Teori Humanistik dalam Pernikahan

You are here:
< Back

Pernikahan merupakan peristiwa penting dalam hidup seseorang dan diharapkan terjadi sekali seumur hidup, sehingga perlu dipersiapkan sebaik dan sematang mungkin. Pernikahan merupakan awal terbentuknya keluarga, karena di dalamnya akan ada ayah, ibu dan anak, sehingga proses awal pembentukannya yang berawal dari pasangan suami istri perlu memperoleh konseling agar pernikahan yang akan dilaksanakannya memperoleh kebahagiaan. Keluarga merupakan sistem sosial yang alamiah, berfungsi membentuk aturan-aturan, komunikasi, dan negosiasi di antara para anggotanya. Ketiga fungsi keluarga ini mempunyai sejumlah impliaksi terhadap perkembangan dan keberadaan para anggotanya. Keluarga melakukan suatu pola interaksi yang diulang-ulang melalui partisipasi seluruh anggotanya. Strategi-strategi konseling keluarga terutama membantu terpeliharanya hubungan-hubungan keluarga, juga dituntut untuk memodifikasi pola-pola transaksi dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang mengalami perubahan.

Dalam realitasnya ada pasangan calon pengantin yang mengalami sindrom atau kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi dalam pernikahannya, sehingga mereka perlu memperoleh bimbingan terhadap hal-hal yang akan terjadi dalam pernikahan, agar kekhawatiran yang terjadi dalam pernikahannya dapat diminimalisir. Dalam hal ini terdapat juga orang yang merasa bimbang untuk memasuki ke gerbang pernikahan. Dalam hal ini dapat dilakukan konseling dengan beberapa pendekatan, di antaranya adalah pendekatan humanistik.

Konsep Pernikahan Humanistik

Menurut Rogers, pernikahan terlalu sering didasarkan pada asumsi usang, simplistik, keliru, dan egois. Para pasutri sering yakin bahwa hanya dengan cinta atau keterikatan satu sama lain maka pernikahan bisa bertahan. Rogers mengumpulkan banyak pernyataan yang diyakini mensinyalkan asumsi yang berbahaya ini:

Aku cinta kamu – Kami saling mencintai – Aku mengikatkan diri sepenuhnya padamu dan demi kebahagiaanmu – Aku lebih peduli padamu daripada diri sendiri – Kita akan berusaha sebaik mungkin untuk keindahan pernikahan ini – Kami mempertahankan lembaga pernikahan yang suci, dan itulah yang mensakralkan kami Kami bersumpah setia satu sama lain sampai maut memisahkan – Kami ditakdirkan untuk hidup bersama-sama.

Sebagaimana diketahui bahwa bimbingan pernikahan termasuk dalam bimbingan keluarga, yang merupakan upaya pemberian bantuan kepada individu sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan/ berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia. Bimbingan keluarga juga membantu individu yang akan berkeluarga memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga sehingga individu siap menghadapi kehidupan keluarga. Bimbingan keluarga juga membantu anggota keluarga dengan berbagai strategi dan teknik berkeluarga yang sukses, harmonis dan bahagia.

Pendekatan humanistik termasuk di dalamnya adalah konseling keluarga, di mana di dalamnya membahas bagaimana struktur dan komunikasi dalam keluarga akan berlangsung, sehingga sebuah keluarga akan berjalan sebagaimana mestinya dengan menjalankan perannya masing-masing, sehingga akan memperoleh kebahagiaan.

Konseling keluarga tidak menghilangkan signifikansi proses intrapsikis yang sifatnya individual, tetapi menempatkan perilaku individu dalam pandangan yang lebih luas. Perilaku individu itu dipandang sebagai suatu yang terjadi dalam sistem sosial keluarga. Dengan demikian, ada perubahan paradigma dari cara- cara tradisional dalam memahami perilaku manusia ke dalam epistimologi cybernetic. Paradigma ini menekankan mekanisme umpan balik beroperasi dan menghasilkan stabilitas serta perubahan. Konselor keluarga lebih memfokuskan pemahaman proses keluarga daripada mencari penjelasan- penjelasa yang sifatnya linier.

Carl Rogers memperkenalkan suatu pendekatan dalam konseling pada diri klien. Selama wawancara konseling berlangsung, klien diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengekspresikan diri dan emosinya serta dipercayakan utnuk memikul sebagian besar tanggung jawab bagi pemecahan masalahnya. Pendekatan ini mulai diperkenalkan pada tahun 1951 (Meyer dan Meyer, dalam Subandi, 2003: 39).

Dalam hal ini Rogers sangat yakin, bahwa pengalaman individual yang sesungguhnya hanya dapat diketahui secara lengkap oleh individu itu sendiri, bahwa seseorang akan merupakan sumber informasi yang terbaik mengenai dirinya sendiri. pelaku pernikahan atau calon pengantinlah yang sangat mengetahui masalah yang dihadapi, kekhawatiran yang muncul menjelang pernbikahan, sehingga dengan pendekatan ini diharapkan calon pengentin dapat mempersiapkan pernikahannya dalam rangka menuju kebahagiaan.

Pendekatan Humanistik ini oleh Carl Rogers disebut sebagai “Person Centered” berorientasi monistik. Artinya ia memandang manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dengan pembawaan dasar yang baik, memiliki kecenderungan yang bertujuan positif, konstruktif, rasional, sosial, berkeinginan untuk maju, realistik, memiliki kapasitas untuk menilai diri dan mampu membawa dirinya untuk bertingkah laku sehat dan seimbang, cenderung berusaha untuk mengaktualisasikan diri, memperoleh sesuatu dan mempertahankannya. Setiap manusia memiliki harga dan martabat dirinya, sehingga dengan didukung oleh pembawaan dasarnya maka setiap manusia akan siap dan mampu untuk mengatasi masalahnya (Patterson, 1986: 45)

Pendekatan humanistik ini berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan ini bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia

Menurut Rogers semua pernyataan itu melewatkan satu hal penting bahwa agar sebuah pernikahan bisa berjalan harus tercipta kondisi yang egaliter, memperkaya dan memuaskan bagi kedua pasangan. Pernikahan adalah proses dinamis dimana kedua pasangan terus bertumbuh. Satu-satunya sumpah perkawinan masuk akal yang bisa dibuat, menurut Rogers adalah “Kami berkomitmen satu sama lain untuk berupaya bersama menghadapi proses yang terus berubah dari hubungan kekinian kami karena hubungan itu terus memperkaya cinta dan hidup kami, dan kami ingin itu terus tumbuh. Karena pernikahan yang baik melibatkan saling menguntungkan kedua pihak.”

Yang baik dari pasangan-pasangan yang sudah belajar filsafat berpusat pribadi dari kelompok diskusi, pertemuan kelompok, atau terapi individu. Rogers menyimpulkan tema-tema itu berikut ini:

“Kesulitan yang ada sekarang ini didalam hubungan yang kebih terbuka. Komunikasi jadi lebih terbuka, lebih riil, disertai saling mendengarkan. Kedua pasangan makin menyadari artinya perpisahan. Tumbuhnya independensi pada wanita diakui sebagai hal yang bernilai di dalam hubungan. Muncul pengakuan makin besar tentang pentingnya rasio setara emosi, dan penalaran setara perasaan. Terjadi gerak maju untuk mengalami lebih besar lagi rasa saling percaya, pertumbuhan pribadi dan kepentingan bersama. Peran, dan harapan akan peran, cenderung menjauh digantikan oleh pribadi yang memilih cara terbaiknya bersikap. Muncul lebih banyak penerimaan lebih realistic kebutuhan satu sama lain yang bisa saling dipengaruhi orang lain. Hubungan yang disebut satelit bisa saja dibentuk oleh kedua belah pihak, dan seringkali ini menimbulkan rasa sakit sekaligus pengayaan seiring pertumbuhannya” (Rogers, dalam  Olson & Hergenhahn: 804).

Rogers mengelaborasikan lebih jauh konsep hubungan satelit ini sebagai berikut: Hubungan satelit berarti hubungan sekunder yang dekat di luar pernikahan yang bisa saja melibatkan hubungan seks atau tidak, namun yang dinilai sangat tinggi. Ketika dua individu yang sedang menjalin hubungan belajar melihat satu sama lain sebagai pribadi yang terpisah, dimana pemisahan terjadi pada minat dan kebutuhan mutualistic, maka mereka sepertinya menemukan bahwa hubungan diluar dapat memenuhinya.

Konsep hubungan satelit pastinya menimbulkan rasa cemburu. Namun bagi Rogers, rasa cemburu ini justru memperlihatkan adanya rasa posesif: “Taraf dimana rasa cemburu ini dibentuk dari rasa posesif, maka penggubahan rasa ini akan membawa perbedaan mendalam didalam politik hubungan pernikahan. Taraf dimana setiap pasangan menjadi agen yang sungguh bebas, maka relasi hanya bisa permanen jika kedua pasangan terikat satu sama lain, berada didalam komunikasi yang baik satu sama lain, menerima diri masing-masing sebagai pribadi yang berbeda, dan hidup bersama sebagai pribadi-pribadi, bukan peran. Jenis hubungan yang baru dan dewasa seperti ini membutuhkan perjuangan berat bagi banyak pasangan (ibid, hal 805).

Rogers mendeskripsikan pasangan nikah yang sanggup menaklukkan rasa posesif dan cemburu yang terkait dengannya sebagai berikut: “Fred dan Trish berupaya membuat pernikahan mereka sebagai suatu hubungan dimana nilai pokok diletakkan ke masing-masing pihak sebagai pribadi. Mereka sudah berusaha berbagi didalam pengambilan keputusan, menginginkan setiap dari mereka punya bobot hak yang setara. Masing-masing sepertinya menghindari, hingga taraf yang tidak begitu lazim, kebutuhan apapun yang memiliki atau mengontrol satu sama lain. Mereka sudah mengembangkan sebuah rekanan yang didalamnya hidup mereka terpisah sekaligus bersama. Mereka masing-masing punya hubungan hubungan lain diluar pernikahan, dan interaksi inti mini sering kali bersifat seksual. Mereka sudah mengkomunikasikan secara terbuka terkait hubungan-hubungan ini dan sepertinya bisa menerimanya sebagai hal yang alamiah demi menghargai kehidupan pribadi masing-masing didalam pernikahan. Mereka menyukai gaya hidup ini, sebuah pernikahan berpusat pribadi dan jauh dari batasan konvensional” (ibid, hal 805).

Mengizinkan hubungan satelit yang intim di sebuah pernikahan sepertinya lebih mudah diterima secara intelektual daripada emosi karena begitu banyak pasangan yang sudah mencobanya tetap saja berakhir dengan perceraian. Agar jenis hubungan ini bisa diterima kedua pasangan nikah, masing-masing harus bisa menerimanya di tingkat intelektual sekaligus emosi.

Adanya ikatan dan kesatuan antara suami istri yang terikat dalam pernikahan akan mendatangkan kebahagiaan dalam pernikahannya. Hal ini memang relatif karena kebahagiaan adalah bersifat relatif dan subyektif. Subyektif oleh karena kebahagiaan bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lain. Relatif karena sesuatu hal yang pada suatu waktu dapat menimbulkan kebehagiaan, pada waktu yang lain hal tersebut mungkin tidak lagi menimbulkan kebahagiaan. Hal ini akan terkait dengan pada frame of reference dari individu yang bersangkutan. Walaupun kebahagiaan itu bersifat subyektif dan relatif, adanya ukuran atau patokan umum yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa keluarga itu merupakan keluarga yang bahagia atau welafare. Keluarga bahagia merupakan keluarga yang bila dalam keluarga tersebut tidak terjadi kegoncangan-kegoncangan atau pertengkaran-pertengkaran sehingga keluarga itu berjalan dengan smooth tanpa goncangan-goncangan yang berarti (frame from quarelling) (Walgito, 2010: 14).

Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan bersifat kekal. Ini berarti bahwa pernikahan perlu diinsyafi hanya sekali untuk selamanya, dan berlangsung seumur hidup. Hal ini diharapkan, pasangan tersebut akan berpisah jika salah satu pasangannya meninggal dunia artinya yang dapat memisahkan hanyalah kematian. Dengan adanya bimbingan konseling pra nikah melalui pendekatan humanistik, diharapkan pasangan yang akan menikah akan memperoleh kebahagiaan.

Daftar Pustaka