Perilaku pro-sosial

You are here:
< Back

Perilaku pro-sosial adalah tindakan yang dimaksudkan untuk membantu orang lain. Salah satu motivasi munculnya perilaku pro-sosial adalah altruisme, atau keinginan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Dalam kesempatan ini, kita mengeksplorasi perilaku pro-sosial dan unsur-unsur yang telah diidentifikasi oleh para psikolog sosial sebagai prediktornya.

Memprediksi Perilaku Pro-sosial

Dalam kisah The Good Samaritan, seorang pria dirampok, dipukuli dan dibiarkan mati di pinggir jalan ketika sedang berjalan menyusuri jalan pedesaan. Dua orang religius lewat, dan keduanya meninggalkan pria itu mati di pinggir jalan. Kemudian, seorang pria dari kelompok yang membenci kelompok pria yang dipukuli itu lewat, dan dia berhenti untuk membantu.

Apa yang membuat beberapa orang membantu dan beberapa orang lainnya tidak? Mengapa dua pria yang baik lewat tanpa membantu, sementara seorang pria yang seharusnya membenci korban tersebut berhenti untuk membantu? Para psikolog sosial mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Mereka mempelajari, di antaranya, perilaku pro-sosial, atau segala perilaku yang dimaksudkan untuk membantu orang lain.

Ketika motivasi untuk berperilaku pro-sosial adalah untuk membantu orang lain tanpa memikirkan imbalan yang mungkin akan Anda dapatkan, hal itu disebut altruisme. Perhatikan perbedaan dalam dua hal ini: perilaku pro-sosial tindakan pertolongan yang diambil seseorang, sementara altruisme merupakan salah satu kemungkinan motivasi untuk tindakan tersebut. Ada banyak hal yang memprediksi apakah seseorang akan membantu orang lain. Di antara teori-teori yang paling umum adalah seleksi keluarga, norma timbal balik, hipotesis empati-altruisme, dan ciri-ciri kepribadian altruistik.

Seleksi Keluarga

Seleksi keluarga merupakan konsep evolusi yang percaya bahwa orang akan membantu orang lain yang terkait dengan mereka, bahkan dengan risiko untuk diri mereka sendiri. Beberapa penelitian psikologis menunjukkan bahwa orang merasa lebih protektif dan terhubung dengan orang yang terkait dengan mereka – makin dekat hubungan tersebut, makin kuat perasaan itu. Artinya, Anda akan ingin membantu saudara Anda melebihi keinginan Anda untuk membantu sepupu Anda, dengan menganggap semua hal lainnya sama.

Tapi mengapa orang ingin membantu orang-orang yang berhubungan dengan mereka lebih dari orang lain? Menurut teori evolusi, hal ini karena kita ingin gen kita bertahan untuk generasi mendatang. Anda ingin membantu keluarga Anda karena mereka memiliki beberapa gen yang sama dengan Anda, dan karena itu, gen Anda akan diteruskan melalui anak-anak mereka serta melalui anak-anak Anda. Dan, Anda akan memilih orang-orang yang paling erat kaitannya dengan Anda karena mereka berbagi gen Anda lebih banyak.

Norma Timbal Balik

Apakah Anda pernah diberi hadiah oleh seseorang, dan kemudian Anda merasa seperti Anda harus membalasnya? Norma Timbal-balik adalah suatu cara untuk mengatakan bahwa jika Anda memberi saya sesuatu, saya akan memberikan sesuatu kepada Anda sebagai balasannya. Bagaimana hal ini berkaitan dengan perilaku pro-sosial? Jawabannya mudah. Jika saya melihat bahwa Anda butuh bantuan, saya dapat membantu Anda karena saya tahu di kemudian hari bahwa Anda akan mau membantu saya. Saya mungkin mendapatkan sesuatu dari Anda segera, atau Anda mungkin tidak membalas saya untuk waktu yang lama, sampai saya mendatangi Anda dan meminta bantuan. Namun yang manapun itu, norma timbal balik adalah salah satu alasan mengapa orang-orang membantu orang lain.

Empati – Altruisme

Teori lain yang menjelaskan mengapa orang membantu orang lain disebut hipotesis empati-altruisme, yang menyatakan bahwa orang lebih cenderung untuk membantu orang lain jika mereka merasakan empati bagi mereka. Sebagai contoh, jika saya melihat Anda berjuang mengganti ban yang kempes di tengah hujan, saya mungkin membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi itu. Dengan membayangkan apa yang Anda rasakan, saya ingin membantu Anda. Dengan demikian, empati menyebabkan altruisme.

Menurut hipotesis empati-altruisme, kita paling mungkin membantu jika kita merasa sangat berempati dan situasi tersebut sulit untuk dilupakan. Jika, misalnya, saya bisa dengan mudah melupakan bahwa Anda terjebak dalam hujan dengan ban kempes, maka saya lebih cenderung untuk tetap mengemudi. Tapi jika saya merasa sangat berempati dan penderitaan Anda sulit untuk dilupakan, maka saya lebih cenderung untuk berhenti dan membantu.

Kepribadian Altruistik

Ada sebuah teori akhir mengenai hal yang memprediksi apakah orang akan membantu orang lain atau tidak, dan itu adalah ide bahwa ada tipe kepribadian tertentu yang paling mungkin untuk menghasilkan perilaku yang terdorong oleh sifat altruisme. Tipe kepribadian altruistik ini sering diukur dengan meminta orang-orang untuk mengisi kuisioner yang menanyakan tentang seberapa sering mereka telah membantu orang lain. Hasil kuisioner tersebut dimaksudkan untuk menentukan berapa besar kepribadian altruistik yang mereka miliki, dan karena itu, seberapa besar kemungkinan mereka untuk terlibat dalam perilaku pro-sosial.

Ada beberapa kritik terhadap skala kepribadian altruistik, meskipun demikian. Ini melibatkan orang-orang untuk menjawab pertanyaan tentang perilaku mereka, dan siapa yang mengatakan bahwa orang-orang selalu mengatakan yang sebenarnya? Saya mungkin berbohong saat mengisi kuesioner tersebut untuk membuat diri saya terlihat lebih baik, dan karena itu, saya mungkin menghasilkan skor yang lebih tinggi daripada yang benar-benar layak untuk saya dapatkan. Tapi secara umum, diyakini bahwa altruisme adalah sifat kepribadian, terlepas dari apakah itu dapat diukur secara akurat atau tidak.

Ringkasan

Perilaku pro-sosial adalah tindakan yang dimaksudkan untuk membantu orang lain. Salah satu motivasi perilaku pro-sosial adalah altruisme, atau keinginan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Psikolog memiliki beberapa teori untuk memprediksi perilaku pro-sosial: Teori evolusi seleksi keluarga; gagasan bahwa jika saya membantu Anda, Anda akan membantu saya, yang disebut norma timbal balik; hipotesis empati-altruisme, yang menyatakan bahwa orang lebih cenderung untuk membantu jika mereka merasakan empati; dan gagasan bahwa beberapa orang memiliki tipe kepribadian altruistik.