Teori Kebutuhan (Abraham Maslow)

You are here:
< Back

Teori Abraham Maslow tentang motivasi manusia dapat diterapkan pada hampir seluruh aspek kehidupan social. Sebagian besar hasrat dan dorongan pada seseorang adalah saling berhubungan. Karena hal tersebut itu tidak berlaku pada kebutuhan-kebutuhan tertentu yang bersifat fundamenta, seperti rasa lapar,namun jelas berlaku untuk jenis-jenis kebutuhan yang lebih kompleks seperti cinta. Sebagian besar penelitian Maslow, mengandaikan bahwa kebutuhan-kebutuhan dapat diisolasikan dan diteliti satu persatu, di pandang dari segi cara dan tujuan penelitian itu dilakukan. Pemahaman yang tuntas mengenai motivasi menuntut tekanan perhatian pada hasil atau tujuan fundamentalnya sendiri, bukan pada cara yang ditempuh untuk mencapai tujun tersebut.

Konsep fundamental dari teori Maslow menyebutkan, Manusia dimotivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan itu merupakan ini dari kodrat manusia, hanya saja terkadang manusia itu lemah, mudah tertipu dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang keliru. Suatu sifat dapat dipandang sebagai kebutuhan dasar jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Ketidak-hadirnya menimbulkan penyakit
  2. Kehadirannya mencegah timbulnya penyakit
  3. Pemulihannya menyembuhkan penyakit
  4. Dalam situasi-situasi tertentu yang sangat kompleks dan di mana orang bebas memilih, orang yang datang berkekurangan ternyata mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan jenis-jenis kepuasaan lainnya.
  5. Kebutuhan itu tidak aktif, lemah atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.

Kebutuhan Dasar Manusia menurut Abraham Maslow

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsure-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkatkan yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya. Ciri kebutuhan dasar mansia:Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat hekterogen. Setiap pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama,akan tetapi karena budaya, maka kebutuhan tersebut ikud berbeda. Dalam memenuhi kebutuhan manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada.

Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut ( potter dan patricia, 1997 ):

  • Kebutuhan fisiologis/ dasar
  • Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
  • Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
  • Kebutuhan untuk dihargai
  • Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kebutuhan Fisiologi/ Dasar

Fisiologi adalah turunan biologi yang mempelajari bagaimana kehidupan berfungsi secara fisik dan kimiawi. Fisiologi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan,organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan.

Menurut Abraham Maslow kebutuhan fisiologi sangat mendasar, paling kuat dan paling jelas dari antara sekian kebutuhan adalah untuk mempertahankan hidupnya secara fisik. Yaitu kebutuhan untuk makan, minum,tempat tinggal, sexs tidur dan oksigen. Manusia akan menekan kebutuhannya sedemikian rupa agar kebutuhan fisiologis (dasar)nya tercukupi. Sebagai contoh:

  • Pengeluaran zat sis, di mana seseorang harus mengeluarkan zat-zat sisa yang sedah tidak terpakaioleh tubuh. Karena jika tidak di kelurkan akan mengakibatkan penyakit/pembentukan penyakit.
  • Oksigen (O2) merupakan salah satu kebutuhan vital untuk kehidupan kita. Dengan mengkonsumsi oksigen yang cukup akan membuat organ tubuh berfungsi dengan optimal. Jika tubuh menyerap oksigen dengan kandungan yang rendah dapat menyebabkan kemungkinan tubuh mengidap penyakit kronis. Sel-sel tubuhyang kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan perasaan kurang nyaman, takut atau sakit. Menguap adalah salah satu sinyal tubuh kekurangan oksigen selain karena mengantuk.

Kebutuhan Akan Rasa Aman

Kebutuhan akan rasa aman ini baiasanya terpuaskan pada orang-orang yang sehat dan normal.Seseorang yang tidak aman akan memiliki kebutuhan akan keteraturan dan setabilitas yang sanggat berlebihan dan menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak di harapkannya.berbeda dengan orang yang merasa aman dia akan cenderung santai tanpa ada kecemasan yang berlebih. Perlindungan dari udara panas/dingin, cuaca jelek, kecelakaan,infeksi, alergi, terhindar dari pencurian dan mendapatkan perlindungan hokum. Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dariteror, dan lain sebagainya. Sebagai contoh:

  • Seseorang membangun rumah untuk melindungi diri dari hujan panas memenuhi kepuasan untuk dirinya
  • Saat indonesia di jajah kita melawan penjajah tersebut dan akhirnya merdeka karena saat terjajah kita tidak merasa amanan.

Kebutuhan Social

Kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan rasa memiliki tempat di tengah kelomoknya. Sebagai contoh:

  • Dimana seseorang yang mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama membuat suatu kelompok/berkumpul karena mereka ingin diperhatikan dalam tujuannya dan dapat memberikan perhatian atas klompok tersebut.
  • Kebutuhan cinta seorang anak oleh ibunya, itu sanggat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak misal seorang anak tercukupi kebutuhan akan kasih sayang maka perkembangan anak akan optimal berupa fisik maupun psikologinya karena perhatian yang di berikan ibu kepada anaknya.

Kebutuhan Akan Penghargaan

Maslow menemukan bahwa setiap orang memiliki dua kategori kebutuhan akan penghargaan yakni:

  1. Harga diri adalah penilaian terhadap hasil yang di capai dengan analisis, sejauh mana memenuhi ideal diri. Jika individu selalu sukses maka cenderung harga dirinya akan tinggi dan jika mengalami kegagalan harga diri menjadi rendah. Harga diri di peroleh dari diri sendiri dan orang lain. Harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidak tergantungan dan kebebasan. Kebutuhan harga diri meliputi:
  • Menghargai diri sendiri
  • Menghargai orang lain
  • Dihargai orang lain
  • Kebebasan yang mandiri
  • Preshies
  • Di kenal dan di akui
  • Penghargaan
    1. Penghargaan dari orang lain, meliputi prestis, pengakuan, penerimaan,perhatian, kedudukan,nama baik serta penghargaan. Penghargaan dari orang lain sanggat di perlukan dalam kehidupan karena dengan penghargaan itu seseorang akan menjadi lebih kreatif, mandiri, percayaakan diri sendiri dan juga lebih produktif. Kebutuhan penghargaan dari orang lain meliputi:
  • Kekuatan
  • Pencapaian
  • Rasa cukup
  • Kompetisi
  • Rasa percaya diri
  • kemerdekaan

Sebagai conoh:

  • Seorang pemahat di puji oleh pelanggannya maka iya akan lebih semangat dalam membuatmemproduksi karyanya dalam jumlah maupun model.
  • Seorang guru yang mengajar, mengabdi bertahun-tahun dan mendapatkan pengangkatan pegawai negeri oleh pemerintah.

Kebutuhan Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan.

Pada saat manusia sudah memenuhi seluruh kebutuhan pada semua tingkatan yang lebih rendah, melalui aktualisasi diri di katakan bahwa mereka mencapai potensi yang paling maksimal. Manusia yang teraktualisasi dirinya:

  • Mempunyai kepribadian multi dimensi yang matang.
  • Sering mampu mengasumsi dan menyelesaikan tugas yang banyak.
  • Mencapai pemenuhan kepuasan dari pekerjaan yang di kerjakan dengan baik.
  • Tidak tergantung secara penuh pada opini orang lain.

Sebagai contoh:

  • Saat kita mengetahui bahwa minggu depan akan ada ulangan maka kita akan belajar lebih agar mendapatkan kepuasan dalam ujian dan mendapatkan nilai baik.

Prakondisi bagi pemenuhan kebutuhan dasar

Kondisi lingkungan sekitar dan keadaan social dalam masyarakat berkaitan erat dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow, kondisi-kondisi yang merupakan prasyarat bagi pemuasan kebutuhan dasar meliputi antara lain kemerdekaan untuk berbicara, kemerdekaan untuk melakukan apa saja yang diinginkan sepanjang tidak merugikan oranglain, kemerdekaan untuk menyelidiki, kemerdekaan untuk mempertahankan atau membela diri, keadilan, kejujuran, kewajaran, dan ketertiban. Ancaman terhadap prakondisi ini akan membuat individu memberikan reaksi sama seperti reaksinya menghadapi berbagai ancaman terhadap kebutuhan dasarnya.

Kebutuhan akan Pertumbuhan

Dalam hirarkinya Maslow membedakan antara kebutuhan dasar (basic-needs) dan kebutuhan tinggi (meta-kebutuhan atau meta-needs). Kebutuhan dasar mencakup kebutuhan tingkat kesatu sampai tingkat keempat. Sedangkan meta-kebutuhan adalah kebutuhan tingkat kelima (kebutuhan akan aktualisasi-diri). Meta-kebutuhan inilah yang menjadi motivasi utama bagi orang yang teraktualisasi-diri dan mempengaruhi pertumbuhan internal pribadi. Karena itu kebutuhan tingkat tertinggi ini disebut juga meta-motivasi.

Di sisi lain, pribadi yang tidak mengaktualisasikan diri diatur oleh motif-defisien, atau D-motives karena mereka dipengaruhi oleh kekurangan hal-hal seperti makanan, cinta atau penghargaan. Persepsi pribadi yang tidak mengaktualisasi-diri dipengaruhi oleh defisiiensinya (kekurangannya), karenanya disebut persepsi diarahkan–kebutuhan (disebut juga D-perseptionatau D-cognition): “Persepsi yang diarahkan-kebutuhan semata-semata difokuskan kepada pencapaian di sini dan di sana objek-objek yang bisa memuaskan kebutuhan, mengabaikan segala yang tidak relevan dengan kebutuhan” (Jourard,1974). Kognisi-mengada, atau being cognition disingkat B-cognition, di sisi lain, berbeda secara kualitatif dari persepsi diarahkan-kebutuhan. “B-cognition, mengacu kepada mode menerima yang lebih pasif. Ia membiarkan diri diraih, disentuh atau dipengaruhi oleh apa pun sehingg persepsi jadi lebih kaya” (Jourard, 1974). Momen-momen dari B-cognition yang intens menyebabkan perasaan ekstasis atau pengangkatan. Maslow menyebut pengalaman mistis atau oseanik ini sebagai pengalaman puncak.

Sebagai contoh bagi perbedaan D-motivation dan B-motivation, Maslow menggunakan konsep cinta. Ia membedakan D-love dan B-love. D-love dimotivasikan oleh kurangnya pemenuhan kebutuhan akan cinta dan kepemilikan. Seorang dengan situasi-kebutuhan seperti itu akan mendambakan cinta layaknya orang lapar menginginkan makanan. Cinta seperti ini bersifat egois karena ketika diperoleh, ia hanya digunakan untuk memuaskan defisiensi pribadi. Terbalik dari D-love, Maslow mendata sejumlah karakteristik B-love, yaitu:

  1. B-love tidak posesif.
  2. B-love tidak pernah habis dirasakan, dapat dinikmati tanpa akhir. Ia biasanya tumbuh semakin kuat daripada kian berkurang. Meski akhirnya di satu titik seseorang terpuaskan, ia muncul lagi dalam bentuk yang baru untuk dipuaskan.
  3. Pengalaman B-love sering diseskripsikan memiliki efek yang sama seperti pengalaman estetik atau mistik.
  4. B-love memiliki efek terapeutik yang mendalam dalam menyebar luas.
  5. B-love memiliki pengalaman yang kaya dan lebih bernilai ketimbang D-love.
  6. Tingkat kecemasan dan permusuhan di dalam B-love menim saja.
  7. Para pemilik B-love lebih independen satu sama lain, minim cmburu, tidakterlalu bergantung, lebih saling tertari, dan lebih otonom ketimbang pemilikk D-love. Selain itu, mereka lebih suka membantu pasangan mengaktualisasikan-diri dan ikut berbangga dengan kesuksesaan pasangan.
  8. B-love membuat persepsi yang jauh lebih tepat dan mendalam tentang pasangan daripada D-love.
  9. B-love dalam artian tertentu,mencipta pasangan. Ia menawarkan penerimaan-diri dan perasaan keberhargaan-cinta, keduanya memampukan pasangannya bertumbuh. Mungkin perkembangan manusia sepenuhnya tidak akan bisa muncul tanpa pengalaman B-love

Maslow mendata macam-macam meta-kebutuhan ini yang karenanya harus dipuaskan jika individu ingin mengalami kesehatan psikologis seutuhnya dan jika tidak terpenuhi akan menjadi meta-patologi (penyakit kejiwaan).Lima belas meta-kebutuhanyang oleh Maslow disebut juga Being-values (B-values; kebutuhan akan pertumbuhan) yang diyakini oleh Maslow mendominasi hidup individu yang mengaktualisasi-diri bisa dilihat ditabel di bawah ini:

NILAI-MENGADA (B-VALUES) dan METAPATOLOGI yang muncul
Nilai-Mengada Deprivasi Patogenik Metapologi Spesifik
1. Kebenaran Ketidakjujuran Tidak percaya; tidak bisa dipercaya; sinismep; skeptisme; mudah curiga
2. Kebaikan Kejahatan Eogoisme ekstern; penuh kebencian; merasa jijik atau memandang rendah orang lain; merasa muak dan penh kemarahan dan dendam; mengandalkan hanya diri sendiri dan demi diri sendiri; nihilism; sinisme
3. Keindahan Kejelekan/keburukan Vulgaris; ketidakbahagian spesifik; gelisah, hilang cita rasa; tegang; kelelahan, filitinisme; suram membosankan
4. Kesatuan; keutuhan Kekacauan; atonisme, hilangnya ketertarikan Disintegrasi; ‘dunia sedag runtuh’; obitrer
4A. Dikotomi-Transendensi Dikotomi hitam-putih; hilangnya radasi atau pentarafan; polarisasi yang dipaksakan; Pemikiran hitam-putih; berfikir ini-atau-tidak sama sekali; memiliki segala sesuatu dalam peperangan atau konflik terus-menerus; pilihan sinergi rendah; pandangan hidup yang diipaksakan yang simplistic
5. Hidup; proses Kematian; mekanisasi hidup Kematian; perobotan; merasa diri ditentukan dan diatur sepenuhnya; hilangnya emosi; kebosanan (?); hilangnya semangat menjalani hidup; kehampaan pengalaman
6. Keunikan Kesamaan; keseragaman; tidak bisa dipertukarkan anonimitas; tidak merasa dibutuhkan Patah semangat (?); tidak ada harapan; individualitas; merasa diri bisa digantikan
7. Kesempurnaan Tidak sempurna; asal-asalan; keserabutan; keserampangan Patah semangat (?); tidak ada harapan; tidak ada yang sukses
7A. Keniscayaan Aksidensi; okasionalisme; ketidakkonsistenan Kekacauan; tak terprediksi; hilang rasa aman; was-wasan
8. Perlengkapan; penuntasan Ketidaklengkapan Rasa tidak lengkap; tanpa harapan; berhenti berjuang dan mengatasi masalah; menganggap sia-sia saja sebuah pengupayaan
9. Keadilan Ketidakadilan Rasa tidak aman; marah; sinisme; tidak percaya; tanpa aturan; dunia adalah rimba; egisme total
9A. Ketertiban/keteraturan Nir-aturan; tidak tertib atau kekacauan; runtuhnya otoritas Rasa tidak aman; was-was; hilang rasa aman dan prediksi; kewaspadaan; tegang; berjaga-jaga; merasa perlu pengawasan
10. Kesederhanaan/ringkas Kompleksitas yang membingungkan; ketidaktertarikan; disintegrasi Kompleksitas berlebihan; kebingungan; kekacauan, konflik, hilang orientasi
11. Pengkayaan; totalitas; kemenyeluruh Kemiskinan; separuh-paruh; parsialitas Depresi; rasa tidak nyaman; hilang minat kepada dunia
12. Rileks Tegang atau terlalu keras berusaha Kelelahan; tegang; berjuang terlalu keras; ceroboh; canggung; tidak tahu terima kasih; kaku
13. Permainan Tidak punya rasa humor Suram; depresi; paranoid nir humor; hilang semangat dalam hidup; tidak riang; hilang kemampuan untuk bisa menikmati
14. Kemandirian Ketergantungan; aksidensi; okasionalisme Tergantung pada (?) pencerap (?); hal itu menjadi tanggung jawabnya
15. Kebermaknaan Ketidakbermaknaan Ketidakbermaknaan; putus asa; tidak merasakan hidup

Bagi orang yang telah mencapai aktualisasi diri, tidak terpenuhinya satu apalagi beberapa dari meta-kebutuhan itu akan membuatnya sangat kesakitan, lebih sakit daripada kematian. Karena itu orang-orang besar seperti Sokrates, Isa, Suhrawardi, Galileo, lebih memilih mati daripada hidup dalam tatanan sosial yang menurutnya tidak adil.

Sifat-Sifat Orang Yang Mencapai Aktualisasi Diri

Untuk mencapai tingkat aktualisasi-diri, orang harus sudah memenuhi empat kebutuhan sebelumnya. Ia jangan lagi direpotkan oleh masalah mencari makan, jangan lagi dihiraukan oleh ancaman keamanan dan penyakit, memiliki teman yang akrab dan penuh rasa cinta, juga memiliki perasaan dihargai. Ia bebas dari neurosis, psikosis, dan gangguan psikologis lain. Sifat lainnya adalah soal usia: orang yang mengaktualisasikan dirinya tampaknya adalah orang yang telah setengah tua atau lebih tua. Maslow bahkan menyebut usia 60 tahun atau lebih, sebab orang setua ini sudah mencapai taraf kematangan (sudah hampir selesai), dalam arti tidak akan atau sulit untuk berubah lagi.

Sifat-sifat berikut ini merupakan manifestasi dari metakebutuhan-metakebutuhan yang disebutkan di atas.

  1. Berorientasi secara Realistik

Inilah sifat paling umum dari orang yang teraktualisasi. Ia mampu mengamati objek-objek dan orang-orang di sekitarnya secara objektif. Maslow menyebut persepsi objektif ini Being-cognition (B-cognition), suatu bentuk pengamatan pasif dan reseptif, semacam kesadaran tanpa hasrat. Ia melihat dunia secara jernih sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi oleh keinginan, kebutuhan, atau sikap emosional.

  1. Penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri

Orang yang teraktualisasi menerima dirinya, kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatannya tanpa keluhan atau kesusahan. Ia menerima kodratnya sebagaimana adanya, tidak defensif atau bersembunyi di balik topeng-topeng atau peranan sosial. Sikap penerimaan ini membuatnya mampu mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran, rendah hati dan mau mengakui bahwa ia tidak tahu segala-galanya dan bahwa orang lain akan mengajarinya sesuatu.

  1. Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran

Dalam semua segi kehidupan, orang yang teraktualisasi bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura. Ia tidak harus menyembunyikan emosi-emosinya, tetapi dapat memerlihatkan emosi-emosi tersebut secara jujur dan wajar. Seperti anak kecil, orang yang teraktualisasi kadang terlihat lugu, mendengarkan dengan penuh perhatian, takjub dan heran akan sesuatu yang baru, dan itu semua dilakukannya secara apa adanya tanpa dibuat-buat.

  1. Memusatkan diri pada masalah dan bukan pada diri sendiri

Orang yang teraktualisasi-diri tidak pernah menyalahkan diri sendiri ketika gagal melakukan sesuatu. Ia menganggap kegagalan itu sebagai suatu hal yang lumrah dan biasa saja. Ia mungkin akan mengecam setiap ketololan dan kecerobohan yang dilakukannya, tetapi hal-hal tersebut tidak menjadikannya mundur dan menganggap dirinya tidak mampu. Dicobanya lagi memecahkan masalah dengan penuh kegembiraan dan keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikannya.

  1. Memiliki kebutuhan akan privasi dan independensi

Orang yang mengaktualisasikan-diri memiliki kebutuhan yang kuat untuk memisahkan diri dan mendapatkan suasana kesunyian atau suasana yang meditatif. Ia butuh saat-saat tertentu untuk tidak terganggu oleh adanya orang lain. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk pikiran, mencapai keputusan, dan melaksanakan dorongan dan disiplin dirinya sendiri.

  1. Berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik

Orang yang mengaktualisasikan-diri sudah dapat melepaskan diri dari ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan sosial dan fisik. Pemuasan akan motif-motif pertumbuhan datang dari dalam diri sendiri, melalui pemanfaatan secara penuh bakat dan potensinya.

  1. Apresiasi yang senantiasa segar

Orang yang teraktualisasi senantiasa menghargai pengalaman-pengalaman tertentu bagaimana pun seringnya pengalaman itu terulang, dengan suatu perasaan kenikmatan yang segar, perasaan terpesona, dan kagum. Bulan yang bersinar penuh, matahari terbenam, gelak tawa teman, dan hal-hal biasa lainnya selalu dipandang seolah-olah merupakan pengalaman yang baru pertama kali baginya. Apresiasi yang senantiasa segar ini membuat hidupnya selalu bergairah tanpa kebosanan.

  1. Mengalami pengalaman-pengalaman puncak (peak experiences)

Ada kesempatan di mana orang yang mengaktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasan terpesona yang hebat dan meluap-luap, seperti pengalaman keagamaan yang mendalam. Inilah yang disebut Maslow “peak experience” atau pengalaman puncak. Pengalaman puncak ini ada yang kuat dan ada yang ringan. Pada orang yang teraktualisasi, perasaan “berada di puncak” ini bisa diperolehnya dengan mudah, setiap hari; ketika bekerja, mendengarkan musik, membaca cerita, bahkan saat mengamati terbit matahari.

  1. Minat sosial

Orang yang teraktualisasi memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat dan dalam terhadap semua manusia, juga suatu keinginan membantu kemanusiaan. Ia menemukan kebahagiaan dalam membantu orang lain. Baginya mementingkan orang lain berarti mementingkan diri sendiri.

  1. Hubungan antarpribadi yang kuat

Orang yang teraktualisasi memiliki cinta yang lebih besar, persahabatan yang lebih dalam serta identifikasi yang lebih sempurna dengan individu-individu lain. Sahabat-sahabatnya bisa jadi tidak banyak, tetapi sangat akrab. Istrinya mungkin cuma satu, tetapi cinta yang diterima dan diberikannya sangat besar dan penuh kesetiaan. Ia tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan kepada orang yang dicintai sehingga membuatnya terhindar dari cemburu buta, iri hati, dan kecemasan.

  1. Struktur watak demokratis

Orang yang sangat sehat membiarkan dan menerima semua orang tanpa memerhatikan kelas sosial, tingkat pendidikan, golongan politik, ras, warna kulit, bahkan agama. Tingkah laku mereka menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi, tidak angkuh, tidak picik atau menganggap diri paling benar. Sifat ini menggabungkan beberapa meta-kebutuhan seperti kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

  1. Mampu mengintegrasikan sarana dan tujuan

Bagi orang yang teraktualisasi, sarana adalah sarana dan tujuan adalah tujuan. Tetapi berbeda dengan orang-orang biasa, orang yang teraktualisasi melihat sarana bisa pula menjadi tujuan karena kesenangan dan kepuasan yang ditimbulkannya. Pekerjaan bagi orang yang sehat bukanlah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan material, tetapi untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan. “Menyenangi apa yang dilakukan” sekaligus “melakukan apa yang disenangi”, membuat hidup bebas dari paksaan, terasa santai dan penuh dengan rekreasi.

  1. Selera humor yang tidak menimbulkan permusuhan

Humor yang disukai oleh orang yang mencapai aktualisasi lebih bersifat filosofis; humor yang menertawakan manusia pada umumnya, bukan kepada individu tertentu. Ini adalah sejenis humor yang bijaksana yang dapat membuat orang tersenyum dan mengangguk tanda mengerti daripada membuatnya tertawa terbahak-bahak.

  1. Sangat kreatif

Kreativitas juga merupakan ciri umum pada manusia superior ini. Ciri-ciri yang berkaitan dengan kreativitas ini antara lain fleksibilitas, spontanitas, keberanian, keterbukaan, dan kerendahan hati. Maslow percaya ini merupakan sifat yang sering hilang tatkala orang sudah dewasa.

Kreativitas bisa berarti menghasilkan karya baru, asli, inovatif, atau menggabungkan beberapa penemuan sehingga didapatkan sesuatu yang berbeda. Kreativitas juga merupakan suatu sikap, suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita mengamati dan beraksi terhadap dunia – suatu proses – dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah selesai.

  1. Menentang konformitas terhadap kebudayaan

Orang yang teraktualisasi bukanlah penentang kebudayaan, tetapi ia dapat berdiri sendiri dan otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh-pengaruh sosial untuk berpikir dan bertindak menurut cara-cara tertentu yang diyakininya baik. Orang ini tidak terlalu memermasalahkan hal-hal kecil seperti cara berpakaian, tata-krama, cara makan, dan sebagainya, tetapi ia dapat keras dan terus-terang jika mendapati soal-soal yang sangat penting baginya mengenai aturan-aturan dan norma-norma masyarakat.

Menurut Maslow, secara konsisten pengalamannya menunjukkan bahwa orang-orang yang terpuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya ternyata hidup lebih sehat, lebih bahagia serta lebih efektif, sedangkan orang-orang yang kebutuhan-kebutuhan dasarnya tidak terpuaskan menunjukkan gejala-gejala psikopatologis. Tidak terpuaskan hasrat-hasrat yang kurang penting, yaitu hasrat-hasrat yang bukan merupakan kebutuhan-kebutuhan dsar, ternyata tidak melahirkan geeejaaala-gejala tidak sehat, sekalipun teori Behavioris menyatakan bahwa tidak terpuaskannya setiap kebutuhan akan melahirkan gangguan-gangguan. Para terapis yang berusaha menyingkap jati diri seseorang, seperti Carl Rogers, Erich Fromm dan Karen Horney, menemukan bahwa metode-metode yang mereka kembangkan ternyata meningkatkan rasa cinta, keberanian serta kreativitas dan mengurangi rasa takut serta sikap bermusuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sifat-sifat itu melekat secara inheren dalam diri setiap orang.

Sedangkan frustasi atas kebutuhan-kebutuhan dasar akan melahirkan gejala-gejala psikopatologis, sedangkan jika kebutuhan-kebutuhan dasar itu dipuaskan akan lahirlah pribadi-pribadi sehat, baik secara psikologis maupun biologis. Berdasarkan penelitian terhadap orang-orang yang mengaktualisasikan diri berulang kali membuktikkan bahwa orang-orang semacam itu, lepas dari latar belakang kebudayaan mereka, memberikan nilai tinggi pada hal-hal yang sama. Pengalaman-pengalaman puncak memberikan bukti bahwa orang-orang biasa pun mengalami saat-saat dimana mereka “merasa berada di langit ketujuh”.

Selama pendidikan Maslow diajarkan bahwa orang-orang memiliki kemampuan-kemampuan kognitif, namun tidak pernah disinggung tentang kebutuhan-kebutuhan kognitif mereka. Berkat penelitian seorang profesornya yaitu, E.L. Thorndyke, Maslow mulai tergoda untuk berpikir bahwa tidak mustahil orang memiliki kebutuhan untuk tahu, sama seperti mereke itu mempunyai kemampuan untuk tahu. Thorndyke dan sejumlah sejawatnya pernah menyelidiki sekelompok anak yang berIQ sangat tinggi, yaitu lebih dari 180. Para peneliti itu menemukan bahwa setiap anak dalam kelompok ini menunjukkan rasa ingin tahu yang nyaris tak pernah terpuaskan, tidak membutuhkan rangsangan dari luar begitu saja muncul berupa kehausan, dorongan atau kebutuhan yang kuat.

Kemampuan Manusia

Keyakinan bahwa manusia memiliki sejumlah besar kemampuan yang tak tersalurkan merupakan satu aspek penting dari teori komprehensif tentang motivasi manusia yang dikemukakan oleh Maslow. Ia yakin bahwa setiap anak, lahir dengan membawa kemampuan serta kebutuhan untuk berkembang secara psikologis. Maslow yakin, kebanyakan orang memiliki kebutuhan serta kecenderungan untuk menaktualisasikan diri. Meskipun banyak orang yang memiliki kemampuan ini, hanya kecil presentasi orang yang berhasil mencapainya. Hal tersebut disebabkan karena orang itu tidak mengtahui kemampuan mereka sendiri. Mereka tidak menyadari batas kemungkinan yang dapat mereka raih dan tidak memahami ganjaran dari aktualisasi diri.

Salah satu contoh yang dikemukakan Maslow ialah kisah tentang pemenang medali emas Olimpiade. Sang juara mempertunjukkan kebolehannya di bidang spesialisasinya dan mengangkatnya sebagai patokan bagi semua atlet yang lain. Pada zaman Maslowsebagai remaja ikut serta berlomba dalam tim lari lintasan, orang masih menganggap mustahil lari menempuh jarak 1 mil dalam waktu kurang dari empat menit. Akhirnya,apa yang semula “mustahil: bagi manusia menjadi mungkin karena orang membuktikkan bahwa hal itu ternyata mungkin. Kemampuan manusia dalam cabang olahraga ini terus meningkat setiap kali tercatat rekor baru.

Konsep Maslow tentang manusia, sama sekali tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya perbedaan-perbedaan genetic yang dibawa sejak lahir, namun konsepsi itu sekaligus juga mengakui adanya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum pada seluruh spesies. Kemampuan-kemampuan hebat ini terdapat pada setiap manusia, namun sukar diukur. “Kita tak dapat mengukur sampai berapa tinggi seorang akan tumbuh, kita hanya bisa mengukur berapa tinggi badannya saat ini. Kita tidak akan pernah dapat mengukur seberapa pintar orang itu kan dapat berkembang dalam kondisi-kondisi yang serba terbaik, kita hanya bisa mengukur seberapa pintar ia dalam kondisi-kondisi yang nyata.”

Maslow yakin bahwa kebanyakan orang memiliki kemampuan untuk bersikap kretaif, spontan, penuh perhatian pada orang lain, penuh rasa ingin tahu, kemampuan untuk berkembang secara terus-menerus, kemampuan mencintai dan dicintai serta semua ciri lain yang terdapat pada oraang-orang yang mengaktualisasikan diri. Orang yang berperilaku buruk menandakan bahwa ia tengah bereaksi terhadap perampasan atas kebutuhan dasarnya. Jika tingkah lakunya membaik mualilah ia mengembangkan kemampuan sejatinya serta menuju hidup yang lebih sehat dan wajar sebagai manusia. Menurut Maslow, Freud mengajarkan kepada kita bahwa pengalaman masa lampau hadir di masa kini dalam diri setiap orang. “Berkat teori perkembangan dan teori aktualisasi diri sekarang kita tahu bahwa masa depan juga hadir dalam diri sang pribadi kini, berwujud cita-cita, harapan, kewajiban, tugas, rencana, tujuan, kemampuan yang belum terealisasikan, perutusan, nasib, takdir dan sebagainya.”

Dalam penelitian Maslow tentang orang-orang yang mengaktualisasikan diri antara lain menemukan bahwa ternyata orang-orang itu mengalami yang disebut “pengalaman-pengalaman puncak”, saat-saat ketika mereka merasa berada dalam kondisi terbaik mereka, saat-saat diliputi perasaan khidma, kebahagian yang mendalam, kegembiraan, ketentraman. Secara berangsur—angsur juga menjadi jelas bahwa pengalaman-pengalaman puncak tidak hanya terjadi pada orang-orang yang sehat secara psikologis, rupa-rupanya kebanyakan orang dapat dan sering mengalami pengalaman-pengalaman puncak. Maslow menemukan bahwa pertanyaan terbaik untuk dikemukakan pada seseorang ialah meminta orang tersebut melukisakan saat paling menyenangkan, paling membahagiakan, paling menggembirakan dalam hidupnya.

Jadi, pengalaman puncak adalah saat dalam kehidupan seseorang ketika orang itu berfungsi secara penuh, merasa kuat, yakin pada dirinya dan menguasai diri sepenuhnya. Pengalaman-pengalaman puncak dapat timbul oleh berbagai sebab misalkan: mendengarkan musik yang sangat indah, mencapai prestasi gemilang di bidang atletik, memperoleh pengalaman seksual yang indah atau berjoget. Seakan-akan setiap pengalaman tentang keunggulan sejati, kesempurnaan sejati atau setiap gerak ke arah keadilan yang seadil-adilnya atau ke arah nilai-nilai yang tertinggi cenderung melahirkan suatu pengalaman puncak. Tidak hanya orang yang mengalami pengalaman puncak merasa lebih baik, lebih kuat dan lebih dipersatukan tetapi lingkungan disekitarnya tampak lebih baik, lebih menyatu dan lebih jujur. Pengalaman-pengalaman puncak memiliki dampak terapeutik positif, yaitu menghilangkan simtom-simtom neurotik. Maslow pernah menerima sejumlah laporan dari para psikolog serta para ahli lain yang menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman puncak berpengaruh besar sehingga mampu menghilangkan simtom-simtom tertentu untuk selamanya.

Menurut Maslow, kebanyakan orang tidak bersedia menceritakan saat-sat mereka mengalami luapan kegembiraan dan ekstase. Pengalaman-pengalaman itu bukan jenis pengalaman untuk dipublikasikan. Kebanyakan orang justru risau, malu, sebab pengalaman-pengalaman semacam itu dianggap tidak “ilmiah”. Banyak orang selama atau sesudah mengalami saat-saat yang membahagiakan ini merasa amat beruntung dan bersyukur, lalu sebagai akibatnya merasa diliputi perasaan cinta terhadap sesama serta terhadap dunia, bahkan merasa dipenuhi hasrat untuk berbuat kebajikan di dunia ini sebagai imbalan. Menurut Maslow, pengalaman puncak memiliki hampir seluruh ciri yang secra tradisional disebut pengalaman religius oleh hampir semua penganut agama dan kepercayaan. Maslow menyimpulkan bahwa selama mengalami pengalaman puncak orang memperoleh persepsi yang lebih baik tentang realitas itu sendiri. Dalam saat-saat seperti itu orang memperoleh pengertian yang sama seperti yang diperoleh filsuf dan para teolog tentang aspek-aspek realitas yang mempersatukan.

Perkembangan Psikologis

Konsep Abraham Maslow tentang perkembangan berkaitan erat dengan gagasan-gagasannya tentang kemampuan. Hasil-hasil penelitiannya membawanya sampai pada kesimpulan bahwa perkembangan kea rah aktualisasi diri merupakan suatu yang wajar sekaligus perlu. Perkembangan diartikannya sebagai mekarnya bakat-bakat kapasitas-kapasitas, kreativitas, kebijaksanaan dan karakter secara terus menerus. Pertumbuhan merupakan pemuasan secara progresif atas kebutuhan-kebutuhan psikologis yang makin meningkat. Menurut Maslow, “Dalam kodratnya sendiri manusia memperlihatkan desakan kea rah menjadi makhluk yang makin penuh, desakan kea rah aktualisasi yang makin sempurna atas kemanusiaannya dalam pengertian yang persis sama seperti dalam ilmu alam sebutir biji eik “mendesak diri” menjelma menjadi sebuah pokok eik”

Manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh, namun menurut hasil penelitian Maslow, hanya kecil persentase orang yang mampu mendekati realisasi penuh atas kemampuan-kemampuan mereka, tak terkecuali di lingkungan masyarakat Amerika yang relative bebas. Maslow mengemukakan sejumlah alasan mengapa begitu banyak orang gagal tumbuh

  1. Naluri manusia untuk tumbuh cenderung lemah, akibatnya benih-benih pertumbuhan dengan mudah dibuat tak beraya oleh kebiasaan-kebiasaan buruk, lingkungan budaya yang buruk maupun pendidikan yang tidak memadai atau bahkan keliru.
  2. Di lingkungan kebudayaan barat ada kecenderungan kuat untuk takut pada naluri-naluri, kecenderungan untuk memandang semua naluri bersifat kebinatangan serta hina. Freud dan banyak teoretikus Kristen terlampau menonjolkan aspek-aspek negative naluri manusia, akibatnya kita hidup di tengah kebudayaan yang lebih menekankan control serta motivasi negatif, bukan motivasi positif.
  3. Pengaruh negatif kbebutuhan akan rasa aman dan perlindungan yang rendah itu ternyata kuat. Proses pertumbuhan menuntut kesediaan untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan, membuat kesalahan-kesalahan, mendobrak kebiasaan-kebiasaan secara terus menerus, Menurut Maslow, orang bisa memilih mundur ke arah rasa aman atau maju ke arah pertumbuhan. Pertumbuhan harus senantiasa menjadi pilihan; sedangkan rasa takut atau rasa cemas akan merusak keseimbangan dinamik antara regresi dan pertumbuhan, yaitu kembali kea rah regresi dan menjauhi pertumbuhan.
  4. Maslow mengemukakan yang ia sebut kompleks “Yonah”, yaitu kecenderungan pada orang-orang dewasa untuk meragukan dan bahkan takut pada kemampuan-kemampuan mereka sendiri, takut bahwa potensi mereka lebih besar dari yang selama ini meraka yakini. Kita takut pada kemungkinan-kemungkinan kita yang tertinggi sama seperti kita takut pada kemungkinan-kemungkinan terburuk kita. Seseorang yang tengah tumbuh senantiasa menantang dirinya sendiri. Hal ini menuntut keberanian. Jika orag melangkah ke dalam situasi yang baru dan lebih baik mau tak mau ia dihinggapi rasa tak berdaya yang menyiksa, da nada orang yang tidak pernah mampu mengatasi perasaan takut ini. Pertumbuhan dan perkembangan menuntut usaha, disiplin diri dan penderitaan dalam batas-batas tertentu.
  5. Lingkugan budaya juga sering menghambat perkembangan manusia kea rah aktualisasi diri. Salah satu contoh ialah pengertian umum tentang yang disebut jantan dan yang tidak. Sejumlah aspek manusiawi seperti simpati, kebaikan hati, kehalusan dan kelembutan seringkali harus dimatikan sebab masyarakat cenderung memandang sifat-sifat tersebut sebagai tidak jantan.
  6. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri lebih fleksibel dari kebanyakan orang, lebih terbuka terhadap gagasan-gagasan dan pengalaman-pengalaman baru. Kebalikannya, kebiasaan-kebiasaan merupakan penghalang pertumbuhan. Kebanyakan cenderung orang sangat cenderung terus melakukan apa yang pernah mereka perbuat dimasa lampau. Hal ini memang tidak sellau jelek; ada kebiasaan tertentu yang menjadikan pikiran kita leluasa melakukan kegiatan-kegiatan lain. Namun di samping itu, kebiasaan-kebiasaan lain yang terbentuk, kadang-kadang sejak masa kecil dan tak pernah diuah lagi, ternyata membatasi perkembangan individu.

Pengenalan diri serta pemahaman diri menurut Maslow, merupakan jalan terpenting menuju aktualisasi diri,suatu proses yang dapat dibantu atau dapat pula dihambat oleh orangtua, guru maupun lingkungan budaya. Terapis-terapis professional yang memahami proses pertumbuhan memang dapat sangat membantu. Jika seseorang memahami dirinya sendiri ia akan memahami kebutuhan-kebutuhan dasar serta motivasinya yang sesungguhnya dan akan bertingkah laku dengan cara yang akan memuaskan kebutuhan-kebutuhannya itu. Pemahaman diri juga akan memungkinkan seseorang memahami dan menjalin relasi dengan orang lain secara lebih efektif. Keberanian, integritas dan harga diri penting bagi pertumbuhan yang langgeng. Dari pengalamannya dengan para mahasiswa doktoral di Brandeis, Maslow melihat bahwa bagi orang-orang tertentu kebebasan dapat mendorong pertumbuhan, sedangkan bagi orang lain justru menimbulkan akibatakibat negatif. Bagi individu yang sehat, tekanan dan tantangan akan merangsang pertumbuhan; sebaliknya bagi individu yang tidak aman dan lemah perkaranya menjadi berbeda. Seseorang akan dapat mengambil manfaat dari suatu tantangan apabila tantangan itu tidak melewati batas-batas kesanggupan pribadinya.

Orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak dapat menghindari disiplin dan control dalam batas-batas tertentu, tapi itu jauh lwbih baik bila tumbuh sendiri dari dalam daripada dipaksakan dari luar. Selama individu mau berkembang, kebutuhannya akan pengendaliannya berangsur-angsur berkurang, dan tindakan-tindakannya menjadi lebih wajar serta lebih spontan. Pemuasan kebutuhan-kebutuhan yang bertaraf renda,seperti makanan, pakaian, dan tempat berlindung tidak dengan sendirinya menjamin pertumbuhan. Dalam kondisi yang sehat pertumbuhan merupakan rahmat dank arena itulah seorang individu yang sehat tumbuh. Pertumbuhan yang sehat merangsang pertumbuhan dan makin seseorang tumbuh, maka makin ingin tumbuhlah dirinya.

Pendidikan Model Mazhab Ketiga

Cara yang tepat mengasuh anak yang di sarankan oleh Maslow yaitu pemberian kebebasan dengan batas-batas. Menurtnya, sikap serba memperbolehkan atau memanjakan dari pihak orangtua dan sekaligus juga mengakui akibat yang merusak dari orangtua yang bersikap dictatorial, authoritarian, yakni orangtua yang menindas, mengekang ataupun terlampaui melindungi anak sampai-sampai anak tersebut tidak dapat mengembangkan kepribadiannya sendiri. Orangtua yang ingin berhasil perlu mengetahui kapan mengatakan ya dan kapan mengatakan tidak. Menurut Maslow, yang harus dilakukan ialah memberikan kesempatan untuk memilih kepada anak; kita biarkan ia membuat keputusannya sendiri. Maslow juga menjelaskan bahwa tidaklah lalu berarti serba membolehkan dalam segala macam kondisi dan terhadap semua anak.

Pendidikan, baik informal maupun formal mempunyai peran penting dalam pengembangan watak. Kita butuh tahu lebih banyak tentang cara pendidikan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, baik di dalam kelas; lewat buku-buku; kuliah-kuliah; katekismus-katekismus,; khotbah-khotbah; atau lewat cinta kasih; penghargaan dan perlakuan yang semestinya. Kebanyakan anak yang terlantar tak pernah berhenti mencari kekaguman, rasa aman, autonomi, kasih sayang, dan sebagainya dengan berbagai cara kekanak-kanakan yang dapat ditemukannya. Tindakan yang lazim dilakukan oleh para orang dewasa yang berpengalaman ialah mengatakan “ah” ia sekedar menyombongkan diri atau ia sekedar mencari perhatian dan selanjutnya membuangnya dari lingkungan pergaulan orang dewasa. Artinya, diagnosis ini biasanya ditafsirkan sebagai perintah untuk tidak memberikan kepada anak apa yang didambakannya, untuk tidak memberinya perhatian, tidak mengaguminya, tidak memujinya.

Orang yang teraktualisasikan dirinya tidak selalu merasa mudah menjadi orranngtua yang baik. Kecakapannya justru dapat membuat anak-anaknya berkecil hati. Menurut Maslow sebagian besar psikolog anak memberikan tekanan terlalu besar pada kebutuhan anak akan cinta kasih. Maslow tidak setuju dengan pendapat Freud yang melukiskan anak-anak kecil bersikap mementingkan diri,merusak,agresif, dan tidak dapat bekerja sama. Menurut Maslow, anak-anak normal dapat bersikap memusuhi, merusak, dan mementingkan diri namun mereka itu juga dapat bersikap murah hati, rela bekerja sama dan tidak mementingkan diri.

Pada teori psikologi Mazhab Ketiga menghendaki suatu bentuk pendidikan baru. Pendidikan ini yang akan memberi tekanan lebih besar pada pengembangan potensi seseorang,terutama potensinya untuk menjadi manusiawi, memahami diri dan orang lain serta berhubungan dengan mereka, mencapai kepuasan atas kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, tumbuh kea rah aktualisasi diri. Pendidikan ini akan membantu manusia menjadi pribadi yang sebaik-baiknya sesuai kemampuannya. Proses pendidikan harus mampu mengembangkan disiplin diri, spontanitas dan kreatifitas.

Penyakit Mental

Maslow memberikan peran yang berbeda pada penyakit mental daripada kebanyakan psikolog maupun psikiater. Berdasarkan data yang diperoleh oleh Maslow melalui praktek klinis selama 12 tahun dan lewat penelitian selama lebih dari 20 tahun, menunjukkan bahwa sebagian besar neurosis berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan akan hubungan dengan orang lain, seperti kebutuhan akan penghargaan, penerimaan serta rasa memiliki-dimiliki, yang tidak terpuaskan. Faktanya bahwa pemuasan kebutuhan-kebutuhan dasar merupakan dukungan kuat bagi psikologi Mazhab Ketiga. Orang yang sakit secra psikologis adalah orang yang tidak pernah berhasil menjamin relasi-relasi manusiawi yang baik.

Maka Dr. Maslow menyarankan, “lebih tepat memandang berbagai macam bentuk neurosis sebagai keadaan yang berkaitan dengan gangguan-gangguan rohani, kehilangan suatu makna atau arti, keraguan dalam tujuan-tujuan hidup, kepedihan serta amarah atas cinta yang hilang, melihat hidup dengan cara lain, kehilangan kepedihan ataupun harapan, keputusasaan dalam menghadapi masa depan, kebencian akan diri sendiri, menyadiri bahwa telah menyia-nyiankan hidup, atau sadar bahwa sudah tidak ada lagi kemungkinan adanya kegembiraan, cinta, dan sebagainya. Semua itu makin jauh dari kemanusiaan yang penuh dari, proses perluasan kodrat manusia dalam bentuk terikat penuh.”

Sebagian besar teori sebelumnya tentang gangguan mental yang diangkat dari ilmu-ilmu alam (ilmiah), telah berusaha mengabaikan perasaan subjektif orang ; yakni emosi, kekhawatiran, dan frustasi mereka. Namun, justru hal inilah seorang neurotic (seseorang yang sadar bermasalah tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya) harus menanggung akibat karna telah mengabaikan kebutuhan-kebutuhannya sendiri dimana kebutuhan ini juga diabaikan dan disangkal oleh “ilmuwan”. Seperti yang dikatakan oleh Dr. Maslow “ Bukan saja seorang neurotic yang harus membayar sangat mahal bagi usahanya yang sia-sia itu ( yaitu mengabaikan kebutuhannya sendiri sebagai manusia), namun secara ironis sedikit demi sediikit ia juga akan kehilangan kemampuan untuk berfikir.”

Seorang penderita neurotic, akan merasa takut diberi hukuman pukulan secara fisik. Dimana ia tidak dapat meninggalkan perilaku kekanak-kanakannya. Orang yang seperti itu memang secara fisik dewasa sudah matang, tetapi terbelakang secara psikologis. Orang tesebut yang belum berhasil mengembangkan bakat mereka dan mengasah ide-ide baru yang berkaitan dengan cara menjalin suatu hubungan yang baik dengan orang lain. Yang secara setengah sadar semuanya merupakan akibat dari mengabaikan kodrat mmereka sebagai manusia yang mengakibatkan istilah “neurosis” berkembang.

Sebenarnya tidak ada hubungannya tingkah laku seorang korban antara pandangan tentang psikopatologi (penyakit mental) dengan penyakit medis yang menganggap penyakit mental disebabkan oleh virus atau sebagainya. Dua hal itu merupakan perbedaan yang sangat besar dan menonjol. Penjelasannya adalah kita ambil contoh penyakit cacar yang disebabkan oleh virus. Jenis penyakit medis ini, pastinya dapat disimpulkan bahwa si pasien tidak dapat berbuat banyak untukk mengatasi penyaitnya. Karena si pasien bukanlah penyebab penyakit tersebut, tentu saja tidak dapat memperbaikinya dengan sendirinya. Tentunya si pasien harus menunggu keputusan para dokter untuk memberinya obat yang tepat.

Ciri-ciri orang yang sehat bukanlah dapat dilihat dari jasmaninya saja, rohaninyapun juga harus sehat. Sehat rohaninya atau secara mental dalam penempatan dirinya sesuai dengan kemampuan yang ada dalam dirinya dengan tepat dari sudut pandang tindakan memahami atau menafsirkan suatu informasi sensoris serta memahami lingkungan alam semesta yang realistic. Hal ini tentu saja tidak hanya sakit secara emosional, tetapi pemikirannya pun menjadi keliru. Sesuai dengan pendapat seorang psikoanalis, Money-Kyrle bahwa dalam memperlakukan seorang penderita neurosis (penyakit saraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan organic pada susunan sarafnya) dengan sangat istimewa secara mutlak, karena persepsinya tentang alam semesta yang realitas tidak lagi tepat.

Keinginan-keinginan seseorang yang dibiarkan terjadi sampai kebatas merusak persepsinya sendiri diibaratkan seperti orang itu membiarkan sebuah timor yang menggerogoti tubuhnya sendiri, tubuhnya disini diartikan sebagai kesehatan psikologisnya. Orang yang dapat menempatkan persepsinya sendiri dengan realitas seluruh alam semesta terlihat biasanya saja apa adanya, justru tidak selalu mengganggap realitas seluruh alam semesta seperti yang diharapkannya. Neurosis sendiri merupakan ketidakmampuan seseorang dalam memilih berbagai macam kebutuhan psikologisnya sendiri yang sebenarnya atau dapat diartikan ketidakmampuan seseorang memilih secara bijaksana. Orang pemilih dibedakan menjadi dua macam, yakni pemilih yang baik dan pemilih yang buruk. Pemilih yang buruk merupakan orang yang buruk dalam mengamati macam kebutuhan psikologisnya, sehingga mudah mempercayai segala hal kebohongan tahun demi tahun meskipun sebenarnya kebenaran selalu terpampang di depan mata mereka.

Sikap seperti cemas, tegang, gelisah, khawatir, dan takut disebabkan karena ketidakpuasan kebutuhan akan rasa aman yang ia dapat. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian akan gangguan kecemasan yang berlebih (psikosomatik) cenderung menimbulkan masalah-masalah fisik maupun psikologis yang tidak diharapkan oleh setiap orang. Orang-orang dewasa yang mengalami gangguan ketidakseimbangan mental semacam ini menurut Maslow, akan selalu bertingkah laku seperti kanak-kanak yang merasa tidak aman. Hal itupun ditunjukan berdasarkan hasil pengamatan klinis bahwa terdapat perbedaan yang besar antara orang-orang dewasa yang merasa aman serta terlindungi dengan orang-orang dewasa yang tak bisa menghadapi maupun mengatasi rasa takutnya sendiri.

Berdasarkan hasil pengamatan Sigmund Freud, rasa takut dan rasa bersalah merupakan awal dari timbulnya berbagai jenis penyakit mental. Dan itu semua merupakan penemuan terbesar pengetahuan yang baru. Maslow mengakui bahwa karena rasa takut pada dirinya, orang-orang pada umumnya melakukan suatu usaha psikologis yang bertujuan untuk meredam keinginan, hasrat, atau insting mereka sendiri atau dalam dunia psikologis disebut represi. Selain melakukan represi, orang-orang juga pada umumnya melakukan pemfillteran tindakan untuk mengurangi atau mencegah timbulnya tindakan yang tidak perlu lalu memiliih melakukan tindakan yang lain yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Atau dalam dunia psikologis disebut inhibisi. Ketakutan yang semacam itu dalam memahami diri mereka sendiri merupakan sebuah kegagalan. Sedangkan untuk rasa bersalah seseorang dibedakan menjadi dua macam. Yang pertama merupakan rasa bersalah sejati, yakni rasa bersalah yang perlu timbul akibat seseorang yang gagal mengutarakan kebutuhan-kebutuhan psikologisnya secara jujur. Yang kedua merupakan rasa bersalah neurotic, yakni rasa bersalah yang dapat menimbulkan kecenderungan seseorang untuk merasa takut pada sebuah pendapat seseorang bahkan merasa takut pada penolakan orang lain juga. Rasa bersalah neurotic sendiri menurut Sigmund Freud merupakan satu-satunya rasa bersalah yang beliau kenal.

Rasa bersalah yang sejati memiliki fungsi sebagai suara hati yakni mengarahkan seseorang untuk menuju pribadi yang mengalami pertumbuhan. Penderitaan pada rasa bersalah yang sejati merupakan suatu hal yang menunjukan bahwa seorang telah melakukan hal yang tidak baik untuk pertumbuhan pribadinya atau dirinya. Sedangkan orang yang merasakan rasa bersalah neurotic akan merasa sangat tidak aman dan akan bertingkah laku seolah-olah dunia ini berisikan makhluk-makhluk yang dapat ia dominisikan atau parahnya berisikan makhluk-makhluk yang mendominisinya. Sistem pemikiran seperti itu ialah atas dasar pandangan hidup mereka sendiri. Bagi sebagian banyak orang penderita neurotic menganggap dunia adalah tempat yang tidak aman, menurut mereka dunia berisikan mara bahaya, ancaman, mementingkan dirinya sendiri, menghinakan segala sesuatu, dan dunia berasa dingin. Orang-orang yang merasakan rasa tidak aman cenderung bertingkah laku yang tidak disadari oleh mereka sendiri akan membuat rasa tidak aman tersebut bertambah parah. Dapat diartikan bahwa mereka bertingkah laku secara tidak sadar mengakibatkan sebagian orang lain tidak menyukai mereka bahkan menolak mereka, yang secara langsung membuat tingkah laku mereka semakin tidak aman.

Terdapat banyak cara agar perasaan tidak aman ini dapat muncul secara sadar dengan sendirinya. Sebagian dari mereka yang merasa tidak aman akan menjadi pribadi yang pemalu dan menarik diri dari pergaulan, bahkan sebagian dari mereka dapat pula menjadi pribadi yang garanng, agresif, dan jahat. Bahkan hingga menjadi ekstremis, yakni seseorang sangat antusias dan sangat berlebihan dalam tindakan yang tidak tepat, karena terlalu memfokuskan diri pada interpretassi diri yang berlebihan dalam melihat dunia semesta ini. Namun tidak semua ekstremis seperti itu, pada seseorang yang secara pribadinya merasa aman ekstremis yang muncul dapat berupa merasakan bahagia, sejahtera, namun sangat memprihatinkan orang lain. Menurut Maslow, pada umumnya orang yang merasa tidak aman akan mendambakan kekuasaan, namun kebutuhan akan kekuasaan ini muncul dalam berbagai macam bentuk, seperti ambisi dan agresi yang berlebihan, hasrat ingin memiliki yang berlebihan, gila jika sudah berkaitan dengan uang, hasrat ingin bersaing yang berlebihan, sangat mudah terjebak dalam prasangka dan kebencian. Atau lebih parahnya sebaliknya, seperti sikap menjilat atau sikap palsu seperti bermuka dua, sikap selal tunduk, sikap masokrstik yakni rasa senang yang berasal dari rasa sakit fisik atau psikologis yang ditimbulkan pada diri sendiri baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Agar bakat seseorang yang diimiliki tumbuh dengan baik serta mengaktualisasikan dengan tepat, seseorang perlu mengembangkan dan menggunakan bakar tersebut. Hal seperti merupakan sebuah arti kesehatan mental. Menurut penelitian klinis Maslow, orang yang memiliki inteligen cenderung menjalani hidupnya yang sangat membosankan, hasrat hidupnya hilang, hingga penolakan akan dirinya sendiri, bahkan parahnya terjadinya kerusakan fisik. Berbagai macam masalah tersebut pada umumnya cenderung dialami oleh wanita-wanita yang cerdas dan serba kecukupan dalam berbagai aspek namum menganggur. Pada wanita-wanita tersebut cenderung akan muncul masalah-masalah tersebut diatas. Agar gejala-gejala tersebut berkurang dan membaik atau bahkan menghilang, menurut Maslow para wanita tersebut perlu mencari kesibukan untuk diri mereka sendiri dapat dalam bentuk kegiatan yang menurut mereka berarti bagi diri mereka sendiri. Ketika seseorang memiliki tujuan-tujuan hidup yang bermakna, tentunya mereka dalam menjalani kehidupan mereka hari-demi hari bagi mereka sangat berarti dan tentunya orang itu tidak berkeberatan untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan seberapa berat sekalipun. Tetapi jika seseorang tidak menemukan makna dari tujuan menjalani keseharian hidupnya, maka tentu saja hidupnya juga tidak berarti sama sekali. Kejadian tersebut diartikan sebagai kelaparan intelektual oleh Maslow. Seseorang yang inteligen sendiri butuh memenuhi kepuasan rasa ingin tahu atau rasa penasaran mereka, jika tidak terpenuhi akan timbul masalah-masalah penyakit mental atau psikopatologis.

Usaha nekat seseorang untuk terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasarnya sendiri tetapi kemudian tidak berhasil cenderung menimbulkan suatu masalah kejiwaan (neurosis). Tetapi menurut pandangan Sigmund Freud, neurosis sendiri timbul ketika seseorang berusaha memuaskan kebutuhan yang tak tersalurkan kemudian seseorang tersebut tidak berhasil membedakan antara kebutuhan yang nyata dan berlaku dengan kebutuhan yang tidak nyata dan berlaku. Menurut penelitian klinis Maslow sendiri terdapat perbedaan antara memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang nyata dan berlaku dengan memuaskan kebutuhan-kebutuhan nerotik. Kebutuhan neurotic sendiri bersifat tidak bisa terkendalikan, tidak fleksibel, bersifat memaksa, dan tidak rasional. Kebutuhan neurotic juga hanya bersifat sementara, kepuasan yang dihasilkan tidak yang sebenarnya. Kebutuhan-kebutuhan neurotic seperi itu bukanlah bagian dari jati diri seseorang tersebut, melainkan sebuah tindakan penyerangan terhadap inti dari pribadi seseorang sendiri atau bahkan dapat berupa sebuah pertahanan bagi inti dari pribadi seseorang itu sendiri. Pemuasan kebutuhan yang seperti diatas bukannya mengakibatkan bakat seseorang tumbuh, namun dapat menyebabkan hilangnya bakat seseorang.

Menurut Maslow, ketika kebutuhan-kebutuhan neurotic terpuaskan tidak akan menimbulkan kesehatan jika dibandingkan ketika kebutuhan-kebutuhan dasar yang bersifat melekat terpuaskan. Jika kita memberikan seorang yang haus akan kekuasaan akan kebutuhan-kebutuhan neurotic tersebut sebuah kekuasaan, tidak akan membuat neurosis yang dideritanya berkurang, bahkan kebutuhan-kebutuhan akan kekuasaan tersebut tidak akan bahkan tidak mungkin terpuaskan. Jika kekuasaan yang satu sudah dimilikinya, ia akan selalu merasa kurang. Oleh sebab itu rasa haus membuatnya mencari kekuasaan neurotic yang lainnya agar menjadi milikinya. Terpuasnya atau tidak suatu kebutuhan neurotiknya tidak ada pengaruhnya bagi keshatan yang sesungguhnya. Berbeda sekali dengan kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan rasa nyaman dan kebutuhan akan rasa kasih sayang. Jika kebutuhan tersebut terpuaskan maka akan menimbulkan kesehatan yang sesungguhnya. Artinya kebutuhan tersebut benar-benar terpuaskan. Namun, jika kebutuhan tersebut tidak terpuaskan maka akan menimbukan sebuah penyakit.

Orang-orang penderita neurosis akan terus-menerus mencoba menghadapi realitas tanpa memahami dirinya sendiri, sehingga tingkah lakunya yang neurotis membuat kepuasan yang dikejarnya tidak akan pernah tercapai. Yang mengakibatkan orang tersebut mengalami rasa keputusasaan yang sangat mendalam, yang membuatnya berhenti akan segala macam usahanya. Menurut Maslow sikap masa bodo pada penderita skizofrenia sebenarnya mengutarakan bahwa mereka putus asa dan kehilangan harapan mereka.

Hal mutlak yang terjadi di dalam diri setiap seperti konflik batin antara kedewasaan dan ketidakdewasaan, antara sebuah tanggung jawab dan tidak bertanggung jawab yang semata-mata hanya mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, antara dorongan dan pengendalian, antara keinginan-keinginan pribada dan tuntutan-tuntutan masyarakat maupun social. Konflik antara individu satu dengan individu yang lain muncul akibat konflik yang terjadi pada diri pribadi seseorang sendiri. Hal ini diperjelas bahwa masalah-masalah pemahaman komunikasi antara banyak orang sekaligus umumnya salah satu akibat dari masalah-masalah pemahaman dalam komunikasi di dalam diri individu sendiri. Maslow menyatakan bahwa konflik yang sama dalam diri seseorang sendiri pada masing-masing individu sendiri ketika secara bersamaan saling menarik dan saling menolak antara individu yang satu dengan individu yang lain. Pertentangan dalam batin yang sangat kekal diantaranya pertentangan antara pertahanan dan pertumbuhan, rasa takut dan keberanian, antara ilmu tentang penyakit atau patologi dan kesehatan.

Pada percobaan tentang “menanamkan” atau “imprinting” dengan anak ayam yang sejak awal dihalangi untuk mematuk, kemudian mereka menunjukkan sebuah refleks akan naluri-naluri mereka dengan berhentinya hingga menghilangnya kemampuan mematuk mereka. Bahkan kemampuan mematuk mereka dapat menghilang secara permanen, tidak bisa diperbaiki seperti semula. Menurut Maslow, bayi-bayi manusia sejak delapan belas bulan sejak kelahiran tidak mendapatkan kasih sayang cenderung akan tumbuh menjadi psikopat dimana ia tidak memiliki rasa cinta lagi bahkan tidak butuh kasih sayang sama sekali. Namun hal itu berbeda dengan apa yang ada di dalam diri orang yang neurotik terdapat banyak jalan untuk mengotori kearifan dari tubuhnya sendiri, kearifan tersebut tidak akan pernah hilang sama sekali.

Berdasarkan sebuah penelitian, anak-anak yang diterima sepenuhnya di lingkungannya sampai yang ditolak sepenuhnya, ternyata ditemukan bahwa anak-anak yang ditolak sedikit semi sedikit cenderung lebih bertingkah laku menunjukan kehausan mereka akan rasa kasih sayang. Berbeda dengan anak-anak yang sejak awal ditolak cenderung tidak lagi menunjukan keinginan mereka akan kasih sayang, melainkan mereka melampiaskan melalui sikap dingin yang memberikan kesan seakan-akan mereka tidak memiliki kebutuhan akan kasing sayang sama sekali.

Seorang psikopat dapat diartikan sebagai orang-orang yang tidak memiiki suara hati, tidak memiliki rasa bersalah, tidak memiliki rasa kasih sayang maupun rasa cinta pada orang lain, tidak bisa menahan diri dan tidak memiliki pengendalian. Semua itu tidak dimiliki mereka sedari dini, sehingga secara otomatis mereka melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa memperdulikan siapapun yang mencegah ataupun melarangnya. Hal tersebut cenderung menjadikan mereka seorang penipu, pemalsu, pelacur, dan mencari nafkah dengan segala kecurangan mereka, bukan dengan kerja keras mereka. Tekanan suara hati, rasa kesal, rasa cinta tanpa maksud, rasa sedih, rasa ib, rasa serba salah, rasa malu, semua itu disebabkan olah ketidakmampuan psikopat dalam memahami kepedihan orang lain. Tentunya hal tersebut merupakan kekurangan dari mereka sejak awal, yakni mereka yang tidak dapat merasakan maupun memahami hal-hal yang mereka sendiri tidak pernah mengalaminya sendiri. Dan yang menjadi kelebihan para psikopat tersebut adalah mereka dapat sangat mudah menemukan unsur-unsur psikopatis dalam diri orang lain yang oleh orang biasa tidak diketahui. Dengan kemampuan yang demikian mereka memanfaatkan kecenderungan ke arah sesuatu yang tidak jujur, sifat rakus serta kecurangan, dan mencari riezeki lewat kelemahan-kelemahan mereka sebelumnya.

Perilaku tokoh-tokoh tertentu yang mencapai kesuksesan gemilang di dunia saat ini, ternyata tidak jauh dari teori kebutuhan-kebutuhan dasar. Misalnya, seseorang yang sukses memperoleh kekuasaannya dibidang politik, tetapi dalam pencapaiannya yang ia perjuangkan hanya demi alasan alasan neurotik bagi dirinya saja, bisa saja sangat sukses, tetapi hal yang seperti itu justru harus diwaspadai oleh masyarakat sekitar. Sebab kebutuhan-kebutuhanya berupa kekuasaan bersifat memaksa dan kebutuhan akan kekuasaannya tidak akan pernah terpuaskan. Meskipun orang-orang seperti itu sudah menjadi kaya raya akan terus menerus berusaha mengumpulkan uang lebih banyak lagi, meskipun kebutuhan material mereka sebenarnya sudah terpenuhi. Meskipun mereka terlihat sangat sukses, tetapi pengumpulan yang mereka lakukan tidak memberikan kepuasan sebab yang mereka lakukan semacam itu tidak memberikan kepuasan akan kebutuhan yang sesungguhnya, melainkan hanya memuaskan rasa haus mereka akan suatu penghargaan dan penerimaan dalam masyarakat.

Menurut Sigmund Freud, pemerkosaan menimbulkan bentuk gejala neurotic pada pelaku. Pada era ini akan dijawab oleh teori kebutuhan-kebutuhan dasar. Menurut Maslow banyak khasus yang membuktikan bahwa hidup orang-orang dalam kedudukan tertentu dimana orang itu tidak boleh menikah, seperti rohaniwan di gereja Katolik Roma tidak menimbulkan gejala-gejala perilaku penyakit mental. Walaupun dalam segi kasus lain bisa saja timbul akibat-akibat negative. Berdasarkan pengamatan klinis yang dilakukan pada orang-orang yang tidak menunjukan gangguan pada syaraf, menunjukan dengan jelas bahwa pemerkosaan akan bersifat menimbulkan penyakit pada orang-orang dalam artian apabila oleh mereka dirasakan sebagai tanda penolakan diri dari pihak lawan jenis, ataupun mencerminkan rasa rendah pada harga dirinya, rasa tidak berharga,rasa tidak dihargai, pengucilan, atau bahkan bentuk ancaman lain terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar mereka yang lainnya. Dalam kasus perampasan seksual akan dapat dihadapi dengan mudah jika orang-orang tidak memiliki anggapan semacam itu.

Dengan teorinya tentang kebutuhan-kebutuhan psikologis yang bersifat dasar, Maslow ingin mengajukan sebuah penjelasan yang ringkas dan mudah dipahami tentang nerosis (penyakit syaraf yang berhubungan dengan fungsinya tanpa ada kerusakan pada susunan syaraf) dan psikosis (kelainan jiwa yang disertai dengan disintegrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan), terlepas dari banyaknya ragam gejalanya yang ditunjukan.

Agresi

Kita ketahui bahwa masyarakat kini makin memprihatinkan dengan meningkatnya gejala kekerasan dan tingkah laku yang agresif. Oleh sebab itu Dr. Maslow memberikan perhatian aspek khusus pada tingkah laku ataupun tingkah laku yang menyimpang ini dengan penjelasan dalam teori tentang motivasi oleh Dr. Maslow yang dapat ditangkap dengan baik dan dengan ruang lingkup yang luas.

Pada dasarnya, teori-teori tentang agresi dapat dibagi ke dalam dua kategori utama: (1) Teori-teori yang berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah atau merupakan kodrat bawaan manusia, dan (2) Teori-teori yang tidak berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah. Menurut Freud yang merupakan salah satu ilmuwan behavioral, berpandangan bahwa permusuhan dan keagresifan ialah sifat-sifat yang melekat pada kodrat manusia. Hal tersebut didasarkan pada pengamatan yang menunjukan bahwa binatang-binatang bersifat agresif dan bersifat merusak. Menurut Freud manusia juga merupakan binatang, maka manusia juga memiliki sifat naluri kekerasan maupun keagresifan. Akan tetapi Maslow menolak pandangan akan jalan pikiran Freud. Maslow memilih kategori ke dua,yakni ia tidak berpandangan bahwa agresi bersifat naluriah. Walaupun sekalipun ia mengakui bahwa bukti-buktinya belum sepenuhnya dapat disimpulkan.

Menurut jalan pikiran Maslow, walaupun binatang-binatang tersebut bersifat agresif akan tetapi tidak semua binatang demikian. Pada kenyataannya keagresifan dan kekerasan pada beberapa angota spesies dalam kerajaan binatang merupakan pengecualian, bukan menjadi sesuatu yang umum. Kemudian, spesies-spesies yang dianggap paling dekat hubungannya dengan manusia ternyata memberikan sedikit bukti akan adanya naluri keagresifan pada binatang. Hal ini memang benar khususnya bagi sebagian besar jenis kera yang pernah diteliti dan digunakan sebagai subjek percobaan oleh Maslow selama masa pendidikannya di universitas. Misalnya pada simpanse betina membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada agresi yang dilakukan demi keagresifan itu sendiri. Menurut pengakuan Maslow ternyata kekerasan dan agresi merupakan ciri binatang-binatang tertentu secara individual. Suatu penelitian yang lain oleh Maslow terhadap beberapa tikus laboratorium menunjukan bahwa sedikitnya sifat buas ditimbulkan dan diturunkan secara genetika dari generasi ke generasi.

Menurut Maslow agresi memiliki dasar kebudayaan bukannya genetic, hal itu diyakininya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Maslow terhadap orang Indian Northern Blackfoot. Dalam penelitian ini bahkan Maslow mampir tidak menemukan agresi pada suku ini, padahal suku Indian memiliki tingkah laku dimana mereka merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri seakan mereka yang mulia, mereka sangat perkasa dan bebas. Bahkan dalam penelitiannya Maslow menemukan bahwa meskipun mereka dalam keadaan mabuk karena miuman keraspun orang-orang Indian ini pun cenderung memperlihatkan tingkah laku mereka yang periang dan ramah, bukannya perilaku agresif.

Agresi adalah suatu bentuk reaksi akan frustasi atau ketidakmampuan seseorang dalam memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasarnya. Agresi merupakan sebuah bentuk dari reaksi, bukan sebuah naluri. Walaupun manusia yang sehat dapat mempertahankan dirinya, mereka sudah belajar memahami diri mereka sendiri dan orang lain sehingga mereka tidak akan bersikap keras, agresif, ataupun merusak. Orang-orang yang sehat cenderung menyukai kasing sayang, persahabatan, bahkan kerja sama, akan tetapi berbanding terbalik dengan orang-orang yang memiliki gangguan syaraf dan gangguan jiwa dimana mereka tidak dapat menilai atas kenyataan yang terjadi. Hal itu disebabkan karena mereka tidak dapat menjalin hubungan dengan orang lain dan rasa untuk memuaskan kebutuhan dasar psikologis mereka akan pengakuan dan penerimaan di masyarakat yang begitu kuat. Bahkan mereka berusaha menemukan sebuah kenikmatan yang berasal dari kebencian dan sikap merusak dari sikap mereka sendiri. Jika orang-orang melihat dunia dari sudut pandang Darwin dimana suatu kemenangan berada di tangan yang terkuat, maka bagi mereka dunia merupakan tempat yang sangat buas dan berbahaya. Dimana dunia ini dipenuhi dengan orang-orang yang tidak jujur, mementingkan dirinya sendiri dan orang yang agresif. Bagi mereka agresi merupakan suatu bentuk reaksi atau sebuah pertahanan akan apapun yang mereka anggap sebagai ancaman bagi diri mereka. Salah satu contohnya adalah perilaku psikopat yang melakukan pembunuhan, penyiksaan atau penganiayaan tanpa rasa penyesalan sama sekali. Dimana menurut Maslow sendiri mereka tidak memiliki rasa sayang sama sekali terhadap orang lain sehingga mereka tega melukai ataupun membunuh orang lain dengan tenangnya, tanpa adanya kebencian dan kenikmatan akan apa yang mereka lakukan. Yang mereka lakukan seperti membunuh binatang-binatang yang menjadi sumber penyakit.

Menurut anggapan dari Maslow, agresi pada umumnya dapat dicegah dan disembuhkan karena agresi sendiri bersifat kultural. Namun agresi yang timbul pada perilaku seorang psikopat belum ada bukti yang mencukupi. Mungkin kebanyakan kasus psikopat ini, orang-orang ini sama sekali kehilangan rasa untuk menjalin suatu hubungan dengan orang lain sampai tidak dapat disembuhkan lagi.

Terapi

Sebenarnya sifat dan kemampuan seorang terapis lebih menjamin dan berpengaruh dalam metode klinis penyembuhan daripada teori-teori yang mereka anut. Teori-teori yang dianut para terapis tersebut memiliki perbedaan yang tidak sebanding dengan kemampuan mereka.

Salah satu metode psikoanalisis adalah asosiasi bebas, yakni teknis dimana si pasien dalam keadaan rileks, biasanya dengan berbaring di atas dipan, berbicara apa saja yang ada di dalam pikiran mereka, tanpa terlalu banyak dipotong pembicaraannya. Hal ini dilakukan berdasarkan teori bahwa lewat diskusi yang sebenarnya terlihat tanpa tujuan, dengan dilengkapi analisis terhadap mimipi-mimpi pasien, maka dengan itu pasien itu akan menjadi sadar akan kejadian-kejadiannya di masa lalu yang telah meyebabkan atau sedang menjadi sebab dari kesulitannya. Dr. Maslow sendiri memiliki pengalaman sebagai subjek psikoanalisis sekaligus sangat akrab dengan metodologis ini yang ia dapat saat pendidikannya. Menurut Maslow pendekatan ini sangat membantu bagi pasien-pasien tertentu untuk mengenali dan memperbaiki sebagian pemikiran mereka tentang “interpretasi mereka yang kekanak-kanakan tentang diri mereka sendiri maupun tentang orang-orang lain”. Pada awalnya Dr. Maslow sebagai psikolog klinis sering heran bahwa si pasien mengaku sembuh meskipun yang dilakukan oleh terapis hanyalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang masalahnya dan tentang riwayat hidupnya. Salah satu pengalamannya ketika seorang mahasiswi suatu akademi meminta nasihatnya mengenai suatu masalah. Satu jam kemudian setelah ia puas berbicara, sementara selama itu terapis tidak menatakan sepatah kata pun, ia ntelah memecahkan masalahnya secara memuaskan dan berterima kasih kepada terapis atas jasa-jasnya keahliannya. Hal ini menunjukan bahwa menemukan kepuasan tersendiri ketika ia telah meluapkan semua pikirannya kepada terapis, yang secara tidak sengaja ia menemukan sendiri cara mengatasi masalahnya sendiri.

Dr. Maslow pernah mewawancarai tiga puluh empat orang yang baru menjalani berbagai macam terapi dalam satu tahun terakhir. Dua puluh empat dari mereka mengatakan bahwa mereka puas dengan terapi yang telah mereka terima dan terapi mereka sungguh-sungguh sangat menolong mereka. Pengakuan tersebut terlepas dari kenyataan bahwa mereka yang diwawancarai tersebut telah menerima berbagai macam metode klinis. Maka menurut pendapat Maslow semua jenis psikoterapi utama sejauh pendekatan-pendekatan itu berhasil memberikan kepada pasien pemahaman akan diri mereka sendiri, memperkuat dan mendorong kebutuhan-kebutuhan dasar alamiah mereka, serta mengungkapkan, melemahkan dan terkadang sekaligus menghilangkan segala bentuk kebutuhan yang menyebabkan gangguan syaraf atau neurotic. Apabila terapi tersebut berhasil, maka orang akan berubah dari sebelumnya sehingga mereka melihat berbagai persoalan dan berpikir secara berbeda ; meliputi emosi-emosi dan alasan-alasan mereka berubah dan sikap mereka terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap orang lain pun juga berubah. Dr. Maslow berpendapat bahwa karakter atau kepribadian mereka berubah baik luar maupun luar. Hal ini terbukti dengan penampilan mereka yang berubah, kesehatan fisik mereka meningkat dan sebagainya. Dalam suatu kasus tertentu bahkan terjaddi peningkatan IQ.

Sigmund Freud umumnya menyarankan hubungan yang bersifat non-personal dan berdasarkan keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh pandangan pribadi antara psikiater dan kliennya. Tetapi masa kini banyak terapis yang menyarankan hubungan yang lebih personal. Ada perbedaan besar diantara para terapis, meskipun mereka semua menggunakan metode yang sama. Maslow sendiri menganjurkan agar pasien dan terapis saling memilih, atas dasar menyukai diantara hubungan keduanya. Pandangan Freud hampir sama dengan Maslow, yakni terapis yang lebih memahami dirinya akan paling berhasil memahami orang-orang lain. Freud juga berpendapat bahwa apa saja yang membuat terapis menjadi seorang pribadi yang jauh lebih baik juga akan berpengaruh menjadikannya seorang terapis yang lebih berbobot pula. Seorang terapis yang ideal haruslah kokoh secara emosional, tidak terlalu memikirkan soal uang, sekurang-kurangnya mampu mencintia secara langgeng, jika suda menikah bahagia dalam menikmati kehidupannya. Pesona pribadi Maslow sendiri memilih jalan pikirannya sendiri, dimana karyanya akan lebih bermanfaat dalam membantu orang-orang sehat, karena waktu yang sedikit akan bermanfaat besar daripada berjam-jam dengan orang yang memiiki gangguan neurotic. Pemikiran Maslow tersebut mendorong lahirnya sederetan pusat-pusat pertumbuhan di segala penjuru di Amerika Serikat, diawali oleh Institut Esalen di Big Sur, California. Semua pusat ini memberikan tekanan pada usaha meningkatkan kehidupan orang-orang yang sudah sehat, bukan orang-orang yang neurotik.

Walaupun menurut Maslow pentingnya peranan para ahli terapis dalam menangani kasus-kasus neurotic serta psikotik, namun menurut bagi kebanyakan orang pertumbuhan dan peningkatan kepribadian berlangsung berkat pertolongan orang-orang terdekat seperti para pemuka agama, sahabat atau kawan dekat, mitra yang baik dalam perkawinan, kadang-kadang jabatan yang bagus

Sebenarnya dapat diajukan suatu kasus dalam pembutian thesis bahwa lingkungan hidup yang baik merupakan bagian sumber penyembuhan dasar dan tugas psikoterapi teknis hanyalah membantu individu membantu individu agar mampu memanfaatkan sumber-sumber penyembuhan tersebut. Lingkungan hidup seperti seorang sahabat baik, dimana menjadi tempat orang dapat mengutarakan masalah dan kekhawatiran pribadi secara terus terang dan lebih leluasa dapat sangat membantu menuju kesehatan psikologis. Lingkungan hidup lainnya, yakni perkawinan yang baik, memiliki anak, kesuksesan dalam karier yang sesuai, menghadapi keadaan darurat dan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan. Kadang kala hanya melihat semua itu mengahasilkan perubahan-perubahan kepribadian yang mendalam, menghilangkan gejala-gejala penyakit dan sebagainya, tanpa bantuan seorang terapis terampil.

Terapi yang berhasil yakni terapis tanpa menggunakan metode khusus yang digunakan. Ternyata membantu pasien dengan memberinya pengertian, wawasan, pemahaman, dirinya sendiri dan pandangan yang lebih baik tentang realita. Hal tersebut membuktikan fakta bahwa kesehatan mental hampir sama dengan pandangan yang lebih baik tentang realita. Seseorang biasanya menjadi lebih mampu memecahkan masalah-masalah dalam hidupnya. Tidak hanya memahami dirinya sendiri, pemahaman tentang orang lain juga diperlukan. Sebab jika tidak akan mengurangi keberhasilan suatu hubungan, akan tetapi jika sebaliknya akan meningkatkan pergaulan. Apabila orang tersebut menjadi lebih sadar tentang pentingnya motivasinya, kebutuhannya, hasratnya, kesukarannya.

Menurut Maslow dan pandangan para terapis lainnya, cinta kasih sangat penting bagi kesehatan mental. Berdasarkan percobaan pada bayi-bayi menunjukan bahwa perampasan cinta dan kasih sayang dapat menimbulkan masalah-masalah bahkan dapat mengakibatkan kematian. Pada banyak kasus tertentu berasal dari kurangnya cinta kasih yang diterima seseorang pada masa-masa awal kehidupannya. Akan tetapi para terapis kini telah berasil menemukan cara penyembuhan khususnya untuk pasien kanak-kanak, yaitu dengan memberi mereka kasih sayang dan kelembutan. Dalam kebanyakan kasus cara ini juga efektif untuk para pasien dewasa. Terapi yang berhasil membuat mereka mampu memberi dan menerima cinta. Kebanyakan teoretikus yakin atau berpendapat bahwa kebutuhan akan cinta tercipta atau terbentuk melalui kebiasaan dalam pemuasan kebutuhan fisiologis, misalnya kita belajar mencintai seseorang yang memberikan dan membagi makanan, kehangatan, pelindungan. Ajaran dahulu dan kini tentang kebutuhan akan pengetahuan, pemahaman, dan keindahan juga dipelajari lewat pembiasaan pemuasan fisiologis, merupakan pertanda akan adanya makanan dan sebagainya. Pengalaman kita sedikitpun tidak mendukung kebenaran pendapat teoretikus tersebut. Malahan khususnya dalam terapis muncul bukti bahwa cinta tidak menimbulkan masalah-masalah emosional akan tetapi cinta dan kasih sayang merupakan dasar bagi perkembangan seseorang yang sehat, membuktikan bahwa kebutuhan akan cinta bersifat alamiah. Oleh Karen aitu terapi dapat diartikan sebagai usaha membantu orang menjadi lebih terampil berhubungan dengan orang lain.

Berdasarkan pengamatan Maslow, sebuah terapi hanya akan berhasil sejauh usaha sebuah terapi itu benar-benar membantu orang melihat dan menemukan cara-cara yang lebih baik dalam bertingkah laku, berfikir, dan berhubungan dengan orang lain. Akan tetapi yang akan berhasil tersebut, disebut berhasil jika karena ia melahirkan pribadi-pribadi yang lebih baik di masa depan. Dalam artian pribadi-pribadi yang akan menjadi orang tua yang lebih baik, mitra yang lebih baik dalam perkawinan, pekerja yang baik, warga negara yang lebih baik. Salah satu kesalahan ilmuwan behavioral baik psikolog maupun psikiater adalah mereka yakin bahwa tingkah laku yang benar dan yang salah tidak memiliki dasar ilmiah. Maslow berkata, sudah selayaknya setiap hari para psikoterapis yang professional menyempurnakan atau bahkan mengubah tujuan manusia, membantu orang-orang untuk menjadi lebih kuat, lebih berbudi luhur, lebih kreatif, lebih memiiki rasa cinta kasih, lebih menaruh perhatian pada orang lain, lebih tentram. Semua itu hanya merupakan sebagian akibat dari pemahaman diri dan penerimaan diri yang jauh lebih baik.

Terapi dalam bentuk pemahaman diri ternyata berhasil, sebab metode tersebut membantu individu, menemukan dalam dirinya kebutuhan untuk bertingkah laku secara benar, menemukan kebenaran tentang dirinya. Dalam pemuasan kebutuhan dasar menuntut kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Jika kemampuan interpersonalnya tidak menjadi lebih baik,individu tersebut akan menemukan kesulitan dalam memuaskan kebutuhannya, seperti kebutuhan akan rasa aman, rasa dimiliki-memiliki, cinta kasih, dan penghargaan. Bahkan keterampilan di atas juga dituntut untuk memuaskan kebutuhan akan harga diri, pengetahuan, serta pemahaman. Seorang terapis yang berhasil harus membantu individu agar lebih mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya, dengan begitu akan mendorong individu kea rah aktualisasi dirinya. Maslow menyebut hal itu sebagai “ tujuan pokok segala macam terapi”.

Dr. Maslow melakukan terapi dimana ia berhasil meningkatkan harga diri seorang wanita yang sangat pemalu dan menarik diri dengan cara wanita itu diminta untuk menonjolkan diri dalam dua puluh macam situasi yang spesifik dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ia diminta untuk mendesar penjual makanan langganannya agar menyediakan makanan tertentu untuk dirinya dan wanita itu diminta mengabaikan keberatan-keberatan penjual itu. Dalam tiga bulan telah terbukti bahwa harga dirinya meningkat dan berhasil mengubah tingkah lakunya secara keseluruhan. Wani tersebut kemudian tidak keberatan mengenakan gaun-gaun ketat yang sebelumya tidak ia sukai. Untuk pertama kalinya ia berani tampil dimuka umum dengan menggunakan baju renang yang sebelumny ia sangat melu untuk melakukannya. Suaminya juga melaporkan bahwa ada perubahan positif dalam tingakah laku wanita yang menjadi istrinya itu, yang sebelumnya sangat malu-malu. Isi mimipi-mimpinya pun berubah dan ia mampu menghadapi sejumlah situasi yang sebelumnya dirasakannya terlampau sulit.

Maslow menjelaskan bahwa sebab dalam terapi umumnya pasien menolak mengakui kebenarannya bahwa wajar orang cenderung melindungi gambaran dirinya, egonya. Selain itu, realitas memang bisa menjadi sangat terancam, khususnya bagi orang yang merasa tidak aman. Orang-orang yang biasanya terasa aman pun sering diganggu oleh beraneka rasa takut. Berdasarkan pengamatan Maslow, rasa takut seperti itu biasanya merupakan akibat dari pengalaman spesifik tertentu. Dan bagi orang-orang semacam itu, teknik yang oleh Maslow disebut pembiasaan kembali sederhana yaitu pemberian penjelasan intelektual, pemberian bimbingan untuk memperkuat kemauan dan pemberian nasehat-nasehat. Teknik tersebut sudahlah memadai, namun metode-metode ini sama sekali tidak ada gunanya bagi orang yang sungguh-sungguh merasa tidak aman. Oleh karena itu Maslow mengambil kesimpulan bahwa dapat dikatakan rasa takut yang tidak sejala dengan aspek-aspek kepribadian lainnya muudah dihilangkan. Akan tetapi, sebaliknya rasa takut yang sejajar atau sejalan dengan aspek-aspek kepribadian lainnya akan sukar dihilangkan.

Beberapa terapis percaya bahwa rasa bersalah merupakan salah satu penyebab penting bagi timbulnya neurosis. Untuk menyembuhkannya, menurut para terapis tersebut pasien harus diyakinkan bahwa perasaan bersalahnya itu merupakan akibat yang tidak perlu yang berasal dari pendidikan yang terlalu berpegang teguh pada nilai-nnilai moral dan agama. Namun Maslow tidak berpikir demikian, ia yakin bahwa rasa bersalah sejati adalah akibat kegagalan orang tumbuh sesuai dengan potensinya. Jika ini yang terjadi, maka terapis harus membantu pasien menemukan dan memahami sebab dari rasa bersalahnya itu. Keterlibatannya sangatlah jelas, yaitu ketika kita mengalami kegagalan tersebut kita menjadi kurang toleran, kurang bersikap relative terhadap persoalan-persoalan ini, dan lebih bersikap menghakimi. Oleh sebab itu, kini para psikolog mengakui bahwa ada ketidaksadaran yang sehat maupun yang tidak sehat. Sedangkan yang harus disalurkan dan harus diperkuat adalah ketidaksadaran yang sehat.

Seseorang yang otoriter yang menganggap dunia ini penuh bahaya, mungkin tidak akan menunjukan tanggapan yang baik terhadap terapis yang kelihatan lemah lembut dan serba percaya. Bagi orang-orang yang merasa berkuasa diri yang keras dan ketat adalah yang paling tepat. Membantunya dengan memberikan kebebasan dan kepercayaan hanya akan meningkatkan tingkah laku buruk mereka. Sama halnya dengan individu yang sangat pasif dan tergantung tidak akan da;pat menerima kebebasan dan tanggungjawab secara tiba-tiba. Sehingga dalam hal ini ita tidak boleh berfikir bahwa dalam kondisi yang baik pasti membuat setiap orang menjadi pribadi yang tumbuh, mengaktualisasi diri. Dengan kata lain jenis-jenis neurosis tertentu tidak akan tersembuhkan dengan cara ini.

Selama musim panas 1962 ketika Abraham Maslow menjadi dosen tamu pada Western Behavioral Science and Non-linear Systems, ia diundang oleh Dr. Robert Tannenbaum untuk mengunjungi salah satu kelompok “sensitivity training” UCLA di Lake Arrowhead. Ini merupakan pengenalan pertamanya dengan salah satu “training groups” (atau yang dikenal dengan sebutan “T-grups”). Ia belum banyak membaca tentang kelompok-kelompok ini. Pengalaman itu sungguh-sungguh baru dan mengesankan. Sebagai orang yang pernah mendalami psikoanalisis, ia sangat terkesan oleh kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan antara analisis dan T-groups. “Sensitivity training” tida mengenal struktur, artinya sejumlah orang dikumpulkan dalam suatu kelompok, bahkan hampir tanpa diberi petunjuk sama sekali. Mereka hanya sekedar duduk dan berbicara satu sama lain. Ini mirip dengan teknik mendorong subjek agar mengutarakan apa saja yang terlintas di kepalanya dalam psikoanalisis. Dalam “sensitivity training group”ini boleh dikatakan tidak ada kegiatan yang dijadwalkan, sehingga bagi banyak partisipan pada permulaan terasa tidak ada tujuannya. Maslow juga melihat persamaannya dengan filsafat Tao tentang “noninterferensi”, yaitu membiarkan segalanya atas kehendak dan caranya sendiri. Maslow pernah mengembangkan cara serupa dikalangan mahasiswa tingkat doctoral di Brandeis. Dari pengamatan yang dilakukan Dr. Maslow terhadap mahasiswa tingkat doctoral di jurusan psikologi yang bersuasana permisif dan Taoistik, Dr. Maslow memberi kesimpulan bahwa sedikitpun aturan dan pemberian keleluasaan merupakan suasana yang paling baik untuk mendorong munculnya daya-daya psikis yang terdalam bahkan kecenderungan-kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri ke permukaan. Namun Dr.Maslow juga melihat bahwa suasana di jurusan yang sedemikian ini juga dapat memunculkan semua kelemahan mahasiswa, dapat berupa kurangnya kemampuan serta aneka rintangan dan hambatan, dan sebagainya. Dalam artian suasana masa kini yang tidak terstruktur cenderung membuat para mahasiswa berkembang atau bahkan sebaliknya yakni hancur. Tidak sedikit mahasiswa yang berkembang secara mengagumkan tetapi ada pula yang justru gagal.

T-group yang diamati Maslow terdiri atas para pengusaha, para insinyur, para pemimpin perusahaan, yaitu orang-orang yang memiliki sifat-sifat praktis, keras kepala bahkan memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik dari rata-rata orang. Maslow heran bahwa kelompok itu dalam partisipasi mampu menguasai asosiasi bebas serta cara-cara menyalurkan permusuhan dan perasaan-perasaan mereka yang terdalam dalam waktu yang sangat singkat. Dr. Maslow melihat kemungkinan bagi orang-orang yang sehat maupun orang-orang yang secara psikologis tidak sehat untuk mempercepat proses penyembuhan dengan meted-metode lama dan tradisional memakan waktu dan biaya begitu banyak. Akan tetapi cara-cara orang dalam kelompok itu bertingkah laku dan berbicara yang begitu spontan dan bebas sama dengan orang-orang yang pernah menjalani psikoanalisis selama paling sedikit satu atau dua tahun. Pandangan psikoanalitik bahwa setiap perubahan kepribadian pasti memakan waktu dua atau tiga tahun. Dan ternyata proses itu berlangsung jauh lebih cepat, bahkan sangat jauh lebih cepat dalam situasi social dalam kelompok ini. Dugaan yang dikemukakan oleh Maslow bahwa salah satu penyebabnya adalah orang-orang dalam T-group yang berpartisipasi adalah orang-orang “lugu” yang sebelumnya tidak pernah melakukan analisis diri sendiri. Orang-orang dalam kelompok ini dengan cepat belajar memeriksa perasaan-perasaan dan motif-motif mereka sendiri, secara psikis mereka menjadi sadar akan kehadirang orang-orang baik dalam kelompok maupun yang di luar. Sadar akan perasaan-perasaan dan emosi-emosi orang lain dan sadar betapa sulit mengkomunikasikan perasaan-perasaan dan emosi-emosi tersebut. Pengalaman itulah yang memaksa mereka meninjau kembali pikiran-pikiran serta kebiasaan-kebiasaan yang telah menjadi bagian keseluruhan kepribadian mereka. Orang-orang dalam kelompok ini sadar bahwa kritik-kritik yang jujur dan sehat bukannya permusuhan, sering sekali menumbuhkan saling penghargaan serta kasih sayang satu sama lain. Para partisipan dalam kelompok itu belajar bersifat lebih realistis dan lebih objektif, menjadi lebih sadar dan lebih toleran terhadap emosi-emosi mereka. Pendekatan ini merupakan latihan keakraban, kejujuran, spontanitas, sebab kesan kuat yang sering sekali ditangkap ialah bahwa orang-orang itu berusaha keras membuang pertahanan-pertahanan mereka demi menjadi lebih berani menghadapi risikod dilukai. Sedangkan belajar bersikap toleran menghadapi keadaan yang kurang berstruktur, keadaan serba mendua, keadaan serba tanpa rencana yang jelas, masa depan yang kabur, keasaan serba tidak menentu, masa depan serba tidak terkendali, semua itu benar-benar terapeutik dan psikologik. Metode “T-group” ini tidak menawarkan jalan pintas bagi metode psikoanalitis, lebih dari itu dalam T-group berlangsung sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi dalam situasi-situasi bukan kelompok. Maslow berspekulasi bahwa suatu kombinasi antara terapi kelompok dan terapi individual pastilah akan sangat efektif. Dalam T-group segalanya terjadi dan dengan cepat pula.

Para psikoanalis selalu berpegang pada keyakinan bahwa suatu perubahan kepribadian mau tidak mau haris dilakukan penyelidikan mendalam ke masa lampau, bahwa masalah-masalah psikologis berakar dalam alam ketidaksadaran. Akan tetapi dalam pendekatan ini “Sensitivity training” bertolak belakang, sebab ia memusatkan perhatian pada masa kini dan masa depan seseorang. Bagi Maslow hal ini menjadi jelas bahwa pengalaman kelompok partisipan itu telah mengubah sikap-sikap dan tingkah laku orang, benar-benar mengubah kepribadian mereka, dan perubahan-perubahan ini dicapai tanpa perlu melakukan penyelidikan masa lalu seseorang dan menyelidiki sumber-sumber sikap-sikap neurotiknya. Para psikoanalisis berpendapat bahwa penyebab utama tingkah laku tersembunyi dalam diri seseorang semata-mata bersifat dalam pribadi bukan bersifat social atau antar pribadi yang lain. Kelompok orang-orang partisipan ini telah menunjukan bahwa seyogyanya kita harus memberikan tekanan yang lebih besar pada situasi social interpersonal di masa ini sebagai penentu tingkah laku antarpribadi seseorang, bahkan juga penentu bagi kesadaran dirinya. Dr. Maslow telah menemukan suatu alternative metode untuk meningkatkan kualitas orang-orang dan meningkatkan kualitas masyarakat, menemukan suatu cara untuk mengubah individu-individu dan kelompok-kelompok individu serta untuk meningkatkan kualitas hubungan manusia, untuk menciptakan suatu dunia yang lebih baik.

Nilai-Nilai

Menurut pendapat Maslow penyakit utama abad ini adalah tidak adanya nilai-nilai. Maslow sangat merasakan umat manusia memerlukan suatu system nilai yang dapat dijadikan pegangan, yang tidak bersumber semata-mata pada kepercayaan buta. Selama ini manusia cenderung mencari prinsip-prinsip yang benar dan yang salah dan menemukan nilai-nilai penuntun diluar dirinya, di luar kemanusiaan dalam diri seorang dewa, dalam sejenis buku suci tertentu atau dalam sekelompok kelas yang berkuasa. Maslow yakin bahwa ia akan menemukan nilai-nilai paling utama yang akan berguna bagi umat manusia dengan mengamati manusia-manusia paling unggul. Jika dalam kondisi terbaik dan dalam diri manusia-manusia paling unggul ini Maslow membuat deskripsi secara ilmiah bahwa nilai-nilai manusiawi ini memang ada, maka Maslow menemukan nilai-nilai lama seperti kebenaran, kebaikan, dan keindahan serta sejumlah nilai tambahan misalnya, kegembiraan, keadilan, dan kebahagiaan. Nilai-nilai tersebut melekat dalam kodrat manusia, merupakan bagian kodrat biologis manusia, merupakan sesuatu yang naluriah bukan hasil dari belajar dan pemahaman.

Menurut Maslow dan berbagai pengarang tujuan jangka panjang selluruh manusia berjuang yakni aktualisasi diri, realisasi diri, integrase, kesehatan psikologis, individuasi, autonomi, kreativitas, produktivitas. Namun mereka semua sepakat bahwa itu berarti realisasi atas semua kemampuan pribadi atau diri sendiri artinya menjadi sepenuhnya manusiawi menjadi apa saja sesuai kemampuan pribadinya sendiri. Maslow sangatt keberatan terhadap gagasan yang menyatakan studi tentang tingkah laku manusia yang harus mengesampingkan semua konsep tentang yang benar dan yang salah. Dimana pandangan yang berasal dari asumsi Behavioristik yang menyatakan bahwa nilai-nilai tidak memiliki dasar ilmiah. Maslow yakin jika para ilmuwan-ilmuwan behavioral sungguh-sungguh akan memecahkan masalah-masalah manusia, maka persoalan tingkah laku yang benar dan yang salah adalah esensial, itulah esensi ilmu tentang tingkah laku. Para psikolog yang mengumandangkan paham relativisme moral dan kultural (kebanyakan mereka berbuat demikian) sesungguhnya tidak berusaha memecahkan masalah-masalah nyata yang dihadapi masyarakat kita. Bertumpu dari asumsi bahwa semua kebutuhan yang lebih tinggi atau semua bentuk tingkah laku yang lebih tinggi merupakan hasil belajar dan tidak memiliki dasar genetic sama sekali. Para ilmuwan behavioral tidak hanya menolak metode-metode agama melainkan juga nilai-nilainya. Pandangan ini tidak cocok dengan fakta yang dapat kita amati. Maslow keberatan terhadap pandangan tersebut, menurutnya penolakan terhadap nilai-nilai oleh psikologi bukan hanya telah menjadikannya lemah dan menghalangi pertumbuhan nilai-nilai tersebut, melainkan juga menyerahkan nasib umat manusia pada supernaturalisme atau relativisme kesusilaan.

Mengutip perkataan Maslow bahwa terdapat patokan-patokan dasar, tersembunyi dan manusiawi yang bersifat lintas budaya yang mengatasi batas-batas kebudayaan dan yang bersifat manusiawi semesta. Tanpa patokan-patokan ini kita tidak akan punya kriteria untuk mengutuk, pandangan tersebut bertentangan dengan relativitas budaya. Jadi yang dipilih secara bebas oleh orang-orang yang mengaktualisasikan diri, orang-orang yang sehat dan normal menunjukan kepada kita mana yang baik dan mana yang jahat. Dan hal ini merupakan dasar suatu system ilia yang bersifat alamiah. Pembuktiannya yakni jika contoh orang-orang yang sehat itu kit apisahkan dari warga masyarakat lainnya kemudian kita amati apa yang mereka perjuangkan, apa yang mereka cari dan inginkan selama mereka itu tumbuh dan menyempurnakan diri. Kita amati pula nilai-nilai mana yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang sakit secara psikologis, maka kita akan paham tentang mana yang benar dan mana yang salah.Hal ini dapat dibuktikan secara ilmiah. Jadi harapan, tujuan, cita-cita, dan kehidupan spiritual manusia yang lebih tinggi merupakan subjek penelitian yang ilmiah yang sesungguhnya sebab manusia itu memiliki dasar biologis. Kesalahan yang sering kali dilakukan di masa lampau ialah menyamakan nilai-nilai orang yang sehat dan yang sakit yakni orang-orang yang merupakan pemilih yang baik dan pemilih yang buruk. Menurut Maslow hanya pilihan, cita rasa dan penilaian orang-orang yang sehat akan banyak memberikan petunjuk kepada kita tentang apa yang baik bagi umat manusia untuk jangka panjang. Kedepannya pilihan orang-orang yang mengaktualisasikan diri secara mendasar rupanya sama dimanapun di dunia ini, merupakan bukti bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar bersifat semesta atau menyeluruh dan mengatasi batas budaya.

Para psikolog tidak mungkin mengesampingkan fakta bahwa setiap orang memiliki kapasitas-kapasitas yang berlainan, baik yang bersifat fisik, mental, yang menyangkut makanan, dan sebagainya dan selaras dengan perbedaan kapasitas-kapasitas ini, maka kebutuhan orang pun berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan karena konsepsi tentang nilai-nilai yang berlaku umum pada seluruh bangsa manusia ini tentu saja tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan-perbedaan kebutuhan manusia.

Tingkah laku yang bertanggung jawab memiliki dasar yang ilmiah, sedangkan tindakan yang tidak bertanggung jawab pada akhirnya akan merusak bagi individu itu sendiri maupun bagi masyarakat. Maslow merumuskan bahwa setiap bentuk kejahatan terhadap masyarakat adalah kejahatan terhadap kodrat kita sendiri dan hal itu akan terekam dalam ketidaksadaran kita serta mmembuat kita memandang rendah kita sendiri. Orang akan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan dan baik karena menghargai dirinya, atau sebaliknya mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat dan merasa dirinya hina karena tidak berharga serta tidak pantas dicintai. Maslow berpendapat bahwa ketidaktahuan orang tentang fakta adalah sumber utama perbuatan jahat. Dan pengetahuan melahirkan tindakan yang benar, bahwa tindakan benar tidak akan mungkin terjadi tanpa pengetahuan.

Agama-agama formal kadang-kadang membuat kesalahan dengan hanya menekankan nilai-nilai luhur, bukannya dengan mulai dari kebutuhan-kebutuhan yang lebih rendah seperti makan, perumahan, dan pakaian, yang menurut Maslow lebih dasariah daripada khotbah-khotbah. Banyak agama menekankan aspek-aspek jahat menusia sebagai sesuatu yang melekat, namun gagal menunjukan bahwa nilai-nilai luhur pun juga bersifat intrinsic. Kaum Behavioral memberikan tekanan yang besar pada pengaruh budaya. Ditafsirkan secara ekstrim, berarti individu terbelenggu oleh kebudayaannya dan tidak dapat melepaskan diri. Menurut Maslow,orang yang lemah mudah terpengaruh oleh kebudayaan dan tidak dapat melepaskan diri. Sebaliknya orang-orang yang mengaktualisasikan diri lebih dikendalikan oleh pemahaman diri mereka sendiri dan kebutuhan-kebutuhan dasar mereka dari pada oleh nilai-nilai budaya. Oleh karena itu tidak mungkin individu-individu lebih sehat dibandingkan dengan kebudayaan disekelilingnya yang bisa jadi asli tapi mungkin saja tidak.

Sebelumnya menyebutkan nilai-nilai utama atau nilai-nilai luhur yang diinginkan oleh orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu disebut “Being-values” atau “B-values” meliputi kebenaran, keindahan, keseluruhan, dikotomi transendensi (transformasi atas hal-hal yang saling bertentangan menjadi kesatuan-kesatuan, pihak-pihak yang saling bermusuhan menjadi kesatuan-kesatuan, pihak-pihak yang saling bermusuhan menjadi mitra kerja sama atau mitra yang saling memajukan), sifat hidup, sifat unik, kesempurnaan, sifat kebutuhan, penyelesaian, keadilan, keteraturan, kesederhanaan, sifat kaya, sifat tanpa usaha,sifat penuh permainan, pemenuhan diri. Nilai-nilai utama tersebut diserap ke dalam diri orang-orang yang mengaktualisasikan dirinya, sehingga setiap ada serangan terhadap nilai-nilai tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap dirinya. Nilai-nilai ini berhubungan erat satu sama lain, sehingga nilai-nilai itu harus digunakan untuk saling merumuskannya. Sebagai contoh “Kebenaran itu indah, kebenaran itu baik, kebenaran itu adil, kebenaran itu akhir, kebenaran itu sempurna, kebenaran itu selesai, kebenaran itu menyatu, kebenaran itu kaya, begitu seterusnya meliputi seluruh daftar “B-values”.

Penyakit nilai, neurosis atau psikopatologi dapat disebut anhedonia, anomi, apati, amoralitas, kehilangan harapan, sinisme, dan sebagainya, yakni kondisi-kondisi yang dapat juga melahirkan penyakit fisik. Maslow yakin penyembuhan ketiadaan nilai-nilai luhur adalah dengan mengembangkan system nilai-nilai manusiawi yang berguna dan benar yang dapat dibuktikan sendiri dan diyakini oleh orang-orang sebab system nilai itu secara biologis benar. Menurut Maslow keadaan suatu system tanpa nilai-nilai adalah psikopatogenik, manusia butuh suatu filsafat hidup, agama atau suatu system nilai, sama seperti ia butuh sinar matahari, zat besi dan cinta kasih. Orang yang tidak memiliki system nilai akan bersifat impulsive, nihilistic, dan sepenuhnya skeptik. Dengan kata lain hidupnya sama sekali tidak bermakna.

Jika perbuatan baik merupakan kodrat manusia, maka perbuatan buruk manusia begitu menonjol karena naluri-naluri manusia lemah dan mudah dipahami secara keliru ataupun diabaikan, dan sering sekali lemah dari kekuatan-kekuatan budaya. Dan sebab lainnya karena adanya pembagian dua kelompok yang saling bertentangan antara golongan bawaan atau gen kearah pertumbuhan dan kecenderungan untuk mengundurkan diri ke arah rasa aman yang hadir secara bersamaan. Dengan demikian pada dasarnya dapat dilihat bahwa semua manusia harus memiliki suatu system nilai. Penelitian yang dilakukan oleh Maslow maupun oleh orang-orang lain bahwa penelitian itu menunjukan bahwa system nilai semacam itu sungguh-sungguh ada. Dan dalam suatu wawancara Dr. Maslow berbicara tentang jurang pemisah antar generasi sambal mengungkapkan keprihatinannya bahwa orang-orang muda, orang-orang muda radikal, khususnya kaum hippies (sebuah kultur yang muncul di Amerika Serikat, mereka biasanya mendengarkan music psychedelic rock terkadang mereka menggunakan narkoba dan ganja yang memberikan mereka efek terbang dan merangsang imajinasi). Yang dengan susah payah tengah berusaha menemukan kebenaran, kejujuran, keindahan dan persaudaraan.

Kritik

Teori hierarki kebutuhan manusia yang dipopulerkan Maslow, menjadi landasan motivasi bagi manusia untuk berperilaku dan dipelajari diberbagai perguruan tinggi. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dikritisi keabsahannya, diantaranya:

  1. Manusia makhluk yang serakah, individualis dan egois

Dari Teori Maslow ini terlihat bahwa manusia tidak pernah merasa puas. Ketika kebutuhan yang satu telah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lainnya yang lebih meningkat. Terlepas dari itu, masing-masing manusia punya standar khusus untuk tiap-tiap kebutuhan itu bahkan standarnya akan terus bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Sehingga manusia tidak akan pernah puas akan kebutuhan-kebutuhan itu. Bila mengikuti Teori Maslow maka manusia tidak akan pernah bisa meningkat ke kebutuhan yang lainnya karena sepanjang hidup manusia tidak akan pernah puas dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya. Manusia sibuk untuk pemenuhan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan yang tidak pernah bisa terpuaskan karena tidak pernah “cukup”. Akhirnya yang tercipta adalah manusia-manusia yang serakah, individualisme, egoisme. Manusia-manusia yang mempunyai motto “hidup untuk makan” bukan “makan untuk hidup”. Dan kalaupun ia sudah mencapai kebutuhan yang lebih tinggi, tidak berarti bahwa manusia itu tidak akan memikirkan lagi akan kebutuhan dasarnya.

  1. Klasifikasi hierarki kebutuhan yang tidak tepat Manusia makhluk yang dinamis dan multidimensional. Tidak perlu ada kasta kebutuhan. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, ada kebutuhan jasmani, ada kebutuhan rohani. Tubuh membutuhkan udara, makanan, air, istirahat dan ini memang diperlukan untuk menjaga agar tubuh bisa berfungsi dengan baik. Karena jika tubuh kekurangan nutrisi bisa mengakibatkan tubuh menjadi lemah. Juga sampai saat ini belum cukup bukti yang jelas yang menunjukkan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia dapat dikategorikan ke dalam lima kelompok yang berbeda atau berada pada suatu hierarki.
  2. Hierarki yang tidak logis

Teori ini disusun secara hierarki. Berawal dari kebutuhan paling mendasar atau primer sampai kepada tahap yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Pada hierarki 1sampai 4 tersusun secara urut, akan tetapi menjadi tidak logis pada kebutuhan mencapai aktualisasi diri, seolah ada sebuah loncatan logika dari yang sebelumnya. Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah dimengerti. Seakan-akan ada missing link antara piramida ke-4 dengan puncak piramida.

  1. Teori hierarki Maslow tidak ilmiah

Berdasarkan catatan sejarah, Maslow menggunakan penelitian kualitatif terhadap 18 orang terpilih dengan metode yang disebut sebagai Biographical Analysis. Metode tersebut sangat rentan bias antara data yang diolah dengan opini subjektif sang peneliti, sehingga banyak peneliti yang bertentang dengan Maslow. Selain itu, terdapat bias pada subjek yang Maslow teliti, 18 cendikiawan pria kulit putih yang notabene pada masa tersebut kesemuanya adalah golongan atas. Oleh karena itu Hierarki Kebutuhan masih diragukan untuk dipakai untuk mewakili semua kalangan masyarakat. Pada beberapa kasus, seseorang tentu saja dapat memperoleh rasa cinta dari orang lain walau dalam keadaan miskin (Safety Needs). Dapat disimpulkan bahwa Hierarki Kebutuhan oleh Maslow bukanlah sebuah hierarki namun sebuah hipotesa dimana seseorang dapat memenuhi setiap kategori kebutuhan tanpa berurutan.

  1. Pengalaman Puncak Maslow bersifat ‘alami’

Maslow berpendapat bahwa orang yang telah berhasil melewati empat tahapan hierarki kebutuhan dasar akan sampai pada tingkat aktualisasi diri, dan bisa mencapai pengalaman puncak (peak experience), yaitu suatu pengalaman keterpesonaan, perasaan bahagia dan sensasi yang mendalam, kegembiraan yang mendalam. Pengalaman puncak tidak mesti berhubungan dengan agama. Setiap orang bisa mengalaminya, dalam intensitas dan kadar yang berbeda-beda. Pengalaman puncak bisa didapatkan misalnya ketika asyik bekerja, mendengarkan musik, memenangkan lomba, membaca cerita, bahkan saat mengamati matahari terbenam.

  1. Tiadanya kebutuhan spiritual atau agama

Di dalam teori ini aspek spiritual tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Padahal sejatinya manusia adalah makhluk yang memiliki dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani. Keduanya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus berjalan sinergis sehingga keduanya dapat berjalan secara seimbang. Jika manusia hanya mengedepankan aspek lahiriah saja, maka ia tidak berbeda dengan binatang. Hubungan antara keduanya harus seimbang, sehingga dapat tercipta relasi yang harmonis. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena akan menimbulkan kegagalan dalam mencapai kehidupan yang diharapkannya. Sehingga rohani atau jiwa menjadi aspek yang penting dalam kehidupan manusia.

Orang bersedekah, menunaikan sholat, zakat, ibadah haji dan jihad berperang adalah suatu kebutuhan ‘spiritual’ semata-mata karena motivasi agama, penyerahan terhadap Tuhannya. Kebutuhan itulah yang tidak terkategorikan di dalam hierarki teori Maslow. Tubuh dan jiwa saling berkaitan, keduanya tidak bisa dipisahkan bila manusia mau disebut utuh. Kelemahan dalam tubuh dapat mempengaruhi jiwa, kekurangan dalam jiwa pasti akan mempengaruhi tubuh. Ini tidak berarti bahwa kesehatan tubuh dapat diabaikan. Baik aspek rohani maupun aspek jasmani harus berada dalam keseimbangan, namun bila mau diurut memelihara jiwa harus didahulukan daripada memelihara tubuh. Beraktualisasi diri tidak perlu menunggu kebutuhan dasar, rasa aman, rasa cinta, dan percaya diri terpenuhi.

Stephen R.Covey dalam bukunya First Things First mengatakan bahwa Maslow sendiri pada tahun-tahun terakhirnya merevisi teorinya tersebut. Katanya, Maslow mengakui bahwa aktualisasi diri bukanlah kebutuhan tertinggi namun masih ada lagi yang lebih tinggi yaitu self transcendence yaitu hidup itu mempunyai suatu tujuan yang lebih tinggi dari dirinya. Mungkin, yang dimaksud Maslow adalah kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama. Sekarang lebih dikenal sebagai kebutuhan spiritual. Namun demikian Maslow tetap tidak mengakui adanya Tuhan.

Daftar Pustaka