Psikologi Individual

You are here:
< Back

Psikologi individual adalah teori kepribadian yang dikembangkan oleh Alfred Adler. Menurut Adler manusia dilahirkan dalam keadaan tubuh yang lemah; kondisi ketidak berdayaan yang menimbulkan perasaan inferior (merasa lemah atau tidak mampu) dan ketergantungan kepada orang lain (makhluk yang saling tergantung secara sosial); perasaan bersatu dengan orang lain ada sejak manusia dilahirkan dan menjadi syarat utama kesehatan jiwanya.

Berdasarkan paradigma tersebut kemudian Adler mengembangkan teorinya yang disajikan pada uraian berikut.

Individualitas sebagai pokok persoalan

Adler memilih nama Individual psychology dengan harapan dapat menekankan keyakinannya bahwa tiap orang itu unik dan tidak dapat dipecah (Alwisol, 2005: 90). Psikologi individual menekankan kesatuan kepribadian. Menurut Adler tiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, sifat-sifat, serta nilai-nilai yang khas, dan tiap perilakunya menunjukkan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual, yang diarahkan pada tujuan tertentu.

Kesadaran dan Ketidak Sadaran

Adler memandang unitas (kesatuan) kepribadian juga terjadi antara kesadaran dan ketidak sadaran (Alwisol, 2005: 92). Menurut Adler, tingkah laku tidak sadar adalah bagian dari tujuan final yang belum terformulasi dan belum terpahami secara jelas. Adler menolak pandangan bahwa kesadaran dan ketidaksadaran adalah bagian yang bekerja sama dalam sistem yang unify. Pikiran sadar, menurut Adler, adalah apa saja yang dipahami dan diterima individu serta dapat membantu perjuangan mencapai keberhasilan. Sedangkan apa saja yang tidak membantu hal tersebut akan ditekan ke ketidak sadaran, apakah pikiran itu disadari atau tidak tujuannya satu yaitu untuk menjadi super atau mencapai keberhasilan.

Jika Freud memakai gunung es sebagai ilustrasi yang menggambarkan hubungan dan perbandingan antara alam sadar dan alam tak sadar, Adler memakai ilustrasi mahkota pohon dan akar, keduanya berkembang ke arah yang berbeda untuk mencapai kehidupan yang sama.

Dua Dorongan Pokok

Dalam diri tiap individu terdapat dua dorongan pokok, yang mendorong serta melatar belakangi segala perilakunya, yaitu:

  1. Dorongan kemasyarakatan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan orang lain;
  2. Dorongan keakuan, yang mendorong manusia bertindak untuk kepentingan diri sendiri.

Perjuangan ke Arah Superior

Adler meyakini bahwa manusia dilahirkan disertai dengan perasaan rendah diri. Seketika individu menyadari eksistensinya, ia merasa rendah diri akan perannya dalam lingkungan. Individu melihat bahwa banyak mahluk lain yang memiliki kemampuan meraih sesuatu yang tidak dapat dilakukannya. Perasaan rendah diri ini mencul ketika individu ingin menyaingi kekuatan dan kemampuan orang lain. Misal, anak merasa diri kurang jika dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itu ia terdorong untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi. Jika telah mencapai taraf perkembangan tertentu, maka timbul lagi rasa kurang untuk mencapai taraf berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga individu dengan rasa rendah dirinya ini tampak dinamis mencapai kesempurnaan dirinya. Teori Adler mengenai perasaan rendah diri ini berawal dari pengamatannya atas penderitaan pasien-pasiennya yang seringkali mengeluh sakit pada daerah tertentu pada tubuhnya, mengenai psikosomatis, Adler mengatakan bahwa rasa sakit yang diderita individu sebenarnya adalah usaha untuk memecahkan masalah-masalah nonfisik.

Keadaan tersebut, menurut Adler disebabkan adanya kekurang sempurnaan pada daerah-daerah tubuh tersebut, yang dikatakannya sebagai organ penyebab rendah diri (organ inferiority). Jadi manusia lahir memang tidak sempurna, atau secara potensial memiliki kelemahan dalam organ tubuhnya. Adanya stress menyebabkan organ lemah ini terganggu. Karenanya, tiap orang selalu berusaha mengkompensasikan kelemahannya dengan segala daya. Dalam hal ini usaha kompensasi ini ditentukan oleh gaya hidup dan usaha mencapai kesempurnaan (superior). Individu yang jiwanya tidak sehat mengembangkan perasaan inferioritasnya secara berlebihan dan berusaha mengkompensasikannya dengan membuat tujuan menjadi superioritas personal. Sebaliknya, orang yang sehat jiwanya dimotivasi oleh perasaan normal ketidak lengkapan diri dan minat sosial yang tinggi. Mereka berjuang menjadi sukses, mengacu kekesempurnaan dan kebahagiaan siapa saja.

Pada tahun 1908, Adler telah mencapai kesimpulan bahwa agresi lebih penting daripada seksualitas. Kemudian impuls agresif itu diganti dengan “hasrat akan kekuasaan’. Adler mengidentifikasikan kekuasaan dengan sifat maskulin dan kelemahan dengan sifat feminin. Pada tahap pemikiran inilah (kira-kira tahun 1900) ia mengemukakan ide tentang “protes maskulin” suatu bentuk kompensasi berlebihan yang dilakukan baik oleh pria maupun wanita jika mereka merasa tidak mampu dan rendah diri.  Kemudian, Adler menggantikan “hasrat akan kekuasaan” dengan “perjuangan kearah superioritas” yang tetap dipakainya untuk seterusnya. Jadi ada tiga tahap dalam pemikiran Adler tentang tujuan final manusia, yakni: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior.

Adler menegaskan bahwa superioritas bukan pengkotakan sosial, kepemimpinan, atau kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Tetapi superioritas yang dimaksudkan Adler adalah sesuatu yang sangat mirip dengan konsep Jung tentang diri atau prinsip aktualisasi diri dari Goldstein. Superioritas adalah perjuangan kearah kesempurnaan. Ia merupakan “dorongan kuat ke atas”. Dengan kata lain, perjuangan menuju superioritas merupakan tujuan final yang diperjuangkan oleh manusia dan memberi konsistensi dan kesatuan pada kepribadian.

Saya mulai melihat dengan jelas dalam tiap gejala psikologi perjuangan kearah superioritas. Perjuangan itu berjalan sejajar dengan pertumbuhan fisik dan merupakan suatu kebutuhan yang ada dalam kehidupan sendiri. Dorongan itu merupakan akar dari semua pemecahan masalah hidup dan tampak dari cara kita memecahkan masalah ini. Semua fungsi kita mengikuti jejaknya. Mereka berjuang mendambakan kemenangan, rasa aman, peningkatan, entah dalam arah yang benar atau salah. Impetus dari minus ke plus tidak pernah berakhir. Dasar pemikiran apapun yang diimpikan semua filsuf dan psikolog kita – pelestarian diri, prinsip kenikmatan, ekualisasi – semuanya hanya merupakan gambar kabur, usaha – usaha untuk melukiskan dorongan kuat ke atas (Adler 1930: 398 dalam Hall and Lindzey, 1993:245) 

Adler menyatakan bahwa perjuangan ini bersifat bawaan, bahwa ia merupakan bagian dari hidup, malahan hidup itu sendiri. Dari lahir sampai mati perjuangan kearah superioritas itu membawa sang pribadi dari satu tahap perkembangan ke tahap – tahap perkembangan berikutnya yang lebih tinggi. Ia merupakan prinsip prepoten. Dorongan-dorongan tidak terpisah, Karena masing-masing dorongan mendapatkan dayanya dari perjuangan kearah kesempurnaan. Adler mengakui bahwa dorongan kearah superioritas itu menjelma dengan beribu-ribu cara yang berbeda-beda (gaya hidup), dan bahwa tiap orang mempunyai cara kongkret masing-masing untuk mencapai atau berusaha mencapai kesempurnaan.

Gaya Hidup (Style of Life)

Gaya hidup menunjuk pada bagaimana seseorang menunjukkan hidupnya, ataupun bagaimana seseorang mengatasi permasalahan dan hubungan interpersonalnya. Adler menyatakan dalam Boeree (2006: 6).

The style of life of a tree is the individuality of a tree expressing it self and molding itself in an environment. We recognize a style when we see it against a background of an environment different from what we expect, for then we realize that every tree has a life pattern and is not merely a mechanical reaction to the environment.

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa gaya hidup itu diibaratkan seperti sebuah pohon kepribadian yang dapat tumbuh melalui ekspresi dirinya dan pembentukan dari lingkungan. Boeree (2006: 6) juga menambahkan mengenai pengenalan tiap gaya ketika melihat sesuatu yang memiliki perbedaan latar belakang lingkungan dari apa yang kita perkirakan sebelumnya, kemudian kita menyadari bahwa tiap “pohon” telah memiliki pola kehidupan yang berbeda dan hal itu tidak selalu sebuah reaksi mekanis lingkungan.

Pernyataan lain menegaskan mengenai konsep kunci istilah gaya hidup dalam psikologi individu adalah kompleks dari filosofi individu, kepercayaan dan pendekatan karakteristik dalam kehidupan, dan kesatuan dalam kepribadian seseorang. Gaya hidup mereseprentasikan individu yang merespon secara subjektif dalam tiap pengalaman hidupnya, yang akan mempengaruhi seluruh persepsi dirinya dan persepsi terhadap dunia, emosi, motivasi dan perilaku. Hal ini telah diperkenalkan Adler dalam istilah “gaya hidup” dari sebuah awal ekspresi seperti “garis pemandu” dan “pohon kehidupan” (Adler, 1997: 162)

Gaya hidup yang diikuti individu adalah kombinasi dari dua hal, yakni dorongan dari dalam diri (the inner self driven) yang mengatur arah perilaku, dan dorongan dari lingkungan yang mungkin dapat menambah, atau menghambat arah dorongan dari dalam tadi. Dari dua dorongan itu, yang terpenting adalah dorongan dalam diri (inner self) itu. Bahwa karena peranan dalam diri ini, suatu peristiwa yang sama dapat ditafsirkan berbeda oleh dua orang manusia yang mengalaminya. Dengan adanya dorongan dalam diri ini, manusia dapat menafsirkan kekuatan-kekuatan di luar dirinya, bahkan memiliki kapasitas untuk menghindari atau menyerangnya. Bagi Adler, manusia mempunyai kekuatan yang cukup, sekalipun tidak sepenuhnya bebas, untuk mengatur kehidupannya sendiri secara wajar. Jadi dalam hal ini Adler tidak menerima pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah produk dari lingkungan sepenuhnya. Menurut Adler, justru jauh lebih banyak hal-hal yang muncul dan berkembang dalam diri manusia yang mempengaruhi gaya hidupnya. Gaya hidup manusia tidak ada yang identik sama, sekalipun pada orang kembar. Sekurang-kurangnya ada dua kekuatan yang dituntut untuk menunjukkan gaya hidup seseorang yang unik, yakni kekuatan dari dalam diri yang dibawa sejak lahir dan kekuatan yang datang dari lingkungan yang dimasuki individu tersebut.

Dengan adanya perbedaan lingkungan dan pembawaan, maka tidak ada manusia yang berperilaku dalam cara yang sama. Gaya hidup seseorang sering menentukan kualitas tafsiran yang bersifat tunggal atas semua pengalaman yang dijumpai manusia. Misal, individu yang gaya hidupnya  berkisar pada perasaan diabaikan (feeling of neglect) dan perasaan tak disenangi (being unloved) menafsirkan semua pengalamannya dari cara pandang tersebut. misal ia merasa bahwa semua orang yang ingin mengadakan kontak komunikasi dipandangnya sebagai usaha untuk menggantikan perasaan tak disayangi tersebut. Gaya hidup seseorang telah terbentuk pada usia tiga sampai lima tahun. Gaya hidup yang sudah terbentuk tak dapat diubah lagi, meski cara pengekspresiannya dapat berubah. Jadi gaya hidup itu tetap atau konstan dalam diri manusia.

Apa yang berubah hanya cara untuk mencapai tujuan dan kriteria tafsiran yang digunakan untuk memuaskan gaya hidup. Misal, bagi anak yang merasa memiliki gaya hidup tidak disayangi, adalah lebih baik praktis untuk membentuk tujuan semu bahwa kasih sayang baginya tidak begitu penting dibandingkan dengan usaha meyakinkan bahwa tidak dicintai pada masa lalu tidak penting baginya, dan bahwa meyakinkan kemungkinan untuk dicintai pada masa yang akan datang diharapkan dapat memperbaiki peristiwa masa lampau. Perubahan gaya hidup meski mungkin dapat dilakukan, akan tetapi kemungkinannya sangat sukar, karena beberapa pertimbangan emosi, energi, dan pertumbuhan gaya hidup itu sendiri yang mungkin keliru. Karenannya jauh lebih mudah melanjutkan gaya hidup yang telah ada dari pada mengubahnya. Mengenai bagaimana gaya hidup itu berkembang, dan kekuatan yang mempengaruhinya, menurut Adler dapat dipelajari dengan meyakini bahwa perasaan rendah diri itu bersifat universal pada semua manusia, dan berikutnya karena adanya usaha untuk mencapai superioritas. Akan tetapi ada karakteristik umum yang berasal dari sumber lain di luar dirinya yang turut menentukan keunikan kepribadian individu, yakni kehadiran kondisi sosial, psikologis, dan fisik yang unik pada tiap manusia. Dikatakan, bahwa tiap manusia mencoba menangani pengaruh-pengaruh itu. Faktor yang khusus yang dapat menyebabkan gaya hidup yang salah adalah pengalaman masa kecil, banyaknya saudara, dan urutan dalam keluarga.

Adler juga menemukan tiga faktor lainnya yang dapat menyebabkan gaya hidup keliru dalam masyarakat dan menyebabkan kehidupan manusia tidak bahagia. Ketika anak-anak yang dimanja atau dikerasi, dan masa kanak-kanak yang diacuhkan oleh orang tuanya. Pada anak cacat tubuh, perasaan rendah diri akan lebih besar dari pada anak yang sehat fisiknya. Biasanya reaksi yang muncul ada yang menyerah pada keadaan dikalahkan oleh lingkungan, akan tetapi ada juga yang berusaha mengkonpensasikannya pada bidang yang jauh dari bakat normal pada orang biasa, misal berhasil dalam kegiatan olahraga, kesenian, atau industri.

Minat Sosial (Social Interest)

Adler berpendapat bahwa minat sosial adalah bagian dari hakikat manusia dalam besaran yang berbeda muncul pada tingkah laku tiap orang. Manusia dilahirkan dikaruniai minat sosial yang bersifat universal. Kebutuhan ini terwujud dalam komunikasi dengan orang lain, yang pada masa bayi mulai berkembang melalui komunikasi anak dengan orang tua. Proses sosialisasi membutuhkan waktu banyak dan usaha yang berkelanjutan. Dimulai pada lingkungan keluarga, kemudian pada usia 4-5 tahun dilanjutkan pada lingkungan pendidikan dasar dimana anak mulai mengidentifikasi kelompok sosialnya.

Individu diarahkan untuk memelihara dan memperkuat perasaan minat sosialnya ini dan meningkatkan kepedulian pada orang lain. Melalui empati, individu dapat belajar apa yang dirasakan orang lain sebagai kelemahannya dan mencoba memberi bantuan kepadanya. Individu juga belajar untuk melatih munculnya perasaan superior sehingga jika saatnya tiba, ia dapat mengendalikannya. Proses-proses ini akan dapat memperkaya perasaan superior dan memperkuat minat sosial yang mulai dikembangkannya.

Minat sosial membuat individu mampu berjuang mengejar superioritas dengan cara yang sehat dan tidak tersesat ke salah suai. Bahwa semua kegagalan, neurotik, psikotik, kriminal, pemabuk, anak bermasalah, dan seterusnya, menurut Adler terjadi karena penderita kurang memiliki minat sosial.

Mereka menyelesaikan masalah pekerjaan, persahabatan, dan seks tanpa keyakinan bahwa itu dapat dipecahkan dengan kerjasama. Makna yang diberikan kepada kehidupannya adalah nilai privat. Tidak ada orang lain yang mendapat keuntungan berkat tercapainya tujuan mereka. Tujuan keberhasilan mereka adalah superioritas personal, dan kejayaan/keberhasilan mereka hanya berarti bagi mereka sendiri.

Many people believe that they are superior and dominant when they express their sexual instict polygamously. They therefore have they therefore have sexual relationships with many partners, and it is easy to see that they deliberately overstess their sexual desires for psychological reasons. The resultant illution that they are conquerors serves as a compensation for an inferiority complex. It is the inferiority complex that is at the core of sexual abnormalities. A person who suffers from an inferiority complex is always looking for the easiest way out, and sometimes finds this by excluding most aspects of life and exaggerating sexuality. (Adler,1997: 154)

Kekuatan Diri Kreatif  (Creative Power of the Self)

Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian individu, sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Dengan prinsip ini Adler ingin menjelaskan bahwa manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia lebih dari sekedar produk lingkungan atau mahluk yang memiliki pembawaan khusus. Ia adalah yang menafsirkan kehidupannya. Individu menciptakan struktur pembawaan, menafsirkan kesan yang diterima dari lingkungan kehidupannya, mencari pengalaman yang baru untuk memenuhi keinginan untuk superior, dan meramu semua itu sehingga tercipta diri yang berbeda dari orang lain, yang mempunyai gaya hidup sendiri.

Diri kreatif adalah sarana yang mengolah fakta-fakta dunia dan menstransformasikan fakta-fakta itu menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamik, menyatu, personal, dan unik.

Creative power is a dynamic concept implying movement, and this movement is the most salient characteristic of life. All psychic life involves movement toward a goal, movement with a direction (Adler dalam Feist 1998: 79).

Adler dalam Feist (1998: 79) menyatakan bahwa keturunan memberi “kemampuan tertentu” dan lingkungan member “kesan tertentu”. Keduanya mengkolaborasi individu dalam menginterpretasi dan bersikap terhadap kehidupan dan hubungan-hubungan dengan dunia luar.

Tiap orang memiliki kekuatan untuk bebas menciptakan gaya hidupnya sendiri-sendiri. Manusia itu sendiri yang bertanggung jawab tentang siapa dirinya dan bagaimanan dia bertingkahlaku. Manusia mempunyai kekuatan kreatif untuk mengontrol kehidupan dirinya, bertanggung jawab mengenai tujuan finalnya, menentukan cara memperjuangkan tujuan itu, dan menyumbang pengembangan minat sosial. Kekuatan diri kreatif itu membuat tiap manusia bebas, bergerak menuju tujuan yang terarah.

Tujuan Final yang Semu (Fictional Final Goals)

Adler menerapkan istilah finalisme dengan gagasan bahwa kita memiliki tujuan akhir, keadaan akhir, dan kebutuhan untuk bergerak ke arahnya. Tujuan yang kita perjuangkan, bagaimanapun, adalah potensi, bukan aktualitas. Dengan kata lain, kita mengupayakan cita-cita yang ada di dalam kita secara subyektif. Adler percaya bahwa tujuan kita adalah cita-cita ideal atau nyata yang tidak dapat diuji terhadap kenyataan. Kita menjalani hidup kita di sekitar cita-cita seperti keyakinan bahwa semua orang diciptakan setara atau semua orang pada dasarnya baik. Tujuan hidup Adler adalah menaklukkan kematian; Cara dia berusaha mencapai tujuan itu adalah menjadi seorang dokter (Hoffman, 1994).

Keyakinan ini mempengaruhi cara kita memandang dan berinteraksi dengan orang lain. Misal, jika kita percaya bahwa berperilaku dengan cara tertentu akan memberi kita penghargaan di surga atau kehidupan setelah kematian, kita akan mencoba untuk bertindak sesuai dengan kepercayaan itu. Keyakinan akan adanya kehidupan setelah kematian tidak didasarkan pada kenyataan obyektif, tapi nyata bagi orang yang memegang pandangan itu.

Adler meresmikan konsep ini sebagai finalisme fiksi, gagasan bahwa gagasan fiktif membimbing perilaku kita saat kita berusaha menuju keadaan utuh atau utuh. Kita mengarahkan perjalanan hidup kita dengan banyak fiksi seperti itu, tapi yang paling meresap adalah cita-cita kesempurnaan. Dia mengemukakan bahwa rumusan terbaik ideal yang dikembangkan manusia sejauh ini adalah konsep Tuhan. Adler lebih menyukai istilah “tujuan akhir subjektif” atau “membimbing cita-cita diri sendiri” untuk menggambarkan konsep ini, namun terus dikenal sebagai “finalisme fiksi” (Watts & Holden, 1994).

Ada dua poin tambahan tentang memperjuangkan keunggulan. Pertama, ia meningkat daripada mengurangi ketegangan. Tidak seperti Freud, Adler tidak percaya bahwa satu-satunya motivasi kita adalah mengurangi ketegangan. Berjuang untuk kesempurnaan membutuhkan pengeluaran energi dan usaha yang besar, sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan keseimbangan atau keadaan tanpa ketegangan. Kedua, perjuangan untuk superioritas dimanifestasikan baik oleh individu maupun masyarakat. Sebagian besar dari kita adalah makhluk sosial. Kami berusaha untuk superioritas atau kesempurnaan tidak hanya sebagai individu tapi juga sebagai anggota sebuah kelompok. Kita berusaha mencapai kesempurnaan budaya kita. Menurut Adler, individu dan masyarakat saling terkait dan saling tergantung. Orang harus berfungsi secara konstruktif dengan orang lain demi kebaikan semua orang.

Jadi, bagi Adler, manusia selalu berusaha mencapai cita-cita kesempurnaan yang ideal. Bagaimana dalam kehidupan kita sehari-hari kita mencoba mencapai tujuan ini? Adler menjawab pertanyaan ini dengan konsep gaya hidupnya.

Meski Adler mangakui bahwa masa lalu adalah penting, namun ia mengganggap bahwa yang terpenting adalah masa depan. Yang terpenting bukan apa yang telah individu lakukan, melainkan apa yang akan individu lakukan dengan diri kreatifnyaitu pada saat tertentu. Dikatakannya, tujuan akhir manusia akan dapat menerangkan perilaku manusia itu sendiri. Misalkan, seorang mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bukanlah didukung oleh prestasinya ketika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah, melainkan tujuannya mencapai gelar tersebut. usaha mengikuti tiap tingkat pendidikan adalah bentuk tujuan semunya, sebab kedua hal tidak menunjukkan sesuatu yang nyata, melainkan hanya perangkat semu yang menyajikan tujuan yang lebih besar dari tujuan-tujuan yang lebih jauh pada masa datang.

Dengan kata lain, tujuan yang dirumuskan individu adalah semua karena dibuat amat ideal untuk diperjuangkan sehingga mungkin saja tidak dapat direalisasikan. Tujuan fiksional atau semu ini tak dapat dipisahkan dari gaya hidup dan diri kreatif. Manusia bergerak ke arah superioritas melalui gaya hidup dan diri kreatifnya yang berawal dari perasaan rendah diri dan selalu ditarik oleh tujuan semu tadi. Tujuan semu yang dimaksud oleh Adler ialah pelaksanaan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia. Melalui diri keratifnya manusia dapat membuat tujuan semu dari kemampuan yang nyata ada dan pengalaman pribadinya. Kepribadian manusia sepenuhnya sadar akan tujuan semu dan selanjutnya menafsirkan apa yang terjadi sehari-hari dalam hidupnya dalam kaitannya dengan tujuan semu tersebut.

Finalisme Fiktif Adler dalam Tinjauan Filsafat

“Seseorang tidak akan tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupnya,” menurut Adler (dalam Ansbacher & Ansbacher, 1964: 96), “jika dia tidak berorientasi pada tujuan. Manusia tidak bisa berpikir, merasakan, berhasrat, atau bertindak tanpa adanya persepsi atas tujuan.” Bagi Adler, memiliki sasaran dan tujuan hidup sangatlah penting bagi kristalisasi kepribadian dan kesejahteraan seseorang. Dalam kerangka teoritis ini, seperti yang ditulis oleh Karen John (2011: 1), “perilaku dipandang sebagai tujuan, sasaran-sasaran, penentuan atas nasib sendiri”.

Manusia menentukan tujuan sendiri dan menentukan gerakan sendiri melalui kehidupan, walaupun jarang sepenuhnya mereka menyadari tujuan atau mengapa mereka bersikap demikian. Istilah “sasaran” biasanya menunjukkan arah atau hasil yang diinginkan, destinasi sebuah perjalanan. Dalam mengemukakan sasaran tersirat keinginan, destinasi, dan perjalanan. Demikian pula “tujuan”, dari bahasa Latin proponere, yang berarti mengedepankan, biasanya didefinisikan sebagai alasan mengapa sesuatu dilakukan atau sesuatu ada—ia mengandung kebulatan tekad. Agar bisa bertindak sesuai tujuan, manusia membutuhkan keinginan dan dorongan untuk bergerak maju tanpa ragu. Memiliki sebuah tujuan berarti menginginkan sebuah hasil dan mengejarnya dengan pasti.

Pandangan Adler mengenai finalisme atau tujuan hidup tidak berhenti pada perumusan di atas. Dia tidak sekadar menjadi perintis psikologi pop kontemporer dari pemikiran positif dan manifestasi kehidupan yang orang damba. Dia tidak hanya menjadi pelopor publikasi self-help yang memenuhi rak-rak perpustakaan dan toko buku—yang bisa dibilang, jenis literatur yang memberikan aib pada psikologi. Sebagai gantinya, didukung oleh sikap filosofis yang diperhalus yang tercermin dalam pembacaannya terhadap Kant, Nietzsche, dan Vaihinger, Adler (dalam Ansbacher & Ansbacher, 1964) mencantumkan kata sifat yang ambigu terhadap kata “tujuan.” Kata sifat yang dipilih Adler tersebut adalah “fiktif”—dari bahasa Latin yang berarti “berusaha”, “menemukan” atau “membangun.” Dia berbicara tentang tujuan fiktif; tujuan penuntun seseorang adalah sesuatu yang penting namun fiktif. Bahwa tujuan itu bersifat fiktif adalah karena ketidakmampuan manusia yang melekat untuk memahami kenyataan, sehingga harus berusaha menciptakan gagasan sendiri tentang hal itu.

Berdasarkan filsafat Hans Valhinger dalam buku The Psychology of “as if ‘, pada tahun 1911. Fictional Finalism menunjukkan apa yang sedang diusahakan oleh seseorang individu itu untuk dipenuhi (kehendak) di masa mendatang. Tujuan yang sedang ditujui adalah Fictional Finalism yang mengarahkan perilaku seseorang itu seperti percaya dan yakinnya individu itu bahwa dirinya ada kemampuan untuk merealisasikan segala impian (fiksi) agar menjadi nyata di akhirnya.

Impian yang ingin dicapai seringkali bersifat ke arah kesempurnaan (guiding self ideal) dan idealistik. Ia ada dalam diri individu secara sadar atau tidak sadar. Selain itu, fiksi yang dirancang ini bersifat positif dan mampu mengemudi kejiwaan individu secara efektif sepanjang berhadapan dengan alam realitas. Misal, kepercayaan Muslim terhadap konsep neraka dan surga. Dua hal tersebut adalah suatu yang gaib dan penuh keajaiban.

Pandangan Adler yang dipengaruhi oleh filsafat Hans Vaihinger, yang bukunya berjudul The Psychology of “as if” (terjemahan dalam bahasa Inggris, 1925) diterbitkan pada tahun 1911. Vaihanger mengemukakan gagasan aneh namun memikat bahwa manusia hidup dengan banyak cita-cita yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada padanannya dalam kenyataan. Vaihinger dan Adler, menggaris bawahi bahwa mereka menggunakan tujuan final yang semu tersebut untuk membuat hidup lebih baik dari hari ke hari.

We behave as if we knew the world would be here tomorrow, as if we were sure what good and bad are all about, as if everything we see is as we see it, and so on. Adler called this fictional finalism. You can understand the phrase most easily if you think about an example: Many people behave as if there were a heaven or a hell in their personal future. Of course, there may be a heaven or a hell, but most of us don’t think of this as a proven fact. That makes it a “fiction” in Vaihinger’s and Adler’s sense of the word. And finalism refers to the teleology of it: The fiction lies in the future, and yet influences our behavior today. Adler added that, at the center of each of our lifestyles, there sits one of these fictions, an important one about who we are and where we are going (Adler, 1937: 6 dalam Boeree 2006).

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa orang berperilaku baik dan buruk berdasarkan keyakinan adanya surga dan neraka dimasa depan, faktanya hal ini tidak dapat dibuktikan sekarang. Hal ini yang disebut Adler dan Vaihinger sebagai “semu atau khayalan”. Sedangkan finalisme mengacu pada keyakinan pada keberadaan teologi (tujuan akhir). Tujuan yang semu berada di masa depan, tetapi belum tentu mempengaruhi perilaku kita saat ini. Adler meletakkan “semu” ini pada pusat gaya hidup yang mempengaruhi identitas diri dan arah kita dalam hidup.

Gambaran-gambaran semu ini, misal “semua manusia diciptakan sama”, “kejujuran adalah politik yang baik”, “semua manusia diciptakan sama”, “tujuan membenarkan sarana”, memungkinkan manusia menghadapi kenyataan secara lebih efektif. Gambaran-gambaran semu itu merupakan konstruksi-konstruksi atau pengandaian-pengandaian penolong dan bukan hipotesis yang dapat diuji dan dibuktikan. Hal tersebut dapat dibuang manakala tidak lagi berguna.

Idealisme Pragmatis Adler

Fiksi tentu saja bisa menunjukkan kepalsuan (Engler, 2009), menopengi harga diri, dan memuja kemuliaan seseorang. Mungkin tidak mengherankan bahwa mode otobiografi saat ini cenderung berkembang ke dalam ranah narasi “fiksi” di mana diri dibahas dalam sudut pandang orang kedua atau ketiga, “Anda,” “kau,” “dia” atau “ia” dengan menguarkan aura kebenaran dan konsekuensi historis bagi narator, sebagaimana terlihat dalam otobiografi terbaru Paul Auster (2012) dan Salman Rushdie (2012). Pemujaan diri terasa dalam contoh di atas. Banyak contoh dari genre ini tidak dapat menyingkirkan pemikiran bahwa otobiografi itu sendiri mungkin merupakan penghiburan, semacam berkabung untuk diri sendiri. Lebih-kurang otobiografi “fiktif” mungkin juga merupakan usaha untuk mengendalikan bagaimana kita dipersepsi oleh orang lain.

Gagasan fiktif, singkatnya, dapat digunakan untuk mendorong klaim delusional dalam sejarah seseorang dan bahkan sekumpulan orang. Namun, dalam kasus Adler – seperti halnya Kant, Vaihinger dan Nietzsche – fiksi tidak berarti bahwa kita menciptakan dunia secara tunggal, akan tetapi kita menetapkan batasan untuk peran kita di dalamnya melalui instrumen pengetahuan, bentuk sensibilitas dan struktur logis yang sebagiannya merupakan kita (Kant, 1787/1998). Tidak peduli seberapa ambisius atau inspiratif tujuan yang diformulasikan, dalam merumuskannya, seseorang mengorbankan imian-impian mudanya tentang “kemungkinan tak terbatas” yang mempersempit fokus tujuannya.

Individu memiliki peran penting dalam hubungannya dengan dunianya namun tidak mahakuasa dalam hal pengetahuan atau aplikasi praktis. Inilah yang membedakan idealisme pragmatis Adler dari idealisme dogmatis, sebuah pandangan luas yang menurutnya manusia secara efektif mewujudkan dunianya. Sering kali terdengar klien mengeluh bahwa mereka telah membawa kesengsaraan pada diri mereka sendiri dengan berpikiran negatif dan bahwa mereka ingin dibantu untuk “mewujudkan” hal-hal yang lebih baik, baik itu pasangan yang peduli atau pekerjaan yang memuaskan. Dalam bukunya Smile or Die, Barbara Ehrenreich (2009) dengan penuh humor mencela industri multi-miliar dolar yang membuat orang berpikir bahwa ketika terjadi bencana, baik melalui pemborosan atau kanker, penyebabnya harus dicari dalam kebiasaan berpikir negatif orang tersebut. Ini akan menjadi kesalahan besar untuk mengkorelasikan terapi Adlerian dengan omong kosong yang sama, tidak peduli betapa pentingnya hal tersebut terhadap tradisi idealisme dogmatis.

Kesalahan yang sangat diperlukan

Sikap Adler juga berbeda dengan interpretasi mekanis Freud tentang prinsip kausalitas (Engler, 2009: 87) dan ketergantungan Freudian pada masa lalu dan juga pada sikap filosofis materialisme dogmatis. Apa yang mengejutkan pembaca (dalam Anbacher & Ansbacher, 1964) adalah argumen Adler: “Memang saya yakin bahwa asumsi yang paling keliru adalah yang paling penting bagi kita, tanpa memberikan validitas fiksi logis, tanpa mengukur kenyataan oleh dunia yang diciptakan tanpa syarat, orang yang identik dengan diri sendiri tidak dapat hidup”.

Dua hal mencolok dalam bagian di atas: a) Penekanan Adler pada yang tanpa syarat, yang mengacua pada Kant. Dalam memeriksa perbedaan antara kognisi teoritis dan praktis, Kant (1787/1998) membahas penggunaan kognisi praktis yang diarahkan pada tujuan tanpa syarat. Bagi Kant kognisi teoretis akhirnya condong ke arah praktik dan penerapan tindakan, tanpa syarat hanya dalam kasus etika, yang menunjukkan bahwa alasan spekulatif condong ke etika – moralitas dan lebih umum lagi perbuatan. Implikasi lainnya di sini adalah hubungan potensial dengan perkembangan terakhir dalam pemikiran kontemporer, terutama praktik “non-filsafat” yang diajukan oleh François Laruelle (Laruelle, 2010; Mullarkey & Smith, 2012) yang, walaupun bermasalah dan kontradiktif dalam formulasinya (McGettigan, 2012), dengan sungguh-sungguh menganjurkan penggunaan konsep filosofis bukan sebagai “representasi” melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari kenyataan. b) Oksimoron Adler yang terlihat membandingkan “asumsi paling keliru” manusia terhadap “yang paling penting baginya,” sejalan dengan pemikiran Kant (1787/1998) bahwa apa yang membimbing rasa ingin tahu rasional kita juga merupakan tempat kesalahan. Bagi Kant, alasan itu sendiri adalah jenis kesalahan yang unik, terkait dengan metafisika dan apa yang sering ia sering sebut sebagai “ilusi transendental.” Alasan itu sendiri adalah kesalahan yang berguna, memungkinkan laju kreatif manusia ke dalam penemuan ilmiah, kunjungan ke tempat-tempat suci dan duniawi, serta kumpulan tujuan imajinatif yang mengatur organisme bergerak menuju kehidupan yang berarti, memberi, dan integrasi yang lebih besar.

Unsur fiktif dalam psikologi dan filsafat Adler mudah diabaikan dalam masa kini yang sangat literal. Teleologi literal selalu menjadi proposisi yang berisiko. Dalam politik, ia sering memupuk ideologi tirani, sesuatu yang Adler ketahui dengan sangat baik, karena bukan hanya dia adalah satu dari sedikit praktisi progresif sosial sejati di dalam lingkungan borjuis Freud, namun secara tragis ia kehilangan seorang anak perempuan di Uni Soviet di mana kebrutalan teleologi literal beraksi.

Dengan metafora, simbol dan simile yang disandingkan secara terburu-buru dengan perburuan manusia yang haus akan bukti, tampak sedikit ruang yang tersisa bagi argumen yang bernuansa psikologi dan psikoterapi, apalagi untuk bergulat dengan gagasan yang canggih seperti telefologi fiksi Adler. Tiap dekade mungkin memahami Adler secara berbeda. Demikian pula, warisan Adler yang meresap sejauh ini telah berkembang lebih dalam kaitannya dengan unsur-unsur literal dan pragmatik psikologi individu daripada elemen-elemen yang kurang terukur namun penting dari sudut pandang filosofis dan psikologisnya. Akibatnya, perubahan secara signifikan lebih lambat dalam “profesi membantu” daripada sebagian besar bidang usaha manusia lainnya, yang sebagian disebabkan oleh campur tangan konstan negara dan pemerintah yang menyalahartikan terapi sebagai cara menormalkan individu ketimbang melihatnya sebagai jalur potensial menuju emansipasi.

Hasrat dan Masa Depan

Hasrat adalah kunci dalam perumusan tujuan fiksi dan terkait langsung dengan sikap pragmatis Adler. Menurut Kant, (dalam Ferraris, 2011: 94) “bidang yang menghasrati” adalah dasar fundamental dari tindakan manusia di dunia, mengingat bahwa hanya melalui praksis “manusia mengenalkan sesuatu yang secara radikal baru ke dalam dunia tanpa membatasi diri terhadap kontemplasi dunia.” Seperti motivasi, hasrat adalah konsep yang sangat penting, sangat terbengkalai dalam dekade perubahan kognitif, yang menghasilkan pembacaan emosi kognitif, yaitu kecenderungan untuk memahaminya sebagai hasil kepercayaan daripada keinginan. Perkembangan ini dimulai dengan perpindahan “dari teori emosi berbasis afeksi atau perasaan ke arah teori yang menekankan intensionalitas atau keterarahan emosi. Entah bagaimana dalam prosesnya, ‘ keterarahan’ menjadi berasimilasi dengan ‘kognitif’ dan intensionalitas hasrat terpingirkan atau tidak dikenali” (Marks, 1986: 3)

Fiksi Masa Depan dan Masa Lalu

Finalisme fiksi Adler berorientasi pada masa depan daripada pada masa lalu (tipikal perspektif Freudian). Unsur paling inovatifnya adalah pemahaman waktu yang tidak literal. Jika tujuan masa depan kita fiktif, maka begitu juga interpretasi kita terhadap masa lalu, melalui ingatan imajinatif. Jika masa depan kita “fiktif”, begitulah masa lalu kita. Bagi beberapa filsafat kontemporer, pengalaman waktu “secara struktural mirip dengan pengalaman hasrat” (Reynolds, 2004). Dalam dimensi waktu yang ditimbulkan oleh memori, “kita melanggar kemurnian masa lalu yang absolut dan gagal memahaminya dalam perbedaan dan singularitasnya.” Dalam kritiknya terhadap Freud, Deleuze (1994: 85), mengatakan bahwa, “tiap kenang-kenangan, entah tentang kota atau wanita, bersifat erotis.” Erotisme bagi Adler (dalam Ansbacher & Ansbacher, 1964:57) terkait dengan “sistem saraf pusat… sehingga membuat semua fungsi perifer, termasuk seks, tunduk pada satu fungsi utama.” Konsekuensi dari pandangan menyeluruh tentang organisme manusia ini adalah bahwa persepsi kita tentang waktu pun terpengaruh. Waktu, bagi Kant (1787/1998), adalah mediasi dalam pikiran – konstruksi manusia, kondisi penting yang diciptakan oleh kebutuhan kompensasi mendasar kita. Perspektif yang lebih kontemporer: waktu linier itu sendiri merupakan konstruk. Dengan kata lain, kita tidak bisa mengandalkan kesahihan ingatan kita terhadap masa lalu. Sebagai sama-sama fiksi, tujuan di masa depan lebih bisa dianalisis ketimbang ingatan terhadap masa lalu. Di sinilah kelebihan teori Adler dalam ranah psikologi dan psikoterapi ketimbang teori psikoanalisis para pendahulunya.

Adler (1997: 3) menyatakan bahwa tiap pikiran membentuk sebuah konsep dari tujuan atau cita-cita, artinya untuk mendapatkan diluar bagian masa kini dan untuk menanggulangi defisiensi masa kini atau kesulitan menformulasikan tujuan pokok untuk masa depan. Artinya maksud atau tujuan pokok ini, individu dapat berfikir dan merasakan superioritasnya untuk memperlihatkan kesulitan-kesulitan karena mereka memiliki kesuksesan masa depan dalam pikirannya. Tanpa hasrat dari sebuah tujuan ini, aktivitas individu akan kehilangan arti.

Each mind forms a conception of a goal or ideal, a means to get beyond the present state and to overcome present deficiencies or difficulties by formulating a particular aim for the future. By means of this particular aim or goal, individuals can think and feel themselves superior to present difficulties because they have future success in mind. Without this sense of a goal, individual activity would be meaningless (Adler, 1997: 3).

Tujuan-tujuan ini tidak ada di masa depan sebagai bagian dari rancangan teologis melainkan hadir secara subjektif atau secara mental di sini dan kini dalam bentuk perjuangan-perjuangan secara cita-cita yang mempengaruhi tingkah laku sekarang. Misal, apabila orang percaya bahwa ada surga bagi orang-orang saleh dan neraka bagi orang-orang pendosa, maka bisa diandaikan bahwa kepercayaan ini akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Bagi Adler, tujuan-tujuan semu ini merupakan penyebab peristiwa-peristiwa psikologis. Seperti Jung, Adler mengidentifikasinkan teori Freud dengan prinsip kausalitas dan teorinya sendiri dengan prinsip finalisme.

Memiliki sebuah tujuan seperti bercita-cita menjadi “Tuhan”. Tapi menjadi “Tuhan” tentunya bukan suatu tujuan akhir, dan pendidik seharusnya mencoba memperingatkan untuk mendidik diri mereka dan anak-anaknya untuk menjadi seperti “Tuhan”. Anak-anak meniru suatu hal yang lebih kongkrit dalam segera menetapkan tujuannya dan melihat pada seseorang yang paling kuat disekitar mereka untuk menjadikannya model dalam perwujudan tujuan mereka. Hal tersebut didapat dari ayah, ibu, ataupun orang lain.

Psikologi individual secara mutlak mempertahankan finalisme sebagai sesuatu yang sangat penting untuk memahami semua gejala psikologis. Penyebab, kekuatan, insting, impuls, dan sebagainya tidak dapat berfungsi sebagai prinsip yang dapat memberikan penjelasan. Tujuan final sendiri dapat menjelaskan tingkah laku manusia. Pengalaman-pengalaman, trauma-trauma, mekanisme-mekanisme perkembangan seksual tidak dapat memberikan penjelasan, tetapi perspektif dengan mana semua ini dilihat, cara individu melihat semua ini, yang mengarahkan seluruh kehidupan pada tujuan final, dapat menjelaskannya (Adler 1930: 400 dalam Hall and Lindzey, 1993: 244).

Tujuan final adalah hasil dari kekuatan kreatif individu; kemampuan untuk membentuk tingkah laku diri dan menciptakan kepribadian diri. Pada usia 4 atau 5 tahun, fikiran kreatif anak mencapai tingkat perkembangan yang membuat mereka mampu menentukan tujuan final, bahkan bayi sesungguhnya sudah memiliki dorongan (yang dibawa sejak lahir) untuk tumbuh, menjadi lengkap, atau sukses. Karena mereka kecil, tidak lengkap, dan lemah, mereka merasa inferior dan tanpa tenaga. Untuk mengatasi hal ini mereka menetapkan tujuan final menjadi besar, lengkap, dan kuat. Tujuan final semacam ini mengurangi penderitaan akibat perasaan inferior, dan menunjukkan arah menuju superioritas dan sukses.

Jika anak diabaikan atau dimanja, sebagian besar tujuan final mereka tetap tidak mereka sadari. Adler membuat hipotesa bahwa anak semacam itu akan mengkompensasi perasaan inferiornya dengan cara yang rumit dan tidak jelas hubungannya dengan tujuan final mereka. Misal, tujuan mencapai superioritas dari gadis yang dimanja, ternyata membuat permanen hubungan parasit dengan ibunya. Sebagai orang dewasa, gadis itu tampak tergantung dan mencela diri sendiri.

Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tujuan menjadi superior (superiority complex), merupakan lanjutan dari tingkah laku yang dibuat pada usia 4 atau 5 tahun. Anak-anak memandang ibunya besar dan kuat, dan menggantungkan diri kepada ibu, pada masa itu menjadi cara yang alami untuk mencapai superioritas. Anak yang diabaikan atau dimanja, sesudah dewasa tingkah lakunya tidak mencerminkan perjuangan menjadi superioritas, ini merupakan indikasi dari kondisi tidak sadar tujuan.

Sebaliknya, jika anak mengalami cinta dan keamanan, mereka membuat tujuan yang sebagian besar disadari dan dipahami. Anak yang secara psikologis sehat, berjuang menjadi superioritas memakai tolok ukur kesuksesan dan minat sosial. Walaupun tujuan final tidak pernah disadari secara lengkap, individu yang secara psikologis masak memahami dan berjuang mengejar tujuan itu dengan kesadaran yang tinggi.

Beberapa contoh dalam kehidupan ada beberapa hal yang dapat menjelaskan fiksional semu terutama dalam faktor keimanan. Namun, faktor keimanan Muslim membuat mereka yakin akan keberadaan hal ini setelah tibanya hari kiamat di mana surga diciptakan Allah untuk didiami oleh para Mukmin sedangkan neraka menempatkan para hamba yang mungkar dan dilaknat. Justru itu, segala tindak tanduk manusia adalah menurut tujuan yang diinginkan yaitu untuk mendiami surga Allah. Maka, jelas bahwa tingkah laku manusia dalam corak kehidupan adalah dipengaruhi oleh tujuan yang hendak dicapai. Menurut Adler, seseorang yang normal mampu membebaskan dirinya dari keterbelengguan fiksi dan manusia turut berupaya membelakangi fiksi tersebut apabila ia dirasakan sudah tidak mempunyai kepentingan.

Terdapat beberapa contoh penelitian dalam mengurai kepribadian seseorang yang dilakukan beberapa peneliti. Penelitian ini dilakukan juga pada sebuah karakter dalam novel yang bisa digunakan menjelaskan kejadian fiksional semu. Penelitian oleh Putri, dkk (2012) yang mengurai kepribadian seorang tokoh bernama Alif dalam novel Ranah 3 Warna Ahmad Fuadi. Kutipan dibawah ini juga menjelaskan bahwa Alif mempunyai harapan yang besar dalam kuliahnya. Kata Alif “ …semoga kuliahku tidak putus di tengah jalan karena ekonomi keluarga kami yang pas-pasan”. Pada kutipan di atas juga tergambar finalisme semu yaitu harapan Alif Fikri agar kuliahnya tidak putus ditengah jalan. Mengharapkan Pujian dari seseorang bisa menimbulkan rasa percaya diri yang lebih. Terlebih pujian yang diberikan oleh orang yang disukainya itu membuat Alif bahagia. Hal itu terdapat pada kutipan berikut. …lubang hidungku kembang kempis dan rasanya lapang karena mekar. Siapa menyangka, dia mengenaliku ditengah ribuan mahasiswa baru. Ah, bangganya aku.” Pada kutipan tersebut terlihat finalisme semu Alif terhadap pujian-pujian yang diberikan oleh Raisa. Ia senang sekali tahu Raisa mengenali dirinya diatar ribuan anak baru. Ia merasa hanya seperti mimpi saja. 3. Dua dorongan pokok/kompensasi Sebagai teman Alif merupakan anak yang gigi.

Konsep Dasar Teori Alfred Adler

Konstruk utama psikologi individual adalah bahwa perilaku manusia dipandang sebagai suatu kompensasi terhadap perasaan inferioritas. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang mendasar teori psikologi individual dengan psikoanalisis. Tujuan hidup dipandang untuk mengatasi felling of inferiority (FOI) menuju felling of superiority (FOS). Perasaan tidak mampu atau rasa rendah diri, berasal dari tiga sumber, yaitu kekurangan dalam organ fisik, anak yang dimanja, anak yang mendapat penolakan. Kadang-kadang rasa rendah diri ini dapat menimbulkan kompensasi yang berlebihan sehingga menyebabkan berbagai hambatan bagi individu itu sendiri.

Konsep utama dari teori psikologi individual yang benar-benar berbicara tentang diri atau self, yang mana hal itu yang menjadi pembeda tiap individu yang terlihat dari gaya hidup masing-masing individu, menyebabkan arah konseling mengacu pada pengembangan diri individu. Masalah yang paling sering dialami adalah masalah kepercayaan diri (konsep diri). Pembentukan konsep diri ini dimulai sejak usia empat dan lima tahun pertama.

Persepsi Subyektif tentang Realitas

Penganut Adler berusaha melihat dunia dari kerangka subyektif klien, suatu orientasi yang dinyatakan sebagai fenomenologis. Fenomenologis diberikan karena orientasi ini menaruh perhatian pada cara individu dimana seseorang melihat dunianya. “Realitas Subyektif” ini mencakup persepsi keyakinan dan kesimpulan individual.

Kesatuan Serta Pola Kepribadian Manusia

Premis dasar dari pendekatan Adler disebut juga Psikologi Individual. Psikologi Adler berasumsi: manusia adalah suatu makhluk sosial, kreatif, dan pengambil keputusan yang memiliki maksud terpadu. Pribadi manusia menjadi terpadu lewat tujuan hidup. Implikasi (holistik) dari kepribadian ini adalah bahwa seorang klien adalah suatu bagian integral dari sistem sosial.

Minat Sosial

Istilah ini berarti kesadaran individu akan kedudukannya sebagai bagian dari masyarakat manusia dan akan sikap seseorang dalam menangani dunia sosialnya. Didalamnya mencakup perjuangan untuk masa depan yang lebih baik. Adler menyamakan interes sosial dengan rasa identifikasi dan empati dengan orang lain. Menurut Adler pada saat interes sosial berkembang maka rasa rendah diri serta keterasingan akan hilang. Interes sosial bisa berkembang bila diajarkan, dipelajari dan digunakan. Mereka yang hidup tanpa interes sosial menjadi tidak bersemangat dan berakhir dengan keberadaannya di sisi kehidupan yang tak berguna. Manusia itu memiliki kebutuhan dasar, yakni perasaan aman, diterima, dan berguna.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Alfred Adler

Kelebihan

Adler berjuang untuk mengembangkan teorinya sendiri yang unik. Sumbangan utama Adler adalah konsep yang memberi kerangka kepribadian yang utuh, unifi, dan holistik. Penekanannya pada kreatifitas manusia cocok dengan teori yang berkembang kemudian, misal teori dari George Kelly, R.D. Liang, Carl Rogers, dan Abraham Maslow. Teori Adler menekankan pada integrasi kesadaran pikiran, motivasi sosial, tujuan masa depan, dan kebebasan individu. Adler dengan jelas menunjukkan bahwa dunia tempat seseorang tinggal merupakan dunia yang diciptakan sendiri oleh orang tersebut.

Kekurangan

Seperti Freud dan Jung, teori Adler secara empiris tidak memiliki dukungan yang berarti. Konsep-konsep dasar teorinya seperti perjuangan menjadi superiorita, kompleks inferior, dan kecenderungan pengamanan tidak disertai dengan bukti metodolgis sehingga orang lain yang mencoba mengulang apa yang dilakukan Adler akan sampai pada kesimpulan yang berbeda. Pendirian Adler yang menyatakan bahwa “tiap hal juga dapat menjadi sesuatu yang berbeda” membuat teori yang ia kemukakan menjadi sulit untuk diuji. Secara klinik, teori Adler banyak memberi manfaat, namun proporsi-proporsinya belum diformulasikan secara rinci agar bisa diuji secara ilmiah.

Aplikasi Teori Alfred Adler

Konstelasi Keluarga

Konstelasi berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Menurut Adler, kepribadian anak pertama, anak tengah, anak terakhir, dan anak tunggal berbeda, karena perlakuan yang diterima dari orang tua dan saudara-saudara berbeda.

Ketika melakukan terapi, Adler hampir selalu bertanya kepada pasien tentang konstelasi keluarga mereka, yaitu urutan kelahiran, anak sulung, menurut Adler (1931), kemungkinan besar memiliki perasaan berkuasa dan superioritas yang kuat, kecemasan tinggi, serta kecenderungan untuk overprotektif. (Ingat bahwa Freud adalah anak sulung). Anak anak sulung menempati posisi yang unik, sempat menjadi anak tunggal selama beberapa waktu dan kemudian mengalami penurunan posisi yang traumatis ketika saudara yang lebih muda lahir. Peristiwa ini secara dramatis mengubah situasi dan cara pandang anak terhadap dunia.

Jika anak sulung berumur 3 tahun atau lebih ketika adiknya lahir, mereka akan menggabungkan peristiwa ini ke dalam gaya hidup mereka sebelumnya yang telah terbentuk. Kalau mereka telah membentuk gaya hidup yang berpusat pada diri sendiri (self-centered), maka mereka kemungkinan besar akan mereasakan permusuhan dan kemarahan pada bayi yang baru lahir. Akan tetapi, jika mereka telah membentuk gaya hidup yang bisa bekerja sama, maka mereka pada akhirnya akan memakai sikap yang sama terhadap adiknya. Jika si anak sulung usianya kurang dari 3 tahun, maka permusuhan dan kemarahan mereka sebagian besar terjadi secara tidak sadar, yang membuat sikap sikap ini lebih sulit diubah di kehidupan selanjutnya.

Menurut Adler, anak kedua (seperti dirinya) memulai hidup dengan situasi yang lebih baik untuk membentuk kerjasama dan minat sosial. Sampai tingkat tertentu, kepribadian anak kedua dibentuk oleh persepsi mereka akan sikap anak sulung terhadap mereka. Jika sikap yang ditunjukkan anak sulung adalah permusuhan dan balas dendam yang berlebihan, maka anak kedua mungkin menjadi sangat kompetitif atau sangat berkecil hati. Namun, tipikal anak kedua tidak terbentuk ke kedua arah tersebut. Sebaliknya, anak kedua tumbuh dengan memiliki daya saing yang cukup serta keinginan sehat untuk mengalahkan saingannya yang lebih tua. Jika suatu keberhasilan dicapai, maka anak tersebut membentuk sikap revolusioner dan menganggap bahwa tiap otoritas bisa ditantang. Sekali lagi interpretasi anak lebih penting daripada posisi kronologis mereka.

*) saudara sekandung bisa inferior atau superior dan memperlihatkan perilaku yang berbeda kepada dunia tergantung pada urutan kelahirannya.

Anak bungsu diyakini Adler biasanya yang paling dimanja dan konsekuensinya memiliki resiko tinggi menjadi anak yang bermasalah. Mereka sering memiliki perasaan inferior yang kuat dan pula mandiri. Meski begitu, mereka memiliki beberapa kelebihan, mereka sering memiliki motivasi tinggi untuk melebihi kakak kakaknya untuk menjadi pelari tercepat, musisi terbaik, atlit yang berkemampuan tinggi, atau murid yang paling ambisius.

Anak tunggal berada dalam posisi unik dalam hal daya saing, yaitu tidak bersaing dengan saudara-saudaranya, namun terhadap ayah atau ibunya. Hidup dalam dunia orang dewasa, mereka sering membentuk rasa superioritas yang tinggi dan konsep diri yang besar. Adler (1931) menyatakan bahwa bisa saja anak tunggal kurang memiliki sifat kerjasama dan minat sosial, bersifat parasit, serta mengandalkan orang lain untuk memanjakan dan melindungi mereka. Tipikal sifat sifat positif dan negatif dari anak sulung, anak bungsu, dan anak tunggal ditunjukkan pada tabel di bawah:

 

No Posisi Anak Sifat Positif Sifat Negatif
1. Anak Sulung (anak pertama) ·      Mengasuh/melindungi orang lain

·      Organisator yang baik

·     Memiliki kecemasan tinggi

·     Memiliki perasaan berkuasa yang berlebihan

·     Permusuhan secara tidak sadar

·     Berjuang untuk mendapat pengakuan

·     Harus selalu “benar” sedangkan yang lain “salah

·     Sangat mengkritik orang lain

·     Tidak bisa bekerjasama / tidak koopertaif

2. Anak Tengah ·      Bermotivasi tinggi

·      Sangat kooperatif / dapat bekerjasama

·      Kompetitif / mempunyai daya saing yang cukup

·      Kompetitif tinggi / Daya saing sangat tinggi

·      Mudah berkecil hati

3. Anak Bungsu (anak akhir) ·      Ambisius secara realistik ·     Gaya hidup yang dimanja

·     Tergantung pada orang lain

·     Ingin unggul dalam segala hal

·     Ambisius secara tidak realistis

4. Anak Tunggal ·      Matang seacara sosial ·     Perasaan superioritas berlebian

·     Sifat kerjasama yang rendah

·     Perasaan diri / harga diri yang melambung

·     Gaya hidup yang dimanja

Teori Adler tentang kontelasi keluarga yang dikembangkan oleh Hanray:

No Posisi Situasi Keluarga Krakteristik-Karakteristik Anak
1. Anak Tunggal Kelahiran merupakan suatu keajaiban. Orang tua sebelumnya tidak memiliki pengalaman. Mungkin mendapatkan perhatian 200% dari kedua orang tua. Dapat menjadi terlalu dilindungi dan dimanjakan Ingin menjadi pusat perhatian orang dewasa. Sering sulit untuk berbagi dengan saudara kandung dan teman-teman sebaya. Lebih sering menemani orang dewasa dan menggunakan bahasa orang dewasa.
2. Anak Sulung Posisinya diturunkan oleh anak berikutnya. Harus belajar untuk berbagi. Harapan-harapan orang tua biasanya sangat tinggi. Sering diberikan tanggung jawab dan diharapkan bisa menjadi contoh. Mungkin menjadi otoriter dan keras. Merasa bahwa kekuasaan adalah haknya. Dapat bermanfaat bila didorong. Mungkin berbalik kepada ayah setelah kelahiran anak berikutnya.
3. Anak Kedua Dia memiliki seorang perintis (pembuka jalan). Selalu ada  seseorang didepan Lebih kompetitif, ingin mengambil alih posisi anak sulung. Mungkin menjadi pembentuk atau berusaha untuk mengalahkan tiap orang. Kompetisi (perlombaan) dapat memburuk menjadi persaingan.
4. Anak Tengah Anak yang disisipkan di tengah. Mungkin merasa terjepit karena tidak memiliki posisi hak istimewa dan penting. Mungkin berwatak tenang atau pandai menyesuaikan diri, bersikap tanpa segan-segan menerima atau menolak (take it or leave it attitude). Mungkin sulit menemukan tempat di keluarga atau menjadi pejuang ketidakadilan.
5. Anak Bungsu Memiliki banyak ayah dan ibu. Anak-anak yang lebih tua berusaha untuk mendidiknya. Tidak pernah posisinya diturunkan. Ingin menjadi lebih besar dari pada  yang lain-lain. Bisa memiliki rencana-rencana yang hebat tetapi tidak pernah berhasil. Dapat tetap menjadi “bayi”. Sering kali dimanjakan.
6. Anak Kembar Salah seorang diantaranya lebih kuat atau lebih aktif. Orang tua mungkin menentukan salah seorang diantaranya sebagai yang lebih tua. Dapat memiliki masalah-masalah identitas. Salah seorang yang lebih kuat diantaranya mungkin menjadi pemimpin.
7. Anak “Hantu” (“Ghost” Child) Anak yang lahir semudah kematian anak pertama mungkin memiliki seorang “hantu” di hadapannya. Ibu mungkin terlalu protektif. Anak mungkin mengeksploitasi perhatian yang berlebihan dari ibu terhadap kesejaheraannya, atau mungkin memberontak dan protes terhadap perasaan karena dirinya dibandingkan dengan suatu ingatan yang diidealkan.
8. Anak Angkat Orang tua mungkin merasa berterima kasih karena memiliki seorang anak dan memanjakannya. Anak mungkin sangat dimanjakan dan banyak menuntut. Akhirnya mungkin dia marah atau mengidealkan orang tua biologisnya.
9. Anak Lelaki Tunggal diantara Anak-anak Gadis Biasanya berada dengan para perempuan sepanjang waktu bila ayah jauh (tidak ada ditempat) Mungkin berusaha membuktikan bahwa dia adalah lelaki dalam keluarga atau menjadi orang yang bersifat perempuan.
10. Anak Gadis Tunggal diantara Anak-anak Lelaki Para saudara lelaki yang lebih tua mungkin bertindak sebagai pelindung-pelindungnya. Dapat menjadi sangat feminim, atau kelaki-lakian (tomboy) dan mengalahkan para saudaranya lelaki. Mungkin berusaha menyenangkan ayahnya.
11. Semua Anak Lelaki Bila ibu menginginkan seorang gadis, maka mereka dapat berpakaian seperti seorang anak gadis. Anak mungkin menggunakan peranan yang diberikan atau memprotesnya dengan keras.
12. Semua Anak Gadis Mungkin semua berpakaian seperti anak lelaki. Anak mungkin menggunakan peranan yang diberikan atau memprotesnya dengan keras.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Leipzig dan Johannes Gutenberg University of Mainz pada lebih dari 20 ribu responden menyatakan bahwa anak yang lebih tua memiliki tingkat IQ yang lebih tinggi.Namun demikian, tak terbukti apakah urutan kelahiran bisa mempengaruhi kestabilan emosi dan imajinasi seseorang.

Penelitian lain dengan lebih dari 377 ribu siswa di USA membuktikan, bahwa anak sulung memiliki kepribadian yang lebih jujur dan dominan. Namun, mereka kurang memiliki kehidupan sosial dan lebih rentan terkena stres.

Sementara itu, meski telah banyak penelitian yang dilakukan, tak berarti tiap kondisi individu selalu demikian. Masih banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi kepribadian dan juga kecerdasan seseorang, tak hanya dari urutan kelahiran saja.

Posisi Tidur dan Kepribadian

Hidup kejiwaan merupakan kesatuan antara aspek jiwa dan raga dan tercermin dalam keadaan terjaga maupun tidur. Dari observasi yang telah dilakukan terhadap para pasiennya Adler menarik kesimpulan bahwa ada hubungan posisi tidur seseorang dengan kepribadiannya (Masrun, 1977: 43-44).

  • Tidur terlentang, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat pemberani dan bercita-cita tinggi.
  • Tidur bergulung (mlungker),  menunjukkan sifat penakut dan lemah dalam mengambil keputusan.
  • Tidur mengeliat tidak karuan, menunjukkan yang bersangkutan memiliki sifat yang tidak teratur, ceroboh, dst.
  • Tidur dengan kaki di atas bantal, menunjukkan orang ini menyukai petualangan.
  • Tidur dilakukan dengan mudah, berarti proses penyesuaian dirinya baik.

Kompleks Inferioritas dan Neurosis

Kompleks inferioritas adalah perasaan yang berlebihan bahwa dirinya merupakan orang yang tidak mampu. Adler menyatakan bahwa gejala tersebut paling sedikit disebabkan oleh tiga hal, yaitu: a. Memiliki cacat jasmani, b. Dimanjakan, dan c. Dididik  dengan kekerasan (Masrun, 1977: 46).

Tanda-tanda bahwa seorang anak mengidap kompleks inferioritas  adalah gagap dan buang air kecil waktu tidur (ngompol). Menurut pandangan Adler, kompleks inferioritas bukan persoalan kecil, melainkan sudah tergolong neurosis atau gangguan jiwa, artinya masalah tersebut sama besarnya dengan masalah kehidupan itu sendiri. Orang yang menunjukkan dirinya penakut, pemalu, merasa tidak aman, ragu-ragu dan sebagainya adalah orang yang mengidap kompleks inferioritas (Alwisol, 2005: 162).

Perkembangan Abnormal

Adler merupakan tokoh yang menaruh perhatian pada perkembangan abnormal individu. Gagasan-gagasan Adler (Alwisol, 2005: 99-100) tentang perkembangan abnormal adalah sebagai sebagai berikut.

Minat sosial yang tidak berkembang menjadi faktor yang melatar belakangi semua jenis salah suai atau maladjusment. Di samping minat sosial yang buruk, penderita neurosis cenderung membuat tujuan yang terlalu tinggi, memakai gaya hidup yang kaku, dan hidup dalam dunianya sendiri. Tiga ciri ini mengiringi minat sosial yang buruk. Pengidap neurosis memasang tujuan yang tinggi sebagai kompensasi perasaan inferioritas yang berlebihan.

Adler menidentifikasi bahwa ada tiga faktor yang membuat individu menjadi salah suai, yaitu cacat fisik yang parah, gaya hidup yang manja, dan gaya hidup diabaikan.

  • Cacat fisik yang parah

Cacat fisik yang parah, apakah dibawa sejak lahir atau akibat kecelakaan, dan penyakit, tidak cukup untuk membuat salah suai. Bila cacat tersebut diikuti dengan perasaan inferior yang berlebihan maka terjadilah gejala salah suai.

  • Gaya hidup manja

Gaya hidup manja menjadi sumber utama penyebab sebagian neurosis. Anak yang dimanja mempunyai minat sosial yang kecil dan tingkat aktivitas yang rendah. Ia menikmati pemanjaan dan berusaha agar tetap dimanja, dan mengembangkan hubungan parasit dengan ibunya ke orang lain. Ia berharap orang lain memperhatikan dirinya, melindunginya, dan memuaskan semua keinginannya yang mementingkan diri sendiri. Gaya hidup manja seseorang mudah dikenali dengan ciri-ciri: sangat mudah putus asa, selalu ragu, sangat sensitif, tidak sabaran, dan emosional.

  • Gaya hidup diabaikan

Anak yang merasa tidak dicintai dan tidak dikehendaki, akan mengembangkan gaya hidup diabaikan. Diabaikan, menurut Adler, merupakan konsep yang relatif, tidak ada orang yang merasa mutlak diabaikan. Ciri-ciri anak yang diabaikan mempunyai banyak persamaan dengan anak yang dimanjakan, tetapi pada umumnya anak yang diabaikan lebih dicurigai dan berbahaya bagi orang lain.

Kecenderungan Pengamanan

Pandangan Adler tentang  neurosis juga dikemukaan berkenaan dengan kecenderungan pengamanan (Alwisol, 2005: 101-102). Semua penderita neurosis berusaha menciptakan pengamanan terhadap harga dirinya.

  • Perbedaan kecenderungan pengamanan dengan mekanisme pertahanan diri.

Konsep kecenderungan pengamanan dari Adler mirip dengan konsep mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh Freud. Keduanya merupakan gejala-gejala yang terbentuk sebagai proteksi terhadap self atau ego. Namun ada beberapa perbedaan antara keduanya.

  • Mekanisme pertahanan  melindungi ego dari kecemasan instinktif, sedang kecenderungan pengamanan melindungi self dari tuntutan luar.
  • Mekanisme pertahanan ego merupakan gejala umum yang dapat dialami oleh tiap individu, sedangkan kecenderungan pengamanan merupakan salah satu gejala neurosis, walaupun mungkin saja tiap individu, normal atau abnormal, memakai kecenderungan itu untuk mempertahankan harga diri.
  • Mekanisme pertahanan ego beroperasi pada tingkat tak sadar, sedangkan kecenderungan pengamanan bekerja pada tingkat sadar dan tidak sadar.
  • Bentuk-bentuk kecenderungan pengaman

Psikologi individual menganalisis bahwa penderita neurosis takut tujuan menjadi personal yang dikejarnya terungkap sebagai kesalahan dan selanjutnya diikuti dengan hilangnya penghargaan dari masyarakat. Untuk mengkompensasi khayalan ini, individu membangunan kecenderungan pengamanan, yang bentuknya dapat berupa sesalan, agresi, dan menarik diri (Alwisol, 2005: 102-103).

  • Sesalan

Sesalan “Ya, tetapi“ (yes, but), dipakai untuk mengurangi bahaya harga diri yang jatuh karena melakukan hal yang berbeda dengan orang lain.

Sesalan “Sesungguhnya, kalau“ (if, only) dipakai untuk melingdungi perasaan lemah dari harga diri, dan menipu orang lain untuk percaya bahwa mereka sesungguhnya lebih superior dari kenyataan yang ada sekarang.

  • Agresi

Penderita neurosis memakai agresi untuk pengamanan kompleks superior yang berlebihan, melindungi harga diri yang rentan. Adler membedakan agresi menjadi tiga macam, yaitu depreciation, accusation, dan self-accusation.

  1. Depreciation (merendahkan), adalah kecenderungan menilai rendah prestasi orang lain dan menilai tinggi prestasi diri sendiri.
  2. Accusation (menuduh), adalah kecenderungan menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dilakukannya sendiri, dan kecenderungan untuk mencari pembalasan dendam, sehingga mengamankan kelemahan harga dirinya.
  3. Self-accusation (menuduh diri sendiri),  ditandai dengan usaha untuk menyiksa diri sendiri dan perasaan berdosa.
  • Menarik diri (withdrawl)

Withdrawl adalah kecenderungan untuk malarikan diri dari kesulitan berupa tindakan manarik diri dari aktivitas dan lingkungan sosial. Ada 4 jenis withdrawl, yaitu: moving backward, satnding-still, hesitating, dan constructing obstacle.

  1. Moving backward (mundur),  adalah gejala yang mirip dengan regresi yang dikemukakan Freud, yaitu kembali ketahap perkembangan sebelumnya.
  2. Standing-still (diam di tempat), mirip dengan konsep Freud, fiksasi.  Untuk menghindari kecemasan akibat kegagalan, individu mengambil keputusan tidak melakukan tindakan tertentu.
  3. Hesitating (ragu-ragu), berhubungan erat dengan diam ditempat. Ada orang yang bimbang ketika menghadapi masalah yang dianggap sulit. Mengulur waktu dijadikan cara untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
  4. Constructing obstacle (membangun penghalang), merupakan bentuk menarik diri yang ringan, mirip dengan sesalan ”if, only”. Dalam menghadapi persoalan individu menciptakan khayalan tentang suatu penghalang dan keberhasilan dalam mengatasi persolan tersebut.

Psikologi Individual sebagai Teknik Terapi

Sebagai seorang psikiater,  Adler sehari-harinya tidak terlepas dari urusan psikopatologi. Dia berpendapat bahwa psikopatologi merupakan akibat dari kurangnya keberanian, perasaan inferior yang berlebihan, dan minat sosial yang kurang berkembang (Alwisoal, 2005: 106). Pandangan tersebut dijadikan landasan dalam melakukan psikoterapi. Adapun ciri-ciri psikoterapi Adler adalah sebagai berikut (Alwisol, 2005: 106-109; Boeree, 2005: 171-172).

Prinsip Psikoterapi

Prinsip yang dipegang Adler dalam melakukan psikoterapi adalah sebagai berikut:

  • Terapis hendaknya tidak bersikap otoriter terhadap pasiennya.
  • Terapis hendaknya secara perlahan-lahan membawa pasiennya ke arah pemahaman akan gaya hidup pasien yang sebenarnya dan hal ini dilakukan bukan dengan paksaan.
  • Terapis harus memberikan dorongan kepada pasien akan kesadaran sosial dan memberi kekuatan padanya untuk menjalani kehidupan sosial.

Tujuan Psikoterapi

Tujuan utama psikoterapi Adler adalah meningkatkan keberanian, mengurangi perasaan inferior, dan mendorong berkembangnya minat sosial pasien. Adler menyadari bahwa tugas ini tidak mudah karena pasien atau klien berjuang untuk mempertahankan keadaannya sekarang, yang dipandangnya menyenangkan.

Teknik-teknik Terapi

Seperti halnya Freud dan Jung, dalam melakukan psikoterapi, Adler juga menggali masa lalu dan melakukan analisis terhadap mimpi pasien untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang kepribadian pasien (Alwisol, 2005: 108-109).

  • Menggali masa lalu / Ingatan-ingatan Awal (early recollection)

Adler berpendapat bahwa ingatan masa lalu seseorang selalu konsisten dengan gaya hidupnya sekarang, dan pandangan subjektif yang bersangkutan terhadap pengalaman masa lalunya menjadi petunjuk untuk memahami tujuan final dan gaya hidupnya. Oleh karena itu Adler berusaha mengungkap faktor penyebab gangguan jiwa dengan mempelajari masa lalu pasien terutama pada kanak-kanak.

Untuk memperoleh pemahaman terhadap kepribadian pasien Adler akan meminta mereka untuk mengungkapkan ingatan masa kecil / ingatan awal (early recolection) mereka. Walaupun Adler berpendapat bahwa ingatan yang diungkap kembali akan memberikan petunjuk untuk memahami gaya hidup pasien, ia tidak menganggap bahwa ingatan-ingatan ini mempunyai dampak kausal. Apakah pengalaman yang diungkap kembali berhubungan dengan realitas objektif atau hayalan, itu tidak penting. Seseorang merekonstruksi peristiwa peristiwa untuk membuat dirinya konsisten dengan tema atau pola yang berlangsung dalam kehidupannya.

Adler (1929/1969, 1931) menegaskan bahwa ingatan masa kecil selalu konsisten dengan gaya hidup seseorang saat ini, dan laporan subjektif mereka akan pengalaman-pengalaman ini menghasilkan pemahaman tentang tujuan akhir dan gaya hidup mereka saat ini. Salah satu ingatan masa kecil Adler adalah perbedaan menyolok antara kesehatan yang baik yang dimiliki kakaknya, sigmund dan keadaan sakit sakitan yang dialami Adler. Ketika dewasa, Adler menceritakan bahwa

“…Salah satu ingatan masa kecilnya adalah ketika duduk di pantai… penuh balutan karena penyakit rakhitis, dan kakakku yang sehat duduk di depanku. Ia bisa berlari, melompat, dan bergerak kesana kemari dengan mudahnya, sedangkan untukku bergerak sedikit saja harus bersusah payah… semua orang berusaha menolongku” (Bottome,1927, hlm. 30).

Jika asumsi Adler bahwa ingatan masa kecil merupakan indikator yang valid untuk tahu gaya hidup seseorang, maka cerita ini bisa menghasilkan petunjuk tentang gaya hidup Adler ketika dewasa. Pertama, cerita ini memberitahu kita bahwa Adler pasti memandang dirinya sebagai seorang yang lemah, bersaing dengan gagah berani melawan musuh yang kuat. Akan tetapi ingatan masa kecil ini bisa menunjukkan bahwa ia mendapatkan pertolongan dari orang lain. Menerima pertolongan dari orang lain akan memberikan Adler rasa percaya diri untuk bersaing menghadapi saingan yang kuat. Rasa percaya diri ini digabung dengan rasa kompetitif akan terbawa pada hubungannya dengan sigmund Freud, sehingga membuat hubungan diantara keduanya lemah sejak awal.

Adler (1929/1964) memberikan contoh lain tentang hubungan antara ingatan masa kecil dengan gaya hidup. Selama terapi, seorang pria yang tampak berhasil dan sangat tidak mempercayai wanita menceritakan ingatan masa kecilnya: “saya sedang pergi bersama ibu dan adik saya ke pasar. Tiba-tiba hujan turun dan ibu menggendong saya, dan kemudian, teringat kalau saya anak yang lebih besar. Sehingga ia menurunkan saya dan menggendong adik saya. (hlm. 123). Adler melihat bahwa ingatan ini berhubungan langsung dengan rasa tidak percaya terhadap wanita yang dialami pria tersebut. Awalnya ia adalah anak istimewa, pada akhirnya posisi tersebut menjadi milik adiknya. Walaupun orang lain mungkin menyatakan bahwa mereka mencintai pria tersebut, mereka dengan segera akah menarik cinta mereka. Perhatikan bahwa Adler tidak percaya bahwa pengalaman masa kecil menyebabkan pria tersebut memiliki ketidakpercayaan kepada wanita, tetapi lebih melihat bahwa gaya hidupnya yang penuh ketidakpercayaan membentuk dan mewarnai ingatan masa kecilnya.

Adler yakin bahwa pasien pasien yang memiliki kecemasan tinggi akan sering memproyeksikan gaya hidup yang dijalaninya ke dalam ingatan akan pengalaman masa kecil mereka dengan mengungkapkan kembali peristiwa peristiwa yang menyebabkan timbulnya rasa takut, seperti mengalami kecelakaan, kehilangan orang tua, pengalaman diganggu oleh anak anak lain. Sebaliknya, orang orang yang percaya diri cenderung mengungkapkan ingatan yang melibatkan hubungan yang menyenangkan dengan orang lain. Dalam tiap kasus tersebut, pengalaman masa kecil tidak menentukan gaya hidup seseorang. Adler yakin bahwa yang sebaliknyalah yang terjadi, yaitu ingatan akan pengalaman masa kecil sesungguhnya dibentuk oleh gaya hidup yang dijalani seseorang.

  • Analisis mimpi

Menurut Adler, gaya hidup seseorang juga terekspresikan dalam mimpi. Adler menolak pandangan Freud bahwa mimpi adalah ekpresi keinginan masa kecil. Menurut Adler, mimpi bukan pemuas keinginan yang tidak diterima ego, tetapi merupakan bagian dari usaha si pemimpi untuk memecahkan masalah yang tidak disenangi atau masalah yang tidak dikuasainya ketika sadar.

Mimpi, menurut Adler, adalah usaha dari ketidak sadaran untuk menciptakan suasana hati atau keadaan emosional sesudah bangun nanti, yang bisa memaksa si pemimpi melakukan kegiatan yang semula tidak dikerjakan (Alwisol, 2005: 109).

Walaupun mimpi tidak bisa meramalkan masa depan, mimpi bisa memberiikan petunjuk untuk mengatasi masalah di masa depan. Namun demikian, orang yang bermimpi tidak ingin mengatasi masalahnya dengan cara yang produktif. Adler (1956) melaporkan mimpi seorang pria berusia 35 tahun yang sedang mempertimbangkan untuk menikah. Dalam mimpinya, pria tersebut “menyeberangi perbatasan antara austria dan hungaria, dan mereka ingin memenjarakan saya” (hlm. 361). Adler menginterpretasikan mimpi ini bahwa si pemimpi ingin berdiam diri karena ia akan kalah bila terus maju. Dengan kata lain, pria tersebut ingin membatasi aktivitasnya dan tidak punya keinginan kuat untuk mengubah statusnya. Ia tidak ingin “dipenjarakan” oleh perkawinan. Tiap interpretasi akan hal ini atau mimpi yang lain seharusnya bersifat sementara dan terbuka untuk diinterpretasi ulang. Adler (1956) menyatakan peraturan emas tentang psikologi individual dalam mempelajari mimpi, yaitu “segalanya bisa berbeda” (hlm. 363).  Jika satu interpretasi tidak terasa tepat, maka cobalah interpretasi yang lain.

Segera sebelum perjalanan Adler yang pertama ke Amerika Serikat pada tahun 1926, ia mendapat mimpi yang jelas sehingga membuatnya gelisah, dan mimpi ini berhubungan langsung dengan hasratnya untuk mengembangkan psikologi individual ke dunia baru dan membebaskan dirinya dari belenggu Freud dan Wina. Malam sebelum ia beragkat ke Amerika, Adler bermimpi bahwa ia diatas kapal ketika ;

Tiba tiba kapal itu terbalik dan tenggelam. Semua harta benda Adler ada di dalamnya dan dihancurkan oleh ombak yang mengamuk. Terlempar ke dalam samudera, Adler berenang untuk menyelamatkan nyawanya. Sendirian dia menggelepar dalam air yang menggelombang. Akan tetapi melalui kekuatan, kemauan, dan bulatnya tekad, ia mencapai daratan dengan selamat. (Hoffman, 1994, hlm. 15,151).

Adler menginterpretasikan mimpinya bahwa ia harus mengerahkan keberanian untuk pergi ke dunia baru dan melepaskan diri dari dunia yang lama.

Walaupun Adler percaya bahwa ia bisa dengan mudah menginterpretasikan mimpinya, ia menyatakan bahwa kebanyakan mimpi itu bersifat menipu dan tidak mudah dioahami oleh si pemimpi. Mimpi itu tersamar untuk mengecoh si pemimpi, membuatnya sulit untuk menginterpretasikan sendiri arti mimpi tersebut. Semakin tidak kondsisten tujuan seseorang dengan realitas, semakin besar kemungkinan mimpi orang tersebut digunakan untuk mengecoh diri. Contohnya, seorang pria ingin meraih tujuan menjadi terkenal, berada di posisi atas, atau menjadi figur militer yang penting. Jika pria ini juga memiliki gaya hidup yang bergantung pada orang lain, maka tujuannya yang ambisius mungkin akan diekspresikan dalam mimpi dimana ia sedang diangkat di atas bahu orang lain atau sedang ditembakkan dari sebuah meriam. Mimpi membuka selubung tentang gaya hidup seseorang, tetapi mimpi mengecoh si pemimpi dengan menyajikan suatu pencapaian dan kekuasaan yang tidak realistis dan berlebihan. Sebaliknya, seorang yang mempunyai keberanian dan kemandirian dengan ambisi yang sama besarnya seperti pria tadi mungkin akan bermimpi sedang terbang sendiri atau mecapai tujuan tanpa banyak bantuan, sama seperti yang Adler alami ketika ia bermimpi selamat dari kapal yang tenggelam.

DAFTAR PUSTAKA

  • http://hamdimuhamad.blogspot.co.id/2015/09/teori-kepribadian-alfred-adler.html
  • Suryabrata, Sumadi. 1983. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press
  • Olson, Matthew H., Hergenhahn, B.R.. 2013. Pengatar Teori-teori Kepribadian Edisi Kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Feist & Feist. (2013). Teori Kepribadian. Jakarta:Salemba Humanika.
  • Hill, Calvin & Gardner Lindzey. (1993). TEORI-TEORI PSIKODINAMIKA (KLINIS). Yogyakarta:Kanisius
  • Hall, C.,Lindzey, G. 1985. Personality Theories. NewYork: Jhon Wiley Sons
  • Pervin,Cervone and  John. 2005 9th edition. Personality Theory and Research. America: John Wiley and Sons.
  • http://jabar.tribunnews.com/2017/06/16/urutan-kelahiran-anak-pengaruhi-tingkat-kecerdasan-benarkah-demikian?page=3
  • The Individual Psychology of Alfred Adler: A systematic presentation in selections from his writings. (H. L. and R. R. Ansbacher, Eds.). © 1964, Harper & Row, Publishers, Inc. Used by permission of Perseus Books Group.
  • Anonim. 2008. The Neopsychoanalytic Approach: Chapter 3 Alfred Adlers. 06257_04_ch3_p129-157.indd
  • Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Vol. 1 No. 1 September 2012; Seri B 87 – 326
  • AmarSuteja, Teori Psikoanalisis oleh Alfred Adler, http://amarsuteja.blogspot.co.id/2012/12/teori-psikoanalisis-oleh-alfred-adler.html
  • Ansbacher, H.L. & Ansbacher, R.R. (1964). The Individual Psychology of Alfred Adler. New York, NY: Harper & Row.
  • Auster, P. (2012) Winter Journal. Toronto, ON: McClelland & Stewart.
  • Deleuze, G. (1994). Difference and Repetition. New York: Columbia University Press.
  • Ehrenreich, B. (2009) Smile or Die: How Positive Thinking Fooled America and the World. London: Granta.
  • Engler, B. (2009). Personality Theories: An Introduction. Boston, MA: Houghton Mifflin.
  • https://jamesmustafa.wordpress.com/2008/03/12/ing-han-pengabdian-seorang-tunanetra/