Persepsi

You are here:
< Back

Definisi menurut Toha (1983):

Persepsi merupakan pemahaman individu terhadap informasi dari lingkungan yang diperoleh melalui proses kognitif, yang didapatkan melalui penginderaan, yaitu pandangan, penciuman, dan perasaan thd suatu objek yg kemudian ditafsirkan (Riggio, 1990).

Baron & Byrne (2004):

Persepsi sosial adalah suatu proses yang kita gunakan untuk mencoba memahami orang lain.

Garis Besar Pembahasan Persepsi Sosial

  • Komunikasi Non-verbal
  • Atribusi Perilaku
  • Pembentukan kesan & manajemen kesan

Perilaku sosial  sangat dipengaruhi oleh faktor2 temporer (bersifat sementara): perubahan mood, emosi, kelelahan (fatigue), penyakit & obat2an atau kondisi fisik yang kurang baik.

Komunikasi Non-Verbal

Komunikasi Non-verbal adalah komunikasi antar individu yang melibatkan bahasa non-lisan dari ekspresi wajah, kontak mata, gerak tubuh, dan postur. Misalnya:

  • Orang lebih bersedia menolong orang lain saat perasaan hatinya sedang baik, daripada saat perasaannya tidak baik.
  • Orang cenderung lebih mudah kehilangan kendali dirinya dan melampiaskan kemarahannya pada orang lain saat perasaannya terluka, daripada saat perasaannya bahagia.

Petunjuk Non-verbal

Strategi mencari tahu perasaan orang lain dengan bertanya, bukan suatu yang mudah > solusinya dg memperhatikan petunjuk non-verbal.

Petunjuk  non-verbal adalah suatu strategi untuk memperoleh informasi tentang reaksi orang lain secara tidak langsung. Petunjuk non-verbal meliputi: ekspresi wajah, kontak mata, gerak tubuh, dan tingkah laku ekspresif lainnya (De Paulo, 1992).

Perilaku  non-verbal relatif tidak bisa dikekang/ dikontrol. Misal, saat orang mencoba menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya, perilaku itu tetap tampil melalui ekspresi non-verbal.

Petunjuk non-verbal dapat digunakan untuk membongkar pengecohan (deception)/ pengalihan.

Harus dilakukan dg hati2, karena ada penularan emosional (emotional contagion): mekanisme mentransfer  perasaan secara otomatis dari seseorang ke orang lain.

Saluran-saluran Dasar

Manusia cenderung menampilkan perilaku yg berbeda-beda di berbagai keadaan emosional.

Terdapat lima (5) saluran dasar mengenai informasi kondisi psikologis kita:

  • Ekspresi wajah
  • Kontak mata
  • Gerak tubuh
  • Postur
  • Sentuhan

Ekspresi Wajah & Emosi

“Wajah adalah gambaran jiwa” (Cicerio: orator Roma). Emosi & perasaan manusia sering kali tercermin dari wajah & dapat terbaca dari ekspresi tertentu.

Terdapat enam (6) ekspresi dasar maunisa yang terlihat jelas, yaitu:

  • Marah
  • Takut
  • Bahagia
  • Sedih
  • Terkejut
  • Jijik

Apakah ekspresi wajah bersifat universal?

Berdasarkan Ekman & Friesen (1975), ekspresi wajah cenderung bersifat universal dlm berbagai tempat & budaya yang berbeda. Misal, senyum karena bahagia, kening berkerut karena marah.

Penelitian lanjutan: Ekspresi wajah sangat tergantung konteks & situasi. Kesimpulan: ekspresi wajah tidak secara penuh berlaku universal di seluruh dunia.

Kontak Mata

“Mata sebagai jendela hati”. Orang sering kali mempelajari perasaan orang lain melalui ekspresi mata.

Tatapan mata memberikan tanda2 apakah seseorang tersebut ramah atau tidak. Misal:

  • Mata melotot menandakan marah
  • Tatapan redup menandakan persahabatan
  • Kesediaan menatap lawan bicara indikasi bersedia diajak berteman.

Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh: petunjuk yg berasal dari posisi, postur dan gerakan tubuh orang atau bagian-bagian tubuhnya.

Bahasa tubuh juga representasi dari keadaan emosi. Gerakan-gerakan tertentu merupakan ekspresi dari emosi, seperti  sentuhan, garukan, gesekan/ gosokkan. Makin tinggi frekuensi perilaku tersebut dilakukan, maka semakin tinggi dorongan emosi yang dirasakan.

Sentuhan

Interpretasi  dari sebuah sentuhan tergantung dari beberapa faktor, misalnya:

  1. Siapa yang melakukan sentuhan (teman, orang asing, sejenis).
  2. Sifat sentuhan (singkat-lama, halus-kasar, objek sentuhan)
  3. Konteks sentuhan (bisnis, sosial, politik)
  • Arti sentuhan bisa: afeksi/ perasaan, minat seksual, dominasi, perhatian atau agresi.
  • Hanya sentuhan yang dinilai tepat yang akan menghasilkan reaksi positif.

Mengenali Pengecoh

Manusia sering kali berbohong utk memperbesar keuntungan, mempengaruhi orang lain atau menyembunyikan motif. Ketika berbohong sering kali terjadi perubahan yang halus pada ekspresi wajah, postur tubuh, gerakan atau aspek lain (nada suara).

Terdapat beberapa petunjuk untuk mendeteksi pengecohan:

  • Perubahan ekspresi mikro
  • Ketidaksesuaian antar saluran
  • Aspek non-verbal ucapan
  • Kontak mata
  • Ekspresi wajah berlebihan

a. Perubahan ekspresi mikro

Perubahan ekspresi wajah yang berlangsung hanya sepersekian detik.

Reaksi ini muncul di wajah segera setelah hadirnya kondisi emosi tertentu yang sulit disembunyikan. Sehingga dpt digunakan sebagai indikator penting dalam menilai perasaan/ emosi seseorang.

Misal: Seseorang ditanya suka tentang sesuatu atau tidak? > mengerutkan kening lalu diikuti dengan senyuman > ada indikasi kebohongan.

b. Ketidak-sesuaian antar saluran

Bentuk ketidaksesuaian antar petunjuk non-verbal dr berbagai saluran komunikasi yang berbeda, di mana seseorang kesulitan mengontrol semua saluran pada saat yg bersamaan sekaligus.

Misal: Saat berbohong, seseorang bisa mengontrol mimik mukanya, namun sulit untuk menatap orang yang dibohongi.

c. Aspek non-verbal ucapan

Orang yang berbohong biasanya nada suaranya kerap meninggi, cara bicara cenderung ragu dan sering salah ucap (Stone & Lassiter, 1985).

d. Kontak Mata

Orang berbohong mengedipkan mata lebih sering, disertai pupil mata yang melebar, kesulitan mempertahankan kontak mata.

Meskipun ada, justru menatap secara terus menerus pada mata orang lain yg sedang dibohongi (Kleinke, 1996).

e. Eksprsi wajah yg berlebihan

Orang yang berbohong biasanya menunjukkan ekspresi wajah yang berlebihan, seperti senyum yang lebar dari biasanya, atau kesedihan yang berlebihan.

Misal: seseorang mengatakan “tidak” saat kita minta pertolongan dan menampilkan penyesalan yang luar biasa > menandakan alasan yg diberikan bisa jadi tidak sepenuhnya jujur.

Faktor Kognitif dlm Mendeteksi Pengecohan

  • Semakin kuat motivasi utk mendeteksi pengecohan, kita cenderung semakin memperhatikan (memfokuskan) pada kata-kata yang diucapkan.
  • Padahal petunjuk yang paling bermanfaat adalah penanda non-verbalnya.
  • Hal ini terjadi karena keterbatasan kapasitas kognitif kita dalam memproses informasi.
  • Orang lebih mampu mendeteksi kebohongan dari latar belakang budaya yang sama. Walaupun tetap mampu mendeteksi kebohongan dari latar belakang budaya yang berbeda.

Parfum Petunjuk Non-verbal yg Kian Pudar

Memakai parfum tertentu merupakan salah satu cara dlm mengirimkan pesan non-verbal pd orang lain. Pesan yg dikirimkan > saya sensitif, saya romantis, saya misterius.

Namun pada saat ini ada pengurangan konsumsi parfum, diakibatkan:

  • Lebih suka parfum yg ringan aromanya
  • Menyesuaikan tempat
  • Cara busana yg lebih simplel

Sumber: materi kuliah Psikologi Sosial oleh Sowanya AP, MA. Universitas Mercu Buana Yogyakarta