang menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya, berarti dia menjalankan peranan. Peranan mencakup tiga hal yaitu: norma-norma terkait dengan posisi seseorang dalam masyarakat, konsep tentang apa yang dapat dilakukan individu dalam masyarakat dan perilaku individu yang penting bagi struktur social masyarakat.

Mobilitas Sosial/Gerak sosial (Social Mobility)

Mobilitas social adalah suatu gerak dalam struktur social, yaitu pola-pola tetentu yang mengatur organisasi suatu kelompok social. Struktur social mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Gerak social terbagi menjadi gerak social horizontal dan vertikal.

Gerak social horizontal merupakan peralihan individu atau obyek social lainnya dari suatu kelompok social ke kelompok social lainnya yang sederajat. Contohnya antara lain: beralih kewarganegaraan, pekerjaan yang sederajat, atau gerak obyek social lain seperti radio, mode pakaian, idiologi dan lainnya.

Gerak social vertical adalah perpindahan individu atau obyek social dari suatu kedudukan social ke kedudukan social lainnya yang tidak sederajat. Gerak social vertikal dapat berupa gerak naik (social climbing) dan gerak turun (social sinking). Gerak social vertical mempunyai prinsip-prinsip antara lain:

  1. pertama, dalam sistem tertutup sekalipun, terdapat kemungkinan terjadi gerak vertical.
  2. Kedua, dalam sistem terbuka, tetap terdapat hambatan-hambatan.
  3. Ketiga, tidak ada gerak social vertikan yang bersifat umum.
  4. Keempat, laju gerak social vertical yang disebabkan oleh factor politik, ekonomi atau pekerjaan akan berbeda.
  5. Kelima, berdasarkan sejarah tidak ada kecenderungan yang kontinyu perihal bertambahnya atau berkurangnya laju gerak social.

Saluran Gerakan Vertikal

Proses gerakan vertical melalui saluran yang disebut social circulation. Saluran tersebut antara lain:  angkatan bersenjata, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, organisasi politik, organisasi ekonomi, organisasi keahlian, atau saluran lain dalam masyarakat misalnya perkawinan.