Teori Aktualisasi Diri Carl Rogers

You are here:
< Back

Menurut Rogers, organisme memiliki satu kekuatan pendorong tunggal – mendorong aktualisasi diri – dan satu gol tunggal dalam hidup – untuk menjadi diri yang teraktualisasikan. Pengalaman dinilai apakah dapat memberi kepuasan atau tidak, mula-mula secara fisik namun kemudian berkembang menjadi kepuasan emosional dan sosial. Akhirnya konsep self itu mencakup gambaran siapa dirinya, siapa seharusnya dirinya dan siapa kemungkinan dirinya. Kesadaran memiliki konsep diri kemudian mengembangkan penerimaan positif.

Dinamika kepribadian

Sebagaimana ahli humanistik umumnya, Rogers mendasarkan teori dinamika kepribadian pada konsep aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah daya yang mendorong pengembangan diri dan potensi individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi ciri seluruh manusia. Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada pengembangan yang optimal dan menghasilkan ciri unik manusia seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain.

  1. Penerimaan Positif (Positive Regard). Orang merasa puas menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapat memberi regard positif kepada orang lain.
  2. Konsistensi dan Saling-Sesuai Self (Self Consistensy and Congruence). Organisme berfungsi untuk memelihara konsistensi (keajegan = keadaan tanpa konflik) dari persepsi diri, dan kongruen (saling sesuai) antara persepsi self dengan pengalaman.
  3. Aktualisasi Diri (Self Actualization).Jika Freud memandang organisme sebagai sistem energi, dan mengembangkan teori bagaimana energi psikik ditimbulkan, ditransfer dan disimpan, Rogers memandang organisme terus menerus bergerak maju. Tujuan tingkah laku bukan untuk mereduksi tegangan enerji tetapi mencapai aktualisasi diri yaitu kecenderungan dasar organisme untuk aktualisasi: yakni kebutuhan pemeliharaan (maintenance) dan peningkatan diri (enhancement).

Kecenderungan Mengaktualisasi

Rogers percaya, manusia memiliki satu motif dasar, yaitu kecenderungan untuk mengaktualisasi diri. Kecendeurngan ini adalah keinginan untuk memenuhi potensi yang dimiliki dan mencapai tahap “human-beingness” yang setinggi-tingginya. Kita ditakdirkan untuk berkembang dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan kepribadian kita. Proses penilaian (valuing process) bawah sadar memandu kita menuju perilaku yang membantu kita mencapai potensi yang kita miliki. Rogers percaya, bahwa manusia pada dasarnya baik hati dan kreatif. Mereka menjadi destruktif hanya jika konsep diri yang buruk atau hambatan-hambatan eksternal mengalahkan proses penilaian.

Menurut Rogers, organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin matang dalam bersosialisasi. Rogers menyatakan bahwa pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan. Untuk bergerak ke arah mendapatkan tujuannya, manusia harus mampu membedakan antara perilaku yang progresif (perilaku yang mengarahkan pada aktualisasi diri) dan perilaku yang regresif (perilaku yang menghalangi pada tercapainya aktualisasi diri).

Rogers menempatkan aktualisasi diri sebagai suatu kebutuhan fundamental, dalam sistemnya tentang kepribadian, memelihara, mengaktualisasikan dan meningkatkan semua segi individu. Kecenderungan dibawa sejak lahir dan meliputi komponen-komponen pertumbuhan fisiologis dan psikologis, meski selama tahun-tahun awal kehidupan, kecenderungan tersebut lebih terarah kepada segi-segi fisiologis. Rogers menyadari bahwa manusia kadang bertindak negatif, namun ia mengklaim kalau tindakan tersebut tidak cocok dengan hakikat manusia, tindakan itu lebih dihasilkan oleh rasa takut dan pertahanan diri.

Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia yang beroperasi secara terlepas dari kecenderungan aktualisasi ini. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah, kecenderungan aktualisasi berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan makanan, air dan udara. Karena itu kecnderungan aktualisasi itu memungkinkan organisme hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah dasar.

Aktualisasi berbuat jauh lebih banyak daripada mempertahankan organisme. Aktualisasi juga memudahkan untuk meningkatkan pematangan dan pertumbuhan. Jika bayi bertambah besar, organ-oprgan tubuh dan proses-proses fisiologis menjadi makin kompleks dan berdiferensiasi karena mereka mulai berfungsi dalam arah-arah yang dituju. Proses pematangan ini mulai dengan perubahan-perubahan dalam ukuran dan bentuk dari bayi yang baru lahir sampai pada perkembangan sifat-sifat jenis kelamin sekunder pada masa remaja.

Proses pematangan yang penuh tidak dicapai secara otomatis, meski fakta bahwa “blue print” bagi proses pematangan terkandung dalam struktur genetis individu. Proses ini memerlukan banyak usaha. Rogers membandingkannya dengan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seseoang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kuranng merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur, Rogers berpendapat bahwa kecenderungan untuk aktualisasi sebagai suatu tenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta dorongan yang ikut menghetnikan usaha untuk berkembang.

Kecenderungan aktualisasi pada tingkat fisiologis benar-benar tidak dapat dikekang, kecenderungan itu mendorong individu ke depan dan salah satu tingkat pematangan ke tingkat pematangan berikutnya yang memaksanya untuk menyesuaikan diri dan tumbuh. Dari segi fisiologis, kecenderungan aktualisasi ini tidak diarahkan kepada reduksi tegangan. Perjuangan serta keuletan yang terlibat dalam aktualisasi membuat kita bertambah dan bukan menjadi kurang tegang. Maka tujuan hidup tidak hanya mempertahankan suatu keseimbangan homeostatis atau suatu tingkat ketenteraman dan kesenangan yang tinggi tetapi juga pertumbuhan dan peningkatan. Arah kita ialah ke depan, ke arah tujuan yang berfungsi makin kompleks sehingga kita dapat menjadi semuanya menurut kemampuan kita untuk menjadi.

Pada tingkat biologis ini, Rogers tidak membedakan antara manusia yang sehat dan manusia yang tidka sehat. Dia tidak menemukan perbedaan antara orang yang sehat dan orang yang sakit secara emosional, menurut jumlah atau perhitungan dari apa yang mungkin disebut aktualisasi biologis. Tetapi apabila kita memikirkan segi-segi psikologis dari aktualisasi maka jelas ada perbedaan.

Ketika seseorang bertambah besar, maka “diri” mulai berkembang. Pada saat itu juga tekanan dalam aktualisasi beralih dari yang fisiologis kepada yang psikologis. Tubuh dan bentuk-bentuk serta fungsi-fungsinya yang khusus telah mencapai tingkat perkembanngan yang dewasa, dan pertumbuhan lalu berpusat kepada kepribadian. Rogers tidak menjelaskan kapan perubahan ini terjadi, tetapi seseorang dapat menarik kesimpulan dari tulisan-tulisan bahwa perubahan ini mulai pada masa kanak-kanak dan selesai pada akhir masa adolesensi.

Setelah konsep diri muncul, kecenderungan pada aktualisasi diri mulai kelihatan. Proses yang tetap dan berkesinambungan ini merupakan tujuan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Aktualisasi adalh proses menajdi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa menciptakan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yan dicapai jauh lebih sering oleh orang-prang yang sehat daripada oleh orang-orang yang sakit secara psikologis.

Ada satu perbedaan yang penting antara kecenderungan umum dan kecenderungan khusus ke arah aktualisasi diri. Pematangan dan perkembangan seluruh organisme sama sekali tidak dipengaruhi oleh belajar dna pengalaman. Misalnya, seandainya fungsi hormon/kimiawi tepat, maka seseorang akan mengembangkan sifat-sifat jenis kelamin sekunder, pengalaman sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terhadap perkembangan semcam ini. Akan tetapi aktualisasi diri ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial dan bukan oleh kekuatan-kekuatan biologis. Jadi, aktualisasi akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar, khususnya dalam masa kanak-kanak.

Struktur Kepribadian

Sejak awal Rogers mengamati bagaimana kepribadian berubah dan berkembang. Ada tiga konstruk yang menjadi dasar penting dalam teorinya: Organisme, Medan fenomena, dan Self.

Pengertian organisme mencakup tiga hal:

  • Makhluk hidup: Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya dan merupakan tempat semua pengalaman, potensi yang terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang tentang kejadian yang terjadi dalam diri dan dunia eksternal.
  • Realitas Subyektif: Organisme menganggap dunia seperti yang dialami dan diamatinya. Realita adalah persepsi yang sifatnya subyektif dan dapat membentuk tingkah laku.
  • Holisme: Organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga perubahan dalam satu bagian akan berpengaruh pada bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yaitu tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.

Proses Penilaian Organismik

Semua pengalaman organisme dapat dievaluasi dengan menggunakan kecenderungan mengaktualisasi sebagai kerangka acuan. Rogers menyebut metode mengevaluasi pengalaman individu ini sebagai proses penilaian oraganismik. Pengalaman-pengalaman yang cocok dengan kecenderungan mengaktualisasi terasa memuaskan dan karenanya didekati dan dipertahankan. Sebaliknya pengalaman yang tidak cocok dengan kecenderungan mengaktualisasi terasa tidak memuaskan dan karenanya dihindari atau dihilangkan. Proses penilaian organismik menciptakan sebuah sistem umpan balik yang memampukan organisme mengkoordinasikan pengalaman-pengalamannya dengan kecenderungan menuju aktualisasi diri. Artinya manusia bisa mempercayai perasaan-perasaan mereka.

Rogers yakin bahkan bayi, jika diberi kesempatan akan memilih apa yang terbaik untuk mereka. Jika bayi di suatu momen menilai tinggi makanan, namun ketika sudah kenyang, merasa muak dengannya. Di suatu momen stimulasi dinilai tinggi dan lama kemudian penilaian tinggi diberikan ke stimulasi lain, siapa pun anak yang menemukan kepuasan dari pola makan yang baik, maka di jangka panjang akan menghasilkan perkembangan yang baik (Olson & Hergenhan, hal 781)

Di dalam hidupnya sendiri, Rogers belajar nilai dari bertindak berdasakan perasaannya sendiri. Menilai perasaan (emosi) lebih daripada akal dan menyakini kebaikan inheren manusia menempatkan Rogers di dalm tradisi filosofis romantisme (Hergenhan, 2009). Dan memang terdapat hubungan sangat kuat antara romantisme dan psikologi humanistik.

Medan Fenomena: Medan fenomena adalah keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik disadari maupun tidak disadari. Medan fenomena ini merupakan seluruh pengalaman pribadi seseorang dalam hidupnya di dunia, sebagaimana persepsi subyektifnya. Kutipan berikut mengidentifikasikan Rogers sebagai fenomenolog dan memperlihatkan kedekatan pandangannya dengan Kelly:

“Satu-satunya realitas yang bisa saya ketahui adalah dunia seperti yang saya cerap dan alami di momen ini. Satu-satunya realitas yang bisa anda ketahui hanyalah dunia seperti yang anda cerap dan alami di momen ini. Dan satu-satunya kepastian dari pencerapan realitas itu adalah perbedaan-perbedaan antar individu. Ada banyak dunia riil sebanyak jumlah manusia di bumi” (Olson & Hergenhan, hal 782).

Menurut Rogers, semua orang tinggal di dunia subjektif, yang dapat diketahui dalam pengertian sekomplet mungkin hanya oleh diri sendiri. Adalah realitas fenomenologis dan bukannya dunia fisik yang menentukan perilaku manusia. Dengan kata lain, bagaimana seseorang menginterpretasikan hal-hal maka itulah satu-satunya realitas baginya. Realitas pribadi ini berkorelasi dengan realitas objektif hanya saja jenis dan tingkatnya berbeda-beda sesuai individu yang mengalaminya. Realitas subjektif fenomenologis inilah yang menurut Rogers harus diupayakan terapis untuk terpahami.

Sejumlah besar kemiripan muncul di titik ini antara teori Rogers dan teori Kelly. Keduanya sama-sama menekankan interpretasi subjektif tunggal terhadap pengalaman, dan itulah sebabnya kenapa mereka sama-sama dilabeli banyak orang sebagai fenomenolog. Namun begitu, ada perbedaan besar anatar Rogers dan Kelly, yaitu terkait kecenderungan mengaktualisasi. Focus utama Kelly adalah manusia terus mencoba konstruk baru untuk menemukan perangkat yang terbaik agar bisa mengantisipasi masa depan. Karena itu bagi Kelly tidak ada kondisi yang sudah ditentukan secara bawaan yang kepadanya manusia mengembangkan diri, dengan kata lain, setiap individu menemukan kepribadiannya sebdiri dan bukannya bertindak sesuai fitur utama yang sudah ditentukan secara genetik. Pandangan oara teorisi sosial kognitif juga mirip dengan perspektif Kelly ini.

Rogers membedakan pengalaman dan kesadaran. Pengalaman adalah sesuatu yang terjadi dalam diri dan lingkungan organisme di momen tertentu yang berpotensi untuk tersedia bagi kesadaran. Ketika pengalaman potensial ini jadi tersimbolkan, mereka pun memasuki kesadaran kita dan menjadi bagian dari bidang fenomenologis individu. Simbol-simbol yang bertindak sebagai wahana bagi pengalaman yang memasuki kesadaran biasanya adalah kata-kata, namun tidak mesti demikian. Rogers yakin bahwa simbol-simbol bisa juga berupa imaginasi visual dan auditoris. Pemilahan pengalaman dari kesadaran ini sangat penting bagi rogers, karena kondisi tertentu telah menyebabkan seseorang menyangkut atau mendistorsi pengalaman-pemgalaman kesadaran.

Self (Diri): Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian Rogers, yang intinya adalah:

  • Terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu.
  • Self mungkin menginteraksi nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar
  • Bersifat integral dan konsisten.
  • Menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self sebagai ancaman.
  • Dapat berubah karena kematangan dan belajar.

Carl Rogers mendeskripsikan the self sebagai sebuah konstruk yang menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan satu-satunya sruktur kepribadian yang sebenarnya. Self ini dibagi 2 yaitu: Real Self dan Ideal Self. Real Self adalah keadaan diri individu saat ini, sementara Ideal Self adalah keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut. Perhatian Rogers yang utama adalah bagaimana organisme dan self dapat dibuat lebih.

Rogers tidak memfokuskan diri untuk mempelajari “tahap” pertumbuhan dan perkembangan kepribadian, namun dia lebih tertarik untuk meneliti dengan cara yang lain yaitu dengan bagaimana evaluasi dapat menuntun untuk membedakan antara pengalaman dan apa yang orang persepsikan tentang pengalaman itu sendiri.

Contoh sederhana dapat dilihat sebagai berikut: seorang gadis kecil yang memiliki konsep diri bahwa ia seorang gadis yang baik, sangat dicintai oleh orangtuanya, dan yang terpesona dengan kereta api kemudian menungkapkan pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi insinyur mesin dan akhirnya menjadi kepala stasiun kereta api. Orang tua gadis tersebut sangat tradisional, bahkan tidak mengijikan ia untuk memilih pekerjaan yang diperutukan laki-laki. Hasilnya gadis kecil itu mengubah konsep dirinya. Dia memutuskan bahwa dia adalah gadis yang “tidak baik” karena tidak mau menuruti keinginan orang tuanya. Dia berfikir bahwa orang tuanya tidak menyukainya atau mungkin dia memutuskan bahwa dia tidak tertarik pada pekerjaan itu selamanya.

Beberapa pilihan sebelumnya akan mengubah realitas seorang anak karena ia tidak buruk dan orangtuanya sangat menyukai dia dan dia ingin menjadi insinyur. Self image dia akan keluar dari tahapan pengalaman aktualnya. Rogers berkata jika gadis tersebut menyangkal nilai-nilai kebenarannya dengan membuat pilihan yang ketiga – menyerah dari ketertarikannya – dan jika ia meneruskan sesuatu sebagai nilai yang ditolak oleh orang lain, dirinya akan berakhir dengan melawan dirinya sendiri. Dia akan merasa seolah-olah dirinya tidak mengetahui dengan jelas siapa dirinya sendiri dan apa yang dia inginkan, maka ia akan berkepribadian keras, tidak nyaman.

Jika penolakan menjadi style, dan orang tidak menyadari ketidaksesuaian dalam dirinya maka kecemasan dan ancaman muncul akibat dari orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian itu. Sedikit saja seseorang menyadari bahwa perbedaan antara pengalaman organismik dengan konsep diri yang tidak muncul ke kesadaran telah membuatnya merasakan kecemasan. Rogers mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan ketidaknyamanan atau ketegangan yang sebabnya tidak diketahui. Ketika orang makin menyadari ketidaksesuaian antara pengalaman dengan persepsi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri yang sesuai. Kecemasan dan ancaman yang menjadi indikasi adanya ketidaksesuaian diri dengan pengalaman membuat orang berada dalam perasaan tegang yang tidak menyenangkan namun pada tingkat tertentu kecemasan dan ancaman itu dibutuhkan untuk mengembangkan diri memperoleh jiwa yang sehat.

Bila seseorang, antara “self concept”nya dengan organisme mengalami keterpaduan, maka hubungan itu disebut kongruen (cocok) tapi bila sebaliknya maka disebut inkongruen (tidak cocok) yang bisa menyebabkan orang mengalami sakit mental, seperti merasa terancam, cemas, defensif dan berpikir kaku serta picik.

Sifat-sifat dari ketiga konsepsi (Organisme, Medan Fenomenal dan Self) yang saling berhubungan dirumuskan oleh Rogers dalam 19 dalil dalam bukunya Client-Centered Therapy, dan inilah yang merupakan teori Rogers mengenali self:

  1. Tiap individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, di mana dia menjadi pusatnya
  2. Organisme bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)
  3. Organisme bereaksi terhadap medan fenomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)
  4. Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri
  5. Pada dasarnya tingkah laku itu adalah usaha organisme yang berarah tujuan (goal directed, doelgericht), yaitu untuk memuaskan kebutuhan –kebutuhan sebagaiana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatainya.
  6. Emosi menyertai dan pada umumnya memberikan fasilitas tingkah laku berarah tujuan itu.
  7. Jalan yang paling baik untuk memahami tingkah laku ialah dengan melalui internal frame of reference orangnya sendiri.
  8. Suatu bagian dari seluruh medan pengamatan sedikit demi sedikit terdiferensasikan sebagai self.
  9. Sebagai hasil saling pengaruh (interaction) dengan lingkungan, terutama sebagai hasil dari saling pengaruh yang bersifat menilai dengan orang-orang lain, struktur self itu terbentuk pola pengamatan yang teratur, lentur, selaras dalam hubungan dengan “aku” atau “ku”, beserta nilai-nilai yang dihadapi dengan konsepsi ini
  10. Nilai-nilai terikat kepada pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian struktur self, dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang dialami langsung oleh organisme, dan dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang diintroyekskan atau diambil dari orang lain, tetapi diamati sebagai dialaminya langsung.
  11. Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu itu dapat dihadapi demikian:
  • Dilambangkan, diamati, dan diatur dalam hubungan dengan self.
  • Diabaikan karena tak ada hubungan yang terlihat dengan struktur self.
  • Ditolak atau dilambangkan secara palsu oleh karena pengalaman itu tak selaras dengan struktur self.
  1. Kebanyakan cara bertingkah laku yang diambil orang ialah yang selaras dengan konsepsi self.
  2. Dalam beberapa hal tingkah laku itu mungkin didorong oleh pengalaman-pengalaman dan kebutuhan-kebutuhan organis yang tidak dilambangkan. Tingkah laku yang demikian itu mungkin tidak serasi dengan struktur self, akan tetapi dalam hal yang demikian tingkah laku itu tidak diakui (dimiliki) oleh individu yang bersangkutan.
  3. Psychological adjusment terjadi apabila organisme menolak menjadi sadarnya pengalaman sensoris dan visceral yang kuat, yang selanjutnya tidak dilambangkan dan diorganisasikan ke dalam gestalt struktur self, apabila hal ini terjadi, maka akan terjadi psychological tension.
  4. Psychological adjustment terjadi apabila konsepsi self itu sedemikian rupa, sehingga segala pengalaman sensoris dan visceral diasimilasikan pada taraf lambang (sadar) ke dalam hubungan yang selaras dengan konsepsi self.
  5. Tiap pengalaman yang tak selaras dengan organisasi atau stuktur self akan diamati sebagai ancaman, dan makin meningkat pengamatan itu akan makin tegas struktur self itu untuk mempertahankan diri
  6. Dalam kondisi tertentu, pertama-tama tiadanya ancaman terhadap struktur self, pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self dapat diamati dan diuji dalam struktur self direvisi untuk dapat mengasimilasi dan melingkup pengalaman-pengalaman yang demikian itu.
  7. Apabila orang mengalami dan menerima segala pengalaman sensoris dan visceralnya ke dalam sistemnya yang integral dan selaras, maka dia akan lebih memahami orang lain dan menerima orang lain sebagai individu.
  8. Kalau individu lebih banyak lagi mengamati dan menerima ke dalam struktur selfnya pengalaman-pengalaman organisnya, dia akan mengetahui bahwa dia mengganti sistem nilai-nilainya kini yang pada umumnya didasarkan pada introyeksi yang telah diterimanya dalam bentuk yang tidak wajar dengan psoses penilaian yang terus menerus.

 

Dalam menyimpulkan dalil-dalilnya itu Rogers mengatakan:

“Teori ini pada dasarnya bersifat fenomenal dan terutama berhubungan dengan konsepsi untuk menerangkan. Teori itu menggambarkan titik akhir perkembangan kepribadian, yaitu adanya kesamaan pokok antara medan pengalaman fenomenal dan struktur self secara konseptual.”

Pada awalnya bayi tidak bisa membedakan kejadian-kejadian di bidang fenomenologis mereka; semua kejadian bercampur aduk ke dalam satu konfigurasi saja, tetapi secara bertahap, lewat pengalaman dengan label-label verbal seperti “saya” dan ‘aku”, seporsi bidang fenomenologis mulai terpilih sebagai diri. Di titik ini seseorang bisa saja berefleksi tentang dirinya sebagai objek yang berbeda di mana ia menjadi sadar.

Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu pengertian diri (self concept).

Sebagai bagian dari self concept, anak juga mengambarkan dia akan menjadi siapa. Gambaran-gambaran itu dibentuk sebagai suatu akibat dari bertambah kompleksnya interaksi-interaksi dengan orang-orang lain. Dengan mengamati reaksi dari orang-orang lain terhadap tingkah lakunya sendiri, anak itu secara ideal mengembangkan suatu pola gambaran-gambaran yang konsisten, suatu keseluruhan yang terintegrasi di mana kemungkinan adanya beberapa ketidakharmonisan antara diri sebagaimana adanya dan diri sebagaimana yang mungkin diinginkannya untuk menjadi diperkecil. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktualisasikan diri, munculah suatu pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat gangguan emosioanl.

Cara-cara khusus bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kecil. Pada waktu diri itu mulai berkembang, anak itu juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini ”pengharapan positif” (positive regards).

Perkembangan Kepribadian

Konsep diri (self concept) menurut Rogers adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan, di mana “aku“ merupakan pusat referensi tiap pengalaman. Konsep diri merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya “dan “apa yang sebenarnya harus saya perbuat.”  Jadi, self concept adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.

Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi yaitu Incongruence dan Congruence.

  1. Incongruence

Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.

Individu yang Tidak Kongruen

Ketidak-kongruenan muncul ketika manusia tidak lagi menggunakan proses penilaian organismik mereka, sebagai cara untuk menentukan apakah pengalaman mereka sudah bersesuaian dengan kencenderungan mengaktualisasi diri. Jika manusia tidak menggunakan penilaian mereka sendiri ntuk mengevaluasi pengalaman, maka mereka biasanya menggunakan nilan terintroyeksi mlik orang lain. Artinya, kondisi keberhargaan telah menggantikan proses penilain organismik mereka sebagai kerangka acuan untuk mengevaluasi pengalaman tersebut. Ini menghasilkan sebuah alienasi antara diri dan pengalaman karena di bawah situasi-situasi ini, apa yang sungguh memuaskan baginya disangkal kesadaran karena tidak sesuai dengan kondisi keberhargaan yangn terintroyeksikan.

Rogers melihat ketidak-kongruenan adalah penyebab semua masalah penyesuaian diri manusia. Karena itulah mengeliminasi ketidak-kongruenan akan menjawab masalah-masalah tersebut.

“Ini adalah pengasingan dasar manusia. Ia tidak menjadi dirinya sebenarnya, menggunakan penilaian organismik alamiahnya tentang pengalaman, melainkan demi mempertahankan pengharapan positif orang lain, sehingga sekarang ia memfalsifikasi beberapa nilai yang dialaminya dan memahami mereka hanya berdasarkan nilai mereka bagi orang lain. Namun ini bukan pilihan yang tegas, selain perkembangan yang alamiah dan tragis. Jalan perkembangan menuju kematangan psikologis adalah menghilanngkan pengasingan di dalam fungsi manusia ini. Pencapaian sebuah diri yang kongruen dengan pengalaman, dan perestorasian proses penilaian organismik yang menyatu sebagai regulator perilaku (Olson, Hergenhahn, hal 786).

Saat terjadi ketidak-kongruenan antara diri dan pengalaman yang dimiliki seseorang, kekeliruan penyesuaian diri dan kerapuhan terhadap kecemasan dan ancaman lah yang muncul sehingga perilakunya menjadi defensif.

Kecemasan muncul ketika manusia mensubsepsi pengalaman sebagai sesuatu yang tidka cocok dengan struktur diri dan kondisi keberhargaan yang terintroyeksi. Dengan kata lain kecemasan dialami ketika suatu kejadian yang ditemui mengancam struktur diri yang ada. Rogers selalu mengatakan bahwa kejadian merupakan disubsepsi bukan dipersepsi. Subsepsi adalah pendeteksian sebuah pengalaman sebelum ia masuk ke dalam kesadaran yang sepenuhnya. Kejadian yang secara potensial mengancam ini dapat saja disangkal atau didistorsi sebelum dia menyebabkan kecemasan. Menurut Rogers, proses pertahanan yang dilakukan manusia terhadap kecemasan ini utamanya terdiri atas pengeditan pengalaman dengan menggunakan mekanisme penyangkalan dan distorsi, membuat mereka tetap berkesuaian dengan struktur diri. Menurut Rogers pengalaman menolak simbolisasi bukan karena diangggap berdosa atau nakal atau berlawanan dari norma-norma moral seperti yang diyakini Freud, melainkan karena berlawanan dengan struktur diri. Misal, jika kondisi keberhargaan yang terintroyeksikan meliputi “murid bodoh”, maka menerima nilai tinggi di sebuah tes justru akan merasa mengancam baginya, dan pengalaman ini akan cenderung ditolak atau didistorsi. Orang yang seperti iu mungkin akan berkata, contohnya, dia hanya beruntung atau guru melakukan kesalahan.

Menurut Rogers, hampir semua individu mengalami ketidak-kongruenan dan karenanya mempertahankan diri terhadap simbolisasi pengalaman tertentu terhadap kesadaran. Hanya ketika ketidak kongruenan sangat berat barulah masaah penyesuaian muncul.

  1. Kongruensi

Kongruen berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan saksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.

Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya incongruence ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Di sisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan congruence-nya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.

Dampak dari incongruence, manusia akan merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatannya sehingga mereka mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan tingkat incongruence yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus-menerus.

Contoh: Erin yakin bahwa dia merupakan orang yang sangat dermawan, sekalipun dia seringkali sangat pelit dengan uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang sedikit atau bahkan tidak memberikan tips sama sekali saat di restoran. Ketika teman makan malamnya memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya, dia tetap bersikukuh bahwa tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan pelayanan yang dia terima. Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian tipsnya pada pelayanan yang buruk, maka dia dapat terhindar dari kecemasan serta tetap menjaga konsep dirinya yang katanya dermawan.

Kebutuhan Penghargaan Positif

Dengan munculnya diri, muncul pula kebutuhan akan penghargaan positif yang diyakini Rogers universal meski tidak selalu bersifat bawaan. Penghargaan positif berarti menerima kehangatan, cinta, simpati, perhatian, penghargaan dan penerimaan dari individu yang relevan di hidup seseorang. Dengan kata lain, perasaan ini muncul saat dihargai oleh individu-individu yang penting dalam hidup kita.

Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan dimiliki semua manusia. Tiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak tiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang lain, dan dia akan kecewa jika dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Apakah anak itu kemudian akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positif regard itu dipuaskan dengan baik.

Sebagai bagian dari tipikal dari proses sosialisasi, anak belajar ada hal-hal yang mereka bisa dan tidak bisa lakukan. Terlalu sering orangtua memberikan penghargaan positif terhadap perilaku anak yang diinginkan. Misal, jika anak melakukan hal tertentu akan menerima penghargaan positif, naun jika tidak, anak tidak akan menerimanya. Menurut Rogers, Ini menciptakan kondisi yang dinamakan kondisi keberhargaan, yang menspesifikkan situasi di mana anak menerima penghargaan positif. Melalui perulangan pengalaman bagi kondisi yang berharga ini, anak menginternalisasinya, menjadikannya bagian-bagian dari struktur dirinya. Sekali teinternalisasi akan menjadi suatu kesadaran, hal ini akan tumbuh menjadi suara hati, atau superego, yang memandu perilaku anak bahkan ketka orang tuanya tidak hadir.

Tiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Dari kebutuhan akan penghargaan positif, muncul kebutuhan akan penghargaan diri. Artinya, anak mulai mengembangkan kebutuhan untuk memandang dirinya secara positif. Dengan kata lain anak-anak ingin orang lain merasa baik tentang diri mereka, dan mereka ingin merasa baik tentang diri mereka sendiri. Kondisi-kondisi yang membuat individu penting di hidup mereka menghargai secara positif ini terintroyeksikan ke dalam struktur diri mereka dan karenanya mereka harus bertindak sesuai kondisi-kondisi tersebut agar bisa menghargai dirinya secara positif. Anak-anak sekarang bisa meraih kondisi keberhargaan. Sayangnya, ketika kondisi keberhargaan ini sudah dibentuk, satu-satunya cara anak bisa melihat dirinya secara positif adalah dengan bertindak sesuai nilai-nilai orang lain yang sudah mereka internalisasikan. Sekarang perilaku anak tidak lagi dipandu proses penilaian organismik mereka selain oleh kondisi-kondisi di lingkungan mereka yang berkaitan dengan penghargaan positif.

Kapanpun terdapat kondisi keberhargaan dalam hidup anak-anak, mereka dapat dipaksa untuk menyangkali evaluasi mereka sendiri tentang pengalaman mereka itu demi mendukung evaluasi orang lain, dan ini menyebabkan sebuah alienasi antara pengalaman orang lain dan diri mereka yang kemudian menciptakan sebuah kondisi tidak kongruen.

Self concept yang berkembang dari anak itu sangat dipengaruhi oleh ibu: bagaimana jika dia tidak memberikan positive regard kepada anak? Bagaimana jika dia mencoba mencela dan menolak tingkah laku anaknya? Anak itu mengamati suatu celaan (meski celaan hanya berfokus pada salah satu segi tingkah laku? Sebagai suatu celaan yang luas dan tersebar dalam tiap segi dari apa adanya. Anak itu menjadi peka terhadap tiap tanda penolakan dan segera mulai merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi yang diharapkan akan diberikan. Dalam hal ini, anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang-orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena dia telah merasa kecewa, maka kebutuhan akan positive regard yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengarahkan energi dan pikiran. Anak itu harus bekerja keras untuk positive regard dengan mengorbankan aktualisasi diri.

Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).

  1. Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) di mana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.

Syarat utama timbulnya kepribadian sehat adalah penerimaan penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positif regard) pada masa kecil. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang yang diberikan dengan bebas ini dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan, sama seperti halnya sikap-sikap ibu yang memperlihatkan conditional positive regard diinternalisasikan anaknya.

“Jika seorang individu harus mengalami hanya penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak ada kondisi keberhargaan yang akan muncul, penghargaan dirinya akan tanpa syarat, kebutuhan akan penghargaan positif dan penghargaan diri tidak akan pernah bertentangan dengan evaluasi organismik, dan individu akan terus menyesuaikan diri secara psikologis, dan akan berfungsi sepenuhnya (Rogers dalam Olson, Hergenhan, hal 785).

Tidak berarti Rogers yakin bahwa anak mestinya diperbolehkan melakukan apapun yang mereka mau. Dia yakin bahwa pendekatan rasional dan demokratis untuk mengatasi persoalan perilaku adalah yang terbaik. Karena, menurut Rogers, kondisi keberhargaan ada di jantung persoalan penyesuaian diri semua manusia, mereka mestinya menghindari bagaimanapun juga. Rogers menyatakan strategi berikut untuk mengatasi anak yang keliru bersikap:

Jika bayi merasa dihargai, jika perasaannya sendiri selalu diterima bahkan meski beberapa perilaku dihambat, tidak akan ada kondisi keberhargaan muncul, minimal secara teoritis ini dapat dicapai jika sikap orang tua terbentuk demikian.  “kami bisa mengerti betapa memuaskan rasanya jika kamu bisa memukul adikmu, atau buang air sembarangan kapanpun dan di manapun, dan kami tetap mencintaimu, dan tetap ingin kamu memiliki perasaan dicintai begitu. Namun kami juga ingin kamu mengerti perasaan kami, bahwa kami merasa sedih jika adikmu menangis kesakitan, jadi bisakah kamu tidak lagi memukul adikmu? Perasaanmu dan perasaan kami sama pentingnya, dan kita masing-masing dapat memilikinya dan menggunakannya dengan bebas (Rogers dalam Olson, Hergenhan, hal 785).

Dengan kata lain, Rogers yakin pesan berikut inilah yang mestinya disampaikan kepada anak. Kami mencintaimu sedalam kamu mencintai kamu, tetapi yang kamu lakukan mengecewakan dan karenanya kamu lebih berbahagia jika kamu mengehentikannya. Anak mestinya selalu dicintai, namun beberapa perilakunya tidak.

Unconditional positive regard tidak menghendaki bahwa semua pengekangan terhadap tingkah laku anak tidak ada, tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa dinasehati. Sebab jika demikian halnya, maka ibu tidak boleh melindungi anaknya dari bahaya-bahaya misal, menarik anak menjauhi kompor gas yang panas, karena takut membuat positive regard-nya bersyarat.

Rogers percaya bahwa ibu dapat mencela tingkah laku tertentu tetapi pada saat yang sama juga menciptakan syarat-syarat bagi anak untuk menerima cinta dan kasih sayang. Hal ini dapat dicapai dalam situasi yang membantu anak menerima beberapa tingkah laku tertentu yang tidak dikehendaki tanpa menyebabkannya merasa salah dan tidak berharga setelah melakukan tingkah-tingkah laku tersebut. Anak tidak terlalu banyak dinasehati sehinggga dapat menetapkan syarat-syarat pernghargaan untuk anak karena itulah arahnya bagaimana nasehat itu dilaksanakan.

Anak-anak yang bertumbuh dengan perasaan unconditioanal positive regard tidak akan mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Mereka merasa diri berharga dalam semua syarat. Dan jika syarat-syarat penghargaan tidak ada maka tidak ada kebutuhan untuk bertingkah laku defensif. Tidak akan ada ketidakharmonisan antara diri dan persepsi terhadap kenyataan.

Untuk orang yang demikian, tidak ada pengalaman yang mengancam. Dia dapat mengambil bagian dalam dan luas, karena diri itu mengandung semua pikiran dan perasaan yang mampu diungkapkan orang itu. Diri itu juga fleksibel dan terbuka kepada semua pengalamam baru. Tidak ada bagian dari diri dilumpuhkan atau terhambat dalam ungkapannya.

Orang ini adalah bebas untuk menjadi orang yang mengaktualisasikan diri, untuk mengembangkan seluruh potensinya. Dan segera setelah proses aktualisasi diri mulai berlangsung orang itu dapat maju ke tujuan terakhir, yakni menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya.

  1. Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.

Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan conditional positive regard maka dia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi maka sikap ibu diambil alih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.

Misal, jika ibu menyatakan celaan tiap saat karena anak menjatuhkan suatu benda dari tempat tidurnya, maka anak itu akhirnya mencela dirinya sendiri sewaktu-waktu. Standar-standar penilaian dari luar menjadi miliknya sendiri dan anak itu “menghukum” dirinya sendiri seperti yang telah dilakukan oleh ibunya sebelumnya. Anak itu “mencintai” dirinya hanya bila dia bertingkah laku menurut cara-cara yang diketahuinya disetujui ibu. Dengan demikian diri menjadi “wakil ibu”.

Karena keadaan yang menyedihkan ini dimana anak menerima conditional positif reward, pertama-tama dari ibunya kemudian dari dirinya, syarat-syarat penghargaan berkembang. Ini berarti bahwa anak itu merasa suatu perasaan harga diri atau pikiran dalam cara-cara yang menyebabkan anak itu merasa salah dan tidak berharga, syarat-syarat yang harus dilawan oleh anak itu. Dan dengan demikian sikap defensif menjadi bagian dari tingkah laku anak tersebut. Sikap tersebut digiatkan sewaktu-waktu terjadi kecemasan, yaitu sewaktu-waktu anak, dan kelak sebagai orang dewasa tergoda untuk menampilkan tipe tingkah laku yang dilarang. Sebagai akibat dari sikap defensif ini, kebebasan individu terbatas, kodrat atau dirinya yang sejati tidak dapat diungkapkan sepenuhnya.

Diri tidak dibiarkan untuk beraktualisasi sepenuhnya karena beberapa segi dari diri harus dicek. Syarat-syarat penghargaan berlaku seperti penutup mata kuda, yang memotong suatu bagian dari pengalaman yang ada. Orang-orang dengan syarat-syarat penghargaan harus membatasi tingkah laku mereka dan mengubah kenyataan bahwa meski menyadari tingkah laku dan pikiran yang tidak pantas, namun dapat merasa terancam kalau mereka memamerkannya. Karena individu-individu ini tidka dapat berinteraksi sepenuhnya dan terbuka dengan lingkungan mereka, maka mereka mengembangkan apa yang disebut Rogers “ketidakharmonisan” (incongruence) antara konsep diri dan kenyataan yang mengitari mereka. Mereka tidak dapat mengaktualisasikan semua segi dari diri. Dengan kata lain mereka tidak dapat mengembangkan kepribadian-kepribadian yang sehat.

Pribadi Yang Berfungsi Sepenuhnya

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

Dalam banyak hal, pribadi yang berfungsi penuh mirip bayi kecil karena hidup sesuai proses penilaian organismiknya sendiri daripada mengejar kondisi keberhargaan. Rogers menyamakan “menjadi benar bagi diri sendiri” dengan kehidupan yang baik. Kebahagiaan bukanlah kedamaian yang datang ketika semua kebutuhan biologisnya terpuaskan, atau ketika ia meraih tujuan yang sudah lama dicari seperti rumah, uang atau gelar jabatan. Kebahagiaan datang dari partisipasi aktif dalam kecenderungan mengaktualisasi yang merupakan sebuah proses berkesinambungan. Dan Rogers menekankan kecenderungan mengaktualisasi bukannya kondisi aktualisasi diri.

Untuk menggunakan proses penilaian organismik sebagai pemandu hidup, dibutuhkan lingkungan yang mengandung kondisi tanpa syarat. Rogers yakin penghargaan positif tanpa syarat adalah racikan esensial psikoterapi, namun tdaik perlu semua menjalani psikoterapi jika hanya ingin mengalaminya di rumah masing-masing, di dalam pernikahan mereka atau sahabat terdekat, selama konsep ini dipahami dan digunakan.

Di tahun 1980 Rogers mengembangkan konsep tentang kondisi tanpa syarat ini yang harus diyakini harus hadir dalam tiap hubungan manusia apapun jika ingin pertumbuhan lah yang terjadi:

“Ada tiga kondisi yang harus hadir di dalam iklim yang ingin memajukan sebuah pertumbuhan. Kondisi-kondisi ini teraplikasikan entah di dalam hubungan terapis dan klien, orang tua dan anak, pemimpim dan kelompok, guru dan murid, atau pejabat dan stafnya. Kondisi-kondisi ini sebenarnya teraplikasikan bahkan di situasi apapun dimana perkembangan pribadi menjadi tujuannya. Elemen pertama disebut ketulusan, keriilan atau kongruensi. Sikap kedua yang penting untuk menciptakan iklim bagi perubahan adalah penerimaan atau kepedulian, atau penghadiahan yang disebut penghargaan positif tanpa syarat. Aspek fasilitatif hubungan yang ketiga adalah pemahaman empatik. Jenis mendengarkan secara aktif dan penuh kepekaan ini jarang bisa diperoleh dalam kehidupan kita. Kita berfikir sudah mendengarkan, namun jarang kita sungguh mendengarkan dengan pemahaman yang riil, empati yang sesungguhnya. Jadi mendengarkan yang seperti ini adalah jenis yang sangat khusus, salah satu daya terkuat untuk mengubah yang saya ketahui“ (Rogers, Olson & Hergenhahn, hal 792).

Bagi Rogers penting bagi kita untuk tidak mencampuradukkan empati dengan mendengarkan secara pasif, atau dengan simpati. Empati digambarkannnya sebagai kondisi yang mengandung “cara hidup sementara waktu dalam kehidupan orang lain, bergerak di dalamnya sepeka mungkin tanpa membuat penilaian.

Rogers mengemukakan beberapa hal mengenai kepribadian yang sehat, yakni:

  1. Kepribadian yang sehat bukanlah suatu keadaan dari ada, melainkan sebuah proses, “suatu arah, bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus, tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujuan ini, yakni orientasi ke masa depan ini, menarik individu ke depan, yang selanjutnya mendiferensiasikan dan mengembangkan segala segi dari diri. Rogers menyebut salah satu antara buku-bukunya On Becoming a Person, buku ini merangkum dengan tepat sifat dari proses yang berlangsung terus itu.
  2. Aktualisasi diri itu merupakan suatu proses yang sulit dan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan suatu ujian, rentangan dan pecutan terus menerus terhadap kemampuan seseorang. Rogers menulis “Aktualisasi diri sepenuhnya merupakan keberanian untuk ada”. Hal ini berarti meluncurkan diri sepenuhnya ke dalam arus kehidupan. Orang itu terbenam dalam dan terbuka kepada seluruh ruang lingkup emosi dan pengalaman manusia dan merasakan hal-hal ini jauh lebih dalam daripada orang yang kurang sehat.

Rogers tidak menggambarkan bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu terus-menerus atau juga hampir tiap saat bahagia atau puas, meski mereka benar-benar mengalami perasaan-perasaan ini. Seperti Allport, Rogers juga melihat kebahagiaan sebagai hasil sampingan dari perjuangan aktualisasi diri, kebahagiaan bukan suatu tujuan dalam dirinya sendiri. Orang-orang yang mengaktualisasikam diri menjalani kehidupan yang kaya, menantang dan berarti, tetapi mereka tidak perlu tertawa terus-menerus.

  1. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri adalah yang benar-benar diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura, menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka tidak mengikuti petunjuk-petunjuk tingkah laku atau memperlihatkan kepribadian-kepribadian yang berbeda untuk situasi-situasi yang berbeda. Mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan yang diletakkan oleh masyarakat mereka atau orangtua mereka. Mereka telah mengatasi aturan-aturan ini; Rogers tidak percaya bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri hidup di bawah hukum-hukum yang diletakkan orang-orang lain. Arah yang dipilih, tingkah laku yang diperlihakan semata-mata ditentukan oleh individu sendiri. Diri adalah tuan dari kepribadian dan beroperasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan oleh orang-orang lain. Akan tetapi orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak agresif, memberontak secara terus terang atau dengan sengaja tidak konvensional dalam mencemooh aturan-aturan dari orang tua atau msyarakat. Mereka tahu bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu-individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari masyarakat.

Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu:

  1. Keterbukaan pada pengalaman

Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tidak satu pun yang mengancam. Jadi keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Tiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke sistem syaraf organisme tanpa distorsi atau rintangan.

Orang yang demikian tahu segala sesuatu tentang kodratnya, tidak ada segi kepribadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan, persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan tahu pengalaman-pengalaman tertentu.

Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misal, dalam kegembiraan atau kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat daripada yang defensif.

  1. Kehidupan Eksistensial

Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam tiap momen kehidupan. Tiap pengalaman dirasa segar dan baru seperti sebelumnya, belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Maka dari itu ada kegembiraan karena tiap pengalaman tersingkap.

Karena orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus-menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh tiap pengalaman. Akan tetapi orang yang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri. Dia memilih suatu struktur diri yang berprasangka dimana semua pengalaman harus cocok dengannya. Orang yang berfungsi sepenuhnya yang tidak memiliki diri yang berpasangka atau tegar tidak harus mengontrol atau memanipulasi pengalaman-pengalaman, sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi di dalamnya.

Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur diri terus-menerus terbuka kepada pengalaman-pengalaman baru. Kepribadian yang demikian tidaklah kaku atau tidak dapat diramalkan. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam tiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respon atas pengalaman momen berikutnya.

  1. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri

Rogers menulis Bila suatu aktivitas terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Dengan kata lain, saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya daripada pikiran saya.

Dengan kata lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih diandalkan daripada factor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.

Karena orang yang sehat terbuka sepenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Informasi ini berisi kebutuhan-kebutuhan orang itu, tuntutan-tuntutan social yang relevan, ingatan-ingatan terhadap situasi-situasi yang serupa pada masa lampau dan persepsi terhadap situasi sekarang. Karena terbuka kepada semua pengalaman serta menghidupkan pengalaman-pengalaman itu sepenuhnya, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme memperhitungkan tiap segi dari suatu situasi. Semua factor yang relevan diperhitungkan dan dipertimbangkan serta dicapai keputusan yang akan memuaskan semua segi situasi dengan sangat baik.

Rogers membandingkan kepribadian yang sehat dengan sebuah komputer dimana semua data yang relevan telah diprogramkan ke dalamnya. Komputer itu mempertimbangkan semua segi masalah, semua pilihan dan pengaruh-pengaruhnya, dengan cepat menentukan tindakan.

Seseorang yang bertindak semata-mata atas dasar rasional atau intelektual sedikit banyak mengabaikan factor-faktor emosional dalam proses mencapai suatu keputusan. Semua segi organisme sadar atau tidak sadar, emosional dan juga intelektual, harus dianalisis dalam kaitannya dengan masalah yang ada. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat (tidak diubah) dan karena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya atas keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri.

Sebaliknya orang yang defensif membuat keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya. Misal, dia mungkin dibimbing oleh ketakutan terhadap apa yang akan dipikirkan orang-orang lain, terhadap pelanggaran suatu adat sopan santun atau karena kelihatan bodoh. Karena orang yang defensif tidak mengalami sepenuhnya, maka ia tidak memiliki data yang lengkap dan tepat tentang semua segi dari suatu situasi. Rogers menyamakan orang ini dengan suatu komputer yang diprogramkan untuk menggunakan hanya suatu bagian dari data yang relevan.

Perasaan Bebas

Rogers percaya bahwa makin sehat seseorang secara psikologis, makin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa ini maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang munkgin ingin dilakukannya.

Orang yang defensif tidak memiliki perasaan-perasaan bebas serupa. Orang ini dapat memutuskan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat mewujudkan pilihan bebas itu ke dalam tingkah laku yang actual. Tingkah laku ditentukan oleh factor-faktor yang berada di luar kontrol orang itu, termasuk sikap defensifnya sendiri dan ketidakmampuannya untuk mengalami semua data yang diperlukan untuk membuat keputusan, orang serupa itu tidak akan memiliki perasaan atau kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Pilihan-pilihan terbatas dan pandangan terhadap masa depan sempit.

Kreativitas

Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandainya jika mereka tidak demikian. Orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang, sebagaimana yang diungkapkan Rogers, yang mengungkapkan diri mereka ke daam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh dan berkembang sebagai respon atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitar mereka.

Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak dikenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan social dan kultural. Karena mereka kurang defensif, mereka tidak menghiraukan tingkah laku mereka diterima dengan baik oleh orang-orang lain. Akan tetapi, mereka dapat dan kerapkali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan mereka dan memungkinkan mereka mengembangkan diri mereka sampai ke tingkat yang paling penuh.

Orang yang defensif, yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banyak pengalaman, dan yang hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan adalah tidak kreatif dan tidak spontan. Orang ini lebih cenderung membuat kehidupan menjadi aman dan dapat diramalkan, dan menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada suatu taraf yang minimal daripada mencari tantangan-tantangan, dorongan, rangsangan baru. Gaya hidup yang kaku ini tidak memberikan tanah yang subur untuk memelihara kreativitas.

Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menysuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastik dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti dalam pertempuran atau bencana-bencana alamiah. Jadi, Rogers melihat orang-orang yang berfungsi sepenuhnya merupakan barisan depan yang layak dalam proses evolusi manusia.

  1. Mengalami penghargaan tanpa syarat serta mampu hidup dalam harmoni dengan orang lain, karena sifat menghargai dari resiprositas penghargaan positif tanpa syarat.

Hambatan Pada Kesehatan Psikologis

  1. Penyakit Mental

Penyakit mental dipandang sebagai kegagalan mencapai kesehatan mental. Jadi, penyakit mental merupakan penyakit defisiensi, ketidakmampuan individu mengenali serta memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Jika kemasakan dirumuskan sebagai menjadi manusiawi penuh, maka penyakit mental lebih tepat diartikan sebagai penyusutan manusiawi. Masalah-masalah mental adalah kegagalan dalam pertumbuhan pribadi. Orang yang sakit secara psikologis adalah orang yang tidak pernah berhasil menjalin relasi-relasi manusiawi yang baik.

  1. a) Neurosis

Neurosis dapat diartikan sebagai ketidak-mampuan orang untuk memilih secara bijaksana, artinya memilih sesuai kebutuhan-kebutuhan psikologisnya yang sejati. Neurosis dapat dipandang sebagai usaha nekad namun gagal yang dilakukan oleh individu dalam rangka memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Hal ini dapat disebabkan oleh kelaparan intelektual, yaitu jika orang tidak menemukan arti dalam pekerjaannya, maka hidupnya juga akan tidak bermakna.

Penelitian-penelitian psikosomatik terus membuktikan bahwa perasaan takut, cemas, khawatir dan tidak aman cenderung melahirkan akibat-akibat fisik maupun psikologis yang tidak diharapkan. Sikap-sikap cemas, tegang dan gelisah semacam ini adalah akibat tak terpuaskannya kebutuhan akan rasa aman. Berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman dan akan hubungan dengan orang lain, seperti kebutuhan akan penghargaan, penerimaan serta rasa memiliki-dimiliki, yang tidak terpuaskan.

  1. b) Agresi

Agresi adalah suatu reaksi terhadap frustasi atau ketidakmampuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasar; agresi merupakan reaksi, bukan naluri. Maslow beranggapan, agresi terutama bersifat kultural maka umumnya dapat dicegah dan disembuhkan.

Bukti-bukti tentang agresi yang paling serius, yaitu agresi dari para psikopat kriminal, memamng belum memadai. Mungkin dalam sejumlah kasus tertentu orang-orang ini kehilangan naluri untuk berhubungan dengan orang-orang lain sedemikian parah sampai-sampai tidak lagi dapat dipulihkan.

  1. c) Metapatologi

Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lagi, keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.

  1. Perkembangan Tingkah Laku Salah Suai

Salah suai terjadi apabila pengalaman organisme dan self tidak sejalan. Contoh pengalaman yang terjadi tidak cocok dengan nilai-nilai yang semestinya terjadi: Ibunya mengajari anak-anak tidak boleh bohong, tapi ketika ada seseorang mencari ibunya, anak tadi disuruh untuk mengatakan bahwa ibunya tidak ada di rumah. Seorang anak laki-laki yang punya saudara empat orang yang semuanya perempuan. Dididik ala perempuan termasuk mainan maka si anak laki-laki tadi akan melakukan tindakan salah suai.

Karakteristik Pribadi salah penyesuaian:

  1. Estrangement (keterasingan)

Rogers berpendapat bahwa keterasingan adalah individu yang dalam perkembangannya mendapat nilai-nilai tertentu yang tidak dapat membenarkan dirinya sendiri. Seorang anak yang melakukan banyak hal yang dapat memuaskan dirinya tapi dapat menyebabkan orang lain memberikan respon negatif kepadanya. Seorang anak membuat keributan saat orang tuanya meminta dia untuk diam atau dia akan bermain dengan benda-benda yang seharusnya tidak boleh ia sentuh.

  1. Incongruity (Ketidaksesuaian tingkah laku)

Perilaku yang dianut individu berdasarkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan self konsep tetapi justru sejalan dengan pengalaman yang bertentangan dengan struktur kepribadian. Ketidak-sesuaian tingkah laku sebagai akibat dari perkembangan keadaan dan ketidak-sesuaian antara konsep diri dan pengalaman maka timbulah ketidak-sesuaian tingkah laku karena ketidak-mampuan menilai diri sendiri secara positif, kecuali nilai-nilai yang dipaksakan. Hal ini sering menimbulkan kecemasan terhadap individu tersebut.

  1. Anxiety (Kecemasan)

Kecemasan muncul sebagai reaksi terhadap penolakan, merasa terancam, takut disakiti yang akhirmya memicu bagaimana ia melakukan pembelaan terhadap dirinya.

  1. Defense Mechanisms ( Mekanisme pertahanan)

Mekanisme pertahanan adalah tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mempertahankan supaya persepsinya terhadap pengalaman yang terjadi tetap konsisten dengan struktur self. Contoh: Seorang wanita yang menggunakan rasio berpikir untuk menilai apa yang telah ia lakukan.

  1. Maladaptive Behavior (Tingkah laku salah suai)

Perilaku menyimpang biasanya menggiring individu berada pada tingkat ketegangan atau kecemasan, perilaku ini cenderung kaku (tidak fleksibel) karena adanya kerancuan persepsi dirinya terhadap pengalaman yang sudah ia alami sendiri. Dampaknya individu tersebut tidak mampu menjadi pribadi yang fleksibel, tidak bisa berbaur dengan lingkungan dan irasional.

PENUTUP

Pribadi Hari Esok

Pada 7 Juni 1969 Rogers berada di Universitas Negeri Sonoma untuk memberikan sambutan bagi para lulusan sarjana. Ia memulai dengan berkata:

“Saat masih menjadi mahasiswa dulu, saya memilih studi utama di bidang sejarah abad pertengahan. Saya sangat mengagumi para cendekia abad tengah karena kontribusi mereka bagi pembelajaran. Namun, saya ingin berbicara kepada anda sebagai Carl Rogers, di tahun 1969, bukan sebagai simbol abad pertengahan. Jadi saya harap tidak akan membuat anda tersinggung ketika saya membuang semua jebakan abad pertengahan ini, topi toga yang tidak berfungsi apapun ini, jubah toga yang tidak berfaedah ini, dan kerudung jubah di leher ini, yang semata-mata dulunya dirancang untuk menjaga orang tetap, hangat di musim dingin di Eropa (Rogers, dalam Olson, hal 806).

Setelah melepaskan jubah toga sebagai ritual rutin wisuda itu, Rogers yang berusia 67 tahun pada saat itu mulai mendiskusikan “pribadi hari esok”. Rogers yakin “pribadi baru” yang muncul ini memiliki banyak karakteristik yang sama dengan pribadi yang berfungsi penuh. Individu yang demikian secara humanistik lebih berorientasi humanistik daripada teologis. Karena pribadi yang seperti ini akan muncul, Rogers menjadi optimis terhadap masa depan.

Dengan seluruh kejujuran harus saya katakan bahwa pandangan humanistik akan mendominasi dalam jangka panjang ke depan. Saya yakin kita, sebagai seorang pribadi, mulai menolak untuk membiarkan teknologi mendikte hidup kita. Budaya kita, yang makin didasarkan pada penaklukan alam dan pengontrolan manusia, sedang merosot. Lalu yang kemudian muncul dari puing puing reruntuhan adalah pribadi yang baru, yang penuh kesadaran, mengarahkan diri sendiri, seorang penjelajah ruang batin lebih daripada ruang di luar diri, enggan mendukung lembaga dan dogma otoritas. Ia tidak percaya bahwa dirinya sudah dibentuk secara behavioral, atau ingin membentuk orang lain secara behavioral. Dia lebih merasa aman dengan perspektif humanistik daripada teknologis. Menurut penilaian saya, dia memiliki probabilitas lebih tinggi untuk bertahan hidup“ (Rogers, Olson & Hergenhahn, hal 807).

Rogers mendata 12 karakteristik yang dianggapnya akan dimiliki sebuah pribadi hari esok. Dan kepribadian ini memiliki banyak kesamaan karakteristik dengan pribadi yang berfungsi sepenuhnya, yaitu:

  1. Keterbukaan entah terhadap pengalaman internal (batin) maupun eksternal (kepada dunia dan hubungan antar manusia)
  2. Sebuah penolakan terhadap kemunafikan, penipuan dan percakapan mendua. Dengan kata lain, menginginkan sebuah otentisitas.
  3. Skeptisisme terhadap sains dan teknologi yang mengandung tujuan menaklukkan alam atau mengontrol orang lain.
  4. Menginginkan sebuah keutuhan. Contoh, pengakuan setara dan kebebasan mengekspresikan intelektualitas dan emosi
  5. Menginginkan tujuan bersama di dalam hidup atau keintiman.
  6. Cenderung mencakup perubahan dan pengambilan risiko dengan antusias.
  7. Memberi perhatian yang lembut, halus, tidak moralistik dan tidak menghakimi.
  8. Perasaan dekat kepada dan perhatian terhadap alam.
  9. Antipati terhadap lembaga apapun yang sangat terstruktur, tidak fleksibel dan birokratik. Mereka yakin lembaga mestinya eksis untuk melayani manusia, bukan sebaliknya.
  10. Kecenderungan untuk mengikuti otoritas dari proses penilaian organismik mereka sendiri.
  11. Memilah pemenuhan materi dan penghargaan pribadi.
  12. Keinginan untuk mencari suatu makna di dalam hidup yang lebih besar daripad individu itu sendiri. Rogers menyebut karakteristik ini dengan “kelaparan spiritual.”

Rogers yakin kemunculan pribadi hari esok yang humanistic ini bukannya tanpa pertentangan. Ia menyimpulkan apa yang dianggapnya sumber oposisi terhadap pribadi ini dari slogan-slogan berikut:

  • Negara diatas semuanya
  • Tradisi diatas semuanya
  • Kepandaian diatas semuanya
  • Manusia mestinya dibentuk
  • Status quo selamanya
  • Kebenaran kita adalah kebenaran yang sesungguhnya
  • Rogers yakin jika individu yang berpusat pribadi pada akhirnya banyak dipilih orang dan hasilnya adalah sebuah dunia yang lebih manusiawi.

Kelebihan dan Kekurangan Teori Carl Rogers

Kelebihan 

  1. Selalu mengedepankan hal-hal yang bernuansa demokratis, partisipasif dialogis dan humanistik.
  2. Suasana pembelajaran yang saling menghargai adanya kebebasan berpendapat, kebebasan mengungkapkan gagasan.
  3. Keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan lebih-lebih adalah kemampuan hidup bersama (komunal bermasyarakat) di antara peserta didik yang tentunya mempunyai pandangan yang berbeda-beda.

Kekurangan

  1. Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata-mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain.Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
  2. Gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif.
  3. Rogers mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

Kritik

Sekurangnya ada 3 kritik yang dilontarkan terhadap teori kepribadian Rogers, yaitu: .

  • Pendekatannya Terlalu Sederhana dan Terlalu Optimis

Banyak yang percaya jika asumsi Rogers bahwa manusia pada dasarnya baik dan lahir dengan kecenderungan menuju aktualisasi diri tak lebih dari sekadar khayalan. Carl Rogers disamakan dengan Fred Rogers, tokoh drama anak-anak di televisi, seorang tetangga yang baik hati dan peka (Palmerr & Carr, 1991). Manusia yang sesungguhnya, ujar beberapa kritikus, mengalami kebencian sebanyak cinta dan sering termotivasi dengan hasrat seks yang kuat. Lebih jauh lagi, kecuali subsepsi, pentingnya motivasi bawah sadar ditolak oleh Rogers. Namun bagi siapapun yang pernah mengalami mimpi aneh, konflik berat, depresi mendalam, rasa amarah yang kuat, atau sakit psikosomatik, pandangan Rogerian tentang manusia tidak terdengar benar. Yang juga dianggap simplistik adalah terlalu besarnya Rogers dalam mengandalkan laporan diri yang dianggap oleh banyak ahli tidak dapat diandalkan. Banyak pihak yang mengkritik Rogers lantaran kesederhanaan teorinya dan hal serupa juga dialami oleh Kelly meski aspeknya berbeda. Rogers menekankan aspek emosi kepribadian dengan menyatakan bahwa yang sungguh-sungguh dirasakan baik adalah pemandu terbaik untuk tindakan serta menempatkan emosi lebih penting daripada intelektualitas sedangkan Kelly sebaliknya.

  • Kegagalan Mengakui Siapa Saja yang Sudah Memberikan Pengaruh bagi Teorinya.

Banyak elemen mirip yang bisa ditemukan dari teori Rogers dan teori Adler. Keduanya sama-sama menekankan kebutuhan individu, pengalaman sadar, dan dorongan bawaan terhadap hubungan harmonis dengan sesama manusia. Sebuah hubungan yang kuat juga eksis antara teori Rogers dan teori Horney. Di dalam teori Horney, persoalan psikologis dimulai ketika diri riil yang sehat digantikan oleh diri ideal yang tidak sehat dan asosiasinya, tirani seharusnya. Bagi Horney, cara membuat individu tidak sehat menjadi sehat adalah dengan cara membawa mereka kembali bersentuhan dengan diri riil mereka agar bukan diri ideal yang digunakan sebagai pemandu untuk menjalani hidup. Kecuali untuk perbedaan kecil di dalam terminologi yang digunakan, Rogers dan Horney mengatakan hal yang sama.

Ada juga kemiripan antara teori Rogers dan Allport. Contohnya, keduanya mendeskripsikan karakteristik individu yang sehat, menekankan kebaikan bawaan manusia, dan menitik beratkan kesadaran lebih daripada motivasi bawah sadar. Rogers memang mengakui pengaruh Adler bagi pemikiran awalnya tentang proses terapeutik. Namun, ia tidak mengatakan apapun tentang pengaruh Horney atau Allport bagi teorinya.

  • Aspek-aspek Penting Kepribadian Diabaikan atau Ditolak

Rogers selalu mengabaikan sisi hakikat manusia yang lebih gelap (seperti agresivitas, permusuhan, egoisme dan motif-motif seksual). Ia juga tidak banyak membahas perkembangan kepribadian. Kecuali fakta bahwa untuk beberapa individu proses penilaian organismik sudah digantikan oleh kondisi keberhargaan di masa anak-anak, Rogers sedikit saja membahas pengalaman perkembangan yang kondusif bagi pertumbuhan kepribadian yang sehat.

Kontribusi

Ada 3 kontribusi yang diberikan teori Rogers pada dunia, yaitu:

  • Perspektif Alternatif dan Positif tentang Manusia

Rogers menjelaskan fase hakikat manusia yang sebelumnya masih buram. Dia berkontribusi bagi pengembangan “mazhab ketiga” dan sukses menentang dua mazhab dominan lainnya yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Mazhab ketiga bernama psikologi humanistik karena menekankan kebaikan hakikat manusia dan berfokus pada kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia meraih potensi penuh.

  • Merintis terapi bentuk baru

Rogers memiliki pendekatan yang positif dan humanistik terhadap konseling dan terapi hingga menjadi sangat populer. Tiga alasan penyebab popularitas ini adalah (1) efektivitasnya, (2) pelatihannya tidak butuh waktu yang lama dan ketat seperti yang diisyaratkan oleh psikoanalisis, dan (3) pendekatannya positif dan optimistik tentang hakikat manusia. Rogers tidak hanya menciptakan sebentuk terapi baru tetapi juga menciptakan metode untuk mengevaluasi efektivitas terapi dengan cara merekam sesi-sesi terapeutik secara audio atau visual lalu mentranskripnya ke bentuk teks agar bisa dipelajari profesional lain.

  • Nilai Terapan

Tak seorang pun sejak Freud memiliki pengaruh lebih besar ketimbang Rogers terhadap psikologi maupun disiplin ilmu lain. Psikologi berpusat-pribadi Rogers telah diaplikasikan ke banyak wilayah seperti agama, keperawatan, kedokteran, penguatan hukum, kerja sosial, hubungan ras dan budaya, industri, politik dan perkembangan keorganisasian.

Di dalam kenangan saat Rogers meninggal, Gendlin (1988) mendeskripsikan dengan gamblang bagaimana pribadi Rogers sebenarnya: “ia peduli pada tiap orang namun bukan pada lembaga. Ia tidak peduli dengan penampilan, peran, kelas, kepercayaan, atau kedudukan dan ia meragukan tiap otoritas termasuk otoritas dirinya.”

Daftar Pustaka