Psikoanalisis (Sigmund Feud)

You are here:
< Back

Freud menghasilkan pelbagai pemikiran pokok selama hidupnya. Psikoanalisis adalah bungkus besar dari pelbagai pemikiran yang dihasilkan sepanjang hidupnya. Salah satu teori yang cukup terkenal dari Freud membahas tentang struktur kepribadian manusia. Perkembangan seksualitas adalah sorotan lain yang cukup kontroversial pada zamannya selain konsep ketidaksadaran.

Freud membagi struktur kepribadian manusia menjadi 3 bagian besar, yaitu Id, ego dan superego. Melalui analogi gunung es, Freud menggambarkan bahwa pada bentuk yang asali ketidaksadaran merupakan aspek yang dominan pada manusia. Id adalah enersi psikis yang bersifat natural dan tidak sadar. Id merupakan enesi psikis yang berupa libido murni. Id menguasai sebagian besar struktur kepribadian manusia. Kinerja id terfokus pada upaya memenuhi kebutuhan akan kenikmatan. Ego merupakan mekanisme kontrol pada manusia. Ego berfungsi mengatur dan mengendalikan id. Superego adalah aspek moral pada kepribadian. Ego beroperasi dengan mendorong agar id tidak melanggar batas-batas superego pada lingkup sosialnya. Pada titik berkuasanya ego atas id inilah Jaques Lacan mencoba menggugat Freud yang dinilai tidak loyal dan konsisten terhadap pemikiran lamanya yang mengungkap adanya ketidaksadaran.

Teori Freud menempatkan hubungan anak dan ibu sebagai salah satu pusat dari perkembangan manusia. Insting seksual menjadi salah satu inti teori lainnya. Persentuhan ibu dan anak pada periode perkembangan melahirkan dinamika perkembangan kepribadian pada anak. Periode perkembangan ini juga dikenal sebagai periode perkembangan psikoseksual. Freud membagi periode perkembangan kepribadian menjadi beberapa fase, yaitu:

Fase oral (0 -1 Tahun)menunjukkan situasi saat bayi berinteraksi semata dengan mulur. Refleks menghisap adalah mekanisme bayi untuk bertahan hidup sekaligus untuk berkomunikasi. Kesenangan, pada fase ini tertumpu pada mulut. Perkembangan kepercayaan dan kenyamanan juga dipengaruhi oleh stimulasi oral. Anak sangat bergantung pada ibu yang menyusui dan memberikan kenyamanan pada anak. Proses penyapihan pada anak menyebabkan anak mengalami konflik.

Fase anal (1 – 3 tahun). Berbeda dengan fase sebelumnya yang bertumpu pada mulut, fase ini bertumpu pada pengedalian kandung kemih dan buang air besar. Anak pada fase ini harus belajar mengendalikan proses alamiah terbesar dalam dirinya, yaitu buang air. Kemampuan mengendalikan dua dorongan biologis tersebut dilalui melalui “toilet training”. Orangtua akan mengajarkan anak untuk secara bertahap mampu mengendalikan dan mengambil tindakan tepat untuk mengelola dorongan buang air. Keberhasilan melalui fase ini memerkuat aspek kemandirian dan kepercayaan diri pada anak.

Fase Phalik atau phalus (3 – 6 tahun)menujukkan mulai beroperasinya alat kelamin sebagai salah satu bagian dari sistem libido. Anak-anak mulai mengenali dan membedakan pria dan wanita berdasarkan perbedaan bentuk tubuh dan alat kelamin. Istilah Oedipus complex digunakan oleh Freud untuk menunjukkan kecenderungan anak berkompetisi dengan sosok “bapak” guna memperebutkan ibu. Proses ini akan menimbulkan kecemasan akibat kompetisi dengan sosok ayah.

Fase laten (6 – 12 Tahun)menunjukkan perubahan besar pada perkembangan psikoseksual anak. Dorongan seksual pada fase ini diarahkan pada hal lain, seperti aktualisasi diri dan interaksi sosial. Fase ini sangat menentukan kualitas kemampuan anak untuk berinteraksi dan berada dalam lingkungan sosialnya. Kepercayaan diri dan komunikasi adalah bentuk yang dihasilkan oleh fase ini.

Tahap Genital (12 – 18 tahun)menjelaskan tentang kematangan dorongan seksual. Anak mulai akan mengarahkan hasrat seksual pada lawan jenis. Sikap realistis guna menyesuaikan diri terhadap lawan jenis memberikan implikais pada kemampuan untuk menyesuaikan diri pada lingkungan yang lain. Hasrat untuk mengutamakan dan memikirkan kepentingan orang lain berkembang pada fase ini. Keseimbangan menjadi salah satu keluaran atau hasil terbesar dalam proses pada periode ini.

Tabel gejala pada setiap fase perkembangan dan periode umut menurut Sigmund Freud :

NO Periode Umur Sigmund Freud (Psikodamika)
1 1 tahun (bayi) Libido pada daerah mulut/oral.
2 1-2tahun (bayi) Libidi pada daerah anus/anal.
3 Kanak-kanak awal Konflik odipus/elektra, meniru pekerjaan atau perilaku orang yang mendampinginya.
4 Kanak-kanak madya-akhir Latensi, mulai serap nilai, moral, muncul rasa kasih/sentimen, mulai menjauhkan diri dari keluarga.
5 Remaja Id didorong oleh libido (genital) mulai pikir profesi, perkawinan, aktif dalam organisasi.

Psikoanalisis Sebagai Teori Kepribadian

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran :

  1. Sadar (conscious)
  2. Prasadar (preconscious)
  3. Tak sadar (unconscious).

Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk mendeskripsikan unsur cermati (anvareness) dalam setiap even mental seperti berfikir dan berfantasi. Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur kesadaran itu. Baru pada tahun 1923 Freus mengenal tiga model struktur yang lain, yakni id, ego, dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya. Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu sebagai berikut:

Sadar (Conscious)

Tingkat kesadaran yang berisi semula yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk kekesadaran (consciousness). Isi dari hasil daerah sadar itu merupakan hasil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue-eksternal. Isi-isis dari kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang singkat di daerah conscious, dan segera tertekan kedaerah perconscious atau unconscious, begitu orang memindah perhatiannya ke cue yang lain.

 

Prasadar (Preconscious)

Disebut juga ingatan siap (anvailable memory), yakni kesdaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak-sadar. Isi Preconsciousberasal dari conscious dan dari unconscious. Penglaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tapi kemudian tidak dicermati, akan diakan ditekan berpindah kedaerah prasadar. Disisi lain, isi dari daerah taksadar dapat muncul kedaerah prasadar. Kalau sensor sdara dapat menangkap bahaya yagn bisa timbul akibat kemunculan materi tak sadar meteri tersebut akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah ada pada daerah prasadar itu bisa muncul kesadaran yang tidak simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

 

Taksadar (Unconscious)

Adalah bagian yang paling dalam pada struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukan lah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik. Ketidak sadaran itu berisi insting, impulus dan drivers yang dibawa dari lahir, dan penglaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa kanak-kanak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah ketidaksadaran. Isi dan atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidakasdaran, pengeruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

 

Tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain :

  1. Id
  2. Ego

 

            Id

Id adalah sistem kepribadian yang asli dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologi yang diturunkan sperti insting, impulus dan drives. Id berada dan berpontensi dalam daerah Unconscious, mewakili subyektifitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia.

Id berhubungan erat pada peroses fisik untuk memperoleh energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.

Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, keadaan yang relatif inakatif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan enerji yang mendambakan kepuasan, jadi, jika ada stimuli yang memicu enerji untuk bekerja-timbul tegangan enerji – id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan energi ketingkat yang rendah. Pleasure principle diproses dengan dua cara, tindakan refeleks (reflex actions) dan proses primer (primary process). Tindakan refliks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahirsperti mengejapkan mata – dipakai untuk mengangani pemuasan rangsangan sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer adalah rekasi membayangkan/menghayalkan sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membanyangkan makanan atau puting ibunya. Proses membentuk gambaran obyek yang dapat mengurangi tegangan disebut pemenuhan hasrat (wish fulfillment), misalnya mimpi, lamunan, dan halusinasi psikotik.

Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakanya khayalan itu dengan yang benar-benar memuakan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar atau salah, tidak tau moral. Jadi harus dikembangakan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan ini yang kemudian membuat Id memunculkan.

Ego

Ego berkembang dari Id agar orang mampu mengenali realita; sehingga ego beroperasi mengukuti perinsip realita (reality Principle); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda terjadinya kenikmatan sampai deitemukannya objek yang nyata – nyata dapat memuaskan kebutuhan. Prinsip realita itu deikerjakan oleh proses skunder (secondary process), yakni berfikir realistik. Dari cara kerjanya dapat difahami sebagian besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada sebagian kecil ego beroperasi didaerah prasdar dan daerah taksadar.

Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian yang dimiliki dari dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan dimana kebutuhan itu dipuaskan seusai tersedianya peluang yang resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif pribadi berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-mencapai kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekreja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki enerji sendiri akan memperoleh enerji dari ego.

          Superego

Superego adalah suatu gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orang tua, guru dan orang- orang lain pada anak. Karena itu pada dasarnya Superego adalah hati nurani (concenience) seseorang yang menilai benar atau salahnya suatu tindakan seseorang.itu berarti Superego mewakili nilai-nilai ideal dan selau berorientasi pada kesempurnaan. Cita-cita individu juga diarahkan pada nilai-nilai ideal tersebut, sehingga setiap individu memiliki gambaran tentang dirinya yang paling ideal (Ego-ideal).

Ada dua bagian superego:

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.

Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Bersama-sama dengan ego, Superego mengatur dan mengarahkan tingkah laku individu yang mengarahkan dorongan-dorongan dari Id berdasarkan aturan-aturan dalam masyarakat, agama atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk.

Mengakhiri deskripsi singkat diatas tentang ketiga sistem kepribadian diatas, harus diingat bahwa Id, Ego, dan Superego tidak dipandang sebagai orang – orangan yang menjalankan suatu kepribadian mental.

Secara ringkas, karakteristik ketiga sistem kepribadian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Tabel Karakteristik Sistem Kepribadian Menurut Freud

ID EGO SUPEREGO
Sistem asli (the true psychic reality), bersifat subjektif (tidak mengenal dunia objektif), yang terdiri dari instink-instink, dan gudangnya (reservoir) energi psikis yang digunakan oleh ketiga sistem kepribadian. Berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait dengan dunia nyata. Memperoleh energi dari id. Mengetahui dunia subjektif dan objektif (dunia nyata). Komponen moral kepribadian, terdiri dari dua subsistem: kata hati (yang menghukum tingkah lakku yang salah) dan ego ideal (yang mengganjar tingkah laku yang baik).

 

Ketiga system diatas tersebut hanyalah nama-nama untuk berbagai proses psikologis yang mengikuti prinsip-prinsip system yang berbeda. Dalam keadaan biasa, prinsip-prinsip yang berlainan ini tidak bentrok satu sama lain, dan tidak bekerja secara bertentangan.

Bentuk dorongan hidup adalah dorongan agresi seperti keinginan menyerang , berkelahi, danmerupakan bawaan lahir yang beberapa proses terjadi pada suatu tingkat kesadaran, sedangkan yang lainnya terjadi pada tingkat yang tidak disadari. Id tidak membedakan antara pikiran dan perbuatan, antara yang nyata dan hanya dalam hayalan saja.

Dinamika Kepribadian

Titik hubungan atau jembatan antara energy tubuh dan energy kepribadian adalah id beserta insting-instingnya.

  1. Insting

Insting didefinisikan sebagai perwujudan psikologis dari suatu sumber rangsangan somatika dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan psikologisnya disebut hasrat sedangkan rangsangan jasmaniahnya darimana hasrat itu muncul disebut kebutuhan. Hasrat itu berfungsi sebagai motif bagi (motif) tingkah laku.

Freud beranggapan bahwa sumber-sumber perangsangan dari lingkungan ini memainkan peranan yang kurang penting dalam dinamika kepribadian dibandingkan dengan insting-insting yang dibawa sejak lahir. Insting adalah suatu berkas atau butir energi psikis atau seperti dikatakan Freud,”Suatu ukuran tuntutan pada jiwa untuk bekerja”. Suatu insting mempunyai empat cirri khas, yakni: sumber, tujuan, objek, dan impetus. Sumber didefinisikan sebagai kondisi jasmaniah atau kebutuhan, tujuannya ialah menghilangkan perangsangan jasmaniah. Tujuannya ialah menghilangkan perangsangan jasmaniah. Seluruh kegiatan yang menjembatani antara munculnya suatu hasrat dan pemenuhannya termasuk dalam objek. Objek berfungsi untuk mendapatkan benda atau kondisi yang diperlukan. Impetus insting adalah daya atau kekuatan yang ditentukan oleh intensitas kebutuhan yang mendasarinya. Menurut teori Freud tentang insting-insting, sumber dan tujuan insting akan tetap konstan selama hidup, kecuali jika sumber tersebut diubah atau dihilangkan akibat kematangan fisik.

  1. Jumlah dan Macam-Macam Insting

Freud mengasumsikan bahwa semua insting itu dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yakni insting-inting hidup dan insting-inting mati. Inting-inting hidup menjamin tujuan mempertahankan hidup individu dan perkembangbiakan ras. Rasa lapar, haus, dan seks termasuk dalam kategori ini. Bentuk energi yang dipakai oleh insitng-inting hidup untuk menjalankan tugasnya disebut libido.

Insting-insting mati atau sebagaimana kadang-kadang oleh Freud disebut insting-insting merusak (destruktif), melaksanakan tugasnya secara lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan insting-insting hidup, karenanya tidak begitu dikenal, kecuali bahwa secara tidak terlelakan mereka ini akan melaksanakan tugasnya. Salah satu derivative penting insting-insting mati adalah dorongan agresif. Keagresifan adalah perusakan diri yang diarahkan ke objek-objek substutusi. Insting-insting hidup dan insting-insting mati serta derivatif dapat bercampur, saling menetralkan, atau saling mengganti.

  1. Kecemasan

Freud membedakan tiga macam kecemasan, yakni kecemasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral atau perasaan-perasaan bersalah. Kecemasan realitas atau rasa takut akan bahaya-bahaya nyata di dunia luar. Kecemasan neurotik adalah rasa takut atau insting akan lepas dari kendali dan menyebabkan individu dihukum. Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap suara hati. Orang-orang yang superegonya berkembang dengan baik cenderung merasa bersalah jika mereka melakukan atau bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan degan norma moral di tempat kelahiran mereka.

Fungsi kecemasan adalah memperingatkn individu akan adanya bahaya; merupakan isyarat bagi ego saat melakukan tindakan-tindakan tidak tepat. Kecemasan adalah suatu keadaan tegangan; ia merupakan suatu dorongan seperti lapar dan seks. Kecamasan yang tidak dapat ditanggulangi dengan tindakan-tindakan yang efektif disebut traumatik.

  1. Perkembangan Kepribadian

Kepribadian berkembangan sebagai respon terhadap empat sumber tegangan pokok, yakni: 1) proses-proses pertumbuhan fisiologis, 2) frustasi-frustasi, 3) konflik-konflik, 4) ancaman-ancaman. Identifikasi dan pemindahan (displacement) adalah dua cara yang digunakan individu untuk belajar mengatasi frustasi-frustasi, konflik-konflik, dan kecemasan-kecemasan

  1. Identifikasi

Identifikasi dapat didefinisikan sebagai metode yang digunakan orang untuk mengambil alih ciri-ciri orang lain dan menjadikannya bagian yang tak terpisahkan dari kepribadiannya sendiri. Freud lebih suka menggunakan istilah identifikasi daripada imitasi karena ia berpendapat bahwa imitasi mengandung arti sejenis peniruan tingkah laku yang bersifat dangkal dan sementara padahal ia menginginkan suatu kata yang mengandung pengertian tentang sejenis pemerolehan (acquistion) yang kurang lebih bersifat permanen pada kepribdian. Identifikasi juga merupakan cara dengan mana orang dapat memperoleh kembali suatu objek yang telah.

  1. Pemindahan

Freud mengemukakan bahwa perkembangan peradaban dimungkinkan oleh pengekangan terhadap pemilihan-pemilihan objek primitif serta pengalihan energi insting ke saluran-saluran yang dapat diterima oleh masyarakat dan secara kultural kreatif. Suatu pemindahan yang menghasilkan prestasi kebudayaan yang lebih tinggi disebut sublimasi. Faktor yang menentukan pemindahan yaitu: 1) kemiripan objek pengganti dengan objek aslinya, dan 2) sanksi-sanksi dan larangan-larangan yang diterapkan masyarakat.

  1. Mekanisme-mekanisme Pertahanan Ego

Pertahanan-pertahanan yang pokok adalah represi, proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi, dan regresi. Mekanisme pertahanan mempunyai dua ciri umum, yakni: 1) mereka menyangkal, memalsukan atau mendistorsikan kenyataan, dan 2) mereka bekerja secara tak sadar sehingga orangnya tidak tahu apa yang terjadi.

  1. Represi terjadi apabila pemilihan objek yang menimbulkan isyarat yang tak wajar dipaksa keluar dari kesadaran oleh antikateksis. Misalnya, suatu kenangan yang mengganggu mungkin akan dicegah agar tidak menjadi sadar atau mungkin orang tidak melihat sesuatu dalam pengelihatan karena persepsi telah diresepsikan. Represi bahkan dapat mengganggu fungsi normal badan.
  2. Mekanisme yang digunakan untuk mengubah kecemasan neurotik atau kecemasan moral menjadi ketakutan yang objektif ini, disebut proyeksi.
  3. PEMBENTUKAN REAKSI. Tindakan defensif ini berupa menggantikan suatu implus atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan lawan atau kebalikannya dalam kesadaran.
  4. FIKSASI DAN REGRESI. Anak yang tergantung secara berlebihan merupakan contoh pertahanan lewat fiksasi; kecamasan menghalanginya untuk belajar mandiri. Suatu tipe pertahanan yang berhubungan erat dengan fiksasi adalah regresi. Seseorang mendapatkan pengalaman-pengalaman traumatik kembali ke suatu tahap perkembangan yang lebih awal. Arah regresi biasanya ditentukan oleh fiksasi-fiksasi yang pernah dilakukan oleh orang yang bersangkutan sebelumnya. Pada umumnya, fiksasi dan regresi merupakan keadaan relatif.

Ketiga Ego, sebagai suatu mediator atau pendamai dari super ego dan Id Ego (das-ich), bisa dikatakan sebagai sintesis dari peperangan antara Id dan Superego. Ego berfungsi sebagai penjaga, mediator atau bahkan pendamai dari dua kekuatan yang berlawanan ini.

Ego hanya menjalankan prinsip hidup secara realistis, yakni kemampuan untuk menyesuaikan dorongan-dorongan Id dan Superego dengan kenyataan di dunia luar.Jika Ego terlaludikuasai oleh Id maka orang itu mengidap “Psikoneurosis”(tidak dapat mengeluarkan dorongan primitifnya).

Untuk itu pada satu sisi Ego dapat berfungsi sebagai motifasi diri, namun pada sisi lain karena tekanan superego bisa saja menjadi penyebab terbesar dalam pertentangan dan aliensi diri.

Psikoanalisis memiliki tiga penerapan:

1) Suatu metoda penelitian dari pikiran;

2) Suatu ilmu pengetahuan sistematis mengenai perilaku manusia;

3) Suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.

Dalam cakupan yang luas dari psikoanalisis ada setidaknya 20 orientasi teroritis yang mendasari teori tentang pemahaman aktivitas mental manusia dan perkembangan manusia. Berbagai pendekatan dalam perlakuan yang disebut “psikoanalitis” berbeda-beda sebagaimana berbagai teori yang juga beragam. Psikoanalisis Freudian, baik teori maupun terapi berdasarkan ide-ide Freud telah menjadi basis terapi-terapu modern dan menjadi salah satu aliran terbesar dalam psikologi. Sebagai tambahan, istilah psikoanalisis yang juga merujuk pada metoda penelitian terhadap perkembangan anak.

Ada dua asumsi yang mendasari teori psikoanalis Freud, yaitu determinisme psikis dan motivasi tak sadar.

Determinisme psikis Ppsychic Determinism)

Asumsi ini mengemukakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, atau ditasakan individu mempunyai arti dan maksud dan itu semuanya secara alami sudah ditentukan.

Motivasi tak sadar (Unconscious Motivation)

Freud meyakini bahwa sebagian besar tingkah laku individu (seperti perbuatan, berpikir, dan merasa) ditentukan oleh motiv tak sadar.

Lima (5) teknik dasar dalam psikoanalisis, yaitu:

  1. Asosiasi bebas

Adalah suatu metode pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lampau. Hal I disebut sebagai katarsis.

  1. Interpretasi

Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas , analisis mimpi, analisis resistensi, analisis transparansi.

  1. Analisis mimpi

Merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak di sadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan.

  1. Analsis Resistensi

Yaitu sebagai suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisis , yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari.

  1. Analsis transferensi

Konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar tersingkap neurosisnya, terutama selama lima tahun pertama hidupnya.

 

Freud menggunakan teknik asosiasi bebas. Dengan teknik asosiasi bebas, pasien bebas untuk pasien bebas untuk mengemukakan segala hal yang ingin di kemukakan termasuk yang tadinya di tekan kealam bawah sadarnya tanpa di hambat atau di kritik. Teknik dasar untuk melakukan psikoanalisis adalah dengan meminta pasien berbaring di dipan khusus dan psikoanalis duduk di belakangnya, jadi posisi pasien menghadap ke arah lain. Lalu pasien di minta untuk mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas .

Psikonalisis pada dasarnya mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik dan menunjukkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang pasien. Proses selanjutnya yang berlangsung adalah tahap pembukaan wawancara yang dilakukan secara tatap muka. Dari proses yang sedang berlansung, hal yang terpenting ialah masalahtransferens yaitu bentuk ingatan kejadian-kejadian yang telah di alami dan di ulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan dating. Pasien menghubungkan hambatan yang dialami dengan konflik yang terjadi di bawah sadar mengenai harapan yang penting dalam hidupnya. Pasien haris idealis mengenai hal-hal yang di inginkannya namun harus menghadapi kenyataannya. Terapi psikoanalisis dapat digunakan dalam masalah kehidupan sehari-hari seperti kesalahan dalam mengingat, kesalahan dalam (membaca, menulis dan bicara), kombinasi kesalahan tindakan, determinisme, dan tindakan simptomatis bersifat kebetulan.

Beberapa kelebihan dan kelemahan dari terapi psikoanalisis, yaitu :

  1. Kelebihan
  • Adanya motivasi yang tidak selamanya disadari.
  • Adanya penyesuaian antara teori dan teknik.
  • Model penggunaan interview sebagai alat terapi.
  • Pentngnya masa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian.
  • Pentingnya sikap non moral pada terapis.
  • Teori kepribadian dan teknik psikoterapi.

 

  1. Kekurangan
  • Pendapat freud yang menyatakan bahwa ketidaksadaran (unconsciousness) amat berpengaruh terhadap perilaku manusia. Pendapat ini menunjukan bahwa manusia menjadi budak dari dirinya sendiri.
  • Pendapat freud yang menyatakan bahwa pengalaman masa kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa. Ini menunjukan bahwa manusia dipandang tak berdaya untuk mengubah nasibnya sendiri.
  • Pendapat freud yang menyatakan bahwa kepribadian manusia terbentuk berdasarkan cara-cara yang ditempuh untuk mengatasi dorongan-dorongan seksualnya. Ini menunjukan bahwa dorongan yang lain dari individu kurang diperhatikan.
  • Data penelitian kurang banyak mendukung sistem psikoanalisis.
  • Pandangan yang terlalu merendahkan martabat kemanusiaan.
  • Perilaku ditentukan oleh energi psikis adalah sesuatu yang meragukan.
  • Penyembuhan dan psikoanalisis terlalu bersifat rasional dalam pendekatannya
  • Terlalu menekankan pada pengalaman masa lalu, hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggungjawab individu berkurang.
  • Terlalu meminimalkan rasional.
  1. 1. The Interpretation of Dream (1895-1899)

Pada saat itu semua umumnya sependapat bahwa buku The Interpretation of Dreams adalah karya Freud yang paling utama, satu karya yang membuat namanya abadi dalam sejarah. Freud sendiripun tampaknya sependapat dengan anggapan tersebut. Sebagaimana yang dia tulis dalam kata pengantar di cetakan ketiga dalam bahasa Inggris. ‘Pengetahuan semacam itu sangatlah berharap, tapi hanya terjadi sekali dalam seumur hidup’. Ini adalah sebuah contoh sempurna mengenai sebuah kebetulan, karena penemuan mengenai makna mimpi, sebenarnya terjadi secara insidental (karena memang tampaknya seperti sebuah kebetulan) ketika maksud Freud sebenarnya adalah untuk mengungkapkan dan menjelajahi arti dari psiko-neurosis.

Di dalam buku “The Interpretation of Dream” Freud juga menjanjikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika kepribadian manusia. Terminologi dan gagasannya menyerap dalam kehidupan kontemporer umat manusia. Freud mengajari umat manusia untuk menyadari setiap tindakan dan perasaan yang terkadang kita anggap tidak bermakna seperti selip lidah (slip of tongue) dan tentu saja mimpi. Freud berusaha untuk menciptakan metode tafsir mimpi untuk mengungkap makna sebenarnya dari tindakan manusia yang tampak tak bermakna dan tidak disadari sepenuhnya.

Teori Sigmund Freud tentang mimpi mungkin merupakan teori fenomenal pertama yang dikeluarkan oleh Freud. Bukunya Interpretation of Dream (1900) memberikan sebuah pemahaman yang baru dalam hal pendekatan terhadap analisis psikologis melalui mimpi. Mimpi, seperti yang dikatakan oleh Freud, adalah hal yang tidak berhubungan dengan hal-hal mistis seperti ilham atau untuk meramalkan masa depan. Mimpi adalah suatu manifestasi keinginan alam bawah sadar yang direpresi dalam alam sadar. Mimpi, seperti yang menjadi kutipan terkenal Freud, adalah jalan bebas hambatan menuju alam bawah sadar.

Pada akhir abad ke-19, kesadaran mulai dilihat sebagai proses yang lebih rasional. Dan di balik setiap fungsi psikologis ada sumber fisik dan biologis untuk setiap fenomena mental manusia. Namun demikian, sebelum penemuan-penemuan tersebut muncul, Freud sendiri memandang otak manusia secara lebih mekanis, seperti mesin uap yang ditemukan oleh James Watt (1765). Dia melihat otak sebagai jaringan saraf kompleks dimana neuron mengeluarkan aliran listrik sehingga membutuhkan pengisian kembali (recharge). Freud berimajinasi bahwa mimpi muncul pada proses pengisian kembali ini.
Freud hidup di dalam sejarah eropa yang dimana liberarisme begitu sukses dan ditandai dengan munculnya revolusi industri. Kemenangan itu adalah kemenangan nyata dari ilmu sains dan gagasan-gagasan baru. Namun begitu, masih ada sesuatu yang kurang lengkap pada masa itu, masih ada yang salah, dimana agresi, kekerasan dan kebencian masih menjadi isu utama kala itu.
Maha karya freud tentang mimpi dimulai pada tahun 1887 ketika dia mengamati sejumlah wanita muda yang menderita gejala histeria. Sebuah gejala kompleks yang membingungkan mulai dari rasa sakit/nyeri, kedutan, hingga lumpuh total (paralyzed). Dia semakin yakin bahwa gejala tersebut muncul akibat pembelaan dan pengingkaran yang rumit terhadap rasa sakit dari syok fisik akibat trauma masa lalu yang terlupakan. Ketika itu Freud gagal merawat pasien histeria dengan menggunakan teknik hipnosis. Namun demikian, ketika pasiennya mulai menceritakan tentang mimpi-mimpinya, Freud semakin tertarik dan penasaran. Ia semakin yakin bahwa ada peran yang dimainkan oleh mimpi dalam mengungkap trauma tersembunyi. Saat Freud menafsirkan mimpi, dia bertanya pada pasien mengenai apa yang bisa diingatnya. Mimpi yang diingat tersebut oleh Freud disebut dengan “isi jelas dari mimpi” atau “The manifest content of dream”. Selanjutnya, dia minta pasiennya untuk menghubungkan elemen-elemen mimpinya dan itu berarti pasiennya harus menceritakan setiap hal yang terlintas di benaknya yang terkait dengan mimpi secara keseluruhan maupun rinciannya.
Penafsiran freud tentang makna mimpi didasarkan pada pemahamannya yang luas mengenai sifat manusia. Freud beranggapan bahwa manusia merupakan hewan egois yang memiliki dorongan agresif dan hasrat mencari kenikmatan. Kemudian, manusia belajar untuk menekan dorongan hewani itu ketika dewasa untuk dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat. Tapi kita (manusia) tidak pernah benar-benar dapat menaklukkan insting primitif itu. Menurutnya, struktur kepribadian manusia terdiri dari tiga bagian:

(1) diri hewani yang mengandung inti jiwa yang disebut dengan “id”;

(2) “ego” sebagai diri rasional; dan

(3) “superego” sebagai representasi tekanan dari masyarakat mengenai apa yang benar (ego ideal) dan salah (conscience). Diri “id” sudah terbentuk sejak manusia itu lahir, sedangkan “ego” dan “superego” terbentuk setelahnya dari kebutuhan untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Seringkali “superego” dan “id” saling berkonflik satu sama lain.
Freud memandang jiwa sebagai medan perang yang penuh konflik dengan berbagai komponen kepribadian yang saling berjuang tanpa henti. Perasaan akan ditekan ketika “ego” atau “superego” terlalu mendominasi “id”. Baginya, perasaan dan emosi yang ditekan dan tidak terekpresikan dengan baik akan menimbulkan permasalahan.
Freud memberikan dua teori dalam interpretasi mimpi yaitu Pemadatan (condensation) dan pemindahan (displacement). Setiap mimpi selalu memiliki kedua karakteristik di atas. Kondensasi atau pemadatan terjadi karena banyaknya image atau memori alam bawah sadar yang harus diproyeksikan melalui mimpi, sehingga proyeksi image atau memori tumpang tindih satu dan lainnya. Hal tersebut menjadikan mimpi kita menjadi absurd dan tidak berplot. Memori tentang masa lalu kita mungkin bergabung dengan memori masa sekarang sehinga terjadinya absurditas yang mungkin perlu lebih dalam untuk mencari makna dalam mimpi tersebut.

Sedangkan Displacement adalah bahwa setiap mimpi memiliki esensi yang bukan esensi utamanya. Mimpi terpusat pada proyeksi lain yang mungkin proyeksi tersebut adalah hal yang remeh. Namun proyeksi tersebut adalah esensi atau tema utama mimpi tersebut. Contohnya mungkin kita bermimpi dikejar hantu namun tema utama mimpi tersebut bukanlah hantu tersebut namun hal yang berhubungan dengan proyeksi tersebut.

Mengenai makna dalam mimpi itu sendiri Freud menguraikan bahwa makna utama dalam mimpi adalah pemenuhan keinginan (wish-fulfillment) dari alam bawah sadar yang kita represi. Kebanyakan freud mengelaborasi bahwa keinginan seksual adalah keinginan utama dari alam bawah sadar kita karena keinginan tersebut yang sangat kita tekan supaya kita bisa “normal” hidup dalam masyarakat. Keinginan seksual itu bisa tersamarkan dengan baik dalam mimpi melalui simbol-simbol. Sebagai contoh, jika kita memikirkan tentang memasukan kunci ke dalam lubang kunci, maka itu merupakan simbolisasi dari sexual intercourse.

Lebih lanjut, dalam buku “The Interpretation of Dream” Freud memberikan formula yang bisa merasionalkan mimpi yang paling membingungkan sekalipun. Teorinya tersebut mengandalkan bagian dari pikiran yang berfungsi sebagai sensor, sensor yang berfungsi untuk mengedit mimpi-mimpi kita. Jika kita memimpikan pemenuhan hasrat yang sebenarnya, freud mengatakan, “hal itu akan menimbulkan emosi, dan emosi kuat yang tercipta akan membangunkan kita.”. Oleh karena itu, sensor tersebut mengubah isi mimpi yang menyamarkan makna sebenarnya. Freud menyebut proses penyamaran makna ini sebagai transformasi hasrat atau “Dreamwork”, yang terdiri dari beberapa proses.

(1) Displacement, menggeser emosi dari satu gagasan ke gagasan lainnya.

(2) Condentation, meleburkan banyak gagasan menjadi sebuah simbol.

(3) Bersama symbolization dan

(4) Projection komponen “dreamwork” bergabung untuk mengubah gagasan-gagasan mimpi yang sebenarnya menjadi gambaran mimpi yang lebih bisa diterima. Setelah sensor menyelesaikan “dreamwork”, ego mengatur komponen-komponen aneh mimpi agar mimpi memiliki makna. Proses ini yang kemudian oleh Freud disebut sebagai manifestasi mimpi.
Proses penafsiran mimpi melibatkan penguraian isi “nyata” untuk menemukan makna sebenarnya dari mimpi yang tersembunyi atau isi “mimpi terpendam”. Tafsir mimpi dalam buku Freud sebagian besar bertemakan tentang bagaimana manusia hidup dengan sebuah kehilangan. Bagaimana merasionalkan masa lalu dengan elemen-elemen masa lalu yang telah hilang, dan bagaimana manusia menyimpannya menjadi bentuk yang bermakna untuk kehidupan yang sekarang.
Meskipun banyak yang menentang klaim Freud terkait analisis mimpi, dimana tidak sedikit orang beranggapan bahwa ajaran Freud lebih cenderung sebagai agama ketimbang sains, tidak sedikit karya Freud yang benar secara ilmiah. Setiap orang pernah bermimpi, walaupun mungkin sebagian besar orang melupakannya. Mimpi yang paling nyata datang pada saat kita memasuki fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Pada fase ini, mimpi bisa jadi seiintens dan seemosional pengalaman pada kehidupan nyata. Di Pusat Gangguan Tidur Bethesda di Cincinnati, Ohio, pengalaman bermimpi dan tidur hampir diperiksa setiap hari. Di sana, para partisipan di lengkapi dengan elektroda dari EEG untuk mendeteksi gelombang otak pada setiap fase tidur manusia. Terlihat dengan jelas bahwa ketika bermimpi gelombang otak manusia berubah-ubah yang digambarkan sebagai bentuk cuplikan-cuplikan mimpi yang selalu berpindah ruang dan tema. Freud berteori bahwa fungsi mimpi adalah menjaga agar kita tetap tertidur. Hal ini didukung oleh teori REM dimana semakin sering kita alami REM, semakin sering kita bermimpi. Karena REM cenderung terhadi pada paruh kedua di malam hari saat itu kita sering terbangun, dan saat itulah mimpi paling sering muncul. Fungsi sensor mimpi inilah yang oleh Freud diyakini berfungsi untuk menjaga kita tetap tidur. Berdasarkan bukti, maka adalah salah ketika orang-orang menyebut bahwa seluruh teori dan gagasan Freud tidak bisa dibuktikan dalam ranah penelitian laboratorium yang begitu ilmiah.
Freud adalah pemikir yang berani, suka berdebat, suka membantah, dan terkesan sembrono dalam beragumen. Hasil karyanya pernah membuatnya menjadi pribadi yang paling dibenci pada awal abad 19, dan sekaligus menjadi pribadi/psikiater yang paling terkenal di dunia internasional pada tahun 1926. Hasil karya di sepanjang hidupnya telah mengundang decak kagum sekaligus kritik dan celaan nan skeptis. Namun demikian, setidaknya pemikirannya telah memaksa orang-orang untuk berdebat selama bertahun-tahun demi membuktikan bahwa teorinya (Freud) salah, dan itu sekaligus menandakan bahwa Freud adalah salah satu tokoh yang paling berpengaruh di masanya.

Namun, teori Freud tentang mimpi ini masih banyak diperdebatkan oleh para psikolog tentang validitasnya. Banyak psikolog yang beranggapan bahwa Freud terlalu mengeneralisir teori mimpinya karena kebanyakan teorinya berasal dari kasus pasiennya yang bermasalah. Walaupun demikian, Teori mimpi dari Sigmund Freud ini jelas sangat membuka pemahaman baru tentang mimpi yang dari dulunya sangat diasosiasikan dengan hal-hal mistis.

 

 

7.2. Psychopatology of Everyday Life

( Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari )

 

“Mengapa kita lupa nama orang ?”

“Mengapa kita bisa melupakan kata-kata tertentu ?”

“Mengapa kita bisa melupakan kejadian saat masa kanak-kanak ?”

Tidak dapat dipungkiri, siapapun orangnya bahkan yang merasa mampu mengendalikan perilaku sehari-hari sampai dalam hal yang paling kecil sekalipun akan menjumpai bahwa dirinya pernah mengalamu kesalahan-kesalahan kecil seperti lupa nama, kata-kata dalam hidupnya. Dalam karya Freud Psychopatology of Everyday Life ia menuangkan gagasan-gagasannya mengenai berbagai kesalahan kecil yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan mengambil contoh dari kehidupan pribadi, kolega keluarga dan pasiennya.

Pada tahun 1890, Profesor Freud tampaknya telah meninggalkan semua pekerjaan ilmiahnya dibidang neuro-histologi meskipun ia telah menjadi seorang neurolog yang cakap, akan tetapi tidak terlihat bahwa ia tertarik dengan neurolog klinis. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untunglah ia memilik banyak pasien neurotis dari praktik pribadinya. Masalah seputar neurologi klinik segera menarik perhatiannya dan ketertarikannya semakin tinggi. Freud tidak pernah menganggap neurologi klinis sebagai satu pekerjaan ilmiah terkadang ia rindu dengan pekerjaan ilmiah ( bukan sekedar penelitian orisinil tetapi lebih dari semacam penyelidikan untuk mengetahui hakikat manusia itu, hubungan antara tubuh dan pikiran, serta bagaimana manusia bisa menjadi seekor hewan yang berkesadaran) .

Karya Freud dalam bidang neurologi yang cukup terkenal adalah mengenai aphasia, bicara adalah satu-satunya fungsi dimana terdapat pretensi untuk menghubungankan pikiran dengan otak, karya ini berawal dari penenuman Broca mengenai adanya lokalisasi mengenai hal tersebut di cuping depan otak ).

Berkebalikan dengan neurologi klinis, Freud malah justru tertarik dengan psikopatologi klinis. Profesor Freud mengembangkan sistem psikoanalisisnya ketika ia meneliti gangguan-gangguan ringan yang menjurus pada penyakit kejiwaan seperti hsiteria dan neurosis kompulsi. Dia mencoba memperbaiki metode-metode lama dengan cara meneliti sejarah kehidupan pasien dan mendapati bahwa gejala-gejala gangguan yang tampak tidak bisa dijelaskan ini sebenarnya memiliki makna tertentu dan ia membuat sebuah teori-teori baru yang lebih lengkap mengenai manifestasi neurosis. Psikoanalisis menunjukan bahwa gangguan-gangguan ini terkait dengan masalah atau konflik tertentu yang sedang dihaddapi oleh sang penderita. Dalam usahanya mencari hubungan antara gejala-gejala abnormal dengan gejala-gejala normal Profesor Freud mendapati bahwa garis pemisah antara orang normal dengan orang yang menderita neurosis sangatlah samar dan sulit untuk ditarik secara tegas dan bahwa mekanisme-mekanisme psikopatologis yang nampak dengan begitu mencolok pada psikoneurosis dan psikosis biasanya dapat dibuktikan juga terjadi pada orang normal dalam kadar yang lebih rendah. Freud berharap ia akan menjungkir-balikkan semua teori mengenai struktur dan fungsi pikiran secara umum.

Pada awal tahun 1893 dalam sebuah makalah mengenai kelumpuhan histeris terdapat dua gagasan umum mengenai bidang psikopatologi. Ketika pernyataan afeksi fungsional korteks digunakan, bahkan sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa neurolog, seorang patologi akan paham bahwa hal tersebut dihasilkan oleh oedema atau anaemia, maka kelumpuhan histeria pada lengan yang ditangani adalah bagian saraf otak yang mengatur bagian lengan dekat retakan Rolando ( salah satu bagian otak ). Freud dengan keras menyerang gagasan ini. Setelah mendemonstrasikan bahwa kelumpuhan histeria berbeda dengan kelumpuhan anatomis tapi lebih diakibatkan oleh konsep mental. Freud berargumentasi bahwa penjelasan satu-satunya yang masuk akal ini tepatnya adalah sebuah pertanyaan mengenai asosiasi mental.

Di tahun yang sama, telah muncul sebuah buku singkat ‘Preliminary Communication’ oleh Freud dan Breuer. Disinilah muncul diktum terkenal mereka yang mengatakan bahwa ‘para pasien histeria menderita umumnya karena kenangan-kenangannya’. Ide sebuah perluasan dari gagasan Jean Martin Charcot, mengenai sebuah trauma mental yang menjadi penyebab gejala histeris dan menyatakan bahwa bukan trauma itu sendiri yang menyebabkan. Trauma itu sendiri bukanlah faktor pembangkit maupun pengendap, tapu lebih dalam pelacakan memori yang secara berlanjutan meracuni pikiran. Dalam Studies on Hysteria Freud mengoreksi analogi medis ini “organisasi patogenik tidaklah berlaku seperti sebuah tubuh asing, tetapi lebih mirip dengan sebuah infiltrasi. Dalam perbandingan ini resistansi dianggap sebagai material yang menginfiltrasi. Tetapi itu sendiri bukanlah memberikan obat ke dalam pikiran, karena hal tersebut belum dapat dilakukan tetapu lebih berfungsi untuk membuyarkan resistansu dan kemudian membuka sebuah jalan bagi sirkulasi dari daerah ketaksadaran yang sama sekali tertutup.

Semua ini dihubungkan dengan pengalaman Breuer dan Freud mengenai katarsis. Binet mengatakan bahwa terapi sugesti lebih efektif jika perhatian seorang pasien dapat dibawa ke saat pertama kali gejala tersebut timbul, tapi tak seorangpun sebelum Breuer menghubungkan pelacakan kembali ini dengan fakta abreaski dalam buku Studies on Hysteria, Freud dan Breuer menekankan bahwa proses pengingatan kembali tanpa abreaksi afeksi terapinya kurang bernilai, dan mereka kemudian membahas mengenai sifat dan signifikansi dari abreaksi semacam itu. Jika semua berjalan lancar, maka gangguan mental terhadap trauma tersebut dapat dihilangkan melalui sebuah penggabungan umum kedalam seluruh kerumitan asosiasi mental ataupun melalui apa yang dikenal sebagai menngeluarkan emosi (seperti marah, menangis, dan sebagainya).

Difusi dari hal yang merusak tersebut dapat dicegah oleh dua keadaan :

  1. Situasi sosial yang mendukung pelepasan emosi yang dikehendaki atau trauma itu sendiri merupakan sesuatu yang menyakitkan secara personal sehingga si pasien dapat merepresinya atas kemauan sendiri. Trauma itu sendiri merupakan sesuatu yang menakutkan, memalukan bahkan menyakitkan secara fisik.
  2. Trauma tersebut disebut dengan ‘hipnoid’. Karakteristik dari hal tersebut menurut Breeuer mimpi terus setiap hari, yang berhubungan dengan pikiran-pikiran sedih maupun seksual.

Tentunya Freud setengah hati dengan karyanya dan Breuer yang menyatakan bahwa ‘eksistensi keadaan hipnoid adalah dasar dan kondisi bagi histeria’, semakin lama Freud semakin ragu atas hal itu.

Ketika orang lain berpendapat dan kebanyakan orang sampai saat imi menganggap bahwa neurosis adalah sekedar abnormalitas belaka, sebagaimana anggapan bahwa penyakit adalah sebuah deviasi dari kondisi normal, Freud justru berpendapat paling awal bahwa neurosis bukan hanya sebuah representasi dari macam keadaan fungsi mental saja, tetapi juga menunjukan adanya lapisan yang lebih dalam dari pikiran. Dalam hal ini Freud benar-benar genius dengan pemikiran dan analisanya. Psikopatologi baginya akan menjadi jalan untuk pendekatan psikologi secara umum, dan mungkin justru sebaliknya. Pada salah satu makalahnya yang dimuat pada tahun 1896, Freud telah menggunakan kata ‘Neurosis-Psikology’ masa depan untuk menunjuk psikologi dimana pasa filosof telah menyediakan jalan awalnya.

Para lawan freud menyebutnya sumber pengetahuan yang tidak valid sebagaimana generalisasinya. Bagaimana bisa seseorang dapat melakukan deduksi dari sebuah keadaan pikiran abnormal dan ‘sakit’ ? Freud sendiri telah mengantisipasi pertanyaan tersebut dalam sebuah buku Studies on Hysteria.

Seseorang yang hendak melakukan analisis haruslah terbebas dari segala macam prasangka teoritis, hukum-hukum psikologi umum mengenai asosiasi diantara ide-ide terhadap otak yang tak normal.

Pada tahun 1898 Freud mempublikasikan satu esai pendek yang berjudul On the Psychic Mechanism of Forgetfulness. Dalam esai itu Freud melalukan analusa psikologi terhadap gejala umum dimana seseorang lupa nama orang lain dalam waktu yang tidak lama, dan dari contoh-contoh lengkap yang menyimpulkan bahwa kelupaan yang sering terjadi dan sebenarnya tidak perlu terjadi ini disebabkan oleh sebuah kegagalan dalam fungsi psikis yaitu kegagalan fungsi psikis dari ingatan dan bahwa kegagalan tersebut memerlukan penjelasan, dan tidak bisa dianggap sekedar sebagai sebuah fenomena yang biasa.

Jika kebanyakan psikolog menjelaskan mengapa kita sering gagal mengingat nama (orang) yang kita yakin sudah kita kenal, mereka mungkin akan cenderung menjawab bahwa pada umumnya nama orang memang lebih mudah dilupakan ketimbang materi-materi lain yang ada di dalam memori. Mereka mungkin mempunyai alasan yang masuk akal untuk menjelaskan kecenderungan lupa pada nama orang ini tetapi mereka tidak akan mengasumsikan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang berperan besar dalam menentukan terjadinya proses kelupaan ini.

Freud mengasumsikan bahwa penyimpangan ingatan ini bukanlah kesalahan yang diakibatkan oleh ketidakteraturan psikis, tapi mengikuti alur rasional dan aturan-aturan tertentu. Dengan katalain saya mengasumsukan bahwa nama atau nama-nama yang muncul dalam ingatan dan menggantikan nama yang dimaksudkan memiliki hubungan langsung dengan nama yang terlupa itu. Saya berharap bahwa dengan memaparkan hubungan antara nama pengganti dengan nama yang terlupakan ini, maka Freud menjelaskan sebab-musabab dari kelupaan nama itu.

Dalam contoh yang Freud ceritakan bahwa Freud gagal mengingat nama maestro pelukis yang membuat lukisan fresko “Pengadilan di Hari Kiamat” di kubah katedral kota Orvieto. Namun Freud tidak dapat mengingat nama pelukis yang Freud maksud yaitu Luca Signorelli dan yang saya ingat justru dua nama seniman lainnya yaitu Botticelli dan Boltraffio. Saat dua nama pengganti ini muncul dalam ingatan Freud ,Freud langsung tahu bahwa bukan dua nama itu yang dimaksud. Ketika orang lain memberitahu Freud nama yang benar, Freud langsung mengenalnya tanpa keraguan sedikitpun. Maka Freud menelaah keterkaitan antara nama Signorelli dengan Botticelli dan Boltraffio sebagai berikut :

” Hilangnya nama Signorelli dari ingatan Freud tidak bisa dijelaskan sebagai akibat dari asingnya pada nama itu sendiri dan juga tidak bisa dijelaskan sebagai akibat dari karakter psikologis dari konteks dimana nama tersebut ingin ditampilkan. Nama yang terlupakan itu dulunya sudah sangat akrab bagi Freud, dan dari dua nama pengganti yang muncul, nama Botticelli juga sama akrabnya dengan nama Signorelli bagi saya sementara nama pengganti lain yang satunya, yaitu Boltraffio, agak kurang akrab bagi saya dibandingkan dengan nama Signorelli atau Botticelli. Sebab Luca Signorellu dan Sandra Botticelli sudah sangat terkenal sementara satu-satunya informasi yang Freud tahu mengenai Boltraffio adalah bahwa dia adalah salah seorang pelukis dari aliran Milan[1]. Demikian pula konteks dimana kelupaan nama itu terjadi bagi Freud tidak terlalu menjadi persoalan, sehingga rasanya tak perlu penjelasan lebih lanjut. Freud pernah bepergian naik kereta kuda bersama seseorang yang tidak dikenalnya perjalanan dari Ragusa, Dalmatia ke sebuah stasiun di Herzegovina. Mereka berbincang-bincang mengenai perjalanan-perjalanan yang pernah dilalui di Italia dan Freud bertanya kepada rekan seperjalanannya itu apakah ia pernah pergi ke Orvieti sebab disana ada lukisan fresko yang terkenal yaitu “Pengadilan di Hari Kiamat” itu tadi yang dibuat oleh seorang maestro pelukis tapi Freud tidak dapat mengingatnya pada waktu itu. “

Kondisi-kondisi yang menimbulkan kelupaan nama dikarenakan

  1. Adanya kecenderungan tertentu untuk melupakan nama.
  2. Adanya sesuatu proses penekanan (represi) yang terjadi tidak lama sebelum kelupaan itu terjadi.
  3. Adanya kemungkinan untuk menemukan sebuah hubungan luar antara nama yang dimaksud dengan bagian yang telah tertindih sebelumnya. Kondisi yang ketiga ini mungkin ini mungkin tidak perlu ditekan, karena dalam sebagian besar kasus semacam ini, hubungan luar itu bisa dengan mudah ditunjukkan. Yang menjadi persoalan penting di sini adalah apakah hubungan luar semcam itu benar-benar merupakan faktor yang memungkinkan elemen yang terrrepresi itu untuk mengganggu usaha untuk mereproduksi atau mengingat kembali nama yang diinginkan, atau apakah harus ada hubungan yang lebig antara tema yang direspresi dengan tema yang berusaha diingat sebelum pergeseran ingatan ini dapat terjadi. Jika kita lihat secara sekilas, kita mungkin bisa menganggap bahwa persyaratan yang terakhir tadi tak mutlak diperlukan untuk terjadinya kelupaan seperti ini dan menganggap bahwa kelupaan semacam ini bisa terjadi di semua situasi dimana ada dua tema yang tak sama yang saling bersinggungan. Tetapi jika setiap kasus dikaji dengan lebih teliti, kita akan mendapati bahwa dua elemen yang telibat dalam kelupaan itu ( yaitu elemen yang direpresi dengan elemen baru yang menggantikannya) memiliki hubungan, namun selain itu juga memiliki hubungan dalam atau keterkaitan tema seperti yang terlihat contoh Signorelli tadi. Maksudnya bahwa hubungan yang ada bukan hanya berupa hubungan luar yang berupa kesamaan bunyi atau kesamaan profesi dan konteks antara nama yang dilupakan dengan nama pengganti yang muncul (yang merupakan hal-hal yang ada didalam pikiran sadar) tapi juga hubungan-hubungan dalam yaitu hubungan yang ada didalam pikiran bawah sadar, yang tidak terasakan secara sadar namun dapat digali kembali lewat analisis.

Ada dua faktor yang nampaknya menimbulkan kemunculan nama pengganti di dalam ingatan. Yang pertama adalah usaha memerhatikan atau memusatkan pikiran, dan yang kedua adalah aturan-aturan dalam pikiran yang mengendalikan materi psikis.

Selain kesalahan dalam mengingat nama orang Freud juga membahas mengenai kesalahan dalam mengingat kata-kata asing. Kecenderungan melupakan kata-kata dalam bahasa asing bisa terjadi pada semua jenis kata. Bahkan ketika kondisi kesehatan terganggu atau saat sedang sangat capek , gangguan fungsional semacam ini selalu muncul pertama-tama dalam bentuk ketidakteraturan kontrol kita terhadap kosakata bahasa asing yang kita gunakan. Freud menceritakan pengalamannya saat musim kemarau ia pergi liburan, ia bertemu dengan seorang pemuda yang berpendidikan yang pernah membaca beberapa tulisan Freud. Pemuda itu bercerita bahwa ia memiliki cita-cita yang tinggi dan mengeluh bahwa generasinya ditakdirkan hidup dalam ketimpangan pengembangan bakat, bahwa generasinya dikekang sehingga tak mampu mengembangkan bakat yang dimilikinya dengan sepenuhnya. Ia menutup keluh kesahnya itu dengan mengutip sebaris puisi yang terkenal dari Aeneid karya Virgil yang dimulai dengan kata Exoriare.…dimana Ratu Dido yang merasa marah kepada Aeneas, mengutuk seluruh anak cucu keturunan Aeneas. Tapi ternyata dia tidak dapat mengutipnya secara lengkap dan berusaha menutupi kesalahan makna dari kutipannya itu dengan mengubah posisi salah satu kata dalam kutipan :

Exoriar(e) ex nostris ossibus ultor !

Akhirnya ia menjadi kesal dan berkata : “Janganlah anda tersenyum-senyum seperti itu, seolah-olah anda senang atas kegagalan saya. Coba bantu saya. Ada sesuatu yang hilang dalam baris puisi ini. Tolong sebutkan bagaimana lengkapnya.”

“Dengan senang hati,” Freud mengucapkan baris puisi itu dalam bentuk yang benar.

Exoriare(e) aliquis nostris ex ossibus ultor !

Pemuda itu berkata betapa bodohnya hingga melupakan satu kata itu, Freud pernah berkata bahwa kelupaan memiliki sebab-sebab tertentu. Pemuda itu penasaran dan ingin mengetahui bagaiamana ia sampai lupa kata ganti ‘aliquis’ ini. Kemudian Freud melakukan analisis dengan syarat pemuda itu mengatakan secara jujur dan apa adanya semua yang muncul pada pikiran pemuda tersebut sejak memusatkan pikirannya tadi, sekalipun tidak ada hubungan dengan kata yang terlupakan tadi. Pikiran Freud mengarah pada reliques-liquidation-liquidity-fluid.

            “ Apakah pemuda tahu maksudnya ?”

            “ Tidak, tidak tahu sama sekali. “

            “ Sekarang Freud berpikir tentang orang suci Simon dari Trent, “ia berkata sambil tertawa keras. Saya sempat melihat-lihat relik dari Simon dari Trent dua tahun silam ketika Freud berkunjung ke sebuah gereja di kota Trent. Freud berpikir tentang tuduhan lama terhadap orang Yahudi yang sekarang mulai diungkit-ungkit kembali dan Freud juga teringat pada tulisan Kleinpaul yang menganggap bahwa upacara pengorbanan merupakan sebuah bentuk penjelmaan kembali atau kebangkitan kembali dari Yesus Kristus. Menurut Freud aliran pikiran pemuda ini memiliki beberapa keterkaitan dengan tema yang diperbincangkan sebelum sampai pada kata Latin yang hilang dari ingatan pemuda itu.

“ Anda benar saya (pemuda itu) sekarang berpikir tentang jurnal berbahasa Italia dengan judul ‘Pendapat St.Agustinus Mengenai Wanita’ pemuda itu binggung apa gunanya menyebutkan semua hal-hal yang tidak berkaitan ini ?

Freud diam dan menunggu pemuda itu mengungkapkan pikirannya lebih lanjut. Freud meminta agar pemuda itu tidak mengkritik pikiran-pikirannya. Pemuda itu menjela dengan berkata “ oh, saya tahu sekarang! Yang saya ingat adalah seorang laki-laki tua yang ia temui beberapa minggu yang lalu, dia kelihatannya benar-benar asli (original) dari situ. Dia bernama Benedict.

Freud berkata behwa pemuda itu telah menyebutkan sekelompok nama orang-orang suci dan tokoh-tokoh Gereja : St.Simon, St.Agustinus, dan St.Benedict. Selain itu seringkali digunakan untuk sebagai nama-nama kristen, misalnya ada banyak orang bernama Paul seperti Kleinpaul tadi. Kemudian pemuda itu berpikir tentang St.Januarius dan keajaiban darahnya. Rasanya pikiran pemuda itu berjalan secara mekanis.”

Freud berkata, “ tunggu sebentar St.Januarius dan St.Agustinus mempunyai sesuatu yang berhubungan dengan kalender. Maukah anda (pemuda itu) menceritakan kembali kepada saya tentang keajaiban darah ? Freudpun menceritakan darah St.Januarius disimpan dalam botol kecil di gereja Naples dan pada hari tertentu terjadi keajaiban dimana darah dalam botol itu mencair. Orang-orang sangat memperhatikan keajaiban ini dan gelisah jika darah tidak mencair. Freud pun bertanya apakah anda (pemuda itu) enggan mengatakan apa yang muncul dalam pikirannya ? Pemuda itu berpikir apa hubungan dan ia kira tak perlu diceritakan.

Kemudian Freud menyambung tak perlu anda pikirkan apa hubungannya, biar nanti saya jelaskan, tapi Freud tidak memaksa untuk mengungkapkan jika tidak menyenangkan hati pemuda itu. Tapi jika pemuda tidak mengungkapkan maka Freud tidak dapat menjelaskan mengapa pemuda itu melupakan kata ‘aliquis’.

Pemuda itu kaget, dan bercerita mengenai pikirannya mengenai wanita yang tampakmya hendak memberi pemuda itu sebuah pesan yang mungkin kurang pantas untuk dibicarakan disini. Freud menyambung dan berkata maksud anda (pemuda itu) wanita yang hendak mengabari anda bahwa ia terlambat datang bulan? Pemuda itu pun kaget, “bagaimana anda tahu? ”. Pemuda itu sudah memberi aba-aba ke arah itu sejak tadi. Pemuda itu berpikir tentang orang suci yang namanya sekaligus menjadi nama bulan kalender, mencairnya darah pada hari-hari tertentu, bahwa orang akan gelisih jika darah itu tidak mecair, dan pemuda itu juga menceritakan tentang ancaman daru orang yang mengingkan bahwa pencairan darah itu harus terjadi…. pemuda itu menggunakan St.Januarius sebagai suatu kiasan halus yang menggambarkan masalah menstruasi wanita. Bagi Freud itu tampak sangat jelas. Tidak ingatkan pemuda itu telah membagi aliquis menjadi a dan liquis dan menghubungkan liquis itu dengan reliques, liquidation dan fluid. Mungkin perlu ditambahkan juga bahwa St.Simon yang reliknya pemuda lihat dalam perjalanan pemuda itu lakukan ke kita Trent dibunuh sebagai korban ketika kecil.

Pemuda itu sungguh tidak menyadarinya. Dan pemuda itu berkata kepada Freud “apakah anda yakin bahwa ketidakmampuan saya mengingat kata ‘aliquis’ berkaitan dengan pengharapan saya ini”? pemuda itu tidak menganggap serius pikiran-pikiran itu, bisa jadi kebetulan saja namun ia mengaku bahwa gadis itu adalah orang Italia dan pernah pergi bersamanya ke Naples. Pemuda itu beranggapan bahwan bisa jadi ini semua cuma kebetulan semata. Kemudian Freud berkata saya harus mengembalikan kepada penilaian anda sendiri apakah tadi itu dapat dijelaskan sebagai kebetulan tersebut. Hanya saya perlu sampaikan kepada anda bahwa setiap kali saya menganalisis kasus yang serupa saya selalu dihadapkan pada ‘kebetulan’ seperti ini.”

Analisa kecil yang Freud dapatkan dari teman seperjalanannya itu Freud anggap sangat penting karena, yang pertama dalam kasus ini Freud telah mendapatkan seorang narasumber yang tidak mungkin akan pernah kembali datang kepadanya. Semua contoh gangguan psikis keseharian yang Freud kumpulkan diambil dari observasi Freuf terhadap dirinya sendiri. Freud berusaha keras menghindari materi yang banyak dia peroleh dari pasien-pasien neurotiknya, sekalipun materi itu jauh lebih banyak dan beraneka ragam, sebab ia menolak anggpan bahwa fenomena yang dia bahas ini semata-mata merupakan akibat dari manifestasi dari neurosis (gangguan jiwa). Karena itu, sangat membantu bagi Freud ketika ada seseorang yang tidak ia kenali sebelumnya dan tidak menderita neurosis yang dengan sukarela menawarkan diri untuk menjadi subjek penelitian. Analisis ini juga penting dalam artian bahwa analisis ini bisa menjelaskan sebuah kasus dimana kelupaan nama terjadi tanpa kemunculan nama pengganti, sehingga menguatkan prinsip yang telah ia paparkan, yakni bahwa kemunculan atau ketidakmunculan ingatan-ingatan pengganti yang salah bukanlah merupakan penyebab esensial.

Tetapi contoh aliquis ini memiliki nilai penting bukan sekedar karena ia berbeda dengan kasus Signorelli. Dalam contoh Signorelli, upaya untuk mengingat nama pelukis itu menjadi terganggu oleh aliran pemikiran yang terjadi sebelumnya dan kemudian disela (direpresi), tetapi isi dari aliran pemikiran yang terjadi sebelumnya ini tidak memiliki hubungan dengan tema berikutnya yang berisi nama Signorelli. Hubungan antara tema yang direpresi dengan tema nama pelukis yang terlupakan itu adalah sekedar hubungan kedekatan temporal (kedekatan jarak waktu) saja, dimana tema yang satu kemudian menjalin hubungan dengan tema lainnya melalui sebuah hubungan luar. Disisi lain dalam contoh aliquis kita lihat bahwa tidak terdapat sebuah tema represi yang berdiri sendiri dan dapat mengisi pikiran sadar sebelum kelupaan ini terjadi dan kemudian menggema lagi sebagai gangguan yang menimbulkan kelupaan. Gangguan ingatan dalam contoh ini berasal dari bagian dalam dari tema yang sedang dibahas, dan dipicu oleh fakta bahwa suatu kontradiksi secara tidak sadar terjadi secara berlawanan dengan ide atau keinginan yang terkandung dalam baris puisi yang dikutip itu.

Asal mualas dari kontradiksi ini bisa diruntut sebagai berikut : si pembicara mengeluhkan bahwa generasi masyarakatnya di masa sekarang tertindak hak-haknya dan seperti Dido, ia meramalkan bahwa akan lahir sebuah generasi baru yang akan berjuang melawan penindas itu. Ia selanjutnya mengekspresikan harapan pada generasi yang akan datang. Pada saat demikian, ia disusupi pikiran yang berlawanan : “apakah kamu sungguh-sungguh berharap banyak pada generasi penerus? Itu tidak benar. Coba bayangkan betapa sulitnya situasi yang akan kamu alami seandainya kamu tiba-tiba menerima kabar bahwa anda harus bersiap-siap memiliki seorang penerus (anak) dari seseorang yang sedang kamu pikirankan. Tidak,kamu sebenarnya tidak terlalu berharap pada generasi penerus. Kamu membutuhkan generasi penerus Cuma sekedar unutk melampiaskan dendam yang kamu rasakan sekarang.” Sama seperti contoh Signorelli, kontradiksi ini terbentuk dari munculnya sebuah hubungan luar antara salah satu elemen ide (generasi masa depan) dengan sebuah elemen perkiraan yang ia represi (menstruasi yang terlambat, kehamilan), tetapi hai ini muncul lewat jalan yang berliku-liku melalui begitu banyak hubungan-hubungan yang sekilas tampaknya kebetulan saja. Kesamaan lain antara contoh ini dengan contoh Signorelli yang perlu kita perhatikan adalah dalam dua contoh ini, kontradiksi itu sama-sama terjadi akibat pikiran yang direpresi yang kemudia muncul lagi menjadi pikiran yang membuat konsentrasinya menjadi menyimpang.

Demikianlah penjelasan Freud mengenai keanekaragaman dan hubungan dalam dari kedua contoh kelupaan nama tadi. Dari dua contoh ini kita telah menemukan satu lagi mekanisme kelupaan yaitu, bahwa gangguan terhadap pikiran atau daya ingat dapat ditimbulkan ketika muncul sebuah kontradiksi dalam yang diakibatkan oleh represi.

Dalam esai yang kedua Freud menunjukkan bahwa pikiran atau ingatan kita mampu memiliki bertindak dengan tujuan atau motif tertentu yang tidak kita sadari dalam kaitannya dengan hal-hal yang selama ini tidak kita duga sama sekali. Sebuah fakta menarik bahwa ingatan seseorang mengenai masa kecilnya seringkali berisi hal-hal yang tampaknya tidak penting, bahkan pikiran orang dewasa (seringkali tapi tidak sering) seringkali sudah melupakan kesan-kesan yang sangat mendalam yang terjadi pada masa kecil. Ingatan manusia menggunakan metode tertentu untuk menseleksi kesan-kesan yang diterimanya, maka tampaknya masuk akal jika kita memperkirakan bahwa ketika masih kanak-kanak seleksi ini terjadi dengan prinsip-prinsip yang sangat berbeda dengan ketika orang mencapai kematangan intelektual. Kenangan masa kecil yang dimiliki seseorang yang sudah dewasa tampaknya seolah tidak penting atau tidak memiliki hubungan yang jelas dengan pola pikir orang itu karena kenangan masa kecil itu telah mengalami proses pergeseran. Dengan melakukan psikoanalisis, bisa dibuktikan bahwa kenangan-kenangan masa kecil lainnya menutup yang tampaknya tidak penting itu sebenarnya adalah topeng yang menutupi atau menggeser kenangan-kenangan masa kecil lainnya yang sangat berkesan bagi orang itu, namun kenangan-kenangan masa kecil yang penting atau terkesan ini tidak dapat direproduksi atau diingat kembali karena ada penolakan atau represi tertentu yang terjadi dalam pikiran. Maka, karena kenangan-kenangan masa kecil yang tidak berkesan ini hadir dalam ingatan bukan karena makna yang dikandungnya sendiri melainkan karena kenangan-kenangan yang tidak berkesan itu memiliki hubungan atau asosiasi dengan kenangan-kenangan yang berkesan yang terrepresi tadi, maka kenangan-kenangan yang tidak berke sebagaian ini dapat disebut “kenangan penyamar” karena kenangan-kenangan ini menyamarkan atau menutupi kenangan-kenangan lain yang sebenarnya lebih berkesan.

Dalam contoh yang telah dianalisa Freud secara menyeluruh esai tersebut menunjukkan adanya sebuah aspek yang menarik, yaitu bahwa ada hubungan temporal (waktu) antara ingatan penyamar dengan isi dari kenangan yang disamarkan atau disembunyikan. Maksudnya, kenangan yang disembunyikan oleh kenangan penyamar dalam contoh yang Freud sajikan didalam esai yang berasal dari tahun-tahun pertama saat masa kecilnya, sementara pikiran-pikiran yang tanpa disadari oleh orang itu berasal dari tahun-tahun setelahnya. Freud menyebutkan bentuk pergeseran semacam ini sebagai pergeseran retroaktif atau pergesaran regresif. Mungkin yang lebih disering ditemukan adalah hubungan yang terbalik, yaitu kenangan yang tidak berkesan dari masa kanak-kanak menjadi ingatan penyamar dan kenangan yang tidak berkesan ini muncul di pikiran sadar karena ia memiliki hubungan asosiasi dengan pengalaman berkesan yang terjadi sebelumnya, yang tidak dapat dilihat secara sadar karena telah terjadi represi tertentu. Kenangan penyamar seperti ini disebut sebagai kenangan penyamar yang mengambil alih atau yang menutupi kenangan yang berkesan tadi, dimana kenangan-kenangan yang berkesan itu terletak di belakang atau tertutupi oleh kenangan penyamar. Yang terakhir, kita juga bisa menemui kemungkinan kasus ketiga, yaitu bahwa kenangan penyamar itu bisa jadi tidak hanya memiliki kerkaitan makna dan kenangan yang disamarkannya, tetapi juga terjadi pada saat yang berdekatan dimasa lalu. Kondisi seperti ini disebut sebagai kenangan penyamar yang terjadi secara bersamaan.

Menurut Freud dua fenomena yaitu kelupaan nama dan kesalahan mengingat yang ditimbulkan oleh terbentuknya ingatan penyamar sangat berbeda satu sama lain. Kelupaan tampaknya lebih terkait dengan nama sementara kesalahan dalam mengingat tampaknya lebih terkait dengan kesan yang ditimbulkan oleh pengalaman atau oleh alur pemikiran tertentu. Selain itu, kelupaan tampaknya adalah merupakan sebuah kegagalan dari fungsi ingatan sementara kesalahan mengingat bukan merupakan sebuah kegagalan melainkan lebih merupakan sebuah penyimpangan yang aneh dari proses kerja ingatan kita. Dan lagi, kelupaan adalah sebuah gangguan pada proses ingatan kita yang terjadi secara sementara saja, sebab nama yang terlupakan itu dapat dengan mudah kita ingat pada beberapa kali kesempatan sebelumnya dan besok masih tetap dapat kita ingat lagi, sementara di sisi lain sekalipun kita mengalami kesalahan dalam mengingat namun ingatan itu tetap ada dan tidak pernah lenyap, sebab kenangan-kenangan masa kecil yang tidak berkesan tampaknya tidak pernah kecil sampai kita dewasa. Maka jika dilihat secara sepintas, dua jenis kasus ini tampaknya memerlukan dua jenis pemecahan yang berbeda : disatu sisi masalah yang kita hadapi adalah pertanyaan mengapa terjadi kelupaan sementara disisi lain yang kita hadapi adalah pertanyaan mengapa justru kenangan-kenangan yang tidak berkesan itu yang hadir dalam pikiran sadar kita. Namun jika kita merenungkannya lebih mendalam, maka akan kita sadari bahwa sekalipun diantara kedua fenomena ini ada perbedaan materi psikis dan perbedaan dalam durasi waktu, namun perbedaan-perbedaan ini masih jauh lebih kecil daripada persamaan-persamaan yang bisa kita dapati diantara keduanya. Pertama-tama, kedua fenomena ini sama-sama merupakan bentuk dari kegagalan dalam mengingat, dimana apa yang seharusnya dimunculkan dengan benar oleh ingatan ternyata tidak dapat muncul dan malah digantikan oleh hal lain yang tidak ingin kita ingat kembali (yaitu nama atau kenangan pengganti). Ketika seseorang melupakan sebuah nama, maka ingatannya masih tetap berjalan, sebab dia masih dapat mengingat hal lain sekalipun hal itu bukan yang ia maksud. Kenangan penyamar hanya bisa terbentuk jika kesan-kesan sebenarnya berkesa dapat dilupakan, dalam kedua fenomena ini sama-sama terjadi intervensi atau gangguan, hanya saja dengan bentuk yang berbeda pada tiap-tiap fenomena. Dalam kasus-kasus kelupaan nama, orang yang lupa masih tetap dapat merasakan bahwa nama pengganti itu bukanlah nama yang dimaksudkan, sementara dalam kasus-kasus kenangan penyamar, orang yang merasa bahwa kenangan masa kecilnya tak berkesan menjadi terkejut ketika mendapati bahwa di balik kenangan-kenangan yang tidak berkesan itu ternyata ada bermacam kenangan lain yang lebih berkesan. Maka jika setelah melakukan analisis psikologis, dapat menunjukkan bahwa terbentuknya nama pengganti atau kenangan pengganti didalam kedua fenomena ini memiliki proses kerja yang sama yaitu bahwa keduanya sama-saama terjadi karena proses pergeseran yang dibantu oleh adanya hubungan luar antara nama atau ingatan yang digeser dengan nama atau ingatan yang menggeser maka dapat disimpulkan bahwa keanekaragamaan materi, perbedaan-perbedaan durasi waktu dari kelupaan atau kesalahan ingatan dan perbedaan-perbedaan dalam titik pusat dari materi yang terlupakan atau salah ingat itu sebenarnya didasarkan pada satu prinsip yang sama yang berlaku secara umum, yaitu bahwa terhenti atau melesetnya fungsi untuk mengedepankan kenangan yang satu dan menindas kenangan yang lainnya.

Masalah tentang kenangan masa kecil ini menurut Freud sangat penting dan menarik sehingga tidak ada salahnya jika dia mengembangkan lebih lanjut apa yang sudah ia simpulkan.

Sampai seberapa jauh ingatan dapat menyimpan kenangan-kenangan dari masalalu ? Freud telah membaca beberapa penelitian terhadap masalah ini yang dilakukan V.Henri dan C.Henri. Dari penelitian yang mereka lakukan didapati bahwa antara orang yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan besar dalam kemampuan mereka mengenang masa lalu. Beberapa orang dapat mengingat apa yang terjadi ketika mereka masih berusia enam bulan, sementara seberapa yang lain hanya mengingat apa yang terjadi ketika mereka berusia enam atau delapan tahun. Tetapi apakah hubungan antara berbagai perbedaan kemampuan dalam mengenang masa kecil ini dan bagaimana kita harus menafsirkan perbedaan-perbedaan kemampuan ini? Tampaknya, data untuk meneliti masalah ini tidak bisa didapatkan hanya dengan mengajukan pertanyaan itu harus diteliti kembali bersama-sama dengan orang yang telah menginformasikan itu.

Freud berpendapat bahwa menerima begitu saja ketidakmampuan kita untuk mengenang masa kecil kita yang dimaksud Freud masa-masa ketika kita masih bayi sehingga kita menganggapnya sebagai sesuatu yang bukan merupakan sebuah teka-teki. Namun disisi lain, perlu kita perhatikan bahwa anak yang berumur empat tahun sekalipun sudah mencapai tingkat intelektual yang tinggi dan pola-pola emosi yang rumit. Maka seharusnya kita mempertanyakan lagi mengapa ingatan dari orang yang sudah dewasa tidak mampu mengenang kembali proses-proses psikis yang telah berkembang dengan begitu pesat ketika dia berusia empat tahun, apalagi masa kecil sebenarnya tak lenyap begitu saja dari ingata ketika seseorang tumbuh dewasa, melainkan meninggalkan jejak-jejak yang membawa pengaruh besar sampai akhir hayat. Yang aneh adalah bahwa kenangan-kenangan masa kecil ini memiliki peran yang begitu penting namun begitu mudah dilupakan ! Dari sini dapat diperkirakan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu dalam pikiran (yang berperan besar terhadap daya ingat kita) yang selama ini ternyata sama sekali belum kita ketahui keberadaanya.

Atheisme Sigmund Freud

Apakah psikologi bisa menjadi penguat diri manusia dalam memahami keberadaan Tuhan ? Psikologi adalah penjelajahan perasaan, batin, dan jiwa manusia. Semakin kenal manusia pada dirinya, semestinya ia semakin dekat dengan Tuhannya.

Atheisme psikologi dicetuskan oleh Sigmund Freud di Jerman abad ke-19 dimana ia mengingkari Tuhan dengan alasan psikologi. Menurut Freud, bertuhan adalah jiwa kekanak-kanakan yang dibawa hingga dewasa. Dia menganggap bahwa saat kita kecil kita adalah makhluk yang lemah dan mengalami banyak kekurangan untuk memenuhi kebutuhan kita. Seperti meja yang begitu tinggi bagi seorang bocah membuat bocah itu tidak bisa menggapai benda yang ada diatasnya. Juga kursi, yang terasa amat berat sehingga seorang anak kecil tidak kuat mengangkatnya. Dia bisa melihat ayahnya bisa melakukan apa saja. Mengambil benda diatas meja dan mengangkat kursi dengan begitu mudah. Itu membuatnya kagum kepada ayahnya. Ayahnya ia lihat mahakuasa. Ia jadi sangat memerlukan ayah. Ketika anak itu sudah dewasa, ia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Tuhan yang ia sebut dalam doanya untuk memenuhi kenginan-keinginannya. Persis pada saat dia masih kecil dulu saat minta tolong kepada ayahnya.            Menurut Freud agama merupakan gejala neurotis serta pelarian manusia dari kenyataan. Karena ketakutannya berhadapan dengan realitas beserta konsekuensi dan resiko-resikonya, manusia mencari kedamaian dengan menciptakan Tuhan, yang sebenarnya tidak nyata dan tidak kelihatan. Dengan penuh rasa ngeri, manusia tunduk terhadap resiko-resiko dunia, dan kemudian menyembah Tuhan sebagai pelariannya. Sikap ini adalah sikap seorang neurotik, sekaligus seseorang yang tidak dewasa (infantil). Agama adalah lambang dari sikap neurotis dan infantil dari manusia. Jika manusia hendak sungguh-sungguh mampu menghadapi tantangan realitas nyata, maka ia harus membebaskan dirinya dari neurotis kolektif tersebut. Menurut Freud, agama membuat manusia percaya akan eksistensi dewa-dewa, sehingga akhirnya membuat mereka menjadi lemah. “Dewa-dewa”, menurut Casper dalam konteks penulisan tentang Freud, “berfungsi mengatasi ancaman alam, membuat orang menerima kekejaman nasibnya,…” Manusia berharap pada dewa-dewa untuk melindungi dirinya dari kerasnya kehidupan. Faktanya, dewa-dewa tidak melindungi manusia, tetapi manusia tetap ingin dilindungi oleh mereka. Dalam hal ini, manusia telah berilusi, yakni manusia yakin bahwa suatu keinginan akan terwujud, bukan karena adanya kondisi-kondisi faktual yang mendukung terwujudnya keinginan tersebut, tetapi karena ia hanya benar-benar menginginkannya. Maka itu, ilusi akan dewa-dewa tersebut disebut sebagai infantil, karena berharap bahwa suatu keinginan akan sungguh-sungguh terwujud melulu berdasarkan keinginan tersebut tanpa acuan pada fakta-fakta konkret adalah tepat seperti karakter anak kecil, yang bersifat infantil, atau tidak dewasa. Dengan kata lain, agama membuat manusia memandang dirinya seperti anak kecil, dan bertingkah laku juga seperti layaknya anak kecil.

Pengaruh masa lalu Freud terhadap pemikirannya tentang Tuhan

  • Semasa muda ia merupakan anak favorit ibunya. Ia sering disebut dengan “My Golden Sigi” (Jean Chiriac). Dia sangat dekat dengan ibunya. Ia menganggap bahwa hubungan antara ibu dan anak laki-laki adalah hubungan yang sempurna dan bebas dari ambivalensi semua hubungan manusia. Ayah Freud memiliki riwayat perkawinan yang dirahasiakan, dipaparkan bahwa sebenarnya ayah Freud menikah tiga kali dan istri ketiganya (Rebekka) dikabarkan bunuh diri. Ayah Freud menikahi Amalie Nathanson (ibu Freud) setelah ia menghamilinya terlebih dulu. Masa lalu ayahnya yang terkuak ke hadapan Freud menyebabkan rasa malu yang mendalam. Dari sini Freud diam-diam mulai mengembangkan teorinya tentang psikoanalisis khususnya pada kasus Oedipus Complex. Berdasarkan analisanya sendiri, ia mengakui bahwa pada masa kanak-kanaknya ia pernah mengidap Oedipus Complex. Dimana ia mencintai ibu kandungnya sendiri dan cemburu terhadap ayahnya. Oleh sebab itulah ia menilai setiap anak sekitar usia 5 tahun akan mengalami nasib yang serupa seperti dia. Pemikirannya ini akan bersinggungan dengan pandangannya mengenai Tuhan dalam karyanya “Totem and Taboo.
  • Freud adalah orang yang sensitif dan penuh gairah, ia memiliki kemampuan khusus untuk berhubungan intim, pada waktu menjadi siswa, Freud dan temannya, Edward Silberstein membentuk perkumpulan Spanyol dan keduanya memiliki keterikatan khusus, suatu kesatuan yang tidak mempercayai orang lain dan memiliki kecurigaan tentang dunia dan mengenai Tuhan.
  • Freud seperti menggeneralisir semua agama karena sempat mengalami trauma agama pada masa kecil, dimana keyahudiannya menjadi bahan olok-olok oleh teman Kristennya. Pada 1873, setelah menghadiri Universitas di Wina, ia mengatakan bahwa: “Saya merasa diriku rendah dan asing karena saya adalah seorang Yahudi.” Freud juga menganggap bahwa keyahudiannya akan membuat peluang-peluangnya di bidang akademik menjadi terbatas. Dari sisi keluarga, Freud tidak pernah mendapat penekanan pada salah satu agama. Keluarganya memberi kebebasan kepadanya untuk berfikir sesuai dengan apa yang diyakini. Wajarlah jika akhirnya ia pun nampak tidak punya pendirian yang jelas mengenai suatu agama. Kaitannya dengan hal ini, Freud beranggapan bahwa agama adalah illusi. Setiap orang yang taat pada agama dianggapnya sebagai orang yang berada dalam ketakutan dan dalam ketidakberdayaan.

Sosok yang menginspirasi dalam hidupnya Freud sangat dipengaruhi oleh Darwin (survival) dan Fechner (dasar pengetahuan ilmu jiwa). Freud juga mengagumi filsuf Franz Brentano, yang dikenal karena teori persepsi, serta Theodor Lipps, yang merupakan salah satu pendukung utama ide-ide dari ketidaksadaran dan empati.

Dengan agama, manusia memandang segala persoalan hidupnya dengan mimpi serta keinginan seperti anak kecil, karena melulu bersandar pada dewa atau Tuhannya. Oleh karena itu, agama membuat manusia menjadi lemah. Manusia menjadi pasif, dan mengharapkan keselamatan dari Tuhannya, dan tidak pernah berjuang sendiri mewujudkan keinginannya itu. Potensi maupun kekuatannya pun tidak akan pernah berkembang. Walaupun begitu, agama memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap manusia, terutama karena agama merupakan suatu bentuk neurotis kolektif. Kata kolektif disini bukan berarti bahwa setiap orang beragama itu sakit jiwa, tetapi seseorang biasanya beragama, karena ia dididik di dalam masyarakat yang sudah mempunyai agama. Jadi, ia beragama, karena semua orang di masyarakatnya beragama, seperti juga ia mempercayai semua hal yang menjadi pandangan hidup masyarakatnya. Gejala sosial agama ini merupakan tanda sebuah neurotis, yakni neurotis yang dialami oleh beberapa orang.

Di dalamnya, orang melakukan berbagai perintah dan ajaran Tuhan melalui agama tidak atas dasar pertimbangan rasional, tetapi karena rasa takut akan hukuman Tuhan. Pada titik ini, Tuhan dianggap sebagai “ayah-super”, yang ditakuti sekaligus dicintai. Yang tampak jelas disini adalah ketakutan neurotik, jika hukum Tuhan dilanggar. Orang yang beragama takut berbuat dosa, karena jika ia berdosa, maka ia akan masuk neraka. Orang beragama tidak dapat sungguh menikmati sesuatu, karena takut akan dosa. Agama membuat manusia tidak mampu, dan tidak mau, mengembangkan dirinya, serta terjebak di dalam ilusi yang bersifat infantil.

Jadi, Tuhan menurut Freud hanyalah rekayasa manusia saja untuk ia jadikan tempat bertumpu atas segala keinginannya. Freud mengingkari adanya Tuhan dengan alasan seperti itu. Agama menurut Freud hanyalah cerminan keinginan manusia. Dia bukan satu-satunya yang pernah berpikir seperti itu. Masih ada Ludwig Van Feuerbach yang juga berasal dari Jerman.

Kelemahan paham atheisme psikologi terletak pada segala sisinya. Dari awal hingga akhir dasar falsafah mereka lemah. Kita tanya pada anak-anak kecil di sekitar kita tentang Tuhan, mereka akan menjawab Tuhan itu ada. Jadi pengalaman psikologi seperti yang digambarkan Freud sangat jauh dari kebenaran. Freud menggambarkan, ketika orang yang sudah dewasa dia menciptakan Tuhan dalam benaknya. Yaitu Tuhan yang dia sebut dalam doanya untuk memenuhi keinginan-keinginannya. Persis waktu ia kecil dulu saat minta tolong ayahnya. Ini sungguh gambaran yang sangat lucu sekali. Bagaimana dengan orang yang sejak kecil telah mengenal Tuhan, dan mengakui Tuhan itu ada? Atau bagaimana dengan anak yatim piatu yang tidak punya bapak dan tidak punya ibu? Hidup sebatang kara sejak kecil, namun ketika dewasa mengakui adanya Tuhan. Apakah Tuhan yang diakuinya terlahir dalam benaknya sekedar untuk memenuhi keinginan-keinginannya, persis waktu ia masih kecil dulu minta tolong ayahnya? Bagaimana ia punya pengalaman minta tolong pada ayahnya padahal ia tidak punya ayah?

Freud dan Feuerbach sama-sama meyakini bahwa agama tak lain hanyalah cerminan keinginan menusia. Karenanya, agama juga khayalan otak manusia belaka. Pertanyaannya, benarkah agama itu merupakan keinginan-keinginan? Kodrat manusia menghendaki terpenuhi secara baik kebutuhan jasmani dan ruhaninya. Nafsu seks manusia menghendaki pemenuhan dengan wanita mana saja tanpa batasan atau larangan. Demikian pula nafsu perutnya. Tetapi agama melarang pemenuhan demikian. Manusia wajib memenuhi tuntutan perut dan seksnya dengan beberapa aturan. Manusia tidak boleh melampiaskan keinginan seksnya kecuali pada pasangannya yang sah. Manusia tidak boleh mengisi perutnya kecuali dengan yang halal. Manusia harus mengerjakan shalat, puasa, membayar zakat, shadaqah dan itu bukan suatu keinginan. Tapi kewajiban dan tuntutan yang diajarkan agama.

Jika agama merupakan keinginan, mengapa banyak rasul yang membawa agama itu justru menderita, disingkirkan, diteror, bahkan ada yang dibunuh. Jika agama cerminan keinginan, seharusnya semua rasul diterima dengan penuh sukacita oleh kaumnya. Kenyataannya adalah sebaliknya. Jadi tidak benar agama merupakan keinginan-keinginan. Dan tidak benar anggapan bahwa Tuhan hanya rekaan di benak manusia.

Karya-karya yang bersinggungan dengan pandangannya mengenai Tuhan

The Future of an Illusion – 1927. Menurutnya agama itu hanya sekedar ilusi atau iming-iming saja. Agama itu dasar utamanya hanya sekedar angan-angan (wishfulfillment), karena manusia takut mati dan menderita.

Totem and Taboo – 1913. Tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan dari daya khayal manusia, sebagai pengganti dari sang ayah. Jadi akar kebutuhan terhadap agama ada di father complex. Seorang Bapak yang berkuasa, adil dan pengasih hal ini menjadi hidup kembali di dalam sosok figur Tuhan. Oleh sebab itulah umat Nasrani paling merasa genah dan cocok dimana mereka diperkenankan untuk menyapa Sang Pencipta dengan panggilan nama “Bapa”.

PENINGGALAN ILMIAH FREUD

Meskipun Sigmund Freud lahir di Freiburg, Moravia, dan meninggal di London, Inggris, dia adalah warga negara Wina, dimana dia menghabiskan hampir 80 tahun hidupnya. Jika Nazi tidak mencaplok Austria di tahun 1937, yang memaksa Freud mencari tempat perlindungan di Inggris, seluruh hidupnya, kecuali tiga tahun pertamanya, akanlah dihabiskan di ibukota Austria itu.

Hidup Freud yang panjang, dari 1856 sampai 1939, merentang di satu periode paling kreatif dalam sejarah ilmu pengetahuan. Di tahun ketika Freud yang berusia tiga tahun dibawa keluarganya ke Wina, dia menyaksikan diterbitkannya buku Origin of Species karangan Charles Darwin. Buku ini ditakdirkan merevolusi konsepsi tentang manusia. Sebelum Darwin, manusia telah dipisahkan dari kerajaan binatang semata-mata karena dia memiliki jiwa. Doktrin evolusioner membuat manusia sebagai satu bagian dari alam, seekor binatang diantara binatang yang lain. Diterimanya pandangan radikal ini berarti studi atas manusia haruslah kelanjutan dari garis-garis naturalistik. Manusia menjadi objek dari studi ilmiah yang tak berbeda, kecuali dalam kompleksitasnya, dengan bentuk-bentuk kehidupan lain.

Tahun berikutnya setelah penerbitan Origin of Species, ketika Freud berusia 4 tahun, Gustav Fechner, membentuk ilmu psikologi. Ilmuwan dan filsuf Jerman dari abad 19 ini memperlihatkan di tahun 1860 bahwa pikiran bisa ditelaah secara ilmiah dan pikiran bisa diukur secara kuantitatif. Psikologi memiliki tempatnya diantara ilmu-ilmu pengetahuan alam yang lain.

Dua orang ini, Darwin dan Fechner, memiliki dampak yang amat besar terhadap perkembangan intelektual Freud seperti halnya yang menimpa banyak kaum muda lain di periode itu. Minat dalam ilmu-ilmu biologis dan psikologi tumbuh subur sepanjang paruh kedua abad 19. Louis Pasteur dan Robert Koch, melalui karya fundamentalnya tentang teori penyakit, mengukuhkan ilmu bakteorologi; dan Gregor Mendel, melalui penyelidikannya atas the garden pea, membentuk ilmu genetika modern. Kehidupan ilmu pengetahuan berada dalam keriuhan yang kreatif.

Ada pengaruh lain yang mempengaruhi Freud lebih mendalam lagi. Pengaruh-pengaruh ini datang dari fisika. Di pertengahan abad itu, fisikus besar Jerman, Hermann von Helmholtz, merumuskan prinsip konservasi energi. Prinsip tersebut singkatnya menyatakan bahwa energi adalah kuantitas, tak beda dengan massa. Ia bisa ditransformasi, tapi tidak dapat dihancurkan. Ketika energi hilang dari satu bagian suatu sistem, ia haruslah muncul di lain bagian dalam sistem tersebut. Sebagai contoh, sewaktu satu objek menjadi lebih dingin, objek disampingnya akan menjadi lebih panas.

Studi atas perubahan-perubahan energi dalam suatu sistem fisis membawa pada penemuan-penemuan momentus dalam bidang kajian dinamika. Lima puluh tahun antara pernyataan Helmholtz tentang konservasi energi dan teori relativitas Albert Einstein merupakan jaman keemasan tentang energi. Termodinamika, medan elektromagnetik, radioaktivitas, elektron, teori kuantum. Semua ini adalah beberapa prestasi dari separuh abad yang vital ini. Orang-orang seperti James Maxwell, Heinrich Hertz, Max Planck, Sir Joseph Thompson, Marie dan Pierre Curie, James Joule, Lord Kelvin, Josiah Gibbs, Rudolph Clausius, Dimitri Mendelyeev untuk menyebutkan beberapa saja dari para raksasa fisika modern secara harfiah mengubah dunia melalui penemuan-penemuan mereka tentang rahasia-rahasia energi. Sebagian besar alat-alat yang menghemat tenaga manusia yang membuat kehidupan kita sekarang jauh lebih mudah berasal dari gelombang pengaruh fisika abad 19. Kita sekarang ini masih terus saja menuai keuntungan dari jaman keemasan ini, sewaktu jaman atomik yang baru saja lahir, kita rasakan.

Tapi jaman energi dan dinamika memberikan jauh lebih banyak lagi daripada hanya menyediakan manusia dengan perkakas elektronik, televisi, mobil, kapal terbang, bom atom dan hidrogen. Jaman ini menghiasi manusia dengan suatu konsepsi manusia yang baru. Darwin mengkonsepsikan manusia sebagai binatang. Fechner membuktikan pikiran manusia tidaklah berada di luar ilmu pengetahuan tapi bahwa ia bisa dimasukkan ke dalam laboratorium dan secara akurat bisa diukur. Fisika baru bahkan memungkinkan konsepsi manusia yang lebih radikal lagi. Ini adalah pandangan bahwa manusia merupakan suatu sistem energi dan dia mematuhi hukum-hukum fisis yang sama yang mengatur gelembung sabun dan gerak benda-benda langit.

Sebagai seorang ilmuwan-muda yang tengelam dalam riset biologis sepanjang perempat terakhir abad 19, Freud hampir tidak bisa menghindarkan diri dari pengaruh fisika baru tersebut. Energi dan dinamika merembesi setiap laboratorium dan menulari pikiran para ilmuwan. Adalah peruntungan baik bagi Freud, sebagai seorang siswa kedokteran, untuk berada dibawah pengaruh Ernst Brcke. Brcke adalah direktur Laboratorium Fisiologi di Universitas Wina dan salah satu fisiolog terbesar dari abad tersebut. Bukunya, Lectures on Physiology yang terbit 1874, tahun setelah Freud masuk sekolah medis, mengemukakan pandangan radikal bahwa organisme merupakan suatu sistem dinamis yang dalam sistem seperti itu hukum-hukum kimia dan fisika berlaku. Freud amat kagum pada Brcke dan tanpa waktu lama dia terindoktrinasi oleh pandangan fisiologi dinamis baru ini.

Berkat kegeniusan Freud, dia sekitar 20 tahun kemudian akan menemukan bahwa hukum-hukum dinamika bisa diterapkan pada personalitas manusia sebagaimana berlaku pada tubuhnya. Ketika dia sampai pada penemuannya ini, Freud melanjutkannya dengan menciptakan suatu psikologi dinamis. Psikologi dinamis ialah psikologi yang menelaah transformasi-transformasi dan pertukaran-pertukaran energi yang terjadi dalam personalitas. Ini adalah prestasi terbesar Freud, dan merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan modern. Pastinya ia merupakan peristiwa krusial dalam sejarah psikologi.

Freud menciptakan Psikologi Dinamis

Meski Freud terdidik dalam ilmu pengobatan dan menerima gelar medisnya dari Universitas Wina di tahun 1881, dia tidak pernah berniat berpraktek sebagai dokter. Dia ingin menjadi seorang ilmuwan.

Dalam usahanya mengejar cita-cita inilah, dia masuk sekolah medis di Universitas Wina di 1873, ketika itu berusia 17, dan melakukan karya riset pertamanya di tahun 1876. Dalam penyelidikan pertamanya ini dia menelaah topik yang pada masa itu sukar untuk dipahami dan sukar dilakukan: testis belut! Dan dia berhasil menemukannya. Kira-kira selama 15 tahun setelahnya Freud menghabiskan waktu dalam penyelidikan-penyelidikan sistem saraf. Namun tidak secara eksklusif karena dia insaf bahwa bayaran dari riset ilmiah tidaklah akan menopang seorang istri, enam anak, dan kerabat yang banyak. Tambahan pula, anti-Semitisme yang masih kuat di Wina sepanjang periode itu menjauhkan Freud dari kemajuan karir di universitas. Akibatnya, jauh bertentangan dengan keinginannya dan atas nasihat Brcke, dia terpaksa membuka praktek pengobatan. Terlepas dari prakteknya ini, dia menyisihkan waktu untuk riset neurologis, dan akhirnya mendapat reputasi sebagai ilmuwan muda yang menjanjikan.

Ternyata ada untungnya juga Freud membuka praktek pengobatan. Jika dia tetap menjadi seorang ilmuwan medis barangkali dia tidak akan pernah punya kesempatan menciptakan psikologi dinamis. Kontaknya dengan para pasien merangsangnya untuk berfikir dalam term-term psikologis.

Sewaktu Freud memulai praktek pengobatannya adalah lumrah, dalam latar belakang ilmiahnya, untuk menspesialisasi diri dalam perawatan gangguan-gangguan saraf. Cabang medis ini pada waktu itu amat ketinggalan. Tak banyak yang bisa dilakukan bagi orang yang menderita penyimpangan pikiran. Jean Charcot, di Prancis, telah mengalami kesuksesan dengan hipnosis, terutama dalam penanganan kasus histeria. Freud menghabiskan satu tahun di Paris (1885-86) demi mempelajari metode perawatan Charcot ini. Akan tetapi, Freud tidak puas dengan hipnosis karena dia merasa bahwa efek-efeknya hanyalah temporer dan tidak sampai pada akar persoalan dan sumber gangguan. Dari dokter Wina yang lain, Joseph Breuer, dia mempelajari kelebihan-kelebihan bentuk terapi cathartic atau mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang dimiliki pasien. Pasien berbicara sementara si dokter menyimaknya.

Meski Freud belakangan mengembangkan teknik-teknik terapeutik yang baru dan lebih canggih, metode mengemukakan atau asosiasi-bebas memberikannya banyak pengetahuan perihal sebab-sebab yang melandasi perilaku abnormal. Dengan semangat dan kepenasaran ilmiah yang sejati, dia mulai menggali lebih menukik lagi ke dalam pikiran para pasiennya. Penggaliannya ini menyingkapkan daya-daya dinamis yang bekerja yang bertanggung jawab dalam pembentukan simptom-simptom abnormal. Lambat laun mulai terbentuk dalam pikiran Freud gagasan bahwa sebagian besar dari daya-daya ini adalah bawah sadar.

Ini merupakan titik balik dalam kehidupan ilmiah Freud. Menyingkirkan fisiologi dan neurologi, dia menjadi seorang penyelidik psikologis. Ruangan tempat dia merawat pasiennya menjadi laboratoriumnya, dipan adalah satu-satunya perabotan, dan omongan melantur para pasiennya adalah data ilmiahnya. Add to these the restless, penetrating mind of Freud, and one has named all of the ingredients that went into the creation of a dynamic psychology.

Di tahun 1890an, dengan kecermatan yang khas, Freud mulai melakukan analisis-diri intensif atas daya-daya bawah sadarnya sendiri untuk menguji bahan-bahan yang diberikan para pasiennya. Dengan menganalisis mimpi-mimpinya sendiri dan mengatakan apapun yang terlintas dibenaknya sendiri, dia sanggup melihat cara kerja dari dinamika batinnya. Atas dasar pengetahuan yang diperoleh dari para pasien dan dari dirinya sendiri, dia mulai menghamparkan fondasi bagi teori tentang personalitas. Perkembangan teorinya ini melibatkan upaya-upaya yang paling kreatif sepanjang sisa hidupnya. Belakangan, dia menulis, Hidup saya telah dibidikkan hanya pada satu tujuan; untuk menyimpulkan atau untuk menerka bagaimana aparatus mental dikonstruksi dan daya-daya apa yang saling bermain saling mempengaruhi dan saling berkontak didalamnya.

Adalah di tahun 90an The Interpretation of Dreams selesai ditulis, meski tidak diterbitkan sampai hari-hari terakhir abad 19 dan terbitannya diberi tanggal 1900. Buku ini merupakan karya yang memberkahi dimulainya abad baru. Buku ini, yang sekarang dipandang sebagai salah satu karya besar dari jaman moden, lebih dari sebuah buku tentang mimpi. Ia merupakan buku tentang dinamika pikiran manusia. Terutama pada bab terakhirnya, buku ini memuat teori Freud tentang pikiran.

Sedikit orang awam membaca buku tersebut ketika ia pertama muncul, dan terabaikan dalam lingkungan ilmiah dan medis. Perlu 8 tahun untuk menjual 600 kopian dari cetakan pertamanya. Tapi kegagalan awal dari The Interpretation of Dreams seperti ini tidak menyurutkan Freud. Dengan rasa percaya diri dari orang yang tahu dirinya berada di jalan yang benar, Freud terus menjelajahi pikiran manusia melalui metode psikoanalisis. Pada saat yang sama ketika dia membantu para pasiennya mengatasi permasalahan-permasalahan yang mereka punyai, mereka membantu Freud dalam memperluas pengetahuannya perihal daya-daya bawah sadar.

Terlepas dari kegagalan yang dialami The Interpretation of Dreams, serangkaian buku dan artikel brilian mengalir dari pena Freud sepanjang 10 tahun selanjutnya. Di 1904, dia menerbitkan The Psychopathology of Everyday Life, yang mengemukakan tesis baru bahwa keseleo lidah, kesalahan, kecelakaan, dan salah-ingat semuanya dikarenakan motif-motif bawah sadar. Tahun berikutnya tiga karya yang lebih signifikan terbit. Salah satunya, A Case of Hysteria, memberikan penjelasan mendetail tentang metode Freud dalam menelusuri sebab-sebab psikologis dari gangguan mental. Three Essays on Sexuality mengedepankan pandangan-pandangan Freud tentang perkembangan insting seks. By many authorities ini dipandang sebagai karya Freud yang paling penting disamping The Interpretation of Dreams. Apakah orang setuju atau tidak dengan penilaian ini penulis tidak menyepakatinya Three Essays membuat Freud mendapatkan reputasi unwarranted sebagai seorang pan-sexualist. Volume ketiga, Wit and Its Relation to the Unconsious, memperlihatkan bagaimana banyolan yang diceritakan orang merupakan produk dari mekanisme bawah sadar.

Meski, selama beberapa tahun, Freud bekerja sebagian besar dalam isolasinya dari dunia medis dan ilmiah, tulisan-tulisannya dan kesuksesan metode psikoanalitisnya dalam menangani pasien-pasien neurotik membuat namanya menarik perhatian sekelompok kecil orang. Diantara mereka ini adalah Carl Jung dan Alfred Adler, yang keduanya belakangan menarik dukungannya atas psikoanalisis dan mengembangkan mazhab tandingannya. Namun mereka berdua merupakan pengikut penting Freud di tahun-tahun sebelum Perang Dunia Pertama dan membantu mengukuhkan psikoanalisis sebagai suatu gerakan internasional.

Di 1909, Freud menerima pengakuan akademis pertamanya ketika diundang berbicara pada hari peringatan 20 tahun pendirian Clark University di Worcester, Massachusetts. Stanley Hall, Presiden Clark University, dan dia sendiri adalah seorang psikolog terkemuka, mengakui arti penting kontribusi Freud pada psikologi dan membantu mempromosikan pandangan-pandangannya di Amerika Serikat.

Semakin hari semakin banyak pengakuan bagi Freud, dan setelah Perang Dunia Pertama namanya dikenal jutaan orang di seluruh dunia. Psikoanalisis was the rage, dan pengaruhnya dirasakan hampir di semua relung teater kehidupan. Sastra, seni, agama, kebiasaan sosial, moral, etika, pendidikan, dan ilmu social semuanya merasakan dampak psikologi Freudian. Pada waktu itu dipandang gaul untuk dipsikoanalisis dan jika menggunakan kata-kata semisal bawah sadar, dorongan-dorongan yang direpresi, larangan, kompleks-kompleks, dan fiksasi dalam percakapan sehari-hari. Kebanyakan minat populer dalam psikoanalisis dikarenakan asosiasinya dengan seks.

Sepanjang hidupnya Freud terus menulis. Hampir tak pernah satu tahun berlalu tanpa menerbitkan sedikitnya satu buku atau artikel penting. Kumpulan tulisannya, dalam edisi Bahasa Inggris Standar, terkumpul 24 volume. Freud diperkatakan sebagai seorang master penulisan prosa. Dia memiliki begitu banyak ekspresi yang tak bisa ditandingi para penulis ilmiah. Meski tanpa berkesan mendikte kepada para pembacanya, dia berhasil menyampaikan gagasan-gagasannya dengan cara yang hidup, menarik dan jernih.

Freud tidak pernah merasa karyanya selesai. Sewaktu bukti baru muncul dari para pasien dan koleganya, dia merevisi teori-teori dasarnya. Di tahun 1920an, misalnya, ketika Freud berusia 70, dia sepenuhnya mengubah sejumlah pandangan-pandangan mendasarnya. Dia mengubah teorinya tentang motivasi, sepenuhnya membalikkan teorinya tentang kecemasan, dan membentuk model personalitas baru yang didasarkan atas id, ego, dan superego. Orang tak bisa mendapati fleksibilitas semacam itu pada orang yang berusia 70 tahun. Keengganan untuk berubah sudah merupakan ciri bagi orang yang sudah tua. Tapi Freud tidak bisa dinilai melalui standar yang biasa. Dia sudah belajar di awal-awal kehidupannya bahwa konformitas ilmiah berarti kelemahan intelektual.

Referensi