Psikologi Analitis (Carl Jung)

You are here:
< Back

Psikologi analitis (psikologi analitik), juga disebut psikologi Jung, adalah sekolah psikoterapi yang berasal dari ide-ide Carl Jung, yang menekankan pentingnya jiwa individu dan pencarian pribadi untuk keutuhan.

Psikologi analitis berbeda dari psikoanalisis, yang merupakan sistem psikoterapi yang diciptakan oleh Sigmund Freud. Konsep penting dalam sistem Jung adalah individuasi, simbol, ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, arketipe, kompleks, persona, id, ego, dan super-ego, bayangan, anima dan animus, dan diri.

Di antara konsep sentral psikologi analitis adalah individuasi–proses psikologis seumur hidup diferensiasi diri dari elemen sadar dan bawah sadar masing-masing individu. Jung menganggap itu sebagai tugas utama pembangunan manusia. Dia menciptakan beberapa konsep psikologi terkenal, termasuk sinkronisitas, fenomena pola dasar, ketidaksadaran kolektif, kompleks psikologis, dan ekstraversi-introversi.

Struktur Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Ego

Menurut Jung, ego adalah di mana kita dalam keadaan sadar, atau hidup di alam kesadaran. Kesadaran berpusat pada berpikir, merasa, mengingat dan mencerap. Ia bertanggung jawab untuk memastikan semua fungsi kita dalam hidup sehari-hari terlaksana. Ego juga bertanggung jawab bagi rasa identitas dan rasa keberlanjutan kita tepat pada waktunya. Namun, penting untuk dicamkan, ego tidak sama dengan psikhe. Pengalaman sadar ego merepresentasikan hanya seporsi kecil kepribadian; psikhe, sebaliknya, mengacu ke semua aspek kepribadian entah yang sadar maupun bawah-sadar, aspek yang lebih substansial bagi kepribadian. Kemiripan besar konsep ego yang seperti ini memang muncul antara Jung dan Freud.

Sehingga secara konseptual dapat diambil garis besar bahwa menurut Jung, Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi-persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran sadar, Ego melahirkan perasaan identitas dan kontinuitas seseorang, dan berada pada kesadaran.

Ketidaksadaran Pribadi

Bawah-sadar pribadi terdiri atas bahan-bahan yang awalnya disadari, namun kemudian direpresi atau dilupakan, atau sejak awal memang tidak begitu jelas untuk bisa dicerap kesadaran. Bawah-sadar pribadi mengandung klus ter-kluster pikiran bermuatan emosi (dinilai tinggi), yang disebut Jung koms pleks-kompleks. Lebih spesifiknya, kompleks adalah konstelasi ide-ide yang secara pribadi mengganggu yang dikaitkan oleh nada perasaaan-umum (1973, hlm… 599). Sebuah kompleks memiliki pengaruh yang tidak proporsional bagi perilaku manusia, dalam artian tema yang di sekelilingnya kompleks diorganisasikan, muncul kembali dan kembali di hidupnya. Seseorang dengan kompleks ibu contohnya, akan menghabiskan banyak waktu untuk aktivitas… aktivitas yang entah secara langsung atau simbolis berkaitan dengan ide tentang ibu. Hal yang sama juga menimpa mereka yang mengalami kompleks ayah, seks, kuasa, uang atau jenis kompleks yang lain.

Klaim awal yang membawa lung pada ketenaran adalah teknik yang digunakannya untuk mempelajari kompleks-kompleks. Ia menggunakan tes asosiasi-kata yang sudah dikembangkan oleh Francis Galton dan Wilhelm Wundt, dan merancang ulangnya sebagai peranti untuk membongkar bawahsadar pribadi dalam rangka menemukan kompleks-kompleks. Riset inilah yang dipresentasikannya di Universitas Clark saat ia berkunjung bersama Freud ke Amerika Serikat pada 1909. Teknik lung terdiri atas membacakan ke pasien daftar 100 kata dan meminta pasien merespons -verbal atau lisan-_ secepatnya kata pertama yang terlintas di benak saat mendengar daftar kata-kata itu. Kata-kata yang digunakan seperti anak, hijau, air, menyanyi, kematian, panjang, bodoh dan lain-lain. Seberapa lama pasien merespon setiap kata diukur dengan stopwatch. Tingkat pernapasan juga diukur, begitu pula elektrokonduktivitas kulit pasien yang diukur lewat galvanometer.

Berikut ini kriteria yang digunakan lung sebagai ‘indikator kompleks’. yaitu faktor-faktor yang mengindikasikan adanya sebuah kompleks:

  1. Menampilkan waktu reaksi yang lebih lama dari rata-rata terhadap satu kata stimulus.
  2. Mengulangi kembali kata stimulus sebagai responsnya.
  3. Gagal merespons sama sekali.
  4. Munculnya reaksi-reaksi tubuh yang ekspresif seperti tertawa, naiknya tingkat pernapasan, atau meningkatnya konduktivitas kulit.
  5. Tergagap atau menjadi gugup atau kikuk.
  6. Melanjutkan respons terhadap kata stimulus sebelumnya. Bereaksi tanpa makna, contohnya kata bentukan sendiri yang ganjil.
  7. Bereaksi berlebihan dengan sebuah kata yang terdengar serupa kata stimulus, contohnya: die-lie.
  8. Merespons dengan lebih dari satu kata.
  9. Keliru membayangkan atau mendengar kata stimulus sebagai kata yang lain.

Jung menggunakan tes asosiasi-kata miliknya dengan banyak cara. Contohnya, ia menemukan jika pria merespons kata lebih cepat daripada wanita, dan orang terdidik lebih cepat daripada yang kurang terdidik. Selain itu, ia juga menemukan anggota-anggota sebuah keluarga umumnya memiliki reaksi hampir serupa dengan kata-kata stimulus. Berikut ini memperlihatkan reaksi seorang ibu dan putrinya terhadap beberapa kata stimulus (1973, hlm. 469):

Kata Stimulus Ibu Anak Perempuan
Hukum Perintah Tuhan Musa
Kentang Tabung Tabung
Orang Asing Pengembara Para Pengembara
Saudara Laki-laki Menyayangiku Sayang
Mencium Ibu Ibu
Ucapan Selamat Anak yang bahagia Anak Kecil

Jung yakin penting untuk menemukan dan menangani kompleks-kompleks karena hal-hal ini mensyaratkan pengeluaran begitu banyak energi psikis, dan karenanya menghambat pertumbuhan psikologis yang seimbang. Melalui tes asosiasi-kata ini, Jung membuktikan jika memungkinkan bagi kita untuk menyelidiki pikiran bawah-sadar secara sistematis. Prestasi ini saja sudah memberikan Jung tempat yang terkemuka di dalam sejarah psikologi.

Ketidaksadaran Kolektif

Memahami bawah-sadar kolektif, konsep Jung yang paling berani, mistis dan kontroversial, sama saja dengan memahami jantung teori Jung. Bawah Sadar kolektif mencerminkan pengalaman-pengalaman kolektif yang dimiliki manusia di masa lalu evolusinya, atau meminjam kata-kata Jung, “kumpulan pengalaman nenek moyang dari jutaan tahun lalu, gema kejadian-kejadian dunia prasejarah di mana setiap abad menambahkan sejumlah kecil variasi dan perbedaan tanpa batas” (1928, hlm.l62).

Bawah Sadar Kolektif ini merupakan gudang bekas-bekas ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang, masa lampau tidak hanya meliputi sejarah ras manusia namun juga leluhur pramunusiawi atau nenek moyang binatangnya. Ketidaksadaran kolektif hamper sepenuhnya terleps dari segala segi pribadi individu. Semua manusia memiliki keidaksadaran kolektif yang hampir sama. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan stuktur otak pada semua ras manusia dan disebabkan oleh evolusi umum.

Ketidaksadaran kolektif merupakan pondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Di atasnya dibangun aku, ketidaksadaran pribadi, dan semua hal lain yang diperoleh individu. Apa  yang dipelajari seseorang sebagai hasil dari pengalaman secara substansial dipengeruhi oleh ketidaksadaran kolektif yang melakukan peran mengarahkan atau menyeleksi tingkah laku sejak  awal kehidupan.

Ketidaksadaran memiliki kemungkinan-kemungkinan yang dipisahkan dari alam sadar, karena dengan dipisahkan itu ia mendapatkan semua materi yang bersifat subliminial yaitu semua hal yang sudah dilupakan, maupun kearifan dan pengalaman selama berabad yang tak terhitung jumlahnya tertanam dalam organ-organ arkhetipenya.

Apabila kebijaksanaan dari ketidaksadaran itu diabaikan oleh ego, maka akan mengganggu proses rasional sadar dengan menguasainya danmembelokkannya

Ke dalam bentuk yang menyimpang. Simtom-simtom, fobia, delusion, irrasionalitas lain berasal dari proses-proses ketidaksadaran yang diabaikan itu.

Bukan hanya fragmen-fragmen semua sejarah manusia dapat ditemukan di bawah-sadar kolektif ini, tetapi juga jejak-jejak moyang pra-manusia atau hewani kita bisa ditemukan di dalamnya. Karena bawah-sadar kolektif dihasilkan oleh pengalaman umum semua manusia, atau yang pernah dimiliki, isi bawah-sadar kolektif pada esensinya sama untuk semua orang. lung berkata bawah-sadar kolektif ini ”lepas dari muatan pribadi apa pun dan berlaku umum untuk semua orang karena isinya bisa ditemukan di mana-mana” (1966, hlm.66). Bagi Jung, istilah bawah-sadar kolektif dan bawah-sadar transpersonal sinonim.

Pengalaman-pengalaman moyang yang terdaftar di dalam psikhe ini disebut Jung memori-memori rasial, gambaran-gambaran primordial, atau yang lebih umum dia gunakan, arketipe. Arketipe bisa didefinisikan sebagai sifat bawaan untuk merespons aspek-aspek tertentu dunia. Sama seperti mata dan telinga telah berkembang maksimal untuk merespons aspek-aspek tertentu lingkungan, begitu pula psikhe berkembang untuk membuat individu merespons maksimal kategori-kategori tertentu pengalaman yang harus dihadapi manusia berkali-kali di banyak generasi tak terhitung. Sebuah arketipe hadir untuk setiap pengalaman yang universal, yaitu yang mesti dialami setiap anggota masing-masing generasi.

Kita bisa menggeneralisasi sendiri sedaftar arketipe dengan menjawab pertanyaan seperti: Apa yang harus dialami setiap manusia di seumur hidupnya? Jawaban Anda mungkin meliputi pengalaman lahir, mati, matahari gelap, kekuatan, wanita, pria, seks, magi, ibu, ayah, pahlawan dan rasa sakit. Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk bereaksi pada kategori pengalaman ini dan kategori pengalaman universal lainnya. Respons-respons dan ide-ide spesifik tidak diwariskan; yang diwariskan ada’ lah kecenderungan untuk merespon kate gon-kategori pengalaman umum ma’ nusia berdasarkan mitos-mitos yang dituntut secara emosional. Contohnya ketika nenek moyang kita mengalami kilatan petir atau gelegar guntur, ini menstimulasikan dalam diri mereka respons-respons emosi yang langsung mengambil bentuk mitos. Jung (1966, hlm. 1966) menjelaskan:

Salah satu pengalaman paling umum dan di waktu yang sama paling mengesankan adalah melihat gerakan matahari setiap hari. Kita tentunya tidak bisa menemukan hal ini di bawah-sadar, sejauh terkait proses fisiknya. Namun, yang kita temukan justru mitos matahari-pahlawan dengan semua variasinya yang tak terhitung. Mitos inilah, bukannya proses fisik, yang membentuk arketipe matahari. Hal yang sama juga bisa dikatakan untuk fase-fase bulan. Arketipe adalah sejenis kesiapan untuk memproduksi berkali-kali ide-ide mitos yang sama atau mirip. Bisa dikatakan, kalau begitu, apa pun yang mengesankan bawah-sadar semata-mata adalah ide-fantasi subjektif yang dibangkitkan oleh proses fisik. Artinya, kita dapat menyimpulkan jika arketipe adalah kesan berulang-ulang yang dibuat oleh reaksi-reaksi subjektif.

Manusia primitif merespons semua pengalaman emosi mereka berdasarkan mitos, dan kecenderungan terhadap pembuatan-mitos inilah yang terdaftar di bawah-sadar kolektif dan diturunkan ke generasi-generasi masa depan. Apa yang kita warisi, kalau begitu, adalah kecenderungan untuk mengalami kembali sejumlah manifestasi dari mitos-mitos primordial ini saat kita menghadapi kejadian-kejadian yang diasosiasikan dengan mitos-mitos ini lewat eon-eon. Setiap arketipe bisa dilihat sebagai kecenderungan yang diwariskan untuk merespons secara emosional dan mitologis terhadap jenisjenis pengalaman tertentu -contohnya, ketika bertemu dengan seorang anak, ibu, kekasih, mimpi buruk, kematian, kelahiran, gempa bumi atau orang asing.

Bawah-sadar kolektif adalah bagian yang paling penting dan berpengaruh dari psikhe, dan kecenderungannya yang diwariskan selalu mencari manifestasi keluar. Ketika isi dari bawah-sadar kolektif tidak diakui di dalam kesadaran, mereka bermanifestasi dalam mimpi, fantasi, gambaran-mental dan simbol. Karena segelintir saja orang yang dapat memahami sepenuhnya isi bawah-sadar kolektif, kebanyakan orang dapat memahaminya dengan mempelajari isi mimpi dan fantasi mereka. Faktanya, menurut Jung, manusia dapat mempelajari banyak hal tentang masa depan mereka dengan memori mimpi-mimpi ini karena menyimbolkan hakikat manusia yang men… dasar, yang suatu hari diharapkan bisa dipahami. Dalam pengertian ini, ba. Wah-sadar kolektif mengetahui lebih banyak dari yang diketahui seorang manusia, atau satu generasi manusia. Jung mengumpulkan informasi tentang arketipe-arketipe dari beragam sumber termasuk mimpi-mimpinya sendiri dan fantasi, suku primitif, seni, agama, sastra, bahasa dan halusinasi pasien. pasien psikotik.

Meski Jung menyebutkan banyak arketipe, namun hanya beberapa yang ditulisnya panjang lebar. Yang dimaksudkan ini adalah persona, anima, ani. mus, shadow dan self. Kita akan menguraikan di bagian berikutnya.

Arkhetipe

Arkhetipe adalah suatu bentuk pikiran (ide) universal yang mengandung unsure emosi yang besar. Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran atau visi yang dalam kehidupan normal berkaitan dengan aspek tertentu dari situasi. Asal usul arkhetipe merupakan suatu deposit permanent dalam jiwa dari suatu pengalaman yang secara konstan terulang selama banyak generasi. Misalnya banyak generasi yang telah melihat matahari terbit setiap hari. Pengalaman berulang yang mengesankan ini akhirnya tertanam dalam ketidaksadara kolektif dalam suatu bentuk arkhetipe dewa matahari, badan angkasa yang kuat, berkuasa dan pemberi cahaya.

Arkhetipe-arkhetipe tidak harus berpisah satu sama lain dalam ketidaksadaran kolektif. Mereka saling melengkapi dan berfusi. Arkhetipe pahlawan danarkhetipe laki-laki tua yang bijaksana bisa berpadu menghasilkan “kesatria” seseorang yang dihormati dan disegani karena ia seorang pemimpinberjiwa pahlawan sekaligus arif bijaksana.

Mitos, mimpi, penglihatan-penglihatan, upacara agama, simtom neurotic dan psikotik serta karya senimerupakan sumber pengetahuan paling baik tentang arkhetipe. Diasumsikan terdapat banyak arkhetipe dalam ketidaksadaran kolektif. Beberapa diantaranya yang sudah berhasil diidentifikasikan adalah arkhetipe kelahiran,kelahiran kembali, kematian, kekuasaan ,sihir, kesatuan, pahlawan, anak, Tuhan, setan, laki-laki tua yang bijaksana, ibu pertiwi, binatang.

Persona

Persona berasal dari kata Latin yang artinya topeng, dan lung menggunakan istilah ini untuk mendeskripsikan diri publik manusia. Meski semua orang memiliki bawah-sadar kolektif yang sama, setiap individu tentunya hidup di masa dan tempat tertentu. Arketipe mestinya memanifestasikan diri di dalam situasi-situasi sosial dan budaya ini. Artinya, ekspresi yang diberikan kepada arketipe dipengaruhi oleh konvensi sosial dan situasi unik hidup pribadi individu. Kalau begitu, persona merupakan manifestasi psikhe keluar yang diizinkan oleh situasi-situasi unik individu.

Persona adalah topeng yang dipakai pribadi sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan kebiasaan dan tradisi masyarakat, serta tuntutan tentang arketipenya sendiri. Ia merupakan peranan yag dibrikan masyarakat kepada seseorang yang diharapkan dimainkan dalam hidupnya. Tujuannya adalah unutk menciptakan kesan tertentu pada orang lain dan seringkali ia melupakan hakikat kepribadian sesungguhnya. Apabila ego mengidentifikasikan diri dengan persona, maka individu menjadi lebih sadar akan bagian yang dimainkannya daripada perasaanya sesungguhnya. Ia menjasi terasing dari dirinya, dan seluruh kepribadiannya menjadi rata atau berdimensidua. Ia menjadi manusia tiruan belaka, sekedar pantulan masyarakat, bukan seorang manusia otonom.

Persona adalah bagian psikhe di mana mereka dikenal orang lain. Jung memperlihatkan kalau beberapa orang menyamakan persona mereka dengan seluruh psikhe dan ini sebuah kekeliruan. Dalam artian tertentu, persona dianggap memperdaya orang lain, karena ia menghadirkan kepada mereka hanya bagian kecil psikhe seseorang, sehingga jika ada yang percaya orang itu seperti yang dia sengaja perlihatkan, mereka sedang menipu diri sendiri dan mengalami ketidakberuntungan. Jung (1966, hlm. 193-194) berkata, Konstruksi persona yang cocok secara kolektif merupakan konsesi yang kukuh bagi dunia eksternal, sebuah pengorbanan-diri sejati yang mendorong ego mengidentifikasikan diri langsung dengan persona, membuat orang lain sungguh yakin bahwa kita merupakan apa yang kita tampilkan ke dunia luar.

[Kendati demikian] identifikasi-identifikasi dengan sebuah peran sosial telah menjadi sumber neurosis yang paling efektif. Seorang manusia tidak bisa terus-menerus tampil dengan kepribadian yang dibuat-buat tanpa mendapat hukuman. Dan sesungguhnya upaya untuk berbuat demikian, di semua kasusnya, telah membangkitkan reaksi bawah-sadar dalam bentuk suasana hati buruk, afeksi buruk, fobia, ide-ide obsesif, kelicikan, kejahatan, dan lain-lain. ‘Manusia kuat’ di kehidupan sosial sering kali kanak-kanak dalam hidup pribadi terkait perasaannya; kedisiplinannya di publik (terkait tuntutannya ke orang lain) hancur berkeping-keping di hidup pribadinya. ‘Kebahagiaan di tempat kerja’ berubah total saat di rumah; moralitas publiknya yang ‘tak bercela’ terlihat aneh di balik topeng-kita tidak menyebutkan keinginan, selain hanya fantasi, dan para istri dari pria-pria ini juga memiliki kisah menarik untuk dikatakan. Sedangkan terkait altruisme nir-diri orangorang ini, anak-anak mereka harus memutuskan sendiri apa yang mereka percayai.

Jung mendeskripsikan situasi di mana persona dinilai kelewat tinggi sebagai inflasi persona. Seperti semua komponen psikhe yang lain, jika persona dinilai kelewat tinggi, ia mengorbankan komponen yang lain.

Anima

Jung mengaitkan sisi feminis kepribadian pria dan sisi maskulin kepribadian wanita dengan arkhetipe-arkhetipe. Arkhetipe feminine pada pria disebut anima, arkhetipe maskulin pada wanita disebut animus. Erkhetipe ini ditentukan oleh kelenjar-kelenjar seks dan kromosom namun juga ditentukan pengalaman dimana pria dan wanita hidup berdampingan selama berabad lamanya.

Arkhetipe-arkhetipe tidak hanya menyebabkan masing-masing jenis menunjukkan cirri-ciri lawan jenisnya tetapi mereka juga dapat tertarik pada lawan jenisnya. Pria memahami kodrat wanita berdasarkan animanya, wanita memahami kodrat pria berdasarkan animusnya.

Anima adalah komponen feminin psikhe pria yang dihasilkan oleh pengalaman-pengalaman yang dimiliki pria terhadap wanita lewat eon-eon. Arketipe ini melayani dua tujuan. Pertama, ia menyebabkan pria memiliki sifat feminin. ”Tak seorang pria pun,” kata lung ”yang maskulin seluruhnya sehingga tidak punya aspek feminin sedikit pun dalam dirinya” (1966, hlm. 189). Sifat-sifat feminin ini meliputi intuisi, kehalusan budi, sentimentalitas dan dorongan berkelompok. Kedua, ia menyediakan kerangka pemahaman bagi pria untuk menghadapi wanita. ”Sebuah gambaran kolektif yang diwariskan tentang wanita hadir di bawah-sadar pria, dan dengan bantuannya ia bisa memahami sifat wanita” (lung, 1966, hlm.190).

Karena pengalaman kolektif pria dengan wanita melibatkan interaksi dengan mereka sebagai ibu, anak perempuan, saudara perempuan, kekasih, dan mungkin dewi di langit, semua elemen ini tecermin di dalam anima, dan bersama-sama membentuk gambaran wanita yang kompleks dan ideal. Gambaran ini memotret Wanita sebagai sosok yang lemah, setia, menggoda, membahayakan dan menantang, membuat wanita dilihat sebagai sumber baik dan jahat, penuh harapan dan rasa putus asa, dan kesuksesan serta kegagalan. Di dalam kerangka ideal inilah pria membentuk interaksi mereka dengan wanita di sepanjang hidup mereka. Selain itu, menurut Jung, gambaran kompleks tent tang wanita ini telah menginspirasikan pelukisan wanita oleh para seniman, pujangga dan novelis selama berabad-abad.

Animus

Animus adalah komponen maskulin psikhe wanita. Ia melimpahi wanita dengan sifat-sifat maskulin seperti kemandirian, agresi, kompetisi dan petualangan, dan juga kerangka untuk memandu cara menjalin hubungan dengan pria. Seperti anima memberi pria gambaran ideal tentang wanita, animus memberi wanita gambaran ideal tentang pria. Ideal ini berasal dari pengalaman wanita terhadap pria lewat eon-eon seperti ayah, anak laki, saudara laki, kekasih, pejuang dan para dewa di langit. Sama seperti anima, kompleks animus dengan banyak gambarannya yang berkonflik diproyeksikan ke pria aktual di sepanjang usia wanita.

Anima menyediakan bagi pria sifat-sifat wanita, dan basis untuk memahami wanita. Sebaliknya, animus menyediakan bagi wanita sifat-sifat pria, dan basis untuk memahami pria. Akan lebih baik, menurut Jung, jika kedua gender ini mengenali dan memberikan ruang bagi sifat-sifat yang berbeda jenis kelaminnya itu mengekspresikan diri. Pria yang sedikit saja atau tidak sama sekali memberikan ruang pengekspresian karakter femininnya akan kehilangan kepekaan, perasaan, intuisi dan kreativitas. Wanita yang sedikit saja atau tidak sama sekali memberikan ruang pengekspresian karakter may kulinnya akan menjadi terlalu pasif. Selain itu, jika komponen-komponen psikhe ini tidak diberikan ruang yang adekuat bagi pengekspresian sadar; mereka akan mendesak keluar di bawah-sadar, membuat pengaruhnya tal‘ terkontrol dan irasional. Karena itulah, jika seorang wanita menolak peng’ ekspresian maskulinnya, atau pria menolak pengekspresian femininnya, sifat-sifat itu akan memanifestasikan diri dengan cara-cara tidak langsung lewat mimpi dan fantasi.

Menurut Jung, pria yang terlalu banyak mengekspresikan sisi feminin, atau wanita terlalu banyak mengekspresikan sisi maskulinnya, bukanlah hal yang baik. Tulisnya, ”Seorang wanita yang dikuasai animus selalu berisiko kehilangan sifat dasar femininnya, persona feminin yang diadaptasikannya diganti persona maskulin, sama seperti pria di situasi sama berisiko menjadi terlalu feminin” (1966, hlm.209). Seperti yang bisa ditemukan di setiap bagian teori Jung, sebuah keseimbangan harus dicari, yang di kasus ini, keseimbangan antara karakteristik pria dan wanita.

Shadow

Bayang-bayang mencerminkan sisi binatang pada kodrat manusia. Arkhetipe bayang-bayang mengakibatkan munculnya perasaan, tindakan yang tidak menyenangakan dan patutu dicela masyrakat dalam kehidupan dan tingkah laku. Selanjutnya semua ini bisa disembunyikan dari pandangan public oleh persona atau direpresikan kedalam ketidaksadaran pribadi.

Shadow adalah bagian terdalam dan tergelap psikhe. Ia merupakan bagian dari bawah-sadar kolektif yang kita warisi dari moyang pra-manusia kita dan mengandung semua insting hewani. Karena shadow, kita jadi punya kecenderungan kuat untuk menjadi tidak bermoral, agresif dan penuh hasrat.

Seperti semua arketipe pada umumnya, shadow juga mencaii pemanifestasian keluar dan diproyeksikan ke dunia secara simbolis sebagai iblis, monster atau roh jahat. Ia bahkan bisa diproyeksikan ke seseorang, seperti yang ditemukan Jung (1966, hlm. 91) ketika seorang pasiennya yang masih muda ditanyai:

“Bagaimana saya’ terlihat di mata Anda ketika saya tidak sedang bersama Anda?” Ia berkata, “Kadang Anda terlihat berbahaya, sinis, seperti penyihir jahat atau setan. Saya tidak tahu bagaimana bisa membayangkan hal demikan –sedikit pun Anda tidak seperti itu.” ‘

Bukan hanya pertanyaan di atas mendeskripsikan proyeksi shadow, tetapi juga mencontohkan pendekatan Jung kepada psikoterapi. Tujuan Jung adalah memperkenalkan kepada pasiennya berbagai komponen psikhenya, dan ketika komponen-komponennya diketahui, mensintesiskan mereka ke sebuah konfigurasi saling-berkaitan yang menghasilkan individu yang lebih dalam dan kreatif. Tidak seperti Freud, yang menganggap pikiran irasional bawah” ‘

Sadar harus dibuat sadar dan rasional jika manusia ingin beradab sesungx guhnya, Jung lebih percaya jika arketipe, shadow contohnya, diakui lalu digu_ nakan daripada ditaklukkan. Hakikat hewani shadow justru sumber sponc tanitas dan kreativitas manusia. Individu yang tidak menggunakan shadow nya, cenderung bodoh dan membosankan.

Diri

Diri adalah komponen psikhe yang berusaha mengharmoniskan semua komponen lain. Ia merepresentasikan perjuangan manusia menuju kesatuan, keseluruhan dan pengintegrasian kepribadian secara total. Ketika integrasi ini sudah tercapai, individu bisa dikatakan meraih realisasi-diri. Kita punya lebih banyak hal yang bisa dikatakan tentang diri saat mempertimbangkan ‘tujuan hidup’ yang akan dibahas nanti. Arkhetipe ini mengungkapkan diri sebagai lambang, dan lambang utamanya adalah mandala atau lingkaran magis.

Diri adalah tujuan hidup, suatu tujuanyang terus menerus diperjuangkan orang tetapi yang jarang tercapai. Ia memotivasikan tingkah laku manusia dn mencarikebulatan, khususnya melalui cara-cara yang disediakan oleh agama. Pengalaman religius sejati merupakan bentuk pengalaman yang paling dekat dengan ke diri (self-hood) yang mampu dicapai oleh kebanyakan manusia. Jung menemuka diri dalam penelitian-penelitian dan observasinya tentang agama Timur, dimana perjuangan kearah kesatuan dan persatuan dunia melalui praktik ritual keagamaan seperti Yoga yang jauh lebih maju daripada agama di kalangan Barat

Sikap-sikap

Jung melihat ada dua orientasi umum yang dapat diambil psikhe. Yang pertama ke dalam, menuju dunia subjektif individu, dan yang kedua keluar, menuju lingkungan eksternal. ]ung menyebut orientasi-orientasi psikhe ini sikap, yang pertama disebutnya introversi dan yang kedua ekstraversi. Pribadi introver cenderung tenang, imajinatif dan lebih tertarik pada ide ketimbang manusia. Pribadi ekstraver cenderung suka bersosialisasi, berjalanjalan keluar dan tertarik pada manusia dan kejadian di lingkungan.

Ekstrovert adalah kecenderungan yang mengarahkan kepribadian lebih banyak keluar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrover memiliki sifat social, lebih banyak berbuat daripada merenung dan berpikir. Ia juga adalah orang yang penuh motif-motif yang dikoordinasi oleh kejadian-kejadian eksternal.

Jung percaya bahwa perbedaan tipe kepribadian manusia dimulai seak kecil. Jung mengtakan bahwa “tanda awal dari perilaku ekstrover seorang anak adalah kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan dan perhatian yang luar biasa, yang diperankan pada objek-objek, khususnya pada efek yang diperoleh dari objek-objek itu.  Ketakutannya pada objek-objek sangat kecil. Ia hidup dan berpindah antara objek-objek itudengan penuh percaya diri. Karena itu ia bebas bermain dengan mereka dan belajar dari mereka. Ia sangat berani. Kadang ia mengarah pada sikap ekstrem sampai pada tahap risiko. Segala sesuatu yang tidak diketahuinya selalu memikat perhatiannya.

Bentuk neurotic yang sering diderita orang ekstrover adalah hysteria. Hysteria akan semakin besar dan panjang untuk menarik perhatian orang lain dan untuk menimbulkan kesan yang baik bagi orang lain. Mereka adalah orang yang suka diperhatikan, suka menganjurkan, berlebihan dipengaruhi orang lain, suka bercerita, yang kadang mengaburkan kebenaran.

Introvert adalah suatu orientasi kedalam diri sendiri. Secara singkat seorang introvert adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak social. Minat dan perhatiannya lebih terfokus pada pikiran dn pengalamannya sendiri. Seorang introvert cenderung merasa mampu dalam upaya mencukupi dirinya sendiri, sebaliknya orang ekstrover membutuhkan orang lain.

Jung menguraikan perilaku introvert sebagai orang pendiam, menjauhkan diri dari kejadian-kejadian luar, tidak mau terlibat dengan dunia objektif, tidak senang berada di tengah orang banyak, merasa kesepian dan kehilangan di tengah orang banyak. Ia melakukan sesuatu menurut caranya sendiri, menutup diri terhadap pengaruh dunia luar. Ia oran gyang tidak mudah percaya, kadang menderita perasaan rendah diri, karena itu ia gampang cemburu dan iri hati. Ia mengahadapi dunia luar dengan suatu system pertahanan diri yang sistematis dan teliti, tamak sebagai ilmuan, cermat, berhati-hati, menurut kata hati, sopan santun, dan penuh curiga.

Dalam kondisi kurang normal ia menjadi orang yang pesimis da cemas, karena dunia dan manusia sekitarnya siap menghancurkannya. Dunianya adalah suatu pelabuhan yang aman. Tempat tinggalnya (rumah) adalah yang teraman. Teman pribadinya yang terbaik. Karena itu tidak mengherankan orang-orang introvert sering tampak sebagai orang yang cinta diri tinggi, egois, bahkan menderita patologis.

Salah satu tanda introvert pada diri seorang anak  adalah reflektif, bijaksana, tenggang rasa, pemalu, bahkan takut pada objek baru. Sedangkan cirri introvert pada orang dewasa adalah kecenderungan menilai rendah hal-hal atau orang lain.

Sikap introversi dan sikap ekstraversi pertama-tama dipresentasikan di Kongres Psikoanalitik Internasional di Munich tahun 1913. Ide ini kemudian dielaborasikan dalam bukunya, Psychological Types (1971). Dari banyak cara Jung mengaplikasikan konsep ini adalah menjelaskan kenapa teorisi yang berbeda menciptakan jenis teori kepribadian yang berbeda. Contohnya, Freud seorang ekstraver karena itu mengembangkan teori yang menekankan pentingnya kejadian-kejadian eksternal, contohnya objek seks. Teori Adler (seperti akan kita lihat di Bab 4) menekankan pentingnya perasaan dalam diri subjek karena Adler seorang introver (Jung, 1966, hlm. 41-43). Jung sendiri menilai teorinya diproduksi oleh teorisi yang introver.

Sebagai tambahan bagi sikap, atau orientasi umum psikhe, ada 4 fungsi Pemikiran yaitu cara psikhe mencerap dunia dan menghadapi informasi dan pengalamannya.

Mengindra. Mendeteksi kehadiran objek. Mengindra mengindikasikan ada sesuatu namun tidak mengindikasikan apakah itu.

Berpikir. Mengatakan apakah suatu objek itu. Berpikir memberikan nama dan kategori objek yang diindra.

Merasa. Menentukan apakah objek bernilai. Berkaitan dengan rasa suka dan tidak suka terhadap objek tersebut.

Mengintuisi. Menyediakan firasat tentang sesuatu ketika informasi faktualnya tidak tersedia. Jung mengatakan, “Ketika harus menghadapi situasi yang asing di mana Anda tidak dapat menentukan nilai atau menyediakan konsep untuk memahaminya, Anda akan mengandalkan sepenuhnya pada kemampuan intuisi” (1968, hlm. 14).

Contoh-contoh untuk fungsi psikhe ini adalah: ketika mendeteksi kehadiran sebuah objek di lingkungan (mengindra), seseorang menemukan objek itu orang asing dari jenis kelamin berbeda (berpikir), mengalami ketertarikan pada individu tersebut (merasa), dan memercayai adanya kemungkinan bagi hubungan jangka panjang dengan individu tersebut (mengintuisi).

Berpikir dan merasa disebut fungsi rasional karena membuat penilaian dan evaluasi tentang pengalaman. Selain itu, berpikir dan merasa dianggap sebagai kutub yang berlawanan karena, seperti yang dikatakan ]ung, “Ketika Anda berpikir, Anda harus mengabaikan perasaan, sama seperti ketika Anda merasa harus mengabaikan pikiran” (1968, hlm.16).

Begitu pula dengan mengindra dan mengintuisi, fungsi irasional psikhe, merupakan dua kutub yang berlawanan. Mengindra dan mengintuisi dianggap rasional karena keduanya muncul terlepas dari proses-proses berpikir yang logis. Mengindra mun: cul otomatis karena melibatkan mekanisme indra tubuh, sedangkan mengintuisi melibatkan prediksi yang dibuat tanpa hadirnya informasi aktual. Idealnya, sikap dan fungsi akan berkembang setara dan beroperasi Secara harmonis; namun ini jarang terjadi. Biasanya, satu sikap dan satu fungsi saja yang dominan, sedangkan sikap yang lain dan 3 fungsi sisanya tetap tidak berkembang dan berada di bawah-sadar. Terkait fungsi, yang beropox sisi langsung dengan fungsi dominan tidak berkembang baik, namun 2 fungsi sisanya tetap berkembang namun tidak sebanyak yang dominan. Contohnya, pada individu yang fungsi berpikirnya sangat berkembang, maka perasaan sebagai fungsi lawannya tidak begitu berkembang di tingkat bawah-sadar, dan mengekspresikan diri dalam mimpi, fantasi atau dengan cara-cara yang aneh dan mengganggu.

Dinamika Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Jung memandang kepribadian atau psikhe sebagai sistem energi yang setengah tertutup. Ia tidak disebut sama sekali tertutup karena energi dari sumber-sumber luar harus ditambahkan pada sistem, misalnya dengan makan, atau dikurangi dari sistem, misalnya dengan melakukan pekerjaan yang menggunakan otot. Stimulus-stimulus lingkungan juga bisa menghasilkan perubahan-perubahan pada distribusi energi dalam sistem. Ini teriadi, misalnya, manakala perubahan tiba-tiba di dunia luar mengubah arah perhatian dan persepsi kita. Fakta bahwa dinamika kepribadian rentan terhadap pengaruh-pengaruh dan modifikasi modifikasi dari sumber-sumber luar berarti bahwa kepribadian tidak mungkin mencapai keadaan stabil secara sempurna, yang bisa terjadi kalau ia merupakan sistem yang sepenuhnya tertutup. Kepribadian hanya bisa menjadi stabil secara relatif.

Energi Psikis

Energi yang menjalankan fungsi kepribadian disebut energi psikis (Jung, 1948b). Energi psikis merupakan manifestasi energi kehidupan, yakni energi organisme sebagai sistem biologis. Energi psikis lahir seperti semua energi vital lain, yakni dari prosesproses metabolik tubuh. Istilah Jung untuk energi kehidupan adalah libido, tetapi ia juga menggunakan libido secara berganti-ganti dengan energi psikis. Jung tidak mempunyai pendirian tegas tentang hubungan antara energi psikis energi fisik tetapi ia yakin bahwa sejenis aktivitas timbal-balik antara keduanya merupakan suatu hipotesis yang dapat diterima.

Energi psikis merupakan suatu konstruk hipotetis, bukan suatu substansi atau gejala konkret. Maka dari itu, energi psikis tidak dapat diukur atau dirasakan. Energi psikis terungkap secara konkret dalam bentuk daya-daya aktual atau potensial. Keinginan, kemauan, perasaan, perhatian dan perjuangan adalah contoh-contoh daya aktual dalam kepribadian; disposisi, bakat, kecenderungan, kehendak hati, dan sikap adalah contoh-contoh daya potensial.

NILAI-NILAI PSIKIS. Jumlah energi psikis yang tertanam dalam salah satu unsur kepribadian disebut nilai dari unsur itu. Nilai merupakan ukuran intensitas. Apabila kita berbicara tentang penempatan nilai yang tinggi pada suatu ide atau perasaan tertentu, maksud kita ialah bahwa ide atau perasaan tersebut memainkan peranan penting dalam mencetuskan dan mengarahkan tingkah laku. Orang yang memberikan nilai tinggi pada kebenaran akan mengerahkan banyak daya untuk mencapainya. Orang yang menilai tinggi kekuasaan akan sangat bermotivasi untuk memperoleh kekuasaan. Sebaliknya, apabila sesuatu tidak begitu bernilai, energi yang digunakan untuk mencapainya juga akan sedikit.

Nilai absolut suatu ide atau perasaan tidak dapat ditentukan, kecuali nilai relatifnya. Salah satu cara sederhana meskipun tidak selalu tepat untuk menentukan nilai-nilai relatif adalah menanyai seseorang apakah ia menyukai satu hal melebihi satu hal lainnya. Urutan preferensi mereka dapat dipakai sebagai ukuran kasar tentang kekuatan relatif nilai-nilai mereka. Atau suatu situasi eksperimental dapat dirancang untuk menguji apakah seorang individu akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan suatu insentif ketimbang insentif lainnya. Mengamati seseorang dari dekat selama suatu periode waktu tertentu untuk melihat apa yang dikte akannya dapat memberikan suatu gambaran yang cukup baik tentang nilai-nilai relatifnya. Apabila mereka menggunakan lebih banyak waktu untuk membaca daripada bermain kartu, maka dapat diandaikan bahwa membaca lebih bernilai dari pada bermain kartu.

DAYA KON STELASI SUATU KOMPLEKS. Observasi-observasi dan tes-tes semacam itu meskipun mungkin berguna untuk menentukan nilai-nilai sadar, namun tidak memberikan banyak penjelasan tentang nilai-nilai tak sadar. Nilai-nilai tak sadar ini harus ditentukan dengan menilai ”daya konstelasi unsur inti suatu kompleks”. Daya konstelasi suatu kompleks terdiri dari jumlah kelompok-kelompok item yang dihubungkan oleh unsur inti kompleks.

Jadi, apabila seseorang memiliki suatu kompleks patriotik yang kuat, itu berarti bahwa intinya, yakni cintanya pada tanah air, akan menghasilkan konstelasi-konstelasi pengalaman di sekitarnya. Salah satu konstelasi semacam itu bisa terdiri dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsanya, sedangkan konstelasi lain mungkin berupa perasaan positif terhadap pemimpin-pemimpin dan pahlawan-pahlawan bangsa. Orang yang sangat patriotik cenderung mencocokkan setiap pengalaman baru dengan salah satu di antara konstelasi-konstelasi yang dikaitkan dengan patriotisme.

Cara-cara manakah yang bisa dipakai untuk menaksir daya konstelasi unsur inti? Jung membicarakan tiga metode: ( 1) observasi langsung plus deduksi-deduksi analitik, (2) indikator-indikator kompleks, dan (3) intensitas ungkapan emosi.

Melalui observasi dan inferensi kita dapat mengestimasikan jumlah asosiasi yang terikat pada suatu unsur inti. Orang yang memiliki kompleks ibu yang kuat akan cenderung memasukkan ibunya atau sesuatu yang ada hubungannya dengan ibunya ke dalam setiap percakapan, entah relevan atau tidak.

Ia akan lebih menyukai cerita-cerita dan film-film di mana ibu memainkan peranan penting dan ia akan merayakan Hari Ibu serta peristiwa-peristiwa lain di mana ia dapat menghormati ibunya. Ia akan cenderung meniru ibunya dengan meniru preferensi-preferensi dan minat-minat ibunya, serta akan tertarik kepada temanteman dan kenalan-kenalan ibunya. Dan ia lebih menyukai wanitawanita yang lebih tua dari pada wanita-wanita yang sebaya dengannya.

Suatu kompleks tidak selalu menyatakan diri secara terbuka. Ia bisa muncul dalam mimpi-mimpi atau dalam suatu bentuk kabur tertentu sehingga perlu menggunakan bukti-bukti tak langsung untuk menemukan arti yang mendasari pengalaman itu. Inilah yang dimaksud dengan deduksi analitis.

Indikator kompleks adalah suatu gangguan tingkah laku yang menunjukkan adanya kompleks. Ia bisa berupa keseleo lidah, misalnya, manakala seorang pria menyatakan ”ibu saya”, pada hal ia hendak menyatakan ”isteri saya”. Ia juga bisa berupa gangguan ingatan yang tidak lazim seperti yang terjadi manakala orang tidak dapat mengingat nama kawannya karena nama itu mirip dengan nama ibunya atau sesuatu yangberhubungan dengan ibunya. Indikator-indikator kompleks juga muncul dalam tes asosiasi kata (word association test).

Jung menemukan kompleks-kompleks pada tahun 1903 lewat eksperimen-eksperimen menggunakan tes asosiasi kata (Jung, 197 3a). Tes ini, kini digunakan secara luas untuk mengevaluasi kepribadian, berupa daftar kata-kata baku yang dibacakan satu demi satu kepada orang yang dites. Subjek disuruh menjawab dengan kata pertama muncul dalam pikirannya. Apabila subjek memerlukan waktu lama untuk menjawab kata tertentu, ini menunj ukkan bahwa kata itu ada hubungannya dengan suatu kompleks. Pengulangan kata stimulus dan ketidak-mampuan sama sekali untuk merespon juga merupakan indikator-indikator kompleks.

Intensitas reaksi emosi seseorang terhadap suatu situasi merupakan ukuran lain tentang kekuatan suatu kompleks. Apabila jantung berdenyut lebih cepat, pernapasan menjadi lebih dalam, dan muka menjadi merah, ini semua merupakan indikasi yang cukup baik bahwa suatu kompleks yang kuat berhasil ditemukan. Dengan menggabungkan gejala-gejala fisiologis seperti denyut hadi, pernapasan, dan perubahan-perubahan elektris pada konduktivitas kulit dengan tes asosiasi kata, maka kita bisa menentukan secara agak tepat daya kompleks-kompleks seseorang.

Libido

Freud dan Jung tidak sepakat dengan hakikat libido. Saat berkolaborasi dengan Jung, Freud masih melihat libido utamanya sebagai energi seksual. Jung yakin perspektif seperti ini terlalu sempit jika yang dimaksudkan Freud adalah energi kehidupan biologis yang terkonsentrasi ke berbagai persoalan berbeda yang muncul. Bagi jung, libido mestinya suatu daya hidup kreatif yang dapat diaplikasikan kepada pertumbuhan psikologis berkelanjutan dari manusia.

Di tahun-tahun awal kehidupan, kata Jung, energi libido dihabiskan hanya untuk makan, pembuangan dan seks, namun semakin kebutuhan ini terpuaskan atau tidak lagi begitu penting, energi libido mulai diarahkan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lebih filosofis dan spiritual. Libido, kalau begitu, menurut Jung, merupakan daya pendorong di belakang psikhe (istilah Jung untuk kepribadian), yang difokuskan ke berbagai kebutuhan entah yang sifatnya biologis maupun spiritual. Komponen-komponen kepribadian yang di dalamnya energi libido diinvestasikan bernilai lebih tinggi ketimbang yang lain. Jadi menurut Jung, nilai sesuatu ditentukan oleh seberapa banyak energi libido diinvestasikan di dalamnya.

Prinsip Ekuivalensi

Seperti Freud, Jung mengambil sejumlah prinsip fisika di zamannya untuk mengembangkan teori kepribadiannya. Penggunaannya terhadap prinsipprinsip termodinamika seperti ekuivalensi, entropi dan kebalikan memperlihatkan orientasi ini

Prinsip ekuivalensi adalah hukum pertama termodinamika yang menyatakan bahwa jumlah energi di sebuah sistem pada hakikatnya tetap (sehingga disebut juga sebagai hukum kekekalan energi), dan jika sejumlah energi dihilangkan dari suatu bagian sistem, dia akan muncul di tempat lain. jika diterapkan kepada psikhe, maka ini berarti setiap manusia memiliki energi psikis (libido) dalam jumlah tertentu yang akan selalu tetap kapan pun dan di kondisi apa pun. Jika salah satu komponen psikhe terlalu tinggi dinilai (overvalued) -artinya energi libido diinvestasikan lebih banyakmaka komponen psikhe yang lain akan turun nilainya -artinya energi libido yang diinvestasikan lebih sedikit. Contohnya, jika energi psikis dikonsentrasikan ke aktivitas-aktivitas kesadaran, maka aktivitas-aktivitas bawah-sadar akan berkurang, dan sebaliknya. Kita akan membahas lebih jauh konsep ini nanti.

Jung mendasarkan pandangannya tentang psikodinamika pada dua prinsip fundamental, yakni prinsip ekuivalensi dan prinsip entropi (Jung, 1948b). Prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan untuk menghasilkan suatu kondisi tertentu, maka jumlah yang dikeluarkan itu akan muncul di salah satu tempat lain dalam sistem. Sarjana-sarjana fisika menyebut prinsip ini sebagai hukum pertama termodinamika atau prinsip konservasi energi sebagaimana dikemukakan Helmholtz.

Diterapkan pada fungsi psikis oleh Jung, prinsip ini menyatakan bahwa jika suatu nilai tertentu melemah atau menghilang, maka jumlah energi yang diwakili oleh nilai itu, tidak akan hilang dari psikhe tetapi akan muncul kembali dalam suatu nilai baru. Surutnya suatu nilai sudah pasti berarti munculnya suatu nilai lain. Misalnya, manakala penilaian anak terhadap keluarganya menurun, maka perhatiannya terhadap orang-orang dan barang-barang lain meningkat. Orang yang kehilangan minat pada suatu hobi biasanya akan menemukan bahwa hobi lain telah menggantikannya. Jika suatu nilai direpresikan, energinya dapat digunakan untuk menciptakan mimpi-mimpi atau fantasi-fantasi. Tentu saja, energi yang hilang dari salah satu nilai bisa didistribusikan pada beberapa nilai lain.

Sehubungan dengan fungsi seluruh kepribadian, prinsip ekuivalensi menyatakan bahwa jika energi dikeluarkan dari salah satu sistem, misalnya ego, maka energi itu akan muncul pada suatu sistem lain, mungkin persena. Atau jika makin banyak nilai direpresikan ke dalam sisi bayang-bayang kepribadian, maka nilai itu akan tumbuh kuat dengan mengorbankan strukturstruktur lain dalam kepribadian. Sama halnya, penguraian energi dari ego sadar akan dibarengi dengan pemberian energi pada ketidaksadaran. Energi terus-menerus mengalir dari salah satu sistem kepribadian ke dalam sistem-sistem lain. Pendistribusian kembali energi ini merupakan dinamika kepribadian.

Tentu saja prinsip konservasi energi tidak dapat diterapkan secara ketat pada suatu sistem seperti psikhe yang hanya setengah tertutup. Energi ditambahkan pada atau dikurangkan dari psikhe, dan kecepatan penambahan atau pengurangannya dapat dan mungkin benar-benar sangat bervariasi. Akibatnya, naik atau turunnya suatu nilai mungkin bukan hanya disebabkan oleh pemindahan energi dari salah satu bagian sistem ke bagian lainnya, tetapi bisa juga tergantung pada penambahan energi pada psikhe dari sumber-sumber luar atau karena pengurangan energi setelah melakukan pekerjaan otot. Orang akan pulih kembali secara mental maupun fisik sesudah makan atau istirahat, dan orang menjadi lelah secara mental dan fisik sesudah bekerja atau berolah raga. Pertukaran-pertukaran energi antara psikhe dan organisme atau dunia luar maupun redistribusi energi dalam psikhe sendiri inilah yang sangat menarik perhatian Jung dan semua psikolog dinamik.

Prinsip Entropi

Prinsip entropi adalah hukum kedua termodinamika yang menyatakan bahwa sebuah kecenderungan selalu hadir demi menyetarakan jumlah energi disebuah sistem. Jika, contohnya, satu benda panas dan satu benda dingin diletakkan berdampingan, benda panas akan kehilangan energi panasnya dan benda dingin akan memperoleh energi panas itu sedemikian rupa, sampai Suhu keduanya sama.

Begitu pula, menurut Jung, sebuah kecenderungan hadir untuk semua komponen psikhe dalam rangka memiliki jumlah energi yang sama. Contohnya, aspek sadar dan bawah-sadar psikhe akan memiliki energi yang sama besarnya sehingga menimbulkan kesetimbangan bagi kepribadian manusia. Namun, kesetimbangan energi psikis ini sulit diraih, dan meski bisa diraih, sulit bertahan lama, sehingga manusia harus aktif mencari kesetimbangan-kesetimbangan yang baru.

Jika kesetimbangan tidak dicari apalagi diupayakan, energi psikis manusia bakal tidak setimbang, dan perkembangan kepribadian akan terhambat, bahkan memunculkan gangguangangguan di beberapa komponen. Di titik ini bisa dikatakan kalau beberapa aspek kepribadian tertentu ‘dinilai terlalu tinggi’ ketimbang aspek-aspek yang lain.

Prinsip entropi atau hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa jika dua benda yang berbeda suhunya bersentuhan maka panas akan mengalir dari benda yang suhunya lebih panas ke benda yang suhunya lebih dingin. Contoh lain adalah air yang selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, bila ada saluran. Operasi dari prinsip entropi mengakibatkan keseimbangan kekuatan-kekuatan. Benda yang lebih panas melepaskan energi panasnya kepada benda yang lebih dingin sampai kedua benda itu mempunyai suhu yang sama. Pada titik itu, pertukaran energi berhenti, dan kedua benda itu dikatakan berada dalam suhu yang seimbang.

Prinsip entropi sebagaimana digunakan Jung untuk menerangkan dinamika kepribadian menyatakan bahwa distribusi energi dalam psikhe mencari ekuilibrium atau keseimbangan. Jadi, ambil kasus yang paling sederhana, apabila dua nilai (intensitas energi) tidak memiliki daya yang sama, maka energi akan cenderung mengalir dari yang lebih kuat kepada yang lebih lemah sampai keduanya mencapai keseimbangan.

Akan tetapi, karena psikhe bukanlah suatu sistem yang tertutup maka energi mungkin ditambah atau dikurangi dari salah satu di antara kedua nilai yang berlawanan, sehingga mengganggu keseimbangan. Meskipun Suatu keseimbangan permanen dari daya-daya dalam kepribadian tidak pernah dapat terbentuk, namun inilah keadaan ideal, ke arah mana distribusi energi selalu berjuang. Keadaan ideal ini di mana seluruh energi didistribusikan secara seimbang ke berbagai sistem yang berkembang sepenuhnya adalah diri. Maka dari itu, ketika Jung menyatakan bahwa realisasi-diri adalah tujuan dari perkembangan psikis maksudnya antara lain adalah bahwa dinamika kepribadian bergerak ke arah suatu keseimbangan daya-daya yang sempurna.

Aliran energi yang diarahkan dari pusat yang berpotensi tinggi ke pusat yang berpotensi lemah merupakan prinsip fundamental yang mengatur distribusi energi di antara sistem-sistem kepribadian. Beroperasinya prinsip ini mengakibatkan bahwa suatu sistem yang lemah akan berusaha memperbaiki keadaannya dengan mengorbankan sistem yang kuat dan dengan demikian menciptakan tegangan dalam kepribadian. Apabila ego sadar, misalnya, terlalu dihargai dibandingkan ketidaksadaran, maka banyak tegangan akan terjadi dalam kepribadian karena energi akan berusaha bergerak dari sistem sadar ke dalam ketidaksadaran.

Sama halnya juga, energi dari sikap superior, apakah itu ekstraversi atau introversi, cenderung akan bergerak ke arah sikap inferior. Orang yang terlalu ekstravert terpaksa mengembangkan bagian introvert dari kodratnya. Kaidah umum dalam psikologi J ungian ialah bahwa setiap perkembangan yang berat sebelah dalam kepribadian menyebabkan konflik, tegangan, tekanan, sedangkan perkembangan yang seimbang dari semua unsur kepribadian menghasilkan keharmonisan, pengenduran (relaxation), dan kepuasan.

Akan tetapi, sebagaimana dikemukakan Jung, suatu keadaan keseimbangan yang sempurna adalah keadaan di mana tidak ada energi dilepaskan k_arena pelepasan energi memerlukan perbedaan-perbedaan dalam potensi antara berbagai komponen sistem. Suatu sistem akan mati dan berhenti apabila semua bagiannya seimbang, suatu keadaan yang disebut entropi sempurna. Karena itu tidak mungkin bagi suatu organisme yang hidup mencapa1 entropi yang sempurna.

Prinsip Kebalikan

Prinsip kebalikan ditemukan hampir di semua tulisan Jung. Prinsip ini mirip keyakinan Newton bahwa “untuk setiap tindakan akan muncul reaksi yang setara besaran kekuatannya dan merupakan kebalikannya”, atau pernyataan Hegel bahwa “segala sesuatu membawa dalam dirinya negasinya sendiri”. Setiap konsep di teori Jung memiliki kutub kebalikannya.

Bawah sadar dikontraskan dengan kesadaran, rasional dengan irasional, feminin dengan maskulin, hewani dengan spiritual, kausalitas dengan teleologi, progresif dengan regresi, introversi dengan ekstraversi, berpikir dan merasa, dan mengindra dengan mengintuisi. Ketika satu aspek kepribadian berkembang, biasanya ia mengorbankan kutub kebalikannya; contohnya, ketika seseorang menjadi lebih maskulin, mau tak mau ia harus mereduksi aspek feminin dirinya.

Bagi Jung, tujuan hidup -sesuai prinsip entropi-_ adalah mencari kesetimbangan di antara kutub-kutub yang berlawanan ini agar dapat mengekspresikan semua aspek yang berkebalikan di dalam kepribadian. Ini mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan, dan sintesis yang seperti ini terus diupayakan namun jarang sekali bisa dicapai.

Kausalitas

Melalui konsep kausalitas, Jung bermaksud menjelaskan kepribadian dewasa berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, mirip yang digagas Freud; Menurut Jung, bukan hanya upaya ini tidak pernah bisa lengkap, namun ju/ ga memberi manusia rasa putus asa dan tidak berdaya. Teori ini menyatakan kalau manusia akan menjadi suatu fungsi seperti yang pernah dilihatnya. Kausalitas meyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini memiliki asal-usul di dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Teleologi

Meski Jung tidak mengabaikan kausalitas, namun ia menganggap teleologi juga perlu ditambahkan untuk memiliki gambaran lengkap tentang motivasi manusia. Teleologi berarti perilaku manusia memiliki sebuah tujuan; artinya, perilaku kita saat ini ditarik oleh masa depan selain didorong masa lalu. Teleologi menyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini dimotivasikan oleh tujuan-tujuan dan aspirasi-aspirasi ke depan yang mengarahkan tujuan seorang.

Kata Jung, ”Kausalitas hanyalah satu prinsip, dan psikologi tidak boleh menghabiskan seluruh tenaga dan waktu hanya dengan metode kausal saja, karena pikiran juga hidup oleh tujuan juga” (1961b, hlm.292). Dengan kata lain, untuk memahami manusia sepenuhnya, kita harus memahami tujuan dan aspirasi mereka terhadap pencapaian di masa depan di tingkat pribadi. Pandangan umum Jung tentang motivasi manusia bisa diringkas dalam skema berikut:

Tujuan Masa Depan
Ke- Pribadi -an

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pro

Pengalaman Masa Lalu
Tarikan
Dorongan

 

 

Sinkronisitas

Jung menyebut sinkronisitas sebagai kebetulan yang bermakna, seperti ketika seseorang bermimpi tentang temannya semalam lalu temannya itu datang besok siangnya, atau ketika seseorang berfantasi tentang suatu kejadian dan kejadian itu sungguh terjadi tak lama kemudian. Progoff (1973, hlm. 122) memberikan contoh sinkronisitas lebih jauh:

Seseorang mengalami sebuah mimpi atau serangkaian mimpi, dan ini semua kebetulan sama persis dengan kejadian di dunia. Seseorang bisa juga berdoa untuk memohon, berharap atau keinginan khusus dengan sungguhsungguh, dan entah bagaimana, sesuatu terjadi seperti yang dia minta. Seseorang yang beriman menumpangkan tangan kepada orang lain, atau mendapat petunjuk atau melihat simbol tertentu saat ia berdoa atau bermeditasi, dan kesembuhan fisik atau ‘mukjizat’ yang lain terjadi.

Menguasai isi buku-buku itu, Lincoln jadi mampu menjadi seorang pengafn cara, yang akhirnya, memampukannya masuk ke karier politik.

Perhatikan kalau dua kejadian yang muncul beriringan itu tidak terikat secara kausal melainkan punya alur kausalitasnya sendiri-sendiri. Di satu sisi, ada Lincoln yang punya ambisi, namun frustrasi karena tidak punya materi yang dibutuhkan; di sisi lain, ada orang asing aneh yang membutuhkan 1 dolar. Hanya ketika keduanya bertemu di momen tertentu hidup Lincoln, barulah ?. kebutuhan ini memiliki makna. Kita mungkin dapat mengatakan, Lincoln dan orang asing itu ‘beruntung’ sama-sama bergerak menuju satu sama lain.

Dengan cara yang lebih kompleks, konsep sinkronisitas dapat diterapkan kepada hubungan antara bawah-sadar kolektif dan berbagai pengalaman kita. Seperti yang sudah kita lihat, setiap arketipe bisa dilihat sebagai kecenderungan untuk merespons secara emosi kelas tertentu kejadian-kejadian di lingkungan. Faktanya, sebuah arketipe bisa dianggap sebagai kebutuhan untuk memiliki jenis-jenis pengalaman tertentu.

Di situasi inilah, saat kita memiliki suatu pengalaman yang memberikan ekspresi simbolis ke sebuah arketipe, pengalaman ini sama memuaskannya dengan menemukan makanan bagi seseorang yang lapar. Inilah yang menjelaskan kenapa manusia bereaksi emosional ke musik tertentu, bentuk seni tertentu, dan berbagai simbol di hidup mereka. Menurut Jung, kita semua punya arketipe, dan ketika pengalaman kita memberi mereka ruang untuk berekspresi, hasilnya adalah kepuasan emosi. Karena arketipe memiliki satu warisan kausal, dan kejadian lingkung» an yang memungkinkan mereka berekspresi memiliki“ yang lain, maka pertemuan keduanya akan membentuk sinkronisitas.

Penggunaan Energi

Seluruh energi psikis yang tersedia untuk kepribadian digunakan untuk dua tujuan umum. Sebagian di antaranya dipakai untuk melakukan pekerjaan yang perlu untuk memelihara kehidupan dan untuk pembiakan spesies. Inilah fungsi-fungsi instingtif, yang dibawa sejak lahir, seperti tampak dalam lapar dan seks. Mereka beroperasi menurut hukum-hukum biologis alamiah. Setiap kelebihan energi dari yang dibutuhkan oleh insting-insting dapat digunakan dalam kegiatan-kegiatan kultural dan spiritual. Menurut Jung, kegiatan-kegiatan ini membentuk tujuan-tujuan hidup yang lebih tinggi. Manakala orang menjadi lebih efisien dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan biologisnya, maka semakin banyak energi yang tersedia untuk memuaskan minat-minat kebudayaan. Selanjutnya, karena orang yang sudah tua membutuhkan lebih sedikit energi, maka banyak energi tersedia untuk kegiatan-kegiatan psikis.

Tipologi Kepribadian

Setiap orang adalah unik karena dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman historis yang begitu banyak dan beragam. Tanggapan kita terhadap pengalaman-pengalaman ini adalah hasil dari temperamen yang belum tampak (inborn temperament) dan bahan dasar yang sifatnya majemuk dari tanggapan-tanggapan yang kita tunjukkan sebelumnya.

Apakah itu Temperamen ? Bayi yang baru lahir ada yang sangat aktif, ada juga yang kalem. Ada juga yang sangat sensitive terhadap cahaya, suara, sentuhan, sementara bayi lain tampak begitu cuek dengan lingkungan sekitarnya. Sampai dengan akhir Masa Kanak-kanak atau Masa Remaja awal, penampakan Temperamen akan sudah dapat digambarkan, demikian menurut Jung. Setiap orang, berdasarkan teori Kepribadian Jung, memiliki Ego, Persona dan komponen lain dari Psyche, masing-masing dengan karakter kepribadian individual. Sekalipun demikian, ada kesamaan di antara individu yang berbeda tersebut yang dapat ditarik benang merahnya untuk membentuk suatu dimensi. Setiap orang memiliki potensi atas semuanya itu, tetapi dengan derajat atau tingkat yang berbeda-beda. Satu atau dua unsur bisa jadi merupakan cara yang dominan atau menonjol bagi seseorang dalam memandang atau menghadapi dunia (luar) nya.

Jung mulai mengembangkan teori tentang Type – yang kemudian dikenal dengan Tipologi Jung, dari pengamatan terhadap hubungan Sigmund Freud dengan para pengikutnya, termasuk di antaranya Alfred Adler. Adler dan Freud tidak sependapat tentang asal-muasal Neurosis. Bagi Freud, asal atau sebab Neurosis adalah konflik seksual, bagi Adler adalah konflik sosial khususnya keinginan terhadap kekuasaan. Perbedaan ini, sebagaimana diamati oleh Jung, adalah merupakan perbedaan cara pandang dalam mengalami dunia luar. Sebagian orang akan memiliki kecenderungan “ke dalam” (inwardly-oriented), sebagian lagi “outwardly”. Jung menamai unsur ini sebagai “Introversion dan Extraversion”. Menurut Leona Tyler , seorang professor psikologi dan pengarang buku “The Psychology of Human Differences” (1965) Jung adalah orang pertama yang menggunakan istilah introvert “Extraversion” dan extrovert “Introversion” untuk menggambarkan kepribadian atau tipe-tipe psikologis, sekalipun perbedaan di antara keduanya sudah ada selama berabad-abad.

Melalui penjelajahan literature sejarah, Jung menemukan hal yang sama misalnya perbedaan ideologis antara Carl Spittler dan Johann Wolfgang Goethe, antara Apollo dan Dionysius. Jung melihat Freud sebagai seorang yang Extraversi sedangkan Adler sebagai Introversi. Perbedaan-perbedaan inilah sangat mungkin yang merupakan factor penyebab perpisahan di antara Freud dan Jung (yang juga seorang Introversi).

Introversion menaruh perhatian terhadap faktor-faktor subyektif (subjective factors) dan tanggapan internal (inner response). Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurahkan perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subyektif. Dan oleh karenanya ia akan tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian (judgement). Seorang introvert secara relatif akan memiliki teman yang lebih sedikit namun ia akan sangat setia, loyal terhadap mereka. Ia akan tampak sebagai pemalu dalam situasi social, dan mungkin juga sangat hati-hati, pesimistis dan kritis.

Sebaliknya, seorang Extravert akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya orang, kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional standard, tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik.

Tipe kepribadian ini akan berpengaruh terhadap perasaan, pikiran dan perilaku seseorang, dan ia akan berada di bawah kendali Ego. Tipe yang tidak dominan dimana ia tidak berada di bawah kendali Ego, akan tetap berada di alam Bawah Sadar. Misalnya seorang introvert yang mencoba untuk mengungkapkan minat atau kesenangannya, sangat mungkin akan bercerita tentang sesuatu yang sangat unik dan spesifik yang tidak dikenal atau diketahui oleh orang kebanyakan (misalnya tentang bunga anggrek spesies tertentu yang hanya ada di Himalaya, atau tentang motif batik yang begitu njlimet) Sekalipun Jung memakai istilah Tipologi atau Type, dia tidak bermaksud untuk mengkotak-kotakkan orang sebagaimana banyak kritik menyebutkan tentang teori kepribadian Jung ini.

Jung menempatkan tipologi ini sebagai Dimensi (dimension): setiap orang memilikinya, bagi sebagian orang ia lebih banyak berada diKesadarannya, sementara bagi sebagian orang lain lebih banyak berada di Bawah Sadarnya. Tendensi psikologis ini merupakan alat Bantu untuk memahami dan menghargai orang lain atau cara-cara mereka berhadapan dan menghadapi dunia (di luar diri) nya.

Banyak orang yang tidak begitu akrab dengan teori psikologi mengenal Jung melalui Tipologi, misalnya melalui Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) yang biasanya banyak digunakan sebagai alat Bantu (psikologis) dalam perkawinan atau industri (seleksi). Melalui MBTI orang akan bisa mengatakan bahwa saya adalah tipe INFP, ESTJ atau satu di antara 14 kombinasi tipe-tipe ini. Alat ukur lain yang terkenal adalah Gray-Wheelwrights Jungian Type Survey (GWJTS), Singer-Loomis Inventory of Personality (SLIP) dan Keirsey Temperament Sorter (KTS). Alat-alat ukur tersebut semuanya mendasarkan diri pada teori Jung.

Menurut teori psikoanalisa dari Jung ada dua aspek penting dalam kepribadian yaitu sikap dan fungsi. Sikap terdiri dari introversion dan ekstroversion, sedangkan fungsi terdiri dari thinking, feeling, sensing dan intuiting.

Dengan mengombinasikan dua sikap dan empat fungsi di atas, Jung menjelaskan 8 tipe kepribadian yang berbeda. Namun, harus dicamkan jika 8 tipe ini tidak pernah hadir dalam bentuknya yang murni karena setiap manusia sebenarnya memiliki 2 sikap dan 4 fungsi tersebut, sekaligus perkembangan kepribadian yang sadar maupun bawah-sadar. Berikut ringkasan 8 tipe kepribadian yang diambil dari Jung (1971, hlm. 330-405):

Berpikir-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi berpikirnya. Merasa, mengindra dan mengintuisi direpresi. Analisis intelektual terhadap pengalaman objektif dianggap yang paling penting. Kebenaran ada ‘di sana’ dan setiap orang dapat dan harus menemuf kannya. Aktivitas-aktivitas yang terlalu bergantung kepada perasaan seperti estetika, persahabatan, introspeksi religius dan pengalaman filosofis diminimkan. Individu yang seperti ini hidup berdasarkan aturan yang baku dan berharap setiap orang melakukan yang sama. Mereka bisa menjadi sangat dogmatis dan dingin. Urusan-urusan pribadi seperti kesehatan, posisi sosial, minat berkeluarga dan keuangan diabaikan jung yakin kebanyakan ilmuwan bertipe Berpikir-Ekstrover.

Merasa-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi merasa. Berpikir, mengindra dan mengintuisi direpresi. Tipe ini merespon secara emosional realitas objektif. Karena perasaan-perasaan yang dialami ditentukan secara eksternal, mereka cenderung memposisikan diri tepat dengan situasi-situasi yang seperti hadir di teater, konser atau gereja. Individu yang seperti ini menghormati otoritas dan tradisi.Selalu ada upaya untuk menyesuaikan perasaan dengan yang tepat untuk situasi tertentu sehingga perasaan individu yang seperti ini sering dimanipulasi. Contohnya, memilih ‘kekasih’ lebih ditentukan oleh usia, posisi sosial, penghasilan dan status keluarga ketimbang oleh perasaan subjektif tentang orang itu. Artinya, individu ini akan bersikap sesuai perasaan yang diharapkan orang lain pada dirinya di setiap situasi.

Mengindra-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi mengindra. Mengintuisi, berpikir dan merasa direpresi. Tipe ini pengkonsumsi semua hal yang bisa diperoleh lewat pengalaman indrawinya. Ia seorang realis, dan peduli hanya ke fakta-fakta objektif. Karena hidup tipe individu ini dikendalikan oleh apa yang terjadi, dia bisa menjadi teman yang menyenangkan. Terdapat kecenderungan untuk menganalisis situasi atau mendominasinya. Sekali saja suatu pengalaman diindra, selalu ada perhatian tambahan atasnya. Hanya hal yang konkret dan bisa dicerap yang bernilai. Ia menolak pemikiran atau perasaan subjektif sebagai panduan hidup bagi dirinya dan orang lain.

Mengintuisi-Ekstrover. Realitas objektif mendominasi, begitu pula fungsi mengintuisi. Berpikir, merasa dan mengindra direpresi. Tipe kepribadian ini melihat ke luar realitas ribuan kemungkinan. Pengalaman baru dicari dengan antusias, dikejar terus hingga implikasinya dimengerti, lalu ditinggalkan. Sedikit saja perhatian kepada masalah kepercayaan dan moralitas terhadap orang lain sehingga tipe ini sering dilihat orang tak bermoral dan serampangan. Karier yang dicari adalah yang bisa memberinya kesempatan untuk mengeksploitasi kemungkinan seperti pebisnis, pedagang saham atau politisi. Meski secara sosial berguna, h’pe ini dapat menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bergerak dari proyek ke lainnya. Seperti mengindra-ekstrover, tipe ini irasional dan kurang begitu memedulikan logika. Komunikasi yang bermakna dengan individu yang dominan fungsi rasionalnya (berpikir atau merasa) sulit sekali diraih.

Berpikir-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fungsi berpikir. Merasa, mengindra dan mengintuisi direpresi. Karena hidup tipe individu ini ditentukan oleh realitas subjektif daripada objektif, ia terlihat tidak fleksibel, dingin, arbitrer bahkan kejam. Individu seperti ini akan mengikuti pikiran-pikirannya sendiri tak peduli tidak konven. sional atau berbahayanya bagi orang lain. Dukungan dan pengertian dari orang lain kecil saja nilainya, kecuali teman yang bisa memahami betul kerangka pikirnya, dinilainya tinggi namun sayang, jumlahnya sangat sedikit. Untuk tipe ini, kebenaran subjektif satu-satunya kebe. naran, dan kritik, tak peduli validitasnya, ditolak. Pikiran logis diguna kan hanya untuk menganalisis pengalaman subjektifnya sendiri. Jung mendeskripsikan dirinya bertipe berpikir-introver ini.

Merasa-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fungsi merasa. Berpikir, mengindra dan mengintuisi direpresi. Daripada mengarahkan proses intelektual kepada pengalaman subjektif, seperti yang dilakukan tipe berpikir-introver, individu tipe ini berfokus ke perasaan yang disediakan oleh pengalaman-pengalaman tersebut. Realitas objektif penting hanya sejauh ia memberinya gambaran-gambaran mental subjektif yang dialami dan dinilai secara pribadi. Komunikasi dengan orang lain agak sulit kecuali sama-sama memiliki realitas subjektif dan perasaan-perasaan yang terkait dengannya. Ia sering dilihat egois dan tidak simpatik. Motif dasar tipe ini sulit dipahami orang lain sehingga terkesan dingin dan menjarakkan diri. Untuk tipe ini, tidak ada kebutuhan mengesankan atau memengaruhi orang lain. Seperti semua introver yang lain, semua hal yang internal lebih penting ketimbang yang eksternal.

Mengindra-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fimgsi mengindra. Mengintuisi, berpikir dan merasa direpresi. Tipe ini ba’ nyak dimiliki seniman yang jelas mengandalkan kemampuan indrawi untuk memberi mereka makna subjektif. Karena tipe ini mengejar penga’ laman indrawi dengan evaluasi yang sifatnya subjektif, interaksinya dengan realitas objektif sulit bisa diduga. Namun begitu, pengalaman inderawi ini penting hanya sejauh menghasilkan gambaran-gambaran mental subjektif.

Mengintuisi-Introver. Realitas subjektif mendominasi, begitu pula fungsi mengintuisi. Berpikir, merasa dan mengindra direpresi. Di tipe ini, implikasi-implikasi dari gambaran-gambaran mental internal dieksplorasi besar-besaran. Biasanya mereka adalah kaum mistikus, pelihat, peramal dan lain-lain yang suka sekali menghasilkan ide baru dan aneh. Dari semua tipe kepribadian, tipei ini yang paling menutup diri, menjaga jarak dan disalahpahami. Individu yang seperti ini sering kali terlihat sebagai genius eksentrik, dan konsep filsofis dan religius penting sering kali dihasilkan oleh tipe mengintuisi-introver ini.

Di dalam tipologi Jung, kita dapat melihat prinsip-prinsip ekuivalensi, kebalikan dan entropi beroperasi. Karena begitu banyak energi libido tersedia bagi seseorang, hanya sedikit saja tersisa untuk komponen-komponen lain (prinsip ekuivalensi) jika banyak porsi energi ini diinvestasikan ke satu komponen tertentu psikhe. Ketika sesuatu disadari, kebalikannya tidak disadari, dan sebaliknya (prinsip kebalikan). Satu kecenderungan konstan hadir bagi energi libido untuk menyetarakan diri di seluruh komponen dan tingkatan psikhe (prinsip entropi). Untuk ringkasnya, komponen-komponen psikhe yang kita diskusikan di bagian ini dapat diskemakan sebagai berikut.

Tingkat-tingkat
Fungsi-fungsi
Sikap-sikap
 

 

Kesadaran

Bawah-Sadar

 

 

Introversi

Ekstraversi

Rasional         Irasional

 

Berpikir           Mengindra

Merasa             Mengintuisi

 

 

 

Tahap-Tahap Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Jung tidak menetapkan secara terinci, seperti yang dilakukan Freud, tahap-tahap yang dilalui kepribadian dari masa bayi sampai masa dewasa. Dalam tahun-tahun yang paling awal, libido disalurkan dalam kegiatan-kegiatan yang diperlukan supaya tetap hidup. Sebelum usia lima tahun, nilai-nilai seksual mulai tampak dan mencapai puncaknya selama masa adolesen.

Dalam masa muda seseorang dan awal tahun-tahun dewasa, insting-insting kehidupan dasar dan proses-proses vital meningkat. Orang muda adalah penuh semangat, giat, impulsif, dan penuh gairah dan masih banyak tergantung pada orang lain. Inilah periode kehidupan di mana orang belajar bekerja, kawin dan mempunyai anak-anak dan menjadi mapan dalam kehidupan masyarakat.

Ketika individu mencapai usia akhir 30-an atau awal 40-an terjadi perubahan nilai yang radikal. Minat-minat dan segala sesuatu yang dikejar dalam masa muda kehilangan nilainya dan diganti oleh minat-minat baru yang lebih berbudaya dan kurang biologis. Orang yang berusia setengah baya menjadi lebih introvert dan kurang impulsif. Kebijaksanaan dan kecerdasan menggantikan gairah fisik dan kejiwaan. Nilai-nilai individu disublimasikan dalam lambang-lambang sosial, agama, kenegarawanan, dan filosofis. Orang menjadi lebih spiritual.

Peralihan ini merupakan peristiwa yang sangat menentukan dalam kehidupan seseorang. Ia merupakan saat yang paling berbahaya, karena kalau terjadi ketidak-beresan selama perpindahan energi ini, kepribadian bisa menjadi lumpuh selamanya. Ini terjadi, misalnya, jika nilai-nilai kultural dan spiritual dari usia setengah baya, tidak memanfaatkan seluruh energi yang sebelumnya tertanam dalam tujuan-tujuan instingtif. Dalam hal itu, energi yang berlebihan dengan leluasa mengganggu keseimbangan psikhe. Jung telah banyak berhasil merawat orang-orang berusia setengah baya yang energi-energinya gagal menemukan penyaluran yang memuaskan (Jung, 1931a).

Progresi dan Regresi

Perkembangan dapat mengikuti gerak maju, progresif, atau gerak mundur, regresif. Progresi oleh Jung dimaksudkan bahwa ego sadar menyesuaikan diri secara memuaskan baik terhadap tuntutan-tuntutan lingkungan luar maupun terhadap kebutuhan-kebutuhan ketidaksadaran. Dalam progresi yang normal, daya-daya yang berlawanan dipersatukan dalam suatu arus proses Dsikis yang terkoordinasi dan harmonis.

Apabila gerak maju itu terganggu oleh situasi yang menghambat maka dengan demikian libido tidak bisa disalurkan dalam nilai-nilai yang berorientasi ekstravert atau yang berorientasi kepada lingkungan. Akibatnya, libido mengadakan regresi ke dalam ketidaksadaran dan menyalurkan dirinya dalam nilai-nilai introvert. Hal ini berarti, nilai-nilai ego objektif ditransformasikan menjadi nilai-nilai subjektif. Regresi adalah antitesis dari progresi.

Akan tetapi, Jung yakin bahwa pemindahan energi yang regresif tidak harus menghasilkan akibat yang secara tetap buruk atas penyesuaian diri. Sesungguhnya, ia bisa membantu ego menemukan jalan mengatasi rintangan itu dan bergerak maju lagi. Ini mungkin terjadi karena ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif mengandung pengetahuan dan kebijaksanaan masa lampau individual dan ras, yang telah direpresikan atau diabaikan. Dengan melakukan regresi, ego bisa menemukan pengetahuan yang berguna dalam ketidaksadaran yang akan memungkinkan orang itu untuk mengatasi kegagalan. Manusia harus menaruh perhatian khusus terhadap mimpi-mimpinya karena mimpi-mimpi adalah pewahyuan dari bahan tak sadar. Dalam psikologi Jung, mimpi dipandang sebagai tonggak yang menunjukkan jalan maju ke arah perkembangan sumber-sumber potensial.

Interaksi antara progresi dan regresi dalam perkembangan dapat diterangkan dengan contoh skematik berikut. Seorang pemuda yang telah melepaskan dirinya dari ketergantungan pada orangtuanya menemui hambatan yang tidak dapat diatasi. Ia mengharapkan nasihat dan dukungan orangtuanya. Secara fisik, ia benar-benar tidak bisa kembali kepada orangtuanya, tetapi libidonya dapat membuat regresi ke dalam ketidaksadaran dan mengaktifkan kembali imago-imago orangtua yang terdapat di sana. Gambaran-gambaran orangtuanya ini kemudian bisa memberinya pengetahuan dan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi kekecewaan.

Proses Individuasi

Bahwa kepribadian memiliki tendensi untuk berkembang ke arah kesatuan yang stabil merupakan ciri utama psikologi Jung. Perkembangan adalah mekarnya kebulatan asli yang tidak berdiferensiasi yang dimiliki manusia pada saat dilahirkan. Tujuan terakhir pemekaran ini adalah realisasi diri.

Untuk merealisasikan tujuan ini, perlu bahwa berbagai sistem kepribadian berdiferensiasi secara sempurna dan berkembang sepenuhnya. Sebab apabila suatu bagian kepribadian diabaikan, maka sistem yang diabaikan dan kurang berkembang baik itu akan menjadi pusat resistensi yang berusaha merampas energi dari sistem yang berkembang secara lebih penuh.

Apabila berkembang terlalu banyak resistensi, maka orang akan menjadi neurotik. Ini dapat terjadi jika arkhetipe-arkhetipe tidak dibiarkan mengungkapkan dirinya melalui perantaraan ego sadar atau apabila bungkusan persona begitu tebal sehingga menutupi yang lain-lainnya dalam kepribadian. Pria yang tidak memberikan penyaluran yang memuaskan untuk impuls-impuls femininnya atau wanita yang melumpuhkan kecenderungan-kecenderungan maskulinnya akan menemui bahaya karena anima dan animus yang berada dalam situasi ini cenderung mencari cara-cara tidak langsung dan irasional untuk mengungkapkan dirinya.

Untuk memiliki kepribadian yang sehat dan terintegrasi, setiap sistem harus dibiarkan mencapai tingkat diferensiasi, perkembangan, dan pengungkapan yang paling penuh. Proses untuk mencapai ini disebut proses individuasi (Jung, 1939, 1950).

Fungsi Transenden

Apabila keanekaragaman telah dicapai lewat proses individuasi, maka sistem-sistem yang berdiferensiasi itu kemudian diintegrasikan oleh fungsi transenden (Jung, 1916b).

Fungsi ini memiliki kapasitas untuk mempersatukan semua kecenderungan yang saling berlawanan dalam beberapa sistem dan bekerja menuju tujuan yang ideal yakni kebulatan sempurna (diri). Tujuan dari fungsi transenden adalah pengungkapan pribadi yang esensial dan ”realisasi kepribadian dalam semua aspeknya yang mula-mula tersembunyi dalam cairan sel telur; produksi dan penyingkapan dari kebulatan yang original dan potensial” (Jung, 1943, hlm. 108).

Daya-daya lain dalam kepribadian, khususnya represi, bisa menentang operasi fungsi transenden; namun meskipun ada pertentangan, gerak maju yang mempersatukan perkembangan akan tetap berlangsung, jika tidak pada tingkat kesadaran maka pada tingkat ketidaksadaran. Ungkapan tak sadar dari keinginan akan kebulatan ditemukan dalam mimpi. mimpi, mitos-mitos, dan dalam ungkapan-ungkapan simbolik lain.

Salah satu lambang yang selalu timbul dalam mitos-mitos, mimpi-mimpi, arsitektur, agama, dan kesenian adalah lambang mandala. Mandala adalah kata Sansekerta, yang berarti lingkaran Jung telah mengadakan penelitian tuntas tentang mandala karena mandala merupakan lambang yang sempurna dari kesatuan dan kebulatan yang paripurna dalam agama-agama Timur maupun Barat.

Sublimasi dan Represi

Energi psikis dapat diganti. Ini berarti energi psikis dapat dipindahkan dari salah satu proses dalam suatu sistem tertentu, ke proses lain dalam sistem yang sama atau dalam sistem yang berbeda. Pemindahan ini dilakukan menurut prinsip-prinsip dinamik dasar, yakni prinsip ekuivalensi dan prinsip entropi.

Apabila pemindahan ini dikuasai oleh proses individuasi dan fungsi transenden, maka disebut sublimasi. Sublimasi merupakan pemindahan energi dari proses-proses yang lebih primitif, instingtif, dan kurang berdiferensiasi ke proses-proses kultural dan spiritual yang lebih tinggi dan lebih berdiferensiasi. Misalnya, apabila energi dapat ditarik dari dorongan seks dan disalurkan dalam nilai-nilai agama, maka energi dikatakan telah disublimasi. Bentuknya telah berubah, dalam pengertian bahwa suatu tipe pekerjaan baru sedang dilakukan; dalam hal ini, kegiatan agama menggantikan kegiatan seksual.

Apabila pelepasan energi terhambat, entah melalui saluransaluran instingtif atau saluran-saluran yang telah disublimasikan, maka dikatakan bahwa energi itu direpresikan. Energi yang direpresikan tidak begitu saja hilang; ia harus pergi ke salah satu tempat lain menurut prinsip konservasi energi. Pada akhirnya, ia akan menuju ketidaksadaran. Dengan menambah energi pada bahan tak sadar, maka ketidaksadaran dapat menjadi jauh lebih kuat daripada ego sadar. Bila ini terjadi maka energi dari ketidaksadaran akan cenderung mengalir ke dalam ego, menurut prinsip entropi, dan mengganggu proses-proses rasional. Dengan kata lain, proses-proses tak sadar yang terlalu diberi energi akan berusaha memecahkan represi, dan apabila proses-proses tersebut berhasil, maka orang akan bertingkah laku irasional dan impulsif.

Sublimasi dan represi memiliki karakter yang persis berlawanan. Sublimasi bersifat progresif, represi bersifat regresif. Sublimasi menyebabkan psikhe bergerak maju, sedangkan represi menyebabkan psikhe bergerak mundur. Sublimasi menghasilkan rasionalitas, sedangkan represi menghasilkan irasionalitas. Sublimasi bersifat integratif sedangkan represi bersifat disintegratif.

Akan tetapi, Jung memperingatkan kita bahwa karena represi bersifat regresif, maka ia memungkinkan individu-individu menemukan jawaban terhadap masalah mereka yang ada dalam ketidaksadaran dan dengan demikian bergerak maju lagi.

Perlambangan

Lambang dalam psikologi Jungian mempunyai dua fungsi utama. Di satu pihak, lambang merupakan usaha untuk memuaskan impuls instingtif yang terhambat; di lain pihak, lambang merupakan perwujudan bahan arkhetipe. Perkembangan tarian sebagai bentuk seni adalah contoh dari usaha manusia untuk memuaskan secara simbolis impuls yang terhambat seperti misalnya dorongan seks.

Akan tetapi ungkapan simbolis dari kegiatan instingtif dapat sama sekali tidak memuaskan, karena ungkapan tersebut tidak mencapai objek yang real dan menyalurkan semua libido. Menari sama sekali tidak menggambarkan bentuk-bentuk yang lebih langsung dari ungkapan seksual; maka dari itu perlambangan-perlambangan yang lebih memadai bagi insting-insting yang terhambat akan terus-menerus dicari.

Jung yakin bahwa penemuan lambang-lambang yang lebih baik, yakni lambang-lambang yang menyalurkan lebih banyak energi dan mereduksikan lebih banyak tegangan, memungkinkan peradaban maju ke tingkat-tingkat budaya yang makin lama makin tinggi.

Akan tetapi, lambang juga memainkan peranan resistensi terhadap impuls. Selama energi diserap habis oleh lambang, ia tidak dapat digunakan untuk menyalurkan impuls. Apabila orang menari, misalnya, maka ia tidak melakukan kegiatan seksual secara langsung. Dari sudut ini, lambang sama dengan sublimasi Keduanya menyebabkan pemindahan libido.

Kapasitas lambang untuk menggambarkan garis-garis masa depan perkembangan kepribadian, khususnya perjuangan ke arah kebulatan, memainkan peranan yang sangat penting dalam psikologi Jung. Psikologinya merupakan suatu sumbangan khusus dan oroginal bagi teori tentang simbolisme.

Jung berulang kali berbicara tentang simbolisme dalam tulisan-tulisannya dan ia telah membuatnya menjadi bahan dari beberapa bukunya yang sangat penting. Hakikat teori Jung tentang simbolisme ditemukan dalam kutipan ini: ”Lambang bukanlah tanda yang menyelubungi sesuatu yang diketahui setiap orang. Itu bukan arti lambang: sebaliknya, lambang merupakan usaha untuk menjelaskan sesuatu yang sama sekali masih termasuk bidang yang tidak diketahui atau sesuatu yang belum ada, dengan menggunakan analogi” (Jung, 1916a, hlm. 287).

Lambang-lambang adalah bentuk-bentuk representasi psikhe. Lambang-lambang tidak hanya mengungkapkan khazanah kebijaksanaan umat manusia yang diperoleh secara rasial dan individual, tetapi lambang-lambang itu juga menggambarkan tingkat-tingkat perkembangan yang jauh mendahului perkembangan manusia sekarang, Nasib seseorang, perkembangan yang paling tinggi dari psikhenya diungkapkan dengan lambang-lambang.

Pengetahuan yang terkandung dalam lambang tidak langsung diketahui oleh manusia; mereka harus menguraikan 1ambang itu untuk menemukan pesannya yang penting.

Kedua aspek dari lambang, yang pertama retrospektif dan dibimbing oleh insting-insting, yang kedua prospektif dan dibimbing oleh tujuan-tujuan akhir umat manusia, merupakan dua sisi mata uang yang sama. Lambang dapat dianalisis dari salah satu di antara kedua sisi itu.

Tipe analisis retrospektif mengungkapkan dasar instingtif dari lambang, sedangkan tipe prospektif mengungkapkan kerinduan umat manusia terhadap kesempurnaan, kelahiran kembali, keharmonisan, purifikasi, dan sebagainya. Tipe pertama adalah tipe analisis kausal, reduktif, dan yang kedua adalah tipe teleologis, finalistis. Keduanya perlu untuk menguraikan lambang secara lengkap. Jung yakin bahwa sifat prospektif dari lambang telah diabaikan karena adanya pandangan bahwa lambang itu semata-mata merupakan produk dari impuls-impuls yang terhambat.

Intensitas psikis dari lambang selalu lebih besar daripada nilai penyebab yang menghasilkan lambang. Hal ini berarti bahwa ada daya yang mendorong dan daya yang menarik di balik lambang yang diciptakan. Dorongannya berasal dari energi instingtif, sedangkan tarikannya berupa tujuan-tujuan transendental. Tidak satu pun dari keduanya secara sendiri-sendiri mampu menciptakan lambang. Maka dari itu, intensitas psikis dari lambang adalah produk gabungan dari faktor penentu kausal dan faktor penentu fmalistis, dan karena itu lebih besar daripada faktor kausal semata.

Jung tidak menyusun tahap-tahap perkembangan secara rinci. Perhatian utamanya tertuju pada tujuan-tujuan perkembangannya, khususnya tahap kedua tekanan perkembangannya terletak pada pemenuhan syarat social dan ekonomi, dan tahap ketiga ketika orang mulai membutuhkan nilai spiritual. Menurut Jung terdapat 4 tahap perkembangan:

Kanak-kanak (Lahir sampai Remain)

Jung membagi masa kanak-kanak menjadi tiga bagian, yaitu anarkis, monarkis, dan dualistis.

  • Pada fase anarkis dikarakteristikan dengan banyaknya kesadaran yang kacau dan sporadis. “pulau-pulau kesadaran” mungkin akan nampak, tetapi sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali hubungan diantara pualu-pulau kecil ini. Pengalaman pada fase anarkis terkadang masuk ke kesadaran sebagai gambaran yang primitif yang tidak mampu digambarkan secara akurat.
  • Fase monarki dikarakterisasikan dengan pekembangan ego dan mulainya masa berpikir secara logis dan verbal. Pada kurun waktu ini, anak-anak akan melihat dirinya sendiri secara objektif dan kerap mendeskrifsikan diri mereka sebagai orang ketiga. “pulau-pulau kesadaran” akan berkembang semakin besar, lebih banyak, dan lebih dihuni oleh ego primitif, walaupun ego dipersepsikan sebagai objek dan belum disadari sebagai penerima.
  • Ego sebagai penerima mulai tumbuh dalam fase dualistis pada saat ego terbagi menjadi objektif dan subjektif. Sekarang, anak-anak menyadari dirinya sendiri sebagai orang pertama dan mulai sadar akan eksistensinya sebagai individu yang terpisah. Selama masa tersebut pualau-pulau kesadaran menjadi sebuah pulau yang menyatu dan dihuni oleh ego kompleks yang menyadarivdirinya sebagai objek dan subyek.

Di porsi awal periode ini, energi libido diperluas kepada pembelajaran bagaimana berjalan, berbicara dan keahlian-keahlian lain yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidup. Setelah tahun kelima, semakin banyak energi libido diarahkan ke aktivitas-aktivitas seksual, dan fokus energi libido ini meraih puncaknya di masa remaja.

Dewasa Muda (Remain sampai Usia 40)

Periode yang ditandai dari pubertas sampai dengan masa pertengahan disebut dengan masa muda. Pemuda berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya, mereka mencoba bertahan untuk mencapai kebebasan fisik dan psikis dari orang tuanya, mendapatkan pasangan, membangun keluarga, dan mencari tempat didunia ini.

Menurut Jung, masa muda seharusnya menjadi periode ketika aktivitas meningkat, mencapai kematangan seksual, menumbuhkan kesadaran, dan pengenalan bahwa dunia dimana tidak ada masalah, seperti pada waktu kanak-kanak sudah tidak ada lagi. Kesulitan utama yang dialami anak-anak muda adalah bagaimana mereka bisa mengatasi kecenderungan alami (juga dialami pada masa pertengahan dan usia lanjut) untuk menyadari perbedaan yang teramat tipis antara masa muda dengan masa kanak-kanak, yaitu dengan menghindari masalah yang relevan pada masanya. Keinginana ini disebut dengn prinsip konservatif.

Seseorang yang berada diparuh baya atau lanjut usia yang berupaya untuk memegang nilai-nilai mudanya akan mengalami ketidakmampuan dalam menghadapi tahapan hidup setelahnya, dianggap tidak mampu dalam kapasitas mencapai realisasi diri, dan merusak kemampuannya dalam membangun tujuan baru serta mencari arti kehidupan.

Di tahap ini, energi libido terarah kepada pembelajaran untuk berkarier, menikah, membesarkan anak dan mencari jalan untuk berhubungan dengan kehidupan komunitas. Selama tahap inilah individu cenderung pergi ke tempat-tempat lain, energetik, impulsif dan penuh semangat.

Paruh Baya (Usia 40 sampai Usia Senia)

Jung percaya bahwa masa pertengahan atau paruh baya berawal di usia 35-40 tahun, pada saat matahari telah melewati tengah hari dan mulai berjalan menuju terbenam. Walaupun penurunan ini dapat menyebabkan sejumlah orang di usia ini meningkat kecemasannya, tetapi fase ini juga merupakan sebuah fase yang potensial.

Jika orang dimasa pertengahan dapat memegang teguh nilai moral dan sosial pada masa kecilnya, maka mereka dapat menjadi kokoh dan fanatik dalam menjaga ketertarikan fisik dan kemampuannya. Dalam usahanya menemukan idealisme, mereka akan berjuang keras untuk menjaga penampilan dan gaya hidup masa mudanya.

Menurut Jung kebanyakan dari kita tidak siap untuk mengambil langkah menuju masa atau fase berikutnya. Bahkan, lebih buruk lagi, kita mengambil langkah tersebut dengan asumsi yang salah bahwa keyakinan dan idealisme kita akan terus ada sampai saat ini. Kita tidak dapat hidup di fase berikutnya (masa senja) dengan mengandalkan kehidupan kita di masa muda karena segala sesuatu yang tampak baik dimasa muda, tidak akan terlihat baik dimasa tua, dan apa yang dianggap benar dimasa muda akan menjadi kebohongan dimasa tua.

Tahap perkembangan ini paling penting bagi Jung. Individu ditransformasi’ kan dari individu yang bersemangat, ektrover dan berorientasi biologis men“ jadi individu yang lebih menjunjung nilai budaya, filosofis dan spiritual Sekarang ia lebih banyak menyoroti hikmat dan makna hidup. Kebutuhan-kebutuhan yang harus dipuaskan di tahap ini sama pentingnya dengan tahap-tahap sebelumnya, meski kebutuhan-kebutuhan ini agak berbeda. Hidup kita seperti gerak matahari.

Di pagi hari, ia terus meraih kekuatan hingga meraih puncak panas di tengah hari. Lalu terus bergerak namun dengan kekuatan yang terus menurun Tetapi keliru besar jika mengasumsikan makna hidup tidak ada di saat muda dan berkembang. Senja kehidupan sama penuh maknanya dengan pagi; hanya saja makna dan tujuannya berbeda. Yang ditemukan dan harus ditemukan masa muda terletak di luar, sedangkan manusia di usia senja harus menemukannya di dalam dirinya sendiri. (1966, hlm. 74-75)

Karena selama paruh baya ini manusia mulai menentukan makna hidup, inilah waktunya ketika agama menjadi penting. jung yakin setiap individu memiliki sebuah kebutuhan spiritual yang harus dipuaskan, sama seperti kebutuhan akan makanan mesti dipuaskan. Namun, definisi Jung tentang agama ini’mencakup juga upaya sistematis apa pun untuk menghadapi Tuhan, roh-roh, setan-setan, hukum-hukum atau ideal-ideal. Kita melihat di bagian awal bab ini bahwa Jung tidak punya banyak kesabaran dengan jenis agama yang melibatkan denominasi religius dan dogma yang diterima begitu saja.

Jung yakin jika kemerosotan umum kehidupan religius di kalangan masyarakat modern telah menyebabkan sebuah disorientasi dalam pandangan dunia. Yang lebih spesifik lagi, ia menemukan jika absennya makna atau ekuilibrium Spiritual, yang awalnya disediakan oleh perspektif religius, telah menyebabkan keluhan-keluhan neurotik pasien-pasien paruh bayanya.

Dari semua pasien paruh baya saya, yaitu yang sesudah berusia 35 tahun, tidak ada yang masalahnya berujung pada sikap religius. Bahkan pada akhir’ nya, setiap orang menderita karena sudah kehilangan sentuhan agama yang hidup di usia berapa pun keyakinannya, dan tak satu pun yang sungguh sembuh tidak memperoleh kembali sikap religius mereka, yang biasanya tidak lagi berkaitan dengan kredo atau karena melekat ke sebuah gereja. (dikutip dari Wehr, 1987, hlm. 292) .

Masa Tua

Usia tua ditandai dengan tenggelamnya alam sadar ke alam tak dasar. Banyak diantara mereka yang mengalami kesengsaraan karena berorientasi pada masa lalu dan menjalani hidup tanpa tujuan.

Pada masa tua atau lanjut usia menjelang, orang akan mengalami penurunan kesadaran, seperti pada saat matahari berkurang sinarnya diwaktu senja. Jika orang merasa ketakutan dengan kehidupan di fase sebelumnya, maka hampir bisa dipastikan mereka akan takut dengan kematian pada fase hidup berikutnya. Takut akan kematian sering disebut sebagai proses yang normal, tetapi Jung percaya bahwa kematian adalah tujuan dari kehidupan dan hidup hanya bisa terepenuhi saat kematian terlihat.

Biasanya kita berpegangan pada masa lalu kita dan bertahan dengan ilusi masa muda. Menjadi tua bukanlah hal yang populer. Tidak ada yang memikirkan kemungkinan bahwa tidak bisa menjadi tua adalah sama tidak mungkinnya dengan menahan perkembangan sepatu anak-anak. Seorang anak muda yang tidak berjuang dan menaklukan, akan kehilangan bagian terbaik dari masa mudanya, dan seorang tua yang tidak tahu bagaimana cara mendengarkan cerita dari sebuah cerita saat mereka mulai jatuh dari kejayaan, akan dianggap tidak masuk akal. Ia akan menjadi mumi spiritual yang tidak akan menjadi seseorang kecuali menjadi tonggak masa lalu saja. (Jung, 1934/1969, hlm. 407)

Banyak pasien Jung berasl dari masa pertengahan atau lebih tua lagi dan banyak diantara mereka yang menderita akibat terlalu berorientasi masa lalu, susah payah bergantung pada gaya hidup dan tujuan masa lalu, serta menjalani alur hidup tanpa tujuan yang jelas.

Jung merawat orang-orang ini dengan membantu mereka membangun tujuan dan arti hidup baru dalam kehidupannya, dengan mempelajari arti kematian. Ia mendapatkan cara perawatan ini lewat sebuah interpretasi mimpi karena impian dari orang-orang berusia lanjut terkadang penuh dengan simbol kelahiran kembali, seperti perjalanan jauh atau perubahan lokasi. Jung menggunakan semua ini dan simbol-simbol yang menjelaskan ketidaksadaran pasiennya terhadap kematian dan membantu mereka untuk menemukan filosofi kehidupan yang berarti. (Jung, 1934/1960).

Tujuan Hidup

Menurut Jung, tujuan utama hidup adalah untuk mencapai realisasi-diri, atau sebuah campuran harmonis untuk banyak komponen dan kekuatan di dalam psikhe. Meski realisasi-diri tidak pernah tercapai lengkap, mendekatinya tetap melibatkan sebuah perjalanan panjang dan kompleks untuk penemuan-diri.

Realisasi-diri dan individuasi jalan beriringan. Individuasi mengacu kepada proses pendewasaan psikologis seumur hidup di mana koms ponen-komponen psikhe dikenali dan diberikan kesempatan untuk berekspresi. Jung yakin kalau individuasi, atau kecenderung menuju realisasidiri, inheren di semua makhluk hidup: “Individuasi adalah sebuah pengekspresian proses biologis -entah sederhana atau rumit-_ di mana setiap makhluk hidup menjadi apa yang ditakdirkan untuknya sejak awal” (dikutip dari Stevens, 1994, hlm. 62). Proses individuasi menggambarkan sebuah perjalanan pribadi menuju realisasi-diri, namun proses ini menyediakan satu hubungan penting di antara semua manusia. jung (1966, hlm. 178) mencatat:

Semakin kita menyadari diri lewat pengetahuan-diri, dan bertindak sesuai itu, semakin lapisan bawah-sadar pribadi yang melapisi bawah-sadar kolektif bakal lenyap. Dengan cara ini, muncullah kesadaran yang tidak lagi terpenjara di dalam dunia ego yang sempit, terlalu sensitif dan pribadi, namun berpartisipasi dengan bebas di dunia kepentingan objektif yang lebih luas. Komplikasi-komplikasi bukan lagi konflik-keinginan egoistik tetapi kesulitan untuk memikirkan orang lain sebanyak diri sendiri. Kita sekarang dapat melihat jika bawah-sadar menghasilkan isi-isi yang valid bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga orang lain, faktanya sebagian besar manusia bahkan mungkin semuanya. Di tempat lain, Jung (1969, hlm.292) menulis:

Proses ini, pada faktanya, merupakan realisasi spontan seluruh manusia. Semakin dia hanya ‘aku’, semakin dia memisahkan diri dari manusia kolektif, di mana dia juga menjadi bagiannya, bahkan mungkin menemukan dirinya berlawanan dengan dia. Namun, karena segala sesuatu yang hidup berjuang untuk meraih keutuhan, satu-sisi yang tak terelakkan dari kehidupan sadar kita terus dikoreksi dan dikompensasikan oleh manusia universal dalam diri kita, yang tujuannya adalah pengintegrasian ultimat kesadaran dan bawah-sadar, atau yang lebih baik lagi, pengasimilasian ego ke dalam kepribadian yang lebih luas.

Ketika realisasi-diri didekati, diri menjadi pusat baru kepribadian dan dialami sebagai hal yang tertunda di antara daya-daya psikhe yang berlawanan. Jung yakin diri disimbolkan paling tepat oleh mandala, kata Sanskerta yang artinya lingkaran. Diri dilihat sebagai pusat lingkaran, atau jalang tengah banyak polaritas yang membentuk psikhe. Jung menemukan banyak variasi mandala di budaya berbeda-beda seluruh dunia, mengindikasikan universalitasnya. Sama seperti semua arketipe yang lain, diri menciptakan sebuah kepekaan terhadap pengalaman tertentu, khususnya menyimbolkan keseimbangan, kesempurnaan dan harmoni seperti layaknya lingkaran. Diagaram dasar Taois, yin-yang, terkenal sebagai contoh mandala ini.

Namun, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki realisasi-diri? Menurut Jung, mereka terjebak di berbagai jenis masalah. Tingkatan masalah bergantung kepada bagaimana perkembangan kita berlangsung:

Manusia modern tidak memahami seberapa banyak ‘rasionalisme’-nya (yang sudah menghancurkan kemampuannya untuk merespons beragam simbol dan ide) sehingga ia pun diletakkan di hadapan belas-kasihan ‘dunia bawah tanah’ psikhe. Ia telah membebaskan diri dari ‘takhayul’ (atau begitulah yang dia percayai), namun dalam prosesnya justru kehilangan nilai-nilai spiritualnya hingga tingkat membahayakan. Tradisi moral dan spiritualnya sudah tercabik-cabik, dan sekarang harus membayar harga untuk keterceraiannya di dalam kehancuran dan ketercabikan seluruh dunianya. Ketika pemahaman ilmiah tumbuh, dunia menjadi terdehumanisasi.

Manusia pun merasa dirinya terisolasi di dalam kosmos karena ia tidak lagi terlibat di alam dan kehilangan ‘identitas bawah-sadar’ emosionalnya di fenomena alamiah. Perlahan, ini semua kehilangan implikasi-implikasi simboliknya. Guntur bukan lagi suara marah tuhan, kilat juga bukan senjata penghukumannya.

Tidak ada sungai yang mengandung roh, tidak ada pohon yang menjadi sumber hidup manusia, tidak ada ular yang mengusung hikmat, tidak ada gua di gunung yang menjadi rumah setan-setan. Tidak ada suara yang berbicara kepada manusia dari batu, tumbuhan dan hewan, pun tidak ia bisa mendengar dan mewujudkan keinginan mereka. Kontaknya dengan alam telah hilang, begitu pula energi emosi mendalam yang disediakan oleh hubungan simbolik ini. (Jung, 1964, hlm. 84-85) Jung yakin lebih banyak hal yang dibutuhkan untuk hidup daripada sekadar menjadi rasional. Bahkan Faktanya, dia yakin (1964, hlm. 71), mengabaikan bagian psikhe yang irasional justru penyebab masalah-masalah kita dewasa ini:

[Manusia kontemporer] buta kepada fakta bahwa, dengan semua rasionalitas dan efisiensinya, ia dikuasai oleh ‘kekuatan-kekuatan’ yang melampaui ke~ mampuannya mengendalikan. Para tuhan dan setannya tidak lenyap sama sekali; mereka hanya mendapatkan nama-nama baru. Mereka memaksanya terus berjalan dengan kejam, pemahaman samar-samar, komplikasi-kompi kasi psikologis, kebutuhan tak terhentikan akan pil, alkohol, tembakau, ma~ kanan -dan di atas semuanya, sejumlah besar neurosis.

Selain penitikberatan modernitas pada rasionalitas dan sains, arketipe terus memanifestasikan din’. Bahkan, di kontels teknologi zaman modern, arketipe tetap muncul. Contohnya, fenomena piring terbang. Menulis di masa Perang Dingin, lung (1978, hlm. 131) mengomentari piring terbang sebagai berikut:

Satu fenomena psikis jenis ini, berhembus layaknya rumor, memiliki kemampuan mengkompensasi yang signifikan, karena ia menjadi jawaban spontan bawah-sadar bagi situasi sadar saat ini, yaitu rasa takut yang diciptakan oleh situasi politik yang sepertinya sulit diselesaikan, yang kapan pun dapat mengarah ke bencana universal. Di masa-masa seperti itu, mata manusia diarahkan ke langit untuk memohon pertolongan, dan tanda-tanda ajaib pun muncul dari tempat tinggi, yang sifatnya mengancam atau meneguhkan

Kritik Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung

Teori Jung, seperti semua teori yang dibahas di buku ini, dikembangkan terus tanpa memedulikan kritik. Contohnya, ia dituduh terlalu ramah dengan okultisme, spiritualitas, mistisisme dan agama, semua wilayah yang dilihat banyak orang irasional. ]ung yakin jika dirinya banyak disalahpahami, dan menegaskan bahwa mempelajari hal-hal ini bukan berarti memercayainya. Sebaliknya, ia mempelajari hal-hal tersebut untuk mendapatkan informasi tentang bawah-sadar kolektif. Jung, seperti banyak teori kepribadian kontemporer, yakin jika metode ilmiah tidak dapat diaplikasikan ke studi yang topiknya sekompleks ini, sehingga metode ilmiah itulah yang bisa diabaikan, bukannya topik yang ditelitinya.

Teori Jung juga dikritik karena sulit dipahami, tidak jelas, tidak konsisten, bahkan kontradiktif. Iuga, konsepnya tentang realisasi-diri sudah dilabeli elit karena hanya yang pandai dan terdidik dengan waktu luang berlimpah yang bisa tiba di tingkat pemahaman-diri tertentu yang dibutuhkan bagi realisasi-diri. Batasan ini yang membuat teori Jung tertutup bagi banyak orang.

Akhirnya, teori Jung, seperti Freud, telah dikritik tidak bisa difalsifikasi, dan karenanya tidak ilmiah. Kecuali untuk beberapa riset tentang tipe-tipe psikologis dan fungsi-fungsi berpikir, riset empiris kecil sudah dilakukan dalam rangka memvalidasi komponen-komponen utama teori Jung. Konsepkonsep Iungian seperti prinsip ekuivalensi, entropi dan kebalikan, selain juga idenya tentang bawah-sadar kolektif dan realisasi-diri, masih belum dites. Karena teori Jung membuat sejumlah kecil prediksi berisiko, ia pun menghadapi risiko kecil untuk terbukti tidak benar. Namun Jung tidak begitu stres dengan observasi ini. Kecuali untuk risetnya bagi tes asosiasi-kata, Jung mencari validasi bagi teorinya tidak berada di dalam kondisi-kondisi laboratorium terkontrol, namun lebih di arena luas pengalaman manusia dan di dalam intuisi manusia.

Jung telah diserang oleh para psikoanalisis beraliran Freudian, mulai dengan Freud sendiri. Ernest Jones (1959) berpendapat bahwa sesudah Jung melakukan “penelitian-penelitian besarnya tentang asosiasi dan dementina praecox, maka ia jatuh ke dalam filsafat semu, dari mana ia tidak pernah keluar lagi” (hlm. 165) Glover (1950, psikoanalisis dari Inggris, melontarkan serangan yang mungkin paling menyeluruh terhadap psikologi analitik.

Ia menertawakan konsep arkhetipe-arkhetipe sebagai bersifat metafisik dan tidak dapat dibuktikan. Ia yakinbahwa arkhetipe-arkhetipe dapat di terangkan semata-mata berdasarkan pengalaman, dan bahwa mempostulasikan pewarisan ras adalah absurd. Glover berkata bahwa Jung tidak memiliki konsep-konsep perkembangan yang menerangkan pertumbuhan jiwa.

Akan tetapi, kritik terpenting dari Glover dan merupakan salah satu kritik yang di tegaskannya berkali-kali ialah bahwa psikologi Jung mundur kembali kepada psikologi kesadaran yang ketinggalan zaman. Ia menuduh Jung mematahkan konsep Freud tentang ketidaksadaran dan menggantikannya dengan menciptakan ego sadar. Glover tidak berpura-pura netral ataau tidak memihak dalam evaluasinya terhadap pskologi Jung. (untuk perbandingan lain antara pandangan Freud dan Jung, lihat Gray, 1949; juga Dry 1961). Selesnick (1963) menyatakan bahwa Jung selama bersatu dengan Freud, telah mempengaruhi pemikiran Freud dalam beberapa hal yang penting.[9]

Teori Jung banyak menyentuh dunia religious, baik memakai pandangan agama untuk memahami kehidupan jiwa manusia, atau sebaliknya memakai pendekatan fenomenologik daripsikologi untuk memahami agama. Teori Jung masih bersifat konsep-konsep yang membutuhkan banyak hipotesa dan uji eksperiman. Fikiran-fikiran dan konsep-konsep Jung yang orisinil dan berani dalam mengungkap isi-isi jiwa manusia, setara dengan karya Freud.

Jung di kritik dalam pemakaian metoda riset komparatif, pengabaian kontrol dalam eksperimen, dan konsepnya mengenai taksadar kolektif, bersifat spekulatif. Teorinya dikembangkan dari pengalaman-pengelaman pribadi, seperti halusinasi, depresi – keinginan bunuh diri, dan agresi, sukar di buktikan secara ilmiah. Ketertarikan/keterlibatannya dengan okultisme, agama dan mintologi, membuat semakin jauh dari analisis ilmiah

Adapun kritik terhadap teori Jung, diantaranya:

  1. Delapan subtype yang dikembangkan oleh Jung cukup rumit untuk dipahami.
  2. Walaupun Jung mengkritik teori ketidaksadaran Freud, sebenarnya Jung mengembangkan teori psikoanalisisnya Freud. Sehingga Jung dianggap mengembangkan teori sebelumnya dan bukan membuat teori baru.
  3. Teori Jung cukup rumit karena dalam penggambaran manusia tidak bisa dari satu sisi saja. Namun ini sekaligus menjadi keunggulan dalam teorinya karena memandang manusia tidak secara subjektif.

Di sisi positifnya, Jung dipuji karena banyak memberikan konsep orisinil bagi teori kepribadian. Dialah teorisi modern pertama yang mendiskusikan proses realisasi-diri ini, yang saat ini begitu populer di teori kepribadian. Dia juga teorisi modern pertama yang menekankan aspek masa depan bagi perilaku manusia.

Yang juga berkaitan dengan idenya ini, adalah penekanan teori kepribadian untuk mencari tujuan dan makna hidup manusia. Tema yang terakhir sekarang lebih dieksplorasi oleh teori-teori kepribadian eksistensial-humanistik. Teori Jung sangat optimis tentang takdir manusia, berbeda dari teori Freud yang pesimis. Teori Jung menekankan meraih kedirian sebagai motif uama perilaku manusia, lebih daripada impuls-impuls seks dan pengalaman-pengalaman awal yang ditekankan Freud.

Entah bagaimana, teori Jung menciptakan sebuah gambaran tentang psikhe yang diyakini sesuai zaman-zaman kita hidup. Ia menyisakan bagi kita sebuah gambaran psikhe yang didorong oleh masa lalu, ditarik oleh masa depan, dan upaya untuk memahami secara masuk akal masa kini. Adalah psikhe yang kompleks yang berusaha mengekspresikan berbagai komponennya. Psikhe seperti ini menghasilkan jangkauan luas perilaku dan kepentingan, dan beberapa di antaranya mungkin dianggap ganjil. Namun, di luar kritik yang diterima, teori Jungian tetap populer di lingkaran psikologi kontemporer.

Menurut Kirsch (2000), di pertengahan 1960-an, popularitas psiko’ logi Jungian mulai merosot dan kelompok-kelompok profesional Jungian mulai bertebaran di seluruh Eropa Barat dan Amerika Serikat. Di tahun 1970-an, kelompok-kelompok Jungian terbentuk di Amerika Latin, Austra/ lia dan Selandia Baru, selain juga mulai muncul minat di Afrika Selatan, Ief pang dan Korea. Di tahun 1989, minat kepada psikologi. analitik tersebar ke Eropa Barat dan bekas Uni Soviet. Dewasa ini, muncul juga minat di Cina sehingga, simpul Kirsch, ”saat ini, psikologi analitis sudah menjadi intemasional” (hlm. xxiv). Untuk bukti lebih jauh terkait popularitas teori Jungian di dalam psikologi kontemporer, lihat DeAngelis (1994).

  1. KELEBIHAN TEORI KEPRIBADIAN CARL GUSTAV JUNG
  2. Dapat menyelidiki sejarah manusia tentang asal usul ras dan evolusi kepribadian

Jung berpendapat bahwa sejarah manusia itu dari nenek moyang kita. Sehingga evolusi kepribadian manusia sangat erat kaitannya dengan nenek moyang dan pengaruh –pengaruhnya. Maka dari itu Jung menjelaskan bahwa kepribadian manusia itu tidak lepas dari keberadaan leluhur-leluhur kita.

  1. Dapat memberi ide-ide yang brilian terhadap konsep kepribadian.

Memang Jung itu tidak banyak dikenal dalam tulisan-tulisan. Tetapi Jung lebih banyak memberi masukan ide mengenai tulisan tersebut. Ide yang Jung dapatkan biasanya secara tidak sengaja  atau spontan yang kebetulan pikiran Jung itu sama dengan pikiran orang pada waktu itu. Akibat iklim intelektual yang sedang berlaku ternyata ide Jung itu menyebar luas. Contoh ide tersebut adalah  konsepsi tentang releasi diri. Konsepsi tersebut banya ditemukan di tulisannya Gold-Stein, Rogers,Angyal,Allport dll. Jung tidak pernah tercantum namanya dalam tulisan tersebut, hal ini tidak berarti bahwa Jung tidak berpengaruh , baik secara langsung maupun tidak langsung. Bisa jadi mereka meminjam ide Jung secara tidak sadar.

  1. Keberanian dan keaslian pemikiran Jung tidak ada yang menyamainya.
  2. Dalam sejarah perkembangan teori Jung memang terkenal teori yang beda dengan yang lain. Jung berani mengungkapkan sisi lain dibalik kepribadian manusia. Jung menyebutnya “Jiwa Manusia”. Dengan bertumbuhnya kecendurungan masyarakat Barat khususnya orang muda yang berfikir kearah introvensi, fenomenologi, eksistensialisme, meditai, kerohanian, ilmu mistik, ilmu gaib. Maka pendapat Jung akhir-akhir tahun ini mendapat tanggapan positif.
  3. Jung menyelidiki sejarah manusia untuk mengungkap apa saja yang bisa    diungkapnya tentang asal – usul ras dan evolusi kepribadian.

 

  1. Teori Jung memberikan tekanan yang kuat pada dasar–dasar ras dan filogenetik  kepribadian.

Kekurangan Teori Carl Gustav Jung

  1. Teori jung banyak mendapat kritikan dari ilmuan psikodinamis lainnya.

Teori jung banyak ditentang karena Jung menjelaskan teori itu tidak tepat. Misalkan saja Beberapa elemen dari ketidakskhuadaran kolektif menjadi sangat berkembang kemudian disebut sebagai arketipe – arketipe. Pengertian arketipe yang paling meluas adalah gagasan mengenai realisasi diri (self realization), yang hanya bisa dicapai dengan adanya keseimbangan antara dorongan-dorongan kepribadian yang berlawanan. Jadi, teori Jung mengungkapkan mengenai teori-teori yang berlawanan. Kepribadian seseorang meliputi introver dan ekstrover, rasional dan irrasional, laki-laki dan perempuan, kesadaran dan ketidaksadaran, serta didorong oleh kejadian-kejadian di masa laluyang ditarik oleh harapan-harapan di masa depan. Padahal teori itu tidak dapat dibuktikan dan Jung cenderung tidak memiliki konsep perkembangan yang menerangkan pertumbuhan jiwa.

  1. Teori ini lebih menjelaskan fenomena kepribadian dengan kekuatan gaib.

Teori Analitik Carl Jung berasumsi bahwa fenomena yang berhubungan dengan kekuatan ghaib atau magic  bisa dan memang berpengaruh pada kehidupan semua manusia. Jung percaya bahwa setiap dari kita termotivasi bukan hanya oleh pengalaman yang ditekan, namun juga oleh pengalaman emosional tertentu yang dipengaruhi oleh para leluhur yang sekarang disebut sebagai ketidaksadaran kolektif. Adanya ketidaksadaran kolektif pada teori Analitik Jung sekaligus menjadi pembeda paling mendasar terhadap teori Psikoanalisis Sigmund Freud.  Dengan menimbulkan perasaan tidak senang dikalangan psikolog.

  1. Banyak menggunakan simbol-simbol

Jung dalam idenya banyak menggunakan symbol-simbol yang tidak diketahui oleh semua orang , sehingga banyak psikolog yang tidak mengerti maksud dari ide Jung tersebut.

  1. Orientasi yang dibahas banyak, sedangkan pendapatnya selalu berkembang.

Jung terkesan tidak focus ketika dia mengungkapkan satu ide , belum dipahami oleh psikolog lainnya dia sudah mengungkapkan ide yang lain.

  1. Karya (tulisan) yang dihasilkan Jung banyak sekali dan bidang orientasinya sangat luas, sedang pendapatnya selalu berkembang sehingga teori teori Jung sebagai kesatuan tidak mudah dipahami.Gaya dari Jung dalam mengemukakan idenya dianggap oleh banyak psikolog tidak jelas, membingungkan dan tidak teratur. Oleh karena itu gagasan Jung banyak diabaikn orang

Studi Kasus

Jung adalah seorang sarjana dan seorang ilmuwan. Ia menemukan fakta-faktanya di mana-mana: dalam mitos-mitos kuno dan cerita-cerita dongeng modern; dalam kehidupan primitif dan peradaban modern; dalam agama Timur dan dunia-dunia Barat; dalam alkemi, astrologi, telepati jiwa dan kewaskitaan, dalam mimpi-mimpi dan penglihatan orang-orang normal; dalam antropologi, sejarah, kesusastraan, dan kesenian; dan dalam penelitian klinis dan eksperimental. Dalam sejumlah artikel dan buku, ia mengungkapkan data empiris yang menjadi dasar teorinya. Jung menegaskan bahwa ia lebih tertarik kepada penemuan fakta daripada perumusan teori-teori. ”Saya tidak memiliki sistem, saya berbicara mengenai fakta” (komunikasi pribadi dengan para penulis, 1954).

Karena sama sekali tidak mungkin meringkaskan sejumlah besar bahan empiris yang diberikan Jung dalam sejumlah tulisannya, kita terpaksa membatasi diri pada penyajian sebagian kecil saja dari penelitian khas yang dilakukan Jung.

Penelitian-penelitian pertama dari Jung yang menarik perhatian para psikolog menggunakan gabungan antara word association test dan gejala-gejala fisiologis emosi (Jung, 1973). Dalam word association test, suatu daftar baku kata-kata dibacakan kepada subjek satu demi satu dan orang itu disuruh menjawab dengan kata pertama yang muncul dalam pikirannya. Waktu yang dibutuhkan untuk menjawab kata dihitung dengan penghitung detik (stop watch). Dalam eksperimen Jung, perubahan-perubahan dalam pernapasan diukur dengan pneumograph yang diikatkan pada dada orang yang dites sedangkan perubahan-perubahan dalam daya konduksi elektris kulit diukur dengan psychogalvanometer yang diletakkan pada telapak tangan. Kedua pengukuran ini memberi bukti tambahan tentang reaksi-reaksi emosional yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata khusus pada daftar, karena sudah diketahui oleh umum bahwa pernafasan dan resistensi kulit dipengaruhi oleh emosi.

Jung menggunakan gejala-gejala ini untuk menggali kompleks-kompleks dalam diri pasien-pasien. Waktu yang terlalu lama dalam menjawab kata stimulus ditambah dengan pembahan pernapasan dan resistensi kulit menunjukkan bahwa suatu kompleks sudah berhasil disentuh dengan kata tersebut. Misalnya, apabila pernapasan orang menjadi tak teratur, resistansinya terhadap arus listrik menurun karena telapak tangannya berkeringat dan j awabannya terhadap kata ”ibu” sangat lambat, faktorfaktor ini mengisyaratkan adanya kompleks ibu. Apabila kata-kata lain yang berhubungan dengan ”ibu” diberi reaksi dengan cara yang sama, hal ini membenarkan adanya kompleks tersebut.

Seperti telah dikemukakan dalam bab yang terdahulu, Freud menerbitkan enam penelitian kasus yang panjang. Dalam setiap penelitian kasus ini, Freud berusaha menguraikan dinamika suatu keadaan patologis khusus, misalnya, Dora dan hysteria, Schreber dan paranoia. Kecuali beberapa studi kasus pendek yang diterbitkan sebelum terjadi keretakan hubungannya dengan Freud,

Jung tidak menulis satu pun penelitian kasus yang dapat disejajarkan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan Freud. Dalan Symbols of transformation (1952b), Jung menganalisis fantasi-fantasi seorang wanita muda Amerika yang dikenalnya hanya melalui suatu artikel dari psikolog Swiss, Theodore Flournoy.

Ini sama sekali bukan penelitian kasus; begitu pula analisisnya tentang serangkaian mimpi yang panjang dalam Psychology and alchemy (1944) atau analisisnya tentang serangkaian lukisan yang dikerjakan oleh seorang pasien dalamA study in the process ofindividuation (1950).

Dalam kasus-kasus ini, Jung menggunakan metode perbandingan dengan memakai sejarah, mitos, agama, dan etimologi untuk membuktikan dasar arkhetipe dari mimpimimpi dan fantasi-fantasi. Setelah perpecahannya dengan Freud, metode perbandingannya ini memberinya data dasar dan dukungan pokok bagi konsep-konsepnya.

Pembaca mungkin tidak akan dapat merangkumkan karyanya yang begitu banyak seperti Psychology and alchemy (1944), Alchemical studies (1942-1957 ),Aion (1951), dan M ysterium coniunctionis (1955b). Akan tetapi, pembaca akan menemukan contoh metodologi perbandingan Jung yang mudah dicernakan dalam Flying saucers: a, modern myth of things seen in the sky (1958), yang ditulis oleh Jung di masa tuanya.

Karena bukti tentang arkhetipe-arkhetipe sulit diperoleh hanya dari sumber-sumber kontemporer, maka Jung menaruh perhatian banyak pada mitologi, agama, alkemi, dan astrologi. Ia meneliti bidang-bidang yang telah diselidiki oleh beberapa psikolog, dan ia memperoleh banyak pengetahuan dalam bidang-bidang yang sulit dan kompleks, seperti agama Hindu, Taoisme, Yoga, Confucianisme, agama Kristen, astrologi, penelitian psikis, mentalitas primitif, dan alkemi.

Salah satu contoh yang sangat mengesankan dari usaha Jung dalam mengumpulkan bukti-bukti adanya arkhetipe-arkhetipe as bisa ditemukan dalam Psychology and alchemy (1944). Jung akin bahwa simbolisme alkemi yang kaya mengungkapkan banyak kalau bukan semua, arkhetipe manusia. Dalam Psychology and Alchemy ia menyelidiki suatu rangkaian luas mimpi yang dikumpulkan dari seorang pasien (bukan pasien Jung) berdasar. kan jalinan rumit dari simbolisme alkemi, dan ia menyimpulkan bahwa ciri-ciri dasar yang sama nampak pada keduanya. Itu merupakan karya seni analisis simbolis yang harus dibaca secara keseluruhan agar bisa menikmatinya. Beberapa contoh yang akan kami kemukakan dimaksudkan untuk memberikan kepada pembaca sekedar gambaran tentang metode Jung.

Bahan klinisnya terdiri atas lebih dari seribu mimpi dan penglihatan yang diperoleh dari seorang pemuda. Interpretasi dari sebagian yang dipilih dari mimpi-mimpi dan penglihatanpenglihatan ini mengisi paruh pertama buku. Sisanya berisi uraian ilmiah tentang alkemi dan hubungannya dengan simbolisme agama.

Dalam salah satu mimpi, sejumlah orang berjalan ke kiri mengelilingi lapangan persegi. Orang yang bermimpi tidak berada di tengah melainkan berdiri pada salah satu sisi. Mereka berkata bahwa seekor siamang harus disusun kembali (hlm. 1 19). Lapangan persegi itu adalah simbol dari tugas ahli alkemi, yakni memecahkan kesatuan asli serba kacau dari bahan pertama ke dalam empat unsur yang siap dipersatukan kembali ke dalam kesatuan yang lebih tinggi dan lebih sempurna.

Kesatuan yang sempurna digambarkan oleh lingkaran atau mandala yang tampak dalam mimpi, yakni berjalan mengelilingi lapangan persegi. Siamang atau kera melambangkan substansi alkemi yang misterius dan bersifat mentransformasikan, yakni bahan alkemi yang mengubah bahan dasar menjadi emas. Karena itu, mimpi ini menunjukkan bahwa pasien harus memindahkan ego sadarnya dari pusat kepribadian agar dorongan-dorongan primitif yang direpresikan bisa diubah.

Pasien hanya dapat mencapai keharmonisan batin dengan mengintegrasikan semua unsur dalam kepribadiannya, sama seperti ahli alkemi hanya dapat mencapai tujuannya (yang tidak pernah terjadi) dengan mencampurkan secara tepat unsur-unsur dasar. Dalam mimpi lain, sebuah gelas yang berisi zat agar-agar berdiri di atas meja di depan orang yang bermimpi (hlm. 168). Gelas disamakan alat alkemi yang digunakan untuk destilasi dan isinya adalah bahan tidak berbentuk yang diharapkan oleh ahli alkemi akan berubah menjadi lapis atau batu sang filsuf. Lambang-lambang alkemi dalam mimpi ini menunjukkan bahwa orang yang bermimpi itu berusaha atau mengharapkan supaya dirinya diubah menjadi sesuatu yang lebih baik.

Jika orang memimpikan air, hal itu menggambarkan daya regeneratif aqua vitae (air hidup) dari sang ahli alkemi; jika ia bermimpi mendapat bunga berwarna biru, maka bunga melambangkan tempat kelahiran fil ius philosophorum (wajah hermafroditik dari alkemi); dan jika ia bermimpi melemparkan mata uang emas ke tanah maka ia mengungkapkan cemoohannya terhadap cita-cita ahli alkemi. Apabila pasien menggambarkan roda maka Jung melihat hubungannya dengan roda ahli alkemi, yang melambangkan proses perputaran dalam tabung kimia di mana akan terjadi transformasi bahan. Dalam nada yang serupa, Jung menginterpretasikan permata yang muncul dalam mimpi pasien sebagai lapis yang didambakan, sedangkan telur ditafsirkan sebagai bahan dasar kaotik dengan mana ahli alkemi memulai pekerjaannya.

Dalam semua mimpi pada rangkaian di atas, sebagaimana diperlihatkan Jung, maka terdapat paralel yang kuat sekali antara lambang yang digunakan orang yang bermimpi untuk mengungkapkan masalah-m asalah dan tujuan-tujuannya dengan lambang-lambang yang digunakan ahli-ahli alkemi pada abad pertengahan dalam melaksanakan tugasnya.

Segi yang mencolok dari rangkaian mimpi adalah gambaran yang sedikit banyak cocok dengan aspek-aspek bahan alkemi. Jung dapat menunjukkan duplikasi yang tepat antara obj ek-objek dalam mimpi-mimpi dan dalam ilustrasi-ilustrasi yang ditemukan dalam teks-teks alkemi kuno. Ia menyimpulkan dari hal ini bahwa dinamika kepribadian ahli alkemi abad pertengahan sebagaimana diproyeksikan ke dalam penelitian-penelitian kimianya dan dinamika kepribadian pasiennya persis sama.

Kesamaan dari gambaran-gambaran ini membuktikan adanya arkhetipe-arkhetipe universal. Tambahan lagi, Jung yang telah melakukan penelitian-penelitian antropologis di Afrika dan di bagian dunia lainnya, menemukan arkhetipe-arkhetipe sama yang diungkapkan dalam mitos-mitos bangsa primitif. Arkhetipe-arkhetipe itu juga diungkapkan dalam agama dan kesenian baik yang modern maupun yang primitif. ”Bentuk-bentuk yang dialami dalam masing-masing individu mungkin Variasi-variasinya tak terhingga, tetapi dalam lambang-lambang alkemis, semua bentuk itu merupakan variasi dari tipe-tipe pokok tertentu, dan ini terjadi di mana-mana” (Jung, 1944, hlm. 463).

Sama seperti Freud, Jung sangat memperhatikan mimpi-mimpi. Ia melihat bahwa isi mimpi-mimpi bersifat prospektif dan retrospektif dan merupakan kompensasi bagi aspek-aspek orang yang bermimpi yang diabaikan dalam kehidupan sadar. Misalnya, seorang pria yang mengabaikan animanya akan memiliki mimpimimpi di mana figur-figur animanya nampak. Jung juga membedakan antara mimpi-mimpi ”besar” di mana banyak terdapat bayangan-bayangan arkhetipe dan mimpi-mimpi ”kecil”, yakni mimpi-mimpi yang lebih erat hubungannya dengan pikiran-pikiran sadar dari orang yang bermimpi.

METODE AMPLIFIKASI. Metode ini dipakai Jung untuk menjelaskan unsur-unsur tertentu dalam mimpi-mimpi yang dianggap memiliki arti simbolik yang kaya. Metode ini berbeda dengan metode asosiasi bebas. Dalam asosiasi bebas, orang biasanya memberikan serangkaian jawaban dengan kata-kata (verbal) yang panjang terhadap suatu unsur mimpi. Unsur mimpi hanya merupakan titik tolak bagi asosiasi-asosiasi bebas yang berikutnya, dan asosiasi-asosiasi dapat dan biasanya benar-benar bergeser dari unsur itu.

Dalam metode amplifikasi, orang yang bermimpi diminta untuk mempertahankan unsur tersebut dan memberinya asosiasi-asosiasi ganda. J awaban-jawaban yang diberikannya membentuk konstelasi sekitar unsur mimpi khusus, dan memberi banyak arti bagi orang yang bermimpi. Jung beranggapan bahwa lambang sejati adalah lambang yang memiliki banyak muka dan sama sekali tidak pernah dapat diketahui maknanya.

Para analis dapat juga membantu menjelaskan unsur itu dengan mengutarakan apa yang mereka ketahui tentang lambang itu. Mereka dapat mencari keterangan dari tulisan-tulisan kuno, mitologi, ceritacerita dongeng, teks-teks agama, etnologi, dan kamus-kamus etimologi untuk memperluas arti-arti dari unsur simbolik itu. Ada banyak contoh amplifikasi dalam tulisan-tulisan Jung, misalnya ikan ( 1951) dan pohon (1954c).

METODE RANGKAIAN MIMPI. Kita tahu bahwa Freud menganalisis mimpi-mimpi satu demi satu dengan menyuruh pasien melakukan asosiasi bebas terhadap setiap komponen mimpi berturut-turut. Kemudian dengan menggunakan bahan mimpi dan asosiasi-asosiasi bebas, Freud sampai pada interpretasi tentang arti mimpi. Meskipun tidak menolak pendekatan ini, namun Jung telah mengembangkan metode lain untuk menginterpretasikan mimpi-mimpi. Daripada hanya satu mimpi, Jung menggunakan suatu rangkaian mimpi yang diperoleh dari seseorang.

… mereka (mimpi-mimpi) membentuk suatu rangkaian yang koheren, sehingga maknanya berangsur-angsur tersingkap dengan sendirinya. Rangkaian adalah konteks yang diberikan sendiri oleh orang yang bermimpi. Seakan-akan tidak hanya satu teks tetapi banyak teks terletak di hadapan kita, yang memancarkan cahaya dari semua sisi dalam istilah-istilah yang tidak diketahui, sehingga dengan membaca semua teks cukuplah untuk menjelaskan bagianbagian yang sulit dalam masing-masing teks Tentu interpretasi tentang masing-masing bagian semata-mata berdasarkan terkaan, tetapi rangkaian secara keseluruhannya memberi kita semua petunjuk yang diperlukan untuk mengoreksi setiap kekeliruan yang mungkin ada dalam bagian-bagian sebelumnya (1944, hlm. 12).

Dalam psikologi, hal ini disebut metode konsistensi internal (internal consistency), dan digunakan secara luas untuk bahan kualitatif, seperti mimpi-mimpi, cerita-cerita, dan fantasi-fantasi. Penggunaan metode ini dengan sebaik-baiknya diperlihatkan Jung dalam bukunya Psychology and alchemy ( 1944) di mana suatu rangkaian mimpi yang sangat panjang dianalisis.

METODE IMAJINASI AKTIF. Dalam metode ini subjek disuruh memusatkan perhatiannya pada gambaran mimpi yang mengesankan tetapi tidak dapat dimengerti, atau pada gambaran visual yang spontan dan mengamati apa yang terjadi dengan gambaran itu. Kemampuan-kemampuan untuk mengritik harus ditangguhkan, dan peristiwa-peristiwa itu diamati dan dicatat dengan sungguh-sungguh objektif.

Apabila kondisi-kondisi ini diamati dengan tekun, maka gambarannya biasanya akan mengalami suatu rangkaian perubahan yang menjelaskan sejumlah besar bahan tak sadar. Contoh berikut diambil dari Essays on a science of mithology karangan Jung dan Kerenyi (1949); Saya melihat seekor burung putih dengan sayap terentang. Burung itu hinggap pada sosok tubuh seorang wanita yang berpakaian biru, yang duduk di sana seperti patung antik. Burung itu bertengger pada tangannya, dan di tangannya itu ada sebutir gandum. Burung itu mencotoknya dan terbang lagi ke udara (hlm. 229).

Jung menunjukkan bahwa menggambar, melukis dan mematung dapat digunakan untuk melukiskan aliran imaji-imaji. Dalam contoh di atas, orang melukis suatu gambar untuk mengiringi deskripsi verbalnya. Dalam gambar itu, wanitanya digambarkan memiliki buah dada besar yang memberi kesan pada Jung bahwa khayalan tersebut mengungkapkan figur ibu. [Suatu seri yang terdiri dari 24 gambar menarik yang dilukis oleh seorang wanita selama ia dianalisis, disajikan dalam Jung (1950).]

Fantasi-fantasi yang ditimbu Ikan oleh imanjinasi aktifbiasanya memiliki bentuk yang lebih baik daripada mimpi-mimpi pada malam hari, karena fantasi-fantasi tersebut diterima oleh kesadaran dalam keadaan jaga bukan dalam keadaan tidur.

Daftar Pustaka