Kesan Pertama

You are here:
< Back

Kebanyakan orang merasa perlu memberi kesan pertama yang positif pada orang lain, karena percaya bahwa kesan ini akan meninggalkan efek yang relatif permanen.

Penelitian Solomom Asch  mengindikasikan bahwa kesan pertama memang penting dan benar-benar meninggalkan efek yang kuat & bertahan lama dalam persepsi orang lain terhadap diri kita.

Cara orang lain mempersepsikan (memandang/ menilai) kita akan sangat menentukan caranya memperlakukan kita.

Penelitian Asch ttg Sifat Sentral & Sifat Periferal

Penelitiannya dipengaruhi oleh prinsip Psikologi Gestalt, yaitu keseluruhan seringkali lebih besar dari pada jumlah dari semua bagian-bagiannya. Artinya, apa yang kita pesepsi lebih dari sekedar penjumlahan sensasi-sensasi individual.

Misal: Pandangi lukisan, apa yang dilihat bukanlah satu bagian dari gambar melainkan keseluruhan bagiannya.

Jadi psikolog Gestalt menyatakan bahwa setiap bagian dr dunia di sekitar kita diinterpretasikan & dipahami hanya dlm hubungannya dg bagian2 atau stimulus llainnya.

Contoh:

Mula2 partisipan diberi satu dari dua daftar sifat2 orang asing, yaitu:

  • Cerdas-serba bisa-pandai-hangat-tekun-praktis-berhati-hati
  • Cerdas-serba bisa-pandai-dingin-tekun-praktis-berhati-hati

Partisipan yang membaca daftar yang bersisi kata hangat cenderung menilai bahwa orang asing itu lebih positif dibandingkan dengan daftar yang berisi kata dingin.

Lalu, kata hangat & dingin diganti dengan kata sopan & lembut à kesan hasil yang didapatkan sama

Kata hangat –  dingin merupakan central trait (sifat sentral) yang membentuk & mewarnai keseluruhan kesan.

Pembentukan Kesan: Perspektif Kognitif

Suatu proses di mana kita menyusun kesan ttg orang lain. Perspektif kognitif telah menjelaskan bahwa dlm pembentukan kesan ttg seseorang, kita hanya memfokuskan perhatian pd jenis informasi tertentu saja ttg sifat-sifat & nilai-nilai seseorang dari pada kompetensi mereka.

Misal: Informasi tentang apakah seseorang peduli thd org lain, baik, humoris dan menyenangkan, jauh lebih menarik daripada informasi tentang kemampuannya menguasi pengetahuan dan bagaimana cara kerjanya; kecenderungan membaca lebih lama tentang sifat2 yang negatif daripada yang positif.

Model Pembentukan Kesan

  1. Menekankan Peran Sampel Perilaku

Menggunakan informasi sampel perilaku yang telah ada dlm memori kita, lalu kita membuat penilaian & kesan.

2. Menekankan Peran Abstraksi (mental)

Menggunakan abstraksi (mental) yang semula ada di memori kita untuk membuat kesan & mengambill keputusan.

Misal: Pada saat kita kenal, kita membentuk kesan dengan memperhatikan contoh perilakunya (menyenangkan, humoris, baik), semakin lama kenal kita akan mulai berganti menjadi abstraksi mental (kemampuannya) yg disusun secara terus menerus thd perilakunya.

3. Model Pengaruh Motif (apa yg kita perolah dlm suatu situasi)

Dalam membentuk kesan, org cenderung hanya menggunakan sedikit dari kemampuan kognisinya (membentuk kesan dengan cara paling mudah & paling sederhana) yaitu dengan menempatkan org ke dalam kategori sosial.

Misalnya: dia mahasiswa, dia orang keturunan Cina.

Manajemen Kesan: Presentasi Diri

Dalam rangka membuat kesan pertama yang positif dan negatif pada orang lain, individu sering melakukan manajemen kesan (presentasi diri).

Dengan menunjukkan kesan yang baik, orang sering kali mempeoleh keuntungan dlm berbagai situasi.

Terdapat dua strategi utama untuk mendongkrak citra diri, yaitu:

  1. Self-Enhancement
  2. Other-Enhancement

Self-Enhancement

Berusaha membuat deskripsi diri yang positif, seperti meningkatkan penampilan fisik (gaya berbusana, karisma diri, aksesoris menarik), membuat deskripsi diri yang positif dg menceritakan keberhasilan dlm mengatasi berbagai kendala, suka menghadapi tantangan.

Teknik ini dapat menambah daya tarik di depan calon pasangan/ orang lain.

Other-Enhancement

Memanfaatkan berbagai macam strategi untuk menimbulkan mood dan reaksi positif dr orang yang dituju.

Strategi yang sering digunakan adalah:

  1. Pujian, yaitu dengan memuji sifat atau kesuksesannya.
  2. Persetujuan, yaitu dengan persetujuan pandangannya, menunjukkan minat besar pada orang tsbt, meminta nasihat.
  3. Menunjukkan kesukaan secara non-verbal, misalnya membuat kontak mata yang mendalam, tersenyum, mengangguk tanda persetujuan.

Slime-Effect

  • Sebuah kecenderungan untuk membuat kesan yang sangat negatif mengenai orang lain yang menjilat ke atas dan menendang bawahan.
  • Orang mengambil hati atasan namun menghina dan menyakiti bawahannya dlm lingkungan kerja.
  • Strategi manajemen kesan memang sering kali sukses, namun tidak selamanya demikian.
  • Terkadang dapat menjadi bumerang yg menimbulkan serangan balik pada penggunanya.

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta