Komunitas dan Pengembangan Masyarakat

You are here:
< Back

 

Konsep “komunitas” dalam perspektif sosiologi:

George Hillery Jr (1955) Komunitas mencakup: A group, A process, A social system, A geographic place, A consciousness of kind, A totality of attitude, A common lifestyle, The possession of common ends, Local self sufficiency.

A community (Christenson & Robinson Jr, 1989): “people the live within a geographically bounded are who are involved in social interaction and have one or more psychological ties with each other an with the place in which they live”

Empat komponen utama “komunitas”: People, Place or territory, Social interaction,Psychological identification.

“Komunitas” :   “warga setempat (community) yang dapat dibedakan dari masyarakat lebih luas (society) melalui kedalaman perhatian bersama yang mempunyai kebutuhan bersama”

Komunitas adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial tertentu berdasarkan lokalitas, perasaan sewarga, dan solidaritas.

 

Ciri-ciri komunitas:

The essential characteristics of a community (Park, 1936):

  1. A population territorially organized
  2. More or less completely rooted in the soil it occupies
  3. Its individual units living in a relationship of mutual interdependence

 

  • Suatu komunitas pasti mempunyai lokalitas atau tempat tinggal (wilayah) tertentu.
  • Komunitas yang mempunyai tempat tinggal tetap dan permanen, biasanya mempunyai ikatan solidaritas yang kuat sebagai pengaruh kesatuan tempat tinggalnya.
  • Secara garis besar, komunitas berfungsi sebagai ukuran untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan-hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu

Tipe-tipe komunitas:

Berdasarkan ciri-ciri masyarakat agraris terdapat tipologi komunitas agraris, yang secara garis besar dapat dibedakan atas:

 

(1)          Komunitas nelayan (pantai dan pesisir);

(2)          Komunitas petani sawah (dataran rendah); dan

(3)          Komunitas petani peladang atau lahan kering     (dataran tinggi).

Community:

  • Local Society: Struktur dan Kultur
  • Local Ecology: Pola adaptasi ekologi
  • Collective action: Aksi bersama (kelembagaan)

Perbedaan komunitas dan Masyarakat:

Komunitas: kecil, homogen, cultural, solidaritas mekanik, partisipasi-efektif, relative otonom, sedangkan masyarakat: besar, heterogen, structural, solidaritas organic, produktif-efisien, dependen.

 

 

Pengembangan Masyarakat, Komunitas (Community development)

Community development menggambarkan makna yang penting dari dua konsep:  yaitu, community, bermakna kualitas hubungan sosial; dan development, perubahan ke arah kemajuan yang terencana dan bersifat gradual.

“Community development is a movement designed to promote better living for the whole community with the active participation and on the initiative of the community”

CD = mengembangkan atau menaikkan  kualitas hidup suatu masyarakat

CD = “proses swadaya masyarakat digabungkan dengan usaha-usaha  pemerintah setempat guna meningkatkan kondisi masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan kultural, serta untuk mengintegrasikan masyarakat”

Pengembangan masyarakat:

Suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisipasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, dimana semua usaha swadaya masyarakat disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholders lainnya untuk meningkatkan taraf hidup, dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif

Langkah-langkah:

Advokasi: upaya untuk mengubah atau mempengaruhi perilaku penentu kebijaksanaan agar berpihak pada kepentingan publik melalui penyampaian pesan-pesan yang didasarkan pada argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, legal, dan moral. Melalui kegiatan advokasi dilakukan identifikasi dan pelibatkan semua sektor di berbagai level untuk mendukung program.

Pengorganisasian komunitas: Agar masyarakat mempunyai arena untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan atas masalah di sekitarnya.  Bila terorganisir, masyarakat juga akan mampu menemukan sumberdaya yang dapat mereka manfaatkan.  Biasanya, dalam pengembangan masyarakat, dibentuk kelompok kelompok sebagai wadah refleksi dan aksi bersama anggota komunitas.  Pengorganisasian ini bisa dibentuk berjenjang: di tingkat komunitas, antar komunitas di Tingkat desa, antar desa di tingkat kecamatan dan seterusnya sampai ke tingkat nasional bahkan regional.

Pengembangan jaringan: Menjalin kerjasama dengan pihak lain (individu, kelompok, dan atau organisasi) agar bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan. Jaringan dan saling percaya (trust) merupakan salah satu unsur penting dari kapital sosial, sehingga menjadi komponen penting dalam pengembangan masyarakat. Pada komunitas yang mempunyai jaringan yang baik, sumber daya yang ada pada seluruh kompenen komunitas dan komponen lain yang terbangun dalam jaringan akan dapat dimanfaatkan bersama-sama.

Pengembangan kapasitas : Meningkatkan kemampuan masyarakat di segala bidang (termasuk untuk advokasi, mengorganisir diri sendiri, dan mengembangkan jaringan).  Sumpeno,  mengartikan pengembangan kapasitas sebagai peningkatan atau perubahan perilaku individu, organisasi, dan sistem masyarakat dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.  Peningkatan kemampuan individu mencakup perubahan dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan; peningkatan kemampuan kelembagaan meliputi perbaikan organisasi dan manajemen, keuangan, dan budaya organisasi; peningkatan kemampuan masyarakat mencakup kemandirian, keswadayaan, dan kemampuan mengantisipasi perubahan.

Komunikasi, Informasi, Edukasi: Proses pengelolaan informasi, pendidikan masyarakat, dan penyebaran informasi untuk mendukung keempat komponen di atas. Pengelolaan informasi juga menyangkut mencari dan mendokumentasikan informasi agar informasi  selalu tersedia bagi masyarakat yang memerlukannya. Kegiatan edukasi perlu dilakukan agar kemampuan masyarakat dalam segala hal meningkat, sehingga masyarakat  mampu mengatasi masalahnya sendiri setiap saat. Untuk mendukung proses komunikasi, berbagai media komunikasi (modern – tradisional; massa –individu – kelompok) perlu dimanfaatkan dengan kreatif.

Perubahan paradigm dalam pembangunan:

  • Sentralisasi VS Desentralisasi
  • Mobilisasi VS Partisipasi
  • Penaklukan VS Pemberdayaan
  • Eksploitasi VS Pelestarian
  • Hubungan Fungsional VS Jejaring Sosial
  • Nasional VS Teritorial
  • Ekonomi Konvensional VS Keswadayaan Lokal
  • Unsustainable VS Sustainable

 

“Pembangunan Berbasis Masyarakat” (Community Based Development)

Asumsi tentang Masyarakat (Community): Berangkat dari pandangan bahwa masyarakat terbelakang, pengetahuannya rendah, tradisional dan bodoh.Untuk memajukan mereka diperlukan pengetahuan dari luar. Pandangan Baru: Masyarakat dibangun bukan karena mereka bodoh dan tidak mampu, akan tetapi kemampuan yang tersedia dioptimalkan agar mereka berkembang sesuai dengan pengetahuan mereka.Pengetahuan lokal dan teknologi tepat guna sebagai basisi pengembangan mereka.

Konsekuensi Perencanaan: Perencanaan bersifat top down dan sentralitas Direncanakan oleh tenaga ahli atau akademisi tanpa mempertimbangkan apa yang dimiliki masyarakat Lebih mengutamakan perencanaan untuk pertumbuhan ekonomi. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemajuan masyarakat diukur menurut kemajuan ekonomi semata. Pandangan Baru: Lebih menekankan pada aspek lokalitas Perencanaan dilakukan secara otonomi, berdasarkan potensi lokalitas dengan menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan. Pemikiran otonomi lebih ditekankan dalam perencanaan kegiatan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

Konsekuensi Perlakuan terhadap Masyarakat: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pihak yang dilayani masyarakat karena mereka dianggap telah berbuat banyak untuk kepentingan masyarakat.Pandangan Baru: Menempatkan birokrat ataupun tenaga ahli dari luar sebagai pengatur kepentingan masyarakat dan sebagai aktor yang melakukan fungsi pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.

Implikasi bagi Kehidupan Sosial: Menjadikan masyarakat sangat bergantung kepada pemerintah

Memendam konflik semu yang setiap saat bisa menjadi ledakan konflik kepentingan. Pandangan Baru: Sejak awal mengakomodasi daya kritis masyarakat Masyarakat mampu menolak jika terjadi tekanan atau eksploitasi dari luar yang tidak menguntungkan mereka.

Sumber: Bagian Sosiologi dan Pengembangan Masyarakat, FEMA IPB