Sigmund Freud

You are here:
< Back

Sigmund Freud ( lahir Sigismund Schlomo Freud; 6 Mei 1856 – 23 September 1939) adalah seorang neurolog Austria dan pendiri psikoanalisis, metode klinis untuk mengobati psikopatologi melalui dialog antara pasien dan psikoanalis. Freud lahir dari orang tua Yahudi Galicia di kota Moravian dari Freiberg, di Kekaisaran Austro-Hungaria. Ia memenuhi syarat sebagai dokter pengobatan pada tahun 1881 di University of Vienna. Setelah menyelesaikan habilitasi pada tahun 1885, ia diangkat sebagai pembimbing di neuropatologi dan menjadi profesor pada tahun 1902. Freud tinggal dan bekerja di Wina, menjalankan praktek klinis di sana pada tahun 1886. Pada tahun 1938 Freud meninggalkan Austria untuk melarikan diri dari Nazi. Ia meninggal dalam pengasingan di Inggris pada tahun 1939.

Freud dianggap sebagai pendiri pendekatan psikodinamik untuk psikologi yang menelaah kuasa-bawah sadar yang memotivasi orang untuk bertindak dengan cara tertentu. Peran pikiran adalah sesuatu yang Freud berulang kali bicarakan karena ia percaya bahwa pikiran bertanggung jawab atas keputusan sadar dan bawah sadar berdasarkan drive dan force. Keinginan bawah sadar memotivasi orang untuk bertindak. Id, ego, dan super ego–tiga aspek pikiran–adalah, Freud yakin, yang membuat kepribadian seseorang. Freud percaya orang “hanyalah aktor dalam drama pikiran [mereka] sendiri, didorong oleh keinginan, ditarik oleh kebetulan. Di bawah permukaan, kepribadian kita mewakili perebutan kekuasaan yang terjadi di dalam diri kita”.

Sigmund Freud adalah seorang psikolog yang berasal dari kota Wina, Austria. Freud dilahirkan dari kandungan seorang ibu yang bernama Amalia yaitu seorang yang cantik, tegas, masih muda, dau puluh tahun lebih muda dari suaminya dan merupakan istri ketiga dari ayahnya Jacob Freud. Freud lahir tepatnya pada tanggal 6 Mei 1856 di Freigery sebuah kota kecil yang didominasi penduduk asli Muravia, yang sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Pribar, Cekoslowakia, Austria. Ia meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Selama hampir 80 tahun Freud tinggal di Wina dan baru meninggalkan kota ketiaka Nazi menaklukkan Austria.

Pada tahun 1860, ketika Freud hampir berusia 4 tahun, kelaurganya pindah ke Wina (Wina, ibukota Austria) yang kemudian menjadi semacam magnet bagi kaum imigran. Saat itu adalah masa-masa awal dimulainya era liberal pada kekaisaran Hapsburg. Kaum Yahudi baru saja terbebas dari pajak-pajak yang memberatkan serta berbagai pembatasan menghina seperti tentang hak-hak kepemilikan mereka, pilihan-pilihan karer, praktek-praktek keagamaan yang dianut. Kemerdekaan ini kemudian membawa harapan-harapan realistis pada bidang perkembangan taraf ekonomi, partisipasi politik serta menjadi ukuran baru bagi standar penerimaan sosial. Saat itu adalah masa dimana (seingat Freud) “Para murid berdarah Yahudi yang taat, selalu membawa album foto tokoh-tokoh Yahudi yang menjadi Menteri kabinet, dalam tas mereka.”

Sebagai anak pertama dan kesayangan keluarga, dia difasilitasi kamar pribadi oleh orang taunya. Dia memperlihatkan bakat-bakat yang luar biasa semenjak hari pertama sekolahnya dan disekolah lanjutan (disebut Gymnasium: sekolah lanjutan swasta sebelum masuk perguruan tinggi), dia selalu berada di peringkat pertama dari tahun ke tahun.

Sigmund Freud terlahir dari keluarga berkebangsaan dan beragama Yahudi. Akan tetapi sosok Freud bukanlah sebagai seorang yang taat pada agama, ini terbukti karena Freud jarang sekali bahkan tidak pernah menjalankan apa yang diperintahkan oleh agamanya. Sigmund Freud meninggalkan segala keyakinan agamanya dikarenakan ia menganggap bahwa agama itu hanyalah merupakan suatu khayalan belaka. Namun disisi lain Freud menyadari akan dirinya sebagai seorang yang beragama Yahudi dimana Freud selalu menghadiri pertemuan-pertemuan B’nai B’rith yaitu pertemuan masyarakat Yahudi setempat, Freud juga menolak royalti atas buku-bukunya yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Yiddish dan Ibrani. Bahkan Sigmund Freud beranggapan bahwa kebebasan intelektualnya selama ini disebabkan karena keyahudiannya. Pernyataan ini ditulis sendiri ketika pertama kali ia mengalami “antisemifisme” di Universitas Wina.

Pada tahun 1873, Sigmund Freud masuk kuliah di Universitas Wina tepatnya di fakultas kedokteran. Sebagai seorang mahasiswa yang sedang melakukan pendidikan tentang ilmu hayat, Freud selama perempatan akhir dari abad ke-19, mengalami banyak kesukaran terutama untuk menghindarkan diri dari pengaruh ilmu fisika. Energi dan dinamika yang mengalir dalam setiap laboratorium kemudian menyusul kedalam jiwa setiap sarjana. Meskipun demikian Freud mendapatkan banyak keuntungan terutama pada saat ia melakukan penelitian di dalam bidang ilmu hayat. Ia berada di bawah asuhan Ernst Brucke seorang direktur darilaboratorium physicology di Universitas Wina dan Ernst Brucke merupakan psikolog terbesar dalam abad ke-19 itu.

Setelah lulus pada tahun 1881, Sigmund Freud sebagai peneliti yang brilian, dia sagat terlatih untuk melakukan observasi secara mendalam dan mengkaji kesesuaian pendirian dalam berbagai keragu-raguan ilmiah. Dia mendapat kehormatan untuk bekerja sama dengan professor-preofesor bereputasi internasional, yang hampir kesemuanya adalah kaum positivis dari luar Jerman yang meremehkan pemikiran-pemikiran metafisik dan penjelasan-penjelasan religiuas tentang fenomena alam. Bahkan, setelah Freud memodifikasi teori mereka tentang jiwa yang pada intinya hanya sedikit mengaburkan teori-teori fisiologi, dia tetap mengingat para guruguru besar itu dengan rasa terima kasih yang tidak dibuat-buat. Satu dari mereka yang paling dia kenang, Ernst Brunke, seorang fisiolog terkenal dan pemberi tugas-tugas sulit, bahkan menegaskan Freud sebagai seorang pembangkang, kafir.

Sigmund Freud lebih senang mengisi kehidupannya dengan penelitian, karena dari penelitian ia mendapatkan kepuasaan tersebut. Pada tahun 1882, atas saran brucke, dengan enggan Freud meninggalkan kursi kerjanya di laboratorium dan berpindah tugas dirumah sakit umum Wina. Alasannya cukup romantis: di bulan April dia berjumpa dengan Martha Bernays, seorang perempuan muda yang cantik, lembut dan bertubuh langsing dari Jerman bagian utara, ketika dia sedang mengunjungi salah satu saudarinya.

Tahun 1883, seorang dokter tentara Jerman meresepkan kokain, yang belum lama diisolasi, kepada para tentara Bavaria untuk membantu mereka menghadapi tuntutan berbagai manuver militer. Ketika Freud membaca tentang itu, ia memutuskan untuk mendapatkan obat itu.

Selain memakai kokain untuk dirinya sendiri, Freud mendesak teman-teman dan teman-teman sejawatnya untuk memakainya, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk para pasien mereka. Ia Bahkan mengirimkan sebagian kepada tunangannya. Pendek kata, menurut standar hari ini, Freud adalam ancaman bagi publik.

Esai Freud yang termasyhur, Song of Praise, adalah tentang kokain dan dipublikasikan pada Juli 1884. Freud menuliskannya denga istilah-istilah yang penuh semangat tentang pengalaman pribadinya sendiri dengan kokain sehingga ia menciptakan gelombang minat terhadap obat itu. Ketika semakin banyak bukti yang terakumulasi bahwa kokain sangat adiktif dan mengahasilkan keadaan mirip-psikosis pada dosis tinggi, begitu juga publikasi kritik terhadap Freud.

Freud terus memuja kokain sampai musim panas 1877, tetapi tidak lama kemudian ia sama sekali berhenti memakai kokain – baik secara pribadi maupun profesional. Terlepas dari kenyataan bahwa ia sudah memakai kokain selama 3 tahun, ia tampak tidak mengalami kesulitan untuk berhenti.

Sekitar 7 tahun kemudian, pada 1884, ketika Freud berumur 38 tahun, dokter dan sahabatnya memerintahkannya untuk berhenti merokok karena kebiasaannya itu menyebabkan aritmia jantung pada dirinya. Freud adalah seorang perokoki berat; ia mengisap lebih kurang 20 batang cerutu setiap hari.

Kemudian Freud sangat tergila-gila dengan perempuan ini. Secara diam-diam mereka bertunangan, namun saat itu dia merasa masih terlalu miskin untuk membentuk sebuah keluarga borjuis yang terhormat (yang mereka anggap penting). Mendekati September 1886, sekitar 5 bulan setelah peresmian praktiknya di Wina, dengan tambahan dana dari hadiah-hadiah dan pinjaman dana dari teman-teman yang kaya, akhirnya mereka dapat menikah. Dalam sembilan tahun merekamempunyai enam keturunan. Anaknya yang bungsu, Anna, tumbuh menjadi orang kepercayaan sekaligus sekretaris, perawat, murid dan wakil dari ayahnya, kemudian berkarir sebagai psikoanalis yang ulung di bidangnya.

Sebelum menikah, antara Oktober 1885 hingga Februari 1886, Freud bekerja di Paris bersama seorang neurolog kenamaan Prancis, jean martin sharcot, yang membuat Freud terkesan atas pembelaannya yang berani dalam mempertahankan pemikirannya tentang hipnotis sebagai salah satu instrumen bagi penyembuhan berbagai gangguan medis. Serta tidak kurang beraninya adalah tesisnya (walaupun sebenarnya agak kuno), bahwa tidak lelaki tidak kalah rentan dibanding kaum perempuan untuk menderita histeria. Charcat, sang peneliti tiada tanding ini, boleh dibilang sebagai pendorong pertumbuhan minat Freud pada aspek-aspek teoritis dan terapiutis dari penyembuhan ganguan mental. Sekitar tahun 1890-an (sebagaimana diceritakan kepada seorang temannya), ilmu psikologi telah menjadi raja dalam dirinya. Selama tahun-tahun tersebut, ia berupaya keras membentuk teori psikoanalisis tentang pikiran. Pada musim panas tahun 1897, Freud mulai melakukan perbuatannya yang paling dramatis yaitu melakukan psikoanalisis terhadap alam tak sadarnya sendiri.

Akhir dari segala macam penderitaan tersebut adalah fase terakhir dari evolusi kepribadian Freud. Kemudian Freud memperoleh ketenangan dan kejernihannya, yang mulai dari sekarang merasa damai untuk melakukan pekerjaannya dengan tenang.

Sekarang dapat dikatakan mengenai detail-detail kemajuan dan juga mengenai perubahan pandangan Freud terhadap seksualitas pada masa kanak-kanak yang mendahului dan mengiringinya. Sebelum melakukan hal tersebut, adalah penting untuk mengutip sebuah kalimat yang ditulisnya pada lima belas tahun yang silam. ‘Aku selalu merasa aneh ketika aku tak memahami seseorang melalui diriku sendiri’. Rupanya Freud telah sampai pada inti ucapan Terence: ‘Humani nihil a me alienum puto (seduksi/seduction). Ini merupakan satu alasan tambahan untuk keinginan mengerti akan dirinya sendiri secara untuh.

Dua bagian penting dari penelitian Freud sangat terkait dengan dirinya, interpretasi (tafsir mimpi) akan mimpi-mimpi dan peningkatan apresiasinya terhadap seksualitas masa bayi.

Interpretasi terhadap mimpi memainkan tiga peranan. Ini mengamati dan menyelidiki mimpi-mimpinya sendiri dan juga merupakan material yang ada untuk keperluan penyelidikan dan juga sering dirujuk dalam buku-bukunya yang memberi ide dalam term ‘sadar’ untuk merunut logika-logika analisis terhadap dirinya sendiri. Dan ini juga merupakan metode yang sering dipakainya. Freud kemudian pernah berkata bahwa seseorang yang jujur, cukup normal, dan seorang pemimpi yang baik dapat melakukan analisis-diri tapi tetap saja orang tersebut bukanlah Freud. Analisis terhadap dirinya dilakukan bersamaan dengan penulisan buku The Interpretation of Dreams,yang di dalam buku terpentingnya, ia detail. Yang terakhir melalui penafsiran akan mimpinya ia dapat merasa lenih aman, ini adalah bagian dari semua karyanya yang dia merasa sangat yakin terhadapnya.

Jika kita menoleh sejenak ke perkembangan pandangan-pandangan Freud mengenai seksualitas dan masa kanak-kanak hingga ke waktu dia melakukan analisis-diri, pasti kita akan mempunyai kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut. Pengetahuan bertambah secara bertahap lebih banyak daripada yang diduga orang. Hal-hal yang sekarang tampaknya jelas, kelask justru terlihat gelap. Freud memulainya dengan pandangan konvensional, kepolosan anak-anak dan kemudian melintas pada cerita-cerita jorok dari penggodaan nafsu oleh orang dewasa, yang oleh Freud dianggap sama dengan pandangan konvensional hal ini akan membentuk stimulasi/rangsangan pendewasaan. Freud awalnya tidak menyadari bahwa hal tersebut membangkitkan gairah seksualnya pada anak kecil waktu itu dan hanya setelah masa puber, ingatan-ingatan akan hal tersebut membuatnya merasa ‘menyenangkan’. Pada tahun 1896, Freud menduga bahwa ‘bahkan pada masa kecilpun kita merasakan kenikmatan seksual”, tapi ini dianggap sebagai sebuah reaksi otomatis terhadap rangsangan, tidak ada hubungannya antara dirinya dengan orang lain. Setahun kemudian dia tertarik dengan dasarr organis dari kenikmatan semacam itu, dan menyebutkan bahwa daerah rangsangan tersebut berada pada mulut dan anus, meskipun dia masih merasa mungkin saja daerah rangsangan tersebut ada pada seluruh tubuh, Freud lalu menyebutkannya sebagai daerah erotogenik dalam sebuah suratnya pada tanggal 6 Desember 1896 dan lahi dalam surat tanggal 3 Januari 1897, Freud menyebutkan mulut sebagai organ seksual lisan.

Aspek erotis dari seksualitas masa kanak-kanak menurut Freud ditemukan secara terbalik, bukan melalui anak kecil tersebut melainkan melalui orangtuanya. Mulai dari Mei 1893, ketika dia membuat pernyataan pertama mengenai hal tersebut pada Fliess, hingga September 1893, ketika dia mengakui kesalahannya, Freud masih berkeyakinan nahwa sebab utama histeria merupakan rangsangan seksual masa kanak-kanak oleh orang dewasa, terutama oleh ayah; bukti dari analisi material ini tampaknya tidak terbukti. Selama lenih dari empat tahun dia memegang keyakinan ini, meski semakin sering terkejut dengan frekuensi dari kejadian yang diharapkan. Mulai diamati seakan-akan seorang ayahlah yang memegang, bagian penting dari hubungan incest ini. Tetap semakin buruk, mereka biasanya merupakan jenis yang suka melawan, mulut dan anus menjadi daerah yang dipilih. Freud menduga, dari adanya beberapa gejala histeris pada kakak-kakaknya (bukan dirinya), yang ayahnya terlibat dalam hal tersebut meski dia segera menambahkan frekuensi dari kejadian tersebut sering membangkitkan kecurigannya. Pada akhirnya dari periode ini, keraguan mulai memenuhi pikirannya, tapi selalu terbantahkan oleh beberapa bukti baru. Akhirnya, ketika dia bermimpi mengenai sepupunya yang di Amerika, Hella yang dia artikan sebagau cover bagi ketertarikan seksualnya terhadap kakak perempuannya yang tertua. Freud merasakan dia telah menemukan bukti lansgung kebenaran teorinya.

Empat bulan setelah itu, Freud menemukan kebenaran dari masalah ini: bahwa terlepas dari harapan-harapan incest orangtua terhadap anak-anaknya dan bahkan beberapa tindakan mengenainya, apa yang diperhatikannya sekarrang adalah kecenderungan umum harapan-harapan incest anak-anak terhadap orangtuanya, terutama terhadap orangtuanya yang jenis kelaminnya berbeda (misalnya anak perempuan ke ayahnya ataupun sebaliknya).

Sisi lain dari gambaran ini masih tersembuny darinya. Dua bulan pertama dari analisi diri telah membuka hal tersebut. Freud telah merasakan kebenaran ucapan Nietzsche: ‘diri orang itu sendiri tersembunyi dari orang tersebut: semua harta terpendam dalam diri sendiri adalah biasanya yang terakhir digali.

Meskipun kemudian Freud tidak benar-benar sampai pada ujung konsepsi seksualitas kanak-kanak kelak diapun memahaminya. Keinginan-keinginan incest dan fantasi-fantasi kemudian dihasilkan kira-kira pada umur delapan hingga dua belas tahun yang kemudia terlempar kembali ke gambaran ingatan menakjubkan dari teorinya adalah ketika dia mengatakan bahwa anak kecil, meskipun bayi berumur tujuh bulan sekalipun, mempunyai kemampuan untuk menunjukan dan meskipun belum begitu sempurna, dan memahami arti tindakan seksual orang tuanya yang disaksikannya, ataupun didengarnya. Pengalaman-pengalaman seperti itu akan menjadi signifikan hanya jika ingatan-ingatan tersebut dibangkitkan kembali oleh fantasi-fantasi, hasrat ataupun tindakan-tindakan seksual di tahun-tahun mendatang.

Tidak diragukan lahi bahwa lebih dari lima tahun sebelumnya Freud menganggap anak kecil sebagai objek polos dari hasrat incest dan dengan sangat perlahan dikarenakan resistansi dari dirinya sendiri, dirinya mulai menyadari bahwa memang ada yang namanya seksualitas masa-masa awal dan pada akhir hidupnya Freud memilih untuk menganggap tahun pertama kehidupannya sebagai sebuah misteri gelap yang diselubungi oleh kegairahan-kegairahan yang dapat dipahami daripada diselubungi oleh impuls-impuls dan fantasi-fantasi aktif.

Dengan pertimbangan ini kita dapat kembali ke masalah analisis diri itu sendiri. Awal mula dari analisis-diri dapat dilacak pada peristiwa bersejarah di bulan Juli 1895, ketika dia pertama kali menganalisis penuh salah satu mimpinya. Pada tahun-tahun berikutnya Freud sering kali mengomunikasikan kepada Fliess mengenai analisis-analisis mimpinya. Dari surat-menyurat tersebut kita dapat memberikan penanggalan ketika analisis-analisis yang dulunya dilakukan sambil lalu menjadi sebuah prosedur tertib dengan tujuan jelas. Ini berlangsung pada bulan Juli 1897. Seseorang umumnya akan bertanya mengapa keputusan tersebut baru diambil saat itu. Disini kita menyaksikan tekanan alam tak sadar yang secara bertahap meningkat ketimbang sebuah perubahan tiba-tiba seorang yang genius.

Adalah pada bulan Oktober sebelumnya ayah Freud meninggal. Dalam terima kasihanya atas ucapan belasungkawa Fliess, Freud menulis ‘Kematian ayahku sangat mempengharuiku, termasuk juga karena pikiran alam tak sadarku. Aku sangat menghargainya dan telah memahaminya. Dengan kombinasi sifatnya yang tak lazim antara kebijaksanaan dan kedermawanannya yang fantastic, beliau sangat berarti dalam kehidupan Freud. Beliau memang sudah tidak ada lagi, tapi dalam diri Freud, peristiwa kematian dapat menghidupkan segala perasaanku Sekarang aku merasa cukup tercerabut’.

Freud telah mengatakan bahwa peristiwa ini telah membuatnya menulis buku The Interpretation of Dreams, dan tulisan mengenai karyanya berbarengan dengan tahunn pertama, atau kedua, ketika ia melakukanj analisis-diri; seseorang dapat mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan secara bersamaan. Dalam kata pengantar pada Edisi kedua, yang ditulis secara bersamaan. Dalam kata pengantar pada Edisi kedua yang ditulis pada tahun 1908, Freud mengatakan bahwa dia baru menyadari penulisan buku ini ada hubungannya dengan kematian ayahnya setelah buku tersebut selesai. ‘Hal ini (kesadaran akan hubungan tersebut) muncul begitu saja seperti sebuah potongan dakan analisis-diri yang dilakukannya sebagai reaksi atas kematian sang ayah, muncul sebagai kejadian terpenting, kehilangan yang amat pedih, dalam sebuah episode kehidupan manusia.

Pada bulan Februari, empat bulan setelah kematian ayahnya, Freud menyebut peran ayahnya dalam tindakan-tindakan seduction (penggodaan secara seksual) dan tiga bulan kemudian mimpinya sendiri mengenai incest membuatnya ragu sendiri akan cerita seduksi tersebut. Dalam surat itu Freud juga menyinggung mengenai konflik kanak-kanaknnya, yang kemudian menjadi neurotik terhadap orangtua dari jenis kelamin yang sama-petunjuk pertama mengenai adanya Oedipus Complex. Jelas sekali kedua pandangan tersebut terjadi secara bersamaan.

Pada pertengahan April Freud bertemu Fliess di Nurenberg, dan sepuluh hari kemudian dian mengirimkan sebuah rincian mengenai analisis mimpinya yang mengungkapkan kemarahan dan permusahan terhaddap ayahnya. Freud pun kemudian menyadari akan beberapa kekacauan emosionalnya, karena dalam sebuah baris pada suratnya empat hari kemudian dia menulis: ‘Kesembuhanku dapat terjadi hanya pada alam tak’ Sadar; aku sendiri tidak dapat mengelola tindakan-tindakan sadarku sendiri.Ini mungkin adalah petunjuk pertama dari persepsi Freud bahwa dia harus melakukan psi-analisis terhada dirinya sendiri, meski masih membutuhkak beberapa bulan sebelum akhirnya dia memutuskan hal tersebut.

Kemudian tibalah sebuah periode yang dirinya merasa sangat apatis dan mengalami kelumpuhan intelektual yang hebat. Dia menggambarkan bagaimana dia melalui fase neurotis tersebut: Sebuah kondisi pikiran yang kesadaran seseorang tidak dapat memahaminya: pikiran-pikiran aneh) selubung yang menutupi pikiran seseorang, hampir tidak ada cahaya sama sekali. Setiap baris yang ditulisnya merupakan sebuah siksaan baginya, dan seminggu kemudian dia mengatakan ketidakmampuannya untuk menulis adalah sebuah keadaan patologis; dia segera menemukan bahwa motif untuk hal tersebut adalah untuk mengganggu hubungannya dengan Fliess. Kemudian ada sebuah baris yang menyakitkan, dikutip dari surat tanggal 7 Juli, di mana dia bicara mengenai resistansi-resistansi dalam neurosisnya yang kadang kala Fliess terlibat dalam hal tersebut. Tapi, merupakan kabar gembira, sesuatu telah bersiap-siap untuk muncul. ‘Aku percaya sekarang aku berada dalam fase ‘kepompong’, dan Tuhan tahu hewan seperti apa yang nantinya keluar dari kepompong tersebut.’

Segera setelah ini Freud bergabung dengan keluarganya di Aussee, dan pada tanggal 14 Agustus, dia secara defmitif menulis mengenaj analisisnya sendiri, yang dikatakannya sebagai ‘lebih berat daripada analisis yang lain’. “Tapi ini harus dilakukan dan terlebih lagi, ini adalah sebuah perimbangan yang perlu bagi kerja (terapi) ku’. Sebuah bagian dari histerianya telah berhasil disembuhkan. Dia secara jernih menyadari bahwa resistansi-resistansi dirinya telah menghalangi kerjanya.

Dalam surat bertanggal 3, 4 dan 15 Oktober Freud melaporkan detail-detail kemajuannya mengenai analisisnya. Dia kini menyadari bahwa ayahnya tidak bersalah dan yang terjadi sebenarnya dia memproyeksikan ide-identa sendiri tehadap ayahnya. Ingatan-ingatannya kembali ke keinginan-keinginan seksualnya mengenai ibunya ketika ibunya sedang telanjang. Kita dapat memperoleh sebuah rincian mengenai kecemburuan dan pertengkaran masa kecilnya, dan penemuan kembali akan Pengasuh lamanya, yang sering dihubungkan dengan masalah-masalahnya; ingatan kembali ketika pengasuhnya memandikannya dalam air merah, air bekas setelah dia mandi, adalah sebuah detail yang meyakinkan.

Dalam akhir surat-suratnya ini, Freud menghubungkan bagaimana dia menanyai ibunya mengenai masa kecilnya. Dia berada pada jalur yang benar mengenai kebenaran temuan-temuan analitisnya, dan juga men~ dapat informasi, misalnya mengenai pengasuhnya, yang menjernihkan kebingungan-kebingungannya. Dia mengatakan bahwa analisis dirinya akan menjadi penemuan terbesarnya-hanya jika ini diteruskan sampai tuntas. Freud telah menemukan kegairahannya terhadap ibunya serta kecemburuan terhadap ayahnya; dia yakin bahwa ini merupakan karakteristik umum dari umat manusia, dan dari sana seseorang akan dapat merasakan efek yang kuat dari legenda Oedipus. Dia bahkan menambahkan intepretasi mengenai tragedi Hamlet. Sekarang pikirannya bekerja dengan maksimal, dan kita sekarang mulai bicara mengenai intuisinya yang tangkas.

Penanggulangan resistansi-resistansi dalam dirinya sendiri telah memberikan pengetahuan yang jernih terhadap para pasiennya, dan dia dapat memahami jauh lebih baik mengenai perubahan mood. ‘Semua yang Freud alami dengan pasien dapat kutemukan di sini (analisis diri): hari-hari ketika aku harus menyelinap di antara represi-represi karena aku belum dapat memahami segala sesuatu mengenai mimpi-mimpiku, fantasi-fantasiku, dan perasaan-perasaanku pada hari itu, dan kemudian lagi hati-hati di mana kilasan-kilasan intuisi menerangi hubungan-hubungan tersebut dan memungkinkan seseorang untuk memahami apa yang telah terjadj sebagaimana sebuah persiapan untuk impian hari ini.’

Tentu saja analisis tidak menghasilkan sebuah hasil ajaib dalam seketika. Dalam surat-suratnya kemudian terdapat rincian karakteristik mengenai variasi-variasi kemajuannya: optimisme yang menggantikan pesimisme, semakin memburuknya gejala-gejala, dan hal-hal semacamnya. Neurosis itu sendiri, dan ketergantungan surat-menyurat terhadap Fliess, terlihat semakin hebat, atau lebih memanifes, hingga dua tahun ke depan, tapi ketetapan hati Freud untuk memenangkan pertarungan tidaklah tergoyahkan dan akhirnya memang dia berhasil menaklukkan ‘dirinya’ sendiri. Dan pada sepucuk surat bertanggal 2 Maret 1899, kita membaca bahwa analisis-diri telah membawa banyak kebaikan bagi dirinya dan jelas sekarang dia jauh lebih normal dibandingkan empat atau lima tahun sebelumnya. Sedikit banyak, psikoanalisis tidaklah pernah komplet, maka sangatlah tidak beralasan untuk mengharapkan analisis diri Freud, dengan tiadanya bantuan dari seorang analis yang objektif dan tanpa bantuan berarti melalui kajian terhadap perpindahan manifestasi (neurosis) Mungkin kita akan tahu selanjutnya bahwa ketidakkompletan dapat memengaruhi beberapa kesimpulannya.

Pada bagian awal bab ini hanya tahun awal saja yang tertulis (1897…). Alasan dari hal ini adalah karena Freud berkata padakh dia fak pernah berhenti untuk melakukan analisis diri, menyediakan setengah jam seharinya untuk keperluan tersebut. Satu contoh dari integritas keilmuannya yang sempurna.

Freud sebagai tokoh produktif dan giat bekerja, hal itu terbukti karena dia meskipun telah lanjut usia dan sakit-sakitan, dia tetap bekerja sebagai seorang dokter dan penulis.

Dia meninggal pada 23 September 1939 di London setelah menelan beberapa dosis morfin yang mematikan yang diminta dari dokternya. Freud tidak percaya pada keabadian manusia, namun karyanya terus hidup hingga kini. Bahkan dengan semua penderitaan ini, dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kejengkelan ataupun ketidaksabaran. Filsafat~ nya akan penyerahan diri dan penerimaan akan realitas rupanya telah dimaknainya benar-benar.

Kanker tersebut terus menggerogoti pipinya dan infeksinya terus semakin memburuk. Buruknya kondisi Freud sangatlah ekstrem dan sukar untuk dikatakan kepedjhannya. Pada tanggal 19 September, aku ke sana untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan memanggilnya ketika dia sedang tertidur. Dia membuka matanya, mengenaliku dan melambaikan tangannya, kemudian terkulai kembali dengan sikap tubuh yang seolah menyampaikan pesan sarat makna: sambutan, perpisahan, penyerahan diri. Seperti dikatakan bahwa, ‘Istirahat adalah keheningan.’ Tidak perlu ada katakata. Dan yang kedua dia tertidur kembali. Pada tanggal 21 September, Freud berkata kepada dokternya: ‘Schur, sahabatku, kau teringat pembicaraan pertama kita. Kau berjanji kepadaku bahwa engkau akan membantuku ketika aku sudah tidak kuat lagi. Semuanya hanyalah siksaan sekarang dan tidak lagi kurasakan.’ Schur menggenggam taugannya dan berjanji akan berusaha sekuat mungkin meringankan penderitaannya; Freud berterima kasih padanya, dan sejurus kemudian berkata: ‘Katakan pada Anna tentang pembicaraan kita.’ Tidak ada rasa penyesalan diri sendjri, hanya kepasrahan terhadap kenyataan hidup.

Keesokan paginya, Schur memberikan tiga dosis morfin. Untuk seseorang dengan kondisi seperti Freud, dan juga untuk disalahgunakan, dosis sekecil itu cukup. Dia mendesah penuh kelegaan dan tenggeram 1<e dalam tidur yang damai; dia benar-benar terpej am hingga akhir hayatnya. Freud meninggal sebelum tengah malam keesokan harinya pada tanggal 23 September 1939. Hidupnya yang lama dan sulit telah usai dan penderitaannya telah berakhir. Freud meninggal sebagaimana ketika dia hidup-seorang realis.

Jenazah Freud dikremasi di Golden Green pada pagi hari tanggal 26 September dan dihadiri oleh ribuan pelayat, termasuk Marie Bonaparte dan banyak lainnya dari luar negeri, dan abunya ditempatkan di guci Grecian kesayangannya. Keluarganya memintaku untuk menyampaikan pidato kematian. Stefan Zweig )uga menyampaikan pidato panjang dalam bahasa J erman, yang tak diragukan lagi 1ebih penuh perasaan daripada pidatoku, . meski‘ mungkin kami semua samasama merasakan perasaan kenangan yang dalam, teramat dalam sekali.

Bab 2

SEJARAH HIDUP SIGMUND FREUD

 

Ia sering disebut dengan “My Golden Sigi”. (Jean Chiriac). Meskipun dari keluarga yang sangat sederhana, Freud adalah anak yang sangat berprestasi. Ia menerima penghargaan summa cum laudae sewaktu di sekolah dasar. Pada usia ini ia sudah menguasai beberapa bahasa, Freud adalah siswa yang mempunyai prestasi dalam bahasa Jerman. Seperti apa yang disebutkan dalam tulisan Peter Gray, pada usia 17 tahun Freud masuk Universitas Vienna. Ia merencanakan masuk di jurusan hukum, namun tapa alasan yang jelas ia masuk di jurusan kedokteran. Freud merupakan orang yang sangat tekun, ia sangat tertarik pada bidang fisiologi dan neurologi. Sigmund Freud lulus dari unversitas Vienna pada tahun 1881.

Pada saat masuk di universitas Vienna, Freud adalah seorang ateis. Bisa dikatakan bahwa dia tidak percaya pada Tuhan. Ia sangat konsen pada hal-hal yang bersifat mistis (Myth). Pandangan dan ideologinya inilah yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya. Kalau dilihat dari teman dan gurunya, Freud adalah seorang yang positifistik. Gurunya yang paling ia kenang adalah Ernst Bruene, yaitu seorang ahli fisiologi yang keras.

Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang jelas mengenai suatu agama. Bahkan kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan. (baca: agama). Pada tahun 1882, Freud meninggalkan perkejaanya di laboratiorium dan menerima pekerjaan di RSU Veinna. Pada saat itu Freud bertemu dengan seorang gadis bernama Martha Bernays yang kemudian menjadi istrinya. Dari perkawinan inilah lahir Anna, yang kemudian menjadi seorang tokoh psychoanalysis terkemuka.
Pada tahun 1890an Freud mulai menemukan fokus keahliannya yaitu dibidang psikologi. Ia telah membentuk teori psikoanalisis. Konsentrasi ini awalnya didasari atas dorongan dari Jean-Martin Charton, seorang ahli neurologi Prancis. Martin memberikan pemahaman yang mendalam tentang hipnotis. Sebagai sarana dalam mengatasi gangguan medis. Tesisnya menyatakan bahwa histeria merupakan suatu penyakit ringan yang diderita baik laki-laki maupun perempuan.

Setelah menemukan ketertarikannya pada bidang psikologi, Freud mulai belajar gejala-gejala psilogis dari teman dan pasien-pasiennya. Freud bahkan semakin menspesialisasikan diri pada para perempuan yang menderita histeria. Dari proses mendengarkan keluhan-keluhan pasien inilah Freud banyak menemukan kebenaran-kebenaran dari apa yang ia pesepsikan. Pada tahun 1895, Freud bersama dengan Joseph Breuer menerbitkan Studies of Hysteria. Majalah ini membahas tentang kisah-kisah pasien Breuer “Anna O”. Anna O merupakan pasien yang paling penting dalam penelitian psikoanalisis. Mulai dari sinilah Freud menyadari bahwa histeria merupakan akibat kesalahan fungsi seksual dan gejala-gejalan histeria adalah sesuatu yang bisa dibicarakan.

Seiring dengan semakin matangnya ketertarikan Freud pada psikoanalisis, ia mengembangkan gagasan psikoanalisis dari mimpi-mimpinya sendiri. Hal ini ia lakukan dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan Freud juga menemukan bahwa gejala psikologis sangat penting dalam mempengaruhi hidup seseorang. Hal ini ia buktikan saat ayahnya meninggal pada tahun 1896. Kematian sang ayah memberikan dampak sangat penting atas diri Freud dan juga psikoanalisis. Setelah kesedihan inilah Freud mulia memfokuskan diri pada psikoanalisis pada diri sendiri.

Gagasan Freud di bidang psikologi berkembang tingkat demi tingkat. Batu tahun 1895 buku pertamanya Penyelidikan tentang Histeria terbit, bekerja sama dengan Breuer. Buku berikutnya Tafsir Mimpi terbit tahun 1900. Buku ini merupakan salah satu karyanya yang paling orisinal dan sekaligus paling penting, meski pasar penjualannya lambat pada awalnya, tetapi melambungkan nama harumnya. Sesudah itu berhamburan keluar karya-karyanya yang penting-penting, dan pada tahun 1908 tatkala Freud memberi serangkaian ceramah di Amerika Serikat, Freud sudah jadi orang yang betul-betul kesohor. Di tahun 1902 dia mengorganisir kelompok diskusi masalah psikologi di Wina. Salah seorang anggota pertama yang menggabungkan diri adalah Alfred Adler, dan beberapa tahun kemudian ikut pula Carl Yung. Kedua orang itu akhirnya juga menjadi jagoan ilmu psikologi lewat upaya mereka sendiri.

Freud menikah dan mempunyai enam anak. Pada saat-saat akhir hidupnya dia kejangkitan kanker pada tulang rahangnya dan sejak tahun 1923 dan selanjutnya dia mengalami pembedahan lebih dari tiga puluh kali dalam rangka memulihkan kondisinya. Meski begitu,dia tetap menemukan kerja dan beberapa karya penting bermunculan pada tahun-tahun berikutnya. Di tahun 1938 Nazi menduduki Austria dan si Sigmund Freud yang sudah berusia 82 tahun dan keturunan Yahudi itu dipaksa pergi ke London dan meninggal dunia di sana setahun sesudahnya.

Sigmund Freud menjadi salah satu tokoh sentral dalam psikologi modern. Meski sempat ditolak oleh psikologi akibat konsep ketidaksadaran yang diusungnya, Psikologi “akhirnya” menerima Freud menjadi salah satu tokoh penting yang memengaruhi perkembangan psikologi dewasa ini. Pengaruh tokoh yang memerkenalkan konsep psikoanalisa ini tidak saja pada ranah psikologi. Pemikiran Freud telah merambah batas keilmuan lainnya, seperti filsafat, sastra, sosiologi dan kajian kebudayaan. Di ranah psikologi, kontroversi Freud turut menghadirkan beberapa pemilkiran yang berbeda dengannya, baik dalam kerangka mengoreksi maupun menunjukkan ketidaksepakatan atas ide dan pemikiran tokoh ini. Jung merupakan salah pemikir yang memilih jalan berbeda dari Freud. Jaques Lacan adalah tokoh lainnya yang mencoba membaca Freud secara kritis.

Sumbangsih Freud dalam bidang teori psikologi begitu luas daya jangkauannya sehingga tidak gampang menyingkatnya. Dia menekankan arti penting yang besar mengenai proses bawah sadar sikap manusia. Dia tunjukkan betapa proses itu mempengaruhi isi mimpi dan menyebabkan omongan-omongan yang meleset atau salah sebut, lupa terhadap nama-nama dan juga menyebabkan penderitaan atas bikinan sendiri serta bahkan penyakit.

Freud mengembangkan teknik psikoanalisa sebagai suatu metode penyembuhan penyakit kejiwaan, dan dia merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia dan dia juga mengembangkan atau mempopulerkan teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, ihwal pengkhitanan, rasa tertekan, sublimasi dan banyak lagi. Tulisan-tulisannya menggugah kegairahan bidang teori psikologi. Banyak gagasannya yang kontroversial sehingga memancing perdebatan sengit sejak dilontarkannya.

Freud mungkin paling terkenal dalam hal pengusulan gagasan bahwa gairah seksual yang tertekan sering menjadi penyebab penting dalam hal penyakit jiwa atau neurosis. (Sesungguhnya, bukanlah Freud orang pertama yang mengemukakan masalah ini meski tulisan-tulisannya begitu banyak beri dorongan dalam penggunaan lapangan ilmiah). Dia juga menunjukkan bahwa gairah seksual dan nafsu seksual bermula pada saat masa kanak-kanak dan bukannya pada saat dewasa.

Berhubung banyak gagasan Freud masih bertentangan satu sama lain, amatlah sulit menempatkan kedudukannya dalam sejarah. Dia merupakan pelopor serta penggali, dengan bakat serta kecerdasan luar biasa yang menghasilkan pelbagai gagasan. Tetapi, teori-teori Freud (tidak seperti Darwin atau Pasteur) tak pernah berhasil peroleh kesepakatan dari masyarakat ilmuwan dan teramat sulit mengatakan bahwa bagian-bagian mana dari gagasannya yang akhirnya dapat dianggap sebagai suatu kebenaran.

Lepas dari pertentangan yang berkelanjutan terhadap gagasan-gagasannya, tampaknya sedikit sekali yang meragukan bahwa Freud merupakan tokoh menonjol dalam sejarah pemikiran manusia. Pendapat-pendapatnya di bidang psikologi sepenuhnya telah merevolusionerkan konsepsi kita tentang pikiran manusia, dan banyak gagasan serta istilah-istilahnya telah digunakan oleh umum-misalnya: ego, super ego, Oedipus complex dan kecenderungan hasrat mau mati.

Dapat diteliti atau dilaporkan jika lepas dari konteks, seperti yang Freud gambarkan dalam contoh berikut ini.

Seorang pria berusia 24 tahun memiliki kenangan visual sejak berusia 5 tahun. Di sebuah taman di rumah peristirahatan musim panas, ia duduk di kursi di dekat bibinya. Sementara si bibi mengajari dia membaca alfaber. Ia menemukan kesulitan membedakan huruf m dan n dan ia meminta bibinya mengajarimya tentang bagaimana cara membedakannta antara m dan n. Bibinya berkata kepadanya bahwa huruf m yang mempunyai satu bagian lebih banyak daripada n. Tampaknya tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran dari ingatan masa kecil ini, tapi makna sebenarnya dari kenangan ini baru dapat ditemukan setelahnya, ketika terbukti bahwa kenangan ini adalah perlambang dari keingintahuannya yang lain. Sebab pada saat ketika dia ingin mengetahui perbedaan antara m dan n, dia juga sekaligus ingin tahu perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan dan dia meminta bibinya untuk mengajarinya. Setelah dia tahu, perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan ternyata mirip seperti perbedaan m dan n yaitu anak laki-laki memiliki satu bagian yang tidak dimiliki anak perempuan dan ketika ingatannya sampai pada hal ini, kenangan muncul tentang pertanyaan yang ia ajukan pada bibinya ditaman itu.

Masa Sekolah

Pada beberapa kesempatan Sigmund Freud menolak dengan keras penulisan biografi dirinya, dan menekankan bahwa satu-satunya hal yang penting dari dirinya adalah pikiran-pikirannya adapun mengenai kehidupan pribadinya, menurutnya dunia tidak perlu mengetahuinya terlalu banyak.

Kita tidak mengetahui lebih banyak mengenai masa-masa bocah dan remaja Freud dibandingkan dengan pengetahuan mengenai masa kanak-kanaknya. Dia tidak mempunyai keinginan untuk menyelidikinya dan menulis tentang awal-awal pengembangannya, ketika dia memulainya pada umur 41 tahun.

Pelajaran pertama Freud dengan Ibunya, ayah Freud kemudian memberikan pelajaran sebelum mengirimnya ke sekolah. Meski mengajar sendiri, ayahnya merupakan seorang pedidik yang baik, inteligensia dan wawasannya jauh di atas rata-rata. Jika hal ini benar, maka kemajuan yang diraih Freud kecil merupakan bukti dari hubungan yang memuaskan antara dia dan ayahnya.

Ketika berumur sembilan tahun, Freud masuk sekolah menengah (Sperl Gymnasium), setahun lebih cepat dari waktu normal. Dia menjadi siswa terbaik di kelasnya selama tujuh tahun, menikmati hak istimewa yang diharuskan lulus pada beberapa kali ujian.. Freud adalah seorang pekerja keras yang sangat suka membaca dan belajar. Dia mendapatkan privilese dari prestastinya ini dan jarang mendapatkan pertanyaan di kelas. Meninggalkan sekolah pada usia 17 tahun, ia lulus dengan predikat summa cum laude, ayahnya memberikan hadiah dengan menjanjikan untuk mengajaknya pergi ke Inggris, yang baru dipenuhinya dua tahun setelahnya. Dia membayar perhatian ayahnya dengan membantu studi adik-adiknya. Bahkan terkadang menyelekso bacaan adik-adiknya, mengatakan kepada mereka bahwa mereka masih terlalu muda untuk membacanya. Ketika adiknya Anna berumur 15 tahun misalnya dia diperingatkan akan hubungannya dengan Balzac dan Dumas. Freud sepenuhnya menjalankan peran sebagai kakak sulung. Dalam sebuah surat di bulan Juli 1876, kepada adiknya Rosa yang empat tahun lebih muda darinya yang tinggal di Bozen dengan ibunya, Freud memperingatkan agar tidak terlena oleh kesuksesan sosial. Adiknya telah mulai memainkan kecapi, dimana adiknya masih kurang akrab dengan instrumen tersebut. Surat tersebut penuh dengan kata-kata bijak mengenai bagaimana kejamnya orang-orang yang mencela seorang gadis muda, yang nantinya akan merusak karakternya.

Tak diragukan lagi bagaimana Sigmund Freud muda sangat rajin belajar dan merupakan pekerja keras. Membaca dan belajar merupakan bagian terbesar dalam hidupnya. Bahkan teman-temannya yang mengunjunginya di kamarnya dan terlibat diskusi serius, menjengkelkan adik-adiknya yang hanya melihatnya sebagi melewatkan masa mudanya begitu saja. Satu hal yang menarik lainnya adalah dia selalu membuat ringkasan singat mengenai subjek yang ada dalam buku (text-book), sebuah pilihan yang membantunya kelak dalam tahun-tahun selanjutnya dan tidak terbatas pada bidang studinya saja, dan dia menyebutkan bahwa dia menulis novel pertamanya pada usia 13 tahun.

Freud telah sangat menguasai bahasa Jerman dan kelak dikenal sebagai ahli dalam prosa-prosa Jerman. Disamping telah menguasai bahasa Latin dan Yunani di rumahnya, dia juga cukup menguasai bahasa Perancis dan Inggris, sebagai tambahan dia juga melatih dirinya sendiri bahasa Itali dan Spanyol. Dia juga pernah diajari bahasa Ibrani. Freud terutama sangat menyukai bahasa Inggris dan dia pernah mengatakan bahwa selama 10 tahun terakhir dia tidak membaca apa-apa selain buku-buku bahasa Inggris.

Shakespeare khususnya, yang mulai dibacanya sejak umur 8 tahun, selalu dibaca dan dibacanya kembali dan dia selalu sering mengutip kata-kata dalam drama-dramanya. Freud mengagumi kemampuan luar biasanya mengenai pengertiannya yang mendalam tentang sifat-sifat serta ekspresi manusia. Beberapa konsep yang dia punya mengenai konsep pengikut tren tentang kepribadian Shakespeare. Ia menekankan bahwa kecenderungannya bukan Anglo-Saxon melainkan Perancis, dan dia selalu mengatakan bahwa namanya merupakan modifikasi dari Jacques Pierre. Dia mencibir teori-teori Baconian, tapi selanjutnya dia sngat sepakat dengan teori-teori dengan konsep-konsep bangsawan Oxford tersebut dan sedikit kecewa dengan skeptisisme.

Sesudah menyelesaikan masa sekolahnya, Freud sempat mengalami kebimbangan untuk menentukan profesi apa yang akan dijalaninya. Meskipun ayahnya memberikan kebebasan dalam masalah penentuan profesi, tetap saja dia belum mempunyai keputusan yang tetap untuk itu. Pada masa itu umumnya anak-anak muda akan bercita-cita menjadi Menteri Negara atau Jenderal Besar dan bagi seorang Yahudi Wina, umumnya pilihan terletak pada 3 bidang saja yaitu industri/bisnis, hukum, dan pengobatan. Adapun pilihan pertama tentu saja sangat tidak sesuai dengan karakter intelektual Freud, dan pilihan kedua masalah hukum pada masa itu terdapat semacam ketidakpastian, terutama mengenai cara kerja sosial kemasyarakatan-sebuah refleksi dari kondisi politik yang ada. Bagi Freud sendiri. Ada impuls-impuls dari dalam dirinya untuk mengarahkannya ke bidang yang lain, satu fakta yang menarik adalah bahwa satu-satunya ujian yang gagal ditempuh Freud adalah mengenai masalah pengobatan.

Freud tidak pernah merasakan ketertarikan langsung terhadap bidang pengobatan. Bahakan setelah bertahun-tahun kemudian dia tidak menyembunyikan perasaannya bahwa dia tidak pernah merasa betah dalam profesi pengobatannya. Ketika dia sangat berharap bahwa dia dapat berhenti dari profesi pengobatannya dan mencurahkan perhatiannya terhadap masalah-masalah kultural dan sejarah-sejarah terutama mengenai bahasan “bagaimana manusia bisa menjadi seperti sekarang ini. Akan tetapi, tetap saja dunia telah menghabiskan sebagai dokter besar.

Tidaklah mengejutkan bahwa ilmu kedokteran yang meski sudah tidak ortodok lagi, masih berkutat dengan mata pelajaran yang berbelit-belit dan tidak urut. Freud bahkan lulus tiga tahun lebih lambat dari waktu yang seharusnya. Pada tahun-tahun terakhir dia mengatakan bahwa kolega-koleganya yang mengejeknya karena keterlambatannya menyelesaikan studinya, seolah-olah Freud mahasiswa terbelakang meski Freud sendiri mempunyai alasan sangat kuat atas keterlambatan ini. Ini adalah semacam pemantapan pilihan bidang mana yang akan digeluti kelak.

Pada tahun 1873 Freud masuk University of Vienna untuk belajar kedokteran, pada awal usia 17 tahun. Dia mengakui bahwa ketika kuliah ia agak malas-malasan dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain-main serta melakukan hal-hal yang menurutnya menarik. Meskipun selama di sana minat akademiknya lebih beragam.

Pada semester pertamanya Oktober 1873 hingga Maret 1874, Freud sibuk selama 33 jam seminggu, 12 kelas dalam anatomi dan 6 kuliah kimia, dengan kedua-duanya mengadakan praktikum. Selama semester musim panas pertama, April hingga akhir Juli dia menghabiskan 22 jam seminggu pada anatomi, botani, kimia, mikroskopis, dan mineralogi. Dengan ketertarikannya, Freud juga mengikuti kuliah Biologi dan Darwinisme yang diampu oleh zoologis terkenal, Claus dan satu lagi kuliah Brucke ‘Fisiologi suara dan ucapan’. Itulah pertama kalinya dia melihat Bruke yang terkenal, yang kemudian menjadi orang yang sangat penting baginya. Itulah gambaran tahun pertamanya.

Dalam semester musim dingin ( 1874-1875), Freud sebagai mahasiswa kedokteran masih menghabiskan dua puluh delapan jam seminggu untuk pembenahan anatomi, fisika, fisiologi (oleh Brucke) dan zoologi bagi mahasiswa kedokteraan (oleh Claus ). Seminggu sekali, dia mengambil filsafat pada seminar Brentano. Mengikuti kuliah filsafat selama 3 tahun menjadi kewajiban bagi mahasiswa kedokteran Universitas Wina sejak 1804, tapi kemudian tersebut dihapus setelah tahun 1872.

Pada semester keempatnya, pada musim panas 1875, kita akan melihat Freud lebih bebas dalam menentukan kehidupannya. Dia mengikuti kuliah zoologi yang sebenarnya ( 15 jam seminggu ), bukan hanya zoologi bagi mahasiswa kedokteraan. Dia mengambil dua kelas fisika, lebih banyak dari kurikulum yang disyaratkan. Dia melanjutkan dengan seminar filsafat dan mengikuti kuliah Brentano, pada logika Aristoteles. 11 jam seminggu digunakannya untuk mengikuti kuliah fisiologi Brucke.

Keingin tahuannya terhadap biologi semakin terlihat pada semester-semester berikutnya, ketika dia menghabiskan 10 jam seminggu untuk mengikuti praktikum zoologi dalam laboratorium Claus. Anatomi dan fisiologi menghabiskan banyak waktunya, tapi Freud tetap mengikuti seminar Brentaco seminggu sekali.

Pada tahun 1876 ia memulai riset pertamanya, studi tentang struktur kelenjar kelamin belut. Walaupun dengan banyak interupsi pendek, tidak lama setelah itu ia masuk laboratorium fisiologis Ernest Brucke untuk bekerja di sana dalam kurun antara 1876 sampai 1882. Brucke, ia menemukan “tempat beristirahat dan kepuasan” dan bertemu ilmuwan-ilmuwan “yang pantas saya hormati dan saya jadikan model”. Ia sangat menghormati Brucke. Freud tidak terlalu mempedulikan studi kedokterannya.

Selama periode ini Freud terutama memfokuskan pekerjaan yang berkaitan dengan histologi sel-sel saraf. Selama menjadi mahasiswa 2,5 tahun, dia memulai banyak penelitian orisinalnya. Ini merupakan anjuran dari Profesor Claus. Carl Claus, Kepala instituti Perbandingan Anatomi, datang dari Gottingen ke Wina selama 2 tahun yang lalu, dengan tugas untuk membawa departemen zoologi ke tingkat yang lebih modern. Dia terutama sangat tertarik dengan zoologi kelautan dan pada tahun 1875, dia mendapatkan kebebasan untuk mendirikan Stasiun Percobaan Zoologi di Trieste, dari sekian banyak sumbangannya ke dunia. Ada dana khusus untuk mengirim beberapa mahasiswa ke Trieste selama beberapa minggu untuk studi dan penelitian 2 kali dalam setahun. Salah satu mahasiswa yang mendapatkan bantuan ini adalah Freud, sangat terlihat bahwa dosennya telah mengajarnya dengan sangat baik. Sebuah perjalanan ilmiah ke laut Adriatik dapat dilakukan kapan-kapan, tapi beasiswa tersebut merupakan satu kehormatan. Ini juga merupakan pengetahuan pertama Freud melihat kebudayaan selatan, sebagaimana juga ini merupakan usaha penelitian ilmiahnya yang pertama.

Pada musim panas anatara dua kunjungan beasiswa ke Trieste, dia berkonsentrasi pada biologi. Dia menghadiri 15 kuliah seminggu pada zoologi dan hanya 11 mata kuliah pada bidang lain, sebagai tambahan, dia juga mengambil 3 mata kuliah logika Aristoteles oleh Brentano. Pada fisiologi, Freud bertemu pertama kalinya dengan Exner dan Fleischl, figur-figur penting baginya kelak, dan terdapat beberapa kuliah mengenai analisis spektrum dan fisiologi tumbuhan.

Tugas yang masih memusingkannya adalah masalah yang memusingkan ssemua orang sejak zaman Aristoteles. Struktur gonadik belut belum pernah ditemukan. Sebagaimana yang ditulisnya, ‘belum pernah seorangpun menemukan seekor belut jantan dewasa-tak seorangpun yang pernah melihat testis belut, dari sekian banyak penelitian selama berabad-abad.’ Masalah tersebut kemudian dipecahkan dengan adanya migrasi belut yang luar biasa sebelum masa kawin. Pada tahun 1874, Syrski di Trieste menggambarkan semacam organ cuping kecil dan menganggapnya itu adalah testis belut yang tidak pernah ditemukan. Maka segera dilakukan penelitian, dan inilah penelitian yang dilakukan Freud. Secara keseluruhan, Freud membedah sekitar 400 belut dan dia menemukan banyak organ ‘Syrski’ di banyak belut-belut tersebut. Pada penelitian mikroskopis, Freud menemukan struktru histologis bahwa ini mungkin merupakan sebuah organ testis yang belum dewasa, meski tidak ada bukti-bukti lanjutan yang menyokong pendapat tersebut. Meski begitu, makalahnya merupakan serangkaian makalah pertama yang mendukung Syrski.

Pada saat itu tidak seorangpun yang dapat melakukan hal yang lebih baik, tapi Freud tetap tidak puas dengan kesimpulannya yang belum final tersebut. Seorang penelitian muda tentu saja mengharapkan penemuan yang brilian dan orisinal dapat dilakukan .

Kita akan melihat masa kuliah tiga tahunnya, sebuah tanggal dimana Freud kemudian mengeluarkan komentar sebagai berikut: “Selama tiga tahun pertama kuliahku di Universitas aku dipaksa untuk membuat penemuan bahwa kejanggalan dan keterbatasan sumbanganku ditolak oleh banyak departemen ilmiah, hingga membuat darah mudaku naik. Maka ini adalah pelajaran untuk merenungi kebenaran kata-kata Mephistopheles: “ adalah kesia-siaan ketika bergerak dari satu ilmu ke ilmu lainnya ; tiap manusia mempelajari hanya apa yang bisa ia pelajari.” Pada laboratorium fisiologi aku menemukan kepuasan dan orang-orang yang aku respek dan aku ambil sebagai panutan; Brucke sendiri tentu saja, dan para asistennya Sigmund Exner dan Ernst von Fleischl-Marxow.’

Freud selalu bicara tentang respek dan kekagumannya terhadap otoritas Brucke, yang sedikit diwarnai dengan keterpesonaan. Sebuah teguran Brucke karena terlambat suatu hari, ketika mahasiswa ‘diliput oleh tatapan mengerikan Brucke’, masih diingat bertahun-tahun kemudian, dan citra mata biru Brucke yang tajam selalu membayangi kehidupan Freud, terutama ketika dia lalai atau mengerjainkan sesuatu dengan tidak benar.

Freud selama hidupnya selalu mempunyai loyalitas tak tergoyahkan terhadap aspek-aspek ilmiah yang menunjukkan idealitas dari integritas intelektual, terhadap kebenaran yang dapat ia lihat. Tapi aspek keilmuan lainnya, kepastian yang membosankan, tidak berjalan dengan baik. Terikat dengan kepastian dan pengukuran yang persis bukanlah sifat aslinya. Sebaliknya, itu terkonflik dengan kecenderungan-kecenderungan revolusioner yang akan menghancurkan ikatan-ikatan konvensi dan penerimaan definisi-definisi, dan suatu hari pasti akan terjadi. Selama sepuluh tahun berikutnya, kecenderungan-kecenderungan seperti itu masih terkatung-katung, dan dia melakukan semua usaha untuk memperoleh ‘displin ilmiah’ guna mengekang apa yang dia rasa masih kabur. Freud merupakan seorang mahasiswa yang bagus, melakukan banyak penelitian bermanfaat, tapi displin yang diperolehnya mengorbankan banyak cita-cita kegagahan keberanian dan imajinasi-imajinasi masa kecilnya.

Brucke sendiri merupakan contoh yang sempurna mengenai ilmuwan displin yang Freud merasa harus seperti itulah dia menjadi. Sebagai awalnya, dia adalah seorang Jerman, bukan Austria, dan kualitasnya sangatlah berbeda dengan para Schlamperei Wina, yang Freud sudah terlalu familiar dengan tipe orang seperti itu, dan karena dia, padda dasarnya merasa enggan bergaul, yang mungkin bercampur dengan sedikit simpati.

Institut Brucke merupakan salah satu institut yang disegani dalam pergerakan keilmuan modern, reputasinya dapat dibandingkan dengan aliran kedokteran Helmholtz. Cerita menakjubkan mengenai aliran keilmuan ini dimulai pada pertengahan abad ke 9 dengan hubungan pertemanan antara Emil Du Bois-Raymond (1818-1893) dan Ernst Brucke (1819-1892), yang kemudian bergabung dengan Hermann Helmholtz (1821-1894) dan Carl Ludwig (1816-1895). Dari awalnya kelompok ini digerakkan oleh semangat kampanye keilmuan. Pada tahun 1842 Du Bois menulis ‘Brucke dan aku bersumpah untuk melaksanakan kebenaran ini, “tidak ada gaya lain yang aktif dalam organisme selain gaya fisis-kimiawi umum. Pada kasus-kasus yang tidak bisa dijelaskan oleh gaya-gaya ini pada saat itu, pasti akan dapat dijelaskan oleh sebuah cara khusus atau dalam bentuk penyelesaian fisis-matematis atau berasumsi ada gaya-gaya baru yang setara dengan gaya-gaya fisis-kimiawi, yang dapat direduksi pada tarik-menarik dan gaya tolak.”

Dalam jangka 25 tahun hingga 30 tahun, aliran ini mendominasi penuh terhadap pemikiran fisiologi dan pengajar-pengajar kedokteran Jerman, memberikan stimulus ilmiah dimana-mana, serta memecahkan beberapa masalah klasik yang sulit dipecahkan.

Brucke yang secara jenaka dijuluki ‘duta kita di Timur Jauh’ pada tahun 1874 menerbitkan buku Lectures on Physiology. Salah satu tulisan yang menarik minat Freud, yang masih mahasiswa, adalah abstraksi dari halaman Pendahuluan,

Fisiologi adalah ilmu mengenai organisme sebagaimana adanya. Organisme berbeda dengan entitas benda mati yang sedang bekerja-mesin-dalam kepemilikan kemampuan untuk asimilasi, tapi mereka semua merupakan fenomena dunia fisik, sistem atom, digerakkan oleh gaya, sesuai dengan prinsip konservasi energi yang ditemukan oleh Robert Mayer pada tahun 1842, dinafikan selama 20 tahun, baru kemudian dipopulerkan oleh Helmholtz. Jumlah gaya (gaya gerak dan gaya potensial ) selalu konstan dalam tiap sistem yang terisolasi. Penyebab sebenarnya disimbolkan dalam dunia ilmiah dengan kata ‘gaya’. Semakin sedikit yang kita ketahui tentangnya, semakin banyak gaya yang dapat kita bedakan: mekanis, elektris, gaya-gaya magnetis, cahaya, panas. Kemajuan pengetahuan membaginya menjadi 2 gaya tarik dan gaya tolak. Kesemua gaya ini bekerja juga pada organisme manusia.

Brucke kemudian memberikan ulasan dan penjelasan rumit dalam dua volume bukunya mengenai apa yang disebut dengan transformasi dan saling mempengaruhi gaya-gaya fisik pada organisme hidup. Spirit dan isi kuliah-kuliah ini berhubungan sangat erar dengan kata-kata Freud, yang digunakannya untuk menggambarkan aspek dinamis psikoanalisis, ‘gaya-gaya membantu atau menghambat satu sama lainnya, berkombinasi satu dengan yang lainnya, berkompromi satu dengan yang lainnya, dan seterusnya.’

Satu hal yang sangat erat berhubungan dengan aspek dinamis fisiologi Brucke adalah orientasi evolusinya. Bukan hanya organisme merupakan satu bagian dari dunia fisik, tapi dunia organisme itu sendiri merupakan satu keluarga. Perbedaan yang nyata merupakan hasil dari perkembangan yang berbeda-beda, yang dimulai dari organisme satu sel. Ini juga mencakup tanaman, hewan tingkat rendah dan tingkat tinggi, seperti juga manusia dari sekelompok manusia purba hingga ke puncak peradaban masyarakat Barat sekarang ini. Dalam evolusi kehidupan, tidak ada spirit, esensi, tidak ada kehendak superior atau tujuan atau tujuan ultimat yang bekerja. Energi-energi fisik menyebabkan efek sebab bagaimanapun Darwin telah menunjukkan harapan bahwa suatu saat dia akan mengetahui beberapa pengetahuan konkret mengenai “bagaimana” evolusi itu terjadi. Pada orang yang antusias meyakinkan Darwin bahwa dia telah menunjukkan lebih dari itu-faktanya dia telah menceritakan semua cerita. Sedangkan paa skeptis dan para pendukung teori berkelahi satu sama lain, para peneliti aktif sedang sibuk meneliti pohon taksonomi organismenya, mendekatkan jarak, menyusun kembali sistem taksonomi tumbuhan dan hewan sesuai dengan hubungan genetis, menemukan rangkaian transformasi, menemukan hal-hal yang sama dalam organisme yang ( tampaknya ) berbeda, kemudian mengelompokkannya.

Kepribadian Brucke adalah kepribadian yang keras, idealisme tanpa kompromi dan karakteristiknya mirip seorang petapa dari aliran Helmholtz. Dia orang yang kecil dengan kepala yang besar dan mengesankan, cara berjalan yang stabil, dan tenang, setiap tindakan terkontrol, berbibir kecil, dengan tatapan mata biru tajam yang terkenal itu dan sedikit pemalu tapi juga seorang yang keras dan pendiam. Seorang Protestan yang taat dengan logat Prusia yang kental, sangat tidak cocok dengan karakteristik dengan orang-orang Katolik Wina yang nyantai, tampak seperti orang dari dunia lain yang kaku. Seorang pekerja yang tidak kenal lelah dan berhati-hati, dia menerapkan standar yang sama terhadap para asistennya dan mahasiswanya. Ada sebuah cerita yang menarik tentangnya. Salah seorang mahasiswanya yang mengerjakan makalah yang dimintanya menulis ‘pengamatan yang kurang dalam menunjukkan…’ keesokan harinya makalah mahasiswa tersebut dengan coretan yang mencolok pada kalimat tersebut dan diberi komentar: ‘tidak ada gunanya penelitian secara kurang mendalam’. Dia merupakan salah satu seorang penguji yang ditakuti. Jika peserta ujian tidak dapat menjawab pertanyaan-pertamanya, Brucke duduk diluar ruangan, diam dan bening, tidak mau mendengar dalih dari peserta ujian dan meski Dekan Fakultas juga hadir disana. Opini umum menyebutkannya sebagai seorang pria dingin dan benar-benar rasional. Tak seorangpun mahasiswa ataupun teman-temannya pernah meragukannya.

Sering kali dianggap bahwa teori-teori psikologi Freud mencul dari pertemuan-pertemuan dengan Charcot atau Breuer atau bahkan terakhir-terakhir lagi. Sebaliknya, dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip yang mengonstruksikan teori-teorinya didapat semasa masih menjadi mahasiswa kedokteran dibawah pengaruh Brucke. Emansipasi dari pengaruh tersebut tidak berupa prinsip-prinsip jadi melainkan dalam menjadikan mampu untuk menerapkan secara empiris fenomena mental, yang diperolehnya ketika membedah antomi-anatomi organis. Ini memang membutuhkan perjuangan keras, tapi kegeniusannya dihasilkan dari keberhasilan-keberhasilan dari beberapap perjuangan keras.

Brucke tentu akan terkejut, ketika mengetahui bahwa salah satu mahasiswa kesayangannya, kemudian dalam teori tentang pikirannya yang terkenal, memasukkan ide-ide mengenai ‘kegunaan’, ‘maksud’ dan ‘tujuan’, ide-ide yang telah lama dianggap tidak berarti. Kita tahu ketika Freud membawa kembali ide-ide tersebut, dia telah mempu untuk mendamaikannya dengan prinsip-prinsip yang dia bawa, dia tidak pernah menyerahkan determinisme untuk teleologi.

Pada musim gugur, setelah perjalanannya yang kedua ke Trieste dan tetap berkutat dengan penelitian zoologi-nya, Freud diterima di Institut Fisiologi pada umur 20 tahun sebagai famulus, sejenis mahasiswa penerima beasiswa. Tempat Institut terkenal tersebut yang kumuh sama sekali tidak sesuai dengan pencapaian ilmiahnya yang mengagumkan. Secara menyedihkan, Institut tersebut menempati lantai dasar dan bawah tanah yang gelap dan bau, bekas pabrik senjata yang tua. Institut tersebut terdiri dari sebuah ruang luas di mana para mahasiswa menyimpan mikroskop dan tempat perkuliahan, serta dua ruangan yang lebih kecil, salah satunya merupakan ruang kerja Brucke. Dalam kedua lantai tersebut juga terdapat beberapa ruang kecil, beberapa diantaranya tak berjendela yang berfungsi sebagai laboratorium kimia, elektro-fisiologi, dan optik. Tidak ada suplai air, tidak ada gas, dan tentu saja tidak ada aliran listrik. Semua pemanasan dilakukan dengan lampu ublik, dan air diperoleh dari sebuah sumur di halaman, dimana terdapat sebuah kandang tempat para binatang percobaab ditempatkan. Meskipun demikian, institut ini merupakan sebuah sekolah kedokteran yang sangat terkenal dan membanggakan dengan sejumlah mahasiswa dan pengunjung dari manca nergara.

Meskipun Brucke lebih suka agar mahasiswa sendiri yang menentukan proyek penelitiannya, dia juga siap untuk memformulasikan sebuah permasalahan bagi para pemula yang malu-malu atau masih kabur untuk melakukannya sendiri. Brucke juga yang mengarahkan Freud untuk mempelajari histologi sel-sel saraf. Bersamaan dengan penelitian-penelitian mengenai masalah-masalah struktur terdalam saraf, muncul pertanyaan menarik: apakah sistem saraf pada hewan-hewan tingkat tinggi sama dengan hewan-hewan tingkat rendah, atau apakah sistem saraf pada kedua jenis hewan tersebut sama. Topik penelitian seperti ini merupakan hal yang cukup kontroversial pada masa itu. Implikasi-implikasi agama dan filosofi pasti tidak akan sepakat dengan hal tersebut. Jika berbeda, apakah perbedaannya Cuma masalah tingkat kerumitannya saja ? Apakah pikiran manusia berbeda denga beberapa moluska-tidak secara dasarnya, tapi berhubungan dengan jumlah sel-sel saraf di keduanya dan kerumitan dari serabut masing-masing ? Para ilmuwan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan harapan untuk memperoleh keputusan definitif mengenai; dengan satu cara atau yang lainnya; pada hakikat manusia keberadaan Tuhan, serta tujuan hidup.

Dari luas dan banyaknya penelitian, masalah yang paling menarik adalah masalah yang disodorkan Brucke terhadap Freud. Pada tulang belakang Amoecetes (Petromyzon), genus ikan dari jenis Cyclosmatae purba Reisnerr menemukan sejenis sel besar yang ganjil. Sifat dari sel-sel ini dan hubungannya dengan sistem tulang belakang belum banyak diketahui meski telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahuinya Brucke mengharapkan agar histologi sel-sel ini dapat dijelaskan. Dibantu oleh berkembangannya teknik-teknik penelitian, penelitian Freud menyatakan bahwa sel-sel Reisnerr ini ‘tak lain dari simpul saraf tulang belakang yang, pada vertebrata-vertebrata tingkat rendah, merupakan perpindahan embrio pembuluh saraf ke periferi yang belum sempurna, prosesnya tetap berlangsung dalam tulang belakang. Sel-sel yang menyebar ini merupakan tanda mengenai bagaimana evolusi simpul tulang belakang hingga menjadi sempurna.’ Penyelesaian masalah sel Reisnerr merupakan simbol kemenangan penelitian eksak dan interprestasi genetis—satu dari ratusan ribuan pencapaian-pencapaian kecil seperti itu yang menjadikan kesepakatan mengenai evolusi seluruh organisme— di antara para ilmuwan.

Tapi apa yang sebenarnya merupakan penemuan baru adalah bahwa sistem saraf hewan-hewan tingkat rendah menunjukkan sebuah kontinuitas dengan hewan-hewan tingkat tinggi, dan perbedaan tajam yang selama ini diasumsikan menjadi gugur.

Freud membuat penemuan besar dari Petromyzon: ‘sel-sel simpul saraf tulang belakang ikan telah lama diketahui bipolar ( mempunyai dua proses ), sedangkan untuk vertebrata tingkat tinggi adalah unipolar’. Perbedaan antara binatang tingkat tinggi dan rendah ini oleh Freud ditiadakan. Sel saraf Petromyzon menunjukkan bahwa semua perpindahan dari unipolar menuju bipolar juga terjadi pada bipolar yang T-branching (pencabangan T). Dengan adanya tulisan ini dapat dipastikan, semua ahli kehewanan akan senang dengan adanya temuan ini. Brucke mempresentaikan di fakultas pada Juli 1878, dan bulan berikutnya diterbitkan di Bulletin sepanjang 86 halaman.

Problem umum yang sama lainnya merupakan tujuan penelitian Freud berikutnya, yang kali ini merupakan pilihannya sendiri pada musim panas tahun 1879 dan 1881. Kali ini objek penelitian adalah sel saraf udang karang. Disini dia menguji jaringan otot hidup secara mikroskopis, menggunakan lensa Harnacck no.8— sebuah teknik yang waktu itu diketahui—dan dia berhasil membuat kesimpulan pasti bahwa poros silinder dari serabut saraf tidak mempunyai perkecualian dalam strukturnya. Dia adalah orang pertama yang menunjukkan bagian mendasar ini. Dia juga mengenali bahwa pusat saraf terdiri dari dua subtansi, yaitu satu tampak seperti jaring dan asal mula dari proses saraf. Pada makalah-makalah penelitian terdahulunya, Freud membatasi dirinya secara ketat pada sudut pandang anatomi, meski secara jelas tampak penelitiannya mengarah pada pengungkapan misteri cara kerja saraf. Hanya sekali dalam sebuah kuliah tahun 1882 (atau 1883) bertema “struktur elemen sistem saraf” dimana dia menyimpulkan penelitian selama ini, dia melakukan spekulasi terhadap histologi dalam satu paragraf.

Jika kita mengasumsikan bahwa serabut-serabut saraf mempunyai signifikansi sifat konduksi terisolasi, maka kita harus mengatakan bahwa signifikansi sifat konduksi terisolasi, maka kita harus mengatakan bahwa jejak-jejak saraf terpisah adalah konfluen pada sel saraf, kemudian sel saraf menjadi ‘awal’ dari semua serabut saraf yang terhubung secara otomatis. Aku melampaui batas-batas yang kutetapkan dalam makalah ini guna mengemukakan fakta-fakta yang mendukung validitas asumsi ini, aku tidak tahu juga material yang ada telah memadai untuk menyelesaikan masalah ini yang mana sangat penting bagi fisiologi. Jika asumsi ini terbukti benar, maka kita akan dapat melangkah lebih jauh dalam fisiologi elemen-elemen saraf: kita dapat membayangkan bahwa semua stimulus tertentu yang kuat dapat memecah isolasi serabut sehingga sistem saraf tersebut menjadi sebuah unit yang mengarah ke kegembiraan dan sebagainya.

Konsepsi integra; sel-sel dan proses-proses saraf ini— inti dari teori saraf modern—merupakan hasil kerja Freud sendiri dan tidak tampak ada bantuan apapun dari para pengajarnya di Institut. Dalam kalimatnya di atas terdapat sebuah keberanian pemikiran sekaligus juga sebuah kehati-hatian penyajian makalah; dia tidak membuat klaim nyata. Tapi dua tanggapan muncul. Kuliah, saat dia memberikan pernyataan tersebut, diberikan empat atau lima tahun kemudian setelah dia melakukan penelitiannya, yang menunjukkan lamanya waktu perenungan. Kemudian, setelah lama perenungan, seorang akan berpikiran bahwa sedikit keberanian dan kebebasan imajinasi yang sering dia tunjukkan kelak tidak banyak membuat terobosan baginya, karena dia gemetar dan tak berani meneruskan ketika berada di tepian teori sarafnya sendiri, yang mana merupakan dasar dari ilmu saraf modern. Dia rupakan masih belum paham bahwa untuk memperoleh ‘displin’ dalam kerja ilmiah orisinal juga dibutuhkan ruang bagi berkembangnya imajinasi.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang pantas dicatat dari kalimat-kalimat sebelumnya, sehingga nama Freud tidak tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pionir teori saraf modern. Terdapat banyak pionir semacam itu, yang paling terkenal adalah penelitian Wilhelm His dengan kajian embriologisnya mengenai asal mula sel-sel saraf, August Forel dengan observasinya mengenai degenerasi Wallerian setelah terjadinya luka pada bagian-bagian serabut saraf, dan Ramon y Cajal dengan penelitiannya yang mengagumkan menggunakan peresepan perak Golgi. Yang menjadi akhir dari pendirian teori saraf modern adalah monograf komprehensif dari Waldeyer pada tahun 1891, dimana pertama kalinya kata ‘neurone’ digunakan. Itu bukan saat satu-satunya Freud melewatkan kesempatan untuk menjadi terkenal di masa-masa awal kehidupannya dengan tidak berani melanjutkan pemikirannya ke dalam sebuah kesimpulan logis.

Karakteristik ilmuwan orsinal lain, bagaimanapun juga, telah dia tunjukkan. Kemajuan ilmiah sering kali ditandai dari penemuan beberapa metode atau instrumen baru, yang kemudian memunculkan sebuah fakta baru. Astronomi misalnya, hampir telah mencapai kebuntuan sebelum ditemukan teleskop, yang kemudian membuat jangkauan astronomi meluas kembali. Demikian pula dengan histologi, penelitian-penelitian histologis sangat terbantu oleh teknik yang ditemukan oleh Freud pada tahun 1877, sejenak setelah memasuki Institut. Teknik ini merupakan modifikasi dari formula Reichert, sebuah senyawa campuran dari asam nitrat dan glyceriner, guna menyiapkan jaringan saraf dan penelitian mikroskopis. Freud menggunakannya pertama kali ketika meneliti tentanf sel-sel spinal Petromyzon.

Beberapa tahun kemudian dia menemukan teknik baru lagi—metode klorida emas untuk mewarnai jaringan saraf—tapi kedua teknik tersebut tak pernah digunakan diluar institut Wina. Dia pastilah seorang teknisi yang ahli, karena dalam penelitian mengenai jaringan saraf udang karang, dia bicara mengenai penelitian khusus mengenai materialnya secara in vivo, sebuah metode teknis yang cukup rumit; metode tersebut dipelajarinya dari Stricker. Secara kebetulan, seseorang menyebutkan bahwa dia menggambar dirinya sendiri sebagai ilustrasi untuk publikasinya terhadap Petromyzon, satu di yang metode yang pertama dan empat di metode yang kedua.

Freud membuktikan fakta bahwa kemajuaan lebih lanjut dalam ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan metode atau bahkan metode yang baru sama sekali. Setelah fakta-fakta baru ditemukan, kemudian diikuti oleh mengolah data-data baru dan teori-teori yang lama. Teori tersebut kemudian menjadi titik pijak untuk melakukan spekulasi, sebuah jawaban kira-kira dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dan melampaui arti penelitian yang ada. Sangatlah jarang dan sukar bagi seseorang untuk dapat sukses bersamaan dalam fase-fase pengembangan ini. Teori psikoanalisis Freud merupakan sebuah contoh dari kasus yang jarang ini. Dia menemukan instrumennya, menggunakannya untuk menemukan banyak fakta-fakta baru, mengolah teorinya, dan melakukan spekulasi—yang melampaui fakta-fakta yang telah diketahui.

Penelitian-penelitian neurologis Freud selalu mengarah pada anatominya. Mikroskop menjadis satu-satunya alat baginya. Fisiologi, baginya, menjadi histologi, dan bukannya eksperimentasi; yang berarti statis, tidak dinamis. Hal ini sekilas tampaknya janggal bagi seorang yang berpikir aktif seperti Freud, tapi jika dilihat lebih dalam justru menunjukkan sesuatu yang sangat signifikan dari sifatnya. Ketika dia bertanya pertama kalinya ke Brucke mengenai permasalahan dari tugas histologi yang dibebankan kepadanya. Dapatkah kepatuhan— atau perasaan inferior—menafsirkan ini sebagai sesuatu yang terasing pada sebuah lingkup inferior, dimana itu merupakan tugasnya untuk tetap menjalankannya, meninggalkan eksperimen lebih tinggi untuk ketiga profesornya, hanya untuk “tumbuh”? mungkin ya, tapi mengenai sikapnya ini seseorang dapat merasakan sesuatu yang lebih dalam dan tinggi pada karakteristik kepribadiannya.

Terdapat dua sisi preferensi ini yang secara pasif melihat tindakan yang aktif, sebuah ketertarikan ke yang satu, dan keengganan terhadap yang lain. Keduanya hadir secara bersamaan. Mengenai hal yang pertama sangat jelas sekali terlihat. Adapun mengenai sifat yang kedua terlihat pada surat yang ia tulis pada seorang temannya. Wilhelm Knopfmacher, pada tahun 1878. Adapun tulisannya sebagai berikut,

“Aku telah pindah ke laboratorium yang lainnya dan menyiapkan diri untuk profesi yang benar-benar aku pilih—membedah-bedah hewan ataupun ‘menyiksa’ manusia—dan aku memutuskan untuk memilih pilihan yang pertama.” Dia adalah orang terakhir yang dapat mengizinkan dirinya menjadi brutal atau kejam dan dia—di saat bersamaan— sangat enggan untuk mencampuri urusan orang lain, atau memaksakan pengaruhnya kepada orang lain. Ketika kelak menangani banyak pasien neurotis—yang waktu itu memakai metode yang kejam seperti penyetruman, pencelupan ke air—dia segera memutuskan untuk meninggalkan metode-metode tersebut. Dia juga meninggalkan metode hipnosa, karena dirasanya itu merupakan sebuah ‘metode yang sangat kasar mempengaruhi’. Kemudian dia memilih untuk melihat dan mendengar, oercaya bahwa dia dapat menangkap struktur neurosis yang dapat dia pahami, serta mempunyai kekuatan untuk menanganinya. Pierre Janet, yang secara salah kaprah dianggap sebagai pendahulu Freud, mengadopsi metode alternatif dari pendekatan ini di tahun 1980-an. Dia melakukan beberapa percobaan yang bagus dan juga menemukan beberapa kesimpulan yang bagus pula. Tapi penelitian yang dilakukan Pierre Janet tidak bersifat aktif, melainkan pasif.

Pada musim panas 1879, Freud mengikuti wajib militer. Pada masa itu, kewajiban wajib militer bagi mahasiswa kedokteran tidaklah seberat sekarang. Mereka cukup tinggal di rumah dan tidak punya kewajiban apa-apa, selain berjaga di rumah sakit. Hal yang paling berat justru adalah rasa bosan; itulah mungkin kenapa beberapa tahun kemudian wajib militer bagi mahasiswa kedokteran selalu didahului oleh pelatihan militer dasar selama 6 bulan. Freud merayakan ulang tahunnya ke 24 dalam tahanan ( 6 Mei 1880 ) dia ditahan karena desersi. Dia 5 tahun lagi kelak akan makan malam dengan Jendral Podratzsky; jendral yang menghukumnya dulu. Tapi Freud sama sekali tak menaruh dendam padanya, semenjak dia mengakui kegagalannya dalam 8 kunjungan berturut-turut.

Pada awal-awal tahun, untuk membunuh rasa bosannya, Freud menerjemahkan buku karya John Stuart Mill, jilid pertama dari lima jilid buku yang tebal-tebal. Ini merupakan sebuah karya yang menyenangkan, karena sepertinya Freud mempunyai bakat sebagai penerjemah. Alih-alih menerjemahkan kata-perkata, Freuf lebih suka membacanya, kemudian menutup bukunya dan membayangkan bagaimana seorang penulis Jerman dengan pikiran yang sama dalam buku itu—menuliskannya sebuah metode yang tak umum bagi seorang penerjemah. Hasil terjemahannya sangat cepat dan mutunya pun bagus. Ini merupakan satu-satunya karya, baik karya asli maupun terjemahann, yang tidak ada hubungan dengan ketertarikan ilmiahnya, dan meskipun isi bukunya tercermin lewat dirinya, tak diragukan lagi kalau motif utamanya adalah untuk membunuh waktu, sekaligus mencari tambahan uang.

Tapi dari karya-karya Mill membahas mengenai masalah-masalah sosial seputar perburuhan, hak suara wanita, dan sosialisme. Dalam kata pengantarnta, Mill mengatakan bahwa yang paling banyak memberikan kontribusi adalah istrinya. Yang keempat, oleh Mill sendiri adalah karya Grote Plato. Freud bertahun-tahun kemudian ( 1933), menyatakan bahwa pengetahuannya mengenai filsafat Plato masih sepotong-potong, dan dia mendapatkan banyak pengetahuan mengenai filsafat Plato justru dari karya Mill. Freud juga menambahkan bahwa dia sangat tertarik dengan teori Plato mengenai ingatan tersebut. Kelak, Freud banyak menambahkan beberapa poin teori Plato dalam bukunya, Beyond the Pleasure Principle.

Adapun penelitian-penelitian yang dilakukan Freud adalah sebagian kecil dari hal-hal yang dilakukannya. Freud juga mempelajari ilmu kedokteran, patologi, pembedahan dan sebagainya. Dalam bidang-bidang yang lain ini, Freud memiliki banyak guru yang memberikannya inspirasi. Sebagian di antaranya seperti Bilroth, ahli bedah, Hebra, ahli dermatologi dan Arlt ahli pengobatan mata adalah orang-orang terkenal yang mampu menarik mahasiswa-mahasiswa yang antusias. Mereka memberi lebih dari sekedar pengetahuan tentang pengobatan kontemporer ; mereka merupakan inovator-inovator yang brilian dan dapat menjadi stimulus bagi mahasiswa-mahasiswa untuk mengembangkan semangat keilmuannya. Terhadap Bilroth adalah benar kalau dia menyimpan satu kekaguman. Satu-satunya kuliah yang ia rasakan menarik adalah kuliah Meynert tentang psikiater satu bidang yang tampaknya sangat baru baginya .

Pada tanggal 30 maret 1881, freud berhasil lulus dari ujian medisnya dengan status ‘excellent’. Hasil ini, menurut Freud adalah berkat dari ingatan fotografisnya, meski secara bertahap ingatan tersebut tak bisa lagi diandalkan. Freud tak pernah menyiapkan diri secara khusus untuk ujian, tapi ‘untuk kasus ujian akhir dia harus menggunakan sisa kemampuan ini (fotografis), dimana untuk subjek-subjek tertentu dia menjawab persis sama dengan yang tercetak dibuku daras’. Upacara wisuda dilakukan di aula indah pada bangunan lama Universitar yang bergaya barok. Tidak hanya keluarga Freud saja yang menghadiri wisuda, tetapi juga Richard Fluss bersama orang tuanya yang hadir, yang merupakan teman masa kecilnya di Freiberg, Moravia.

Kelulusan ini bukanlah sebuah titik balik dari kehidupan Freud, dan bahkan bukan pada kejadian itu sendiri yang paling penting. Itu lebih merupakan sebuah hal yang telah selesai dalam sebuah kejadian, dan sekarang dia tidak lagi dapat dianggap sebagai anak kecil. Tapi tetap dia bekerja di Institut Brucke, tempat kerja yang nanti (dia) pada suatu saat akan membawanya menjadi Kepala Jurusan Fisiologi. Akan tetapi harapan tersebut ternyata berantakan dalam waktu yang tak lebih dari satu tahun kemudian.

Tahun-tahun yang ia habiskan di laboratorium Brucke sama sekali tidak menjanjikan untuk kehidupan masa depannya, sementara itu pola hidupnya sendiri membutuhkan hal itu. Dia harus mencari pekerjaan lain jika ingin mendapatkan penghasilan yang menjanjikan, dan satu-satunya kemungkinan terbesar adalah bekerja menjadi dokter. Tapi dia harus mengesampingkannya sedapat mungkin dan haruslah mempunyai alasan yang benar-benar kuat untuk melakukannya. Setidaknya terdapat dua alasan. Yang pertama adalah keenggannya terhadap praktik-praktik kedokteran. Hal ini tidak berasal dari satu sumber saja. Dia mungkin saha merasa bahwa kerjanya itu sendiri mungkin menarik, tapi yang lebih penting baginya adalah kerja-kerja penelitian; tidak hanya praktek saja. Freud sangat tergerak untuk menemukan sesuatu yang baru dan memberikan sumbangan penting terhadap pengetahuan —ini mungkin dapat dianggap sebagai motifnya yang paling utama.

Maka dia memutuskan untuk terus melanjutkan penelitian yang bagian paling cocok sejauh ia mampu; dia mendapatkan pemasukan yang pertama dari keinginan ayahnya untuk mendorong putranya, dan jika tak memungkinkan, oleh teman-temannya. Pada saat yang bersamaan, dia juga melanjutkan kuliah regular kedokterannta dab akhirnya memutuskan pada Maret 1881, untuk lulus ujian kualifikasi. Tak ragu lagi keterlambatan 3 tahun ini disebabkan oleh karena dia menyalahkan diri sendiri— yang justru membawanya untuk menghadapi masalah-masalah yang lebih mendasar.

Ujian kualifikasi medis sepertinya terlihat tidak ada pembedaan. Freud terus melanjutkan kerjanya selama 15 bulan sebelum masuk di Institut Fisiologi, sekarang memutuskan untuk mencurahkan segenap waktunya untuk itu. 2 bulan kemudian dia di promosika menjadi Demonstrator, yang juga mempunyai tanggung jawab mengajar; dia memegang jabatan ini dari mei 1881 hingga juli 1882.

Berbekal penghargaan traveling fellowship Freud pergi ke paris, selama Oktober 1885 sampai Februari 1886, ia belajar di Salpatririere (rumah sakit untuk penyakit-penyakit saraf yang dipimpin Charcot). Ia sangat terkesan dengan investigasi Charcot tentang histeria, yang mengonfirmasi kebenaran fenomena histerik, termasuk kelumpuhan histerik, termasuk kelumpuhan histerik dan bangunan sugesti hipnotik. Pada 1886, Freud kembali ke Wina untuk menikahi Martha Bernays dan membuka praktik pribadi sebagai sebagai spesialis penyakit saraf.

Pada awal 1880-an, Freud menjalin persahabatan akrab dengan Joseph Breuer, seorang dokter Wina yang menonjol. Breuer bercerita kepadanya tentang bagaimana antara 1880-1882 ia berhasil menangani seorang anak perempuan yang memiliki gejala histeria. Metodenya adalah dengan menghipnotis anak secara mendalam dan setelah itu didorong mengekpresikan diri dengan mengatakan hal-hal dalam ingatan mengenai situasi-situasi emosi yang menekannya.

Selama tahun 1890-an peralihan dari katarsis ke psikoanalisis terjadi. Jones menulis, “ ada banyak sekali bukti bahwa selama berpuluh-puluh tahun- kira-kira tahun 1890-an- Freud mengalami psikoneuris yang sangat berat, namun selama tahun-tahun ketika neurisnya sedang memuncak, -sekitar 1987-1900-itulah Freud menghasilkan karya paling orisionalnya.

Selama periode 1887 sampai 1990 Freud menjalin pertemanan intens dengan Wilhems Fleis, seorang spesials hidung dan tenggorokan yang dua tahun lebih muda dibanding dirinya. Fleis melihat masalah seksual sebagai hal sentral dan mendorong Freud serta memberi izin untuk mengembangkan teori-teorinya. Jones mencatat ketergantungan Freud pada pendapat Fleis dan menyebutnya sebagai “publik tunggal” Freud. Jones menilai, padahal secara intelektual Fleiss jauh lebih rendah dibanding Freud.

Dengan latar belakang seperti ini, Freud mulai mengembangkan ide-idenya tentang dasar-dasar seksual neuris, walaupun meninggalkan hipnotisme, tetapi masih mempertahankan praktik yang mengharuskan pasiennya berbaring di sofa sementara ia duduk di belakang pasien. Selama tahun1897 sampai 1899, ia menulis hasil karya utamanya, The Interpretation of dream.pada musim panas 1889 Freud menjalani terapi psikoanalisis terhadap ketidaksadarannya sendiri, dan analisis terhadap diri sendiri ini menghasilkan bahan untuk buku tersebut. Freud menemukan nafsu masa kanak-kanaknya terhadap ibunya dan kecemburuannya terhadap ayahnya, yang dianggapnya sebagai karakteristik suka menentang pada diri manusia yang disebut Oedipus complex. Dibutuhkan waktu delapan tahun untuk menjual 600 kopi edisi pertama The Interpretation of Dream-nya. Jones melihat analisis yang dilakukan Freud terhadap dirinya sendiri dengan berkata “Akhir dari semua kerja keras dan penderitaan itu adalah fase terakhir dan sekaligus fase final dalam evolusi kepribadian Freud. Munculah seorang Freud yang tenang dan lunak, yang untuk selanjutnya menekuni pekerjaannya dengan bebas dan tenang dan lunak, yang untuk selanjutnya menekuni pekerjaannya dengan bebas dan tenang “. Namun demikian dalam biografi Fromm (1959) tidak sebaik itu. Ia mengatakan bahwa Freud terus menunjukan ketidakpastian dan egoisme, baik dalam kehidupan profesional maupun kehidupan pribadinya. Pada tahun 1905, Freud mempublikasikan hasil karya utama lainnya, Tree Contribution to the Theory of Sex, yang menelusuri perkembangan seksualitas sejak awal masa kanak-kanak.

Dalam studi autobiografisnya Freud melihat bahwa setelah periode katarsis pendahulunya, sejarah psikoanalisis dapat dibagi menjadi dua fase. Dari sekitar tahun 1895 sampai 1906 atau 1907 ia bekerja sendirian, namun setelah itu kontribusi murid-murid dan kolaboratornya semakin penting. Perkembangan historis selanjutnya menunjukan bahwa ide-ide Freud mulai ditinggalkan pada tahap ini.

Freud memiliki kebiasan merokok rata-rata 20 batang cerutu dan, pada tahun 1923, ia mengetahui bahwa dirinya mengidap penyaki kanker rahang. Ia menghabiskan hidupnya 16 tahun terkahir dalam kesakitan yang sering kali menyiksa, dan total 33 operasi sudah dilakukan pada rahangnya. Pada gempuran Nazi menyebabkan Freud meninggalkan Austria bersama keluarganya dan menetap di Inggris, sebuah negara yang dikaguminya, yang dikunjungi untuk pertama kali saat ia berumur 19 tahun. Ia meninggal di London setahun kemudian.

Pengalaman Intelektual

Freud sangat berminat pada semua hal yang secara khusus dipandang mampu membantu pemikirannya. Di tahun 1887, dia bertemu dengan seorang spesialis hidung dan tenggorokan dari Berlin, Wilhelm Fliess dan dengan cepat terjalin persahabatan yang kental di antara mereka. Fliess adalah seorang pendengar yang diidam-idamkan Freud: seorang tokoh intelektual yang tidak mudah dikejutkan oleh gagasan baru apapun, seorang penyebar teori-teori provokatif (yang kadang bermanfaat), seorang penggemar yang selalu menjejali Freud dengan ide-ide yang bisa dia kembangkan. Selama lebih dari satu dekade, Fliess dan Freud saling bertukar surat-surat rahasia dan catatan-catatan teknis atau kadangkala bertemu untuk menjelajahi gagasan-gagasan subversif mereka. Dari sanalah Freud bergerak menuju penemuan teknik psikoanalisis bagi praktek-prakteknya: para pasiennya membuktikan bahwa Freud adalah seorang pembimbing yang lihai. Spesialisasinya semakin meluas di bidang penanganan histeria pada kaum perempuan. Dan dalam mengamati gejalagejala serta mendengarkan berbagai keluhan mereka, Freud menyadari kemudian bahwa meskipun dia seorang pendengar yang baik, dia tidak cukup seksama dalam mendengar. Begitu banyak yang mereka miliki untuk diceritakan kepada Freud.

Pada tahun 1895, Freud dan seorang teman yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri, Josep Breuer (seorang dokter spesialis penyakit dalam yang sedang berkembang dan baik hati), bersama-sama menerbitkan Studies On Hysteria, yang memberikan kebanggaan tersendiri bagi seorang pasien Breuer, Anna O. Perempuan ini menyumbang materimateri menarik bagi bahan percakapan Breuer dan Freud, dan menjadi pasien pertama yang menjalani psikoanalisis (walaupun hal ini sedikit agak bertentangan dengan kehendaknya dan kehendak Breuer).

Berkaitan dengan kepuasan hati Freud, perempuan ini menunjukkan, bahwa histeria berasal dari kegagalan fungsi seksual dan gejala-gejala ini dapat dibicarakan demi kesembuhannya. Tahun 1895 dalam beberapa hal tertentu juga merupakan tahun yang penting bagi Freud. Pada bulan Juli, Frued berhasil menganalisis sebuah mimpi, melalui usahanya sendiri. Dia selanjutnya menggunakan mimpi ini, yang disebut sebagai “injeksi irma”, sebagai model bagi interpretasi mimpi psikoanalisis saat dia menerbitkan Interpretation Of Dreams.

Pada musim gugur, dia mengerjakan sebuah konsep, namun tidak pernah diselesaikan atau diterbitkan, atas apa yang selanjutnya disebut sebagai Projeck For a Scientific Psychology. Konsep ini merupakan antisipasi atas sejumlah teori dasarnya sekaligus sebagai pengingat bahwa Freud memberikan penekanan yang sangat besar pada interpretasi fisiologis tradisional atas peristiwa-peristiwa mental.

Penemuan yang mengakibatkan nama Freud menjadi mashur adalah psikoanalisa. Istilah ini diciptakan oleh dia sendiri dan muncul untuk pertama kali pada tahun 1896. teori psikoanalisa lahir dari praktek dan tidak sebaliknya. Psikoanalisa ditemukan dalam usaha untuk menyembuhkan pasien-pasien histeris. Baru kemudian Freud menarik kesimpulan-kesimpulan teoritis dari penemuannya di bidang praktis. Freud sendiri beberapa kali menjelaskan arti istilah psikoanalisa, tetapi cara menjelaskannya tidak selalu sama. Salah satu cara yang terkenal berasal dari tahun 1923 dan terdapat dalam suatu artikel yang ditulisnya bagi sebuah kamus ilmiah Jerman. Di situ ia membedakan tiga arti. Pertama, istilah “psikoanalisa” dipakai untuk menunjukkan suatu metode penelitian terhadap proes-proses psikis (seperti misalnya mimpi) yang sebelumnya hampir tidak terjangkau oleh penelitian ilmiah. Kedua, istilah ini menunjukkan juga suatu teknik untuk mengobati gangguan-gangguanpsikis yang dialami oleh pasien-pasien neurotis. Teknik pengobatan ini bertumpu pada metode penelitian tadi. Ketiga, istilah yang sama dipakai pula dalam arti lebih luas lagi untuk menunjukkan seluruh pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui metode dan teknik tersebut di atas.

Dalam arti terakhir ini kata “psikoanalisa” mengacu pada suatu ilmu pengetahuan yang dimata Freud betul-betul baru. Psikoanalisa bagi Freud merupakan sebuah metode yang menjanjikan hasil lebih sistematis dan lebih seksama dibanding metode penyelidikan dari seorang otobiografer yang paling jujur sekalipun. 3 atau 4 tahun kemudan setelah Freud menemukan teori psikonalisis, selama dia bekerja dengan “buku mimpi”nya, berbagai penemuan baru ikut meramaikan hari-harinya. Namun pertama-tama dia harus membuang “teori penggodaan” yang sempat membuatnya berjaya untuk beberapa lama. Teori ini menganggap, bahwa setiap gangguan jiwa adalah akibat dari aktivitas seksual prematur, sebagian besar berupa penganiayaan anak-anak, yang terjadi dimasa kanak-kanak. Setelah terbebas dari teori yang cukup luas cakupannya umum mustahil ini, Freud mulai menghargai arti pentingnya fantasi dalam kehidupan mental, dan menemukan oedipus komplek, yaitu tentang segitiga keluarga yang universal itu.

Meskipun Freud dianggap sebagai dokter yang radikal, secara berangsur-angsur Freud mulai mendapat wibawa dan pengikut. Dia sempat berselisih paham dengan Fliess pada 1900. meskipun korespondensi mereka masih berlanjut untuk beberapa saat setelahnya, kedua lelaki ini tidak pernah lagi bertemu muka. Pada tahun 1902, setelah melalui beberapa penundaan, yang rupanya telah dibangkitkan oleh gerakan antisemitisisme digabung dengan kecurigaan bahwa ia menjadi pelopor gerakan pembaharuan, pada akhirnya Freud diangkat sebagai profesor pembantu di Universitas Wina. Pada akhir tahun itu, Freud bersama empat orang dokter Wina lainya, mulai melakukan pertemuan-pertemuan setiap rabu malam di apartemennya, jalan Bergasse No. 19, untuk membahas berbagai persoalan psikoanalitis; empat tahun kemudian, kelompok ini yang telah berkembang menjadi lebih dari 12 anggota tetap di dalamnya, mempekerjakan seorang sekretaris (Otto Rank) untuk membuat notulen dan catatan-catatan penting. Pada tahun 1908 kelompok ini akhirnya mengikrarkan diri sebagai lembaga psikoanalisis Wina. Setidaknya beberapa lelaki dari kalangan medis (dan sedikit perempuan) menanggapi pemikiran-pemikiran Freud.

Karya-Karya Freud

Karya pertama Freud tentang psikoanalisis adalah The Interpretation of Dream tahun 1899. Meskipun karya ini tidak mendapat sambutan positif Freud tetap optimis dan selalu mengembangkan teori psikoanalisis dengan menulis buku yang kedua. Buku kedua ini diberi judul Psychopathology of Every Day Life ditulis pada 1901. Pada karya kedua inilah Freud mulai mendapat sambutan dari pembaca. Meskipun mendapat berbagai pertentangan dan kontraversi atas pemikirannya, akhirnya Freud mendapat gelar Professor di universitas Vienna. Sepanjang tahun 1908 Freud mulai menyebarkan pemikiran psikoanalisisnya dengan diskusi-diskusi. Sampailah akhirnya terbentuk kelompok diskusi yang diberi nama Veinna Psychoanalytic Society.

Karya Freud dalam bidang psikoanalisa dimulai tahun 1895 setelah buku pertama yang memuat laporan penyelidikan tentang histeria diterbitkan, kemudian disusul buku kedua yang membahas mengenai tafsir mimpi yang terbit tahun 1900. Nama Sigmund Freud kemudian melejit sebagai psikolog tingkat dunia setelah ia banyak di undang ke Amerika untuk memberikan ceramah dan presentasi hasil penelitiannya di berbagai universitas besar sekitar tahun 1908. Freud kemudian membentuk kelompok diskusi yang membahas psikologi di Wina Austria tahun 1902. Beberapa tokoh psikologi tergabung di dalam forum ini seperti Alfred Adler dan Carl Yung.

Sumbangsih Freud dalam perkembangan ilmu psikologi amat besar terutama penyelidikan mengenai proses bawah sadar sikap manusia. Berikut ini sumbangan Freud secara garis besar:

  1. Freud menunjukkan alam bawah sadar berpengaruh terhadap isi mimpi yang sering dialami manusia.
  2. Freud mengembangkan teknik psikoanalisa sebagai metode penyembuhan penyakit kejiwaan.
  3. Freud merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia
  4. Freud mengembangkan atau mempopulerkan teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, ihwal pengkhitanan, rasa tertekan, sublimasi dan banyak lagi

Sigmund Freud sepanjang hidupnya turut mendedikasikan diri untuk melahirkan beberapa karya besar. Karya-karya tersebut juga menggambarkan pembabakan perkembangan pemikiran Freud sebagai sebuah dinamika. Beberapa karya Freud, yaitu:

  1. The Interpretation of dreams (1900),
  2. The Psichopathology of Everiday Life (1901),
  3. General Introductory Lectures on Psichoanalysis (1917),
  4. New Introductory Lectures on Psichoanalysis (1933) dan
  5. An Outline of Psichoanalysis (1940).

Referensi

  • Noel Sheehy; Alexandra Forsythe (2013). “Sigmund Freud”. Fifty Key Thinkers in Psychology. Routledge. ISBN 1134704933.
  • Eric R. Kandel The Age of Insight: The Quest to Understand the Unconscious in Art, Mind and Brain, from Vienna 1900 to the Present. New York: Random House 2012, pp. 45–46.
  • Understanding the Id, Ego, and Superego in Psychology. (n.d.). – For Dummies.
  • https://en.m.wikipedia.org/wiki/Freud%27s_Psychoanalytic_Theories
  • http://www.biografiku.com/2009/01/biografi-sigmund-freud.html
  • http://biografiteladan.blogspot.co.id/2011/05/biografi-sigmund-freud.html
  • http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/34/jtptiain-gdl-s1-2007-nurhadinim-1688-bab3_410-9.pdf
  • http://media.isnet.org/kmi/iptek/100/Freud.
  • htmlhttp://ensiklo.com/2014/08/biografi-sigmund-freud-jendela-memahami-pemikiran-freud/
  • http://reus-sandro1.blogspot.co.id/2011/11/sejarah-hidup-sigmund-freud.html
  • http://noyo89.blogspot.co.id/2013/01/a-primer-of-freudian-psychology.html
  • http://psikologikepribadian19.blogspot.co.id/2014/01/makalah-teori-sigmund-freud.html