Kognisi Sosial | Berpikir Tentang Dunia Sosial

You are here:
< Back

Kognisi sosial adalah tata cara kita dalam menginterpretasi, menganalisa, mengingat dan menggunakan informasi tentang dunia  sosial (Baron & Byrne, 2003).

Mempelajari cara kerja pikiran kita dlm memahami lingkungan sekitar supaya mampu berfungsi scr adaptif.

Kita dpt memproses informasi dr linkungan (info ditangkap oleh indra) scr  otomatis (tanpa usaha & di luar kehendak).

Misal: Kita mampu melakukan dua hal sekaligus dlm wkt bersamaan (menyetir sambil sms-an,  belajar sambil mendengarkan lagu).

Ada keterbatasan pd kapasitas kita untuk berfikir mengenai orang lain

Misal: suatu saat membutuhkan konsentrasi penuh & kompleks (pengemudi kehilangkan konsentrasi kendali & membahayakan dirinya & pengguna jalan lainnya).

  1. Skema (schema)
  2. Jalan Pintas Mental
  3. Penyimpangan dlm Pemikiran Sosial
  4. Hubungan afek (perasaan) dg Kognisi.

Ilustrasi: “Saat memasuki sebuah restoran di Maroko, pemain musik memainkan musiknya & mengiringi hingga pengunjung duduk, kemudian berhenti. Setelah itu main lagi setiap ada tamu dtg hingga mereka duduk: mereka memainkan musik utk menyambut tamu yg baru datang. Saat kami duduk, seorang pria dtg dg sebuah teko besar dan menggerakkannya ke arah mangkuk metal di tengah meja. Dg cepat saya mengerti, kalau pria trsbt ingin kami mengulurkan tangan dan dicuci dg air dlm teko besar itu. Stlh makan malam tsbt, kami keluar, para pemusik kembali bermain, & saya menyadari ada sebuah piring besar berisi koin diletakkan strategis di depan kami, lalu, saya meletakkan bbrp koin, dan pemain mengucapkan terima kasih.”

SKEMA

Skema dibentuk oleh budaya di mana kita tinggal. Begitu terbentuk, skema mampu mempengaruhi perilaku sosial kita.

Misal : pd contoh di atas, pengalaman yg blm pernah dialami sblmnya, dengan cepat mampu mengetahui apa yg sdg terjadi. Pernah mengalami situasi yg mirip di masa lalu (pernah makan diberbagai restoran)

Skema restoran ini dianggap sebagai kerangka mental yg dibangun melalui berbagai restoran yg telah dikunjungi shg membantu memahami info sosial yg baru.

Skema berpengaruh pada semua aspek dasar kognisi sosial.

Skema menimmbulkan efek kuat pada ketiga proses dasar berikut:

  1. Perhatian atau atensi (attention)
  2. Pengkodean (encoding)
  3. Mengingat kembali (retriveal)

Perhatian atau Atensi (attention)

Skema berperan sebagai penyaring: informasi yang konsisten dg skema lebih diperhatikan dan mungkin utk dimasukkan dlm kesadaran.

Misal: Menonton konser yg diperhatikan adalah peyanyi & gerak tubuh penari yg ada di panggung, Sedangkan informasi yg tidak cocok dengan skema cenderung diabaikan. Misal: Tidak diperhatikan adanya copet meskipun di samping kita.

Pada saat banyak informasi yg masuk, akan menggunakan skema-skema yang ada, karena kerangka ini membantu dlm memproses informasi dengan usaha yang lebih sedikit.

Pengkodean (encoding)

Adalah informasi yang dimasukkan ke dalam ingatan kita, bahwa informasi yang menjadi fokus perhatian kita lebih mungkin utk disimpan dalam ingatan jangka panjang.

Informasi yang sesuai dengan skema kita yang akan dikodekan.

Apabila terdapat informasi yang tidak sesuai dengan skema, namun dianggap penting, maka akan dikodekan dlm ingatan yang lokasinya terpisah (dilabel unik).

Misal: Belanja ke pasar dapat door price.

Mengingat Kembali (retrieval)

Informasi yang paling siap untuk diingat adalah informasi yang konsisten dengan skema kita.

Orang cenderung mengingat dan menggunakan informasi yang konsisten dengan skema dibandingkan dg informasi yang tidak konsisten.

Penggunaan informasi dlm mengambil keputusan dipengaruhi oleh seberapa kuat skema terbentuk dan tersimpan, serta seberapa besar beban kognitif pada saat itu.

Misal: Beban kognitif tinggi, cenderung menggunakan skema yg ada (telah dimiliki)

Ringkasan:

  • Skema didasarkan pada pengalaman lalu kita (skema merefleksikan pengetahuan yg didapat dr pengalaman kita di dunia sosial)
  • Skema membantu kita dlm memahami dunia.
  • Skema mempengaruhi apa yg kita perhatikan, yg masuk dalam ingatan & yg kita ingat.
  • Skema bisa mendistorsi pemahaman terhadap dunia sosial (misalnya: prasangka).
  • Skema sekali terbentuk akan sulit untuk dirubah.

Dua efek skema:

  1. Skema memiliki efek bertahan (persevereanc effect), meskipun kita dihadapkan pd informasi yang kontradiktif.

Misal: stereotyping pd kelompok sosial tertentu, misal orang2 sumatra keras & kasar, padahal tidak semua org seperti itu, tapi tetap saja beranggapan demikian.

2. Skema bisa memberi efek pemenuhan harapan diri (self-fulfilling prophecy) ramalan yg membuat ramalan itu benar2 terjadi.

Ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi.

Penelitian Rosental (1994), pada awalnya guru diberitahu bahwa murid-muridnya memiliki IQ yang tinggi & akan berkembang pesat secara akademik. Apa yg terjadi à Guru memberi tugas2 yang lebih menantang, banyak memberikan umpan balik, guru bertindak dengan cara yang menguntungkan siswa & akhirnya siswa benar-benar menjadi seperti yg diharapkan.

Kapasitas kognitif yang telah terlampau penuh (overload).

Misal: percakapan melalui telfon genggam sangat menyerap konsentrasi & pikiran, shg tidak menyisakan kapasitas kognitif yg cukup utk berkendara dg aman.

Hal ini memasuki kondisi kejenuhan informasi (information overload): suatu keadaan di mana pengolahan informai telah berada di luar kapasitas kemampuan yg sesungguhnya.

Strategi utk meningkatkan kapasitas kognitif (jalan pintas) harus memenuhi syarat2: mampu menyediakan cara cepat & sederhana juga dpt berhasil digunakan.

Heuristik & pemrosesan otomatis

Adalah aturan sederhana utk membuat keputusan kompleks selanjutnya menarik kesimpulan secara cepat & seakan tanpa usaha yang berarti.

Terdapat dua jenis Heuristik, yaitu:

  1. Heuristik Keterwakilan (heuristic representativness)
  2. Heuristik Ketersediaan (availability heuristic)

a. Heuristik Keterwakilan (menilai berdasarkan kemiripan)

Merupakan suatu setrategi untuk membuat penilaian berdasarkan pada sejauh mana stimulus atau peristiwa tesebut mempunyai kemiripan dengan stimulus atau kategori lain.

Misal: Memprediksi pekerjaan seseorang dilihat dari penampilannya.

“Seorang wanita, tetangga baru sblh rumah, berpakaian konservatif, orangnya teratur & rapi, memiliki perpustakaan besar di rumahnya, & terlihat sangat lembut & sedikit pemalu.” Apakah dia seorang manajer, dokter, pelayan restoran, pustakawan atau pengacara?

Mungkin kalian akan secara cepat menyimpulkan dia seorang pustakawan. Berdasarkan ciri-cirinya lebih dekat dengan ciri-ciri profesi pustakawan dibandingkan dengan ciri-ciri dokter, pelayan restoran maupun pengacara.

Penilaian ini menggunakan cara heuristik keterwakilan (menilai berdasarkan kemiripan)

Semakin mirip seseorang dg ciri-ciri khas orang lain dari suatu kelompok, semakin mungkin dia merupakan bagian dr kelompok tersebut.

b. Heuristik Ketersediaan (menilai berdasarkan banyaknya info yg didapatkan)

Sebuah strategi untuk membuat keputusan berdasarkan seberapa mudah suatu informasi yang spesifik dpt dimunculkan dalam pikiran kita.

Jadi semakin mudah suatu informasi masuk ke dalam pikiran, semakin besar pengaruhnya terhadap penilaian atau keputusan yang akan dibuat.

Misalkan: Seorang menjadi takut naik pesawat terbang, karena seringnya dan digembor2kannya berita mengenai kecelakaan pesawat terbang. Pdhl  kemungkinan kecelakaan mobil 100 kali lbh tinggi.

Contoh lain: Seorang manager melakukan penilaian kinerja, cenderung mengingat perilaku ekstrem atau tidak biasa à hal ini mudah teringat & terpikirkan.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kecenderungan menggunakan heuristik lebih pd mudahnya berfikir subjektif di mana informasi yg relevanlah yg langsung diingat.

Heuristik ketersediaan berkaitan dengan konsep pemaparan awal (priming) yaitu bertambahnya ketersediaan informasi sebagai hasil dari sering hadirnya rangsangan atau peristiwa-peristiwa tertentu.

Misal: sindrom mahasiswa kedokteran yg curiga memiliki berbagai penyakit serius, misal sakit kepala yg diderita mengarahkan pada pertanyaan apakah sakit tumor. Karena mahasiswa dihadapkan pada penjelasan dan buku2 tentang penyakit-penyakit. Ketakutan yg dibesar2kan stlh menonton film horor atau perasaan romantis stlh menonton adegan percintaan.

Pemaparan Awal Otomatis (Automatic Priming)

Ketersediaan informasi tertentu dpt ditingkatkan oleh sumulus yg dipaparkan sebelumnya, meskipun tidak disadari bhw kita sdg berhadapan dg stimulus ini.

Misal: saat duduk di bioskop menunggu film dimulai, dan sdg memikirkan sesuatu yg penting. Akibatnya tidak menyadari adanya pesan dilayar bioskop yg mendorong utk beli popcorn. Bbrp menit kemudian melihat org dibarisan depan makan popcorn. Tiba2 kita mendapat dorongan kuat membeli popcorn.

Kemunculannya karena dorongan melalui pesan yg kehadirannya tidak disadari.

Dilema utama yg dihadapi kognisi sosial adalah kapasitas dlm mengolah informasi terbatas, namun kehidupan membanjiri sejumlah informasi & kita dituntut berurusan dg seluruh informasi scr efektif & efisien.

Cara lain dlm mengatasi permasalahan ini adalah Pemrosesan Otomatis.

Pemrosesan otomatis ini terjadi ketika, setelah berpengalaman melakukan suatu tugas atau mengolah informasi tertentu, kita sampai pada suatu tahap di mana kita dpt melakukan tugas/ informasi tertentu yg seakan tanpa perlu usaha yg besar, secara otomatis,& tidak disadari.

Misal: Informasi dari media TV dpt memicu perilaku membeli sebuah produk. Atau pada ahirnya kita tidak perlu lg meikirkan cara naik motor.

Dalam memahami org lain dan dunia sosial, terdapat banyak kecenderungan dlm mengalami kesalahan, yang disebabkan oleh:

  • Bias Negativitas
  • Bias Optimistik
  • Kerugian akibat banyak berfikir
  • Pemikiran Konterfaktual
  • Pemikiran Magis
  • Menekan Pikiran
  1. Bias negativitas mengacu pada fakta bahwa kita menunjukkan sensitivitas yg lebih besar pada informasi negatif daripada informasi positif.

Misalnya: Teman mengenalkan koleganya yang menyenangkan, pintar, cantik, ramah dan dapat dipercaya. Namun, kemudian dia juga menyebutkan dia suka menyombongkan diri (info negatif). Apa yang cenderung kalian ingat?

Hasil penelitian menunjukkan yg akan lebih diingat adalah hal yg negatif tersebut.

Respon yang cepat terhadap rangsang negatif  seringkali penting untuk bertahan hidup (pd perspektif evolusi)

Informasi negatif direfleksikan hal-hal di lingkungan yg mungkin mengancam keselamatan & kesejahteraan seseorang. Shg sgt penting utk sensitif thd stimulus negatif agar segera dapat direspon dg cepat.

Misalnya: kita lebih sensitif dlm mengenali ekspresi  marah atau permusuhan drpd ekspresi positif (keramahan/ persahabatan).

2. Bias optimistik adalah kesalahan dlm kognisi sosial yg berkesebalikan dr bias negativistis.

Merupakan kecenderungan kita untuk mengharapkan agar segala sesuatu berjalan dengan baik.

Kebanyakan org percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan lebih besar dibandingkan dg orang lain utk dapat pekerjaan yg baik, pernikahan yg baik, mengerjakan tugas lebih cepat. Sehingga mengakibatkan kesalahan dlm perencanaan / planning fallacy

Kesalahan perencanaan adalah kecenderungan kita percaya bahwa kita dapat melakukan lebih banyak perkerjaan dlm suatu periode daripada yg sebenarnya bisa dilakukan.

Misal: Pemerintah sering kali mengumumkan jadwal pengerjaan fasilitas umum yg terlalu optimistik (misal pembangunan jalan selesai sblm mudik, bandar udara baru, stadion utk ASEAN GAMES) akhirnya molor.

Kita juga sering melakukannya, tidak realistik saat memperkirakan suatu pekerjan akan selesai pd waktu tertentu ternyata selesai jauh lebih lama.

Faktor penyebab munculnya Optimistik

  • Berkenaan pada faktor-faktor yang berada di luar kontrol individu kecenderungan tidak dipikirkan (misal: efek buruk/ hambatan)
  • Motivasi, dlm menyelesaikan tugas. Dlm membuat perencanaan pekerjaan sering kali menebak apa yang akan terjadi adalah apa yang mereka harapkan terjadi. Misal pekerjaan selesai tepat waktu & tanpa hambatan.

3. Kerugian Akibat Terlalu Banyak Berfikir

Pemikiran rasional secara umum tampak menguntungkan, karena rasionalitas akan menghindarkan pada kesalahan atau bias. Namun, pernahkan kalian mengalami hal ini…

“Berfikir berat dan dalam waktu yang lama tentang suatu hal (misal sedang berselisih dg teman) atau mengambil keputusan (mau bekerja atau kuliah), sehingga kalian semakin bingung?

Nah, berfikir secara rasional terkadang menimbulkan terlalu banyak buah pikiran yg baik dan membuat semakin bingung. Sehingga, terlalu banyak berfikir dapat membawa kita ke dalam kesulitan kognitif yang serius.

4. Pemikiran konterfaktual

Pemikiran Konterfaktual adalah kecenderungan untuk membayangkan hasil lain dari pada yang sesungguhnya terjadi dalam satu situasi (berfikir tentang “apa yang akan terjadi seandainya…”)

Pemikiran konterfaktual ada dua macam, yaitu:

  • Upward counterfactuals > membayangkan kemungkinan yg lebih baik > penyesalan
  • Downward counterfactuals > membayangkan kemungkinan lbh buruk > rasa puas

Misal: Kita mendapatkan nilai ujian B. Apabila memaknainya dg…

  • Jika seandainya saya mendapat nilai A > sesal
  • Jika seandainya saya mendapat nilai C > syukur.

5. Pemikiran Magis (Magical Thinking)

Ilustrasi: Kalian sedang berada di kelas & tidak ingin dosen memanggil kalian. Jika kalian berfikir dosen akan memanggil, apakah pemikiran ini meningkatkan kemungkinan nama kalian dipanggil?

Seorang meninggal karena AIDS telah membeli baju hangat yg masih terbungkus rapat. Setahun kemudian kalian diberikan baju hangat tersebut, apakah kalian akan memakainya?

Bayangkan seseorang memberikan coklat berbentuk jari manusia yang terpotong, apakah kalian akan memakannya?

Sebagai manusia, kita cukup rentan terhadap pemikiran magis.

Pemikiran Magis  adalah berfikir dengan melibatkan asumsi yang tidak berdasarkan alasan yang rasional., misalkan keyakinan bahwa sesuatu yang mirip dengan lainnya berasal dr sumber yg serupa.

Pemikiran ini menimbulkan asumsi yg tidak berdasar pd rasionalitas namun terasa kuat penngaruhnya.

Beberapa prinsip dlm pemikiran magis, yaitu:

  • Hukum penularan (law of contagion): yaitu ketika dua objek bersentuhan, masing-masing memberikan miliknya dan pengaruh sentuhan tersebut serasa jauh lebih lama walaupun sentuhan itu sendiri telah lama berakhir.
  • Hukum kesamaan (law of similarity); hal-hal yang saling menyerupai akan memiliki ciri dasar yang sama.
  • Pemikiran dapat mempengaruhi lingkungan fisik: kemungkinan pemikiran tentang suatu peristiwa dapat membuat peristiwa itu benar-benar terjadi.

6. Menekan pikiran adalah usaha untuk mencegah pikiran-pikiran tertentu memasuki alam kesadaran.

Misal: Seorang sdg diet > menghindari memikirkan makanan lezat. Seorang yg sedang mencoba berhenti merokok > menghindari pemikiran ttg kenikmatan merokok.

Bagaimana menekan pikiran dijelaskan oleh Daniel Wegner psikolog sosial yg meneliti bagaimana menekan pikiran scr detail.

Usaha penyimpulan pikiran dr luar kesadaran melibatkan dua komponen:

  • Proses pemantauan, yaitu proses pemikiran awal yg memberi tahu mengenai pemikiran yg tidak diinginkan.
  • Sistem pencegahan aktif yang menjaga agar pikiran tersebut tetap berada di luar kesadaran melalui gangguan berupa pemikiran yg lain.

Usaha-usaha ini sering berhasil, namun terkadang menghasilkan efek pantulan artinya pemikiran itu malah semakin meningkat frekuensinya.

Org2 dg tinggi reaktansinya (reaksi negatif thd ancaman) cenderung mengalami efek pantulan.

AFEKSI DAN KOGNISI

Penerapan lain dlm kognisi sosial adalah suasana hati yang baik berpengaruh pd pikiran dan persepsi kita.

Ilustrasi: Pikirkan saat kita sedang berada dalam suasana hati yg baik, bukankah dunia ini tampak sebagai tmpt yg lebih menyenangkan? Dan segala hal dan semua orang terlihat lebih menyenangkan, ketimbang saat kita dlm suasana hati yg kurang baik (sedih atau marah)?

Ilustrasi tesebut menggambarkan bahwa ada hubungan yg saling mempengarui antara afek (suasana hati saat ini) dengan kognisi (cara kita memproses, menyimpan, mengingat dan menggunakan informasi sosial).

Berdasarkan penelitian hubungan di antaranya saling mempengaruhi, seperti jalan dua arah.

  1. Perasaan & suasana hati mempengaruhi kognisi.
  2. Kognisi berpengaruh pada perasaan & suasana hati.

Suasana hati saat ini dapat secara kuat mempengaruhi reaksi kita terhadap rangsangan yang baru pertama kali kita temui.

Rangsangan tersebut bisa berbentuk orang, makanan, atau lokasi geograifs yg belum pernah di temui.

Misal: Bayangkan! Kalian sdg mendapatkan kabar baik (misal nilai ujian A). Kemudian dosen memperkenalakn mhsw baru. Kalian sempat mengobrol dgnya, lalu masuk ke kelas. Apa kesan anda thd mhsw baru trsbt?

Kalian akan menilai lebih menyenangkan daripada saat kondisi perasaan kalian sedang tidak baik.

Perasaan & suasana hati berpengaruh pd ingatan, yaitu:

  • Ingatan bergantung pada suasana hati (mood-dependent) yaitu apa yang kita ingat saat berada dlm suasana hati tertentu, dpt ditentukan, sebagiannya, oleh apa yang dipelajari sebelumnya dlm suasana hati tersebut.
  • Efek kesesuaian suasana hati  (mood congruence effects) Kecenderungan kita menyimpan atau mengingat informasi positif saat berada dlm afek positif, dan info negatif saat dlm afek negatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam suasana gembira/ positif:

  • Dapat meningkatkan kreativitas. Perasaan senang dpt mengaktivasi ide dan asosiasi lebih banyak dibanding perasaan negatif.
  • Meningkatkan perilaku prososial

Kontaminasi mental

Sebuah proses di mana penilaian, emosi atau perilaku kita dipengaruhi oleh proses mental yg tidak disadari dan tidak dpt dikendalikan.

Misal: Juri pengadilan lebih menilai negatif berkas yg menjelaskan proses pembantaian dibanding hanya laporan pembantaian saja.

Terdapat penelitian yg menjelaskan pengaruh pikiran thd perasaan.

Teori Emosi Dua Faktor (two-factors theory of emotion) menjelaskan bahwa kita sering tidak mengetahui perasaan/ sikap kita sendiri. Sehingga disimpulkannya dr lingkungan, dr situasi di mana kita mengalami reaksi2 internal.

Misal: Kita mengalami perasaan tertentu atas kehadiran sso yg menarik, kita menyimpulkannya bahwa kita sdg jatuh cinta; Saat mengemudi lalu tiba2 ada yang memotong jalur kita > perasaan tertentu muncul. Disimpulkan bahwa perasaan yg dirasakan adl marah.

Kognisi dpt mempengaruhi emosi melalui aktivasi skema yg di dalamnya terdpt komponen yg afektif dan kuat.

Misal: Saat masuk ke dalam kelompok org Sumatra merasakan was-was dan tidak senang karena tahu org Sumatra memiliki ciri2 keras, nada yg digunakan tinggi, susah mengalah, dll.

Hal-hal tersebut di atas dpt mempengaruhi perasaan & suasana hati dengan mengaktifkan skema/ stereotip tentang ras, etnik, agama, atau kelompok tertentu.

Pikiran mempengaruhi perasaan melibatkan pengaturan emosi & perasaan kita.

Situasi negatif tidak dpt terhindarkan dlm hidup kita, shg belajar mengatasinya adl ahl yg penting utk menyesuaikan diri.

Misal: Sso sering kehilangan kontrol saat marah, akhirnya sulit membina hub baik dg org lain bahkan dijauhi.

Untuk mengatasinya dpt digunakan teknik dlm mengontrol emosi dg menggunakan mekanisme kognitif, yaitu

  • Saya tidak pernah memiliki kesempatan
  • Menyerah pada godaan.

a. Saya tidak pernah memiliki kesempatan

Menyesuaikan pikiran tentang kemungkinan terjadinya perisitwa negatif, bahwa peristiwa ini tidak bisa dihindari, maka tidak perlu terlalu kecewa atau sedih.

Misal: Saat menghadiri SALE besar2an, ternyata trdpt kondisi (rapat dadakan) yg mengakibatkan datang terlambat, (bakalan tidak kebagian), lalu mengatakan bhw saya tidak akan mendptkan ksmptan itu.

Hal tersbt dilakukan dg meninjau kembali kondisinya dg kemampuan mental mengurangi kemungkinan keberhasilan mencapai apa yg dikehendaki > utk mengurangi kekecewaan.

Dengan menyakinkan diri bhw saya tidak akan mdptkan kesempatan itu. Maka dpt mengurangi kekecewaan dan dpt mengontrol perasaan kita.

b. Menyerah pada Godaan

Mekanisme kognitif lain digunakan utk mengendalikan perasaan. Khususnya utk mengurangi/ menghilangkan perasaan2 negatif dg menyerah pd godaan.

Misalnya: Ketika seseorang sdg merasa sedih atau kecewa, banyak yg melakukan kegiatan yg disadari tidak baik tapi dpt membuat mereka merasa lebih nyaman (sementara), yaitu makan makanan berlemak, tidur-tiduran, menghabisakan waktu dg video games, dll (godaan).

Alasan org melakukannya:

Alasan jaman dulu: Mereka melakukannya krn kesedihan & kekecewaan menurunkan kapasitas/ motivasi utk mengontrol dorongan dlm diri kita melakukan hal2 yg menyenangkan namun tidak baik bagi kita.

Penemuan baru: Org scr sadar memilih utk menyerah pd godaan pd saat mengalami perasaan negatif yg kuat. Hal ini merupakan pilihan strategis. Shg mereka melakukan apapun yg bisa dilakukan utk mengurangi perasaan negatifnya yaitu pada godaan2 yg ada (ngemil, main games, alkohol, menarik diri dll).

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta