Macam-Macam Komunitas

You are here:
< Back

Komunitas (masyarakat setempat).

Komunitas adalah masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (geografis) dengan batas-batas tertentu, dimana faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar diantara anggotanya, dibandingkan dengan interaksi dengan penduduk di luar batas wilayahnya.

Hubungan yang erat dan ikatan solidaritas yang kuat antar anggota masyarakat serta ikatan dengan tanah dimana mereka tinggal, karena menganggap tanah tersebut memberikan kehidupan bagi mereka merupakan ciri komunitas yang dinamakan Community Sentiment (perasaan komunitas).

Perasaan komunitas meliputi unsur: seperasaan (identifikasi, solider, kepentingan sama, selaras dengan kepentingan kelompok), sepenanggungan (sadar akan peran dalam kelompok dan kedududukan yang pasti dalan kelompok) dan saling memerlukan (perasaan tergantung dari anggota kepada komunitas untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikologis).

Komunitas Geografis dan komunitas Fungsional

Satu pertanyaan penting yang berhubungan dengan setiap definisi komunitas adalah apakah komunitas harus berbasis geografis dan didefinisikan dalam pengertian-pengertian dari lokalitas tertentu? Terdapat pembedaan yang penting yang membedakan kedua komunitas tersebut yaitu komunitas geografis didasarkan pada lokalitas dan komunitas fungsional didasarkan pada unsur lain yang dimiliki bersama yang memberikan suatu perasaan identitas. Kedua komunitas tersebut ada dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai peran dan manfaat bagi masyarakat.

Problematika Komunitas Geografis dan Komunitas Fungsional

Dengan kemudahan mobilitas perorangan (mobil, transportasi public) dan teknologi komunikasi (internet, telekonferensi) saat ini telah membuat komunitas fungsional lebih dimungkinkan dibandingkan pada masa lalu, dan banyak orang telah menggantikan komunitas geografis sebagai pengalaman penting dari identitas komunitas. Contoh-contoh komuntas fungsional yang mungkin tidak berbasis lokalitas antara lain: komunitas etnis tertentu di suatu daerah, komunitas akademik, komunitas hukum, komunitas dengan ciri khusus misalnya penyandang cacat.

Berdasarkan perspektif ekologis, dapat dikemukakan bahwa komunitas seharusnya selalu berbasis lokalitas, karena pentingnya keseluruhan ekosistem dan kebutuhan bagi komunitas manusia untuk terintegrasi dengan lingkungan fisik dan lahan.

Argumen lain yang menentang komunitas fungsional adalah bahwa ia cenderung mengkotak-kotakkan populasi manusia ketimbang memadukannya. Sebuah tujuan dari pengembangan masyarakat dan dari layanan berbasis masyarakat adalah untuk mengintegrasikan manusia dalam lingkup suatu konteks komunitas sehiingga mereka dapat berinteraksi dengan sesamanya, saling memelihara dan semua berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Hal ini lebih sulit dicapai jika sebagian kelompok (misalnya mereka yang memiliki latar belakang etnis tertentu, dengan kecacatan atau dengan suatu profesi tertentu atau pekerjaan tertentu) memiliki kesetiaan utama lebih kepada suatu komunitas fungsional ketimbang komunitas geografis, membuat mereka kurang condong untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan berbasis lokal.

Dari perspektif keadilan social dan HAM, akan terdapat sebagian orang yang tidak memungkinkan untuk masuk dalam komunitas fungsional dan menjadi kelompok yang paling dirugikan karena: tidak mempunyai akses transportasi yang mudah, tempat penitipan anak yang terjangkau, tidak mempunyai komunitas funsional untuk dimasukinya. Bahkan ada anggapan bahwa kemunculan komunitas-komunitas fungsional yang berbasis pada pekerjaan atau kegiatan kegiatan waktu luang telah mencegah sebagian orang (terutama laki-laki) untuk menyediakan banyak waktu dalam kegiatan masyarakat local, dengan meninggalkan sebagian yang lain (khususnya perempuan, lanjut usia, penyandang cacat) menanggung beban kehidupan dalam keadaan lokal yang termiskinkan dan kehilangan semangat hidup. Apabila komunitas tersebut dibiayai oleh berbagai masyarakat local maka hal tersebut tidak adil sehingga komunitas geografis yang harus dikembangkan.

Namun demikian terdapat argumentasi bahwa terdapat pengalaman-pengalaman positif yang didapatkan sebagian orang dalam komunitas fungsional dan potensi mereka untuk pemberdayaan. Dengan keadaan struktur komunitas geografis yang lemah, terutama di perkotaan, penting untuk mengakui dan memelihara beberapa komunitas fungsional, paling tidak sampai suatu struktur komunitas geografis yang lebih mampu hidup dan dibentuk. Hal ini terutama penting di mana komunitas fungsional mewakili kelompok-kelompok yang dirugikan atau tertindas, misalnya penduduk pribumi, kelompok penyandang cacat, kelompok imigran yang baru tiba si suatu negara, karena dalam kasus kasus ini, komunitas fungsional dapat merupakan suatu aspek penting dari suatu proses pemberdayaan.

Saat ini berkembang fenomena “komunitas maya” yang mengacu pada interaksi yang dimungkinkan oleh teknologi komunikasi berbasis computer seperti email dan internet. Ini dianggap sebagai puncak dari komunitas fungsional dimana yang dihapuskan bukan hanya ikatan-ikatan lokalitas tetapi juga ikatan ikatan interaksi antar pribadi kecuali melalui layar computer. Bentuk-bentuk komunikasi tersebut dapat sangat bermanfaat untuk membentuk kaitan-kaitan antar komunitas, dan dapat memberikan kesempatan bagi para aktivis dan mereka yang peduli dengan pengembangan masyarakat untuk berjejaring dan membentuk gerakan-gerakan global untuk perubahan.

Catatan Penting:

Menghilangkan tatap muka antarpribadi dari konsep komunitas adalah proses depersonalisasi masyarakat, ia juga menghilangkan gagasan komunitas perasaan (kesadaran) akan tempat atau hubungan dengan lahan dan lingkungan fisik, dan ini dapat menyebabkan berkurangnya kesadaran akan lingkungan dan menyebabkan berkurangnya komitmen pada upaya-upaya menuju lingkungan yang lebih berkelanjutan, dengan konsekuensi-konsekuensi yang berpotensi menimbulkan bencana.

Sumber: Community Development, Jim Ife dan Frank Tesoriero