Wawancara Klinis

You are here:
< Back

Wawancara klinis adalah wawancara untuk memperoleh dan memberi informasi. Ini tidak sekadar mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi tetapi harus bertujuan, antara lain:

  • membangun hubungan,
  • mengambil keputusan klinis awal/dugaan sementara tentang masalah,
  • mengumpulkan informasi untuk tujuan perlakuan, dan
  • menentukan prioritas, misal untuk keperluan diagnosis, modalitas intervensi)

Syarat  Pewawancara

  • dapat membuat yang diukur (klien) merasa nyaman
  • mampu memutuskan secara objektif masalah maupun reaksi subjektif terhadap penampilan, kepribadian, latar belakang klien
  • dapat memahami dan berempati terhadap perasaan cemas klien
  • membuat keputusan cepat berdasar data yang didapatkan
  • mampu menginterpretasikan perilaku, ekspresi/bahasa nonverbal klien secara objektif
  • melakukan komunikasi personal tanpa menjadi terlibat secara emosional
  • tidak menginterupsi perkataan klien
  • tidak mengritik secara oral maupun bahasa tubuh
  • mendorong klien agar terjadi diskusi positif
  • berpengalaman, percaya diri, dan trampil.

Kriteria Pewawancara

Pewawancara harus mempunyai pengetahuan tentang perilaku manusia & dinamikanya, serta perlu ketrampilan, antara lain:

  • ketrampilan sosial: mampu menciptakan suasana menyenangkan, bersahabat
  • mampu membuat laporan tertulis
  • analisis dan interpretasi informasi dari klien
  • membuat keputusan, mempunyai pertimbangan- pertimbangan yang matang, melakukan triangulasi data-data berbagai sumber

Sebelum Wawancara

Self-asesment

  • cek kemampuan yang dipunyai dalam hal wawancara, menyangkut:

(1) tujuan wawancara dilakukan,

(2) kemampuan dan masalah dihadapi

  • mencoba beberapa cara untuk menentukan gaya wawancara yang cocok dengan diri sendiri tanpa meninggalkan kaidah karakteristik wawancara.

Etika Wawancara

  • menanyakan isu sensitif yang berhubungan dengan keputusan harus dibuat saat wawancara harus dipertanggungjawabkan dengan matang, apakah etis/tidak (misal: apakah klien punya orientasi seksual anormatif dalam perkawinan tak stabil dikaitkan dengan posisinya dlm sistem masyarakat)
  • kecenderungan memberi saran berdasar pengalaman pribadi harus dipertimbangkan dengan baik
  • umpan balik yang diberikan saat wawancara perlu disampaikan tetapi isi dan cara menginformasikannya dipilih dengan tepat untuk menghindari dampak negatif.

Pelaksanaan Wawancara

Persiapan

  • tempat: nyaman, tenang
  • pembicaraan pra wawancara informal
  • hindari greeting (basa-basi) yang tidak perlu
  • hindari hal yang membuat/menambah kecemasan klien

Teknik

  • non direktif: pertanyaan terbuka
  • direktif: berdasarkan data diperoleh, diungkapkan dengan hati-hati
  • kombinasi: pertanyaan terbuka, meringkas, mengulang (dengan kata-kata sendiri), mendengarkan aktif, pertanyaan direktif

Tahapan situasi

  1. Awal
  • Mengerti permasalahan klien
  • Informasi digunakan untuk tindakan selanjutnya
  • Menentukan rujukan

2. Identifikasi masalah

  • Menentukan klasifikasi atau diagnosis
  • Menguraikan pribadi klien:

– kekuatan

– kelemahan

– kehidupan saat ini

– riwayat hidup

3. Orientasi

  • Memberikan gambaran kepada klien tentang pelayanan yang akan diberikan
  • Klien dapat bertanya

4. Terminasi

  • Ringkasan hasil asesmen
  • Interpretasi asesmen
  • Untuk penelitian: penjelasan tentang proses penelitian
  • Intervensi yang akan diberikan

5. Krisis

  • Wawancara terfokus pada krisis yang dihadapi
  • Pemberian dukungan
  • Pemberian pertolongan

6. Observasi

Saat wawancara digunakan untuk pengamatan terhadap reaksi klien.

KETERAMPILAN MIKRO

‘Hadir’ dalam percakapan:

-Kontak mata

-Kualitas vokal

Verbal tracking

KETRAMPILAN DASAR

  • Pertanyaan terbuka & tertutup
  • Melakukan observasi
  • Encouraging : memberikan penguatan
  • Paraphrasing : mengatakan dengan kalimat yang berbeda
  • Summarizing : membuat ringkasan
  • Refleksi perasaan : refleksi empati

Wawancara klinis sebagai psikoterapi

  • Wawancara pembuka
    • Masukan tentang klien
  • Wawancara diagnostik
    • Menentukan diagnostik sementara kasus
  • Wawancara riwayat hidup sosial

wawancara di atas untuk menuju:

  • Wawancara terapi/konseling
    • Pertanyaan terbuka: komunikasi verbal
    • Klarifikasi
    • Konfrontasi; ada kesenjangan
    • Interpretasi/refleksi isi & perasaan
  • Note: Sikap klinisi
    • Penuh perhatian
    • Penerimaan
    • Penghargaan
    • Empati

Wawancara Perilaku

  • Perilaku berlebih
  • Perilaku kurang
  • Perilaku tidak tepat
  • Muncul dimana?
  • Siapa yang ada?
  • Lingkungan fisik?
  • Kapan?

Tujuan: Analisis fungsional: anteseden – perilaku- konsekuensi

  • Note: target perilaku: operasional

CATATAN PENTING WAWANCARA KLINIS

  • Proses wawancara adalah proses untuk ‘membuka’ luka/trauma/pengalaman buruk klien.
  • Hati-hati saat membukanya.
  • Dan pastikan anda menutupnya dengan baik saat closing/terminasi wawancara.