Personologi Henry Murray

You are here:
< Back

Hakikat kepribadian beserta pemerolehan-pemerolehan dan pencapaian-pencapaiannya menempati porsi besar dalam teori Henry Murray. Pandangan-pandangannya tentang struktur kepribadian sangat dipengaruhi oleh teori psikoanalitik, meski dalam banyak hal berbeda secara mencolok dari pandangan Freudian ortodoka. Murray agak hati-hati memakai kata “struktur” karena konotasinya dengan sifat tetap, teratur, dan tunduk pada suatu hukum. Ia berpendapat bahwa kepribadian biasanya berada dalam keadaan yang terus berubah. Di sini kita akan membicarakan definisi Murray tentang kepribadian dan konsep-konsep yang telah dikembangkannya dalam usaha menjelaskan hakikat kepribadian.

Definisi Kepribadian

Meski Murray telah mengemukakan banyak definisi tentang kepribadian pada kesempatan yang berbeda-beda, namun komponen-komponen yang penting dari definisi-definisi ini dapat diringkaskan sebagai berikut:

  • Kepribadian individu adalah abstraksi yang dirumuskan oleh teoretikus dan bukan merupakan gambaran tentang tingkah laku individu belaka.
  • Kepribadian individu adalah rangkaian peristiwa yang secara ideal mencakup seluruh rentang hidup sang pribadi. “Sejarah kepribadian adalah kepribadian itu sendiri.”
  • Definisi kepribadian harus mencerminkan baik unsur-unsur tingkah laku yang bersifat menetap dan berulang maupun unsur-unsur yang baru dan unik.
  • Kepribadian adalah fungsi yang menata atau mengarahkan dalam diri individu. Tugas-tugasnya meliputi mengintegrasikan konflik-konflik dan rintangan-rintangan yang dihadapi individu, memuaskan kebutuhan-kebutuhan individu dan menyusun rencana-rencana untuk mencapai tujuan-tujuan di masa mendatang.
  • Kepribadian terletak di otak. “Tanpa otak, tidak ada kepribadian.”

Jadi, cara Murray merumuskan kepribadian menunjukkan bahwa ia sangat berorientasi pada pandangan yang memberi bobot memadai pada sejarah organisme, fungsi kepribadian yang bersifat mengatur, ciri-ciri berulang dan baru pada tingkah laku individu, hakikat kepribadian yang abstrak atau konseptual, dan proses-proses fisiologis yang mendasari proses-proses psikologis.

“Proceeding” dan Serial

Data pokok seorang psikolog adalah “proceeding”, yakni interaksi antara subjek dan objek, atau antara subjek dan subjek, dalam jangka waktu cukup lama sehingga mencakup unsur-unsur penting dalam suatu sekuens tingkah-laku tertentu. Meminjam kata-kata Murray:

… proceeding adalah hal-hal yang kita amati, dan yang kita coba menggambarkannya dengan model-model, dan menjelaskannya haL hal yang kita coba meramalkannya, fakta-fakta dengan mana kita menguji kejituan perumusan-perumusan kita (Murray, 1951b, hlm,269-270).

Meski dalam keadaan-keadaan tertentu kita bisa merumuskan proceeding dengan tepat, misalnya, suatu respon verbal berikut jawabannya, namun biasanya kita hanya bisa memberikan definisi yang sangat umum. Dalam konteks demikian Murray menyatakan bahwa “Secara ideal lamanya suatu proceeding ditentukan oleh (1) permulaan, dan (2) penyelesaian, suatu pola tingkah laku yang secara dinamis penting….” (Murray, 1951b, hlm. 269).

Konsepsi bahwa satuan dasar bagi seorang psikolog berupa proceeding ini mencerminkan keyakinan Murray bahwa tingkah laku tidak mungkin terlepas dari dimensi waktu. Jadi proceeding merupakan kompromi antara keterbatasan praktis yang ditentukan oleh kepandaian dan teknik peneliti dan fakta empiris bahwa tingkah laku berada dalam dimensi waktu. Murray mengemukakan bahwa proceeding dapat digolongkan menurut apakah sifatnya internal (melamun, memecahkan masalah, menyusun rencana dalam keheningan) atau eksternal (berinteraksi dengan orang-orang atau objek-objek dalam lingkungan). Proceeding eksternal memiliki dua aspek: aspek pengalaman subj ektif dan aspek tingkah laku objektif.

Ditinjau dari berbagai segi, penggambaran tingkah laku menurut proceeding adalah sungguh-sungguh memadai. Akan tetapi dalam keadaan tertentu perlu menempatkan tingkah laku yang berlangsung dalam periode yang lebih lama dalam satu kesatuan atau perumusan. Satuan tingkah laku fungsional yang lebih panjang ini disebut serial.

.. urutan proceeding yang terputus-putus namun terorganisasi secara terarah bisa disebut serial. Jadi suatu serial (misalnya persahabatan, perkawinan, karier di bidang bisnis) merupakan satuan fungsional yang relatif panjang yang hanya dapat dirumuskan secara kasar. Orang harus membuat catatan-catatan tentang proceeding-proceeding yang penting sepanjang perjalanannya dan memperhatikan indeks-indeks perkembangan, berupa perubahanperubahan disposisi, bertambahnya pengetahuan, bertambahnya kemampuan, peningkatan kualitas pekerjaan yang berhasil diselesaikan, dan sebagainya. Tidak satu pun proceeding dalam serial dapat dipahami terlepas dari proceeding-proceeding lain yang mendahuluinya serta tujuan-tujuan dan harapan-harapan si pelaku, cita-citanya di masa depan (Murray, 1951b, hlm. 272).

Jadi, penggambaran tingkah laku dalam bentuk serial-serial menjadi perlu karena proceeding-proceeding tertentu begitu erat berhubungan satu sama lain sehingga tidak mungkin menelitinya secara sendiri-sendiri tanpa merusakkan artinya secara keseluruhan.

Program Serial dan Jadwal

Fungsi yang sangat penting bagi individu dilayani oleh program-program serial, yakni penyusunan secara teratur atas sub-sub tujuan yang merentang ke arah masa depan mungkin sampai jangka waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan yang, jika berlangsung dengan baik, akhirnya akan mencapai suatu keadaan akhir yang diinginkan. Jadi, individu mencitacitakan tujuan untuk menjadi dokter tetapi di antara situasi sekarang dan tujuan ini terbentang tahun-tahun belajar dan pendidikan khusus. Apabila ia mengembangkan serangkaian subtujuan, yang masing-masing mempunyai peranan makin mendekatkan orang yang bersangkutan pada titel dokter, maka ini bisa disebut suatu program serial.

Sama juga pentingnya adalah jadwal-jadwal yang merupakan sarana-sarana untuk mereduksikan konflik di antara kebutuhan-kebutuhan dan objek-objek tujuan yang saling bersaing dengan cara mengatur penyaluran kecenderungan-kecenderungan ini pada waktu yang berbeda-beda. Dengan bantuan jadwal, individu akan dapat menyalurkan secara maksimal berbagai tujuannya. Apabila orang mampu menyusun jadwal-jadwal secara efisien, maka ia akan dapat mengurangi kuantitas dan intensitas konflik-konfliknya secara mencolok.

Terakhir Murray memasukkan program-program serial dan jadwal-jadwal ke dalam istilah ordinasi, yang mencakup proses membuat perencanaan maupun hasil proses tersebut yakni program atau jadwal yang tersusun. Menurut pandangan-padangan terakhir Murray, ordinasi merupakan proses jiwa tinggi setingkat dengan kognisi atau pemahaman. Tujuan kognisi ialah pemahaman konseptual yang menyeluruh tentang lingkungan, tetapi begitu situasi eksternal telah cukup dipahami, maka proses ordinasi tampil untuk mengatur penentuan kebijakan dan perencanaan strategi serta taktik-taktik.

Abilitas dan Prestasi

Berbeda dengan banyak psikolog kepribadian, secara konsisten Murray menaruh minat pada abilitas dan prestasi serta memandang kualitas-kualitas ini sebagai bagian kepribadian yang penting. Komponen-komponen individu ini menjalankan fungsi Sentral menjembatani disposisi-disposisi dengan tindakan serta basil-basil ke arah mana disposisi-disposisi ini ditujukan. Praktis dalam semua penelitian kepribadiannya subjek-subjeknya dikenai pemeriksaan mengenai berbagai bidang abilitas dan prestasi: fisik, mekanik, kepemimpinan, sosial, ekonomi, erotik dan intelektual.

Prinsip Kepribadian

  1. Prinsip regnancy

Proses psikologis bergantung kepada proses fisologis. Henry Murray memberikan pernyataan “No brain, no personality” yang artinya “tanpa otak, tidak akan ada kepribadian”. Murray menekankan adanya hubungan penting antara proses psikologis dengan struktur dan fungsi otak. Otak memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian. Adapun peran otak dalam pembentukan kepribadian adalah kesadaran, keyakinan, ketakutan, perasaan, daya ingat, sikap, nilai – nilai,dan aspek – aspek yang lainnya.

  1. Prinsip mencakup semua hal

Disebut juga dengan istilah “all embracing principle”. Kepribadian merupakan konsep yang dapat menjelaskan semua fenomena tingkah laku seseorang. Kepribadian individu dapat dikatakan sebagai rangkaian peristiwa yang mencakup seluruh rentang kehidupan hidup individu.

  1. Organisasi longitudinal

Kepribadian selalu berkembang dan dibentuk oleh semua kejadian yang dialami seumur hidup. Murray beranggapan bahwa kepribadian mempunyai fungsi sebagai pusat yang mengorganisir dan mengatur proses dalam diri individu. Proses ini meliputi mengintegasikan berbagai konflik atau rintangan yang dihadapi oleh individu, memuaskan kebutuhan – kebutuhan individu, menyusun rencana untuk mencapai tujuan – tujuan di masa yang akan datang.

  1. Prinsip Motivasi

Berdasar pada perbuatan manusia dalam usaha yang berkelanjutan untuk mengurangi ketegangan-ketegangan dalam khidupannya yang disebabkan oleh kebutuhan yang dirasakannya dari dalam dan tanpa tekanan masyarakat. Penggabungan dari kebutuhan dan tekanan ini benar-benar lebih menentukan status quo: ini juga menciptakan area tegangan yang baru untuk dikurangi, jadi bahwa manusia lebih maju dalam tujuan-tujuan yang membangun dibandingkan dengan hanya menyimpan tujuan-tujuan tersebut. Berbagai metode dimana manusia menangani kebutuhan atau memsubsisi mereka menjadi struktur yang berurutan. Kebutuhan mungkin mempunyai karakteristik tersendiri seperti primer, sekunder, asli dari dalam atau dibawa ke dalam suatu kepribadian sosial, secara terbuka diungkapkan dengan jelas atau dengan ungkapan yang tersembunyi, diarahkan melalui satu objek atau melalui banyak objek. Akhirnya kebutuhan mungkin dihadapkan pada tujuan mendesak (efek) atau sepenuhnya untuk kenyamanan proses dalam aktifitas tanpa tujuan (modal). Baru-baru ini Murray telah mencoba untuk mengklarifikasi kebutuhan ke dalam vector (bagaimana kamu melakukannya) dan nilai (mengapa kamu melakukannya).

  1. Prinsip Proses Psikologi

Sepadan dengan prinsip regnancy, tetapi dengan penekanan tambahan bahwa manusia adalah makhluk organic yang pertama dan terpenting.

  1. Prinsip Abstrak

Murray mendekati neo-Freudians dalam penerimaan id, ego dan struktur super ego seperti yang diperkenalkan Freud, tetapi dengan berbagai penyimpangan penting dari persamaan dirinya dengan semua pengikut neo-Freudians. Murray diyakinkan bahwa semua tingkah laku adalah fenomena yang nampak.

 

  1. Prinsip Keunikan

Dilambangkan dengan ungkapan “tidak ada manusia yang sama dengan orang lain dalam beberapa hal, dan sama dengan orang lain dalam beberapa hal juga. Tiap orang unik

  1. Prinsip Konsep Peran

Salah satu penggabungan baru Murray dalam teori kepribadian. Mungkin dipengaruhi oleh usahanya dengan Kluckhon. Diilustrasikan oleh garis oft-quoted dari Shakespeare “seperti kesukaanmu, seluruh dunia adalah panggung/ dan hanpir seluruh pria dan wanita adalah pemainnya/ mereka mempunyai keberadaannya dan jalan masuknya/ dan satu pria pada waktunya akan memainkan banyak peran.

Proses Kepribadian

Murray rnerumuskan kepribadian yang menunjukkan bahwa ia sangat berorientasi pada pandangan yang memberi bobot memadai pada sejarah organisme, fungsi kepribadian yang bersifat mengatur, ciri-ciri berulang dan baru pada tingkah laku individu, hakikat kepribadian yang abstrak atau konseptual, dan proses-proses fisiologis yang mendasari proses-proses psikologis.

Enduring Aspect of Personality

Murray melihat kepribadian ada dalam perubahan yang terus-menerus. Sekalipun kita memandang pribadi sebagai gejala yang selalu berubah, namun masih tetap ada stabilitas-stabilitas atau struktur-struktur tertentu yang lambat laun muncul dan yang sangat penting untuk memahami tingkah laku. Oleh sebabnya, seperti sebagaian ahli teori lain, Murray secara khusus peduli pada aspek dinamis keaktifan kepribadian dan konsepnya akan “kebutuhan” dan “tekanan”. konsep-konsep ini, walaupun secara esensial dinamis, benar-benar memiliki stabilitas yang tinggi sepanjang waktu.

Murray setuju dengan Freud yang memandang id sebagai gudang impuls-impuls yang bersifat primitif dan tak dapat diterima. Di sinilah letak sumber energi, sumber segala motif yang dibawa sejak lahir, diri yang buta dan belum beradab. Lebih dari itu, Murray berpendapat bahwa id juga berisi impuls-impuls yang dapat diterima oleh diri maupun masyarakat. Id berisi impuls-impuls ke arah yang baik dan yang jahat, selain itu kekuatan kecenderungan-kecenderungan ini berbeda-beda antara individu yang satu dan yang lain. Jadi, tugas yang dihadapi individu-individu dalam mengontrol atau mengarahkan kecenderungan-kecenderungan id mereka berlainan taraf kesulitannya.

Untuk menggambarkan struktur-struktur mental ini, Murray mungkin lebih cenderung dengan sebuah pandangan struktural akan kepribadian dalam konsep id, ego, superego dan ego idealnya, yang telah dia pinjam dari teori psikoanalisis dan yang banyak dia gunakan sebagaimana Freud. Tetapi juga mengemukakan unsur-unsur khas dalam mengembangkan konsep-konsepnya ini. Kendatipun demikian, formulasinya sendiri akan tingkah laku, program, rangkaian program, bagan-bagan, kemampuan dan prestasi unik pada sistem pemikirannya dan kita akan mengeksplor fenomena terakhir ini kemudian.

Pembentukan kepribadian sekalipun dipandang pribadi sebagai gejala yang selalu berubah, namun masih tetap ada stabilitas-stabilitas atau struktur-strktur tertentu yang lambat laun muncul dan sangat penting untuk memahami perilaku.

Misalnya perilaku seseorang menuju dewasa dapat berubah-ubah seiring berkembangnya pengetahun dalam diri individu, namun meski tingkah laku berubah, ketika dewasa tingkah laku tersebut bagaikan struktur yang saling menyatu membentuk suatu kepribadian. Maka tidak dipungkiri apabila proses-proses kepribadian yang ada berkaitan dengan tahapan perkembangan.

Id

Murray telah setuju dengan Freud yang memandang id sebagai gudang implus-implus yang bersifat primitif dan tak dapat diterima. Namun disinilah letak sumber energi, sumber segala motif yang dibawa sejak lahir, diri yang buta dan belum beradab. Lebih dari itu, Murray berpendapat bahwa id juga berisi impuls-impuls yang dapat diterima oleh diri maupun masyarakat. Id berisi impuls-impuls yang baik dan jahat, seperti dorongan untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai norma dan dorongan untuk berbuat baik seperti menjunjung tinggi nilai-nilai dalam masyarakat.

Secara sederhananya, Id merupakan dorongan atau kehendak diri yang mutlak untuk dituruti, entah itu tindakan buruk maupun tindakan yang menjunjung nilai kemasyarakatan. Ketika Id bertindak hasrat tersebut tidak bisa dikendalikan, Id tidak akan peduli realita apa pun untuk meurutihasrat tersebut. Semakin kuat Id maka apa pun jalan akan ditempuh demi terpenuhinya hasrat tersebut. Ketika hasrat mampu tertunaikan berarti Id telah membentuh sistem pertahanan kepribadian yang tidak dapat dikompromikan. Dengan begitu seseorang dapat melakukan kecendurungan-kecenderungan dari hasrat tersebut.

Kecenderungan tersebut tidak berlaku sama tiap individu, dengan kata lain bahwa tiap individu memiliki kecenderungan baik dan buruk yang berbeda-beda, inilah mengapa tiap individu disebut unik.

Berbedanya kecenderungan membuat tugas yang dihadapi individu dalam mengontrol atau mengarahkan kecenderungan-kecenderungan id mereka berlainan taraf kesulitannya. Misalnya ada orang yang mudah berbuat baik, dan ada yang mudah berbuat jahat.

Ego

Selanjutnya ego bukan semata-mata merupakan penghambat dan penindas. Ego tidak hanya harus menahan atau menekan impuls-impuls atau motif-motif tertentu dari Id tapi yang lebih penting ia harus mengatur, menjadwal dan mengontrol cara-cara menyalurkan motif yang lain. Ego menegaskan hasrat yang muncul pada realita yang ada.

Ego sejalan dengan teori psikoanalisis dipandang sebagai organisator atau integrator sentral tingkah laku, maksudnya terpenuhi atau tidaknya keputusan tersebut sentral di bawah kendali ego, di mana ego akan mempertimbangkan keputusan dengan kenyataan keadaan yang sebenarnya, sehingga ego disebut sebagai integrator sentral perilaku. Keputusan ditindak lanjuti tidaknya suatu hasrat atau terpenuhi tidaknya akan diintegrasi pada realita, misalnya seseorang lapar butuh makan tapi realitanya ia tidak memiliki makanan atau pun uang. Di sinilah ego sebagai integrator akan berperan, bahwa hasrat ingin makan disadarkan pada realita tidak memiliki uang, sehingga hasrat tersebut akan menuai pertimbangan keputusan lainnya.

Akan tetapi sebagian dari organisasi ini bertujuan untuk memudahkan atau meningkatkan; penyaluran impuls-impuls tertentu dari id. Organsasi ini maksudnya untuk pemetaan hasrat mana yang sesuai realita dan mana yang tidak, sehingga keputusan berikutnya akan mudah menjadi pertimbangan. Kekuatan dan keberhasilan ego merupakan faktor penentu penting bagi penyesuaian diri individu, sebab diterima tidaknya suatu sikap individu dalam masyarakat tergantung sikapnya dalam pemenuhan hasrat, apaah sejalan dengan norma/nilai yang berlaku, atau justru bertentangan.

Superego

Superego dalam teori Murray, seperti dalam teori Freud, dipandang sebagai hasil penanaman kebudayaan. Superego merupakan subsistem yang diinternalisasikan dan dalam individu bertindak sebagai pengatur tingkah laku persis seperti yang pernah dilakukan oleh pelaku-pelaku yang berada di luar individu. Pelaku-pelaku ini khususnya orang tua, tetapi juga kawan-kawan sebaya, guru, tokoh-tokoh populer, dan tokoh-tokoh khayalan bertindak sebagai wakil-wakil kebudayaan sehingga penginternalisasian preskripsi-preskripsi mereka merupakan gerak ke arah penginternalisasian preskripsi-prskripsi budaya atau juga persoalan iman individu.

Misalnya seorang individu yang merasa lapar dan hasrat untuk makannya sangat kuat, namun realitanya tidak memiliki makanan dan uang, ia berpikir untuk mencuri demi memenuhi hasrat tersebut. Namun superegonya menginternalisasi pikiran tersebut dengan cara mengingatkan pada hal-hal yang memang tidak baik dan dilarang oleh agama. Atau individu lain sebagai percontohan tidak pernah melakukan tindakan tersebut, maka kemungkinan tindakan mencuri urung dilakukan, dan memilih tindakan lain yang dapat diterima oleh masyarakan dan sesuai dengan percontohan.

Inilah hal yang mengungkapkan peran role mode atau tokoh idola, seseorang yang megidolakan tokoh yang berkarisma akan membawa individu untuk berperilaku yang dapat menguatkan karismanya. Sebaliknya tokoh yang dijadikan role mode adalah pelaku anarkisme maka besar kemungkinan individu yang mengidolakannya memiliki sikap yang anarkis dan sering membuat onar. Role Mode tersebut merupakan penanaman kebudayaan yang mempengaruhi kepribadian seseorang.

Ego Ideal

Erat kaitannya dengan superego adalah ego-ideal yang merupakan gambaran diri yang diangan-anganan diri dan dicita-citakan atau sekupulan ambisi pribadi yang diperjuangkan individu. Ego-ideal mungkin sama sekali terpisah dari superego, seperti dalam kasus individu yang bercita-cita menjadi benggol penjahat atau mungkin sangat erat berkaitan, sehingga individu bergerak menuju ambisi-ambisi pribadinya dengan cara yang sungguh-sungguh selaras dengan sanksi-sanksi masyarakat. Apabila superego dominan dan ego-ideal ditindas, sang pribadi mungkin berusaha melayani “kehendak Allah” atau “kesejahteraan masyarakat” dengan mengorbankan seluruh ambisi pribadinya.

Penting diperhatikan bahwa konsepsi Murray tentang superego dan ego-ideal memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perubahan dan perkembangan dalam tahun-tahun sesudah masa kanak-kanak dibandingkan pandangan psikoanalitik ortodoks. Dalam perkembangan yang normal, hubungan antara ketga pranata ini akan berubah, sehingga kalau sebelumnya id sangat berkuasa, maka giliran superego dan akhirnya ego mulai memegng peranan yang menentukan. Dalam keadaan paling bahagia, supergo yang matang serta ego yang kuat dan cakap bersama-sama mampu mengatur penyaluran impuls-impuls id secara memadai dengan cara-cara yang secara kultural dibenarkan.

Dalam revisis terakhir dari teorinya, Murray (1959) menekankan pembentukan-pembentukan kepribadian yang lebih positif. Ia yakin bahwa ada proses-proses formatif dan konstruktif yang tidak hanya berguna bagi kelangsungan hidup atau sebagai pertahanan-pertahanan terhadap kecemasan, tetapi juga memiliki energi-energi, tujuan-tujuan, dan pemenuhan-pemenuhannya sendiri. Orang perlu kreatf dan imajiatif, menyusun dan menciptakan agar ia tetap sehat secara psikologis. Sesungguhnya imajinasi yang kreatif merupakan aspek kepribadian yang paling kuat, dan merupakan aspek yang kerap sekali paling sedikit diberikan kesempatan untuk berkembang.

Ordination, Abilities, And Achievements

Ordination (Pentahbisan) adalah istilah Murray untuk proses mental yang lebih tinggi dimana seseorang memilih dan ditempatkan ke dalam operasi sebuah rencana tindakan yang memiliki keadaan akhir yang diinginkan. Ordination memiliki dua komponen: Serial Programs dan ScheduleSerial Program adalah pengaturan subgoals yang membentang ke masa depan dan dirancang untuk menyebabkan beberapa tujuan utama. Dengan demikian, orang yang berharap menjadi presiden suatu perusahaan mungkin memiliki subgoals mendapatkan promosi, bergabung dengan klub, dan membeli sebuah rumah di mana ia bisa berlibur.

Orang menggunakan Schedule untuk mengatur tindakan yang mereka ambil dalam memuaskan kebutuhan mereka, untuk menghindari konflik antara competing needs (kebutuhan bersaing) dan wises(keinginan), yaitu, rencana seseorang yang mengatur mereka. Jika seseorang ingin, misalnya, bekerja berjam-jam karena ambisi untuk dipromosikan, tetapi juga ingin menghadiri konser karena sangat menyukai musik, dia mungkin memutuskan untuk membeli tiket untuk acara pada akhir pekan saja atau bekerja selama akhir pekan ketika konser sangat baik sedang diberikan pada hari Rabu malam.

Abilities (Kemampuan) dan Achivement (prestasi) seseorang bagi Murray merupakan bagian yang sangat penting dari kepribadian. Penelitian Murray menilai subyek dalam bidang seperti keterampilan mekanik, kepemimpinan, prestasi intelektual, dan perilaku seksual. Kemampuan dan prestasi mengindikasikan baik apa seseorang mampu melakukan dan apa yang dia sebenarnya tidak dengan pengetahuan yang didapat. Dengan demikian, mereka menerangi sifat proses seseorang yang kreatif dan rencana pembuatan.

Murray telah lama menjadi kritikus psikologi dalam memproyeksikan sebuah imej negatif manusia. Bagi Murray, apa yang bisa seseorang lakukan dan apa yang dia lakukan sama pentingnya dengan apa yang dia tidak bisa lakukan. Dalam hubungan ini, menarik untuk memperhatikan kritik Murray pada eksplorasi Freud (1910) akan kepribadian Leonardo Da Vinci. Murray (1968) mengkritiknya karena benar-benar tidak mengindahkan aspek kreatif hidup dan pekerjaan Da Vinci yang bahagia dan sehat.

Dinamika Kepribadian

Sumbangan Murray yang paling khas bagi teori psikologi adalah pembahasannya tentang perjuangan, pencarian, keinginan, hasrat dan kemauan manusia. Orang mungkin berkata bahwa pandangannya pertama-tama merupakan psikologi motivasi. Pemusatan pada proses motivasi ini sesuai benar dengan keyakinan Murray bahwa penelitian tentang kecenderungan-kecenderungan seseorang yang bersifat mengarahkan merupakan kunci untuk memahami tingkah.laku manusia “… hal yang paling penting diketahui tentang individu ialah keterarahan (keterarahan-keterarahan) kegiatan-kegiatannya, baik mental, verbal, atau fisik” (Murray, 1951b, hlm. 27 6). Perhatian Murray pada keterarahan telah membawanya sampai pada sistem konstruk-konstruk motivasi yang dilukiskan secara paling kompleks dan teliti yang dapat ditemukan dalam kancah psikologi kontemporer. Perhatian-perhatiannya terhadap taksonomi terungkap dengan jelas di sini dalam klasifikasi yang dilakukannya dengan tekun dan mendalam tentang unsur-unsur tingkah laku manusia dipandang dari segi faktor-faktor penentu atau motif-motif yang melatarbelakanginya.

Murray tentu saja bukan orang pertama yang sangat menekankan pentingnya analisis motivasi. Akan tetapi perumusan-perumusannya mengandung beberapa unsur khas. Meski arus yang kuat dalam psikologi mengalir ke arah kesederhanaan dan penggunaan sejumlah kecil konsep-konsep, namun Murray tetap berpendapat bahwa pemahaman yang memadai tentang tingkah laku manusia harus bersandar pada sistem yang menggunakan cukup banyak variabel untuk menggambarkan sekurang-kurangnya sebagian, kompleksitas motif-motif manusia. Ia juga telah berusaha keras memberikan definisi-definisi empiris bagi variabel-variabelnya yang kalaupun tidak sempurna, tetapi sekurang-kurangnya jauh melebihi kemampuan operasional kebanyakan teori sebelumnya di bidang motivasi manusia. Hasil dari usaha-usaha ini adalah sekumpulan konsep yang merupakan langkah yang berani untuk menjembatani jurang antara deskripsi klinis dan tuntutan-tuntutan penelitian empiris.

Dalam membahas teori motivasi Murray, kita akan mulai membicarakan konsep kebutuhan, yang sejak permulaan telah merupakan fokus usaha-usaha konseptualnya, disusul dengan pembicaraan tentang konsep-konsep sejenis, seperti tekanan, reduksi tegangan, tema, integrasi kebutuhan, tema kesatuan, dan regnansi. Akhirnya kita akan kembali pada konsepnya tentang nilai dan vektor yang saling berhubungan, yang merupakan perkembangan lebih baru dalam teorinya.

Kebutuhan

Meski konsep kebutuhan telah digunakan di mana-mana dalam psikologi, namun tidak ada teoretikus lain yang telah mengemukakan analisis atas konsep itu dengan begitu teliti dan memberikan suatu taksonomi yang demikian lengkap seperti yang telah dilakukan Murray. Rincian analisis Murray tentang konsep ini tercermin dalam definisinya:

Kebutuhan adalah suatu konstruk (fiksi disepakati atau konsep hipotetis) yang mewakili suatu daya… pada bagian otak, kekuatan yang mengatur persepsi, apersepsi, pemahaman, konasi dan kegiatan sedemikian rupa untuk mengubah situasi yang ada dan yang tidak memuaskan ke arah tertentu. Kebutuhan kadang-kadang langsung dibangkitkan oleh proses-proses internal tertentu tetapi lebih Sering (bila dalam keadaan siap) oleh terjadinya salah satu dari sejumlah kecil tekanan yang secara umum efektif (pengaruh-pengaruh lingkungan)…. Jadi, kebutuhan menyatakan dirinya dengan mengarahkan organisme untuk mencari atau menghindari, atau apabila bertemu, mengarahkan perhatian dan memberi respon terhadap jenis-jenis tekanan tertentu Tiap kebutuhan secara khas dibarengi oleh perasaan atau emosi tertentu dan akan memakai cara-cara tertentu untuk meningkatkan kecenderungannya. Kebutuhan itu mungkin lemah atau kuat, bersifat sementara atau tahan lama. Tetapi biasanya ia lama dan menimbulkan serangkaian tingkah laku terbuka (atau fantasi) yang mengubah situasi permulaan sedemikian rupa untuk menghasilkan situasi akhir yang menenangkan (meredakan atau memuaskan) organisme (Murray, 1938, hlm. 123-124 ).

Dari definisi ini kita lihat bahwa konsep kebutuhan, sama seperti konsep kepribadian, merupakan sesuatu yang abstrak atau hipotetis namun demikian berkaitan dengan proses-proses fisiologis dalam otak. Tampak juga bahwa kebutuhan-kebutuhan bisa dibangkitkan dari dalam atau digerakkan sebagai akibat rangsangan dari luar. Dalam kedua hal tersebut, kebutuhan membuat organisme aktif dan terus aktif sampai situasi organisme dan lingkungan diubah untuk mereduksikan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan dibarengi oleh emosi-emosi atau perasaan-perasaan tertentu dan seringkali dibarengi oleh tindakan-tindakan instrumental tertentu yang efektif untuk menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan.

Ada enam kriteria untuk menyatakan keberadaan sebuah kebutuhan. Lima diantaranya adalah observasi yang dapat dilakukan oleh seorang peneliti; yang keenamnya menuntut partisipasi orang yang diteliti:

  1. a) Hasil akhir perilaku individu,
  2. b) Pola perilaku tertentu,
  3. c) Perhatian individu dan cara merespon stimulus,
  4. d) Ekspresi emosi individu,
  5. e) Hasil akhir ekspresi kepuasan dan ketidakpuasan individu, dan
  6. f) Laporan subjektif perasaan, perhatian dan tujuan ekspresi individu.

Dengan menggunakan semua kriteria di atas dan penelitian sebuah kelompok subjek kecil secara intensif, Murray (1938) dan koleganya di Harvard menghasilkan sebuah daftar tentatif 20 kebutuhan yang nampak paling bagi mereka. Tabel berikut juga memberikan contoh item questionnaire yang, saat dijawab oleh seseorang dengan secara positif menyatakan bahwa sebuah kebutuhan adalah karakteristik dari orang tersebut. Murray dan 8 diantara 20 jenis kebutuhan primer tersebut dapat dilihat berikut:

 

Tabel 1. Kebutuhan Primer

KEBUTUHAN DEFINISI BENTUK EMOSI KONTRIBUSI TEKANAN
Abasement (Kerendahan Diri) Untuk tunduk secara pasif kepada kekuatan eksternal; menyerah dan mengakui kelemahan, kesalahan, pelanggaran; untuk merugikan diri Malu, hormat pada hak orang lain, inferiority Agresi, dominasi pada bagian dan orang lain
achievement (Prestasi) Menyelesaikan sesuatu yang sulit, untuk kekuasaan, untuk melebihi hambatan dan mencapai standar yang tinggi, menyaingi dan mengungguli orang lain Semangat, ambisi Tugas, saingan
 

Affiliation (Persatuan, gabungan)

Untuk menjadikan diri dekat dan menikmati kerjasama dengan seseorang, untuk mendapatkan kasih sayang dari seseorang, untuk mengikuti dan tetap terhadap teman Kepercayaan, kasih sayang, cinta, empati Positif, orang yang kompatibel, negatif, kehilangan teman
Aggression (Penyerangan) Untuk mengatasi lawan dengan penuh kekuatan, untuk berkelahi, untuk membalas dendam, untuk menghukum, untuk meremehkan, mengejek, memaki atau memfitnah seseorang Amarah, kemarahan, kecemburuan, kebencian Agresi, keunggulan, penolakan, saingan, yang tidak disukai
Autonomy

(otonomi)

Untuk mendapatkan kebebasan, untuk menolak paksaan atau pengekangan, menghindari mendominasi orang lain, untuk menjadi mandiri, tidak terikat, untuk menentang aturan Perasaan, menahan, kemarahan Positif, toleransi, terbuka, negatif, menahan diri, dominasi
Dominance (penguasaan) Untuk mengontrol lingkungan orang lain, untuk mempengaruhi orang lain dengan saran, bujukan, atau perintah, untuk membuat orang lain untuk melakukan keinginan, mengakui salah satu benar Keyakinan Inferior, hormat pada bagian lain
Nurturance (pemeliharaan) Untuk bersimpati, untuk membantu, melindungi, memberikan rasa nyaman kepada orang lain yang tidak berdaya, seorang bayi atau siapapun yang cacat, lemah, kesepian, sakit, kebingungan, untuk membantu seseorang dalam bahaya Kasihan, belas kasih, kelembutan Membuat orang iba, seseorang yang membutuhkan
Succorance

(membuat orang iba)

Untuk mendapatkan kepuasan kebutuhan dari bantuan simpatik orang lain, untuk tetap dekat dengan seorang pelindung, untuk dirawat, menyarankan, diampuni, menghibur Kecemasan tak berdaya, ketidakamanan, putus asa Positif, pemeliharaan, simpati dan membantu, negatif, kurangnya dukungan, kehilangan penolakan, ditinggalkan

Murray menyatakan bahwa adanya kebutuhan dapat disimpulkan dari: ( l) akibat atau hasil akhir tingkah laku, (2) pola atau cara khusus tingkah laku yang bersangkutan, (3) perhatian dan respon selektif terhadap kelompok objek stimulus tertentu, (4) ungkapan emosi atau perasaan tertentu dan (5) ungkapan kepuasan apabila akibat tertentu dicapai atau kekecewaan apabila akibat itu tidak tercapai (1983, hlm. 124). Laporan-laporan subjektif tentang perasaan-perasaan, kecenderungan-kecenderungan dan tujuan-tujuan memberikan kriteria tambahan. Setelah diberikan definisi umum dan kriteria di atas untuk menyimpulkan atau menggolongkan kebutuhan-kebutuhan, Murray, setelah meneliti secara intensif sejumlah kecil subjek, mencapai suatu daftar sementara yang terdiri dari dua puluh kebutuhan. Meski daftar ini telah mengalami perubahan dan perincian berulangkali, namun duapuluh kebutuhan asli itu masih tetap sangat representatif. Variabel-variabel ini disajikan dalam Explorations in personality (1938) dilengkapi dengan contoh-contoh fakta yang berhubungan dengan masing-masing kebutuhan, termasuk contoh-contoh soal kuesioner untuk mengukur kebutuhan yang bersangkutan, emosi-emosi yang menyertainya, dan contoh-contoh kebutuhannya sendiri. Dua puluh kebutuhan itu disajikan dan dirumuskan dengan singkat pada Tabel 2.

TIPE-TIPE KEBUTUHAN. Hingga kini, kita telah melihat bagaimana Murray merumuskan kebutuhan, kita telah memeriksa kriteria yang diberikannya untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan itu, dan kita telah melihat daftar kebutuhan-kebutuhan tersebut. Di samping ini, panting kiranya untuk meninjau dasar untuk membedakan aneka tipe kebutuhan. Pertama, ada perbedaan antara kebutuhan-kebutuhan primer dan kebutuhan-kebutuhan sekunder. Kebutuhan-kebutuhan primer atau kebutuhan-kebutuhan viskerogenik (viscerogenic needs) berhubungan dengan peristiwa-peristiwa organis tertentu yang khas, dan secara khusus berkenaan dengan kepuasan-kepuasan fisik. Contohnya ialah kebutuhan akan udara, air, makanan, seks, laktasi, kencing, dan defekasi. Kebutuhan-kebutuhan sekunder atau kebutuhan-kebutuhan psikogenik (psychogenic needs) dianggap berasal dari kebutuhan-kebutuhan primer dan ditandai oleh tidak adanya hubungan fokal dengan proses-proses organis atau kepuasan fisik khusus. Contohnya ialah kebutuhan akan belajar (pemerolehan), konstruksi, prestasi, pengakuan, ekshibisi, kekuasaan, otonomi, dan kehormatan.

Kedua, kita telah membedakan antara kebutuhan-kebutuhan terbuka (overt needs) dan kebutuhan-kebutuhan tertutup (covert needs), yakni kebutuhan-kebutuhan yang nyata dan kebutuhan-kebutuhan yang laten atau tersembunyi. Di sini kita membedakan antara kebutuhan-kebutuhan yang kurang lebih dapat diungkapkan secara langsung atau segera, dan kebutuhan-kebutuhan yang umumnya dikekang dihambat atau ditekan. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan terbuka secara khas mengungkapkan diri dalam tingkah laku motorik, sedangkan kebutuhan-kebutuhan yang tertutup biasanya berada dalam dunia fantasi atau impian. Sebagian besar dari kebutuhan-kebutuhan tertutup merupakan hasil dari perkembangan struktur-struktur yang diinternalisasi. sikap (superego) yang menentukan bentuk-bentuk tingkah laku yang pantas atau yang dapat diterima.

TABEL 2

Contoh Daftar Kebutuhan-kebutuhan Murray

Kebutuhan Definisi singkat
Sikap merendah Tunduk secara pasif terhadap kekuatan luar. Menerima perlakuan yang tidak adil, pengkambing-hitaman, kritik, hukuman. Menyerah. Dengan sabar menerima nasib. Mengakui kekurangan, kekeliruan, perbuatan salah, atau kekalahan. Mengakui dan memperbaiki kesalahan. Menyalahkan, meremehkan, merusakkan diri sendiri. Mencari dan menikmati penderitaan, hukuman, penyakit, dan kemalangan.
Prestasi Menyelesaikan sesuatu yang sulit. Menguasai, memanipulasi atau mengatur benda-benda fisik, manusia, atau ideide. Melakukan hal-hal tersebut di atas secepatnya dan semandiri mungkin. Mengatasi rintangan-rintangan dan mencapai standar yang tinggi. Mengunggulkan diri. Menyaingi dan mengungguli orangorang lain. Meningkatkan harga diri dengan menyalurkan bakat secara berhasil.
Afiliasi Mendekatkan diri, bekerjasama atau membalas ajakan orang lain yang bersekutu (orang lain yang menyerupai atau menyukai subjek). Membuat senang dan mencari afeksi dari objek yang disukai. Patuh dan tetap setia kepada seorang kawan.
Agresi Menghadapi perlawanan dengan kekerasan, Untuk mengatasi lawan dengan penuh kekuatan. Melawan untuk berkelahi. Membalas perbuatan yang tidak adil, rasa sakit atau luka. Menyerang, mengumpat, mencela, melukai, membunuh orang lain dan untuk meremehkan atau mengejek dan menertawakan dengan penuh dendam.. Melawan secara kuat dengan kekerasan atau menghukum orang lain.
Otonomi Menjadi bebas, menghilangkan kekangan, melepaskan diri dari kungkungan. Menolak paksaan dan larangan. Menghindari atau meninggalkan kegiatan-kegiatan yang ditentukan oleh autoritas-autoritas yang menguasai. Tidak tergantung (mandiri) dan bebas bettindak menurut impuls. Tidak terikat, tidak bertanggung jawab. Menentang arus.
Kebutuhan untuk mengimbangi (Counteraction) Menguasai atau memperbaiki kegagalan dengan berjuang lagi. Menghilangkan pelecehan dengan memulai lagi tindakan. Mengatasi kelemahan, menekan perasaan takut. Mengembalikan nama baik dengan tindakan. Mencari rintangan-rintangan dan kesulitan-kesulitan untuk diatasi. Mempertahankan harga diri dan kebanggaan pada taraf yang tinggi.
Membela diri Mempertahankan diri terhadap serangan, kritik, dan celaan. Menyembunyikan
atau membenarkan perbuatan tercela kegagalan, atau penghinaan. Membela, tahankan diri.
Sikap hormat Mengagumi dan menyokong atasan, Memuji, menghormati, atau menyanjuIlg Dengan senang hati tunduk pada pengaruh orang lain yang dikenal. Mencontoh seorang teladan. Menyesuaikan diri dengan kebiasaan.
Dominasi Untuk mengontrol lingkungan orang lain. Memiliki kendali atas lingkungan manusiawi. Mempengaruhi atau mengarahkan tingkah laku orang-orang lain dengan saran, bujukan, imbauan, atau perintah. Mencegah, menghambat, atau melarang.
Ekshibisi (sikap menonjolkan diri) Menciptakan kesan. Senang dilihat dan didengar. Membuat orang lain bergairah, kagum, terpesona, terhibur, terkejut, tergelitik ingin tahu, senang, atau terpikat.
Menghindari bahaya Menghindari rasa sakit, luka fisik, penyakit, dan kematian. Melarikan diri dari situasi yang berbahaya. Mengambil tindakan-tindakan pencegahan.
Menghindari rasa hina Menghindari penghinaan. Meninggalkan situasi-situasi yang memalukan, atau menghindari kondisi-kondisi yang bisa menimbulkan pelecehan: caci-maki, ejekan, atau sikap masa bodoh orang-orang lain. Menahan diri untuk bertindak karena takut gagal.
Sikap memelihara Memberi simpati dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan objek yang tak berdaya: bayi atau tiap obj ek yang lemah, cacat, lelah, kurang berpengalaman, ragu-ragu, kalah, dihina, kesepian, patah hati, sakit, bingung. Membantu objek yang berada dalam bahaya. Memberi makanan, membantu, menyokong, menghibur, melindungi, menyenangkan, merawat, menyembuhkan.
Ketertiban Mengatur barang-barang. Menjaga kebersihan, susunan, organisasi, keseimbangan, kerapian, keteraturan, ketelitian.
Permainan Berbuat untuk “kesenangan” tanpa tujuan lebih lanjut. Suka tertawa dan membuat lelucon. Berusaha meredakan tekanan secara menyenangkan. Mengambil bagian dalam permainan, olah raga, joget, pesta-pesta, bermain kartu.
Penolakan Memisahkan diri dari objek yang tidak disenangi. Mengucilkan, melepaskan, mengusir, atau bersikap masa bodoh terhadap objek yang lebih rendah. Menghina atau memutuskan hubungan cinta dengan objek.
Keharuan Mencari dan menikmati kesan-kesan yang menyentuh perasaan.
Seks Menjalin dan meningkatkan hubungan erotik. Mengadakan hubungan seksual.
Pertolongan dalam kesusahan Memuaskan kebutuhan-kebutuhan de. ngan bantuan simpatik dari objek yang dikenal. Dirawat, disokong, didukung dikelilingi, dilindungi, dicintai, dinasihati, dibimbing, dimanjakan, diampuni) dihibur. Menempel pada seorang pelin. dung setia. Selalu memiliki seorang Pendukung.
Pemahaman Menanyakan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan umum. Tertarik pada teori. Memikirkan, merumuskan, menganalisis, dan menggeneralisasikan.

*Disadur dari Murray (1938), hlm. 152-226.

Kebutuhan-kebutuhan tertentu tidak dapat diungkapkan dengan bebas tanpa melanggar kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang telah diambil alih dari masyarakat melalui orangtua dan kebutuhan-kebutuhan ini kerapkali beroperasi secara tersembunyi.

Ketiga, ada kebutuhan-kebutuhan yang memusat (fokal) dan kebutuhan-kebutuhan yang menyebar (difus). Beberapa kebutuhan erat berhubungan dengan kelompok-kelompok objek lingkungan yang terbatas, sedangkan kelompok-kelompok kebutuhan lainnya begitu umum berlaku pada hampir tiap keadaan lingkungan. Murray menunjukkan bahwa kalau tidak terdapat suatu fiksasi yang luar biasa, maka kebutuhan selalu cenderung berubah menurut objek-objek yang dituju oleh kebutuhan itu dan cara bagaimana objek-objek ini didekati. Artinya, bidang peristiwa-peristiwa lingkungan yang relevan dengan kebutuhan itu mungkin diperluas atau dipersempit dan tindakan-tindakan instrumental yang berhubungan dengan kebutuhan itu mungkin bertambah atau berkurang. Apabila kebutuhan itu melekat erat pada objek yang tidak cocok,hal ini disebut fiksasi dan biasanya dianggap patologis. Akan tetapi seperti dikemukakan Murray, ketidakmampuan dari suatu kebutuhan untuk melekatkan diri pada suatu objek pilihan secara tetap, berpindah-pindah dari satu objek ke objek lain, mungkin juga patologis seperti halnya fiksasi,

Keempat, ada kebutuhan-kebutuhan proaktifdan kebutuhan-kebutuhan reaktif. Kebutuhan proaktif ialah kebutuhan yang sebagian besar ditentukan dari dalam, kebutuhan yang “bergerak secara spontan” sebagai akibat dari sesuatu dalam diri orang dan bukan akibat dari sesuatu di lingkungan. Sebaliknya, kebutuhan-kebutuhan reaktif digerakkan sebagai akibat dari, atau sebagai respon terhadap, suatu peristiwa lingkungan. Perbedaannya di sini terutama ialah antara respon yang dibangkitkan oleh rangsangan yang tepat dan respon yang muncul kendati tidak ada perubahan stimulus yang penting. Murray memakai konsep-konsep ini juga untuk menerangkan interaksi antara dua orang atau lebih, di mana biasanya seorang individu dapat disebut sebagai proaktor (memulai interaksi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, pada umumnya memberikan stimulus yang harus diberi respon oleh pihak yang lain), sedangkan individu yang lain dapat disebut sebagai reaktor (bereaksi terhadap stimulus-stimulus yang diberikan proaktor).

Kelima, terdapat perbedaan antara kegiatan proses (process activity), kebutuhan-kebutuhan modal (modal needs), dan kebutuhan-kebutuhan akibat (effect needs). Para psikolog Amerika yang terbiasa menekankan fungsi dan kegunaan, secara konsisten menekankan kebutuhan-kebutuhan akibat kebutuhan-kebutuhan yang mengarah pada suatu keadaan yang diinginkan atau hasil akhir. Akan tetapi Murray tetap berpendapat bahwa kegiatan proses dan kebutuhan-kebutuhan modal kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu demi perbuatan itu sendiri, sama pentingnya. Operasi yang bersifat tanpa tujuan, tidak terkoordinasi, dan tidak fungsional dari berbagai proses (penglihatan, pendengaran, pikiran, pembicaraan, dan sebagainya) yang mulai berlangsung sejak lahir disebut kegiatan proses. Ini adalah “kepuasan karena semata-mata berfungsi” (sheer function pleasure), berbuat sekedar untuk berbuat. Sebaliknya, kebutuhan-kebutuhan modal menuntut orang melakukan sesuatu dengan taraf mutu atau kualitas tertentu. Yang dicari dan dinikmati masih tetap kegiatan itu sendiri, tetapi kini kegiatan
itu memberikan kepuasan hanya kalau berhasil dilakukan dengan tingkat kesempurnaan tertentu.

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA KEBUTUHAN-KEBUTUHAN. Jelaslah, bahwa kebutuhan-kebutuhan itu tidak bekerja sendiri-sendiri sama sekali terlepas satu sama lain, dan bentuk interaksi atau pengaruh timbal balik ini secara teoretis sangat penting. Murray menerima fakta bahwa ada suatu hierarki kebutuhan-kebutuhan, bahwa kecenderungan-kecenderungan tertentu harus didahulukan daripada yang lain-lainnya. Konsep prepotensi (prepotency) digunakan untuk menyebut kebutuhan-kebutuhan yang “menjadi regnan karena sangat urgen kalau tidak dipuaskan” (Murray, 1951a, hlm. 542). Jadi, dalam situasi-situasi di mana dua kebutuhan atau lebih timbul serempak dan menggerakkan respon-respon yang bertentangan, maka kebutuhan yang lebih kuat (seperti sakit, lapar, haus) biasanya akan terjelma menjadi tindakan karena kebutuhan-kebutuhan yang prepoten demikian ini tidak dapat ditunda. Pemuasan secara minimal atas kebutuhan-kebutuhan itu adalah perlu sebelum kebutuhan-kebutuhan lainnya dapat beroperasi. Dalam penelitiannya tentang kepribadian, Murray biasanya menggunakan sekumpulan konsep untuk menggambarkan konflik yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan penting. Jadi, sudah menjadi kebiasaan dalam penelitiannya, ia mengukur intensitas konflik tiap subjek penelitiannya dalam bidang-bidang tertentu, misalnya, otonomi versus sikap tunduk, prestasi versus kenikmatan.

Dalam keadaan-keadaan tertentu, lebih dari satu kebutuhan dapat dipuaskan oleh hanya satu tindakan. Dalam hal-hal di mana sejumlah kebutuhan yang berbeda menghasilkan tingkah laku yang sama, maka Murray berbicara tentangfusi kebutuhan-kebutuhan. Hubungan lain yang penting di antara kebutuhan-kebutuhan diungkapkan dengan konsep subsidiasi. Kebutuhan subsider ialah kebutuhan yang beroperasi untuk melayani kebutuhan lain; misalnya, individu mungkin memperlihatkan kebutuhan-kebutuhan agresif, tetapi perubahan-perubahan itu mungkin hanya berfungsi untuk memudahkan kebutuhan-kebutuhan serakah. Dalam hal di mana salah satu kebutuhan hanya berfungsi sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan lainnya, maka kebutuhan yang pertama disebut sebagai subsider terhadap kebutuhan yang kedua. Menelusuri rangkaian-rangkaian subsidiasi dapat sangat berharga untuk mengungkapkan motif-motif yang dominan atau motif-motif akar dari individu.

Kita sekarang telah meninjau cara Murray menjelaskan motivasi individu. Akan tetapi motivasi-motivasi pribadi ini erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar individu dan kini giliran kita menyimak cara Murray menj elaskan peristiwaperistiwa lingkungan yang penting ini.

Tekanan (Press)

Jika konsep “kebutuhan” menggambarkan faktor-faktor penentu tingkah laku penting dalam pribadi, maka konsep “tekanan” menggambarkan faktor-faktor penentu tingkah laku yang efektif dan penting dalam lingkungan. Dalam arti paling sederhana, tekanan adalah suatu sifat atau atribut dari suatu objek lingkungan atau orang yang memudahkan atau menghalangi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan tertentu. Tekanan ada hubungannya dengan orang-orang atau objek-objek yang mempunyai implikasi-implikasi langsung terhadap usaha-usaha individu untuk memuaskan kebutuhannya. “Tekanan suatu objek ialah apa yang dapat dilakukan oleh objek itu terhadap subjek atau untuk subjek daya yang dimiliki oleh objek untuk mempengaruhi kesejahteraan subjek dengan cara tertentu” (1938, hlm. 121). Dengan menggambarkan lingkungan sebagai tekanan, maka peneliti berharap agar dapat menggali dan menggolong-golongkan bagian-bagian penting dari dunia tempat individu itu hidup. Jelas, kita akan tahu jauh lebih banyak tentang apa yang mungkin dilakukan individu, jika kita mempunyai gambaran bukan hanya tentang motif-motif atau kecenderungan-kecenderungannya, tetapi juga gambaran tentang cara bagaimana orang melihat atau menginterpretasikan lingkungannya. Inilah fungsi yang akan dijelaskan oleh konsep tekanan.

Murray telah mengembangkan berbagai daftar tekanan untuk berbagai tujuan. Contoh dari daftar-daftar ini adalah klasifikasi yang disajikan pada Tabel 3, yang disusun untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa atau pengaruh-pengaruh penting selama masa kanak-kanak. Dalam praktiknya, selain dinyatakan beroperasi dalam pengalaman individu tertentu, tekanan-tekanan ini juga diberi nilai kuantitatif untuk menunjukkan kekuatan atau kadar kepentingannya dalam kehidupan individu.

Penting membedakan antara nilai objek-objek lingkungan sebagaimana dipersepsikan atau diinterpretasikan oleh individu (beta press) dan sifat-sifat dari objek-objek lingkungan itu sebagaimana terdapat dalam kenyataan atau sebagaimana disingkapkan oleh penyelidikan objektif (alpha press) Tingkah laku individu sangat erat hubungannya dengan beta press, walaupun demikian penting menemukan situasi-situasi di mana terdapat perbedaan yang besar antara beta press yang merupakan sasaran reaksi individu, dan alpha press yang nyata ada.
Daftar singkat tekanan*

1.         Tidak ada Dukungan Keluarga Pertentangan kultural Pertentangan dalam keluarga Disiplin yang berubah-ubah Orangtua Berpisah Ketidakhadiran orangtua: Ayah, Ibu Orangtua Sakit: Ayah, Ibu Kematian orangtua: Ayah, Ibu Orangtua lugu: Ayah, Ibu Orangtua berbeda: Ayah, Ibu Kemiskinan Keluarga Tidak Tenteram 9. Dominasi, Paksaan, dan Larangan
Disiplin
Pendidikan Agama
2.        Bahaya atau kemalangan
Tidak ada Dukungan Fisik
Tinggi air
Kesendirian, kegelapan,
Cuaca buruk, Kilat
Kebakaran
Kecelakaan
Binatang
10. Pengasuhan, Pemanjaan
3.        Kekurangan atau kehilangan:

Makanan
Harta benda
Persahabatan
Variasi

11. Pertolongan, Tuntutan-tuntutan akan Kelembutan
4.        Penyimpanan, Menahan benda-benda 12. Rasa Hormat, Pujian, Penghargaan
5.        Penolakan, tidak peduli, dan Cemoohan 13. Afiliasi, Persahabatan
6.        Saingan, orang seusia yang menunjukkan sikap bersaing 14. Seks Kesempatan mengalami Rayuan; Homoseksual, Heteroseksual Persetubuhan Orangtua
7.        Kelahiran saudara kandung 15. Penipuan atau Pengkhianatan
8.        Agresi
Perlakuan buruk oleh Laki-laki Lebih Tua,Wanita Lebih Tua Perlakuan buruk oleh Orang-orang seusia/Orang-orang Seusia yang suka bertengkar
16.  Perasaan Rendah Diri Fisik Sosial Intelektual

*Disadur dari Murray (1938), hlm. 291-292

Tekanan terbagi atas dua aspek yaitu:

(1) tekanan alpha adalah tekanan yang ditangkap secara objektif yang mengarahkan Pada refleks sesuai kenyataan,

(2) tekanan beta adalah tekanan yang ditangkap secara subjektif dan yang diinterpretasikan.

Hal yang penting untuk membedakan dua aspek tekanan; satu tekanan alpha adalah kualitas lingkungan seperti nampak dalam kenyataan (pada tingkat yang kita dapat menentukannya); satu tekanan beta adalah kualitas lingkungan seperti yang dipersepsikan oleh seseorang. Misalnya, seorang suami yang ingin menceritakan kepada isterinya tentang sesuatu hal yang telah menimpanya dengan maksud sang isteri dapat memberikan perhatikan, sang suami mulai mengatakan kepada istrinya tentang pertemuan yang benar-benar menegangkan baginya, ia melihat bahwa istrinya tidak memperhatikan hingga ia memutuskan bahwa sang isteri tidak memperdulikan akan masalahnya: tekanan beta suami tidak mendukung. ia beranggapan bahwa istrinya tidak menanggapi sepenuhnya namun, hal yang sebenarnya ialah bukan karena sang isteri tidak peduli dengan suaminya; melainkan disaat yang sama sang isteri telah dikhawatirkan dengan pengumuman oleh direktur perusahaan tempat ia bekerja bahwa ia dan beberapa eksekutif senior lainnya mendapatkan pemotongan gaji. Pasangan tersebut telah bergantung pada penghasilan gabungan agar kelak sang suamj dapat membuka usahanya sendiri; sang istri takut untuk memberitahukan kabar buruknya kepada suarni. Oleh karenanya, kita dapat menyebut tekanan alpha di sini sebagai salah satu inatensi temporal (sikap ketidak perhatian sementara).

Perilaku orang sangat berkorelasi dengan persepsi mereka akan lingkungan atau dengan tekanan beta. Dimana kesenjangan yang luas ada diantara fenomena lingkungan yang dapat diamati dengan objektif dan fenomena dimana seseorang cenderung reaktif, kita sering menyimpulkan beberapa tingkat gangguan psikologis.

Reduksi Tegangan

Kita telah melihat bahwa Murray memandang individu menjadi aktif karena digerakkan oleh sekumpulan dorongan yang kompleks. Selanjutnya ia mengakui bahwa apabila kebutuhan itu timbul, individu berada dalam keadaan tegang, dan pemuasan kebutuhan tersebut akan mengakibatkan reduksi tegangan. Akhirnya organisme akan belajar hanya memperhatikan objek-objek dan melakukan tindakan-tindakan yang pada masa lampau diketahuinya memiliki kaitan dengan reduksi tegangan.

Meski perumusan konvensional ini disetujui Murray, namun ia berpendapat bahwa perumusan itu merupakan suatu gambaran yang tidak sempurna. Individu tidak hanya belajar memberikan respon sedemikian rupa untuk mereduksikan tegangan dan dengan demikian mengalami kepuasan, tetapi juga ia belajar memberikan respon sedemikian rupa untuk mengembangkan tegangan sehingga kemudian tegangan itu direduksikan, dan dengan demikian meningkatkan besarnya kepuasan. Suatu contoh peningkatan tegangan demi memperoleh kepuasan lebih besar dari suatu kegiatan ialah melakukan rangsangan-rangsangan pendahuluan sebelum berhubungan kelamin.

Harus dicatat bahwa perumusan ini hanya berlaku untuk kebutuhan-kebutuhan akibat. Dalam kegiatan proses dan kebutuhan-kebutuhan modal, kepuasan sudah terkandung dalam kegiatan itu sendiri dan bisa sama kuatnya baik pada permulaan, pada pertengahan, maupun pada akhir kegiatan tersebut.

Murray menerima dalil bahwa manusia berbuat sedemikian rupa dengan maksud untuk meningkatkan kepuasan dan mengurangi tegangan. Akan tetapi, ini hanya merupakan suatu intensi atau keyakinan pada pihak pelaku dan tidak selalu terbukti bahwa perbuatan yang diyakini oleh sesorang akan mereduksikan tegangan, dan menghasilkan kepuasan, pada akhirnya sungguh. sungguh berhasil dalam mencapai tujuan ini. Tambahan pula, manusia kurang berminat untuk meningkatkan kepuasan secara umum; mereka selalu berusaha mereduksikan tegangan khusus yang muncul dari suatu kebutuhan khusus tertentu. Jadi, kepuasan pada dasarnya merupakan hasil atau akibat dari keadaan-keadaan kebutuhan beserta konsekuensinya dalam tingkah laku.

Tema

Tema hanyalah merupakan satuan tingkah laku molar dan yang saling mempengaruhi. Tema meliputi situasi yang menggerakkan tekanan dan kebutuhan yang kemudian muncul. Jadi, tema menyangkut interaksi antara kebutuhan-kebutuhan dan tekanan dan memungkinkan melihat tingkah laku secara lebih global, tidak segmental. Dengan menggunakan konsep ini, teoretikus dapat menggambarkan situasi-situasi yang mendesak atau menyebabkan munculnya kebutuhan-kebutuhan khusus danjuga hasil atau akibat (resultans) dari munculnya kebutuhan-kebutuhan ini.

Ada macam-macam tema, mulai dari perumusan-perumusan sederhana tentang satu interaksi subjek-subjek sampai pada perumusan-perumusan yang lebih umum dan lebih kasar meliputi transaksi-transaksi yang lebih panjang, termasuk perumusanperumusan yang menggambarkan kombinasi dari sej umlah tema sederhana (serial themas). Tema sebagai satuan analitik merupakan konsekuensi wajar dari keyakinan Murray bahwa hubungan-hubungan antar pribadi harus dirumuskan sebagai satuan diadik (dyadic unit). Jadi, teoretikus harus menggambarkan tidak hanya subjek yang merupakan fokus perhatian, tetapi juga harus menggambarkan secara lengkap sifat dari orang dengan siapa subjek tersebut berinteraksi. Teoretikus harus memperlihatkan perhatian yang sama terhadap seluk-beluk baik subjek maupun: objek untuk meramalkan interaksi-interaksi sosial yang konkret antara dua orang.

Integrasi Kebutuhan

Meski kebutuhan-kebutuhan tidak perlu dihubungkan dengan objek-objek khusus yang ada dalam lingkungan, namun sering terjadi bahwa lewat pengalaman, individu mulai menghubungkan objek-objek khusus dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu. Demikian juga bentuk-bentuk respon tertentu, atau sarana untuk mendekati atau menghindari objek-objek ini, bisa dipelajari dan dihubungkan dengan kebutuhan. Apabila integrasi antara kebutuhan dengan gambaran atau pikiran tentang objek lingkungan ini, dan juga dengan tindakan-tindakan instrumentalnya, telah terjadi, maka Murray berbicara tentang integrasi kebutuhan. Integrasi kebutuhan adalah “disposisi tematis” (thematic disposition) yang mantap kebutuhan untuk mengadakan bentuk interaksi tertentu dengan tipe orang atau objek tertentu. Dalam keadaan-keadaan di mana integrasi kebutuhan ada maka timbulnya kebutuhan biasanya akan menyebabkan orang dengan cara yang semestinya mencari obj ek lingkungan yang cocok dengan gambaran yang merupakan bag‘ian dari integrasi kebutuhan.

Tema-Kesatuan

Tema-kesatuan pada hakikatnya merupakan kesatuan antara kebutuhan-kebutuhan dan tekanan yang berhubungan, yang diperoleh dari pengalaman kanak-kanak, dan yang memberikan arti serta kesatuan pada bagian terbesar tingkah laku individu. Tema-kesatuan ini pada umumnya beroperasi sebagai kekuatan tak sadar. Tidaklah selalu mudah menemukan suatu tema-kesatuan, meski biasanya kita dapat mencapai suatu perumusan perkembangan yang menjelaskan semua atau sebagian besar tingkah laku individu dan tanpa itu tidak akan mungkin memahami tingkah laku dengan baik. Murray menyebut tema-kesatuan seseorang sebagai “kunci ke arah hakikatnya yang unik” dan mengemukakan:

Tema-kesatuan merupakan campuran antara kebutuhan-kebutuhan dominan yang saling berhubungan-bekerjasama atau bertentangan -yang berhubungan dengan tekanan yang dihadapi individu dalam satu kesempatan khusus atau lebih, yang memuaskan ataupun yang bersifat traumatis, pada awal masa kanak-kanak. Tema tersebut bisa mencerminkan suatu pengalaman penting tertentu pada masa kanak-kanak atau suatu pembentukan reaksi terhadap pengalaman tersebut pada masa lebih kemudian. Tetapi apa pun kodrat dan asal. usulnya, tema akan terulang lagi dalam banyak bentuk selama kehidupan kemudian (1938, hlm. 604-605).

Proses-proses Regnan

Proses-proses Regnan Proses regnan ialah proses fisiologis yang membarengi proses psikologis yang dominan. Kita telah melihat dalam definisi Murray tentang kepribadian, danjuga dalam pembicaraan mengenai konsep kebutuhan, bahwa ia sangat menekankan pentingnya proses-proses fisiologis atau neurologis yang mendasari gejala-gejala yang menjadi perhatian psikolog. Niat untuk menempatkan atau menghubungkan semua proses psikologis dengan fungsi otak ini menyebabkan dikembangkannya suatu konsep khusus (regnansi) yang bertujuan untuk membuat agar kemanunggalan kepribadjanotak tetap menjadi pusat perhatiannya yang utama. Dalam mendefinisikan konsep ini, Murray mengemukakan:

Kiranya tepat untuk menyebut proses-proses yang saling tergantung satu sama lain yang merupakan konfigurasi-konfigurasi yang dominan dalam otak sebagai proses-proses regnan; dan, selanjutnya, menyebut keseluruhan proses tadi yang berlangsung pada suatu saat (satu unsur temporal dari proses-proses otak) sebagai regnansi… Sampai tingkat tertentu kebutuhan regnan menguasai organisme ( 1938, hlm. 45).

Murray juga menjelaskan bahwa semua proses sadar bersifat regnan tetapi tidak semua proses regnan adalah sadar. Jadi kesadaran hanyalah salah satu sifat dari proses psikologis yang dominan, dan kesadaran ini bisa muncul atau tidak muncul dalam suatu kesempatan tertentu.

Bagan Nilai-Vektor

Salah satu kelemahan konsep kebutuhan dan tekanan seperti diuraikan di atas ialah bahwa konsep-konsep tersebut kurang memperhatikan sifat keterkaitan tingkah laku, dalam arti bahwa kebutuhan-kebutuhan tertentu berkaitan dengan tekanan khusus dan kebutuhan~kebutuhan lainnya. Murray telah berusaha menjelaskan dengan lebih memadai interaksi di antara faktor-faktor penentu tingkah laku ini. Ia berpikir bahwa kebutuhan-kebutuhan selalu muncul demi mengejar suatu nilai, atau dengan tujuan untuk menghasilkan suatu keadaan akhir, dan oleh karena itu nilai ini harus dijadikan bagian dari analisis tentang motif-motif:

Karena observasi dan pengalaman membuktikan bahwa agresi, begitu juga semua bentuk tindakan lainnya, memiliki akibat (fungsi) yang paling tepat dirumuskan sebagai suatu entitas yang berharga (berdasarkan konstruksi, konservasi, ekspresi, atau produksinya), maka penyebutan atas entitas yang berharga itu dalam hubungannya dengan kegiatan yang disebut harus memberi sumbangan banyak bagi pemahaman kita tentang dinamika tingkah laku (1951b, hlm. 288).

Dalam bagan ini, Murray mengusulkan agar kecenderungan-kecenderungan tingkah laku digambarkan sebagai vektor-Vektor yang merupakan “arah fisik atau psikologis suatu kegiatan” secara luas. Nilai-nilai yang diemban oleh vektor-Vektor dijelaskan dalam serangkaian konsep nilai. Meski bagan yang dimaksud belum selesai seluruhnya, namun Murray telah menyajikan serangkaian daftar tentatif nilai-nilai dan vektor-vektor. Vektor-vektor meliputi penolakan, penerimaan, pemerolehan, konstruksi, konservasi, ekspresi, transmisi, pengusiran, pembinasaan, pembelaan, dan penghindaran. Nilai-nilainya meliputi tubuh (kesejahteraan fisik), milik (benda-benda yang berguna, kekayaan), autoritas (kuasa untuk membuat keputusan), aflliasi (afeksi antar pribadi), pengetahuan (fakta-fakta dan teori-teori, ilmu pengetahuan, sejarah), bentuk estetik (kecantikan, kesenian), dan ideologi (sistem nilai-nilai, filsafat, agama). Dalam praktik dimaksudkan agar vektor-vektor dan nilai-nilai ini disusun dalam suatu matriks yang terdiri atas baris-baris dan kolom-kolom yang saling memotong sehingga tiap sel dalam matriks menggambarkan tingkah laku yang dihasilkan oleh suatu vektor khusus dalam rangka mengejar suatu nilai tertentu.

Gambaran Murray Mengenai Sifat Alami Manusia

Meski teori kepribadian Murray setuju dengan Freud dalam berbagai poin, gambarannya terhadap sifat alami manusia cukup berbeda. Meski tujuan akhir dan tujuan yang penting dalam kehidupan Murray – yang, sama seperti Freud, ialah peredaan tegangan – tetap dinyatakan dalam perspektif yang berbeda. Menurut Murray, tujuan akhir kita bukanlah kondisi bebas-tegangan tetapi lebih kepada kepuasan yang timbul dari proses meredakan tegangan tersebut.

Menanggapi kontroversi kehendak bebas-kehendak yang diatur, Murray berpendapat bahwa kepribadian menjadi bagian yang ditentukan oleh kebutuhan dan oleh lingkungan. Ia menyetujui adanya tingkatan tertentu bagi kehendak bebas, betapapun kecilnya, dalam kemampuan kita untuk berubah dan bertumbuh. Ia melihat tiap manusia sebagai seseorang yang unik dan tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya tetapi juga mengakui adanya persamaan dalam kepribadian dari semua orang.

Murray percaya bahwa kita dibentuk oleh faktor genetik dan oleh lingkungan, dan masing-masing faktor tersebut punya pengaruh yang seimbang. Kita tidak dapat mengerti kepribadian kalau kita tidak bisa menerima efek dari dorongan fisiologis dan melalui stimuli dari keadaan fisik, sosial, dan budaya suatu lingkungan.

Pandangan Murray terhadap sifat alami manusia, berdasar pada suatu keoptimisan. Ia secara lantang menyuarakan kritikannya terhadap bagian psikologi yang memandang negatif dan menggambarkan kerendahan harga diri seorang manusia. Ia berpendapat bahwa, dengan kekuatan yang besar dari kreatifitas, imaginasi, dan alasan, kita mampu mengatasi segala permasalahan yang kita hadapi. Sejalan dengan keyakinan kita, Murray banyak melibatkan usaha untuk memperbaiki keadaan sosial dan permasalahan pribadi menjadi lebih baik. Ia telah memusatkan perhatian dengan tingkat kedekatan dua-orang (seperti dalam pernikahan) dan dalam tingkatan budaya asal, dan ia telah mempublikasikan penghentian secara resmi terhadap perang dan membentuk kesatuan dunia global.

Orientasi kemanusiaan, menurut pandangan Murray, mengarah secara luas pada masa depan. Ketika ia menyadari adanya jejak dari pengalaman masa anak-anak terhadap tingkah laku sekarang, ia tidak menunjukkan keseluruhan keterpenjaraan masa lalu kita. Kompleks pada masa anak-anak dalam sistemnya dapat secara mendasar mempengaruhi perkembangan kita, tetapi kepribadian juga dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi sekarang ini dan aspirasi pada masa depan. Kita mempunyai kemampuan berkesinambungan untuk bertumbuh dan berkembang; dimana, pertumbuhan semacam itu adalah alami dan pasti terjadi pada manusia. Kita bisa berubah melalui rasionalisasi kita sendiri dan kemampuan kreatif, dan jika kita sebagai individu bisa berubah, secara bersama kita bisa merubah sistem sosial dimana kita tinggal.

Perkembangan Kepribadian

Kita telah membahas rangkaian konsep terinci yang dikembangkan Murray untuk menggambarkan disposisi-disposisi atau perjuangan individu, dan kita juga telah meninjau konsep-konsep yang dikemukakannya untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa lingkungan yang penting. Maka, sekarang kita dapat menggambarkan individu pada tiap titik waktu sebagai suatu integrasi yang kompleks dari kebutuhan-kebutuhan dan tekanan atau vektor-vektor dan nilai-nilai, maupun struktur-stuktur kepribadian, abilitas-abilitas, prestasi-prestasi, dan sentimen-sentimen. Akan tetapi kitajuga telah melihat bahwa “sejarah organisme adalah si organisme itu sendiri”, dan hal ini jelas menunjukkan bahwa menggambarkan individu pada satu titik waktu tidaklah cukup. Penelitian secara longitudinal tentang individu merupakan suatu hal yang sangat penting, dan Murray telah berbicara banyak tentang jalan perkembangan psikologis.

Variabel-variabel yang telah kita bicarakan tentu saja dapat diterapkan pada tiap titik perkembangan. Akan tetapi di samping konsep-konsep ini, Murray telah mengembangkan dan menyempurnakan konsepsi psikoanalitik tentang “kompleks” untuk menggambarkan sekumpulan pengalaman awal masa kanak-kanak yang sangat penting. Meski penjelasan Murray tentang perkembangan terlalu berbau teori psikoanalisis, toh ia memasukkan dimensi-dimensi baru pada waktu ia menggunakan konsepsi-konsepsi ini dan ia telah menunjukkan daya cipta yang luar biasa ketika mengembangkan alat-alat untuk mengukur beberapa dari antara variabel-variabelnya yang penting.

Dalam membicarakan perkembangan, kita akan mulai dengan membahas kompleks-kompleks kanak-kanak dan kemudian disusul dengan suatu ikhtisar pendek tentang pandangan Murray sekitar beberapa isu teoretis, meliputi faktor-faktor genetik dan pematangan, belajar, faktor-faktor sosio-kultural, Penentu Experensial, keunikan individu, peranan faktor-faktor tak sadar, dan proses sosialisasi.

Infantil Kompleks

Konsep kornpleks mewakili rancangan pengalaman masa anak-anak yang memberikan reaksi kejadian masa lalu sebagai cara yang khusus mengembangkan kehidupan dan tingkah laku individu. Mengikuti Freud dan para psiko analis, Murray (1938) menyarankan beberapa kondisi awal atau kegiatan-masingmasing yang akhirnya diakhiri, frustrasi, atau dibatasi oleh kekuatan eksternal-sekitar yang kompleks sangat mungkin mengembangkan. Kondisi-kondisi tersebut antara lain:

  1. Rasa aman selama berada dalam rahim/kandungan (diakhiri oleh pengalaman yang menyakitkan dalam kelahiran).
  2. Kenikmatan yang sensual mengisap makanan baik dari payudara ibu (atau botol) sambil berbaring dengan aman dalam pelukannya (sampai berhenti saat disapih).
  3. Kenikmatan bebas dari sensasi menyenangkan yang menyertai air besar (dibatasi oleh latihan penggunaan toilet).
  4. Excitations yang mendebarkan yang muncul dari memanipulasi alat kelamin (dilarang dengan ancaman hukuman).

 

Kompleks-kompleks Kanak-kanak

Jika kita menerima fakta bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada awal kehidupan individu merupakan faktor-faktor yang sangat penting dalam tingkah lakunya pada masa dewasa, maka kita menemukan suatu dilema empiris yang disebabkan oleh fakta bahwa sebagian terbesar peristiwa-peristiwa ini terjadi mendahului perkembangan bahasa. Akibatnya, metode-metode pemeriksaan atau pengukuran yang biasa adalah tidak cocok dan peneliti harus menggantungkan diri pada observasi dari luar terhadap anak serta rekonstruksi-rekonstruksi kabur yang dapat dilakukan individu setelah kemampuan berbahasanya berkembang. Penggunaan dua sumber data ini telah mengakibatkan bahwa bidang-bidang pengalaman tertentu yang sangat penting untuk perkembangan anak dan perkembangan selanjutnya sesudah dewasa tidak dapat diungkap. Menurut Murray, bidang-bidang pengalaman ini meliputi:

lima keadaan atau kegiatan yang sangat menyenangkan, yang masing-masing diakhiri, dikecewakan, atau dibatasi (pada suatu titik dalam perkembangan) oleh pengaruh-pengaruh dari luar: ( 1) kehidupan yang aman, pasif dan tergantung dalam kandungan (terputus dengan kasar oleh pengalaman kelahiran yang menyakitkan); (2) kenikmatan dalam mengisap makanan yang nikmat baik dari tetek ibu (atau dari botol) sambil berbaring dengan aman dan pasrah tergantung dalam lengannya (berhenti karena sapihan); (3) perasaan-perasaan menyenangkan yang dinikmati dengan bebas pada waktu defekasi (dibatasi oleh latihan buang air secara teratur); (4) kesankesan perasaan menyenangkan pada waktu buang air kecil…; dan (5) rangsangan-rangsangan menggetarkan yang timbul dari pergesekan alat kelamin (terhalang oleh ancaman-ancaman hukuman) (1938, hlm. 361-362).

Sudah dikemukakan oleh para psikoanalis bahwa semua bidang ini mengandung masalah-masalah khusus bagi pertumbuhan anak. Sumbangan-sumbangan Murray di sini berupa penjabaran uraian dan penjelasan tentang pandangan-pandangan Freudian ortodoks.

Dalam kasus-kasus di mana akibat-akibat dari pengalaman kanak-kanak ini pada tingkah laku selanjutnya adalah jelas dan luas. maka kita berbicara tentang kompleks. Sesungguhnya diasumsikan bahwa semua individu mempunyai berbagai “kompleks’’: dengan taraf kompleksitas yang berbeda-beda, dan hanya dalam kasus-kasus ekstremlah kompleks ini mencerminkan ketidaknormalan. Menurut rumusan Murray, kompleks merupakan “integrasi yang tahan lama (berasal dari salah satu kondisi yang disenangi yang disebut di atas) yang menentukan (secara tak sadar) jalan perkembangan selanjutnya….” (1938, hlm. 363).

Murray merumuskan dan memberikan spesiflkasi kasar untuk mengukur lima kompleks: kompleks klaustral, kompleks oral, kompleks anal, kompleks uretral, dan kompleks kastrasi. Tiap kompleks merupakan hasil dari peristiwa-peristiwa yang menyangkut salah satu dari lima bidang pengalaman yang menyenangkan yang dijelaskan di atas.

Kompleks-kompleks klaustral adalah sisa-sisa dari pengalaman selama berada dalam kandungan atau prenatal dari individu. Bidang pengalaman ini telah dibahas oleh para analis termasuk Freud dan Rank. Murray menyatukan dan mensistematisasikan ide-ide ini, menguraikannya dan menambahkan nama yang cocok. Ia mengemukakan bahwa di bawah judul umum ini terdapat tiga tipe kompleks khusus, yakni:

… 1) kompleks yang berkisar sekitar keinginan untuk mengembalikan kondisi-kondisi serupa dengan kondisi-kondisi sebelum dilahirkan;

2) kompleks yang berkisar sekitar kecemasan karena tidak dibantu dan tidak berdaya, dan 3) kompleks yang dengan penuh kecemasan ditujukan untuk melawan kemungkinan tak bisa bernafas dan terkurung (1938, hlm. 363).

Setelah memberikan spesifikasi umum tentang kompleks-kompleks tersebut, Murray memberikan simtom-simtom atau kriteria terinci lewat mana masing-masing dari ketiga tipe kompleks klaustral itu dapat dikenal. Ciri-ciri kompleks klaustral sederhana (mengembalikan kondisi-kondisi kandungan) meliputi kateksis terhadap klaustra (tempat-tempat tertutup seperti kandungan), objek-objek yang bersifat memelihara atau yang bersifat keibuan, kematian, masa lampau, dan tidak mau berubah, kebutuhan akan sifat pasif, penghindaran dari bahaya, pengasingan diri, dan pertolongan. Jadi, itulah seluruh gambaran orang yang pasif, dependen dan berorientasi Dada masa lampau serta umum
nya menolak hal yang baru atau perubahan. Kompleks ketakutan tidak akan dibantu menggejala dalam ketakutan terhadap tempat-tempat yang terbuka, jatuh, tenggelam, gempa bumi, api, dan tidak ada bantuan dari keluarga. Kompleks egresi berkisar pada pelarian diri atau pembebasan dan menggejala dalam kateksis terhadap tempat-tempat terbuka dan udara segar, kebutuhan untuk berpindah dan bepergian, kateksis terhadap perubahan, ketakutan terhadap ruang yang sempit dan tertutup (claustrophobia), dan kebutuhan yang kuat akan otonomi. Jadi, individu yang memperlihatkan kompleks ini dalam kebanyakan hal adalah lawan dari orang yang memperlihatkan kompleks klaustral yang sederhana.

Kompleks-kompleks oral adalah sisa-sisa dari pengalaman-pengalaman pemberian makan awal, dan lagi Murray mengemukakan tiga sub kompleks khusus, semuanya menyangkut mulut, tetapi masing-masing mengimplikasikan tipe kegiatan yang berbeda. Kompleks bantuan oral meliputi gabungan antara kegiatan oral dengan kecenderungan-kecenderungan untuk bersikap pasif dan dependen. Adanya kompleks ini dapat disimpulkan dari berbagai otomatisme oral, seperti mengisap; kateksis terhadap benda-benda oral seperti puting susu, buah dada, atau ibu jari; kompulsi makan dan minum; kebutuhan untuk bersikap pasif dan mencari bantuan; kateksis terhadap kata-kata, benda-benda yang bersifat memelihara; dan kebutuhan-kebutuhan agresif yang terhambat. Kompleks agresi oral merupakan gabungan antara kegiatan oral dan agresi dan menggejala dalam gerakan-gerakan oral secara otomatis, seperti menggigit; kateksis terhadap benda-benda oral yang keras (daging, tulang); kebutuhan-kebutuhan agresif yang kuat; ambivalensi terhadap tokoh-tokoh penguasa; proyeksi agresi oral (memandang lingkungan sebagai penuh dengan benda-benda agresi yang siap menggigit); kebutuhan untuk menghindarkan diri dari bahaya; fobia terhadap benda-benda yang menggigit; dan menggagap. Kompleks penolakan oral meliputi meludah dan jijik terhadap kegiatan-kegiatan dan benda-benda oral. Secara lebih khusus, kompleks ini diperlihatkan dalam suatu kateksis negatif terhadap makanan-makanan tertentu, kurang nafsu makan. ketakutan terhadap infeksi atau luka di bagian mulut, kebutuhan untuk menolak, kebutuhan untuk mengasingkan diri dan otonomi, dan tidak suka terhadap objek-obje yang bersifat nurutran atau makanan.

Kompleks-kompleks anal berasal dari peristiwa-peristiwa yang diasosiasikan dengan buang air besar dan latihan buang air secara teratur. Murray, mengikuti Freud dan Abraham, mengemukakan bahwa di sini ada dua kompleks khusus, yang satu terutama berkisar pada kecenderungan untuk mengeluarkan sedangkan yang lain berkisar pada kecenderungan untuk menahan. Kompleks penolakan anal meliputi diare dan kateksis terhadap kotoran (faeses) dan selanjutnya menyangkut kebutuhan akan agresi, khususnya yang menyangkut ketidakteraturan dan pengotoran, atau pencorengan; teori anal tentang kelahiran, kebutuhan akan otonomi, seksualitas anal. Kompleks refensi anal berupa kateksis terhadap kotoran (faeses) tetapi kateksis ini di sembunyikan di belakang perasaan jijik, kesopansantunan, da reaksi negatif terhadap buang air besar (defekasi). Kompleks ini juga dikaitkan dengan teori anal tentang kelahiran dan seksualitas anal, maupun dengan kebutuhan akan otonomi, meski dalam hal ini otonomi diwujudkan dalam bentuk penolakan terhadap. sugesti bukan dalam bentuk pencarian kemandirian atau ke bebasan. Ada pula kebutuhan yang kuat akan keteraturan dan kebersihan, dan juga kebutuhan untuk menahan harta milik. Tentu saja kompleks ini mirip dengan trilogi Freudian yan terkenal, “kekikiran, kebersihan, sifat keras kepala,” yang merupakan ciri khas “karakter anal”.

Mula-mula, Murray (1938) menganggap bahwa kompleks uretral tidaklah begitu penting. Mula-mula ia mengemukakan bahwa kompleks ini meliputi mengompol di tempat tidur, mengompol di celana, dan erotisme uretral. Hasil penelitian yang dilakukannya sesudah perang memberinya kepastian bahwa bagi banyak individu bidang pengalaman ini ternyata sangat penting, dan sejak itu ia memberikan penjelasan lebih lanjut tentang kompleks itu maupun suatu rangkaian alat empiris untuk memeriksanya, meski sampai sekarang bahan ini tidak pernah diterbitkan. Ia juga mengusulkan untuk menyebut sindrom ini kompleks Icarus, mengikuti nama tokoh mitologi yang terbang begitu dekat dengan matahari malawan nasihat ayahnya, dengan akibat bahwa sayap-sayap buatannya meleleh, dan ia jatuh mati. Sebuah sejarah kasus terinci tentang seorang Icarus Amerika pernah diterbitkan (Murray, 1955). Dalam perumusan-perumusannya yang lebih kemudian, ia menunjukkan bahwa individu yang bersifat Icarian memiliki sejumlah kualitas khusus seperti kateksis terhadap api, pernah punya kebiasaan mengompol, merindukan kehidupan kekal, narsisisme yang kuat, dan ambisi tinggi yang mudah hancur bila mengalami kegagalan.

Kompleks kastrasi juga kurang diberi perhatian dalan tulisan awal Murray dibandingkan dengan tiga kompleks yang pertama. Ia mengemukakan bahwa kompleks itu harus diberi arti atau makna yang lebih terbatas daripada yang biasa diberikan oleh para psikoanalisis:

Bagi kami rupanya lebih baik membatasi istilah kompleks kastrasi menurut arti haraflahnya kecemasan yang ditimbulkan oleh fantasi bahwa penis mungkin akan dipotong. Kompleks ini cukup banyak terj adi, tetapi rasanya tidak mungkin bahwa kompleks ini merupakan sumber segala kecemasan neurotik. Biasanya kompleks ini muncul sebagai akibat dari fantasi-fantasi yang diasosiasikan dengan masturbasi kanak-kanak (1938, hlm. 385).

Tiap kompleks ini bisa bertahan sepanjang kehidupan seseorang dalam bentuk sifat-sifat karakter, yakni cara-cara bertingkah laku yang khas.

Faktor-faktor Genetis dan Pematangan

Dalam perumusan pandangan-pandangannya yang lebih kemudian Murray (1968b) beranggapan bahwa faktor-faktor genetik dan pematangan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan kepribadian. Ia memandang proses-proses genetikpematangan bertugas memrogramkan sejenis suksesi atau urutan pergantian berbagai masa sepanj ang kehidupan seorang individu. Selama masa pertama yakni masa kanak-kanak, adolesen, dan masa dewasa awal komposisi-komposisi struktural baru muncul dan menjadi bertambah banyak. Masa usia setengah baya ditandai oleh rekomposisi-rekomposisi konservatif atas struktur-struktur dan fungsi-fungsi yang telah muncul. Selama masa terakhir, masa usia lanjut, kapasitas untuk membentuk komposisi-komposisi dan rekomposisi-rekomposisi baru berkurang sebaliknya atrofi dari bentuk-bentuk dan fungsi-fungsi yang ada meningkat Dalam tiap periode, terdapat banyak program peristiwa-peristiwa tingkah laku dan pengalaman yang lebih kecil yang berlangsung di bawah bimbingan proses-proses pematangan yang dikontrol secara genetis.

Menurut Murray, perkembangan-perkembangan ini bersurmber pada proses-proses metabolik. Dalam masa pertama, anabolisme mengungguli katabolisme; dalam masa kedua, keduanya kira-kira sama; dan dalam masa ketiga, katabolisme lebih besar daripada anabolisme. Murray menyukai model metabolik karena “model itu sesuai dengan konsepsi tentang kenyataan yang tidak dapat diungkapkan menurut struktur-struktur ruang (spatial benda sebagaimana adanya melainkan menurut sifat-sifat beroperasi dan saling tergantung dari benda artinya menurut proses, waktu dan energi” (1968b, hlm. 9). Lagi pula itulah model yang memberi tempat bagi progresi, kreativitas, dan aktualisasi diri, yang tidak dijelaskan oleh teori psikoanalisis murni.

Murray memilih model metabolik karena memungkinkan dia untuk menekankan proses daripada struktur dan mewakili ide-ide kemajuan, konstruksi, dan kreativitas. Ada tiga era/masa dalam proses psiko metabolik yaitu:

  1. Era pertama kehidupan (kira-kira, masa bayi hingga awal masa dewasa),

anabolik, atau building-up adalah proses dominan. Orang belajar hal-hal baru; baru dalam struktur dan fungsi otak yang mungkin ditetapkan.

  1. Era kedua (dewasa, atau tengah tahun), anabolik clan katabolik (breaking-down) merupakan proses lebih atau kurang seimbang satu sama lain, dan penekanan pada kepala dan memperkuat apa yang telah dipelajari, melalui pengulangan, memori, dan sebagainya.
  2. Pada era ketiga dan terakhir (usia tua, atau penuaan), proses katabolik menjadi dominan; memori kurang dapat diandalkan, Struktur dan fungsi dasar mulai memburuk.

Hipotesis Murray bahwa program genetis menentukan usia paling awal di mana berbagai kecenderungan dan bakat akan muncul dan mampu berkembang, saat anak berada pada kondisi balk clan pada suatu titik tertentu suatu ungkapan yang terprogram akan berkata, “Sekarang adalah waktu untuk belajar merangkak”; di lain perkembangannya, suatu ungkapan yang terprogram akan berkata “Kini datang masa pubertas” (Murray, 1968: 8). Murray juga menunjukkan bahwa program genetis menentukan “batas-batas kesempurnaan sejumlah keterampilan khusus (misalnya, atletik, musik, matematika, puitis) dapat disempurnakan di bawah keadaan yang paling memfasilitasi” (Murray, 1968: 8).

Belajar

Faktor-faktor genetik tidak dapat diabaikan dalam pembahasan tentang belajar karena Murray yakin bahwa faktor-faktor tersebut bertanggung jawab atas timbulnya pusat-pusat kenikmatan (hedonik) dan ketidaknikmatan (anhedonik) dalam otak. Belajar ialah menemukan apa yang menimbulkan kesenangan dan apa yang menimbulkan kesusahan bagi individu. Sumber-sumber hedonik dan anhedonik ini dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara. Sumber-sumber itu dapat bersifat retrospektif (ingatan-ingatan pada pengalaman masa lampau yang menyenangkan atau menyedihkan), spektif (pengalaman-pengalaman masa kini), atau prospektif (antisipasi-antisipasi terhadap kesenangan-kesenangan atau kesakitan-kesakitan di masa mendatang). Sumber-sumber di masa sekarang dapat diklasifikasikan menurut apakah mereka itu terutama terdapat dalam diri orang yang bersangkutan, dalam lingkungan, atau dalam transaksi antarpribadi. Sumber-sumber ini dapat dibagi lebih lanjut. Misalnya, sumber-sumber yang terdapat dalam diri sang pribadi bisa terdapat pada tubuh, pada suatu pusat emosi dalam otak, pada suatu tipe proses psikologis, atau pada keputusan-keputusan suara hati.

Murray secara khusus menolak konsep kebiasaan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian. Individu bukanlah seorang makhluk kebiasaan, melainkan secara terus-menerus mencari cara-cara baru untuk mengungkapkan dirinya, mendambakan bentuk-bentuk stimulasi baru, petualangan-petualangan baru, dan prestasi-prestasi baru, serta mampu mengalami transformasi lewat wawasan-wawasan rohani (Murray 1968b, hlm. 12).

Faktor-faktor Sosio-kultural

Berbeda secara mencolok dengan kebanyakan teoretikus, yang mengekor teori psikoanalisis, Murray dengan sengaja menetapkan peranan penting faktor-faktor lingkungan dalam perkembangan. Kita telah melihat bahwa berbeda dari kebanyakan ahli yang mempelajari motivasi, ia mengembangkan sekumpulan konsep terinci (tekanan) yang dimaksudkan untuk melukiskan lingkungan individu. Ia melakukan itu sebagian berdasarkan teori Darwin yang mengatakan bahwa terutama kelompoklah yang mengalami evolusi, bukannya individu. Kelangsungan hidup bagi yang terkuat (survival for the fittes) berlaku bagi persaingan antarkelompok. Maka, Murray menulis: “Teori evolusi kelompok ini membantu kita untuk memahami mengapa manusia adalah makhluk sosial, dan mengapa sebagai makhluk sosial, ia penyayang sekaligus kejam” (1959, hlm. 46). Selanjutnya, ia sering menyinggung fakta bahwa jalan perkembangan tidak dapat dipahami dengan baik tanpa suatu gambaran yang lengkap tentang lingkungan sosial, tempat proses itu berkembang. Konsepnya tentang “proceeding” dan “tema” secara konsisten mengimplikasikan suatu pandangan interaksionis keyakinan bahwa pemahaman yang lengkap tentang tingkah laku akan diperoleh hanya apabila baik subj ek maupun objeknya diungkapkan secara memadai. Semua yang dikatakan di atas menunjukkan bahwa Murray mengikuti dan menekankan pentingnya pandangan “medan” tentang tingkah laku.

Penentu Experensial

Proses pengalaman terdiri dari sebuah keberhasilan dalam (1) peristiwa yang terjadi pada seseorang di lingkungan hidup; (2) ekspresi seseorang yang terprogram (“naluriah ledakan”), dipicu oleh peristiwa lingkungan yang spesifik, dan (3) upaya orang untuk melakukan sesuatu, sebagai dampak dari tindakan positif dan negatif, seperti imbalan atau hukuman.

Keunikan

Meski perhatian Murray tertuju pada kategori-kategori analisis yang bersifat umum, namun ia selalu memandang keunikan hakiki tiap pribadi, bahkan tiap peristiwa tingkah laku, sebagai fakta-fakta yang tidak perlu dibuktikan lagi. Penghargaannya terhadap observasi naturalistik serta bakat-bakat sastranya yang kreatif dan intuitif memudahkannya untuk mengilhami dan menjelaskan secara menakjubkan individualitas dan kompleksitas yang sukar dipahami dari tiap subjek atau peristiwa. Mengutip kata-kata Murray:

Tiap proceeding akan meninggalkan bekas suatu fakta baru, benih untuk sebuah ide, penilaian kembali tentang sesuatu, persekutuan yang lebih mesra dengan seseorang, sedikit perbaikan ketrampilan, pembaharuan harapan, alasan lain untuk bersedih. Jadi, perlahan-lahan, dengan perubahan yang hampir tidak dapat dirasakan meski kadang-kadang dengan 10mpatan ke depan atau ke belakang secara tiba-tiba a orang berubah dari hari ke hari. Karena orang-orang akrab di sekelilingnya juga berubah, maka dapat dikatakan bahwa tiap kali ia bertemu dengan salah seorang di antara mereka, keduanya berbeda. Singkatnya, tiap proceeding dalam sejumlah hal tertentu adalah unik (Murray dan Kluckhohn, 1953, hlm. 10).

Proses-proses Tak Sadar

Di antara para psikolog akademik, Murray merupakan salah satu di antara orang-orang yang mengakui peranan tersembunyi namun luas dari faktor-faktor tingkah laku tak sadar (Murray. 1936). Sebagaimana telah kita amati, dalam pernyataan teoretis pertamanya yang penting (1938) ia menjelaskan bahwa tidak se’ mua proses regnan memiliki hubungan-hubungan sadar, sehingga cukup wajar bahwa proses-proses regnan yang tidak memiliki hubungan-hubungan sadar tersebut menentukan tingkah laku tanpa disadari individu. Individu tidak hanya tidak menyadari kecenderungan-kecenderungan tertentu yang mempengaruhi tingkah lakunya, tetapi yang lebih penting, beberapa dari kecen’ derungan-kecenderungan ini secara aktif dihalangi atau dihalau dari pengaruh kesadaran. Jadi, Murray tidak hanya mengakui peranan faktor-faktor tingkah laku tak sadar tetapi juga mengakui beroperasinya mekanisme-mekanisme Fredian, yaitu represi dan resistansi.

 

Proses Sosialisasi

Murray telah menyatakan bahwa kepribadian manusia merupakan kompromi antara impuls-impuls individu sendiri dan tuntutan-tuntutan serta kepentingan-kepentingan orang-orang lain. Tuntutan dari orang-orang lain im’ diwakili secara kolektif oleh pranata-pranata dan pola-pola budaya tempat individu itu berada, sedangkan proses dengan mana impuls-impulsnya sendiri dikompromikan oleh kekuatan-kekuatan ini disebut proses sosialisasi. Konflik-konflik antara individu dan pola-pola lingkungan sosial yang berlaku, biasanya dipecahkan dengan cara individu menyesuaikan diri dengan pola-pola kelompok dengan cara tertentu. Hanya kadang-kadang, dan pada kasus individu-individu luar biasa, orang bisa mengadakan perubahan dalam pola-pola budaya yang akan mengurangi konfliknya dengan impuls-impulsnya sendiri. Untuk sebagian terbesar, kepribadianlah yang lebih mudah dibentuk, karena itu konflik biasanya direduksikan dengan mengubah sang pribadi.

Salah satu unsur hakiki untuk mencapai tujuan-tujuan sosialisasi ialah perkembangan superego yang memadai. Sebagaimana telah kita lihat, dengan menginternalisasikan aspek-aspek pada tokoh-tokoh autoritas yang dikenal, seorang pribadi mengembangkan sejenis struktur internal yang berfungsi menghadiahi dan menghukum apabila pribadi yang bersangkutan bertingkah laku dengan tepat atau tidak tepat diukur dari pola budaya sebagaimana diinterpretasikan oleh tokoh-tokoh autoritas tersebut. Hal ini mengandung implikasi bahwa orangtua, sebagai tokohtokoh autoritas yang paling penting merupakan pelaku-pelaku utama dari proses sosialisasi. Keberhasilan orangtua dalam menghadiahi pola-pola tingkah laku yang disetujui dan menghukum pola-pola tingkah laku yang tidak disetujui sebagian besar akan menentukan keberhasilan proses perkembangan ini. Salah satu komponen penting dari peranan orangtua sebagai pelaku sosialisasi ialah kemampuan mereka mengembangkan hubungan kasih sayang timbal balik dengan anak sehingga sekedar persetujuan atau penolakan dapat berfungsi sebagai kondisi-kondisi motivasi penting dalam mengontrol tingkah laku anak.

Sosialisasi bukan tidak memiliki segi-segi negatif. Seorang individu dapat terlalu disosialisasikan, bahkan secara teoretis Seluruh masyarakat dapat mengalami proses-proses sosialisasi Yang justru merugikan, bukannya menyiapkan kearah kehidupan yang berhasil. Sebagaimana dikemukakan Murray, manusia Dada dasarnya adalah binatang dan jika sosialisasi menyangkut kodrat biologis yang fundamental ini maka ia tidak dapat menghancurkan spontanitas dan kekuatan kreatif yang mutlak diperlukan demi berbagai macam kemajuan manusia yang terpenting.

Psikopatologi

Menurut murray, ada lima kompleks yang terjadi selama masa kanak-kanak yang harus dipenuhi. Ketika hal tersebut diperlihatkan secara ekstrem, orang akan tetap terfiksasi pada satu tingkatan perkembangan. Kepribadiannya kemudian menjadi tidak dapat berkembang secara spontan dan fleksibel, yang akan mempengaruhi pembentukan ego dan superego.

The Claustral Stage

Bentuk yang tidak mendukung dari tahap ini berpusat pada rasa tidak aman dan ketidakberdayaan yang menyebabkan seseorang takut untuk menghadapi ruang terbuka, jatuh, tenggelam, kebakaran, gempa bumi, ataupun situasi yang baru dan perubahan.

The Oral Stage

Karakteristik perilaku dari oral rejection complex adalah muntah-muntah, memilih-milih makanan, sedikit makan, takut terhadap kontaminasi lewat oral (semisal ciuman), mengasingkan diri, dan menghindari bergantung kepada orang lain.

The Anal Stage

Orang yang mengalami kompleks ini tidak teratur dan kurang bersih.

 The Urethral Stage

Kompleks ini diasosiasikan dengan ambisi yang berlebihan, harga diri yang menyimpang, rasa pamer, mengompol, dan terlalu mencintai diri sendiri. Orang yang mengalami kompleks ini berangan-angan terlalu tinggi, dan hancur karena kegagalan.

 

The Genital or Castration Stage

Kompleks ini menimbulkan rasa cemas yang berlebihan akan fantasi seorang anak yang takut dikebiri oleh orang tuanya. Murray percaya bahwa ketakutan ini timbul akibat masturbasi pada masa kanak-kanak dan hukuman orang tua kepada anak.

Penelitian Khas dan Metode Penelitian

Kami telah menunjukkan bahwa nilai penelitian Murray terutama terletak pada keasliannya dan inilah yang menyebabkan sangat sulit menarik benang merah dari penelitian-penelitian yang diilhami maupun yang dilakukannya. Sebelum kita memulai tugas sulit memilih contoh-contoh penelitian untuk disajikan di sini secara ringkas ada baiknya kita memeriksa dengan sangat singkat beberapa ciri khusus pendekatan umum Murray dalam penelitian kepribadian. Pembaca yang berminat bisa menemukan beberapa makalah di mana Murray mengemukakan konsepsinya tentang bagaimana seharusnya penelitian kepribadian dilakukan (Murray, 1947, 1949b, 1963).

Penelitian Intensif pada Sejumlah Kecil Subjek Normal

Penelitian berskala besar tentang tingkah laku manusia dengan temuan-temuan berupa kecenderungan-kecenderungan kelompok atau hubungan-hubungan menyeluruh yang kurang dapat memberi gambaran yang cukup baik tentang individu dalam kelompok, merupakan suatu cara yang terbatas dalam memahami tingkah laku manusia. Murray yakin, berdasarkan kearifannya sebagai seorang naturalis dan ahli klinik, bahwa pemahaman yang memadai tentang tingkah laku harus melewati penelitian Yang sempurna dan terinci tentang subjek-subjek individual. sebagaimana penelitian kasus memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu kedokteran, demikian juga masa depan psikologi tergantung pada kemauan para peneliti untuk meluangkan waktu dan usaha untuk memahami kasus-kasus individual secara menyeluruh. Hubungan-hubungan kelompok penting hanya jika disertai penyelidikan yang cermat tentang penyimpangan-penyimpangan dalam kelompok dan kondisi-kondisi yang menyebabkan atau menyertai penyimpangan-penyimpangan ini. Melaporkan suatu temuan yang berhasil menjelaskan 80 persen dari kelompok tertentu kurang menjadi bernilai kecuali kalau penjelasan tentang kegagalan 20 persen lainnya yang sejalan dengan pola ini bisa diberikan. Penekanan Murray secara konsisten pada segi ini merupakan salah satu dari sumbangan-sumbangan pokoknya bagi metode-metode penelitian.

Apabila kita tertarik kepada subjek individual dan juga menaruh minat pada sebab-sebab yang mengakibatkan munculnya subjek-subjek yang merupakan pengecualian-pengecualian pada hubungan-hubungan yang umum itu, maka jelas kita harus memperoleh sejumlah besar informasi tentang tiap subjek. Jadi, tidak dapat dielakkan bahwa pandangan Murray akan mengarahkannya kepada penelitian yang intensif tentang subjek-subjeknya, dan ini tentu berakibat dikuranginya jumlah subjek yang dapat diteliti pada suatu waktu dan jumlah keseluruhan penelitian yang dapat dilakukan oleh seorang peneliti dalam sejumlah tahun tertentu.

Ciri khas selanjutnya dari penelitiannya adalah tekanannya pada penelitian mengenai individu-individu normal dalam lingkungan-lingkungan alamiah. Umumnya, penelitian intensif terhadap kasus-kasus individual dilakukan di lingkungan klinis di mana patologi dari para pasien telah menjadikan mereka subjek perhatian khusus atau karena tuntutan-tuntutan demi ketepatan diagnostik dan terapeutik membutuhkan informasi yang luas semacam itu. Jadi, pilihan Murray pada subjek normal sebagai fokus penelitiannya merupakan imbangan wajar bagi sejarah-sejarah kasus yang diperoleh dari lingkungan-lingkungan psikiatrik.

Murray (1958) yakin bahwa keprihatinan terdalam seorang personologis adalah menerangkan dan memprediksikan aktivitas-aktivitas individu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu ia tidak: boleh puas dengan membatasi prediksi-prediksinya: pada lingkungan laboratorium atau berusaha memahami individu hanya dengan memvalidasikan suatu percobaan dengan pembandingkannya dengan percobaan lain.

Ia adalah juga salah seorang di antara para pelopor kerjasama interdisipliner dalam penelitian kepribadian. Staf klinik Psikologi Harvard biasanya terdiri atas wakil-wakil dari kalangan psikiatri, Psikologi, antropologi dan disiplin-disiplin lainnya, pada masa di mana hal semacam itu sama sekali tidak lazim.

Dewan Diagnostis

Murray sangat menekankan pentingnya pengamat atau psikolog sebagai instrumen dalam penelitian psikologi. Meski kita dapat menggunakan skala-skala penilaian, perangkat-perangkat kategori atau tes-tes psikologis untuk menilai kepribadian, namun yang menjadi dasar dari semua instrumen ini adalah kepekaan observasi sang peneliti atau si ahli klinis. Karena peranan pengamat sedemikian penting,maka Murray yakin bahwa perhatian harus lebih tertuju kepada kelemahan-kelemahan pengamat dan harus dilakukan usaha-usaha yang lebih serius untuk memperbaiki kemampuan observasinya. Pertimbangan-pertimbangan ini telah menyebabkan ia menyebut seorang psikolog sebagai “instrumen presisi” yang paling penting dalam penelitian psikologi.

Salah satu cara jelas untuk memeriksa dan meningkatkan kualitas observasi ialah dengan melibatkan banyak pengamat yang semuanya memeriksa data yang sama dengan perspektif yang berlainan. Dus, pelibatan sejumlah peneliti untuk menyelidiki individu atau individu-individu yang sama memberikan keuntungan-keuntungan khas berupa penghapusan kelemahan-kelemahan yang bersumber pada berbagai bias pengamat-pengamat tertentu atau kelemahan-kelemahan yang biasa terdapat dalam sekumpulan data tertentu. Tidak hanya hasil akhir dari observasi kelompok semacam itu dianggap lebih unggul dari pada observasi individual, tetapi juga anggota-anggota kelompok bisa mempertajam dan memperbaiki kemampuan observasi mereka berkat fungsi korektif hasil-hasil observasi yang dilakukan oleh orangorang lain.

Pertimbangan-pertimbangan ini menyebabkan Murray menciptakan sejenis dewan diagnostik di mana banyak pengamat meneliti subjek-subjek yang sama dari segi pandangan yang berlainan, selanjutnya kesempatan diberikan untuk secara flnal membahas dan menyintesakan informasi yang diperoleh dari segi pandangan yang berbeda-beda ini. Sesudah suatu periode observasi individual di mana tiap peneliti menyelidiki para subjek dengan teknik-tekniknya sendiri yang khas, maka diadakan suatu pertemuan untuk membicarakan masing-masing subjek. Pada kesempatan ini tiap peneliti mengemukakan data dan interpretasi mereka dan memberi kesempatan penuh bagi pengamat-pengamat lainnya untuk menyokong atau mengusulkan perubahan-perubahan dalam laporannya berdasarkan observasi dan interpretasi mereka sendiri. Seorang peneliti lain bertanggung jawab menghimpun dan membuat sintesis dari tiap kasus, tetapi tiap anggota dewan diberi kesempatan yang tak terbatas untuk memberikan sumbangan bagi hasil akhir ini.

Instrumen-instrumen Pengukur Kepribadian

Di antara para psikolog kontemporer, tidak ada tokoh yang telah memberikan sumbangan-sumbangan penting bagi pengukuran kepribadian melebihi Murray. Ia telah menciptakan sejumlah besar alat untuk mengukur kepribadian, meski hanya sedikit di antaranya yang telah dimanfaatkan secara sistematis. Buku Explorations in personality dan Assessment of men memberikan gambaran luas tentang kecanggihan dan keanekaragaman instrumen yang diciptakannya atau yang dikembangkan orang lain mengikuti pengaruhnya. Salah satu di antaranya, Thematic Apperception Test, merupakan teknik projektif yang paling banyak digunakan dewasa ini sesudah Rorschach Test (Lindzey, 1961; Murstein, 1963; Zubin, Eron, dan Schumer, 1965).

Memahami Kepribadian Melalui Fantasi: TAT

TAT (Thematic Apperception Test) dikembangkan oleh Christiana Morgan dan Henry A. Murray berdasarkan fakta yang disadan betul, bahwa seseorang menginterpretasikan situasi sosial yang ambigu yang cenderung dia menunjukkan kepribadiarmya sebanyak fenornena yang ia alami (Murray, 1938 ha1531).

Berdasarkan asumsi bahwa cerita yang seseorang sampaikan akan sama-sama merefleksikan pandangan dan karakteristik pencen’ta itu sendiri dan narasi seperti itu dapat mengungkapkan sifat kepribadian atau tren secara umum Murray dan Morgan menggunakan TAT sebagai satu kelornpok gambar ambigu yang dirancang untuk menstimulasi imajinasi penonton dan memberikan area khusus kepentingan motivasi dan konflik yang potensial.

Dalam peneltian ekstensif yang dijelaskan dalam Explorations in Personality, Murray dan koleganya menggunakan wawancara, questionairre, tugas penyelesaian masalah, uji kemampuan dan sejumlah perangkat lain untuk menguji pikiran. perasaan dan perilaku 50 pemuda, yang sebagian besarnya adalah mahasiswa S1 atau S2 di Harvard. Semua subjek dinilai, pada skala enam poin, pada kebutuhan, tekanan dan kualitas lainnya baik oleh peneliti ataupun oleh diri mereka sendiri dan tugas tertentu dinilai dengan cara yang layak.

Kepentingan penelitian ini sebagian besarnya adalah bahwa ia adalah usaha pertama untuk mempelajari manusia normal secara intensif dengan cara introspeksi seperti halnya dengan observasi dan dengan pengalaman yang terkendali serta untuk membentuk karakterisasi terintegrasi dari sebuah kelompok orang yang stabil berdasarkan data yang tidak hanya diambil dari banyak pengukuran yang berbeda-beda namun disusun oleh pengamat dari berbagai disiplin ilmu. Pendekatan penelitian multidimensi semacam ini pada penelitian orang sebagi entitas dan dalam konteks digunakan oleh Murray dalam waktu perangnya dengan United States Office of Strategic Services (lihat Kotak 1) dan karena ia telah digunakan dalam penelitian kepribadian lain, seperti yang dilakukan di Institute of Personality Assesment and Research (IPAR) di Berkeley.

 

IMPLIKASI

 

  1. Kepribadian mencakup seluruh rentang kehidupan dari peristiwa yang dialaminya, maka seorang konselor jangan mengabaikan sejarah masa lalu yang dialami oleh klien, dan harus berusaha mencari tahu peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan klien mengalami masalah pada saat in

 

  1. Seorang konselor harus memahami betul dinamika kepribadian siswa, sehingga dalam membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh klien sesuai dengan apa yang diinginkan dan mencapai hasil yang memuaskan.

 

  1. Seorang konselor harus mampu merealisasikan apa yang ada di fikirannya, maksudnya konselor harus bertindak dengan memikirkan matang-matang apa yang harus dilakukan, jadi seorang konselor jangan bertindak gegabah.

 

  1. Konselor harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, jika tidak jangan harap bantuan yang diberikan akan berhasil dengan baik, bahkan akan terjadi ketidak percayaan akan kemampuan konselor dalam menyelesaikan suatu masalah.

 

  1. Seorang konselor harus memahami betul kecenderungan-kecenderungan yang dialami oleh klien supaya tidak salah dalam memberi bantuan penyelesaian masaalah yang dialami oleh klien, selain itu konselor harus banyak berfikir dari sisi positif yang ada pada klie

 

  1. Seorang konselor harus mengetahui potensi yang dimiliki oleh klien dan harus berusaha membangkitkan atau menggali potensi pada diri klien yang mungkin tidak disadari olehnya dengan cara memberi pujian yang relisti sehingga percaya dirinya akan tumbuh.

 

  1. Menurut Murray bahwa seseorang mempunyai ordinasi atau proses mental tinggi untuk memperoleh suatu tujuan, maka seorang konselor harus membantu mengarahkan individu untuk mencapai tujuan akhir yang diharapk

 

  1. Konselor harus membantu klien untuk bisa berprestasi baik dalam akademik maupun dalam karir, konselor juga harus membimbing dan mengarahkan klien untuk memperoleh kemampuan yang dimiliki secara optimal, karena prestasi dan kemampuan menurut Murray merupakan suatu hal yang sangat penting dalam keperibadian seseorang.

 

  1. Tiap orang mempunyai kebutuhan, ketika kebutuhan muncul, maka akan terjadi tekanan dalam diri seseorang. Seorang konselor harus mampu membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya secara realistis, supaya tidak terjadi tekanan yang mengakibatkan gangguan dalam menjalani kehidupannya.

 

  1. Lingkungan merupakan sala satu faktor panentu munculnya tekanan pada diri seseorang, karena loingkungan dapat menghambat atau menahan kemajuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diingnkanny Seorang konselor harus mampu menjembatani antara lingkungan dsan klien supaya tidak terjadi gesekan-gesekan yang mengakibatkan seseorang menderita.

 

  1. Sesuatu tujuan akan tercapai dengan baik manakala, terprogram dengan baik serta mempunyai jadwal yang k Seorang konselor harus membantu klien untuk membuat suatu perencanaan yang memepunyai program dan jadwal yang tersusun secara sistematik.

 

  1. Menurut Murray alam bawah sadar itu regnant ( menguasai), seorang konselor harus membimbing perilaku klien ke arah hal yang disadari, supaya akan terjadi keseimbangan dalam mengarungi kehidupannya.

 

  1. Hubungan kasih sayang antara klien dan konselor merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan hubungan antarpersonal, hal ini akan bemanfaat ketika klien bergaul di lingkungan sosial masyrak

 

KESIMPULAN

Teori personologi Murray, “no brain, no personality” adalah yang menentukan bagaimana kepribadian seseorang. Menurut Murray kepribadian adalah terjadinya proses psikologis tergantung pada proses fisiologis, segala fenomena yang membangun kepribadian tergantung pada sistem saraf pusat.. Otak memproses dan mengendalikan perasaan, kesadaran, ingatan, keyakinan, dan aspek kepribadian lainnya. Struktur kepribadian milik Murray sama dengan struktur kepribadian Freud, hanya saja isi dari strukturr tersebut yang berubah. Menurut Murray, Id berisi impuls yang dapat diterima oleh masyarakat seperti: empati, cinta dan memahami lingkungan. Ego menjadi pusat pengatur semua tingkahlaku secara sadar merencanakan tindakan, kemudian superego menekankan pentingnya nilai-nilai sosial dan kebudayaan dalam kepribadian.

Terdapat kombinasi antara kebutuhan dan tekanan. Need atau kebutuhan menurut Murray didefinisikan sebagai kekuatan di bagian otak yang mengorganisir berbagai proses seperti presepsi dan perilaku untuk mengubah kondisi yang ada atau tidak memuaskan. Sedangkan tekanan adalah penentu perilaku manusia yang berasal dari lingkungan manusia tersebut. Seperti contoh: seorang anak menangis karena ingin dipeluk (afiliasi), ternyata ia sekaligus merasakan haus untuk disusui (need).

Penekanan Murray secara konsisten pada segi ini merupakan salah satu dari sumbangan-sumbangan pokoknya bagi metode-metode penelitian. Yang paling terkenal dan masih kerap digunakan hingga saat ini adalah Tes Proyektif TAT. Pada tahun 1930, Murray dan Morgan menciptakan tes proyektif TAT, yaitu berupa tes gambar dengan seting yang sesuai dengan kehidupan nyata. Individu diminta untuk menceritakan apa yang dilihat dan rasakan ketika melihat gambar tersebut. Murray berasumsi bahwa tes TAT mendorong individu untuk memunculkan pikiran bawah sadar melalui gambar. Biasanya tokoh utama direfleksikan dengan kepribadian subjek itu sendiri, dan subjek tidak sadar bahwa mereka menceritakan diri mereka sendiri.

Daftar Pustaka