Validitas & Reliabilitas

You are here:
< Back

Validitas berasal dari kata ”validity”. Validitas = sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Asosiasi Psikologi Amerika (APA) membedakan tiga tipe validitas, yaitu:

  1. Content Validity (Validitas Isi)
  2. Construct Validity (Validitas Konstruk)
  3. Criterion-Related Validity (Validitas berdasar Kriteria)

Suatu alat ukur (instrumen) penelitian dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut mampu menjalankan fungsi ukurnya (memberikan hasil ukur yang sesuai dengan tujuan dilakukannya pengukuran tersebut).

Alat ukur (instrumen) penelitian dengan validitas yang rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.

  • Contoh perumpamaan:

Saat anda hendak mengetahui berat emas, maka anda harus menggunakan alat penimbang emas agar hasil penimbangannya valid (tepat dan cermat).

Sebuah alat penimbang badan juga digunakan untuk mengukur berat, namun tidak cukup cermat jika digunakan untuk menimbang berat emas.

Begitu pula saat anda hendak mengukur sebuah variabel penelitian, misal: variabel motivasi belajar. Maka anda tidak dapat mengunakan alat ukur berupa skala motivasi kerja meskipun sama-sama mengukur motivasi, karena motivasi belajar dan motivasi kerja memiliki indikator-indikator perilaku yang berbeda.

Jenis-Jenis Validitas

Content Validity (Validitas Isi)

“Validitas yang diestimasi melalui pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau melalui professional judgement.”

  • Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validitas ini adalah ”sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan objek yang hendak diukur” atau ”sejauh mana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur

Content Validity (Validitas Isi) dibagi menjadi 2 tipe:

1. Face Validity (Validitas Muka)

“Tipe validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian selintas mengenai isi alat ukur. Apabila isi alat ukur telah tampak sesuai dengan apa yang ingin diukur maka dapat dikatakan face validity telah terpenuhi.”

2. Logical Validity (Validitas Logis)

“Disebut juga sebagai Validitas Sampling (Sampling Validity), yaitu validitas yang menunjukkan pada sejauh mana isi alat ukur mampu me-representasi-kan aspek-aspek variabel yang hendak diukur.

Construct Validity (Validitas Konstruk)

“Tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana alat ukur (instrumen) mampu mengungkap suatu trait atau konstruk teoritis yang hendak diukurnya.”

  • Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut.

Criterion-Related Validity (Validitas berdasar Kriteria).

“Validitas ini menghendaki tersedianya kriteria eksternal yang dapat dijadikan dasar pengujian skor alat ukur.”

Suatu kriteria adalah variabel perilaku yang akan diprediksi oleh skor alat ukur.

Jenis-Jenis Criterion Validity

Dilihat dari segi waktu untuk memperoleh skor kriterianya, prosedur validasi berdasar kriteria menghasilkan 2 macam validitas, yaitu:

1. Validitas Prediktif

Yaitu seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkapkan hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran.

2. Validitas Konkuren

Yaitu validitas yang menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama.

Reliabilitas

“Reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan.”

Jenis- jenis Reliabiltas

  1. Relibilitas Stabilitas.

“Usaha memperoleh nilai yang sama atau serupa untuk setiap orang atau setiap unit yang diukur, setiap saat dilakukan pengukuran.”

  • Reliabilitas ini menyangkut penggunaan indikator yang sama, definisi operasional, dan prosedur pengumpulan data yang sama, dan mengukurnya pada waktu yang berbeda.
  • Reliabilitas stabilitas diperoleh alat ukur ketika setiap kali dilakukan pengukuran pada variabel tersebut, skornya haruslah sama atau hampir sama.

2. Reliabilitas Ekuivalen

“Reliabilitas yang diperoleh dengan cara menguji cobakan dua soal yang paralel pada kelompok yang sama dan waktu yang sama (equivalence forms method, parallel form method, atau alternate forms method).”

  • Jadi dalam hal ini ada dua soal yang paralel, artinya masing-masing soal disusun tersendiri, jumlah butir soal sama, isi dan bentuk sama, tingkat kesukaran sama, waktu serta petunjuk untuk mengerjakan soal juga sama. Skor hasil uji coba kedua soal dikorelasikan dengan rumus product moment untuk menghitung koefisien ekuivalen.

3. Konsistensi Internal

“Diperoleh dengan cara mengujicobakan suatu soal dan menghitung korelasi hasil uji coba dari kelompok yang sama. Ada tiga cara untuk memperoleh reliabilitas jenis ini yaitu:

  1. Belah dua (split half method),
  2. Kuder Richardson 20 atau Kuder Richardson 21, dan
  3. Cronbach.

Metode Pengujian Reliabilitas:

1. Teknik Paralel (Paralel Form atau Alternate Form).

Teknik paralel disebut juga tenik ”double test double trial”. Sejak awal peneliti harus sudah menyusun dua perangkat instrumen yang paralel (ekuivalen), yaitu dua buah instrument yang disusun berdasarkan satu buah kisi-kisi. Setiap butir soal dari instrumen yang satu selalu harus dapat dicarikan pasangannya dari instrumen kedua. Kedua instrumen tersebut di-ujicoba-kan semua. Sesudah kedua uji coba terlaksana, maka hasil instrumen tersebut dihitung korelasinya dengan menggunakan rumus product moment (korelasi Pearson).

2. Teknik Ulang (Test Re-test)

“Realibilitas tes-retest adalah seberapa besar derajat skor tes konsisten dari waktu ke waktu. Realibilitas diukur dengan menentukan hubungan antara skor hasil penyajian tes yang sama kepada kelompok yang sama, pada waktu yang berbeda.”

  • Disebut juga teknik ”single test double trial”. Menggunakan sebuah instrumen, namun dites dua kali. Hasil atau skor pertama dan kedua kemudian dikorelasikan untuk mengetahui besarnya indeks reliabilitas. Teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang digunakan pada teknik pertama yaitu rumus korelasi Pearson.

3. Teknik Belah Dua (Split Halve Method)

  • Disebut juga tenik “single test single trial”. Peneliti boleh hanya memiliki seperangkat instrumen saja dan hanya diujicobakan satu kali, kemudian hasilnya dianalisis, yaitu dengan cara membelah seluruh instrumen menjadi dua sama besar. Cara yang diambil untuk membelah soal bisa dengan membelah atas dasar nomor ganjil-genap, atas dasar nomor awal-akhir, dan dengan cara undian.
  • Rumus Spearman-Brown dapat digunakan untuk mengoreksi koefisien yang didapat.”