Perspektif-Perspektif Teoritis Psikologi Klinis

You are here:
< Back

Empat Perspektif Utama

Sejak jaman dahulu kala, manusia telah mengembangkan kemampuan adaptasinya untuk dapat bertahan dalam kondisi tersulit sekalipun, sehingga bisa mempertahankan kehidupannya antar generasi ke generasi. Dahulu kala, nenek moyang kita hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan berburu makanan. Baru setelah 10.000 tahun, manusia baru menanam sendiri makanan mereka melalui pertanian, dan menggunakan hewan untuk membantu mereka.

Hal tersebut menandakan bahwa fungsi-fungsi badaniah dasar untuk emosi dan pikiran yang memungkinkan manusia untuk bertahan melalui ribuan tahun telah diteruskan secara genetik kepada manusia modern di seluruh belahan bumi.

Salah satu pendekatan yang memberikan perspektif luas atas banyak elemen di dalam kompleksitas biopsychososialpolitik manusia adalah general system theory. Teori ini dicetuskan pada 1940-an oleh Bertalanffy (1968), Laszlo (1972), dan paling lengkap oleh J.G. Miller (1978). Bronfenbrenner (1979) juga memberikan sudut pandang sosial-psikologik yang serupa dengan analisisnya mengenai sistem mikro dan makro yang berhubungan dengan perkembangan manusia. Esensi pemikiran sistem adalah yang saling beriteraksi dan bukan entitas-entitas yang terpisah atau hubungan-hubungan sebab-akibat. Kata kuncinya adalah hubungan. Setiap hal dalam sebuah sistem berhubungan dengan hal lain dalam sistem itu, dan hubungan-hubungan itu berbeda dengan yang ada di luar sistem.

Perubahan dalam salah satu bagian sistem akan mengubah seluruh pola hubungan yang ada dalam sistem itu. Sebagai contoh, ketika seorang perempuan neurotik menjalani psikoterapi, seluruh sistem keluarga akan berubah, menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Sistem memiliki batas-batas yang membatasi bidang tempat berlangsungnya hubungan-hubungan tersebut. Sebuah sel adalah sistem hidup. Begitu pula halnya dengan seseorang, sebuah keluarga, dan sebuah bangsa. Sistem terorganisasi menjadi hierarki-hierarki atau tingkat-tingkat, seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.1 di bawah ini.

Adapun pertanyaan untuk bagan 2.1 di bawah ini adalah, bagaimana perubahan pada salah satu komponen sistem memengaruhi fungsi sistem tersebut secara keseluruhan? Sebagai contoh, bila penderita sakit mental parah dan persisten yang dirawat di rumah sakit mampu belajar untuk memprakarsai dan menjalankan elemen-elemen krusial higiene, seperti makan, buang air besar, dan mandi dengan benar, mungkin mereka dapat tinggal di foster home yang ada di masyarakat. Keluarga mereka, yang pada awalnya mengalami depresi karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan perawatan jangka panjang di rumah sakit, dapat memberikan dukungan yang lebih aktif. Pasien sendiri dapat membangun self-esteem yang dibutuhkannya untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat.

Bagi seorang psikolog klinis, memutuskan sistem mana yang seharusnya menjadi target perubahan adalah salah satu keputusan penting yang harus diambil oleh seorang pekerja klinis. Di ruang-ruang gawat darurat rumah sakit lokal, tangan yang terkoyak dan wajah yang berdarah-darah seorang korban kecelakaan tidak menimbulkan  keraguan tentang sistem mana yang merupakan target logis untuk intervensi yang paling segera. Jelas bahwa cedera itu membutuhkan penanganan fisik, atau dengan bahasa sistem, intervesi pada tingkat sistem biologis. Tetapi, “korban” psikologis melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih kompleks. Di tahun-tahun awal intervensi psikologis, sistem individu atau pribadilah seolah-olah menjadi target intervensinya, melalui psikoterapi tertentu. Ketika kesadaran tentang multiple system (sistem jamak) tumbuh, ada kecenderungan tertentu di antara klinisi untuk percaya bahwa mereka harus memilih satu sistem tunggal untuk intervensi. Artinya, misalnya pendekatan obat, pendekatan psikoterapeutik, atau pendekatan keluarga. Akhir-akhir ini, semakin banyak klinisi yang percaya bahwa sangat penting untuk memeriksa fungsi semua sistem yang relevan dan melakukan intervensi pada beberapa sistem sekaligus. Alih-alih menayakan “sistem mana yang harus menjadi fokus intervensi?” tampaknya lebih baik menanyakan “Apa keterlibatan masing-masing sistem dalam kehidupan orang ini?” simak kasus di bawah ini.

John, 39 tahun, telah menerima perawatan psikiatris selama bertahun-tahun. Penatalaksanaan penanganannya mengilustrasikan keterlibatan beberapa sistem yang berbeda:

Sistem biologis: obat khusus yang dipakai John, lithium, membutuhkan pemantauan tingkat serum yang konstan. Orang menunjukkan variasi yang besar dalam cara memasukkan obat ke dalam aliran darah maupun dalam hal kecepatan mengekresikannya, jadi perlu melakukan pengukuran konsentrasi aktual obat itu dalam aliran darah.

Sistem personal: John butuh psikoterapi untuk memperbaiki keterampilan sosialnya dan untuk membuat ekspresi seksualitasnya baik dan tidak bersifat ofensif.

Sistem keluarga: bekerja bersama keluarga John dapat membantu mereka untuk tidak menghambat penyesuaian John untuk hidup di boarding house (asrama). Pada saat masih tinggal di rumah, orang tuanya sangat ketakutan bahwa mereka akan meninggal dan tidak akan ada yang mengurus John. Tetapi sekarang mereka mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri atas ketidakhadiran putranya di rumah.

Sistem organisasional: Para eksekutif yunior di bank tempat John bekerja sebagai anggota tim janitorial (penjagaan gedung) selalu menuntutnya untuk menyelesaikan tugas-tugas khusus atau menuntut agar berbagai rutinitas diubah. Konsultasi dan penghubung yang berkelanjutan dibutuhkan untuk menjaga agar tugas-tugas dapat ditangani oleh tim janitorial.

Sistem masyarakat: Caseworker John, Sandi Nutting, menemui John secara reguler sebagai teman yang suportif dan memastikan bahwa John memahami opsi-opsi yang ditawarkan oleh komunitasnya. Ia sangat suka pergi ke konser di taman-taman umum, tetapi membutuhkan bantuan untuk pergi ke sana pada hari yang tepat.

Adapun usaha-usaha yang dilakukan bagi klien memiliki batas-batas tertentu, seperti contoh, jumlah staf yang tersedia di klinik, dukungan finansial bagi beberapa kegiatan yang melalui asuransi atau cara-cara lainnya, dan kemauan dan kemampuan keluarga untuk menolong yang ternyata relatif kurang memadai, serta ketersediaan waktu penanganan juga harus dipertimbangkan. Maka setiap keputusan yang diambil harus mempertimbangkan tentang berbagai keterbatasan ini.